Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 98513 times)

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
ni ff mau di update mi ? [chin] [chin]
kalau ga malam ini, mungkin besok malam [biggrin]
oke deh mi, aku tunggu [hmpfh] [hmpfh]
oya mi, klo yg me 2 kpn diupdate mi ?
hehe, soalnya aku paling suka yg me 2 [hmpfh] [hmpfh]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ni ff mau di update mi ? [chin] [chin]
kalau ga malam ini, mungkin besok malam [biggrin]
oke deh mi, aku tunggu [hmpfh] [hmpfh]
oya mi, klo yg me 2 kpn diupdate mi ?
hehe, soalnya aku paling suka yg me 2 [hmpfh] [hmpfh]
yg itu belum bisa diupdate,,, lht minggu depan gimana deh, tp ga janji ya [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
hampir selesai [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Additional Cast :


Park Shin Hye as Gretchell Park


Tiga hari kemudian ...
Daze mengetuk pintu kamar Dave. Tidak ada jawaban. Ia menunggu sebentar sebelum membuka pintu kamar itu. Sunyi di dalam. Tidak terlihat seorangpun. Wajar saja. Karena itu tidak ada yang membukakan pintu buatnya. Daze memasuki kamar itu. Keadaan di dalam agak kacau. Seprai di salah satu sudut kasur terlepas dari selipannya. Sedangkan selimut warna coklat polos mengantung dari tepi ranjang sampai ke lantai kayu gelap.

Daze mendesah perlahan. Lambat-lambat ia melangkahkan kakinya ke samping ranjang. Diselipkannya ujung seprai tersebut ke bawah kasur. Dan disapukannya tangannya berulangkali ke atas seprai guna merapikannya dari kekusutan. Kemudian ia melipat selimut yang tergeletak lemah itu, dan meletakkannya secara halus di kepala ranjang.

Daze menegakkan badannya. Pandangannya mulai menjelajahi setiap sudut kamar itu. Dave sudah tiga hari tidak pulang ke rumah. Walaupun dicari kemana-mana, ditelepon dan di SMS sampai pecah pulsa tetap tidak ditemukan. Tapi mengapa ia punya perasaan kamar ini tidak pernah ditinggalkan pemiliknya? Samar-samar ia bisa mencium bau rokok dan alkohol dalam kamar ini. Memang tidak tajam tapi cukup terasa. Dan ia yakin dengan indera penciumannya. Daze menarik nafas dalam-dalam. Iya, ini bau asap rokok dan alkohol.  Mungkin sudah lama terkurung di sini mengingat jendela-jendela dalam kamar tertutup rapat. Ataukah Dave pernah pulang secara diam-diam?

Sekali lagi Daze mengeledah kamar tersebut dengan pandangannya. Tirai jendela terlihat agak kuning. Mungkin sudah cukup lama tidak diganti. Dahi Daze berkenyit. Tidak biasanya pekerjaan Ye-Jin tidak sebecus ini. Kemudian ia mendekati deretan jendela dihadapannya dan menyentuh tirai-tirai yang menutupinya. Agak lembab. Asap rokok tercium semakin jelas dari posisinya. Daze meniup nafas ke atas lalu berbalik kembali ke dalam ruangan.

Perhatiannya jatuh ke meja kecil yang merapat di dinding dekat pintu. Benda-benda yang berserakan di sana menarik perhatiannya. Daze mendekati meja kecil itu. Kertas-kertas putih berukuran beberapa kali lipat kertas HVS memenuhi meja tersebut. Beberapa masih kosong. Sementara beberapa lagi sudah tergores guratan-guratan tebal tipis dari pensil HB. Terlihat indah walaupun ia tidak mampu menangkap apa yang terlukis di sana.

Daze meraih salah satu lukisan tersebut dan mendalaminya. Ia mengeleng. Tetap tidak mengerti lukisan apa itu. Kemudian perhatiannya teralih. Lukisan yang tertimpa lukisan dalam tangannya terlihat tidak asing. Lukisan ini nyata. Tidak abstrak seperti lukisan-lukisan yang lain. Lukisan itu memperlihatkan seorang wanita muda berambut panjang. Ekspresi wajah dan senyumnya sangat dikenalnya. Wajah Daze mendongak dan mengarah ke kaca kecil yang menempel di dinding. Ya, wanita muda itu dia sendiri.

Daze tersenyum perlahan. Sejak kapan Dave pandai melukis? Dan sejak kapan pula ia menyukai seni? Mungkin terlalu sedikit yang diketahuinya, tentang dongsengnya itu. Kegemarannya dan yang dikuasainya. Adakah yang diketahuinya? Tidak ada. Kebersamaan mereka memang termasuk pendek. Mereka terpisah dua negara setelah Dave mengikuti halmonie tinggal di Perth sejak memasuki sekolah menengah. Daze mengembalikan lukisan-lukisan itu ke posisi semula. Nafasnya terdengar berat ketika dihembuskan. Mungkin sudah saatnya ia meluangkan lebih banyak waktu buat Dave. Tekadnya.

Daze kembali melebarkan sayapnya di kamar itu. Hanya sebentar. Tidak ada lagi yang menarik dalam kamar itu. Semua terlihat seperti biasanya. Kamar khas cowok yang pengap dan tidak rapi.

Setelah memadamkan lampu yang menyala entah sejak kapan - karena ketika ia memasuki kamar itu, lampu tersebut sudah menyala- Daze keluar dari kamar itu.

========== ### ==========


Rathyan menyampirkan ransel ke punggungnya dan bermaksud keluar dari laboratorium sekolah itu. Berdesakkan dengan para mahasiswa yang lain. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu begitu melihat Natalie Park. Gadis itu menutup jalannya. Berdiri dengan dua kaki terpentang lebar di depan pintu. Beberapa mahasiswa yang melewatinya mengomel-ngomel karena halangan kecil dari gadis itu.

Tampang Rathyan berubah dingin. Natalie terlihat tidak berbeda dari yang dilihatnya, hampir dua minggu yang lalu. Wajahnya pucat dan tidak bercahaya. Bahkan ia terlihat lebih kurus. Gaun pendek yang biasanya menempel ketat di tubuh mungilnya menjadi longgar.

"What's up?" tanya Rathyan tanpa basa-basi.

Natalie tidak segera menjawab. Ia mengigit bibir bawahnya. Mungkin mengumpulkan kekuatan untuk mengutarakan maksudnya.

"Heyy!!!" teriak Rathyan tidak sabar.

Natalie tersentak. Terlihat jelas dari kepalanya yang terdorong ke belakang. Dan sepasang matanya yang terbelalak lebar.

"Kalau tidak ada yang kamu katakan, saya pergi sekarang!" kata Rathyan lagi.

Kakinya sudah terayun ketika suara serak Natalie terdengar.

"Dave. Kemana dia?"

Mata Rathyan menyipit. Itu lagi yang ingin dibicarakannya?
"Saya tidak tahu." jawabnya datar.

"Kamu tidak mungkin tidak tahu! Bukankah kamu sahabat karibnya?" seru Natalie. Terlihat emosinya tidak terbendung lagi.

"Hey, nona! Seorang sahabat karib tidak harus mengetahui keberadaan sahabat karibnya. Apa kamu tidak tahu kebenaran ini? Lagipula saya bukan pembantunya. Tanyakan pada yang lain dan jangan ganggu saya lagi!" murka Rathyan.

Natalie mundur selangkah. Tampang garang pemuda itu membuatnya gentar. Tiba-tiba sebuah tangan mengesernya pelan ke sisi pintu.

"Hey tuan tidak tahu diri!" seru suara si pemilik tangan. Seorang gadis cantik menyisip masuk di antara mereka. Jarak wajahnya dan dagu Rathyan sangat dekat.

"HEYY!!" Pemuda itu langsung mundur ke belakang. Matanya melebar tertuju pada gadis tak dikenal itu.

"Kamu dengar baik-baik! Sekarang temanmu yang bersalah. Jadi seharusnya kamu menyerahkannya dan bukan menyembunyikannya." sambung si gadis dengan galak.

Mulut Rathyan tergangga. "Siapa sembunyikan siapa?" serunya kebingungan setengah mati.

"Tentu saja kamu menyembunyikan teman berengsekmu itu BEGO!" sindir gadis tersebut. Bibirnya menyengir. Membuat badan Rathyan bergetar hebat.

"Onnie .. "

Natalie menarik tangan gadis itu tapi segera dikibaskannya.
"Jangan khawatir. Serahkan semuanya pada onnie. Pemuda tidak tahu diri itu harus diberi pelajaran."

Kemudian ia berpaling pada Rathyan. "Jadi kamu bisa memberitahu keberadaan sahabatmu pada kami sekarang?"

Rathyan mengatupkan mulut perlahan. Tampang dinginnya kembali mendominasi setelah tadi tidak terkendali akibat sikap gadis asing bengal ini.

"Untuk kesekiankalinya jawabanku tetap sama. Saya tidak tahu keberadaan Dave. Saya saja sudah mencarinya kemana-mana sejak beberapa hari yang lalu."

Rathyan bergerak dari posisinya. Tapi segera ditarik kembali oleh gadis itu.
"Kamu akan pergi begitu saja?"

"Heyy nona! Sudah saya jelaskan sejelas-jelasnya. SAYA TIDAK TAHU DAVE ADA DI MANA." sembur Rathyan sambil menarik kembali lengan kemejanya. Wajahnya berkerut semakin dalam. Kusut seperti baju yang tidak disetrika.

Lalu Natalie mulai menanggis tersedu-sedu. "Ottoke? .. What should i do? .. onnie ... ," ia memeluk gadis di sampingnya erat-erat. Membenamkan wajahnya ke pundak gadis itu. Menanggis semakin keras.

Gadis itu mengelus lembut punggungnya. "Don't worry, .. everything will be ok, dear .. believe me," ia mengangkat wajah Natalie dengan kedua tangannya, kemudian menghapus airmata yang mengalir deras itu. "Believe onnie."

"Ne .. ," jawab Natalie, masih dengan isakan tertahannya.

Rathyan memperhatikan adegan itu dalam kebisuan. Hatinya sedikit tersentuh walaupun biasanya adegan seperti itu tidak mampu mempengaruh hati batunya. Ia mendekati mereka. Menjatuhkan pandangannya ke mata Natalie.
"Saya akan berusaha mencari anak itu, dan menyeretnya ke hadapanmu. I promise."

Natalie mengalihkan perhatian pada Rathyan. Wajahnya terangkat, dan dengan susah payah mengapai sorot mata pemuda yang menjulang di hadapannya itu.
"Thanks ... " katanya lemah.

Rathyan mengangguk. Setelah itu ia keluar dari laboratorium itu. Hal yang sudah ingin dilakukannya sejak beberapa waktu lalu. Yang selalu tertunda karena dua gadis ini. Tapi sampai di lorong luar teriakkan gadis satunya terdengar lagi.

"Heyy pemuda angkuh!!"

Kening Rathyan berkenyit. Ia menoleh ke belakang.
"Pemuda angkuh?" tanyanya heran.

Gadis itu tertawa. "Benar. Kamu!" tangannya menunjuk Rathyan.

"Yyaa .. ," dengus Rathyan kesal.

Gadis itu kembali tertawa. Ia terlihat geli. Pipi mulusnya bersemu merah akibat aura panas yang perlahan naik ke wajahnya.Tapi kegelian itu hanya berkisar sekitar dua menit. Ia menghentikan tawanya, dan mengulum senyum pada Rathyan setelah itu.

"Semula saya merasa kamu sangat menjengkelkan. Sama saja dengan pria yang .. ," ia terdiam sambil melirik Natalie yang segera menundukkan wajahnya. " .. tapi ternyata saya keliru." lanjut gadis itu tanpa menyambung perkataan yang terputus tadi. "Kamu cukup gentleman walaupun dingin. Saya rasa kamu akan menjadi teman yang sempurna ..," kemudian ia mengulurkan tangan pada Rathyan, "Saya Gretchell Park, sepupu Nat. Senang berkenalan denganmu!"

Rathyan melirik tangan yang terjulur padanya. Ekspresi wajahnya tidak berubah. Tetap dingin dan datar. Ia tidak kelihatan tertarik membalas uluran tangan itu.
"Rathyan Jang." katanya sambil bergerak dari posisinya.

"O ..," mulut Gretchell terbuka. Pemuda itu melewatinya begitu saja begitu memperkenalkan namanya.

Gretchell memutar tubuh lambat-lambat, mengikuti punggung pemuda yang semakin jauh dari jangkauan matanya itu. Ia agak terguncang dengan reaksi Rathyan terhadap tawaran perkenalannya tadi. Pertama kali ia bertemu pemuda sedingin ini. Biasanya para pemuda yang dikenalnya akan berlomba-lomba menarik perhatiannya. Tapi pemuda yang satu ini lain daripada yang lain. Ia bukan hanya tidak tertarik padanya. Bahkan melirik wajahnya saja, ia kelihatan enggan.

"Onnie, are you ok?" suara Natalie menyadarkannya dari lamunan.

Gretchell tersenyum. Tangannya dilingkarkan ke leher Natalie. "Yes, i'm very very ok ..."

Kemudian ia melirik ke ujung koridor sekolah yang samar-samar masih terlihat bayangan Rathyan. Rathyan Jang, kamu yang saya cari!. Katanya dalam hati.

========== ### ==========


Rathyan mendaratkan sepasang kakinya ke lantai kamar Dave. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Tadi ia hampir tertangkap basah oleh Ye-Jin ketika memanjat tanaman rambat di luar rumah. Pelayan menyebalkan itu sedang menuang sesuatu ke semak-semak di bawah kamar Dave. Mungkin air kotor atau air seni buat kesuburan semak-semak dan tanaman rambat tersebut?

Rathyan menyengir. Apa masih ada orang sekuno itu? Tapi mengingat cara berpakaian Ye-Jin, dan juga rambutnya yang disanggul tinggi-tinggi berbentuk balok besar. Rathyan yakin, ia tipe wanita seperti itu.

Rathyan menghentak-hentakkan sepatu botnya ke lantai. Serpihan-serpihan tanah basah dan rerumputan beterbangan ke mana-mana. Ia mendesah. Dilemparkannya ransel di punggungnya ke ranjang. Kemudian ia berjongkok, mengeledah dalam kotak karet di bawah jendela. Dapat! Soraknya dalam hati.

Ia menarik selembar kain bekas dalam kotak karet tersebut. Kain itu cukup lebar buat membersihkan kotoran-kotoran yang memenuhi lantai. Rathyan menyapu serpihan-serpihan tanah dan rerumputan dari lantai dengan kain di tangannya. Mengumpulkannya jadi satu. Kemudian memasukkannya ke tong sampah dekat meja. Rathyan membuang kain di tangannya. Lalu ia berdiri.

Pandangannya langsung jatuh ke meja. Ke kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Dahi Rathyan berkenyit. Ada yang menyentuh hasil-hasil karyanya. Ia yakin posisi kertas-kertas itu berubah. Beberapa kertas paling atas bergerak dari tempat semula.

