Author Topic: September's blue : My Rainy Days ~CHP 5 Part (iii) FINAL~6 Feb'11  (Read 20594 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
jie ah bandel amat  [guns]
ga apa2 dong sekali2 bandel [hmpfh] kan ada jungmin penjaga setianya, her true gradian angel [lovestruck] [lovestruck]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
yg ini udah sesai but belum upload piku2nya jadi .. updateannya ditunda sebentar .. kalau ga ada halangan, tar malam ya [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Mudah2n kgk ada halangan ya mam jd gw bs b'gadang nungguin updatean mami,hehe. Mam, spoilernya aja sweet apalg pas diupdate bklan lebih sweet kan mam? Iya dong*maksa.com*.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline mutiara_minsun

  • Junior
  • **
  • Posts: 199
  • mino bilng."sayang kmu trmakn ak jd cow kmu?"hehe
    • View Profile
udac mii lngsung update aj gk usah pkek spoiler sgala  [hmpfh] [hmpfh]

klo mlem ni d update bkal gw tnggin !!

ayo update  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Diamond of Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 714
  • Your smile make me cool..Your love around me,,
    • View Profile
Aq yakin tak akan ada hujan,,badai,,gemuruh ataupun petir yang menggelegar,,angin topan..angin taufan..angin puting beliung,,angin apalagi ya..angin yang bauk..

Dijamin mi, bakal aman..
Coz aq dah sewa 100prajurit jung min buat ngejagain n mengendalikan semuanya..*lebay*

ga usah sungkan mi..
From the bottom of my heart,,
i wish you here with me ever and forever..
Become a real couple..

Aza aza hwaiting!!!

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
sebentar lagi ya [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Author's note : Ini part terakhir dari ff My Rainy Days. Karena ff ini ff pendek maka tidak semua scene penting gw ceritain--termasuk acara pernikahan Jung-Min dan Jie-Ah, ML pertama mereka, begitu juga bagaimana Jung-Min berbaikan ama ommanya. Silahkan dibaca .. dan yang terakhir gw minta maaf buat semua kekurangannya .. see you di ff selanjutnya .. bye ....





Dua bulan berlalu. Jie-Ah menuntun Jung-Min memasuki sebuah ruangan, tempat dia menumpahkan seluruh kreatifitas dan kegemarannya di bidang seni, terutama seni lukis. Sepasang mata Jung-Min tertutup saputangan. Dengan hati-hati, agar tidak terbentur tiang-tiang dan kaki-kaki penyangga lukisan yang banyak terdapat dalam ruangan itu, Jie-Ah membawa Jung-Min sampai di depan sebuah lukisan yang tertutup sehelai kain lebar warna putih.

"Yaa--ada apa ini?" protes Jung-Min.

"Rahasia .. ," jawab Jie-Ah misterius. Senyum lebar tersungging di bibirnya.

"Yaa--Goo Jie Ah!!" Jung-Min bermaksud melepas saputangan pengikat matanya tapi segera ditebis Jie-Ah.

"Yaa--saya belum menyuruhmu buka penutup ini!!"

"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Jung-Min. Dia membatalkan maksudnya membuka kain penutup itu. "Apa-apaan ini, Goo Jie Ah?"

"Kejutan!" sahut Jie-Ah.

"Mwo?!!"

"Kau ingat hari apa ini?"

"Hari?!" Jung-Min tampak mengenyitkan alisnya dibalik penutup mata. Dia berpikir keras. Hari apa yang dimaksud Jie-Ah? ... Natal? Bukankah belum tiba? ... Ulangtahun Jie-Ah? Kan sudah lewat ... Lalu, apa?

"Hari apa?" Akhirnya Jung-Min menyerah.

"Kau lupa?" tanya Jie-Ah keheranan.

"Iya. Jadi katakan padaku hari apa yang kau maksud!"

"Tunggu sebentar!!" sahut Jie-Ah tiba-tiba.

Lalu ... keheningan menyelimuti mereka. Jung-Min memiringkan kepalanya, berusaha menangkap suara-suara dalam ruangan itu. Terdengar bunyi halus dari kain yang disibakan. Kepala Jung-Min semakin miring ke samping.

"Goo Jie Ah ... ," panggilnya pelan.

"Sebentar lagi ... ," ujar gadis itu.

Lima menit kemudian, Jie-Ah meraih tangan Jung-Min dan membawanya maju beberapa langkah. Setelah itu, dia membuka saputangan penutup mata Jung-Min.

"Lihat ini!!" Jie-Ah tersenyum. Perlahan-lahan dia menyingkir dari posisinya sehingga Jung-Min dapat melihat dengan jelas apa yang berada di baliknya.

"Ini ... ," suara Jung-Min tercekat. Tanpa sadar, dia melangkah selangkah lagi ke depan. " ... Dream ... "

"Ne. Dream .. " Jie-Ah tersenyum, seraya menoleh ke lukisan di sebelahnya.

Lukisan seorang pria yang sedang memayungi dan melindungi bidadarinya dari siraman air hujan, dengan posisi memunggungi mereka ...

"Ka ... kapan ... kau mendapatkannya kembali?" tanya Jung-Min gagap.

"Dua bulan yang lalu, beberapa hari setelah kita tiba di sini .. ," jawab Jie-Ah.

"Mwo?!" Jung-Min terperanjat. "Selama itu. Tapi .. kau tak pernah menceritakannya ... "

"Memang ... " Jie-Ah mendekati lukisan tersebut dan menyentuhnya dengan lembut.

"Kenapa?" tanya Jung-Min tak mengerti. "Waktu kubilang Dream hilang, kau tak menunjukan reaksi apa-apa ... Jadi selama ini, kau yang menyembunyikannya?"

"Ne. ... Mianeyo ... ," desis Jie-Ah. "Aku diam-diam mengirimnya dari Seoul begitu kita memutuskan ke New York ... "

"Tapi ... mengapa? Kau sudah berjanji akan jujur padaku .. jadi mengapa ... "

"Jeongmal mianeyo ... Waktu itu aku belum memutuskan .. Aku masih bimbang ... "

"Bimbang?" Jung-Min mengenyitkan alisnya. "Bimbang apa?"

Jie-Ah mengigit bibir. Dia berpikir sejenak ... sebelum, beralih kembali ke lukisan yang mereka permasalahkan.

"Apa kau melihat perbedaan di sini?" tanya Jie-Ah akhirnya.

"Perbedaan?" Jung-Min melirik lukisan Dream. "Perbedaan apa?" tanyanya hambar.


"Kau tak melihatnya ... ?" Tangan Jie-Ah perlahan turun dari payung yang menaungi pasangan dalam lukisan sampai ke punggung jangkung si pria. "Di sini .. Kau tak melihatnya?" Jemari lentik Jie-Ah berhenti di satu titik.

Dan ... Jung-Min melebarkan matanya. Ada sesuatu yang ditambahkan di punggung pria itu. Beberapa kata, .. atau lebih tepatnya lagi, sebuah nama ... Lee Jung Min ...


"Kau sudah melihatnya sekarang?" Jie-Ah tersenyum lembut.

"Ne .. " Jung-Min mengangguk. Kemudian dia mendekati Jie-Ah dan memeluk gadis itu dari belakang. "Kenapa kau lakukan semua ini?" tanyanya pelan sambil menjatuhkan dagunya di tenguk Jie-Ah.

Jie-Ah mengerakan kepalanya ke samping sehingga pipi sebelah kanannya menempel di wajah Jung-Min. Tangannya diangkat, kemudian mengelus lembut wajah pria itu.

"Sangaeilchukae ... "

Jung-Min terperanjat. "Sangaeil ... Oh--" Rangkulannya di tubuh Jie-Ah terlepas. Dia segera menepuk jidat sendiri. "Benar. Hari ini ulang tahun ku ... "

"Ne .. " Jie-Ah tertawa. "Kau lupa, kelihatannya ... "

"Gumawo .. " Jung-Min kembali meraih Jie-Ah ke dalam pelukannya. "Jadi ini hadiah kejutan buatku?" tanyanya sambil tersenyum lebar.

"Ne .. " Jie-Ah menyentuh wajah Jung-Min. "Saya memutuskan untuk menghadiahkannya padamu karna .. saya sudah yakin seyakin-yakinnya .. dan percaya .. bahwa pria dalam lukisan tersebut, pangeran impian yang selama ini ku impikan akan selalu melindungi dan menjagaku dari badai dan segala rintangan .. adalah kau adanya ... "

"Goo Jie Ah ... "

"Hanya kau seorang ... Jung Min-a .. ," lanjut Jie-Ah dengan nada rendah. Pandangannya mulai memudar oleh airmata yang tak mampu dibendungnya.

Jung-Min menghela nafas, kemudian mengecup pelan bibir Jie-Ah. "Jangan menangis ... ," katanya sambil menghapus air yang menitik turun dari mata indah gadis itu. "Aku tak ingin melihatmu seperti ini ... ," ujarnya halus. "Demi tuhan, Goo Jie Ah! Menikahlah denganku .... "


Jie Ah tersentak. Reflek, dia melepaskan diri dari rangkulan Jung-Min. "Aniyo ... ," sahutnya sambil mengelengkan kepala keras-keras.

Jung-Min kaget. "Kenapa?" tanyanya dengan nada menuntut. "Kita saling mencintai ..  dan bukankah selama dua bulan terakhir ini, kita lalui dengan bahagia? Lalu apa lagi yang kau pertimbangkan?"

"Tidak bisa!" Jie-Ah berkeras.

"Goo Jie Ah!" tegur Jung-Min. "Kau tak mau jadi istriku?"

"Bukan begitu!!" ujar Jie-Ah kaget. "Bagaimana mungkin kau berpikiran seperti itu?!"

"Habis?" tekan Jung-Min.

"Saya ... saya ... Saya tidak mau pernikahan yang tak direstui orangtua!!" seru Jie-Ah tiba-tiba, lantang dan tegas.

"Mwo?"

"Selama ibumu tak merestui hubungan kita .. Maka .. saya tak akan menerima lamaranmu ... ," tutur Jie-Ah. "Miane, Jung Min-a ... saya terlalu egois ... tapi sungguh, saya tidak mau pernikahan yang seperti itu--Pernikahan yang tak direstui orangtua tak akan mendatangkan kebahagiaan .. percayalah ....," sambungnya dengan nada menyesal.

Jung-Min mendesah. Sekali lagi dia merenguh tubuh mungil Jie-Ah ke dalam dekapannya. "Kenapa jadi begini? Setelah kita melewati begitu banyak rintangan .. kenapa mesti ada cobaan lainnya ... Kematian--apakah itu belum cukup? ... Kenapa tuhan sekejam ini?"

"Ssstt!!" Jie-Ah langsung menempelkan telunjuknya di bibir Jung-Min. "Kau tidak boleh berkata begitu, Jung Min-a ... Tuhan sudah terlalu baik pada kita. Terutama pada ku. Jika tidak, .. aku tak mungkin berdiri di hadapanmu sekarang .. Tidak mungkin berada dalam pelukanmu seperti saat ini ... Kita tidak mungkin bersama, Jung Min-a .... Semua karna kemurahan Tuhan, karna itu kita tidak boleh menyalahkannya .. Araso?"

Mereka berpandangan selama beberapa saat. Lalu, Jung-Min tersenyum. Ditekannya hidung bangir cewek dalam dekapannya itu. "Ne. Araso ... Kau yang paling benar ... "

"Aku sudah puas seperti ini .. " Jie-Ah memejamkan matanya. Dia berbalik, menghirup udara dalam-dalam sambil menyandarkan kepalanya di dada Jung-Min. "Segalanya sudah sangat baik .. Aku tak berharap banyak .. Menikah atau tidak, bukan yang terutama lagi buatku .. Yang penting sekarang, kau berada di sisi ku ... Senantiasa menemani langkahku .. Itu sudah lebih dari cukup .. "

"Pabo ... " Jung-Min menjitak pelan jidat Jie-Ah. Sesaat kemudian, mereka tertawa bersamaan. Jung-Min mendaratkan ciuman di tenguk Jie-Ah, lalu berujar halus di sela-sela telinganya, " .. sarangheyo ... "


"Ne, saya juga ... ," desah Jie-Ah.

Beberapa saat, mereka terhanyut dalam perasaan masing-masing. Suasana yang sunyi, hanya lukisan-lukisan dan degup jantung yang menemani, membuat segalanya terasa sejuk dan menenangkan. Jie-Ah memejamkan mata sambil memeluk erat pinggang Jung-Min, kepalanya menempel ketat di dada pemuda itu--mendengarkan detak jantungnya yang berirama, ... sedangkan pandangan Jung-Min terpusat ke Dream. Dia tersenyum. Benar kata Jie-Ah ... Biarlah semua berjalan apa adanya. Menikah bagi kami sudah bukan hal penting lagi ... Kami saling mencintai dan perasaan ini, tanpa bukti pernikahan atau segala ikrar suci itu, akan terjaga sampai mati ...

"Miane .... ," ujar Jie-Ah tiba-tiba. Matanya terbuka, dan mendongak menatap Jung-Min.

"Mwo?" Pandangan Jung-Min beralih padanya. "Mwoga? Apa lagi kesalahanmu?" Dia tertawa mengoda.

Tapi Jie-Ah tidak tertawa. Dia juga tidak tersenyum. Rautnya sangat serius dan sinar matanya memancarkan penyesalan.

"Karna saya, seorang anak tak bisa melewatkan hari ulangtahun bersama ommanya tercinta ... Jeongmal mianeyo .... "

Jung-Min tertegun. "Jie Ah-a ... "

"Saya sungguh-sungguh menyesal buat yang satu ini ... " Jie-Ah menundukan wajah perlahan. "Saya sudah menghubungi omma seminggu yang lalu, dan bermaksud memintanya terbang kemari--menghabiskan hari-hari bersama kita, tapi ... beliau menolaknya. Bahkan langsung memutuskan sambungan telepon dari ku ... "

Jung-Min menekan kepala Jie-Ah ke dadanya. "Gwencanayo ... ," katanya halus. "Pelan-pelan saja .. Jangan dipaksakan ... " Kemudian dia menyentuh dagu Jie-Ah dan mengangkat wajahnya kearahnya. "Bukan hanya padamu saja, omma tak mau berhubungan ... bahkan padaku, dia masih dingin ... Tapi itu tidak apa-apa. Aku yakin suatu saat nanti hatinya akan luluh jua ... "

"Tapi, Jung Min-a .... Kenapa .. kenapa aku tidak punya keyakinan itu?" ujar Jie-Ah ragu-ragu. "Selama aku tak mampu memberi keturunan padamu, hubungan kita tak mungkin direstui ... "

"Sssttt .. " Jung-Min memberi isyarat supaya Jie-Ah diam. Dia tersenyum, lalu menunjuk ke depan. "Lihat itu ... ," katanya sambil menunjuk lukisan Dream. "Sudah sejak semula aku bilang pemuda itu adalah aku dan wanita itu adalah kau ... dan lihat, bener kan perkataan ku?"

Jie-Ah meliriknya, dan berusaha tersenyum. "Gumawo ... ," ujarnya pelan.

Jung-Min mengeleng sambil mempererat rangkulannya pada tubuh mungil Jie-Ah. "Aniyo ... Seharusnya aku yang berterimakasih padamu ... Gumawo karna bersedia bertahan--berjuang dari kematian, demi aku ... "

Jie-Ah mendesah ... sesaat kemudian matanya terpejam. Wajahnya ditekan sampai terbenam dalam dada Jung-Min. Dihirupnya dalam-dalam aroma yang menyebar dari tubuh pemuda itu. Jung-Min menunduk ... mengendus dan mencium puncak kepala Jie-Ah.

 
****** oOo ******



"Jung Min-a!! Lihat itu!!!" Jie-Ah berseru keras. Tangannya dilayangkan ke langit. Perhatiannya yang sedari tadi tertuju pada kertas gambar dalam pangkuannya teralih ke atas.

Jung-Min mendongak. Bersamaan dengan itu, embun yang membawa rintik-rintik hujan langsung menerpa wajahnya. "Mwo?" tanyanya sambil mengangkat tangan buat melindungi wajahnya dari siraman gerimis.

"Itu!!" seru Jie-Ah riang. Sepasang kakinya yang terjuntai di bawah jembatan, tempat mereka mojok, bergoyang-goyang ke depan dan belakang.

Jung-Min menyipitkan matanya. "Pelangi .. ," desisnya halus.

"Ne. Pelangi!!" Jie-Ah menekan pundak Jung-Min. Dia tersenyum. "Yepoyo?"

Jung-Min tertawa. "Ne. Memang cantik ... " Setelah berkata begitu, dia mengangkat kaki ke atas, merubah ke posisi duduk dan mulai mengumpulkan alat-alat lukis yang berserakan di seputar jembatan--memasukannya ke dalam ransel. "Tapi sebaiknya kita pergi sekarang ... Udara dingin dan air hujan tidak baik buat jantungmu ... "

"Sido!!" tolak Jie-Ah.

"Mwo?" Jung-Min yang sudah berdiri dari posisinya, berpaling pada Jie-Ah. "Weeyo?"

Jie-Ah tersenyum. "Kau tak perlu khawatir, jantungku sudah tidak apa-apa lagi kok .. "

"Tidak bisa!" ujar Jung-Min tegas. "Aku tidak mau melihatmu kumat .. "


"Tidak akan!" sahut Jie-Ah segera. Tangannya menarik tangan Jung-Min. "Saya berjanji, tidak akan kumat lagi!!" lanjutnya dengan raut memelas. "Lagipula, ... bukankah ada kau di sini. Kau tak akan membiarkan penyakitku kumat, iya kan? ... Saya ingin menikmati keindahan pelangi, Jung Min-a ... Sejak dulu, saya punya keinginan--suatu saat nanti, menyaksikan pelangi di bawah guyuran gerimis bersama mu ... Pasti sangat indah moment itu ... " Jie-Ah melayangkan pandangannya ke atas. "Saya ingin mengabadikannya ke dalam lukisan .... " lalu dia berpaling kembali pada Jung-Min. "Jeobal, ... ijinkan saya melakukannya ... Sekali saja ... Saya berjanji tidak akan terjadi apa-apa ... "

"Kau ..... " Jung-Min mendesah. Dia ingin menolak, tapi sungguh .. dia tak berdaya terhadap tatapan sayu itu. Sepasang mata bundar yang mengharapkan sesuatu darinya. Suatu pengharapan.

Jung-Min menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Terdengar sangat berat. "Ne. Lakukanlah apa yang kau suka ... ," katanya, akhirnya menyerah. Dia kemudian mengeledah ranselnya, mengeluarkan sebuah payung lipat, lalu membukanya. Dia kembali menjatuhkan diri di pinggir jembatan, dengan membiarkan kaki-kaki panjangnya mengantung di sisi-sisi jembatan. Dia mengeser payung dalam genggamannya sampai seluruhnya berada di atas kepala Jie-Ah.

Jie-Ah menatap Jung-Min--tersenyum penuh terimakasih. "Aku tahu kau akan selalu menaungi dan melindungiku dengan payungmu ... "

"Iya .. " Jung-Min menekan hidung Jie-Ah. "Kau selalu tahu kelemahanku ... " Kemudian dia mengangkat kepala, menatap payung yang terbuka lebar di tangannya dengan ekspresi heran. "Aku tidak mengerti, .. sejak kapan aku mulai membawa payung kemana-mana? ... Dulu, aku paling benci jika diingatkan yang namanya payung dan hujan ... "

Jie-Ah tertawa. "Sejak kau mulai memahamiku ... Ku rasa ... ," katanya dengan maksud bercanda.

Tapi Jung-Min segera menoleh padanya dengan raut serius. "Ne. Mungkin .... ," sahutnya tegas.

"Hey--saya hanya bercanda .. " Jie-Ah menyentuh wajah Jung-Min sambil tertawa lebar. "Jangan dianggap terlalu serius .. "

"Tapi saya serius .. ," ujar Jung-Min. Diturunkannya tangan gadis itu dari wajahnya, kemudian mengecup punggung tangannya dengan khitmad. "Kau merubah hidupku kearah lebih baik ... Semula aku mengira, semua yang ada di dunia ini indah adanya. Mudah didapatkan. Tak perlu lewat perjuangan keras ... Namun setelah mengenalmu, baru kuketahui .. ternyata di dunia ini--banyak sisi buruknya ... Tidak selamanya matahari mendominasi kegelapan ... Adakalanya, kegelapan itu sendiri memberi warna tersendiri buat kesempurnaan sang raja siang .... "

Jie-Ah melebarkan senyumnya. Dibalasnya pandangan Jung-Min selama sesaat, lalu dia menunduk dan mulai mengores-goreskan pensil di tangannya ke buku gambar dalam pangkuannya. Sesekali dia mengangkat kepala dan mengarahkan pensil itu ke pemandangan di depan--mengambil sudut yang pas dan kembali menorehkan pensilnya.

Jung-Min mengamati kesibukan Jie-Ah. Lima menit berlalu dan tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. Perlahan dia mengeledah ransel yang tergeletak di dekatnya dan mengeluarkan sebuah kamera kecil. Difokuskannya kamera tersebut kearah gadis itu, dan .. suara chik-chak terdengar. Berulangkali dia menjepretkan kamera tersebut kearah Jie-Ah.



****** oOo ******



"Hyung?"

Jung-Min menghempaskan tubuhnya ke sofa. Saat itu sudah sangat sore dan Jie-Ah belum kembali dari kuliahnya--masih sibuk dalam ruang kesenian buat menyelesaikan beberapa lukisan yang belum kelar. Dua bulan lagi Universitas New York akan mengelar seminar kecil yang mengikutsertakan mahasiswa-mahasiswi berbakat di universitasnya. Para pemenang dari perlombaan tersebut akan mendapatkan beasiswa gratis dan kalau beruntung mungkin saja mereka akan mendapatkan tawaran kontrak dari orang-orang kaya pengemar seni yang juga hadir dalam seminar tersebut.

Jung-Min merapatkan ponsel di tangannya ke telinga dan menyimak dengan seksama.


"Bagaimana keadaan omma?" tanyanya beberapa saat kemudian.

"Mwo? Jinja?" Mata Jung-Min melebar. Lalu dia tersenyum lebar. "Chukae, hyung-a ... Berapa bulan?"

Jung-Min diam dan mendengarkan lagi. "O--omma sangat bahagia? ... Ne, tentu saja. Dari dulu dia sangat menyayangi Hye-Mi, apalagi mengetahui dia sudah hamil ... Omma menjaganya dengan baik? ... Bagus ... "

Sesaat, penyesalan merasuki hati Jung-Min. Mengapa semua ini tidak berlaku bagi Jie-Ah? Mengapa? Dia juga membutuhkan kasih sayang. Setelah semua penderitaan yang alaminya, seharusnya gadis malang itu menerima kebahagiaannya. Tapi mengapa ... sampai sekarang, kekelaman masih saja betah menemani hidupnya? Jung-Min mengeleng tak mengerti.

"Eh--Ne, hyung?!" Jung-Min tersentak dari lamunan begitu Seung-Gi berteriak dari seberang telepon. "Aku? Gwencanayo ... Jie-Ah? O--dia juga. Sibuk terus dengan kuliahnya ... Kapan pulang?" Wajah Jung-Min berubah sendu. "Entahlah .... " Dia mendesah. Perlahan tubuhnya disandarkan ke sandaran sofa. Matanya terpejam sambil menyimak perkataan-perkataan Seung-Gi.

"Miane, hyung. Saya belum dapat ide .... " Jung-Min membuka mata, dan merentangkan kaki ke depan. Posisi duduknya ditegakan. Sebentar saja dia menoleh ke luar jendela.

"Hmm--anak itu belum kembali juga .... , desahnya dalam hati. Diangkatnya tangan dan melihat ke jam tangan yang melingkar di situ--waktu sudah menunjukan pukul 7 malam.

"Dhe?!" Untuk kesekiankalinya dia terlonjak. Perhatiannya yang teralih membuatnya melewatkan perkataan-perkataan Seung-Gi. "Mworagu?" tanyanya linglung.

Seung-Gi mengulangi kembali perkataan-perkataannya.

"Tuan Kobayashi mendesak buat ending Dream?" Alis Jung-Min berkenyit. Dia terdiam untuk beberapa detik. "Ne, saya masih di sini .. ," sahutnya pelan. "Sekali lagi miane, hyung-a ... Saya benar-benar kehilangan ide buat cerita itu ... Katakan pada Kobayashi-san, saya akan segera menyelesaikannya begitu mendapatkan gambaran cerita yang tepat ... Ne, perasaanku sedang kacau ... Mudah-mudahan saja ... " Jung-Min mendengarkan beberapa saat sebelum memutuskan hubungan jarak jauh itu. "Anyongheseyo ... "

Dia meletakan ponsel itu ke atas meja kemudian beranjak ke deretan jendela di belakangnya. Sekali lagi dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya seraya melayangkan pandangan ke luar. Kegelapan mulai menyelimuti jalanan di luar sana. Lampu-lampu redup di tiang-tiang nan tinggi mulai dinyalakan, memberikan sedikit cahaya buat jalanan dan keadaan sekitar yang sudah remang-remang.

Jung-Min mendesah gelisah. Sesaat kemudian dia mondar-mandir tak tentu arah dalam ruangan itu. Berkali-kali dia mengaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian berhenti tepat di depan jendela. Melongokan kepala untuk kesekian kalinya, lalu berjalan hilir mulir kembali.

Kring .. kring ... kring .... Deringan telepon menghentikan langkahnya ...

Jung-Min berbalik dan melangkah lebar kearah meja di tengah ruangan. Sebelum sampai, disambarnya ponsel yang sedang berteriak-teriak keras itu.

"Yeoboseyo, Jie-Ah?!!" serunya--tanpa memberi kesempatan pada lawan bicaranya untuk berbicara.

"Jung Min-a ... " sahut Jie-Ah dari seberang. "Miane. Saya tidak bisa pulang tepat waktu ... Pekerjaanku masih menumpuk. Kau makan malamlah sendiri ... "

"Kenapa selarut ini?" ujar Jung-Min tidak senang. "Memangnya apa yang kau lakukan?"

"Masih ada beberapa lukisan yang harus kuselesaikan ... "

Jung-Min menghempaskan tubuhnya ke sofa. Wajahnya masih berkerut ketika memberikan reaksi terhadap jawaban Jie-Ah. "Tidak bisa melanjutkannya besok? Apa kau tahu sudah jam berapa sekarang?"

"Ne. Aku tahu ... ," jawab Jie-Ah. Suaranya terdengar lemah dan lelah. "Tapi aku tak bisa menundanya ... Lukisan-lukisan ini harus ku kirim ke seminar dua hari mendatang .. jadi ... "

"Saya takut kau sakit, Jie Ah-a .. ," sela Jung-Min.

"Miane .. Saya .. "

"Ya, sudahlah ... " Jung-Min akhirnya memutuskan. "Jaga dirimu baik-baik. Ingat, jangan terlalu dipaksakan ... Aku tidak ingin melihatmu sampai jatuh sakit ... "

"Ne. Araso .. " Suara Jie-Ah berubah senang. "Saya akan membelikan makanan kesukaanmu setelah pulang nanti. A great packet of salmon sushi, right?"

Jung-Min tak mampu menahan senyumnya. Tanpa sadar, dia tersenyum lebar dengan posisi terlentang di sofa. Sesaat matanya dipejamkan.

"Jung Min-a, .. kau mendengarku?!" terdengar Jie-Ah berseru khawatir.

"Ne ... ," sahut Jung-Min. "Aku menantikan janjimu .... "

"Oh--" Jie-Ah bernafas lega dari seberang. "Kau baik-baik saja, kan? .. Maksudku--aku tahu kau uring-uringan, mianeyo ... "

"Anhi!!" Jung-Min mengelak dengan cepat. "Tentu saja aku baik-baik saja ... Cepatlah pulang .... Sebelum aku tertidur, aku ingin melihatmu sudah berada di rumah ... "

"Ne .. " jawab Jie-Ah, kemudian hubungan diputuskan.

Jung-Min memasukan ponselnya ke saku celana. Kepalanya kembali didaratkan ke pegangan sofa dan matanya dipejamkan .... sesaat kemudian, kesunyian kembali menyelimuti rumah itu. Hanya terdengar dengkuran-dengkuran halus dari si pemilik rumah yang sudah terbuai mimpi dalam beberapa menit ....


****** oOo ******



"HUEKK!!!"

Jie-Ah berlari ke kamar mandi sambil membekap mulutnya. Dalam sekejap, seluruh isi perutnya dikeluarkan ke dalam kloset. Jung-Min yang baru keluar dari dapur segera mendatanginya.

"Wegude?" tanya pemuda itu khawatir.

Jie-Ah tak mampu menjawab. Dia menarik nafas dalam-dalam sambil mengerak-gerakan tangannya sebagai isyarat supaya Jung-Min menuangkan segelas air untuknya. Pemuda itu mengerti. Dia berlalu, dan sebentar saja kembali lagi dengan segelas air tergenggam di tangannya.

"Ayo, dikumur dulu ... " Kemudian dia membantu Jie-Ah membersihkan mulutnya yang berlepotan hasil muntahan. "Bagaimana? Agak baikan?" tanya Jung-Min sambil melebarkan matanya. "Apa yang terjadi?"

Jie-Ah terbatuk-batuk sejenak. Dia mengambil tisu yang disodorkan Jung-Min, kemudian menghapus airmatanya yang sempat meloncat keluar tadi. "Saya juga tidak tahu ... ," jawabnya agak terengah. "Perutku tiba-tiba terasa mules, mual dan pingin muntah .... Mungkin salah makan ... "

"Memangnya apa yang kau makan barusan?" tanya Jung-Min dengan alis berkenyit. "Kita kan belum mulai sarapan ... "

"Tidak ada ... ," jawab Jie-Ah dengan tampang pucat. "Saya tidak makan apa-apa .. dan huekkk!!!!" Kembali dia menunduk kearah kloset dan memuntahkan isi perutnya. Kali ini yang keluar hanya berupa air dan sesuatu yang berwarna agak kehijau-hijauan. Jie-Ah menelan perlahan ... terasa pahit ....

Jung-Min yang berada di sebelahnya berubah panik. Dia segera mengenggam lengan Jie-Ah. "Kau harus ke rumah sakit!!"

"Mwo?" Jie-Ah berpaling dengan mulut terbuka.

"Aku takut jantungmu kumat, jadi kau harus ke rumah sakit sekarang juga!"

Jie-Ah mengelap bibirnya, kemudian mengeleng lemah. "Tidak ada masalah dengan jantungku ... "

"Aku tidak mau tahu!" ujar Jung-Min tegas. "Ada masalah atau tidak, .. kau harus memeriksakan diri ke dokter--SEKARANG, GOO JIE AH!"

"Tapi ... "

Protes Jie-Ah percuma saja. Jung-Min nekat menuntunnya keluar dari kamar mandi, agak sedikit memaksa, memakaikan mantel ke tubuh mungil itu, lalu membawanya ke garasi depan dan sebentar saja mobilnya sudah meluncur di jalan menuju rumah sakit New York.


****** oOo ******



"Bagaimana, dok?" buru Jung-Min, begitu dokter Yoon Si-Ah--dokter yang bertugas menangani jantung Jie-Ah setelah Dae-Won dan Eun-Hye kembali ke Korea, menyelesaikan pemeriksaannya terhadap Jie-Ah.

Dokter Yoon tidak segera menjawab. Dia membolak-balik berkas di tangannya dengan khusuk dan mencermatinya dengan seksama.

Jung-Min menjadi tidak sabar. Segera disambarnya lengan dokter itu sampai berkas-berkas beterbangan dari tangannya.

"Oh--" Jung-Min mengangga. "So .. soengheyo .. " katanya gugup. Dia segera membungkuk dan membantu dokter Yoon memunguti berkas-berkas yang berserakan di lantai.

"Saya mengerti perasaanmu saat ini, tuan .... " ujar dokter Yoon sambil ikut berjongkok di lantai. Dia menatap Jung-Min sambil menyunggingkan senyumnya yang menenangkan. "Jangan terlalu gugup ... Ini sudah biasa buat pengalaman pertama .. ," lanjutnya sambil menepuk lengan Jung-Min.

"Pengalaman pertama?" Jung-Min menghentikan kesibukannya. Dia berbalik kepada dokter itu dan menatapnya dengan pandangan bertanya. "Maksud dokter?"

Dokter Yoon memungut berkas-berkas yang masih tersisa, kemudian menjulurkan tangan kearah Jung-Min--meminta berkas-berkas dari tangannya.

"Oh--" Jung-Min tersadar, lalu menyerahkan berkas-berkas itu pada dokter Yoon.

"Thanks ... " Dokter Yoon berdiri dari posisi di lantai, kemudian menunjuk sebuah kursi panjang di dekat situ. "Kita bicara di situ saja ... "

Jung-Min mengangguk. Dia berdiri, kemudian mengikuti langkah dokter Yoon. Kedua pria itu lalu menjatuhkan diri di kursi panjang yang menyandar di dinding rumah sakit.

"Kami memang sudah menasehati Jie Ah-ssi untuk menghindari beban berat buat jantungnya ... " mulai dokter Yoon.

"Beban berat?" tanya Jung-Min semakin tak mengerti. "Maksud dokter .. apakah telah terjadi sesuatu terhadap jantungnya?" Kekhawatiran mulai tersirat di wajah Jung-Min. "Parah-kah? Tadi pagi dia muntah-muntah ... Kelihatannya sangat menderita ... "

Dokter Yoon tersenyum simpul.

"Dok!!" desak Jung-Min. "Katakan padaku!! Apa yang terjadi pada jantungnya?"

"Bahkan sebaliknya ... " Dokter Yoon menjawab dengan ekspresi terheran-heran.

"Sebaliknya?"

"Saya juga tak mengerti ... " Dokter Yoon menyipitkan matanya--seakan baru kali ini dia mengalami sesuatu yang membuatnya terguncang seumur hidup ... sesuatu yang belum pernah disaksikannya, bahkan dalam mimpi sekalipun. "Kebanyakan pasien jantung kami mengalami komplikasi fatal dari kejadian yang seperti dialami Jie Ah-ssi sekarang ini ... Kalaupun mereka tidak meninggal, jantung mereka tidak akan berfungsi normal lagi ... "

"Maksud dokter?" Suara Jung-Min terdengar lemah. "Jangan menakutiku ... "

"Tidak. Tidak ... " Dokter Yoon mengeleng berulangkali. "Jie Ah-ssi baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Jantungnya berubah normal ... dan ini sangat ajaib ... Kami melarangnya mengandung karna langsung atau tidak langsung kandungan dalam perutnya akan menambah beban jantungnya ... Bagaimanapun, bayi dalam kandungan akan bernafas bersama ibunya, karena itu sangat membahayakan diri Jie Ah-ssi sendiri .. tapi ternyata ... "

"MENGANDUNG?!!!" mendadak Jung-Min menarik lengan dokter Yoon. "A .. apa kata dokter?!! Jie-Ah .. mengandung?"

"Ne ... ," sahut dokter Yoon agak kaget. "Memangnya kenapa?"

"An .. da .. tidak bohong ... ?" tanya Jung-Min tergagap-gagap. Jie-Ah hamil? Bagaimana mungkin?

"Ne ... Jie Ah-ssi hamil .. dan kandungannya sudah memasuki bulan kedua ... "

"Bulan kedua?" Jung-Min mengulang kata-kata itu--seperti bicara pada diri sendiri. "Jie-Ah hamil ... Dia mengandung anak ku .. dan jantungnya ... ," dia mengangkat wajah--menatap dokter Yoon. "Jantungnya tidak apa-apa? Tak ada yang serius terhadap jantungnya?"

"Ne ... " Dokter Yoon tersenyum dan menepuk lengan Jung-Min. "Jantungnya berfungsi normal ... bahkan sangat normal ... Bayi dalam kandungannya seakan mengerti posisi ibunya ... Bayi yang masih berupa gumpalan itu tidak merebut persediaan udara yang dibutuhkan Jie Ah-ssi. Dia bahkan ikut membantu memompa jantung ibunya sehingga mengapai oksigen lebih banyak lagi ... Dan ini sangat ajaib .. Untuk pertamakalinya saya menyaksikan keajaiban seperti ini ... "

Jung-Min segera melonjak dari duduknya. Tanpa sadar dia menekan kedua lengan dokter Yoon dan menguncang tubuhnya. "Di mana istriku? Di mana dia berada?"

"Di .. dalam ruang darurat tadi ... ," sahut dokter Yoon sambil meringis kecil.

Jung-Min melepaskan cengkramannya. Dia berbalik, dan sebentar saja dia sudah melesat ke dalam ruangan, di mana dokter Yoon dan beberapa suster keluar tadi. Tak dihiraukannya lagi dokter yang disakitinya itu tengah memandanginya sambil mengeleng-gelengkan kepala.



****** oOo ******



Brakkk!!!!

"Goo Jie Ah!!!!"

Jung-Min berlari memasuki ruang rawat Jie-Ah. Suster yang masih berada di sana terperanjat dan langsung menoleh padanya. Sepasang tangannya yang sedang menuntun Jie-Ah turun dari ranjang terlepas, sehingga membuat gadis itu hampir terperosok ke lantai. Jung-Min terbelalak dan langsung menyambar lengan Jie-Ah. Beruntung dia tak terlambat. Jie-Ah berhasil mendaratkan kaki dengan mulus di lantai.

"Yaa--yaaa--apa-apaan ini? Teriak-teriak tak karuan?!!" protes Jie-Ah.

Jung-Min mengangga. "Miane .... ," ujarnya dengan perasaan bersalah. "Kau ... gwencana?" lanjutnya dengan mimik khawatir.

"Ne .. Memangnya kenapa?" Jie-Ah balas bertanya.

"Kau ... kau belum tahu?" Jung-Min bertanya gagap. "Kau ... benar-benar belum tahu? ... " Kepalanya dimiringkan saking herannya. "Apa dokter Yoon belum mengatakannya?"

"Mwo?!" Jie-Ah memanjangkan bibirnya.

"Bahwa .... bahwa ... " Nafas Jung-Min tiba-tiba tersengal. Berita membahagiakan ini rasanya sangat sulit dikeluarkan. Dia menatap Jie-Ah, dan .... dia tak menyangka. Tiba-tiba saja Jie-Ah mengulum senyumnya ... makin lama makin lebar, sampai .... dia memperlihatkan giginya yang berbaris rapi dan bersih .... Jie-Ah tertawa ... Tertawa sangat lebar dan lepas ...

"Ne ... Saya sudah tahu, paboya .... " ujarnya sambil menyentuh halus rambut Jung-Min.

"Dhe?"

"Saya sudah tahu ... " Jie-Ah menunduk dan mengelus perutnya. "Di sini ... ada kehidupan ... Dan kehidupan itu menopang hidupku ... Menyembuhkan penyakitku ... "

"Goo Jie Ah ... " Jung-Min merenguh Jie-Ah ke dalam pelukannya. Dia tak mampu menahannya lagi sekarang. Airmata mengalir menuruni pipi tanpa mampu dicegahnya. Semua sudah berakhir .. semua sudah berakhir .... desisnya dalam hati. "Terimakasih Tuhan ... Kau menunjukan kebesaranmu ... ," ucap Jung-Min di sela-sela rambut Jie-Ah.


"Jie-Ah membalas pelukan Jung-Min dan membenamkan wajahnya di dada bidang pemuda itu.

"Semua sudah berakhir .. sudah berakhir .... " Seperti mensuarakan kata hati Jung-Min, Jie-Ah mengulangi kata-kata itu berulangkali.

"Ne .. sudah berakhir .. " Jung-Min membawa Jie-Ah semakin dalam ke dadanya, kemudian mengecup lembut rambutnya. "Sudah berakhir .. " Lalu diangkatnya wajah gadis itu dan menatapnya dalam-dalam. "Karena itu .. menikahlah denganku ... Ya?"

Jie-Ah tak mampu menjawab. Dia terisak halus. Waktu seakan berjalan sangat lambat ketika Jie-Ah menganggukan kepalanya. Sangat perlahan, tapi berkali-kali--menunjukan bahwa gadis itu sangat mengharapkan moment ini terjadi sepanjang hidupnya.

"Gumawo ... " Jung-Min mendesah. Didekapnya Jie-Ah lebih erat lagi. "You're my miracle, baby ... ," bisiknya halus di telinga gadis itu.

Jie-Ah memejamkan matanya. Disesapnya semua perkataan tersebut dengan hati berbunga-bunga. Apakah dia terharu? Ya--pasti ... Tapi lebih dari semua itu, dia sangat bahagia ... Yang dipikirkannya saat ini adalah segera mengabari Mrs. Lee tentang kehamilannya ...

"Aku akan menelepon omma ... ," kata Jung-Min, seperti mampu membaca pikiran Jie-Ah.

"Dhe?" Jie-Ah membuka matanya.


"Aku akan memberitahu omma berita ini ... Beliau pasti sangat bahagia begitu mengetahui kehamilanmu ... Dan aku akan segera MENIKAHIMU, Goo Jie Ah ... Aku tak ingin menundanya lagi ... "

"Kapan?" tanya Jie-Ah gagap.

"SEGERA!!" sahut Jung-Min tegas. "Begitu omma tiba di sini, kita akan segera ke catatan sipil dan mengesahkan hubungan ini ... AKU AKAN MENGIKATMU SEUMUR HIDUP, dan kau tidak mungkin lari lagi, Goo Jie Ah .. Kau milik ku selamanya ... "


Jie-Ah tertawa melihat mata Jung-Min beriak-riak laksana air samudera. Sumpah, baru kali ini dia menyadari betapa ganteng dan memikatnya calon suaminya ini. Selama hubungan mereka, jujur saja .. dia menyerahkan seluruh hidupnya pada Jung-Min, baik hati maupun dirinya, bukan karena sifat-sifat fisik yang baru dilihatnya sekarang, melainkan karna perhatiannya yang begitu besar. Cinta Jung-Min yang dilihatnya dengan jelas. Dia luluh karna ... dia percaya pada pria ini ... percaya seutuhnya ....

Mungkin ketampanan dan pesona ini bagian dari nilai plusnya ... Jie-Ah tersenyum.

"Apa yang kau pikirkan?" Jung-Min merangkul pinggang Jie-Ah dan menarik kearahnya.

"Kau .... " Jie-Ah menekan hidung mancung Jung-Min. " ... sangat jelek ... ," katanya diikuti tawa ngakak.

"Mwo?!!!" Mata Jung-Min membesar. "Jelek? Yaa--Goo Jie Ah!!! Kau orang pertama yang mengatakan aku jelek, tahu?!!" protesnya gusar.

Jie-Ah semakin geli melihat tampang Jung-Min. Dia tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa mules, sampai agak membungkukan badannya. Jung-Min yang melihat itu segera menarik tangan Jie-Ah. Ekspresinya terlihat khawatir.

"Gwencana?"

"Heh--ne .... " Jie-Ah terkekeh.

"Yaa--hentikan ketawamu ... Tidak baik buat kesehatanmu .. "

"A .. aniyo ... Gwencanayo ... Kau ... kau sangat lucu ... "

"Apanya yang lucu?" alis Jung-Min berkenyit.

"Sangat ... sangat jelek .. " Tak tertahankan tawa Jie-Ah meledak lagi.


Jie-Ah meleletkan lidahnya. "Biarin!!" ujarnya jutek. "Tahu tidak? Baru kali ini saya merasa benar-benar terlepas dari semua beban yang selama ini menghimpit di dada ... "

Jung-Min tertegun. Entah mengapa, perkataan Jie-Ah barusan sangat menyentuh perasaannya. Ditatapnya Jie-Ah, kemudian ... secara perlahan ... dibawanya kepala gadis itu ke dadanya.

"Mulai besok segalanya akan berupa lembaran baru .... Di sana--cuma ada kebahagiaan .. antara kau dan aku ... KITA BERDUA ... ," janji Jung-Min.

Jie-Ah mendongak dan membuka mulutnya. "Jeongmal?"

Jung-Min tersenyum. "Ne ... Because I'm your gradian angel ... Aku akan melindungimu dengan sayapku, bukan hanya dengan payung seperti permintaanmu .. "

"Jung Min-a ... "

Jung-Min menunduk kemudian mengecup pelan bibir Jie-Ah yang bergetar. Disesapnya bibir mungil itu sambil menjulurkan lidahnya ke dalam rongga mulut Jie-Ah. Desahan dan desisan pun mulai terdengar dari ruangan itu.



Tanpa disadari oleh mereka yang sedang kasmaran, suster yang sejak tadi berada dalam ruangan itu menyusut ke belakang. Bibir suster muda itu menyunggingkan senyum tipis. Dia menuju ke pintu. Perlahan dibukanya pintu itu dan berjalan ke luar. Sebelum menutup pintu ruangan darurat itu, dia melihat kembali adegan-adegan hangat yang terjadi di dalam. Setelah itu, dia menutup pintu .. sangat pelan dan tak menimbulkan suara ... sementara senyuman masih tersungging di bibirnya ....


****** oOo ******



Tujuh bulan berlalu sudah .... Awal September mulai menunjukan ketidakstabilannya seperti dua tahun lalu, tahun di mana perjumpaan pertama Jung-Min dan Jie-Ah ... Beberapa hari terakhir hujan lebat turun terus-menerus ... menguyur kota New York dengan tak alang-kepalang ... menciptakan banjir dan tanah longsor di beberapa bagian kota ....

Sementara itu ... di sebuah apartemen yang hangat di pusat kota ...

Jie-Ah duduk bermalas-malasan di sofa. Sebuah rompi rajutan baru diselesaikannya. Rompi mungil berwarna biru laut itu dipentangkannya di depan mata dengan senyum puas. Diamatinya rompi itu selama beberapa sesaat, kemudian diletakannya, beserta jarum rajut dan beberapa wol yang tersisa, ke atas meja. Dia menyandar ke sandaran sofa sambil mengelus perutnya yang membuncit. Hari ini cukup sampai di sini saja ... , ujarnya lelah.

"Weeyo? Capek?" tanya sebuah suara dari samping.

Jie-Ah menoleh .. lalu tersenyum sambil menjawab, "Sedikit ... "

"Kalau begitu, istirahatlah dulu ... " Jung-Min meletakan sketsa manga terakhir di tangannya ke atas meja.

"Sudah selesai?" tanya Jie-Ah sambil melirik tumpukan sketsa tersebut.

Jung-Min mengangguk. "Ne ... Saya akan mengirimkannya pada hyung besok .. Tuan Kobayashi sudah memburu ending ini sejak hampir setahun yang lalu .. ," katanya sambil tertawa lebar.

Jie-Ah membalas dengan mengucek rambut Jung-Min. "Kau membuatnya kelimpungan .. Saya tidak mengerti mengapa idemu tersendat begitu lama?"

"Semua juga karna kau .. ," kata Jung-Min dengan nada mengoda. "Kau tahu sendiri, Dream merupakan bagian dari kisah nyata kita ... Selama feeling itu belum dapat, saya tak mampu menuangkannya ke dalam sketsa ... "

"O--arasoyo ... " Jie-Ah berujar lembut. Lalu dia menegakan badan dan menoleh ke kanan dan kiri. "O ya--di mana omma?"

Jung-Min berpaling ke dapur. "Tadi saya melihatnya di dapur ... Katanya sedang membuat sup ginseng untukmu ... "

"O--" Jie-Ah mengangguk.

Sebentar kemudian dia menenggelamkan diri kembali ke kesibukan yang selama beberapa bulan terakhir sangat digemarinya. Dielusnya kandungannya yang sudah memasuki bulan ke 9 tersebut sambil membisik-bisikan kata-kata mendidik terhadap jabang bayi dalam perutnya. Wajahnya berseri-seri ketika melakukan reaksi alami dari seorang calon ibu itu.


Jung-Min mengalihkan perhatian pada Jie-Ah. Ditatapnya istrinya itu dengan penuh cinta.



Agak lama mereka berada dalam posisi tersebut. Sampai ... mata Jung-Min mulai meredup ... titik pandangnya semakin jauh dan jauh ....
Selama ini aku mengira ... dia sudah menerima terlalu banyak sehingga Tuhan tidak mengijinkannya untuk menerima lagi ... Tapi ternyata aku salah ... Sesungguhnya--dia sudah menderita terlalu banyak maka Tuhan merelakannya untuk menerima lebih banyak lagi .... Dia Goo Jie Ah--A miracle yang menyampiri hidupku ... yang kuperoleh lewat perjuangan keras ... Hubungan kami laksana dongeng--Dongeng abadi ... seperti halnya Everlasting ... Yang akan kekal ..... selamanya ...


****** The End ******


ok, good bye for my little fairy [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04284] ... I will miss you my JJ (Jung-Min and Jie-Ah) couple Emoticons0429 Emoticons0429

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
FINAL???? Ya ampuuunnn....ya sudah...aku baca dulu yaaa......komennya ntar aja...Thanks ya Loph....(biar kata ga ada adegan ranjang, tetep seru kokkkk...) [hmpfh]

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
uhhh JJ couple udah tamat >< ga rela ga rela ga rela  [cry]

ahhh tapi sweet mom ! bener2 sweet deahh ahhh  [lovestruck]

fairy tale story-nya mommy udah tamat dengan happy ending buat JJ couple  [clap]

good bye buat JJ couple  [bye] semoga happily ever after  [lovestruck]


 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

aiyuu_minsunnerz

  • Guest
Mamiiii..
Kau sukses membuat aku menangisss.. :'(

Happy ending tapi aku masih ga rela klo ni ff tamat..
Aku suka ama ni ff cz menyangkut bulan lahirku *siapa yg nanya*

Tapi aku senenkkk banged mam bacanya..
Pokonya aku ga rela ni tamat :'(
Bagussss sumpah gila huhuhu

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
sweet final chap... [lovestruck]
akhirnya jie ah menerima kebahagiaan : calon bayi yg sehat n malah membantunya semakin sehat...dan tentu aja suami tampan yg mencintainya sepenuh jiwa raga (halah...bahasaku  [hmpfh])
akhirnya mrs.lee merestui hubungan jung min & jie ah (mrs.lee sweet banget bikinin jie ah sup ginseng)
oh ya...baby-nya jie ah sm jung min, cowok apa cewek,nih???(mian nanya2...pengen tau soalnya  [biggrin])
btw....thank u,mam 4 the lovely & sweet final chapter  [flowers]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Because i'm u're guardian angel. Aku akan menjaga&melindungimu dgn sayapku tdk hanya dgn payung. Jung min u are the sweetest man that i've ever know. Mam, gw da ngerti kenapa eomma nya jung min setuju dgn pernikhan mereka coz jung min da DP dulu jdnya jie ah tekdung deh,hmph. U are my miracle baby kt jung min. Mami gw merinding dengernya. Akhrnya perjuangan mereka dan rasa syukur mereka pd Tuhan , mereka akhrnya mendptkan kebahagiaan.sbh keajaiban ,kehamilan jie ah yg membuat jantungnya sehat. Mami ,gw suka dgn endingnya. It's perfect apalg pas scene di Rs yg jung min and jie ah ciuman ,aduh mam bikin ngiler walaupun ga se Hot rathdaze,hmph. GOODBYE MY SWEET COUPLE JJ AKA JUNG MIN& JIE AH COUPLE. Goodbye my sweet fairytale.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
 [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04284] terharu akhirnya mereka bersatu sempet mengira ni ff gak happy ending [hmpfh] [hmpfh]

 [clap] [clap] [clap] [clap] mam ini kan udah ending berarti abis ini rath yaaa [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] btw kapan mam bikin dede bayi nya?? [AddEmoticons04280] [AddEmoticons04280]  [hmpfh] [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
FINAL???? Ya ampuuunnn....ya sudah...aku baca dulu yaaa......komennya ntar aja...Thanks ya Loph....(biar kata ga ada adegan ranjang, tetep seru kokkkk...) [hmpfh]
ditunggu komentnya ya [hmpfh] [hmpfh]

vio, sweet ya [what] gw kirain ga berkenan karna ga ada adegan ranjangnya [heh] [hmpfh] yup semoga happily ever after [smiley-gen013] [lovestruck]

aiyu, yeee bulan september juga bulan lahirku [hmpfh] (siapa yg nanya [laughing] ) thanks udah dibaca [lovestruck]

dalbyeol (manggilnya apa ya [what] ) babynya our JJ couple tuh cowok. lht aja rompi yg dirajut jie ah, kan berwarna biru [biggrin] terimakasihnya--kembali [hmpfh]


EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Because i'm u're guardian angel. Aku akan menjaga&melindungimu dgn sayapku tdk hanya dgn payung. Jung min u are the sweetest man that i've ever know. Mam, gw da ngerti kenapa eomma nya jung min setuju dgn pernikhan mereka coz jung min da DP dulu jdnya jie ah tekdung deh,hmph. U are my miracle baby kt jung min. Mami gw merinding dengernya. Akhrnya perjuangan mereka dan rasa syukur mereka pd Tuhan , mereka akhrnya mendptkan kebahagiaan.sbh keajaiban ,kehamilan jie ah yg membuat jantungnya sehat. Mami ,gw suka dgn endingnya. It's perfect apalg pas scene di Rs yg jung min and jie ah ciuman ,aduh mam bikin ngiler walaupun ga se Hot rathdaze,hmph. GOODBYE MY SWEET COUPLE JJ AKA JUNG MIN& JIE AH COUPLE. Goodbye my sweet fairytale.
yup gw setuju. jungmin is the sweetest man ever after [hmpfh] [lovestruck] iya dong sis. ga perlu diceritain kenapa mrs. lee sampai merestui hubungan jung min and jie ah ... mereka udah hamil sebelum nikah [laughing] [laughing] merinding? eh--kan bener tuh si jie ah is jungmin's miracle [lovestruck] suka endingnya ya? btw, thank you very much [briggin] [briggin]

virna, MRD was my first little fairy, so .. of course happy ending la [hmpfh] [hmpfh] maksudnya dede bayi siapa [what] jungmin and jieah [what] ada aja deh [hmpfh] rahasia [laughing] [laughing] (mereka melakukannya pertama kali setelah bersama [hmpfh] masih di korea [laughing] [laughing] cepat amat ya [sweat] [laughing] )

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun