Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 98497 times)

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Asyik mami mo update. Gagal malminggu tp adanya rath sedikit terobati walau tetep aje gondok,hehe


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile

jeongmalllll? gw tunggu'in ya Lophhhh  [huglove]
rath oh rathh

mana nee voldi ama Itaa  [what], ayo ngeronda padaaa

sist shanty gagal malming? [what] chayooo *smangat sist* ayo ngeronda aja nungguin rathhh [lovestruck]

‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
i'm coming...*elus pipi ayank rath*
modem goblok banget<--hammer 100x
mom bener mo di update rat hot malam ini ya*lirik2 maknya balita iblis, minta di smsin klo mami update, home alone, mati lampu, modem lola lengkap penderitaan loe sist*
btw si jenni dah ada di chp ini blm mom, penasaran liat sikapnya rath ktm ama jenni?
free absen,jd gw gak perlu sms lo kan*duduk manis bareng ah in*
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
*lirik-lirik jam* *bersin* Untung gua tadi udah hibernasi 4 jam, jadi sampe sekarang masih kuat buat nungguin updatean rath.. kkk...

Cepetan mam. Update  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

*bersin*

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
SELESAI [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BENTAR, GW CEK DULU!!!!! AND EDIT PIKU BUAT ADDITIONAL CASTNYA [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline mumu

  • Junior
  • **
  • Posts: 200
  • Tatapanmu mengalihkan duniaku....
  • Location: indonesia
    • View Profile
asik ku tunggu mi... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
DALIMUNTE, PROFESOR MUDA DENGAN ROMANTISME KELUARGA KECILNYA...mau...mau...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Author’s note : Dalam chapter ini gw mengambarkan sifat dan karakter Daze yang tak diceritakan sebelumnya. Seperti hobi dan kesukaannya pada balet. Sebenarnya ini sudah pernah gw singgung dulu-dulu, nah di chp ini baru berhasil gw wujudkan wkkk [laughing] [laughing].
And, agar lebih menghayati chp berikut, mohon perhatiannya buat memutar MV di bawah ini [biggrin]. Musik yang dihasilkan dari kotak musik pemberian halmonie tuh terdpt dlm musik permulaan dalam MV di bawah ini hehehe (setiap gw mendengarkannya, selalu hanyut dalam perasaan Daze [heh])
Ok, sesuai perjanjian gw, chp yang panjang. Silahkan dinikmati, and last but not least, mohon maaf buat segala kekurangannya lol






Song of the day :
http://www.youtube.com/watch?v=RL5o5vOygOI&feature=related]

Do You Know Where You're Going To? by Janice Wei

Lyrics : *Do you know where you're going to?
 Do you like the things that life is showing you
 Where are you going to? Do you know?*

#Do you get what you're hoping for
 When you look behind you there's no open door
 What are you hoping for? Do you know?#

Once we were standing still in time
Chasing the fantasies
That filled our minds
You know how I loved you
But my spirit was free
Laughin' at the questions
That you once asked of me
Repeat*

Now looking back at all we've planned
We let so many dreams
Just slip through our hands
Why must we wait so long
Before we'll see
How sad the answers
To those qusetions can be
Repeat*#




Additional Casts :


Chow Yun Fat as Oliver Jang [hmpfh] [hmpfh]


Janice Man as Jennifer White


Park Bom 2EN1 as Isabelle Ting


Sandara Park 2EN1 as Nona Kim



Daze membuka mata perlahan, tapi segera ditutupnya kembali. Kepalanya terasa berat dan pandangannya berkunang-kunang. Dia memijat-mijat jidatnya guna menghilangkan rasa pening yang tiba-tiba dirasakannya. Namun, usaha tersebut sia-sia saja.

Beberapa menit berlalu, Daze membuka mata dan berusaha bangkit dari ranjang. Tapi, sepasang tangan tiba-tiba terjulur dan menekannya berbaring kembali di atas kasur.

"Kau tak boleh bangun, Dazya!! Tahu nggak, kau lagi demam??! Demam tinggi!!" seru pemilik sepasang tangan tadi.

Daze memicingkan matanya, berusaha melihat siapa orang itu. "Omma ... ," panggilnya lirih. Suaranya terdengar sangat lemah dan hanya berupa desahan pelan. Sekuat tenaga dia menyangga tubuh dan bangkit dengan posisi duduk.

"Berbaringlah kembali!!" sahut omma tegas. Namun dengan nada lembut.

"Tapi .. ," bantahan Daze terhenti. Dengan susah payah dia menelan ludah buat membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan gatal. Dia terbatuk-batuk keras kemudian menjatuhkan tubuhnya kembali di atas ranjang, baru kemudian melanjutkan perkataannya yang tertunda tadi. "Sa .. saya harus ke .. kantor, omma ... Banyak pekerjaan ... yang menantiku ... "

"Omong kosong!!" dengus omma. Dia memberi isyarat kepada Daze untuk tak bergerak. Segera ditariknya selimut, menyelimuti tubuh yang terbaring lemah itu. "Bos apa yang memaksa karyawannya bekerja dalam keadaan begini?!!"

"Di .. dia tak memaksaku ... Hanya .. aku ... "

"Cukup! Kau harus istirahat dan tak boleh turun dari ranjang .. ," omma mengerak-gerakan telunjuknya dengan raut serius. "Omma sudah mengambilkan cuti buatmu jadi kau tak perlu khawatir. Tuan Yoon berjanji akan menyampaikannya ke bosmu yang sekarang. O ya--kau pindah departemen, kenapa tak beritahu omma?"

Daze tersentak. Matanya yang sempat terpejam, terbuka lagi. "I .. itu ... " Dia mengigit bibir. Bagaimana caranya menjelaskan ini kepada omma?

"Ah--sudahlah, kita bicarakannya nanti saja!!"

Daze langsung bernafas lega begitu omma membatalkan pertanyaan yang jawabannya tak mampu diberikannya.

"Yang penting sekarang adalah istirahat .. ," lanjut omma sambil menyelipkan selimut yang sedikit tersibak dari tubuh Daze.

"Omma ... ," desah Daze. Suaranya terdengar serak dan putus asa. Dia tahu, kali ini omma tak bisa dibantah. DIA HARUS ISTIRAHAT!

"Apa perlu omma panggilkan dokter Kim?" tanya omma beberapa saat kemudian.

"Tidak usah .. ," ujar Daze sambil memejamkan matanya. "Cukup minum obat kemudian tidur. Saya akan segera sembuh .. "

"Kau yakin?" tanya omma tak percaya.

"Ne ... " Daze berusaha tersenyum. "Saya hanya demam biasa. Kedinginan karna tersiram hujan kemarin. Nggak apa-apa ... "

"Tapi ... "

"Sungguh omma .. ," sela Daze cepat.

Omma mendesah kemudian mengelus kepalanya. "Baiklah kalau begitu. Omma akan mengambilkan obat untukmu. Setelah minum, beristirahatlah!"

"Gumawo .. ," suara Daze memelan. Sebentar saja dia sudah tertidur pulas, sampai omma kembali lagi dengan membawakan obat dan segelas air buatnya.


***** oOo *****



Tok .. tok .. tok ...

"Masuk!"

Agak ragu, wanita bertubuh semampai dengan anting-anting bergelantungan di telinga itu memasuki ruang kantor Rathyan.

"Jadwal buat hari ini, pak ... ," katanya pelan, sambil meletakan secarik kertas yang terjepit dalam map file ke atas meja.

Perhatian Rathyan teralih dari monitor komputer. Alisnya berkenyit. Suara ini bukan suara yang ingin didengarnya! Dia mengangkat wajah dan memandang ke wanita di hadapannya.

"Kau?!!"

"A .. apa perlu kubacakan jadwalnya, pak?" tanya si wanita, nona Kim, ketakutan. Ditatap sedemikian rupa oleh Rathyan, membuatnya gentar. Dia mundur perlahan.

Rathyan melebarkan matanya. "MANA SEKRETARISKU??!!!"

"Sosoengheyo, pak direktur ... ," Nona Kim membungkukan badannya. "Dapat kabar dari tuan Yoon Hye Bin, kepala departemen keuangan, tadi, bahwa Nyonya Han menelepon pagi-pagi sekali, ngambil cuti sehari buat nona Daze ... "

"Cuti?" Rathyan berdiri dari kursinya. "Cuti apa?"

"Katanya nona Daze sakit demam sehingga tidak bisa masuk hari ini ... "

"Mwo?!!" Mata Rathyan terbelalak lebar.

"Itu yang dikatakan tuan Yoon, pak ... " Nona Kim semakin menyusut dari posisinya.

Hening beberapa saat. Rathyan berjalan kembali ke kursinya. "Araso. Kau keluarlah!"

"Ne!" Wanita itu membungkuk hormat, untuk kemudian, terburu-buru berjalan kearah pintu.

"Tunggu sebentar!"

"Ne?!" Nona Kim memutar badannya dan menghadapi Rathyan. "Apa ada masalah lain, pak?"

"Tuan Park sudah sampai?"

"Belum, pak .. Kalau tak salah tuan Park akan tiba bersama pak presiden besok pagi .. "

Rathyan mengangguk. "Nona Kim, ... " perkataannya terhenti. Dia terlihat ragu-ragu.

"Ya, pak?"

"A .. apakah kau tahu .. dokter keluarga kami di Seoul ini?"

"Ne .. ," jawab nona Kim cepat. "Saya pernah memanggilkannya buat pak presiden beberapa bulan yang lalu. Dia dokter Jung Jae Joon dari rumah sakit Seoul ... "

"Bagus!" Rathyan mengatupkan sepasang tangannya. "Panggilkan dia buatku. Suruh dia ke alamat ini ... "

Dia mengeledah sesuatu di atas meja, setelah dapat dilemparkannya pada nona Kim.

