Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 100489 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
yee si vay dongkol [hmpfh] rindu ama gw ya [goodgrief] PD [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile



Dave menyandar di dinding rumah sakit sambil memperhatikan Daze dan Rathyan. Noonanya itu sedang menanggis keseggukan, dan ini sudah berlangsung dari satu jam yang lalu, sedangkan sahabatnya tidak henti-hentinya menghibur kakak perempuannya itu. Berulangkali ciuman menenangkan di daratkan Rathyan di jidat dan pipi Daze. Sedangkan rangkulannya begitu erat dengan telapak tangan yang senantiasa mengelus-ngelus punggung gadis yang wajahnya disusupkan di dadanya tersebut.

Wajah Dave berkerut semakin dalam. Dia bergerak dari posisinya dan mendekati mereka. Mulutnya terbuka—bersiap mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang menganjal sejak beberapa jam yang lalu, tapi langsung terbungkam oleh suara pintu ruang darurat yang dibuka di belakangnya.

Dave berpaling. Begitu juga Rathyan dan Daze—yang masih tersedu-sedu dalam pelukannya.

Dokter Kim, diikuti beberapa suster dan seorang dokter muda keluar dari ruang rawat halmonie. Raut wajah mereka terlihat tidak puas. Dokter Kim mengerakkan tangan perlahan pada para suster dan dokter muda yang mengikutinya. Mereka membungkukkan badan kemudian berlalu dari situ.

Melihat kemunculan dokter Kim, Daze segera melepaskan diri dari rangkulan Rathyan dan bergegas mendekati dokter itu.

“Gimana dok?” tanyanya dengan harap-harap cemas. “Tidak seburuk yang saya bayangkan, kan? Ohh, tidak!” dia segera menutup wajah dengan kedua tangan, dan kembali menanggis tersedu-sedu. Dia mengeleng keras-keras. “Tidak mungkin!! .. halmonie kelihatan .. sangat sehat beberapa hari yang lalu .. “

Dokter Kim menyentuh pundak Daze. “Tenanglah, nona.” Katanya dengan nada sedikit menenangkan. “Yah—walaupun keadaannya memang sangat buruk. Beberapa pembuluh darahnya tersumbat dan dia mengalami stroke berat. Mungkin .. anda perlu mempersiapkan diri. Beritahu anggota keluarga yang lain. Untuk saat ini, yang bisa dilakukan hanya menemaninya sebanyak-banyaknya. Dia bisa pergi kapan saja.”

Dokter Kim berhenti sebentar, dan isak tanggis Daze yang tadi sempat memelan, mengeras lagi.

“Saya tidak bermaksud menakuti. Tapi .. penyakit orang tua, saya yakin anda juga memahaminya .. ,” lanjut dokter Kim dengan nada menyesal.

Tubuh Daze lemas. Lututnya lemah dan ia merasa akan ambruk seketika itu juga. Daze segera bersandar ke tubuh Rathyan, begitu pemuda itu sudah berada di sampingnya.

“Bagaimana ini? Huu .. huhh … Rath, .. halmonie .. halmonie .. tidak akan tertolong .. Apa .. apa yang harus kulakukan? Huuu .. huhhh …”

“Tenanglah.. ,” hibur Rathyan di sela-sela telinga Daze. “Beliau dapat bertahan. Percayalah padaku .. paling tidak, beliau masih punya kesempatan melihatmu lagi.” Dia mengangkat wajah menghadap dokter Kim. “Benar begitu-kan, pak dokter?”

“Hu .. hu … ,” Daze mengeleng keras-keras. Hatinya sangat takut. Dan juga khawatir. Kepalanya terbenam semakin dalam dibalik jaket Rathyan. Jemarinya mencakar-cakar jaket kulit tersebut—menimbulkan suara-suara tajam mendirikan bulu roma.

Dokter Kim mengangguk terhadap pertanyaan Rathyan. “Kalian bisa menemuinya sekarang. Walaupun keadaannya masih lemah, tapi paling tidak dia masih dalam keadaan sadar. Ingat, luangkan waktu yang banyak buatnya. Hanya ini yang dapat kukatakan sekarang.”

Rathyan mengangguk. “Thanks, dok .. “

Dokter Kim menepuk pundak Rathyan kemudian kepada Daze. “Jangan terlalu bersedih. Untuk orang tua seusia dia, mungkin ini jalan terbaik. Melepaskan semua penderitaan selama ini lebih baik daripada terus berjuang di dalamnya sementara dia tahu itu tidak mungkin. Mungkin ada kalanya yang muda juga harus belajar dari peristiwa ini. Relakanlah sesuatu yang mesti dilepaskan. Jangan berpaling lagi ke belakang. Masa depan yang paling penting. Hmm--mungkin perkataanku ini terlalu dini .. ,” dokter Kim tersenyum kecut dengan ekspresi bersalah. “Sosoengeyo, tapi .. yahh, hanya itu yang bisa saya katakan .. ,” kemudian dia berpaling ke arah Dave. “Kamu juga, Dave. Saya mengenalmu sejak kecil. Bagaimanapun nakalnya dirimu, saya tahu, kamu sangat mencintai nenekmu itu.”

Dave tidak menjawab. Wajahnya tertunduk perlahan. Dokter Kim mendekatinya, kemudian menepuk pelan pundaknya. “Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Saya yakin nyonya Han tua tidak pernah membencimu. Buanglah sifat pemberontakmu itu. Anggap saja semuanya tidak pernah terjadi. Mulailah dari awal. Saya yakin nyonya Han paling ingin melihat semua anggota keluarganya hidup bahagia—tidak kekurangan suatu apapun .. ,” kepalanya menengadah ketika melanjutkannya, “Kalaupun pergi. Dia bisa pergi dengan senyum tersungging di bibir .. “ Sekali lagi dokter Kim menepuk pundak Dave. Setelah itu dia meninggalkan mereka—dengan helaan nafas panjang. Lagi-lagi dia harus menghadapi satu kenyataan. Pasien yang sudah lama dikenalnya—yang sudah dianggapnya sebagai sahabat sekaligus keluarganya sendiri, akan pergi dari dunia ini, dengan meninggalkan kenangan-kenangan manis dalam hatinya. Sosok dokter Kim menghilang di tikungan lorong rumah sakit.

Rathyan mengelus lengan Daze, lalu membalik tubuhnya menghadap kearahnya. “Sekarang kita masuk ke dalam. Jangan menanggis lagi!” Rathyan menyentuh pipi Daze, kemudian menghapus airmata yang masih mengalir deras dari pelupuk matanya. “Kamu tidak ingin melihat halmonie bersedih begitu melihatmu menanggis, kan?”

Daze mengeleng sambil terisak-isak.

“Dan kamu juga tidak ingin halmonie mengetahui segalanya, kan?”

Sekali lagi, Daze mengeleng.

“Kalau begitu, berhentilah menanggis .. ,” Rathyan menarik Daze ke dalam pelukannya. “Saya akan senantiasa menemanimu, Dazya. Jangan khawatir, dan juga .. jangan takut. Semuanya akan beres. Apapun yang terjadi pada halmonie, aku akan mendampingimu menghadapi semuanya. I promise.” Dia berbisik halus di telinga Daze. “Percayalah padaku .. “

Daze mengangguk perlahan. Lengannya melingkar erat di pinggang Rathyan. Walaupun sesuatu terjadi pada halmonie, aku tidak takut. Aku akan menghadapinya. Karena Rathyan di sampingku. Ya, dia mampu memberikan kekuatan itu. Aku mampu melewati masa-masa sulit ini! Tekad Daze dalam hati. Raut wajahnya berubah keras. Dihapusnya airmata yang masih mengalir turun dengan punggung tangannya kemudian dia melepaskan diri dari dekapan Rathyan.

“Kamu siap?” tanya Rathyan pelan.

Daze mengangguk. “Ne. Aku ingin bertemu halmonie.”

Rathyan mengangguk mengerti. Diperhatikannya gadis di sebelahnya selama beberapa detik kemudian dia beralih pada Dave. “Kamu juga ikut masuk, Dave-a. Mungkin .. mungkin ini amanat terakhir halmonie .. “

Rathyan membuka pintu ruang UGD di depan buat Daze. Dituntunnya gadis yang lemah itu ke dalam. Sedangkan Dave membisu sejenak, sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam.


------ ><><>< ------



        
Langkah Daze tercekat di tengah ruangan. Tekad yang tadi sudah dihimpunnya dengan susah payah musnah begitu saja begitu melihat keadaan halmonie. Tubuh renta itu terbaring tak berdaya di atas ranjang. Posturnya yang kurus terlihat lebih kurus. Kulit yang pucat juga kelihatan lebih pucat. Begitu juga sepasang mata yang cekung itu seperti tak bernyawa.

Daze mengibaskan tangan Rathyan dan langsung melesat kearah halmonie. Kepalanya tengkurap di tepi ranjang. Dan tanggis yang tadi sudah berhenti, meledak kembali. Hanya semalam saja aku tidak bertemu halmonie. Hanya karena tidak sempat melihatnya pagi ini, mengapa .. mengapa keadaannya bisa berubah sedrastis ini? Mengapa? Daze mengutuk dirinya berulangkali.

Rathyan mendesah. Hatinya terasa sakit melihat keadaan Daze. Seperti tersayat-sayat belati yang sangat tajam. Didekatinya gadis itu, kemudian menempelkan tangannya di punggung yang bergerak naik turun karena menahan tanggis itu. Dave juga mendekati ranjang halmonie perlahan-lahan. Airmatanya mulai mengalir turun melihat keadaan halmonie yang menyedihkan.

“Halmonie, hu .. huhh .. ini Daze, .. buka matamu .. saya mohon .. huh .. huuu … ,” Daze menanggis tersedu-sedu. “Jangan tinggalkan saya sendiri … “

Kepala Daze masih tengkurap di atas ranjang sehingga tidak menyadari mata halmonie yang bergerak-gerak pelan. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh telinganya. Daze mengangkat wajah dan melihat kearah halmonie dengan mulut mengangga.

“Halmonie!!” teriaknya histeris. “Oh, tuhan!! Dokter Kim .. ,” dia bermaksud bangun ketika halmonie menariknya kembali.

“Dazya .. ,” panggil halmonie pelan.

“Ne!” Daze terhenti dan berbalik kembali. “Saya akan memanggilkan dokter Kim untuk memeriksa halmonie .. “

“Tidak perlu, sayang .. ,” kata halmonie lemah.

Alis Daze berkerut. “Mengapa?” dia mulai menanggis lagi. “Halmonie harus diperiksa lebih teliti. Harus .. “

“Kamu tahu apa yang terjadi pada halmonie?” tanya halmonie dengan suara serak.

Daze mengeleng keras-keras. “Tidak!! Saya tidak mau dengar!!”

“Kamu tahu, Dazya .. ,” halmonie tersenyum perlahan. Senyuman yang sangat ikhlas. “Halmonie yakin kau tahu.”

“Tidak!” Daze kembali mengeleng. Sepasang tangannya menekan bagian telinga erat-erat. Dia tidak ingin mendengar perkataan halmonie. Tidak! Dia tidak mampu menerima kenyataan ini.

“Dazya .. ,” tangan yang dingin itu kembali menyentuh lengannya. Kali ini menarik sepasang lengannya sehingga terlepas dari bagian telinga. “Halmonie ingin kamu mendengar ini .. “

Daze mengigit bibirnya, kemudian ia mengeleng lagi. Halmonie mendesah halus, lalu berpaling pada Dave. “Kamu juga, Dave-a. Kemarilah .. ,” tangannya yang keriput melambai ke arah Dave. Dengan kaku, pemuda itu mendekatinya. Sedangkan Rathyan yang merasa tidak berkepentingan dengan masalah keluarga ini merapat ke dinding dekat pintu. Kepalanya agak di tundukkan dan memasang sikap tidak ikut mendengarkan pembicaraan mereka.

“Maafkan halmonie jika selama ini bersikap terlalu keras kepadamu, Dave-a .. ,” kata halmonie dengan suara bergetar. “Halmonie tidak bermaksud begitu. Sungguh, halmonie hanya ingin mengajari yang terbaik bagimu. Tapi ternyata cara-cara yang halmonie pergunakan salah semua. Kamu bukan menjadi makin baik, malah semakin brutal.” Halmonie mendesah dengan pandangan menerawang ke langit-langit kamar. Sementara Daze kesenggukan di sebelahnya. “Semua itu kesalahan halmonie. Orangtuamu mempercayakan hidupmu—seluruhnya, padaku tapi … halmonie mengecewakan mereka .. “ raut tua yang pucat itu berkerut perlahan. Tanpa terasa dua butir air bening mengalir menuruni sudut matanya.
Dan jatuh membasahi seprai putih di sisi ranjang.

“Tidak halmonie .. ,” Dave mengenggam tangan halmonie erat-erat. “Semua kesalahanku. Miane, saya yang lemah .. ,” dia menanggis tertahan. “Saya selalu menentang ajaran halmonie. Selalu memberontak. Tidak mau mendengarkan perkataan halmonie. Saya .. saya cucu kurang ajar!!” dia memukul kepala sendiri yang segera ditahan oleh halmonie. Kepala nenek tua itu mengeleng sambil tersenyum lembut. “Saya menyesal. Sungguh menyesal .. ,” kata Dave. “Jika waktu bisa dibalik, saya ingin memulai semuanya dari awal. Ingin mengikuti ajaran halmonie. Mendengarkan halmonie dan melakukan semua perintah-perintah halmonie. Andai saja .. “

“Halmonie tahu .. ,” kata halmonie menenangkan. “Halmonie tahu, dasarnya kamu anak yang baik. Hanya jalan yang kau ambil saja yang salah … “

“Miane, halmonie .. jeongmal, miane .. ,” Dave menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan halmonie.

Tubuh renta itu bergerak. Dengan susah payah dia duduk menyandar di sandaran ranjang. Daze segera membantunya.

“Hati-hati, halmonie .. ,” desah gadis itu di sela-sela tanggisnya. Halmonie menepuk-nepuk halus punggung tangan Daze. Dia tersenyum. Sekali lagi, senyuman yang sangat lembut dan menenangkan. Yang justru membuat hati Daze sesak.

“Apa yang terjadi padamu akhir-akhir ini, Dave? Bisa memberitahu halmonie?”

Dave berdiri, kemudian menjatuhkan dirinya di tepi ranjang. “Saya .. sebentar lagi akan menikah .. ,” kata Dave dengan nada yang sangat pelan. Hampir-hampir tidak terdengar. Tapi ajaibnya, halmonie yang biasanya agak tuli mendengar semua perkataannya.

“Menikah?” wajah keriput itu kelihatan berseri-seri. “Bagus.” Kepalanya mengangguk-angguk puas. “Berarti kamu sudah dewasa, sayang .. “

Dave mengigit bibirnya. “Ada lagi, halmonie.” Dia terdiam beberapa saat. Sementara halmonie menunggunya dengan sabar. “Saya .. saya akan menjadi seorang ayah.” Kemudian dia menunduk dalam-dalam. “Miane. Kelakuan saya di luar batas lagi .. “

Halmonie mengeleng dengan senyuman masih tersungging di bibir. “Aniyo, cucuku. Selama kamu menyadari kesalahanmu dan mau bertanggungjawab terhadap apa yang telah kau lakukan, halmonie tetap bangga padamu .. “

“Halmonie .. ,” tanpa mampu menahan perasaannya lagi, Dave menanggis tersedu-sedu dalam pangkuan halmonie. Wanita renta itu mengelus-ngelus kepalanya.

“Sungguh, halmonie bangga padamu .. “

“Miane .. miane .. ,” kata Dave berulangkali.

Melihat adegan-adegan tersebut, Daze tidak mampu menahan gejolak perasaannya yang terpukul. Dia menanggis tersedu-sedu sambil menutup mulutnya. Tubuhnya menyandar ke dinding—lemas. Rathyan meliriknya lewat sudut mata. Ingin membantu tapi dia memaksa diri tetap bertahan di posisi semula. Tidak bijak rasanya jika dia menganggu dalam suasana seperti ini. Mungkin saja .. ya, hanya kemungkinan … , harap Rathyan, yang segera menghentikan pemikiran tidak membantu ini.  

Daze menatap halmonie. Entah mengapa dia merasa halmonie semakin jauh dari jangkauan tangannya. Walaupun sekarang dia bersama mereka, tersenyum dan dapat menyahut perkataan-perkataan mereka, tetap saja perasaan kehilangan ini begitu kuat.

Apakah ini suatu pertanda? Daze mengeleng kuat-kuat. Tidak mungkin! Halmonie berkata-kata dengan baik. Beliau terlihat sangat luwes dan cerdas. Setiap perkataannya begitu mengena di hati. Dan senyumnya juga begitu menyejukkan. Bahkan emosi yang biasanya diperlihatkan pada Dave hilang begitu saja saat ini. Tergantikan oleh sikap memaafkannya yang mengharukan. Pendengarannya juga berfungsi dengan baik. Halmonie tidak mungkin pergi begitu saja. Perasaan ini salah! Salah! Daze menarik-narik dan meremas-remas sweater yang dikenakannya di bagian dada. Kepalanya tertunduk sementara isak tanggisnya masih terdengar jelas.

“Dazya .. “

Daze mengangkat wajahnya. Halmonie tersenyum, lalu beralih perlahan kepada Dave. Ditepuknya kepala pemuda yang masih terbenam dalam pangkuannya. “Dave, kamu keluarlah dulu. Ada yang ingin halmonie bicarakan dengan noonamu .. “

Dave menarik diri kembali ke belakang. Dia mengangguk, lalu berdiri dari tempatnya. Sambil menghapus airmatanya yang belum kering, dia keluar dari ruangan tersebut. Rathyan bergerak dari posisinya. Dia menatap Daze yang saat itu sedang menoleh kearahnya. Dia mengangguk pelan dan memberi isyarat dengan tangan bahwa dia akan menunggu di luar. Daze mengangguk halus.


------ ><><>< ------



        
”Dazya .. bagaimana keadaanmu?” tanya halmonie begitu ruangan tersebut hanya tinggal dia dan Daze.

“Baik .. ,” Daze menghapus airmatanya, kemudian menjatuhkan diri di sebelah halmonie. Dibantunya halmonie berbaring kembali di atas ranjang. Lalu dia menyelimuti halmonie dengan penuh perhatian. “Saya baik-baik saja selama halmonie berada di sisiku .. “

Halmonie tersenyum. “Anak bodoh .. ,” diketoknya kepala Daze dengan kepalan tangannya. “Kamu tahu sendiri keadaan halmonie .. “

“Tidak!” Daze mengeleng keras-keras. “Saya tidak mau tahu. Halmonie harus sembuh!”

“Iya, … iya .. ,” halmonie menyerah. Diraihnya tangan Daze dan digenggamnya erat-erat. “Lalu .. bagaimana hubunganmu dengan .. “ halmonie berhenti sambil berpikir keras. “ .. siapa namanya? Halmonie lupa … “

“Carlson .. ,” Daze mengigit bibir bawahnya.

“Iya, benar. Carlson. Apakah kau mencintainya?”

Daze tidak menjawab. Kepalanya tertunduk perlahan.

“Tidak, bukan?” halmonie mendesah. “Halmonie dapat melihatnya. Dari semula hubungan kalian salah. Bukankah halmonie sudah memperingatkanmu sejak dulu?”

“Halmonie .. “

“Sikapmu berubah sejak berada di sini .. ,” lanjut halmonie dengan suaranya yang serak dan kering. “Pemuda itu .. ,” halmonie sengaja mengulur pertanyaannya, kemudian “ .. telah merubahmu, kan?”

Mulut Daze mengangga. “Pemuda? Maksud halmonie?” tanyanya terkejut.

Halmonie tersenyum lembut. “Jangan mengira halmonie buta segalanya, Dazya. Halmonie tahu apa yang terjadi di rumah. SEMUANYA.”

Daze termangu. Tidak mampu bereaksi apa-apa. Jadi selama ini halmonie mengetahui keberadaan Rath? Sungguh bodoh jika mereka mengira bisa menyembunyikannya dari halmonie! Daze menatap halmonie dengan pandangan menyelidik. Apa lagi yang diketahui halmonie tentang Rathyan?

“Dia, berarti segalanya bagimu, Dazya?” tanya halmonie lagi.

Daze mengeleng pelan. “Entahlah. Saya tidak tahu.”

“Apa yang kau khawatirkan?”

“Khawatir?” alis Daze berkerut. “Tidak ada. Memangnya apa yang saya khawatirkan?”

“Mungkin status.” Halmonie mendesah. “Halmonie juga tidak tahu. Kekhawatiran itu tersirat jelas di wajahmu begitu bersamanya .. “

Daze menundukkan kepalanya lagi. “Ajari aku, halmonie! Apa yang harus kuperbuat?”

“Kamu sudah dewasa, sayang .. ,” mata halmonie terpejam. “Sudah saatnya kamu mandiri. Percaya dan turuti kata hatimu. Halmonie sangat capek. Keluarlah, .. halmonie ingin istirahat … ohhh .. capek sekali hari ini .. ,” suara halmonie memelan, semakin dan semakin pelan, sampai akhirnya berhenti sama sekali. Suara tuttttttttt panjang dari mesin pendeteksi menghentak Daze.

“HALMONIE!!!!!!!!”

Teriakan histeris—mendirikan bulu roma membuat pintu UGD tersebut dihempaskan dari luar. Rathyan dan Dave menghambur masuk dan mendapatkan Daze menanggis tersedu-sedu—tengkurap di sisi tubuh halmonie yang terbujur kaku. Dave menutup mulut dengan kedua tangan. Dan pada saat itu juga dia tersungkur ke lantai dengan lututnya dan ikut menanggis meraung-raung.

Rathyan yang lebih tenang, melihat alat pendeteksi. “Saya akan memanggil dokter .. ,” katanya sambil berlari dari ruangan itu.

“Halmonie bangunlah!! BANGUNLAH, SAYA MOHON!! Bukankah halmonie pernah bilang ingin melihatku menikah? Melihatku berkeluarga? Sekarang, pacar saja saya tidak punya! Saya sudah putus dari Carls! Halmonie dengar itu?! Saya .. saya tidak mengijinkan halmonie pergi begitu saja .. tanpa melihat kebahagiaanku? TIDAK!! TIDAK BOLEH!!”

Teriakan-teriakan menyayat hati tersebut samar-samar memasuki telinga Rathyan ketika dia keluar dari ruangan dan mulai berlari di lorong panjang rumah sakit menuju kamar praktek dokter Kim. Rathyan menutup mata perlahan dan menahan agar airmatanya tidak menitik keluar.  


------ ><><>< ------



        
Keesokkan harinya, pukul 11 pagi di bandara Perth …

”Omma .. appa … ,” Daze menghambur ke pelukan appa kemudian berpindah ke omma.

Appa mengerutkan alisnya. Begitu juga omma melepaskan diri dari rangkulan erat Daze yang membuatnya hampir tidak bisa bernafas.

“Ada apa?” tanya appa pada Dave yang berdiri agak di belakang. Tampang pemuda itu tidak jauh berbeda dari Daze. Matanya bengkak akibat terlalu banyak menanggis.

“Halmonie … halmonie sudah .. sudah meninggal .. ,” kata Dave dengan airmata yang terurai jatuh tanpa sadar.

“MWO?!” teriak omma dan appa dalam waktu bersamaan.

“Ya, tuhan.” Omma mengelus dadanya—kaget, sekaligus mulai menitikkan airmatanya. “Bagaimana mungkin ini terjadi? .. Kapan? Kapan terjadinya?” lanjut omma terbatah-batah.

“Kemarin .. ,” Daze menjawab. Bibirnya bergetar dan matanya terpejam perlahan-lahan. “Halmonie meng .. menghembuskan nafas terakhirnya .. di .. di hadapanku .. hu .. huhh .. ,” tanggis keras meledak saat itu juga.

“Ya, tuhan.” Omma meraup Daze ke dalam pelukannya. “Sabar sayang .. “

Sedangkan appa tidak mampu berkata-kata. Didekatinya istri dan putrinya, kemudian dipeluknya erat-erat.

“Dave, kemarilah .. ,” katanya pada putranya.

Dave mendekati mereka, lalu berempat—mereka saling berpelukkan dan menanggis terisak-isak. Mereka tidak peduli dengan berpuluh-puluh pasang mata yang memperhatikan dalam bandara itu. Saat ini yang diperlukan nereka adalah Saling menghibur dan memberi kekuatan atas kepergian halmonie yang mendadak.


------ ><><>< ------



        
Ruang makan yang biasanya sunyi itu menjadi lebih sunyi lagi. Ye Jin meletakkan piring-piring di atas meja tanpa bersuara. Dia ikut merasakan rasa kehilangan yang sekarang dirasakan keluarga Han. Tidak akan ada lagi nenek tua yang senantiasa mondar-mandir dengan tongkat di tangannya dalam rumah itu. Dan juga tidak akan ada lagi teriakan-teriakan halmonie ketika memarahi Dave—yang sering didengarnya manakala dia bekerja di Han’s mansion. Ye Jin menaruh piring terakhir. Setelah membungkuk kecil, dia berlalu dari situ.

Semua orang yang duduk mengelilingi meja makan—termasuk Rathyan yang sudah dikenalkan Dave pada orangtuanya~karena setelah dipikir-pikir tidak ada gunanya lagi menyembunyikan keberadaan sahabatnya ini, sebagai sahabat karib yang sekarang tinggal serumah dengan mereka—tidak bergerak. Mereka menatap nanar hidangan-hidangan di atas meja. Semua terasa hambar tanpa halmonie.

Rathyan sedikit mengedarkan pandangannya. Tidak terlihat kehidupan dalam ruangan itu. Kemudian dia berdeham pelan. Semua tampak tersentak.

“Oh, makanlah .. ,” kata appa memulai acara makan siang hari itu.

Semuanya mulai mengambil peralatan makan dari atas meja, kemudian mengisi piring-piring mereka—kecuali Daze. Gadis itu terlihat masih setia dengan lamunan-lamunannya. Pandangannya kosong tertuju ke depan.

Rathyan mendesah. Piringnya baru terisi setengah ketika dia mengambilkan makanan-makanan buat Daze. Setelah piring tersebut terisi penuh, disenggolnya lengan gadis itu dengan halus.

“Makanlah .. ,” katanya lembut. “Kamu bisa sakit jika tidak makan sedikitpun. Perutmu belum terisi sejak kemarin,kan?”

“Rath .. ,” desah Daze.

“Makanlah .. ,” kata cowok itu lagi.

“Tapi saya tidak berselera .. ,” tolak Daze halus. Disingkirkannya piring tersebut ke pinggir meja.

“Apa perlu kubuatkan susu hangat untukmu?”

“Tidak. Saya .. “

Rathyan menepuk punggung tangannya. “Tunggu sebentar .. “ dia berlalu. Beberapa menit kemudian dia kembali lagi dengan segelas susu hangat di tangannya. Disodorkannya gelas tersebut pada Daze. “Minumlah .. Ini lebih bagus buat diserap tubuhmu .. “

Daze tersenyum hambar. Dia menerima gelas dari tangan Rathyan kemudian menyeruput susu di dalamnya sampai habis.

“Thanks .. ,” dia meletakkan gelas kosong tersebut ke atas meja.

“Nambah?” tanya Rathyan.

Daze mengeleng. “Tidak. Ini sudah cukup.” Dia mengambil sendok dari dalam piring kemudian mulai menyendok makanan yang terdapat di dalamnya. “Saya akan menghabiskan makan siangku sekarang .. ,” dia tersenyum pada Rathyan.

Cowok itu ikut tersenyum, lalu mencubit pipinya dekat dagu. “Bagus. Makanlah yang banyak .. “

“Ne .. “ jawab Daze sambil memulai makan siangnya.

Tanpa disadari oleh mereka berdua, semua gerak-gerik barusan--dari beberapa menit yang lalu, tertangkap jelas oleh appa dan omma. Kedua orangtua itu saling melempar pandang. Kemudian mereka menatap Dave—meminta penjelasan. Anak itu hanya bisa mengangkat bahu dengan tampang memelas. Aku tidak tahu!, mungkin itu yang ingin diisyaratkannya lewat gerakan kecil itu.

Omma dan appa berdeham kecil sambil melanjutkan makannya. Sesekali mereka melirik Rathyan dan Daze yang duduk di ujung meja. Anak muda itu melakukan beberapa hal yang membuat alis mereka berkerut semakin dalam. Rathyan mengambilkan air minum buat Daze yang kehausan. Menambahkan makanan di piringnya ke piring Daze. Bahkan sesekali menyuapinya, yang langsung disambut gadis itu tanpa merasa risih. Dia juga membersihkan mulut Daze dengan serbet di tangannya. Dave yang duduk di sebelah Rathyan menghela nafas perlahan. Ia tidak kalah bingung dengan omma dan appa. Bagaimana sebenarnya hubungan kedua manusia ini? Pertanyaan tersebut berulangkali bermain dalam pikirannya sejak meninggalkan Park’s mansion—begitu dia melihat bagaimana Rathyan memeluk erat noonanya guna menghentikan tanggisnya yang mengebu-gebu akibat mendapat berita mendadak tentang halmonie yang tidak sadarkan diri dari Ye Jin.

Omma dan appa saling berpandangan lagi. Tangan mereka menyenggol antara yang satu dengan yang lain—memberi isyarat agar salah seorang di antara mereka mengajukan pertanyaannya. Kesepakatan tidak tercapai. Akhirnya mereka membungkam dalam posisinya masing-masing.


------ ><><>< ------



        
Tok … tok .. tok .. pintu kamar Daze yang tidak tertutup diketuk malam itu.

“Boleh omma masuk?!” tanya omma dari lorong luar.

Daze berpaling dari tumpukan pakaian yang sedang dilipatnya. “Masuklah, omma … “

“Gumawo .. ,” omma masuk kemudian menjatuhkan diri di ranjang Daze. “Kamu sudah baikkan, sayang?!”

“Ne … ,” Daze ikut menjatuhkan diri di atas ranjang.

“Hmm—boleh omma menanyakan sesuatu?” tanya omma ragu-ragu.

Daze mengangkat alisnya. “Ne?”

Raut wajah omma berubah serius. “Bagaimana hubunganmu dengan nak Carls?”

“Itu … ,” Daze mengigit bibir bawahnya.

“Omma sudah mendengar desas-desus selama ini .. ,” sela omma.

“Desas-desus?”

“Tentang hubunganmu dengan nak Carls.” Lanjut omma. “Dan omma tidak percaya. Karena itu omma menelepon nak Carls dan dia sudah menjelaskan semuanya.”

“Omma menelepon Carls?” Daze sangat terkejut. “Untuk apa?”

“Tentu saja untuk memastikan kalau hubungan kalian baik-baik saja!” sahut omma keras. “Dan kamu tahu apa kata nak Carls?”

“Apa?” tanya Daze putus asa.

“Dia bilang semua hanya sementara. Dia butuh waktu untuk berpikir. Tapi dia tidak ingin putus. Tidak seperti yang digosipkan media massa .. Semua tidak benar! Nak Carls akan mencarimu setelah appanya berhasil diyakinkan mengenai kedudukanmu di dalam hatinya.“

Daze mendesah.

“Dan kamu harus percaya padanya, Dazya!” sambung omma. “Kamu juga tidak ingin hubungan yang sudah terjalin selama dua tahun itu kandas begitu saja, kan?”

“Omma .. “

“Berilah waktu padanya. Omma yakin nak Carls mampu menangani semua persoalan itu .. “

“Omma .. “

Tiba-tiba omma menguncang tubuh Daze. “Sadar Dazya! Cuma nak Carls yang cocok buatmu .. “

“Omma, sakit!” Daze meringis ketika tekanan omma di lengannya semakin keras.

Kaget, omma melepaskan tekanannya. “Miane .. ,” digosok-gosoknya lengan Daze. Lalu tertangkap oleh pandangannya sepotong kaos berkerah tinggi yang asing teronggok di atas ranjang. Omma segera menyambar kaos tersebut. Daze sangat terkejut tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap tindakan omma yang kilat itu. Kaos longgar tersebut dikibas-kibaskan omma. Matanya melebar. Ukuran kaos tersebut tidak mungkin buat membungkus tubuh Daze yang mungil.

“Kaos siapa ini?” tanya omma dengan nada dingin.

“Itu … ,” sekali lagi Daze membisu terhadap pertanyaan omma.

“Bukan milikmu?” lanjut omma.

Daze tidak menjawab. Sesungguhnya dia tidak mampu menjawab. Tidak! Yang benar, dia tidak tahu bagaimana caranya menjawab. Pertanyaan itu terlalu menusuk.

“Jangan bilang kaos ini milik Dave, Dazya. Omma hapal betul style si Dave .. ,” kata omma lagi.

Kali ini ditatapnya Daze lekat-lekat. Gadis itu segera membuang muka kearah lain—berusaha menghindari pandangan omma.

“Bukan milik anak muda itu, kan?”

“Omma … ,” lagi-lagi desahan yang mampu dikeluarkan Daze.

“Ya tuhan, Dazya.” Seru omma. “Apa yang ada dalam otakmu?” tanyanya tertahan. “Dia, .. dia seumuran Dave .. ”

“Hubungan kami bukan seperti itu, omma!” sela Daze tiba-tiba.

“Lalu .. ,” tanya omma lebih lanjut. “Seperti apa? Jelaskan pada omma!”

“Saya .. saya … ,” suara Daze tercekat. “ .. entahlah .. ,” katanya putus asa. “Saya tidak tahu …” kepalanya tertunduk ke lantai.

“Daze .. ,” omma memutar tubuh Daze menghadap kearahnya. “Dengarkan omma, sayang! Anak muda itu tidak mungkin memberi kebahagiaan seperti yang kau butuhkan. Tidak seperti nak Carlson. Yang kamu perlukan bukan hanya kebahagiaan sementara, Dazya. Berpikirlah ke depan. Yang kamu perlukan lebih dari itu, karena Han Da’ ZeVe sekarang .. sekarang … ,” perkataan omma terputus sampai di situ.

Mata Daze melebar, “Han Da’ ZeVe kenapa?”

Omma menghembuskan nafas berat. “Tidak apa-apa.” Katanya. “Masalah itu kita bicarakan nanti saja.”

“Omma .. ada apa dengan Han Da’ ZeVe?” desak Daze.

“Sudah omma bilang itu tidak penting.” Sahut omma. “Sekarang masalahmu yang paling mendesak!”

“Omma .. “

“Apa kau mencintai pemuda itu?”

Pertanyaan tersebut bagai petir mengelegar di siang bolong. Begitu mengejutkan sampai-sampai pakaian yang sudah dilipat Daze jatuh berserakan di lantai akibat gerakan tangannya yang tak terkendali.

“Jawab dengan jujur pertanyaan omma!”

“Saya tidak tahu .. ,” Daze mengigit bibirnya.

“Tidak tahu?” wajah omma berkerut. “Kalian .. kalian belum melakukan perbuatan itu, kan? Demi tuhan, jangan sampai peristiwa yang terjadi pada Dave terjadi juga padamu .. “

“Tidak omma!” sahut Daze segera. “Sudah kubilang hubungan kami tidak seperti itu .. “

“Ohh .. ,” omma menghembuskan nafas lega. “Syukurlah kalau begitu.” Kemudian diperhatikannya Daze dengan seksama. “Berarti hubunganmu dengan nak Carlson tertolong?”

“Omma .. ,” desah Daze putus asa. Dia berjongkok, lalu memunggut pakaian-pakaian dari lantai. “Jeobal, saya tidak ingin membicarakan masalah ini sekarang… Mau Carls, ataupun Rath—saya tidak ingin memikirkan mereka ...” Perlahan mata bundar itu berair. “Saya … kehilangan halmonie … saya .. saya sangat sedih .. sungguh .. “

“Dazya .. ,” halmonie menarik Daze ke dalam pelukannya. “Miane .. omma seharusnya tidak memaksamu dalam keadaan begini .. miane .. “

“Omma .. ,” Daze menenggelamkan wajahnya ke pundak omma dan gadis mungil itu mulai menanggis kesenggukan.

Mengingat halmonie membuat perasaannya terluka. Ditambah lagi, persoalannya dengan Rathyan yang tak terpecahkan. Apa yang harus dilakukannya jika pemuda itu tidak memberikan pengakuan yang diharapkannya selama ini, dan yang sangat dibutuhkannya saat ini? Pernyataan langsung Aku mencintaimu atau … paling tidak Aku menyukaimu, yang sangat dibutuhkannya untuk mempertahankan perasaan ini … Mempertahankannya di depan keluarganya .. dan yang pasti, di depan Carlson nanti …


------ ><><>< ------
« Last Edit: October 01, 2010, 02:37:11 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #662 on: October 01, 2010, 09:11:18 pm »
Gumawo mii uda d update [clap] [flowers]       
       
mii chap nie koQ sedih amat ya. . . Jd ikut Kehilangan. [cry] [cry]         mii, mang daze ama cral uda putus ya? [what]   emang uda d crita'in ya? Lupa aQ [hmpfh]     
bagus pada nanya'in status daze and rath. . . Kira" rath ma0 jwb apa mii? [chin]       
D tunggu loh mii next chap'a .hwaiting! [smiley-gen013]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #663 on: October 01, 2010, 09:30:20 pm »
Gumawo mii uda d update [clap] [flowers]       
       
mii chap nie koQ sedih amat ya. . . Jd ikut Kehilangan. [cry] [cry]         mii, mang daze ama cral uda putus ya? [what]   emang uda d crita'in ya? Lupa aQ [hmpfh]     
bagus pada nanya'in status daze and rath. . . Kira" rath ma0 jwb apa mii? [chin]       
D tunggu loh mii next chap'a .hwaiting! [smiley-gen013]
daze dan carl belum bener2 putus kok. wkt itu carls minta waktu utk menenangkan diri. sebnrnya sih sama aja dgn putus, tp masih ada perbedaan tipis [hmpfh] elu ga ingat telepon carl buat daze, yang membuat daze sedih sehingga dikasih saputangan secara tdk lgs oleh rath [biggrin]

Yg sedih2 mesti terjadi say. klu halmonie ga meninggal, daze bakal selamanya tinggal di perth dong [hmpfh] [hmpfh] ...

and itu yg plg memahami daze tuh sebenarnya halmonie. dia mengetahui segalanya, termasuk perasaannya ke rath[lovestruck] [lovestruck]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #664 on: October 01, 2010, 09:40:28 pm »
Gumawo mii uda d update [clap] [flowers]       
       
mii chap nie koQ sedih amat ya. . . Jd ikut Kehilangan. [cry] [cry]         mii, mang daze ama cral uda putus ya? [what]   emang uda d crita'in ya? Lupa aQ [hmpfh]     
bagus pada nanya'in status daze and rath. . . Kira" rath ma0 jwb apa mii? [chin]       
D tunggu loh mii next chap'a .hwaiting! [smiley-gen013]
daze dan carl belum bener2 putus kok. wkt itu carls minta waktu utk menenangkan diri. sebnrnya sih sama aja dgn putus, tp masih ada perbedaan tipis [hmpfh] elu ga ingat telepon carl buat daze, yang membuat daze sedih sehingga dikasih saputangan secara tdk lgs oleh rath [biggrin]

Yg sedih2 mesti terjadi say. klu halmonie ga meninggal, daze bakal selamanya tinggal di perth dong [hmpfh] [hmpfh] ...

and itu yg plg memahami daze tuh sebenarnya halmonie. dia mengetahui segalanya, termasuk perasaannya ke rath[lovestruck] [lovestruck]

       
ia, aQ inget mii, yg d tlp itu toh. . . [laughing]       yahh, berarti masih ada kmungkin'an balik lagi do0nx. Huff >.<     
         
hah, Maksud mamii apa [what] klo halmonie msh ada daze selama'a d perth?      bukan'a bagus. Jd daze deket trus ama rath [hmpfh]       mamii gk niat buat daze balik ke seoul kan? Kacian rath ku cayank [cry]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #665 on: October 01, 2010, 09:49:05 pm »
mami, gomawo dah di update. dan seperti katamu di chapter ini bakalan sedih and mami sukses bikin gw mewek2 pas di scene halmonie nitip pesan buat dave and terutama buatr daze and selama ini halmonie dah tahu mengenai keberadaan rath [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]

lagian rath ama daze berasa dunia milik berdua sih, asyik sendiri aje ampe gak nyadar 6 pasang mata ngamatin mereka, dan ommanya daze paling yg tidak merestui hubungan daze ama rath.

mam, ommanya gak bakalan maksa daze kawin ama carl kan, belum tau aja tuch ommanya kalo rath tajirnya melebihi si carl, whistling whistling lagian si rath susah bener sih bilang"aku suka padamu"pengennya nyosot aje tanpa status, emangnya rath takut ya mam kalo ampe dia ngomong terus terang perasaannya ke daze dia takut kalo suatu saat bakal kehilangan daze??????

mam, gw puas banget bacanya ,walaupun kagak ada yg HOT HOT tp scene yg sedih mengharu biru tapi di chap ni semuanya mulai terungkap dan chap yg makin bikin gw jatuh cinta ama rathdaze....

mam, berikutnya up date BENGKOK INSYAF nich [hmff] [hmff]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #666 on: October 01, 2010, 09:56:41 pm »
vian, bakal ada konflik antara mereka [sweat] sedikit2 la ya, buat bumbu cinta mereka [laughing] [laughing]

shanty, yup berikutnya updatean bengkok. udah jadi beberapa part [hmpfh] [hmpfh]
si rath susah buat ngomong 'aku suka padamu' atau 'aku cinta padamu' karena .. menurutnya sikapnya selama ini sudah menunjukkan semua itu--sudah melebihi kata2. kalau dilht2 perhatiannya emang sudah melebihi segalanya [lovestruck] [lovestruck] gimana jelaskannya ya [chin] [chin] gw yakin elu ngerti [laughing] [laughing]  sebnrnya ada sedikit kekhawatiran jg klu dia mengungkapkan semuanya hubungan mereka bakal berubah [sweat] [sweat] mungkin kecemburuan2 dan kecurigaan2 bakal mewarnai hubungan mereka. ini yg ditakuti rath. dia tdk ingin kehilangan daze. dia ga sadar justru sifatnya ini yg memungkinkan hubungan mereka berubah [heh] lagian dia emang susah mengucapkan kata2 itu. sifatnya dari dulu seperti itu. terlht cuek pdhl dia peduli. kelihatan tdk sayang pdhl dia cinta amat. -sok berfilsafah [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #667 on: October 01, 2010, 10:14:37 pm »
gile ... rath berani bgt pdhl ada dave ama ortunya. sedih sih sedih tp orng laen jgn dilupain. berasa dunia cuma punya mereka doang, dave n ortunya ngontrak kali ya [laughing]

ortunya daze bakal bawa daze ke seoul ya mam, buat ngejauhin dari rath gitu. betul kagak mam [chin]

kemon rath, kita susul daze ke seoul. brangkaaaaaaaaaaaaaat [clap]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #668 on: October 01, 2010, 10:23:30 pm »
gile ... rath berani bgt pdhl ada dave ama ortunya. sedih sih sedih tp orng laen jgn dilupain. berasa dunia cuma punya mereka doang, dave n ortunya ngontrak kali ya [laughing]

ortunya daze bakal bawa daze ke seoul ya mam, buat ngejauhin dari rath gitu. betul kagak mam [chin]

kemon rath, kita susul daze ke seoul. brangkaaaaaaaaaaaaaat [clap]

berangkat apaan [laughing] [laughing]

ortunya emang ngelarang hubungan mereka tapi ga berlebihan kok. daze ga bakal dipaksa pulang ke seoul. emangnya jaman siti nurbaya [hmpfh] [hmpfh] -gw jg tahu loh ttg siti nurbaya [laughing] [laughing]

ada sebuah peristiwa besar yang bakal memaksa daze plg ke korea. sesuatu yg berhubungan dgn carl. dan ini akan membuat rath murka besar. ya, awal dari konflik mereka [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #669 on: October 01, 2010, 10:35:50 pm »
ooo begono, daze ga bakal digeret ortunya buat mudik ke seoul, bagus lah berarti mereka tetep tinggal bareng dong  [lovestruck]

mami tau siti nurbaya tp ga tau oneng ya mam  [hmff]
mian ga jawab pertanyaan mami di UL lagian udh diksh tau ama yg lain  [heh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #670 on: October 01, 2010, 10:55:03 pm »
ooo begono, daze ga bakal digeret ortunya buat mudik ke seoul, bagus lah berarti mereka tetep tinggal bareng dong  [lovestruck]

mami tau siti nurbaya tp ga tau oneng ya mam  [hmff]
mian ga jawab pertanyaan mami di UL lagian udh diksh tau ama yg lain  [heh]
pertanyaan apa?

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #671 on: October 01, 2010, 11:05:42 pm »
ooo begono, daze ga bakal digeret ortunya buat mudik ke seoul, bagus lah berarti mereka tetep tinggal bareng dong  [lovestruck]

mami tau siti nurbaya tp ga tau oneng ya mam  [hmff]
mian ga jawab pertanyaan mami di UL lagian udh diksh tau ama yg lain  [heh]
pertanyaan apa?

pertanyaan mami ttg oneng, liat sendiri lah di UL td aku abis dari sono  [dry]

susah ya bergaul ama orng tua, ingatannya terbatas  whistling  [hmff]

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #672 on: October 01, 2010, 11:50:58 pm »
mami gomawo yah udh update [flowers]
bikin nyesek bgt pas halmonie'a daze meninggal [cry] [cry]
aduh semoga ortunya daze cepet2 menyetujui hubungan rath ama daze *kalo pacaran* [hmpfh]
lanjuuuuuuuuuuuuuuuut mi [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline tisa

  • Newbie
  • *
  • Posts: 60
  • minsun always in my heart :)
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #673 on: October 02, 2010, 01:58:45 am »
mami mami mami  [jumpy] [jumpy]
sebenernyaa si daze tuh sukaa ma rathyan gaak siich ? [what]
kaloo sukaa, knapaa musti bertanya-tanya pada dirinya sendiri ? [what]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #674 on: October 02, 2010, 11:31:07 am »
mami mami mami  [jumpy] [jumpy]
sebenernyaa si daze tuh sukaa ma rathyan gaak siich ? [what]
kaloo sukaa, knapaa musti bertanya-tanya pada dirinya sendiri ? [what]
daze suka ama rathyan kok. yg dia tanyain tuh perasaannya si rath ke dia, bukan perasaannya sendiri.

buat semua, thanks buat komentarnya [lovestruck]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun