Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 100103 times)

aiyuu_minsunnerz

  • Guest
Janji ye mam..

Ngalong dulu sambil join kopi..hmpfh hmpfh

Offline Graciela

  • Newbie
  • *
  • Posts: 87
    • View Profile
Mamiiiiii

Karena skrg aku dah terdaftar jadi anggota CM, maka aku dah bisa ngerecokin mami nih minta update si Rath-ku tercinta ini ;)

Mami....update doooonnnngggggggg

Can't you see how much we miss each other????

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Author's note : Gw pakai lagu sesuai reply moow di tret strawberry, shape of my heartnya BSB (thanks dear) Setelah gw dengerin baik2 ternyata lagu ini cocok buat mengambarkan perasaan Rath saat ini. And thanks juga buat Alin yang selalu menunggu dengan setia updatean ff ini (jg buat segala terornya kekeke lain kali jangan lagi ya. pusing nih lol)
Buat semua reader--silahkan dibaca. sorry buat segala kekurangannya. It's really a long chapter jadi semoga tidak bosan hehe. Di chp ini sudah banyak kemajuan dalam hubungan Rath and Daze tapi ujung2nya ---> kalian baca sendiri deh hmpfh... selamat membaca.. gw tunggu komentarnya-->yg byk loh lol






Song of the day :
Shape of My Heart by BSB


Lyrics :
Hmm, yeah, yeah
Baby, please try to forgive me
Stay here don't put out the glow
Hold me now don't bother if every minute it makes me weaker
You can save me from the man that I've become, oh yeah

Lookin' back on the things I've done
I was tryin' to be someone
I played my part, kept you in the dark
Now let me show you the shape of my heart

Sadness is beautiful loneliness that's tragical
So help me I can't win this war, oh no
Touch me now don't bother if every second it makes me weaker
You can save me from the man I've become

Lookin' back on the things I've done
I was tryin' to be someone
I played my part, kept you in the dark
Now let me show you the shape of my heart

I'm here with my confession
Got nothing to hide no more
I don't know where to start
But to show you the shape of my heart

I'm lookin' back on things I've done
I never wanna play the same old part
I'll keep you in the dark
Now let me show you the shape of my heart

Lookin' back on the things I've done
I was tryin' to be someone
I played my part, kept you in the dark
Now let me show you the shape of my heart

Lookin' back on the things I've done
I was tryin' to be someone
I played my part, kept you in the dark
Now let me show you the shape of my heart

Show you the shape of my heart





Pesawat yang membawa penumpang dari Seoul ke Perth mendarat di bandara sekitar pukul 9 malam. Beberapa puluh menit kemudian, Daze tampak bersusah payah menyejajari langkah Rathyan keluar dari bandara. Tapi percuma saja. Pemuda berkaki panjang itu melangkah lebar-lebar seakan tidak menyadari sekretaris pribadinya terkatung-katung di belakang. Sekitar tiga meter, tertinggal darinya.

Daze manggut-manggut sambil menekuk bibirnya. Tapi dia terus melangkah, mengikuti Rathyan tanpa berani protes. Mereka menyusuri halaman depan sampai menyeberangi jalan kecil hingga tiba di tempat parkir angkutan-angkutan umum kota, termasuk barisan taxi yang cukup panjang.

Tiba-tiba sebuah sapaan terdengar dari barisan paling ujung, tempat parkir khusus buat kendaraan-kendaraan pribadi.

"Doronim!!"

Rath mendongak dan menatap kearah suara itu. "Tuan Park .. ," desisnya pelan. Perlahan dia berpaling pada Daze yang pada saat itu langsung menghentikan langkahnya.

"Tuan Park?" Daze mengulang perkataan Rathyan. Ditatapnya pemuda itu dengan pandangan bertanya. Tapi Rathyan mengeleng perlahan. Sebagai jawaban bahwa dia tidak tahu apa-apa. Kemudian--agak segan, dia berjalan kearah asisten pribadi ayahnya itu.

"Ada masalah, tuan Park?"

Tuan Park tersenyum, .. untuk kemudian mengelengkan kepalanya, pelan.

"Kenapa berada di sini? Bukankah seharusnya kau menemani orang itu ke London?" tanya Rathyan sinis.

Tuan Park membungkuk. "Pak presiden tidak perlu ditemani. Beliau meminta ku membantu doronim .. ," jawabnya sabar dan hormat.

"Aku tidak perlu bantuanmu!" tukas Rathyan ketus. Setelah itu dia berbalik, dan mendadak .. menarik tangan Daze sampai gadis itu terperanjat kaget. "Apa kau bawa mobil?!" tanyanya tanpa menatap tuan Park, seakan dia sedang berbicara pada angin dan bukan pada asisten pribadi itu.

Tuan Park tersenyum lalu mengangguk. "Ne .. Yang berwarna perak paling depan .. ," sahutnya sambil menyilahkan dengan tangannya.

Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, Rathyan melewati tuan Park dan 'agak menyeret' membawa Daze ke mobil yang sudah dibuka sopir.

"Yaa--yaa---!!" protes Daze.

Dia berusaha melepaskan diri tapi Rathyan segera 'mendorongnya' masuk ke dalam mobil.

"Masuk!" perintah pemuda itu tegas.

"Yaa--kau!!" Daze mendelik, tapi tidak bisa menolak. Pasrah saja diperlakukan begitu. Dia menghempaskan diri di bangku paling ujung dan langsung melempar pandangan ke luar jendela, kesal.

Rathyan tidak menghiraukannya. Badannya ditegakan dan berbalik menghadapi pak sopir yang sudah berdiri di belakangnya dengan sikap hormat. Rathyan menyerahkan koper di tangannya, beserta milik Daze yang masih tergeletak di lantai semen untuk ditaruh dalam bagasi. Setelah itu dia masuk ke mobil, duduk di sebelah Daze bersamaan dengan Tuan Park yang menjatuhkan dirinya di bangku depan, sebelah kursi kemudi.

"Apa langsung ke hotel, doronim?" tanya Tuan Park sambil menoleh ke belakang.

"Menurutmu?" Rathyan balas bertanya. "Bukankah kau sudah mengecek semuanya, tuan Park?" lanjutnya sinis.

Tuan Park tersenyum lalu menganggukan kepalanya. "Ne, agashimida doronim .. " Kemudian dia beralih ke sopirnya yang baru memasuki mobil. "Kita ke Perth Hotel, pak ... "

Pak sopir mengangguk. "Ne, tuan .. "

Sebentar kemudian mobil perak itu meluncur keluar dari area bandara, memasuki jalan raya yang tidak begitu ramai dan bergabung dengan kendaraan-kendaraan lainnya yang melintas sesekali. Suasana sunyi di dalam mobil. Daze masih saja betah dengan pemandangan di luar, mengamati segala sesuatu yang tidak asing baginya dengan pikiran menerawang ... tidak ada yang berubah di sini ..

Saat itu bulan Juli, ... tidak berbeda dengan tahun lalu, salju turun lagi, 'dengan sangat lebat', ... melapisi rumah-rumah, jalan-jalan dan pohon-pohon dengan serpihan-serpihan kertasnya yang putih dan dingin, ... membawa kembali kenangan-kenangan yang berusaha dilupakannya. Tapi yang dia yakini, seumur hidup tidak mungkin dilupakannya.

Daze mengigit bibir kemudian mendesah. Matanya mulai meredup, perlahan-lahan. Diangkatnya tangannya, menekan bagian dada dengan sangat pelan. Kesedihan itu menyayat kembali. Kematian halmonie, pengalaman pertama diputus seorang pria yang pertama kali dikencaninya, .. dan yang paling penting dari semua itu, ... pertemuannya dengan seorang pemuda yang telah merubah hidupnya. Pertemuan yang tidak bisa dikatakan manis tapi berkesan ... sentuhan pertama yang mengetarkan .. ciuman yang lembut, bibir yang lembab, dan perhatian yang diberikan walaupun tidak diungkapkan, .. semua begitu ... begitu terasa ... Apakah sudah setahun peristiwa itu terjadi? Tapi mengapa .. mengapa dia merasa baru kemarin? .... Rasa sakit itu .. masih sangat terasa ...

"Dazya ... "

Daze menghela nafas, menahannya sebentar kemudian berpaling perlahan. Tatapannya segera bertemu dengan pandangan Rathyan yang agak gelap. Mereka tidak bersuara. Saling menatap dengan pandangan lekat. Sesaat kemudian Rathyan mengalihkan pandangannya ke depan.

"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya dengan nada datar.

"Kau ingin tahu?" Daze balas bertanya.

Rathyan mengangkat bahu, kemudian mengeledah tas kerjanya, mengeluarkan sebuah dokumen yang terjepit rapi. "Tidak!" jawabnya datar.

Daze menghela nafas lagi. Selalu begitu! Jika memang ingin tahu, kenapa dia tidak menanyakannya saja? Apa susahnya membuka mulut dan bilang 'IYA', .. Aku pasti akan menjawabnya ...

Rathyan menyibak lembaran-lembaran dokumen di tangannya. Berlagak mempelajari padahal pandangannya nanar tertuju pada huruf-huruf kecil yang terketik rapi di situ. Tidak konsentrasi.

