Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 98875 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Setuju sama shanty. Cepetan dimunculin tuh si carl, supaya si rath kebakaran rambut. Rambut dari atas sampai bawah [hmpfh] [hmpfh]

trus, si ..... Siapa namanya? Cewek yg suka sama si rath? (tuh kan, nama karangan mami tuh yang lebih susah) gak usah dimunculin lagi deh. Diumpanin aja ke ikan paus [hmpfh]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
ayooo mi..... d u [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]....g masalah pas puasaan

ntr baca nya bis buka ato menjelang sahur [on] [on] [on] kan g batal  [bav] [bav]

smua biasa d atur   [hmff] [hmff] [hmff] wkwkwkwkwk

yang penting update...update... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
se7 ayo miiii... D update segera
ahahaha [biggrin]
gw kog gg kepikiran ya? [sweat] [sweat]
iya mi bener, pas sebelom sahur ama pas sehabis buka aja update'a. [hmpfh] [hmpfh]
dgn begitu kn gg batal [hmpfh] [laughing] [laughing]
tp sama aja dosa [sweat]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mian belum bs diupdate sekrg,  blm selesai bikinnya [heh] [heh] baru setengah nih. jd besok aja ya [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
mian belum bs diupdate sekrg,  blm selesai bikinnya [heh] [heh] baru setengah nih. jd besok aja ya              [biggrin]
besok ya mi beneran diupdate,hehehe. Bc spoilernya bikin penasaran. Btw, mami gw shanty_minsun di soompi juga. Mami py account di soompi, namanya apa? Ntar gw follow, okeh mi.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mian belum bs diupdate sekrg,  blm selesai bikinnya [heh] [heh] baru setengah nih. jd besok aja ya              [biggrin]
besok ya mi beneran diupdate,hehehe. Bc spoilernya bikin penasaran. Btw, mami gw shanty_minsun di soompi juga. Mami py account di soompi, namanya apa? Ntar gw follow, okeh mi.
saintzizahmino [hmpfh]
gw pernah menanyakan pertanyaan yg sama di soompi tp elu ga jawab [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Yang ini diupdate hari ini kan, mi??
Abis ini UL...
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile



Rathyan menekan tubuh Daze yang hanya terbalut handuk besar dan basah itu ke arahnya. Menempel ketat di tubuhnya yang juga basah. Otot-otot tubuh dan lengannya terlukis jelas dibalik T-shirt tipis yang dikenakannya. Bergesekan dengan handuk yang dipakai gadis itu. Bibirnya terbuka, melumat bibir mungil tersebut. Daze tidak membalas. Tubuhnya kaku, begitu juga bibirnya. Siapa pemuda ini?. Pertanyaan itu berulangkali melintas dalam pikirannya.

Walaupun begitu, dia tidak mendorong tubuh itu. Tidak menolak ciuman-ciumannya yang mulai menganas. Dia merasakan sepasang tangan itu mulai bergerak liar. Menyentuh pundaknya, menurun ke pinggangnya, dan perlahan sampai di bagian paha dan menyingkap handuk pendek yang membalut tubuhnya. Daze mendesah. Belum pernah dia merasakan ciuman-ciuman sepanas ini. Carl memang sering menciumnya. Tapi tidak seperti ini. Ciuman-ciuman Carl terkesan gentleman. Hanya menempel dan tidak melumat. Juga tangannya tidak bermain seberani ini. Carl sangat menghormatinya, dan dia tahu hubungan seperti itu yang benar. Tapi entah mengapa, dia merasa melayang dengan permaian pemuda asing ini. Menikmatinya dan tidak ingin dia berhenti. Jika tidak, dia akan mati saat ini juga.

Bibir ini begitu lembab, pikir Daze. Begitu sedap. Tubuhnya juga begitu padat dan wangi ini … Daze menghirup dalam-dalam. Tiba-tiba dia tersentak. Matanya terbuka. Wangi Cemara!
Daze dapat melihat dengan jelas wajah asing yang menempel di wajahnya. Sepasang mata dengan garis-garis panjang itu terpejam. Hidungnya yang mancung menekan di pipinya. Dan tangan itu semakin naik ke bagian tubuhnya yang paling sensitif.

“Kamu .. ,” desah Daze di sela-sela nafasnya yang memburu. “Saputangan … “

Rathyan menghentikan aktifitas tangan dan bibirnya. Sepasang mata bening yang bersinar tajam tersebut terbuka. Bertemu dengan sepasang mata redup milik Daze.

“Saputangan?”suaranya terdengar agak kering—karena nafsu yang sudah mengendalikan sekujur tubuhnya.

“Kamu … kamu pemilik saputangan itu?”tanya Daze pelan. Seharusnya dia berteriak—ya, seharusnya dia melakukannya. Tapi tidak tahu mengapa, dia tidak melakukannya. Atau .. hal itu sama sekali tak terpikir olehnya. Pemuda ini kelihatannya tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.

“Bagaimana kamu tahu?” tanya Rathyan. Suaranya masih terdengar serak.

“Wangi cemara ini … ,” jawab Daze. Mungkin dia akan menganggapku gila, pikirnya.

 “Wangi cemara?”Lalu pemuda itu tertawa renyah. “Benar, .. saputangan itu milik saya .. “ngakunya.

Daze menelan ludah perlahan. “Siapa kamu sebenarnya?” dia memberanikan diri bertanya. “Mengapa bisa berada di sini?”

“Saya?” Rathyan bergerak ke pintu dan mengambil handuk yang tergantung di sana. Disampirkannya handuk itu ke pundak Daze. “Saya tinggal di sini.”sambungnya.

“Di sini?” Daze terheran-heran. “Bagaimana bisa?”

“Saya teman kuliah Dave. Dan sudah setahun saya tinggal di sini.”

Mata Daze langsung terbelalak lebar. “Mwo? Setahun? Ba .. bagaimana .. mungkin? Apa halmonie dan Ye-Jin mengetahuinya?” tanyanya bertubi-tubi.

“Tidak.” Jawab Rathyan. “Mereka tidak mengetahuinya.”

“Tapi .. mengapa bisa begitu?” Daze semakin tidak mengerti.

“Karena Dave tidak menginginkannya. Dia tidak ingin mendapat masalah dengan halmonie, karena itu dia memintaku menyembunyikan keberadaanku di sini.”

“Dan kamu menyetujuinya?”tanya Daze tak percaya. “Ide gila ini?”Suaranya memelan dan kepalanya tertunduk perlahan. Dia terdiam. Berbagai masalah berputar-putar dalam otaknya. Tentang halmonie, Carl, Dave, bahkan Han Da’ ZeVe dan … pemuda ini. Tiba-tiba .. sebuah dugaan melintas di pikirannya. Mungkinkah?

Daze mengangkat wajahnya. Menghadapi pemuda itu. “Orang yang sering mengamatiku, .. apakah .. apakah kamu?” tanyanya terputus-putus.

Rathyan membalas pandangannya. “Kamu tahu?”

“Tidak!” Daze mengeleng keras-keras. “Saya tidak tahu. Saya hanya menduganya. .. Saya selalu merasa .. merasa ada sepasang mata yang selalu mengikuti langkahku dan membantu menyelesaikan masalahku. Jadi benar, .. itu kamu?”

Rathyan tidak menjawab. Sambil lalu, dia mengangkat bahunya. Selama semenit dia tidak bergerak dari posisi semula. Begitu juga Daze. Mereka diam dalam kebisuan. Baru kemudian Rathyan bergerak perlahan, mendekati gadis yang termangu itu. Wajahnya ditundukkan, hampir menyentuh wajah mulus yang kemerah-merahan itu.

“Sebaiknya kamu mengeringkan diri dulu.”dia menyentuh rambut Daze. “Tubuh dan rambutmu basah semua. Nanti kamu sakit.” lanjutnya dengan nada lembut. Lalu dia terdiam lagi. Berpikir. Seperti mempertimbangkan sesuatu untuk dikatakan. Tapi dia tetap membisu selama lima menit ke depan.
    
Daze mencuri pandang lewat sudut matanya. Tubuh itu menjulang di hadapannya. Tubuh yang sangat jangkung dan berisi. Rambut yang sedikit kepanjangan dan kering-kering basah menempel di wajahnya yang keras. Sepasang mata gelap yang sangat jernih itu bersinar tajam seperti elang, tapi sekarang terlihat sangat lembut. Hidung mancung itu perpaduan yang sempurna buat bibirnya yang padat dan menantang. Wajah yang sangat mudah menaklukkan hati para gadis. Pikir Daze.

“Saya pergi dulu … .”

Perkataan tersebut menyadarkan Daze dari lamunannya. Dia mengangkat wajah ke atas. Tiba-tiba pemuda itu mencium pipinya. Daze sangat terkejut. Mulutnya mengangga. Dan sebelum dia sempat bereaksi apa-apa, pemuda itu sudah berjalan ke arah pintu.

“Heyy siapa namamu?” teriak Daze. Matanya langsung terpejam rapat-rapat setelah menanyakan pertanyaan itu. Untuk apa kamu mengetahuinya? Itu bukan urusanmu Dazya! kutuk sebuah suara dalam hatinya.

Pemuda itu berbalik, dan .. dia tersenyum. Daze mengangga untuk kedua kalinya. Ya Tuhan, senyum itu …. Lututnya tiba-tiba menjadi lemah. Dia hampir tersungkur kalau tidak segera bersandar ke dinding.
 
“Rathyan Jang!”

Nama itu berhasil tertangkap samar-samar olehnya.

Daze melihat Rathyan membuka pintu dan melongok keluar. Setelah menoleh padanya, untuk terakhir kalinya, dia menghilang dari pandangan Daze.

***** ><><>< *****



Rathyan sampai di kamarnya.

Bukkkk … , pintu kamar ditutup keras, ditendang dengan kakinya.

Dia menyandar ke pintu, dan bagian belakang kepalanya terantuk keras ke daun pintu. Dia menarik nafas dalam-dalam, menahannya, kemudian menghembuskannya kuat-kuat, berulangkali. Nafasnya memburu dan tidak teratur. Jantungnya berdegup kencang. Dia menepuk dada berkali-kali. Kemudian beralih ke wajahnya. Matanya terpejam dan menelan dengan susah payah—Berusaha menenangkan perasaannya yang tak terkendali.

Bayangan Daze yang hanya terbalut handuk tidak juga terusir dari pikirannya. Rathyan mengigit bibir keras-keras. Bukan pertamakalinya dia bermesraan dengan seorang wanita. Tapi entah mengapa, ketika menyentuh Daze, dia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak pernah dirasakannya. Gelora yang begitu kuat. Tak terkendali oleh pikiran dan tubuhnya.

Rathyan mengeleng keras-keras. Tidak bisa! Saya butuh cool shower,SEKARANG!

Rathyan berlari ke kamar mandi. Membuka selang air dan menyiram badannya dengan air dingin. Begitu air beku tersebut menyentuh tubuhnya, Rathyan langsung mengigil kedinginan. Suhu di luar memang sudah turun secara drastis di pertengahan bulan Juli ini. Hampir mencapai nol derajat celcius. Bahkan, mungkin sebentar lagi salju akan turun.

Rathyan membilas wajah dengan tangannya, kemudian menyapu rambutnya ke belakang. Matanya tertutup rapat. Siraman air dingin cukup membantu menyegarkan pikirannya.

Grrrr … dia mengigil lagi. Dengan tangan gemetar, dia menutup keran air. Keluar dari tempat shower, dia meraih handuk yang tergantung di dinding. Membilas badannya, kemudian melepaskan semua kain yang melekat di badannya. Rathyan melilitkan handuk yang dipakai untuk membilas badannya itu ke pinggangnya, kemudian keluar dari kamar mandi.

***** ><><>< *****



”Doronim!!”

Langkah Rathyan terhenti. Akhirnya datang juga!, desisnya dalam hati. Orang kedua di dunia ini yang tidak ingin dilihat dan ditemuinya.

Rathyan berbalik. “Tuan Park …, “ balasnya dingin.

“Pak presiden meminta doronim pulang sekarang juga .. ,” kata pria berpakaian perlente di hadapannya—Tuan Park.

Rathyan tersenyum mengejek. “Tidak mau!” kemudian dia memutar tubuhnya dan mulai meneruskan langkahnya yang tertunda.

“Doronim!” panggilan itu terdengar lagi.

“Sudah kubilang tidak mau, tuan Park. Biarkan saya sendiri!” seru Rathyan tanpa menghentikan langkahnya.

“Jangan menyudutkanku, doronim.” Tuan Park tidak menyerah. “Aku hanya mengikuti perintah, jadi mohon doronim mengikutinya .. ”

“Kalau begitu makan saja perintah itu!”balas Rathyan—cuek.

“Doronim!”

Tiba-tiba pria itu sudah hadir di hadapan Rathyan—menghadangi jalannya. “Ikut denganku!”ujarnya tegas.

Rathyan menatapnya lekat-lekat. Kesabarannya perlahan-lahan menghilang melihat keteguhan pria di hadapannya ini. “Memangnya apa yang akan kau lakukan jika saya tidak mau?”

Tuan Park membalas pandangannya. “Pak presiden sedang berada di Perth … ,” suaranya memelan. “Kebetulan beliau ada rapat tahunan yang harus dihadiri selama seminggu di sini … Beliau ingin bertemu dengan doronim … “

“Jadi, apa saya berkewajiban menemuinya?”

Tuan Park tidak menjawab. Sesaat mereka tengelam dalam kebisuan. Tidak ada yang bersuara. Hanya para siswa yang melintas di sekeliling mereka yang menimbulkan suara-suara berisik kecil. Beberapa di antara mereka saling berbisik dan sesekali melirik Rathyan. Rupanya mereka heran mendapatkan seorang pria berpakaian bagus sedang berbincang-bincang serius dengan pemuda aneh yang selama ini mereka kenal.

Rathyan tidak terusik dengan keadaan di sekelilingnya. Dia menatap tajam pria kurus di hadapannya. Tuan Park tidak terlihat gentar. Dia tetap bersiteguh dengan pendiriannya. Berdiri tegak di tempatnya—tidak bergeming sedikitpun.

Rathyan jadi sadar tidak ada gunanya membantah. Pria ini tidak akan menyerah. Dan jika perlu, dia akan mengerahkan orang-orangnya untuk membekapnya saat itu juga—seperti yang pernah dilakukannya dua tahun yang lalu. Ketika dia melarikan diri ke Maldives gara-gara tidak puas dengan universitas yang dipersiapkan ayahnya untuknya. Tuan Park hanya mengikuti perintah. Dan dia tidak akan peduli dengan yang lain. Orang yang benar-benar bisa diajak kompromi dan yang mungkin mau mendengarkan keputusannya hanya satu, yaitu orang yang paling berkuasa—abojinya sendiri, Mr. Oliver Jang, presiden direktur Max-Global, perusahaan milik orang Korea yang paling berpengaruh lima besar di New York, USA.

“Beri saya waktu … ,” akhirnya Rathyan berkata, “Dua hari. Dua hari kemudian saya akan menemuinya … “

Sikap kaku tuan Park mengendur. Dia membungkuk perlahan. “Baik. Saya akan memberitahukannya pada pak presiden .. “

“Dia ada di mana?” tanya Rathyan.

“Hotel Perth … ,” jawab tuan Park masih dengan sikap hormat.

Rathyan mengangguk. “Saya akan datang ke sana.”

Keadaan hening kembali. Rathyan menarik tali ransel yang melintang di depan dadanya, dan juga memperbaiki jaket jeans lusuh yang melekat di tubuhnya. Kemudian dia mengibaskan tangannya pada tuan Park.

“Saya pergi.” Dia berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Meninggalkan tuan Park yang mengeleng-gelengkan kepalanya. Anak keras kepala. Batin tuan Park.

***** ><><>< *****



”Yooo,,Pemuda angkuh!”

Oh tidak! Jangan lagi! Teriak Ratyan dalam hati. Mengapa orang-orang ini begitu banyak waktu mencampuri urusan orang lain?

Rathyan memejamkan mata sambil mengepalkan sepasang tangannya. Langkahnya tidak berhenti. Siapa yang memanggilnya itu, dia tidak peduli. Dia tidak ingin tahu, dan juga tidak ingin diganggu. Setelah peristiwa menyebalkan di gerbang depan universitas Murdoch tadi, dia tidak ingin bertemu dengan siapapun. Cukup sudah untuk hari ini. Dia perlu waktu untuk menenangkan diri.

“Heyy kamu!!”

Sebuah tangan tiba-tiba menarik ujung jaketnya. Membuat dia hampir terpelanting ke belakang.

“Yaishhh!!” teriak Rathyan. Langkahnya terhenti saat itu juga.

Mendadak, sebuah bayangan menyelip ke hadapannya. Sepasang mata Rathyan menyipit perlahan.

“Ingat saya?” tanya orang itu.

Dia seorang cewek berbadan mungil. Mengenakan gaun tak berlengan yang sangat pendek—memperlihatkan sepasang kakinya yang mulus. Rambutnya hitam lebat dan tergerai panjang, menutupi punggung dan lengannya yang tak bercacat. Jika dalam keadaan biasa, Rathyan mungkin akan menganggapnya menarik. Tapi tidak saat ini! Perasaannya sedang tidak enak dan dia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Bahkan oleh gadis tercantik dan terseksi di dunia ini

“Tidak!” jawab Rathyan dingin. Kakinya kembali terjulur ke depan. Tidak mempedulikan tampang mengangga cewek itu.

“Heyy tunggu sebentar!”

Sesuatu kembali menahan langkah Rathyan. Apalagi kalau bukan tarikan cewek bengal itu di jaketnya!

“Hentikan ulahmu!!” Dengan kesal Rathyan mengibas tangan cewek itu dari ujung jaketnya. “Apa maumu?”

“Kamu benar-benar tidak ingat padaku?” cewek itu mengulangi pertanyaannya. Ekspresinya terlihat tidak percaya. “Bagaimana mungkin? Baru tiga hari yang lalu .. “

“Memangnya kamu siapa?” Rathyan balas bertanya.

Tampang cewek itu mengeras. Dia mendekati Rathyan, dan tiba-tiba tangannya menyentuh jidat pemuda itu. “Kamu pikun ya?”

“Yaishh!!” Rathyan langsung mundur beberapa langkah. “Jangan menyentuhku!” omelnya keras.

Tawa cewek itu meledak. “Ha .. ha .. “ Dia terlihat puas telah berhasil mempermainkan Rathyan. Lima menit kemudian dia melanjutkan perkataannya. Tampang Rathyan sudah gelap waktu itu. “Baiklah, saya tidak mengodamu lagi. Dengar baik-baik! Saya Gretchell, kakak sepupu Natalie … “

Mulut Rathyan mengangga perlahan. Peristiwa di laboratorium sekolah tiga hari yang lalu terbayang kembali dalam pikirannya.

“Ingat?” Wajah Gretchell condong ke depan, hampir menyentuh dagu Rathyan.

Pemuda itu tersentak. “Yaishh!!” gerutunya. “Bisakah kamu jangan dekat-dekat begini?!”

Gretchell mengangkat bahunya. “Ingat tidak?” tanyanya lagi.

Rathyan meliriknya dongkol. “Iya.” Jawabnya tidak ikhlas. “Kalau masalah Natalie yang ingin kamu bicarakan, sebaiknya kamu urungkan saja niat itu. Saya sudah memaksa Dave untuk menemuinya. Tentang si pemalas itu mau menemuinya atau tidak, saya tidak jelas ...” sambung Rathyan.

Gretchell tersenyum. Tangannya melayang ke pundak Rathyan, mendorongnya halus. “Tenang saja. Bukan dengan maksud itu saya kemari.” Katanya. “Meskipun begitu, saya harus berterimakasih padamu. Keadaan Nat sudah baikkan. Dave sudah mendatanginya kemarin. Dan mereka sudah mendiskusikan apa yang harus dilakukan dengan bayi dalam kandungan Nat. Ya walaupun masih tidak jelas, paling tidak perasaan Nat sudah terkendali … “

Rathyan mengangguk, “Bagus kalau begitu .. “ katanya. “Berarti tidak ada masalah lain kan?” Dia memutar tubuh dan melanjutkan langkahnya.

“Tunggu sebentar!” cegah gadis itu. “Saya kemari khusus mencarimu .. “

“Mencariku?” Rathyan menoleh padanya.

“Iya.” Jawab Gretchell. “Bisa kita makan siang bersama?”

Kening Rathyan berkenyit. “Untuk apa?”

“Untuk … pertolonganmu pada Natalie.”

Mata Rathyan berkejap. “Lupakan saja!”suaranya terdengar tawar. “Saya lakukan itu karena tidak ingin terganggu lagi oleh kalian. Jadi lupakan saja!”

Gretchell terpaku. Perkataan itu begitu menusuk dan tak tersangka. Wajahnya mengeras perlahan-lahan. Ditolak mentah-mentah dan dianggap angin lalu, ini pengalaman pertamanya seumur hidup. Pemuda tidak tahu diuntung!, teriaknya dalam hati.

Wajahnya tertuju ke depan. Sosok Rathyan sudah semakin jauh dari pandangannya.

***** ><><>< *****



Ayunan kaki Daze sangat pelan di lorong lantai atas. Wajahnya muram dan tidak bersinar. Berlainan dengan gemerlapnya cahaya bintang-bintang yang menerobos masuk lewat jendela-jendela kaca besar di ujung lorong.

Tiga hari setelah pembicaraannya dengan Carlson, Daze sadar hubungan selama empat tahun itu sudah berakhir. Benar-benar berakhir. Bukan sebatas menenangkan diri seperti yang diharapkan Carlson. Dan ini bukan kesalahan kekasihnya itu, Daze tahu.

Carlson sangat mencintai orangtuanya. Dia tidak pernah membantah keinginan mereka. Tidak pernah memberontak terhadap semua perintah-perintah mereka. Dia anak berbakti. Tipe pekerja keras yang selalu ingin menyenangkan dan membahagiakan hati orang-orang yang dicintainya.
Menyuruhnya menjatuhkan pilihan antara dia dan orangtuanya, adalah keputusan yang sangat kejam. Tidak berbeda dengan mengarahkan sebilah pisau, kemudian menancapkannya ke dalam hatinya. Ini sangat tidak adil. Carlson pasti tidak bisa memilih. Dia pasti sudah mengalami guncangan batin yang sangat berat sebelum memutuskan untuk meneleponnya tiga hari yang lalu. Benarkah tiga hari yang lalu? Mengapa dia merasa baru terjadi kemarin? Rasa sakit itu sangat terasa sampai sekarang. Daze tersenyum kecut.  

 Saya yang harus mengambil keputusan untuknya. HARUS! Walaupun sakit .. walaupun hati ini sangat sakit … Lebih baik begini daripada perasaannya terombang-ambing tidak jelas. Kekasih bisa dipilih, .. tapi orangtua, untuk selamanya kan?” tanggis Daze dalam hati.

Daze sampai di depan kamarnya. Dia mendengarkan, suasana di situ sangat sunyi. Halmonie memang sudah tertidur di kamarnya sehabis makan malam dua jam yang lalu. Sedangkan Ye-Jin, karna kekasihnya yang kerja di pabrik mobil mengalami kecelakaan mendadak, dia diliburkan hari itu oleh Daze.

Pandangan Daze beralih ke pintu di sebelah kamarnya. Sinar buram dari lentera dinding jatuh mengenai pintu itu. Menciptakan gurat-gurat panjang dari daun pintu sampai ke lantai.

“Anak itu belum kembali jua?”

Daze bergerak perlahan ke pintu itu. Berdiri sejenak di sana, sebelum memutuskan membuka pintu tersebut. Kegelapan langsung menyambutnya. Daze meraba dinding. Mendapatkan saklar lampu dekat ambang pintu, dia menekannya. Kamar tersebut langsung terang-benderang.

Daze melebarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tidak banyak perubahan dalam kamar Dave sejak kunjungannya beberapa waktu yang lalu. Daze kemudian melangkahkan kakinya ke dalam kamar.

Dia menuju ke meja kecil yang menyampir di dinding. Tidak banyak barang yang terdapat di sana. Lukisan-lukisan yang dilihatnya beberapa waktu lalu tidak terlihat lagi. Tergantikan oleh sebuah buku gambar, sekotak pensil warna dan … sebungkus rokok yang tinggal sebatang.

Daze meraih bungkus rokok tersebut. Dahinya berkenyit. Sejak kapan Dave belajar merokok? Apa dia pernah kembali beberapa hari terakhir ini? Jika tidak, siapa pemilik rokok ini?

Krekkk …. Kresak-kresek halus dari belakang membuat Daze memutar badan—menghadap ke jendela. Hatinya berdegup lebih kencang. Siapa itu?. teriakannya nyangkut di tengorokan. Tanpa sadar tangannya meraih sesuatu dari atas meja. Saat itu dia tidak tahu apa yang diraihnya. Yang jelas naluri melindungi diri yang memaksanya melakukan itu.

Jendela yang tertutup tirai terbuka perlahan. Daze menelan ludahnya. Dia bergerak secara diam-diam. Setengah perjalanan, jendela tersebut sudah terbuka seluruhnya, dan sebuah wajah yang tanpa disadari telah dihapalnya di luar kepala, nongol dari balik jendela.

“Ka .. kamu?” Mata Daze melebar. Barang yang dipegangnya, yang ternyata sebingkai foto, jatuh ke lantai. Brakk ….

Rathyan kelihatan tidak kalah terkejutnya dengan gadis itu. Kakinya yang bermaksud dilangkahkan ke dalam kamar tergantung lemah di kerangka jendela.

“O kamu berada di sini?” tanyanya pelan.

Daze tidak menjawab. Sejenak keheningan menyelimuti mereka. Rathyan membersihkan tengorokannya, sebelum memutuskan meloncat ke dalam kamar. Tubuhnya sudah beku akibat terpaan angin malam yang membawa serpihan-serpihan es di udara luar.

Hup .. dia mendarat ke lantai.

“Begini caramu masuk ke sini?” tanya Daze dengan pandangan tak percaya.

Rathyan mengangkat wajahnya. “O .. ,” hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya.

Berulangkali dia mengosok-gosokkan tangan di lengan dan tubuhnya. Grrrr .. jaket jeans yang dia kenakan dirapatkan semakin dalam di depan dada. Kemudian dia berjalan ke lemari, mengeluarkan sebuah tas besar dan melemparkan pakaian-pakaian yang tergantung di sana ke atas tas tersebut. Dia berjongkok dan mulai memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam tas.

Daze memperhatikan semua yang dilakukan pemuda itu dalam kebisuan, Selesai dengan kesibukkannya, Rathyan bangkit dari lantai. Tidak merasa grogi, dia buka begitu saja jaket yang dikenakannya di hadapan Daze. Kemudian diteruskan ke kaos berlengan panjang yang tersisa di tubuh bagian atasnya. Mata Daze terbelalak lebar. Setelah peristiwa di kamar mandi tiga hari yang lalu, dada padat berisi itu terekpos lagi dihadapannya.

Apa maunya anak ingusan ini? Memamerkan kesempurnaan tubuhnya? Apa itu penting? jerit Daze dalam hati. Dia menelan dengan susah payah.

Rathyan memutar tubuhnya ke lemari. Setelah membilah-bilah di antara pakaian-pakaian yang tersisa, dia mengambil sepotong sweater berwarna biru laut dengan kerah tinggi dan mengenakannya. Dia melakukan semua itu dengan tenang, seakan tidak ada yang salah dengan perbuatannya.

Kemudian dia beralih pada Daze. “Saya akan pergi selama beberapa hari .. ,” ujarnya sambil meraih tas yang tergeletak di lantai.

“Ke mana?” tak tertahankan, pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Daze begitu Rathyan melewatinya.

 Pemuda itu menghentikan langkahnya di depan jendela, lalu memutar tubuh menghadapi Daze. “Ada urusan penting.” Ujarnya. “Saya harus segera menyelesaikannya. Tidak lama, paling tiga-empat hari…,”dia berhenti sampai di situ. Diamatinya Daze lekat-lekat. Pikirannya sedang berkutat dengan sesuatu saat itu. Sedang mempertimbangkan sesuatu yang ingin dilakukannya. Dan ia kelihatan ragu-ragu.

Setelah mengepalkan tangan dan mengambil tekad bulat, Rathyan melangkah lebar ke tempat Daze berdiri. Diraupnya kepala gadis itu kearahnya dan tanpa dikomando dia mendaratkan ciuman ke jidatnya. “Saya akan segera kembali … ,” bisiknya di telinga gadis itu.

Sebelum Daze hilang dari keterkejutannya, pemuda itu sudah berlalu ke jendela. Dalam sekejap, sosoknya hilang dari pandangan Daze.

***** ><><>< *****
« Last Edit: August 10, 2010, 04:01:43 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mian klu jelek,, bikinnya lg ga mood [sweat] [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
mian klu jelek,, bikinnya lg ga mood [sweat] [sweat]

jiah mi... gak mood aja, bisa sebagus itu apalagi kalau lagi mood  [chin] [chin]  [hmpfh] [hmpfh] mami ini  [whip] [whip]

bagus kok mi...

makasih banyak ya mi udah diupdet.. [arms] [arms] [hug] [hug]

tu si Rathyan kesannya udah nganggep si daze kayak pacarnya... [hmpfh] [hmpfh]

mi si gretchel (bener gak mi?) gak bakal jadi pengganggu dihubungannya si Daze ma Rathyan kan...? dihilangin aja deh mi... [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
akhirnya si dave mau tanggung jawab juga... tapi kayaknya si daze ma keluarganya belum tahu ya mi soal natalie...?

pasti kaget kalau tiba-tiba dave bawa natalie kerumah n perutnya udah blendung  [hmpfh] [hmpfh] alias hamil...

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
wah uda update ternyata [hmpfh]
gomawo mi  [lovestruck] [lovestruck] [arms] [arms] [arms]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
yuki,
Quote
tu si Rathyan kesannya udah nganggep si daze kayak pacarnya... 
iya [hmpfh] [hmpfh] rath kan udah cinte mati ama daze. ya sejak pandangan pertama ke tubuh polosnya daze itu [laughing] [laughing] ... tp ada satu kelemahan rath di sini. wlp dia cinta daze, dia ga bisa mengungkapkannya dgn mudah. malah bisa dikatakan ga bisa sama sekali. ini yg menjadi kendala dari hubungan mereka.

tenang aja, gretchell ga akan berhasil memasuki hubungan rath dan daze. rath tipe cowok setia kok. dia ga mudah berpaling ke cewek lain [lovestruck] [lovestruck] gretchell tuh gw munculin hanya utk mengambarkan bgmn perfectnya si rath sehingga dia dikejar2 cewek lain. ga salah kan si daze bertekuk lutut ama berondong [hmpfh]

ttg dave dan natalie, keluarganya lum tahu kok [heh]

aisshin, ditunggu komentarnya ya [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
T'q udah d updte Mami...
:-* cuupzzz
Bgus Mam.
Mreka brdua udah sling suka yah?
HuaakzZ
So sWEet bnget.
Si rath dsni orgx HWAT yah mam?
Jiaakkh
kudu hati2 nih s daZ...
Bisa2 tagDunk jga kya Natalie
haha :D
' akhrx hapal jga sma nama2 Mrka ' hmpf
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
T'q udah d updte Mami...
:-* cuupzzz
Bgus Mam.
Mreka brdua udah sling suka yah?
HuaakzZ
So sWEet bnget.
Si rath dsni orgx HWAT yah mam?
Jiaakkh
kudu hati2 nih s daZ...
Bisa2 tagDunk jga kya Natalie
haha :D
' akhrx hapal jga sma nama2 Mrka ' hmpf
[laughing] [laughing]iya [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
T'q udah d updte Mami...
:-* cuupzzz
Bgus Mam.
Mreka brdua udah sling suka yah?
HuaakzZ
So sWEet bnget.
Si rath dsni orgx HWAT yah mam?
Jiaakkh
kudu hati2 nih s daZ...
Bisa2 tagDunk jga kya Natalie
haha :D
' akhrx hapal jga sma nama2 Mrka ' hmpf
[laughing] [laughing]iya [hmpfh]

jiaakkh
benaran si daze bisa tagdunk yah mam?
Jdi .. Jdi..ntar.. Ad ?!?
'hmpf'
'gk jd ngm ng lg puasa'
xixi
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
 [nono] [nono] [nono] [nono] jelek opo c mi??? ff mami mah selalu jawara kan  punk punk punk punk punk..

thx dah update yaa mi,,asiikk dah ada bumbu2 suka niy ya mi.... mami lagi gencar update niy minggu jadi snenk deh,, sini mi aq  [hug] [hug] [hug] [hug] [hug] [hug]  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "