Chapter 2
“kami telah membawanya tuan…baiklah…baiklah…kami akan segera membawanya ke tempat yang anda inginkan…”kata salah satu
orang berseragam tersebut lewat ponselnya. Hye Sun menatapnya sesaat lalu merebut ponselnya dan berbicara dengan orang
yang ditujunya
“appa…apa ini appa…appa!!! kenapa melakukan ini padaku…” seru Hye na, namun sia-sia, sambungan telah terputus. Hye
Na menatap ponsel itu kesal dan segera memberikan ponsel tersebut pada orang itu. “maafkan kami Han Hye Na-ssi…kami
hanya melaksanakan tugas…”kata orang itu sambil menerima ponselnya kembali. Ditatapnya wajah orang itu sengit, lalu
memalingkan wajahnya, menggigit kukunya dan berpikir, mencoba mencari cara untuk kabur.

Dan ternyata kesempatan itu ada. Tak lama tiba-tiba mobil itu berhenti, terlihat seorang laki-laki berdiri di
tengah jalan, dengan sebuah rambu bertanda berhenti, untuk menyeberangkan anak-anak. Hye Na menatap orang di jok
depan dan mencoba membuka pintu mobil perlahan, diam-diam, namun gagal. Pintunya terkunci. Orang itu menyadari
usaha Hye Na untuk membuka pintu.
“percuma Hye Na-ssi…mobil ini sudah di lengkapi dengan kunci pengaman, dan hanya kami yang dapat membuka pintu itu…”
Hye Na menatap kesal orang itu “tenang saja…kami akan membukakannya ketika kita sudah sampai ditujuan…”tambah orang
itu, menatapnya dengan tatapan ‘aku menang’ yang makin membuat Hye Sun merasa muak dan ingin sekali mencekiknya.
Lagi-lagi dia gagal. Disandarkan tubuhnya di kursi dan melipat tangannya didada. Mencoba memikirkan cara lain.,
namun ternyata percuma. Dia tidak mendapatkan ide apapun. Orang – orang ini bukan seorang keledai yang bisa ia
bohongi untuk kedua kalinya. Dan itu terbukti ketika Hye Na meminta mereka untuk berhenti dan mencari wc umum
terdekat, orang itu malah menyuruhnya membuka bagian sisi pintu, dan tampak sebuah toilet kecil disana. Dan saat
Hye Na mengatakan kalau dirinya lapar dan ingin memakan sesuatu, orang itu menyuruhnya membuka laci yang terlihat
terbuat dari kayu berpelitur halus tepat dibawah tempat dimana ia duduk.
“akhhhh….”seru Hye Na kesal, mengacak-acak rambutnya, sedangkan kedua orang dikursi depan tersenyum puas.
“lebih baik agashi tidur…istirahatkan pikiran…jika agashi masih mencoba untuk melarikan diri…maka percuma saja…kali
ini hal itu tidak akan terjadi…” kata pengawal itu
Hye Na menatap orang itu antara marah dan kesal, menyedakepkan kedua tangannya di dada dan kemudian menuruti
kata-katanya untuk beristirahat. Karena benar saja segala yang dilakukannya percuma.
*******
Matahari sudah terbenam ketika Hye Na mendapati dirinya sudah tidak lagi berada di dalam mobil. Sekarang dia sudah
berada disebuah kamar, setelah ia mengedarkan pandangannya mencoba mengenal kamar itu, ia teringat, kamar itu
adalah kamarnya. Dia berada dirumah sekarang. Segalanya tidak berubah disini sejak 2 tahun lalu ia tinggalkan. Hye
na bangkit, menggapai sebuah foto berbingkai kayu bermotif yang berada tak jauh dari ranjangnya. Dalam foto
tersebut terdapat sebuah keluarga, terlihat seorang anak yang tersenyum ceria dan duduk di pangkuan appanya. Hye na
tersenyum menatap foto itu “eomma aku pulang…”gumam Hye na sambil mengusap lembut foto dalam bingkai kayu tersebut.
Hye na tersenyum lembut menatap foto itu, tak lama setitik air mata mengalir jatuh, membasahi pipinya. Hye na
segera menghapusnya ketika terdengar sebuah ketukan dipintu. Tak lama, 4 orang pelayan berseragam masuk dengan
membawa beberapa nampan dengan isi yang berbeda. Nampan pertama berisi makanan, kedua berisi gaun yang terlihat
indah dengan warna cream dengan pita hijau di bagian perutnya yang membuatnya semakin berwarna, dan nampan yang
ketiga berisi sepatu dengan warna senada dengan gaun yang mereka bawa.
“selamat malam Hye Na-ssi…” sapa salah seorang diantaranya. Orang itu berjalan perlahan, menatap Hye na penuh
kerinduan, dengan sebuah tongkat yang menopang tubuhnya yang terlihat sudah renta. Hye na diam menatapnya dan
kemudian senyum mengembang diwajahnya. Dan hanya dalam hitungan detik, Hye na sudah menghambur kepelukannya. “Nenek
Jang…!!!”seru Hye na dalam pelukan wanita itu. Nenek Jang membelai lembut rambut Hye na, yang masih dalam
pelukannya, kemudian tak lama kemudian melepas pelukan Hye na, menatapnya dalam “anda baik-gaik saja agashi…?”tanya
nenek Jang, menghapus air mata yang terlihat kembali jatuh dipipi Hye na “ya nek…tidak kurang sesuatu apapun…”
“bagus kalau begitu…”kata nenek Jang yang kemudian membawa Hye na kembali kepelukannya. Tak lama nenek Jang
melepaskan pelukan Hye na dan membalikkan tubuhnya menatap pelayan-pelayan yang terlihat masih berdiri
dibelakangnya. Hal itu berhasil mengalihkan Hye na untuk bertanya pada nenek Jang “ada apa nenek…kenapa ada pakaian
dan…”
“lebih baik agashi temui appa agashi dulu…”
“weo…?”
“tak apa… tapi pasti beliau juga sangat merindukan agashi…”
Hye na diam menatap nenek Jang, benar, dia juga sangat merindukan appanya, namun disisi lain ia merasa marah pada
appanya karena perlakuannya yang menyeret Hye na pulang secara paksa. “tapi nek…”
“bagaimanapun beliau adalah appa agashi…”
“tapi…”
“ayolah agashi…” Hye Na diam, tak lama kemudian ia dan nenek Jang sudah berjalan keluar dari kamar Hye na dan
berjalan kesebuah ruangan dimana appanya sering menghambiskan waktu diruangan itu. Hye na menghembuskan napasnya
pelan, tak lama tiba-tiba terdengar sebuah suara dari dalam “Hye na…apa itu kau…”
Hye na benar-benar terkejut saat itu, dia tidak menyangka appanya akan cepat mengetahui kedatangannya setelah
hampir lebih dari 2 tahun mereka tidak saling bertemu “ye appa…”
“masuklah sayang…”
Hye na menghembuskan napasnya perlahan setelah sebelumnya ia memalingkan wajahnya menatap nenek Jang yang
menatapnya tersenyum “masuk lah agashi…”
Hye na membuka pintunya perlahan, dan masuk. Dilihatnya seseorang yang tengah sibuk membaca beberapa dokumen yang
terbuka di atas mejanya.
“appa…”panggil Hye na pelan, yang dipanggil terlihat mengangkat kepalanya menatap Hye na yang terlihat masih
berdiri dihadapannya.
“appa…”panggil Hye na lagi, sambil menatap appanya lembut
Tuan Han terlihat diam. Keduanya saling menatap, tak lama kemudian, Hye na berlari menghambur kepelukan appanya
“Hye na rindu sekali pada appa…”kata Hye na sambil memeluk appanya erat. Sesaat, tuan Han yang mendapat perlakuan
itu hanya diam, tak lama senyum mengembang diwajahnya dan tangannya terangkat, membelai rambut dan punggung Hye na
lembut. “yah…appa juga…appa sangat merindukanmu putriku…”
Beberapa saat mereka saling memeluk hingga akhirnya, Hye na teringat sesuatu yang membuatnya sangat kesal pada
appanya. “appa…!!”seru Hye na
“weo…”
“kenapa appa melakukan itu padaku…”
Tuan Han diam tersenyum, menatap Hye na dan kemudian… “appa sangat merindukanmu nak…”
Hye na diam, menatap appanya, dengan pandangan menyelidik.
“ayah benar-benar sangat merindukanmu…”
“benarkah karena alasan itu…?”
“apa lagi…?”
“appa tidak bermaksud lain pada ku…”
“tentu saja tidak…”
Hye na diam menatap appanya, dan kemudian sebuah senyum manis terlukis diwajah Hye na.
“senyumanmu…appa sangat merindukan senyumanmu ini…”kata Tuan Han sambil mengusap pipi Hye na lembut. Senyum lebar
kembali terlukis diwajah Hye na, namun sebuah prasangka juga hadir dipikirannya. Ia benar-benar merasa aneh dengan
appanya.
*****
Terdengar sebuah ketukan di pintu ruang kerja tuan han, membuat dua orang yang ada didalamnya memalingkan wajahnya
menatap kearah pintu. “masuk…”kata tuan Han. Tak lama kemudian pintu terbuka dan nenek Jang masuk “semuanya sudah
siap tuan…”kata nenek Jang
“siap untuk apa…”tanya Hye na
“mungkin ini bisa disebut ‘maksud lain appa…” kata Tuan Han memalingkan wajahnya menatap Hye na tersenyum. Hye na
diam menatap bingung pada appanya.
“appa ingin mengajakmu makan malam diluar…memperkenalkanmu dengan rekan bisnis appa…”jawab Tuan Han
“appa…”
“ayolah sayang..temani appa…”
“tapi appa…”
“appa mohon…” kata tuan Han. Hye na menatap appanya, terdiam lalu sebuah anggukan Hye na berikan untuk menyetujui
ajakan appanya.
“bagus kalau gitu *tersenyum menatap Hye na, kemudian memalingkan wajahnya menatap nenek Jang kembali “kalau gitu
lakukan yang seharusnya…”kata Tuan Han yang kemudian di jawab oleh sebuah anggukan oleh nenek Jang.
“ayo agashi…”
“kemana…?”
“apa agashi tidak mau mempersiapkan diri dulu…”
“tapi…tak apa kan kalau aku hanya begini…”kata Hye na sambil menatap dirinya yang memakai baju tank top putih dan
celana jeans belel miliknya

Hal itu ternyata berhasil membuat appanya dan nenek Jang tertawa.
“lebih baik agashi membersihkan diri dulu…”kata nenek Jang, sambil menahan tawa
“ye ye…arasso…berhenti tertawa…”kata Hye na, kesal, yang kemudian pergi keluar dari ruangan itu dan berjalan
kembali kekamarnya dimana terlihat para pelayan telah menunggunya. Hye na masuk kedalam kamarnya, dan tak lama
kemudian nenek Jang menyusul masuk. “apa nona ingin mandi…?”tanya nenek Jang
“ya nek…tubuhku rasanya lengket sekali….*berbisik*sudah hampir 2 hari aku tidak mandi di penampungan…”kata Hye na.
mendengar perkataan Hye na, lagi-lagi nenek Jang tertawa “pantas saja…”
“nenek..!!! kalau begitu tidak usah mandi saja…”kata Hye na kesal
“mwo…arasso…arasso..maafkan saya agashi…”kata nenek Jang
“tidak…”kata Hye na, melipat tangannya di dada, kesal
“benarkah tidak mau…atau ingin saya mandiin seperti dulu…”goda nenek Jang yang kini berhasil membuat pelayan-
pelayan lain yang berada di kamar itu tertawa pelan
“anio..!!! aku bukan anak kecil lagi nek…” jawab Hye na
“ye…ye arasso…”kata nenek Jang. Hye na diam menatap nenek Jang sesaat, dan kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Hye na mulai mandi. Benar-benar terasa berbeda ketika ia mandi di rumah. Dibaringkan tubuhnya di bath tub yang
penuh dengan busa yang wangi. Segalanya terasa menenangkan. Seakan semua masalah tergantikan dengan bau wangi yang
menenangkan. Perlahan Hye na menutup matanya dan mencoba untuk tenang. Hye Na tertidur…
Entah sudah berapa lama dia tertidur, hingga tiba-tiba terdengar ketukan dipintu
“Hye Na-ssi…Hye Na-ssi gwenchana? ….hampir 1 jam agashi berendam…”
Dibuka matanya perlahan, menghela napas dalam. “ya…aku sudah selesai”jawabnya, yang kemudian mengambil kimono
handuk yang memang sudah disediakan, lalu keluar.
Hye Na diam, duduk memejamkan matanya, berusaha untuk tidak peduli dengan para pelayan yang sudah mulai merias
wajahnya. Hingga akhirnya, para pelayan tersebut memberikan gaun yang sudah dipersiapkan padanya. Hye Na menghela
napas sesaat sebelum ia menerima gaun itu. Hye Na berjalan ke sebuah tempat yang ada diujung kamarnya, hanya sebuah
tempat yang di tutup dengan sebuah sekat dari kayu hingga membentuk setengah lingkaran. Ditempat itu, biasanya Hye
na gunakan untuk berganti pakaian
“agashi.…”panggil nenek Jang
“aniyo…tidak adakah gaun yang lain nek…?”Tanya Hye Na dari balik sekat
“mian agashi…itu gaun yang sudah di siapkan oleh appa agashi”jawab nenek Jang.
“tapi kenapa appa menyuruh ku memakai gaun…jika untuk makan malam…kenapa tidak dengan pakaian yang biasa aku
kenakan saja…kenapa harus gaun… Hye Na menatap gaun cream yang sudah melekat ditubuhnya dan menghela napas. Rasanya
aneh ketika memakai gaun, karena setelah 2 tahun hanya memakai celana jeans panjang atau pendek dengan kaos selama
di daerah penampungan korban, tapi hari ini harus dilakukannya. Lagi-lagi Hye Na menghela napas dalam, lalu keluar
dari balik sekat. Membuat pelayan yang menunggu untuk melihat hasilnya diam, terpana.
******
Tuan Han terduduk diam, diruangan kerjanya, sambil membaca kembali dokumen yang telah ditanda tanganinya.
Kesibukannya terhenti ketika dering ponselnya terdengar.
“yobseyo…”jawab tuan Han “oh…ye tuan Lee…sebentar lagi kami sampai…”dan obrolan terputus, tepat saat pintu ruang
kerjanya terbuka. Tuan Han menatap pintu, dan terlihatlah Hye na disana

“kamu benar-benar putri appa yang cantik sayang…” kata tuan Han sambil kemudian berjalan mendekati putrinya. Namun
yang dipuji tidak menunjukkan rasa senangnya. Yang terlihat dari wajah Hye na adalah rasa kesal.
“weo…”tanya tuan Han
“appa!!!”seru Hye na kesal “kenapa appa memilih gaun ini…sangat tidak nyaman…”
“tapi kamu terlihat sangat cantik nak…”
“appa!! ”kata Hye na lagi, kesal
“arasso…arasso…sudah siap..? ayo kita berangkat…”kata tuan Han
******
Hye na berjalan dalam diam, mengikuti appanya. Hye na dengan didampingi nenek Jang berjalan keluar dari ruangan
tuan Han menuju pintu depan dan 4 orang pengawal yang menjadikan hari Hye na menjadi buruk, terlihat menunggu
mereka di pintu depan. 2 orang dari mereka terlihat berlari keluar ketika melihat kedatangan Tuan Han dan Hye na.
“semuanya sudah siap tuan…”kata salah satu pengawal yang sangat Hye na benci
“baiklah… oh ya…Hye na…kenalkan…ini adalah pengawal Park…dia yang appa tugaskan untuk mengawalmu…” kata tuan Han.
Hye na yang semula bersikap acuh, tiba-tiba menatap appanya terkejut. “mwoo…pengawal…?!?!?!? Tapi appa…aku gak
butuh pengawal… aku bisa menjaga diriku sendiri…. Dan kalau memang harus…aku tidak mau dia…”kata Hye na,
memalingkan wajahnya marah.
“pengawal Park adalah pengawal yang terbaik dan melebihi kualifikasi yang appa tentukan…dan kamu sangat membutuhkan
pengawal… appa tidak mau sesuatu terjadi padamu… dan appa tidak mau kalau appa harus kehilangan kamu lagi…”
“tapi appa…”
“ini sudah menjadi keputusan appa…”
Hye na yang mendengar itu menghela napas. Apapun yang telah diputuskan appanya memang tidak bisa lagi untuk
diganggu gugat. Semua keputusannya adalah mutlak, tidak akan pernah berubah walau apapun dan siapapun yang berusaha
merubahnya. Hye na menundukkan kepalanya lemas, dan berjalan mengikuti appanya kembali, masuk kedalam mobil yang
telah disiapkan. “ayo kita pergi…”kata tuan Han pada supirnya. Tak lama monil yang mereka gunakan sudah melaju
cepat meninggalkan rumah dan terus berjalan ketempat dimana diadakannya acara makan malam, yang mungkin sebuah
makan malam yang tidak terduga bagi Hye na.
******
Tak lama keduanya sampai di sebuah restoran bintang lima, yang memang telah dipersiapkan untuk jamuan makan malam
itu. “ayo…”ajak appa Hye na
Hye na masih diam, tidak memperdulikan ajakan appanya. “ayo sayang…ada apa lagi…”tanya appanya.
“appa…”
“ye…”
“sudah lama aku tidak pakai sepatu yang begini…”kata Hye na sambil menunjukkan sepatu high heelsnya. Tuan Han
mengalihkan pandangannya kea rah kaki Hye na yang memang memakai sepatu high heels berwarna cream yang senada
dengan gaun yang dipakainya. Tinggi sepatu itu hampir berukuran 6 cm dari tanah.
Tak lama tawa tuan Han pecah, Hye na semakin kesal dengan perlakuan appanya “appa..!!!”
“ye..ye… arasso… miane Hye na-aa”
“lalu bagaimana…”
“sini..appa gandeng…”
Tak lama Hye na dengan merangkul lengan appanya berjalan menuju kesebuah ruangan pribadi yang memang telah dipesan
untuk jamuan tersebut. Namun sebelum tuan Han membuka pintunya, tiba-tiba Hye na menghentikan langkahnya. “tunggu
sebentar appa….”
“weo…”
“aku ketoilet dulu…”
“baiklah…”kata tuan Han. Hye na melepaskan rangkulannya dan berjalan kearah yang berlawanan dengan appanya, menuju
ke toilet. Dan tidak ketinggalan pengawal Park berjalan dibelakangnya. Hye na masuk dan mulai membereskan
dandanannya, melepas sepatunya sesaat karena jari-jari kakinya sudah mulai sakit. Hye na mengambil sebuah tisu di
tasnya dan melapisi bagian dalam sepatunya dengan tissue lembutnya itu.
“agashi…gwenchana…”tanya pengawal Park
“ye… gwencana…”
“apakah masih lama..?”
“wee…terserah aku mau berapa lama di sini…”
“tapi saya mohon segeralah keluar, karena tuan sudah menunggu agashi…”
“ye…arasso…arasso…kau ini…”kata Hye na.
Hye na diam menatap wajahnya dicermin, menyisir rambutnya perlahan. Saat ia tengah merapikan riasannya, tiba-tiba
seorang pemuda masuk kedalam toilet dimana Hye na sedang berada. Hye na segera membalikkan tubuhnya, menatap marah
pemuda itu.
“yaaa…ini toilet cewek…toilet cowok di sisi yang lain…”kata Hye na. pemuda itu yang semula mengedarkan pandangan
seakan mencari sesuatu tiba-tiba pandangannya jatuh pada Hye na. Mengetahui tatapan pemuda itu tertuju pada
dirinya, Hye na mundur beberapa langkah ke belakang, dan pemuda itu melangkah maju kearah Hye na.
Hye Na POV
Sepertinya pemuda ini mabuk…aduh bagaimana ini… pengawal Park tidak ada diluar? Kenapa pemuda ini bisa masuk kesini…
Ada apa ini…siapa orang ini sebenarnya… dia tampak seperti seorang eksekutif muda. Kemeja putih dengan jas dan dasi
hitam. Tapi kenapa dia…
End
“be..be..berhenti…jangan maju lagi…kal…kalau tidak…aku akan berteriak…?” ancam Hye na
Pemuda itu sama sekali tidak gentar dengan ancaman Hye na, ia malah semakin melangkah maju, mendekat kearah Hye na,
dan sebuah senyum sinis tercetak diwajahnya. “yaaaaa…berhenti disitu… pengawal Park!!!”
Namun tetap saja, pemuda itu masih berjalan kearah Hye na, semakin dekat, bahkan jarak mereka sekarang hanya 10 cm.
Disisi lain Hye na semakin terdesak, dia tidak dapat melangkah kemanapun. Hye na benar-benar terpojok ke dinding
toilet tersebut, Hye na tidak dapa melakukan apapun saat ituHye na memalingkan wajahnya, dan menutup matanya kuat.
Sekarang Hye na dapat merasakan hembusan napas yang kuat ditelinganya. Samar-samar Hye na mendengar pemuda itu
bergumam. Pemuda itu menggumamkan sesuatu…sesuatu yang berhubungan dengan wanita. Namun yang semakin membuat Hye na
takut, bau alcohol tercium dari mulut laki-laki itu…
End chapter
maaf kalau jelek n ngebosnin...
mohon kritik dan sarannya...
![[bye]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/bye.gif)