Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 98571 times)

fara

  • Guest
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 11 update 30 Oct'10
« Reply #825 on: November 05, 2010, 10:46:51 pm »
Mamiiiii spoilernya kentang bikin mupengggg...
Update donggg mi :D
belum selesai [hmpfh] pikiran sumpek, ga bisa diajak berpikir [hmff]
yah lagi sumpek ya mi? Kalo gitu mumpung skrg weekend mami jalan2 aja mi buat refreshing trus hari minggunya br ngelanjutin ffnya mami yg bejibun... Kalo ak lg nunggu updetan rath sama bengkok2 mi [hmpfh]
ayo mi semangat semangat semangat [biggrin] [biggrin] [biggrin]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 11 update 30 Oct'10
« Reply #826 on: November 06, 2010, 03:36:40 am »
Author’s note :
untuk lebih menghayati chapter berikut ini,
mohon diputar dan didengarkan dulu lagu beserta lirik lagu yang ada di video di bawah ini.
Setelah itu, diharapkan komentarnya ya? Sepanjang-panjangnya lol thanks,,







Song of the day :
My Love My Fate



”Boleh bicara sebentar?”

Dave menghentikan langkah Rathyan ketika berpapasan dengannya di depan pintu kamarnya.

Alis Rathyan berkenyit. “Ada apa?” tanyanya sambil menoleh kearah sahabatnya itu. “Ada yang penting? Saya harus ke seminar sebentar lagi?” lanjutnya sambil melirik jam tangannya.

“Sebentar saja .. ,” jawab Dave pelan.

Rathyan berpikir sebentar. “Ok .. ,” akhirnya dia mengangguk. “but, just fifteen minutes!”

“It’s enough .. “

“Ok,” Rathyan mengangguk lagi. “Apa, .. di sini?” lanjutnya ragu-ragu.

“No .. “ Dave sedikit merapat ke daun pintu sambil mengerakkan tangannya—memberi isyarat pada Rathyan untuk masuk ke dalam kamarnya. “Di kamarku saja .. “

Rathyan menatap Dave sebentar, kemudian—perlahan-lahan dia memutar tubuh memasuki kamar itu. Dave mundur beberapa langkah ke belakang sambil menutup pintu kamar tersebut. Dia tidak ingin pembicaraan mereka terdengar siapapun—terutama oleh noonanya.


***** o@o *****



Daze bangun agak terlambat pagi itu. Begitu dia membuka matanya, sudah pukul sepuluh lewat dua puluh lima menit. Daze tersenyum sambil mengelinjang-gelinjang dalam selimut yang membalut tubuhnya. Sudah lama rasanya dia tidak tidur sepulas tadi malam. Setelah kematian halmonie, hari-harinya memang terasa hambar dan mati. Ditambah semua beban yang diberikan omma dan appa berkaitan dengan hubungannya dengan Rathyan membuatnya tak bisa bernafas. Tapi setelah kemunculan Rathyan kemarin—disertai janjinya (tak akan meninggalkannya lagi)—dia bisa tidur dengan lelap.

Janji itu membawa keteduhan dan ketenangan bagi Daze. Dia merasa aman—seperti semua kepedihan dan bencana yang dialaminya selama ini tidak pernah terjadi.

Daze berbalik dengan posisi melintang. Dia menguap perlahan. Entah mengapa dia malas turun ranjang pagi ini. Biar Ye Jin yang membangunkanku nanti! Berpikir demikian, Daze memejamkan mata kembali.


***** o@o *****



”Apa yang ingin kau bicarakan?” Rathyan menghempaskan diri di kursi yang menyandar di meja belajar.

“Apa kau yakin dengan perasaanmu?” Dave ikut menjatuhkan diri—tidak di kursi, namun di atas ranjang.

“Mwo?” tanya Rathyan tak mengerti.

“Hubunganmu dengan noona .. ,” sahut Dave, langsung ke pokok masalah. “Apa kau mencintainya?”

Rathyan tidak menjawab. Lima menit ke depan ruangan itu menjadi sunyi dan mati.

“Apa kau mencintainya, Rathyan Jang?” Dave mengulang pertanyaannya.

Rathyan membuka mulut, “Saya serius dengannya .. ,” akhirnya dia bersuara—menjawab dengan nada datar dan terkendali.

“Saya bertanya padamu, apa kau mencintainya?” seperti tak menerima jawaban Rathyan, Dave menekankan pertanyaannya lagi.

Rathyan menghela nafasnya. “Jangan memaksaku, Dave .. “

“Mengapa? Apa pertanyaan itu sulit dijawab?” Dave memandang Rathyan tajam-tajam.

“Kau memahamiku, Dave Han .. ,” desah Rathyan.

Dave mengeleng tegas. “No, I don’t understand you, Rath. You like a wind—too mysterious and can’t catched. You go and come as you wanted. Who are you, I don’t know. I really don’t know! And I’m sure, also my sister .. ”

Rathyan berdiri dari kursinya. “Aku tak bisa mengungkapkan kata-kata itu, kau tahu itu .. ,” suaranya berubah keras. “Sudah kubilang, jangan memaksaku.”

Dia bermaksud keluar dari kamar tapi segera ditahan oleh Dave.

“Saya belum selesai!”

Rathyan mengibaskan tangan Dave yang menempel di dadanya dengan berang.

“Menyingkir dari hadapanku sebelum kuremukkan pergelangan tanganmu!” ancamnya dengan mengebu-gebu.

Dave ragu-ragu sebentar sebelum akhirnya menyingkir perlahan.

“Kau tak boleh mempermainkan noona, Rath! Hatinya tak akan sanggup menerima patah hati untuk yang kedua kalinya!!” serunya pada Rathyan yang sudah berada di luar kamar.

“Sudah kubilang, aku serius!” Rathyan menoleh padanya. “Sangat serius!” tekannya bersungguh-sungguh. “Dan kuperingatkan, jangan melakukan sesuatu untuk memisahkan kami! Aku tidak akan memaafkanmu untuk itu!”

Dave mengangkat dagunya. “Bagus jika kau menyadari perasaan sendiri .. ,” katanya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
 

***** o@o *****



Tok .. tok .. tok .. , Daze mendengar suara pintu diketuk.

“Masuk!” perintahnya dengan malas. Perlahan dia menyibakkan selimut dari tubuhnya.

Pintu kamar terbuka dan Ye Jin masuk ke dalam dengan sebuah nampan berisi sarapan di tangannya.

“Saatnya bangun, agashi …”

Dia meletakkan nampan tersebut di meja kecil dekat ranjang.

“Agashi sangat terlambat pagi ini .. ,” lanjutnya dengan nada sopan.

Daze tersenyum. “Jam berapa sekarang, Ye Jin-a?” tanyanya sambil menguap kecil.

“Hampir jam setengah dua belas, agashi .. “

“Hmm--,” Daze kembali memeluk gulingnya. “Tidur saya nyenyak sekali, Ye Jin-a … ,” ujarnya sambil tersenyum lembut. Matanya kembali terpejam. “Bahkan saya tidak bermimpi—tentang halmonie sekalipun … “

Ye Jin ikut tersenyum. “Bagus kalau begitu … ,” kemudian dia berjalan ke jendela dan membuka gordennya. “Itu berarti agashi sudah bisa melupakan semuanya .. “

Daze mengangguk. “Ne. Perasaanku jauh lebih baik sekarang.” Dia mengambil garpu, lalu mulai menusuk sosis yang tersedia dalam piring. Begitu memulai gigitan pertama, sesuatu teringat olehnya. “O ya—Ye Jin-a, apa kau melihat Rath?” tanyanya sambil mengunyah sosis.

Ye Jin menoleh, “Saya melihatnya tadi—ketika menaiki tangga. Dia keluar dari kamar doronim. Kelihatannya lagi marah. Saya mendengarnya berteriak-teriak pada doronim tapi tidak begitu menangkap pembicaraan mereka. Apa agashi mencarinya buat keperluan penting?”

“O tidak!” Daze segera mengelengkan kepalanya.

Percuma dia menjelaskan apa yang diinginkan dan dirasakannya pada Ye Jin. Wanita itu tidak akan mengerti. Mungkin tak seorangpun di dunia ini yang akan mengerti hubungannya dengan Rathyan! Termasuk dirinya sendiri!    

      
***** o@o *****



Daze sedang menikmati siaran televisi yang menampilkan acara fashion di ruang tengah ketika sebuah tangan tiba-tiba melingkar di lehernya. Terkejut, Daze langsung berpaling ke belakang.

“Rath!!” serunya antara kaget bercampur riang.

“Bagaimana kabarmu?” Rathyan menempelkan telunjuknya di cuping hidung Daze.

“Baik … ,” gadis itu tersenyum malu-malu. “Dan bagaimana denganmu? Kenapa menghilang begitu saja?”

“Hmm--,” Rathyan berpikir sebentar. “Saya ada seminar penting kemarin …. “

“Sepenting itu sampai tidak pulang ke rumah?” tanya Daze menyelidik.

“Weeyo?” Rathyan tersenyum tipis. “Merindukanku?”

“Yaa—“

Daze memukulkan tangannya yang terkepal ke dada Rathyan—posisinya agak menyamping ke belakang. Pemuda itu segera menangkap kemudian menarik tangannya kearahnya. Wajah mereka hampir bersentuhan sekarang. Mulut Daze terbuka dan pandangannya meredup terpusat ke bibir Rathyan. Desah nafasnya terdengar begitu jelas. Pemuda itu bergerak perlahan. Tangan kanannya yang masih memegang tangan Daze ditempelkan ke dadanya sendiri sedangkan tangan kirinya yang melingkari leher gadis itu naik ke atas dagu dan menahannya dengan posisi menghadap kearahnya.

Bunyi tarikan nafas berat semakin terdengar. Rathyan membuka mulutnya, kemudian perlahan-lahan dikulumnya bibir merah menantang di hadapannya.  Daze tersentak sedikit—tubuhnya menegang, kemudian dia mendesah. Rathyan mulai melumat bibirnya. Semula pelan, lama-kelamaan bergerak semakin liar—melumatnya sampai habis. Bibirnya secara keseluruhan tenggelam dalam bibir penuh Rathyan.

Daze membalas ciuman-ciuman bernafsu dari pemuda di depannya. Sekuat tenaga dia berusaha mengimbangi permainan tersebut. Nafasnya tersengal-sengal di antara ciuman-ciuman dasyat yang dilancarkan Rathyan.

“Rath .. Rath .. ,” panggil Daze di sela-sela nafasnya yang memburu.

“Hmm—“

Rathyan tidak melepaskan ciumannya. Perlahan-lahan jilatannya beralih ke bagian leher. Tanpa sadar Daze mengangkat kepalanya—memberi keleluasaan pada Rathyan untuk bermain di lehernya.

“Rath … sudah .. cukup .. ,” Daze memohon-mohon di antara pernafasannya yang tak teratur.

Rathyan menarik kepalanya. “Weeyo?” tanyanya dengan pandangan sayu.

“Tidak nahan .. ,” jawab Daze berupa desahan.

Bibir Rathyan tertarik ke atas—membentuk senyum yang dikulum. Dielusnya dengan lembut wajah Daze, kemudian sekali loncat dia sudah melewati sofa yang menghalangi posisinya dengan Daze. Dia duduk tepat di sebelah gadis itu.

“Apa yang kau lihat?” tanya Rathyan sambil mengamati layar televisi.

“Acara fashion—catwalk … ,” jawab Daze. “Apa kau suka?”

Rathyan mengangkat bahunya. “Mungkin kelak aku akan terlibat di dalamnya, tapi .. I don’t like it .. “

“Terlibat di dalamnya?” Daze mengulangi kata-kata itu keheranan. “Maksudmu, kau mengambil jurusan itu? Bukannya kau sama dengan Dave—sama-sama mengambil jurusan ekonomi?”

Rathyan mengerakkan tangan ke depan. “Maksudku .. art, .. ,” dia tersenyum kaku. “Aku suka art, kau lupa?”

Daze menatapnya beberapa saat—berusaha menyelidiki atau menyelami apa yang sebenarnya dipikirkan pemuda itu. Tapi yang didapatnya malah kecupan hangat dari Rathyan.

“Lupakan semuanya … ,” kata pemuda itu di dekat telinganya. “Untuk saat ini, mari kita nikmati kebersamaan ini. Tanpa memikirkan masalah lain, ok?” kembali kecupan lembut mendarat di bibirnya.

Daze mendesah kemudian mengangguk perlahan. “Ne .. “

Lalu mereka berciuman lagi. Kali ini lebih dasyat dari tadi. Bibir mereka saling melumat—bertaut keras dalam kehausan, seakan besok mendekati kiamat dan tidak ada kesempatan lagi buat mereka untuk bermesraan. Musik yang sedikit berdentam-dentam dari monitor televisi mengiringi tingkah-laku sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran itu. Sepasang kupu-kupu yang melintas di dekat jendela segera menyembunyikan dirinya di balik tirai—takut ketahuan atau mungkin malu melihat pemandangan di hadapan mereka.

 
***** o@o *****



Daze sedang melintasi ruang tengah ketika acara siaran berita dari televisi yang menyala menyita perhatiannya. Perlahan-lahan dia memasuki ruangan itu. Si penyiar berita sedang melaporkan berita besar yang baru diterimanya.

”Salah satu pesawat milik Korean Airlines—penerbangan dari Seoul ke Las Vegas—mengalami guncangan di udara dan berakhir dengan menancap ke laut kuning, dua puluh menit setelah lepas landas dari bandara Incheon. Setengah dari penumpangnya berhasil diselamatkan. Tapi sebagian lagi, beserta pilot-pilot dan pramugari/pramugara yang bertugas saat itu tewas seketika dalam kecelakaan tragis itu.
Para penumpang dari pesawat naas tersebut kebanyakan berasal dari kalangan bisnis terkemuka yang mempunyai jaringan kerjasama yang sangat kuat dan besar di Las Vegas. Identitas beberapa penumpang yang tewas dalam kecelakaan tersebut sudah diketahui. Dua di antaranya adalah pemimpin sekaligus pemilik perusahaan tersebar di Seoul ‘Korean Capital’, Mr. and Mrs. Kim, kemudian … “


Daze menutup mulutnya. “Oh .. tidak … “ Kepalanya bergeleng-geleng tak mampu mempercayai apa yang didengarnya barusan. Tanpa terasa, airmata menetes dari pelupuknya dan jatuh ke lantai. Dia terisak perlahan.

Daze memutar tubuh, sambil menghambur keluar dari ruangan itu. Isakan halusnya berangsur-angsur mengeras. Dia menanggis terisak-isak sekarang. Bayangan Carlson yang sedih dan terpuruk—seorang diri di dunia ini karena kehilangan orangtua yang sangat disayangi dan dihormatinya secara mendadak untuk selama-lamanya terbayang di matanya. Hati Daze tersayat. Perasaan itu seperti waktu dia kehilangan halmonienya. Dia mampu merasakan apa yang akan dirasakan Carlson begitu mendengar berita itu. ”Aku harus menemaninya. Harus!” Daze menghapus airmatanya. Tapi tetesan yang lain mengalir keluar lagi.

Daze naik ke lantai atas dengan meloncati beberapa anak tangga sekaligus. Dia melewati Rathyan yang berpapasan dengannya begitu saja.

“Hey--”

Rathyan mengangkat tangan dan menyapanya tapi Daze sudah masuk ke dalam kamar. Pemuda itu berkenyit. Perlahan dia memutar tubuh dan mengintip ke dalam. Dilihatnya Daze menghempaskan koper ke atas ranjang kemudian melemparkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper tersebut. Wajahnya memerah dan tanggisan yang samar-samar berhasil ditangkapnya tadi terdengar jelas sekarang.

Jadi dia tidak salah lihat kalau Daze memang sedang menanggis? Apa yang membuatnya sedih?

Seingat Rathyan, selama dua hari terakhir mereka habiskan dengan sangat menyenangkan. Selain bersenda-gurau dan bermesraan, tidak ada lagi yang mereka kerjakan. Bahkan bertengkarpun, mereka tidak! Dia tidak pergi tanpa kabar dan juga tidak kuliah. Dia memilih menemani Daze guna memperdalam hubungan mereka. Jadi .. apa lagi masalahnya sekarang?

“What’s going on?”

“Sa .. saya harus pergi .. ,” jawab Daze di sela-sela tanggisnya.

“What?” Rathyan melangkah lebar-lebar ke dalam kamar. “What are you talking about?” tanyanya tajam.

Daze berbalik menghadapinya. “I must go .. ,” katanya sambil menghapus airmatanya. “.. back to Seoul .. ,” setelah itu dia beralih kembali ke kesibukannya mengepak barang-barang.

“Seoul?!” Rathyan langsung menyambar tangan Daze dan menariknya keras-keras. “Are you crazy? Why should you do this?” teriaknya dengan sepasang mata terbelalak lebar. Dia sangat marah. Tampangnya terlihat sangar dan menyeramkan saat itu.

Daze mundur ke belakang. “Lepaskan saya .. “ dia mengerak-gerakkan tangannya yang digenggam Rathyan—berusaha melepaskan diri dari pemuda yang sedang murka besar itu. Namun tidak berhasil karena tekanan Rathyan begitu kuat. “Kau .. kau menyakitiku, Rath .. ,” desisnya memelas sambil meringgis kesakitan.

“Katakan apa yang terjadi?” Rathyan merenggangkan pegangannya tapi tidak melepaskannya.

“Orangtua Carlson mengalami kecelakaan .. ,” Daze mengigit bibir perlahan. Bayangan Carlson kembali bermain dalam pikirannya. Bayangan pemuda malang yang duduk menyendiri di sudut ruangan kosong dengan posisi tertunduk. Hanya airmata dan kepedihan yang menemaninya. Tidak ada yang lain. “Mereka tewas dalam kecelakaan itu. Paman dan bibi Kim .. ,” lanjutnya terputus-putus. Dia terisak lagi.

“Lalu?” tanya Rathyan dingin. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh cerita Daze.

Daze terperangah. Tidak mengira reaksi ini yang akan diterimanya dari pemuda yang begitu dipujanya ini. “Aku .. aku harus menemaninya .. ,” sekali hentak, Daze menarik tangannya kembali.

“Mengapa?” Rathyan bergerak sedikit dari posisinya.

“Mengapa?” ulang Daze dengan terkejut. “Tentu saja untuk menghiburnya!” ekspresinya berubah keras.

“Menghiburnya?” Rathyan tersenyum kecut. “Apa yang bisa kau lakukan?”

“Apapun!” seru Daze. “Apapun, .. daripada duduk-duduk saja di sini .. Dia membutuhkanku … “

Rathyan tertawa. Suaranya bergetar dan menyayat. “Membutuhkanmu .. “

Brakkk!!! Kepalan tangannya mendarat ke pintu lemari pakaian yang terbuka.

Daze terlonjak kaget. Ditatapnya sejenak wajah Rathyan yang datar dan tidak memperlihatkan reaksi apa-apa, kemudian beralih ke punggung tangannya yang memerah.

“Aku .. aku harus berkemas. Kau .. kau keluarlah .. ,” walaupun hatinya sakit melihat tangan yang memar itu tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengatakan ini. Dia harus tegas. Rathyan tidak akan apa-apa. Dia sudah terbiasa marah-marah tak karuan seperti ini. Yang lebih membutuhkannya adalah Carlson. Ya, Carlson yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun.

“Aku bertanya padamu, apa benar kau akan pergi?”

Rathyan berdiri di sebelahnya sekarang. Tangan pemuda itu menyambar pakaian yang dipegangnya kemudian melemparnya ke dalam koper. Selanjutnya dia membalik tubuhnya kearahnya.

“Jawab pertanyaanku!”

Daze menyingkirkan tangan Rathyan dari pundaknya dengan kasar. “YA!! YA!! Apa kau puas?!” teriaknya dengan mengebu-gebu.

Brakkk!!! Rathyan menendang ujung ranjang.

“Apa dia sepenting itu?!”

Tidak! Kau yang paling penting buatku!, Daze ingin berteriak namun dia tidak melakukannya. Perlahan dia memutar tubuh menghadapi pakaian-pakaiannya yang masih berantakan.

“Dia memerlukanku saat ini .. ,” Daze menghapus sisa-sisa airmatanya, kemudian melanjutkan kesibukkannya berkemas.

“Lalu bagaimana denganku?” tanya Rathyan pelan.

“Kau akan baik-baik saja tanpaku . .,” jawab Daze sambil memejamkan matanya.

“Kau yakin?” Rathyan menoleh dengan posisi membelakanginya.

“Ne .. ,” desah Daze. “Saya bisa merasakan perasaannya saat ini … seperti waktu halmonie meninggalkanku .. perasaan itu sangat menakutkan .. dingin dan mati … Kau tidak akan mengerti, Rath .. “

“Saya tidak mengerti?” Rathyan memutar badan dengan cepat. Suaranya mengeras. “Lalu, apa kau mengerti bagaimana perasaanku sekarang?”

“Kalau begitu .. ,” Daze menghentikan kesibukannya. Kaos yang sedang dipegangnya dilemparkan ke atas koper kemudian dia memutar tubuh dengan ekspresi tegas. Mereka saling berhadapan sekarang. Raut keduanya sama-sama keras. Tidak ada yang bermaksud menyerah. “Katakan padaku, bagaimana hubungan kita selama ini? Jelaskan padaku!”

Rathyan tidak menjawab. Matanya tak berkedip membalas pandangan Daze.

“Tidak bisa menjawabnya?” suara Daze bergetar. “Apa kau hanya menganggapku sebuah mainan, yang bila suka—kau sentuh dan cium, tapi bila tidak, kau tinggalkan begitu saja tanpa kabar?”

“Bukan begitu!” sela Rathyan.

“Jadi apa?” mata Daze menyala mengawasi gerak Rathyan.

“Kau mengenalku?”

“Mwo?” Daze tertawa hambar. “Tak ada yang kuketahui tentangmu, Mr. Jang!”

“Kau tahu aku tidak bisa mengatakan kata-kata itu?” ulang Rathyan tenang.

“Tidak! Aku tidak tahu!” Daze mengeleng keras-keras.

“Apa kata-kata itu penting untuk diucapkan? Kenapa tidak disimpan dalam hati saja?” lanjut Rathyan dengan mata bersinar redup.

“Karna aku seorang wanita .. ,” sahut Daze. Ditatapnya Rathyan dengan memelas. “Aku membutuhkan sebuah pengakuan .. sebuah kepastian … ,” wajahnya berubah sendu. “ .. tapi sepertinya, .. kau tidak bisa memberikannya padaku .. “

Dia mundur sambil berputar ke samping. Sisa-sisa baju di atas ranjang dimasukkannya secara sembarangan ke dalam koper—tanpa melipatnya lagi.

“Mengapa memaksaku terus?” Rathyan memejamkan matanya. “Mengapa tidak memberiku kesempatan—mengapa?”

Daze tidak mendengarkannya. Dihempaskannya penutup koper tersebut dengan keras. Setelah itu meletakkannya ke lantai, lalu menyeretnya ke pintu.

“Apa harta memang segala-galanya bagimu?!!!” teriak Rathyan dari tempatnya.

“MWO?” Daze menoleh. “Apa maksudmu?”

“Karna dia lebih kaya dariku?!” Rathyan tersenyum dingin dan .. kecut. “Dia memiliki semua yang kau inginkan—seperti yang dikatakan orangtuamu, begitu-kan, Daze Han?”

Daze mengatupkan gerahamnya—keras. Langkahnya terhenti di ambang pintu. Entah mengapa, untuk pertamakalinya dia merasakan perasaan benci terhadap pemuda ini. Pemuda yang semula begitu dipuja dan diharapkan bisa menjadi pegangan dan pendamping hidupnya—yang sangat memahami dan selalu berada di sampingnya baik suka maupun duka. Bahkan dia pernah berpikir akan berbahagianya jika hubungan ini sampai berakhir ke jenjang pernikahan.

“Terserah apa pikirmu!” balas Daze tak kalah dinginnya. “Yang jelas, aku harus pergi sekarang. Apapun masalah kita, bicarakan lagi lain kali .. “

“Jangan menyesal, Daze Han!!”

Rathyan melewati Daze. Brakk!! Sepatu bootsnya kembali mencium daun pintu dengan keras—membuat Daze tersentak kaget.

“Kau mau kemana?” tanpa sadar, Daze bertanya.

Rathyan tak menjawab. Juga tak menoleh ataupun berhenti sejengkalpun. Dia berjalan cepat menuruni anak tangga sampai menghilang dari pandangan Daze.

“YA, PERGI SANA! KAU PALING PINTAR MELARIKAN DIRI DARI MASALAH!! DASAR PABO!!”

Suara Daze perlahan-lahan melemah. “Paboya, apa susahnya mengatakan aku cinta padamu? Paling tidak, … aku suka padamu? Sumpah, jika kau mengatakan itu, walaupun aku tidak mungkin membatalkan penerbanganku kali ini, … tapi aku .. aku berjanji padamu .. aku sungguh-sungguh, aku akan .. akan menemanimu untuk selamanya. Sampai .. sampai usia kita senja … “

Daze menyandar ke dinding dan merosot ke lantai. Dia menanggis tersedu-sedu dengan sepasang tangan menutupi wajahnya dalam kamar yang sepi dan dingin itu.    


***** o@o *****



”RATH, APA KAU TAHU NOONA SUDAH PULANG KE SEOUL KEMARIN?!”

Dave mengejar Rathyan yang melangkah lebar kearah pintu depan dengan ransel mengelembung tersampir di punggungnya.

“RATHYAN JANG!!”

Dave berhasil menyambar lengan Rathyan dan menghentikan langkahnya.

Rathyan segera mengibaskan tangan Dave. “Aku akan pergi dari sini!” katanya tegas.

“MWO?” Dave sangat terkejut. “Lalu .. bagaimana dengan noona? Apa yang terjadi dengan kalian?”