Rathyan membuka kertas-kertas tersebut dengan tangannya. Sketsa gadis berambut panjang terpampang di depan mata. Rathyan menyentuh wajah gadis itu. Ia tersenyum. Sepasang lesung pipi yang sangat dalam menghiasi wajahnya. Sesaat kemudian ia mengulung kertas-kertas yang berserakan tersebut, merapikannya kemudian memasukkan ke dalam ransel yang diambilnya dari atas ranjang.

Ia berjalan ke lemari. Mengambil kaos abu-abu berlengan panjang, juga celana panjang longgar warna putih. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi yang terdapat di kamar itu. Sebentar saja bunyi air terdengar dari dalam kamar mandi. drrrr ....

========== ### ==========


pip ... pip ... pip .... ponsel Daze menari-nari di atas rak buku ruang tamu. Tergesa-gesa Daze keluar dari dapur dan berlari ke ruang tamu. Disambarnya ponsel tersebut tanpa melihat dulu siapa peneleponnya.

"Hello .. ," serunya terengah-engah.

Sunyi di seberang.

"Hello ...," ulang Daze.

"Dazy ...," suara yang sangat dikenalnya terdengar dari seberang. Terdengar lemah dan agak enggan.

Nafas Daze memburu. "Carl? .. Ini Carl kan?"

"Ne ..," jawab suara itu.

"O my god!" teriak Daze. "Kemana saja kamu? Saya sudah menghubungimu berpuluh-puluh kali tapi tidak kamu balas!"

Hening sejenak. Kemudian, "Miane .. " kata Carlson lemah.

"Apa terjadi sesuatu?" tanya Daze khawatir. "Kamu tidak apa-apa kan? Jangan menakutiku!"

"Saya baik-baik saja .. " sahut Carlson cepat. Membuat Daze bisa bernafas lega. "Hanya .. saja ... " perkataannya terpotong sampai di sini.

Wajah Daze berkenyit. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan Carlson?
"Hanya apa? Keluargamu? .. A .. apa terjadi sesuatu dengan keluargamu?" suara Daze bergetar ketika kemungkinan ini berkelebat dalam pikirannya.

"Tidak. Bukan. Tidak tepat begitu. Memang ada kaitannya dengan appa, tapi .. tidak seperti yang kamu bayangkan. Beliau dan omma sehat-sehat saja jadi kamu tidak perlu khawatir."

"O ... kalau begitu apa itu?" tuntut Daze setelah menghembuskan nafasnya.

Tidak terdengar jawaban dari Carlson.

"Carl?!" tegur Daze. "Katakan padaku. Apapun itu aku ingin mengetahuinya!"

"Dazy .... " suara Carlson hampir tidak terdengar.

Daze tidak menyahut. Ia menunggu jawaban dari Carlson. Tapi lima menit berlalu dan pemuda itu masih membisu di seberang sana. Sepertinya ia belum siap menjelaskan masalah tersebut.

"Jika memang tidak sanggup mengutarakannya, biarkan saja." kata Daze menghibur. "Saya tidak akan memaksamu. O ya bagaimana dengan pekerjaanmu?"

Carlson mengeleng keras-keras, yang tentu saja tidak terlihat oleh Daze.
"TIDAK! Saya harus mengatakannya. SEKARANG JUGA. Saya sudah hampir gila karna didesak terus oleh appa. Dazya .. "

Wajah Daze berkerut semakin dalam. "Ya?"

"Kita ..." perkataan Carlson terputus. Ia diam selama beberapa detik. Daze menunggu sambungan kata-katanya dengan sabar. Tanpa menyadari sepasang mata gelap dan tajam mengawasinya dari balik pintu yang terbuka.

"Sebaiknya kita ... kita menenangkan diri dulu ... " Daze dapat menangkap hembusan nafas Carlson begitu ia berhasil mengeluarkan kalimat itu.

"Menenangkan diri? Maksudmu apa?" tanya Daze dengan suara gemetar. Ia menelan dengan susah payah. Samar-samar ia bisa menangkap arti perkataan Carlson. Tapi ia tidak ingin percaya. Carlson tidak mungkin melakukan ini padanya. Carlson tidak mungkin sekejam ini. Kekasihnya ini sangat mencintainya. Ia tahu. Jadi tidak mungkin!! TIDAK MUNGKIN.

"Jelaskan padaku! Kamu bercanda kan? Kamu pasti sedang bercanda? Carl ... "

"Miane Dazya .. jeongmal miane ... "

Tubuh Daze merapat ke dinding. Matanya mulai memanas. Perlahan air bening mengalir sepanjang pipinya. Jatuh dan pecah di lantai dingin.

"Dazy ... " suara Carlson terdengar lagi.

"Weo? .. Apa alasannya?" tanya Daze bergetar.

"Appa! Appa membuatku gila! Beliau mengetahui keadaan Han Da' ZeVe. Mengetahui keadaannya yang hampir bangkrut dan ... "

"CUKUP!!" Daze berteriak keras. "Saya .. saya ... mengerti sekarang. Tidak perlu kamu lanjutkan lagi ... "

"Dazya... " desah Carlson. "Kamu tahu saya sangat mencintaimu. Saya tidak ingin melepaskanmu, tapi saya tidak punya pilihan lain. Saya ... saya tidak bisa melawan ... saya .... "

"Sampai di sini saja Carl .. " kata Daze lemah. Pandangannya mulai berkunang-kunang. "Saya perlu waktu menenangkan diri ... "

tut ... prakk ... pengangan Daze pada ponselnya merengang. Ponsel malang itu terhempas ke lantai dengan menyedihkan. Seluruh isinya berhamburan. Daze melorot ke lantai. Ia menanggis tersedu-sedu sambil memeluk erat lututnya.

Sepasang mata di balik pintu ikut meredup. Selapis air berkilat-kilat, menari-menari di bola mata yang jernih itu. Tidak sampai menanggis. Tapi ia ikut bersedih. Hatinya terasa teriris-iris melihat Daze menanggis mengharubiru seperti itu. Kakinya bergeser, bermaksud memasuki ruangan itu. Tapi ditahannya. Tidak! Ia tidak boleh melakukannya.

Hampir dua puluh menit Daze menanggis seperti itu. Tidak ada yang menghiburnya. Atau menanyakan keadaannya. Halmonie sedang tidur dalam kamarnya. Dave tidak kelihatan batang hidungnya selama beberapa hari. Sedangkan Ye-Jin, sedang sibuk di taman belakang. Hanya pemilik sepasang mata itu yang setia menemaninya. Ikut bersedih melihat kesedihannya. Dan ikut berair merasakan airmatanya.

Daze berdiri dari posisinya dengan agak sempoyongan. Ia sangat lelah. Seluruh kekuatannya habis untuk menanggis. Pemilik sepasang mata itu bergerak. Setelah meletakkan sesuatu di rak penyangga guci dekat pintu, ia menaiki tangga dengan langkah lebar. Sekejap saja ia sudah menghilang di balik tikungan di lantai atas.

Daze sampai di ambang pintu. Ia menghapus airmata yang masih mengalir keluar dengan punggung tangannya. Kepalanya menunduk perlahan. Dan sesuatu berwarna putih di rak sepinggang dekat pintu tertangkap oleh matanya.

Saputangan? Tangan Daze gemetar ketika meraih saputangan itu. Siapa yang meletakkannya di sini? Tidak ada inisial apapun di saputangan ini. Polos berwarna putih bersih. Daze mendekatkan saputangan itu ke wajahnya. Ia menghapus airmata dengan saputangan itu. Wangi cemara yang teramat tajam tercium olehnya.

Bibir Daze bergetar. Ia melirik sekeliling lorong luar. Tidak terlihat bayangan siapapun di sekitar situ. Ditariknya nafas dalam-dalam. Wangi itu semakin terasa. Matanya terpejam. Menghirup dalam-dalam wangi alami yang keluar dari saputangan tersebut.

Siapa sebenarnya pemilik saputangan ini? Dave? Tidak! Dave tidak mengeluarkan wangi seperti ini. Lalu siapa?

========== ### ==========


"DAVEEEEE!!!"

Dave berpaling. Rathyan berdiri dihadapannya dengan tampang garang. Mata Dave terbelalak lebar. Agak sempoyongan akibat pengaruh alkohol, ia berusaha melarikan diri dari kepungan Rathyan. Tapi tidak berhasil. Sahabatnya yang berpostur tinggi itu sudah menekannya ke dinding.

"Pulang denganku SEKARANG JUGA!!"

"TIDAK!!" Dave menampar tangan Rathyan dari kerah kemejanya. "Lepaskan saya Rath! Apa-apaan ini?"

"Pulang kataku!" tekan Rathyan sekali lagi.

"NO!" teriak Dave. "Biarkan saya sendiri!"

Rathyan menarik kemeja Dave, kemudian mendorongnya keras-keras ke dinding.
"Kamu tahu banyak yang terjadi seminggu terakhir anak berengsek? Kamu tahu apa yang terjadi dengan noonamu? Apa kamu tahu bagaimana hancur hatinya setelah diputuskan kekasihnya hari ini?" geram Rathyan. Sekali lagi ia menghempaskan badan Dave ke dinding. "SADARLAH! Pulang denganku. Cuma kamu yang bisa membantunya. Aku tidak mungkin muncul di hadapannya. Tidak ada yang bisa kulakukan untuknya."

Dave membuka sepasang matanya yang terkatup. Ia menyengir. Antara sadar dan tidak ia menepuk wajah Rathyan.
"Apa pedulimu pada noonaku hah? Jangan katakan kamu tertarik padanya Rath. Noona tidak cocok untukmu!"

"Omongan apa ini - pemabuk?!" ujar Rathyan serba salah. Ditariknya kerah kemeja Dave sehingga kepala pemuda tersebut mendarat di pundaknya. "Ikut denganku!"

"TIDAK!" Dave mendorong Rathyan dengan kuat. Ia terlihat ketakutan dengan kata-kata Rathyan. "Please, jangan! Saya tidak mau pulang dalam keadaan begini."

Rathyan menghembuskan nafas keras-keras. "Kapan kamu berhenti mabuk-mabukan?" sesalnya. "O ya, saya peringatkan kamu menemui Nat. Dia menemuiku kemarin. Dan dia kelihatan serius tentang hubungan kalian. Jika kamu tidak menyelesaikan masalah antara kalian, saya khawatir dia akan mencari halmonie dan noonamu."

Dave menutup wajah dengan kedua tangannya. "Iya. Saya tahu. Saya akan mencari waktu membicarakan dengannya" katanya pelan.

Rathyan mengamati Dave dengan seksama. Tampang sahabatnya ini terlihat sayu. Tubuhnya juga mengeluarkan bau tidak sedap. Selain bau asap rokok dan alkohol, juga bau jamur yang menyengat. Mungkin sudah beberapa hari dia tidak mandi. "Jadi kamu tidak berniat pulang?"

Dave tersenyum hambar. "Tidak sekarang!"

Rathyan mengangkat bahunya. "Terserah kamu saja. Tapi ingat temui Nat. Saya tidak ingin diganggu lagi olehnya."

Sebelum mendapat jawaban dari Dave, Rathyan sudah keluar dari ruangan bar itu.

========== ### ==========


Rathyan menaiki tangga dua anak tangga sekaligus. Sesekali ia melirik ke belakang. Langkah kaki di belakangnya terdengar semakin dekat.

"DORONIM?!! APA ITU KAMU?" teriakan Ye-Jin terdengar.

Rathyan mempercepat langkahnya. Hup,, ia sampai di lantai atas.

"DORONIM?!"

Ye-Jin muncul dari tikungan lorong bawah, tepat di anak tangga pertama. Rathyan merapatkan tubuhnya ke dinding, dan mendengarkan. Langkah-langkah kaki menaiki tangga mulai terdengar.

"DORONIM!" panggil Ye-Jin lagi.

Rathyan menghembuskan nafas keras-keras. Wanita ini, seperti hantu gentayangan saja!. Gerutunya. Ia melepaskan diri dari dinding dan bergegas menuju kamarnya. Tapi sebelum ia sampai di depan kamar Dave, Ye-Jin sudah menapakkan kakinya di lantai atas.

"Doronim?!" Ye-Jin menyipitkan matanya. Bayangan Rathyan tidak terlihat jelas olehnya. "Doronim, jangan lari lagi! Ada yang ingin saya bicarakan." Wanita itu mulai mendekati Rathyan.

Tidak ada jalan lain. Sebentar lagi ia akan tertangkap basah oleh wanita itu. Untuk ke kamarnya, ia tidak punya waktu yang cukup. Lalu pintu kamar di depan yang terbuka sedikit tertangkap olehnya. Tanpa berpikir panjang lagi ia membuka pintu tersebut dan menyelipkan tubuhnya ke dalam. Segera ia menutup pintu itu. Tapi ia tidak punya waktu menguncinya.

Rathyan bersandar ke pintu kamar. Warna pink yang mendominasi kamar itu langsung memasuki kornea matanya. Keringat dingin mengucur dari wajah Rathyan. Ia mendengarkan, bunyi langkah kaki itu semakin dekat. Segera ia bergerak dari pintu itu. Berlari ke pintu kamar mandi yang berada di tengah ruangan.

tok .. tok .. tok .. , ketukan terdengar dari pintu. Rathyan berpaling ke sana.

"Doronim?!" suara Ye-Jin terdengar lagi.

drek .. suara halus terdengar di dekatnya. Rathyan segera menoleh. Gadis mungil berkulit mulus, dengan rambut basah sampai ke pinggang yang menempel ketat di wajah dan lengannya, hanya terbalut handuk besar keluar dari kamar mandi. Mata gadis itu langsung terbelalak lebar melihat kehadiran pemuda asing di kamarnya.

"KA ... ," teriakkannya segera tenggelam dekapan tangan Rathyan.

Klik ... Rathyan menoleh ke arah pintu kamar dengan tangan masih menempel di wajah Daze. Gagang pintu tersebut diputar. Segera saja Rathyan mendorong Daze masuk lagi ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Kemudian mendengarkan. Wanita menyebalkan yang mengikutinya itu pasti sudah berada dalam kamar. Ia bisa mendengar detak-detuk hak sepatunya yang mengalaukan hati di luar sana.

Tanpa sadar ia menekan tubuh Daze semakin merapat ke dinding. Sampai tidak ada ruang gerak lagi di antara mereka. Langkahnya terhenti. Ia menunduk dan mendapati pandangan murka dari Daze.

tok .. tok .. tok ...

Rathyan mengangkat wajah dan menoleh ke pintu.

"Agashi, apa anda berada di dalam? Sepertinya tadi saya melihat doronim masuk ke sini. Tapi sekarang dia entah pergi ke mana." kata Ye-Jin dari luar kamar mandi.

"Emmm ... ," suara Daze tidak keluar karena terbungkam tangan lebar Rathyan.

"Agashi!!!" ... tok .. tok ... tok ... ketukan-ketukan tersebut terdengar lagi. "Apa yang agashi lakukan?"

"Huhh ... , " dengus Rathyan. Tanpa berpikir panjang tangannya meraih gagang keran air dan membukanya.

srrrrr ... air langsung menyembur dari shower di atas kepala mereka. Sekejap saja tubuh mereka sudah basah kuyup.

"Apa agashi sedang mandi?" pertanyaan Ye-Jin terdengar lagi.

"Emmm ... , " jawaban Daze tidak terdengar Ye-Jin.

"Kalau begitu saya tidak menganggu agashi. Mungkin tadi saya salah lihat. Mungkin itu hanya bayangan lentera-lentera dinding. Selamat malam agashi ... "

tak .. tuk .. tak .. tuk ... , detak-detuk sepatu Ye-Jin semakin menjauh, dan pap,,, suara pintu ditutup.

"Huhh ..," Rathyan menghembuskan nafasnya. Kepalanya langsung terkulai lemas. Tanpa sadar wajah dan bibirnya menyentuh pundak halus yang terpojok di dinding.

"Emmmm ... ," protes Daze lewat suaranya yang tidak mampu dikeluarkan.

Rathyan tersadar. Ia mengangkat wajah, dan pandangannya bertemu dengan mata Daze. srrrrr ... Air masih menyembur deras dari shower di atas kepala mereka. Rathyan mengejap-ngejapkan matanya. Jarak mereka sangat dekat. Tangannya terulur, mematikan shower tersebut.

Hening seketika. Mereka saling menatap. Desahan nafas yang tercium jelas. Tubuh basah kuyup yang saling menempel ketat. Merapat ke dinding kamar mandi yang dingin. Daze melihat bagaimana t-shirt putih yang dikenakan pemuda di hadapannya menempel erat pada otot-ototnya. Juga celana jeans birunya, membungkus kedua kakinya rapat-rapat. Daze menelan perlahan.

Rathyan melepaskan dekapan tangannya. Entah mengapa ia tidak takut gadis itu akan berteriak. Dan kekhawatirannya memang tidak beralasan. Daze tidak bersuara. Hanya bisa memandanginya dengan pandangan sayu. Rathyan bergerak. Semakin mendekati wajah Daze. Sepasang mata mereka tidak berkedip. Saling menatap. Meredup perlahan-lahan. Lima senti ... empat, .. tiga, .. dua senti ... dan ... bibir menempel, lambat-lambat, terkunci dalam desahan tertahan.

 
========== ### ==========
« Last Edit: August 01, 2010, 11:07:34 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Selesaiiiiiiiii  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

------------------------------------edit-----------------------------------------------------

Mamiiii gumawoyo  [hug] [cheekkiss] gak sia-sia ternyata capek2 pulang dari luar kota langsung nyambar inet  [hmff]

Carlson  [head break] [head break] [head break] teganya nyakiti hati Daze tapi gak papalah kan sekarang udah digantiin ama Rath  [hmpfh] berondong loh  [laughing]. Sebenarnya cinta dia ke Daze tulus gak mi? kesannya kok juga ditinjau dari segi materi meskipun itu permintaan dari appanya  [dry]

Ow ow  [AddEmoticons04239] jadi ini toh yg dinamakan HAWT  [on] kemaren  [lovestruck] [hmpfh] Tapi Rath gak mungkin ngelakuin hal yg lebih jauh kan mi? Secara waktu dan suasananya mendukung tuh dibawah guyuran air  [on] [hmpfh]
Ato jangan2 Rath bakalan kena  [AddEmoticons04249] baru ketemu dah langsung nyamber gtu  [AddEmoticons04254]
« Last Edit: August 01, 2010, 12:06:01 pm by Vay_za »

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
vay, [hmpfh] [hmpfh] ceritanya di sini, daze klu udah ketemu ama rath pasti lgs lemes, mana bisa dia pakai nampar2 segala [hmpfh] ..
cinta carlson ke daze sebenarnya tulus kok. tp selain itu dia jg anak berbakti. sgt patuh dan mencintai orgtuanya. daze jg mengetahui kelemahan carl yg satu ini, makanya dia menanggis mengharubiru kyk gitu wkt diajak menenangkan diri ama carl [heh] [heh] belum resmi putus loh ya? jd ada kemungkinan si carl bakal balik lagi [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
vay, [hmpfh] [hmpfh] ceritanya di sini, daze klu udah ketemu ama rath pasti lgs lemes, mana bisa dia pakai nampar2 segala [hmpfh] ..
cinta carlson ke daze sebenarnya tulus kok. tp selain itu dia jg anak berbakti. sgt patuh dan mencintai orgtuanya. daze jg mengetahui kelemahan carl yg satu ini, makanya dia menanggis mengharubiru kyk gitu wkt diajak menenangkan diri ama carl [heh] [heh] belum resmi putus loh ya? jd ada kemungkinan si carl bakal balik lagi [biggrin]

Mi... berarti berondongnya HAWT bener ya ampe Daze lemes terkulai gtu  [hmpfh] [laughing]
Meskipun bisa aja Daze balik lagi ama Carl tp kan hrs nimbang scr seksama masa' dia rela ninggalin Rath yg HAWT gtu  [on] [hmpfh] Lagian Rath jg dah keliatan klo dia tertarik ma Daze. Udah dua kali ketemu pas banget si Daze cuman pake handuk doank  [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
rath emang tergila2 ama daze dari pandangan pertama, ya sejak daze keluar dr kamar mandi hanya berbalut handuk [laughing] [laughing] ..
rath di sini emang hawt kok, selain postur tubuhnya yg tegap, tinggi dan berotot, pd dasarnya sifat2nya jg sgt menawan. ya wlp agak2 badboy terus ttp kekurangannya tuh ia berondong asli, baru umur 20 thn [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
thenk u mi buat updetannya  [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss]

mi, tu yang dikamar mandi bakal dilanjutin lagi kan mi... dikamar gitu... walopun gak ada m versnya tapi gak apa kan mi kalau ada gitu-gitu nya  [bav] [bav] [bav] [on] [on] [on]

kumat nih mi...

rath emang tergila2 ama daze dari pandangan pertama, ya sejak daze keluar dr kamar mandi hanya berbalut handuk [laughing] [laughing] ..
rath di sini emang hawt kok, selain postur tubuhnya yg tegap, tinggi dan berotot, pd dasarnya sifat2nya jg sgt menawan. ya wlp agak2 badboy terus ttp kekurangannya tuh ia berondong asli, baru umur 20 thn [hmpfh]

wah mi si...bingung namanya... pokoknya Park Shin Hye  itu bakal jadi saingannya si Daze yah... apa dia bakal ngerebut si Rathyan.... dengan segala cara... gaswat kalo gitu mi...

pasti dia juga bakal cari tahu tentang jati dirinya si rathyan... kenapa sih si Rathyan ngasih tau namanya n mau diajak kenalan  [angry] [angry] [angry]

ternyata si carl gitu ya mi... gak hubungin si Daze karena desakan ayahnya yang pingin mereka bubaran... matre banget sih tu appanya Carl [angry] [angry] [angry]

udah ditinggalin aja tuh mendingan si carl, dateng aja kepelukan Rathyan  [laughing] [laughing] [laughing]

mi...buruan updet lanjutannya ya... ditunggu... moga2 ada yang lebih hwat lagi... walaupun gak ampe m vers  [rofl] [rofl] [rofl]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] thanks mami udah diupdate [hug] [cheekkiss]

 [on] [on] [on] [on] [on] [on] yg di kamar mandi dilanjot nda tu pan udah mendukung suasananya [love eyes] [love eyes]

 [angry] [angry] [angry] sebel sm si carl de  [head break] [head break] [head break] kasian daze diputusin appanya carl slama ini ngliat daze cm karna punya materi doank trs berhubung udah mau bangkrut jd disuruh nendang gt aja [head break] [head break] [head break] hammer2 hammer2 hammer2 [guns] [guns] [guns] [guns]

si gretchell ampun dah namanya susah amir ni [sweat] tu tertarik sm rathyan ya mam ato tertarik dlm hal laennya ni [chin] [chin] [chin] kalopun suka sm rathyan haduh rebutan nih [nono] [nono] [nono]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Tir_@

  • Newbie
  • *
  • Posts: 84
    • View Profile
Wahhhh :-D uda d update t'kyu mamiii,
Kasian daze di putusin ama carl :-(
Whattt... Ada si (park sin hye) saingan ama daze donk,
pertemuan yang what nii :-D mamiii ayo lanjot next chaptnya (di timpuk mami) pisss ^^v

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
cihuuuy update juga nih [clap] [clap]
thanks mi [biggrin]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
menurut kalian adegan di kamar mandi tuh mesti dilanjutkan ya [hmpfh] tp kan mereka baru resmi bertemu tuh, apa ga kecepatan ya [what] soalnya si daze kan baru putus ama carl [sweat]

gretchell emang tertarik ama rathyan, soal bakal jd saingan daze ga, kita lht aja deh, kyknya sih kagak soalnya rathyan tuh orgnya setia, sifatnya rada mirip junpyo. junpyo versi liar and hawt [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
rath emang tergila2 ama daze dari pandangan pertama, ya sejak daze keluar dr kamar mandi hanya berbalut handuk [laughing] [laughing] ..
rath di sini emang hawt kok, selain postur tubuhnya yg tegap, tinggi dan berotot, pd dasarnya sifat2nya jg sgt menawan. ya wlp agak2 badboy terus ttp kekurangannya tuh ia berondong asli, baru umur 20 thn [hmpfh]
ih, jadi pengen .. cubit pipi mami, heheheh..
tengkyu mami dah di up date, mana long chapter lagi, duh si carl nyesel tuch ninggalin daze, gak berjuang buat cintanya ke daze jadi aja si daze di gaet berondong kece, hehehehhe..
waduh ,mereka dah kissuan yach mi,  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] mana si daze cuma pake handuk doank lagi, cuma kissuan aja ni mi [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
hbs update ff ni, gantian yg promise ya mi? [hmpfh] [hmpfh]
dr kemarin nagih promise mulu [laughing] [laughing] [hmpfh]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]