Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 99326 times)

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #705 on: October 09, 2010, 06:03:03 am »
mau spoiler ga? [hmpfh]

Ojid ojid dah  punk punk punk punk
ga jadi ahh [laughing] [laughing]

alin, chp ini ga ada yg hot boleh kan? kalau mau yg hot tar ga bisa diupdate, kepanjangan bo [hmpfh]

Klo gtu langsung update aja... [chin]

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #706 on: October 09, 2010, 06:14:08 am »
Yah ko nga jadi si mam???..memang apanya yg kepanjangan???..kan asik kali yg panjang2..hi..hi..hi..

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #707 on: October 09, 2010, 06:18:25 am »
mam kapan update RATH sama TDC ??? ayo donk mam update  [hmpfh] lagi kering FF nih  [cry]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #708 on: October 09, 2010, 06:19:28 am »
tunggu beberapa jam lagi ya [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #711 on: October 09, 2010, 07:44:19 am »
Wah. . . Rath mau d update ya mii? [hmpfh]       hwaiting! Cayo! Semangat! Aza! [smeliy-gen013]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #712 on: October 09, 2010, 07:48:41 am »
sebentar lagi..
stay on tune, girls [hmpfh] --apaan coba [laughing] [bye]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #713 on: October 09, 2010, 07:56:26 am »
sebentar lagi..
stay on tune, girls [hmpfh] --apaan coba [laughing] [bye]

Sebentar laginya berapa detik lagi toh mam? Ntar keburu..  sleep1

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #714 on: October 09, 2010, 07:58:45 am »




Mentari pagi perlahan menampakkan dirinya di atas langit—menyapa bumi dengan sinarnya yang lembut dan berwarna keemasan. Mencairkan sisa-sisa salju yang bergantung di pucuk-pucuk pohon, atap-atap rumah dan jalan-jalan tanah dan beraspal.

Daze mengeliat malas di atas ranjangnya. Matanya berkejap-kejap, berusaha membiasakan diri dengan sinar menyilaukan yang jatuh mengenai retina matanya. Lima menit berlalu, dia menyingkapkan selimut yang membungkus tubuhnya dan turun dari ranjang. Setelah melemaskan badannya yang terasa kaku akibat tidur semalaman, dia membersihkan diri sekadarnya, kemudian beranjak dari kamar.

Daze menuruni tangga menuju lantai bawah. Keadaan rumah sangat sepi saat itu. Dia celingak-celinguk sebentar—seperti mencari sesuatu. Setelah teringat pembicaraan dengan omma kemarin malam, dia berhenti dari kesibukkannya. Benar—omma, appa dan Dave pasti sudah berangkat ke Park’s mansion buat mendiskusikan penundaan pernikahan Dave dan Natalie. Karena kematian halmonie yang mendadak, rencana pernikahan itu harus dibatalkan. Tidak baik jika moment membahagiakan tersebut dibayangi peristiwa menyedihkan yang menimpa halmonie. Wajah Daze berubah sendu. Langkahnya diteruskan sampai di ambang pintu dapur. Sosok jangkung yang berada di dalam menghentikan langkahnya.

“Rath?!” keningnya berkenyit. “Apa yang kau lakukan?” Daze bergerak ke dalam dapur.

Sosok jangkung tersebut berbalik. Sebuah gelas yang sudah terisi susu tergenggam di tangannya.

“Anyong, Dazya .. ,” Rathyan tersenyum.

“A .. apa yang kau lakukan?” tanya Daze lagi. Tubuhnya dijatuhkan di kursi yang berhadapan langsung dengan Rathyan.

Pemuda itu mengerakkan bahu perlahan. “Hanya menyediakan susu buatmu. Kau pasti tidak berselera lagi pagi ini .. “

Daze terdiam. Tangannya bergerak menerima gelas yang disodorkan Rathyan.

“O ya, saya tidak melihat yang lain .. ,” kata Rathyan seperti memberitahu Daze.

Gadis itu mengangguk. “Ne. Omma dan appa menemani Dave ke tempat Natalie. Pernikahan mereka akan ditunda sampai beberapa bulan ke depan. Sedangkan pestanya sendiri mungkin baru bisa dilaksanakan setelah kelahiran bayi mereka .. “

Rathyan mengangguk tanda mengerti sambil mengerakkan tangan Daze yang memegang gelas. “Ayo cepat diminum susunya. Jika tidak cukup, saya akan membuatkan yang lain. Bagaimana dengan bubur atau .. cereal?”

Daze tersenyum sambil mengeleng halus. Susu tersebut mulai diteguknya. Walaupun tidak begitu ingin, dia melakukan juga. Pada saat itu ponsel dalam saku celananya tiba-tiba berbunyi. Daze meletakkan gelas di tangannya ke atas meja kemudian mengeluarkan ponsel tersebut. Ekspresi wajahnya berubah begitu menangkap nama yang tercetak di layar ponsel. Dia segera mengangkat wajah ke arah Rathyan—menatapnya beberapa saat. Pemuda itu membalasnya dengan pandangan bertanya.

Daze mundur ke belakang dan menyapa halus orang yang berada di seberang.

“Carls .. “

Brakk! Daze berpaling ke belakang. Gelas yang tadi diletakkannya di atas meja dihempaskan Rathyan ke wastafel. Gelas tersebut pecah berkeping-keping. Daze langsung menutup ponsel dengan tangannya.

“Ada apa?” tanyanya dengan nada berbisik.

Rathyan tidak menjawab. Celemek yang semula sempat dipakainya, dibuka dan dilemparkan begitu saja ke sudut dapur. Tangannya terkepal, kemudian dihantamkan keras-keras ke atas meja. Dengan tampang dingin dan tanpa berkata apa-apa, dia melewati Daze yang termangu di tempatnya.

“Rath!!” teriak Daze tertahan.

Tapi Rathyan tidak mempedulikannya. Pemuda itu berjalan terus sampai punggungnya menghilang dari pandangan Daze. Gadis itu mengejar keluar, tapi Rathyan sudah benar-benar lenyap dari ruangan itu.

Daze menghela nafasnya. Suara kresak-kresek halus kemudian menyadarkannya. Daze kembali menempelkan ponselnya ke telinga.

“Ne, Carls-a .. “

“Dazya, ada apa? Di sana terdengar ribut!” tanya Carlson khawatir.

Daze tersenyum kecut. “Tidak ada apa-apa. Kenapa kau menelepon sepagi ini?”

“O .. ,” Carlson terdiam. “Begini .. ,” lanjutnya ragu-ragu. “Saya mendengar peristiwa yang terjadi pada halmonie dari tante Han, .. Saya .. ikut berduka-cita Dazya .. “

Untuk beberapa saat Daze tidak merespon.

“Daze!” panggil Carlson.

“Ne, saya masih di sini.” Sahut Daze. “Gumawo .. ,” sambungnya pelan.

“Mian .. “

Daze tersentak. “Untuk apa?” tanyanya heran.

“Karena .. saya tidak menghubungimu selama ini .. ,” jawab Carlson dengan perasaan menyesal. “Beri saya waktu, Dazya. Saya sedang menyakinkan appa mengenai hubungan kita dan sebentar lagi berhasil. Percayalah padaku .. “

Daze tidak mendengarkan. Pikirannya saat itu melayang pada Rathyan. Apa yang menjadikannya semurka itu tadi? Apa ada peristiwa mendadak yang tidak menyenangkan hatinya? Berhubungan dengan telepon dari Carls ini-kah?

“Aku tidak akan membiarkan kebangkrutan Han Da’ ZeVe menghancurkan hubungan kita .. TIDAK AKAN!” Carlson terus berceloteh di seberang.

Kata-kata yang berhasil ditangkap Daze hanya ’ kebangkrutan Han Da’ ZeVe’. Dia tersentak.

“MWO?!!” teriaknya. “Kebangkrutan Han Da’ ZeVe? Apa maksudmu?”

Carlson tercekat. “Ka—kamu tidak mengetahuinya?”

“Mengetahui apa?” desak Daze. “Kebangkrutan Han Da’ ZeVe? Ini lelucon, kan?”

“A .. apa tante Han tidak mengatakannya kepadamu?” tanya Carlson terbatah-batah.

“Mengatakan apa?!” teriak Daze semakin keras. “Jangan bicara sembarangan!”

“Saya berkata sesungguhnya, Dazya .. ,” balas Carlson. “Han Da’ ZeVe bangkrut setengah bulan yang lalu .. “

Daze lemas ke lantai. “Han Da’ ZeVe bangkrut? Tidak mungkin .. ,” dia mengeleng perlahan.

“Miane, tidak seharusnya saya … “

“Saya tidak ingin membicarakan apapun sekarang ini .. “

“Daze .. “

“Carls, please. Saya ingin istirahat .. “

“Tapi .. “

“Kumohon .. ,” Daze tidak menunggu protes Carlson lebih lanjut. Ditekannya tombol off kemudian tangannya yang memegang ponsel terkulai ke lantai.

Daze menanggis tersedu-sedu sambil merangkul kedua lututnya. Selain peristiwa yang menimpa halmonie, ternyata dia harus menerima kenyataan pahitnya kebangkrutan Han Da’ ZeVe yang selama ini diusahakan kebangkitannya dengan susah payah.    

  
------ ><><>< ------

      

Daze memasuki kamar Dave sekitar pukul 10 malam. Dave sudah memejamkan mata di atas ranjang saat itu. Daze mendekatinya dengan ragu-ragu. Langkahnya agak tersendat sampai berhenti ketika lututnya membentur pinggir ranjang.

“Hmm--,” sapa Daze perlahan.

Dave membuka matanya. “Noona?” serunya kaget. Dave segera bangun dengan posisi duduk di atas ranjangnya. “Ada apa?” tanyanya keheranan.

“Hmm—begini .. ,” Daze berhenti.

“ya?” Dave mengerutkan alisnya. “Noona?” tegurnya ketika Daze tetap berdiam diri.

Daze tersentak. “Oh!”

“Ada apa?” tanya Dave lagi.

Daze berusaha tersenyum. “Bagaimana pembicaraan hari ini? Sukses?”

“Apa omma belum menceritakannya?” tanya Dave tak percaya. “Bukan itu yang ingin noona tanyakan, kan?”

“Saya .. ,” Daze menundukkan kepala perlahan.

“Mengenai Rath?” Dave berusaha membantunya.

Daze mengangkat wajah. Matanya melebar perlahan-lahan. “Ba .. bagaimana kau .. mengetahuinya?”

“Apa noona serius?”

“Apa?” tanya Daze seakan tak mengerti.

“Dengan Rath. “ Dave mendesah. “Sungguh noona, dia tidak cocok buat noona. Rath—terlalu misterius dan … tak tertangkap .. ,” dia menghela nafas perlahan. “Walaupun dia sahabatku, aku tetap tidak mengenalnya .. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya dan juga tidak tahu orangnya seperti apa ..  Apa yang ada di balik kehidupannya … semuanya sangat semu … “ Dave menatap Daze lekat-lekat. “Aku tidak setuju dia bersama noona. TIDAK BOLEH. Noona pasti akan kecewa. Percayalah! .. Carls hyung lebih cocok buat noona. Lagipula hubungan noona dengannya sudah berlangsung beberapa tahun, bukan? Tidak mungkin semudah itu putus?”

Mata Daze meredup. “Entahlah .. “

“Noona .. “

Daze merasakan tangan Dave menempel di punggung tangannya.

“Percayalah padaku, noona … Jauhi Rath. Dia .. dia terlalu berbahaya .. “

“Berbahaya?” mata Daze melebar.

Dave tertawa. “Kalau ini hanya perasaanku saja .. “

“O .. ,” Daze mengangguk dan ikut tertawa. Sudah lama rasanya dia tidak berbincang seakrab ini dengan Dave. “Gumawo .. ,” dia balas menepuk tangan Dave dengan tangan satunya. “Noona akan mempertimbangkan pendapatmu .. ,” pandangan Daze beralih ke depan. “Rath, … saya juga tidak memahami perasaannya .. “    


------ ><><>< ------

      

Rathyan mengesek-gesekkan tanah kental yang melekat di sepatu bootsnya. Berkali-kali dia mengumpat. Tinggal di hotel kumuh ini membuat badannya gatal-gatal. Rathyan sampai di depan pintu kamarnya. Dia masuk ke dalam dan mengeluarkan ransel berisi beberapa helai pakaian yang sempat dibawanya dua hari yang lalu. Kemudian dia berjalan ke resepsion hotel dan check-out. Agak terburu-buru dia menuju ke BMW bututnya yang terparkir di serambi depan hotel.

Saat itu seseorang memanggil namanya.

“Rathyan Jang!!”

Rathyan menoleh kearah suara itu. Tampangnya berubah kaku.

“Apa yang kau inginkan?” tanyanya dingin.

Cewek di hadapannya tersenyum samar. Kemudian didekatinya Rathyan dengan seorang pria berperawakan sedang dan berpenampilan rapi menjejari langkahnya dari samping.

“Masalah kita belum selesai!” sahut cewek itu.

Rathyan mendengus. “Jangan mengusikku lagi, nona Park. Saya tidak ingin berurusan denganmu!” dibukanya pintu mobilnya, tapi segera ditahan oleh pria di samping Gretchell.

“Please, dengarkan dulu penjelasan Gret .. “

Kening Rathyan berkerut. “Apa hak anda mengaturku?” kemudian dia berpaling pada Gretchell, selanjutnya berbalik lagi pada pria tadi. “Kalian,, jangan mengangguku!” didorongnya pria itu ke samping.

“Tuan!”

Pria itu menyentuh pundaknya dan menariknya ke belakang. Rathyan segera mengibaskannya.

“Sudah kubilang jangan mengangguku! Urus saja cewekmu itu!” dia menunjuk ke arah Gretchell—membuat mata gadis itu terbelalak lebar.

“Apa kau bilang?! Aku, cewek .. “

“THAT GUY, BOSS!!”

Teriakan keras itu memotong perkataan Gretchell. Dia, beserta pria di sebelah menoleh ke belakang. Begitu juga Rathyan, mempertajam pandangannya ke depan. Beberapa orang dengan senjata di tangan berlari ke arah mereka. Tampang mereka sangat sangar. Dengan rambut gondrong dan dandanan kucel, yang kalau dilihat langsung dapat diperkirakan kalau mereka bukan orang sembarangan. Dua di antara mereka bule sedangkan yang lain sepertinya orang Cina atau Korea.

“Apa benar dia?” tanya pria berpostur tinggi dalam bahasa Korea. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat dari besi yang cukup besar. Dilihat dari gayanya, dia pasti pemimpin dari gang yang terdiri dari tujuh orang itu.

Pria di sebelahnya, yang agak pendek, mengangguk. “Benar! Dia yang membuat Jess menghindari boss!”

Tampang sangar pria yang dipanggil boss menjadi semakin sangar. “Berengsek!!!” Ditatapnya Rathyan dengan mata mendelik lebar. “Berani sekali kau!!”

Rathyan yang tidak mengerti dengan pembicaraan mereka mengerutkan alisnya. “Siapa kalian?” tanyanya tenang.

Walaupun sekarang sudah terkurung oleh orang-orang ini, dia tidak gentar sedikitpun. Ditatapnya tajam-tajam kelompok berandalan yang terdiri dari pemuda-pemuda yang kelihatan sedikit mabuk ini. Tiba-tiba dirasakannya ada yang menarik tangannya. Rathyan menoleh. Gretchell sudah mundur ke belakang dengan wajah pucat. Tangannya menarik dan mengoyang-goyangkan tangan Rathyan dengan gugup. Sedangkan pria yang tadi berdiri di sebelahnya sudah berganti posisi ke depan—seakan berusaha melindungi gadis itu dari keadaan yang tidak diinginkan. Rathyan tersenyum samar. Dengan halus dilepaskannya genggaman Gretchell di tangannya, kemudian dia mengibaskan tangan keras-keras sebagai isyarat pada mereka untuk berlalu dari situ.

“Kalian pergilah! Ini tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian!”

“Tidak!” sahut Gretchell tegas.

“Kami tidak mungkin meninggalkanmu seorang diri di sini!” lanjut pria di sebelahnya.

Rathyan menghembuskan nafasnya. “Gumawo, tapi tidak perlu!” katanya tajam. “Jangan berlagak pahlawan karna saya paling benci sikap ini! Sekarang lenyaplah!” kemudian dia memutar tubuh menghadapi gerombolan tadi. “Apa mau kalian?!”

“Kau masih berani bertanya?” gertak si boss.

“Ya, saya bisa menebak.” Ejek Rathyan. “Jess, kan? Tapi jujur, saya tidak mengenalnya!”

“O ya?” si boss tertawa sengau. “Maksudmu cuma si Jess yang diam-diam tertarik padamu sedangkan kau sendiri tidak tahu?! Begitu?”

“Ne!” sahut Rathyan dengan pandangan tak berkedip.

“Besar mulut sekali!!” dengus si boss keras-keras. “Mati kau!” tongkat di tangannya diayunkan dengan mendadak. Rathyan menghindar ke samping. Tongkat tersebut hanya mencium angin, membuat tampang pria jangkung di depannya menjadi berang.

“HAJAR DIA!!!” teriaknya pada anak buahnya.

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, para berandalan muda tersebut mengeroyok Rathyan. Pemuda itu menyudut ke belakang, berusaha menghindari beberapa tongkat yang diayunkan secara beruntun kearahnya. Gretchell berteriak histeris ketika sebuah tongkat mengenai wajah Rathyan. Tangannya menutup mulut dengan mata terbelalak lebar. Pria di depannya segera mendorongnya ke belakang dengan tangan terkembang—membentengi dirinya dan Gretchell dari serbuan yang tidak dilancarkan pada mereka.

Rathyan meringis. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Goresan panjang yang baru tercetak di pipi kirinya terasa nyeri. Rathyan mengatupkan gerahamnya keras-keras dan .. Puhhhh!!, disemburkannya darah yang memenuhi mulutnya ke tanah kemudian dihapusnya sisa-sisa darah yang menempel dengan jempol kanan.

“Kalian!!” tangannya menunjuk orang-orang tersebut dengan nafas memburu. “Apa tidak perlu mencari kebenaran dari masalah ini dulu?!”

“Untuk apa?” seru si boss. “Semua sudah sangat jelas!”

Rathyan mengeleng. “Sudah kubilang .. aku tidak mengenal Jess!”

“SETAN KECIL!!” murka pria itu. Perkataan ‘tidak mengenal’ dari Rathyan membuatnya semakin berang. Tongkat di tangannya bekerja lagi, begitu juga para anak buahnya.

Rathyan mendengus dan segera menghindar ke belakang. Dentingan-dentingan tajam dari tongkat-tongkat besi yang saling beradu dan teriakan-teriakan keras dari Gretchell mewarnai tempat itu. Orang-orang yang berada di sekitar situ mulai tertarik pada pertikaian tersebut. Mereka mengerumi dengan pandangan bertanya-tanya. Begitu menyadari apa yang terjadi, beberapa di antara mereka langsung menghubungi nomor polisi.

Rathyan berteriak keras ketika salah sebuah senjata kembali mencium bagian tubuhnya. Kali ini darah mengalir deras dari lengannya yang tergores silet yang dikeluarkan dengan tiba-tiba oleh salah seorang penyerangnya. Tubuhnya sudah memar-memar saat itu. Rathyan menghembuskan nafas sambil memejamkan matanya. Dia menghindar lagi ketika tongkat si boss kembali terayun kepadanya.

Teriakan-teriakan Gretchell semakin keras. Dia tidak mampu bergerak dari posisinya. Gadis itu berteriak-teriak tak karuan sambil mengibas-ngibaskan tangannya berulang-kali—dilakukannya terus-menerus seolah tidak sadar. Kejadian itu membuatnya shock berat. Pria yang bersamanya melihat itu dan menyadari keadaannya yang tidak stabil. Segera ditariknya Gretchell dan dibawanya menjauh dari pertikaian sengit yang sedang terjadi.

Keadaan semakin heboh ketika Rathyan tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari balik jas kulitnya. Barang itu berkilat-kilat tertimpa lampu redup di jalan. Sebilah pisau lipat yang cukup panjang. Dan salah seorang penyerangnya berteriak keras ketika pisau lipat di tangan Rathyan mengenai kulitnya.

Gretchell berteriak lagi. Tangannya menutup mulut semakin erat. Dipandanginya Rathyan dengan ekspresi tak percaya. Pemuda ini berkeliaran dengan pisau lipat setajam itu di tubuhnya? Tidak mungkin! Mengerikan sekali! Mengapa dia harus melakukannya? Apakah .. apakah dia sudah biasa dengan keadaan seperti ini? Ditatapnya Rathyan lekat-lekat. Raut wajah pemuda itu sangat datar. Darah yang mengalir deras dari tubuh korban tidak membuatnya bergeming. Beginikah watak pemuda ini yang sesungguhnya? Jenis pria bertangan dingin? Gretchell bergidik ngeri.

Sirene polisi terdengar dari kejauhan. Orang-orang yang masih gencar melancarkan serangannya ke arah Rathyan berhenti mendadak. Teriakan-teriakan ramai terdengar. Para penonton segera memberi jalan kepada para polisi yang keluar dari mobil dinas dengan terburu-buru. Gerombolan kecil tersebut segera menatap boss mereka.

Pria jangkung tersebut mendengus. “GO!!!” tangannya digerakkan ke atas. Sekejap saja para berandalan itu melarikan diri dari tempat itu.

Rathyan melebarkan pandangan berkeliling. Para polisi sudah hampir mencapai tempatnya berdiri. Rathyan berlari ke mobilnya. Ketika melewati Gretchell, ditariknya tangan gadis itu.

“Ikut aku pergi dari sini! Keadaan akan repot jika para polisi itu berhasil menangkap kita!” dia melirik pria di sebelahnya. “Kau juga. Masuk ke dalam mobil!”

Pria itu mengangguk. Dia kelihatan sudah agak tenang sekarang. Berlainan dengan Gretchell yang berusaha berontak dari Rathyan. Pria tersebut segera menepuk pundaknya.

“Tidak ada waktu lagi, Gret-a. Ayo masuk ke dalam mobil!”

“Oppa .. ,” desis Gretchell lirih.

“Oppa akan melindungimu. Jangan takut!” pria itu menghiburnya.

Gretchell mengangguk. Dia mengibaskan tangan Rathyan kemudian mengikuti pria yang dipanggil oppa tersebut masuk ke jok belakang. Rathyan menutup pintu mobil dengan keras kemudian menstarter mesin dengan kunci yang dimasukkannya secara terburu-buru. BMW biru muda itu meluncur ke depan dengan suara meraung-raung keras. Orang-orang yang mengelilingi tempat itu langsung menghindar dengan sempoyongan. Mereka mengerutu dan mengutuk karena mobil butut tadi hampir menyerempet tubuh mereka.              
      

  
------ ><><>< ------

      

Rathyan menghentikan BMW bobroknya di pinggir jalan yang agak sunyi. Dia membuka pintu mobil dan mengamati keadaan sekeliling. Hanya beberapa mobil yang melintas sekali-kali. Tempat itu terlihat cukup aman. Rathyan bernafas lega. Kepalanya ditarik kembali, lalu dia berpaling ke belakang.

“Di sini cukup aman. Kalian keluarlah dan cari tumpangan sendiri. Masalah tadi tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian jadi jangan khawatir para berandalan sialan itu akan mencari kalian. Sekarang pergilah!”

Pria di sebelah Gretchell membuka pintu di sebelahnya. “Gumawo. Saya tidak tahu apa perkataan ini tepat .. ,” dia tersenyum kecut. “Tapi karena kau, nyawa kami hampir melayang .. ,” Setelah memberi tatapan menyalahkan, dia keluar dari mobil.

“KAU .. ,” Gretchell tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Rathyan yang sudah berpaling ke depan, kembali menoleh. “Ini kau yang sesungguhnya?”

“Mwo?” tanya Rathyan tak mengerti.

Sebelum Gretchell menjawab, terdengar pintu dibuka di sebelahnya. Kepala pria yang datang bersamanya nonggol dari luar.

“Kita pulang sekarang, Gret-a .. “

Gretchell memberi senyuman pada pria itu, kemudian menerima uluran tangannya. Dengan halus pria tersebut membantunya keluar dari mobil.

“Dia pria terbaik buatmu .. “

Gretchell menoleh. Saat itu Rathyan melirik pria di sebelahnya.

“Dia berani mempertaruhkan nyawanya buatmu.” Lanjut Rathyan sambil beralih padanya. “Saya yakin kau tahu maksudku .. “

Gretchell mengangguk perlahan. “Ne. Setelah kejadian tadi, saya tahu siapa yang paling cocok buatku .. ,” dihempaskannya pintu mobil sehingga menimbulkan suara keras.

Rathyan melirik mereka lewat jendela kaca mobilnya. Gretchell tampak menyandarkan kepalanya di dada pemuda yang menuntunnya ke seberang jalan. Dua menit kemudian sebuah taxi mendekati mereka. Rathyan mengalihkan perhatian ke depan. Diinjaknya pedal gas. Mobilnya meraung-raung, lalu melesat ke depan dengan kecepatan tinggi.


------ ><><>< ------

      

Daze terkejut mendapati Rathyan yang babak belur di ambang pintu depan. Tangannya yang masih memegang gerendel pintu mengenggam erat.

“A .. apa yang terjadi?” tanyanya gugup.

Daze segera menyentuh wajah Rathyan, membuatnya mendesis halus.

“Sakit?” tanyanya cemas.

“Tidak!” Rathyan menangkap pergelangan tangan Daze. Menariknya ke arahnya. “Saya tidak apa-apa.”

“Tapi .. ,” Daze melirik dengan gelisah. Jas kulit yang sobek di bagian lengan dan darah yang sudah mengering juga tertangkap olehnya sekarang. “Da .. darah .. Kau .. berkelahi, ya?”

“Tidak. Saya tidak .. ,” Rathyan mengangkat tangannya. “Ah—sudahlah.” Katanya akhirnya. “Ini tidak penting.” Kemudian dia menatap Daze lekat-lekat. “Bagaimana keadaanmu dua hari terakhir?”

Daze mengigit bibir perlahan. “Baik.” Dia berdusta.

“Baik?” bibir Rathyan tertarik ke atas. “Ya, tentu saja baik-ya?”

“Maksudmu?” balas Daze tak mengerti.

“Tidak ada!” Rathyan mengalihkan pandangan ke arah lain. “Saya ingin istirahat. Kita bicara lagi nanti .. “

Didorongnya Daze ke samping, lalu dia berjalan dengan tenang ke dalam rumah. Daze terperangah. Untuk pertama kalinya dia mendapat sikap sedingin ini dari Rathyan. Kemana ciuman hangat yang sering dilancarkannya apabila mereka sudah lama tidak ketemu?—ya, paling tidak beberapa hari. Itu sudah termasuk lama, kan? Kemana jua pandangan lembut dan sinar mata yang memantulkan kerinduan dari sepasang mata elang itu? Kemana perginya semua itu? Daze menutup pintu depan dengan lesu.


------ ><><>< ------

      

”Apa yang terjadi denganmu?”

Pertanyaan keras dari omma menyadarkan Daze. Gawat!! serunya sambil melesat ke dalam.

Rathyan tampak berhadapan dengan omma di ruang tengah. Sikap mereka terlihat tegang.

“Omma!” sapa Daze. Dia berusaha tersenyum, tapi itu tidak membantu suasana yang sudah tercipta di antara mereka.

“Kau habis berkelahi?” tanya omma dengan pandangan menyelidik.

Rathyan tidak menjawab. Tapi pandangannya juga tidak terlepas dari tatapan omma.

Mengapa dia masih bersikap menantang dalam keadaan begini? rutuk Daze dalam hati.

Segera ditariknya lengan Rathyan. “Rath harus beristirahat, omma. Dia .. dia terjatuh dari tangga tadi … “

“Tangga mana, Dazya?” tanya omma tajam. “Jangan belajar membohongi omma!”

Daze menunduk perlahan. Ya, alasannya memang terlalu memaksa. “Miane .. ,” ujarnya halus.

Omma beralih kembali pada Rathyan. “Dari semula saya sudah tidak menyetujui pergaulanmu dengan Dave .. Dan lihat, saya tidak salah! Kau membawa dampak buruk buat Dave .. “

“Omma!” seru Daze.

“Omma belum selesai, Dazya!” bentak omma. Membuat Daze langsung membungkam di tempatnya.

“Buat Dave, saya tidak akan setegas itu. Bagaimanapun dia seorang pria. Tindakan apapun tidak akan seburuk yang mungkin terjadi pada Daze .. ,” omma berpaling lagi pada Daze. Gadis itu segera menundukkan wajahnya. “Daze adalah anak gadis kami satu-satunya. Kami rela melakukan apapun buat kebahagiaannya. Mau itu karir ataupun masa depannya, kami ingin yang terbaik.” Omma berdeham pendek, kemudian melanjutkan perkataanya yang tertunda, “Saya tahu nak Rathyan mengerti maksud tante .. Pria yang pantas mendampingi hidup Daze adalah pria yang sudah mandiri dan penyayang, bukan pria muda sepertimu ..”.

“Omma!” Daze mengangkat wajahnya, terkejut. Dia tidak menyangka omma akan seterus-terang ini. Dia berpaling pada Rathyan. Ekspresi pemuda itu tetap datar. Tak mampu dibaca apa yang sekarang berada dalam otaknya.

“Nak Rathyan masih muda.” Sambung omma. “Tante yakin cewek yang bersedia menjadi pacar nak mengantri dari Perth sampai ke .. Seoul—mungkin, karena itu .. tante mohon, lepaskan Daze .. Dia tidak cocok buatmu .. “

“Omma!” Daze tidak bisa menahan lagi. Lututnya lemas. Dengan memelas dia menatap omma. “Berhentilah .. sudah cukup .. “

Samar-samar Daze menangkap sosok Rathyan bergerak lewat ekor matanya. Dia menoleh kearah pemuda itu. “Rath .. ,” panggilnya lirih.

Tampang Rathyan sangat keras saat itu. Gerahamnya terkatup rapat sehingga bentuk wajahnya berubah persegi. Mata elangnya menatap tajam ke depan—tak berkedip. Lapisan tipis yang transparan melapisi bola matanya—membuatnya terlihat sangar sekaligus .. –bagi Daze, terlihat menyedihkan. Rathyan melirik Daze. Tangannya mengepal perlahan-lahan. Pandangannya kembali tertuju ke depan. Dia memutar tubuh kearah pintu, lalu bergerak dari situ.

“RATH!!” teriak Daze. Dia bermaksud mengejar Rathyan tapi segera dihentikan omma.

“Biarkan dia pergi, Dazya!” omma menariknya ke belakang.

“Omma .. ,” desah Daze putus asa.

“Dia tidak cocok buatmu. Dan tidak berarti jika dibandingkan nak Carl .. “

“Saya mohon, omma .. ,” Daze terisak halus. “Jangan mengungkit Carls lagi. Kami sudah putus. Hubungan kami habis, .. dan ini tidak ada kaitannya dengan Rath. Dia bukan orang ketiga di antara kami, jadi saya mohon .. ,” Daze menatap omma, “ .. biarkan saya memilih .. “

“Dazya .. ,” seru omma kaget.

“Please .. ,” tambah Daze.

Dia mundur ke belakang secara perlahan-lahan. Ekspresinya sangat memelas. Seakan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terwujud. Kemudian dia berbalik kearah pintu dan menghambur keluar.

“DAZE HAN!!!”

Teriakan omma tidak dipedulikannya. Daze berlari ke pintu depan. Didobraknya pintu itu sampai terhempas keras ke dinding, kemudian dia menerjang keluar. Tapi tidak didapatinya bayangan Rathyan di sana. Daze berbalik ke belakang. Dia berlari di sepanjang lorong menuju pintu belakang. Omma yang baru keluar dari ruang tengah tidak digubrisnya.

“Daze Han, dengarkan perkataan omma .. “

Daze melewati omma begitu saja. Dia keluar dari pintu belakang dan berlari sepanjang taman. Tetap tidak didapati sosok Rathyan. Suara air melalui selang yang melintang sepanjang taman menghentikan langkahnya. Daze berpaling ke sebelah kanan. Di sana—di bawah balkon yang agak merapat ke dinding, Ye Jin tampak sedang membersihkan pot-pot bunga. Daze berlari kearahnya.

“Ye Jin-a!”

Ye Jin menghentikan kesibukannya dan berpaling kearah Daze. “Agashi … ,” jawabnya dengan hormat.

“Rath .. ,” Daze terengah-engah. “A … apa kau melihat Rath?”

“Tuan Jang?” Ye Jin memastikan.

Daze mengangguk.

Ye Jin menunjuk ke jalan kecil yang menuju ke hutan. “Tadi dia menuju ke sana. Kelihatannya terburu-buru. Memangnya ada .. “

“Thanks, Ye Jin-a .. ,” Daze menghentikan perkataan Ye Jin sebelum selesai.

Dengan cepat dia berlari ke sana. Tidak dipedulikannya teriakan-teriakan Ye Jin yang bertubi-tubi.

“AGASHI!! JANGAN KE SANA … TERLALU BERBAHAYA!! SALJU TEBAL AKAN MENYESATKAN JALAN KELUAR, .. AGASHI!! … “

Teriakan-teriakan selanjutnya semakin samar. Daze masuk semakin dalam. Jalanan yang tertutup salju tebal terhampar di hadapannya sekarang. Pohon-pohon kering yang sudah gugur berdiri tegak mengelilinginya seakan siap mencakar dengan ranting-rantingnya yang panjang dan tajam. Daze menghentikan langkahnya secara mendadak. Hanya hamparan putih yang tertangkap oleh pandangannya di mana-mana. Daze berpaling ke belakang. Sama saja. Pemandangan di seputarnya sama semua. Dia tidak bisa membedakan lagi mana jalan keluar—tempatnya masuk tadi. DEGG!! Hati Daze berdetak. DIA TERPERANGKAP SEKARANG—TERDAMPAR DI SINI SEORANG DIRI.


------ ><><>< ------
« Last Edit: November 26, 2010, 09:41:16 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 9 update 2 Oct'10
« Reply #715 on: October 09, 2010, 07:59:27 am »
semoga ga kependekkan [heh] mian buat kekurangannya soalnya ga gw periksa ulang [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]

« Last Edit: October 10, 2010, 05:31:37 pm by Vay_za »

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
mi kurang panjang  [hmpfh] harusnya diterusin sampe rath nemuin daze pingsan, terus dibawa ke pondok deh   [on] terus terus pasti ada kissing'a kaya BOF episode 12 ye mi  [lovestruck] ??? terus abis itu si daze pulang ke seoul kan mi  [cry] ??? sok tau mode.on  [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mi kurang panjang  [hmpfh] harusnya diterusin sampe rath nemuin daze pingsan, terus dibawa ke pondok deh   [on] terus terus pasti ada kissing'a kaya BOF episode 12 ye mi  [lovestruck] ??? terus abis itu si daze pulang ke seoul kan mi  [cry] ??? sok tau mode.on  [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]
yeee kan udah gw blg kalau mau yg hot pasti kepanjangan and ga bisa diupdate malam ini hammer2 hammer2
scenenya ga bakal kyk bof jadi lupakan aja sok tau kamu [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
[clap] [clap] yee. . . Di update juga.  Gumawo mii [flowers]       
       
emm, ia mii kurang panjang, tp lumayan lah [hmpfh]       di chap nie rath serem amat ya mii?       Mana pake bawa piso lipet segala. . . >.<        tp itu d keluarin klo lg keada'an darurat do0nx kn mii?         
         
Duh, omma. blak" an amat c? Kasian rath. . . [cry]      mii, yg d awal chap itu rath lg cemburu ya?     Klo ia, parah amat sampe mecah'in gelas. Hii >.<         
ditunggu mii next chap'a. . . Gpl ya [laughing]