"Alamat paling akhir. Secepatnya!" lanjutnya tegas.

"Ne ... " Nona Kim mengambil buku yang mencatat identitas para wartawan itu kemudian membungkukan badannya.

"Satu hal lagi, Nona Kim?"

"Ya, pak?"

"Setelah morning meeting, aku akan keluar sebentar. Jadi jadwal sebelum lunch batalkan semuanya. Terus, untuk jadwal selanjutnya biar kulakukan sendiri, tak perlu kau temani. Morning meeting juga, kau bantulah direktur yang lain ..."

"Ne. Masih ada perintah lain, pak?"

"Tidak. Keluarlah!!"

"Ne .. " Sekali lagi Nona Kim membungkukan badannya kemudian keluar dari ruangan tersebut.

Rathyan menghempaskan tubuh ke sandaran kursi. Dia menghela nafas sambil menerawangkan pandangan ke langit-langit ruangan. Perlahan matanya terpejam.


***** oOo *****



Omma membuka pintu depan dan mendapati seorang pria paruh baya berkacamata tebal berdiri di depan sambil tersenyum padanya.

"Anyongheseyo, Nyonya Han ... ," sapa pria tersebut sambil mengangguk kecil.

"Anyongheseyo .. ," balas omma dengan alis berkenyit. "Sosoengheyo, anda ini siapa?"

Pria itu melebarkan senyumnya. "Saya dokter Jung Jae Joon. Seseorang mengutusku ke sini buat memeriksa keadaan nona Han ... "

"Daze?" tanya omma. Alisnya berkenyit semakin dalam.

"Ne. Nona Daze Han."

"Tapi .. siapa yang mengutus anda? Aneh sekali ... " Omma bergumam sendiri.

"Orang itu majikan nona Han. Dia menyuruhku memastikan kesehatan nona Han baik-baik saja baru boleh pergi. Jadi sekarang Nyonya, dapatkah saya masuk dan memeriksanya?"

"Oh--" Omma membuka mulut dan memandangi pria itu dengan penuh selidik.

"Nyonya tak mempercayaiku?" tanya si pria sambil tersenyum. "Itu wajar ... " Kemudian dia mengeledah tas besar yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. "Ini, nyonya ... " Dia menyodorkan kartu nama tersebut pada omma.

Ragu-ragu, omma menerimanya.

"Dokter Jung Jae Joon dari Seoul Hospital?"

"Ne .. ," pria itu mengangguk.

"Jadi benar anda seorang dokter?"

"Tentu saja .. ," jawab dokter Jung menyakinkan.

Omma mengangguk. "Baiklah, kalau begitu masuklah dokter Jung .... "

Omma memberi jalan dan menyilahkan dokter Jung masuk ke dalam rumah.

"Ghamsamida .. "

Dokter itu membungkukan badannya kemudian masuk ke dalam. Dengan diantar omma, dia dibawa ke lantai atas, ke kamar Daze berada.


***** oOo *****



"Gimana, dok?" tanya omma cemas setelah dokter Jung selesai melakukan tugasnya memeriksa Daze.

Dokter Jung memasukan alat-alat kedokterannya ke dalam tas, setelah itu dia tersenyum pada omma.

"Tak apa-apa. Dia cuma demam biasa ... "

"Sudah kubilang kan?" sela Daze. Matanya terpejam perlahan. "Sudah kubilang tak perlu cemas. Aku hanya demam ringan .. "

"Tapi panasmu sangat tinggi tadi pagi!!" bantah omma. "Tolong diperiksa dengan seksama, dok!"

"Sudah kuperiksa seteliti-telitinya, Nyonya. Tak perlu khawatir, seperti yang dikatakan nona Han, dia hanya sakit ringan. Lagipula demamnya sudah turun dan mencapai titik normal .. "

"Jeongmal?" tanya omma sambil menyentuh kepala Daze. "Oh--benar .. "

"Yang saya butuhkan sekarang hanya istirahat yang cukup, omma ... ," kata Daze pada omma. Kemudian dia membuka matanya dan beralih pada dokter Jung. "Thanks, dok ... "

"Sama-sama, agashi." Dokter Jung mengangguk halus. "Kalau mau berterimakasih, berterimakasihlah pada tuan Jang!" dokter setengah baya itu mengedipkan matanya.

"O--" Daze mendesah. "Arasoyo. Ghamsamida, dok .. "

Dokter Jung mengangguk. Dia menepuk lengan Daze. "Beristirahatlah, anda sudah baikan dan saya akan melaporkannya pada tuan Jang .. ," kemudian dia berpaling pada omma. "Saya pamit, Nyonya. Resep yang saya kasih itu jangan lupa ditebus. Tapi saya rasa tak berguna lagi, agashi kelihatannya sudah benar-benar sembuh. Namun, ya .. tak apa-apa la untuk berjaga-jaga. Jangan-jangan demamnya kambuh lagi."

"Saya antar anda keluar, dok .. ," kata omma sambil bangkit dari ranjang Daze yang sedari tadi didudukinya. "Sekali lagi ghamsamida ... "

"Sama-sama, Nyonya .. "

"Silahkan .. " Omma mengerakan tangannya, mempersilahkan dokter Jung keluar duluan. Baru tiga langkah, mendadak dia menoleh pada Daze. "O ya--Dazya, siapa sebenarnya majikanmu barumu itu? Kok dia baik banget?"

"Oh--" Daze tersentak. Matanya yang sudah terpejam, terbuka kembali. "Dia .... "

"Nyonya jadi mengantarku?"

Pertanyaan dokter Jung memutus jawaban tersendat-sendat dari Daze. Omma menoleh kearah dokter Jung, dengan kikuk dia berseru.

"Oh--tentu! Tentu saja, dokter Jung. Mari ... sebelah sini .."

Daze bernafas lega setelah bayangan omma disertai bayangan dokter Jung menghilang dari pelupuk matanya. Perlahan dia menarik selimut, memejamkan mata dan membalut tubuhnya rapat-rapat.


***** oOo *****



Rathyan menghentikan porche hitamnya di alamat yang dituju. Rumah itu tak begitu besar. Halaman depannya ditanami beberapa jenis mawar yang mulai mekar.

"Tak berubah ... , masih menyukai mawar seperti dulu …. ," desisnya pelan.

Selama beberapa saat pandangannya tak berkedip tertuju ke rumah itu. Setengah jam berlalu dan dia belum bergerak dari posisinya. Mentari siang makin tinggi tergantung di langit dan sinarnya terik membakar kulit. Rathyan melirik jam tangan--pukul 12:30 siang. Dia menghela nafas kemudian membuka pintu dan keluar dari mobil. Sudah saatnya dia melakukannya!

Rathyan berjalan dengan langkah tegap menuju rumah itu. Tangannya terkepal. Setelah sampai, entah mengapa dia menjadi ragu sejenak. Tekad bulat yang sudah diambilnya agak goyah.

Dengan gerakan lamban, tangan Rathyan terulur kearah pintu. Dia mengetok pintu tersebut pelan-pelan. Tak ada yang menyahut ataupun membukakan pintu buatnya. Setelah menunggu sebentar, dia menekan bel yang terdapat di dinding sebelah pintu.

Drekk, pintu tersebut akhirnya dibuka. Rathyan mengangkat wajah perlahan. Raut yang sudah dihapalnya di luar kepala terlihat terbeliak lebar, mempelototinya dengan ekspresi tak percaya. Telunjuk wanita itu tertuju padanya dengan mulut terbuka lebar.

"KAU?!!" jeritnya histeris. "Bagaimana mungkin?!!"

Rathyan mengangguk pelan. "Anyongheseyo, Nyonya Han ... "

"UNTUK APA KAU KEMARI?!!" Omma mendorong tubuh Rathyan. "Kenapa sampai muncul mendadak di sini? Apa yang kau inginkan?!! Menyakiti Daze lagi?!!! Belum cukup penderitaan yang kau berikan padanya, pemuda berengsek?!!!!"

Rathyan tak menjawab. Dia berdiri tak bergeming. Sepasang matanya tak berkedip, kosong tertuju ke depan.

"KENAPA TAK MENJAWAB?!! Kenapa membisu saja?!! Begini yang bisa kau lakukan?!!"

Rathyan tetap membisu di tempatnya.

"JAWAB AKU, ANAK MUDA, apa yang kau inginkan?!!" Omma menguncang tubuh Rathyan. Handuk kecil yang dipegangnya--yang tadi digunakan untuk membasuh wajah Daze, dilemparkan ke wajah pemuda itu. "Bisakah kau melepasnya?! Bisakah kau melepaskan Daze?! Biarkan dia sendiri. Anggap aku memohon padamu," omma menekan-nekan dadanya. "anggap orang tua ini memohon padamu, jangan ganggu putriku lagi. Dia bukan mainanmu. Dia tak kan sanggup menahan penderitaan kembali jika kau sampai menyakitinya. Tahukah kau kalau dia mengidap insomnia setelah perpisahan kalian? Jadi kumohon, pergilah, .. pergi dari hidupnya ... "

Rathyan mengepalkan tangannya. Perlahan dia mundur ke belakang.

"Kau dengar perkataanku?!!!! Kau mengerti kan?!!!" teriak omma.

Rathyan tak menyahut. Pandangannya hampa dan datar, sementara kakinya terus bergerak ke belakang.

"RATHYAN JANG?!! APA KAU DENGAR PERKATAANKU?!! APA KAU MEMAHAMINYA?!!" jerit omma.

Rathyan berbalik. Dengan sepenuh tenaga, luapan perasaannya dilampiaskan ke pot bunga besar di serambi depan. Ditendangnya pot bunga tersebut sehingga menimbulkan bunyi keras.

Brakkk!!! Pot malang itu oleng jatuh ke lantai, berguling-guling kemudian membentur pot bunga yang lain.

Omma terperanjat. Kebingungan, dia menatap punggung pemuda itu sampai menghilang ke dalam Porche hitam yang terparkir beberapa meter dari situ.

Apa yang terjadi dengan anak gila itu? Mata omma menyipit. Kakinya—Apa yang dirasakannya setelah menendang begitu keras pot bunga dari keramik tebal itu? Apa tidak sakit? Omma bertanya-tanya sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Beliau masih mengikuti Porche yang meraung-raung di depan sampai lenyap dari pandangan dalam sekejap.


***** oOo *****



Pintu lift terbuka setelah sampai di tingkat paling atas gedung Max-Global. Rathyan keluar dengan tampang kusut. Perutnya keroncongan, dan dia belum sempat mengisinya setelah pergi dari Han’s mansion. Mendapat sambutan tak enak dari omma membuat selera makan siangnya lenyap seketika.

Waktu sudah menunjukan pukul dua siang kala itu dan meeting dengan Lighter Z akan segera dimulai. Dia lebih tak punya waktu lagi sekarang. Rathyan berjalan dengan langkah tegap menuju ruang kantornya yang terletak paling ujung. Beberapa karyawan di tingkat itu segera membungkuk hormat begitu berpapasan dengannya.

Langkah Rathyan tiba-tiba terhenti ketika mendapati keberadaan Nona Kim di depan pintu ruang kantornya. Wanita itu memeluk setumpuk dokumen di tangannya. Hanya sesaat, Rathyan meneruskan lagkahnya lagi, melewati Nona Kim dengan acuh.

“Ngapain kau masih di sini?” tanyanya sambil lalu—tanpa berpaling. Dia membuka pintu dan masuk ke dalam.

Nona Kim kelihatan tersentak kaget karena tak menyadari kehadiran majikan yang ditunggunya di situ.

“Pak .. pak direktur … “ Terburu-buru Nona Kim mengejar Rathyan. “Saya .. saya membawakan materi-materi buat meeting nanti .. dan .. tamu dari Lighter Z sudah sampai di Board room .. “

“Letakan di atas meja!!”

Rathyan melepas jasnya kemudian menyampirkan ke sandaran kursi. “Kau boleh keluar sekarang. Aku tak membutuhkanmu dalam rapat nanti!” katanya sambil menjatuhkan diri di kursi.

Rathyan menarik beberapa dokumen dari atas meja dan mulai mengamatinya.

“Tapi pak … “

Perkataan Nona Kim segera terputus begitu Rathyan mengangkat wajah dan memandangnya dengan tatapan dingin yang teramat menusuk.

“Apa kau tuli?!! Aku bilang—TAK MEMBUTUHKANMU LAGI!! Apa tak jelas??!!! Keluar dan jangan mengusik-ku!!! Tentang materi-materi buat meeting, taruh saja di atas meja. Aku akan menyortirnya sendiri.”

“Tapi pak, ada beberapa .. “

Nona Kim masih berusaha membantah tapi segera dibungkam oleh teriakan kesal Rathyan.

“Jika kau tak memastikan telingamu masih berfungsi dengan baik, sebaiknya kau mengundurkan diri dari Max-Global. Aku tak membutuhkan karyawan sepertimu!!”

“Mwo?” Nona Kim membelalakan matanya, kaget.

“Apa kau menganggapku terlalu bodoh untuk membedakan meeting-meeting mana saja yang harus kuhadiri?!!” hardik Rathyan tak sabar.

“A .. ahniyo .. “ Nona Kim menyusut ketakutan. “Sosoengheyo .. “

“Kalau begitu keluarlah!!” Rathyan mengibaskan tangannya.

“N … e …. “ Terburu-buru Nona Kim melesat keluar dari kantor Rathyan.

Pemuda itu mendengus, lalu menghempaskan dokumen di tangannya ke lantai. Setelah itu dia berdiri, membilah-bilah sebentar dokumen-dokumen yang tadi dibawakan Nona Kim kemudian menarik salah satunya. Dia mengambil jas dan memakainya. Setelah itu keluar dari ruangan, menuju ruang rapat di mana kolega-kolega bisnis dari Lighter Z sudah menunggunya.


***** oOo *****



”Thanks buat kerjasamanya, tuan Jang .. “

Tuan Moon, direktur utama dari Lighter Z, menyalami Rathyan dengan raut berseri-seri.

“Ide anda sangat hebat. Dan saya yakin ayah anda sangat bangga terhadap prestasi-prestasi yang sudah anda raih. Saya dengar sudah banyak yang anda lakukan dalam waktu beberapa bulan ini, termasuk di Amerika .. “

“Anda terlalu memuji-ku, tuan Moon .. ,” Rathyan tersenyum risih. “Yang kulakukan bukan apa-apa .. “

“Ah—anda terlalu merendah .. “ Tuan Moon tertawa kemudian menepuk lengan Rathyan.

“Tidak. Tidak. Anda yang terlalu berlebihan .. “ bantah Rathyan. Dia segera membungkuk pendek ketika melihat Tuan Moon bermaksud membuka suara lagi. “Terimakasih buat semuanya. Semoga kerjasama kita berjalan lancar .. “ Rathyan kembali menerima uluran tangan Tuan Moon, menyalaminya dengan ekspresi dibuat seramah mungkin. “Aku akan mengantar anda keluar .. “

“No, tidak perlu .. “ Tuan Moon menolak dengan halus. “Anda tak perlu mengantarku. Kami .. “ dia melirik rekan di sebelahnya. “ .. masih ada keperluan di gedung sebelah .. “

“Baiklah ..” Rathyan membungkuk perlahan. “Sampai ketemu lagi, Tuan Moon .. “

Tuan Moon membalas dengan anggukan pendek. Begitu juga dua rekan yang mengikutinya. Mereka keluar dari ruang rapat, dan diikuti Rathyan beberapa menit kemudian.

Tapi langkahnya terhenti di luar pintu. Rathyan tercengang. Sekitar dua meter di depannya sudah berdiri seseorang yang tak mampu dipercayai. Bagaimana mungkin?

Rathyan bergerak pelan, semakin mendekat kearah orang itu.

“Kenapa berada di sini?”

Daze tersenyum. “Aku harus menyelesaikan pekerjaanku!”

“Siapa yang menyuruhmu?!” dengus Rathyan. Kemudian dia mulai melangkah, sementara Daze mengimbanginya langkahnya. “Aku tak membutuhkan sekretaris berpenyakitan … “

“Saya sudah sembuh!” ujar Daze cepat. “O ya, terimakasih buat dokter yang kau panggilkan .. “

“Aku hanya tak ingin penyakitmu mempengaruhi pekerjaanku ..,” sahut Rathyan cuek.

Daze menghela nafasnya. “Ya—araseyo .. bagaimanapun aku harus berterimakasih padamu. Apapun alasanmu itu .. “

Rathyan mengangkat pundaknya. “Terserah!!”

“Biar kubawakan dokumen-dokumennya .. “

Tanpa menunggu persetujuan Rathyan, Daze langsung menyambar dokumen-dokumen dari tangannya. Rathyan menoleh, kaget. Tapi sebentar kemudian dia beralih kembali ke depan. Melangkah tanpa berpaling lagi kepada gadis yang berjalan agak di belakangnya.

“Selanjutnya meeting di luar. Tapi sebelum itu kita makan dulu. Saya sangat lapar karna belum makan siang .. “

Daze yang agak kesusahan mengimbangi langkah Rathyan mengangguk dengan nafas terengah. “Ne .. “

“Satu lagi—besok 1st anniversarynya Max-Global cabang Korea. Semua karyawan diharapkan hadir, tanpa kecuali. Jadi besok, kau juga harus hadir, ikut denganku!! Aku akan menjemputmu .. “

“Mwo?!!” langkah Daze terhenti. “Tapi …. “

“Sudah kubilang tanpa terkecuali!!” Rathyan berpaling dengan mimik kesal. “Araso?”

Daze mendesah, “Ne .. “


***** oOo *****



Sekitar pukul 7:30 malam ponsel di atas meja makan berbunyi. Daze mengulurkan tangan dan mengambil ponsel tersebut. Diperhatikannya sebentar, kemudian mengucapkan kata ‘Carlson’ begitu melihat omma memandanginya dengan raut menyelidik. Omma mengangguk dan Daze lalu menekan tombol accept kemudian mendekatkan ponsel tersebut ke telinga.

“Yeboseyo .. “

”Daze .. “. Terdengar suara Carlson dari seberang. ”Saya dengar dari tante, kau sakit. Bagaimana keadaanmu?”

“Baik .. ,” jawab Daze agak lemas. Dia berpaling pada omma yang sedang menikmati makan malamnya. Setelah menghela nafas dia berkata lagi, “Saya sudah baikan. Lalu bagaimana denganmu? Mian akhir-akhir ini saya tak ikut dengan mobilmu … “

”Tak apa .. ,” sahut Carlson. ”Saya tahu kau pindah ke departemen lain.”

Daze melirik omma. Huh—mengapa omma menceritakan segala-galanya pada Carlson?

“Pasti sangat sibuk ya?”


“Tidak juga .. “ Daze tersenyum pahit.

Carlson tertawa. ”Bagaimana suasananya? Apa lebih sulit dari departemen lama? Aku khawatir kau tak mampu menyesuaikan diri mengingat kau masih baru dalam perusahaan itu?”

“Lumayan .. ,” sahut Daze hambar. Ingin sekali dia memutus sambungan telepon ini, tapi lirikan-lirikan omma yang sesekali diarahkan padanya mengurungkan niat tersebut.

”O ya—besok 1 tahun anniversary-nya Max-Global, kau hadir?”

“Ne … “ Daze mengambil sendok dan mulai meminum supnya.

”Saya juga datang!!”

“Huekk—“ Perkataan Carlson membuat Daze tersedak. Dia terbatuk-batuk keras. Omma segera menyodorkan segelas air dan membantu Daze meminumnya.

“Gwencana?” tanya omma khawatir.

Daze mengangguk sambil terbatuk pelan. “Ne .. “ kemudian dia beralih pada Carlson. “Kau ke sana? mengapa?”

”Kami—gabungan dari beberapa perusahaan yang telah didonori Max-Global selama ini, bermaksud memberi ucapan selamat buat setahun berjayanya. Rangkaian-rangkaian bunga sudah kami persiapkan dan akan dikirim besok pagi.

“O—“ Daze membuka mulutnya. Terdengar sangat lemah.

”Bagaimana kalau kita berangkat bersama-sama besok, Dazya? Aku akan menjemputmu .. “

“Mwo?!!” teriak Daze. “Oh—aniyo!!” Dia mengeleng keras-keras. Mengapa dalam waktu beberapa jam dalam sehari, harus ada dua pria yang mengajaknya ke pesta yang sama?

”Kenapa?” tanya Carlson bingung.

“Pokoknya ANIYO!!” sahut Daze tegas. “Sudah Carls, saya lagi makan! Anyong!” dengan cepat diputusnya hubungan tersebut.

Tak memperdulikan pandangan bertanya dari omma, Daze kembali menyendok supnya kemudian memasukannya ke dalam mulut.


***** oOo *****



”Kenapa kaku begitu?” Alis Rathyan berkenyit.

Daze melebarkan matanya. Dengan gugup dia menarik tali gaunnya yang merosot ke bawah. “Aniyo .. “

“Tidak kaku?”

“Ne!!” sahut Daze.

“Lalu kenapa wajahmu sepucat itu?” sindir Rathyan. Daze tak menjawab. Perhatian Rathyan kemudian beralih pada gaun panjang yang dikenakan Daze, perlahan naik ke atas, kemudian berhenti di rambutnya yang terpangkas pendek. Selama beberapa detik dia tak bersuara. Setelah itu dia melangkah kembali, menuju mobilnya yang terparkir agak jauh dari Han’s mansion. “Aku tak suka model rambutmu yang sekarang .. ,” katanya sambil lalu.

Mata Daze terbelalak. “Mwo?!” Sejak kapan anak ini mampu mengajukan protes terhadapnya? Terutama pada penampilannya? Biasanya dia kan kayak orang buta—buta segala-galanya. Nggak perduli dan bisanya cuma ngeloyor pergi aja. Seingat Daze, hanya sekali Rathyan memprotes tegas sikapnya, yaitu ketika dia marah-marah tak karuan begitu bertemu dan melihat sikap Gretchell pada pemuda ini. Dan itu waktu di Perth, sudah setahun yang lalu. “Apa urusannya denganmu?” gerutu Daze pelan. Sangat pelan sehingga tak kedengaran oleh Rathyan.

Kau tak tahu bahwa … bagaimana aku menjadi malas memelihara rambut ini setelah perpisahan denganmu … Daze memperhatikan punggung Rathyan dengan pandangan nanar.

Mereka sampai di mobil Rathyan—sebuah Ferrari hitam yang berkilat-kilat dan kelihatan masih sangat baru. Daze kembali mengerutu dalam hatinya. Anak ini—kenapa gonta-ganti mobil melulu huhh—

“Apapun yang terjadi nanti—kau jangan bersuara! Cukup ikut saja denganku!” kata Rathyan sambil membuka pintu di sebelah pintu kemudi.

“Mwo?” Daze tertegun. “Waeyoo?”

“Masuk!” Rathyan mendorong pelan pundak Daze sehingga gadis itu masuk ke mobil, tanpa bermaksud menjawab pertanyaannya tadi. Daze memasang tampang kesal tapi Rathyan tak memperdulikannya.

Pemuda itu berputar ke arah pintu di sebelah bangku kemudi, membukanya kemudian masuk ke dalam. Sekejap saja mobil itu sudah meraung-meraung meninggalkan tempatnya.


***** oOo *****



Ruangan tempat perayaan 1 tahun anniversarynya Max-Global cabang Korea sudah dipadati orang. Kebanyakan dari mereka merupakan para karyawan Max-Global sendiri, sedangkan ada beberapa lagi partner kerja yang sudah melakukan kerjasama yang cukup erat dengan Max-Global selama setahun ini dan wartawan-wartawan dari berbagai media massa.

Para tamu masih terus berdatangan ketika Rathyan dan Daze memasuki ruangan. Daze mengekor Rathyan dengan susah payah. Gaunnya tersangkut beberapa kali. Sesekali Rathyan meliriknya dan memberi isyarat supaya Dia berjalan di sebelahnya tapi segera ditolak gadis itu dengan gelengan kepala. Daze tidak ingin kelihatan menyolok dengan berjalan berdampingan dengan orang besar ini apalagi di hadapan begitu banyak orang, terutama pers.

Seseorang menghampiri Rathyan dan Daze. Dia seorang pria bertampang kaku dan berpostur kurus. Sikapnya sangat hormat dan bisa dikatakan hampir sempurna.

“Doronim …. “ Dia membungkukan badan, 90 derajat di depan Rathyan.

Rathyan memandanginya malas dan berkesan datar. “Kau sudah berada di sini, berarti orang itu … “

“Ne, doronim … ,” sahut si pria perlente. “Pak presiden juga sudah berada di sini. Kami tiba dengan pesawat pribadi sekitar sejam yang lalu. Sekarang beliau sedang berbincang-bincang dengan beberapa partner bisnis di ruangan sebelah. Miss White juga datang bersama kami .. “

“Huh—“ Rathyan mendengus. “Buat apa dia .. “

“OPPA!!!”

Teriakan keras terdengar, memutus perkataan Rathyan. Bersamaan, dia dan Daze berpaling kearah suara itu. Alisnya langsung berkerut begitu mendapatkan seorang gadis berkulit putih dan berparas manis berlari kearahnya. Sepasang tangan gadis itu dikembangkan. Ekspresi Daze berubah. Tanpa perlu ditebak, dia mengerti maksud gadis itu—Dia pasti ingin memeluk Rathyan.

Gadis itu mengenakan gaun silver dari sutra lembut. Kulitnya yang putih terlihat semakin bersinar akibat pantulan dari gaun yang dikenakannya. Bagian dada di gaun tersebut terbuka sampai ke bagian perut, sementara rambutnya yang panjang dibiarkan terurai sampai ke pinggang.

Daze memandanginya dengan iri. Dulu, rambutku lebih panjang darinya. Bahkan lebih hitam dan lebat—namun, .. itu sudah lama sekali. Apakah baru setahun? Kenapa aku merasa sudah lama sekali …. , sudah bertahub-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun …

“OPPA!!!”

Gadis itu sampai di depan mereka. Tangannya sudah hampir menjangkau leher Rathyan kalau tak segera ditepis pemuda itu.

“Apa maumu ikut ke sini? Tak punya kerjaan lain? Bagaimana dengan kuliahmu?”

“Oppa … ,” gadis itu memanjangkan bibirnya. “Uncle Oli yang memintaku ke sini. Lagian aku lagi libur. Apa oppa tak merindukanku?” tiba-tiba tangannya melingkar ke lengan Rathyan.

“Lepas!!” Rathyan mengibaskan tangannya dengan sedikit kasar. “Jaga sikapmu!!”

“Kenapa?” goda si gadis.

“Dengar Jennifer White, apapun yang dikatakan tua Bangka itu, aku tak akan pernah … “

“Rath—kau sudah datang??!!”

Seruan datar tersebut membuat mereka berpaling. Seorang pria setengah baya berpenampilan anggun dan berwibawa mendekati mereka.

“Tuan Park, siapkan semuanya!” kata pria tersebut pada tuan Park.

Yang diperintah segera membungkuk dengan hormat. “Agashimida, pak presiden .. “

“Tunggu sebentar!!” bentak Rathyan. “Mempersiapkan apa?” tanyanya dengan pandangan menyelidik.

“Seperti yang appa katakan padamu beberapa hari lalu .. ,” jawab Oliver kaku.

“Mwo?”

“Sudah jelas kan?” sahut Oliver tegas.

“Jangan lakukan itu!!” Rathyan membalas pandangan ayahnya tanpa berkedip.

“Appa sudah mempersiapkan segala sesuatunya dan hal ini sudah tak dapat ditunda lagi. Jennifer lulus tahun ini dan proyek ZigZag antara Max-Global dengan White Group akan segera dimulai. Pertunangan kalian diumumkan lebih cepat akan lebih baik … “

Rathyan tersentak—tak mengira kata pertunangan tersebut dikeluarkan juga oleh Oliver. Dengan cepat dia berpaling kearah Daze. Mulutnya terbuka perlahan. Wajah gadis itu terlihat pucat. Dia menatap Rathyan, namun hanya sesaat kemudian dia membuang muka kearah lain.

“Jadi bersiaplah! Tuan Park akan mengumumkan ini di depan massa setelah ucapan penyambutan dariku .. “

“Sudah kubilang jangan lakukan itu!!” bentak Rathyan. Suaranya mengelegar sehingga perhatian para tamu langsung tertuju padanya.

“Ada apa?” tanya suara-suara berisik dari para tamu.

“Tidak tahu!” sahut yang lainnya.

“Kelihatannya terjadi pertengkaran antara ayah dan anak itu!”

Orang-orang mulai mengerumuni mereka. Daze menyusut ke belakang, agak menjauh dari Rathyan dan berdesakan dengan yang lainnya. Dia tidak pergi karna memang belum ada perintah dari majikannya, Rathyan Jang. Namun sesungguhnya, hatinya sudah melayang ke tempat lain. Bertunagan? Benarkah? Nafasnya tertahan dengan berat.

“Kenapa?” tanya Oliver dingin. “Kau tak ingin proyek yang sudah kita susun berantakan gara-gara sepak terjangmu yang tak terkendali itu kan? Lagipula, apa kekurangan Jenny? Seharusnya kau bersyukur mendapatkannya!”

“Batalkan rencana itu!” sahut Rathyan tanpa memperdulikan perkataan-perkataan ayahnya.

“Kalau appa berkeras?!” tantang Oliver.

Rathyan mengatupkan gerahamnya. “Kurasa kau mengerti aku, Oliver Jang. Aku mampu melakukan sesuatu di luar perhitunganmu!”

“Seperti apa itu?!” tanya Oliver tak gentar.

Rathyan melirik Jennifer, kemudian beralih pada Oliver. “Coba saja kau mengumumkan rencana itu, maka kau benar-benar akan mengetahuinya. Lihat saja!”

Rathyan memutar tubuh membelakangi OIiver, kemudian dia melangkah cepat kearah Daze yang masih termangu di tempatnya. Disambarnya tangan gadis itu dan menariknya untuk mengikuti langkahnya.

“Pergi dari sini!” kemudian dia mempelototi orang-orang yang menghalagi jalannya. “MINGGIR!!” teriaknya dengan nada membunuh. Orang-orang itu langsung menyusut ketakutan.

“Dazya … “

Daze menoleh ke belakang. Ternyata seseorang yang dikenalnya berada dalam kerumunan para tamu.

“Carls .. ,” desah Daze putus asa.

“Mau ke mana?” tanya Carlson sambil menyeruak keluar dari kerumunan tersebut.

“Saya … akh … “

Rathyan berhenti sehingga Daze menabrak punggungnya. Agak tersenggal gadis itu meraba jidat dengan tangannya yang bebas, tak digenggam Rathyan. Kemudian diperhatikannya pemuda di depannya dan ternyata Rathyan sekarang sedang mengikuti arah pandangnya. Alis pemuda itu berkerut. Dia mengenal orang itu. Walaupun hanya lewat media massa dan foto di setiap proposal yang diajukan Korean Capital padanya. Ya, pria itu--orang yang dibencinya selama ini. Orang yang membuat hidupnya terantuk-antuk dalam kepahitan selama setahun terakhir. Pria yang untuk pertama kali menimbulkan perasaan iri di hatinya karna Daze lebih memperhatikan dan memilihnya daripada dia sendiri, Rathyan Jang—orang yang sudah mengorbankan segala-galanya. Dia—pria yang pernah mengisi hidup Daze, dan akan selalu mengisi hati gadis yang dicintainya. Dia—kekasih Daze, Carlson Kim, pemilik Korean Capital.

Tampang Rathyan mengeras. Genggamannya di tangan Daze dipererat. Sekali hentak, dia menarik Daze pergi dari situ. “PERGI!!”

“Dazya!!” Carlson berhasil keluar dari kerumunan para tamu yang saling berdesakan. Dia mengejar Daze namun segera terhalangi oleh benteng lain, benteng para pers yang mulai mengarahkan kamera-kameranya kearah Oliver Jang.

“Miane, Carls-a!!” Daze mengangkat dan melambaikan tangannya. Agak terhalangi oleh kerumunan-kerumunan di belakang. “Saya harus pergi sekarang. Akan kujelaskan semuanya nanti, .. bye … “

“Tapi …. “

Suara Carlson tenggelam dalam keberisikan di ruangan itu. Dia memiringkan kepala ke kanan dan kiri, tapi bayangan Daze dan pemuda yang menariknya sudah menghilang dari antara kerumunan para tamu.


***** oOo *****



Sementara itu, beberapa meter di belakang …

Oliver kelihatan sangat murka. Tampang mengeras. Saputangan yang digenggamnya kusut tak berbentuk lagi.

“Pak … ,” ujar tuan Park ragu-ragu. “Apakah …. “

“Batalkan semuanya!!” bentak Oliver garang.

“But uncle Jang .. “ Jennifer merengek di sebelahnya. Gadis itu meraih tangan Oliver dan melingkarkan tangan di lengan pria setengah baya itu. Mengerak-gerakan lengan tersebut dengan manja. “Dad minta diumumkan hari ini juga. Uncle Jang juga tahu kan kalau ini sangat diperlukan untuk memperkuat proyek ZigZag di mata masyarakat? Sahamnya akan segera beredar dan daddy ingin harganya terdongkrak drastis .. Dad bilang pertunangan ini akan segera diresmikan begitu kita kembali ke New York. Acaranya akan dilakukan besar-besaran dan aku sudah tak sabar lagi menanti hari itu … “

“Uncle tahu … ,” sahut Oliver dengan nada ditahan supaya terdengar lebih tenang. “Tapi kita tak bisa mengumumkannya tanpa kehadiran orang bersangkutan .. ,” kemudian dia berpaling pada tuan Park. “Acara dimulai tuan Park. Aku akan memberikan kata sambutan lima menit lagi .. “

“Tapi uncle Jang .. ,” suara Jennifer mendahului jawaban tuan Park.

Oliver mengangkat tangan memberi isyarat supaya gadis itu diam dulu. “Satu hal lagi, tuan Park .. “

“Ne, pak presiden?”

“Apa kau tahu siapa wanita itu?”

“Yang bersama doronim?” tuan Park balas bertanya.

Oliver mengangguk.

Tuan Park mengeleng perlahan. “Tidak … “

“Kalau begitu selidiki dia! Aku ingin tahu siapa dia! Rath kelihatan perhatian sekali padanya .. “

“Ne .. “ Tuan Park membungkuk hormat. Setelah itu si asisten pribadi melangkah dari tempat itu.

“Sebelah sini tuan-tuan dari pers .. “ Tuan Park menyilahkan orang-orang dari media massa yang mengelilingi Oliver Jang buat mendapatkan berita untuk mengikutinya. “Kami sudah mempersiapkan ruangan khusus buat kalian. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang kalian ajukan, akan dijawab semua oleh pak presiden setelah kata sambutan selesai diucapkan .. “

Para wartawan yang haus berita itu melirik Oliver dan kemudian dengan terpaksa mengikuti tuan Park karna kelihatannya pemilik Max-Global itu tak akan mengatakan apa-apa saat ini.

“Uncle Jang … ,” Jennifer terdengar merengek kembali.

“Sorry dear, itu yang bisa uncle lakukan saat ini .. “ Oliver tersenyum pada gadis manja di sebelahnya. “Tapi uncle berjanji padamu. Rathyan milikmu, dan tak seorangpun dapat merebutnya dari tanganmu.”

“Jeongmal?”

“Ne .. “ Oliver kemudian mengelus kepala Jennifer. “Apa kau puas sekarang?”

“Ne .. “ Jennifer bergayut manja di tangan Oliver. “Saya bahagia dengan janji paman.” Katanya dengan nada tinggi, nada khasnya yang agak menganggu. “Saya yakin uncle dapat memegangnya? Benar kan?” tekannya menyakinkan.

“Tentu .. “

Oliver tertawa diikuti tawa puas dari Jennifer.


***** oOo *****



Rathyan dan Daze sudah berada di luar gedung Max-Global. Segelintir orang yang berlalu-lalang di situ tampak melirik kearah mereka, tapi hanya sebentar orang-orang tersebut segera kabur begitu mendapat pandangan menusuk dari Rathyan.

“Lepaskan aku!!” Daze mengibaskan tangan Rathyan.

“Hey—“ protes Rathyan.

“Apa maumu?!” teriak Daze.

“Bukankah seharusnya aku yang menanyakan ini?” balas Rathyan menusuk.

“MWO?!”

“Carlson Kim—aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti?” mata Rathyan melebar.

“Mwo?!!” jerit Daze.

“Mesra sekali hubungan kalian!”

“MWO?!!” Untuk ketiga kalinya Daze meneriakan kata itu. Matanya membelalak seakan bola mata tersebut sudah bersiap meloncat keluar dari rongganya. “Apa maksudmu?!”

“Sudah jelaskan?!” dengus Rathyan.

“Lalu bagaimana denganmu?!” jerit Daze. “Pertunangan—apa itu lebih baik dari kata-kataku tadi?!!”

Rathyan terdiam, tak membalas. Rautnya berubah, dingin dan sangar. Dia memutar tubuh, dan … Plang!!! tanpa disangka kakinya diayunkan ke tiang besar penyangga gedung.

“Shittttt!!!!” teriaknya. “TAK ADA YANG BERES!!!”

Tangannya dikepalkan erat-erat. Sambil mengatupkan geraham rapat-rapat, dia berlalu dari hadapan Daze.

“YAA—MAU KEMANA?!” teriak Daze. “SAYA BELUM SELESAI DENGANMU!!”

Tapi teriakan-teriakannya tak dihiraukan pemuda itu. Rathyan membuka pintu mobilnya dan menghidupkan mesin. Pandangannya terpusat ke depan. Dalam hitungan detik Ferrari hitamnya sudah melesat pergi meninggalkan abu tipis di belakangnya.

“Anak sialan!!” gerutu Daze. “Emangnya cuma kau yang berhak marah?!” perlahan dia menghapus dua lapis air tipis dari pelupuk matanya. “Kau tahu apa yang kurasakan? Bimbang. Terkadang aku merasa kau masih mencintaiku, tapi di saat lain … kenapa kau seberengsek ini?!”


***** oOo *****



Hari minggu yang cerah, sehari setelah acara pembukaan Max-Global. Daze memejamkan mata—menghayati setiap dentingan nada yang begitu dicintainya. Hampir tiga bulan lamanya dia tak menginjakan kakinya di sini, sanggar balet ‘Thinker Belle’ yang dibuka sahabatnya sejak sekolah menengah, Isabelle Ting.

Musik yang terputar dari disk player di seberang ruangan itu menyentuh hati Daze. Berdenting-denting nyaring, mengingatkannya pada halmonie. Daze menyangga dagu dengan kedua tangan. Pikirannya menerawang, jatuh ke kotak musik pemberian halmonie saat dia berusia lima tahun, dimana di atas kotak tersebut terdapat seorang ballerina kecil yang sedang melakukan pirouette. Hadiah yang didapatnya setelah dia mengutarakan cita-citanya pada halmonie. Hadiah yang sangat dicintai dan dihargainya sampai sekarang. Hadiah yang sukses membuatnya menangis semalam suntuk karna rusak oleh kenakalan Dave. Dongsengnya itu menjatuhkannya dari lemari hias sehingga tak berbunyi lagi. Mau diperbaiki tapi tak pernah berhasil. Kata tukang-tukang yang pernah dimintai bantuannya, kotak musik itu sudah rusak berat, tak bisa diperbaiki lagi. Bagian dalamnya hancur lebur.

Daze membuka mata perlahan. Segerombolan anak kecil terlihat sedang bergerak luwes mengikuti irama musik di tengah ruangan. Beberapa anak mulai saling mendorong ketika salah seorang di antara mereka tak sengaja menginjak kaki partner di sebelahnya. Teriakan-teriakan nyaring saling menyalahkan diikuti isak tangis terdengar dari anak-anak yang rata-rata berusia tiga sampai lima tahun itu. Para orangtua mulai menghambur kearah mereka. Isabelle Ting berusaha merelai tapi percuma saja. Anak-anak tersebut mengila dan tak mau mengalah. Mereka saling menunjuk dan mengerak-gerakan tangannya sekalipun orangtua mereka sudah menarik tangan masing-masing. Isabelle menghapus keringatnya, tampak kewalahan. Teriakan-teriakan masih terus terdengar, membahana dalam ruang dansa tersebut.

Daze tertawa. Dia begitu mencintai suasana ini. Sekalipun anak-anak terkadang susah diatur, tapi mereka manis-manis semua. Dan jangan menanyakan mengapa dia sangat tenang melihat keadaan ini karna dia selalu mempunyai cara jitu dalam menangani kerusuhan anak-anak.

“Anak-anak!!” Daze menepuk tangannya. Dia berdiri dari lantai dan berjalan kearah tasnya. “Sonsaengnim punya permen, mau?”

Anak-anak langsung berpaling padanya. “MAU!!!” teriak mereka sambil menghambur kearah Daze.

Isabelle dan para orangtua tak diperdulikan lagi. Para wanita dan guru muda itu saling berpandangan. Sesaat kemudian mereka langsung tertawa lebar. Memang cuma Daze yang bisa diandalkan dalam menghadapi kericuhan dari bocah-bocah yang sulit ditangani ini. Entah mengapa anak-anak begitu dekat dengan Daze. Sekalipun Isabelle yang menawarkan permen-permen tersebut, belum tentu para bawel ini mau menerimanya, lain halnya dengan Daze. Senyumnya selalu membuahkan hasil. Para anak langsung runtuh dalam kelembutan-kelembutannya.

“Sonsaengnim, Lyan lupa ama gerakan tadi .. ,” ucap seorang gadis kecil berambut ikal dengan mulut mengelembung oleh permen. Dia menarik tangan Daze dan membawanya ke tengah lantai dansa dengan diikuti oleh anak-anak lain.

“Emang gerakan mana yang Lyan nggak bisa?” tanya Daze sambil tersenyum manis.

“Itu—yang berputar-putar .. ,” sahut Lyan dengan mulut diruncingkan dan telunjuk diputar-putar. Ekspresinya sangat mengemaskan sehingga membuat Daze tak tahan untuk tak mencubit pipinya.    

“Yang itu—hmm, begini … “

Daze melebarkan tangannya. Di seberang ruangan, Isabelle kembali menghidupkan disk player, musik berdenting-denting kembali terdengar, sementara para orangtua balik lagi ke bangku masing-masing. Daze memejamkan mata dan mulai bergerak pelan. Semula perlahan, sampai ke gerakan berputar, tubuhnya meliyuk-liyuk dengan indah, bergerak dengan sangat luwes dan ahli. Walaupun sudah berbulan-bulan tak menyentuh balet, dia tak terlihat ragu sama sekali. Semua yang berada dalam ruangan itu, termasuk ahjuma yang sedang mengelap kaca, langsung bertepuk tangan riuh.

Isabelle menjatuhkan diri di bangku, bersebelahan dengan seorang ahjuma, ibu dari salah satu muridnya. Si ahjuma tiba-tiba mencolek lengannya.

“Han sonsaengnim sangat hebat .. ,” kata si ahjuma.

Isabelle memandang kearah Daze. Dia mengangguk. Sinar matanya berubah lembut seiring perhatiannya pada temannya itu, kemudian dia tersenyum. “Ya, dia sangat berbakat. Waktu di sekolah dulu, dia merupakan pemain utama di grup balet kami. Tapi sayang, setelah lulus dia terpaksa melepaskan segalanya .. “

“Kenapa?” tanya ahjuma keheranan. “Apa karna dia tak menyukai balet lagi?”

“Aniyo!” jawab Isabelle. “Dia sangat menyukai balet. Dari dulu sampai sekarang, Daze tetap mencintai balet. Karna cuma balet, peninggalan paling berharga yang selalu mengingatkannya pada halmonienya yang sudah meninggal … “

“O ya? Jadi kenapa dia meninggalkan hobinya ini?”

“Semula karna perusahaan orangtuanya .. ,” kata Isabelle dengan pikiran menerawang. “Keluarga Han tak punya penerus yang dapat diandalkan selain Daze. Tapi setelah perusahaan tersebut bangkrut, semua karna perjuangan hidup. Balet hanya bisa memberikan kepuasan batin padanya, tapi tidak dengan uang. Dia membutuhkan uang untuk kebutuhan-kebutuhan orangtua dan menyekolahkan adiknya yang baru tamat tahun ini … “

“Oh—ternyata perjuangan Han sonsaengnim sangat berat .. “ Si ahjuma mengangguk-angguk prihatin.

“Ya—“ Isabelle bangkit dari duduknya. “Semoga semua cepat berlalu. Saya harus melanjutkan pelajaran, Yoon ahjuma, permisi sebentar .. “

Si ahjuma mengangguk. “Ne .. “


***** oOo *****



”Thanks buat bantuannya, Dazya .. “ Isabelle menepuk pundak Daze.

Gadis yang sedang membereskan barang-barangnya itu berpaling. “Sama-sama .. Saya juga berterimakasih buat kesediaanmu menampungku menyalurkan hobi di sini .. ” katanya sambil tersenyum. Lalu dia berbalik dan dengan tergesa-gesa menyesakan semua barang ke dalam tas. “Aku terburu-buru, Belle-a. Kita bicara lagi nanti .. “

“Emangnya kau mau ke mana? Ini kan hari minggu, atau .. jangan-jangan .. ,” Isabelle tersenyum mengoda. “.. kencan ya?” tanyanya sambil menyenggol lengan Daze.

Daze tertawa. “Kencan? Ha .. ha ..”

“Iya, kencan. Dengan pria ganteng yang sering mengantarmu itu?”

“Carls?”

Isabelle mengangguk. “Dia direktur utama Korean Capital kan? Hebat kau, Dazya!”

Daze tertawa semakin keras. “Ha .. ha .. aku tak kencan dengan Carls kok .. “

“Chinja?” Isabelle terbelalak. “Tapi, waeyo?”

“Aku harus pergi sekarang!” Daze tersenyum tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan Isabelle. Dia menepuk lengan wanita yang sedang memandanginya dengan berjuta pertanyaan itu sambil menyampirkan tasnya ke punggung. “See you … “

“Hey—kau belum jawab pertanyaan-pertanyaanku!!”

Daze tak berbalik. Tangannya diangkat tinggi-tinggi dan melambai kearah Isabelle.

“Bye—“


***** oOo *****



”Ada apa?” tanya Daze begitu mendapati beberapa security sedang berbisik-bisik ramai di meja jaga gedung di mana ‘Thinker Belle’ terletak.

“Oh—agashi .. “ Para security itu segera membungkuk dengan hormat.

“Ada apa?” tanya Daze lagi sambil melirik keluar gedung.

“Ada seseorang yang mencurigakan, agashi .. ,” sahut salah satu security tersebut.

“Mencurigakan?”

“Iya,--“ sambung security lain sambil menunjuk keluar gedung. “Pria itu sudah berdiri lama sekali. Sekitar satu jam. Dia tak bergerak, menyandar terus di motorossnya.”

“O—“ Daze ikut memandang keluar, setelah itu dia tersenyum, mengangguk kecil dan melambaikan tangan kepada para security tersebut. “Sampai ketemu ajussi .. “

“Hati-hati, agashi!!”

Daze mengangguk. “Ne. Ghamsamida .. “ Lalu Daze melangkah keluar, lewat pintu yang sudah dibukakan oleh security termuda. “Ghamsamida .. “


***** oOo *****



Langkah Daze agak tersendat di depan pintu. Perkataan para security tadi menganggu pikirannya juga. Dia menengok kesana kemari dan akhirnya didapatinya orang yang dimaksud. Tubuh jangkung itu menyandar di sebuah motocross besar. Dia tak bergerak, hanya kaki kirinya yang memakai boots kulit mengais-ngais lantai dari semen. Rambutnya panjang dan awut-awutan, menutupi hampir seluruh wajahnya. Sedangkan jaket kulit dan celana jeans hitam membungkus ketat tubuhnya.

Wajah Daze berkerut. Dia sedang berpikir keras. Kenapa sosok itu terlihat tak asing baginya? Setiap gerak-gerik itu, terutama kakinya yang mengais-ngais lantai, kelihatan sangat familiar. Di mana dia pernah melihatnya?

Merasa diamati, sosok itu bergerak. Kepalanya berputar perlahan, kearah Daze. Mata Daze langsung terbelalak lebar.

“Rath??!!” serunya, hampir berteriak.

Rathyan menegakan badannya dan menghadap kearah Daze. Dia tak bersuara. Ekspresinya terlihat hampa, menatap Daze dalam kebisuan.

“Untuk apa kau kemari?” hardik Daze. Dia masih kesal pada pemuda ini. Kesal karna dia meninggalkannya begitu saja kemarin. Kesal karna dia selalu bersikap begitu. Kesal karna dia mendatangkan terlalu banyak pertanyaan dan kebimbangan dalam hatinya. Kesal karna … ya, karna segala-galanya. Kekesalan yang membuatnya ingin berteriak, memarahinya habis-habisan saat ini. “Bukankah kau paling pintar melarikan diri? Buat apa mencariku lagi?! Pergi! Aku tak ingin melihatmu!!! Kau, pemuda berengsek!!”

Rathyan tak bereaksi. Dia tetap berdiri kaku dengan pandangan tak berkedip tertuju pada Daze.

“Kenapa?” seru Daze ragu-ragu. “Kenapa tak menjawabku?”

Rathyan tetap berdiri di tempatnya.

“Ada apa?” Daze dibuatnya semakin kebingungan. Apalagi melihat raut pemuda itu semakin hampa, seakan menanggung beban yang sangat berat.

“Rath?”

Rathyan bergerak sedikit, kemudian dia mengambil salah satu helm yang terletak di motornya dan menyodorkannya kepada Daze. “Naiklah .. “

“Mwo?”

“Temani aku ke suatu tempat .. ,” kata Rathyan pelan.

“ke .. ke mana?” tanya Daze gugup. Kekesalannya tadi sirna begitu saja tanpa disadarinya sama sekali.

“Ikut saja .. “ Rathyan meletakan helm di tangannya di badan motor kemudian memakai helmnya sendiri, lalu dia naik ke motocrossnya. Selanjutnya dia menyodorkan helm satunya kearah Daze dan mengerak-gerakannya. “Ayolah … “

Daze mendekati pemuda itu seperti terhipnotis. Dia tak bisa menolak, tak juga mampu membantah. Entah mengapa, raut sendu dari Rathyan membuatnya ingin mengikuti segala keinginannya. Ingin membantunya menyelesaikan semua masalah yang sedang berkecamuk dalam pikirannya. Dia tahu ini bodoh. Apalah arti seorang Rathyan baginya? Hanya orang asing tanpa status yang jelas. Dia ragu, mungkin seorang sahabat saja bukan. Dia hanya majikannya. Ya, majikan yang diikutinya sejak seminggu yang lalu. Tak lebih dari itu.

Daze menerima helm dari tangan Rathyan dan memakainya kemudian naik dan duduk di belakang motor.

“Rangkul yang erat .. “

Daze mengangguk dan melingkarkan tangannya di pinggang Rathyan. Badannya terasa hangat. Dia memejamkan mata perlahan. Hatinya berdebar keras. Perasaan ini selalu dirasakannya begitu berada begitu dekat dengan Rathyan. Daze mengutuk dirinya. Mengapa hatinya begitu lemah?


***** oOo *****



Musik dentam-dentum, langsung menyambut kehadiran Rathyan dan Daze di bar ‘Leo’. Mata Daze melebar. Seumur-umur baru pertama kali ini dia menginjakan kakinya di sebuah bar.

“Ke .. kenapa ke sini?” tanyanya gugup.

Rathyan tak menjawab. Dia menyibak kerumunan muda-mudi yang sedang menari di depan dan masuk makin ke dalam. Bar ini termasuk kecil dan agak sesak sehingga mereka terpaksa berdesak-desakan dengan yang lain. Daze mengedarkan pandangannya. Beberapa pelangan pria di situ meliriknya dengan pandangan-pandangan nakal. Mata mereka menyusuri tubuhnya dengan liar, seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat.

Tanpa sadar Daze menyusut dan berusaha menyembunyikan diri di belakang Rathyan. Tangannya yang sedari tadi saling meremas, menyambar tangan pemuda itu dan mengenggamnya erat-erat. Matanya terpejam. Rathyan meliriknya sekilas, lalu membiarkannya. Dia mengiring Daze menuju meja bar, tapi terhenti di tengah orang-orang yang sedang berdansa gila-gilaan begitu beberapa pemuda menghalangi langkah mereka. Alis Rathyan berkerut. Dari tampang dan sikap berdiri yang sempoyongan, dapat dipastikan kalau pemuda-pemuda ini sudah mabuk berat.

“Hey—cantik!!” Tiba-tiba salah seorang dari mereka menyambar lengan Daze.

“Akh—“ Daze tersentak kaget. Matanya yang terpejam, terbuka lebar. Membelalak ketakutan.

“Bagaimana kalau menemamiku malam ini?” Pemuda itu menyeringai. Wajahnya mendekat kearah Daze dengan sepasang mata redup. Terlihat jelas dia benar-benar mabuk. Langkahnya sudah tak terkontrol dan hampir menubruk Daze.

“AKH—“

Daze memejamkan matanya. Dia heran, teriakan tadi bukan saja berasal darinya. Dan tubuh yang tadi hampir menubruknya, juga tak terasa di badannya. Daze membuka mata perlahan. Betapa terkejutnya dia ketika mendapatkan lengan pemuda itu sudah dipelintir Rathyan ke belakang.

“Jika kau berani menyentuhnya lagi—sehelai rambut-pun, akau kupatahkan tulang rusukmu!!! Araso?!!”

“Ne! Ne!! Akh—“ teriak pemuda itu kesakitan.

Rathyan kemudian mendorongnya keras-keras sehingga tersungkur ke lantai. Telunjuknya lalu menunjuk ke pemuda-pemuda lain yang bersama pemuda tadi dengan pandangan mengancam.

“KALIAN JUGA!! BERANI MENYENTUH SEDIKIT SAJA, AKAN KUBUNUH!!!”

“Ayo pergi … “ Sempoyongan, pemuda-pemuda tersebut membantu pemuda yang tersungkur itu bangun dan keluar dari bar dengan terbiri-birit.

“Ayo!” Rathyan meraih tangan Daze yang sedang bengong di tempat dan menariknya ke tujuan semula, meja bar di sudut sebelah kanan bar tersebut.


***** oOo *****
« Last Edit: January 22, 2011, 01:46:00 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
note : sambungan dari yang di atas [goodgrief] [hmpfh]


”Segelas whisky .. “ Rathyan mengangkat tangannya begitu menjatuhkan diri di kursi.

Seorang bartender pria mendekati mereka. “Ne .. ,” jawab si bartender sambil menoleh pada Daze. “Bagaimana dengan agashi? Whisky juga?”

“Ti .. tidak .. ,” ujar Daze gugup.

“Dia tidak minum alkohol!” sela Rathyan. Membuat Daze langsung menundukan kepalanya. “Ada juice?”

“Yup—“ sahut si bartender keheranan. Sangat jarang—atau hampir tak ada pelangan yang memesan juice di barnya. “Kami memiliki fruit punch. Yang beralkohol dan tak beralkohol. Apakah agashi minum itu?”

“Ya. Yang tak beralkohol saja .. ,” sahut Rathyan.

“Ok .. “ si bartender meninggalkan mereka. Lima menit kemudian dia kembali lagi dengan pesanan mereka. “Whisky and fruit punch .. “

Rathyan mengangguk kaku sedangkan Daze menerima sambil terseyum kecil. “Ghamsamida .. “

Rathyan langsung menyambar whiskynya dan menghabiskannya dalam satu tegukan. Gelas di tangannya dijatuhkan dengan keras.

“One more!!”

Bartender tadi mendekat dan menuang gelas Rathyan dengan whisky kemudian menyorongkannya pada pemuda itu. “Silahkan tuan .. “

Rathyan meneguknya kembali. Kali ini juga habis dalam satu tegukan. Daze memperhatikan semua itu dari tempatnya. Perlahan dihirupnya fruit punch di tangannya dengan pandangan bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak ini?

Rathyan kembali meluncurkan gelasnya kepada si bartender.

“Hey—“ Dia mengangkat tangan. Si bartender yang sudah sigap dengan sikap-sikap dari para pelangannya segera berlari kearah Rathyan.

“Ne, sir .. “ Dia kembali menuang gelas Rathyan dengan whisky.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Daze memberanikan dirinya bertanya.

Rathyan menoleh padanya. Tanpa beralih, dia meraih gelas dan kembali meneguk whiskynya. Ketika tangannya terangkat kembali, Daze segera menekannya ke atas meja.

“Cukup, Rath!! Sudah cukup!! Terlalu banyak alkohol tak baik buat kesehatan!!”

Rathyan mendengus. Tubuhnya dihempaskan ke belakang.

“Ada apa?”

Rathyan tak menjawab. Kepalanya menunduk dan menatap semu ke kuku-kuku tangannya yang terpotong pendek.

“Ada masalah?” Daze menyentuh lengan Rathyan. “Kau bisa menceritakannya padaku .. “

Pemuda itu tetap membisu.

“Tak mempercayaiku?” desah Daze. “Kau tak pernah mau menceritakan apapun padaku … ,” lanjutnya pelan. “Tak pernah … “ Daze menunduk, merasa menyesal.

Rathyan bergerak. Mengangkat wajahnya dan perlahan menoleh kearah Daze. “Kau percaya padaku?” tanyanya dengan nada pelan. “Apa kau mempercayaiku?”

“Aku .. ,” Daze mengangkat wajah, tapi perkataannya tak berlanjut. Apa yang harus dijawabnya sementara dia masih meragukan perasaan pemuda ini terhadapnya? Dia tak tahu.

“Tak bisa?!” Rathyan tersenyum kecut. “Karna aku memang sulit dipahami, I ya kan?”

Daze tak menjawab.

“Tapi kau mau mencoba memahamiku kan?” lanjut Rathyan dengan nada berharap. “Aku sangat menderita .. “ Dia mendesah halus. “Sakit, itu yang kurasakan selama ini .. “ Pandangan Rathyan meredup.

Daze membalas tatapannya. Dia tak mampu berpaling. Sinar mata yang mengambarkan sejuta derita itu mengoyak kalbunya. Dia juga tak mampu menepis ketika tangan itu mulai menyentuh wajahnya, mengelus pipinya dengan lembut.

“Kau tahu perasaanku?” tanya Rathyan serak. Kemudian kebisuan menyelimuti mereka. Musik yang masih bermain-main dengan keras sama sekali tak berpengaruh pada diri mereka. Saling menatap dan menuangkan perasaan membuat pendengaran mereka seakan sudah tak berfungsi dengan baik. Hanya ada Rathyan dan Daze di bar ini, bahkan di dunia ini.

Rathyan mendekati Daze secara perlahan-lahan. Sinar matanya sayu, hanya tertuju pada gadis di depannya. Sementara tangannya yang mengelus pipi turun ke leher dan menyusup ke belakang. Pelan-pelan ditariknya Daze kearahnya. Semakin mendekat dan mendekat, sampai hidunya menyentuh pipi Daze.

Daze memejamkan matanya. Hembusan halus terasa di wajahnya. Aroma whisky yang sangat kental. Dia menghirup perlahan. Samar-samar, aroma lain juga memasuki hidungnya. Aroma khas yang sangat dirindukannya. Wangi cemara yang senantiasa melekat di tubuh Rathyan. Daze menarik nafas dalam-dalam.

Lalu bibir lembab dan kenyal itu terasa menyapu bibirnya. Tubuh Daze menegang. Tekanan di tenguknya semakin keras sehingga wajahnya semakin dekat, menempel ketat di wajah Rathyan. Dia membuka mulut dan sesuatu mulai melumat bibirnya. Lidah yang kasar menjulur masuk ke dalam mulutnya.

Daze mendesah. Sesaat kemudian dia mulai membalas lumatan-lumatan Rathyan. Dia berdiri dan berjalan kearah pemuda itu, kemudian merangkulkan tangan ke pinggangnya. Erangan-erangan kecil mulai terdengar, walaupun tenggelam dalam musik keras yang terus diputar dalam bar itu.

“Rath .. ,” panggil Daze dengan suara kering.

“Hmm—“ Rathyan memperdalam ciuman, sampai Daze gelagapan karna kehilangan nafas. Mereka menarik nafas secara bersamaan, setelah itu ciuman panas tadi berlanjut lagi.

Daze tiba-tiba merasakan sesuatu menyusup ke dalam kaosnya dan meremas dadanya. Dia tahu itu tangan Rathyan. Dan dia juga sadar di mana dia berada. Tapi dia sudah tak perduli lagi. Permainan-permainan Rathyan begitu dasyat untuk ditolak. Daze ikut menyusupkan tangannya ke balik pakaian pemuda yang sedang dipeluknya. Tapi bukan di bagian dada, melainkan di bagian belakang celana. Bottom Rathyan yang padat dan menjulang terasa enak dan kenyal buat disentuh. Daze mengerakan tangannya naik turun, menyapu bagian itu. Terdengar Rathyan mendesah kemudian mengigit bibirnya.

“Hey—“

Keasyikan itu tiba-tiba dibuyarkan oleh kepala si bartender yang condong ke depan.

“Kenapa kalian tak melanjutkannya di kamar hotel aja?” lanjut si bartender dengan tampang polos.

Rathyan dan Daze tersentak. Ciuman mereka terlepas. Dengan cepat mereka berpaling kearah si penganggu.

“Apa urusannya denganmu?!!” ujar Rathyan dongkol. Dia merogoh saku celana, mengeluarkan dompet dan melempar beberapa lembar won kepada bartender itu. “Tak usah kembali!!” dengusnya. Kemudian dia menyambar tangan Daze dan menariknya keluar dari situ. “Kita ke tempat lain!!”

“Ke .. kemana?” tanya Daze ngeri.

Bukan ke kamar hotel seperti saran bartender tadi kan?


***** oOo *****



Angin malam bertiup membawa hawa dingin yang cukup mengigit tulang. Air laut yang kelam terlihat tenang, menjanjikan sejuta misteri, namun sesekali ombak tipis menampar tiang-tiang penyangga dermaga menimbulkan suara keras yang sedikit berisik.

Rathyan diam seribu bahasa. Sementara Daze meliriknya lewat ekor mata. Pemuda ini tak mengeluarkan suara sejak keluar dari bar’Leo’. Dua gelas kopi berlabel starbucks tergenggam di tangan mereka. Daze mengerak-gerakan tangan di gelas tersebut guna menghangatkan tangannya. Kemudian dia mengigit bibir menahan rasa dingin yang semakin mengigit. Kenapa anak ini ke dermaga malam-malam begini? Daze menghembuskan nafas keras-keras.

Rathyan tiba-tiba bergerak dari posisinya. Dia membuka jaket kemudian menyampirkannya ke pundak Daze. Mata gadis itu terbelalak lebar. Apa dia bisa membaca pikiranku?

“Dingin .. “ Rathyan mengosok-gosok tangannya.

“Kau … kau tak ingin pulang .. “

Rathyan menoleh padanya. “Aku masih ingin berada di sini. Apa kau ingin pulang?”

“Hmm—“ Daze menghirup kopinya.

“Kalau begitu kau pulanglah. Omma-mu pasti sudah menunggumu .. “

Daze tak menyahut.

“Dan persiapkan dirimu. Dua hari lagi kita berangkat ke Perth .. Ada meeting dan seminar yang harus kuhadiri di sana .. ”

“Mwo?!!!” Daze terperanjat. “Ke Perth? Aku dan kau?”

“Ne .. ,” jawab Rathyan. “Kau sekretaris pribadiku, tentu saja harus ikut. Ada masalah?”

Daze mengeleng keras. “Kenapa semendadak ini?” serunya, “Aku sama sekali belum mempersiapkan tiket pesawat dan hotel tempatmu menginap .. “

“Tak perlu. Nona Kim sudah kuperintahkan mempersiapkan segala sesuatu buat keberangkatan kita. Jadi, kau tinggal mempersiapkan dirimu kemudian berangkat bersamaku. Beres!”

“Tapi .. “

“Sudah! Jangan membantah lagi!!”

Daze mendesah. Padahal yang ingin dibicarakannya adalah penolakannya terhadap keputusan tadi. Dia tak bisa menemani Rathyan menghadiri meeting dan seminarnya di sana. Beberapa hari lagi pernikahan Dave, dan dia harus menghadiri acara itu. Lagipula dia sudah rindu sama keponakan kecilnya. Bukankah dia sudah mengajukan cuti untuk itu? Apa anak ini sudah lupa?

Daze menoleh pada Rathyan, kemudian menekuk bibirnya kesal.  


***** oOo *****
« Last Edit: January 10, 2011, 07:28:34 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
 [AddEmoticons04225] love rath ma daze mam........!!!!!!!!


tapi bacanya baru ampe chap 5,,, [hmpfh] [hmpfh]


besok ngebut deh bacanya,,,biar bisa ikutan comen...mianata mam  [heh]

Love you more than I can say

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
gw udah menemukan karakter yg cocok buat memeranin oliver jang, yaitu .............. MR. CHOW YUT FAT [hmpfh] [laughing] [laughing]

Ayah si rathyan jang [hmff] [hmff]


EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline mumu

  • Junior
  • **
  • Posts: 200
  • Tatapanmu mengalihkan duniaku....
  • Location: indonesia
    • View Profile
UDAH BACA MI....
RATH SEKARANG BRANI YA....HEHEHE LIKE IT [on] [lovestruck] [bav] [hmpfh]
DALIMUNTE, PROFESOR MUDA DENGAN ROMANTISME KELUARGA KECILNYA...mau...mau...

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
ada part yang gak bisa gua baca lagi  [heh] [heh] [heh] [heh]

Mam. kepanjangan banget nih kayaknya sampe-sampe ada yang gak bisa gua baca  [what] [what] [what]
tapi good mom. aku tunggu pas mereka ke perth dan ada yang  [bav] [bav] [bav] [bav] [bav] [bav] [bav]  itu

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
aduh mulai dari yang segelas whisky ke bawah gua udah gak bisa baca... mamiii... bisa tolong pm gua gak part yang itu ?  [what] [what] [what] [what] atau gak post di sini aja bisa :/

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
mom gumawo long chp...
oh..oh..bartender kurang ajar gak liat apa lg pw hammer 100x mengganggu saja.
rath & daze ke perth omo bakal teringat saat2 indah dan sedih di perth lebay mood on
mom si jenni kebelet pengen dpt si rath ya...cewek licik, gw suka wkt rath debat ama oliver ckck...sama2 keras kepala
thanks ya mom...puas banget bacanya
oh...rath your my hero...


[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
karin, udah gw kirim ke pm kamu [biggrin] nah loh kan udah gw blg bakal panjang ni chp [hmpfh] [hmpfh]

itaraya, klu si bartender ga ganggu, parah tuh,, mereka kan udah lupa segala2nya. ampe musik sekeras itu aja ga kedengaran [hmpfh] bisa2 berlanjut ampe [on] [on] nah gimana klu ampe masuk koran 'AHLI WARIS DARI MAX-GLOBAL ML SEMBARANGAN' [laughing] [laughing]

mumu, sejak dl raht udah berani kok [laughing] [laughing]

moow, gw tunggu komennya [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun