Author Topic: Song of life last update chapter 20 (13 December 2010)  (Read 46518 times)

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
YUKI .. gw kasih semangat dan doa aja yach biar cepet2 dapat ilham buat up date segera
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
UP DATE nya GPL yach [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Ai kpn nih part 2 nya????

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
ayo sist semangaaaaaaaat [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
part ini mungkin bakal jadi part yang panjang, penuh flashback ma sediiiiiikkkkkkiiiiiiiiittttt...sedih [hmpfh] [hmpfh] sedikit banget sedihnya...soalnya gak bisa bikin yang sedih-sedih... jadi mungkin sedikit sedih...

bentar lagi...  [bye] [bye]

Offline vvah

  • Newbie
  • *
  • Posts: 90
    • View Profile
ikutan nyemangatin ah. ayo ai !

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
part ini mungkin bakal jadi part yang panjang, penuh flashback ma sediiiiiikkkkkkiiiiiiiiittttt...sedih [hmpfh] [hmpfh] sedikit banget sedihnya...soalnya gak bisa bikin yang sedih-sedih... jadi mungkin sedikit sedih...

bentar lagi...  [bye] [bye]

Mo dipost sekarang nih Ai???

Sik asik asikk...  [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013]

Ayo semangat sist  [clap] [clap] [clap] [clap]

fara

  • Guest
Hwaiting ai [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Ayo ai update!..sekalian ma mversnya kan??.he.he.he

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
maaf lama nunggu...

oh.. ada sedikt catatan... dibagian flashback Jung min, ada kalimat yang aku bold ma italic... itu berarti aku ambil di chapter sebelumnya...  [hmpfh] [hmpfh] makasih banyak...

sebagian besar udah aku ungkap di part ini...

silahkan menikmati dan jangan lupa komentnya ya...  [hmpfh] [hmpfh] terima kasih banyak... [biggrin] [biggrin] [flowers] [flowers]


Chapter 17 part 2

Additional Cast



Hyun Bin as Shin Hyun Bin

Hye na menjatuhkan cangkir yang berisi air hangat di tangannya, membuat suara gaduh dan pecah. Entah kenapa tangannya terasa sangat licin. Jantungnya berdebar cepat dan tiba-tiba ia merasakan perasaan yang tidak enak melanda hatinya. Ia tahu sesuatu telah terjadi. Dengan cepat Hye na keluar dari ruangannya dan berlari keruangan di mana appanya dirawat, Hye na membuka dengan keras pintunya membuat 3 orang yang tengah tidur didalamnya terlonjak bangun dari tempatnya, terkejut dengan kedatangan Hye na.

Hye na menatap appanya yang terlihat tenang tertidur ditempatnya. Pak Jeong, menatap Hye na terkejut, bingung begitu pula dengan Park Joon dan En kyu “omma…ada apa…?”tanya En kyu bingung. Hye na diam sesaat, napasnya memburu, menatap appanya “semuanya baik…”gumam Hye na melangkah cepat kearah sebuah monitor yang memperlihatkan adanya kehidupan dari sang pasien. “semuanya stabil…”gumam Hye na lagi. Hye na menghela napas pelan, menenangkan dirinya. Semua orang diruangan itu terlihat bingung menatap Hye na “apa semuanya baik… kau baik-baik saja…”tanya Park Joon khawatir dengan keadaan Hye na “ada apa…”tanya Park Joon lagi ketika ia mendapati Hye na hanya diam dan duduk lemas di sisi ranjang, menatap sayu appanya, mencoba untuk menenangkan diri.

“kenapa…”tanya Pak Jeong kemudian

“omma…”panggil En kyu, menggoyang tangan Hye na, menyadarkannya. Hye na tersenyum menatap En kyu, dan menggenggam bahunya erat “tak apa sayang… omma hanya khawatir…”jawab Hye na

“khawatir tentang apa…?”tanya En kyu, menatap Hye na penasaran.

Hye na tersenyum manis menatap En kyu “maafkan omma… mengganggu tidur En kyu dan kalian…”kata Hye na “tidurlah kembali…”kata Hye na, tersenyum, menatap ketiga, mencoba mengembalikan suasana yang tenang yang sudah diusiknya.

“ahni… kau dan En kyu saja yang tidur… kau pasti kelelahan… sekarang istirahatlah… tidak baik untuk bayimu… lagi pula 3 jam lagi pagi akan datang… aku dan pak Jeong juga harus bersiap-siap untuk ke perusahaan. Hye na tersenyum “terima kasih banyak…oppa….”kata Hye na.

Park Joon tersenyum mendengar perkataan Hye na, lalu membawa Hye na perlahan ke sofa dan mendudukkannya di sana, tak lama En kyu menyusul dan tidur di pangkuan Hye na “selamat tidur omma…”kata En kyu mengecup pipi Hye na sebelum ia merebahkan kepalanya di pangkuan Hye na, kemudian mengecup perut Hye na singkat “selamat tidur adik kecil…”kata En kyu, tersenyum lebar, kemudian mulai memejamkan matanya, dan tidur kembali, melanjutkan tidurnya yang terganggu.

*******

Matahari perlahan masuk melalui celah tirai yang terbuka, memberikan sinar terang yang menyilaukan dan kehangatan yang merasuk ke kulit. Perlahan Jung min membuka matanya, namun ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya, seluruh tubuhnya terasa sakit, bahkan rasa nyeri yang sangat terasa saat ia mencoba mengangkat separuh tubuhnya untuk bersandar di dinding. Jung min menatap sekelilingnya, menyapu ruangan tersebut dengan pandangannya. Ruangan itu tampak sangat asing baginya, namun bau khas ruangan itu, Jung min mengetahui keberadaaannya. Tak lama seorang wanita dengan pakaian putih masuk.

“anda sudah bangun tuan Lee..”katanya

“dimana saya suster…”

“anda di Han’s Hospital… semalam anda…”kata-katanya terputus, kedatangan seseorang mengalihkan perhatian keduanya.

“pagi…”sapanya dengan senyum cerah. Orang itu mengalihkan wajahnya menatap Jung min “anda sudah bangun tuan Lee..”sapa orang itu, tersenyum menatap Jung min “saya Shin Hyun Bin… dokter yang menangani anda semalam…”

“kenapa saya bisa berada disini…”tanya Jung min, Han’s Hospital…?? Dunia memang sempit…ada begitu banyak rumah sakit dan klinik di Seoul, tapi ternyata…aku kembali, batin Jung min yang terlihat mencoba bangkit dari tempatnya “AKHHH…”seru Jung min tiba-tiba, menekan perut bagian kirinya.

“jangan mencoba untuk bangun dulu… jahitan anda masih basah…?”kata dokter Shin, menahan Jung min untuk bangkit dan membantu Jung min merebahkan tubuhnya kembali.

“jahitan… memang apa yang terjadi…”tanya Jung min mulai, menatap Dokter Shin bingung.

“itu..…saya tidak tahu cerita selengkapnya… tetapi yang jelas anda semalam datang dengan tubuh serta wajah berlumuran darah dan penuh memar… dan…”
Jung min diam, menunggu kelanjutan kalimat dokter Shin “…apa…?”tanya Jung min tidak sabar

“…dan… hampir saja saya harus mengambil ginjal bagian kiri anda…”

“MWO?!?!?!”seru Jung min “AKKHHHHH!!!”seru Jung min ketika ia dengan tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Jung min memegang erat perut bawah bagian kirinya. Rasa nyeri datang menyergap kembali, dan ia mencoba untuk menahannya, menggigit bibirnya.

“anda tidak boleh banyak bergerak dulu…atau jahitannya akan sobek…”kata dokter Shin “…saya bilang hampir… untung saja tusukannya tidak terlalu dalam…”

“tusukan…?”

“ne… sebuah tusukan yang hampir mengenai ginjal kiri anda…dan…anda juga kehilangan banyak darah… tetapi beruntung… seseorang melakukan pertolongan pertama yang sangat baik, yang dapat mengantisipasi banyaknya darah yang keluar…”

Jung min diam, menatap perutnya. “seseorang…??!!”

“ne…ia haruslah seorang dokter atau perawat atau mungkin seorang yang mengerti tentang medis… pertolongan yang diberikannya sangat baik…“terang dokter Shin lagi

Jung min diam, berpikir dan mengingat kembali, namun ingatan itu tidak ada, yang ia ingat hanya saat ia diseret keluar dari sebuah Club malam, lalu ia dipukuli hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri. Saat itu ia sama sekali tidak merasakan sakit karena sebuah tusukan yang mengenai tubuhnya.

“saya rasa dokter Hye na belum mengetahui ini…”kata dokter Shin kemudian “jangan!!!”seru Jung min tiba-tiba, menatap dokter Shin dalam. Keduanya saling menatap dan kemudian Jung min menundukkan kepalanya. Jangan…!!! Jangan…!! Aku tidak ingin membuatnya khawatir…tetapi apa dia masih peduli jika aku mengalami hal ini, batin Jung min

Dokter Shin terdiam sesaat menatap Jung min yang menundukkan kepalanya begitu nama kekasih hatinya disebut.

“…keluarga anda tidak dapat datang…”kata Dokter Shin

“ya…aku tahu… mereka tidak berada di Seoul…”jawab Jung min lirih

“… dan… dokter Hye na… dia… aku yakin dia sangat lelah setelah operasi itu… jadi…jika anda ingin dokter Hye na tidak mengetahui ini… beruntung…dokter Hye na belum mengetahuinya…” tambah dokter Shin, menatap Jung min, seakan membaca pikiran Jung min, dan menjawab pertanyaannya yang tidak ia lontarkan.

Jung min masih diam menundukkan kepalanya, terdengar sesuatu yang membuatnya bertanya “operasi?!?!?”tanya Jung min yang tiba-tiba mengangkat wajahnya “apa operasinya berhasil…?”

“ya… dan dokter Hye na sendiri yang mengoperasinya…”kata dokter Shin.
Jung min terdiam kembali dan menundukkan kepalanya dalam, terpikir banyak hal di kepalanya.

“saya harap anda jangan banyak bergerak dulu… banyak lah istirahat… “kata dokter Shin tersenyum menatap Jung min. “saya permisi dulu… “kata dokter Shin, membalikkan tubuhnya, dan melangkah keluar, namun tiba-tiba terhenti, memutar tubuhnya menghadap Jung min “…dan satu lagi Jung min-ssi… selamat atas kehamilan dokter Hye na… sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah…”tambah dokter Shin, tersenyum lebar menatap Jung min yang semakin terbengong-bengong di tempatnya.

“ha..hamil…??”gumam Jung min tidak percaya, setelah sepeninggal dokter Shin. “MWO…!!?? jadi… perkataan Seung gi…”seru Jung min lagi, menatap kearah Dokter Shin, namun kini ia sudah tidak berdiri di tempatnya lagi.

“tapi…benarkah…”gumam Jung min lagi, yang perlahan mulai merebahkan tubuhnya kembali. Jung min menatap langit-langit kamarnya, terpikir banyak hal di kepalanya, dan tiba-tiba dengan cepat Jung min bangkit, menatap pintu dihadapannya dengan penuh keyakinan. Aku harus mencarinya, ucap Jung min dalam hati. Jung min bangun dari tempatnya perlahan, saat rasa sakit kembali menyerang perutnya, namun tekad sudah bulat diambil oleh Jung min, dengan perlahan Jung min melangkah kearah pintu dengan membawa infuse ditangan kanannya dan tangan kiri yang menekan pelan perut bagian kirinya.

******

Matahari mulai naik, dan semakin memberikan kehangatannya, tetapi itu tidak menyusutkan semangat seseorang yang terlihat disibukkan dengan pekerjaannya. Pagi-pagi sekali Park Joon sudah berada diruangannya dan setelah sarapan, kini ia terlihat tengah memeriksa beberapa berkas yang terlihat berserak di meja kerjanya.
Tak lama tiba-tiba ia menghentikan pekerjaannya, hanya sesaat untuk menatap seseorang yang tengah mengetuk pintu. “masuk…”katanya

Pintu terbuka pelan, Pak Jeong masuk dan menutup pintu di belakangnya lagi sebelum ia beranjak mendekati Park Joon di tengah ruangan.

“ada apa pak Jeong…”tanya park Joon menatap pak Jeong penasaran

“… hanya ingin mengantarkan berkas ini…”kata pak Jeon yang kemudian memberikan sebuah map yang diterima secara langsung oleh Park Joon.

“…apa ini…”

“seperti yang anda tahu… ini sebuah permintaan kerja sama dari sebuah perusahaan kontraktor milik sahabat lama Tuan Han…”

“sahabat lama…?siapa…Tuan Lee…?”tanya Park Joon bingung,

“ahniyo…bukan Tuan Lee…”

“lalu…?” tanya Park Joon yang mulai bingung. Ia sama sekali tidak menyangka appanya itu memiliki sahabat lama selain Tuan Lee yang kini sudah menjadi besannya.

“ Tuan Goo…Goo Tae So… sudah lama beliau tidak menghubungi Tuan Han, dan ternyata kini ia sudah pergi…”

“maksud Pak Jeong…?”

“ne… beliau sudah meninggal beberapa waktu yang lalu… beberapa hari yang lalu aku baru mendengarnya dari pewarisnya… dan kini pewarisnya ingin melakukan kerja sama dengan Tuan Han karena wasiat dari appanya… jadi…”

“tentu saja Pak Jeong… sediakan hari untukku, untuk dapat bertemu dengan pewarisnya itu…”

Pak Jeong terlihat tersenyum, menatap Park Joon penuh kemenangan “…beliau ingin bertemu makan siang nanti tuan…”kata pak Jeong.

Park Joon terdiam sesaat, memikirkan sesuatu “makan siang…? “

“apa anda sudah ada janji…”

Park Joon mengangkat wajahnya menatap Pak Jeong “…sayangnya… iya…ada seseorang yang ingin bertemu… atur saja di hari yang lain Pak…”pinta Park Joon

“ne…agashimida…”kata Pak Jeong yang kemudian membalikkan tubuhnya, melangkah keluar dari ruangan Park Joon.

“ah… Pak Jeong…”panggil Park Joon lagi, menghentikan langkah Pak Jeong. Pak jeong membalikkan tubuhnya, menatap Park Joon, menunggu.

“Hye na… dia mengatakan akan pergi denganmu…kemana…”tanya Park Joon hati-hati
Pak Jeong terlihat diam sesaat, menundukkan kepalanya, berpikir. “maaf Tuan… saya tidak berani mengatakannya…ini diluar kuasa saya… jika anda merasa penasaran… langsung tanyakan saja pada agashi…maaf…”

Pak Jeong menundukkan kepalanya, sedangkan Park Joon menatap pak Jeong lama, mencoba berpikir dan menelaah, mencari jawaban dalap pikirannya “baiklah… tapi apapun yang kalian lakukan… tolong jaga Hye na dengan baik… jangan sampai sesuatu melukainya…”pesan Park Joon akhirnya, menatap Pak Jeong serius.



Pak Jeong mengangkat kepalanya sesaat, lalu senyum terkembang di wajahnya.

“ne… saya mengerti…saya akan menjaganya…”

“khamsamnida…”

*******

Hye na membuka matanya perlahan, cahaya matahari yang menyilaukan membangunkannya. Tidurnya sangat nyenyak. Ia bahkan merasa lebih baik hari ini. Hye na menatap pangkuannya, terlihat En Kyu tengah terlelap di sisinya. Hye na tersenyum dan mengusap kepalanya perlahan, penuh sayang, kemudian dialihkannya kepala En kyu dari dipangkuannya.

Hye na bangkit, dan menatap menatap sesosok tubuh yang tertidur sangat lelap di ranjang dengan berbagai alat penunjang yang dihubungkan ke tubuhnya. “pagi appa…”sapa Hye na yang kemudian mengecup kening appanya pelan. Hye na menatap appanya itu sesaat, dan tak terasa air mata jatuh satu persatu, sebuah harapan kembali diucapkan Hye na. Ia tidak ingin kehilangan appanya itu, sama sekali tidak. Dan semoga tidak.

Hye na menghapus air matanya yang jatuh, cepat ketika didengarnya panggilan dari En kyu.

“omma..”panggil En kyu lirih. Hye na membalikkan tubuhnya, tersenyum menatap En kyu. “sudah bangun sayang…”tanya Hye na. En kyu tersenyum, menganggukan kepalanya, menjawab pertanyaan Hye na. Keduanya terdiam hingga tiba-tiba kesunyian diantaranya terpecah oleh gelak tawa dari keduanya. Gelak tawa yang dipicu oleh sebuah suara yang tidak asing, di kedua pasanga pendengaran mereka

“En kyu lapar…?”tanya Hye na diantara tawanya. En kyu diam, menatap Hye na “sudah omma jangan tertawa lagi… ayo kita makan…”

Hye na masih tertawa di tempatnya. “omma!!”panggil En kyu keras, yang mulai merasa kesal

“baik baik… ayo…”kata Hye na, mengulurkan tangannya kearah En kyu untuk menggandengnya.

En kyu tertawa lebar menyambut uluran tangan Hye na, kemudian keduanya berjalan keluar dari ruang perawatan ayah Hye na, tepat saat seseorang terlihat tengah berjalan kearah ruang perawatan ayah Hye na.

********

Aku harus segera bertemu dengannya dan harus melakukan apapun untuk mendapatkannya kembali. Harus !!!,apapun yang terjadi batin Jung min, melangkah cepat ke arah sebuah ruangan yang baru saja di beritahukan oleh suster jaga.

Jung min membuka pintu dihadapannya perlahan, menunggu selama beberapa saat, sebelum ia membuka pintu itu lebih lebar lagi. Tidak terdengar teguran atau jawaban apapun dari dalam ruangan itu. Jung min membukanya lebih lebar lagi, dan ternyata tak ditemukan siapapun disana, hanya sesosok tubuh yang Jung min kenal., yang terlihat tergolek lemah, tidur ditempatnya.

Jung min mendekatinya dengan sesekali menatap sekelilingnya, mencari-mencari sebuah sosok yang dirindukannya. Tapi nihil, tak ada siapapun selain ayah mertuanya. Tiba-tiba rasa sakit menyerangnya kembali, dengan segera Jung min duduk di sisi ranjang ayah mertuanya itu, menekan perut sebelah kirinya, memejamkan matanya, meringis, menggigit bibirnya, menahan rasa sakitnya.

Lama akhirnya, rasa sakit itu mulai hilang, Jung min membuka matanya, menatap ayah mertuanya diam, sesaat, sebelum akhirnya ia membuka percakapan dengannya.

“pagi…appa…”sapa Jung min sambil sesekali meringis menahan rasa sakit yang datang dan pergi. Tak terdengar jawaban dari ayah mertuanya itu, yang ada hanya suara bip yang pendek dan terdengar konsisten, mengukur denyut jantung.
Jung min tersenyum, menatap ayah mertuanya itu “…appa…kau pasti akan marah padaku…”kata Jung min lagi.

“sangat marah mungkin… karena…aku sudah mengecewakan putrimu… putri tersayangmu… kekasihku…”kata Jung min, diam sesaat menundukkan kepalanya, senyum terlihat di wajahnya. Pikirannya menerawang, teringat kembali banyak kenangan antara dirinya dengan kekasih hatinya itu. Kembali teringat di kepalanya saat pertama kali dirinya jatuh cinta pada sosok seorang Han Hye na. Sebuah foto… hanya sebuah foto berhasil menarik perhatiannya, menarik hatinya, kemudian cerita itu mulai berjalan

Flashback

“Seung gi… masuk ke ruanganku sekarang… ada sebuah…”Jung min menghentikan perkataannya sesaat. Mengatakan apa yang akan dikatakan bukanlah hal yang biasa ia lakukan pada orang lain.

“apa…?”tanya Seung gi, yang masih menunggu kelanjutan perkataan bos sekaligus sahabatnya itu. “…sebuah…errrmmm…per….permintaan…”kata Jung min akhirnya
Seung gi terdiam, terkejut diam di tempatnya, tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan seorang Jung min. “YYA!!! Kau masih disana…Seung Gi!!!”teriakan Jung min berhasil menyadarkan dirinya.

“ah…ne…aku kesana sekarang…”jawab Seung gi yang kemudian segera meletakkan ganggang telepon di tangannya dan bangkit dari tempatnya, berjalan cepat keluar dari ruangannya.

Terdengar sebuah ketukan di pintu. Jung min yang telah menunggu kedatangan Seung gi, segera menyuruhnya untuk masuk. Seung Gi duduk di sofa, dihadapan Jung min yang telah menunggu kedatangannya.

“permintaan apa…”tanya Seung gi cepat, antusias dengan sebuah perubahan yang mungkin bagi Jung min biasa namun…sangat luar biasa bagi seorang Seung gi.
Jung min diam, menatap Seung gi, rasa kesal mulai merasuk didirinya. Jung min memejamkan matanya, menahan rasa kesal itu. “ayo katakan… cepat…cepat…”paksa Seung gi. Jung min menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, sebelum memulai.



Seung Gi diam, menatap Jung min, menunggu, hingga akhirnya Jung min melemparkan sebuah foto di meja, diantara keduanya. “…cari wanita itu…”kata Jung min singkat.

“mwo…??”tanya Seung gi bingung, menatap Jung min sesaat sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya, menatap foto dihadapannya. Seung gi meraihnya dan menatapnya lebih dekat. “siapa dia…”tanya Seung gi.
Jung min diam, menatap Seung gi kesal karena pertanyaannya “…kalau aku tahu… aku tidak akan menyuruhmu…”kata Jung min.

Seung gi diam, menatap foto itu. “…untuk apa kau mencarinya…?”
Jung min diam, menatap tajam Seung gi, siap membunuhnya bila ia bertanya lagi. “…ne…arasso…arasso…”kata Seung gi, mengerti.

“apa hanya itu…”tanya Seung gi

“ne… lakukan dengan cepat…”

“….baik…”jawab Seung gi sambil membungkukkan tubuhnya dihadapan Jung min. Seung gi diam sesaat, kemudian diangkatnya wajahnya tepat saat ia melihat senyum tipis di wajah Jung min. Seung gi diam menatapnya takjub, tidak menyangka, hingga….

“…apa lagi yang kau tunggu… lakukan sekarang…”kata Jung min, menatap Seung gi.

########

Jung min menundukkan kepalanya, tersenyum, ditatapnya jari-jari dikedua tangannya dan dimainkannya. “awal mula sebuah rencana besar…”gumam Jung min “…atau…awal mula sebuah takdir yang membawanya kehadapan cinta…?”tambah Jung min, tersenyum. Lamunannya mulai berlanjut.

########

(Flashback on…)

“sebenarnya apa yang ingin…appa bicarakan”kata Jung Min

“appa ingin kamu menikah… dan appa ingin kamu menikah dengan orang pilihan appa itu pun jika kamu tidak memiliki calon yang lain…”

“mwo…!” seru Jung min keras

Lee Jung Min hanya diam, menatap appanya dalam, ia tidak mengatakan apapun untuk membantah atau menyetujui keputusan appanya. Ia tahu pasti apa yang akan dilakukan appanya jika ia berani membantahnya. Keduanya diam, saling menatap. Hingga akhirnya…
“appa ingin kamu menikah… dan appa ingin kamu menikah dengan orang pilihan appa itu pun jika kamu tidak memiliki calon yang lain…”

“mwo…!” seru Jung min keras

“terserah appa saja…” kata Jung Min yang kemudian bangkit dari tempat duduknya “kalau tidak ada lagi yang ingin dikatakan…aku pergi…”tambah Jung Min yang kemudian melangkah menuju pintu dan keluar dari ruangan itu


#########

Dan takdir itu dimulai…
Masih teringat saat Seung gi datang padanya dengan membawa sebuah berkas dalam map berwarna hitam, tepat saat orang-orang suruhannya lari terbirit-birit, keluar dari ruangannya. Seung gi terlihat menatapnya, menunggu ketenangan datang di hatinya.

#######

(Flashback on)

“ada apa kamu kemari…”tanya Jung Min kemudian.

“apa ada kabar terbaru…?”tanya Jung Min lagi, menunggu sebuah jawaban dari laki-laki dihadapannya, namun, jawaban yang diinginkannya belum terlontar dari mulut laki-laki itu “yyaaa.!!! Seung Gi…!!”seru Jung Min, kesal

“….”keduanya terdiam, saling menatap, lalu senyum terkembang di wajah Lee Seung Gi “panggil aku Hyung…”kata Seung Gi akhirnya “panggil aku hyung…Jung Min dongsaeng…”tambahnya.

“yyyaaaa…Seung Gi…cepat katakan!!!”seru Jung Min

“ok…ok…arasso…”kata Seung Gi yang akhirnya menyerah, lalu meberikan sebuah berkas dengan map berwarna hitam kepada Jung Min “apa ini…”tanya Jung Min

“buka dan bacalah…”

“aku sedang tidak berniat untuk melakukan apapun hari ini…membaca sekalipun…katakan saja padaku…”

“tidak…aku yakin kamu pasti akan tertarik membacanya…bukalah dulu…”kata Seung Gi
Jung Min, menatap Seung Gi yang masih terlihat tersenyum, menatapnya, menunggu dirinya mulai membuka dan membaca isi dari map itu. Dan entah apa yang terdapat didalam map itu, tiba-tiba, ekspresi wajah Jung Min berubah, dia bukan lagi merasa tertarik dengan map itu, namun juga merasa marah, benar-benar marah.

#########

Kemarahan itu, ia rasakan kembali. Kemarahan saat ia mulai membuka dan membaca isi map tersebut. Jung min meremas kedua tangannya kuat.

########

(Flashback on)

“apakah benar orang itu ada di Seoul..?”

“itu laporan terakhir yang diberikan oleh detektif yang aku sewa… salah seorang detektif memberikan laporan itu tadi pagi….”jawab seung Gi, kemudian diam menatap sahabatnya itu.

“Lalu apa yang akan kau lakukan Jung Min…apakah kamu akan segera membawanya kembali…” tambah seung Gi lagi, memecah keheningan diantara mereka. Keduanya terdiam kembali. Tak lama, terdengar helaan napas dari Jung Min

“dimana terakhir dia berada….”

“terakhir dia berada di sebuah restoran…”

“setelah itu…”

“di sebuah yayasan…yayasan yatim piatu..detektif ku melihat dia berada disana… dan sepertinya dia masih berada disana…”

“yayasan apa…?”

“sebuah yayasan yatim piatu milik entahlah…yang aku dengar yayasan itu banyak menerima yatim piatu yang berasal dari berbagai negara di seluruh dunia. Kebanyakan mereka adalah anak-anak korban bencana alam…” Lee Seung Gi menatap Jung Min sesaat, menunggu respon dari bosnya itu,

“kenapa…? Apa yang harus aku lakukan…” tanya Seung Gi. Jung Min hanya diam dan kemudian berjalan kearah sofa diruangannya dan menjatuhkan tubuhnya kerasa disana. Lee Seung Gi menatap sahabatnya itu, prihatin. “apa yang harus aku lakukan…? Apa aku harus membawa nya kehadapanmu…?”tanya Seung Gi lagi, namun Jung Min masih diam, membisu. Ia menundukkan kepalanya dan meletakkan kedua tangannya menutupi wajahnya, bingung.

##########

Dan disanalah saat itu ia berada, menatap seseorang yang sama sekali tidak disangkanya. Seseorang yang dicarinya selama ini. Seseorang yang hampir saja ia sakiti karena akan membalaskan dendam pada hyungnya… Lee Jung moon. Hyung yang sudah menyakitinya dengan mengkhianatinya. Hyung yang sangat ia sayangi dengan sepenuh hati, dan dengan teganya menyakiti hati itu.

Jung min menundukkan kepalanya. Perlahan ia berpindah di sebuah kursi yang ia tarik untuk berada di dekat ranjang appa Hye na. Ditatapnya appa Hye na, kemudian digenggamnya tangan yang terasa dingin itu.

Masih teringat di kepalanya, saat terpikir sebuah rencana dikepalanya. Saat itu ia merasa beruntung karena ia punya kesempatan untuk membalas dendamnya, tetapi semuanya selesai…atau ia pikir selesai tepat saat appanya menelepon dan mengatakan keputusan sepihaknya, untuk membatalkan proyek di yayasan yang akan ia jadikan sebagai apartemen. Tapi… takdir membawanya lebih jauh….

#########

(Flashback On)

“hentikan proyek apartemen itu…dan sebagai gantinya appa akan memberikan sebuah tanah untuk kamu gunakan membangun apartemen itu…”

“waeyo appa…proyek itu hampir selesai…dan akan segera dilakukan…”

“masih hampir dan belum dilakukan bukan…?”

“tap…”

“lakukan saja apa yang appa perintahkan…hentikan dan jangan usik daerah itu…”

“waeyo…kenapa???”

“pokoknya lakukan apa yang appa perintahkan…”

Jung Min diam, berpikir, mencari sesuatu dikepalanya, menggali sesuatu dikepalanya “baiklah appa…”

“bagus…besok ikut appa untuk melihat tanah itu…dan appa akan mempertemukan kamu pada seseorang..”

“nee…”

Telepon terputus. Seung Gi menatap Jung Min curiga,tidak biasanya sahabatnya itu menerima mentah-mentah perintah, biasanya dia akan melawan sampai titik darah penghabisan. “waeyo….kenapa menatapku seperti itu…”tanya Jung Min

“ah…aniyo…hanya…”

“ayo kita pergi…”

“kemana…?”

“ada sesuatu yang harus aku lakukan….”jawab Jung Min mengambil jas nya dan berjalan menuju pintu ruangannya dan keluar

“yyaa…apa itu…”seru Seung gi, yang kemudian berjalan mengikuti Jung Min keluar dan berusaha mengejar langkah lebar dan cepat dari Jung Min.

########

Jung min tersenyum, mengalihkan wajahnya ke appa Hye na, menatapnya lama. Dan senyum semakin lebar diwajahnya.

“appa… rencana balas dendam itu akhirnya bisa terlaksana…”kata Jung min lirih. “rencana untuk menghancurkan orang itu… tetapi…” Jung min berhenti sesaat, tersenyum kembali “ tetapi…tidak… rencana yang lainlah yang terlaksana….”tambah Jung min. Ia teringat kembali. Kedatangan dirinya di sebuah yayasan. Yayasan yang akan dia hancurkan untuk sebuah apartemen, yang ternyata juga dapat ia jadikan sebagai alat untuk membalas dendam, namun, segalanya berakhir setelahnya. Proyek dan dendam itu tidak lagi berarti lagi bagi Jung min.

########

(Flashback On)

“yya…Jung Min…” panggil Seung gi lagi. Jung Min masih diam menatap seseorang yang jauh dihadapannya. Seung gi menepuk bahu Jung Min keras yang ternyata berhasil membawa Jung min kembali ke dunia nyata. “ada apa sebenarnya…”tanya seung gi yang masih belum mengerti atas apa yang terjadi pada seorang Lee Jung Min. Entah apa yang begitu menarik perhatian laki-laki yang sangat acuh sebelumnya. Jung min menatap seung gi, dan tanpa kata-kata tiba-tiba Jung min masuk kembali kedalam mobil.

Namun, saat ia membalikkan tubuhnya akan membuka pintu mobilnya, gerak tangannya terhenti oleh sebuah sosok yang berdiri di sebelah kanannya jauh dari tempatnya berdiri. Sosok itu terlihat diam, menatap sesuatu tepat dibelakang Jung Min. Jung Min kembali memutar tubuhnya dan menatap sesuatu yang menjadi perhatian sosok itu.

########

Saat itu, Jung min merasa dendamnya akan terbalaskan, namun ternyata, Sang Pencipta membalikkan hatinya. Jung min tersenyum mengingat itu semua. Takdir membawanya kearah yang berbeda.

##########

(Flashback On)

“Seung Gi…”panggil Jung Min tiba-tiba dengan sebuah pandangan menerawang

“ya…”

“aku ingin tahu lebih banyak tentang pemilik yayasan itu…”

Seung Gi diam, menatap Jung Min, dia benar-benar bingung atas apa yang terjadi pada bosnya itu. “untuk apa…apa untuk proyek itu…”


#########

Akhirnya, hasilnya datang. Hasil yang ditunggunya. Hasil yang membawanya bersama takdir yang berbeda. Takdir yang membawa ia ditempat ini, sekarang ini. Jung min tersenyum, mengingat kembali.

#########

Flashback On

Jung min mendapati Seung gi tengah membaca sesuatu. Dan dengan bangga dan senyum merekah diwajahnya, ia memberikannya pada Jung min. Jung min menerimanya penuh tanda tanya. Jung min membacanya sesaat dan berhenti setelah ia menemukan sebuah kalimat.

“disini dikatakan ada seorang pria yang datang sekitar pukul 11 malam…siapa dia…”tanya Jung Min tiba-tiba.

“entahlah…tapi dugaanku dia adalah…”
Jung min diam, menatap kosong laporan ditangannya sesaat.

“ya…cukup…pukul 9 bukan…ayo kita pergi…”


#########

Jung min terdiam sesaat “pukul 9… kejadian yang mengejutkan terjadi…” gumam Jung min lirih, masih menyisakan senyum diwajahnya. Kejadian yang sangat mengejutkan, bahkan mampu membuat ia terdiam sesaat dan mencoba mengatur sebuah rencana. Rencana yang akhirnya membuat Hye na menjadi miliknya…seutuhnya.

########

(Flashback ON)

Jung min masuk kedalam mobilnya. Perjalanan yang singkat namun baginya sangat panjang dan melelahkan. Hari ini adalah hari dimana ia akan bertemu calon istrinya. Calon istri yang belum dikenalnya. Calon istri yang sangat asing baginya. Jung min membuka laporan penyelidikan yang diberikan Seung gi pagi tadi dan mulai membacanya kembali.

“Hye na… jadi pemilik yayasan itu bernama Han Hye na… Lee Jung moon… kau…. Aneh… apa kau mencintainya…? Lalu bagaimana dengan…” gumaman Jung min yang lirih terhenti saat mobilnya masuk kesebuah pelataran parkir di sebuah restoran. Jung min turun dengan cepat setelah ia meletakkan map yang baru saja di bacanya di sisi tempat duduknya.

Jung min masuk dan duduk di kursi dekat dengan appanya. Tak lama seorang wanita datang. Wanita yang manis dan lembut dengan gaun pinknya yang semakin menunjukkan kecantikkannya. Itu dia… batin Jung min saat melihat Han ahjussi melambaikan tangannya pada wanita itu. Setelah semakin dekat, Jung min begitu terkejut menatap wanita yang ada dihadapannya. Wanita itu pun terlihat sangat terkejut, menatap Jung min, namun Jung min tak tahu kenapa wanita dihadapannya bisa seterkejut itu.

“Han Hye na… benar... Han Hye na… jadi…pemilik senyum itu…yang ada di foto…”batin Jung min lirih, terkejut. Jung min terdiam menatap Hye na. Keduanya saling menatap, tetapi kesadaran Jung min segera pulih, dengan cepat Jung min bangkit dan menarik tangan Hye na, tanpa menggubris teriakan dari dua orang tua yang duduk saling berhadapan.

“ada apa…sakit…”seru Hye na, sambil menarik tangannya lepas dari cengkraman Jung Min. Jung Min menatap Hye na tajam “aku punya sebuah penawaran untukmu…”kata Jung Min

“aku tidak berniat dengan penawaran lagi…”kata Hye na yang kemudian beranjak pergi, namun lagi-lagi Jung Min menarik tangannya, membuat dirinya jatuh di dada bidang Jung Min.


End Of Flashback

Jung min tersenyum lagi, sebuah kenangan kembali teringat. Jung min menatap ayah Hye na lembut, menggenggam tangannya erat.

“appa…aku mengajukan 3 permintaan pada Hye na dengan penawaran surat tanah yayasan itu. aku katakan padanya bahwa semuanya belum selesai…. Saat itu aku berdoa bahwa Hye na tidak memahami sama sekali tentang peralihan tanah… dan… terjawab… Hye na memang tidak mengerti… ia menerima setiap perkataan pengacara itu begitu saja. Pengacara yang kubayar untuk mengatakan semuanya…semua kebohongan itu…” Jung min menghentikan perkataannya dan tertawa lirih.

“akkhhhh…”seru Jung min tiba-tiba, menekan perut sebelah kirinya, meringis. Goncangan tubuh karena tawa membuat perut nya terasa sakit.

Jung min diam sesaat merasakan rasa sakit yang perlahan-lahan mulai hilang. “dan…akhirnya… aku resmi memilikinya…bahkan kini ada seorang yang lain… seorang yang lain yang tumbuh di rahim Hye na… seseorang yang merupakan separuh diriku dan separuh Hye na…takdir membawaku ke tempatku saat ini… tetapi prahara itu mulai datang…dan aku mengecewakannya…aku membuatnya sedih…”kata Jung min lirih “…aku benar-benar mencintai…sangat mencintainya…”tambah Jung min lagi, membenamkan wajahnya di sisi tubuh ayah Hye na. Isakan mulai terdengar.

“appa…”panggil seseorang tiba-tiba membuat Jung min mengangkat kepalanya cepat dan menatap ke asal suara, terkejut.

“…En…En kyu…”panggil Jung min terkejut

“appa…nangis…”kata En kyu yang berjalan mendekat, dan menghapus air mata Jung min yang mulai menetes. Jung min tersenyum menatap En kyu, namun tiba-tiba raut wajah Jung min mengeras kembali, rasa takut menyergapnya. “En kyu…sejak kapan En kyu ada disini…”tanya Jung min.

“maksud appa…? En kyu baru saja masuk…”

Jung min diam, mencoba menenangkan dirinya, tapi hanya sesaat, kemudian ketakutan kembali merajainya “…lalu…om..omma…?”tanya Jung min.
En kyu diam sesaat “omma…pergi… katanya ia harus memeriksa beberapa pasien…”jawab En kyu. Dan saat itulah, ia mulai merasa tenang. Jadi Hye na tidak mendengar semua ceritaku, batin Jung min.

“appa…kenapa pakai baju yang sama dengan haraboji…”tanya En kyu tiba-tiba menatap Jung min penuh tanda tanya penasaran. Jung min diam, dan menatap pakaian yang dikenakannya. “appa sakit…”tanya En kyu lagi, khawatir. Jung min tertawa pelan, namun berhasil membuat lukanya sakit. “akkhhhh…”

“appa…appa baik-baik saja…?”tanya En kyu terkejut sekaligus khawatir dengan keadaan Jung min.

“ne… appa tak apa… hanya sedikit…sedikiiiiiiitttt… sakit…”jawab Jung min tersenyum dan menujukkan sedikitnya itu dengan menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya. “ahhh…lalu bagaimana dengan En kyu…?”tanya Jung min

En kyu diam, menatap Jung min bingung. Dan Jung min membaca kebingungan En kyu. “bahu En kyu… “kata Jung min lagi, memegang bahu En kyu dan menepuknya pelan.

“bahu…?”

“ne… yang kemarin saat appa menjemput En kyu di panti asuhan…. En kyu bilang bahu En Kyu sakit…”

En kyu diam, mengerutkan keningnya, mencoba mengingat dengan keras. “karena…”kata-kata Jung min terhenti. “ahhh…En kyu ingat…masih sakit appa…sakit…disini…”kata En kyu, menunjukkan kedua bahunya dan menunjukkan wajah yang kesakitan.

“masih sakit…”kata Jung min lagi, memegang pelan bahu En kyu “akkkhhhh…sakit appa…”kata En kyu, kesakitan. Jung min tersenyum lebar. Ia tahu En kyu tidak begitu, tapi Jung min mengikuti scenario En kyu. “ahhh… mianhe… appa tidak sengaja… apa kita perlu ke dokter…?”tanya Jung min, menunjukkan wajah khawatirnya.

“ahniya… tak apa…sudah baikkan…”jawab En kyu, yang menunjukkannya dengan menggerak-gerakkan bahunya pelan, memutarnya.

Jung min tersenyum kemudian tertawa lebar melihat tingkah En kyu, lalu terhenti karena teringat sesuatu olehnya“ahhh… ingat janji antar laki-laki kita…?!?”tanya Jung min tiba-tiba, menatap En kyu serius, walaupun hanya pura-pura.

“janji…?”

“ne…tentang sakit di bahu En kyu…apa…omma tahu…?”

“omma…?”

“ne…”

“ahniya…omma tidak tahu dan tidak akan pernah tahu… En kyu actor yang hebat bukan…? Lagipula En kyu akan memegang teguh janji antar laki-laki… jadi omma tidak pernah tahu…”jawab En kyu bangga.

“pintar…”kata Jung min, mengacak rambut En kyu gemas.

“appa..!!!”seru En kyu, menatap Jung min marah, cemberut

“ahhhh…appa lupa… mianhe En kyu-aa…”

*******

“BODOH!!! Kenapa kalian tidak membunuhnya…”

“maafkan kami…tiba-tiba ada seseorang dan banyak polisi datang…banyak sekali bos jumlahnya…”

“ne… benar bos… untung kami bisa langsung melarikan diri sebelum polisi-polisi itu menangkap kami….”

Seseorang yang dipanggil bos terdiam, menatap semua laki-laki berotot dihadapannya, berusaha membaca kebenaran di mata orang-orang itu.
“tapi…apa lukanya parah…”tanya ‘bos’ itu

“ne… dia terluka sangat parah…bahkan kami yakin sekali ia akan cacat… walaupun kami tidak sempat membunuhnya, tapi pisau ini…pisau ini sudah menancap di tubuhnya…”kata laki-laki yang berdiri di ujung sebelah kanan seseorang yang dipanggilnya bos itu, sambil menunjukkan pisau ditangannya yang masih terdapat darah yang mulai mengering disana.

Laki-laki yang disebut Bos itu tersenyum penuh kemenangan “bagus… kalian pantas mendapat bonus untuk itu… aku harap Lee Jung min akan mati karena luka-luka itu…aku harus mendapatkan Hye na… dan jika aku tidak bisa… maka….orang lain juga tidak… tidak akan pernah…”gumamnya, tersenyum licik.

********

Hye na melangkahkan kakinya pelan, tak tentu arah. Ia benar-benar shock mendengar semua cerita seorang Lee Jung min dalam usahanya untuk mendapatkan dirinya. “Sedalam itukah cintamu…”gumam Hye na, menundukkan kepalanya dan menjatuhkan dirinya pelan ke sebuah kursi tunggu di hall rumah sakit yang luas dengan lalu lalang orang yang masih dapat dihitung jumlahnya.

Hye na terdiam, hingga tiba-tiba seseorang menjulurkan tangannya dengan segelas kopi disana. Hye na menatap kopi itu sesaat, dan tiba-tiba rasa mual menjangkiti dirinya. Orang itu segera menarik tangannya dan menatap Hye na khawatir “Gwenchana…?”tanyanya. Hye na menengadahkan wajahnya menatap orang itu. “dokter Shin…”sapa Hye na, yang kemudian bangkit, dan berdiri di sisi dokter Shin. “maafkan aku…aku tidak mengetahuinya… maaf…”kata dokter Shin cepat, penuh penyesalan.

“ne…tak apa dokter Shin… tak apa…”

Dokter Shin berjalan ke sisi Hye na dan duduk di bangku yang baru saja diduduki olehnya. “duduklah dokter…”kata Dokter Shin, menepuk bangku disisinya
Hye na duduk. Keduanya mulai terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.

“bagaimana kabar Tuan Han…?”tanya Dokter Shin tiba-tiba

“…berangsur membaik… walaupun masih koma… tapi ada harapan untuk membaik…”

“ah… bagus kalau begitu… maaf aku belum sempat menjenguknya…’

“ne… tak apa dokter…”jawab Hye na, tersenyum lemah. Dokter Shin mengerti keadaan Hye na “tenang saja…semuanya akan baik… untuk Tuan Han dan Jung min…”kata Dokter Shin

Perkataan Dokter Shin membuat Hye na terkejut sesaat “apa maksud anda tentang Jung min…”tanya Hye na bingung, menatap Dokter Shin penasaran.
Dokter Shin menatap Hye na lebih terkejut,entah benar-benar terkejut atau tidak, kemudian terlihat kerutan dikeningnya. “anda… bukankah Jung min terluka…? Kemarin aku baru saja mengoperasi tubuh…menjahit lukanya…”

“MWO???!!!”seru Hye na yang tiba-tiba bangkit dari tempatnya, menatap Dokter Shin terkejut. “apa maksud anda…?”tanya Hye na semakin bingung.
Dokter Shin diam, menatap Hye na, ia mengetahui sesuatu kini. “…dokter Hye na… bisakah kita berbicara di ruanganku…”kata Dokter Shin.


aku putus disini ya... takut kepanjangan.... aku lanjut dibawahnya....
« Last Edit: September 21, 2010, 11:36:09 am by ai_yuki »

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
lanjutannya

Hye na diam, namun mengikuti langkah dokter Shin ke arah ruangannya. Pintu dibuka, Dokter Shin masuk dan duduk di belakang sebuah meja. Hye na menatap diam ruangan itu. Ruangan dengan tata interior yang standar layaknya ruang kerja yang lain.

Terdapat gantungan jas di ujung ruangan dekat dengan pintu, rak buku, meja dan 2 kursi yang berhadapan, mengapit sebua meja kayu. Hye na duduk di salah satu kursi, dihadapan Dokter Shin. Tak lama dokter Shin mulai mencari sesuatu di rak buku kecil yang ada dibelakangnya, tetapi sepertinya yang dicari, tidak ia temukan disana, karena kemudian Dokter Shin terlihat mulai mencarinya lagi di rak yang lain, meninggalkan Hye na yang duduk dtempatnya, dihadapan kursinya.

Hye na diam, mengalihkan wajahnya dari kesibukan mencari Dokter Shin dan menatap meja dihadapannya, dan yang dilihatnya pun sama saja, tidak ada yang mewah atau berlebihan disana. Hanya ada tumpukan buku, dan kertas, tempat alat tulis dan beberapa alat tulis disana dan sebuah foto…. Figura foto yang berdiri membelakangi Hye na. Hye na mengamatinya sesaat. Rasa penasarannya muncul. Diambilnya foto itu, dan ditatapnya foto itu, keterkejutan muncul disana saat ia menatap laki-laki dan perempuan yang tersenyum, terlihat keduanya sangat bahagia. Keduanya mengenakan pakaian yang hampir serupa dengan warna yang sama, hitam. Hye na diam, terkejut dengan wanita yang berada di foto itu.



“ini…”kata Hye na lirih, menunjukkan bingkai foto ditangannya.

“ahhh… itu…”kata dokter Shin tiba-tiba, yang saat itu tengah mencari sesuatu ditumpukan buku di kertas di meja “…itu…aku dan istriku… “

“mwo….? Istri…?”tanya Hye na tidak percaya

“…ne… hanya foto lama… kami jarang bisa bertemu… kami sama-sama sibuk… jadi tidak sempat membuat foto baru…ahh… kini ia tidak berada di Seoul… sekarang ia berada di London…untuk pekerjaannya…”kata Dokter Shin menatap Hye na tersenyum. Sebuah senyuman aneh “…mengenalnya…Hye na-ssi…?”tanya Dokter Shin, tersenyum, seakan telah memenangkan sesuatu.

Hye na menatap dokter Shn terkejut, bingung dengan semua yang dialaminya. Hye na mengalihkan tatapannya kearah Dokter Shin dan foto yang ditangannya bergantian, mencari kebenaran, dan dokter Shin terlihat hanya tersenyum, menatap Hye na yang masih terdiam, bingung dengan yang dilihat dan didengarnya.

“…tap…tapi…Jung min…”kata Hye na lirih, tetapi masih berada di jangkauan dokter Shin untuk ditangkap indera pendengarannya. “dia…benar-benar…istrimu…?!?!? Song Yoo na….?!?!”tanya Hye na lagi, masih belum percaya dengan pendengarannya. Dokter Shin tersenyum, menganggukkan kepalanya, meyakinkan Hye na.

Hye na terdiam lagi, hanya sesaat “…tap…tapi… bagaimana bisa…?”tanya Hye na “Jung…Jung min…”

“ne… Jung min-ssi…ia masa lalu Yoo na…hari itu…di London…dia mengatakan padaku…bahwa ia merasa sangat sedih… ia benar-benar sedih… ia sama sekali tidak bermaksud memisahkan kalian… saat itu ia hanya merasa senang karena Jung min… seseorang yang mana ia sangat merasa bersalah padanya, akhirnya menikah…dan akan mempunyai anak…”

“anda tahu…?!?”tanya Hye na, semakin tidak percaya dan bingung dengan apa yang dialaminya. Dokter Shin tersenyum menjawab pertanyaan Hye na. “ne…aku tahu… bahkan semuanya…semua yang tidak diketahui oleh siapapun… bahkan Jung min sekalipun…”
Hye na diam, menatap Dokter Shin, menunggu, kemudian sebuah cerita kembali terangkai di benak Dokter Shin.

“semuanya bermula dari sebuah hasil pemeriksaan…”

“pemeriksaan…???”

“ne…pemeriksaan yang aku lakukan sendiri….”

“hari itu Yoo na memeriksakan, rasa sakit yang selalu muncul di perutnya dan darah yang sering keluar dari vaginanya padaku…saat itu 3 hari sebelum pernikahannya dengan Jung min…dan besoknya, hasil itu datang… saat itu…aku ragu untuk memberikannya…tapi…”

“memang…hasil pemeriksaan itu… apa hasilnya…?”

Flashback

Song Yoo na duduk dihadapan dokter Shin dengan wajah yang gelisah, menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Shin. Dokter Shin terlihat diam, menggenggam erat amplop yang ada ditangannya, bingung akankah harus diberikannya atau tidak. Keheningan tercipta di antaranya.

“…dok… bagaimana hasilnya…?”tanya Yoo na, memecah keheningan yang tercipta. Dokter Shin terlihat menarik napas panjang, kemudian terdiam lagi.

“ayolah dok…. Katakan padaku…apa hasilnya… kenapa kau seragu ini… jangan membuatku takut…”kata Yoo na dengan suara gemetar. Dokter Shin berjalan mendekat dan mengambil sebuah kursi dan meletakkanya di hadapan Yoo na. dokter Shin duduk disana dan menatap Yoo na dalam. Perlahan Dokter Shin memberikan amplop yang ada ditangannya pada Yoo na.

Yoo na menatap Dokter Shin sesaat, berusaha membaca pikirannya untuk mencari tahu ada apa sebenarnya… apa yang terjadi….

“buka dan bacalah…”kata dokter Shin kemudian, mengetahui pemikiran Yoo na. Yoo na menatap dokter Shin sesaat sebelum membuka amplop itu dan mengeluarkan surat yang ada didalamnya, yang merupakan hasil dari pemeriksaannya. Mata Yoo na terlihat mulai bergerak, membaca setiap kalimat yang tertulis, dan tiba-tiba terhenti di sebuuah tulisan yang kemudian membuatnya menjatuhkan kertas ditangannya. Yoo na diam, wajahnya terlihat sangat terkejut dan perlahan air mata terlihat di pelupuk matanya untuk kemudian mulai jatuh menetes. Dokter Shin, semakin mendekatkan kursinya dan memeluk Yoo na, mendekapnya, menenangkannya.

Lama, hampir 30 menit, isakan masih terdengar dari Yoo na, namun kemudian, isakan itu mulai memelan, dan terdengar samar. Yoo na melepaskan pelukan dokter Shin, menundukkan kepalanya.

“terima kasih banyak dokter shin… saya harus pergi…”kata Yoo na kemudian

“…tapi…”

Pintu tertutup keras dihadapan dokter Shin sebelum akhirnya dokter Shin bisa melanjutkan perkataannya. Dokter Shin, menghela napas berat.

##########

Hye na terlihat diam, ditempatnya. Sebagai dokter ia mulai mengetahui dan menebak sesuatu. Ia mengetahui apa yang tertulis di dalam surat itu.

“apa surat itu… hasil…”kata Hye na tidak mampu mengatakannya.
Dokter Shin diam, menatap Hye na “…mungkin…”

“lalu…apa yang dilakukan Yoo na kemudian....?”tanya Hye na lirih

Dokter Shin tersenyum, dan menarik napas panjang “…entahlah apa yang terjadi… aku tidak mengetahuinya dengan pasti… yang aku tahu… apa yang Yoo na ceritakan padaku…”
Hye na diam, menunggu, dan mendengarkan

#######

Song Yoo na, terlihat diam, melamun, menatap danau yang tenang dengan beberapa ikan yang muncul di permukaan untuk mengambil makanan yang dilemparkan oleh beberapa pengunjung. Ditangannya terdapat sebuah surat putih dengan banyak tulisan dan berlogo sebuah rumah sakit terkenal di Seoul. Lamunannya buyar oleh kedatangan seseorang.

“Song Yoo na…seorang… calon desaigner professional… kenapa melamun sendiri…? Mencari inspirasikah…?”tanyanya, yang kemudian mengangkat kameranya dan mengambil sebuah foto Yoo na saat itu.

Yoo na mengalihkan tatapannya, dan tersenyum, “kau…datang Jung moon…”kata Yoo na lirih, kemudian tersenyum, senyuman yang sangat aneh, terlihat hambar dan sangat dipaksakan.

######

“Lee Jung moon… apa Lee Jung moon…”

“ne… seperti perkiraan anda…”

“jadi selama ini Jung min salah…”

“…ne…”

#########

Jung moon, menatap senyum itu dari lensa kameranya, namun perlahan menurunkannya ketika ia melihat senyuman itu. Perlahan Jung moon berjalan memdekatinya. “ada apa…”tanya Jung moon mulai khawatir. Tidak biasanya, sahabatnya itu, yang akan menjadi calon adik iparnya terlihat begitu sedih, apalagi pernikahannya tinggal 2 hari lagi.

“ada apa… apa ada yang salah dengan Jung min…?”

Yoo na tersenyum hambar lagi. “tidak… tidak ada yang salah dengan Jung min… aku yang salah…”

“mwo…? Ada apa…”

Yoo na diam, ditundukkannya kepalanya pelan, dan tiba-tiba tangisnya meledak. Yoo na tidak dapat lagi membendungnya.

Jung moon diam, merangkul bahunya, menenangkannya. “tenangkan dulu…ceritakan apapun itu dan kapanpun itu jika kau sudah merasa baik… aku akan menunggu…”kata Jung moon. Yoo na masih terisak perlahan dengan airmatanya yang semakin mengalir deras.

Lama, akhirnya keadaan Yoo na membaik, Yoo na menundukkan kepalanya, menahapus air matanya perlahan. Jung moon terlihat masih diam menunggu. Ditatapnya Yoo na yang berusaha menenagkan dirinya dengan menarik napas panjang.

“Jung moon… bantu aku….lakukan sesuatu untukku….”

“apa… apa yang kau inginkan dariku…”
Yoo na diam, menatap Jung min “bantu aku… membatalkan pernikahanku dengan Jung min…”

“MWO!!!?????” seru Jung moon, menatap Yoo na mencari sesuatu di kedua matanya. Mencari sebuah kebohongan disana, berharap Yoo na akan tersenyum dan tertawa meledak, karena berhasil mengerjai dirinya, tetapi tatapan Yoo na padanya adalah tatapan kesedihan dan sebuah keyakinan. Keyakinan dan kesedihan pada keputusannya.

“Yoo na… katakan kalau semua yang kau bilang bohong… ini tidak benar bukan…”tanya Jung moon akhirnya. Yoo na diam, menundukkan kepalanya “yya!!! Aku tidak akan tertipu… kau pasti berbohong padaku… teman-teman yang lain pasti juga berada di sekitar sini… hei!!! Keluarlah… kalian gagal… aku sudah tahu semuanya kalau kalian berbohong…Hei!!!”

“Jung moon…”panggil Yoo na lirih

“APA!!!”seru Jung moon, kemarahan muncul dihatinya. Ia merasa sangat dipermainkan. Bukan hanya tentang perasaanya tapi juga perasaan adik tersayangnya. Adik yang sangat dicintainya. Dan ia sama sekali tidak terima itu. Jung moon tidak terima jika adiknya dipermainkan seperti itu.

“aku mohon…”

“apa…?!?!? Kau mau bilang apa lagi…tidak akan pernah… tidak akan pernah aku membantumu untuk mengahancurkan hati adikku… tidak akan…!!!”

“…bagaimana jika ini semua demi kebaikan Jung min dan keluarga kalian…?”

“kau!!! Kaulah kebaikan bagi Jung min!! kau…!!! Kau!!! Song Yoo na!!!”seru Jung moon marah. Kemarahan yang sangat sudah memuncak didalam dirinya dan Yoo na tahu itu. Isakan kembali terdengar. Yoo na menundukkan kepalanya, dna menghapus air mata yang jatuh. Jung moon menatap semua itu dan wajahnya mengeras, kemarahannya tidak hilang hanya karena isakan Yoo na.

Dengan cepat Jung moon bangkit dari tempatnya duduk, menatap Yoo na marah, kemudian membalikkan tubuhnya akan pergi dari tempat itu “cukup yoo na aku tidak ingin memdengar apapun lagi…. 2 hari lai pernikahanmu…”kata Jung moon, memejamkan kedua matanya “.. jadi jangan melakukan apapun yang akan menyakiti Jung min… atau aku akan membunuhmu…”ancam Jung moon.

“tunggu!!!”seru Yoo na tepat saat Jung moon akan melangkah pergi. Yoo na bangkit dari tempatnya, dan mendekati Jung moon “…baca ini… dna jika kau belum percaya padaku… ikut aku…”kata Yoo na yang kemudian menarik tangan Jung moon kuat dan membawanya kearah mobil BMW merahnya yang ia parkirkan tak jauh dari tempatnya berada.

########

“dia…membawanya pada anda…”tanya Hye na

“ne… dia membawanya padaku…kemudian…dari situlah semuanya dimulai…”

######

“duduk!!! Dan dengarkan semuanya… tidak ada rekayasa apapun disini…”kata Yoo na, mendudukkan Jung moon dikursi dihadapan Dokter Shin yang terlihat diam, terkejut dengan kedatangan Yoo na yang tiba-tiba

“maafkan saya dok… nona ini memaksa untuk masuk…”kata seorang suster yang kemudian masuk, menyusul Yoo na

“tak apa… terima kasih banyak suster…”kata dokter Shin, tersenyum menatap suster itu yang kemudian segera keluar dan menutup pintu ruangan dokter Shin.

Dokter Shin menatap Yoo na dan Jung moon bergantian, “ada yang bisa saya bantu…”tanya dokter Shin kemudian. Tak ada jawaban dari keduanya, hingga…

“dengarkan dengan tenang…dan temui aku di luar jika kau sudah selesai mendengar semuanya…”kata Yoo na, menatap Jung moon marah. “saya mohon dokter… tolong jelaskan pada teman saya ini…semuanya… tak apa…seritakan semuanya… dia yang bisa menolong saya…”kata Yoo na “saya permisi…”kata Yoo na kemudian, membungkukkan tubuhnya dan keluar dari ruangan itu.

#######

“Aku mulai menjelaskan semuanya, Jung moon terlihat sangat terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang kukatakan saat itu…aku sangat tahu… dia tidak ingin mempercayainya, tapi akan lebih menyakitkan bagi Yoo na jika ia tidak mempercayainya dan berusaha membantu Yoo na…”

########

Dokter Shin menatap Jung moon diam, ia berusaha memberikan waktu pad Jung moon untuk berpikir dna menjawab semua pertanyaan yang ada dikepalanya, yang ia tahu, tidak akan mampu ia utarakan.

“…apa anda bisa keluar dan memanggil nona Yoo na untukku…? Ada sesuatu yang harus kukatakan padanya…”kata Dokter Shin kemudian

Jung moon diam, menundukkan kepalanya “apa…tidak ada jalan lain dok…?”tanya Jung moon
Dokter Shin tersenyum, “bisakah kau memanggil Yoo na untukku…?”
Jung moon diam, kemudian perlahan diangkatnya kepalanya, menatap Dokter Shin. Kesedihan mulai terpancar di wajahnya. Perlahan Jung moon bangkit dari tempatnya dan melangkah keluar, membuka pintunya perlahan, dan berdiri diam di sana, menatap Yoo na yang terlihat duduk diam di salah satu tempat duduk tunggu.

“dokter Shin ingin bicara denganmu…”kata Jung moon, yang kemudian menjatuhkan dirinya di tempat duduk disisi Yoo na, yang membelakanginya. Yoo na mengalihkan wajahnya menatap Jung moon, senyum terlihat diwajahnya. Kini senyum itu terlihat sangat tulus.

“…kau percaya padaku…”tanya Yoo na, bngkit dari tempatnya, menatap punggung Jung moon. Jung moon menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Yoo na. Sekali lagi, senyum tulus Yoo na terlukis indah diwajah. “terima kasih banyak…”kata Yoo na lirih yang kemudian masuk ke dalam ruangan dokter Shin.

Dokter Shin menatap Yoo na sesaat, lalu senyum terlihat diwajahnya. “semuanya baik Yoo na agashi…?”tanya dokter Shin

“ne… terima kasih banyak dokter Shin… saya sangat membutuhkan pertolongan Jung moon…jadi, dia harus percaya semuanya…jadi apa yang ingin kau katakan…”tanya Yoo na

“…tau konsekuensinya…?”tanya dokter Shin tanpa basa-basi

“ne…”

“tak bisakah dilakukan cara yang lain…?!?!?!?!”seru Jung moon tiba-tiba, membuka pintu kasar, menjeblak terbuka, membuat kedua orang didalamnya, tersentak sesaat.

“…duduklah Jung moon-ssi…sepertinya anda masih berharap sesuatu yang lain… duduklah… saya jelaskan segalanya.

########

“aku kembali menjelaskan segalanya…. Jung moon sama sekali tidak percaya dan tidak mau mempercayai apa yang aku katakan…”

#####

“…jadi harus diangkat…”

“ne… harus… karena kanker dirahim anda sudah sangat parah… dan harus segera dioperasi… karena kalau tidak akan menjalar keseruh tubuh anda…”

“tapi…”kata Yoo na pelan

“tidak adakah cara yang lain… cara agar kanker itu hilang tapi Yoo na masih dapat memberikan keturunan…?”

Dokter Shin tersenyum lemah, lalu menggelengkan kepalanya perlahan “maafkan saya… belum ada obat atau cara apapun yang seperti anda harapkan Jung moon-ssi…”


End Of Flashback

“dan…disinilah anda Hye na-ssi… menjadi istri seorang Jung min.. Seorang Jung min yang sangat membenci hyungnya dan Yoo na… tapi aku mengerti alasannya…dan aku, Yoo na serta Jung moon memakluminya… semuanya sudah direncanakan…dan mereka tahu cara satu-satunya untuk membuat Jung min sangat tersakiti adalah mengkhianatinya… cara untuk membuat seorang Jung min untuk melepaskan seorang Yoo na adalah dengan mengkhianatinya… dan cara untuk membuat dia melupakan Yoo na adalah mengenalkannya dengan dirimu…”terang dokter Shin, membuat Hye na diam ditempatnya, dengan mulut menganga, tidak percaya dengan perkataannya.

“mengenalkanku…?”

“ne…semuanya adalah rencana Jung moon sendiri…dia tahu kalau anda yang dapat menyembuhkan luka batin dihati Jung min… dan lagi-lagi Jung moon harus berkorban untuk adik tercintanya itu….”

“lagi-lagi…?”

“ne…lagi-lagi…setelah ia berkorban untuk membuat Jung min merasa dikhianati…ia juga mengorbankan cintanya…”

“…mwo…? Apa maksud anda…”

“dia mencintai anda Hye na… dia selalu berada di manapun anda berada… bahkan selama anda dipenampungan…. Ia selalu ada disana… mengamati anda dari jauh dan mengabadikan setiap kelakuan dan apapun yang anda lakukan… ahhh… dia juga mengagumi senyum anda…”
Hye na terhenyak mendengar cerita dokter Shin, ia sama sekali tidak mengetahui itu dan menyadari itu.

“…dia mengirimkan satu foto anda pada Jung min…”

“foto…?”

“ne…foto anda saat di penampungan bencana alam…”

Hye na terdiam sesaat, berusaha mengingat. Ia memang mengetahui sebuah foto yang selalu disimpan Jung min. “…sepertinya…saya tahu foto itu…”

“ne… foto itulah yang dikirimkan Jung moon… selain pada anda dia juga mengirimkannya pada orang tua Jung min… saat itu orang tua Jung min sudah mengathui segalanya. Segala yang disimpan oleh Yoo na dan Jung moon rapat-rapat….tapi… tetap saja Jung moon belum dapat kembali ketengah-tengah mereka… karena Jung moon bukanlah seseorang yang dapat diikat… ia seperti angin..dan aku sangat mengagumi itu… melakukan semua yang menjadi keinginannya agar tidak pernah menyesal dikemudian hari.”

Hye na menghela napas panjang, terdiam. “… tapi… kenapa Jung min tidak boleh tahu tentang Yoo na dan cerita sebenarnya…”tanya Hye na lirih

Dokter Shin menghela napas panjang, kemudian senyum kembali terlihat diwajahnya “Yoo na tahu Jung min akan mencarinya… dan ia tidak menginginkan itu… masa depat Jung min masih panjang… dan Yoo na tidak mau mngorbankan itu…”terang dokter Shin
Hye na diam, berusaha meresapi segalanya.

“boleh kulanjutkan…?”tanya dokter Shin, menghentikan pemikiran Hye na

“ne…”

“…kini Jung moon berhasil… ia tahu Jung min mulai mengagumi senyum anda…tapi…ada satu masalah saat itu yang membuatnya ragu dan bingung…”

“apa…?”

“dendam Jung min…”

“dendam…”

“ne…dendam untuk menghancurkan Jung moon…”

Hye na diam, teringat kembali cerita Jung min yang didengarnya tadi. “aku mengerti…”

“…dia takut kalau Jung min akan membalaskan pengkhianatan hyungnya lewat malaikat yang dikasihinya…dan saat itulah ia muncul…keluar dari persembunyiannya, dan menolong anda dari para preman yang disewa adiknya….kemudian sesegera mungkin ia menghubungi appanya… tuan Lee untuk membatalkan proyek apartemen di yayasanmu… sebelumnya Tuan Lee tidak mau membantunya tanpa imbalan… tetapi setelah nama anda disebut, akhirnya Tuan Lee menyetujuinya…”

“kemudian, Jung moon merasa beruntung lagi… walaupun aku tahu ia merasa sangat sakit saat itu, tapi ia merelakannya untuk anda dan Jung min… anda menyetujui perjodohan itu…dengan syarat, Tuan Han membantu memberikan anda uang untuk menebus surat tanah itu…”

“Jung moon kembali mengamati kalian berdua… ia tahu…banyak orang yang ia bayar untuk mengatahu semuanya… termasuk pelayan Uhm…”

“mwo!!! Pelayan Uhm…??!?”

“ne… pelayan Uhm, membantu Jung moon, ia membantu Jung moon untuk selalu mengamati anda dan Jung min…hingga suatu hari… ketakutan Jung moon kembali hadir… Jung moon merasa aneh saat pelayan Uhm mengatakan kalau kalin berdua, terlihat seakan tengah berada dalam perang…perang dingin… dan saat itulah Jung moon kembali menemui Jung min…" (chapter 10)

“saat itu… ia baru merasa yakin kalau Jung min memang mencintai dirimu..sangat mencintai…”

Hye na masih terdiam, ditempatnya, terhenyak mendengar setiap kalimat dari dokter Shin. Dokter Shin terlihat tersenyum menatap Hye na

“…Dokter Hye na… ingat sesuatu tentang gaun pengantinmu yang jadi hanya dalam waktu beberapa hari…?”

“ne… appa menyebutkan desaigner…”kata-kata Hye na terhenti, matanya terbelalak.
“…benarkah…?!?”tanya Hye na terkejut, tidak percaya dengan apa yang ada dipikirannya.

“ne… gaun itu… desaigner Song… istriku… Song Yoo na yang membuatnya khusus untuk anda… dalam waktu yang sangat singkat…”

Hye na terdiam, terhenyak menyandarkan punggungnya keras kekursi yang ditempatinya.

“dia sangat antusias dengan pernikahan kalian… jadi dia menawarkan diri untuk membuat gaunmu…sebagai hadiah…”

“dan… tentang kejadian Yoo na memeluk suamimu di restoran hotel… Yoo na mengatakan padaku itu hanya sebuah bentuk rasa senang dan selamat… karena Jung min akan mendapatkan anak…”

Hye na diam sesaat, terlintas sebuah pertanyaan di pikirannya “… bagaimana Yoo na bisa tahu…? Bahkan Jung min saja…”

“ingat… pelayan Uhm dan dokter Edward yang memeriksa dirimu… dia sahabatku dan kemudian menjadi sahabat Jung moon dan Yoo na… dia yang membantuku melakukan operasi pengangkatan rahim Yoo na…”

“ahhh… aku mengerti… ternyata banyak sekali mata-mata disekelilingku….”

Dokter Shin tersenyum mendengar perkataan Hye na “ahh… satu lagi… Jung min tidak menginginkan dirimu tahu kalau dia berada di rumah sakit… tapi… salah satu sumberku bilang kalau dia menanyakan ruangan Tuan Han…”

“…ne..aku tahu itu… satu pertanyaan lagi dokter Shin… tapi sebelumnya maaf kalau ini terlalu pribadi… dna jika anda tidka ingin menjawabnya… maka tidak usah menjawabnya… cukup tersenyum saja…”kata Hye na

“apa itu…”tanya dokter Shin, tersenyum menatap Hye na

“errmmm” Hye na terdiam sesaat “…errrmmm… apa yang membuat anda memutuskan untuk menikahi Song Yoo na-ssi…apa..karena dia cantik…?”

Dokter Shin terdiam sesaat mendengar pertanyaan Hye na kemudian tersenyum lebar dan tertawa “…mungkin… dia begitu mempesonaku… cantik, manis, pintar… tetapi yang membuatku tidak ingin melepaskannya adalah… tekadnya yang pantang menyerah… ia sama sekali tidak putus asa setelah mendapat vonis itu… bahkan ia melakukan banyak pengorbanan disana… walaupun aku tahu…dia tidak akan bisa memberikan anak untukku…dan dia menyesali itu… tapi aku tahu… dia akan selalu ada untukku… menjadi apapun yang aku inginkan… istri…sahabat… ibu… bahkan anak untuk…” jelas dokter Shin, tersenyum, menerawang.

Hye na tersenyum menatap dokter Shin, perasaannya kembali menghangat setelah mengetahui semuanya. Semua hal yang bahkan Jung min belum mengetahuinya. Hye na terdiam.

“oh ya…ini… dan tolong… jaga Jung min, dan anak kalian dengan baik…”kata dokter Shin, tersenyum, sambil memberikan sebuah map berisi catatan kesehatan Jung min beserta seluruh hasil laboratorium dan pemeriksaan yang lain.

“terima kasih banyak dokter Shin… utnuk semuanya… terima kasih…”kata Hye na, yang kemudian menundukkan kepalanya dan bergegas keluar mencari seseorang. Seseorang yang sangat dirindukannya. Seseorang yang akan dia peluk dan tidak akan pernah melepaskannya.

“sampaikan salam maaf dan terimakasih ku dan Yoo na untuk Jung min…”

********

Seung Gi terlihat berlari cepat di lorong rumah sakit yang panjang sambil melihat nomor-nomor kamar yang tertempel di setiap pintu. Matanya terus mencari dan mencari. Ia benar-benar tidak habis pikir, selalu saja mencelakakan diri sendiri. “sebenarnya apa yang kau lakukan…”gumam Seung gi yang kini terlihat mulai terengah-engah.
Seung gi memperlambat langkahnya, kemudian menyandarkan tubuhnya di dinding lorong, disisi sebuah kamar. Seung gi mengangkat wajahnya menatap nomor kamar yang berada disisinya. “hah…ini dia…”kata Seung gi yang kemudian segera melangkah kekamar itu dan membuka pintunya.

“JUNG MIN!!!”seru Seung gi tiba-tiba keras, saat ia membuka pintu kamar tersebut, namun seseorang yang dicarinya tidak ada ditempatnya. Seung gi menyapu pandangannya ke seluruh bagian kamar itu, dan mulai mencari sosok yang dicarinya, namun tetap saja tidak ditemukannya. Seung gi keluar dari kamar itu. “yaisshhhh!!!! Seung gi diam, mengacak rambutnya frustasi. “kemana lagi dia… sudah tahu sakit… tapi masih saja…”

“Seung gi-ssi…”sapa seseorang yang tiba-tiba menepuk bahunya pelan, di belakangnya. Seung gi membalikkan tubuhnya, menatap orang itu. “Park Joon-ssi…”jawab Seung gi.
Park Joon terlihat diam, bingung dengan keadaan Seung gi “kenapa… kau terlihat… berantakan…”tanya Park Joon, menatap Seung gi aneh. Seung gi terdiam sesaat, menatap Park Joon.

“Jung min….dia masuk rumah sakit…segerombol orang memukulinya semalam…dan… ada mereka juga menusuknya”

“MWO!!??? Bagaimana bisa…?”

“dia mabuk…”

“lalu bagaimana keadaannya…?”tanya Park Joon khawatir

“entahlah… aku baru saja mengetahuinya… seseorang menelepon kantor dan mengatakan pada sekretaris Jung min….dan baru saja sekretarisnya mengatakan itu padaku…”

“lalu… sekarang dimana dia…?”tanya park Joon

“entahlah…aku baru saja mencarinya… tapi dia tidak ada dikamarnya…?”
Park Joon dan Seung gi terlihat bingung mencari keberadaan Jung min. Hingga tidak menyadari kedatangan Hye na disana.

“ada apa..”

“Hye na-ssi!!!”seru Seung gi terkejut dengan sapaan Hye na

Hye na tersenyum “apa Jung min didalam… aku ingin menemuinya…”kata Hye na yang kemudian melangkahkan kakinya kea rah kamar Jung min dirawat. “tunggu!!”seru Seung gi lagi, menghalangi langkah Hye na

“ada apa Seung gi-ssi… aku hanya ingin bertemu Jung min… tidak ada maksud untuk mencelakainya…”

“…errrmmm… bukan itu…”

“lalu… apa maksudnya…? Kenapa kalian begitu gelisah…dan …aneh…”

“karena itu…”

“kenapa…?”

“dia…”kata Park Joon, maju kehadapan Hye na dan menatapnya sayu.

“kenapa kalian ada didepan kamarku…dan berisik sekali…”kata seseorang tiba-tiba, menghentikan perkataan Park Joon

“JUNG MIN!!!”seru Park Joon dan Seung gi, begitu membalikkan tubuh mereka dan menatap sesosok yang dicarinya akhirnya berada dihadapannya.

“kemana saja kau!!!??”tanya Seung gi melangkah maju dan menepuk perutnya

“AKKHHHH… lukaku!!!”seru Jung min

“ahhh… mianhe… benar-benar tertusuk….? Bagaimana ceritanya… dan siapa yang melakukan… biar aku balas…”kata Seung gi, namun Jung min tidak menggubrisnya. Ia melangkah ke depan, menatap lurus kearah Hye na yang tersenyum diam ditempatnya. Keduanya saling menatap diam. Jung min melangkah maju perlahan, mendekati Hye na. Ingin sekali ia berlari memeluknya, dan mengikatnya agar tidak pergi lagi. Ingin sekali ia melakukan itu.

Jung min melangkahkan kakinya mendekat, tinggal 3 langkah lagi, dan aku dapat memeluknya lagi, kata Jung min dalam hati. Jung min terus melangkah, hingga tiba-tiba ia begitu terkejut, menatap kaki Hye na yang di balut gaun selutut. Segaris darah segar, mengalir diantara kedua kakinya.

“Hye na!!!”seru Jung min, menatap ke arah kaki Hye na. Hye na mengalihkan pandangannya, lalu beberapa detik kemudian, Hye na ambruk, jatuh pingsan.

********

End Of Chapter


makasih banyak buat waktunya... ditunggu selalu koment dari semuanya  [biggrin] [biggrin] [cheekkiss] [cheekkiss]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Ayo ai update!..sekalian ma mversnya kan??.he.he.he

belum ada m vers nya onnie... mungkin di chapter besok atau besoknya lagi... harusnya sih di chapetr 18... tapi nanti gak tau gimana...soalnya part ini ada yang aku potong terus aku jadiin chapter 18... biasa onnie... karena kesalahan sendiri...  [heh] [heh]

 [hmpfh] [hmpfh]  [biggrin] [biggrin]

Offline gantang ricky prabowo

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • i know you so well
  • Location: JAKARTA
    • View Profile
wkwkwkwk
ternyata jung min salah paham sama jung moon.
jung moon hebat ya bisa berkorban. kalo saya mah berkorban pake kambing aja ntar idul adha.
 [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]
Hidup sukses, bahagia dunia khirat, membahagiakan orang banyak, bermanfaat untuk agamaku amin ya allah..

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
gimana...? adakah yang sesuai perkiraan...?  [biggrin] [biggrin] tinggal 1 tebakan ya yg belum...

udah dikasih clue tuh..."harus seorang dokter..." disini ada missing people... di chapter yang lalu pernah aku sebutin kok, tapi belum bernama  [hmpfh] [hmpfh]

wkwkwkwk
ternyata jung min salah paham sama jung moon.
jung moon hebat ya bisa berkorban. kalo saya mah berkorban pake kambing aja ntar idul adha.
 [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]

yah si om... itu mah beda  [AddEmoticons04279] [AddEmoticons04279]

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Dah diupdate kah?? Baca dulu y.. :)
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
HYE NA KEGUGURAN ? ? ? ? ? ?

Yah...jangan dong. Kan kasihan si jung min. Udah ketusuk, sempat salah paham, kehilangan anak pula
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME