Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 98497 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] adegan2 yg bikin sumringah [chin] kok gw ga yakin [hmff] kaborrrrr [bye]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
spoilernya bikin penasaran [heh] UPDATE [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [hmpfh]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Daze berlari menerobos pepohonan dan hamparan salju di depan, sampai tiba di sebuah titik yang berhasil ditembus sinar mentari pagi. Dia berputar-putar di tempat sambil menengadah ke atas--berusaha mencari arah keluar yang tepat. Bagaimanakah letak mata angin? Beberapa menit berlalu dan tetap tidak diperolehnya jalan itu. Dia sungguh tidak tahu bagaimana harus bergerak. Perlahan dia menoleh ke belakang. Apakah itu jalan yang tadi di laluinya? Kemudian dia berpaling ke samping. Atau .. jalan yang itu? Daze mengeleng sambil memejamkan matanya. Dia benar-benar tidak tahu.

Daze merosot dari posisinya. Bagian belakang tubuhnya terasa dingin begitu menyentuh salju. Selama beberapa menit dia terduduk seperti itu. Pandangannya tidak berhenti, bergerak liar menjelajahi setiap sudut hutan.Uap tebal tersembur dari mulut dan hidung Daze. Gadis malang itu mengigil kedinginan. Sekujur tubuhnya terasa beku dan kaku--tak bisa merasakan apa-apa lagi. Berulangkali dia mengosok-gosokkan telapak tangannya, namun tetap saja kebekuan itu tak terusir pergi. Dengan susah payah dia beranjak bangun dari salju, lalu mulai bergerak kembali. Jalan yang diputuskan diambilnya adalah jalan di sebelah kiri, yang agak berliku tapi tidak terlalu banyak ditutupi pepohonan.

Hampir lima menit Daze berjalan. Pemandangan di sekelilingnya sama saja—pohon-pohon besar dan hamparan salju yang dilihatnya sejak tadi. Langkah Daze semakin tak teratur dan sempoyongan, bergoyang ke kiri dan kanan seperti orang mabuk. Pandangannya perlahan mengabur. Daze sadar sebentar lagi dia bakal pingsan, namun dengan sekuat tenaga dipaksakannya tetap bertahan. Dia berusaha membuka mata lebar-lebar. Tiba-tiba sebuah akar besar yang menyembul dari tanah, yang tidak dilihatnya, membuatnya terjerembab.

“Akhh .. ,” Daze berteriak lirih.

Celananya koyak di bagian lutut. Darah segar perlahan merembes keluar dari luka di lututnya. Daze mengigit bibir keras-keras. Dipeluknya sepasang lututnya erat-erat. Ketakutan-ketakutan mulai menghinggapi hati, dan menguasai perasaannya. Bagaimana jika jalan keluar dari hutan ini tidak ditemukan? Gimana jika tidak seorangpun menyadari kepergiannya? Ye Jin memang mengetahui kenekatannya masuk ke dalam hutan ini, tapi itu tidak menjamin dia atau orang-orang yang dimintai pertolongannya akan berhasil menemukan keberadaannya? Bagaimana ini? Daze terisak halus. Aku tidak ingin mati di sini!! Tidak!! Seseorang .. siapapun dia, .. tolonglah aku …

Kepala Daze tertunduk ke jalan bersalju. Tubuhnya tak bergerak, kaku di tempat. Dia sudah tak bertenaga lagi. Capek dan sangat kedinginan.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Suara itu terdengar sangat jauh. Aku pasti sedang bermimpi! Daze tersenyum pedih.

“Hey—Dazya!!”

Sampai sebuah tangan hangat menarik lengannya, barulah Daze benar-benar sadar. Dia tersentak. Tidak! Ini bukan mimpi! Sentuhan ini sangat nyata!

Daze menoleh lambat-lambat.

“Rath .. ,” ujarnya lirih tak percaya.

“Ayo bangun!”

Kembali Rathyan menarik lengannya. Daze bangkit dengan sisa-sisa tenaganya. Namun setelah berdiri tegak, dia ambruk dalam pelukan Rathyan.

“Yaa—Dazya,, buka matamu! Apa kau masih sadar?”

Daze membuka mata perlahan. “Ne .. ,” jawabnya dengan suara serak dan kering.

“Kenapa sampai berada di sini?”

“Aku mengejarmu .. “

“Paboyo?” Rathyan berdecak keras. “Apa kau tak tahu sangat berbahaya berkeliaran dalam hutan bersalju? Dikemanakan otakmu?”

Daze tersenyum lemah. “Gwencanayo .. Aku .. aku mengkhawatirkanmu .. Soal omma, .. mianeyo .. “

“Pabo!” murka Rathyan. “Kau bisa mati dengan kecerobohan ini! Lain kali jangan lakukan lagi! Araso?”

Daze mengangguk. “Ne .. “

“Apa kau bisa berjalan?”

“Hmm--,” Daze mengigil kedinginan.

“Gwencana? Apa yang kau rasakan?”

“Dingin .. ,” jawab Daze dengan bibir bergetar keras.

Rathyan menghembuskan nafasnya. “Chakaman .. ,” katanya dengan suara melembut. Dia melepas mantelnya kemudian menyampirkannya ke pundak Daze.

“Gwencanayo .. ,” tolak Daze halus.

“Jaga kestabilan suhu badanmu! Berhentilah bersuara!”

“Tapi kau …. “

Perkataan Daze segera diputus oleh Rathyan. “Saya tidak apa-apa .. “

Rathyan menuntun Daze berjalan perlahan. Pandangan pemuda itu tajam tertuju ke depan sambil sesekali ditolehkan seperti mencari-cari sesuatu di pohon-pohon atau tanah yang mereka lewati. Daze menyampirkan kepalanya ke dada bidang Rathyan. Diliriknya pemuda itu dengan sepasang matanya yang sekarang berangsur jernih melalui sela-sela lekukan wajahnya yang keras. Alis Daze berkerut perlahan. Apa yang kau pikirkan sekarang? Kau terlihat murka sekali tadi. Ya, aku tahu .. memang banyak hal yang terjadi. Omongan omma keterlaluan jadi tak heran kau marah seperti itu. Tapi apa perkataan omma salah semuanya? Tidak. Aku yakin kau tahu omma tidak salah seluruhnya, makanya kau sangat marah. Hubungan kita yang tidak jelas. Ini inti permasalahan yang tak dapat diselesaikan sampai sekarang. Mengapa kau tidak mengatakan apa-apa .. atau jujur saja ..? Mengapa ..

“Lain kali jika masuk ke dalam hutan, apalagi yang tertutup salju seperti ini, kau harus memberi tanda biar nggak tersesat .. ,” Rathyan menoleh pada Daze. “ … Araso?”

“Ne .. ,” jawab Daze.

“Aku akan mengantarmu sampai ke jalan keluar .. setelah itu, kau pulang sendiri .. “

Daze segera meremas lengan Rathyan. “Kau mau kemana? Please, ikutlah denganku .. “

“Aku …”

“DAZYA!!”      

Omongan Rathyan terpotong oleh teriakan-teriakan yang saling bersahutan di depan mereka. Semula samar, lama-kelamaan semakin jelas dan keras.

“KAU DENGAR APPA, DAZYA??!!!”

“NOONA!! NOONA!!”

“AGASHI!!”

“KELUARLAH NAK!! INI OMMA. MAAFKAN PERKATAAN OMMA TADI!!”

Rathyan dan Daze saling berpandangan. Suara-suara itu semakin mendekati mereka. Perlahan Rathyan melepaskan tangannya.

“Pulanglah .. ,” katanya dengan sinar mata meredup.

“Rath .. ,” Daze membalas pandangan Rathyan penuh harap.

“Aku tidak bisa pulang .. ,” pemuda itu mengeleng perlahan. “Tidak sekarang .. “

“Tapi .. “

Perkataannya tidak berlanjut karna Rathyan sudah memutar badannya ke arah hutan.

“Rath .. “

Rathyan tak berhenti sampai dia tiba di garis hutan yang tadi dilaluinya bersama Daze. Sedangkan teriakan-teriakan nyaring dari belakang masih terdengar bergaung di hutan itu. Rathyan berdiri tegak di tempatnya selama beberapa saat. Dia terlihat sedang berpikir. Mendadak dia berbalik dan berjalan lebar, kembali ke tempat Daze. Diraupnya dengan cepat kepala gadis itu kearahnya, kemudian dilumatnya bibir mungil yang terbuka itu. Daze mendesah. Hanya sesaat, Rathyan melepaskan lumatannya. Ditatapnya mata Daze lekat-lekat.

“Dengar kata-kataku!” katanya dengan suara ditekan. “JANGAN KEMANA-MAKA, AKU AKAN KEMBALI. Araso?”

Daze mengangguk. “Ne .. “

Kembali, Rathyan mendaratkan ciumannya. Kali ini di jidat. Ciuman yang sangat lengket. Lalu dia mundur perlahan ke belakang.

“See you, Dazya .. “

Dia memutar tubuh dan dengan cepat melesat ke dalam hutan.

“Daze .. ,” bersamaan dengan itu, rombongan yang terdiri dari appa, omma, Dave dan Ye Jin sampai di situ.

Daze berpaling.

“Omma .. appa .. ,” sahutnya lirih.

Omma menghambur ke arahnya dan memeluknya erat-erat.

“Gwencana?” tanya omma khawatir.

“Ne .. ,” jawab Daze sambil menghapus airmatanya. Lega rasanya melihat kehadiran keluarganya di situ. Mereka sangat mengkhawatirkannya. Itu terlihat jelas dari ekspresi wajah mereka.

“Kalau begitu ayo pulang ..,” kata appa sambil merangkul putri dan istrinya.

Dave terlihat melirik mantel yang tersampir di pundak Daze. Keningnya berkerut perlahan. Dia mengenali mantel Rathyan. Jadi tadi sahabatnya itu berada di sini? Bersama noonanya? Dave menghela nafasnya berat. Dia tidak mengatakan apa-apa mengenai mantel itu. Yang paling penting noona selamat sekarang!, katanya dalam hati. Perlahan dia memutar tubuh mengikuti langkah yang lain, yang sudah mendahuluinya berlalu dari situ.    


------ ><><>< ------

      

Pemakaman halmonie dilakukan dua hari kemudian. Cuaca terus-terusan mendung sejak tadi pagi, seakan ikut bersedih atas kehilangan keluarga Han. Tidak banyak orang yang menghadiri pemakaman itu. Selain anggota keluarga Han dan Park, ada beberapa tetangga yang ikut berbelasungkawa atas kepergian halmonie.

Daze terisak keras. Airmata tidak berhenti menetes dari pelupuk matanya. Pundaknya naik turun tanpa dapat ditahan. Suaranya sudah sangat serak ketika acara pemakaman hampir mencapai puncak. Pandangannya semu tertuju ke arah peti mati yang diturunkan ke dalam lubang kubur yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh para tukang gali kubur.

Anggota keluarga lain juga terlihat sedih, begitu juga para pelayat, namun kalau dibandingkan dengan Daze, mereka tidak ada apa-apanya. Daze memang sangat dekat dengan halmonie sejak masih kecil. Dia sangat menyayangi halmonie, begitu juga sebaliknya. Memori kebersamaan mereka tak akan terhapus dengan terkuburnya tubuh tua itu dalam tanah.

Angin bertiup semilir mengerak-gerakkan rambut panjang Daze. Perlahan gadis itu menghapus airmata yang masih mengalir deras dengan saputangan dalam tangannya. Tangkai-tangkai mawar di tangan para pelayat mulai dilemparkan ke dalam lubang kubur. Daze menanggis semakin keras.

“Halmonie .. ,” serunya menyayat dan berulang-ulang.

Tiba-tiba sebuah lengan melingkar di pundaknya. Menghentikan teriakan Daze. Dia berpaling dengan cepat.

“Rath .. “ Mulutnya mengangga tak percaya dengan apa yang dilihat di sebelahnya.

Sosok jangkung Rathyan sudah berdiri di sampingnya. Pemuda itu mengangguk, kemudian merangkulnya erat-erat.

“Gwencana .. “

Daze langsung menyandarkan kepalanya di dada Rathyan. Jemarinya tak berhenti meremas-remas kemeja yang dikenakan pemuda itu. “Saya sedih .. sangat sedih .. ,” katanya terisak-isak.

“I know .. ,” sahut Rathyan dengan nada menghibur. “Karna itu menanggislah .. Keluarkan semuanya … Setelah hari ini, semuanya akan berlalu .. “

“Hu .. hu .. hu … “ Daze menanggis sejadi-jadinya dalam dekapan Rathyan.

Omma yang berdiri tidak jauh dari situ, berpaling ke arah Daze ketika tanggisan anak gadisnya itu semakin mengharu-biru. Dia sangat terkejut ketika mendapatkan kehadiran Rathyan di situ. Apalagi pemuda itu sedang memeluk Daze erat-erat. Pandangannya bertemu dengan tatapan Rathyan. Raut wajah omma berubah keras. Alisnya berkerut sangat dalam. Namun, Rathyan terlihat tidak peduli dengan perubahan sikapnya. Dibalasnya tatapan omma tak berkedip.
 
Omma bergerak sedikit dari tempatnya dan bermaksud berjalan ke arah mereka. Tapi segera ditahan oleh seseorang di sebelahnya.

“Jangan omma!” kata Dave. “Untuk hari ini saja, biarkan mereka.” Dia memandang ke arah Daze dan Rathyan. “Noona agak terhibur dengan kehadirannya di sini .. Paling tidak, itu yang kita inginkan .. benar, kan?“

Appa ikut menyentuh lengan omma. “Dengarkan Dave, omma. Biarkan Daze tenang dulu. Sepertinya pemuda itu mampu mengendalikan emosinya .. Tanggisnya juga sudah agak mereda sekarang .. “

Omma mengalihkan perhatian pada sepasang muda-mudi di depannya. Perhatian Rathyan sudah sepenuhnya ditujukan pada Daze. Berulangkali tangannya mengelus wajah gadis itu. Dan mulutnya komat-kamit membisikkan kata-kata halus yang memenangkan di telinganya. Daze mengangguk berkali-kali tanda mengerti dan menerima perkataan pemuda itu. Benar kata appa dan Dave, tanggisan Daze sudah memelan sekarang dan hanya tinggal isakan pelannya saja. Sepertinya pemuda itu memang punya kekuatan yang besar dalam mengendalikan emosi Daze.

Omma berpaling kembali kearah appa dan Dave. Dia mengangguk perlahan.

“Yaa—Cuma untuk hari ini saja .. ,” desah wanita itu pelan.      


------ ><><>< ------

      

Daze duduk di ruang tengah dengan ditemani omma. Sepuluh menit berlalu, mereka duduk dalam posisi semula tanpa bersuara. Pandangannya tertuju ke monitor tv yang menampilkan acara dokumenter. Pikiran mereka melayang. Acara tersebut sama sekali bukan focus utama perhatian mereka.

“Dazya .. ,” omma memulai pembicaraan itu.

Daze menoleh lambat-lambat. “Dhe?”

“Kami akan kembali ke Seoul besok .. “

Daze memandangi omma dengan pandangan bertanya.

“Omma dan appa .. ,” omma menjelaskan. “Sedangkan Dave sendiri, akan tetap tinggal di sini. Selain melanjutkan kuliahnya yang belum selesai, juga untuk menjaga Nat. Katanya dia tidak terbiasa dengan kehidupan di Korea .. “

Daze mengangguk.

Omma berhenti sejenak. “Apa kau ikut dengan kami?” tanyanya mendadak.

“MWO?” mata Daze terbelalak kaget.

“Ikut dengan kami pulang ke Seoul?”

Daze tidak menjawab. Kepalanya tertunduk perlahan.

“Tugasmu di sini sudah selesai, Dazya. Halmonie sudah pergi dengan tenang. Sudah saatnya kau kembali ….”

“Tapi .. ,” Daze mengantung kata-katanya.

“Masih tidak merelakannya?” tanya omma tajam.

“What?” gadis itu segera mengangkat wajahnya.

“Pemuda itu!” tekan omma. “Apa yang kau harapkan darinya? Empat hari sudah sejak pemakaman halmonie, dan dia belum menampakkan dirinya di sini .. “

“Saya .. ,” Daze berusaha mengelak. “Bukan begitu!” sahutnya sambil membuang muka kearah lain. “Hanya .. untuk apa saya kembali? Apa yang bisa kulakukan di sana setelah apa yang terjadi pada .. Han Da’ ZeVe?”

Omma sangat terkejut. “Han Da’ ZeVe?” matanya terbelalak lebar. “Kau telah mengetahui kebangkrutan perusahaan kita?”

Daze mengangguk sambil mengigit bibirnya. “Ne .. “

“Dari mana? .. Dari mana kau mengetahuinya?”

“Carls yang memberitahuku .. ,” jawab Daze. “Beberapa waktu yang lalu, .. ketika dia meneleponku .. “

Omma mendesah. Tubuhnya jadi lemas. “Miane, Dazya .. “

“Tidak!” seru Daze cepat. “Seharusnya aku yang minta maaf! .. Aku tidak berada di samping kalian ketika keadaan sedang krisis .. Aku .. aku tak berguna .. “ Daze memukul kepala saking stressnya.

Omma segera menarik tangannya kembali. “Omma tidak mengijinkanmu berkata seperti itu!” kata omma tegas. “Han Da’ ZeVe memang sudah di ujung tanduk sebelum kepergianmu ke sini .. Kau tak perlu terlalu menyalahkan dirimu sendiri, Dazya .. “

Daze menghembuskan nafas keras-keras. Tubuhnya dihempaskan ke sandaran sofa di belakang.

“Apapun .. tidak ada yang lancar .. ,” desahnya lirih.

“Karna itu ikut omma dan appa pulang ke Seoul .. ,” lanjut omma. “Sudah tidak ada lagi yang bisa kau lakukan di sini .. Bantulah appa mengurus perhitungan ganti rugi yang harus dibayarkan Han Da’ ZeVe buat para karyawan dan semua rekan kerja .. Soal Dave, kau tidak perlu khawatir. Dia bisa menjaga diri sendiri .. “

Daze menatap omma tanpa mampu menjawab. Perlahan dia mengigit bibir lagi.

“Benar-kan, tidak merelakannya?” tanya omma sedikit menyelidik.

Daze menghela nafas panjang-panjang sambil menundukkan wajahnya.

“Baiklah .. ,” omma ikut menghela nafasnya. Terdengar sangat berat. “Omma tidak akan memaksamu lagi. Terserah keputusan apa yang akan kau ambil .. “

Daze mengangkat wajah tak percaya.

“Omma akan mendukungmu .. ,” lanjut omma sambil menyentuh lengan Daze. “Walaupun omma tetap tidak setuju dengan pemuda itu, tapi .. ,” suaranya memelan dan berubah lembut. “Kau sudah dewasa, Dazya. Omma yakin apapun keputusanmu sudah dipikirkan dengan masak-masak … Omma hanya berharap .. ,” raut wanita itu menjadi sendu, “ .. kau tidak menyesal buat apa yang kau ambil .. “

Daze melingkarkan tangannya—memeluk omma. “Gumawo, omma .. “ dia tersenyum. “Apapun keputusanku, aku berjanji, tidak akan mengecewakan omma. Dan juga tidak akan mempermalukan nama keluarga besar Han .. “

Omma balas memeluk Daze erat-erat. “Anak bodoh .. ,” dia mencelos dengan suara serak.

Beliau berusaha tersenyum walaupun dengan hati yang sedikit teriris. Membiarkan Daze terjerumus dalam hubungan dengan pemuda itu, sama saja dengan mendorongnya ke lubang derita. Apa yang bisa dijamin dari pemuda itu? Harta tidak ada! Kasih sayang? Juga tidak ada. Daze merana selama beberapa hari terakhir, dan apa yang dilakukannya? Menghilang begitu saja! Kuliah? Sama saja tidak benar! Apa yang dia bisa?!!

Omma ingin teriak, tapi apa yang dicintai Daze benar-benar membuatnya tak berkutik. Dia tidak ingin mengalami kejadian seperti seminggu yang lalu. Daze hampir celaka dalam hutan salju gara-gara tindakannya yang terlalu keras. Dia tidak ingin peristiwa itu terulang lagi, sungguh. Biarlah putrinya sendiri yang menentukan jalan hidupnya. Biar dia yang menemukan kekurangan-kekurangan pemuda itu. Biar dia menyadari bahwa pemuda itu tidak pantas baginya!
  

------ ><><>< ------

      

Keesokkan harinya, omma dan appa meninggalkan Perth dengan diantar Daze dan Dave. Cuaca hari itu cukup cerah, sangat berlainan dengan hari-hari sebelumnya yang kebanyakkan mendung. Dan hati Daze juga mulai ceria lagi, seperti keadaan cuaca hari itu. Dia berjanji dalam hati, mulai hari ini, yang akan diingatnya dari halmonie hanya kenangan-kenangan manisnya yang menyenangkan dan membahagiakan. Untuk kenangan-kenangan menyedihkan lainnya akan dihapusnya sesegera mungkin.

Daze merangkul pundak Dave ketika keluar dari bandara Perth.

“Gimana, dongseng-a?”

“Mwo?” tanya si dongseng tak mengerti.

“Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Daze sambil tersenyum.

Dave menatap noonanya. “Noona kelihatan bahagia hari ini?” dia balas bertanya.

Daze menekuk wajah perlahan. “Bukan bahagia .. ,” dia mengeleng sebagai bantahan dari pertanyaan Dave. “Hanya mencoba bahagia kembali!” lanjutnya pelan. “ … dan ini sangat lain dengan kata ‘bahagia’ seperti yang kau maksudkan .. ,” pandangannya kemudian dilayangkan ke langit biru. “Saya yakin halmonie juga mengharapkan itu ..  Beliau akan selalu memberkati kita dari atas sana .. “

Dave ikut menengadah ke atas, perlahan ditepuknya pundak Daze. “Tentu saja. Yang paling diinginkan halmonie adalah kebahagiaan kita .. ,” ujar pemuda itu penuh keyakinan.


------ ><><>< ------

      

Rathyan meloncat melewati pagar rendah yang mengelilingi balkon belakang Han’s mansion. Pukk, kakinya mendarat di lantai dari bata itu dengan bunyi keras, bertepatan dengan kemunculan Daze dari dalam rumah. Mata gadis itu membelalak tak percaya. Tangannya yang memegang pot bunga kecil bergetar hebat hampir menjatuhkannya ke lantai. Dua minggu sudah dia tidak bertemu Rathyan sejak kepergiannya di kala berakhirnya acara pemakaman halmonie.

“Kau .. “

Daze tak mampu melanjutkan kata-katanya. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hatinya sekarang! Antara rindu dan murka? Ya, dia sangat murka saat ini. Mengapa pemuda ini selalu seenaknya saja?

“O anyong, Dazya .. ,” sapa Rathyan seperti biasa. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.

Tampang Daze mengeras. Tangannya yang memegang pot mencengkram erat. Mendadak dia berlari kearah Rathyan dan mendorongnya keras-keras.

“BUAT APA KAU KEMBALI KE SINI?!”

“Dazya .. ,” mulut Rathyan mengangga. Tak menyangka sambutan ini yang akan diperolehnya.

“SAYA TIDAK MEMBUTUHKANMU, PEMUDA LAKNAT! LENYAPLAH DARI HADAPANKU!” teriak Daze histeris. “SAYA BENCI KAMU!! .. SANGAT BENCI .. ,” dia menanggis tersedu-sedu.

Sesaat Daze menyesal dan mulai mengutuk dirinya sendiri. Mengapa dia menanggis? Jika benar tidak mengharapkannya, mengapa harus menanggis? Mengapa menunjukkan padanya kalau dia peduli? Jika memang membencinya, kenapa menjadi lemah di hadapannya?      

“Miane .. “

Daze merasakan sepasang tangan kekar itu menariknya ke dalam pelukan. Lutut Daze jadi lemah. Seluruh tubuhnya lemas seketika. Pot bunga di tangannya jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Biji mawar yang sudah mulai tumbuh beberapa cm tergeletak menyedihkan di antara gumpalan-gumpalan tanah yang berserakan ke mana-mana. Daze memejamkan matanya. Sumpah, hal ini sudah sering terjadi pada dirinya. Setiap berhadapan dengan Rathyan, dia tak berkutik. Tak mampu marah terlalu lama. Dan ini pertama kalinya dirasakannya dari seorang pria. Jangan bertanya mengapa, karna dia juga tidak tahu alasannya. Mungkin titik lemahnya memang pemuda ini. Perlahan Daze mengerakkan tangannya, meremas lengan Rathyan.

“Miane .. ,” Rathyan menenggelamkan wajahnya di leher Daze. “Saya tidak bermaksud menyakitimu .. tapi .. saya tidak bisa berbuat apa-apa, kau tahu itu .. ,” dia melepaskan pelukannya perlahan dan menatap Daze. “ …. Saya tidak ingin terjadi pertengkaran-pertengkaran tidak perlu lagi .. so .. “

“Jadi kau meninggalkanku begitu saja? Tanpa pesan?” sela Daze.

“Miane .. ,” ucap Rathyan. “Saya tidak bisa berbuat lain. Saya yakin kau juga tidak ingin melihat perselisihan yang berlarut-larut dengan keluargamu .. “

Daze mendesah. Ya, dia tidak ingin melihat pertengkaran-pertengkaran yang dimaksud Rathyan. Tapi, walaupun begitu pemecahannya tidak perlu dengan cara itu, kan? Pergi tanpa kabar? Apa sebenarnya yang ada di otak anak ini?

Tiba-tiba Rathyan merangkulnya lagi. “Bogoshipoyo .. ,” katanya lembut—menerbangkan Daze ke awang-awang.

“Ne .. saya juga .. “ Daze tak percaya dia bakal menyahut seperti itu. Sedikit gugup diliriknya pemuda itu lewat sudut matanya. Dia melihat Rathyan tersenyum.

“A .. apa yang kau lakukan selama ini?” sambung Daze, berusaha mengalihkan perhatian kearah lain.

“Mengamatimu .. ,” tanpa berpikir, Rathyan menjawab.

“Mengamatiku?” mata Daze melebar. “Maksudmu?”

“Aku berada tidak jauh-jauh dari sini .. ,” Rathyan kembali melepaskan pelukannya dari tubuh Daze. “Apa yang kau lakukan selama dua minggu ini, kuketahui semua .. ,” dengan lembut dicoleknya dagu Daze.

“Jinja?” tanya Daze tak percaya. “Bagaimana bisa?”

Telunjuk Rathyan menunjuk kearah hutan di belakang Han’s mansion. “Di sana terdapat sebuah gubuk kecil. Aku tinggal di situ selama dua minggu terakhir .. “

“Mwo?” Daze sangat terkejut. “Apa tidak dingin?”

“Sudah membeku .. ,” Rathyan tertawa.

Daze menatapnya tersentuh. Perlahan-lahan airmatanya menitik turun. “Mengapa mesti begitu?”

“Sudah kubilang untuk menungguku, kan?” suara Rathyan melembut. “Aku sudah kembali, Dazya .. “

Rathyan merapatkan tubuhnya ke tubuh Daze. Gadis itu mendesah. Tubuhnya terasa hangat begitu tangan itu menyentuh sepasang pipinya. Jarak mereka lambat-lambat semakin dekat. Daze merasakan uap halus yang tersembur dari hidung Rathyan. Dia juga bisa mencium bau cemara menyengat yang sangat dirindukannya. Tanpa disuruh, matanya terpejam. Nafas hangat itu semakin mendekatinya. Dan akhirnya bisa dirasakannya bibir padat dan sedikit dingin itu menyesap bibirnya.

Tubuh Daze menegang. Lagi-lagi perasaan melayang begitu disentuh pemuda ini dirasakannya. Mulutnya terbuka dan mulai membalas lumatan-lumatan maut dari Rathyan. Berulangkali dia mendesah dan mengerang ketika lidah hangat dan kasar itu bermain liar dalam rongga mulutnya.

“Rath .. “

“Hmm--,” sahut pemuda itu sambil terus melumat, menghisap dan menyesap bibirnya.

Daze membalas dengan tidak kalah dasyatnya. Tangannya meremas lengan kokoh pemuda itu, kemudian berpindah ke bagian dada, bergerak naik turun menekan dan menyapu berulangkali. Sampai di bagian kepala. Ditariknya dengan gemas rambut lebat Rathyan. Pemuda itu memekik tertahan. Dia berhenti dan kepalanya agak didorong ke belakang. Ditatapnya Daze tajam-tajam. Kulit wajah yang putih dan mulus itu langsung bersemu merah akibat menahan malu buat keagresifannya.

“Miane .. ,” kata Daze gugup sambil mengigit bibirnya keras-keras.

Pemuda itu tak bergeming. Tampangnya terlihat menakutkan dan sangar.

“Miane .. ,” ucap Daze lagi.

Tapi tampang seram itu tetap tak berubah.

“A .. apa yang harus kulakukan .. buat .. buat menebus kesalahanku tadi?” lanjut gadis itu memelas.

Rathyan masih menatapnya tak berkedip.

“Rath-a .. ,” Daze menjadi putus-asa. Disentuhnya lengan pemuda itu. “Jangan marah, .. kumohon .. “

Pipi Rathyan mengembung perlahan-lahan, dan tiba-tiba suara ketawanya meledak dengan keras.

“Yaa—kenapa?” Daze mengerakkan tangannya. “Apa yang lucu?” tanyanya kebingungan.

“Tampangmu .. ,” sahut Rathyan sambil menghapus airmata yang keluar saking gelinya. Tiba-tiba ditariknya tubuh Daze kearahnya. “Apa kau tahu?” tanyanya dengan mata berbinar-binar. “Kau selalu membuatku gemas .. “

Sekali gerak, dilahapnya bibir mungil yang mengangga lebar itu. Daze tersentak. Tidak menyangka Rathyan tiba-tiba akan melumat bibirnya lagi. Kali ini lebih parah. Bibirnya terasa perih ketika pemuda itu mengigit dan menyedotnya keras-keras, meninggalkan bekas-bekas membiru di bibirnya yang berwarna merah muda.

“Rath, yaa—hentikan! Sakit!!”

Protes-protesnya percuma saja. Rathyan bergerak semakin liar. Tidak hanya bibirnya yang menjadi sasaran sekarang, tapi juga leher, dan menurun ke dadanya. Beruntung baju yang dikenakannya cukup tebal dan tertutup sehingga Rathyan tidak bisa bergerak lebih jauh lagi.

Sepuluh menit berlalu, Rathyan menghentikan kegilaannya dengan nafas terengah-engah. Daze berdiri bengong dengan nafas memburu. Kedua manusia yang sedang dimabuk kasmaran itu saling menatap dengan bibir dan tubuh penuh bercak-bercak biru dan merah. Rathyan tertawa, kemudian meraup Daze ke dalam dekapannya.

“Saya senang bisa kembali .. ,” bisiknya halus. “Terutama bertemu kembali denganmu .. “

Daze mengangguk pelan. “Jangan pergi lagi. Jeobal .. “

“Tidak akan .. ,” sahut Rathyan.

Perlahan dilepaskannya pelukannya. Sesaat ditatapnya gadis itu dan dicubitnya pelan bagian dagunya. Lalu pandangannya terarah ke lantai yang kotor oleh gumpalan-gumpalan tanah dari pot bunga yang tadi dijatuhkan Daze. Dia berjongkok, lalu mengambil tanaman pendek yang masih menempel dalam salah satu gumpalan tanah.

“Apa ini?”

“Mawar jenis langka yang kau berikan dulu .. ,” jawab Daze sambil ikut berjongkok di sebelah Rathyan. “Udara terlalu dingin sehingga pertumbuhannya agak terhambat .. “

Rathyan menoleh kearahnya. “Kau benar-benar menanamnya?” tanyanya tak percaya.

“Tentu saja .. ,” sahut Daze sambil mengambil-alih tanaman mawar yang baru tumbuh itu. “Bukankah itu yang kau inginkan ketika memberikannya padaku?”

“Tidak!” jawab Rathyan jujur.

“Mwo?”

“Aku memberikannya hanya untuk menghiburmu .. ,” lanjut Rathyan. “Tak pernah terpikirkan olehku, kau benar-benar melakukannya .. “

“Mwo?” sekarang gantian Daze yang tak percaya. Mana perkataan pemuda ini yang dapat dipercaya? Dia semakin ragu sekarang.

Rathyan tersenyum. “Paling tidak kau melakukannya .. ,” lanjutnya pelan, tanpa dapat dimengerti oleh Daze. Kemudian dia berdiri dari lantai. “Sebaiknya kita cari rumah yang tepat buatnya sebelum mati .. “

Dengan tenang dia berjalan ke dalam rumah, meninggalkan Daze yang hanya bisa kebingungan di tempatnya.  

 
------ ><><>< ------
« Last Edit: April 04, 2011, 09:35:20 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Horeee....update....Thanks ya Luph.... [clap] [clap]

Tambah seruuuu....
tapi kok si Rath lama banget sih 'nembak' Daze. Apa itu emang bagian dari sifatnya yak. Gak mau menyatakan, tapi hanya action....hehehe...Si Daze ajalah yang nembak kalo gitu....abis Daze juga suka malu2 mau gitu sih... [hmpfh] [hmpfh]

Gak sabar neh nunggu lanjutannya....Thanks again yaaa Luph...
« Last Edit: October 30, 2010, 08:14:02 am by Mawar Jingga »

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Thanks dah d update [hmpfh] Hemmm, udah rath terkam aja si daze sekalian [on]  Tp kasian jg ama daze digigit ama rath. Rath emang suka gigit ya nona lee..¿? [what] [what]

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Thanks dah d update [hmpfh] Hemmm, udah rath terkam aja si daze sekalian [on]  Tp kasian jg ama daze digigit ama rath. Rath emang suka gigit ya nona lee..¿? [what] [what] si rath kalau cembokor  ama daze parah, ampe gelas pecah lagi. Tapi sekalianya kangen ama daze  bisa gigit gigi ampe bibir daze biru. Rath emang hot boy kayaknya [hmpfh]

gwendolyn

  • Guest
gumawo spoiler ny mi,,,,,,,,,,,,,,,,
updete age y mi............
anyong mami,,,,,,,,,,, [AddEmoticons04261] [AddEmoticons04261] [AddEmoticons04261] [AddEmoticons04261] [AddEmoticons04261] [AddEmoticons04261] [AddEmoticons04261] [AddEmoticons04261] [AddEmoticons04261] [AddEmoticons04261] [AddEmoticons04261]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Horeee....update....Thanks ya Luph.... [clap] [clap]
sama2 [biggrin] akhirnya elu lmuncul lagi di sini [hmpfh]

kelinci, kelemahan daze adalah rath, ,, soal apa rath suka mengigit? klu daze sih iya [hmpfh] klu yg lain ogah [laughing] .. si rath klu udah cembokor emang menyeramkan but bila udah hot [on] ga nahan, bisa2 daze ditelan bulat2 ama dia [laughing]

gwendolyn, sama2, ditunggu komentnya ya [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

minsunlover

  • Guest
Mami...gomawo dah di update :)

Rath...hayoooooo hajaaaaarrrrrrrrrr, terkaaaaaaaaaammmmmmmmmmmm ^^

Chainezz_Vian

  • Guest
Gumawo mii uda d update [flowers]       
hualah, rath gk nahan dech. . . Makin hari. Makin hot aja [hmff]         tapii sbnr'a dave th se7 gk c mii ama rath? KoQ dr sikap'a ky kurang suka ama hubungan rath-daze? [what]     

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Gumawo mii uda d update [flowers]       
hualah, rath gk nahan dech. . . Makin hari. Makin hot aja [hmff]         tapii sbnr'a dave th se7 gk c mii ama rath? KoQ dr sikap'a ky kurang suka ama hubungan rath-daze? [what]     
dave ga begitu setuju kok say [heh] wlp dia sahabatnya tp ttp aja ga ada yg diketahuinya ttg rath ... rath terlalu misterius baginya,, dia sering menanyakan itu ke sahabatnya tp rath tdk pernah mau menjawab, selalu mengancamnya dgn uang sewa dlm jumlah besar yg diberikannya jadi dave selalu ga berkutik klu udah diancam kyk gitu .. maklum, pendapatan utamanya di dpt dr rath [sweat]


minsunlover, hajar apaan hammer2 hammer2 [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Horeee....update....Thanks ya Luph.... [clap] [clap]

Tambah seruuuu....
tapi kok si Rath lama banget sih 'nembak' Daze. Apa itu emang bagian dari sifatnya yak. Gak mau menyatakan, tapi hanya action....hehehe...Si Daze ajalah yang nembak kalo gitu....abis Daze juga suka malu2 mau gitu sih... [hmpfh] [hmpfh]

Gak sabar neh nunggu lanjutannya....Thanks again yaaa Luph...
ya, itu kelemahan rath. dia bukannya tdk ingin menembek daze tp itu .. dia susah bgt kalau dibuat tuk ungkapin perasaannya. apalagi cinta, sumpah, bibirnya bisa langsung terkunci rapat jika dipaksa mengatakan kata itu [sweat] .. emang nih pd akhirnya harus daze yg nembak duluan [heh] [hmpfh]
sama2 say,, ok, sabar menunggu ya [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

gwendolyn

  • Guest
gumawo mi, udh d update. .
Wuih, mntep bgt mi. .
Daze kuq pke bju ny tbal sch mi??rath kn gk bsa mcem2 jdi. . Hehe
next chap d tggu lho mi,*yg hwat2 dunk mi, hehe
anyong mami, [love eyes] [love eyes] [love eyes] [love eyes] [love eyes]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
gumawo mi, udh d update. .
Wuih, mntep bgt mi. .
Daze kuq pke bju ny tbal sch mi??rath kn gk bsa mcem2 jdi. . Hehe
next chap d tggu lho mi,*yg hwat2 dunk mi, hehe
anyong mami, [love eyes] [love eyes] [love eyes] [love eyes] [love eyes]
yee kan musim dingin,, bajunya mesti tebel dong [head break] [head break] whistling [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

fara

  • Guest
Gomawo mi udh diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
wiii daze mulai agresif ke rath [on] [on] [on] untung aja daze pake baju tebel kalo ngga bisa terjadi hal2 yg diinginkan nih mi [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
btw, beneran nih mi nantinya daze yang nembak rath duluan??