“Saya tidak tahu!” Rathyan meneruskan langkahnya. “Saya tidak mau tahu lagi!” Tidak terlihat oleh Dave, dua butir air bening menetes keluar dari pelupuk mata Rathyan.

“MWO?!” Dave berteriak. “Bukankah kemarin-kemarin kau mengatakan serius dengan hubungan kalian?”

“Tanya sendiri pada noonamu!!” sahut Rathyan tanpa menoleh.

“MWO—YAA, RATHYAN JANG!”

Tapi Rathyan tetap tidak berbalik. Dia berjalan cepat sampai sosoknya menghilang di antara barisan pohon-pohon cemara yang terselimut serpihan-serpihan salju.


***** o@o *****



Musik keras berdentam-dentum dalam bar yang gelap dan agak pengap itu. Bau rokok dan alkohol mendominasi ruangan, beterbangan kemana-mana. Rathyan menjatuhkan tubuh jangkungnya ke sebuah kursi di depan meja bar. Seorang bartender wanita yang berpakaian seksi segera mendekatinya.

“Hy—handsome, what do you want?” si bartender bule itu tersenyum manis.

Rathyan meliriknya sekilas. Agak malas dia menghempaskan ranselnya ke meja. “Beer, please .. “

“Ok, coming soon .. “

Wanita itu menyentuh tangan Rathyan. Dia tersenyum mengoda sebelum berlalu buat membikinkan pesanan pemuda bertampang dingin itu.

Rathyan tersenyum hambar sambil mengeluarkan ponselnya. Dia menekan beberapa angka sampai tersambung. Wajah tuan Park muncul di layar ponsel.

“Beer, dear .. “ Bartender tadi menyodorkan gelas sebesar tong ke hadapan Rathyan. “Need me to stay here?” tanyanya dengan nada bergairah. Sepasang tangannya bertumpu di atas meja sehingga leher bajunya yang berpotongan rendah turun semakin ke bawah—memperlihatkan sepasang buah dadanya yang montok dan mulus.

“NO!!” sahut Rathyan tajam. “Get away! Leave me alone!”

Tampang si bartender berubah masam. Untuk pertamakalinya dia ditolak mentah-mentah oleh seorang pelangan. Apalagi pelangan semuda dan semenarik pemuda di hadapannya.

“Doronim .. “

Panggilan dari ponsel mengalihkan perhatian Rathyan.

“Yes, tuan Park .. “ jawab Rathyan tanpa mengubris bartender berpostur tinggi dan seksi itu lagi.

Si wanita mencibir sambil mengangkat bahunya. Perlahan dia berlalu dari situ dan mengincar mangsa lain.

”Ada masalah penting, doronim?” tanya tuan Park. Asisten pribadi yang cara kerjanya sangat sempurna itu tak mampu menyembunyikan kepenasarannya. Tidak pernah tuan mudanya ini berinisiatif menghubunginya terlebih dahulu. Apa telah terjadi sesuatu?, hati tuan Park berdebar keras.

“Aku ada penawaran buat tuan Jang … ,” kata Rathyan setelah terdiam beberapa detik.

”O .. ,” tuan Park terlihat membuka mulutnya. ”Aku akan menyambungkannya ke pak presiden, doronim .. ,” kata tuan Park sambil bermaksud mengalihkan pembicaraan mereka kepada Oliver Jang—ayah Rathyan.

Tapi tuan mudanya itu segera menyela, “Tidak perlu! Cukup denganmu saja, tuan Park .. “

”Mwo? Tapi aku tidak punya kuasa untuk mengambil keputusan buat pak presiden, doromin .. “

“Tenang saja .. ,” Rathyan tersenyum pahit. “Aku yakin penawaran ini akan diterimanya dengan senang hati …. “

Tuan Park menganggukkan kepala perlahan. ”Baiklah, kalau begitu katakanlah, doronim .. “

“Kau tahu apa yang terjadi dengan ‘Korean Capital’?” Rathyan memulai diskusi itu. “Kau tahu perusahaan itu, kan?”

Tuan Park mengangguk. ”Ne. Perusahaan terbesar di Korea yang saat ini sedang mengalami krisis karna kematian pemimpinnyaya yang mendadak dalam kecelakaan pesawat beberapa hari yang lalu .. “

“Bagus jika kau sudah mengetahuinya .. “

”Namun, apa hubungannya dengan penawaran ini, doronim?” tanya tuan Park tak mengerti.

“Aku ingin Max-Global mengambil-alih semua saham yang dilepas oleh para investor Korean Capital .. ,” jawab Rathyan tegas.

”MWO?!” tuan Park berseru kaget. ”Tapi itu mustahil! Selama ini Max-Global jarang terlibat dalam perbisnisan Asia, apalagi Korea .. “

“Karna itu aku bilang, ini penawaran .. ,” sela Rathyan kesal. “Apapun caranya, mau itu dengan mendirikan anak perusahaan di Seoul atau melakukan pembaharuan besar-besaran, Aku tak peduli—yang penting, Korean Capital selamat dari kebangkrutan .. , araso?”

”Masalah ini sangat sulit, doronim .. ,” tuan Park mendesah. ”Aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Masalah ini harus didiskusikan dahulu dengan pak presiden … Hanya beliau yang berhak mengambil keputusan sebesar itu .. dan tentu saja juga dengan persetujuan dari para pemilik saham lainnya .. “

Rathyan mengangguk. “Baik. Aku menunggu kabar darimu, tuan Park. Tapi jangan lama-lama. Korean Capital tidak bisa menunggu lebih lama lagi .. “

”Ne .. ,” jawab tuan Park. ”Jika saya boleh tahu, doronim .. mengapa anda begitu antusias menolong Korean Capital? Apa doronim mengenal penerusnya?” lanjut pria itu ragu-ragu. Dia sadar pertanyaannya sudah keluar batas. Sebagai seorang asisten teladan, tidak seharusnya dia menanyakan pertanyaan di luar kuasanya. Apa haknya mengetahui masalah pribadi majikan-majikannya?

“Itu tidak ada urusannya denganmu!” sahut Rathyan ketus.

Tuan Park segera membungkukkan badannya. ”Ne, agashimida doronim .. Sosoengheyo buat kelancanganku … “

“Hmm—sudahlah!” Rathyan mengibaskan tangannya sambil menghirup bir dari gelas besar yang diambilnya dari atas meja.

”Lalu … imbalannya, doromin?” tuan Park kembali ke pokok pembicaraan mereka.

“Seperti keinginannya dulu-dulu. Aku akan kembali ke New York hari ini juga. Melanjutkan dan menyelesaikan kuliahku di sana. Dan .. belajar menangani Max-Global .. “

”Jeongmal?!” mata tuan Park terbelalak lebar.

“Ne!” sahut Rathyan tegas.

”Pak presiden pasti sangat bahagia mendengarnya, doronim .. “ Pria itu tersenyum lebar. ”Aku akan menghubungi beliau secepat mungkin dan mengabari berita baik ini … Anda tunggu saja, aku akan segera menghubungi doronim lagi .. “

“Khamsamida, tuan Park .. “[/b]

Kemudian pembicaraan jarak jauh itu diputus. Rathyan kembali meneguk birnya—sampai habis.

“Hey—lady!!”

Dia mengangkat gelas yang sudah kosong itu ke atas. Si bartender menoleh dengan malas.

“Yes, I’m coming .. “

Dia menyambar gelas dari tangan Rathyan, mengisinya dengan bir sampai penuh kemudian memberikannya kembali pada pemuda itu.

“Thanks .. ,” ucap Rathyan datar.

Diteguknya bir tersebut tanpa berhenti, sampai tegukan terakhir. Perutnya terasa penuh begitu dia menghabiskan bir tersebut. Kembali dia mengangkat tangannya.

“Again!!”

Bartender itu mendengus kesal. Mengapa secepat itu si sok cakep ini menghabiskan bir sebanyak itu?

Wanita itu mengisi gelas itu lagi kemudian menyorongkannya pada Rathyan.

“Be careful you get drunk, kiddie!”

“Kiddie?” Rathyan tertawa.

Mengelikan rasanya panggilan ‘handsome’ dan ‘dear’ dari bartender ini berubah jadi ‘kiddie’. Bagitu mudah wanita ini merubah panggilannya begitu dicuekkan dan ditolak olehnya.

“I’m not kiddie!!”

“Ho ho, you’re, kid!” ejek bartender itu.

Rathyan menyambar gelas birnya kemudian meneguknya sampai habis.
 
“You wanna try it?” dia mendengus sambil meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke atas meja.

Bartender menarik itu terdiam. Rathyan berdiri dari kursinya. Posturnya yang tinggi menjulang hampir menutupi tubuh bartender yang sudah termasuk tinggi itu—mungkin hampir 175 cm. Rathyan tersenyum mengejek dengan mata bersinar redup. Kelopak matanya hampir setengah jatuh menutupi bola matanya—yang justru membuat auranya semakin menyengat. Seperti menyemburkan gairah panas yang sulit dihindari oleh para kaum hawa.

“Are you sure?” tanya si bartender sambil mengigit sudut bibirnya. Ekspresinya begitu mengelora saat dia menelan ludah dengan cepat.

Rathyan mencodongkan badan ke depan. Wajahnya tinggal beberapa senti lagi menyentuh wajah bartender itu.

“You .. serious? You believe me?” bibir padatnya tertarik ke atas. “But what a pity is .. I’m not interested to you .. “

Perlahan Rathyan menarik diri ke belakang. Bartender tersebut langsung memukul meja.

“You’re loser!!” teriaknya keras.

Rathyan tertawa. “Yes! I’m .. ,” dia tertawa semakin keras. “I’m loser for everything .. “

Dia merogoh ke dalam kantong celana dan mengeluarkan dompetnya. Setelah membayar untuk birnya, dia berjalan agak sempoyongan menuju pintu keluar. Tapi hanya sebentar dia kembali lagi.

“I forgot my bag .. “

Si bartender mencibir sambil mendelik kearahnya.

“Bye .. “

Rathyan tertawa renyah sampai bartender wanita itu melotot padanya.

“See you .. No, I think I wont back to here—Perth. It’s really hurt. I don’t like this place .. “

Dia melambai sambil tersenyum kecut. Ransel di atas meja disampirkan ke pundaknya kemudian dia keluar dari bar kumuh itu.  

      
***** o@o *****



Rathyan menghentikan sebuah taxi yang melintas di jalan raya. Setelah berada di dalam, dia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi di belakang.

“Perth airport .. ,” katanya sambil memejamkan mata.

“Yes, sir .. “

Si pengemudi taxi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalan raya.

Rathyan menghembuskan nafas panjang-panjang. Perlahan dia membuka mata kemudian melemparkan pandangan keluar jendela.

Kau lihat apa yang kulakukan? Setelah kau menyakitiku begitu dalam, aku masih menolongmu. Membantu perusahaan kekasihmu. Mengapa? Rathyan tersenyum kecut. Sepasang matanya mulai memerah.

Aku pernah berkata pada appa bahwa jika ada yang mengantikan kecintaanku pada seni, aku akan kembali padanya—melanjutkan perusahaan yang sudah dirintis haraboji. Sesuatu yang paling aku benci dan hindari sejak dulu! Apa masih kurang kecintaanku padamu? Mengapa kau masih mengharapkan kata-kata yang tak mampu kukeluarkan? Mengapa kau tidak melihat dan berusaha memahami kekurangan-kekuranganku? Apa kekayaan memang sangat penting bagimu? Pemuda itu lebih dari segala-galanya dariku? Tapi, aku ingin berteriak padamu, Dazy-a, kalau soal kekayaan aku melebihinya!! Aku ingin berteriak padamu, sungguh! Tapi tidak, aku tidak boleh melakukannya. Aku tidak mau kau mencintaiku hanya karena kekayaan itu. Semua materi yang sangat kubenci itu. Mengapa kau tidak memahamiku? Memberiku kesempatan untuk berubah? Mengapa?

Rathyan menundukkan wajahnya. Telapak tangannya terasa basah ketika untuk kedua kalinya dia menitikkan airmata buat Daze—buat seorang wanita. Bahkan waktu kematian noona dan ommanya, dia tidak meneteskan airmata setitikpun. Walaupun hatinya sangat sakit dan merana, tetap saja dia tidak mengeluarkan airmata itu. Tapi mengapa, hanya buat seorang Daze Han, dia berubah seperti ini? Kemana sifat tak pedulinya? Kemana hilangnya Rathyan yang dingin dan cinta kebebasan? Mengapa dia mesti terkurung dalam derita ini? Sekali lagi dia bertanya, mengapa?

“We arrive at Perth airport, sir .. “

Suara supir taxi menyadarkan Rathyan. Dia tersentak dan segera menghapus airmatanya. Dia mengeluarkan beberapa lembar dollar dan menyerahkannya pada supir itu.

“Thanks .. ,” agak terseret dia keluar dari taxi.

“Heyy—sir, your change!!” teriak si supir sambil menjulurkan leher lewat jendela mobil yang sudah dibukanya.

Rathyan tersenyum. “Just kept it!” balasnya berteriak. “I don’t need the money .. I hate it—I hate everything in the world!! It’s bullshit, lie and hard to understand!!!!”  

 
***** o@o *****


Note : Ending buat this session [hmpfh] [hmpfh] ...
Adegan selanjutnya berlanjut di Seoul--session II ....
Thanks buat perhatiannya selama ini ...
Untuk updatean selanjutnya ga bisa cepat, see you [bye] [hmff]
« Last Edit: November 06, 2010, 09:11:10 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 11 update 30 Oct'10
« Reply #827 on: November 06, 2010, 04:56:35 am »
Baca dulu ahhhhhh..

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 12 update 6 Nov'10
« Reply #828 on: November 06, 2010, 05:27:29 am »
Mamii gumawo bwt update'a nya [flowers]       
huhu T.T d chap nie aQ palingggg terkesima ama rath dy tersiksa bnget ya mii. Kacian [cry]      tp rath mau lnjut kuliah k NY sdangkn daze d seoul. Kpn ktemu lg do0nx mii? [what]     
     
next chap d tunggu bnget loh mii. Jgn sedih lagi ya mii [cry]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 12 update 6 Nov'10
« Reply #829 on: November 06, 2010, 05:37:04 am »
vian, thanks,, ada saatnya mereka ketemu lagi [heh] sebenarnya perpisahan ini hanya kesalahpahaman tapi buat daze maupun rath sama2 tersiksa [cry] gw ga bisa bilang siapa yg lebih menderita. yg jelas mereka sama2 keras kepala, perlu digetok [hammer3] [hmff] ....

setelah perpisahan ini, sikap rath bakal berubah [heh]

edit ===========================

kesalahpahaman ini terjadi, juga karena daze yg tidak menjelaskan bahwa kepergiannya bukan untuk selamanya--bukan meninggalkan rath. dia pulang ke seoul buat menghibur carls karena dia memahami perasaannya saat itu. carlson tidak memiliki siapapun di dunia ini selain orangtuanya. karena itu carlson sangat mematuhi perintah dan permintaan2 orgtuanya-- ini bisa dilihat dari permintaan ortunya utk meninggalkan daze [biggrin]
tapi sayang begitu daze kembali ke perth, rath sudah meninggalkan perth dan tak seorangpun--termasuk dave, mengetahui keberadaannya. kemana dia pergi dan sebenarnya berasal dari mana anak itu [sweat] [sweat]

mohon perhatiannya: apa tulisan di chp ini kekecilan? [chin]
« Last Edit: November 06, 2010, 06:18:51 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

fara

  • Guest
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 12 update 6 Nov'10
« Reply #830 on: November 06, 2010, 06:17:32 am »
Mami gomawo udh diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
oh my god mami kenapa rath ma daze jd kyk gini mi. Kok mereka jd ribut mi huaaaaa [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] padahal sebelum berita kematian orangtuanya carlson, rath sama daze kn lg mesra2nya mi. Mami tega bgt bikin hubungan mereka jd kyk gini [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] . Aku ngga rela nih mi kalo rath harus Pergi ke NY dan daze ngga tau kalo rath udh ngga ada di perth lg [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]. jadinya nanti daze jadi tambah salah paham ke rath dan daze bakal berpikiran kalo rath bener2 ngga serius. Trus daze bakal balikan ma carlson ga mi? Secara kn carlson minta break ke daze waktu itu gara2 ortunya carls. Berarti karena ortunya carlson udh meninggal, carlson bakalan minta daze balik ke dia lg dong mi? aaaa nasib rath jadi gimana ni, huuh lagian rath kenapa susah bgt bilang "saranghae" ke daze. Kan jadi begini ni masalahnya jd tambah rumit [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
mami updetan selanjutnya jgn lama2 ya cz ak suka bgt sama alur cerita rath sama daze [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
« Last Edit: November 06, 2010, 06:21:04 am by fara »

fara

  • Guest
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 12 update 6 Nov'10
« Reply #831 on: November 06, 2010, 06:28:18 am »
Kalo ak liat dari hp tulisannya normal2 aja mi. Tp ngga tau jg kalo lewat kompi tulisannya jd gimana [hmpfh].
Oiya mi, kalo semua ngga tau rath ke NY, Berarti rath sama daze bakalan bertahun2 ngga bisa ketemu dong mi [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
mami telah membuat satnite kelabu [hmff] 

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 12 update 6 Nov'10
« Reply #832 on: November 06, 2010, 06:30:35 am »
Mamiiiii...satu kt buat chap ini..ME..NYE..SAK..KAN..oya mi boleh aku ralat nga mi? Kayanya rath uda tiga kali deh nangis buat daze klo nga salah sekali waktu haelmoni meninggal di rs yg daze nya teriak2..bener nga mi?..itu ntar ada jumping timenya ya mi secara kan rath ke NY daze ke soul?..jgn lama2 dong mam sedihnya satukan lg rath ma daze..dan satu lgi jgn lama2 updatenya i love this story..oke mam..oke dong?

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 12 update 6 Nov'10
« Reply #833 on: November 06, 2010, 06:33:46 am »
Mami gomawo udh diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
oh my god mami kenapa rath ma daze jd kyk gini mi. Kok mereka jd ribut mi huaaaaa [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] padahal sebelum berita kematian orangtuanya carlson, rath sama daze kn lg mesra2nya mi. Mami tega bgt bikin hubungan mereka jd kyk gini [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] . Aku ngga rela nih mi kalo rath harus Pergi ke NY dan daze ngga tau kalo rath udh ngga ada di perth lg [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]. jadinya nanti daze jadi tambah salah paham ke rath dan daze bakal berpikiran kalo rath bener2 ngga serius. Trus daze bakal balikan ma carlson ga mi? Secara kn carlson minta break ke daze waktu itu gara2 ortunya carls. Berarti karena ortunya carlson udh meninggal, carlson bakalan minta daze balik ke dia lg dong mi? aaaa nasib rath jadi gimana ni, huuh lagian rath kenapa susah bgt bilang "saranghae" ke daze. Kan jadi begini ni masalahnya jd tambah rumit [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
mami updetan selanjutnya jgn lama2 ya cz ak suka bgt sama alur cerita rath sama daze [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
thanks bua komentarnya [lovestruck] cukup panjang [hmpfh] gw suka komentar sepanjang ini [laughing]

ttg carlson [chin] gw ga yakin dia punya keberanian utk meminta daze balik ke dia, apalagi daze udah sebaik itu, setelah mendengar berita kematian ortunya lgs balik buat menghiburnya [heh]

udah gw blg sifat rath emang begitu. dia susah dibuat mengutarakan perasaannya. bukan apa2 sih, dia hanya punya sebuah pegangan (sejak noonanya meninggal) 'dia tdk akan mengatakan sesuatu yg tidak mampu dilakukannya'. dia mencintai daze, ini jelas. tp dia jg takut setelah mengatakannya dia akan melakukan sesuatu yg bakal melanggar janji suci itu [sweat] krn itu dia memilih menyimpannya dalam hati. jika sudah terlihat jelas, buat apa mengatakannya, bener ga?

tp yg parah tuh si daze punya pegangan sendiri--yg 100% berlainan dgn rath. buatnya, sebagai seorg wanita, dia ingin dihargai. dia butuh pengakuan dan kepastian. dan ini bukan hanya digunakan utk menyakinkan dirinya sendiri tp juga buat senjatanya bertahan dari larangan ortunya terhadap hubungan mrk,,

ribet sih,, emang tuh pegangan mereka ga perlu banget [sweat] [sweat] buat apa semua kata2 ga perlu jika emang sudah saling mencintai dan memahami perasaan masing2 [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 12 update 6 Nov'10
« Reply #834 on: November 06, 2010, 06:36:59 am »
Mamiiiii...satu kt buat chap ini..ME..NYE..SAK..KAN..oya mi boleh aku ralat nga mi? Kayanya rath uda tiga kali deh nangis buat daze klo nga salah sekali waktu haelmoni meninggal di rs yg daze nya teriak2..bener nga mi?..itu ntar ada jumping timenya ya mi secara kan rath ke NY daze ke soul?..jgn lama2 dong mam sedihnya satukan lg rath ma daze..dan satu lgi jgn lama2 updatenya i love this story..oke mam..oke dong?
yup jumping time [biggrin]

ohh emang bener rath menanggis utk ke-3 kalinya buat daze [what] gw ga ingat [hmpfh] --author parah [laughing] [laughing] .. tar gw cek ulang,, thanks buat komentarnya [lovestruck]

edit ==============

udah gw cek  and kata2nya persisnya spt di ini 'Rathyan menutup mata perlahan dan menahan agar airmatanya tidak menitik keluar. .. airmata rath ga sampai keluar kok [hmpfh] berarti dia menitikkan airmata buat daze cuma 2 kali [hmff] [hmff]
« Last Edit: November 06, 2010, 03:30:01 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 12 update 6 Nov'10
« Reply #835 on: November 06, 2010, 07:06:10 am »
[chin] [chin] pemecahan masalah yg satu ini sebenarnya cuma satu, yaitu "SALING MENGENAL". Rath tdk seharusnya bersikap seperti itu, bagaimanapun jg daze n carlson pernah dekat bahkan daze lebih mengenal carlson dr pd rath sendiri. Di lihat dr segi manapun aku ngerasa rath itu agak egois,pemarah n pencemburu. Ditambah lg kalau ingat rath yg ngeganggap daze matrealistis, pengen aku [hammer] Jadi kalaupun harus ada yg menyesal itu adalah rath dan rath harus segera mengubah sifatnya kalau daze tdk ingin jatuh ke tangan carlson. Oh ya mo nanya, rath tau ga kalau han de'zave bangkrut n gi mana keadaan han de'zave sekarang nona lee ? Aku jd miris sendiri kalau inget ama daze, dia sangat terpuruk kayaknya [cry] . Come on rath cepatlah nyadar kalau daze sedang sangat amat terpuruk.

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 12 update 6 Nov'10
« Reply #836 on: November 06, 2010, 07:09:49 am »
 Emoticons0423  Emoticons0423  Emoticons0423
Sekalinya buka CM langsung disodorin kayak begini ama mami
Alhasil CUMA BISA NANGIS BOMBAY DI MALEM MINGGU INI..
hammer2 hammer2 hammer2
SUNGGUH TEGANYA DIRIMU TEGANYA TEGANYA MAM Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 12 update 6 Nov'10
« Reply #837 on: November 06, 2010, 07:11:28 am »
Oh gitu ya berarti aku dong yg salah..oya mam jumping timenya lama nga? Mami kyanya doyan banget jumping time ya kan dibengkok juga begitu tpi nga apa2 yg penting updatenya nga bikin org jumping2 karena lama update..he..he

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 12 update 6 Nov'10
« Reply #838 on: November 06, 2010, 07:16:31 am »
Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 12 update 6 Nov'10
« Reply #839 on: November 06, 2010, 07:21:46 am »
[chin] [chin] pemecahan masalah yg satu ini sebenarnya cuma satu, yaitu "SALING MENGENAL". Rath tdk seharusnya bersikap seperti itu, bagaimanapun jg daze n carlson pernah dekat bahkan daze lebih mengenal carlson dr pd rath sendiri. Di lihat dr segi manapun aku ngerasa rath itu agak egois,pemarah n pencemburu. Ditambah lg kalau ingat rath yg ngeganggap daze matrealistis, pengen aku [hammer] Jadi kalaupun harus ada yg menyesal itu adalah rath dan rath harus segera mengubah sifatnya kalau daze tdk ingin jatuh ke tangan carlson. Oh ya mo nanya, rath tau ga kalau han de'zave bangkrut n gi mana keadaan han de'zave sekarang nona lee ? Aku jd miris sendiri kalau inget ama daze, dia sangat terpuruk kayaknya [cry] . Come on rath cepatlah nyadar kalau daze sedang sangat amat terpuruk.
semua org punya pendapat sendiri. gw ga menyalahkanmu [biggrin] ada yg merasa lebih berpihak dan memahami rath, tp ada jg yg berada di sisi daze/mendukungnya [biggrin].
buat gw, perkembangan cerita ini sesuai ama karakter mereka masing2. cerita ini bakal ngadat kalau mereka tdk egois. baik rath maupun daze sama2 egois dan mau menang sendiri. seperti perkataanmu pd awal paragraf, pemecahan buat masalah yg satu ini cuma 'saling mengenal' n 'terus terang' juga .. saatnya pendewasaan buat karakter mereka [goodgrief]
rath harus belajar menangani perusahaan ayahnya. jika tdk ada kesalahpahaman ini, dia bakal melarikan diri selamanya dari tanggung-jawab itu. begitu juga daze. dia ga bisa selamanya menganggur di perth hanya buat seorg rath [nono] [nono]
n ttg rath yg katamu egois, pemarah dan cemburuan=>gimana lagi, namanya jg anak muda [hmpfh]apalagi sifat rath dasarnya emang begitu--ga peduli, urakan, mencintai kebebasan dan ga pingin diikat [heh]
semoga penjelasan ini memuaskanmu [biggrin] thanks buat komentarnya [briggin]

virna, i'm evil [hmpfh] [hmpfh]
« Last Edit: November 06, 2010, 07:28:02 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun