Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 100141 times)

Offline tisa

  • Newbie
  • *
  • Posts: 60
  • minsun always in my heart :)
    • View Profile
haaai,,aku newbie disini [bye] [bye]
salam kenaal yuaa [biggrin]
mami *boleh panggil mami kan ?* update doong,, udh penasaraan abiis nich [biggrin]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
haaai,,aku newbie disini [bye] [bye]
salam kenaal yuaa [biggrin]
mami *boleh panggil mami kan ?* update doong,, udh penasaraan abiis nich [biggrin]
hi say [biggrin] silahkan mau panggil apa aja jg boleh [hmpfh] [hmpfh] updatenya besok ya, but ga janji [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
What u say mam?[hmpfh]
Mam usahain besok ya mami...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
oot dikit,, ada yg suka lagu2 mandarin ga [what]
klu ada klik link ini deh,,,
http://www.choitszming.com/
gw suka banget ama suaranya si ming [hmpfh] [lovestruck]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
oot dikit,, ada yg suka lagu2 mandarin ga [what]
klu ada klik link ini deh,,,
http://www.choitszming.com/
gw suka banget ama suaranya si ming [hmpfh] [lovestruck]

ada ko' mam, gua suka fahrenheit  [hmpfh] si wuchun  [laughing]
emangnya si ming itu siapa mam ???  [sweat]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
oot dikit,, ada yg suka lagu2 mandarin ga [what]
klu ada klik link ini deh,,,
http://www.choitszming.com/
gw suka banget ama suaranya si ming [hmpfh] [lovestruck]

ada ko' mam, gua suka fahrenheit  [hmpfh] si wuchun  [laughing]
emangnya si ming itu siapa mam ???  [sweat]

cuma pemenang ketiga dari sebuah kontes nyanyi di hk,, belum terkenal kok [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
c mami tdi nyariin,, skrang aq nongol d'cuekin niy rasakan  [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] pokoknya wajib kudu harus bsok update yooo mi... tar kburu lupa ma chp sbelumnya niy aq  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
c mami tdi nyariin,, skrang aq nongol d'cuekin niy rasakan  [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] pokoknya wajib kudu harus bsok update yooo mi... tar kburu lupa ma chp sbelumnya niy aq  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
enak dong klu lupa. berarti ga perlu gw update [hmpfh] yaa mesti ngalong lg dong [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile


[angry] [angry] [angry]APA ITU MI,,, JAWABAN YG TAK MASUK AKAL  [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] ,,IYAA WAJIB NGALONG KRNA INI MSTI UPDATE BSOK JUGA [devil2] [devil2] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
[/b][/size][/size][/color]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Seorang pria berambut ikal pirang yang lembab terlihat menyandar di batang pohon cemara yang tumbuh di antara batang-batang cemara lain di gerbang taman depan universitas Murdoch. Jubahnya yang panjang dan agak kumal menyapu jalan tanah yang ditimbuni lembaran-lembaran daun yang sudah menguning--kebanyakan di antaranya bahkan sudah berwarna coklat kusam.

Pria itu mendongak ketika mendengar langkah kaki mendekatinya. Suara ranting kering yang patah terinjak orang sangat jelas terdengar di pagi yang sunyi itu. Seorang pemuda jangkung berdiri hampir lima meter di depannya dengan posisi tangan terselip di saku celana.

Si pemuda--yang ternyata Rathyan--mengamatinya selama beberapa detik. Angin yang bertiup kencang menyibakkan mantel hujan sepinggul yang dipakainya ke udara. Rathyan menyusut dari posisinya. Dia mengigil sedikit. Setelah merapatkan mantel di depan dada, dan memeluk kedua lengannya erat-erat, dia menghampiri pria lusuh itu.

"So--what did you get?" tanya Rathyan sambil mengosok-gosok lengannya--berusaha menghangatkan badan dari kebekuan musim dingin yang menyebarkan butiran-butiran salju.

Pria berambut ikal pirang tersebut merogoh ke dalam saku jubah panjangnya. Dia mengeluarkan secarik kertas warna kuning yang telah ditulisi beberapa kata--sepertinya sebuah alamat--dan menyerahkannya pada Rathyan.

"He is here?" Rathyan mengamati kata-kata dalam kertas di tangannya.

"Yes." jawab pria itu. "From yesterday, around 9 pm untill now. My men followed him and he was still there one hour ago."

Rathyan mengangguk. Dia mengeser tas selempangnya ke depan. Merogoh ke dalam dan mengeluarkan sebuah buku cek. Dia menuliskan nama dan angka-angka di selembar cek, merobeknya kemudian memberikan pada pria di hadapannya.

"I will call you again if i need some information .. "

Pria itu menerima lembaran cek dari tangan Rathyan dengan senyum puas.

"Sure ," dia mencium cek tersebut dan mengangkatnya ke atas. "Thank you very much, sir ... "

Dua menit saja pria kumal itu sudah berlalu dari hadapan Rathyan.

"Huhh--dasar penjilat!" gerutu Rathyan sambil melangkah dari situ.
 
Angin bertiup semakin kencang dan daun-daun yang berjatuhan dari pucuk-pucuk cemara semakin banyak. Hari mulai beranjak--matahari naik semakin tinggi. Beberapa rombongan mahasiswa mulai memenuhi taman tersebut. Beberapa sedang bersenda-gurau di jalan tanah. Ada yang sedang bermesraan di bangku taman dan beberapa di antaranya menyandar atau duduk di pagar rendah yang membatasi taman depan dengan lapangan rumput di belakangnya sambil berbincang-bincang dengan seru.


***** >< >< *****



 
Rathyan berhenti di pintu masuk sebuah bar yang bertuliskan Di Lizio--dari lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Suara musik yang berdentam-dentum keras perlahan memasuki telinganya. Rathyan menyibak pintu tersebut dan masuk ke dalam. Musik remix yang diputar sangat keras semakin terasa di telinganya. Berpuluh-puluh lampu blitz beraneka warna juga langsung menyorot masuk--menyakiti pandangannya.

Rathyan menyipitkan mata perlahan--berusaha mendapatkan orang yang dicarinya. Tidak ada. Yang dilihatnya hanya beberapa pasang muda-mudi yang sedang bercumbu dalam keadaan teler dan yang sedang berdansa dengan liar di tengah lantai dansa. Rathyan mengedarkan pandangannya kembali. Dua orang cewek yang kelihatannya sudah mabuk berat menabraknya.

"Upss--sorry .. ," kata seorang dari mereka. Cewek berbaju ketat dan bergaun sangat pendek itu melebarkan matanya--berusaha melihat apa yang ditabraknya. Sepasang mata yang tidak bercahaya akibat alkohol tersebut terbuka lebih lebar. "Wowww handsome boy ... ," dia tersenyum.

Cewek satunya lagi--yang memakai selembar kain, serupa selendang, yang diikatkan di bagian dada dipadu jaket kulit warna hitam dan celana jeans ketat mengangkat wajahnya. Begitu melihat Rathyan, mulutnya mengangga.

"What's the hell?" dia berteriak. "Look--what do we get tonight, Sandra? Amazing guy!" agak terhuyung dia menempelkan telapak tangannya di pipi Rathyan.

Terkejut, Rathyan mengibaskan tangan cewek itu. "Kamu sudah mabuk nona!" katanya dengan nada tajam. "Atau .. bahkan lebih dari itu?" dia mengenyitkan alisnya. "Kalian memakai obat-obat terlarang?"

"WHAT?" tanya kedua cewek itu bersamaan.

Rathyan kembali mengibaskan tangannya. "Just forget it!" Dengan langkah lebar dia meninggalkan kedua cewek yang berdiri sempoyongan itu. Tidak diperdulikannya teriakan-teriakan mereka. "Dasar cewek-cewek centil!" dengusnya.

Rathyan memasuki lorong dalam di dalam bar tersebut. Dibukanya pintu-pintu ruangan-ruangan khusus yang berada di dalam dengan satu dorongan. Beberapa pasangan--baik cewek dengan cowok, cewek dengan cewek, maupun cowok dengan cowok segera berpaling padanya begitu pintu-pintu tersebut dibuka.

Rathyan menganggukkan kepala berkali-kali. "Sorry .. "

Sampai di depan pintu ruangan terakhir, sebuah tangan tiba-tiba mendarat di pundaknya sebelum dia menyentuh pintu ruangan itu. Rathyan menoleh.

"What are you doing here, sir?" seorang pemuda berambut pirang yang bertampang agak seram sudah berdiri di belakangnya.

"I'm looking for someone .. ," jawab Rathyan tenang.

Pemuda itu tersenyum sinis. "Sorry but this's VIP room. You can't enter."

"O ya?" bibir Rathyan tertarik ke atas, "What about if .. i have this ...?" dia mengeluarkan selembar cek yang sudah dipersiapkan sebelumnya dari dalam tas selempangnya.

Mata pemuda di depannya terlihat berkilat begitu menangkap angka-angka yang tertulis di lembaran cek itu. Dia berusaha meraihnya, tapi dengan sigap Rathyan segera mengacungkannya ke atas. Karena pemuda berambut pirang itu tingginya tidak sebanding dengan Rathyan--walaupun meloncat-loncat, dia tidak mampu meraih cek di tangan Rathyan.

"Tell me!" kata Rathyan.

"What?" pemuda itu masih berusaha meraih cek dalam genggaman Rathyan.

"Who's in this room?"

"This VIP room?"

"That's what i asked you!" kata Rathyan kesal.

"I don't know." pemuda itu mengangkat bahunya. "Not British or American--I'm sure. Maybe Chinese--like you, sir."

Rathyan mengangguk dan menyerahkan cek di tangannya. Dia mendorong pintu di hadapannya sambil berkata dengan nada datar. "I'm Korean, not Chinese!"

 
***** >< >< *****



 
Rathyan berdiri di depan sebuah sofa panjang--berhadapan dengan seorang anak muda yang tertepar dengan kepala menengadah ke atas. Beberapa botol bir berserakan di meja, sofa dan lantai. Begitu juga pil-pil aneka warna dan serbuk-serbuk yang entah apa itu. Rathyan menghela nafasnya--berat. Dia berjalan ke arah pemuda itu dan menarik tangannya.

"Bangun Dave! Pulang denganku sekarang!!"

Dave tidak bergerak. Tangannya yang ditarik Rathyan tidak beraksi sedikitpun.

"DAVE!!"

Rathyan menguncang tubuh Dave--berulangkali, tapi tetap saja pemuda itu tidak merespon apa-apa. Kelihatannya dia sudah mabuk berat.

"Do you hear me?! Heyy!!"

Percuma saja usaha Rathyan. Begitu pegangannya di tangan Dave terlepas, tubuh lemas itu kembali terhempas ke sofa. Rathyan menghela nafas sekali lagi. Dia menghentikan usahanya yang entah ke berapa kali itu dan berpaling ke meja di belakangnya. Hampir selusin bir dihabiskannya--bagaimana mungkin tidak semabuk ini? pikir Rathyan.

Tapi begitu pandangannya menyapu pil-pil dan serbuk-serbuk yang tersebar ke mana-mana, alisnya langsung berkerut. Diraihnya pil-pil warna-warni tersebut dan diperhatikannya dengan seksama. Kerutan di wajahnya semakin dalam. Kemudian dia menekan serbuk di atas meja dengan telunjuknya dan menjilatnya perlahan.

"Huekkk!!" Rathyan langsung meludahkannya ke lantai. "Sialan!" teriaknya.

Dia berbalik dan mengangkat tubuh Dave, kemudian mendorongnya hingga menempel erat di sandaran sofa.

"Sudah kuperingatkan berapa kali--kamu boleh mabuk-mabukkan, boleh merokok dan boleh melakukan apa saja, asal jangan kau sentuh benda-benda laknat ini!!"

Dave membuka matanya sedikit, kemudian memejamkannya lagi. Dia tersenyum, seperti orang yang sedang di awang-awang--sama sekali tidak menyadari kehadiran Rathyan di situ.

"Dengar aku?!" tanya Rathyan dengan nafas terengah. "Sadar Dave berengsek! Buka matamu dan sahut aku!" ditepuknya pipi Dave keras-keras--guna menyadarkannya--tapi pemuda yang sudah tidak sadarkan diri itu hanya terkulai tanpa tahu keadaan sekelilingnya.

"DAVE HAN!!" Rathyan berteriak lagi.

Diguncangnya tubuh Dave kuat-kuat tapi tetap tak berguna. Dia tidak merespon sama sekali. Rathyan menghempaskan diri di sebelah Dave setelah usaha yang keduapuluh menit--yang tidak menghasilkan apapun. Dia terengah-engah putus asa.

"Mengapa kamu jadi begini? Mengapa mengikuti jalanku yang dulu? Kamu tahu ini tidak benar? Ini bisa merenggut nyawamu--kapan saja, anak bodoh... ," Rathyan menundukkan kepalanya.

Dia menyesali jalan yang diambil Dave untuk melepaskan diri dari semua masalah yang dihadapinya ini. Jalan yang sangat dikenal olehnya--jalan yang pernah ditempuhnya, yang hampir saja merenggut nyawanya, dan yang sudah merenggut nyawa noonanya.

Perlahan Rathyan bergerak dari tempatnya--berdiri dari sofa. Dia menarik kedua tangan Dave dan melingkarkannya di lehernya sendiri.

"Aku akan mengantarmu pulang. Pergi sekarang juga dari tempat biadab ini!!"

Dia mengangkat tubuh Dave dan mengendongnya di punggungnya--keluar dari bar Di Lizio.


***** >< >< *****



 
BMW warna biru muda yang sudah agak kusam dan bobrok itu berhenti di pinggir jalan--berjarak sekitar 30 meter dari Han's mansion. Seorang pemuda jangkung keluar dari bangku kemudi jok depan. Dia ragu-ragu sebentar, kemudian berbalik kembali ke dalam mobil. Sampai di dalam, dia mengeledah saku celana dan jas pemuda di sampingnya.

"Dapat!" desisnya tertahan ketika sebuah ponsel berhasil dikeluarkan dari saku jas pemuda yang terkulai lemas itu.

Dia menekan beberapa tombol, menarik panah di layar monitor ke bawah dan akhirnya mendapatkan nomor yang dicarinya. Tanpa berpikir lagi dia menekan nomor yang dimaksud. Tidak sampai semenit, terdengar sahutan dari seberang.

"Dave? Oh my god, ke mana saja kamu? Mengapa baru sekarang menghubungi noona? Malam-malam begini lagi. Kamu ada di mana? Apa sebenarnya yang terjadi padamu?" Pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi yang meluncur bak air ditumpahkan tersebut membuat pemuda itu tercekat.

"Hmm ... ," katanya ragu-ragu. "Bisa kau mendengarkanku dulu?" pintanya.

Hening sesaat. "Kamu bukan Dave! Siapa kamu?" suara itu hampir berteriak dari seberang.

Pemuda itu menarik nafas. "Saya Rath. Saya mendapatkan Dave."

"Rath?" seru Daze. "Mendapatkan Dave? Benarkah? Di mana? Sekarang dia ada di mana?"

"Kamu bisa mendengarkanku dulu tidak?" tanya Rathyan tegas.

"Hmm miane .. "

"Ah sudahlah." sahut Rathyan. "Sekarang dengarkan aku! Dave ada di mobilku. Dia dalam keadaan mabuk berat dan tidak sadarkan diri, jadi dia tidak bisa masuk ke rumah sendiri. Aku harus membopongnya ke dalam. Kamu harus membukakan pintu depan untukku. Araso?"

"Ne .. ," jawab Daze segera.

"Lima menit lagi. Jangan ketahuan halmonie nanti dia syok!"

"Ne .. "

 
***** >< >< *****



 
drekkk .. Daze membuka pintu depan. Dia melihat bayangan seseorang dalam kegelapan. Daze menajamkan penglihatannya. Bayangan tersebut makin lama makin jelas. Benar, itu Rathyan yang sedang mengendong seseorang di punggungnya. Daze segera berlari ke arahnya.

"Oh Tuhan, apa yang terjadi padanya?" tanyanya pada Rathyan. Kemudian dia mengoyang-goyangkan lengan Dave. "Dave, kamu dengar noona?"

"Dia tidak sadarkan diri dari tadi. Percuma saja kamu memanggilnya." kata Rathyan. "Sebaiknya kamu berjaga-jaga supaya kepulangan kami tidak diketahui orang-orang rumah."

"Ne .. "

Daze berbalik dan berlari ke dalam rumah. Tapi usahanya untuk mengawasi keadaan rumah terlambat, Ye Jin yang kebetulan keluar dari kamarnya--bermaksud buang air kecil melihat mereka.

"OH AGASHI! Apa yang terjadi dengan doronim?" teriaknya.

Daze meloncat ke arah Ye Jin dan membekap mulutnya. "Sssttt!" dia meletakkan telunjuk ke mulut wanita itu. "Kamu ingin membangunkan halmonie ya?" deliknya.

Ye Jin mengangguk gugup sehingga Daze melepaskan bekapannya perlahan. "Sosongheyo agashi .. "

Daze berdecak. "Sudahlah." katanya. "Apa halmonie sudah nyenyak di kamarnya?"

"Ne .. ," jawab Ye Jin. "Nyonya besar makan terlalu banyak tadi jadi sekarang beliau kelelahan di ranjangnya ... "

Daze mengangguk.

"Hey kalian mau ngomong sampai kapan?" teriakan Rathyan menyadarkan mereka. "Apa tidak sebaiknya dia dipindahkan ke kamar dulu? Kalian bantu aku!"

Kedua wanita itu mengangguk dengan gugup, Kemudian mereka bergotong-royong membawa Dave ke lantai atas. Pintu kamar dibuka dengan terburu-buru oleh Ye Jin. Dave di jatuhkan ke atas ranjang. Rathyan dan Daze kemudian duduk di pembaringan dengan nafas terengah-engah.

"Hey Dave!" Rathyan menepuk pipi Dave--berkali-kali, makin lama makin keras. "Bisa bangun sekarang? Hey!!"

Dave membuka matanya. Mendadak tubuhnya mengejang. Giginya bergemelatuk hebat dan dia berguling-guling seperti cacing kepanasan.

"Oh ... ," Daze menutup mulut dengan tangannya. "A .. apa .. yang terjadi padanya?"

"Agashi. Doronim, dia ... ," Ye Jin memegang tangan Daze. Kedua wanita itu mundur serempak.

"A .. da .. apa?" tanya Daze dengan nada bergetar.

Rathyan tidak menjawab. Dengan dua tangan dia menarik kerah jas Dave hingga bangkit dari ranjang. "Kalian mundur ke belakang!" perintahnya keras pada Daze dan Ye Jin. "Buka pintu kamar mandi untukku!"

Agak oleng Ye Jin berlari ke kamar mandi dan membuka pintunya. Kemudian tergesa-gesa ia mundur ke balik pintu. Rathyan mengambil nafas. Sekali tarik, dia membawa tubuh Dave yang sedang kejang-kejang itu ke punggungnya. Dengan cepat dia menuju kamar mandi. Setelah itu dia menjatuhkan Dave di badtub, menyalakan shower dan menyiram tubuhnya dengan air dingin.

"Akhhhh!" teriak Daze--yang sekarang sudah berada di ambang pintu. "Apa yang kau lakukan?" dengan marahnya dia memelototi Rathyan. "Kamu bisa menyakitinya tahu?!"

Rathyan tidak menghentikan perbuatannya. Air yang membeku itu terus menguyur tubuh Dave--menjadikan pemuda yang tadi kejang-kejang itu, mengigil kedinginan.

Daze berlari ke dalam kamar mandi. "HENTIKAN!" dia menarik tangan Rathyan dan menatapnya dengan garang. "Kamu sudah gila ya? Ingin membunuhnya?"

Rathyan mengibaskan tangan Daze. "Jika dia tidak disadarkan, dia yang akan mati!" teriaknya--membalas tatapan Daze. Kemudian dia menyiram Dave lagi.

"KAMU GILA! KAMU GILA!" kata Daze putus asa.

Ye Jin sampai di belakang gadis itu dan menyentuh lengannya. "Agashi, siapa dia?"

Daze tidak menjawab. Hanya bisa melihat apa yang dilakukan Rathyan tanpa mampu berbuat sesuatupun--hanya bisa pasrah sambil mengigit kuku-kuku jemarinya.

Rathyan menghentikan perbuatannya lima menit kemudian. Dia mengangkat Dave yang mengigil keras dan membawanya keluar dari kamar mandi. Setelah itu dia menjatuhkan tubuh basah kuyup itu ke ranjang.

"Kalian keluarlah! Saya akan menganti pakaiannya." perintahnya tegas--tanpa berpaling pada mereka.

Sambil berpegangan tangan, Daze dan Ye Jin keluar dari kamar Dave dan menunggu di luar pintu yang sudah ditutup oleh mereka. Sepuluh menit kemudian terdengar teriakan dari dalam kamar.

"Masuklah!"

Terburu-buru kedua wanita itu membuka pintu dan masuk ke dalam. Dave sudah berganti dengan pakaian kering sekarang, dan .. sungguh mengejutkan melihat dia terbaring dalam keadaan terlentang dengan sepasang tangan dan kaki terikat tambang yang walaupun tidak begitu besar tapi kelihatan cukup kuat.

"A .. apa yang kamu lakukan?" Daze menatap Rathyan tajam-tajam.

"Saya hanya mengantisipasi peristiwa yang bakal terjadi." jawab Rathyan cuek. Dia meraih sisa-sisa tambang yang digunakannya untuk mengikat Dave dan membuangnya ke pojokan. Kemudian dia mengambil pakaian basah dari lantai dan membawanya ke kamar mandi.

"KAMU BENAR-BENAR GILA!"

Daze menarik Rathyan keluar dari kamar mandi. "Lepaskan dia!"

"TIDAK BISA!" balas pemuda itu keras.

"Wee? Mengapa harus memperlakukannya seperti ini?"

"Karena saya tidak ingin melihatnya mati!" bentak Rathyan.

Mata Daze melebar, " Mati? Apa maksudmu? Dia cuma mabuk-kan?"

Rathyan tidak menjawab. Tampangnya sangat keras sekarang. Daze mundur selangkah dengan perasaan gentar. Rathyan berpaling ke Ye Jin dan memerintah dengan keras. "Jangan sekali-kali melepaskan ikatan tangan dan kakinya. Juga jangan memberinya makanan, cukup beri air putih saja. Selama dua hari ke depan, itu yang harus dilakukan. Apapun permintaannya jangan dituruti. Walaupun dia berteriak-teriak kesakitan, seperti orang gila sekalipun. Kalian mengerti?"

Takut-takut Ye Jin mengangguk. "Ne, tuan .. "

Rathyan menoleh pada Daze. Ekspresi wajahnya tidak berubah dan suaranya masih terdengar sangat keras. "Jika takut ketahuan halmonie, mulutnya disumbat saja."

"Mwoo? Di .. di .. sumbat?" Daze mengangga tak percaya.

"Itu yang kukatakan!"

Rathyan memutar badan ke arah pintu dan berjalan ke luar--menuju balkon belakang. Langkahnya sangat lebar dan cepat--tidak berirama, sedangkan nafasnya memburu dan sedikit tersengal-sengal.


***** >< >< *****



 
Daze keluar dari kamar Dave dan menyusul Rathyan. Sedangkan Ye Jin sudah turun ke lantai bawah, masuk ke dalam kamarnya. Daze sampai di balkon belakang yang menghadap ke taman dan melihat Rathyan berdiri di sana--membelakanginya, mengarah ke taman kelam yang terselimut dewi malam. Bintang-bintang tampak berkelap-kelip indah di angkasa luar. Cahayanya terasa hangat walaupun suhu udara dingin menusuk tulang.

"Rath ... "

Rathyan menoleh. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik.

"Kemarilah ...," kata Rathyan lembut.

Daze melangkahkan kakinya dan berhenti di sebelah pemuda itu. Tak terduga sepasang tangan Rathyan tiba-tiba merangkul pinggangnya, dan menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Dagu Rathyan yang tegas menumpu di pundaknya yang terbalut sweater wol warna putih.

"Miane ..," desah Rathyan di telinganya. Nafas pemuda itu membawa asap hangat--menerpa wajahnya yang dingin.

"Hmm ... " Daze jadi salah tingkah. "Kenapa?"

"Karena saya membentakmu tadi. Tidak seharusnya kulakukan itu. Miane .. ," sesal Rathyan. Wajahnya dibenamkan di pundak Daze.

"Bukan itu maksudku ... ," kata Daze sambil menoleh ke arah Rathyan sehingga wajah mereka menempel satu sama lain. "Kenapa kamu semurka tadi? Itu yang ingin kuketahui." tanya Daze. "Tidak pernah aku melihatmu semurka itu. Dan mengapa pula kamu melakukan semua itu terhadap Dave?"

Selama beberapa menit Rathyan tidak bereaksi. Hanya dekapannya di tubuh Daze semakin dipererat.

"Rath ... ?"

"Saya punya seorang noona .. ," kata Rathyan. "Dan saya sangat menyayanginya ... "

"Jeongmal?" Daze memandangnya lekat-lekat. "Apa dia masih kuliah atau sudah bekerja?"

Rathyan mengeleng. Kepalanya terangkat dan dia mendesah. "Dia meninggal empat tahun yang lalu .. "

"MWO?!" mata Daze terbelalak lebar. "Me ... mengapa .. bisa begitu?"

Pandangan Rathyan menerawang. "Karena barang-barang laknak itu ... "

"Maksudmu?" tanya Daze tak mengerti.

Rathyan berpaling padanya. "Seperti Dave, mengkonsumsi obat-obat terlarang--narkoba .. "

"MWO?! MAK .. MAKSUDMU, .. Dave memakai obat-obatan itu? Tapi .. mengapa? Bagaimana mungkin? ... Selama ini dia baik-baik saja .. "

"Miane .. ," Rathyan mencium rambut Daze. "Mungkin karena pergaulannya selama ini, dan .. ini berhubungan denganku juga. Saya tahu teman-temannya itu tidak baik, tapi saya tidak melarangnya. Yang tidak saya sangka, mereka mengajarinya memakai barang-barang begituan."

"Jadi .. kehidupan Dave seperti itu?" Daze mendesah. "Mengapa dia tidak menceritakannya pada kami? Mengapa tidak mendiskusikannya dengan kami?"

"Saya memahaminya." sahut Rathyan. "Seperti juga kehidupanku dulu. Karena kehilangan perhatian orangtua, aku dan noona terjerumus dalam dunia gelap. Dunia gemerlap yang sangat bebas. Penuh tawa dan kebahagiaan, yang sebenarnya hanya bayangan semu saja. Tangan-tangan iblis siap merengut nyawamu setiap saat. Ketika itu aku baru berumur 16 tahun. Dan aku menyaksikan sendiri bagaimana .. bagaimana tubuh noona mengejang, mulutnya mengeluarkan busa, bola matanya berputar dan perlahan-lahan menjadi putih. Bagaimana dia .. dia menghembuskan nafas terakhir dalam pangkuanku. Dalam dekapanku." kepala Rathyan tertunduk dan menyentuh tenguk Daze. "Aku mengunakan waktu hampir setengah tahun untuk melupakan semuanya--untuk melepaskan diri dari benda-benda jahanam itu. Kamu tahu tidak bagaimana perjuanganku menghadapi semuanya? Aku terkurung selama beberapa minggu--tidak, bukan beberapa minggu tapi beberapa bulan--berteriak-teriak seperti orang gila. Aku juga hampir mati. Kalau bukan karna pertahananku yang cukup kuat, aku sudah menyusul noona. Karena itu begitu melihat keadaan Dave, aku jadi kehilangan kendali."

Rathyan mengeleng, "Aku tidak ingin dia mengikuti jejakku." dia terbatuk kecil membersihkan tengorokannya. "Beruntung keadaannya tidak parah-parah amat. Percayalah, dia akan baik-baik saja beberapa hari mendatang .. "

"Chinja?" Daze menatapnya--mengharapkan kepastian.

Rathyan mempererat pelukannya. "Ne. Jangan khawatir."

Daze mengangguk. "Boleh aku menanyakan sebuah pertanyaan padamu?"

"Mwo?"

"Ke mana orangtuamu?"

Rathyan memandang ke depan. Saat itu angin bertiup semakin kencang. Daze mengigil dalam pelukan Rathyan. Pemuda itu menoleh padanya, kemudian mengosok-gosokkan kedua tangannya di lengan gadis itu.

"Angin bertiup semakin kencang." katanya. Dia kembali memandang ke depan. "Kelihatannya akan ada badai salju malam ini. Sebaiknya kita kembali ke kamar. Saya akan menuangkan segelas brandy buatmu untuk menghangatkan diri." Rathyan menepuk lengan Daze. "Ayo, tidak enak berdiri terus-terusan di udara terbuka seperti ini ... "

Daze mengangguk. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah--meninggalkan balkon yang makin malam semakin kelam dan gelap karena bintang-bintang di langit yang tadi bersinar terang sudah tertutup awan tebal.  

    
***** >< >< *****



 
"Agak baikkan?" Rathyan menjatuhkan diri di ranjang Daze--di samping gadis yang sudah menghirup separuh brandy dari gelas di tangannya.

"Ne." jawab Daze. Dia kembali menghirup brandy tersebut sampai tandas.

"Bagus." Rathyan mengulurkan tangannya--mengambil gelas di tangan Daze yang sudah kosong. Kemudian dia memandang ke deretan jendela kaca yang gorden-gordennya tidak ditutup. "Kelihatannya benar-benar akan ada badai salju .. "

Daze mengikuti pandangannya. "Ne. Semoga halmonie tidak menderita karenanya .. "

Rathyan menoleh padanya. Ditepuknya pundak gadis itu. "Tenang saja. Beliau akan sehat-sehat saja. Bukankah keadaannya memang selalu begitu? Pada akhirnya beliau tidak akan apa-apa .., percayalah .. "

Daze mengangguk. "Semoga saja .. "

Kemudian hening seketika. Mereka tidak bersuara. Keadaan mendadak jadi kaku. Rathyan berdeham lalu berdiri dari ranjang. "Kamu harus istirahat sekarang. Aku juga sudah mengantuk .. ," dia menguap--tentu saja kelihatan sangat palsu dan terlalu dipaksakan.

"Memangnya kamu akan tidur di mana?" tanya Daze jengah. "Ranjang Dave sudah dipakai mengikatnya kan? Kamu tidak bisa tidur di situ lagi .. "

Rathyan berjalan ke pintu. "Tidak apa-apa." katanya tanpa berpaling. "Saya dapat tidur di mana saja. Malam ini saya akan tidur di gudang belakang .. "

"Mwo?" Daze tersentak. "Gudang belakang? Kamu serius? Di cuaca seperti ini? Kamu bisa mati membeku nanti .. "

Rathyan tertawa. "Kamu terlalu berlebihan .. "

brukk ... pintu kamar Daze ditutup olehnya, dan keheningan langsung mewarnai kamar bernuansa lembut itu.


***** >< >< *****



 
Daze gelisah dalam tidurnya. Sudah dua jam dia mencoba memejamkan mata tapi tidak berhasil. Berbagai masalah campuraduk dalam pikirannya. Dan yang paling mengelisahkannya adalah keadaan Rathyan di gudang belakang, lantai bawah.

Daze mengejap-ngejapkan matanya. Dia bangkit, kemudian menyandar ke kepala ranjang. Dinyalakannya lampu meja yang berada di meja kecil yang menempel di sisi ranjangnya--keadaannya jadi terang-benderang. Dia melihat jam weker yang terletak di sana--pukul 1 lewat 20 dini hari.

Daze turun dari ranjang tanpa bersuara. Dia meraih sweater panjang yang tersampir di kursi kemudian memakainya, dan juga sandal yang tersedia dekat ranjang, kemudian keluar dari kamar. Dia melangkah ke kamar Dave, membuka pintunya dan melongok ke dalam. Dave tampak tertidur pulas di ranjangnya. Kaki dan tangannya yang terikat tidak terlihat menganggu kenyamanan tidurnya. Daze tersenyum, kemudian menutup pintu itu dengan pelan-pelan. Setelah itu dia turun ke lantai bawah.

Keadaan dalam rumah itu sangat sunyi. Hanya bunyi-bunyi angin yang meniup pohon-pohon dan sisi-sisi jendela yang terdengar. Sampai di lantai bawah, Daze menuju gudang yang berada di belakang rumah. Lampu dalam gudang itu terlihat masih menyala. Daze menghampiri pintu yang terbuat dari kayu itu dan mengetuknya.

"Rath ... ," panggilnya dengan suara serak. "Apa kamu sudah tidur?"

drekkk ...  pintu dibuka dan Rathyan berdiri di hadapannya dengan tubuh mengigil kedinginan.

"A .. ada apa?" tanyanya dengan suara gemetar.

Daze tidak menjawab. Diperhatikannya pemuda itu dengan seksama. Wajah sempurna itu terlihat pucat. Giginya bergemelatuk dan berulangkali dia mengosok-gosok tubuhnya yang terlindungi selimut.

"Ya?" Rathyan mengerak-gerakkan tangannya di depan wajah Daze. "What's going on? Are you ok?"

Daze tersentak. "O!" mulutnya terbuka. "Ne. Gwencanayo." jawabnya cepat.

"O ..," Rathyan mengangguk. "Kalau baik-baik saja, cepat kembali ke kamarmu dan tidurlah!" dia mengerakkan tangan ke depan--bergaya mengusir Daze.

"Hmm--," Daze ragu-ragu. "Apa tidak sebaiknya kamu tidur di dalam?" katanya sambil melirik kesana-kemari.

"Apa?" Rathyan tertawa. "Memangnya saya mau disuruh tidur di mana? Seranjang dengan Dave? Tidak mungkin kan? Dia kan terikat di ranjang itu. Tidak ada tempat bagiku."

Rathyan bermaksud kembali ke dalam gudang ketika Daze berkata mendadak.

"Kamu tidur di kamarku saja."

Rathyan berbalik. Alisnya berkenyit. "Mwo? Tidur di lantai, maksudmu?"

Daze mengeleng. "Anhi. Ti .. dur di ranjangku." katanya dengan gugup.

"Lalu kamu?"

Daze menelan ludahnya. "Maksudku tidur bersama." kemudian dia melanjutkannya dengan cepat. "Saya tidak ingin melihatmu mati kedinginan di sini."

"Tapi ... "

"Tidak ada tapi-tapian." teriak Daze--agak serba-salah. "Masuklah sekarang juga."

Kemudian gadis itu berbalik dan berlari ke dalam rumah. Menaiki tangga--dua tangga sekaligus dan menerjang ke dalam kamarnya. Dia menutup diri rapat-rapat dalam selimut. Menunggu dengan gelisah apakah pemuda itu akan menerima tawarannya atau tidak. Hanya tawaran kemanusiaan. Tidak mungkin terjadi apa-apa.Katanya berkali-kali dalam hati.

  
***** >< >< *****



 
Duapuluh menit kemudian sepasang muda-mudi tersebut berbaring di atas ranjang dengan posisi saling membelakangi. Mata mereka terpejam walaupun tidak mampu memasuki alam tidur. Mereka mendesah bersamaan. Daze bergerak, menjauh dari tubuh Rathyan.

Setengah jam berlalu, mereka masih dalam posisi semula. Daze kembali mendesah untuk kesekiankalinya. Tiba-tiba dia merasa selimut yang menyelimutinya tersibak sedikit, menandakan pemuda di sebelahnya bergerak. Daze melirik lewat sudut matanya. Tapi dia tidak berhasil menangkap apapun karena posisinya memang tidak memungkinkan melihat sesuatu di belakangnya.

Mendadak sebuah tangan yang dingin melingkari bagian pinggang dan perutnya.

"Yaa ... ," Daze bermaksud memprotes tapi sebuah suara yang halus menghentikannya.

"Begini lebih hangat .. ," kata suara itu.

Daze termangu.

"Biarkan saya memelukmu. Boleh kan?"

Daze tidak mampu menjawab. Tubuh Rathyan perlahan merapat ke tubuhnya. Tangannya yang satu lagi menyusup masuk di sela-sela lehernya sehingga sekarang posisi kepalanya terletak di lengan Rathyan. Daze dapat merasakan nafas pemuda itu di rambutnya. Dan juga merasakan kehangatan lengannya di kulit lehernya, begitu juga di bagian pinggang dan perutnya--melalui sweaternya yang agak terbuka.

Daze menoleh perlahan. Dia melihat wajah pemuda itu amat dekat dengan wajahnya. Mendadak Rathyan menarik diri ke atas, bertumpu dengan tangannya di atas ranjang sehingga pandangan mereka bertemu.

Mereka berpandangan dalam kebisuan. Sepasang mata saling menatap. Perlahan tangan Rathyan yang tadi melingkari pinggang Daze bergerak ke atas--menyibak rambut yang menutupi wajah gadis itu. Mata Daze terpejam sehubungan dengan gerakan tangan tersebut. Hatinya berdegup kencang. Sekali lagi dia merasakan perasaan aneh ini. Sebenarnya perasaan apa ini? tanyanya untuk kesekiankalinya.

Lalu dia merasakan sentuhan halus jari pemuda itu di bibirnya. Menyapunya perlahan sampai ke ujung bibir, kemudian kembali lagi ke arah sebaliknya. Daze membuka mulutnya dan mendesah.

Rathyan menunduk kemudian melumat bibir Daze. Semula perlahan, lama-kelamaan semakin memanas. Lidahnya masuk ke dalam mulut gadis itu dan bertaut dengan lidahnya yang lembut. Dipelintirnya lidah Daze kemudian digigitnya dengan lembut bibir bawahnya.

"Ahhh ... ," Daze mendesah dan mendekap tubuh Rathyan.

Pemuda itu menurunkan permainannya. Lidahnya menari-nari dari dagu sampai ujung leher Daze, kemudian kembali lagi ke bibir, lalu ke daun telinga. Daze mendesah semakin keras, diikuti rintihan-rintihan kecil.

"Rath .. ," panggilnya di sela-sela nafasnya yang memburu.

Sesaat Rathyan menghentikan cumbuannya. Kepalanya diangkat dan diperhatikannya Daze dengan seksama. Merasa sentuhan-sentuhan Rathyan lepas dari tubuhnya, Daze membuka mata. Mereka saling berpandangan lagi. Rathyan menghela nafas, kemudian mendaratkan ciuman lengket di jidat Daze.

"Tidurlah!" katanya sambil membaringkan badannya kembali ke atas ranjang.

Mulut Daze terbuka. Sekali lagi dia dibuat mengangga oleh perbuatan pemuda ini. Tadi dia sangat bernafsu. Ciuman-ciuman dan cumbuan-cumbuannya sangat hebat. Tapi sekarang dia mengakhirinya begitu saja dengan ciuman di jidat. Daze menatap Rathyan. Sepasang mata pemuda yang mencumbunya tadi, sudah terpejam. Daze tersenyum perlahan. Dia melingkarkan tangannya di dada bidang Rathyan dan meletakkan kepalanya di lengannya yang masih membantali kepala dan lehernya.

Tanpa sadar, beberapa menit saja, mereka sudah tertidur pulas dengan senyum yang terkembang di bibir.
  

***** >< >< *****



 
Daze bermimpi. Memimpikan banyak hal. Kesehatan halmonie yang secara ajaib sembuh begitu saja. Terus, Han Da' ZeVe tertolong berkat uluran tangan orang tak dikenal. Omma dan appa mengunjunginya di Perth. Dave yang berubah baik. Carlson yang menghubunginya dengan tiba-tiba dan berkata segala sesuatunya baik dan dia akan kembali padanya. Tapi ada satu yang kurang, apa itu? Daze tersentak bangun dari tidurnya.

Dia berpaling ke kiri dan kanan. Apa yang sebenarnya dicarinya? Dia tidak tahu.

"Kamu sudah bangun?"

Pertanyaan itu membuat Daze mengangkat wajahnya. Rathyan berdiri di sana--di samping ranjangnya--dengan dada polos. Dahinya berkenyit.

"Gwencana?" tanya Rathyan.

Daze mengangguk linglung. Mengapa dia pagi-pagi sekali sudah bertelanjang dada? umpatnya dalam hati.

Seperti menjawab pertanyaan Daze, Rathyan berkata, "Saya menggunakan kamar mandimu tadi. Si Ye Jin-ssi sedang membersihkan kamar Dave."

"O .. ," Daze mengangguk.

Rathyan mengibas-ngibaskan kemeja putih di tangannya kemudian memakainya. "Apa kamu tidak lapar?" tanyanya sambil mengancing butang-butang kemeja tersebut.

"Saya akan sarapan nanti. Bagaimana denganmu?"

Rathyan melengkapi penampilannya dengan vest abu-abu dan mantel panjang warna hitam. Sedangkan jeans ketat warna senada membalut ketat sepasang kakinya yang panjang. "Saya sarapan di luar. Pagi ini ada ujian jadi harus segera ke kampus." dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkannya dengan pelan. "Jaga Dave baik-baik. Ikuti perintah-perintah yang telah kuberikan tadi malam."

Daze mengangguk. "Ne .. "

"Kalau begitu saya pergi dulu .. "

Rathyan meraih ransel yang tergeletak di lantai, kemudian menyampirkannya ke pundaknya. Dia sudah sampai di depan pintu ketika dia berbalik lagi ke arah Daze yang baru turun dari ranjang.

"Mwo? Ada yang keting ...?"

Pertanyaan Daze belum habis, bibir Rathyan sudah mendarat di bibirnya.

"Saya akan pulang segera." kata Rathyan di sela-sela nafasnya yang berat. "Saya usahakan secepatnya .. "

Sekali lagi dia mengecup bibir Daze--membuat mulut gadis itu mengangga, setelah itu dia berputar ke pintu--kali ini benar-benar berlalu dari kamar itu.

  
***** >< >< *****
« Last Edit: November 14, 2010, 10:23:35 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
mamii i laph u...mmuach
ane biz sahur eh ada updatetan prikitew... [AddEmoticons04262]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
hahay mami udah updet ternyata  [clap] [clap] [clap]

makasih banyak mi [arms] [arms] [cheekkiss] [cheekkiss]

kasihan banget si dave... pelariannya ke narkoba...

mi... itu... ai pikir bakl terjadi hal yang diinginkan mi... ternyata gak jadi... padahal si dazenya juga udah berharap kan mi... [hmpfh] [hmpfh] [on] [on] *ngarang*

 [lovestruck] [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
hahay mami udah updet ternyata  [clap] [clap] [clap]

makasih banyak mi [arms] [arms] [cheekkiss] [cheekkiss]

kasihan banget si dave... pelariannya ke narkoba...

mi... itu... ai pikir bakl terjadi hal yang diinginkan mi... ternyata gak jadi... padahal si dazenya juga udah berharap kan mi... [hmpfh] [hmpfh] [on] [on] *ngarang*

 [lovestruck] [lovestruck]
[hmpfh] untung si rath masih tahu diri [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
mamii sumpah chap ini so sweet buangeeetttttttt.....
Kaget juga pas daze ngajakin bubu bareng mana sebelumnya minum brandy lagi kirain ada yang bakalan terjadi...[hmpfh]
 mam feelingku mimpi nya daze jadi kenyataan deh,tapi kok g da rathwat...makanya dia langsung bangun n nyari rathwat [hmpfh]
si rathwat t kok bisa ya mam,bis ngkiss2 penuh gairah eh bis t biasa lagii...mana si daze pasrah aja lagi,
mam kau buatku nambah addict ma ne ff [AddEmoticons04235] suer tekewer kewer mi hahaha

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
 [hmpfh] kirain bakalan ada yg begituan [laughing]
eh, ternyata tebakanku salah euy [sweat]
tapi pas baca, bikin merinding stengah mampus deh mi [bav]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]