Rathyan Pov ...
PERTH--kembali ke sini, ... ada sesuatu--sesuatu yang membuatku rindu. Aku ingin tahu, apa kau juga merasakannya? Jawaban ini yang ingin kuketahui, Dazya. Kenangan-kenangan setahun yang lalu ... Andai saja aku diberi kesempatan memilih waktu itu, aku ingin mengatakannya padamu--'Jangan pergi, bahwa kau segalanya bagiku! Tanpamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hidup bagaikan mayat. Bergerak di bawah sadar--tidak tahu apa yang dilakukan. Bekerja hanya karena sebuah janji 'atas kebahagiaanmu'. Aku ragu, mungkinkah itu salah?', tapi seperti biasanya--mulutku terkunci saat itu, tidak bisa dibuka. Kata-kata yang sudah tersusun rapi di pikiranku tidak mampu dikeluarkan .. Aku berharap kau mengerti 'AKU', memahamiku apa adanya, .. tapi mungkinkah bisa, sementara aku sendiri meragukan harapan itu?
Kadang-kadang, aku berharap bisa membalikan waktu meskipun kedengarannya mustahil. Tapi sungguh, ... aku berharap mempunyai kemampuan itu. Aku ingin balik ke moment itu. Mencegahmu pergi dariku, memintamu tinggal walaupun dengan resiko ditolak olehmu ... Maukah kau memberikan kesempatan itu, ... Dazya?


Sedangkan Daze, .. terus menatap Rathyan. Menelusuri setiap inci lekuk wajahnya yang sempurna. Menghayatinya, walaupun agak tertutupi oleh rambutnya yang panjang dan agak awut-awutan. Mata itu .. menempel ke dokumen di pangkuannya, tidak bergerak. Daze menghela nafas. Dia jadi bertanya, ... Apa yang dipikirkan Rathyan saat ini? Kenapa dia ... selalu membuat perasaannya tak karuan begini?

Rath--tahukah kau, .. bagaimana pengaruhnya dirimu terhadapku? Aku sudah berusaha .. berusaha mempercayaimu .. Hanya satu ucapan, satu ucapan saja darimu, aku akan percaya. Apapun yang kulihat itu, apapun yang kudengar itu, aku tidak ingin tahu. Aku hanya ingin mempercayaimu. Ingin memegang teguh perasaan ini. Aku berharap kau menyadarinya ...

Daze mengambil nafas dalam-dalam kemudian mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Menempelkan wajahnya di kaca yang agak berembun oleh udara dingin. Serpihan-serpihan salju masih diterbangkan angin kearah mobil mereka. Menghempas kaca jendela dan jatuh ke jalanan aspal yang sudah terselimut salju tebal. Dia merasa kedinginan. Perlahan dia merapatkan mantelnya dan menghembuskan nafasnya yang beruap. Mobil itu terus melaju, walaupun agak tersendat-sendat oleh timbunan salju, perlahan mencapai hotel Perth yang saat itu sudah buram-buram terselimut dewi malam.


ooooOoooo



Daze keluar dari mobil dengan dibukakan pintunya oleh sopir. Sedangkan Rathyan sudah keluar duluan dan melangkahkan kakinya mendahului mereka menuju lobi hotel Perth. Daze memandangi tuan Park yang hanya bisa tersenyum pasrah. Setelah itu mereka sama-sama memasuki hotel, mengikut di belakang Rathyan.

"Urus semuanya tuan Park!" Rathyan berbalik dan berhenti dengan sepasang tangan bersidekap di depan dada.

Langkah tuan Park tercekat. Dia terhenti dan menengadah kearah Rathyan. Sesaat kemudian dia tersenyum dan membungkukan badannya. "Ne, doronim .. " Kemudian pria kurus itu berjalan ke bagian concierge.

Sesaat tercipta kekakuan antara Daze dan Rathyan. Mereka tidak saling menatap. Daze meletakan ranselnya di atas koper, untuk kemudian menjatuhkan pandangannya ke lantai. Berlainan dengan Rathyan yang mendongakan kepalanya, menatap semu langit-langit hotel yang teramat tinggi.

Sekitar tujuh menit kemudian tuan Park kembali lagi. Dia mengulurkan sebuah kartu yang merupakan kunci hotel kepada Rathyan.

Rathyan menerimanya tanpa mengucapkan apa-apa, kemudian mulai melangkahkan kakinya.

"Doronim ... "

Tapi panggilan tuan Park menghentikan langkahnya. Rathyan menoleh dengan kaku. "What's up?"

"Satu kamar?" tanya tuan Park lambat-lambat.

Rathyan menghentakan kopernya ke lantai lalu berbalik menghadapi tuan Park. "Ne! Ada masalah?!!" tanyanya dingin.

Daze yang melihat itu, menatap kaku dari tempatnya. Kakinya yang tadi bermaksud dilangkahkan, tertunda. Sepertinya akan terjadi perang dunia ketiga .. , desisnya khawatir.

Tapi terlihat tuan Park melayani sikap liar Rathyan dengan tenang. Perlahan pria itu menundukan kepalanya, hormat. "Tidak, doronim .. hanya saja ... "

"Hanya apa?!!" bentak Rathyan.

"Pria dan wanita sekamar .. kayaknya .. tidak begitu baik ... ," ujar tuan Park pelan.

"Apanya yang kurang baik?!!" Rathyan menyeret kopernya sampai di depan tuan Park. "Dia sekretaris pribadiku. Dan ada yang ingin kudiskusikan dengannya berhubungan dengan rapat besok pagi, .. Apa itu bermasalah bagimu?!!!"

Tuan Park membuka mulut, lalu menghembuskan nafasnya. Dia tersenyum, akhirnya membungkuk sedalam-dalamnya, tanda menyerah. "Aniyo, doronim ... "

"Tunggu sebentar!" Daze yang sedari tadi diam saja, menyela. "Siapa yang sekamar?" tanyanya linglung. "Wanita? Bu .. bukan aku kan yang kalian bicarakan?"

"Apa masih ada wanita lain di sini?" celetuk Rathyan.

"Tapi .. " Daze membelalakan matanya. ".. kenapa begitu? .. Kenapa harus sekamar?"

"Apa kau tidak dengar jawabanku tadi?!" Rathyan balas bertanya. "Pakai baik-baik telingamu, Daze Han--Karena sebagai sekretarisku, kau harus punya kemampuan itu." Lalu dia mulai menyeret kopernya dari situ. "Dan satu hal lagi, .. " tiba-tiba dia berpaling, membuat Daze langsung melebarkan matanya bulat-bulat. "Aku paling tidak suka mengulangi apa yang telah kukatakan, cam-kan itu!"

"Ta .. tapi .. " Setelah keterkejutannya, Daze segera mengejar Rathyan. "Aku tidak ingin sekamar denganmu!"

Seruan itu sukses membuat Rathyan berpaling dengan kaku. "Kalau begitu, cari tempat sendiri! Tapi ingat, dalam waktu lima menit kau harus bergabung denganku di dalam kamar. Ada yang mesti kita diskusikan!"

"MWO?!!" Daze melonggo di tempatnya. Berniat membuka mulut buat protes , tapi segera terbungkam oleh jarak Rathyan yang semakin jauh darinya. "YAA!!" teriak Daze. Segera dia menyambar kopernya dan berlari mengejar Rathyan. Untuk terakhir kali dia menoleh dan mengangguk kecil pada tuan Park yang membalasnya dengan membungkukan badannya.

"YAA--berhenti!!!" seru Daze. "Tunggu saya!!" Sebentar kemudian sosok mereka menghilang dibalik lorong hotel.


ooooOoooo



Rathyan membuka pintu kamar 1503 dengan kartu di tangannya, kemudian melangkah masuk. Daze memberengut, agak ragu juga ketika melangkahkan kakinya ke dalam kamar.

"Benar-benar harus se-kamar?" tanya gadis itu kembali.

"Apa hal ini perlu dibahas lagi, Daze Han?" balas Rathyan dingin. Dia mendorong kopernya sampai menempel ke dinding, kemudian melangkah ke kamar mandi yang ada di situ. "Aku tidak masalah jika kau tinggal di hotel lain!!" serunya dari kamar mandi.

"Tapi harus siap dalam waktu lima menit, iya kan?!!" Daze balas berseru, dongkol. Sama saja bohong!!, dengusnya dalam hati. Bagaimana mungkin mengunakan waktu lima menit ke kamar ini? Sekalipun sehotel atau selantai sekalipun, tidak mungkin mencapai kamar ini dalam waktu sesingkat itu! Anak ini menyusahkan saja!!

"Itu konsekuensinya!!"

Rathyan keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut basah. Di lehernya tergantung sehelai handuk kecil, dan kemeja di bagian dadanya agak terbuka sampai setengahnya. Melihat itu, Daze segera membuang muka.

Seperti tak terjadi apa-apa Rathyan meneruskan langkahnya. "Kau mandi dulu, ... diskusinya kita lakukan nanti!" sambungnya datar. Dia melewati Daze, kembali ke kopernya. Mengeledah sebentar, lalu mengeluarkan beberapa helai baju yang kemudian digantinya begitu saja di depan Daze.

Sekali lagi Daze segera membuang wajahnya. Tindakan pemuda ini membuatnya kikuk setengah mati. Ketika melewatinya saja, Rathyan sudah membuatnya  grogi. Aroma cemara yang begitu kental itu menyebar sampai mengelitik hidungnya. Membuatnya berfantasi. Andai saja dia dapat merasakan aroma memabukan itu di tubuhnya, tapi ... oh tuhan, buang jauh-jauh pikiran itu!! Daze melebarkan matanya. Apalagi saat ini, pemuda sableng ini seenak perutnya membuka baju di depan matanya. Seolah memamerkan dadanya yang bidang berlapis enam, sampai perutnya yang rata tak berlemak. Daze segera memejamkan mata rapat-rapat dan mengeleng keras-keras. Tidak!!! Singkirkan bayangannya dari mataku!!

"Masih berdiri di situ?!"

Teguran Rathyan menyentak Daze. Segera saja dia membuka mata linglung. "Dhe?"

"Kau tak perlu membersihkan diri?" Rathyan mengerutkan alisnya. "Sudah jam berapa ini?"

"Sa .. saya .. ," ucap Daze bingung.

"Bergegaslah!" Rathyan mengibaskan tangannya, mengusir Daze buat bersih-bersih. "Aku akan mempersiapkan data-datanya dulu .. " Kemudian postur jangkung itu bergerak ke arah ranjang di mana tas kerjanya tadi dihempaskan.

Daze menghela nafas perlahan. Sepertinya pemuda ini memang tidak pernah tahu apa yang dipikirkannya ... Sesuai namanya--Rath si dingin? Mungkin ..., Daze tersenyum kecut. Dengan agak sempoyongan dia berjalan ke kopernya, mengambil beberapa helai pakaian kemudian beranjak ke kamar mandi. Bum!! Pintu kamar mandi itu dihempaskan olehnya.

Tanpa disadari Daze, Rathyan menoleh perlahan. Menatap nanar pintu yang terbuat dari kayu licin itu.


ooooOoooo



Drek,,

Rathyan mengangkat wajah dari dokumen yang sedang ditekuninya ketika  mendengar bunyi pintu dibuka perlahan. Daze keluar dari kamar mandi dengan tampang segar. Terbalut sweater tebal warna merah yang panjangnya di atas lutut. Rambutnya yang terpotong pendek masih meneteskan bintik-bintik air sedangkan sebuah syal panjang melilit lehernya. Langkah gadis itu agak tercekat begitu mendapati pandangan Rathyan terpusat padanya. Mereka terdiam dan saling menatap untuk beberapa lama. Tapi sesaat kemudian Rathyan segera menoleh ke arah lain dan menyambar secarik kertas yang segera disodorkannya pada Daze.

"Mwo?" tanya Daze linglung. Tapi walaupun begitu tangannya bergerak juga menerima kertas tersebut.

"Jadwal kita selama di Australia .. ," sahut Rathyan datar seraya mengalihkan perhatian kembali ke dokumen di atas pangkuannya.

"O--" Daze membuka mulut lambat-lambat untuk kemudian mulai menjelajahi daftar di tangannya. Ditelusurinya satu persatu list meeting yang sudah tersusun rapi, berikut tanggal dan waktu penyelenggaraannya. Perlahan tapi pasti alisnya berkerut dalam dan semakin dalam. "Besok malam terbang ke Sydney, ... dan empat hari kemudian .. dari situ langsung ke Aussie .. ?" Daze mengangkat wajahnya.

Rathyan menoleh, dan pandangan mereka segera bertemu.

Daze kembali menundukan kepalanya, dan menatap kaku daftar tersebut. "Begitu padat?" lanjutnya lirih.

Rathyan menutup dokumen dalam tangannya kemudian menaruhnya di atas meja yang berdempetan dengan ranjang. "Ne, .. ada masalah?" tanyanya sambil menarik dokumen yang lain.

Daze mengangkat kepala, menatap Rathyan. Dia berpikir .. Apa sebaiknya diceritakan saja rencana pernikahan Dave pada Rathyan? Meminta padanya supaya memberinya cuti sehari buat menghadiri pernikahan Dave? ... Mungkinkah anak ini tidak tahu apa-apa tentang kehidupan sahabat satu-satunya di Perth ini selama setahun terakhir ... apa dia melupakan pernikahan yang sudah dirundingkan dulu? Tapi ... apa jadinya jika dia sampai bertemu Carlson? Berpikir sampai di sini, Daze bergidik ngeri. Ada kemungkinan itu kan? .. Bukankah Carlson pernah bilang kalau dia sudah diundang dan akan berangkat ke sini bersama omma tiga hari kemudian? Daze segera mengelengkan kepalanya--semakin ngeri memikirkan kemungkinan-kemungkinan ini. Tidak! Jangan sampai mereka bertemu! Lebih baik Rathyan tidak tahu segalanya! Biar saja dia yang tidak hadir dalam acara pernikahan dongsengnya itu daripada kedua pria itu harus berbentrokan.  Entah apa jadinya jika sampai kedua pria itu bertemu. Apa yang mungkin akan mereka lakukan, terutama Rathyan?

"Ti .. tidak .. ," Daze menyahut lambat-lambat. Percuma mengutarakan maksud ini. Sedapat mungkin perang tidak perlu itu mesti dihindari! Rathyan dan Carlson tidak boleh bertemu! titik. Daze menghela nafas dan kembali mempelajari daftar di tangannya. Hatinya mencelos. Walaupun begitu ... dia begitu merindukan Dave. Ingin sekali bertemu dan memeluk dongsengnya itu, .. terutama si kecil Cherryl ... Sudah beberapa bulan, terasa lama sekali ... Mungkinkah dia mempunyai kesempatan itu? Meluangkan sedikit saja waktu di antara padatnya jadwal kerja di Australia ini? Dan ... matanya melebar ketika menemukan sedikit celah di antara jadwal yang sangat padat dalam daftar. "Setelah rapat besok siang, .. ada waktu beberapa jam yang tersisa sebelum keberangkatan ke Sydney .. ?" ujarnya pelan.

Rathyan kembali menoleh padanya. "Ne. Memangnya kenapa?"

"Eh--eeeh .. " Daze langsung bungkam. Mungkinkah ... mungkinkah dia bakal diijinkan jika ...

"Waktu beberapa jam itu sengaja disisihkan untuk ku pribadi!" celetuk Rathyan.

"Dhe?" Daze mengangkat dagunya.

"My private time!" tekan Rathyan. "Aku sengaja menyisihkan waktu itu buat melakukan sesuatu yang kusukai .. "

"Oh--" Daze membuka mulut lebar-lebar. Pupus sudah harapannya untuk minta ijin kembali ke rumah selama beberapa jam.

"Weeyo?" tanya Rathyan tajam.

Daze segera mengelengkan kepalanya, sambil mengigit bibir keras-keras. "Aniyo .. "

"Jika tidak ada, kau tidurlah!" tukas Rathyan dengan gaya mengusir.

"Mwo? Ta .. tapi .. ," Daze melirik dokumen-dokumen yang menumpuk di atas meja, kemudian ke beberapa lagi yang tergolek di atas kasur. "Persiapan buat meeting besok ... "

Rathyan meletakan dokumen di tangannya, lalu menyambar dokumen-dokumen dari atas ranjang, .. merapikannya untuk kemudian menaruhnya di meja. "Tinggal sedikit lagi ... "

"Dhe?"

"Persiapan untuk meeting besok!" jawab Rathyan tidak sabar. "Saya hampir menyelesaikannya! Jadi kau tidak usah repot. Tidurlah!"

"Kau sendiri gimana?" tanya Daze pelan. "Kapan tidur?"

Rathyan dan Daze saling berpandangan. "Limabelas menit lagi .. ," jawab Rathyan akhirnya.

"Jinja?"

"Ne!" sahut Rathyan. "Jadi tidurlah!" katanya sambil mengibaskan tangannya.

Daze mengangguk. Perlahan dia menjatuhkan diri di atas ranjang. Menyelimuti badannya kemudian mulai memejamkan mata sambil membuang jauh-jauh apa yang berkelayut dalam pikirannya. Dia merasa capek .. sangat capek ...


ooooOoooo



Daze membuka mata perlahan. Dan hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah punggung Rathyan yang masih duduk dalam posisi membelakanginya. Alis Daze berkerut, kemudian dia melirik jam kecil yang terletak di atas meja dekat ranjang. Sudah pukul 1 lewat 25 dini hari. Dia belum tidur juga? Tadi katanya tinggal sedikit lagi, tapi ini .. sudah lewat dua jam … Daze segera memejamkan mata begitu menangkap gerakan halus dari Rathyan. Dia mendengarkan dengan seksama, … suara dokumen yang diletakan di atas meja, setelah itu sunyi.

Rathyan merentangkan tangannya kemudian mengerak-gerakan kepalanya dalam upaya melemaskan otot-ototnya yang terasa tegang dan penat. Setelah itu, dilepasnya kacamatanya lalu ditaruh di dalam kotak kecil yang diambil dari tas yang menyampir di kepala ranjang. Dia menghembuskan nafas perlahan lalu bangkit dari posisi duduknya. Untuk sesaat dia mengamati sosok yang terbaring di atas ranjang, agak merapat di dinding. Sekali lagi dia menghembuskan nafasnya lalu beranjak ke meja teh yang berada di ujung kamar itu. Jendela-jendela dari kaca besar memperlihatkan pemandangan kota Perth yang lagi tidur lewat situ. Lampu-lampu kecil berkerlap-kerlip tinggi di antara tiang-tiang jalan, begitu juga pagar-pagar rumah. Rathyan mengambil teko kecil dari nampan yang tersedia di atas meja lalu menuang secangkir teh. Diseruputnya teh tersebut sampai habis. Dia meleletkan lidah, .. huekk—teh itu sudah sangat dingin, … decaknya jijik.

Kemudian dia menghempaskan tubuh di sofa pendek dan melemparkan pandangan ke luar jendela. Salju masih turun walaupun tidak selebat beberapa jam yang lalu. Hanya lima menit Rathyan duduk dalam posisi itu, lalu dia bangkit dan beranjak kembali ke ranjang. Lagi-lagi diamatinya paras ayu yang 'dikiranya' tertidur lelap di atas ranjang. Dia bergerak pelan dan memperbaiki selimut yang agak tersingkap dari tubuh gadis itu, menyelimutiya.

Rathyan menghela nafas untuk kesekiankalinya. Apa yang diinginkannya saat ini, .. sungguh dia tidak tahu ... semua terasa tidak nyata, .. sangat samar ... Tangannya ingin mengapai, tapi … Gadis ini berada di hadapannya, .. bersamanya--'karena keterpaksaan’ .. Secara langsung atau tidak langsung, dia yang memasang 'perangkap' ini … Dia yang memberi perintah pada Nona Kim untuk memesan 'satu kamar VIP' buatnya dan--Daze .. Agak memaksa? Ya, dia tahu. ... jadi, apakah yang diinginkannya dengan rencana ini? Membuat Daze tinggal di sisinya??--selalu--???? Rathyan mengeleng dengan mata terpejam. Sekali lagi, DIA TIDAK TAHU.

Rathyan menghembuskan nafasnya yang beruap. Menengadah ke langit-langit kamar sambil membaringkan tubuhnya di sisi ranjang. Suasana terasa sunyi dan mati. Dingin, .. itu yang sangat terasa saat ini. Perlahan dia menarik selimut di sampingnya dan menyelimuti tubuhnya dengan berhati-hati agar tidak membangunkan Daze dari tidurnya. Tapi ketika dia menoleh, disadarinya gadis itu sudah menatapnya dengan pandangan redup. Rathyan melebarkan mata perlahan-lahan.

“Kau ….. “

“Kenapa membohongiku?” Daze menyela.

“Mwo?”

“Kau bilang tinggal sedikit lagi, .. tapi lihat, sudah jam berapa sekarang?”

Rathyan segera membuang muka kearah lain. "Saya tidak bohong! .. Hanya tidak tahu .. bakal selarut ini!"

"O ya?" selidik Daze. Dia tidak percaya. Pemuda ini pasti berbohong .. jika tidak, dia tidak perlu membuang muka seperti itu.

"Kau juga!" Rathyan menolehkan kepalanya kembali. "Kenapa tidak tidur?!" tegurnya tajam.

"Saya sudah tidur .. ," sahut Daze. "Tapi terbangun kembali dan mendapatkanmu masih sibuk dengan 'pekerjaan' yang katamu 'tinggal sedikit' itu .. "

"Huhh--" Rathyan mendengus. "Itu bukan urusanmu!" sahutnya ketus. "Lagipula, ... sekalipun kuminta kau temani, apa yang bisa kau perbuat untuk ku??!! Apa kau bisa mengurus dan memberi masukan buat rapat-rapat nanti?!!"

Daze mendesah, "Tidak .. ," jawabnya pelan dengan raut menyesal. "Mianata .. "

Rathyan segera menjauhkan pandangannya. "Sudahlah. Kau--tidurlah kembali!" Setelah itu dia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur. Walaupun dia yakin malam ini tidak bakal tidur nyenyak tapi dia berusaha mengosongkan pikirannya, .. melupakan gadis yang tidur begitu dekat di sisinya. Tidak boleh! Dia tidak boleh memikirkan apapun tentang Daze, .. kalau tidak--dia pasti akan melakukan kesalahan! Kesalahan fatal yang setahun yang lalu begitu dijaganya.

"Rath ... ," terdengar Daze memanggilnya, .. sangat lirih. Pandangan gadis itu menerawang ke langit-langit kamar.

"Hmm--" Rathyan membuka matanya kemudian menoleh perlahan-lahan. Namun dia tidak mengucapkan apa-apa.

"Kejadian di hotel Seoul waktu itu ... ," mulai Daze sambil menoleh dan bertemu dengan pandangan Rathyan.

"Aku tidak ingin membahasnya!!" tandas pemuda itu tiba-tiba.

"Aku memilih percaya padamu!!" sela Daze, memutus pernyataan keras Rathyan.

Sesaat keheningan menyelimuti mereka. Sepasang mata saling menatap dalam diam, ... berusaha menguras apa yang berkecamuk dalam perasaan masing-masing. Rathyan mengatupkan mulutnya yang tadi sempat dibuka untuk protes. Perkataan yang bermaksud dikeluarkannya terkunci rapat-rapat bersama terbungkamnya mulutnya itu. Sedangkan Daze--meremas kepala selimut yang membalut tubuhnya untuk kemudian memutuskan untuk meneruskan perkataannya yang tertunda.

"Walaupun apa yang kulihat dan kudengar kedengarannya sangat mustahil, .. tapi ... aku percaya ... "

"Kau .. percaya padaku?" tanya Rathyan lambat-lambat.

"Ne!" tukas Daze yakin.

Lalu .. raut Rathyan yang ragu-ragu tiba-tiba mengeras. "Gentwee, wee?" tanyanya tajam. "Apa yang menyebabkanmu berubah? .. Apa kau takut aku akan mempersulitmu?" Dia tersenyum sinis. "Kau tak perlu melakukan itu, Daze Han!--karena aku tidak semunafik itu!!"

"Anhi!" Daze mengeleng seraya mengigit bibirnya. Dia jadi bertanya-tanya, bagaimana caranya membuat pemuda ini percaya? Sulit sekali rasanya kalau harus berkomunikasi dengannya. "Karena aku ingin percaya!" tandas Daze keras dan tegas. "Karena aku sadar .. ," suaranya perlahan memelan. " .. kepercayaan itu sudah ada sejak dulu, .. Hanya saja .. tidak kusadari .. "

Rathyan menatap Daze dengan sorot mata meredup. Perang batinnya berkata, Seharusnya dia memberi kesempatan pada hubungan mereka. Seharusnya dia tidak sekeras ini terhadap Daze. Lagipula, bukankah dia juga mengharapkan perubahan ini? Tapi, di saat yang lain sebuah suara yang sangat angkuh menyeletuk, Apa yang diberikan gadis ini padanya selama setahun ini selain kepedihan dan penderitaan? Sementara dirinya sudah berkorban begitu banyak, .. melakukan banyak hal hanya untuk melihatnya bahagia ...

"Rath .. ," panggilan Daze terdengar menyayat.

Rathyan membuka mulut dan menghembuskan nafasnya ke udara. Uap-uap tipis yang terbentuk langsung membeku saking dinginnya suhu di kamar itu. Harga diri--apakah itu begitu penting? Segitu pentingnya sehingga harus dipertahankan? Sementara dia tahu dan sadar keangkuhan itu sendiri hanya mendatangkan petaka? [/b]Apa susahnya mengucapkan satu kata, Rathyan Jang!![/b] rutuknya dalam hati. Lalu dia menoleh pada Daze. Sanggupkah dia melihat tatapan sendu ini--sekali lagi?

Rathyan mengangkat tangan perlahan, menyentuh wajah Daze yang agak pucat, lalu mengelusnya pelan. "Aku ingin menekankan padamu--aku tidak melakukannya. Jenny--tidak berarti bagiku. Dia hanya orang asing!"

Daze mengangguk. "Aku percaya .. ," desahnya pelan.

Lalu ... semua terjadi begitu saja. Rathyan merapatkan badannya pada Daze, agak sedikit mengangkat kepala dia mendaratkan bibirnya ke bibir gadis itu ... melumatnya dengan pelan. Tangan kanannya melingkar ke balik leher jenjang dan mulus itu, menariknya kearah dirinya sehingga dada mereka saling menempel dengan ketat. Degup jantung terasa jelas, berdebar sangat keras.

Daze mendesah. Dia membuka bibir kemudian membalas lumatan-lumatan Rathyan. Tubuhnya menegang, .. dia begitu mengharapkan ciuman dari pria ini, setiap jengkal sentuhannya mampu membuat pikirannya melayang ..  menginginkannya sampai mati. Daze mengayutkan lengannya ke leher Rathyan dan menekannya sampai bibir mereka tenggelam satu sama lain. Tubuh mereka saling bergesekan sehingga menimbulkan suara-suara berisik dari pakaian dan sweater yang mereka kenakan. Lambat laun ciuman mereka menjadi makin panas, saling melumat dan memberi dalam gairah. Desahan dan rintihanpun terdengar, apalagi ketika Rathyan mulai menurunkan tangannya dan menyisipkan ke balik sweater yang dikenakan Daze. Diremasnya bukit dada gadis itu yang masih terbalut bra. Daze agak tersentak.

"Ah--Rath ... ," desisnya lirih.

"Emm--," balas Rathyan.

Bibir mereka terus bertaut, begitu bergelora dengan sesekali diiringi gerakan memelintir dari lidah dalam mulut masing-masing.

Tangan Rathyan menurun semakin ke bawah. Dari dada Daze, beralih ke perut dan .. makin ke bawah, ... sampai dia menyentuh sesuatu yang membuat Daze terlonjak kaget. Diremas dan ditekannya bagian tersensitif itu.

"Rath!! Oh--"

"Hmm--" Rathyan menurunkan ciumannya ke leher, mencetak bercak-bercak merah di sana, kemudian kembali lagi ke bibir, .. disesap dan disedotnya bibir gadis itu. Kemudian, perlahan tapi pasti, disingkapnya sweater yang dikenakan Daze, membuka kemudian mencampakannya ke lantai. Sekarang Daze hanya terbalut bra dan celana panjang yang masih melekat di tubuhnya. Kemudian tangannya bergerak untuk melepas celana gadis itu.

"Kamu yakin?" tanya Daze lirih dibalik nafasnya yang memburu. Matanya redup menatap penuh hasrat.

Pertanyaan ini membuat Rathyan menghentikan gerakan tangannya. Sesaat tubuhnya membeku. Ditatapnya Daze dalam-dalam. Seperti disadarkan akan sesuatu, tiba-tiba dia menarik selimut dari ujung ranjang sampai menutupi seluruh tubuh Daze yang sudah setengah polos.

"Tidurlah!" kata Rathyan dengan nada serak.

"Wee .... ?" tanya Daze, suaranya terdengar bergetar. Dia mengangkat tangan dan menyentuh wajah Rathyan, namun segera ditebis oleh pemuda itu.

"Jangan banyak tanya! Tidurlah!!"

Lalu Rathyan segera memutar tubuh ke samping dan memejamkan matanya. Membiarkan Daze yang masih memandanginya dengan sorot mata bingung, ada apa lagi dengannya?, tanya gadis itu dalam hati. Daze menghela nafas. Sepertinya percuma bertanya lebih lanjut. Pemuda ini pasti tidak akan menjawabnya. Daze lalu memejamkan matanya, berusaha untuk melupakan apa yang terjadi barusan.

"Aku ... juga .. ingin mempercayaimu ... " Rathyan mendesis pelan.

Daze kembali membuka matanya, menoleh pada Rathyan. "Dhe?"

"Aku .. juga berusaha .. untuk percaya .. ," jawab Rathyan tanpa membuka matanya. Masih dengan nada pelan dia melanjutkan. "Masih terasa sulit .. tapi .. aku akan berusaha .. Kau--mau menungguku, kan?" Perlahan dia membuka mata dan menoleh pada Daze. Matanya bersinar redup.

Daze tersenyum. "Ne ... ," ujarnya halus.

Rathyan menatapnya kemudian mengangguk. Sesaat kemudian seulas senyum tipis tersirat di wajahnya. Dia bergeser ke arah Daze. Sedikit mengangkat kepala, dia mendaratkan bibirnya di jidat gadis itu, mengecupnya dalam-dalam.

"Tidurlah!" ujarnya setelah itu.

Daze tersenyum, .. sambil melingkarkan tangannya ke tubuh Rathyan, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, memejamkan mata dan mendengarkan dengan seksama setiap degup jantungnya yang terasa berirama di telinganya, seperti nyanyian dari surga ... begitu menenangkan dan dalam sekejap sudah membawanya ke alam tidur. Bermimpi yang sangat indah.

 
ooooOoooo



Rapat yang dilakukan pihak Max-Global mengenai rencana kerjasama pengeluaran ponsel terbaru MaxSun dengan LiveSun Electric dilakukan esok harinya, dan berlangsung sekitar dua jam. Garis besar yang telah disusun dalam proposal yang dibuat dalam representasi yang dilakukan, seperti masalah pendesainan, bahan-bahan yang akan digunakan, biaya dan waktu pengeluaran beserta hal-hal terkecil disepakati dengan baik. Tidak banyak pertentangan yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Penandatanganan dilakukan dalam waktu singkat dan hasilnya cukup memuaskan.

Pukul 10—Rathyan, Daze dan tuan Park keluar dari gedung LiveSun. Tujuan mereka selanjutnya adalah gedung fashion Perth. Di sana akan dilangsungkan fashion show yang mau tidak mau harus dihadiri Rathyan. Pemegang trademark terbesar ‘Channel’ mengundang Max-Global sebagai tamu VIP-nya.

Selama acara fashion show berlangsung, Rathyan menolehkan kepalanya berulangkali, terlihat malas dan bosan. Namun sekuat tenaga ditahannya. Dia tidak boleh terlihat tidak hormat pada tuan rumah yang telah begitu baik hati mengundang mereka. Apalagi sampai tertidur ...

Dalam acara tersebut hanya satu hal yang menarik perhatian Rathyan, .. yaitu ketika dia menolehkan kepalanya melihat Daze begitu menikmati acara ini. Ekspresi gadis itu membuatnya betah. Waktu beberapa jam berlalu tanpa terasa.


ooooOoooo



"Kita lunch dulu, tuan Park!" perintah Rathyan pada tuan Park begitu keluar dari gedung fashion Perth.

"Ne .. ," sahut tuan Park. Lalu dia memberi perintah kepada pak sopir untuk membawa mereka ke restoran terdekat.

Mereka menghabiskan lunch di sana selama satu jam. Waktu sudah menunjukan pukul 2 siang ketika keluar dari restoran.


ooooOoooo



"Selanjutnya kemana, doronim?" tanya tuan Park sambil menoleh ke jok belakang.

Saat itu mobil yang mereka tumpangi sedang melaju di jalan raya, membelah dan mengikis lapisan-lapisan salju yang menutup sepanjang jalan.

"Kembali ke hotel. Saya ingin ganti baju dulu!" sahut Rathyan.

"Ne .. "

Begitu ada perintah dari Rathyan, mobil memutar haluan, kembali ke hotel Perth.


ooooOoooo



Daze melihat jam tangan kulitnya. Setengah jam berlalu sudah sejak perintah dari Rathyan buat menunggunya di halaman parkir hotel bersama tuan Park. Kemana perginya anak itu? Katanya cuma ganti baju, .. kenapa selama ini? Daze mengerutu. Dia berpaling pada tuan Park dan mengangkat alisnya. Tapi asisten pribadi itu hanya memberi reaksi dengan mengangkat sepasang tangannya, tidak tahu.

"Huh--" Daze menghembuskan uap ke udara. Suhu di sekitar situ semakin dingin. Agak mengigil dia merapatkan mantel panjangnya, beserta menaikan kerah sweaternya ke atas, menutupi lehernya yang sedikit terbuka.

"Daze-ssi ... , doronim .. "

Perkataan tuan park membuat Daze mengalihkan perhatiannya. Dia melihat kearah yang ditunjuk pria itu. Sebuah sosok jangkung terlihat melangkah keluar dari pintu utama lobi hotel. Kepala orang itu tertunduk ke lantai. Tubuh panjangnya terbalut kemeja kotak-kotak merah yang tertutupi oleh mantel panjang warna hitam. Celana belel ketat berwarna coklat gelap membalut ketat sepasang kakinya yang jenjang, sedangkan sepasang tangannya terselip ke dalam saku mantel yang dikenakannya.

"Doronim .. " Tuan Park membungkuk hormat pada Rathyan.

"Hmm--" Rathyan membalasnya dengan dingin.

Dia berpaling pada Daze yang segera membuang muka ke arah lain. Sungguh, penampilan Rathyan membuatnya kikuk. Pemuda ini terlihat begitu mempesona dengan dandanan casualnya.

"Kita pergi ke suatu tempat .. ," kata Rathyan pada Daze.

"Dhe?" Gadis itu berpaling padanya.

Namun Rathyan tidak berkata lebih lanjut. Dia merogoh ke dalam saku celana dan menyodorkan secarik kertas kecil pada tuan Park.

"Tiga jam kemudian jemput aku di alamat ini .. "

"Dhe, doronim?" tanya pria itu tidak mengerti.

"Kau tak perlu ikut dengan kami!" sahut Rathyan sambil menyambar tangan Daze agar mengikutinya. "Kacha!" katanya pada Daze, lalu berbalik lagi pada tuan Park. "Tunggu aku di sini sampai tiga jam kemudian .. ," lanjutnya, tanpa berpaling pada lawan bicaranya itu. "Sekitar jam enam, jemput aku di alamat yang kuberikan padamu ... "

"Tapi doronim .. "

"This is an order, mr. Park!!"

Terakhir, tuan Park hanya bisa mengangkat tangannya menyerah. "Ne .. "

"Ki .. kita mau kemana?" tanya Daze gugup, sambil bersusah payah mengimbangi langkah Rathyan yang terlalu lebar.

"Ke suatu tempat!" sahut Rathyan tegas.

"Iya, .. jadi kemana?"

"Kau berisik sekali!" dengus Rathyan. Tidak memberi kesempatan Daze untuk berkata lebih lanjut, dia menghentikan sebuah taxi yang melintas di depan mereka. "Nanti kau juga tahu sendiri!"


ooooOoooo



Taxi memasuki halaman sebuah bangunan yang cukup luas sekitar duapuluh menit kemudian.

"Di sini?" tanya Daze sambil melayangkan pandangannya ke arah bangunan itu, .. sebuah bangunan bercat putih yang hambar, tidak ada yang menarik dilihat dari luar. Sebuah papan nama besar dengan huruf bercorak aneh bertengger di atas pintu otomatis dari kaca yang lebarnya mencapai beberapa kali ukuran pintu yang sebenarnya.

"R&G Studio?" Daze kembali menyuarakan keheranannya.

Rathyan tidak menyahut. Setelah membayar ongkos taxi, dia keluar dari mobil. Kemudian agak membungkuk dia memutar badan ke arah Daze, .. mengerakan tangannya mengajak keluar. "Kacha!"

"Dhe?" Mata gadis itu membulat, tanpa memberi tanda akan keluar dari mobil.

"Turun!" perintah Rathyan tidak sabar. Dia berdecak dan menarik tangan Daze. "Ada yang ingin kutunjukan padamu!"

"A .. apa?" tanya Daze, mulai mengerakan kakinya.

"Nanti juga tahu sendiri!" ucap Rathyan.

Setelah mengoyang-goyangkan kepalanya, Daze hanya bisa pasrah mengikuti Rathyan masuk ke dalam bangunan di depan.


ooooOoooo



Daze tertegun .. apa yang dilihatnya dari bangunan ini sungguh berbeda jauh dari apa yang dibayangkannya. Begitu pintu terbuka, hawa hangat dari perapian kuno di ujung ruangan langsung menyambutnya, menimbulkan perasaan yang--sungguh aneh, perasaan nyaman yang teramat betah. Daze juga tidak mengerti mengapa dia memiliki perasaan ini.

Sesaat dia mengelilingi seisi ruangan dengan pandangannya, .. lukisan-lukisan beraneka ragam, dari yang abstrak, minimalis, modern, sampai lukisan pemandangan tergantung di dinding bercat putih. Beberapa di antaranya terdapat lukisan kuno, sementara sebagian lagi kelihatannya bikinan sendiri. Begitu juga beberapa corak pajangan antik yang terlihat unik tertata rapi di atas meja-meja yang dilapisi kaca. Ada sekitar lima buah sofa lengan berbentuk bundar telur dengan warna merah menyala terletak di beberapa sudut ruangan. Alis Daze berkerut. Perlahan pandangannya dialihkan pada Rathyan.

"Tempat apa ini?" tanyanya ingin tahu.

Pemuda itu tidak menjawab, menolehpun tidak. Perhatiannya seutuhnya tertuju ke depan.

"Hoy--" Daze menyenggol lengan Rathyan.

Namun pemuda itu tetap tidak menunjukan reaksinya, apalagi mengubris teguran-teguran Daze. Alis gadis itu bertaut semakin dalam, .. lalu dia menoleh--mengikuti pandangan Rathyan. Seorang pria berpostur sedang dengan rambut keriting pirang yang sangat lebat tampak berjongkok di depan perapian. Rupanya sosok ini yang sudah menyita perhatian Rathyan sejak tadi.

"Rath .. ," tegur Daze.

Rathyan segera mengangkat tangan memberi isyarat supaya Daze diam. "Tunggu sebentar!" Lalu dia bergerak ke arah orang itu. Daze memberengut dan terpaksa mengikuti langkahnya.

"Gracielo!!" Rathyan menepuk pundak pria itu.

Brakk, kayu bakar yang sedang dipegang orang itu terjatuh ke dalam perapian. Dia berpaling dengan cepat. "Rathyan Jang!!!" serunya kaget. Sepasang mata abu-abu itu terbelalak lebar. "Oh my god,, How? .. How .. can .. you ... " ujarnya tergagap-gagap.

Sebelum perkataannya habis, Rathyan memutusnya. "I'm back for awhile .. "

"Yea?"

Rathyan menganggukan kepalanya. "Sorry for leaving without words .. but, I got a little business outside .. "

"A little business?" Gracielo bangkit dari posisinya dan menatap Rathyan dengan pandangan menyelidik. "What's that? I was really worried about you, man. Did you forget your babe already?"

"No ..," Rathyan menyengir. "I knew you will keep them very well .. "

"Would you take them back?" tanya Gracielo.

Rathyan mengangkat bahunya. "I'm not sure. Maybe .. but, i'm so busy now .. "

"Back to your world, man?" Gracielo tertawa ngakak. "I thought the art is everything for you .. " Kemudian pria itu melirik Daze yang agak tersembunyi di belakang Rathyan, .. mengamatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu berbalik lagi sampai berhenti di wajah Daze. "Look! Who is this?" dia berpaling pada Rathyan. "Your girlfriend?"

Rathyan tersenyum lebar. Tanpa memberi kepastian pada pertanyaan Gracielo, dia menjawab, "This is Daze .. "

Gracielo mengangkat tangannya. "Hy dear,--" ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Daze. "Gracielo Gonzales ... "

Daze menyambutnya sambil tersipu malu-malu. "Daze Han ... "

"I don't know you like this style ... ," celetuk Gracielo tiba-tiba.

Rathyan tertawa lebar, sampai-sampai Daze mengangga melihatnya.

"You don't know a lot of thing of me .. "

"O--yea?" ledek Gracielo. Ditepuknya lengan Rathyan keras-keras. Perhatiannya baru teralih setelah seseorang memasuki ruangan. "Ups, sorry guys. We have a customer ... "

Rathyan mengangkat tangannya. "That's okay .. We will be around by ourself .."

"I will see you later, Rath. All of your babe were in another room at second floor .. "

"Okay, thank you .. "

Rathyan lalu meraih tangan Daze. "Ayo ke atas .. "

"Ada apa?"

"Nanti saja kutunjukan .. "

Daze mengangkat bahunya kemudian mengikuti Rathyan menaiki anak tangga di bagian paling ujung ruangan itu menuju lantai atas.


ooooOoooo
« Last Edit: April 03, 2011, 12:19:44 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
"Di sini juga banyak lukisan?!!" seru Daze takjub.

Rathyan berdeham pelan, terus menatapnya tanpa berkedip. Senyuman tersungging di bibirnya yang lembab.

"Tapi .. ," Daze berbalik padanya. "Tempat apa ini? Milik si Gracielo itu?"

"Ini duniaku!"sahut Rathyan sambil mengalihkan pandangan ke salah satu lukisan yang tergantung di depan.

"Ne?"

"Aku mengenal Gracielo sekitar dua bulan setelah kedatanganku ke sini, satu setengah tahun yang lalu .. ," Rathyan kemudian berbalik kembali pada Daze. "Dia pelukis jalanan.... "

"Dhe?" Daze melebarkan matanya.

Rathyan mengangguk. "Aku melihat bakat alam darinya .. Lukisan-lukisannya menceritakan kehidupan, mempunyai ciri khas tersendiri. Aku merasa sangat disayangkan kalau disia-siakan begitu saja makanya aku memutuskan menyalurkannya lewat galeri ini. Selain itu, tentu saja juga karena kecintaanku pada seni ... " lalu dia mengalihkan pandangan ke depan. "Gracielo keturunan Spanyol-Amerika. Orangtuanya meninggal ketika dia masih kecil. Setelah itu dia berjuang sendiri. Dia sangat menyukai seni lukis sehingga memutuskan menjadi pelukis jalanan setelah tamat sekolah dasar. Semua itu karena dia tidak punya uang. ... Aku berkenalan dengannya hmm--Aku masih ingat waktu itu, hujan yang sangat lebat mempertemukan kami. Semua lukisannya rusak berat dan dia mengumpat-ngumpat. Aku mendapati kalau lukisan-lukisan itu sangat istimewa, lalu kami berkenalan dan menjadi akrab. Sebulan kemudian kuputuskan membuka sebuah galeri, tapi aku tidak mempunyai waktu mengurusnya, makanya kuminta Gracielo untuk mewakiliku ...." Rathyan mengedarkan pandangannya berkeliling. "Dia mengurus galeri ini dengan sangat baik .. ," katanya mengangguk-angguk puas.

"R&G--Rathyan and Gracielo .. ," ucap Daze lirih.

Rathyan menoleh padanya. "Tahu apa maksud dari semua ini?"

Daze mengeleng perlahan. "Aniyo .. "

"Karena setiap seniman harus punya dunia sendiri .. ," jawab Rathyan. "Tidak terkecuali aku. Aku berharap suatu saat dapat menjalankannya dengan tanganku, .. hidup dan berjuang buat duniaku .. "

"O--" Daze mengangguk-anggukan kepalanya lalu tersenyum. Selanjutnya dia berpaling ke depan, mulai mengamat-amati lukisan-lukisan yang tergantung di dinding.

"Semua lukisan di lantai ini hasil tanganku ... ," ujar Rathyan pelan setelah diam beberapa saat.

"Jeongmal?" Daze berpaling sambil membulatkan matanya.

"Ne. Kau tidak percaya?" tanya Rathyan tanpa menoleh padanya.

Daze tersenyum. "Anhi. Bukan begitu maksudku .. ," kemudian dia berbalik kembali ke depan. Ini dunia Rathyan, ujarnya dalam hati. Lalu dia tersenyum puas. Ya, setelah sekian lama akhirnya ada juga yang diketahuinya tentang pemuda ini. Setelah sekian lama akhirnya Rathyan mau juga berterung-terang padanya. Walaupun cuma sedikit tapi Daze berjanji akan berusaha memahaminya. Aku ingin masuk ke dalam duniamu ..

"Aku pernah menjanjikan padamu .. ," ujar Rathyan tiba-tiba.

"Dhe?"

Rathyan menoleh padanya. "Membawamu ke pameran-pameran yang sering kuhadiri." Dia beralih ke depan. "Dan .. ini salah satunya .. "

"O--" Daze membuka mulut dan menyunggingkan senyumnya. Lalu dia mulai melangkahkan kaki ke sisi lain ruangan itu. Dia berhenti begitu sesuatu menarik perhatiannya. Sekilas 'sesuatu' itu terasa tidak asing. Daze menoleh dan mendapatkan bahwa benda itu sungguh-sungguh pernah dilihatnya. "I .. ini .. ," katanya terbatah-batah sambil menunjuk lukisan di sebelahnya.

"Ne?" tanya Rathyan datar. Langkahnya dihentikan di belakang gadis itu.

"Lukisan ini ... lukisan yang waktu itu .. berada di kamar Dave ... "

"Eh--?" Rathyan menengok ke arahnya.

"Wanita itu .. aku kan?" tanya Daze sambil berpaling lambat-lambat.

"Jadi kau yang mengeledahnya?"

"Eh--?" Sekarang gantian Daze yang memandangi Rathyan dengan penuh tanda tanya. "Maksudmu?"

"Orang yang mengeledah lukisan-lukisan dalam kamar Dave!" ucap Rathyan. "Aku sudah merasa kalau lukisan-lukisan itu pernah diusik orang .. Bukan Dave karena dia tidak pernah melakukannya. Dia tahu bagaimana berartinya lukisan-lukisan itu bagiku dan aku akan murka kalau ada orang yang berani menyentuhnya. Dan ternyata perasaanku benar .. "

Daze membuka mulut. Namun sesaat kemudian dia menunduk. "Mian ... " Hanya berjarak beberapa detik dia mengangkat kepala kembali. "Gentwee, .. wanita dalam lukisan itu benar aku kan?" tanyanya keras kepala.

Beberapa saat kemudian mereka saling berpandangan. Dave menatap dengan raut menuntut. Sedangkan Rathyan merapatkan gerahamnya lalu berdeham pelan. Pandangannya dialihkan dengan kaku.

"Ayo ke sana!" kata pemuda itu tiba-tiba. Tangannya menyambar pergelangan tangan Daze dan menariknya. "Ada yang ingin kutunjukan!"

"Yaa--kau belum menjawab!" protes Daze. Tapi percuma saja karena Rathyan sudah 'agak menyeretnya' ke tempat yang dia maksud.

Mereka berjalan sampai di sebuah lukisan dekat jendela.

"Lihat ini!" kata Rathyan sambil menunjuk ke depan. "Menurutmu bagaimana? Apa artinya?"

Daze memajukan bibir ke depan. Dengan malas dia berpaling ke depan. Sebuah lukisan abstrak terhampar di depan matanya sekarang. Lukisan yang hanya berupa gumpalan-gumpalan cat putih dengan coretan gambar hati di ujung paling atas. Gambar hati itu berwarna merah darah, sedangkan bagian paling bawah ada gumpalan-gumpalan cat kuning oranye yang mirip kobaran api.

"Hanya sebuah lukisan .. ," jawab Daze datar.

"Hanya sebuah lukisan?" Rathyan mengenyitkan alisnya. Hanya sepersekian detik kemudian dia tersenyum. "Ne, hanya sebuah lukisan." dia mengangguk pendek. "Tapi .. tahukah kau, ada makna penting dibaliknya?"

"O ya? Apa itu?" tanya Daze, kelihatan mulai tertarik.

"Hati perlambang hati, tentu saja. Perasaan yang tidak gampang diraih. .. Akan sulit menebak perasaan orang ... " Lalu Rathyan menunjuk gumpalan-gumpalan cat putih yang diapit antara gambar hati dan gumpalan cat kuning oranye yang mirip kobaran api. "Putih artinya polos, tidak ternoda oleh apapun .. sedangkan cat oranye di bawahnya perlambang kemurkaan ... " Dia berpaling pada Daze. "Saya ingin menekankan di sini, bahwa batas antara hati dan amarah adalah suci ... Apapun kemurkaan itu, semuanya berawal dari kepolosan dan hati yang sulit diselami .. "

"Kau ... , ingin mengambarkan tentang hubungan kita?" tanya Daze lambat-lambat.

Rathyan mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu apa yang ingin kugambarkan lewat lukisan ini, tapi--yang jelas .. lukisan ini kubuat waktu pertentangan perasaanku tentang hubungan kita di depan orangtua-mu .. "

"Rath .. ," desah Daze lirih. Begitu perihnya kah perasaanmu saat mendapat umpatan-umpatan dari omma?

Rathyan memutar badannya. "Apapun itu .. semua sudah berlalu . . ," katanya sambil melangkah dari situ.

"Tapi aku ingin tahu lebih banyak tentangmu .. ," desak Daze sambil berlari-lari kecil di belakangnya. "Rath .. cerita lagi ya?"

"Masih ada waktu untuk itu . . ," ujar pemuda itu.

"Rath!!"

Rathyan tidak memperdulikannya. Pemuda itu terus melangkah menuruni anak tangga dengan sepasang tangan terselip di saku mantelnya. Tenang dan tidak terpengaruh. Tapi tanpa sepengetahuan Daze, senyum tipis tersungging di bibirnya.


ooooOoooo



Rathyan dan Daze keluar dari studio R&G sekitar dua setengah jam kemudian. Tuan Park sudah menunggu mereka di samping sebuah mobil perak yang terparkir di depan galeri itu. Rathyan berjalan kearah pria itu dan melempar sebuah gumpalan kertas kecil di tangannya.

"Ke alamat itu!!" serunya sambil membuka pintu dan memberi jalan buat Daze masuk ke dalam, setelah itu dia sendiri menghempaskan tubuhnya di sebelah gadis itu.

Tuan Park membuka gumpalan kertas tersebut, lalu mengangguk pendek. Diberikannya kertas tersebut pada pak sopir dan sebentar kemudian mobil itu meluncur keluar dari area galeri.
 

ooooOoooo



Mobil yang membawa Rathyan, Daze, beserta tuan Park melaju di jalan raya. Melewati beberapa jalan kecil yang diapit pohon-pohon cemara di kedua sisinya, lalu mulai memasuki area-area yang tidak begitu asing bagi Daze.

"Bukankah kita akan ke bandara?" tanya Daze pada Rathyan. "Kenapa ambil jalan ini? Lagipula ... " Perkataannya memelan ketika pemandangan luar yang tertangkap olehnya semakin akrab. Sepertinya dia sudah sangat mengenal tempat-tempat ini. "Ki .. kita akan kemana?"

Rathyan tidak menjawab dan mobil juga terus berjalan. Sampai Daze menyadari tujuan mana yang akan mereka tuju.

"I .. ini .... "

Mobil perak itu berhenti tidak begitu jauh dari sebuah rumah bertingkat dua. Rathyan membuka pintu di sampingnya kemudian melangkah keluar. Dia mengitari badan mobil sampai di sebelah Daze lalu membuka pintu buat gadis itu. Namun Daze tidak bergerak. Kenyataan ini sangat menguncangnya. Bagaimana mungkin pemuda ini membawanya ke Han's mansion?

"Turunlah .. ," perintah Rathyan.

Daze menengadah padanya. "Ke ... kenapa? Bukankah kita mesti ke Sydney?"

"Kau tidak perlu ikut denganku .. ," sahut Rathyan, berlagak tidak perduli.

"Tapi .. "

"Sudah ada tuan Park yang menemaniku. Jadi kau tinggal-lah di sini. Lagipula tidak ada yang bisa kau lakukan buatku. Membawamu sama saja menambah bebanku .. "

"Mwo?"

"Keluarlah!"

Sedikit memaksa Rathyan 'membantu' Daze keluar dari mobil. Pak sopir mendekati mereka dengan menjinjing koper Daze.

"Apa diletakan di sini saja, doronim?"

Rathyan mengangguk tanpa memberi jawaban. Lalu dia mencondongkan tubuh ke arah Daze. "Anyong Daze Han .. " Dikecupnya jidat gadis itu sekilas kemudian berjalan kembali ke mobilnya. Tidak dihiraukannya pandangan mengangga dari Daze. Matanya langsung bersinar tajam begitu mendapati tuan Park sedang berbicara di telepon.

"Ne, agashimida pak presiden .. ," kata asisten pribadi itu sambil melirik tuan mudanya.

"Bisa berangkat sekarang?" tanya Rathyan dingin.

Tuan Park membungkukan badan dengan raut menyesal. "Ne, doronim .. "

Rathyan masuk ke dalam mobil dan menghempaskan pintunya dengan kesal. "Dan katakan pada-'NYA', aku akan melakukan apa yang telah kujanjikan padanya ... jadi jangan membuatku muak!!"

Tuan Park menghela nafas seraya mengangguk pelan. "Ne, doronim .. "

Sebentar kemudian mobil itu sudah melaju meninggalkan tempat itu. Daze mengikuti kepergian Rathyan dengan pandangan nanar.

tettt ,, tettt,,

Dia tersentak ketika merasa sesuatu bergetar dari dalam tasnya. Segera saja digeledahnya tas genggamnya itu dan terburu-buru mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Ada pesan masuk.

Sampaikan salam ku pada Dave. Aku berharap dapat meluangkan sedikit waktu buat pernikahannya namun seperti yang kau ketahui jadwalku terlalu padat .... Hadiah akan kukirimkan besok. Dan kau juga--take care. Enjoy your time. Aku berharap kita segera bertemu kembali~~~

Rathyan Jang-


Daze mengusap monitor ponselnya .. dan dia tersenyum. Senyuman yang sangat lebar. Ternyata Rathyan tidak melupakan pernikahan Dave. Ternyata selama ini dia perduli. Dia hanya berlagak tidak tahu.


ooooOoooo



Tok .. tok ... tok ...

Seraut wajah muncul dari balik pintu, dan sepasang mata itu terbelalak lebar begitu mendapati Daze berdiri di situ.

"Noona!!!"

Daze menyunggingkan senyumnya. "Anyong dongseng-a .. "

"Ba .. bagaimana ... mungkin noona berada di sini? Omma bilang .. noona tidak bisa menghadiri pernikahanku .. "

"Memang .. ," jawab Daze ringan. "Namun majikanku tiba-tiba membebaskanku ... "

"Majikan baru noona?"

Daze mengangguk. "Ne ... ," lalu dia berpikir apakah sebaiknya menceritakan tentang Rathyan pada Dave. Tapi setelah menimbang-nimbang sebentar dia mengambil keputusan untuk tidak menceritakannya. Lebih baik tidak membahas Rathyan daripada semuanya jadi kacau. Apalagi mengingat Carlson juga akan hadir dalam acara pernikahan itu.

"Apa noona tahu omma dan appa beserta Carls hyung tiba besok sore?" tanya Dave sambil meminggir sedikit untuk memberi celah Daze masuk ke dalam rumah.

"Ne .. "

"Noona ikut menjemput mereka?" tanya Dave sambil menutup pintu.

"Tentu saja . .," jawab Daze. Diletakannya kopernya ke lantai dan menyapu seisi ruangan. "O ya, kemana keponakan kecilku?"

"Dia .. ," Dave tertawa. "Nat sedang menyusuinya di kamar. Apa noona ingin segera bertemu dengannya? Tidak perlu istirahat dulu?"

Daze mengeleng keras-keras. "Anhi! Saya tidak capek .. "

"Okay. Kalau begitu noona ke kamar saja. Biar aku yang membawa koper ini ke kamar noona .. "

"Okay. Thanks, dongseng-a .. "

Lalu mereka bersama-sama naik ke lantai atas. Daze menuju ke kamar Dave buat melihat keponakan kecilnya, Cherryl. Sedangkan Dave menaruh koper Daze ke kamarnya.


ooooOoooo



"Sungguh harus melakukan ini, doronim?" tanya tuan Park serius.

Rathyan mengibaskan tangan sambil melangkah ke dalam bandara Sydney. "Lakukan sesuai perintahku!!"

"Ta .. tapi .. "

Rathyan segera berbalik dengan sepasang tangan terlipat di depan dada. "I SAID BACK TO PERTH NOW, MR. PARK!!!"

"Namun meeting besok sangat penting, doronim .. " Tuan Park berusaha memberi pengertian walaupun tahu itu percuma. Sekali Rathyan sudah mengambil keputusan maka sulit untuk membatalkannya.

"Undur sampai minggu depan .. " Rathyan memutar badan dan meneruskan langkahnya. "Jika pihak mereka tidak bisa menunggu, lempar ke firm lain. Kita tidak membutuhkan mereka!"

"Doronim .. "

"This is an order, mr. Park!!"

Tuan Park memejamkan matanya. Rathyan mulai lagi dengan kuasanya. Sekali dia bilang 'This is an order!', maka tidak ada seorangpun yang boleh membantahnya.

"Dan kuperingatkan, jangan melaporkan masalah ini pada orang itu!" ucap Rathyan dingin. "Karena apapun perkataannya, aku yang paling berkuasa dalam proyek ini!!"

Tuan Park akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. "Ne, doronim .. "

Lalu mendadak Rathyan memutar badan dan tersenyum mengejek. "Namun, aku tidak keberatan jika kau yang mewakiliki ku dalam meeting kali ini .. "

"Mereka hanya ingin berdiskusi dengan 'pemimpin' tertinggi Max-Global .. doronim .. ," jawab tuan Park tenang.

Rathyan mengangkat bahunya cuek. "Ya sudah. Kalau begitu batalkan saja!"

Setelah itu dia kembali melangkahkan kakinya. Tuan Park memandangi punggung pemuda itu sambil sekali-kali mengelengkan kepalanya. Susah benar mengatur tuan mudanya yang satu ini.


ooooOoooo



Ting tong .. ting tong ...

"Sebentar!!!"

Daze berlari ke pintu depan begitu bell rumah dibunyikan berulangkali. Dia membuka pintu itu dan .... tampangnya langsung berubah horror, .. mulutnya mengangga sampai-sampai dagunya hampir melorot mengenai leher saking kagetnya.

"Ra .. rath ... ," panggilnya gugup.

"Wee?" Rathyan tertawa kecil. "Kau terlihat kaget sekali. Surprise, Daze Han!" Dia mencondongkan tubuh ke depan sampai mengenai wajah Daze. Lalu dikecupnya bibir yang bergetar hebat itu.

"Ke .. kenapa bisa berada di sini?" tanya Daze terbatah-batah.

"Sudah kubilang, surprise!" sahut Rathyan dengan nada bariton yang sangat khas. "Apa aku tidak diperkenankan masuk?" tanyanya sambil melayangkan pandangan ke dalam.

"Itu ... ," tanpa sadar, Daze merentangkan kedua tangannya di depan pintu. "Kau .. bukankah seharusnya berada di Aussie hari ini?"

Rathyan mengangkat bahunya. "Memang. Tapi aku memilih kembali ke sini .. "

"Wee?!!" tanya Daze keras.

Rathyan membuka mulut buat menjawab, namun panggilan dari dalam rumah menghentikan maksudnya.

"Siapa itu, Dazya?"

Daze terperanjat. Dengan gerak lambat, dia berpaling. "Ehh--"

Sedangkan Rathyan memicingkan matanya buat menajamkan pandangan ke depan, .. dan .. rautnya langsung berubah kaku.

"Tuan Jang?!" seru Carlson dari ambang pintu, di belakang Daze.

"Kenapa dia berada di sini?" tanya Rathyan dingin. Pandangannya tidak berkedip tertuju pada Carlson.

"I .. itu .. ," Daze mendesah namun tidak mampu memberikan jawabannya. Rathyan sangat murka, dan dia menyadari itu. Raut pemuda yang tadinya berseri-seri ini jadi kelam. Mata elangnya memancarkan aura membunuh dan pada saat ini Daze sangat takut dia bakal melakukan sesuatu di luar jangkauannya. Terutama pada Carlson.

"Jelaskan padaku!!" bentak Rathyan keras.

Daze terlonjak dari tempatnya. "Rath .. ," desahnya lirih. Tapi kembali mulutnya seperti terkunci. Selain desahan tadi, tidak ada lagi yang mampu dikeluarkannya.

"Tidak ada yang ingin kau jelaskan padaku?!" Rathyan mendesis. "Ini inti dari kepercayaan yang kau maksudkan itu? Kau tahu aku tidak suka, kenapa melakukannya?!!"

"Aku ... " Daze menunduk lemas. Apa yang bisa dikatakannya sekarang? Jujur pada Carlson? Tapi dia tidak ingin menyakiti pemuda itu. Carlson sudah terlalu baik padanya. Namun untuk menyakiti Rathyan, dia lebih tidak tega lagi. Hatinya sangat sakit, seperti tertimpa palu berat ..

"Ada apa, Dazya?"

Daze merasakan sentuhan di lengannya. Dia mengangkat kepala dan mendapati pandangan Carlson.

"Gwencana?" tanya pemuda itu khawatir. Dia menyadari telah terjadi sesuatu dari wajah pucat Daze. "Katamu, tuan Jang meluluskan cutimu. Lalu kenapa dia bisa muncul di .. "

"Minggir!!" Tiba-tiba Rathyan berteriak keras.

Perkataan Carlson terpotong oleh kelakuan Rathyan yang mendorongnya sampai terhempas mengenai pintu. Carlson meringis, namun sosok jangkung tersebut melewatinya begitu saja, dengan langkah tegap dan dingin. Rathyan masuk ke dalam rumah, berbalik dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tampangnya sangat mengerikan saat itu, ... dengan pandangan menusuk yang tertuju ke depan, tidak berkedip, dan ekspresi datar yang sulit ditebak, justru membuatnya terlihat menyeramkan, laksana seorang pembunuh berdarah dingin. Bahkan, segumpal awan hitam seolah-olah tergantung di atas kepalanya yang terlindungi rambut hitam panjang acak-acakan.

"Daze .. ?" Carlson menaikan alisnya. Namun Daze mengeleng pelan.

Lalu dia memejamkan mata dan menghembuskan nafas lemah. "Kenapa jadi begini?"


ooooOoooo

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

aiyuu_minsunnerz

  • Guest
Jiaahhh mamii..
Kok masalah lagi..rummiittt beuuudd..

Padahal udah deg deg serrr yg pas dihotelll..
Ngalong lagi nunggu ni update..cekikikiki

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Jiaahhh mamii..
Kok masalah lagi..rummiittt beuuudd..

Padahal udah deg deg serrr yg pas dihotelll..
Ngalong lagi nunggu ni update..cekikikiki
enak aja [head break] [head break] [head break] ini aja udah setengah mampus,, kepanjangan [hmpfh] [hmpfh] sehrsnya gw simpen sebagian buat next chp [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Rath:"looking back all the things i've done i was trying to be someone i play my part and put u in a dark now let me show u the shape of my heart". Dazya susah bgt si bt bilang carls disini atas undangan eomma, dan please trust me coz i love u. Gw gemes bgt deh ama daze. Rath yg da sumringah ketemu daze tiba2 murka liat tampang carls,ckckck Rath maen senggol aje ni trus duduk di sofa siap2 bt ngulitin carl. Dazya jd puspitawati ni. Mam,ntu yg di hotel knapa di cut pan nanggung tuh,hmpf. Rath rath imannya msh kuat.bagus bagus. Mami, ni chap bikin ane menguras otak dan hati kamsudnya bikin ane dag dig dug. Mam, i love it. Tengkyu mam bt updatenya.mmmuuuaaahh


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
panjang sih mam. tapi gantung bgt. liatin mereka berantem sama hyesun bujukin mino dong [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
panjang sih mam. tapi gantung bgt. liatin mereka berantem sama hyesun bujukin mino dong [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
yeee [head break] [head break] gw kan plg demen ama yg ngegantung [laughing] [laughing] bujukinnya susah nih,, elu tahu sendiri sifat daze n rath [heh] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Rath:"looking back all the things i've done i was trying to be someone i play my part and put u in a dark now let me show u the shape of my heart". Dazya susah bgt si bt bilang carls disini atas undangan eomma, dan please trust me coz i love u. Gw gemes bgt deh ama daze. Rath yg da sumringah ketemu daze tiba2 murka liat tampang carls,ckckck Rath maen senggol aje ni trus duduk di sofa siap2 bt ngulitin carl. Dazya jd puspitawati ni. Mam,ntu yg di hotel knapa di cut pan nanggung tuh,hmpf. Rath rath imannya msh kuat.bagus bagus. Mami, ni chap bikin ane menguras otak dan hati kamsudnya bikin ane dag dig dug. Mam, i love it. Tengkyu mam bt updatenya.mmmuuuaaahh
krn daze takut rath lebih ga suka lagi, lebih tepatnya daze plg takut melihat kecemburuan rath [sweat] [sweat] pokoknya pasangan ini susah banget deh. elu tahu sendiri mereka lbh byk berbuat drpd berucap, karena itu hubungan mereka jd begini [sweat] [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

aiyuu_minsunnerz

  • Guest
Ane gregeten mam *sherina beudd..

Masalahnya si daze slalu ga bisa jelasin jujur gtu..
Kan kasian rathnya jugaa..
Bener onn voldi..gantungg beeuudd ikutan unyu unyu nohh..hahaha

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
jiah! lagi2 si muka pucat carlson, si tikus pengganggu yg mta dihamer mgacaukan segalanya, mati aja lu, carls!


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
sist kenapa g jdi jeboool...? kecewa tingkat tinggi neh...! q benar" sulit ngertiin sipatnya rath yg benar" super cuek & terttup tpi walau pun gtu di jg punya ssi romntic & perhtian bnget yg g q hdapai yaitu sipat cueknya itu, lanjutaaaanya kpan lgi ne sist...  apa nungu 1 bulan lgi dri sekrang..? pleeees donk jngan lma" soalnya ne ff bkin hari gregetan pingin thu lanjutannya, next nya nanti kira" jebooooooooool g ya.....?

gwendolyn

  • Guest
Gumawo mami q syg udh d update . . .*pyuk2 mami,

Dmen bgt dch ama yg d hotl it aq mam . . .
Next chap, J E B O L ye mam . . . *hmpf hmpf

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Ane gregeten mam *sherina beudd..

Masalahnya si daze slalu ga bisa jelasin jujur gtu..
Kan kasian rathnya jugaa..
Bener onn voldi..gantungg beeuudd ikutan unyu unyu nohh..hahaha
iya daze selalu begitu, prinsipnya--si rath lebih baik ga tahu daripada memperkeruh masalah [hmpfh] [hmpfh] dia takut bakal ditinggalkan rath. semua ini karna dia belum memahami rath [sweat] [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun