__CHAPTER ll___
”Selamat siang, Nek”
Dengan sopan il woo menyambut kedatangan sang Nenek pada pagi menjelang siang itu. Sambil memapah neneknya ke sofa ruangan, pria berdasi itu mengisyaratkan kepada sekretaris mudanya untuk kembali menutup pintu ruangan kerjanya.
”Kenapa tidak memberitahukan aku terlebih dahulu jika Nenek ingin berkunjung ke kantorku siang ini ?”
Setelah duduk bersebrangan, il woo langsung membuka pembicaraan mereka berdua.
Sang Nenek hanya tersenyum hambar, sambil menatap cucunya dengan lekat. Meski sudah memasuki usianya yang ke 75 tahun, Nyonya besar Lee Min Jung itu masih terlihat anggun dan sehat. Gayanya juga begitu bersahaja.
”Kau mau bekerja sampai kapan ?” Tutur Nenek Lee sambil memangku kedua tangannya.
”Apakah sepersekian menit waktumu memang telah terjadwal ?”
Senyuman yang manis pun membingkai wajah pria berusia 24 tahun itu. Sebuah wajah hasil kolaborasi Korean-Ausie. Dengan gaya rambut yang dipotong hampir cepak, kemudian diberi gel hingga kesan rambutnya selalu fresh. Siang itu, Il woo kelihatan sangat manis dengan balutan kemeja maroonnya yang senada dengan motif dasi pulkadotnya.
”Sudah waktunya kau memikirkan pasangan hidupmu”
Dengan ramah Nenek Lee tersenyum sambil melirik seorang sekretaris yang berkutat dengan monitornya yang tengah duduk di kursi seberang.
”Ini masih terlalu pagi untuk membicarakan hal seperti itu, Nek” Sahut il woo dengan nada bicara mengambang.
”Cukup hanya sampai generasi Appamu saja, tradisi terjadinya keluarga yang berantakkan akibat pekerjaan”
”Nenek tidak akan membiarkan hal itu diwarisi oleh kau dan Prince”
Nada bicara Nenek Lee terdengar tegas dan serius. Il woo diam sambil menunduk.
”Lihat saja pola berpikir dan tingkah laku Prince sangat tidak terpelajar. Sikapnya yang selalu seenaknya membuat dia semena-mena pada lingkungannya. Mau jadi apa dia kelak ?”
”Kerjanya hanya keluyuran, menghambur-hamburkan uang dan membuat berbagai pelanggaran yang selalu menyudutkan nama besar Lee”
”Entah sudah seberapa banyak nama besar Lee masuk dalam blacklist kepolisian New York dan parahnya lagi hal itu sama sekali tidak mengundang sikap antusias dari kedua orang tua kalian. Asal punya uang semua bisa diatur. Itulah gaya berpikir Mr. Lee dan Mis. Lee”
Guratan kekecewaan mulai menghiasi wajah Nenek Lee, namun dengan sikapnya yang bersahaja berusaha disamarkannya.
”Nenek tidak perlu khawatir hal itu tidak akan terulang pada kehidupan aku dan Prince” Ujar il woo dengan optimis.
Nenek Lee Menatapnya dalam, seolah mencari kebenaran dari ucapan cucunya.
”Prince hanya terlalu muda untuk menghadapi masalah Ayah dan Ibu, kita masih punya banyak kesempatan untuk bisa membentuk kepribadiannya”
”Bagaimana denganmu ?”
Hanya senyuman tipis yang keluar dari bibir il woo untuk menjawab pertanyaan sang Nenek.
# # #
Kembali lagi ke SMU Golden Crown.......
Jam tanganku 10 menit lagi menunjuk ke angka 11. Sebentar lagi waktu istirahat akan segera berakhir, namun sejak lonceng istirahat berbunyi Dara sama sekali tidak kelihatan. Setelah menerima sebuah pesan dari ponselnya, Ia langsung beringsut pergi tanpa mengajak aku.
Kemana, ya ?
Sementara penghuni kelasku tengah asyik-asyiknya membicarakan tentang pangeran dari New York itu. Parahnya lagi, mereka sampai melupakan jam makan siang mereka. Dasar nona-nona muda genit !!
”sun’aa !!”
Sapaan dengan suara setengah nyaring itu membuat aku tersentak dari pikiranku tentang keadaan kelas siang ini. Hhhmmmm.... Akhirnya dia muncul juga.
”Dari mana saja kau ? Sejak tadi aku mencarimu”
Senyuman Dara yang begitu manis kembali membingkai bibir mungilnya, begitulah cara dia beramah-tamah dengan orang. Anak yang baik, bukan ?
”Apa kau menghadap Bapak kinng ?”
”aniyo” Dara menjawab pertanyaanku dengan gelengan kepalanya.
”Atau Miss. jooLie memintamu untuk mengambil hasil rampungan nilai ?”
Gelengan kepala Dara sekali lagi membuatku makin penasaran. Lalu ?
”Kau pasti tidak akan sanggup menduganya” Sahut Dara kalem.
Aku mengernyitkan dahiku seolah tengah berpikir keras. Padahal aku sama sekali tidak tertarik untuk berpikir. Yeah, sejak dulu aku paling malas jika harus memeras otakku yang kemampuannya memang di bawah rata-rata.
”Aku berbicara secara empat mata dengan Bummie dan si Prince dari New York itu”
HAH ????
Kejutku tak terhankan. Benar saja kata Dara , hal ini tidak pernah terduga olehku. Bahkan aku syok. Benar-benar syok.
”Sejak kapan kau mulai bergaul dengan Bummie si anak badung itu dan untuk apa juga dia sampai mengajakmu bicara secara empat mata ? Apa dia si pengirim pesan di ponselmu tadi ?” Cecarku dengan rasa penasaran yang tinggi.
Yee...
Dara mengangguk dengan cepat.
”Dia mengajakku untuk bekerja sama”
Kerja sama ?? Sejak kapan Bummie yang sok itu mulai merasa kalau dirinya membutuhkan bantuan orang lain ? Bukannya dia pria yang terobsesi bahwa dialah sang Mr. Perfect di dunia ini.
Batinku melakukan aksi protes besar-besaran.
”Itulah letak seninya,Sun” Sahut Dara lugas pada batinku.
Kok bisa ya, Dara menjawab pertanyaan hatiku ? Tahu ah...
”Bayangkan, seorang Bummie bermohon padaku dengan tampang wajah yang teramat menyedihkan. Penuh penghayatan, penuh rasa kekurangan...”
”Lalu bantuan apa yang dimintanya darimu ?” Selaku cepat dari ucapan basa-basi Dara.
”Dia memintaku untuk menjadi asistennya Prince”
Whatss ????
Aku terlonjak dengan gaya yang super duper histeris.
”Lalu apa jawabanmu ? Kau menolaknya kan ?”
Tanpa sadar aku sampai meremas pundak Dara dengan gemas. Wajahku juga melukiskan rasa ketidak percayaan yang dalam.
”Tentu saja aku langsung menerimanya” Jawab Dara cuek sambil menurunkan kedua tanganku dari pundaknya. Dengan polosnya Ia tersenyum padaku.
”Ini kesempatanku,Sun’aa”
”Kesempatanku, untuk bisa dekat dengan Prince. Bukankah ini hebat ? coba kau bayangkan, berapa banyak gadis di sekolah ini yang mampu aku saingi. Kalau aku menjadi asistennya, itu berarti kapan dan dimana pun aku bisa berada di dekatnya” Tutur Dara secara blak-blakkan.
Sejak kapan Dara jadi wanita genit seperti ini ? Apakah dia sudah terinfeksi oleh virus yang dibawa oleh anak baru itu ? Tapi mustahil. Aku dan Dara adalah gadis yang telah mempunyai kekebalan virus cowok keren yang sok. Gawat, ini bisa jadi malapetaka !!
”Kau juga pasti iri padaku kan ?” Sentak Dara pada kebengongan yang melanda pikiranku sepersekian menit.
Sejuta protesku tersendat pada kerongkongan. Otakku kali ini harus bekerja keras memikirkan pelet apa yang menyantet temanku ini.
Asisten ?? Pelayan bodoh tepatnya.
Batinku kesal.
# # #
Sesuai rencana maka aku pun harus rela menerima kenyataan bahwa di kelompok diskusi Kimia siang ini, kelompok kami ketambahan dua jatah kursi. Siapa lagi kalau bukan si congkak Bummie dan si Prince idiot itu.
Saat ini kelasku berada dalam sebuah laboratorium untuk melakukan praktek uji reaksi kimia. Praktek yang membosankan. Bahkan lebih membosankan lagi karena harus melihat tampang jelek dua manusia yang kini berhadapan dengan tempat dudukku. Aku masih tidak habis pikir mengapa gadis-gadis di sekolahku bisa begitu histeris mengatakan kalau mereka berdua begitu keren dan tampan. Yang benar saja !!
”Baiklah, kita akan mulai diskusi siang ini”
Dara membuka diskusi kelompok dengan gaya bicara yang lain dari biasanya. Nada bicaranya menjadi lebih ramah dan penjelasannya semakin gencar saja.
Plukh...
Perhatian kelompok kami langsung tertuju ke arah Minho . Rupanya buku catatan Minho jatuh ke lantai. Ceroboh atau sengaja ?
”Sorry...” Ujar Bummie seraya mewakili Minho.
”Tidak apa, kita bisa melanjutkan pelajarannya kembali”
Tidak apa bagaimana ? Jelas saja hal itu mengganggu. Protes hatiku, meski aku tahu bahwa aku tidak perlu merasa terganggu karena otakku memang tidak sedang bekerja.
”Hey, buku catatanku jatuh di samping kakimu”
Bisikkan setengah suara itu sangat jelas diarahkan padaku. Aku pun mengintip ke kolong meja. Tepat, buku itu memang berada di samping kakiku.
”Siapa suruh jatuhnya di situ” Sahutku sinis dengan suara setengah berbisik pula. Aku tidak sampai hati jika suaraku harus mengganggu Dara yang tengah berkonsentrasi meracik ramuannya.
”Baiklah” Ujarnya kemudian.
Dengan gaya yang santai Minho melepaskan pulpennya kemudian meraih catatanku.
Apa-apaan ini ? Aku memelototi Minho dengan geram.
Minho cuek. Bahkan dengan lancang Ia membolak-balikkan catatanku. Entahlah apa yang ada di pikirannya saat itu. Catatanku yang berisi coretan-coretan yang tidak berguna, belum lagi tulisanku yang tidak bisa ditangkap oleh mata normal. Uuhhh.... Kenapa sih dia harus melihat kekuranganku.
”Ternyata aku tidak sendirian, apa kau juga tidak suka belajar sepertiku ?” Bisik Minho sekali lagi.
”Enak saja !!”
Dengan kasar aku langsung merampas harta kebodohanku dari tangan minho. Tapi sayangnya, kurasa buku itu memang telah ditakdirkan untuk menjadi harta kebodohanku yang paling berharga dan hari ini dia memberikan sebuah kejutan kepadaku lagi, saat buku itu harus menyambar tabung alkohol yang berada di samping Minho .
Pranggh....
Berantakkan. Semua mata tertuju padaku. BUKU SIALAN !!!!
# # #
Sambil melambaikan tangannya padaku, bayangan Dara pun segera berlalu bersama Honda Civic-nya. Seperti biasa, Dara harus pulang terlebih dahulu untuk mengikuti berbagai les privatnya. Sedangkan, aku harus menepaki jalanan seorang diri bersama sepeda kesayanganku. Aku menyebutnya benda kesayangan karena saat ini hanya dialah satu-satunya teman yang mau menemaniku setiap hari kemana saja aku mau.
Keadaan sekolah mulai lengang. Kini keramaian memadati jalanan. Berbagai kendaraan pribadi menghiasi sudut jalan SMU GC. Tentu saja itu bukan kalanganku. Lebih tepatnya, akulah yang bukan kalangan mereka. Aku harus menunggu sepersekian menit kalau mau pulang dengan aman. Berbagai sindiran halus sampai yang paling berat akan menghujaniku jika berani menjajali kendaraan mereka.
Memalukan almamater !!
Itulah kalimat yang terlontar dari mulut Shin Hye, seorang siswi populer dan aset termahalnya SMU GC. Tentu saja populer karena kegenitannya dan aset termahal karena trademark aksesoris yang dikenakannya.
Hhhh....
Sambil mendesah, aku mulai menyeret sepedaku keluar dari area parkir. Belakang parkiran, tepatnya. Bahkan untuk tempat sekecil ukuran sepedaku saja aku tidak diberi hak. Siswa yang malang....
”Yang benar saja, apa barang rongsokkan seperti itu di beri izin untuk melintasi daerah ini ?”
Deg....
Sialan. Siapa lagi yang berani menghinaku setelah aku rela mengorbankan waktu untuk mengalah ?
Dengan wajah masam aku menoleh ke arah sumber suara. Yeah, di sinilah aku mendapatkan kesialan. Di sini, di depan gerbang sekolah. Di sini, di hadapan mobil Nissan X-Trail miliknya si congkak Bummie dan di sini juga di hadapan 3 makhluk menyebalkan bin sialan. Siapa lagi kalau bukan Kim Sang Bum si tuan muda congkak, Park Shin Hye Si madam yang gila mode dan satu lagi penghuni baru mobil mewah itu, Prince Lee Minho si turis lokalan alias loakkan !!
Dengan wajah penuh ribuan ledekkan yang siap diledakkan, mereka menatap Goo Hye Sun . Si gadis malang episode hari ini.
”Aku baru tahu kalau di sekolah ini ada gadis unik seperti dirimu” Sambung Minho yang meniru gaya bicara Bummie sebelumnya.
Ia memainkan tatapannya ke arahku. Sepedaku, tepatnya. Dari caranya menatap aku bisa menangkap pikiran rendahnya.
”Bukankah lebih baik jika kau menumpangi bus” Sambung Minho lagi.
Kali ini dengan hebohnya Shin hye menertawakan aku. Yeah, satu lagi generasinya Bumnmie bertambah.
”Aku lebih percaya diri jika menggunakan sepedaku dari pada harus menumpang di mobil keren milik orang” Sindirku tajam kepada Minho dan shin hye tentunya.
”Dan aku juga lebih suka menggunakan tenaga dan hasil keringatku sendiri dari pada harus menggunakan uang milik kedua orang tuaku” Tambahku untuk melengkapi kejengkelanBummie .
Rasakan !!
Seketika itu raut wajah ketiganya berubah. Tentu saja mereka tersinggung dengan ucapanku. Normalkan ?
”Aku mau tahu apa kehebatannya ?” Ujar Minho seraya melirik ke arah sepedaku. Entahlah apa maksudnya.
”Penting ya untuk dijawab ?” Tandasku.
Aku langsung menerobos dan berlalu dari hadapan mereka dengan segudang umpatan kekesalan. Uuuufffffh.... Sekali lagi aku harus menjadi bulan-bulanan para alien itu.
# # #
Aku mengayuh sepedaku menuju jalan pulang ke rumahku. Sepiring nasi sambal udang dan segelas es jeruk mulai terbayang di kepalaku. (miane ngk tw apa makanan khas korea).. Haha
Bahkan lambungku juga ikut menggedor-gedor. Coba kalau aku tidak menolak tawaran Dara untuk pulang bersama, mungkin aku tidak perlu secapek ini dan pastinya aku juga tidak perlu merasakan sengatan matahari yang kian semangat-semangatnya untuk bersinar.
Hhhhh....
Tapi aku coba untuk tersenyum. Karena kata Ibuku, satu keluhan berarti satu beban bertambah. Jadi belajarlah untuk bersabar dan bersyukur. Ibuku wanita yang bijak, bukan ? Tentu saja, karena beliau menggunakan kalimat yang mudah dicerna oleh otak pas-pasan seperti milikku. Cukup bertanggungjawabkan ? karena dia bisa membuat hasil produksinya berguna. Buktinya, aku tumbuh jadi gadis yang tegar dan penuh semangat.... Ehhmmm...... Itu menurut penilaian Nenek dan Kakekku sih.
Oh ya, tidak lupa pula aku sempat melintas di depan Red Cafe. Sebuah cafe bertema remaja dengan suguhan menu yang menggiurkan. Di kotaku, cafe ini cukup terkenal. Sejak pukul 8 pagi hingga pukul 12 tengah malam, cafe ini selalu ramai. Aku tidak tahu pasti apa daya tariknya, tapi menurut pendapatku karena di cafe itu ada seorang penyanyi muda berbakat. Yeah, siapa lagi kalau bukan Goo eun hye. Hehehe..... Dialah kakak semata wayangku yang super Duper aneh itu dan Red Cafe ini adalah tempatnya bekerja.
Aku melintasi cafe ini hanya untuk sekedar mengintip dia yang tengah beraksi di atas panggung dan melihat dia yang mendapat pujian bertubi-tubi dari para tamu cafe. Sekalian tip tentunya dan tip itu akan aku ingat selalu untuk kutagih jika Ia pulang kerja. Hehehe....
Dari balik tembok kaca, samar-samar aku melihat eun hye yang sedang bernyanyi. Entahlah lagu apa yang disuguhkannya kali ini. Tembok Red Cafe menghalangi telinga orang luar untuk menikmati suasana khas cafe.
Tapi aku bisa menebak lagu yang tengah dibawakannya saat ini. Ehhmmm.... Pasti.....
Brakh... gedubrakh...
Aku yang kehilangan konsentrasi pada jalan yang ada di depanku tanpa sengaja nyaris menyambar seorang wanita yang baru saja keluar dari pintu Red Cafe.
Oopppsssss....
Aku menatap linglung pada tas belanjaannya yang kini berseliweran di jalan. Sementara wanita berkebaya biru itu tampak syok. Aku pun buru-buru bangkit dan langsung memungut semua belanjaannya.
”Maaf.... maaf... maaf Nyonya” Ujarku dengan wajah yang memelas.
Aku sedikit membungkukkan badanku untuk meminta maaf pada wanita yang kisaran umurnya sekitar 80 tahun itu. Wanita tua yang elegan.
”Aku benar-benar minta maaf” Ujarku sekali lagi.
Aku menghampirinya untuk menyerahkan belanjaannya sekaligus untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Dari gaya berpakaiannya aku sudah bisa menebak kalau dia pasti orang yang kaya raya.
”Anak jaman sekarang semakin ceroboh saja” Sahutnya sinis sambil meraih tas belanjaannya.
”Sekali lagi maafkan aku, Nyonya”
Kali ini aku benar-benar merasa sangat bersalah.
”Apa Nyonya pulang sendirian saja ?” Lanjutku.
Sambil mengernyitkan dahinya, Ia menatapku selidik.
”Jangan salah paham. Aku hanya ingin menawarkan bantuan. Aku bisa mencarikan taxi untuk anda”
Seketika wanita tua itu langsung membuang tatapannya. Tidak sudi.
”Tidak mau juga tidak apa. Aku hanya ingin memberikan ungkapan rasa penyesalanku saja” Sahutku lagi.
Wanita itu masih tidak bergeming. Sombong sekali.
”Baiklah, aku pergi” Pamitku tanpa basa-basi lagi.
”Kau pikir, apa aku tampak seperti penunggu taxi ?”
Aku yang nyaris pergi dari hadapannya kembali menoleh padanya.
”Aku mengerti. Mungkin anda sedang menunggu mobil mewah jemputan anda”
Dia tersenyum sinis padaku lagi.
”Tapi sayangnya supir andalan anda sangat tidak bertanggungjawab karena bisanya membiarkan anda menunggu sendirian seperti ini”
Rupanya sindiranku tepat mengenai sasaran. Ia balik menatapku dengan wajah yang masam.
”Heh, kau tahu apa ? Bukan urusanmu jika aku harus menunggu sendirian di sini”
”Aku hanya kasihan pada anda saja” Sahutku lagi.
”Kau pikir kau bisa bantu apa untukku ?” Sengutnya masih dengan wajah kesal terhadapku.
”Aku bisa mengantarkan anda”
Mata coklat wanita tua itu langsung membelalak. Tak menyangka kalau aku akan menyahutnya seperti itu.
”Dengan benda aneh itu ?” Ujarnya dengan ekspresi ngeri menatap sepedaku.
”Kalau tidak mau juga tidak apa. Tidak perlu berkata seperti itu”
”Anda tahu, anda adalah orang yang paling tidak tahu berterima kasih. Sudah diberikan tawaran yang bagus malah menghina. Yah sudah, silahkan menunggu supir tercintamu itu yang entah di mana rimbanya” Rutukku secara blak-blakkan.
”Kau bilang apa ?”
”Apa kau tidak pernah belajar sopan santun ?” hardiknya lagi.
”Untuk orang seperti anda, aku tidak perlu bersikap sopan. Nenek tua jelek !!”
”Diam !!!”
Bentakkan itu membuatku tidak mampu berkutik. Nyaliku menciut.
”Baiklah, kau harus mengantarku pulang sekarang juga !”
Aku diam seribu bahasa.
# # #
Ternyata berat juga wanita tua ini....
Rumahnya juga lumayan jauh dari yang kukira. Belum lagi harus terjebak macet. Untung saja hanya aku yang merasa kepanasan oleh teriknya mentari siang. Sedangkan wanita tua yang kini duduk berboncengan denganku menggunakan mantel dari bahan yang mahal serta topi bundar miliknya yang bisa menutupi wajahnya hingga tidak perlu dikhawatirkan lagi kondisinya.
Aku mengayuh sepedaku menuju jalan yang diinstruksikannya. Berbelok ke kanan, berbelok ke kiri, menanjak, menurun, lurus saja. Uhhh... Kapan tibanya ??
Aku mulai merutuki kecerobohanku sendiri. Tapi, dalam hati aku tersenyum geli membayangkan seorang wanita dengan stelan pakaian glamour namun menumpangi sebuah kendaraan yang super sederhana. Ironis sekali, hehehe......
Kali ini aku memasuki kompleks perumahan elite. Inilah pertama kalinya aku memasuki daerah ini. Tentu saja, memangnya kepada siapa aku berkunjung di tempat mewah seperti ini, yang setiap bangunannya megah dan kokoh, sedangkan halaman depannya begitu luas. Ada taman, air mancur dan satu lagi yang sepertinya tidak kalah penting. Mobil mewah. Yeah, setiap rumah terparkir lebih dari satu mobil keren. Lumayan instingku ada benarnya juga, wanita tua ini adalah konglomerat rupanya.
”Berhenti”
Instruksi kali ini membuat hatiku berbunga-bunga karena akhirnya penderitaanku berakhir juga.
Fuihhh....
Aku menatap takjub melihat rumah megah bernomor 08 yang kini berada di depanku. Yang benar saja, wanita tua ini lebih kaya dari yang kuduga. Gumamku masih dengan wajah yang menahan sejuta takjub.
”Hey, jangan menatap udik seperti itu” Sentaknya padaku.
Aku tersenyum kikuk. Memangnya kelihatan ya kalau aku seperti orang yang udik ??
”Baiklah, apa aku masih harus membantu anda untuk membawakan belanjaannya sampai ke dalam rumah ?” Tawarku dengan hati malaikat.
”Pelayan di rumahku cukup banyak untuk melakukan hal itu”
Terima kasih atas informasinya, Nenek sombong !!
Batinku kesal.
Aku langsung memutar arah kemudiku. Pulang.
”Hey, anak ceroboh. Memangnya kau tidak kecapean ?”
Aku menjawabnya dengan sebuah senyuman sekilas. Pakai bertanya lagi.
”Mampir saja dulu ke rumahku”
Great !!
Rasanya ini adalah pengalamanku yang paling seru. Aku bisa berada di kompleks perumahan Seoul Big. Perumahan termegah yang ada di kotaku dan lebih asyiknya lagi, kini aku berada dalam rumah yang kemewahannya sudah sebanding dengan istana kepresidenan. Hehehe....
Banyak sekali pegawai berseragam dan berdasi kupu-kupu bertebaran di sana-sini. Benar-benar keren. Tidak sia-sia kulitku yang hangus terbakar, karena sekarang aku sedang bermanja-manja dalam ruangan full AC dan duduk di atas sofa yang empuk. Belum lagi ditambah suguhan minuman dingin plus ice cream dan cemilan enak lainnya.
”Wah, anda ternyata baik juga, ya” Ujarku polos.
Wanita tua itu tersenyum. Eh, tersenyum ?? Akhirnya aku bisa melihat Nenek sinis itu tersenyum. Ternyata bisa.
”Apa semua ini bisa aku habiskan ? Masalahnya aku benar-benar kehausan” Sambungku dengan lugas.
”Kau ini lucu juga, ya” Sahutnya padaku.
Dengan cuek aku langsung mencicipi suguhan yang ada di hadapanku. Bahkan tanpa malu-malu. Masa bodoh, dia bukan pangeran tampan atau putri kayangan yang harus membuatku kikuk. Hanya wanita tua.
”Oh ya, siapa namamu ?”
”Hye Sun” Jawabku singkat.
Wanita tua itu menganggukan kepalanya mendengarkan namaku.
”Dari lambang sekolah di kemejamu, apa kau siswi dari SMU Golden Crown?” Tanya wanita tua itu sambil melirik lambang di kemeja sekolahku.
Aku mengangguk. Tidak bisa menjawab dengan suara jelas, karena mulutku sudah penuh dengan makanan. Idih memalukan. Tapi aku tidak peduli.
Dia mengernyitkan dahinya. Aku sudah bisa menebak yang ada di pikrannya saat ini. Apalagi kalau bukan pikiran ”Kok bisa, ya ?”
”Pamanku adalah seorang guru olah raga di sekolah itu dan aku dijadikan jatahnya. Sekitar 2 tahun lalu kakakku eun hye adalah siswi yang lulus di sekolah itu dengan catatan nilai tertinggi. Dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi negeri, tapi dia berubah pikiran dan meminta pada pihak sekolah agar beasiswa itu diganti dengan keringanan biaya sekolahku saja. Akhirnya setelah bernegosiasi panjang dengan pihak yayasan maka akupun diterima” Jelasku panjang lebar.
Wanita tua itu tampaknya menyimak dengan serius. Aku tidak tahu dimana letak ketertarikannya. Pada ceritaku atau pada wajahku yang kini belepotan. Aku masih tetap cuek saja.
”Apa anda tahu, SMU GC itu tampak dari luarnya saja seperti sekolah beradab. Tapi dalamnya, wuih.... Siswanya sangat tidak bermoral. Sombong dan angkuh seolah merekalah penguasa dunia ini. Padahal kemewahan yang dipamerkan hanya milik orang tua. Mereka itu tidak bisa diandalkan”
”Tidak bisa diandalkan ?? Termasuk kualitas otak ?” Lirih wanita tua itu dengan penasaran.
”Sebagian”
Karena aku adalah salah satu dari sebagian siswa yang otaknya geger. Aku tidak kuasa lagi beradu tatapan dengan wanita tua ini, tampaknya Ia tertarik dengan ceritaku tentang kebiasaan buruk penghuni SMU GC.
”Nenek, aku harus pergi lagi !!”
Sebuah suara dari ruangan seberang menerobos pembicaraan di ruangan kami. Oh, akhirnya suara itu datang juga untuk menyelamatkanku dari penyidikkan cerita.... Desahku lega.
”Oh, itu adalah cucuku”
Tatapan kami berdua langsung tertuju di ujung ruangan dan sang cucu pun muncul. Ice cream yang meleleh dalam mulutku tiba-tiba terasa panas dan ingin segera kumuntahkan keluar. Dengan spontan aku teranjak dari sofa kesayanganku.
Glekh...
Apa dunia ini kecil sekali, ya ? Sampai-sampai aku harus selalu bertemu dengan dia lagi atau wajahnya terlalu pasaran hingga mirip dengan siapa saja yang kutemui.
”Ayo, kemarilah Prince”
Uhh.... Prince Lee Minho. Prince idiot !!
Minho masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang pendek. Matanya masih tak lepas dariku. Mungkin dia juga sama syoknya denganku.
”sun, ini adalah cucuku. Dia siswa baru di sekolahmu”
Kalimat Wanita tua itu tidak dihiraukan oleh kami berdua. Tatapan kami masih beradu.
”Nenek, Kenapa dia bisa berada di sini ?” Lirih minho dengan ekspresi heran.
”Ehmm... Tadi dia membantu Nenek” Jawab nenek tua itu sekenanya.
Aduh...Sun’aa, ayo bangun. Kau sadar tidak, wanita tua ini adalah Nenek Prince lee minho berarti dia adalah Nyonya besar lee min jung . Pemilik yayasan tempatmu belajar dan tadi kau sudah menjelek-jelekkan kualitas sekolahnya. Tamatlah riwayatmu. Rutuk hati kecilku.
”Se.. Sebaiknya, aku pulang saja” Pamitku buru-buru.
Lebih cepat pergi, lebih baik. Aku tidak tahan, apalagi kini berhadapan dengan Prince idiot satu ini.
”Eh, kenapa harus buru-buru ? Kau kan belum menghabiskan cemilannya. Katanya tadi mau dihabiskan semua”
Deg...
Wajahku rasanya sudah seperti warna pelangi. Hancurlah sudah imejku di hadapan minho. Aduh, siapa saja tolong aku !!
Ehmmm.... Aku mendengung tanpa berani menatap wajah minho. sun, kau benar-benar tidak tahu malu.
Tiba-tiba minho menghampiriku. Menghampiriku lebih dekat lagi. Sambil berdiri di depanku, Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku celananya.
”Wajahmu belepotan” Sahut minho kalem sambil menyodorkan sapu tangannya.
Dengan perasaan teramat malu akupun mengambil sapu tangannya dan buru-buru melap derah sekitar mulutku.
Dasar Hantu Blasteran. Selalu saja muncul di saat yang tidak tepat !!
# # #
Sudah hampir 2 jam aku tengkurap di atas tempat tidurku. Pikiranku kacau. Arahnya makin tidak jelas saja mau ke mana. Hingga akhirnya derap langkah kaki eun hye yang membuyarkan kondisiku. Aku terdampar kembali ke alam nyata.
”Mau sampai berapa tahun kau menatap sapu tangan yang penuh dengan noda itu ?” Sentak eun hye sambil meletakkan tas kerjanya dia atas meja belajarku.
Rumahku sangat sederhana, bahkan kamar pribadi pun aku tidak punya. Aku harus rela berbagi jatah kamar dengan eun hye .
”Sebaiknya direndam saja agar nodanya tidak membandel”
Seperti iklan deterjen saja.
”Malas” Jawabku cuek sambil melempar sapu tangan itu ke keranjang pakaian kotorku.
Sapu tangan seperti itu tidak ada harganya bagi tuan muda lee . Jadi meski tidak kukembalikan seumur hidup pun tidak masalah baginya.
Eun hye menatapku heran. Ia beranjak dan memungut sapu tangan itu lagi. Sejenak ia memperhatikan pola yang ada.
”Dari mana kau memperoleh barang mahal seperti ini ? Ini merk asli buatan New York. Lihat saja logonya”
Masa bodoh.
”Jangan-jangan kau sudah punya pacar, ya ?” Goda eun hye .
Aku membelalakkan mataku pertanda jengkel.
”Namanya,min ho kan ?”
Spontan aku langsung teranjak dari pembaringanku. Ajaib sekali insting Vanella.
”Oho... Jangan kaget” Ujarnya cepat setelah mendefinisikan bahasa tubuhku.
”Lihat huruf Sansekerta ini”
Eun hye menunjuk ke serangakaian huruf yang tidak kumengerti. Sulamannya juga tipis nyaris tidak terbaca.
”Huruf-huruf ini jika digabungkan menjadi satu maka akan membentuk sebuah nama. M-I-N-H-O” Jelas eun hye dengan serius.
Smart !! eun hye dari dulu memang gadis yang smart.
Aku manggut-manggut saja menatap sapu tangan itu lagi. Sebuah sapu tangan berwarna Navy Blue dengan pola blossom yang kecil. Unik juga. Pikirku.
”Siapa dia ?” Sentakeun hye sekali lagi.
”Alien dari Pluto yang pesawat ufo-nya terdampar di sini” Jawabku asal sambil kembali menjatuhkan diriku ke ranjang.
# # #
Pagi ini, lagi-lagi Bapak song si guru olah raga berbadan kekar itu sedang semangat-semangatnya menjemur kami di lapangan olah raga. Yeah, dialah pamanku yang telah berbaik hati menjerumuskan aku ditengah-tengah manusia angkuh ini. Aku sering tidak ingin mengakuinya sebagai pamanku jika Ia tengah dirutuki oleh teman sekelasku karena menu olah raganya yang terbilang berat. Tentu saja, lari 4 putaran mengelilingi lapangan di bawah mentari akan dianggap siksaan dunia bagi para tuan dan nona muda itu.
”Kuat juga kau” Ujar Dara dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
Aku ingin tertawa geli melihat ekspresinya. Selalu saja seperti itu. Keringat dingin yang bercucuran, wajah pucat dan nafas yang nyaris habis membingkai wajah nona ayu ini.
”Aku sudah terbiasa. Sejak berusia 5 tahun aku dan kakakku memang selalu dilatih oleh Bapak song” Jawabku sekenanya.
Begitu tiba waktu untuk break semua siswa langsung menjatuhkan dirinya di atas tribun. Ada yang dengan langkah terseok-seok menuju botol minumannya dan ada juga yang nyaris menangis meraih handuk kecil untuk melap keringat mereka. Hanya aku yang sempat-sempatnya tertawa melihat tragedi lapangan itu.
Kalau dalam hal ini, aku selalu jadi orang yang terkuat. Sekali ini saja.
”Eh, itu minho!!”
Seperti battere yang baru selesai dicharge, tenaga Dara yang tadi hampir mencapai garis limit tiba-tiba kembali memanas. Buru-buru Ia menyeka keringat di wajahnya dan merapikan penampilannya. Siapa lagi yang mampu menyihir Dara sekuat itu kalau bukan medan magnetnya, Prince Lee MinHo.
”Dara, kau ini kenapa ? Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Kenapa kau jadi kegenitan seperti ini ? Kau tahu, kau tidak seperti Sandara Park yang kukenal. Kau kini lebih mirip dengan si Quenn Shin hye bersama kawanannya. Kelompok gadis cantik tapi pengemis cowok sok keren yang berotak kosong” Tandasku.
Dara menatapku dan tersenyum santai padaku.
”Sun’aa, apa kau tahu yang baru saja kau ucapkan ?”
Aku terdiam sambil menunggu penjelasan selanjutnya dari Dara .
”Sejak pertama aku sangat tertarik melihatnya. Gayanya yang super cuek itu yang membuatku mana tahan. Aku mencari data tentang dirinya pada situs pribadi Perserikatan Lee. Bayangkan aku sampai rela membuang waktuku demi browsing internet hanya untuk mencari tahu tentang Prince Lee Minho”
”Dan kau tahu, kerja kerasku tidaklah sia-sia. Dia itu bukan anak yang bodoh. Di sekolah lamanya, indeks nilainya berada di atas rata-rata. Hanya saja, dia bukan anak yang rajin dan tidak suka diatur. Singkatnya dia anak yang sangat suka memberontak” Jelas Dara panjang lebar.
Sekali lagi Dara mencoba mengatur nafasnya kembali.
”Kau tahu kan, kriteria pria idealku ? Cerdas dan prinsipil !”
”Bagaimana kalau isi dalam situs itu hanya sebuah kebohongan ? Bukankah mereka memang akan melakukan segala cara untuk menjaga imej nama besar mereka?”
”Kecerdasan itu tidak bisa direkayasa,hye sun. Aku bisa buktikan kalau Minho tidak seburuk yang kau kira”
”Tapi...”
”Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi” Sela Dara dengan lagak yang cuek. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.
Malapetaka itu memang telah tiba !!
”Minho” Panggil Dara sambil melambaikan tangannya.
Oh damn !! Dara , apa yang kau lakukan. Susah payah aku menyembunyikan wajahku dari hadapannya, kau malah menarik perhatiannya ke sini.
Rutukku kesal.
Aku langsung salah tingkah jadinya, apalagi melihat minho yang berjalan menghampiri kami, tentu saja dengan dikawal oleh sahabat tercintanya, si brengsek Bummie . Ohh.... Tidak. Insiden kemarin siang pasti masih hangat di memorinya. Aku harus menyiapkan telinga.
”Hey,minho” Sapa Dara lagi, tapi kali ini dengan nada yang lebih ramah.
Minho masih dengan gaya khasnya, yaitu cuek menatap Dara .
”Ini, aku sediakan untukmu catatan laporan hasil lab uji reaksi Kimia kemarin”
Dara menyodorkan sebuah buku catatan ke arah Minho. Sementara aku hanya bisa terbengong dengan ekspresi yang teramat linglung yang pernah aku punya dalam hidupku.
Dara!!! Kau ini bodoh, tolol, idiot atau apa sih ?? Pelet apa yang menyantet pikiranmu ??
Aku membatin dengan teramat kesal. Bagaimana tidak, aku saja tidak pernah diberi keistimewaan seperti itu dan sekarang Prince idiot itu yang harus mengambil jatahku.
”Terima kasih” Sahut minho singkat.
”Ehhmmm,minho. Apa aku juga bisa memanggilmu dengan sebutan Prince ?” Ujar Dara dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Spontan Bummie langsung tertawa heboh. Bahkan itu tawa ledekkan yang paling mengerikan yang pernah aku dengar.
Seketika Dara merasakan dirinya down. Ia tertunduk dengan malu, wajahnya juga memerah. Apalagi tawa Bummie yang lumayan keras itu memancing perhatian dari teman-teman yang ada di sekitar kami.
Aku yang baru saja akan beraksi untuk membela Dara , keburu dicegatnya. Dara mencengkram lenganku dan menatapku dengan isyarat untuk tidak berbuat apa-apa. Tapi aku kesal. Telingaku panas mendengar tawa. Bummie Dasar brengsek !! minho saja si pemilik nama hanya diam, dia malah dengan lagaknya tertawa seperti Kakek sihir.
”Tentu saja aku tahu, panggilan itu hanya untuk orang-orang tertentu. Tidak diizinkan pun tidak mengapa. Lagipula nama minho juga cukup keren” Sahut Dara dengan suara bergetar.
Aku bisa merasakan perasaan dara saat itu dan tidak sepantasnya Ia dipermalukan seperti itu. Bukankah pengorbanan Dara sebagai asisten sudah cukup besar untuk mereka.
”Bagiku tidak masalah, Prince atau minho sama saja. Kau bisa memanggil dengan sesuka hatimu” Ucap minho kalem.
Senyuman berbinar pun langsung menghiasi wajah Dara dan tentu saja langsung menyumbat tawa Bummie . Ia menatap minho seolah tidak percaya.
”gamsahamdina” Sahut Edyz.
”Kau ini bicara apa, aku saja tidak kau izinkan untuk...”
Tatapan minho seolah meminta bummie untuk tidak melanjutkan perkataannya. Dengan wajah yang teramat kesal bummie terpaksa menutup mulutnya.
”Lupa ya, siapa pahlawan minho saat ini ?” Tukasku tajam pada bummie.
Akhirnya keluar juga kalimat kekesalanku. Bummie menatapku geram, ingin rasanya Ia menerkam wajahku.
”Sebaiknya, kami pergi saja” Pamit dara sambil buru-buru menyeretku bersamanya. Kami pun berlalu dari hadapan keduanya.
”Kau ini kenapa, minho??”
Bummie kembali melanjutkan protesnya setelah Ia memastikan bayangan kami sudah menjauh dari tempat mereka berdiri.
”Sejak kapan kau mulai membela mereka. Apalagi dengan sikap seperti itu. Jangan katakan kalau kau tertarik pada Dara . Kau harus ingat, dia hanya alat untuk memudahkan pekerjaan sekolahmu. Tidak lebih !” Kecam bummie.
”Siapa yang berani menghalangi keinginanku ?” Lirih minho sambil mengadu tatapannya dengan bummie.
”Itu komitmen. Kita tidak boleh bergaul dengan....”
”Omong kosong dengan semua aturan itu” Sela minho cepat.
Ia langsung memutar arah tubuhnya hendak berlalu dari hadapan bummie .
”minho’aa, tunggu !” Cegat bummie sambil memegangi pundak minho.
”Kau tahu, apa yang membuatku betah untuk tinggal di New york ? Dan apa kau tahu kenapa aku sangat ingin melarikan diri dari kediaman Lee?” Tukas minho tajam sambil berbalik menatap Bummie. Bahkan tangan bummie dihempaskan minho begitu saja dari pundaknya.
”Aturan sinting dari keluarga konglomerat !!”
Bummie terpaku di tempatnya. Mulutnya juga ikut tersumbat. Kini Ia tahu kalau sahabatnya tengah marah besar.
”Kenapa kita harus selalu terikat dengan semua aturan yang ada ? Kenapa harus ada larangan-larangan yang menyangkutpautkan nama besar dan status sosial ? Apa hebatnya kita ? Apa hanya karena terlahir dengan nama besar keluarga ? Kau pikir itu hebat ? Kau sebut itu komitmen ??”
”Apa kau tidak bosan dengan menjadi boneka perserikatan mereka ? Kau dibentuk dengan pikiran yang mereka wariskan padamu ? Lalu untuk apa otakmu diciptakan ? Untuk apa hatimu ada ?” Cecar minho tanpa ampun.
”Kau sahabatku satu-satunya, aku tidak ingin menganggapmu bodoh apalagi menganggapmu menjadi penghalangku. Kalau kau merasa kita tidak seprinsip lagi, silahkan kau keluar dari kehidupanku karena kau akan merasakan penyesalan” Tandas minho sambil berlalu.
Tap...tap tap.... Aku setengah berlari menuju ke arah kelasku. Aku hampir saja terlambat pada pelajaran selanjutnya. Aku terpaksa harus turun ke lantai bawah untuk mengambil catatan sejarah dalam lokerku.
Aduh, bisa gawat kalau aku terlambat. Miss. JooLie pasti akan.....
Bukh....
Saking terburu-burunya aku tidak bisa mengendalikan tubuhku dari tabrakkan pada tikungan akhir ini.
”Miane...” Ucapku secepat mungkin.
Deg.
Ya ampun, ini manusia atau malaikat ???
Mulutku terbuka lebar. Aku tidak dapat mengeluarkan kata-kata lagi. Otakku terbengkalai dengan sejuta takjub pada pemandangan anugerah Sang Pencipta, yang kini berhadapan denganku.
”Benar-benar, seperti malaikat” ucap batinku..........
-------TBC----------
Mohon komentarnya yah kawand2........
Terlebih MaMi Cs........
hehe
![[heh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/heh.gif)