Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 98544 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Bener ya mi asik..asik..asik...uda gitu update TDC ya mi oke..oke..oke:'(:'(
hahaha klu tdc kyknya baru bisa minggu depan. besok udah kerja lg jd ga bisa ngalong lg [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile



"Pak presiden, doronim sudah berada di sini ... "

Tuan Park membungkukkan badan dalam-dalam pada pria setengah baya berpenampilan konglomerat yang duduk di sofa megah salah satu ruangan VIP hotel Seoul. Tangannya perlahan mengarah ke Rathyan yang berdiri cuek di sebelahnya. Pria yang disapanya tidak bergerak. Terus saja menekuni dokumen-dokumen yang terhampar di atas meja--di hadapannya.

"Hmmm .... ," dia membalik dokumen di tangannya, tanpa melirik sedikitpun pada mereka.

Rathyan mencibir, kemudian menjatuhkan dirinya di sofa pendek--di depan pria yang tidak peduli itu.

"Sudah puas bermainnya?" terdengar pria tadi bertanya. Pandangannya masih tidak terlepas dari dokumen yang sekarang sedang ditanda-tanganinya.

Rathyan menjadi berang. Tubuhnya segera ditegakkan. "Saya tidak main-main!"

Pria itu, yang tidak lain adalah abojinya--Oliver Jang, mengangkat wajahnya. Dokumen tadi dilemparnya ke atas meja. "Tidak main-main?! Melarikan diri dari New York. Melepaskan diri dari universitas paling bergengsi di negara paling berjaya di dunia. Itu yang kamu katakan tidak main-main?!" Mata Oliver bersinar penuh kemarahan.

Rathyan membalas pandangan Oliver. Dia tidak gentar. Sudah sejak dulu hubungannya dengan ayahnya ini memang tidak akur. Dia tidak menyukai perbuatan Oliver yang terlalu mengikatnya. Menekan semua gerak-geriknya. Seharusnya ayahnya ini sadar kalau dia berjiwa pemberontak. Dia paling benci dikuasai. Semakin dipaksa, dia akan semakin menjauh. Bahkan, mungkin menghilang begitu saja.

"Saya senang di sini!" sahut Rathyan keras. "Lagipula saya tidak merasa ada yang salah dengan kehidupanku di sini!"

"Kehidupan bebas maksudmu?" ejek Oliver. "Dengan semua sampah itu?"

Wajah Rathyan memerah. Dia sangat marah. Tangannya terkepal erat. Perkataan ini dianggapnya sudah keterlaluan. Segera Rathyan meloncat dari sofa yang didudukinya.

"Terserah apa yang kau katakan!" katanya keras.

Dia memutar tubuh ke arah pintu dan mulai mengerakkan kakinya. Setelah dua langkah, dia menoleh kembali kepada Oliver. "Kamu selamanya tidak akan menghargai hasil karyaku," katanya pelan. Setelah berpikir sebentar, pemuda itu menyeringai, "Tapi tentu saja. Apa yang kamu ketahui tentang seni? Yang ada di otakmu hanya bisnis, laba dan nama besar. Begitu-kan, Mr. Oliver Jang?".

Rathyan berbalik dan mulai melangkahkan kakinya kembali.

"Berhenti di situ!"

Teriakan keras dari Oliver menahan langkahnya. Rathyan berhenti di tengah ruangan, tapi tidak berbalik ke belakang.

"Kamu tahu appa bisa memotong semua pengeluaranmu?! Kartu-kartu kredit dan semua rekening di bank ," ancam Oliver dingin.

Rathyan tersenyum tipis. "Bukannya kamu pernah melakukannya, tuan Jang?" tanyanya geli. Dia memutar tubuhnya, menghadapi Oliver yang sudah merah padam.

Oliver menahan nafas. Benar-benar anak keras kepala! rutuknya dalam hati.

Dia memang pernah melakukan ancamannya ini. Dulu--dua tahun yang lalu. Ketika anak ini melarikan diri ke Maldives. Dia memotong semua kartu kredit dan rekening-rekeningnya di bank. Dan hasil dari perbuatannya ini tidak terkira. Benar-benar mengejutkan. Rathyan tidak menyerah padanya. Pemuda ini tidak kembali padanya hanya gara-gara tidak punya pemasukan yang biasa difoya-foyakannya. Rathyan rela hidup seperti gelandangan daripada bertekuk-lutut padanya.

"Kamu sangat mencintai seni?" akhirnya Oliver bertanya dengan nada pelan.

Rathyan mengangguk kaku. "Kamu tahu saya mencintainya sejak dulu. Dan saya bersedia mengorbankan apa saja demi sesuatu yang saya cintai."

"Apa kamu tidak pernah berpikir melanjutkan Max-Global?"

Pemuda itu mengeleng. "Saya benci dengan semua yang berhubungan dengan dunia bisnis. Semua terlihat sangat palsu!"

"Kamu hidup dari itu!" seru Oliver keras.

Rathyan mengangkat bahunya cuek. Membuat Oliver segera meredam kemarahannya. Percuma beradu mulut dengan putranya ini. Yang ada urusannya makin ruwet dan berkepanjangan.

"Lalu apa yang bisa membuatmu berubah pikiran?" tanya Oliver kemudian.

Rathyan mengangkat bahunya lagi. "Tidak tahu." jawabnya datar.

Keadaan hening selama beberapa menit ke depan. Sebelum Rathyan mengeluarkan suaranya.

"Mungkin ... ," katanya ragu-ragu. ".. mungkin, .. jika .. jika ada sesuatu yang dapat mengantikan seni .. ," lanjutnya linglung. Seperti tidak mengetahui arti perkataannya sendiri.

"Mengantikan seni?" Oliver mengulangi kata-kata tersebut dengan wajah berkerut. "Maksudmu? Bukankah kamu bilang kamu sangat mencintai seni? Jadi apa yang bisa mengantikannya?"

"Aku tidak tahu." sahut Rathyan kesal. "Makanya aku bilang JIKA. Jika memang ada yang lebih penting, dan bisa melebihi cintaku pada seni yang sekarang sangat kucintai itu. Yang mampu membuatku melepaskan semuanya demi dia. Aku akan melakukannya."

"Termasuk mengambil alih Max-Global sekalipun?" tanya Oliver menyelidik.

Rathyan mengangguk. "Ya. Termasuk mengambil alih Max-Global."

Kemantapan jawabannya hanya sesaat. Rathyan kembali tersenyum mengejek setelah itu. "Tapi kamu jangan terlalu berharap, tuan Jang. Tidak ada yang mampu membuatku jatuh cinta lebih dalam daripada seni!"


 
***** ><><>< *****



Daze menuntun halmonie duduk di kursi dalam ruang makan. Kemudian dia mengambil tempat di sebelah wanita tua itu. Ye-Jin sibuk menaruh piring-piring berisi makanan ke atas meja--di depan mereka. Dentingan-dentingannya terdengar sangat berisik.

"Masih ada yang lain?" tanya Daze sambil melirik piring-piring di atas meja.

Ye-Jin menaruh piring terakhir dan mengelap tangannya di celemek yang dipakainya. "Sudah semuanya, agashi .. ," jawab pembantu itu.

Daze mengangguk. "Kalau begitu kamu keluarlah. Biar saya saja yang menemani halmonie makan .. "

"Ne." Ye-Jin membungkukkan badannya, kemudian berjalan ke arah pintu.

"Ye-Jin a .. !"

Panggilan Daze menghentikan langkah Ye-Jin. Dia berbalik pada majikan mudanya itu.

"Ne, agashi."

"Apa .. apa ada keanehan-keanehan .. yang terjadi akhir-akhir ini?" tanya Daze terbatah-batah.

"Keanehan? Maksud agashi?" Ye-Jin balas bertanya keheranan.

Daze jadi salah tingkah mendengar pertanyaan Ye-Jin. Dia mengigit bibir bawahnya keras-keras. Matanya melirik ke segala arah dengan. Dia berdeham pelan, berusaha membersihkan tenggorokannya yang seperti tercekik sebelum menjawab pertanyaan itu.

"Maksudku .. Dave ... ," ide itu membuatnya bernafas lega. Ya, Dave. Ye-Jin tentu tidak akan curiga jika aku menanyakan Dave. Lagipula ini bukan kebohongan. Aku juga ingin mengetahui keberadaan Dave. Kata Daze dalam hati.

"Apa ada kabar dari Dave?" Daze melanjutkan perkataannya.

Ye-Jin mengeleng. "Tidak, agashi. Doronim belum kembali."

Daze menghembuskan nafas perlahan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Dave?

"Apa .. apa tidak sebaiknya kita lapor polisi saja, agashi?" usul Ye-Jin tiba-tiba.

Daze tersentak. Ide itu sebenarnya pernah terpikirkan olehnya. Tapi tidak dilaksanakan mengingat--menurut pemberitahuan Ye-Jin beberapa waktu lalu-- Dave memang sering menghilang dari rumah.

"Tidak. Jangan lakukan itu. Kita tunggu saja beberapa hari lagi."

Ye-Jin mengangguk. Setelah tidak ada perintah lain dari kedua majikannya, dia meninggalkan ruang makan tersebut.

Daze mengalihkan perhatian pada halmonie. Dia tersenyum. Halmonie sedang menyendok makanan dari mangkuk di hadapannya. Sepertinya pembicaraan tadi tak berpengaruh baginya. Ini bisa dimaklumi karena pendengaran halmonie memang tidak begitu baik.

Daze menatap semu piringnya sendiri. Saya tidak perlu melapor polisi. Dia tentu mengetahui keberadaan Dave. Tunggu beberapa hari lagi. Setelah kembali, saya akan menanyakan padanya. Kata Daze dalam hati.

 
***** ><><>< *****



"Kamu tidak suka makan sama appa?" tanya Oliver begitu melihat makanan dalam piring Rathyan tidak di sentuh sama sekali.

Rathyan mengangkat wajah dari makan siangnya. "Tidak." jawabnya pendek.

Oliver meletakkan pisau dan garpu di tangannya ke atas meja. Kemudian mengamati putranya itu dengan seksama.

"Ayolah Rath. Ini hari terakhir makan siang bersama appa. Bergembiralah!" ujarnya. "Esok appa sudah harus kembali ke New York. Lagipula bukankah appa sudah berjanji tidak akan memaksamu? Apa masalahnya sekarang?"

"Tidak ada!" Rathyan mulai menyentuh makanannya.

"Rathyan Jang .. "

Kegiatannya terhenti oleh teguran Oliver. Rathyan memberi perhatihan kembali pada pria di hadapannya.

"Kamu masih menyalahkan appa?" tanya Oliver pelan.

"Untuk apa?" Pemuda dihadapannya balas bertanya.

"Untuk ... ," Oliver berhenti sejenak, kemudian .. ,".. untuk segala sesuatu yang telah terjadi pada noonamu ... "

prang ....

Garpu di tangan Rathyan terlepas, dan membentur piring di atas meja. Dia kelihatan sangat terkejut mendengar kata 'noonamu' disebut Oliver. Tapi itu hanya sekejap. Segera dia memperbaiki posisi duduknya, seperti tidak terjadi apa-apa. Dia meraih garpu tadi dan meneruskan makannya.

"Rath ... "

"Lupakan itu!" serunya keras.

Oliver tertegun. Peristiwa itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Tapi sepertinya Rathyan belum melupakannya. Atau .. dia tidak mampu melupakannya. Siapa yang bisa, jika menyaksikan sendiri kematian noonanya--di depan mata dan kepalanya sendiri?

Oliver mendesah. Semua kesalahannya. Dia terlalu sibuk sehingga mengabaikan kasih sayang yang dibutuhkan putra-putrinya yang menginjak usia remaja. Kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan setelah kematian ibunya. Rachel, putrinya yang malang, terjerumus dalam pergaulan bebas dan dunia gelap. Dunia obat-obatan yang telah merenggut nyawanya.

Oleh sebab itu, sekarang dia ingin memperbaiki semuanya dengan menaruh perhatian lebih pada Rathyan. Selalu mencampuri urusannya. Walaupun dia tahu Rathyan tidak menyukai itu. Tapi apa lagi yang bisa dilakukannya selain ini. Dia tidak mau peristiwa yang terjadi pada Rachel terjadi juga pada Rathyan. Cukup Rachel saja yang menjadi korban kebiadaban dunia. Rathyan harus ditolong. Cuma dia satu-satunya penerus keluarga Jang. Yang akan mewarisi semua kekayaan Max-Global begitu dia meninggal nanti.


***** ><><>< *****



Daze termenung di kamarnya. Kegelapan mulai menyelimuti pemandangan di luar jendela yang terbuka, tepat di hadapannya. Lembaran-lembaran salju tipis beterbangan terbawa angin--kelap kelip tertimpa cahaya pelita kuning di atas tiang tinggi yang menerangi taman samping rumah.

Daze mengigil perlahan. Salju mulai turun. Semoga kesehatan halmonie tidak memburuk, desisnya pelan. Daze merapatkan sweater handuk yang membalut tubuhnya, kemudian berdiri--berjalan ke jendela. Ditutupnya jendela tersebut. Pundaknya menyampir ke dinding, dan perhatiannya dilemparkan ke pemandangan di luar sana. Selama beberapa saat dia berada di posisi semula. Tidak bergerak. Diam membisu, memperhatikan keadaan di luar.

Pohon-pohon besar meliyuk-liyuk tertiup angin kencang. Jalan setapak kecil yang terpentang sepanjang taman mulai terlapisi oleh salju. Begitu juga pucuk-pucuk pohon yang tumbuh di sekitar situ. Beberapa binatang kecil--mungkin kelinci atau tupai--berlompatan kembali ke sarangnya.

Daze menghembuskan nafas berat. Bahkan binatang saja tahu kapan saatnya pulang ke rumah. Mengapa Dave tidak mengetahuinya? Desah gadis itu dalam hati.

Kemudian Daze menarik tali gorden jendela yang menjuntai sampai ke lantai. Tirai-tirai dengan bunga-bunga kecil warna terang tersebut perlahan menutupi arah pandang keluar. Daze bergerak dari tempatnya. Berjalan pelan ke pintu kamar. Membuka pintu tersebut dan melangkah keluar.

Dia berhenti di lorong depan. Keadaannya sangat sepi. Halmonie sudah nyenyak di kamarnya. Hujan salju memang membuat pernafasannya tidak begitu baik sehingga dia harus beristirahat lebih banyak. Daze menoleh ke arah tangga yang menurun ke lantai bawah. Samar-samar bisa didengarnya suara-suara berisik dari dapur. Mungkin Ye-Jin sedang bersih-bersih di sana.

Lalu pandangan Daze beralih ke arah sebaliknya. Pintu kamar Dave terlihat kelam. Bayangan-bayangannya yang tertimpa sinar lentera dinding melintang--jatuh ke lantai. Daze mendekati kamar itu dan memutar gagangnya. Seperti perkiraan semula, pintu kamar itu tidak dikunci. Pintu terbuka dengan suara pelan, dan dia masuk ke dalam.

Setelah menekan saklar lampu dan ruangan itu jadi terang benderang, Daze mengamati sekeliling kamar itu. Keadaannya tidak berbeda jauh dari waktu ditinggalkannya beberapa hari yang lalu. Kecuali seprai di atas ranjang dan selimut yang terlipat rapi, semuanya tidak berubah. Bahkan kotak rokok yang dilihatnya waktu itu masih tergeletak di atas meja. Daze mengalihkan perhatian ke ranjang. Ye-Jin pasti sudah membersihkan kamar ini!, pikirnya.

Daze berjalan ke ranjang itu dan menjatuhkan dirinya di sana. Kepalanya tertunduk perlahan. Berada di kota ini membuatnya semakin bosan. Apalagi di cuaca yang cenderung beku seperti ini. Ingin sekali dia kembali ke Seoul. Mencari Carlson dan mendengarkan penjelasannya tentang apa yang terjadi pada hubungan mereka. Walaupun dia sudah tahu penjelasan itu, tapi dia ingin mendengarnya langsung dari pemuda itu. Tidak lewat telepon, seperti yang bermaksud dilakukan kekasihnya itu beberapa waktu lalu.

Mengambil keputusan buat Carlson adalah sesuatu yang sangat berat bagi Daze. Berpisah darinya, mungkin hal terakhir yang pernah dipikirkan olehnya. Tapi apa boleh buat, dia harus melakukannya. Dia tidak ingin Carlson dihimpit terus dengan keputusan yang tidak bisa diambilnya. Carlson tidak ingin berpisah. Kekasihnya itu hanya minta waktu menenangkan diri. Tapi apakah itu bisa, setelah semua desakan dari orangtuanya dan .. keadaan Han Da' ZeVe yang semakin parah? Tidak Mungkin! Ini jawaban yang sangat dipahami Daze.


***** ><><>< *****



krekkk ....

Entah berapa lama Daze berada di posisi itu ketika bunyi pelan tersebut memasuki telinganya. Dia menengadah, dan melihat jendela di depannya terbuka perlahan. Angin deras yang membawa hawa membekukan langsung memasuki ruangan itu. Seraut wajah muncul dan melongok dari luar jendela.

Mata Daze melebar. "Kamu .... ". Entah ada kegembiraan atau tidak yang terkandung dalam panggilan itu. Yang jelas dia sangat terkejut dengan kemunculan Rathyan yang mendadak di situ.

Pemuda itu kelihatan tidak kalah terkejutnya. Mulutnya mengangga lebar. "Kamu berada di sini lagi?" tanyanya, antara tak percaya dan keheranan.

Daze tidak menjawab. Dia melihat Rathyan--setelah berhasil menguasai dirinya--melompat ke dalam kamar. Pemuda itu mengigil kedinginan. Kaos berkerah tinggi dan jaket kulit yang dikenakannya agak basah oleh salju. Begitu juga celana jeans yang membalut kakinya. Rathyan menghentak-hentakkan sepatu bot di kakinya ke lantai selama beberapa detik, kemudian melepaskan dan meletakkannya ke lantai di bawah jendela. Setelah itu dilemparkannya tas yang dipegangnya ke lantai, kemudian berjalan ke arah Daze yang masih duduk di atas ranjang.

Daze tidak bergerak. Pandangannya mengikuti semua gerak gerik pemuda itu. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Itu yang ingin diketahuinya.

"Sebenarnya kamu dari mana ... ?"

Pertanyaan Daze tersekat. Pemuda itu mendadak menjatuhkan diri ke atas ranjang--tepat di belakangnya. Dia merasakan sebuah tangan yang dingin melingkar ke pundaknya. Kemudian menarik tubuhnya ke belakang, menempel ketat di tubuhnya yang juga dingin. Sepasang mata Daze langsung terbelalak lebar.

"Bogoshipoyo .... "

Dia mendengar suara parau dan dalam itu berkata. Hampir berupa desahan. Lalu tangan itu menekan wajahnya sehingga bergerak perlahan ke belakang. Daze tidak mampu berkata-kata. Mulutnya seperti terkunci. Protes-protes yang ingin dikeluarkannya terpendam begitu saja.

Hembusan nafas yang terasa berat menerpa wajah Daze. Wajah Rathyan semakin dekat dan akhirnya menyentuh wajahnya. Bibir pemuda itu terbuka dan melumat bibirnya dengan posisi tangan menekan lembut bagian pipi sebelah kiri dan rahangnya. Daze mendesah. Bibir itu terasa dingin, tapi tetap lembab dan sedap seperti yang pernah dirasakannya. Tubuhnya menegang. Rathyan melumat bibirnya dengan lembut. Mata Daze terpejam perlahan.

Hanya sepersekian detik, Rathyan melepaskan ciuman dan rangkulannya. Dia mundur ke belakang dan berdiri dari ranjang.

"Ada yang ingin saya berikan padamu!" katanya tenang--seperti tidak pernah terjadi sesuatu antara mereka.   

"A .. apa?" tanya Daze gugup--keheranan sendiri dengan sikap anak muda yang satu ini. Tadi dia terlihat sangat panas, bisa dikatakan sangat .. bergairah .. tapi hanya beberapa detik, dia berubah biasa lagi.

Rathyan berjalan ke arah tas besarnya tadi diletakkan. Dia mengeledah sebentar, kemudian berbalik lagi ke Daze. Sesuatu tergenggam erat di tangannya.

"Buka tanganmu ... ," katanya sambil mengulum senyum pada Daze.

Gadis itu terlihat ragu-ragu sebentar, sebelum akhirnya mengulurkan tangannya jua. Rathyan meletakkan sesuatu di telapak tangannya. Butiran-butiran warna hitam yang tidak diketahui Daze apa itu. Seperti biji-bijian tapi lebih kecil dari itu.

"Apa ini?" tanya Daze kebingungan.

"Benih mawar." Jawab Rathyan. Senyumnya semakin lebar. "Mawar jenis langka. Seorang kenalan memberikannya padaku."

Daze mengangkat wajahnya. Termangu.

"Kamu menyukainya kan?" mata Rathyan bersinar terang. "Aku tahu kamu sangat mencintai mawar."

"Bagaimana kamu tahu?" tanya Daze pelan. Mengapa begitu banyak yang diketahuinya tentang aku?, tambahnya dalam hati.

Daze mengamati pemuda yang tersenyum-senyum penuh arti di hadapannya. Mengawasi semua ekspresi wajahnya. Dia terlihat gembira. Dan ... NAKAL. Sepasang mata yang tadi bersinar cerah itu mulai menyelusuri wajah dan tubuhnya. Bermula dari mata, kemudian hidung, bibir, .. turun ke leher, dada dan ... ,

"Ehemmm .... ," Daze terbatuk pelan.

Pemuda itu tersentak. Pandangannya berbalik kembali ke Daze. Pandangan bertanya terisarat dari sepasang mata beningnya.

"Emmmm .... ," Daze jadi salah tingkah. Kemudian, sesuatu yang berhubungan dengan mawar teringat olehnya. "Mawar, ... mawar putih di taman belakang, .. apa kamu yang menanamnya di situ?"

Mulut Rathyan terbuka. "O ... ," jawabnya. "Kamu suka?"

Daze tertegun. Tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Dari kenalanku juga. Jadi kamu tidak perlu berterimakasih ... ," sambung Rathyan.

Daze semakin tidak bisa bersuara. Matanya menjadi redup. Mengapa ada pemuda lain yang begitu memperhatikannya di saat hatinya sedang terluka seperti ini? Akibat kekasihnya yang seharusnya melindunginya dan bukan melukainya. Daze ingin menanggis saat itu juga. Tapi ditahannya.

"Kamu, .. apa kamu tahu keberadaan Dave?" tanyanya, berusaha mengalihkan perhatian ke arah lain.

Tampang Rathyan jadi serius. "Tidak." jawabnya. "Saya baru kembali, jadi tidak ada yang saya ketahui tentang keluarga ini." diperhatikannya Daze dengan seksama. "Apa perlu aku menyelidikinya untukmu?"

Mulut Daze mengangga. "Apa kamu bisa?"

Rathyan tersenyum. "Akan kuusahakan."

Daze mengangguk. Untuk kesekiankalinya dia merasa terhibur oleh pemuda ini. Rathyan mengamati Daze lagi. Kali ini tidak disadari gadis itu karena pandangannya terarah ke lantai.

Rathyan kemudian bergerak perlahan dari tempatnya. Menuju ke lemari satu-satunya dalam kamar itu. Dia mengeluarkan sepotong kaos dan celana baggy warna putih, lalu berjalan ke kamar mandi.

"Saya mandi dulu. Apa kamu akan berada di sini?" tanyanya pada Daze dari ambang pintu kamar mandi tersebut.

Mulut Daze terbuka. "Ti .. tidak ... ," jawabnya gugup. "Sa .. saya .. pergi sekarang .. "

Terburu-buru Daze berlari ke pintu. Sampai di sana, dia berhenti. Ragu-ragu sejenak dia berpaling kembali pada Rathyan.

"Gumawo buat semuanya!" kata Daze.

Rathyan tersenyum. "Sama-sama." sambutnya lembut.

Lalu ... mereka tersenyum secara berbarengan. Senyuman yang sangat tulus. Apa awal persahabatan antara mereka? Tidak ada yang tahu. Yang jelas, mereka merasa nyaman satu sama lain.

Mungkin persahabatan lebih berarti dari segala hubungan cinta! desis Daze.
 

***** ><><>< *****

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
FirSt c0meEentTt !!
Haha
jiakKkhHh
MaMi..
I loph U s Much dEh pkoKx
:-* 'umMaCch'
kalo aj dirimu cwok. Udah aq lamar.
Haha :D
lol
bgus critax mam.
D updte lbiH cepat dari FF mu sblum2x.
Rekor bru niH.
^___^
mana s sWeet bnget lg. Si Rath emg hwat bnget yah, kthuan d tiap pertemuanx dgn Daze. Pasti KisSu2'an
oh M G..
FF paling gw suka niH MAM.
Wagagagaga :D
bsok lanjOt lg yah
'hmpf'
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
miiiii sebelomnya gomawoyo udah update lagi  [hug]  [lovestruck] tapi kurang panjang miiiiiiii  banghead  [hmpfh] next chapter jangan lama2 lo mi  [nono]  [bye]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
ff ini updatenya malam ini ya, klu tdk ya besok [biggrin]
tp mian,, ga bisa panjang [sweat]

Mamiiii lu berikan obat buatku yg lg

Chainezz_Vian

  • Guest
Gumawo uda d update mii [flowers]

uh, mami ngasih energi baru lg nie. . . Jd bsk sklah bsa semangat 45 dech. . .

Wah, rath ma daze jodoh bnget ya mii, gk bsa d pisah'in bnget. Bnget. . .

Bsk uda krja ya mii?
Huhu T.T gk bsa update tiap hr dech. . .
Tp tetep semangat mii. . . [smiley-gen013]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
 [clap] [clap] [clap] thanks mami udah update mami bener2 rajin dah [hug] [hug] [cheekkiss] [cheekkiss]

si rath emang bener2 cinmat ye sm daze sweet bgt sm perhatian2 yg diberikan ke daze slama ini [lovestruck] [lovestruck]
kyknya ni si rath bakal balik ke appanya karna daze jg ya mam [chin] apapun akan dilakukkan demi daze [lovestruck] [lovestruck]


ADAM COUPLE SELCA

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
ya ampyuuuun mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii sini aku [arms] [arms] [arms] [arms] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss]
seneng bgt ni ff udah update lagi [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
tapi belom baca [hmpfh]
aku baca dulu, dada....... [bye] [bye] [bye] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
echyn, si rath pls suka kissu daze and ketahuan si daze jg ga nolak [hmpfh]

vio, kan udah gw blg. bisa diupdate tp ga panjang hammer2

vay, ngapain say [what] lg sedih ya [ohmy]

vian, menurut elu mereka jodoh ya? hehehe mungkin [hmpfh]

mak yem, ke depannya,, si rath bakal melakukan apa saja demi daze. wlp hatinya sakit karna daze. terjadi kesalahpahaman antara mereka ataupun apa yg dilakukannya tdk diketahui daze.

aisshin, ditunggu komennya ya?

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

fara

  • Guest
Mami gomawo udh diupdate [flowers] [flowers] [flowers] [flowers]
will back after read it [hmpfh]

fara

  • Guest
Wowww mami si rath hwatttt bgtttt aku makin cinta jdnya nih ma rathyan [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
btw, appa'y rathyan spt baik dan sgt sayang ma rathyan tp sayangnya mereka bedua kyknya kurang komunikasi jdnya sering ga akur [hmpfh] trus si rathyan mau ngurus max global kalo dia udh bnr2 falling in love very deep sama dave ya mi? 
Gomawo ya mi udh diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Wowww mami si rath hwatttt bgtttt aku makin cinta jdnya nih ma rathyan [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
btw, appa'y rathyan spt baik dan sgt sayang ma rathyan tp sayangnya mereka bedua kyknya kurang komunikasi jdnya sering ga akur [hmpfh] trus si rathyan mau ngurus max global kalo dia udh bnr2 falling in love very deep sama dave ya mi? 
Gomawo ya mi udh diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
daze say. bukan dave. si dave kan dongseng cowoknya daze. moso pedang makan pedang lagi. ini kan bukan ff bengkok2 [hmpfh] [hmpfh] ..
appanya rathyan sebnrnya ingin menebus kesalahannya. tp sayang caranya salah sehingga nih ayah anak bawaannya bertengkar mulu. perlu diketahui noonanya rath meninggal akibat over dosis narkotika [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

fara

  • Guest
Wowww mami si rath hwatttt bgtttt aku makin cinta jdnya nih ma rathyan [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
btw, appa'y rathyan spt baik dan sgt sayang ma rathyan tp sayangnya mereka bedua kyknya kurang komunikasi jdnya sering ga akur [hmpfh] trus si rathyan mau ngurus max global kalo dia udh bnr2 falling in love very deep sama dave ya mi? 
Gomawo ya mi udh diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
daze say. bukan dave. si dave kan dongseng cowoknya daze. moso pedang makan pedang lagi. ini kan bukan ff bengkok2 [hmpfh] [hmpfh] ..
appanya rathyan sebnrnya ingin menebus kesalahannya. tp sayang caranya salah sehingga nih ayah anak bawaannya bertengkar mulu. perlu diketahui noonanya rath meninggal akibat over dosis narkotika [sweat]
wakakakakakaka aku salah ya mi, mian ya mi [hmff]
abisnya kakak -adek namanya rada mirip beda v sama z, jadinya ak suka kebolak-balik d [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]
semoga appanya rathyan cepet sadar ya mi kalo cara dia care ke rathyan salah cz rathyan kn kalo dilarang makin menjadi2 dan malah makin nentang appanya. Tp ak suka sama style rathyan pas nentang appa'y coooolll bgt kyk kulkas hehehehehe

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile

vay, ngapain say [what] lg sedih ya [ohmy]


Gw abis kecelakaan mi...

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
uhuuuuuuuyyy... udah di updet ma mami  [clap] [clap] makasih banyak mi...

untung si rath gak terjerumus kayak noonannya... [sweat]

wah kalau Rath tahu, perusahaannya si Daze lagi goncang, pasti mau deh masuk ke max global... [hmpfh] [hmpfh]

mi, apa nanti appanya Rath gak berusaha menyelikidi tentang 'dia' yang bisa bikin Rath masuk ke max global...?  [chin] [chin]