Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 98484 times)

Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Update malam ini ya?
Asyiikkkk.....!!!!!   Emoticons0427 Emoticons0427 Emoticons0427 [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262]

Aku tunggu


Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
jadi mlm kan mam?? [what] setelah Rath,,LIKO bersiap [hmpfh] [hmpfh]

Love you more than I can say

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
setengah jam lagi, woke [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
setengah jam lagi, woke [biggrin]
GIRANG,, [2vil3jc] sabar ya anak2.. Emoticons0426

Love you more than I can say

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Song of the day :



Lyrics : I've been living with a shadow overhead
I've been sleeping with a cloud above my bed
I've been lonely for so long
Trapped in the past, I just can't seem to move on

I've been hiding all my hopes and dreams away
Just in case I ever need em again someday
I've been setting aside time
To clear a little space in the corners of my mind

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
Oh oh oh

I've been watching but the stars refuse to shine
I've been searching but I just don't see the signs
I know that it's out there
There's got to be something for my soul somewhere

I've been looking for someone to shed some light
Not somebody just to get me through the night

I could use some direction
And I'm open to your suggestions

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
And if I open my heart again
I guess I'm hoping you'll be there for me in the end
oh, oh, oh, oh, oh

There are moments when I don't know if it's real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration
Not just another negotiation

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
And if I open my heart to you
I'm hoping you'll show me what to do
And if you help me to start again
You know that I'll be there for you in the end
oh, oh, oh, oh, oh



Angin bertiup semilir, .. lembut dan membelai wajah Daze. Juga menerbangkan sisa-sisa salju yang sudah berhenti. Tatapan teduh Daze terpaut pada gundukan di bawah kakinya. Pandangannya perlahan-lahan berubah redup. Udara dingin tidak dirasakannya lagi. Hanya kehangatan yang melandanya sekarang, .. menyusup sampai ke kalbu, seolah menyentuh sampai ke hatinya yang terdalam.

"Halmonie .. ," panggil Daze halus, .. dengan uap-uap yang tersembul dari mulut dan hidungnya. Perlahan-lahan dia menjatuhkan diri, duduk di hamparan rumput yang sudah mati akibat kebekuan salju. Tangannya membelai dan menyibak lapisan putih yang menyelimuti nisan halmonie.

"Dikau pernah bertanya, .. apa yang kukhawatirkan .. ," lanjut Daze sambil tersenyum lembut. " .. dan waktu itu, aku menjawab--mungkin karna status .. ," lalu tangannya menyapu lebih cepat, .. hingga gundukan nisan tersebut terlihat lebih jelas. Lapisan atasnya yang terbuat dari pualam abu-abu terlihat berkilat tertimpa mentari sore.

"Tidak, halmonie!" Daze mengeleng. "Baru kusadari, bukan status yang kukhawatirkan. Persetan dengan segala status itu--"

Tiba-tiba, angin bertiup makin kencang, dan segumpal awan gelap menutupi matahari, sehingga sinar yang dijatuhkannya menjadi sedikit dan keadaan sekitar segera saja menjadi remang-remang. Daze merapatkan sweaternya perlahan. Udara di sekitar situ makin dingin saja.

"Yang kutakutkan--Sesungguhnya, .. tak terpikirkan sedikitpun sejak dulu-dulu .. " Daze mendesah. Kemudian, senyum kecut tersungging di bibirnya. "Keangkuhan, halmonie!" sahutnya kemudian . "Aku terlalu angkuh untuk menyadari dan mengakui bahwa, aku benar-benar membutuhkannya. Aku tidak boleh kehilangan dia. Aku tidak bisa hidup tanpa dia. .. Ini yang kutakutkan selama ini, halmonie ... "

Daze memejamkan mata, dan merasakan bagaimana kelegaan perlahan-lahan mengayut hatinya. Ya, dia sudah punya keberanian itu. Setelah pengakuannya pada halmonie, dan juga ditambah dukungan jarak jauh dari beliau, yang dapat dirasakannya dengan jelas, Daze yakin--dia mampu melakukannya.

"Carls mengatakan sesuatu padaku mengenai hubungan kami hari ini, halmonie .. " Daze membuka matanya dan menatap nisan di hadapannya. Seakan roh nenek tua itu sedang duduk di sana dan mendengarkan dengan seksama apa yang diadukannya.

"Dan aku tahu apa yang dikatakannya itu benar adanya .. ," lanjut Daze sambil tersenyum. "Tapi bukan itu penyebabnya kenapa aku mengambil keputusan ini, halmonie. Tidak!" Dia mengeleng dengan cepat. "Jika begitu, aku yakin Rath akan marah besar padaku." Sampai pada nama Rathyan, Daze tersenyum lebar. "Baru kusadari, dia sangat posesif .. ," kata gadis itu dengan raut berubah lembut. "Mungkin aku harus belajar menerima kekurangan-kekurangannya. Jika aku benar-benar mencintainya, aku rasa--aku harus menerimanya. Dan, aku juga yang harus memulainya--benar kan, halmonie? .. Cinta tidak mengenal harga diri. Cinta tidak mengenal martabat. Jadi, buat apa mempermasalahkan siapa yang memulainya terlebih dahulu. Bagiku--kehilangannya-lah, hal yang paling menakutkan di dunia ini .. "

Daze menengadah ke langit. Dilihatnya, awan gelap yang menutupi matahari berarak secara perlahan-lahan, menyebar hingga sinar sang surya kembali merembes ke bumi. Mendung yang sejenak itu, tergantikan oleh kuasa sang dewa siang yang mulai berwarna jingga.

"Pada akhirnya, mendung juga akan tergantikan oleh kecerahan. Jadi, kenapa hatiku tidak?" tanya Daze sambil memantapkan hatinya. Matanya kembali terpejam seiring kehangatan sinar mentari yang jatuh tepat di wajahnya.

Daze tersenyum. Untuk beberapa lama, dia membiarkan keadaan seperti itu. Dia tidak bergerak sedikitpun. Dapat dirasakannya, tatapan lembut dari halmonie yang setia menemaninya sampai saat itu.


oooooOOOooooo



Daze kembali ke rumah sekitar pukul 5 sore. Dan, dia berpapasan dengan Rathyan di halaman depan. Langkah pemuda itu kelihatan tercekat begitu melihat Daze. Namun, hanya sebentar. Dan dia tidak mengeluarkan suaranya. Daze tersenyum begitu mendekati Rathyan.

"Bisa bicara sebentar?" tanya Daze.

Rathyan tidak menyahut. Sepasang tangannya yang terselip dibalik saku mantel terlihat bergetar pelan.

"Saya harus keluar sekarang .. ," katanya kemudian, dengan nada datar yang sangat khas. Dia bergerak melewati Daze.

Daze berbalik. "Saya akan menunggumu!"

Langkah Rathyan terhenti.

"Selarut apapun .. ," sambung Daze, yang terdengar ringan dan ceria. Dan semua itu tidak dibuat-buat. "Bersenang-senanglah ... ," ujar gadis itu, dengan senyum lebar tersungging di bibirnya.

Rathyan menoleh. Tapi, gadis itu sudah beranjak dari tempatnya. Rathyan melihat bagaimana Daze membuka pintu depan lalu masuk ke dalam rumah. Perlahan-lahan, alis tebal nan indah milik si pemuda berkerut. Dia tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi pada gadis itu. Sikapnya berubah hanya dalam beberapa jam?


oooooOOOooooo



"Doronim .. "

Tuan Park membungkuk hormat begitu melihat kedatangan Rathyan.

"Hm--"

Rathyan membalasnya pendek, seraya menghempaskan diri di kursi cafe' kecil yang ditunjuk Tuan Park sebagai pertemuan mereka.

"Pak presiden menyuruhku menyampaikan ini pada doronim .. ," mulai si asisten pribadi itu seraya ikut menjatuhkan diri di kursi, tepat di depan Rathyan.

Rathyan mengangkat alisnya. Tapi pemuda bermata elang itu tetap tidak mengeluarkan suara.

"Beliau akan datang seminggu kemudian .. "

Rathyan melebarkan matanya. "Datang ke sini?" tanyanya buat menyakinkan.

"Ne ..," sahut Tuan Park.

"Why?" balas Rathyan tajam.

"Berhubungan dengan proyek kerjasama dengan Aussie Land, doronim .. "

"Kenapa?!!" bentak Rathyan. "Bukankah proyek itu sudah diserahkan padaku? Kenapa dia campur tangan?" lanjutnya sambil mengebrak meja.

Suara berdebam yang dihasilkannya, sukses membuat beberapa pasang mata langsung melirik mereka. Tatapan dari orang-orang itu mengandung sejuta tanda tanya. Mungkin diakibatkan, tidak ada seorangpun selama ini, yang pernah melakukan tindakan brutal seperti yang dilakukan Rathyan dalam cafe' itu.

"Jelaskan padaku, Tuan Park!!"

"Sosoenghamida, doronim .. " Tuan Park menunjukan penyesalannya. "Pak presiden sudah mengetahui apa yang terjadi. Pihak Aussie Land mendesak terus, sehingga berita tersebut sampai ke telinga Pak presiden. Beliau sangat marah, karena itu memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri .."

"Tua bangka itu!!!" Brakk! Kepalan tangan Rathyan kembali menghantam meja. Kali lebih keras, sehingga punggung tangannya menjadi sangat merah.

"Do .. doronim .. ," desah Tuan Park khawatir. Sontak diraihnya tangan Rathyan dan memperhatikannya dengan seksama.

Namun Rathyan menepis dengan sengit. "Katakan padanya--Jika dia tidak percaya padaku, jangan berlagak dia percaya. Buat apa menyerahkan hal yang pada akhirnya akan diambil-alih olehnya. Aku muak diperlakukan begini terus!" Rathyan berdiri dari kursinya, kemudian menendang kaki meja sampai Tuan Park terperanjat kaget. Sejenak asisten pribadi itu memperhatikan majikannya. Kemudian menghela nafas.

"Aku bukan anak kecil lagi!!!" teriak Rathyan dengan nada tercekik.

"Doronim!!" seru Tuan Park begitu Rathyan mulai mengerakan kakinya. "Ada lagi!"

Rathyan menghentikan langkahnya, namun tidak berbalik. "Apa?" tanyanya dingin.

"Selain alasan tadi, .. Pak presiden mengkhawatirkan kelakuan Miss White .. "

Alis Rathyan berkerut. "Memangnya apa yang akan dilakukannya?"

"Miss White bermaksud menyusul doronim kemari .. "

Mendengar itu, sikap Rathyan berubah serius. Dengan cepat dia menoleh. "Menyusul kemari?" Matanya melebar tajam. "Apa dia sudah gila? Dikiranya aku datang ke sini hanya untuk bersenang-senang?"

"Sosoengheyo, doronim .. " Tuan Park menunduk hormat. "Pak presiden sudah berusaha menjelaskannya, namun nona White kelihatannya tidak perduli. Dia berkeras kemari. Karena itu, doronim ... " Pria itu menghela nafas sebelum melanjutkan perkataan-perkataannya. "Pak Presiden tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Makanya beliau memutuskan datang kemari .."

Rathyan dengan tangkas mengibaskan tangannya. Kemudian dia terdiam kaku untuk beberapa lama. Mata elangnya perlahan-lahan melemah walaupun hanya sedikit. Setelah itu, dia memasukan sepasang tangannya ke dalam mantel. "Terserah saja ... ," katanya kemudian, seraya melanjutkan langkahnya, .. meninggalkan Tuan Park yang menatapnya sambil menghela nafas untuk kesekian kalinya.


oooooOOOooooo



Keluar dari cafe' kecil di pinggir kota tersebut, Rathyan memutuskan berkeliling sebentar guna menyegarkan pikirannya yang sumpek. Mobil sport biru terang yang disewanya meluncur cepat di jalan raya yang basah dan di beberapa bagian terselimut salju. Nyaris saja mobilnya tergelincir ketika membelok di tanjakan tajam. Dengan cepat Rathyan menginjak pedal dan mengumpat keras. Dashboard di depan menjadi sasaran kekesalannya.

"Sial!! Tidak ada yang beres!!"

Setelah melempar pandangan ke belakang lewat kaca spion depan, dan memastikan tidak ada kendaraan yang memotong lewat jalan itu, Rathyan kembali menginjak pedal gas. Dalam sekejap mobil mewah tersebut kembali membelah jalan yang tidak begitu ramai.

Pukul setengah delapan malam, Rathyan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah makan kecil. Dia memutuskan menyantap makan malamnya di situ. Satu jam kemudian dia keluar dari rumah makan tersebut. Selanjutnya, mobil sportnya kembali melaju di jalan raya.

Pikiran Rathyan melayang. Kejadian-kejadian sejak beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya. Dan yang paling melekat adalah pertanyaannya pada Daze, yang tidak mendapat respon memuaskan dari gadis itu.

"Apa yang kau harapkan, Rathyan Jang?" desahnya pelan.

Pedal gas diinjak semakin dalam, dan mobil yang dibawanya melesat semakin cepat, melampaui kecepatan rata-rata.

Mengharapkan sebuah kepastian dari gadis yang dicintainya buat masa depan yang dia sendiri tidak tahu, .. dan sama sekali tidak terbayangkan? Rathyan menyengir muak.

Kau sungguh-sungguh menyedihkan, Rathyan Jang!! rutuknya sengit, seraya menampar gagang kemudi. Tangannya terasa nyeri dan ngilu, tapi itu tidak dihiraukannya lagi.

Perkataan-perkataan Daze sibuk bergulir silih berganti dalam pikirannya ...

"A .. aku tidak tahu ... "
"Aku sungguh-sungguh tidak tahu ... "
" ... jangan mendesak ku .. "


Kau sendiri tidak tahu bagaimana menangani masalah ini. Kau tidak tahu haruskah melepasnya, ataukah mengenggamnya erat tidak dilepas. Lalu bagaimana kau berharap dia bisa menjawabnya? Apa hakmu meminta kepastian itu? Apa?!!

Rathyan memejamkan matanya. Dan untuk kedua kali dalam waktu kurang dari duapuluh menit, mobilnya hampir lepas kendali. Kali ini, endapan salju penyebabnya. Rathyan membanting stir dengan cepat, dan menghentikan mobilnya dengan suara mendecit keras. Nafasnya tersengal dan matanya terbelalak.

Apa yang kau lakukan, Rathyan Jang?!! Kau hampir celaka buat emosi tidak perlu ini!!

Rathyan menghela nafas berat. Perlahan-lahan kepalanya disandarkan ke belakang. Matanya terpejam. Untuk sesaat, dia berusaha menenangkan diri, .. meredakan semua emosi yang ada.

Setelah berhasil, selama setengah jam lamanya, Rathyan kembali menghidupkan mesin mobilnya. Dikemudikannya mobil tersebut secara pelan-pelan kini, .. berbeda jauh dari beberapa saat lalu.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Rathyan memutuskan tujuan selanjutnya. Mobilnya dihentikan tepat di depan R&G Studio. Gracielo membukakan pintu baginya, dan terlihat agak terkejut dengan kunjungan mendadak itu.

Namun ekspresi Rathyan menjelaskan padanya kalau dia tidak ingin diganggu. Gracielo yang sudah terbiasa dengan reaksi Rathyan, mengerti. Setelah menepuk lengan Rathyan, dia bergerak ke dapur dan menyediakan sepoci teh lengkap dengan cangkir kecil dan sepiring biscuit di atas nampan.

Sehabis beres-beres sebentar, Gracielo memutuskan kembali ke kamarnya yang sempit di ujung lantai atas buat tidur. Rathyan ditinggal sendiri, menyandar di sofa lengan sambil menyeruput tehnya, .. hanya ditemani redupnya sinar lampu meja yang memantulkan bayangannya ke belakang, dan kelamnya semburat rembulan yang hanya sedikit menerobos masuk lewat jendela kaca di atas atap studio. Dan juga, jeritan-jeritan samar dari binatang-binatang malam yang mulai keluar mencari mangsa.

Pandangan Rathyan nanar tertuju ke depan, .. menatap semu lukisan di depannya. Lukisan abstrak yang hanya ditempeli gumpalan-gumpalan cat warna putih, merah dan kuning kejingga-jinggaan.

Aku benar-benar berharap kau mampu memasuki duniaku .. , desah bibir penuh yang agak bergetar itu lirih. Apapun akan kupertaruhkan jika .. kita berhasil melaluinya ..

Lalu pandangannya meredup, .. perlahan-lahan matanya terpejam ....  


oooooOOOooooo



Daze bermain-main dengan Cherryl kecil sudah hampir dua jam lamanya. Sedangkan Dave beserta istrinya, Natalie Park, duduk bersandaran di sofa dengan kesibukan masing-masing. Dave dengan materi pelajaran yang mesti disiapkannya buat mata pelajaran besok di sekolah yang diajarnya, sementara Natalie disibukan oleh bahan-bahan rajutan di tangannya. Jam dinding sudah menunjukan pukul 10 malam ketika Carlson masuk ke ruang tengah itu. Dan dia menghampiri mereka yang segera tersenyum melihat kedatangannya.

"Dazya, apa kau tahu Tuan Jang pulang atau tidak?"

Daze yang sedang mengangkat Cherryl ke pangkuannya, tertegun. "Maksudmu?"

"Ini sudah malam .. ," tunjuk Carlson ke jam kulit yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku ingin tahu, apa perlu menunggunya atau .. "

"Tidak usah .. ," sela Daze seraya bangun dari posisinya.

Saat itu, Cherryl yang berada dalam pelukan Daze mulai merengek halus dan mengucek-ngucek mata bundarnya. Daze kemudian memberikan bayi montok itu pada ommanya, .. yang segera mengambil-alih dan menepuk-nepuk tubuh mungil tersebut buat menghiburnya.

"Sebaiknya kita masuk ke kamar, Nat .. " Dave menyentuh lengan istrinya. "Cherr kelihatannya sudah ngantuk .. "

Natalie mengangguk. "Benar .. " Lalu dia beralih ke Daze. "Kami masuk dulu, onnie. Dan juga, .. " Dia berpaling pada Carlson. "Carls hyung. Anyong .. "

Dave ikut mengangguk. "Selamat malam, noona and Carls hyung .."

Carlson membalas salam mereka dengan menganggukan kepalanya. "Selamat malam ... "

Habis itu, Dave dan Natalie masuk ke kamar mereka di lantai atas dengan membawa serta Cherryl. Sekarang, tinggalah Daze dan Carlson berduaan dalam ruang tamu itu. Keheningan sejenak melimuti mereka, sampai Daze membersihkan tenggorokannya dengan deheman pelan.

"Hmm--Rath mungkin pulang agak larut malam ini, .. jadi, kau tidak perlu menunggunya, Carls. Kau tidurlah dulu .. "

Carlson menatap Daze, .. Setelah mendapat kepastian lewat pandangan gadis itu, akhirnya dia menyerah.

"Baiklah." kata Carlson sambil menghela nafas. "Pintunya tidak kukunci jika dia kembali." Sejenak dia kelihatan ragu-ragu sebelum melanjutkan perkataannya. "Dan ... apakah kau akan menunggunya?"

Daze membalas pandangan Carlson. Dia mengangguk tanpa keraguan. "Ne. Jika kau mengantuk, tidurlah dulu. Aku akan menunggunya sampai dia kembali .. "

"Ta ... pi, .. itu mungkin akan sangat larut .. ," ujar Carlson menasehati. "Apa tidak sebaiknya kau tidur dulu?"

"Aku ada urusannya dengannya .. ," jawab Daze sambil memantapkan hati.

"Apa tidak bisa dibicarakan besok saja?" tanya Carlson lebih lanjut. "Tidak baik tidur terlalu malam. Kau membutuhkan istirahat yang cukup, Dazya. Lihatlah, wajahmu kelihatan pucat begitu .. "

"Saya tidak apa-apa .. ," bantah Daze cepat. "Mungkin agak dingin. Tapi sungguh, saya baik-baik saja .. ," kemudian dia berusaha memberikan senyuman termanis buat Carlson, .. supaya pemuda ini tidak memaksa lagi. "Kau tidurlah dulu, Carls .. "

Carlson menghela nafas. Setelah menyadari bahwa keputusan Daze tidak mungkin dibantah, mau tidak mau--akhirnya dia menyerah.

"Baiklah." Ditepuknya lengan Daze pelan. "Kau berhati-hatilah. Jangan sampai sakit. Jika memang tidak kuat, segera tidurlah ... ," nasehat pemuda bijak.

"Ne .. ," sahut Daze dengan nada yang seperti helaan pelan. "Arassoyo ... "

Untuk terakhir kalinya Carlson menatap Daze. Pandangan mereka bertemu dalam kebisuan yang mencekam, sampai Daze tersenyum memastikan.

"I will be ok. I promise ... "

Carlson mengangguk, ... memberi balasan buat menguatkan keputusan gadis itu, .. walaupun dalam hatinya, dia tidak begitu rela. Benar dia telah mengambil keputusan untuk memberi kesempatan Daze buat memilih, .. namun—begitu melihat keadaan gadis itu seperti ini, hatinya sungguh sakit. Bagaikan teriris-iris dan tersayat-sayat pisau tajam.

Carlson bergerak dengan pelan kearah pintu. Dibukanya pintu tersebut dengan halus, kemudian berjalan keluar. Sebelum menutupnya kembali, untuk terakhir kalinya dia berpaling menatap Daze. Gadis itu terlihat meringkuk di sofa sambil memeluk lututnya. Carlson menghela nafas berat. Perlahan-lahan ditutupnya pintu di depannya sampai bayangan Daze menghilang dari hadapannya.


oooooOOOooooo



Daze memutuskan kembali ke kamarnya setelah waktu hampir menunjukan pukul satu dini hari. Dia bergerak dengan lamban menaiki anak tangga. Bayangannya yang memanjang ke belakang, dengan senantiasa menemaninya malam itu. Sinar redup dari lampu dinding samar-samar mengerak-gerakan bayangan-bayangan dari benda-benda yang ada di sekitarnya. Daze merapatkan mantelnya di depan dada. Udara dirasanya semakin mengigit tulang. Setelah sampai di depan kamarnya, tergesa-gesa dia membuka pintu kemudian segera beranjak ke dalam.

Daze sudah menghempaskan tubuhnya di atas ranjang ketika suara-suara halus memasuki pendengarannya. Mula-mula, tidak dihiraukannya suara-suara tersebut. Dia hanya menganggap sudah terlalu banyak berhalusinasi. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan dan kekhawatiran yang memungkinkannya mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada.

Tapi, .. setelah suara berisik itu menjadi lebih jelas, dan .. sepertinya, alas kaki yang cukup keras barusan didaratkan di balkon belakang, Daze yakin itu bukan khayalannya semata. Segera saja dia bangun dari ranjang.

Ada seseorang memasuki rumah? Pikirnya.

Daze menurunkan kakinya ke lantai, .. setelah membungkus tubuhnya dengan sweater handuk yang teronggok di kursi, dia melangkah keluar kamar. Entah mengapa saat itu dia tidak merasa takut, sedikitpun. Dia merasa yakin, .. ya, yakin seyakin-yakinnya bahwa orang yang masuk lewat balkon belakang itu adalah Rathyan.

Bayangan-bayangan masa lalu—ketika mereka belum terpisah setahun yang lalu, bagaimana Rathyan senantiasa masuk ke rumah melalui tanaman rambat yang memenuhi dinding-dinding Han’s Mansion, termasuk lewat balkon belakang, dikarenakan keberadaan pemuda itu tidak diketahui pemilik rumah kecuali dongsengnya, .. kembali bermain-main dalam pikiran Daze.

Daze sampai di ujung lorong yang terhalangi pintu ketika bayangan seseorang terlihat berkelebat lewat jendela-jendela kaca yang berada di sampingnya. Tangan Daze sudah bermaksud meraih gerendel, tapi kalah cepat oleh orang yang berada di luar. Pintu tersebut terbuka dan sosok jangkung seseorang menatapnya termangu dengan tangan kanan yang masih memegang gerendel pintu.

“Kau … “ Suara bariton yang agak-agak serak itu berkata.

Daze mengatupkan mulutnya yang terbuka. Dengan tampang dibuat seceria mungkin, dia tersenyum. “Hi, Rath ..”

“Kenapa belum tidur?” tegur Rathyan.

Pemuda jangkung itu menutup pintu, untuk kemudian mengibaskan butiran-butiran salju dari rambutnya yang awut-awutan dan mantel hujannya yang terlihat sedikit basah.

“Saya menunggumu .. ,” jawab Daze sambil mengamati gerak-gerik Rathyan, .. seolah sehalus apapun gerakan pemuda itu, akan menimbulkan daya tarik dan hisap yang sukar untuk diungkapkan. Rathyan sungguh menguncang batinnya saat ini.

“Untuk apa menungguku?” tanya Rathyan lebih lanjut. Suaranya terdengar kering dan dingin. Perlahan dilepasnya mantelnya, kemudian dijatuhkannya begitu saja di lantai. Kemeja tebal warna putih berpola garis-garis navy melekat ketat membungkus tubuhnya, terlihat jelas kini. Dua kancing paling atas tidak dikaitkan sehingga menampilkan dada bidangnya yang padat dan berisi. Sedangkan bagian bawahnya, .. sepasang kaki yang teramat panjang dan jenjang berotot itu terbungkus dengan sempurna oleh celana jeans ketat warna hitam pekat.

“Su .. sudah saya bilang .. ,” balas Daze gugup. Melihat penampilan Rathyan, hatinya berdegup lebih kencang. Dengan kikuk, sehingga sesekali membentur dinding di sampingnya, dia mengejar Rathyan yang sudah melangkah lebar-lebar mendahuluinya. “ .. sa .. saya .., ada .. yang ingin saya bicarakan .. ,” ucap Daze tersengal-sengal.

“Apa?” tanya Rathyan tanpa berpaling. Tangannya berulangkali mengibas-ngibaskan rambutnya yang bergelombang dan sudah sangat berantakan.

“Bisa memandangku sebentar?” pinta Daze.

Rathyan menghentikan langkahnya. Saat itu, dia berada tepat di samping kamar Daze.

Rathyan menoleh menghadap gadis yang tertinggal agak jauh di belakangnya itu. “What?”

Daze sampai di hadapan Rathyan dengan nafas terengah-engah. Setelah mengatur nafas selama beberapa detik dengan cara mengelus-ngelus dadanya, akhirnya Daze menegakan badannya. Sekarang, kedua orang itu sudah berdiri saling berhadapan. Daze tidak langsung menjawab pertanyaan tadi. Ditatapnya Rathyan lekat-lekat. Kesenyapan serasa menyelimuti mereka. Sampai .. Rathyan membuyarkan kebisuan tersebut dengan deheman pelan.

“Ehmm—“

“Eh—“ Daze tersentak. Seakan disadarkan dari mimpi yang sangat panjang, matanya melebar ketika menatap Rathyan.

“Ada masalah apa?” tanya pemuda itu datar.

Daze melirik pintu kamarnya. “Bagaimana kalau bicaranya di dalam saja?”

Rathyan ikut melirik pintu di sebelahnya. “Kenapa?” tanyanya dengan nada tak tertarik.

“Karna masalah ini sangat penting!” sahut Daze tanpa ingin dibantah kembali. Sebelum Rathyan mengungkapkan keberatannya, dia sudah meraih gagang pintu dan membukanya. “Saya tidak ingin pembicaraan kita nanti terdengar orang .. ,” sambung Daze sambil melangkah ke dalam.

Rathyan menatap punggung Daze yang semakin mengecil. Pandangannya tidak berkedip ketika menjelajahi ruangan di dalamnya. Tidak ada yang berubah .., ujarnya dalam hati. Kemudian, perlahan dan agak ragu .. Rathyan menyusul Daze masuk ke dalam kamar.


oooooOOOooooo



Dua sosok itu terdiam dalam kebisuan yang berkepanjangan. Duapuluh menit berlalu sudah, dan tampaknya tidak seorangpun di antara mereka yang berinisiatif mengeluarkan suara lebih dahulu, .. sekalipun bagi Daze yang memintanya untuk pertama kali.

Rathyan berdiri menghadap jendela. Serpihan-serpihan salju tampak masih dijatuhkan ke bumi. Bahkan lebih lebat dari dia pulang tadi. Angin mendesir, .. berdengung-dengung menerbangkan serpihan-serpihan putih tersebut kearah utara. Gurat-gurat kuning dari lampu-lampu jalanan dan taman menyebar lembut dan remang, seolah berusaha memberi penerangan yang cukup walaupun tidak memadai ke daerah di sekitarnya. Sinar dari lampu-lampu tersebut terlalu redup untuk mencapai area seluas itu. Atap-atap rumah, begitu juga pohon-pohon berdahan lebar, terlihat terselimut salju semua. Putih, dan putih .. di mana-mana.

Daze menghela nafasnya. Diperhatikannya dengan seksama punggung lebar di hadapannya. Kebisuan yang mencekam dari tadi sudah seperti mencekik lehernya saja. Karna tidak tahan, akhirnya dia berujar pelan.

“Rath … “

Punggung pemuda itu bergerak, .. namun tidak berbalik. “Hmm—“ sahutnya pendek.

Kemudian sunyi kembali. Entah kenapa, .. keberanian yang sudah dimantapkan Daze sejak sore itu seakan hilang seketika. Ternyata, untuk menghadapi Rathyan memang tidak semudah membalik telapak tangan.

“Ada apa?” Rathyan berbalik sehingga tatapannya bertemu langsung dengan pandangan Daze. “Katakan sekarang!”

“Kau .. kau masih marah?” tanya Daze akhirnya, dengan sangat ragu-ragu.

Rathyan meringgis. “Apa kau perduli?”

Daze memejamkan mata. Hatinya miris seketika. Pertanyaan itu begitu menyayat. Apa kau perduli? Daze tertawa darah dalam hati. Tentu saja aku perduli!

“Ya. Aku sangat perduli!” jawab Daze ketika membuka mata.

Rathyan membuka mulut. Namun tidak ada kata yang terucap. Perlahan-lahan dikatupkannya kembali mulutnya, sampai rahang itu terlihat keras dan persegi.

“Aku ingin katakan padamu, bahwa aku sangat perduli!” ulang Daze sengit. “Melihatmu sakit, hatiku lebih sakit lagi. Mengira kau tidak perduli, hatiku bagai teriris-iris. Dan jika mengetahui kalau hubungan ini hanya kebohongan semata dan akan berakhir, mungkin .. mungkin aku .. aku akan mati sekarang juga … “ Sampai sudah, Dazya .. Kau berhasil mengungkapkannya … Daze mengangkat tangan, kemudian menghapus bulir-bulir air yang mulai menuruni pipinya. “Aku .. ingin kau tahu .. bahwa … ini benar … Aku .. aku tidak mungkin hidup tanpamu …”

“Daze Han … “ Rathyan mengangga. Tubuhnya jadi kaku seketika. Mungkin .. ya, mungkin … ini merupakan hal paling menguncang yang pernah didengarnya. Daze perduli? Daze benar-benar perduli .. ? Benarkah?

“A .. aku tidak sanggup kehilangan .. “ Daze terisak halus. “Aku sungguh-sungguh tidak sanggup. Waktu setahun itu, cukup sudah … Aku tidak ingin mengulanginya lagi … “ Kemudian dia menutup mata dengan sepasang tangannya, dan mengeleng pelan. “A .. aku tahu … aku terlalu egois, .. terlalu banyak menuntut dan tidak pernah mau perduli … , seharusnya aku tahu kalau itu bagian dari kekuranganmu. Dan .. mungkin aku akan kehilanganmu jika begini terus … karna itu aku tidak mau, ‘Aku tidak mau begini!’ … “

“Daze .. “ Tanpa sadar Rathyan beranjak dari jendela. Dia sampai di hadapan Daze hanya dalam beberapa detik, .. dan dengan kesadaran yang minimal, dia meraih tubuh mungil yang sedang menangis itu ke dalam pelukannya.

“Aku ingin menunjukan jalan keluar yang kau minta itu, Rath-a .. “ Daze menyusupkan kepalanya di dada bidang Rathyan. Isak tangisnya semakin menjadi-jadi ketika dirasa tangan lebar dan kokoh milik pemuda itu mengelus-ngelus rambutnya. “Aku ingin mengetahui kelanjutan dari hubungan ini .. Bukan hanya dari kebersamaan sehari-hari, tapi lebih ke depannya lagi .. Aku ingin senantiasa menemanimu baik senang maupun duka .. Aku ingin melihatmu tersenyum setiap hari .. Aku ingin … ingin segalanya yang ada di kamu .. “

Daze merasakan pelukan di tubuhnya mengendur. Rathyan menekannya dengan pelan sampai posisi mereka agak renggang. Kemudian tatapan mereka bertemu, sangat lekat. Rathyan mengangkat tangannya, lalu dengan halus disentuhnya wajah Daze.

Sepasang mata bundar milik gadis itu terpejam perlahan. “Aku ingin kau percaya, Rath-a .. ,” desahnya pelan. “Bahwa aku .. “ Namun perkataan itu segera tertahan di tenggorokan ketika sesuatu yang kenyal dan lembab menempel di bibirnya.

Daze mendesah. Dia tahu apa maksud ini. Rathyan sedang menciumnya. Dan seperti biasa, .. bibir pemuda itu mulai melumat bibirnya dengan bergairah. Lidah yang kasar dan basah itu memasuki rongga mulutnya. Memelintir dengan gerakan seperti ular. Daze mendesah semakin keras. Apalagi ketika rangkulan Rathyan yang tadi sempat mengendur, menguat kembali. Lengan yang kekar itu melingkari pinggangnya. Sedangkan lengan yang satunya lagi menekan bagian belakang lehernya, .. menjaga posisi mereka semakin intim.

Daze ikut mengalungkan lengannya di leher Rathyan. Lumatan-lumatan bergelora juga mulai dilancarkannya. Dia membalas gerakan-gerakan memelintir dari Rathyan. Dia agak berjinjit sehingga posisi mereka lebih memungkinkan buat melakukan gerakan-gerakan liar yang lebih berani.

Daze mengerang kecil ketika Rathyan menyedot bibirnya, .. juga ketika tangan yang melingkari pinggang itu naik ke atas dan mengapai punggung sampai di depan dadanya. Remasan pelan yang semakin cepat membuat tubuhnya menegang hebat. Gigitan-gigitan di telinga dan leher juga dirasakannya.

“Akh … Rath .. “

“Hmm—“

Daze tahu mereka akan keluar batas ketika Rathyan menjatuhkan tubuh mereka di atas ranjang. Rathyan menimpanya dengan gerakan-gerakan yang makin liar bermain di sekujur tubuhnya. Pakaian-pakaian sudah berserakan di mana-mana. Rathyan menghempaskan penutup tubuh terakhir mereka ke lantai, kemudian menjelajahi tubuh Daze dengan lidah, bibir dan tangannya.

“Rath … ah .. “ Daze ingin tanya apakah Rathyan sudah siap melakukan semua pada dirinya, .. namun sepertinya tidak perlu ditanyakan lagi, Rathyan sudah positif.

Dirasakannya lidah kasar itu bergerak ke bawah, menyelusuri leher jenjangnya, .. bermain-bermain sebentar dengan bukit dadanya, … kemudian mencium gemas perutnya yang rata, dan …. Dan sampai di bagian paling sensitif.

“Ahh … “ Daze tersentak bangun. Sensasi luar biasa dirasakannya. Dia merasa ada sesuatu yang akan keluar, .. ditahannya sesaat …, namun tidak bisa lagi ketika Rathyan dengan ahli memutar-mutar lidahnya di bagian itu.

“Rath!!” Tanpa sadar Daze menjambak rambut Rathyan yang bergerak liar di selangkangannya.

Rathyan membiarkan itu. Dirasakannya sesuatu yang berdenyut-denyut di mulutnya, dan cairan yang agak lengket dan kental mengalir keluar dari situ. Rathyan menarik diri, lalu menghapus wajahnya yang basah dengan selimut yang ditimpa tubuh mereka. Setelah itu dia bergerak ke atas sehingga tatapannya bertemu pandangan redup Daze.

Daze tersenyum. “Thanks … “

Rathyan tidak menyahut. Wajahnya menunduk, dan sebentar saja ciuman-ciuman dasyat kembali terjadi di antara mereka. Rathyan mengesek-gesekan tubuhnya di tubuh Daze. Desahan-desahan dan erangan-erangan mewarnai kamar itu. Tubuh Daze menegang ketika merasakan sesuatu yang keras dan panjang mengesek-gesek bagian kewanitaannya. Dia menatap Rathyan dengan penuh hasrat.

“Kau .. ,” ucapnya terengah-engah. “ … ti … tidak akan .. kabur .. lagi, kan?”

Rathyan tak menjawab. Sebagai balasan, serangan-serangan ganas kembali dilancarkannya. Buah dada Daze habis oleh jilatan-jilatan dan gigitan-gigitannya. Bagian yang panjang dan keras miliknya juga bergerak semakin jauh di selangkangan gadis itu. Terasa menusuk dengan tajam dan menimbulkan rasa nyeri dan ngilu yang teramat sangat.

Daze mengigit bibirnya. “Rath .. “

“Sakit?” tanya Rathyan dengan sinar mata redup.

Daze mengeleng pelan. “Tidak. Selama denganmu—tidak apa-apa .. “

Rathyan menghembuskan nafasnya, .. kemudian gerakan-gerakannya semakin cepat. Benda tajam itu menusuk-nusuk kewanitaan Daze. Terasa sesak begitu bagian itu sudah masuk setengahnya.

Daze menjerit. “Akh!!” Tangannya merangkul tubuh Rathyan erat-erat.

Dia tahu, kegadisannya sudah di ujung tanduk begitu ‘barang milik Rathyan’ menyentuh selaput tipis itu. .. Dan hal tidak terkira tiba-tiba terjadi, .. Rathyan menghentikan gerakannya dan menatap Daze tidak percaya.

“Kau .. “

“Ne?” tanya Daze dengan mata setengah terpejam.

“Kau dan Carlson .. tidak pernah .. “ Pertanyaan Rathyan terpengal di tengah jalan.

“Maksudmu .. ?” tanya Daze dengan suara bergetar. Dia sama sekali tidak menangkap arah pertanyaan Rathyan. Perlahan diraihnya tangan pemuda itu dan menempelkan di dadanya. Namun tidak disangka, segera ditarik Rathyan kembali.

“Kau .. masih perawan .. ?”

Sampai di sini, Daze sadar sudah. Dia sudah menangkap seutuhnya maksud dari pertanyaan Rathyan. Wajah Daze berubah merah padam. Bibir bawahnya digigit keras-keras. Tangannya terkepal perlahan. Sekali dorong tubuhnya sudah turun dari ranjang. Daze meraih sweater handuknya, kemudian membungkus tubuh ala kadarnya. Tidak diperdulikannya lagi bra dan celana dalam yang tidak membalut tubuhnya. Juga tidak digubrisnya panggilan Rathyan.

“Daze … “

Daze bergegas-gegas lari ke pintu dengan wajah bersimbah airmata. Hatinya hancur, .. sungguh hancur, .. bagaimana mungkin pria yang akan diserahkan keperawanannya, menyangka dia sudah pernah tidur dengan pria lain? Daze membuka pintu kemudian menghambur keluar. Setipis itukah kepercayaanmu? Ingin sekali, dia meneriakan pertanyaan ini.

“Daze Han!! Tunggu!!”

Rathyan menarik celana jeansnya sampai ke pinggang. Dengan hanya menarik resleting tanpa mengancingnya, dia menyambar kemeja dari ranjang dan memakai seperlunya saja kemudian mengejar keluar.

“Daze!!”

Rathyan melihat Daze sedang menuruni anak tangga. Dengan tergesa-gesa dia mengejarnya.

“Tunggu sebentar!!!” Rathyan sampai di ujung anak tangga teratas. “Daze Han!!” Langkahnya tercekat begitu melihat Daze berhenti di anak tangga paling tengah. Dave tampak berdiri di depannya.

“Noona?”

Rathyan mendengar Dave memanggil dengan nada heran. Kemudian pandangan dari sahabatnya itu tertuju padanya.

“Rath?” tanya Dave lebih heran lagi. “A .. ada apa .. ?” sambungnya sambil melirik Rathyan dan Daze silih berganti. “Apa yang terjadi dengan kalian?” Pandangannya beralih pada penampilan Rathyan dan Daze yang berantakan. Alisnya berkerut perlahan.

“Saya tidak ingin bertemu dengannya lagi .. ,” sahut Daze dengan isak tertahan.

“Daze .. “ Terburu-buru Rathyan menuruni anak tangga sampai tiba di samping Daze. “Dengarkan saya!” katanya seraya meraih tangan Daze.

“Lepaskan saya!” Daze mengibaskannya begitu saja. Pandangannya tajam ketika membalas tatapan Rathyan. “Tidak ada yang perlu kau jelaskan. Saya tidak mau dengar!!!”

“Daze .. “ Rathyan kembali meraih tangannya.

Namun, .. “Lepas!!” jerit Daze sengit.

“Bisakah kau mendengarku sebentar .. ,” ucap Rathyan lemah.

“Tidak!!” sahut Daze keras.

“Tadi itu .. bukan maksudku begitu .. ,” sesal Rathyan. “Aku hanya .. sangat terkejut dan .. tidak tahu harus bereaksi apa … “

“Iya loh .. “ Tiba-tiba Dave menimpali perdebatan tersebut. “Sebaiknya noona dengarkan dulu penjelasan Rath .. “

“Kau tidak tahu apa-apa!!” umpat Daze seraya berbalik menghadap dongsengnya.

Dave mengangkat tangan menyerah. “Right. Benar saya tidak tahu apa-apa. Dan saya tidak akan memberikan komentar .. ,” lalu dia melewati Daze. Tangannya yang memegang botol susu mengocok-ngocok berulangkali. “Hanya saja .. ,” lanjutnya sambil lalu. “Jika kalian bertengkar sengit begitu, seisi rumah pasti bangun oleh suara kalian. .. Jika tidak ingin hal itu terjadi, sebaiknya masuk ke kamar saja .. “

Daze mendelik. Tapi sergapan pelan di lengan membuatnya menoleh.

“Benar kata Dave ..,” Rathyan sudah berdiri begitu dekat darinya. “Sebaiknya kita bicarakan di dalam kamar saja .. ,” bujuknya sambil menyentuh lengan Daze.

“Tidak mau!” tolak Daze ketus.

“Daze .. “ Rathyan menatapnya lelah. Mata elang itu berubah seakan tidak bernyawa. Helaan pelan terhembus dari bibirnya. “Miane .. ,” ujarnya lemah, seraya menurunkan pandangannya ke anak tangga.

Daze membalas tatapan itu. Agak terkejut mendengar permintaan maaf terlontar dari mulut Rathyan. Dan entah mengapa, kemurkaannya berangsur-angsur reda melihat sorot mata itu.

“Kita kembali ke kamar ya .. ?” Rathyan mengangkat wajah, dan berkata dengan penuh harap. “Bicarakan baik-baik .. ?”

Daze tidak merespon. Dia tidak mampu mengatakan apa-apa. Begitu juga ketika Rathyan meraih tangannya dan mengajaknya ke kamar, .. dia tidak mampu menolak. Perlahan kakinya mulai digerakan, .. mengikuti langkah pemuda itu menaiki tangga.


oooooOOOooooo



Rathyan mendudukan Daze di bibir ranjang, sedangkan dia sendiri--berjongkok di depan gadis itu, sambil meletakan dan menekan kedua tangannya di atas pangkuan Daze. Pandangan mereka saling beradu dalam diam.

“Dazya .. ,” mulai Rathyan pelan. “Miane … “ Untuk kedua kalinya dia menyatakan permintaan maaf itu.

“Kau .. tidak percaya padaku?” tuduh Daze dengan penyesalan sedalam-dalamnya. Sedetik kemudian, bulir-bulir air mulai menuruni pipinya.

“Miane … ,” sesal Rathyan untuk yang kesekian kalinya. “Aku tahu tidak cukup kata maaf itu, tapi .. bukan maksudku …. Percayalah. Walaupun .. Yah—“ Dia mendesah. “Tidak seharusnya aku membela diri—miane … Aku khilaf .. “

“Kau mengira aku wanita murahan?” Isak Daze tertahan.

“Anhiyo!!” Rathyan segera mengelengkan kepalanya. “Aku tidak pernah menganggapmu begitu!”

“Jadi?” Daze menghapus airmatanya.

“Aku hanya .. “ Rathyan menekan-nekan jidatnya. Terlihat jelas dia sangat tertekan. “Aku tidak ingin berharap lebih .. ,” akhirnya dia mengaku. “Sungguh—aku tidak pernah mengira .. Anhi! Yang benar, aku tidak pernah sanggup memikirkan bagaimana hubungan kalian .. Aku tidak sanggup .. “

“Lalu .. ?” tuntut Daze. Ditatapnya Rathyan tajam-tajam. Sebenarnya, dia tidak tega memburu pemuda ini dengan pertanyaan tersebut tapi, dia ingin mengetahui jawabannya. Jika tidak, dia yakin akan kepikiran terus.

“Karna itu saya .. saya menganggap hubungan kalian selama ini, lebih dari itu .. ,” Rathyan menunduk menatap jemari Daze. Kemudian dielus-elus dan diremas-remasnya kesepuluh jari itu. “Namun, saya tidak perduli.” Kemudian wajahnya diangkat kembali. “Sungguh—saya tidak pernah perduli karena menganggap hubungan kalian sudah berlalu. Sampai … sampai orang itu muncul kembali dalam kehidupan kita setahun yang lalu .. “ Rathyan tiba-tiba memutuskan perkataannya. Terlihat jelas rahangnya mengeras menahan gejolak perasaannya saat itu. “Saya sangat marah .. ,” geramnya dengan rahang terkatup rapat. “Dan .. saya mengira kau .. tahu perasaanku tapi, … ternyata tidak. Kau .. kau malah memilih .. ,” kata-katanya digantung begitu saja. Rathyan mengigit bibirnya.

“Ya?” tanya Daze lebih lanjut.

Rathyan mendesah. “Saya tidak pernah berkata sebanyak ini ya?” Dia menyengir kecut.

“Saya ingin dengar!” sela Daze cepat. “Jangan dihentikan. Kau sendiri yang bilang, kita harus membicarakannya baik-baik .. “

Rathyan mengangguk. “Ne.”

“Jadi—Apa yang kupilih?” tanya Daze selanjutnya.

“Saya SANGAT SANGAT membutuhkanmu saat itu .. ,” ujar Rathyan, dengan lebih menekankan pada kedua kata ‘sangat’ itu. “Dan saya SANGAT SANGAT berharap kau mau tinggal, menemaniku, .. tapi tidak—kau memilih kembali padanya setelah mendengar berita menghebohkan itu. Kau memilih bertengkar denganku sehingga kutahu—dia sangat berarti bagimu … “

Daze tertegun. Jadi kejadian itu masih menghantui pikiran Rathyan sampai sekarang? Dengan cepat dia mengeleng. “Bukan begitu!” tukasnya sengit. “Kau yang paling berarti bagiku .. “

Rathyan tersenyum pahit. “Benar?”

“Iya!” Daze membalas genggamannya. “Saya ingin meneriakannya padamu saat itu. Tapi tidak jadi. Emosi dan keegoisan sudah menguasai pikiranku. Aku sakit hati karena tuduhanmu. Aku marah karna menganggap kau tidak pernah mau mencoba memikirkan posisiku .. “

“Saya tidak!” sela Rathyan cepat. “Saya sudah mencobanya, tapi .. “

“Saya tahu .. “ Daze tersenyum menenangkan. “Karna begitulah dirimu.”

Rathyan mengangguk penuh sesal. “Saya tidak pandai dalam berkata-kata, Dazya .. “ Ditatapnya Daze lekat-lekat. “Terkadang, .. saya bahkan menganggap diri ini memuakan ..,” ucapnya dengan tampang jijik. “Saya terlalu sulit dipahami, bahkan oleh diriku sendiri .. “ Rathyan mengangkat tangannya, kemudian menutupi wajah sambil menghela nafas berat.

“Rath .. “ Daze menyentuh tangan Rathyan.

“Tapi .. “ Rathyan menurunkan tangannya dengan cepat. “Saya ingin kau memberikan kesempatan itu .. ,” ujarnya sambil menatap Daze. “Saya akan berusaha berubah .. Walaupun sekarang, saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, tapi … saya berharap kau mau percaya dan menungguku .. Will you, Dazya?”

Daze membalas tatapan redup itu. Lalu perlahan-lahan kepalanya mengangguk. “Yes, I will. Sampai kapanpun .. “

Rathyan tersenyum. “Thank you .. ,” ucapnya tulus. Kemudian tubuhnya ditegakan. Dipeluknya Daze erat-erat. “Gumawo .. “

Daze membalas pelukan itu. Saya tidak akan melepaskanmu lagi .. Tidak akan .. , janjinya dalam hati.

“Dan apa kau tahu .. ,” ujar Daze halus. “Saya menyusulmu kemari dua bulan kemudian. Tapi ternyata, kau sudah pergi, entah kemana … “

Rathyan melonggarkan pelukannya. “Jinja?” tanyanya tak percaya.

Daze mengangguk. “Ne … “ Dia tersenyum kecut. “Seharusnya saya katakan waktu itu, sebelum meninggalkanmu, bahwa saya pergi hanya sementara dan akan segera kembali … Tapi saya terlalu marah, .. dan semuanya jadi salah karna luapan emosi sesaat itu .. “

“Dave tidak memberitahumu kalau saya sudah pergi?” tanya Rathyan sambil mengerutkan alisnya.

Daze mengeleng. “Tidak. Saya tidak menghubungi siapapun ketika berada di Seoul, termasuk Dave. Saya bermaksud konsentrasi penuh buat menguatkan Carls saat itu, .. dan itu semua kesalahanku .. “

Rathyan menghembuskan nafasnya ke udara. “Kita sama-sama bodoh, .. sama-sama keras kepala. Coba jika semuanya dibicarakan secara baik-baik, pasti semua tidak bakal terjadi … “ Kemudian dia bangkit dan duduk di sebelah Daze. “Hubungan kita terlalu dangkal, .. tidak terpondasi dengan baik. Tidak ada kematangan, .. yang ada hanya kecemburuan-kecemburuan dan kecurigaan-kecurigaan yang membuta .. “

“Tapi semua sudah berlalu .. “ Daze menatap Rathyan penuh harap. “Benar kan? Mulai saat ini, kita akan lebih memahami? Semua akan kita bicarakan baik-baik sebelum kesalahpahaman muncul?”

Rathyan tersenyum, .. kemudian dia mengangguk menyakinkan. “Sure. I promise .. “

“Rath .. “ Daze menghambur ke dalam pelukan Rathyan. Dipeluknya tubuh jangkung yang terbalut kemeja tak berkancing itu erat-erat, .. sehingga dirasa jelas degup jantung menenangkan dari pemuda itu. Mata Daze terpejam. Dia merasa aman, .. sangat tentram sekarang. Jika Tuhan bermaksud merenggut nyawanya sekalipun saat ini, .. mungkin juga dia tidak akan membantah. “Tidak apa kau tidak mampu mengucapkan kata ‘suka dan cinta’ itu .. Tidak apa-apa .. ,” ujarnya lirih. “Saya tidak memerlukannya lagi. Karna saya tahu, .. kau mencintaiku lebih dari kata-kata .. “

Rathyan mengangkat wajah Daze dengan tangannya. Tatapan mereka saling beradu, .. kemudian, secara perlahan-lahan kepala Rathyan menunduk, .. sampai bibirnya menempel ketat di bibir Daze. Daze memejamkan matanya lambat-lambat. Perasaannya mulai melayang saat itu.

Kecupan-kecupan berubah jadi lumatan-lumatan panas. Rathyan menjulurkan lidahnya sampai bertemu dengan lidah Daze, .. saling bertaut dalam decakan-decakan yang mendirikan bulu roma. Tangan kekar pemuda itu pun mulai bergerak. Dilepasnya mantel pembungkus tubuh Daze sampai melorot ke lantai. Tubuh mungil nan halus tanpa cacat itu langsung terpampang di depan matanya. Daze polos karna memang belum sempat memakai pakaian dalamnya.

Dengan pelan-pelan Rathyan membaringkan tubuh mengiurkan itu di atas ranjang. Kemudian dia bangun dan membuka pembungkus tubuhnya. Daze memperhatikan itu dengan mata setengah terpejam. Apakah dia siap sekarang? Tidak bakal ada penyesalankah? Tanpa sadar dia tersenyum. Tidak akan! Dia sudah yakin akan menyerahkan diri seutuhnya pada pemuda ini. Dan dia tidak akan menyesal, .. apapun yang terjadi kelak.

Rathyan menjatuhkan celananya di lantai, sehingga terlihat jelas ‘barang miliknya’ yang sudah mengacung tegak dan keras, .. begitu juga kemeja yang tersisa, dicampakannya begitu saja di lantai. Kemudian dia merangkak ke atas ranjang, sampai berada tepat di atas Daze.

“Kau yakin?” tanya gadis itu serak.

“Kenapa?” Rathyan balas bertanya. “Kau tidak yakin?”

Daze mengeleng. “Tidak.” Kemudian dia mengigit bibirnya. Semburat merah menghiasi wajahnya yang memang sudah berwarna kemerah-merahan. Membuatnya semakin menarik dan mengemaskan. “Hanya saja, .. waktu itu kau yang bilang. Kau tidak ingin menyamakanku dengan .. wanita-wanita yang pernah bersetubuh denganmu .. “

“Kau lain!” tukas Rathyan cepat. “Kau tetap lain dengan wanita-wanita itu. Jangan menyamakan dirimu dengan mereka .. “

“Jadi?”

Rathyan menurunkan wajahnya sampai bibirnya menyentuh leher Daze. Dijilatinya leher jenjang itu sampai Daze mengerang-ngerang geli.

“Aku yakin karna .. keyakinanku sudah mantap .. “ Hanya itu yang dikeluarkan Rathyan. Selanjutnya, serangan-serangan bertubi-tubi dilancarkannya.

Bibirnya menyentuh dengan meninggalkan bercak-bercak merah di sekujur tubuh Daze. Gadis itu terpekik ketika Rathyan melancarkan gencarannya di area tersensitifnya. Pahanya mengatup dan menjepit kepala Rathyan ketika kepuasan tidak terhingga tidak mampu ditahannya lagi. Dia orgasme dengan tubuh terlentang kelelahan di atas ranjang.

Rathyan mengapai kepalanya, kemudian menatapnya dalam-dalam. “Puas?”

Daze mengangguk. Dia tersenyum, kemudian tangannya meraih tenguk Rathyan. “Tapi saya ingin yang lebih puas lagi .. ,” ujarnya dengan tampang mengoda. Tanpa sadar, dia mengigit bibir bawahnya, menantang ..

Bukan pria sejati namanya, jika Rathyan tidak mampu menangkap maksudnya. Dengan gemas pemuda itu melumat bibir Daze sampai habis. Bibir mungil tersebut seutuhnya tenggelam dalam bibir Rathyan. Daze meremas rambut Rathyan, kemudian memberikan sensasi lebih padanya dengan menurunkan sebelah tangannya ke paha pemuda itu. Secara cepat diraihnya ‘senjata pamungkas itu’ dan mengocok-ngocoknya dari atas ke bawah. Rathyan mengerang. Matanya merem melek keenakan.

“Begini?” tanya Daze ragu-ragu. “Kau suka kah?”

Rathyan mengangguk. “Kau sudah pandai .. ,” pujinya dengan nada sumbang yang mengiurkan.

Daze tersenyum dengan pipi merona merah. Perlahan tangannya yang meremas rambut Rathyan diturunkannya ke bawah sampai di punggung Rathyan. Dielus-elusnya punggung panjang nan kokoh itu. “Aku ingin lebih .. ,” desisnya di sela-sela telinga Rathyan.

Pemuda itu mengangguk. Setelah melakukan pemanasan-pemanasan sekedarnya, .. pusaka pamungkas itu siap dihujamkan ke tubuh Daze.

….

….

….. (edit, capek ah .. )

Dua tubuh tergeletak kelelahan di atas ranjang. Bulir-bulir keringat sebesar jagung mengalir deras dari tubuh mereka. Desah nafas yang memburu, tersengal-sengal membuat ruangan yang dingin itu menjadi panas. Mereka sangat capek, .. namun semua tidak membuat senyum sumringah terlepas dari bibir mereka. Daze memeluk Rathyan erat-erat. Kepalanya menyandar di dada bidang tersebut dengan mata terpejam.

Rathyan mengecup puncak kepala Daze. Kemudian diliriknya seprai yang sudah sangat berantakan dan bercak-bercak darah yang tertinggal di atasnya. Dia menghela nafas. Jika ditanya adakah penyesalan dalam hatinya? Dia akan menjawab, ada—sedikit .. Walaupun dia akan bertanggung-jawab, bahkan sampai mati sekalipun .. dia tetap merasa menyesal telah merenggut kegadisan wanita yang sangat dicintainya ini.

Kembali dikecupnya puncak kepala Daze. “Tidurlah yang nyenyak .. Semua akan berlalu esok harinya … “

Daze mempererat rangkulannya. Dengan sepasang mata masih terpejam rapat, dia membuka suara sedikit ragu-ragu.

"Rath ... "

"Hmm?"

"Boleh kutanyakan sesuatu?"

Rathyan mengendus kepalanya. "Tentu saja .. "

"Tentang ... " Daze menelan ludah perlahan. "Korean Capital ... "

Rathyan melebarkan matanya, kemudian menundukan pandangan kearah Daze. Dia tidak mengeluarkan suara. Dengan sekuat tenaga, ditahannya emosinya yang mengobar begitu mendengar kata Korean Capital.

"Kau yang melakukannya kan?" tanya Daze akhirnya. "Kau menolong Korean Capital sehingga terhindar dari kebangkrutan?"

Rathyan mengalihkan pandangan kearah lain. "Apa penting untuk kau ketahui?" tanyanya dingin.

Daze menatapnya, .. kemudian dia tersenyum. Perlahan gadis itu mengelengkan kepalanya. "Tidak. Lupakan saja .. " Kemudian kepalanya kembali disandarkan di dada bidang Rathyan yang tak tertutup selembar kainpun. "Karna saya sudah mengetahui jawabannya ... ," ujarnya lirih, .. dan hampir, hampir, tidak terdengar Rathyan.

Rathyan menjatuhkan pandangannya pada Daze. Sebentar kemudian, tatapannya diangkat .. menerawang ke langit-langit kamar yang kelam dan dingin.


oooooOOOooooo


Ya, akhirnya Daze jebol juga. Kenapa? Jangan tanyakan padaku karna aku tidak tahu juga lol

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Thanks mam dah di update..
Daze jebol juga

oh ya mom, daze sudah tahu gg tentang White?

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Thanks mam dah di update..
Daze jebol juga

oh ya mom, daze sudah tahu gg tentang White?
kedatangan jenny [what] tidak. ttg perjodohan yg pingin dilaksanakan paman oli, dia juga belum tahu [heh] [heh] rath ga ngerasa perlu menjelaskan semua itu karna dia tdk pernah menganggap perjodohan tersebut,,

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
PERHATIAN : baca chap ini menyebabkan paru kembang-kempis,,reader ileran,,idung mimisan,collapse dan masuk UGD di akhir cerita [collapse] [collapse] (gaya iklan rokok) [hmpfh] [hmpfh]
DILEMA plus NELANGSA tingkat akut ni chapie..mimisan,,mimisan deh..---> naik turun lg mimisannya [AddEmoticons04253]
tinggal dikit eh,,pake acara ngambekan..bikin kembang kempis paru2 gw..gw kira ga jadi [laughing] [laughing] tapi skalinya jadi kok -EDIT-males ah capek [guns] [guns]
THAKS MOM finaly Jebol juga,,salut buat Daze yg brani ngungkapin smua [lovestruck] salut juga sama Rath walopun udah jebolin Daze tapi dia tetep ngerasa nyesel karena secara ga langsung dia nyakitin cewe yg dia cintai.. [cry]
sini gw peyuk mam.. [hug] [hug]
Jalan berliku masi nunggu di depan kalian RathDazya [sweat] [sweat] pupuk pondasi yg kuat sblm ancaman itu datang menghantam --> bahasa gw ribet [hmff] [hmff]

Love you more than I can say

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
DAZE HOTTT AKUTTT....chap ni bikin aq cekikikn panas dingin n panik krn hp err palagi hampir 2jm ngutakatik hp akhrx bs komen..Dave sodara yg aneh ms ka2kx lg berbuat itu nyantai aj malah nyuruh msuk kmr lg.wkwkwk..makin suka daze orgx sabar mw ngalah demi rath tercinta..mami mgkin gak rath bkal ninggaln perushaan bwt ngejar cita2x breng daze??..thx thx thx..
[/size][/color][/b]

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
mami gumawo dah di update...baru bangun tidur buka cm ternyata rathot dah di update [biggrin]

akhirnya setelah m=penantian selama setahun
berhasil juga rath cetak gol  ke gawangnya daze [hmpfh] [hmpfh] [laughing]

hore daze jebol...hore daze jebol....hore daze jebol...hore daze jebol...hore daze jebol [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
satu - kosong buat rath puas bacanya looooooooooooonnnnnnnnnnnnnnggggggggggg chp..

sama kayak moow baca chp ini bikin mimisan, membuat tingkat hayalan jd kemana2 [bav] [bav] [bav] [bav]

but kenapa harus di edit ya [nono] [nono] [chin] [chin] [what]

ehm akhirnya rathdaze bisa berfikir secara dewasa setidaknya jd titik awal memperkuat hubungan mereka...jgan tergoda oleh kecemburuandan keegoisan lg ya...rathdaze kalian adalah soulmate yg tidak bisa terpisahkan jarak dan waktu-->berat banget bhs gw [lovestruck] [hmpfh]

lanjut mam [hug]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile

- astaganaga bonarrrrr..astghfirullahaladzim...jyhahahahaha gw juga bangun tidur  Taa' [laughing] [laughing]
OMR ...baca Oh My Rathhhhh... seharusnya gw msiy ga bole baca yang ini LOL...guling-guling-2  [laughing] [laughing]
-- gw comment yang dave aja d, lucuh banget tuw anak ^_^
“Iya loh .. “ Tiba-tiba Dave menimpali perdebatan tersebut. “Sebaiknya noona dengarkan dulu penjelasan Rath .. “
ngyahahahha lambai abissss  [hmpfh] [laughing]
---  bwat rath and dazeee smoga untuk kedepanya lebi bisa memahami satu sama lain, hingga hubungan kalian lebih kuat tegar tak tergoyahkan *merdekaa* loghhhhh?  [laughing]
---- daze akhirnya bisa mengalah untuk benar-benar memahami seorang rathhhh [heh], perjuangan seorang dazee untuk sesuatu  yang benar harus diperjuangkannya.Yeppzzz dia mencinati rathhhh lebih dari yang ia ingin katakan  [huglove]
----- rathhhh, chukaeoo, bisa lebi berterus terang membuka pikrian meskipun sdikit, mungkin ini titik awal dari semuanya
bahwa masih ada seseorang yg benar-benar rela melakukan sesuatu yg lebih untuk seorang rathhh...because you're rathhh  [huglove]
------ wah next chap si whitee dateng euyy ke aussie, but legaa *ikotan ngelus elus dada*, ga da yang perlu dikhawatirkan [nono]
atoww jangan jangan mommy punyaa kejutan  [ohmy]

-------Tengkiu mommm, for update,  [hug]  [huglove]


‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
YA SALLAMMMMMMMMMMMMMMMMMM !!! mamii ..... CENAT CENUT [on] [on] [on] [on]
Specless akhirnyaaa jeboll punk punk punk punk punk TUMPENGAN NIH YUHUU TUMPENGAN [laughing]
Mam di edit mau ada M-version yee ekekekeke
Untung gw bacanya sekarang itupun sekilas,, kalo baca ntar dipastikan p.u.a.s.a gue batal, jadi buat lebih pwasss nanti malam saja [hmff] [hmff]

Mamii sekali lagi thankyouu [cheekkiss]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Omigod mommyyyyyyyy akhirnya stelah penantian panjang #lebe jebol jg yippieeeeeeeeeeeee #terharu hmpf

Ekekekek langsung tokcer aje mommy biar makin ga bs dipisahin lg si jenny ni nekad lg mesti buat dapetin rantang


ADAM COUPLE SELCA