Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 98544 times)

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
opo iku mam?? [what] [what]
 [nono] [nono] [nono] stuju sama ita sista......we want daziii rathiiii....bukan black or white!!! [hmpfh] [hmpfh]

Love you more than I can say

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
mami....bener2 kngen ama ff lu mam exspecialy this ff krn lewat ff2 itulah gw ngerasa bahagia krn gw ngeliat minsun bersama sesuatu yg mungkin susah diliat di kehidupan nyata tpi ketika gw baca ff2 inilah gw ngerasa itu kehidupan nyata dri seorang lee min ho dan goo hye sun dan ketika mendapat brta yg menyebalkan akan minsun gw mala merasa itu hanya fiktif jadi terbalik dan bener kt lu mam bgi gw ff itu hidup dan bener2 nyata...sooo...cepatlah kembali mam bawa kebahagian minsun kembali....

Offline Surie_Riri

  • Full
  • ***
  • Posts: 297
  • i'm silent reader, mian...
    • View Profile
Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429

Mom jgn lama-lama hiatusnya, cepet diupdate dong!!!

Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429 Emoticons0429

dan seluruh member CM pun ikut menangis...
[lovestruck]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
mr.lee rath kpan di updat neh...?javascript:void(0);mesti nunggu berpa lma lgi  q ksih semngat ya...javascript:void(0);javascript:void(0);javascript:void(0);kan ksia darz klo trus"san di gantungjavascript:void(0);javascript:void(0);

minsunlover

  • Guest
Kangen RathZya....

Mami, update dong....pleaseeeeee

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
rath & daze...  [lovestruck]

miss this couple sooooo muuuuuccchhhhh...

my second fav.couple after hye sun-min ho songsaengnim...(tetep bw2 little coward kmanapn jg... [hmff])

semangat ya,mam...dtunggu lho update-annya... [biggrin]

 [smiley-gen013]  [smiley-gen013]  [smiley-gen013]

       




And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
MOMMYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY...........I MISS RATHDAZE WE MISS RATHDAZE

RATHDAZE BOGOSHIPO RATHDAZE BOGOSHIPO RATHDAZE BOGOSHIPO RATHDAZE BOGOSHIPO RATHDAZE BOGOSHIPO




 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
gw lagi usahain the next chp,, kapan selesainya? gw jg ga tahu [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Surie_Riri

  • Full
  • ***
  • Posts: 297
  • i'm silent reader, mian...
    • View Profile
[lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Author’s note : Untuk lebih menghayati pengambaran perasaan Daze di chapter berikut, saya sarankan untuk memutar lagu dari video Youtube di bawah ini. Saya sudah berusaha menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, jika terdapat kejanggalan, harap di maafkan hehehe .. ok, silahkan dinikmati chapter yang sangat terlambat berikut ini. Buat segala kekurangannya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya ..

 



Song of the day :


Lirik dalam bahasa Indonesia (translation, by me ^^)

Beberapa hari ini, aku menjadi gugup
Begitu berharap melihat mu, tetapi tidak berani mendekat
Setiap beberapa menit memeriksa telepon ini
Aku melupakan bagaimana dalam hati mu begitu hampa/menderita

Kerinduan ini, bagaimana menanggungnya
Kamu mungkin melebihi seorang sahabat
Saya berjalan, memutar kearah lain .. berharap dapat menahan mu di sini
Mana mungkin kamu hanya menganggap ku sebagai seorang sahabat

* Yes I belong to you u u
It must be love my dear
Setiap hari dan malam tidak bisa tidur/insomnia demi kamu
Yes, I belong to you
Begitu berharap kamu mengetahuinya, perasaan hati ku *

Pesawat ini lepas landas menuju cakrawala
Menampung buat menapaki setiap mimpi dari para penumpangnya yang terasa sangat berat
Waktu itu di Atap gedung, lagu yang kita dengarkan bersama
Hari itu pertemuan dengan mu, aku tidak akan melupakannya

Kerinduan ini, bagaimana menanggungnya
Kamu mungkin melebihi seorang sahabat
Saya berjalan, memutar kearah lain .. berharap dapat menahan mu di sini
Perpisahan seperti ini, sudah lebih dari cukup

* Yes I belong to you u u
It must be love my dear
Setiap hari dan malam tidak bisa tidur/insomnia demi kamu
Yes, I belong to you
Begitu berharap kamu mengetahuinya, perasaan hati ku *

I treat you more than just a friend
I guess this feeling never end

Yes I belong to you
It must be love my dear
Setiap hari dan malam tidak bisa tidur/insomnia demi kamu
Yes I belong to youuuuuuuuuu
Begitu herharap kamu dapat menerkanya ... perasaan hatiku ..



Daze menghentikan langkahnya beberapa lama di depan pintu utama. Dia sedang mempertimbangkan sesuatu. Agak lama juga dia berdiri di situ dengan tangan memegang anak kunci yang siap diputar pada lubang pintu. Dia terlihat bimbang dan ragu-ragu .... sebelum akhirnya, dia memutuskan memutar kunci itu.


***** oOo *****


"Dazya--kenapa malam banget?!! Kemana aja kau?"

Langkah Daze terhenti oleh seruan yang menyapanya. Dia mengangkat wajah dengan cepat. Omma tampak berdiri di anak tangga teratas sambil menatapnya lekat-lekat.

"Tahu tidak nak Carls sudah menunggumu sejak beberapa jam yang lalu?"

Daze terperanjat. "Carls?"

"Ne. Katanya ada sesuatu yang ... kau bilang akan menjelaskan padanya tapi belum kau lakukan?"

"Oh--" Daze menepuk jidatnya. "Itu ... aku lupa ... " dia mendesah. Setelah menghela nafas, dia kembali menghadapi omma. "Di mana dia sekarang, omma?"

"Ada di ruang keluarga. Memangnya ada masalah apa?"

Daze tersenyum. "Aku harus segera menyelesaikannya setelah itu istirahat, .... Selamat malam, dan omma juga .. jangan tidur terlalu malam .. "

Daze berbalik dan bermaksud berlalu dari situ. Tapi baru dua langkah, dia berhenti dan menoleh kembali pada omma. "O ya, omma ... Emm--saya tidak bisa berangkat bersama kalian ke Perth. Saya ... akan berangkat duluan, dua hari lagi ... namun dalam rangka pekerjaan, bukan ... bukan menghadiri pernikahannya Dave ... "

"Mwo?" Omma membelalakan matanya sambil berlari kecil menuruni tangga. "Kenapa bisa begitu? Apa kau tak mendapat ijin dari majikanmu?"

"Mianeyo .. ," ujar Daze.

"Tapi kenapa? Bukankah kau sudah mengajukannya sejak sebulan yang lalu?"

"Ne, memang .. namun, .. omma juga tahu kan kalau saya sudah pindah departemen? .. Majikanku yang sekarang berbeda dengan majikanku yang dulu. Tuan Yoon memang sudah meluluskan permintaan cutiku tapi majikan baruku ... hmm--saya belum mengatakan apa-apa padanya ... "

Omma sekarang sudah berada di depan Daze. Alisnya berkenyit ketika mengamati anak gadisnya ini. "Weeyo? .. Apa orangnya terlalu sulit untuk diajak kompromi?"

"Aniyo!!" sela Daze cepat. "Dia .. dia ... " Kemudian dia berubah gagap. Namun hanya sebentar .. sesaat kemudian dia langsung mengibaskan tangannya risih, "Ah--sudahlah omma!! Saya akan berusaha menyisihkan waktu buat Dave di Perth nanti ... jadi .. jangan menanyakan ini lagi ... "

Tanpa mengindahkan seruan-seruan omma selanjutnya, Daze berlari cepat menuju ruang keluarga yang berada di sudut lain ruangan itu.


***** oOo *****


"Carls?" sapa Daze begitu pintu dibuka.

Seseorang yang berada di dalam, bergerak dari posisinya yang menghadap jendela.

"Dazya ... "

"Miane, ... sudah lama menunggu?" tanya Daze sambil menutup pintu.

"Beberapa jam .. ," sahut Carlson enteng. "Kelihatannya kau sangat sibuk akhir-akhir ini … ,” kata pemuda itu sambil beranjak dari jendela.

“Iya, memang .. ,” jawab Daze sambil menjatuhkan dirinya di sofa. “Kau duduklah … ," ajaknya pada Carlson, sambil menunjuk tempat di sebelahnya.

Carlson sampai di dekat Daze dan ikut menjatuhkan dirinya di sofa, di sebelah gadis itu kemudian menatapnya. "Saya akan ikut ke Perth minggu depan .. " ujarnya tiba-tiba.

"Mwo?!!!" Daze terlonjak dari duduknya. Segera saja ditatapnya pemuda itu terkaget-kaget. "Kau .. ikut ke Perth? Per .. pernikahan Dave?"

"Ne .. ," Carlson mengangguk. "Tante yang mengundangku ke sana. Katanya,keluarga kalian dan calon istri Dave tidak banyak, makanya saya diminta ikut meramaikan pesta itu .. " Kemudian dia tertawa pelan. "Weeyo? Kau kelihatannya terkejut sekali ... "

"Mwo?!" Sekarang gantian Daze yang tertegun. "Aniyo!!" Sekuat tenaga dia berusaha menghilangkan kekagetan tersebut. "Hanya saja .... kau ... Maksudku--apa kau tinggal di Han's mansion juga?"

"Ne. Kata tante masih ada kamar untuk ku jadi tidak perlu susah payah menyewa kamar hotel ... Kamar yang dulu ditempati pelayanmu, kosong kan?"

"O--kamar Ye Jin .. " Daze mengangguk. "Memang. Tapi ... kamar itu teramat kecil ... "

"Tidak apa .." Carlson tersenyum. "Kita kan tidak lama di situ .. "

"Kita?"

"Iya ... ," ujar Carlson. "Weeyo? Kau terlihat heran.” Lanjut pemuda itu sambil tersenyum simpul. “Bukankah kau hadir juga di pernikahan itu?"

Daze menghela nafasnya. "Entahlah ..."

"Mwo?"

"Maksudku, .. aku harus berangkat ke Perth dua hari lagi--acara dinas ... Majikanku mempunyai jadwal meeting yang cukup padat di sana ... Mungkin .. aku bisa meluangkan sedikit waktu, tapi ya .. entahlah ... "

"O--" Carlson mengangguk. "Majikan barumu itu?"

"Ne ... ," jawab Daze.

Sesaat keadaan menjadi sunyi ... sampai Carlson memberanikan diri mengeluarkan pertanyaan yang sejak kemarin menghantui pikirannya. "Bisa .. menceritakannya padaku sekarang?"

“Ehmm—“ Daze mengigit bibir perlahan--tahu kearah mana pertanyaan Carlson.

“Saya tahu orang itu .. ,” ujar Carlson tiba-tiba.

“Mwo?” Daze membulatkan matanya. “Maksudmu?”

“Pria itu .. ,” jawab Carlson sambil menatap Daze lekat-lekat.

“O—“ Daze menghela nafas untuk kesekian kalinya. Sepertinya .. semua ini tak bisa dihindari lagi. Dia mesti menceritakan semuanya pada Carlson. Karena semua ini sudah menyangkut kelangsungan hidup perusahaan. Jika masalah ini biarkan berlarut-larut … entah apa yang akan terjadi pada Korean Capital dan Carlson … Entah apa yang bakal dilakukan Rath padanya … Daze mengeleng perlahan. Apakah dia masih tak mampu mempercayai Rath? … Ya, perasaannya masih bimbang … Tak menentu …

“Dia Rathyan Jang—direktur utama Max-Global Korea!”

Perkataan Carlson menyadarkan Daze.

“Dhe?” Gadis itu tersentak dengan mata terbelalak menghadapi Carlson.

“Pria yang bersamamu kemarin … ,” sahut Carlson. “ … dalam acara perayaan satu tahun anniversary-nya Max-Global Korea .. Dia adalah direktur utama perusahaan tersebut … Saya mengenalinya walaupun belum pernah bertemu .. Jadi, jelaskan padaku kenapa kau sampai bersamanya? Apa sebenarnya kerjamu di perusahaan itu?“

“Ehmm—itu … “

“Kenapa?” Carlson tiba-tiba mendaratkan tangannya di pundak Daze. “Ada yang kau sembunyikan?”

“Well—“ Daze masih terlihat ragu-ragu. Sejenak kepalanya ditundukan. Beberapa saat kemudian, ruangan itu menjadi sunyi dan sepi.

“Daze … “

“Dia .. dia majikanku … ,” akhirnya Daze berujar pelan.

“Majikanmu?” Carlson mengulangi kata itu. “ .. Ya, tentu saja dia majikanmu … Kau kan bekerja di Max-Global .. Maksudku, kenapa kau sampai terlihat dekat dengannya?”

“Karna saya bekerja sebagai sekretaris pribadinya!!” sahut Daze keras. Setelah berkata begitu, dia memejamkan matanya. Apakah terbersit penyesalan setelah keterus-terangan ini? Ya, memang ada sedikit ..

“Mwo? Sekretaris pribadinya?” Carlson terperanjat kaget. “Maksudmu … kau, .. Dazya?”

“Ne .. ,” Daze mengangguk pelan sambil menghela nafas.

“Tapi .. ke .. kenapa bisa … ?” tanya Carlson gagap. “Kenapa?”

“Aku juga tak tahu .. “ Daze membuka mata, dan membalas tatapan Carlson. “Sejujurnya, aku juga tidak tahu apa yang dipikirkannya … “ Sekali lagi, Daze menghela nafasnya. Terdengar sangat berat. “Dari dulu aku tak pernah bisa menerka apa yang ada dalam pikirannya .. “

“Dari dulu .. “ Carlson menegakan badannya. “Kau mengenalnya dari dulu?”

“Ne … “ Daze mendesah. “Miane karna selama ini tak menceritakannya padamu .. “

“Sejak kapan?” tuntut Carlson.

Sesaat, Daze tak bersuara. Sedangkan Carlson--tak memaksanya. Dengan sabar, pemuda itu menunggu sampai Daze membuka mulutnya.

“Setahun yang lalu di Perth .. “

“Perth?”

Jawaban Daze ternyata menimbulkan dampak lebih besar dari yang diperkirakannya terhadap Carlson. Pemuda itu terperanjat sampai berdiri dari duduknya.

“Kau mengenalnya sejak setahun yang lalu?!!! .. Jadi .. “

“Tunggu sebentar!!” Daze tiba-tiba mengangkat tangannya. Kepalanya agak dimiringkan. Sebuah kemungkinan .. ya, sebuah kemungkinan—mendadak melintas dalam pikirannya .. Mungkinkah ….

“Weeyo?” tanya Carlson sambil mengerutkan alisnya—memandangi Daze dengan penuh tanda tanya.

“Mianeyo .. “ Daze tiba-tiba saja bangkit dari sofa. “Ada yang mesti saya selesaikan .. ,” katanya sambil mengerakan tangan ke depan. “Kalau kau tak keberatan, Carls .. lagipula sekarang sudah malam … saya harap kamu .. “

“Kau mengusirku?” sela Carlson.

Daze menghembuskan nafas dengan raut menyesal. “Sekali lagi, mianeyo .. Saya sangat capek … “

Carlson menatapnya sesaat, kemudian .. menganggukan kepalanya perlahan.“Baiklah .. “ Pemuda itu mengangkat kedua tangannya. “Saya tidak akan memaksamu jika memang kamu tak berniat menjelaskannya .. “

“Mian, Carls .. “

“O—gwencanayo .. “ Pria itu berusaha tersenyum walaupun kelihatan sekali sangat terpaksa. “Yang penting kau tahu apa yang kau perbuat, Dazya .. “

“Ne … “ Daze mengangguk. “Aku akan berusaha memahami posisiku .. “

Carlson menatap Daze sejenak, lalu menepuk pelan pundaknya. Setelah itu ,dia berbalik kearah pintu. Tapi sampai di tengah ruangan, langkahnya terhenti. Dia menoleh dengan posisi—masih membelakangi Daze.

“Boleh aku menanyakan sesuatu?”

“Dhe?” Daze yang sudah menundukan kepalanya dan berpikir, langsung mendongak.

“Apa kau .. mempunyai .. hubungan khusus dengannya?” tanya Carlson perlahan-lahan.

Daze tertegun. Dia tidak menyangka Carlson akan menanyakan pertanyaan ini. Selama beberapa saat mereka saling berpandangan. Sedangkan Daze tetap membisu.

“Daze .. “

“Entahlah .. “ Daze mendesah. Dia tidak berbohong. Memangnya seperti apa hubungannya dengan Rath? TIDAK ADA YANG TAHU ..

“Begitu?” Carlson memutar tubuhnya sampai berhadapan dengan Daze. Walaupun dalam jarak yang cukup jauh. “Jadi … saya masih punya kesempatan itu … ?” lanjutnya sangat pelan sehingga Daze tak mendengarnya.

“Dhe?” tanya gadis itu.

Carlson tersentak kaget. “Hah?” … “Oh—“ Sesaat kemudian dia membuka mulut, namun kemudian dia tertawa risih. Apa yang kau lakukan Carlson Kim? Meminta sesuatu yang telah kau lepas terlebih dahulu?! .. Bukankah kau yang telah memutuskan Daze? .. Ya, walaupun tidak semuanya benar—Dia Cuma minta waktu menenangkan diri sebentar .. Tapi, bukankah itu tidak ada bedanya?.. Lalu bagaimana mungkin sekarang …. Apa haknya meminta kembali ke sisi Daze? APA?!!

“Ya?” Daze mengulangi pertanyaannya.

Carlson kembali tertawa seraya mengibaskan tangannya. “Aniyo!! Saya hanya bicara sendiri .. Jangan dipikirkan!“ Kemudian dia memutar tubuh kearah pintu. “Anyongheseyo, Dazya .. “

“O—“ Daze mengikuti kepergian Carlson dengan alis terangkat. Sikap aneh pria itu menimbulkan seribu tanda tanya dalam hatinya. Tapi itu hanya sebentar. Setelah pintu ditutup, dia segera menyambar sesuatu dari atas meja. Mengeledah dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel mungil. Sesaat kemudian dia sudah sibuk mendengarkan nomor yang tersambung dari seberang.


***** oOo *****


Kring .. kring .. kring …

Rathyan tersentak dari posisinya yang sejak tadi menyandar di badan motor. Perhatiannya agak teralih sekarang. Sedikit malas dia merogoh ke dalam saku celana dan mengeluarkan sebuah ponsel. Sementara angin malam yang bertiup dari ujung dermaga menghembuskan rambutnya ke belakang—menjadikannya lebih acak-acakan.

“Ya?” sapanya tanpa melihat terlebih dahulu siapa si penelepon.

“Rath … ,” balas Daze dari seberang. Sangat pelan dan terdengar ragu-ragu.

“Hmm—“ Rathyan segera menegakan badannya. Dia tak mengira Daze akan meneleponnya, apalagi setelah perpisahan mereka yang tidak begitu lama.

“Kau … masih di dermaga?” tanya Daze.

“Ya .. ,” jawab Rathyan datar. “Ada apa?”

“ … “ Hening di seberang.

“Daze Han?!” tegur Rathyan.

“Ne … Saya di sini .. .,” sahut Daze gugup.

“Jadi?” Rathyan mengenyitkan alis perlahan.

“Ada yang ingin kutanyakan?” seru Daze setelah mengambil keputusan bulat.

“Apa itu?” tanya Rathyan—masih dengan raut ketidak-tertarikannya.

“Setahun yang lalu .. .,” mulai Daze beberapa saat kemudian. “Max-Global Korea didirikan setahun yang lalu .. “ Setelah itu Daze tak mampu melanjutkan perkataan-perkataannya lagi.

“Ya. Lalu .. ?” tanya Rathyan—mulai kehilangan kesabarannya.

“Apakah .. apakah … Maksudku—Korean Capital bermasalah waktu itu dan … membutuhkan uluran tangan dari perusahaan lain .. dan .. dan Max-Global didirikan dalam waktu hampir bersamaan … Apakah .. apakah .. “ Kembali perkataan-perkataan Daze terputus begitu saja.

“Ya?” Lagi-lagi Rathyan bertanya dengan nada datar. Seakan dia sama sekali tak terpengaruh dengan pertanyaan-pertanyaan Daze, … ataupun tidak menganggap penting dan tidak tertarik terhadap masalah yang menghantui Daze.

“Itu … saya rasa kau mengerti .. ,” ucap Daze serba salah. Apa perlu diterangkan lebih jelas lagi? Rasanya tidak perlu kan? .. Bahkan orang tolol sekalipun, pasti mengerti! desis Daze dalam hati. “Apa kau yang .. yang menolong … “ Sumpah!! kenapa pertanyaan ini sulit sekali untuk dikeluarkan?!!

“Ya?”

Bagus. Cuma itu yang bisa kau tanyakan? Bilanglah kalau kau mengerti … dan berikan jawabannya sekarang juga! Daze semakin gelisah di seberang.

“Itu … itu … “ Tanpa dapat meneruskannya, Daze menutup mata rapat-rapat. “Forget it!!!” Akhirnya dia berseru keras.

“Mwo?!!”

“Lupakan saja … Anggap saya .. tak pernah menanyakannya … Anyong!!!”

Daze menutup ponsel dan menghempaskannya ke sofa di sebelahnya. Tak mungkin anak itu yang melakukannya!! TIDAK MUNGKIN!! Dia begitu membenci Carlson, jadi bagaimana mungkin dia bersedia menolong Korean Capital? Hanya kebetulan saja .. Ya—hanya kebetulan saja Max-Global Korea didirikan pada saat itu, pada saat bersamaan hampir kebangkrutan Korean Capital .. PASTI BEGITU KENYATAANNYA!

Sementara itu ... Rathyan menurunkan tangannya yang memegang ponsel secara perlahan-lahan. Pandangannya pekat tertuju ke depan. Mengapai kosong ke kekelaman laut yang dingin dan ganas. Ombak besar dihempaskan berkali-kali ke dermaga--menciptakan suara-suara berisik yang cukup menganggu. Namun, …. semua itu tak berpengaruh terhadap Rathyan. Pandangannya tetap nanar dan datar, membelah keganasan samudera di luar sana.

Kau kira aku tak tahu kearah mana pertanyaanmu? Sesungguhnya, ... Aku tahu--Dazya!! AKU SANGAT MENGERTI!... Namun, ... seandainya kau mampu menerkanya--sekalipun .. apa yang kau harapkan sebagai jawaban dariku? ... Kau tahu--aku paling membenci situasi ini?!!! Menjelaskan sesuatu yang telah kulakukan? .. yang tak ingin dan tak seharusnya kulakukan?AKU PASTI SUDAH GILA WAKTU ITU!!


***** oOo *****


"Agashi ... "

Seorang pria berpenampilan rapi membungkukan badannya di depan Jennifer White.

"Emm--" Gadis yang sedang menekuni majalah fashion di tangannya menengadah. Setelah melihat pria itu, dilemparnya majalah tersebut ke sofa di sebelahnya. "Bagaimana?" tanyanya dengan suara datar yang agak melengking tajam.

"Wanita itu bernama Daze Han .. Putri dari mantan direktur Han Da' ZeVe, perusahaan kecil yang bergerak di bidang fashion, .. yang telah bangkrut setahun yang lalu .. ," lapor si pria.

"Han Da' ZeVe?" Jennifer mengulang nama perusahaan itu. Alisnya berkerut. "Daze Han?" Namun, sebentar kemudian .. dia mengibaskan tangannya dengan raut tak perduli. "Ah--persetan dengan segala perusahaan itu!! TAK ADA HUBUNGANNYA DENGANKU!! Lagipula--aku paling benci berurusan dengan bisnis-bisnis perusahaan! Beruntung dad tidak pernah memaksaku melakukannya ... Aku tak mau dipusingkan dengan masalah-masalah seperti itu!!" Lalu dia kembali menghadapi pria di depannya. "Lalu .. apa yang kau dapat? Apa hubungan oppa dengan wanita itu?"

"Nona Daze Han sekarang bekerja di Max-Global Korea ... sebagai sekretaris pribadi Rathyan doronim .. "

"MWO?!!" Jennifer terperanjat dari duduknya. Sepasang mata indahnya terbelalak lebar. "Karena itu ... karena itu, mereka ... terlihat akrab .. " lanjutnya terbatah-batah. Bibirnya agak bergetar begitu mengucapkan kata-kata ini. Dipahaminya sekarang .... Rathyan Jang dan Daze Han, wanita itu .., pasti mempunyai hubungan special ... Tidak ada penjelasan lain buat keakraban mereka ...

"A .. apa ada perintah lain, agashi ... ?"

Pertanyaan pelan dari pria di depan membuyarkan lamunan Jennifer. Gadis bertampang jutek dan manja itu mendongak dengan bibir mengeras. "Ne!" sahutnya begitu mengambil keputusan bulat. "Lakukan apa yang sudah direncanakan semula, tuan Song!! Masalah ini tak bisa dibiarkan lebih berlarut-larut lagi ... Saya harus mengambil keputusan .. Jika menunggu uncle Oli, akan terlambat .. "

Mr. Song membungkukan badannya. "Ne, agashi ... Hotel Seoul, kamar 1203 ... sudah dipersiapkan kemarin ketika agashi memintanya ... "

Jennifer tersenyum puas. "Secepat itu? .. Bagus, tuan Song. Anda tak pernah mengecewakanku. Pekerjaanmu selalu sempurna!!"

"Ghamsamida, agashi .. " respon Mr. Song dengan bangga.

Jennifer tertawa lepas. Sebentar lagi keinginannya akan tercapai ...

"Kalau begitu .. saya permisi, agashi ... " Ujar Mr. Song.

"Ya, ya .. kau boleh pergi tuan Song ... "

Jennifer mengangguk berkali-kali. Dia kembali meraih majalah yang tadi dilemparnya sembarangan di sofa kemudian membolak-baliknya dengan asal-asalan. Cengiran puas dan licik masih tersembul di bibirnya yang kemerah-merahan.

"Jangan lupa pesan buat wanita itu, tuan Song!" lanjutnya mengingatkan Mr. Song yang sudah sampai di depan pintu.

Pria itu berbalik dengan hormat. "Ne, agashi .. Agashimida .. "



***** oOo *****



Sementara itu, ... selang waktu yang tak begitu lama di Jang's mansion, ruang kerja Oliver Jang ... Tuan Park menyerahkan data-data yang didapat melalui penyelidikan-penyelidikan ketat yang dilakukan para bawahan kepada majikannya.

Oliver Jang menerima lembaran-lembaran kertas ukuran A4 yang terselip rapi dalam sebuah map file warna coklat itu, lalu menyimaknya dengan seksama. Beberapa menit ke depan terasa sunyi. Tuan Park menanti dengan sabar di tempatnya.

Sesaat kemudian .. Oliver mengangkat wajah dari lembaran-lembaran kertas tangannya.

"Daze Han--putri tunggal dari perusahaan Han Da' ZeVe yang telah bangkrut?"

"Ne, pak presiden .. " tuan Park mengangguk pelan.

"Tapi .. mengapa saya tak pernah mendengar keberadaan perusahaan itu? Apa beroperasi di Seoul ini?"

"Hanya perusahaan kecil, pak ... ," ungkap tuan Park penuh hormat. "Memang tak begitu terkenal .. Bahkan di Seoul sekalipun ... Perusahaan itu sudah mengalami masalah sejak beberapa tahun lalu ... Kata beberapa kolega bisnis yang kumintai keterangan, Han Da' ZeVe mengalami kesulitan karna kekurangan dana. Tidak ada pihak yang mau membiayai ataupun bekerjasama dengan mereka .. Unsur utamanya--Desain-desain mereka kadaluarsa dan tidak mengikuti jaman ... "

Oliver mengangguk tanda mengerti. "Menurut keterangan yang kau berikan, .. mereka bertemu sewaktu di Perth .. berarti, .. sudah setahun yang lalu?"

"Ne .. ," sahut tuan Park. Lalu, dia terdiam. Keraguan tersirat jelas dari wajahnya.

"Ya?" Oliver menatapnya lekat. "Ada yang kau sembunyikan, tuan Park?" tegur pria berwibawa itu.

"Oh--tidak, pak!!" sahut tuan Park cepat. "Saya hanya merasa ... Tidak tahu apa ini penting atau tidak .. " sambungnya serba salah.

"Katakan padaku sekarang juga!" hardik Oliver dengan nada menuntut. "Kau tahu aku paling tidak suka penjelasan berbelit-belit, tuan Park?!!"

"Eh--Ne ... " Tuan Park membungkuk dengan perasaan bersalah. "Sebenarnya, bukan masalah besar .. hanya saja ... doronim dulunya tinggal di rumah nona Daze Han .. "

"Mwo?!" Tangan Oliver yang sudah bersiap mengapai dokumen di atas meja kerjanya, terhenti .. "Mworagu? Bagaimana bisa ... "

"Nona Daze Han merupakan kakak kandung dari tuan Dave Han, sahabat satu-satunya dari doronim sewaktu kuliah di Perth ... ," jawab tuan Park.

"Apa?!" Oliver menarik kembali tangannya. "Maksudmu .. mereka sedekat itu? .. Berarti ... " Pria itu mengelus dagunya. Dia berpikir keras .. menyibak kembali apa yang selama ini diketahuinya tentang Rathyan, putra bungsunya ... berusaha menerka-nerka .. tapi akhirnya, dia mengeleng. Ternyata .. tak ada yang diketahuinya tentang putranya itu ... "Bagaimana hubungan mereka?" Setelah merasa tidak ada gunanya menerka-nerka buat sesuatu yang tak diketahuinya, apalagi tindakan ini memang sangat dibencinya, Oliver Jang mengeluarkan pertanyaan ini.

Tuan Park mendongak, memandang majikannya. Untuk kedua kalinya dia terlihat ragu-ragu dan juga enggan menjawab.

"Sosoengheyo, pak presiden, tapi .. tidak ada yang tahu ... "

"Tidak ada yang tahu?!" Oliver melebarkan matanya. "Apa maksudmu?!"

"Doronim ... ," tuan Park mendesah. Sangat halus dan .. beruntung tak tertangkap oleh majikannya. " .. maksudku, .. doronim memang terlihat akrab dengan Han agashi .. Semua bisa melihatnya di pesta beberapa hari yang lalu .. Namun tentang hubungan mereka .. tidak ada yang tahu ... bahkan teman-teman kuliahnya juga tidak ... "

"Begitu?!" Oliver beranjak bangun dari kursinya yang tinggi dan empuk bak singasana, kemudian melempar pandangan ke luar jendela. "Apa ada hubungannya dengan kembalinya Rathyan dan pendirian Max-Global Korea setahun lalu?" tanyanya tiba-tiba.

"Dhe?!" tuan Park terlihat tersentak. Bayangan-bayangan masa lalu yang telah terjadi mulai menari-nari dalam pikirannya. Setahun yang lalu ... permintaan tuan mudanya yang mendadak dan sangat mendesak ... Kepulangannya ke Amerika ... Keputusan yang dia kira tidak bakal dirubah Rathyan, yaitu meneruskan Max-Global dengan menyampingkan kecintaannya pada seni .. Lalu mengapa? Apa benar ada hubungannya dengan wanita itu? Seperti baru disadarkan akan kemungkinan ini, tuan Park mengangguk perlahan.

“Bagaimana menurutmu, tuan Park?” tegur Oliver Jang.

“Mung .. mungkin, pak presiden … ,” sahut tuan Park ragu-ragu. Walaupun dalam hati, dia sedikit membenarkan keterkaitan antara dua hal ini, dia tidak ingin mengiyakannya begitu saja. Menyediakan kesempatan buat melepaskan diri dari kesalahan yang mungkin dilimpahkan majikan kepadanya karna memberikan informasi yang tidak pasti, merupakan salah satu kunci keberhasilan tuan Park.

“Mungkin?” Oliver Jang memutar tubuh kearah tuan Park. “Hanya itu yang bisa kau katakan?”

“Sosoengheyo .. “ Tuan Park membungkukan badannya dalam-dalam.

Oliver Jang terlihat menahan nafas selama beberapa saat, kemudian meneruskan perkataannya. Kali ini suaranya tak sekencang tadi. “Tawaran Rath waktu itu .. pasti ada hubungannya dengan wanita ini! Bagaimana menurutmu, tuan Park?”

“Ne, pak presiden .. “ sahut tuan Park pelan.

“Berarti … karna wanita ini, Rath bersedia melakukan apapun. Termasuk .. mengelola Max-Global yang sangat dibencinya sejak dulu .. “

“Ne .. “

“Huhhh—“ Oliver Jang menghembuskan nafas keras-keras, kemudian menghempaskan tubuhnya ke kursi. Tampangnya terlihat sangat kusut.

“Ini hanya perkiraan kita, pak .. ,” ujar tuan Park, berusaha menenangkan majikannya. “Mungkin saja bukan begitu kenyataannya .. “

“Mungkin?!” Oliver Jang menatap tuan Park lekat-lekat. “Kalau begitu, berikan kemungkinan lain itu, tuan Park!!”

Tuan Park terdiam. Untuk kali ini, dia benar-benar mati kutu. Kemungkinan apalagi yang mampu menjadikan Rathyan merubah pendiriannya, selain kemungkinan ini?

Rathyan yang begitu mencintai seni .. Rathyan yang rela menentang mati-matian pemimpin tertinggi Max-Global, ayahnya, hanya demi seni .. Rathyan yang bersedia kehilangan apapun hanya karena seni .. Rathyan yang tidak akan merubah cintanya terhadap seni, kecuali .. kecuali sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari seni itu sendiri .. dan .. bukankah sangat masuk akal kalau orang itu seorang gadis? Gadis yang mendapat perhatian penuh darinya, .. yang selama ini tidak pernah diperlihatkannya?

“Tidak ada kan?”

Pertanyaan berupa desahan dari Oliver Jang menyadarkan tuan Park dari lamunannya.

“Sosoengheyo .. . ,” ujar si asisten pribadi itu.

Oliver Jang menghela nafasnya. Kemudian menekankan sepasang tangannya ke jidat sambil memejamkan matanya. “Sudahlah … Percuma kita mengira-ngira di sini .. “

“Ne .. “ Tuan Park membungkuk dengan hormat. “Lalu .. apa yang akan pak presiden lakukan sekarang? Apakah perlu dibuat pertemuan dengan nona Han?”

“Tidak!” Oliver Jang membuka matanya, kemudian bangkit dari kursi. “Saya tidak punya waktu, tuan Park. Apa kau lupa saya harus berangkat ke London dua jam kemudian?”

“O benar! Sosoengheyo saya melupakannya, pak presiden .. ,” kata tuan Park dengan nada menyesal.

“Tidak apa! Kau pasti terlalu sibuk akhir-akhir ini, tuan Park .. ,” ujar Oliver Jang sambil beranjak dari mejanya. “Saya akan berada di sana selama dua minggu. Setelah kembali, baru kita diskusikan lagi masalah ini .. “ Oliver Jang menyambar jasnya dan berjalan kearah pintu. “Pastikan segala sesuatu beres di sini, tuan Park .. “

“Ne, pak Presiden .. “ Tuan Park membungkukan badannya. “Sungguh tak perlu kutemani, pak?” sambungnya menawarkan diri.

Oliver Jang yang sudah sampai di depan pintu, menoleh. “Tidak! Kali ini tidak perlu! Saya membutuhkanmu di sini! … Jaga Rathyan baik-baik. Amati setiap gerak-geriknya dan laporkan padaku … Pastikan mereka tidak terlalu dekat .. “

“Tidak bisa, pak!” sela tuan Park tiba-tiba.

“Mwo? Kenapa?”

“Doronim akan berangkat ke Perth bersama nona Han besok pagi .. ,” jawab tuan Park.

“Mwo?! Bersama?”

“Ne. Urusan bisnis. Ada beberapa meeting dan seminar penting yang harus dihadiri. Dan nona Han ikut bersamanya untuk mengatur jadwal dan membantunya di sana .. “

“O—“ Oliver Jang mengangguk. “Ya—kalau begitu biarkan saja! Kita tak bisa berbuat apa-apa mengenai ini .. Dalam rangka bisnis—saya rasa, tidak ada yang bakal terjadi .. “

Tuan Park membungkuk. “Ne . .”

“Satu hal lagi, tuan Park!”

“Ne, pak presiden?“

“Awasi Jenny! Jangan sampai dia melakukan sesuatu yang bakal memporak-porandakan rencanaku! .. Aku sangat mengenal watak anak itu. Jika dia mengetahui hubungan Rath dan wanita itu, dia pasti akan berbuat sesuatu yang berlebihan .. “

“Ne .. “

Setelah itu, Oliver Jang keluar dari ruang kerjanya. Tuan Park masih berada di dalam selama beberapa menit … membereskan dokumen-dokumen di atas meja yang sudah ditanda-tangani Oliver Jang buat meeting yang akan dihadirinya di London.
  

***** oOo *****



Jam hampir menunjukan pukul 12 siang ketika pintu ruang kantor Rathyan diketuk dari luar.

"Masuk!!" perintah Rathyan tanpa berpaling dari kesibukannya.

Drekk, .. pintu ruang kantornya dibuka dengan pelan, dan nona Kim masuk dengan ragu-ragu. Dia menghampiri Rathyan dengan sebuah map file terangkul di tangan. Kelinglungan tersirat jelas dari wajahnya begitu sampai di depan pemuda itu.

"Ya?" Rathyan mendongak dengan alis berkerut.

"Ti .. tiket pesawat .. buat penerbangan besok .. dan juga .. jadwal di Perth yang .. bapak minta ... " Tergagap-gagap nona Kim menyerahkan file di tangannya.

"Hmm--" Rathyan meliriknya sekilas, kemudian, "Letakan di atas meja .. " perintahnya sambil lalu. “Kau kelihatannya sangat takut padaku, nona Kim .. “ sambung Rathyan tanpa melihat kearah wanita itu.

“Dhe?” Nona Kim membelalakan matanya. “A .. aniyo .. pak .. “

“Tidak ada urusannya denganku!!”

“Dhe?”

Rathyan mengangkat wajahnya. “Ketakutanmu itu tidak ada urusannya denganku!!” ujarnya lantang.

“Oh—“ Nona Kim menutup mulut dengan tangan kanannya, sambil beringsut ke belakang. “Sosoengheyo, pak direktur .. “

“Sudah! Tak ada lagi urusanmu di sini! Kau bisa mengundurkan diri sekarang, nona Kim!!”

“Ne .. “ Dengan takut-takut, nona Kim beranjak ke pintu.

“O ya, noona Kim?!!”

Panggilan itu segera menghentikan langkahnya. Nona Kim berbalik dengan tampang menyedihkan. “Ne, pak direktur?”

“Mana sekretarisku?!” tanya Rathyan dengan kening dikerutkan.

“Nona Han .. tadi pamitan sebentar .. katanya, beli makan siang buat bapak .. “

“Makan siang?” Rathyan melirik jam tangannya. “Benar .. makan siang .. ,” desisnya lirih. “Ya sudah. Kau pergilah .. “

“Ne .. “

Nona Kim kembali melangkahkan kakinya. Dalam hati dia berdoa semoga majikannya ini tidak menghentikan langkahnya lagi. Dan doanya terkabul. Dia sampai dengan selamat di luar pintu. Dengan sangat pelan, ditutupnya pintu itu.

Rathyan mendorong kumpulan file di depannya ke samping, dan mengambil ponsel model terbaru yang terletak di atas meja dekat telepon. Baru saja dia bermaksud menghubungi seseorang lewat ponsel itu, alat penghubung mungil tersebut berteriak keras minta diangkat, mengagetkannya. Rathyan melihat ke layar monitor. Alisnya berkenyit. Segera saja dia menekan tombol reject dan membuang ponsel tersebut ke sudut meja. Namun tidak lama kemudian, sekitar tiga menit, ponsel tersebut berbunyi lagi.

“Huh!!!”

Rathyan mendengus. Tombol reject kembali jadi sasarannya. Tapi, seperti tidak mau menyerah begitu saja, si penelepon kembali melancarkan serangannya.

Kring ….. Kring .. Kring ….

“Sialan!!!”

Rathyan menyambar ponsel dari atas meja. Setelah menekan tombol terima, dia menekan ponsel tersebut ke telinga.

“Jika kau mengangguku terus, kau akan merasakan akibatnya, Jennifer White!!”

“Oppa!!” suara cempreng Jennifer terdengar dari seberang. “Oppa selalu sedingin ini?!!”

“Cukup bermainnya!” bentak Rathyan. “Katakan sekarang, apa mau mu?!!”

“Temui aku di hotel Seoul!!” sahut Jennifer tanpa tedeng aling.

“Mwo?!!” Mata Rathyan terbelalak lebar. “Yaa—kau sudah gila?! Shido! Jangan mengusik ku atau kesabaranku akan habis!!”

Rathyan bermaksud memutuskan pembicaraan mereka, tapi terhenti oleh teriakan Jennifer yang tak terduga ..

“Aku sudah mengundang nona Han kemari!! “

“MWO?!” Rathyan membatalkan niatnya semula. Mendadak tangannya bergetar hebat, saking kuatnya menahan gejolak emosi yang berkecamuk di dada. “Apa mau mu?”

“Oppa akan tahu sendiri setelah kemari!” sahut Jennifer sambil tersenyum nyengir di seberang. “Kamar 1203, oppa … Jangan lupa, saya nantikan kedatangannya … “

“Jangan berbuat macam-macam!!” tekan Rathyan dengan rahang dirapatkan. “Aku tidak akan memaafkanmu jika sampai terjadi apa-apa padanya!”

“Weeyo?!! Oppa mengkhawatirkannya?!!” suara Jennifer menyaring dari ujung telepon.

“Yang jelas—jangan menyentuhnya sedikitpun!!” teriak Rathyan—sangat keras, sampai-sampai si Jennifer segera menjauhkan ponsel di tangannya. “Aku akan datang sesegera mungkin!!” lanjut Rathyan. “Jadi jangan lakukan apapun!!”

Sebelum Jennifer berucap lagi, Rathyan memutuskan hubungan mereka. Dia menyambar jas yang tersampir di sandaran kursi dan berlari keluar dari ruang kantornya. Sampai di depan nona Kim yang duduk di bangku dekat pintu, dia berhenti. Dengan nafas agak tersengal, dia menghampiri wanita itu.

“Nona Kim!!”

Nona Kim terperanjat kaget. Kutex yang sedang dioleskan ke kukunya terdorong jatuh dan mengotori meja kerjanya.

“So .. sosoengheyo .. pak direktur .. “

Rathyan meliriknya sekilas, kemudian mengindahkannya. Membuat nona Kim mengangga lebar. Ini wajar saja mengingat dalam keadaan biasa, kesalahan ini tidak mungkin berlaku buat Rathyan. Dia pasti akan memecat bawahan yang melakukan kesalahan seperti ini.

“Aku harus keluar sekarang, nona Kim! Meeting dengan Mr. Zlot dari Zlot Company satu jam nanti, tetap akan kuhadiri .. sedangkan untuk jadwal-jadwal selanjutnya dibatalkan saja … Saya tidak punya cukup waktu mengurusnya .. besok pagi saya harus berangkat ke Perth .. Biar setelah kepulanganku dari sana, hubungan kerjasama itu didiskusikan lagi .. “

“Ne .. “

Jawaban nona Kim hanya samar-samar tertangkap oleh Rathyan karena dia sudah menghambur ke dalam lift yang pintunya terbuka sedari tadi.

 
***** oOo *****



Sementara itu di restoran Cina 'Jade's Palace' ...

"Agashi, ini pesanannya ... " Seorang pelayan menyodorkan dua kantong ukuran sedang pada Daze. "Sudah lengkap. Aneka ragam Dim Sum dan minumannya .. silahkan diperiksa .. "

"Ne. Ghamsamida .. " Daze menerima pesanannya dan menyerahkan beberapa lembar won sebagai bayaran sesuai harga yang tertera di bon. Kemudian dia membuka kantong-kantong tersebut dan memeriksa makanan di dalamnya. "Mudah-mudahan dia tidak protes lagi ... ," gumam Daze pada diri sendiri.

"Dhe?" si pelayan melebarkan sepasang mata sipitnya. "Apa ada yang kurang?" tanyanya agak gugup.

"O--" Daze menengadah. Segera saja dia tersenyum dan mengelengkan kepala—guna menenangkan pelayan itu. "Aniyo! Ghamsamida .. " Dia membungkuk seraya melambaikan tangannya. "Anyongheseyo .. "

"Anyongheseyo agashi  ... ," balas si pelayan. "Terimakasih atas kunjungannya ... "

Daze sampai di lapangan luar restoran tersebut. Sekali lagi dia mengamati dua kantong dalam genggamannya, kemudian mendesah perlahan. Dia tidak yakin Rathyan bakal menyukai makan siang yang dibelikannya. Anak yang satu itu, selalu berkelakuan aneh akhir-akhir ini. Dalam beberapa menit dia dapat merubah selera makannya terhadap makanan tertentu.

Daze menghembuskan nafas dan mulai melangkahkan kakinya. Namun baru beberapa langkah, sesuatu dalam saku kemejanya bergetar-getar minta diangkat. Daze menghentikan langkahnya dan memindahkan salah satu kantung di tangan kanan ke tangan kiri kemudian mengeluarkan ponsel tersebut. Ada pesan masuk. Daze mengenyitkan alisnya. Nomor yang terpapar di layar sangat asing. Siapa pemilik nomor ini? Ragu-ragu, antara menerima atau mengabaikan pesan dari nomor tersebut, Daze memencet kotak 'view' dalam layar.

Aku berada di hotel Seoul.
Datang sekarang juga!
     --Rathyan Jang--

Mata Daze terbelalak lebar. "MWO?!!"

Yaishh--anak ini, benar-benar!!! Daze melayangkan tangannya yang masih memegang ponsel ke udara. Ckk--Sudah kukira seleranya aneh akhir-akhir ini!! Jika memang kepingin lunch di cafe high class kayak cafe Seoul, kenapa tak memberitahuku lebih dulu? Jadinya kan aku nggak perlu memesan makanan dengan sia-sia?!!! Daze memandang prihatin dua kantong dalam genggamannya. Haruskah aku membuang makanan-makanan ini?—LAGI?

Daze menghentak-hentakan kakinya. Wajahnya berkerut seiring kekesalan yang menghingapi hatinya. Sesaat, dia tak beranjak dari tempatnya. Namun, begitu mengingat pesan tadi--sikapnya berubah. Dia segera mengangkat tangan dan menghambur ke jalan raya begitu sebuah taxi melintas di depannya.

"TAXI!!!"


***** oOo *****


Rathyan menghentikan Porche hitamnya di lapangan parkir hotel Seoul. Segera saja dia keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam gedung hotel yang terlihat megah tersebut.


***** oOo *****


Tut .. tut …

Daze mengeluarkan ponselnya. Dua kantung yang agak menganggu digesernya ke bangku sebelah, lalu perhatiannya dialihkan ke layar ponsel. Pesan masuk dari nomor yang diterimanya tadi.

Lupa memberitahumu—kamar no. 1203.
—Rathyan Jang—

“Iya, iya … Saya sudah tahu kau Rathyan Jang!!” dengus Daze. Tapi .. tunggu!! Apa isi pesan itu tadi?! Daze kembali menatap layar ponselnya. Deg … Tidak salah lihat! Kamar no. 1203? .. Kamar? Daze memegang dadanya. Kenapa anak itu check-in kamar hotel? Apa maunya? Bukankah niat semula lunch di café Seoul? .. A .. apa-apaan ini?!

Daze jadi kebingungan sendiri. Dan juga .. gelisah. Dia tidak mengerti jika hanya buat lunch, kenapa Rathyan sampai check-in kamar hotel? Apakah … Daze segera mengeleng keras-keras. Antwee!! Singkirkan pemikiran-pemikiran kotor itu!! Daze mengigit bibir keras-keras sambil memandang lurus ke depan. Sebentar lagi taxi yang ditumpanginya akan memasuki area hotel Seoul.


***** oOo *****


Tok .. tok .. tok …

Pintu kamar hotel 1203 dibuka. Jennifer White tampil manis dengan gaun pendek yang dikenakannya. Dia tersenyum terhadap pria di depannya. Tapi sayang, pesonanya tidak mempan. Rathyan menatapnya dengan pandangan dingin.

“Mana Daze?”

“Oppa!” Jennifer merengut. “Saya kan cuma bilang sudah mengundangnya ke sini .. dia datang atau tidak ya tak bisa saya ramalkan .. “

“Jenny—cukup bermainnya!!” bentak Rathyan.

“Saya tidak bermain!” balas Jennifer tak kalah kerasnya. “Saya berkata sejujurnya .. “

Sesaat keduanya saling berpandangan. Rathyan berdiri tegar tak tergoyahkan. Sinar matanya datar dan tak mampu diselami. Sedangkan pandangan Jennifer perlahan melunak. Reaksi manjanya mulai keluar.

“Oppa .. ,” rengeknya sambil mengayutkan tangannya ke lengan Rathyan. “Kenapa oppa tidak duduk sebentar di dalam? Minum sedikit—bagaimana?”

Rathyan segera mengibaskan tangannya. “Saya tidak punya waktu melayanimu!” Dia memutar tubuh, untuk kemudian melangkahkan kakinya.

“OPPA TIDAK MENYESAL?!!” teriak Jennifer.

Langkah Rathyan terhenti .. tapi dia tidak berbalik. “Apa maksudmu?”

“Saya sungguh-sungguh mengundangnya kemari!” sahut Jennifer.

Rathyan segera memutar badannya. “Mwo?!!”

“Jika oppa ingin tahu .. masuklah ke dalam … “ Jennifer menyungingkan senyum kemenangan. Dia memutar tubuh dan kembali ke dalam kamar. Pintu kamar tersebut dibiarkan dalam keadaan terbuka.

Rathyan mengatupkan bibirnya. Dia berdiri dalam posisi serupa, dengan sepasang tangan tertancap ke dalam saku jasnya. Lima menit berlalu .. dan akhirnya dia melangkahkan kaki ke dalam kamar itu. Pintu ditutup dengan sangat pelan.


***** oOo *****


Daze keluar dari taxi setelah membayar ongkos yang diperlukan. Dia berjalan lebar menuju lobi hotel Seoul. Setelah ragu-ragu sejenak sewaktu dalam taxi akan niat dan maksud Rathyan mengundangnya ke hotel ini, dia sudah mempersiapkan semuanya—hati maupun ketabahannya. Apapun keinginan Rathyan, dia harus mampu menghadapinya. Bukankah ini sudah merupakan tugas dari seorang sekretaris pribadi? Awas kalau dia berani macam-macam?! umpat Daze dalam hati.

Dia sampai di depan deretan lift hotel itu. Setelah menunggu sebentar, salah satu lift kosong pintunya terbuka dan siap membawanya ke lantai 12.


***** oOo *****


”Oppa mau minum apa?” tanya Jennifer dengan gaya semanis mungkin.

“Tidak usah!” jawab Rathyan dingin.

Jennifer tersenyum. “Bagaimana kalau air mineral aja?” tawarnya memaksa.

Rathyan tidak mengubrisnya. Tidak menjawab dan tidak memberikan respon. Kepalanya dihempaskan ke sandaran sofa dan sepasang kaki panjangnya dijulurkan ke depan—usaha menghilangkan penat yang dirasakannya sejak tadi pagi.

“Kalau begitu .. tunggu saya, oppa .. “

Jennifer menghilang ke dapur yang berada dalam kamar itu. Setelah memastikan Rathyan tidak beranjak dari tempatnya, dia membuka kulkas dan menuang segelas air mineral. Dia tersenyum licik. Perlahan dikeluarkannya ponsel dari saku gaun pendeknya kemudian menekan beberapa nomor.

“Bagaimana, tuan Song?” bisiknya halus setelah nomor itu tersambung.

“Beres, agashi. Nona Han sudah tiba di lantai ini … Aku baru saja melihatnya keluar dari lift .. “

“Bagus!” Jennifer tersenyum puas. “Kirimkan pesan terakhir, tuan Song!”

“Agashimida, agashi .. “

Hubungan kemudian diputuskan. Masih dengan senyuman yang tersungging di wajah ayunya, Jennifer membawa nampan berisi dua gelas air mineral ke luar dari dapur.

“Minumannya sudah sampai, oppa!!”


***** oOo *****


Tutt … tutt … tutt …

Lagi? Wajah Daze berkerut. Agak kesal, dikeluarkannya ponsel dari saku kemejanya.

Pintunya tidak dikunci. Buka saja!
—Rathyan Jang—

”Huh—“

Daze melongok ke kanan dan kiri. No. 1203, ada di mana? Sesaat kemudian … Itu dia!! Sorak Daze.

No. 1203—ternyata berada di paling ujung …


***** oOo *****


”Akhh—apa yang kau lakukan??!!” Teriak Rathyan. Jas dan kemejanya basah oleh gelas dalam nampan yang tidak sengaja ditumpahkan Jennifer kearahnya.

“Mi .. miane .. oppa .. ,” sahut Jennifer gagap. “Saya .. saya tidak sengaja .. “

Rathyan segera membuka jasnya. Dan mengibas-ngibaskan kemeja yang menempel ketat di tubuhnya. Tapi, tidak ada gunanya. Kemeja itu sudah benar-benar basah. Begitu juga dengan celana skinny yang dikenakannya.

“Tahu tidak saya punya meeting beberapa menit lagi?!!” dengus Rathyan. “Kau menjadikanku basah kuyup begini! Mana saya tak punya waktu untuk berganti pakaian lagi!!!”

“O—“ Jennifer membuka mulutnya. Dia berlagak berpikir, lalu tiba-tiba dia menjentikan jemarinya. “Oppa tidak perlu khawatir. Di dalam ada setrika uap. Sebaiknya oppa membuka kemeja basah itu dan biar saya yang mengeringkannya .. Sebentar saja beres kok .. “

“Ya—“ Rathyan mengangkat pundaknya. “Tidak ada cara lain! Saya tak mungkin rapat dengan keadaan basah kuyup .. Lagipula, saya sudah terlambat … “

Rathyan membuka kancing-kancing kemejanya kemudian melepaskan kemeja basah itu dari tubuhnya dan memberikannya pada Jennifer. Gadis itu menyengir. Rathyan berhasil menangkap ekspresinya itu dan .. merasa sedikit heran. Namun kemudian, tidak diperdulikannya lagi. Tubuh jangkungnya yang bertelanjang dada dihempaskan kembali ke sandaran sofa dengan kepala menengadah ke atas.

Pada saat itu pula, pintu kamar dibuka dari luar. Rathyan menoleh … pandangannya langsung bertemu dengan tamu tak diundang itu. Mata Rathyan melebar secara perlahan-lahan … begitu juga si tamu tak diundang.

Bukkk .. Dua kantung dalam genggaman Daze terjatuh ke lantai. Matanya terbelalak lebar. “Kau … kau .. apa .. apa yang kau lakukan?”

“Siapa kamu?!” Suara Jennifer melengking dari arah ranjang.

Rathyan segera menegakan badannya. Baru disadarinya sekarang bahwa dia sedang bertelanjang dada dan Jennifer sekamar dengannya. Dan .. yang paling parah … Daze mendapati ketidakbenaran ini …. Dia percaya?

“Apa yang kalian lakukan?!!!” jerit Daze.

“Apa?!” Jennifer melangkah ke depan dengan sikap menantang. “Siapa kau berani-beraninya berteriak-teriak padaku?!!”

“RATHYAN JANG!!!” Daze mengalihkan perhatian pada Rathyan. “Ini pembalasan yang kau maksudkan?”

Rathyan tidak menjawab. Dia memejamkan mata rapat-rapat. Setelah itu dibukanya kembali. Dia bangkit dari sofa. Menyambar kemeja dari tangan Jennifer, begitu juga jas yang tergeletak di atas ranjang dan berjalan keluar dari kamar itu dengan bibir terkatup rapat.

“RATHYAN JANG!!” Daze mengejar keluar. Ditariknya lengan pemuda itu. “Katakan sesuatu?!!”

Rathyan menoleh padanya, tapi tidak bersuara. Rahangnya masih terkatup rapat. Sementara pandangannnya terlihat hampa.

“Jelaskan padaku apa yang telah terjadi?” jerit Daze dengan mata berair.

“Apa?” Rathyan balas bertanya. “Apa kau mempercayaiku? Apa kau akan mempercayai perkataanku, lebih dari penglihatanmu sendiri?!!!”

Daze tertegun. Dia tak mampu menjawab. Rathyan menatapnya dengan senyum hambar. Sesaat kemudian, wajahnya kembali berubah datar. Dia memutar badan perlahan, kemudian … secara mendadak--menghentakan alas sepatu kulitnya ke dinding. “BERENGSEK!!!”

Daze tersentak. Lamunannya buyar seketika. Dia mendongak tapi Rathyan sudah berada jauh di depannya.

“RATHYAN JANG!! KAU PERGI BEGITU SAJA??!!”

“Kau lihat kan?”

Pertanyaan itu membuat Daze menoleh. Jennifer White sudah berdiri di sebelahnya. Gadis muda itu tersenyum lebar.

“Oppa bersamaku!” ujar Jennifer sambil mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, terlihat sangat angkuh dan bangga. “Kukira sehebat apa hubungan kalian? .. ternyata .. hanya segitu? … Jika memang tidak ada kepercayaan di antara kalian, sebaiknya … lepaskan oppa!!”

Raut Daze mengeras. Perlahan, dihapusnya airmata terakhir yang membekas di pipinya. Dia memutar tubuh menghadapi Jennifer .. Lalu, dia tersenyum.

“Kau salah, agashi. Hubungan kami dari dulu memang seperti ini .. Pertengkaran-pertengkaran itu hanya bumbu penyedap saja .. “ Daze memajukan wajahnya sampai hampir menyentuh wajah Jennifer. “Kau bertanya—apa ada kepercayaan di antara kami … Maka dengan senang hati aku menjawabmu—Aku percaya padanya! Tanpa disadari atau tidak, aku tahu—Aku mempercayainya!

Jawaban Daze menimbulkan dampak hebat bagi Jennifer. Wajah gadis muda itu berubah pucat. Daze kembali menyunggingkan senyumnya. “Terimakasih karna menyadarkanku, agashi .. Kepercayaan memang sangat penting artinya .. “

Daze mundur beberapa langkah, kemudian membalikan badannya. Setelah itu dia berjalan dengan langkah ringan, berlalu dari situ .. meninggalkan Jennifer yang mengigit bibir di tempatnya.

“TUANG SONGGGGGGGG!!!”


***** oOo *****


Keesokan harinya ….
Pesawat dari Seoul menuju Perth lepas landas dari bandara Internasional Incheon.

Di kabin kelas pertama, Rathyan tampak membolak-balik dokumen-dokumen dalam pangkuannya—tanpa menaruh perhatian sedikitpun terhadap keadaan di sekelilingnya. Sudah hampir setengah jam dia melakukan kesibukan itu. Sementara Daze yang duduk di sebelahnya, sejak setengah jam yang lalu pula, mengamati setiap gerak-gerik pemuda itu.

“Ehemm—“ Daze berdeham pelan, berusaha menarik perhatian pemuda itu. Berhasil! Rathyan menoleh. Daze menatapnya. Begitu juga Rathyan .. tapi pemuda bertampang datar itu tidak mengeluarkan suaranya. Sesaat kemudian dia menunduk dan berkutat kembali dengan dokumen-dokumen di tangannya.

“Rath .. ,” panggil Daze lirih.

“Hmm—“ Rathyan bergumam halus.

“Katakan sesuatu … ,” ujar Daze.

Rathyan menghentikan kesibukannya, dan sekali lagi menoleh pada Daze.

“Mwo?!”

“Katakan bahwa semua itu tidak benar .. ,” desis Daze.

“Mwo?”

“Asal kau katakan—semua itu tidak benar .. maka—maka saya akan mempercayaimu … “

Pandangan mereka bertemu kembali. Tatapan yang sangat dalam dan lekat. Sepasang mata yang tak berkedip dan berusaha saling memberi. Memberi apa? Tentu saja memberi kepercayaan yang selama setahun ini sudah menghilang entah ke mana.

Rathyan membuka mulutnya, kemudian berkata perlahan, “Semua tidak benar .. “

Daze mengulum senyum. Kepalanya menunduk, dan dianggukan berkali-kali. Sementara itu si Rathyan sudah tenggelam kembali dalam pekerjaannya setelah mengucapkan kata-kata itu.

Daze mengangkat wajah dan menatap Rathyan.

Lumayanlah … Kau sudah mau terbuka walaupun .. karna permintaan dariku … Ke depannya—pasti akan lebih baik .. Aku akan berusaha memahami dan mempercayaimu .. Untuk sementara—ini sudah lebih dari cukup …


***** oOo *****
« Last Edit: February 12, 2011, 03:38:38 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
mamiiii thankss mi punk punk punk
pagi2 begitu buka CM
ada rath hwaaaaaaaa
asyikkk rath udah gak hiatus yuhuuuuu

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile

omooooooooo, mommy update rathhhhhhhh  [ohmy] [ohmy] luve you mommm [hug]
<--- terharu sangat
baca dulu nanti edit yaaaaa <--- baca sambil nangis


Modify!
___________________________


Quote
“Asal kau katakan—semua itu tidak benar .. maka—maka saya akan mempercayaimu … “

Rathyan membuka mulutnya, kemudian berkata perlahan, “Semua tidak benar .. “

Daze mengulum senyum. Kepalanya menunduk, dan dianggukan berkali-kali
.
** MEANINGFULL! lovee this part  [lovestruck]
that's our rathh, will always like that  [lovestruck]
rath ga akan perna bisa menjelaskan segala sesuatu-nya dengan detail
tapi satu kaliamt yg keluar mejlaskan semuanya *.*
smoga abis ini dazee akan lebi bisa memahami rath
(bukanya sebelum ini daze ga memahami rath, tapi hopefully lebih bisa memahami rath dari sebelum-2 nya)

** dan akhir-nya bapak mertua kita (baca : tuan oliver jang) , mule taw knapa rath berubah sedemikian drastis-nya
jadi pnasaran apa yg akan terjadi sekembalinya beliau dr london [biggrin]

** bwat Jenipherrr aihh dirimyuu msiyy muncul thaa' *bawa sambit*  [hmpfh]
cuma maw bilang si jenipher niy slaen manja , kolokan, childish nya ga ktulungan [heh]
apa yg kau lakukan pada rathh kekanak-kanakan sekali [sweat]
our rathh ga akan terpengaruhh  [nono]  *cam-kan itu*  [nono]

** lopphh momm, thanks for d update  [hug], sumpah ga nyangkaaaa banget
hwaiting for next chap.. rathdaze udagh di perthh  [lovestruck] *fighting*



« Last Edit: February 12, 2011, 06:17:46 pm by Freesia »

‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
mamiiiiiiiiiiii akhirnya selese juga aku bacaaa
chap ini so sweetttt bgttttttt
kembalinya kepercayaan daze terhadap rath o.o
cuit cuit cuit cuit

jenifer busuk bgt ya mam, o jadi daze liat dada rath itu karna insiden ini toh wkwk


gak sabar moment di perth lol

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Mami mami mami tengkyu da diupdate hug hug kiss kiss. Oh jd punggung polos rath ntu cuma karena kemeja nya bsh kuyup gara2 disiram jenjen toh,tak kirain mo ehem2 ama si daze,hmph. Weits Daze kalo da jealous sk berubh jd sangar ya mam, apalg kalo rivalnya cewe2 abg, dulu gretchel skrg jenifer,ckck. Ayo Daze libas semua cewe2 yg gatel dktin Rath,hehe. Tp kalo dipikir2 Daze ama Rath sama2 pencemburu,tp ya yg plg parah si Rathyan kalo da cemburu jd nyeremin,hmph. Carl akhrnya tau jg ya mam hub.daze ama rath ya walaupun ga diomgin secara lantang. Om oli kgk bklan setuju ya mam ama hub. Daze and Rath, wah bklan nambh 1 org lg yg ga setuju ama hub.rathdaze. Mereka da ke perth kira2 disono selain perjalanan bisnis pasti mau kangen2an donk mam,hmph. Mam,bsk2 karakter jenjen ga usah ada lg deh, jgnkan rath yg pusing ama kemanjaan dan suara cemprengnya,gw aja puspa mam,hmph.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
mi...thanx d update...
wah akhirnya mreka bisa saling mengerti
ksian deh si jen wkwkwkw
kayak y kota perth n
bakal bikin mreka tambah baik hub(semoga pleaseee!!!)