Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 98962 times)

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 6 update @27 Agustus
« Reply #525 on: September 08, 2010, 04:30:20 am »
belum ada penampakan mami rupanya [heh]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 6 update @27 Agustus
« Reply #526 on: September 08, 2010, 04:41:12 am »
Mami masih semedi kyknya. Nampaknya ni lanjutannya bkl ada something yg bikin anak2 mami kegirangan,hmph hmph hmph betul ga mam?? Ato jgn2 mo sekaligus up date ff duo kembar ,hehehe. Sekalian mau ngucpin to all readers & author yg merayakan : " selamat hari raya idul fitri 1431 h, mohon maaf lahir & bathin", bila ada salah ucap & perbuatan tlg dibukakan pintu maaf,terutama bt mami, yg selalu gw todong update ffnya,hehehe.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 6 update @27 Agustus
« Reply #527 on: September 08, 2010, 05:34:00 am »
oia aku juga mau ngucapin minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin maap ya lox ada kata2 yang kurang berkenan  [yoyopulizietk2]

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 6 update @27 Agustus
« Reply #528 on: September 08, 2010, 06:45:27 am »
Mii, dikau di mana??   
Kt'a ma0 update mlm nie. . . Gk lupa kn mam?     
Ayo mam tunjukkan kehebatan mu. . . Cao!!
     
Update!!
[AddEmoticons04237]
[AddEmoticons04237]

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 6 update @27 Agustus
« Reply #529 on: September 08, 2010, 06:49:37 am »
mami tunjukkan pesonamu!!*take me out made on* [hmff]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 6 update @27 Agustus
« Reply #530 on: September 08, 2010, 06:51:44 am »
sebentar lagi ya [biggrin] gw mau mengucapkan selamat idul fitri dulu bagi yg merayakannya. mohon maaf lahir batin [lovestruck]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 6 update @27 Agustus
« Reply #531 on: September 08, 2010, 06:59:39 am »



Daze mengamati halmonie yang sedang sibuk melahap sarapan dengan nikmat dari seberang meja. Wajah tuanya terlihat segar dan bersemangat pagi ini. Nafsu makannya mengejutkan. Halmonie sudah menghabiskan dua mangkuk bubur yang dimasak Ye Jin. Bahkan sepasang tangan yang biasanya bergetar itu kelihatan sangat luwes. Daze tersenyum perlahan.

"Halmonie tampak baik hari ini .. "

Halmonie mengelap bibir keriputnya dan menyingkirkan mangkuk yang telah kosong ke pinggir meja. Dengan sigap, Ye Jin yang berada di sampingnya segera mengambil mangkuk tersebut dan membawanya ke dapur kemudian mencucinya.

"Kemarin malam halmonie merasa capek--capek sekali ...," kata halmonie dengan suara yang ditahan. "Tapi pagi ini ..., entah mengapa halmonie merasa segar lagi .. " Wajah keriputnya terlihat cerah.

"Mungkin karena istirahat yang cukup tadi malam .. ," ujar Daze sambil tersenyum manis.

Halmonie mengangguk. "Mungkin juga .. ," jawabnya perlahan.

Sekilas Daze menangkap kegelisahan terselip di wajah halmonie. Tapi hanya sesaat dan tidak kentara.

"Ada yang halmonie khawatirkan?" tanya Daze ragu-ragu.

Halmonie bergeser sedikit dari kursinya, kemudian berdiri dengan posisi agak miring.

"Tidak juga .. ," jawab halmonie. "Hanya saja ... ," lanjutnya pelan. Perkataannya berhenti sampai di situ.

"Hanya apa?"

Halmonie menghela nafas--menyemburkan uap-uap tebal ke udara. "Dongsengmu ... ," katanya di sela-sela nafasnya yang agak sesak. " ... entah apa yang dilakukannya selama sebulan ini?"

Daze tertegun. Jadi masalah ini yang mengelisahkan halmonie? Jadi beliau juga mengkhawatirkan Dave walaupun tidak memperlihatkannya selama ini?--sifat cuek dan tidak senang ketika ada orang yang menyinggung nama Dave.

Daze mendekati halmonie dan memeluknya. "Halmonie jangan khawatir. Dave baik-baik saja. Dia sudah menghubungiku kemarin--kalau selama ini dia tinggal di rumah temannya. Konsentrasi belajar buat ujian akhir semester .. " Daze mengigit bibir bawahnya setelah mengutarakan kebohongan-kebohongan ini. Tapi apa lagi yang dapat dilakukannya selain perkataan-perkataan ini?

"Jeongmal?" Halmonie memandaginya penuh harap.

"Ne." sahut Daze.

"Syukurlah .. ," halmonie mengelus dadanya. Kemudian dia mengamati Daze yang sedang tersenyum padanya. "Jujur saja .. ," kata halmonie dengan nada cerah. " .. kamu juga kelihatan lain akhir-akhir ini, Dazya .. "

Pipi Daze perlahan merona merah. "Apa maksud halmonie?" tanyanya risih.

"Entahlah .. Hanya perasaan halmonie saja .. ," jawab halmonie dengan suaranya yang bergetar. "Dan halmonie berharap .. kamu akan selalu begitu. Bahagia selamanya, Dazya .. "

Daze tertawa kikuk, "Memangnya saya pernah kelihatan tidak bahagia?"

"Ada." jawab halmonie sambil menatapnya lekat-lekat. "Beberapa waktu yang lalu. Halmonie tidak ingat lagi kapan itu. Yang jelas kamu terlihat sedih dan tidak berkata apa-apa. Jangan berbohong padaku, sayang. Halmonie tahu segalanya .. "

"Hmm--," Daze terdiam dan tidak sanggup berkata lebih lanjut.

Halmonie mengelus lengannya dengan lembut, kemudian bergerak perlahan-lahan dengan tongkat di tangannya.

"Halmonie mau ke mana?" Daze berbalik menghadapi halmonie.

Wanita tua itu menjawab tanpa menoleh padanya. "Kebun belakang, sayang. Halmonie ingin melihat nasib mawar-mawar kesayanganmu .. "

"Tapi salju belum dibersihkan .. ," seru Daze sambil mengikuti langkahnya.

"Jangan khawatir, halmonie hanya melihatnya dari dalam rumah .. ," jawab halmonie tanpa menghentikan langkahnya.

"Saya ikut!!" teriak Daze.

Tapi langkahnya terhenti ketika Ye Jin tiba-tiba menyelip di hadapannya.

"Agashi!"

"Ada apa?" tanya Daze dengan kening berkenyit. "Bisa dibicarakan nanti saja Ye Jin-a? Saya harus menemani halmonie sekarang. Terlalu berbahaya membiarkannya berkeliaran di luar sana .. "

"Sebentar saja, agashi .. ," pinta Ye Jin. "Ini mengenai pemuda yang kemarin malam .. "

Langkah Daze yang sudah digerakkan terhenti. "Rath?"

"Agashi mengenalnya?" tanya Ye Jin. "Pagi ini--ketika saya membersihkan kamar doronim, dia masuk ke dalam kamar. Saya curiga dia tinggal di kamar itu bersama doronim karena dia mengambil pakaian dari dalam lemari .. "

Daze mengigit bibirnya dan berpikir. Setelah mengambil keputusan dia berkata, "Dia memang tinggal di sini."

"Mwo? Chinja?" mata Ye Jin terbelalak lebar. "Sejak kapan?"

"Beberapa hari yang lalu." sahut Daze asal-asalan. "Dia sahabat Dave dan saya minta bantuannya mencari anak itu. Tapi halmonie tidak tahu. Jadi saya harap kamu tidak menceritakannya .. "

Ye Jin mengangguk. "Jadi begitu ceritanya .. ," gumamnya pelan. "Tapi agashi .. mengapa tidak boleh menceritakannya pada halmonie?" Ye Jin bertanya lagi.

"Itu karena .. ," Daze memutar otak sekeras-kerasnya guna mendapatkan jawaban yang tepat. ".. halmonie .. hmmm--kamu tahu sendiri kan keadaan Dave?" kata Daze dengan mata berbinar. "Bukan keberadaan Rath yang saya khawatirkan melainkan Dave .. "

"O araso .. ," ujar Ye Jin--mengerti. "Saya akan merahasiakan ini, agashi .. "

"Bagus." ditepuknya pundak Ye Jin. "Gumawo, Ye Jin-a. Sekarang saya akan menyusul halmonie. Nanti kamu ke lantai atas--periksa keadaan Dave."

"Ne."

Daze tersenyum pada Ye Jin, kemudian berlari-lari kecil menyusul halmonie yang sudah menghilang beberapa menit yang lalu.


========== ### ==========



Rathyan berhenti di samping taman belakang Han's mansion. Saat itu sudah malam--sekitar pukul 8. Dia mendengus. Sepatu bootnya lengket oleh salju. Dengan kesal disepak-sepakkannya gumpalan-gumpalan salju yang menempel di sepatunya ke dinding. Selang waktu beberapa menit dia berkutat dengan salju-salju menyebalkan itu. Dia menghembuskan nafas setelah sepasang sepatunya agak bersih dari gumpalan-gumpalan lengket tersebut. Kemudian diiperhatikannya keadaan sekelilingnya. Pemandangan di sekitarnya terselimut salju--semuanya. Menghampar luas--Putih dan lembut bak lautan kapas.

Rathyan mengedarkan pandangannya ke halaman depan yang agak tertutup oleh rumpun-rumpun cemara. Keningnya berkerut perlahan. Samar-samar dia melihat dua sosok sedang mondar-mandir di serambi depan. Rathyan menajamkan pandangannya. Matanya menyipit.

"Natalie Park .. ," gumamnya begitu berhasil mengenali salah seorang dari mereka.

Rathyan berbalik dari niat semula, yaitu memanjat tanaman rambat yang tumbuh di situ. Dengan langkah lebar dia mendekati dua sosok yang makin lama makin terlihat jelas olehnya.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Rathyan dengan nada dibuat sepelan mungkin. Dia tidak ingin orang-orang rumah mendengar percakapannya.

Kedua orang itu tampak tersentak--kaget. Mereka menoleh bersamaan. "OH,, RATHYAN JANG!!" seru mereka.

Rathyan segera mengerutkan alisnya. "Jangan seribut itu!"

"Miane .. ," kata cewek bergaun lebar--Natalie Park. Sedangkan cewek satunya mencibirkan bibir dengan ekspresi mengejek.

"Mengapa kalian sampai ke sini?" tanya Rathyan tajam. Setelah melirik sekilas cewek yang tidak diingat namanya, dia beralih pada Natalie. "Bukankah sudah kukatakan Dave yang akan mendatangimu?"

Natalie mengangguk dengan segan. "Memang. Dia sudah mendatangiku." suaranya terdengar bergetar. "Dan dia berjanji menemuiku tiga hari yang lalu. Tapi sampai sekarang dia belum muncul. Saya takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Jadi .. saya mendatanginya di sini. Saya terpaksa .. Tidak ada jalan lain .. "

"Nat ... ," cewek di sebelahnya tiba-tiba menepuk pundaknya. "Kamu tidak bersalah jadi kamu tidak perlu takut." dia berpaling pada Rathyan dengan jengkel. "Lihat--dia bilang tidak mengetahui keberadaan kekasihmu, tapi ternyata dia tinggal di sini .. "

Tampang Rathyan berubah keras. "KAMU--," dia menunjuk gadis itu tapi ucapan selanjutnya tidak keluar. "Namamu siapa? Saya lupa .. "

"Mwo?!" teriak gadis itu--tak percaya. "Kamu sungguh memuakkan!" dengusnya marah. "Dengar baik-baik! Namaku Gretchell Park, dan aku tidak akan mengulanginya lagi sekalipun kamu lupa!"

Rathyan mengangkat bahunya. "Terserah!" katanya. "Mengenai keberadaan Dave waktu itu, saya benar-benar tidak tahu .. "

"O ya?" Gretchell mencibir. "Lalu bagaimana sekarang--kamu mengetahuinya?"

"Itu .. "

Ceklikk ... , pintu depan yang dibuka dari dalam menghentikan perkataan Rathyan. Wajah Daze nonggol dari balik pintu.

"Rath? ," panggil gadis itu. Suaranya terdengar lembut dan mengandung ... kerinduan "Kamu sudah pulang, mengapa lama .. ," perkataannya terputus ketika mendapati keberadaan orang lain di sebelah Rathyan.

Diperhatikannya kedua gadis itu satu-persatu, kemudian beralih pada Rathyan. "Dhuga?"

"Ehmm--," pemuda itu berdeham halus membersihkan tenggorokannya. "Ini Natalie Park-- .. kekasih Dave .. ," katanya pelan, kemudian tangannya beralih ke Gretchell. "Sedangkan dia, Gretchell Park--sepupunya .. " kemudian dia beralih pada Gretchell dan Natalie. "Ini noonanya Dave, Daze Han .. ," katanya--mengenalkan Daze pada mereka.

"O .. ," Daze mengangguk. "Jadi kamu kekasih Dave?" dia bertanya pada Natalie Park yang segera menganggukkan kepalanya.

"Anyongheseyo onnie .. "

"Anyong .. ," balas Daze sambil tersenyum lembut. "Senang bertemu denganmu Nat." lalu dia berpaling pada Gretchell, "Anda juga Gretchell. Selamat datang di kediaman kami .. "

Gretchell langsung membuang wajah. "Saya hanya menemani Nat ke sini." katanya ketus. "Anda tidak perlu terlalu santun padaku."

"O .. ," Daze mengangga. Dia tidak mengira akan mendapat perlakuan seketus ini. Matanya terbelalak lebar--kaget. Apa salahku? batinnya--tak mengerti.

Dan dia hampir syok oleh perlakuan Gretchell selanjutnya. Gadis bergaun pendek yang ketat itu mendadak menarik kerah kemeja Rathyan sehingga tubuh jangkungnya oleng ke samping--menyenggol tubuhnya sendiri.

"Jadi benar-kan kamu tinggal di sini, pemuda angkuh?!" tanya Gretchell dengan suara keras.

"Yaa--!!" Rathyan segera menarik diri kembali. Dia menoleh pada Gretchell dengan tampang garang. "Sudah berapa kali saya memperingati kamu! Jangan sekali-kali berulah begini lagi. Saya paling benci kamu mendadak menarik bajuku--ataupun menyentuhku!"

Tanpa disadari, Daze memandangi mereka dengan ekspresi keras. Bibirnya terkatup rapat.

"Cih--," Gretchell langsung mencibir.

"Dan juga ... ," lanjut Rathyan tanpa memperdulikan tampang jutek Gretchell. "Apa mau kalian selain mencari Dave?"

Sebelum menjawab pertanyaan Rathyan, Gretchell menarik gaunnya yang agak miring, kemudian merapatkan jaket kulitnya di depan dada. "Kami ingin mendiskusikan kehamilan Nat dengan keluarga Dave .. ," kata Gretchell dengan nada ringan.

"MWO?!" Daze yang belum hilang dari keterkejutannya akibat interaksi Rathyan dan Gretchell sangat terkejut dengan berita mendadak ini. "Apa katamu? Kehamilan Nat? Maksudnya ... ," dia mengangkat wajah--menatap Gretchell lekat-lekat. Masalah tadi--yang sempat membuatnya marah, terlupakan begitu saja. ".. bayi Dave ...?"

Gretchell mengangguk mantap. Tidak diperdulikannya tarikan tangan Natalie di lengannya. Ataupun pandangan tajam dari Rathyan.

"Mengapa .. bisa begini?" tanya Daze agak bergetar. "Dave ... Dave tidak pernah menceritakannya padaku .. "

"Tentu saja tidak." sela Gretchell ugal-ugalan. "Mana mau dia menceritakan aib yang sudah dibuatnya!"

"SUDAH!!! CUKUP, GRETCHELL PARK!" bentak Rathyan tiba-tiba. Dia menyelip di antara Daze dan Gretchell--menghadapi Gretchell dengan mata yang memancarkan api amarah. "Kamu tidak perlu menyindir seperti ini. Masalah ini bisa dibicarakan baik-baik." Kemudian dia berbalik kepada Daze. Meraih tangan gadis yang sedang tertekan itu, dan menurunkan volume suaranya. "Semua akan beres, Dazya. Kita tanyakan pada Dave apa rencananya selanjutnya .. "

Daze yang sedang menundukkan kepalanya--mengangkat wajah perlahan. Pandangannya kelihatan menerawang. "Tanyakan pada Dave?" tanyanya--linglung.

"Ne." jawab Rathyan. Digoyangnya tangan gadis yang masih dipegangnya itu. "Gwencana?"

"RATHYAN JANG!!" teriakan keras tiba-tiba terdengar.

Rathyan menoleh. Gretchell sudah berdiri di belakangnya. Sangat dekat sehingga dagunya bertabrakan dengan kening cewek itu.

"Yaishh!!" teriak Rathyan. Tangannya memegang dagunya yang terasa perih dan mengelus-ngelusnya. Dagunya memerah--tapi jidat Gretchell tidak kalah parah darinya. "KAMU INI--" seru Rathyan dengan nafas memburu. Sedangkan Gretchell terlihat meringis kesakitan. "Bisa tidak kamu jangan urakan begini?!!"

"APANYA?" balas Gretchell--tidak kalah keras. "Lihat jidatku!! Kalau kamu tidak setinggi ini, jidatku tidak akan bernasib seperti ini!" sambungnya dengan nada menyalahkan.

"MWO?!" mata Rathyan terbelalak lebar. "Kamu--sungguh tak bisa dipercaya!!"

Brakkk!! ... , pintu yang digebrak dengan tiba-tiba mengejutkan mereka--tidak saja Rathyan dan Gretchell yang sedang beradu mulut, tapi juga Natalie yang berdiri di tempat dengan posisi menunduk. Semua langsung menoleh ke arah pintu. Daze berdiri di sana dengan kepalan tangan yang memerah. Bibirnya terkatup rapat. Nafasnya agak memburu sedangkan matanya tak berkejap.

"What's .. what's ..  going on?" tanya Natalie gagap.

Daze mengigit bibirnya. Dia mengatur pernafasannya dengan susah payah. Terlihat jelas emosinya tidak terkendali. Sepasang pipinya merona merah--sangat merah.

"Ada apa dengannya?" Gretchell bertanya. Alisnya berkerut dengan perasaan tidak senang. "Salah minum obat ya?"

"TUTUP MULUTMU!!" bentak Rathyan--mengejutkannya. "Apa hakmu berkata begitu?"

"CUKUP!" seru Daze tiba-tiba. Suaranya terdengar lantang sehingga semuanya langsung terdiam--termasuk Rathyan. Daze memutar tubuhnya sedikit dan mendekati Natalie. "Kita bicarakan di dalam saja. Saya yang akan mewakili Dave. Untuk sementara Dave tidak bisa mengambil keputusan buat masalah ini .. ," kata Daze dengan suara dibuat setenang mungkin. "BUKAN! BUKAN KARENA DAVE TIDAK MAU BERTANGGUNG-JAWAB!" sambungnya cepat begitu melihat ekspresi putus asa dari Natalie. "Hanya .. hanya kesehatannya yang tak mengijinkan .. "

"Oh, dia sakit?" seru Natalie khawatir. Tangannya menbekap mulutnya yang terbuka, sedangkan sepasang matanya terbelalak lebar. "Dia .. dia tidak apa-apa, kan?"

"Tidak. Dia .. baik-baik saja .. Hanya flu biasa kok. Tapi walaupun begitu sebaiknya kamu menghindarinya. Tidak baik buat bayi dalam kandunganmu ..  ," jawab Daze pelan.

"O syukurlah ... ," Natalie mengelus-ngelus dadanya--lega begitu mendengar penjelasan Daze.

"Sekarang masuklah. Kita bicarakan di dalam."

Daze menuntun Natalie masuk ke dalam rumah. Melewati Rathyan yang menatapnya--tanpa berpaling sekalipun. Sedangkan Gretchell mendengus perlahan begitu Rathyan memutar tubuh dan mendelik padanya dengan tajam.       

   
========== ### ==========



"Agashi ... ," Ye Jin menahan nafas begitu melihat Daze memasuki ruang tengah sambil membimbing seseorang. Pemuda yang dilihatnya kemarin malam karena membawa Dave pulang dan seorang gadis asing lainnya mengikuti dari belakang.

"Sssttt!!" Daze memberi isyarat dengan mulutnya. "Nanti saya jelaskan." sambungnya sambil melirik kesana kemari. "Mana halmonie?"

"Beliau sudah kembali ke kamarnya." sahut Ye Jin--masih dengan pandangan bertanya.

Daze mengangguk. "Bagus." perlahan dia menghembuskan nafas lega. "Lalu bagaimana keadaan Dave?" tanyanya dengan nada pelan.

"Doronim sudah tidur setelah kejang-kejang dan berteriak-teriak tadi. Saya sempat menyumpat mulutnya karena takut ketahuan halmonie .. ," kata Ye Jin dengan nada menyesal.

Daze mengangguk. Dia merasakan kepedihan itu seperti Ye Jin. Tapi dia tidak ingin memperlihatkannya mengingat kondisi Natalie yang sedang mengandung bayi Dave. Daze memegang tangan Ye Jin dan berkata, "Sekarang tolong siapkan beberapa minuman buat kami, Ye Jin-a!" perintahnya. "Hmm--sepoci teh saja, jangan minuman beralkohol .. ," sambung Daze dengan mengangkat tangannya--begitu mengingat kandungan Natalie yang tidak baik mengkonsumsi alkohol.

"Ne, agashi .. ," Ye Jin berlalu dari ruangan itu.

Rathyan, Daze, Natalie dan Gretchell kemudian mengambil posisi masing-masing dalam ruang tamu itu. Rathyan dan Daze duduk saling berhadapan. Sedangkan Gretchell duduk di samping Rathyan dan Natalie di samping Daze. Begitu menjatuhkan diri di sofa, Rathyan terus mengamati Daze. Tapi gadis itu tidak memandangnya sama sekali. Berulangkali dia melempar pandangan di jendela kaca di belakang pemuda itu. Ataupun menatap Natalie dengan senyuman kaku. Ruangan tersebut menjadi sunyi sehabis ditinggal Ye Jin. Tidak ada seorangpun yang membuka suaranya sampai Ye Jin memasuki ruangan dengan sepoci teh dan beberapa cangkir dalam nampan sepuluh menit kemudian.

Ye Jin meletakkan nampan di tangannya di atas meja bundar dari marmer putih yang dikelilingi beberapa sofa pendek yang sedang diduduki majikan beserta tamu-tamunya. Diedarkannya cangkir-cangkir dalam nampan ke hadapan mereka, kemudian menuang teh dalam poci ke dalam cangkir-cangkir kosong tadi. Setelah itu dia membungkukkan badannya dengan hormat lalu keluar dari ruangan tersebut.

"Emm--silahkan di minum tehnya .. ," kata Daze--memecah kebisuan di antara mereka.

Tanpa dikomando, semua orang dalam ruangan itu meraih cangkir masing-masing dan mereguk tehnya. Cangkir-cangkir diletakkan kembali di atas meja dalam waktu bersamaan.

"Apa bisa dimulai pendiskusian penting ini .. ," Gretchell berkata--ia terlihat bosan.

"Tentu!" sahut Daze lantang--mengejutkan orang-orang dalam ruangan itu. Gadis di depannya mengerutkan alisnya. Mata Natalie melebar, sedangkan Rathyan menatapnya lekat-lekat.

"Jadi ... bagaimana?" Natalie mengeluarkan suaranya perlahan-lahan. "Apa .. apa yang harus kami lakukan? .. Saya tidak akan mengugurkannya--TIDAK AKAN!" dia menekan di kata-kata terakhir. Kemudian mengeleng keras-keras. "TIDAK AKAN .. "

"Tenang saja, Nat .. ," Daze menepuk-nepuk punggung tangan Natalie untuk menenangkannya. "Tidak ada yang memaksamu mengugurkannya .. ," dia tersenyum. "Paling tidak, saya orang pertama yang akan melarangnya .. "

"Chinja?"

Daze mengangguk. "Tentu saja .. " kemudian dia mengelus perut Natalie yang terbungkus gaun. "Saya merasa .. sudah mencintainya .. "

"Ho ho .. Lucu sekali .. ," Gretchell tiba-tiba tertawa sumbang. "Memangnya kamu punya hak mengambil keputusan buat dongsengmu?"

Wajah Daze mengeras. Perhatiannya teralih dari perut Natalie ke gadis di hadapannya. Ditatapnya Gretchell dengan pandangan menusuk. "Dengar nona Park! Saya punya hak seutuhnya buat masalah ini. Dave belum cukup umur jadi mau menikah ataupun bertunangan lebih dahulu, saya yang akan mengambil keputusan buatnya."

"O ya?" Gretchell mencibir. "Tapi benar juga .. kamu kan noonanya .. ," lanjutnya dengan senyum mengejek. "Berapa usiamu, onnie?"

"GRETCHELL PARK!!" Rathyan berseru mendadak. "APA MAKSUDMU BERTANYA BEGITU?" pandangannya mengobarkan bara api--seakan mau membakar Gretchell saking marahnya. "KAMU MAKIN KETERLALUAN, TAHU?!"

"Cih!!" Gretchell tak terlihat gentar. Dia membalas pandangan Rathyan, kemudian mencondongkan badannya. "Mengapa kamu selalu membela dia?" tanyanya dengan nada menyelidik.

"Ehmmm---," Daze terbatuk perlahan sehingga semuanya menoleh padanya. "Sebaiknya kita kembali ke pokok persoalan ... ," katanya, berusaha mengalihkan perhatian dari pertanyaan Gretchell yang mendadak membuatnya risih--ENTAH MENGAPA.

"Jadi .. bagaimana, onnie?" tanya Natalie dengan suara bergetar.

Daze berpaling padanya. "Seperti yang onnie katakan tadi." katanya sambil tersenyum. "Onnie akan menjaga kandunganmu. Apapun keputusan Dave, onnie tidak akan membiarkannya mengugurkannya."

"Chinja?"

"Ne."

"Tapi apa kamu yakin bisa mengendalikan dongsengmu?" Gretchell mengajukan pertanyaannya.

Daze menoleh padanya. Dan entah mengapa tampangnya langsung berubah kaku. Berlainan dengan sikapnya pada Natalie, sekarang dia menekan kata-katanya satu-persatu dengan nada dingin. "Dia akan mendengarkanku. PASTI."

Gretchell mengangkat bahunya. "Ok." katanya cuek. "Kita lihat saja apa rencanamu sekarang."

Daze menghela nafas. "Saya akan menemui orangtua Natalie besok dan mendiskusikan masalah ini dengan mereka."

"Tidak perlu!" sela Gretchell.

"Mwo?"

"Saya bilang tidak perlu!"

"Mengapa?" tanya Daze--tak mengerti.

"Karena orangtua Natalie sudah meninggal beberapa tahun yang lalu." jawab Gretchell yang langsung disambut pejaman mata Natalie. Wajah gadis itu jadi sendu.

Daze langsung menoleh padanya. Dia ikut sedih. Tiba-tiba dia teringat pada halmonie. Entah apa jadinya jika halmonie sampai meninggalkannya seperti yang dialami Natalie. Dia mungkin akan terpuruk--lebih dari gadis ini.

"Miane .... ," kata Daze berupa desahan.

Natalie mengangkat wajahnya. Dia berusaha tersenyum kemudian mengeleng perlahan. "Tidak apa-apa, onnie. Saya sudah biasa .. "

Daze mengangguk. Ditepuk-tepuknya lengan gadis itu sebagai penghiburan.

"Sekarang orangtuaku yang bertanggungjawab atas kehidupan Natalie." Gretchell berkata. "Mereka yang akan mengambil keputusan buat masalah ini. Karenanya--kamu, sebagai wakil Dave, perlu mendiskusikannya dengan orangtuaku ..."

Daze menyimak semua perkataan Gretchell. Walaupun hatinya masih kesal padanya--dan untuk kesekiankalinya, dia tidak tahu mengapa--dia memberikan tanggapan juga. "Baik. Itu tidak masalah nona Park. Saya akan mendatangi orangtua anda lusa nanti. BERSAMA DAVE."

"Bagus." Gretchell tersenyum simpul. "Kami menanti kedatangan anda. JANGAN LUPA MEMASTIKAN DONGSENGMU MAU MENGAMBIL TANGGUNGJAWAB INI." kemudian dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Lalu bagaimana dengan orangtua kalian?"

"Mereka tidak bisa hadir dalam diskusi ini." jawab Daze dengan nada menyesal. "Mereka masih di Korea, sedangkan kesehatan halmonie tidak mengijinkan untuk mengetahui masalah ini. Belum saatnya maksudku .. ," dia segera mengoreksi perkataan yang mula-mula keluar dari mulutnya begitu melihat wajah Gretchell berkerut. "Sedangkan tentang Dave, kalian tidak perlu khawatir. Saya akan memastikan dia menerima tanggungjawab ini!"

"Ok." Gretchell menegakkan badannya. Dia tersenyum pada Natalie yang duduk di hadapannya. "Kamu dengar itu, dongseng-a? Keluarga Han akan bertanggungjawab terhadap bayi dalam kandunganmu .. "

"Ne, onnie .. ," jawab Natalie dengan sepasang pipi semburat merah. Dia menunduk perlahan. Kelihatan malu-malu, tapi terlihat jelas dia sangat bahagia.

Gretchell menepuk kedua pahanya kemudian berdiri dari sofa. "Kalau begitu kita pamit sekarang, Nat .. ," katanya pada Natalie. Setelah adik sepupunya itu berdiri, dia menoleh ke arah Rathyan yang masih duduk bersidekap di sofa--di sebelahnya. "Hey pemuda angkuh .. ," panggilnya sambil menyolek dagu pemuda itu.

Rathyan sangat terkejut. Dia berusaha menghindar tapi colekkan selanjutnya kembali mendarat di dagunya sebelah kanan, dekat telinga. "Yaishhh--sudah kubilang .. "

"Jangan menyentuhmu, kan?" sela Gretchell sambil  tersenyum mengejek. "Kamu selalu ngomong begitu!!"

"KAMU INI--," wajah Rathyan merah padam. Kata-katanya terpotong dan tak mampu dilanjutkan. Perlahan dia mengalihkan perhatian ke depan. Dan .. betapa terkejutnya dia begitu mendapati pandangan menusuk dari Daze. Untuk pertamakalinya dia melihat ekspresi gadis itu seperti ini.

"KAMU APA?" tanya Gretchell dengan keras. "Tidak bisa dipercaya? Itu lagi yang ingin kau katakan? Cihh--," dia mencibir.

Rathyan menoleh padanya. Gerahamnya mengatup dengan rapat. Dia tidak bersuara dan hanya menatap cewek itu dengan pandangan dingin--emosinya berhasil dikendalikan dalam sekejap.

"Dengar Rathyan Jang!" lanjut Gretchell dengan senyum terkembang di bibirnya. "You're my destination!" tubuhnya condong ke depan. Membuat Rathyan langsung menyusut ke sandaran sofa di belakang. "Arata?"

"Mwo?" tanya Rathyan pelan. Keningnya berkenyit perlahan. "Are you crazy? You think--who are you can make this decision for me?"

"I'm Gretchell Park." Gretchell membusungkan dadanya. "The great Gretchell Park." lanjutnya dengan nada bangga. "Kamu tahu berapa pria berusaha mendapatkan perhatianku dan tidak kuhiraukan?"

Rathyan tertawa hambar. "O ya? Tapi itu tidak ada urusannya denganku!"

"Karna itu saya menyukaimu!" sahut Gretchell. "Kamu lain dari yang lain .. "

"Itu hanya rasa penasaran, nona. Bukan perasaan suka, apalagi cinta .. "

Gretchell mengangkat bahunya. "Terserah. Yang jelas, saya menginginkanmu sebagai pacarku!"

"Onnie .. ," sela Natalie begitu keadaan dirasakan semakin memanas. "Apa tidak sebaiknya kita pulang sekarang?"

Gretchell menoleh padanya. Melihat wajah pucat Natalie, akhirnya dia mengangguk. "Baiklah." Kemudian dia menghadapi Daze yang dari tadi tidak mengeluarkan suaranya. "Onnie, kami pamit. Sampai ketemu lusa nanti .. "

Daze mengangguk dengan tampang dingin. Kemudian dia membuang muka ke arah lain. Sedangkan Gretchell, hanya tersenyum penuh kemenangan melihat keadaan itu. "Apa onnie mengantar kami ke luar?"

Daze menoleh padanya--mengangga. Dia tidak menyangka cewek bengal di hadapannya akan mengeluarkan permintaan seperti ini.

"Bagaimana, onnie?" ulang Gretchell--menantang.

Tangan Daze terkepal, kemudian dia berdiri dari tempatnya. "Tentu saja. Saya yang akan mengantar kalian keluar .. "

"Bagus .. ha .. ha .. ," Gretchell tertawa renyah. "Lalu bagaimana denganmu Rathyan Jang?"

"Apanya?" Rathyan yang sedang menatap nanar meja di depannya mengangkat wajah perlahan.

"Kamu tidak pulang?" selidik Gretchell. "Atau .. memang benar kamu tinggal di sini?"

"Saya rasa tidak ada urusannya denganmu!" ujar Rathyan ketus. Dia berdiri dari sofa, kemudian berlalu dari hadapan mereka. Keluar dari ruangan tersebut, dia naik ke lantai atas--kembali ke kamar Dave.

"Ada apa dengannya?!" Gretchell masih mematung di tempat sambil menghadapi pintu ruang tengah yang terbuka. Sosok Rathyan sudah lenyap dari situ beberapa detik yang lalu.

"Di sini, nona-nona .. ," Daze menyilahkan--menyadarkan Gretchell dari ketermenungannya. Daze mendahului mereka keluar dari ruangan itu--tanpa berpaling lagi. Gretchell menatap Natalie. Mereka mengangkat bahu secara bersamaan, kemudian mengikuti langkah Daze meninggalkan ruang tengah tersebut.

 
========== ### ==========



Daze menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan ekspresi keras. Dia sangat marah! Benar-benar marah! Rasanya ingin memukul orang. Entah mengapa dia merasa ada sebongkah batu yang sedang menghimpit dadanya sekarang ini. Menyesakkannya sehingga sulit untuk bernafas. Dia meraih bantal yang tergolek di pinggir ranjang, kemudian memukulnya bak kantung pasir. Makin lama makin keras. Bukk .. bukkk .. bukkkk ...

"Yaihssss!!" teriak Daze. Dilemparkannya bantal tersebut ke sudut ruangan. Nafasnya terengah-engah.

Tidak disadarinya kehadiran Rathyan di ambang pintu kamarnya yang tak tertutup.

"Wegude?" tanya pemuda itu--keras.

Begitu mengejutkan sehingga Daze tersentak di ranjangnya. Dia menoleh ke arah Rathyan. Rambutnya yang panjang sampai ke pinggang terlihat berantakan. Sebagian menutupi wajah dan lehernya. Dengan cepat dia mengibaskan rambutnya ke belakang dan memunggungi pemuda itu.

"Tidak apa-apa. Kamu keluarlah!!" kata Daze dengan nafas tertahan.

Rathyan mengejap-ngejapkan matanya--tidak mengerti dengan tingkah gadis ini. Diperhatikannya punggung Daze. Kemudian dia bergerak sedikit--menurunkan kedua tangannya yang bersidekap di depan dada.

"Sikapmu agak aneh hari ini .. "

"Aneh bagaimana?" seru Daze dari posisinya.

"Ya .. aneh .. ," Rathyan memasuki kamar Daze kemudian menjatuhkan diri di pinggir ranjang--di belakang gadis yang masih memunggunginya. "Pertamakalinya saya melihatmu seemosi ini .. ," lanjutnya. "Apa karena masalah Dave?"

Daze tersentak ketika sebuah tangan tiba-tiba melingkari lehernya.

"Bukankah masalah itu sudah terselesaikan?" kata Rathyan di sela-sela daun telinga Daze. "Natalie bersedia menerima usulmu. Sekarang tinggal menemui wakilnya--orangtua Gretchell .. "

"Yaa--," Daze mendorong Rathyan dengan punggungnya sehingga lingkaran tangannya terlepas dari lehernya. Nama Gretchell yang disebutkan begitu dekat di telingannya membuat emosinya meledak seketika. "Jangan sekali-kali menyentuhku lagi!!"

"WEE?! Ada apa denganmu?" alis Rathyan berkerut perlahan.

Daze sekarang sudah berhadapan dengannya. Mata gadis ini memerah dan terlihat dia sangat murka.

"Wegude?"

"Urusan keluargaku tidak ada sangkut-pautnya denganmu, jadi saya minta dengan sangat, kamu jangan mencampuri urusanku, Mr. Jang!!"

"Heyy what's going on?"

"Urus saja masalahmu dengan nona Park!!" lanjut Daze ketus.

"Nona Park? Maksudmu Gretchell Park?"

"Apa kamu ada urusan dengan Natalie Park?" Daze balas bertanya.

"Maksudmu?" tanya Rathyan tak mengerti. Keningnya berkerut semakin dalam. Diperhatikannya Daze. Emosi gadis ini terlihat makin memuncak.

Tiba-tiba Rathyan tertawa ngakak ketika sebuah pikiran melintas di otaknya. "Kamu .. ," disentuhnya wajah Daze yang segera menyusut dari posisinya. "Cemburu pada Gretchell Park?"

"MWO?!!" Daze berteriak keras. "HA .. HA .. HA .. LUCU SEKALI .. ," dia jadi risih. "Mana mungkin saya cemburu padanya! Memangnya kamu siapa bagiku? Kamu hanya teman dongsengku! Saya noonamu tahu? .. ha ... ha .. "

Rathyan langsung meloncat dari ranjang. Mengejutkan Daze yang masih tertawa-tawa palsu di tempatnya. Tampang pemuda itu mengeras dan tangannya terkepal erat. Dia menelan ludah kuat-kuat. Terlihat jelas dia sedang menahan perasaan dengan susah payah. Perlahan dia memutar tubuh sambil berjalan dengan langkah lebar ke arah pintu.

"Hey,, mau ke mana?" seru Daze. Suara ketawanya lenyap saat itu juga.

Rathyan berhenti tepat di ambang pintu. Dia menoleh pada Daze tapi tidak bergerak. "Saya tidak suka kamu berkata seperti itu!" sahutnya dingin. "Walaupun saya seumuran Dave dan kamu .. benar lebih tua dariku karena kamu noona Dave tetap saya tidak mau punya seorang noona sepertimu .. Cukup satu noona seumur hidupku--yaitu noonaku sendiri!" Setelah itu Rathyan keluar dari ruangan tanpa berpaling lagi pada Daze.

Daze mengangga di tempatnya. "Yaa--bukankah seharusnya saya yang marah?! Mengapa terbalik kamu yang menceramahiku?!" teriak Daze setelah tersadar dari lamunannya. Dilemparnya bantal satunya lagi ke arah pintu--tentu saja mengenai angin kosong karena Rathyan sudah menghilang dari ruangan itu.


========== ### ==========



Daze memasuki kamar Dave. Ditariknya tali gorden jendela kemudian membuka kacanya sehingga sinar mentari pagi langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Dia memutar tubuh dan berjalan ke arah ranjang. Dave yang masih terikat di atas ranjang mengejap-ngejapkan matanya begitu sinar menyilaukan terasa menusuk-nusuk bola matanya. Dia bergerak ke kiri dan kanan sedangkan tangannya mengesek-ngesek tambang kecil tapi kuat yang mengikatnya.

Daze sampai di sebelah Dave. Diperhatikannya sebentar dongsengnya itu, kemudian pandangannya menyapu seluruh sudut ruangan. Tidak didapatinya keberadaan Rathyan. Dia menghembuskan nafas perlahan--entah lega atau kecewa dengan kenyataan ini.

"Noona .. ," desahan halus itu membuatnya berpaling. Kepalanya tertunduk ke atas ranjang. Dave sedang memandanginya dengan tampang memelas. "Lepaskan ikatan ini, noona ... ," dia memohon dengan lemah. "Tubuhku terasa remuk semua .. "

Mata Daze meredup. Lambat-lambat dia menjatuhkan diri di atas ranjang--di sebelah Dave. Disentuhnya lengan dongsengnya dengan perasaan bersalah. "Miane, Dave-a .. noona tidak bisa melakukannya sebelum pengaruh obat-obatan tersebut hilang. Kamu bertahanlah, sebentar lagi masa-masa sulit ini akan berlalu .. "

"Tapi noona ... ," kata Dave dengan suara yang semakin lemah. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya. " .. noona, saya .. saya sangat menderita .. "

"Noona tahu .. noona tahu .. ," Daze terisak perlahan. "Miane, dongseng-a .. Kehidupanmu seperti ini dan noona tidak bisa menolongmu sama sekali .. "

"Lepaskan ikatanku, noona ... lepaskan .. ," mata Dave meredup.

"Dongseng-a!!" Daze menguncang tubuh Dave. "Gwencana?" tanyanya--cemas.

"Lepaskan ... ," ulang Dave--suaranya semakin pelan.

"Ne.. ne .. noona lepaskan, ya?"

Dengan gugup Daze berusaha melepas ikatan di tangan Dave. Tapi karena ikatan itu terlalu rumit dan kuat, dia tidak berhasil melakukannya. Kemudian dia beralih ke kaki Dave. Juga tidak berhasil. Ketika dia sedang berkonsentrasi penuh terhadap ikatan-ikatan di tangan dan kaki Dave, sebuah suara mengejutkannya.

"APA YANG KAMU LAKUKAN?"

Daze tersentak. Dia segera berpaling ke arah pintu. Suara itu memang berasal dari pintu kamar itu. Rathyan berdiri di sana sambil memandanginya dengan tajam.

"Sa .. saya .. ," Daze mengigit bibirnya. Kata-kata selanjutnya tidak mampu diucapkan.

"Berniat melepas ikatannya?" Rathyan memasuki kamar dan berhenti di dekat Daze. "Kamu tahu perbuatan tersebut bisa membunuhnya? Usaha kita hampir berhasil. Tinggal sejengkal lagi. Apa kamu ingin menghancurkannya?"

"Hmm--miane .. ," kata Daze pelan. "Saya .. saya hanya tidak sanggup melihat penderitaannya .. "

"Lalu apa kamu pikir dengan melepas ikatannya, kamu akan menghilangkan penderitaan itu?" lanjut Rathyan dengan nada dingin. "Lihatlah,, dia hanya mengeluh sebentar. Sekarang sudah tertidur lagi .. tapi jika kamu melepaskan ikatannya .. "

"Ne, ne,, araso .. ," sela Daze. "Dia akan lepas kendali lagi. Saya tahu itu."

"Bagus kalau kamu tahu!" ujar Rathyan.

"Tentu saja saya tahu." suara Daze menjadi keras. Kejadian kemarin malam kembali terbayang-bayang dalam ingatannya. Perasaan kesal, marah dan .. semuanya, campur-aduk jadi satu dalam hatinya. "Saya hanya sedikit terpengaruh tadi. Tapi sekarang tidak lagi!" sahutnya ketus.

"Ada apa lagi?" Rathyan memandanginya dengan kening berkerut. "Mengapa sikapmu kembali lagi seperti kemarin malam?"

"Tidak apa-apa." Daze langsung membuang mukanya.

Rathyan menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya. "O ya, tentang masalah Dave dan Natalie, apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya--berusaha mengatur volume suaranya ke batas wajar. "Kalau cuma uang, mungkin saya bisa membantu .. "

"Uang?!" Daze menoleh padanya. "Memangnya kamu punya uang dari mana?"

"Hmm--kamu tidak perlu tahu itu." jawab Rathyan. "Yang penting, meminjamimu uang tidak akan membuatku bangkrut .. "

Daze membuang wajahnya lagi. "Tidak usah!"

"Hey,, ini buat Dave, bukan buatmu!" sahut Rathyan kesal. "

"SUDAH KUBILANG TIDAK USAH!" balas Daze sekeras-kerasnya.

Mereka saling menatap selama beberapa menit. Tidak ada yang mau mengalah. Ekspresi keduanya sama-sama kerasnya.

"TERSERAH!!" dengus Rathyan akhirnya. Dia berbalik ke arah pintu dan berlalu dari kamar itu. Menutup pintu dengan keras. Meninggalkan Daze yang terduduk lemas dengan nafas mengebu-ngebu di pinggir ranjang. Pemuda di sebelahnya tidak bereaksi dengan pertengkaran sengit barusan. Dave sudah tertidur pulas di ranjangnya. 

 
========== ### ==========



Keluar dari kamar Dave--sekitar duapuluh menit kemudian--Daze mendapati Rathyan sedang berdiri menyandar di dinding samping dekat pintu kamar dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya terselip di bagian pinggang sedangkan kakinya yang memakai sepatu kets putih mengais-ngais lantai yang dilapisi karpet abu-abu. Rambutnya yang lumayan panjang dan lebat menutupi hampir seluruh wajahnya, berikut bagian telinganya.

Suara pelan dari pintu yang dibuka Daze membuat Rathyan mengangkat kepala perlahan. Melihat itu, Daze langsung membuang muka. Dilewatinya pemuda itu dengan langkah lebar. Tapi hentakkan mendadak di lengan kirinya membuat tubuhnya tertarik ke belakang.

"Yaa--apa yang kau lakukan?" protes Daze. "Lepaskan saya!!"

"Ada yang ingin kubicarakan!" kata Rathyan tanpa melepaskan tangannya dari lengan Daze.

"Tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu!" sahut Daze ketus.

"Tapi saya ada!!" balas Rathyan tegas.

Sekuat tenaga Daze mengibaskan tangannya sehingga terlepas dari cengkraman Rathyan. Posisi mereka saling berhadapan sekarang. Daze mendelik padanya tapi sikap Rathyan terlihat sangat tenang.

"Tahu apa yang saya sukai darimu?"

"MWO?!" mata Daze melebar, kemudian melirik kesana kemari dengan gelisah. "A .. apa maksudmu?" tanyanya risih. Kata 'SUKA' yang dipakai pemuda ini membuat hatinya berdebar-debar. 'SUKA', apa dia bermaksud mengungkapkan ...

Lamunan Daze terputus oleh perkataan Rathyan selanjutnya, "Sikapmu yang lembut dan dewasa .. "

Daze mengangkat wajahnya. Keningnya berkenyit perlahan. Dia tidak begitu menangkap arti perkataan tadi.

Rathyan menghela nafas kemudian melanjutkan perkataannya. "Tapi yang paling saya sukai dari semua itu adalah sifat perhatianmu yang besar .. ," dia berhenti sebentar--sekitar beberapa detik--lalu melanjutkannya lagi. "Kamu berbeda dari yang lain. Baik dari cowok maupun cewek yang saya temui. Karena itu saya berharap kamu tidak berubah--tetap jadi Daze yang kukenal. .. Tidak. Saya tidak membenci tindakanmu ini. Kamu kesal sehingga marah-marah tak karuan--saya memahami perasaanmu. .. Saya hanya agak kecewa. Hanya itu .. "

Daze mendesah dalam hati. Saya hanya manusia biasa. Ada saatnya tidak mampu mengendalikan emosi. Walaupun saya tidak mengerti mengapa bisa marah-marah begini. Tapi tidak-kah kamu merasa keterlaluan berbicara seperti ini padaku?

Beberapa saat keadaan di lorong lantai dua itu jadi sunyi. Rathyan masih menatap Daze lekat-lekat, sedangkan gadis ini tidak berani membalas tatapannya. Pandangan Daze tertuju ke lantai. Lima menit berlalu. Perlahan-lahan Daze menyandar ke dinding di belakangnya.

"Ini yang kamu harapkan dariku?" tanyanya dengan nada lemah.

Rathyan tidak menjawab.

"Tapi mengapa?" lanjut Daze. "Untuk apa?"

Mendadak tangan kiri Rathyan menekan dinding di sebelah Daze. Gadis itu langsung membisu. Jarak mereka sangat dekat sekarang. Rathyan bergeser semakin dekat ke arahnya. Tangannya yang satu menyentuh wajah gadis itu. Perlahan-lahan Daze mengangkat wajah sehingga pandangan mereka bertemu--hanya berjarak beberapa cm saja.

Rathyan mengelus wajah Daze. Wajahnya mendekat lambat-lambat dengan berirama, sampai hidung mancungnya menyentuh pipi Daze. Kemudian tangannya bergerak ke belakang--menarik wajah Daze semakin menempel ke wajahnya sendiri. Kemudian dia membuka mulut dan melumat bibir mungil yang bergetar itu. Melumatnya sangat dalam--seakan tidak ingin dilepas lagi. Tangannya yang menekan bagian kepala semakin keras sehingga bibir gadis itu sepenuhnya berada dalam mulutnya. Lidahnya bermain dengan panas. Dijilatinya rongga mulut Daze. Merasakan lidahnya, lalu mengigit bibirnya. Setelah itu melumat bibirnya lagi. Tangannya yang menumpu dinding tiba-tiba menarik pinggang Daze sehingga menempel ketat di tubuhnya. Keadaan semakin panas dan bergairah. Daze berjinjit sehingga Rathyan bisa melumat, mengulum dan menyedot mulutnya dengan leluasa. Kemudian tangannya bergerak ke atas-mengusap bagian punggung gadis yang sedang terlena itu dari atas ke bawah. Menekannya dengan keras.

Terdengar Daze mendesah. Dia hampir kehilangan nafas akibat permainan agresif dari Rathyan. Tapi jujur, dia menyukainya. Untuk pertamakalinya seumur hidup dia merasakan ciuman bergelora begini. Begitu bernafsu dan panas. Walaupun paru-parunya hampir meledak, dia tidak ingin Rathyan melepaskan ciumannya. Bahkan dia ingin merasakan yang lebih. Dia ingin Rathyan merangkulnya lebih erat agar dia bisa melupakan semua kekesalan yang tak berarti pada seorang gadis yang baru dikenalnya kemarin. Dia ingin melakukan permainan yang belum pernah dirasakannya. Mungkin ... Ya, dia berpikiran melakukannya--melanjutkan permainan ini dengan Rathyan di atas ranjang. Tapi ketika perasaan dan pikirannya sudah di awang-awang, seperti yang sudah-sudah Rathyan menghentikan aksi liarnya dengan tiba-tiba.

Bibir yang saling bertaut terlepas. Mereka saling menatap dengan nafas terengah-engah setelah ciuman yang sangat panjang itu.

"Aku ingin kamu mengingat ini ... ," kata Rathyan di sela-sela nafasnya yang memburu. "Mengingat seumur hidupmu ..  ," Tangannya kembali meraba wajah Daze. Kemudian dikecupnya bibir gadis itu lagi. "Jangan lupa, Dazya .. ," perlahan dia melepaskan tangannya dan mundur ke belakang.

Dia sudah berbalik dan bersiap menuruni anak tangga ketika Daze berseru, "KAMU MAU KE MANA?"

Rathyan menoleh. Diam sejenak. Setelah itu membuka mulutnya, "Ada urusan di luar .. "

"Kuliah?"

Rathyan mengeleng. "Tidak. Saya tidak masuk hari ini."

"O .. ," Daze mengangguk. Setelah ragu-ragu sebentar, dia bertanya lagi, "Apa kamu tidak takut ketahuan halmonie keluar lewat jalan utama?"

"Tidak. Ketika saya masuk kemari tadi, saya tidak sengaja bertemu Ye Jin-ssi. Dia berkata halmonie merasa tidak begitu sehat jadi sarapan di kamarnya .. "

Daze kembali mengangguk. Sepi sejenak sebelum dia berkata lagi, "O ya .. kemarin malam, .. kamu .. kamu tidur di mana? Saya .. saya tidak melihatku ketika .. masuk ke kamar Dave .. pukul 3 dini hari .. "

Rathyan mengurungkan niatnya ke lantai bawah. Dia memutar badan dan melangkah ke arah Daze.

"Saya bisa tidur di mana saja." jawabnya dengan nada tenang. "Memangnya kenapa?"

"Hmm--," Daze jadi salah tingkah. Apalagi pemuda ini menatapnya begitu tajam--seakan ingin mengetahui maksud dibalik pertanyaan tadi. "Tidak apa-apa!" akhirnya dia menjawab dengan cepat. "Kemarin malam turun salju lagi. Saya hanya khawatir kamu kedinginan kalau tidur di luar .. "

Kepala Daze tertunduk perlahan sehingga tidak menyadari Rathyan berusaha menahan senyumnya. "Saya tidak akan pulang malam ini .. "

"Mwo?" Daze segera mengangkat wajahnya. "Weo?!"

Rathyan mengangkat bahu--cuek. "Tidak ada tempat bagiku di sini. Ikatan Dave paling tidak besok baru boleh dilepas. Sedangkan kamu ... ," tubuh jangkungnya condong ke depan dengan posisi agak membungkuk sehingga wajahnya hampir menyentuh wajah Daze. "Kamu .. kelihatannya masih marah padaku .. "

Daze tersentak. "Siapa bilang saya marah padamu?" serunya.

"Tidak?!" wajah Rathyan berkerut.

"Tentu saja tidak!" jawab Daze cepat. "Saya .. saya hanya kesal. Itu saja .. ," sauranya melemah.

"Hanya itu?!" tanya Rathyan menyelidik.

"Tentu saja!" sahut Daze.

"O .. ," Rathyan membuka mulut sambil menganggukkan kepalanya. Ekspresinya terlihat baru menangkap penjelasan Daze. "Kalau begitu saya akan pulang hari ini .. " Rathyan memperbaiki mantel ketat yang membalut tubuhnya dengan santai.

"Jeongmal?" mata Daze tiba-tiba berbinar-binar.

"Ne." jawab Rathyan. "Are you happy?"

Daze langsung mengigit bibir bawahnya. Jemarinya saling meremas dengan gelisah. Rathyan meliriknya, tapi dia berlagak tidak melihat perubahan kecil itu. "Tapi saya harus pergi sekarang .. ," dia memberi ciuman halus di kening Daze sebelah kiri--membuat gadis itu memejamkan mata perlahan. "Saya akan kembali nanti sore .. "

Dia mundur ke belakang dengan senyuman lembut tersungging di bibirnya. Dia memutar tubuh, kemudian menuruni anak tangga menuju lantai bawah.

Daze tersenyum-senyum sendiri di tempatnya. Tapi itu hanya sesaat. Wajahnya perlahan-lahan berubah sendu. "Chingu?! .. Benarkah hanya chingu? .. Setelah kejadian kemarin malam, mengapa saya merasa kamu bukan lagi sekedar chingu bagiku?" bisik Daze lirih. "Mengapa saya merasakan perasaan yang lain? Lalu .. bagaimana dengan perasaanmu sendiri, chingu? Apa kamu merasakan hal yang sama? .. Mengapa kamu tidak mengatakan apa-apa?"


========== ### ==========

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #532 on: September 08, 2010, 07:31:20 am »
 [drool] [drool] sumpah!! Jadi nambah tergila-gila ama rathwat oh my god mi..aku ja yang ngebayangin jadi daze klepek2 kalo ada brondong kayak gto..
Hiahh..daze udah kebelet,kasian mam bikin aja jebol [hmff]

Btw gumawo mi [cheekkiss]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #533 on: September 08, 2010, 07:37:14 am »
[drool] [drool] sumpah!! Jadi nambah tergila-gila ama rathwat oh my god mi..aku ja yang ngebayangin jadi daze klepek2 kalo ada brondong kayak gto..
Hiahh..daze udah kebelet,kasian mam bikin aja jebol [hmff]

Btw gumawo mi [cheekkiss]
ckckckck permintaannya jebol mulu hammer2 [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #534 on: September 08, 2010, 07:48:22 am »
 [laughing] yee...bukan akyu mam yang minta tapi si hyesunnya tuh,ksian aja dia pasti tersiksa...[hmff]
Mam gw jujur seneng buangettt...ne diupdate kangen minsunya jadi rada terobati...cengar cengir kayak orgil neh aku mam*alay made on*...[laughing]

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #535 on: September 08, 2010, 07:49:50 am »
gomawo mam update-annya  [cheekkiss] tapi kaya'nya kurang panjang deh mam  [hmpfh]  [laughing]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #536 on: September 08, 2010, 07:58:07 am »
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] Uhuuuuuuuuuiiii update  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Baru baca ampe tengah... entar mi yo tak liat Princess Hours dulu atu jam lagi balik lagi.... [hmpfh] [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #537 on: September 08, 2010, 08:01:41 am »
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] Uhuuuuuuuuuiiii update  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Baru baca ampe tengah... entar mi yo tak liat Princess Hours dulu atu jam lagi balik lagi.... [hmpfh] [hmpfh]

[guns] [guns] [guns]

mian ya kalau jelek [sweat]

vio, moso masih kependekan. perasaan udah panjang amat [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #538 on: September 08, 2010, 08:17:26 am »
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] Uhuuuuuuuuuiiii update  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Baru baca ampe tengah... entar mi yo tak liat Princess Hours dulu atu jam lagi balik lagi.... [hmpfh] [hmpfh]

[guns] [guns] [guns]

mian ya kalau jelek [sweat]

vio, moso masih kependekan. perasaan udah panjang amat [heh]

yah si mami percaya  [laughing] ini udah panjang ko' mi  [hug] tapi kiss'nya kurang hawt  [on] mi  [hmpfh]
suka ama pikunya deh mi,  keren ! [lovestruck]
« Last Edit: September 08, 2010, 08:19:14 am by vio23 »

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #539 on: September 08, 2010, 08:29:37 am »
thx mam udh update... :))

hari ini udh masuk public holidays nih mam.. tlg online di msn yaa.. karena aku bisa ngalong ini hari.. hehe...

MAM, itu kenapa sih gk dijebolin aja? kalo ini kaga jebol2, aku gak ush jebol juga yaa..  [hmff] [hmff] [hmff]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE