Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 98544 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Song of the day :

http://www.youtube.com/watch?v=hv9BCC_Nt8M&feature=player_embedded

Lyrics : 'From this moment'

(I do swear that I'll always be there.
I'd give anything and everything and I will always care.
Through weakness and strength, happiness and sorrow,
for better for worse, I will love you with
every beat of my heart.)
From this moment life has begun
From this moment you are the one
Right beside you is where I belong
From this moment on

From this moment I have been blessed
I live only for your happiness
And for your love I'd give my last breath
From this moment on

I give my hand to you with all my heart
Can't wait to live my life with you, can't wait to start
You and I will never be apart
My dreams came true because of you

From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn't give
From this moment on

You're the reason I believe in love
And you're the answer to my prayers from up above
All we need is just the two of us
My dreams came true because of you

From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn't give
From this moment
I will love you as long as I live



Daze membuka mata perlahan-lahan, dan saat itu .. didapati kepalanya masih menyandar di dada bidang Rathyan. Sedangkan sepasang tangannya merangkul erat pinggang kekar pemuda itu. Daze tersenyum. Dia mengangkat wajah perlahan dan melihat sepasang mata pria impiannya itu masih terpejam rapat. Lambat-lambat, tangannya diangkat .. dan menyentuh lembut paras yang terpahat sempurna itu.

Daze menelusuri wajah Rathyan mulai dari kelopak matanya yang bergaris panjang dan terhias bulu lentik, lalu turun ke hidungnya yang mancung dan lurus sampai ... menyentuh bibirnya yang penuh dan lembab. Sampai di sini, Daze mengigit bibirnya. Tanpa sadar, dia menelan ludah buat membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.

Untuk kesekiankalinya, begitu berdekatan dengan Rathyan, dia kembali merasakan desiran halus mengalir di dadanya. Daze kemudian memainkan jarinya yang masih menempel di bibir Rathyan. Dia tersenyum tipis. Sampai bibir penuh itu terasa bergerak .. Daze tersentak kaget.

"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Rathyan pelan tanpa membuka matanya.

"A .. aku .... "

Tok .. tok .. tok ... Untung saja ketukan pintu segera terdengar, sehingga berhasil melepaskan Daze dari jawabannya yang terdengar gagap.

"Dhuga?" Daze memandang Rathyan penuh tanya.

Rathyan membuka matanya. Alisnya berkenyit ketika menatap pintu, .. lalu dia mengangkat bahu. "Biarin aja .. ," sahutnya cuek.

"Mwo? Mana mungkin .. ?" Daze segera beranjak turun dari pembaringannya. Dalam keadaan itu, tubuhnya yang tidak terbalut busana alias polos terpampang jelas di hadapan Rathyan. Seketika, wajah mungil itu merona merah. "Yaa--apa yang kau lihat?"

Rathyan kembali mengangkat bahunya."Tidak ada!" sahut pemuda itu sekenanya. Lalu matanya kembali terpejam, sambil menarik selimut dan menutupi tubuhnya sampai ke leher.

"Yaa--" sunggut Daze.

"Dazya!!" Terdengar panggilan dari balik pintu. "Apa kau berada di dalam?" Tok .. tok .. tok .. "Dazya!!"

"Carls!" tukas Daze kaget campur cemas. "Bagaimana ini?" tanyanya dengan mata membeliak lebar. Tangannya berulangkali mengacak-ngacak rambutnya yang terpangkas pendek. "Dia kemari! Apa yang harus kulakukan?!!" lanjutnya sembari menguncang-guncang pundak Rathyan.

"Mwo?" tanya Rathyan sambil membuka mata dan menatapnya bingung.

"Dia kemari!" ulang Daze. "Si Carls!" katanya sambil menunjuk pintu. "Dia akan mengetahui apa yang kita lakukan!"

"Lalu?" Kerutan di jidat Rathyan semakin dalam.

"A .. aku harus sembunyi .. ," tukas Daze tanpa sedikitpun memperdulikan ketergangguan Rathyan. Gadis itu menarik selimut buat menyembunyikan tubuh polosnya, hingga tubuh jangkung yang masih telentang di atas ranjang tidak tertutup sama sekali. "Ka .. katakan padanya a .. aku tidak ada di sini .. ," sambung Daze sambil berlari ke kamar mandi.

"Tapi ... " Rathyan bangun ke posisi duduk dan berusaha mengeluarkan pendapatnya tapi, Bummm! Pintu sudah dihempaskan Daze. " .. ini kamarmu ... ," lanjut Rathyan dengan nada memelan. " ... apa yang harus kujelaskan padanya?" Mata elangnya meredup. Garis mata yang panjang itu menjadi lurus.

Dengan agak kesal Rathyan turun dari ranjang, dan menyambar pakaiannya yang berserakan di mana-mana, baik di atas ranjang maupun lantai, kemudian memakainya asal-asalan. Dengan tampang kusut dan penampilan acak-acakan dia berjalan ke pintu dan membukanya.


-> --> O <-- <-



"Ya?" sapa Rathyan malas.

Pria yang berdiri di depan pintu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Carlson Kim, membelalakan matanya. Dipelototinya Rathyan dengan sinar mata horor. Tidak disangka, pemuda ini yang akan didapatinya dalam kamar Daze. Kenapa bisa begitu? Pandangan Carlson menurun dari ujung rambut sampai ujung kaki--ke penampilan Rathyan yang sungguh-sungguh berantakan, lalu kembali lagi ke atas, .. begitu sebaliknya.

"Kau .... Tuan Jang ... ?" tanyanya gagap. "Ke .. kenapa .. berada di sini ... , di .. kamar Daze .. ?" Lalu perlahan-lahan, .. pandangannya diedarkan ke dalam ruangan. Tidak didapatinya sosok yang dicarinya saat itu.

Rathyan menguap lebar. "Memangnya kenapa?" tanyanya datar dan cuek.

"Daze .. ?" desah Carlson lirih. "Di .. mana .. ?"

"Ada!" sahut Rathyan pendek. Pandangannya bertemu tatapan Carlson dengan raut menantang. "Memangnya ada apa kau mencarinya?" lanjut Rathyan ketus.

Sementara itu, .. pembicaraan di luar samar-samar terdengar Daze. Mata indah dan bundar milik gadis itu terbelalak.

"Pabo!!" Daze mengutuk diri sambil memejamkan matanya. Sepasang tangan mungil itu menjitak-jitak kepala berulangkali. "Kenapa sebodoh ini--Yaishh!! Ini kamarku, .. kenapa justru nyuruh Rath yang membukakan pintu!!" bentaknya kesal.

Ditariknya gagang pintu sampai pintu kamar mandi itu tergangga lebar. Dan satu lagi kesalahannya, .. penampilannya yang hanya terbalut selimut malah membuat Carlson yang berdiri di ambang pintu membelalakan mata lebar. Dagunya sudah hampir menyentuh dada saja saking kagetnya.

"Dazya ... "

" ... " Daze terdiam membatu. Pandangan Carlson menyadarkan akan segalanya. Perlahan-lahan Daze menunduk dan melihat penampilannya sendiri. Benar, dia tidak berbusana dan hanya terbalut selimut. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dia telah melakukan sesuatu dengan Rathyan dalam kamar tersebut tadi malam ..

"Kau ... " Carlson menunjuk Daze, .. lalu beralih pada Rathyan, selanjutnya pada Daze lagi, " ...  kalian ... ," ucap pemuda itu sambil mengerakan telunjuknya silih berganti, .. suaranya terdengar serak.

"Carls .. " Daze mendesah. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya.

"Sudah puas kau menatapnya?"

Tiba-tiba, terdengar pertanyaan tajam dari Rathyan, .. yang segera menyadarkan mereka dari ketengangan. 

Carlson menoleh pada Rathyan. "Mworagu?"

Rathyan maju selangkah, hingga tatapannya bertemu langsung, .. begitu dekat dari Carlson. Sekarang pandangan Carlson terhalangi oleh postur menjulang di hadapannya. Hidung Rathyan sampai .. hampir mengenai jidatnya.

"Aku bilang--SUDAH PUAS KAU MENATAPNYA?!" ulang Rathyan dengan nada ditekan. Tangannya menarik kerah kemeja Carlson .. kemudian, menekannya ke pintu. Rathyan menatap penuh amarah.

"Rath .. " Sentuhan Daze di lengan Rathyan membuat pemuda itu menghentikan kebrutalannya. Perlahan-lahan Rathyan menoleh. "Jangan ... ," ucap Daze mencelos. Kepalanya digelengkan lambat-lambat.

"Huh!!" Rathyan melepaskan cengkramannya, .. menghempas keras tubuh Carlson hingga terhuyung ke belakang. "Lain kali jika kau lakukan lagi, .. akan kupatahkan batang lehermu!!" ancam Rathyan dengan mata berkilat.

"Dazya .. " Carlson berkata lirih. "Kau rela? .. Kau tidak menyesal ... ?" tanyanya sambil menatap pilu penampilan Daze.

Melihat gadis yang dicintainya ini menyerahkan segalanya, .. termasuk keperawanan yang telah dijaganya dengan begitu baik pada pemuda lain, begitu saja,  .... yang mampu ditebaknya dengan hanya melihat keadaan mereka masing-masing, ... apalagi pemuda yang baru dikenal Daze beberapa bulan, setelah itu berpisah setahun, tanpa status yang jelas .. terus terang saja membuat Carlson masih tidak mampu percaya. Tidak mungkin!! Tidak mungkin Daze seliar ini!!!, jerit hatinya berkali-kali.

Daze mengigit bibir. "Miane, Carls-a ... "

"Kenapa, Dazya .. ?" desah Carlson. "Kenapa sejauh itu ... ?" ujarnya seraya mengelengkan kepala.

"Saya .. saya tidak tahu .. ," ucap Daze pelan. Hanya sesaat kemudian, begitu pandangannya beradu dengan Rathyan, .. dia tersenyum. "Tapi saya tidak menyesal, Carls-a ... "

"Tidak menyesal?" Carlson menarik nafas. "Kukira kau belum mempercayainya, .. baru sehari, kenapa jadi begini? ... Apa yang sudah dijanjikannya padamu? .. Apa? .. " Carlson kemudian menuding Rathyan. "Apa dia sudah mengatakan yang ingin kau dengar?!!" tukasnya tajam.

"I .. itu ... " Daze jadi bingung sendiri. Dia menoleh pada Rathyan. Lalu berbalik kembali pada Carlson, .. tetap tidak terdengar jawaban terlontar dari bibir mungilnya.

"Apa maksud perkataanmu, Tuan Kim?" Terdengar Rathyan bertanya dengan nada dingin.

"Sudah jelas, bukan?" balas Carlson. Baru kali ini dia kelihatan begitu berani menantang Rathyan. "Daze selalu mengharapkan tiga buah kata dari anda, ... Aku sebagai sahabatnya saja tahu, apa anda tidak tahu? Apa anda tidak pernah mencoba untuk mengungkapkannya,Tuan Jang? Jika anda serius, tunjukanlah keperdulian anda!"

Diburu pertanyaan bertubi-tubi dari Carlson, Rathyan tidak mengeluarkan suaranya. Kedua pemuda itu berdiri berhadapan, dengan pandangan yang saling membalas dalam diam dan mematikan.

Tiba-tiba Rathyan menjulurkan tangannya ke samping dan meraih pergelangan tangan Daze.

"Saya akan membuktikannya pada anda!" kata Rathyan tajam, seraya menarik Daze buat keluar dari kamar.

"Ke ... kemana?" tanya Daze gugup.

Rathyan menyengir, ... "Sarapan!" sahutnya sembari melirik Carlson. "Bukankah dengan maksud itu tuan datang kemari?"

"Eh--" Carlson terlihat bergerak sedikit dari posisinya. Tapi dia tidak mampu menjawab.

"Yaa--" Daze menepis tangan Rathyan.

"Mwo?" Rathyan menoleh cepat.

"Kau .. tidak lihat penampilanku?" tukas Daze kesal. "Kau ingin aku berkeliaran seperti ini?!!" lanjutnya sengit.

Rathyan menjatuhkan perhatiannya pada penampilan Daze. Lalu, tanpa dapat ditahannya, dia mengulum senyum. "Kau benar. Ya, sudah .. Pakai dulu pakaianmu!" katanya kemudian.

Rathyan meraih daun pintu, lalu menekannya sampai tertutup perlahan-lahan. "Mian, Tuan Kim. Kami harus berberes-beres dulu. Kau tunggulah kami di ruang makan .. ," ujarnya dengan pandangan mengejek, .. sampai pintu tersebut benar-benar tertutup rapat, … dan bayangan Rathyan dan Daze menghilang dari hadapan Carlson.


-> --> O <-- <-



Rathyan mengandeng Daze menuruni anak tangga. Berulangkali, senyum tipis tersungging di bibirnya. Sedangkan Daze, terlihat agak khawatir. Sesekali diliriknya Rathyan dengan jidat berkenyit, lalu dia menghela nafas. Sekitar tiga menit kemudian, mereka sampai di ambang pintu ruang makan.

Beberapa pasang mata langsung berpaling pada mereka. Kecuali si kecil Cherryl yang terlihat rewel dalam gendongan ommanya.

"Selamat pagi ... ," sapa Daze lambat-lambat. Dia melirik Carlson, lalu beralih pada omma dan appa. Kedua orangtuanya itu membalas salamnya dengan anggukan dan senyuman. Tapi raut mereka datar kembali begitu bersitumpuk dengan Rathyan. Daze melirik Carlson lagi. Pemuda itu membalas tatapannya dalam diam, lalu mengeleng perlahan. Daze akhirnya menghembuskan nafasnya lega. Ternyata Carlson tidak membongkar apa yang sudah dilihat dan ditebaknya.

Hentakan pelan di pergelangan tangan membuat Daze mengalihkan perhatiannya. Rathyan kelihatan menatapnya, lalu mengerakan kepala pada omma dan appa.

"Mwo?" tanya Daze tidak mengerti.

"Ikut aku!"

Rathyan 'menarik' Daze menghampiri orangtuanya. Sampai di depan omma dan appa, Daze terlihat gugup.

"Kau mau apa?" bisik Daze pada Rathyan.

"Kau lihat saja!" ujar Rathyan tidak kalah pelannya.

"Mwo?" Daze melebarkan matanya takut.

"Kau percaya padaku, kan?" lanjut Rathyan sambil menatap Daze lekat-lekat.

Daze membalas pandangannya, .. lalu ... bagaikan terhipnotis, gadis berpostur mungil itu mengangguk.

Rathyan, 'tersenyum?' "Bagus. Kalau begitu, kau ikut aja .. Apapun yang kulakukan, kau tidak perlu berkomentar. Araso?"

Sekali lagi Daze menganggukan kepalanya.

Setelah memberikan senyumannya, 'lagii??!!' Rathyan  berpaling pada dua orang tua yang sejak beberapa saat lalu menatap mereka heran.

"Tuan dan Nyonya Han .. ," mulai Rathyan dengan nada yang teramat tenang. Dia membungkuk mendadak, .. walau tidak terlalu dalam. Tubuhnya yang jangkung hampir terantuk meja begitu melakukan itu. "Ijinkan putri anda .. bersama saya ... "

"MWO?!!" Teriak Daze, omma dan appa hampir berbarengan.

Carlson terlonjak dari kursinya, .. sedangkan Dave dan istrinya saling melempar pandang heran dan kaget. Berlainan dengan Cherryl yang menangis semakin keras saja.

"Apa-apaan ini?" Daze menarik lengannya sampai terlepas dari genggaman Rathyan. Ditatapnya pemuda itu tajam-tajam, .. namun, Rathyan tidak mengubrisnya.

"Saya serius dengan hubungan ini .. ," lanjut Rathyan pada omma dan appa. "Karna itu Tuan dan Nyonya, .. ijinkan putri anda bersama saya .. "

"Rath .. ," sergah Daze. Suaranya berubah pelan. "Ini sudah tidak lucu lagi .. ," ucapnya lirih dan memelas.

"Siapa bilang ini lucu?!" Rathyan berbalik ke Daze. "Saya tidak sedang bercanda, Dazya!"

"Maksud anda, .. ," Omma berdiri dari kursinya, .. hingga berhadapan langsung dengan Rathyan. "Kau ingin menjalin hubungan dengan Daze, putri kami?" tanya omma tajam.

"Ne!" sahut Rathyan segera, .. dan mantap. Dia segera beralih kepada omma, hingga bersitatap langsung dengannya.

"Anda serius?"

"Sangat!" tukas Rathyan tak berkedip.

"Tidak akan mengecewakannya lagi?" selidik omma. "Tidak akan membuatnya menderita, ataupun meninggalkannya begitu saja--apapun cobaan dan halangan yang menghadang, seperti yang pernah anda lakukan setahun lalu?" lanjut wanita tengah baya itu bertubi-tubi.

"Ne!" tukas Rathyan kembali. Kali ini lebih tegas dan keras. "I promise for that!"

"Buktinya?" pinta omma kemudian, .. sambil menatap Rathyan tajam-tajam.

Rathyan menyengir hingga sudut bibirnya tertarik ke atas. Melihat itu, tanpa sadar .. Daze menyusut selangkah. Seperti mendapat firasat buruk akan apa yang mungkin dilakukan Rathyan selanjutnya, dia berusaha menghindar. Namun terlambat. Pemuda itu tiba-tiba meraih tengkuknya, ... menekan dan membawa wajah mungilnya ke arahnya, hingga bibirnya yang mengangga itu disambar tanpa ampun oleh bibir penuh Rathyan.

Semua yang menyaksikan adegan tersebut mengangga.

"Ya--ampun, Rath!" seru Dave. Matanya melotot, .. seakan sepasang bola mata tersebut sudah bersiap lepas dari rongganya. Sepasang mata itu terbelalak lebar.

Sedangkan istrinya, Natalie, ... menutup mulut dengan tangannya. "Onnie ... ," desah cewek itu lirih, sembari melirik kedua mertuanya.

Kedua orang tua itu ikut-ikutan menutup mulutnya .. tidak percaya. Sementara Carlson, .. mengatur pernafasannya yang tiba-tiba terasa sesak. Tangannya menekan dada, kemudian menghembuskan nafasnya keras-keras.

"Rath .. Rath .. " Daze megap-megap kehilangan nafas. Kepalan tangannya berulangkali didaratkan di dada Rathyan, namun percuma saja ... Terkaman pemuda itu di bibirnya seakan tidak mau berhenti.

Daze bisa merasakan lidah panas Rathyan memasuki rongga mulutnya, kemudian mengorek-ngorek di dalam sana. Sesekali lidah tersebut menyapu barisan gigi-giginya, lalu mengait lidahnya. Daze berkejap-kejap, .. persediaan udara di paru-parunya sudah hampir habis kini. Dengan sekuat tenaga dia menekan dada Rathyan.

"Rath .. Rath ... saya .. sesak ... ," ujar Daze terbatah-batah.

Dia merasakan gigitan pelan di bibir bawahnya sebelum Rathyan benar-benar melepaskan pagutan dari bibirnya.

Rathyan tersenyum. Daze membuka mulut, bermaksud berdebat tapi segera terputus begitu melihat Rathyan mengerling dengan senyuman sinis ke Carlson. Dadanya dibusungkan, penuh kemenangan.

"A .. apa .. maksudnya ini ... ?" Setelah terkesiap selama beberapa menit, omma mengeluarkan suaranya. Dia sangat kaget .. hingga suaranya terdengar parau dan serak.

"Dazya ... ," Appa ikut mengomentari dengan nada pelan. Ekspresi tak percaya masih saja mengantung di wajahnya. Bagaimana mungkin putri kesayangannya berubah liar begini?

"Appa ... " Daze mendesah. Perkataannya tercekat di tenggorokan.

"Sudah jelas, kan?" Rathyan menimpali, "Ini bukti saya bersungguh-sungguh dengan putri anda ... "

"Ini tidak membuktikan apa-apa, Tuan Jang!" Carlson tiba-tiba berseru keras. Ditatapnya Rathyan dengan raut tidak senang. "Anda hanya menunjukan bagian dari sisi kanak-kanak anda. Dengan melakukan ini terhadap Daze, tidak menunjukan bahwa anda benar-benar mencintainya!"

"Kau--" Rathyan mengangkat telunjuknya. Matanya bersinar tajam namun, .. perkataannya tidak mampu dilanjutkan.

"Jika benar dia sangat berarti bagimu, kenapa kau tidak katakan saja kalau kau benar-benar mencintainya?" tuntut Carlson dengan sikap menantang.

" .... " Rathyan diam di tempatnya.

"Kenapa? Tidak mampu bersuara, atau .. kau tidak mencintai Daze?"

" .. " Rathyan masih saja tidak mampu bersuara diberondong Carlson seperti itu.

"Anda harus tahu, Tuan Jang .. ," Carlson menatap sinis. "Daze butuh pengakuan, .. bukan hanya tindakan seperti yang telah anda lakukan! ... Dengan menciumnya, anda ingin menunjukan bahwa anda benar-benar mencintainya?" Carlson mencibir, "Cih--Sungguh liar dan kekanak-kanakan. Bukan itu yang Daze inginkan, Tuan Rathyan Jang. Daze bukan lagi gadis ingusan yang membutuhkan rayuan-rayuan gombal seperti itu. Yang diinginkannya adalah diakui dan kepastian, .. rasa terlindungi dan nyaman, sebagai pacar resmi darimu. Did you get it?! Cinta tidak seperti apa yang anda pikirkan--"

" ... " Rathyan menatap nanar.

"Cukup ... " Desahan lirih Daze membuat kedua pemuda yang saling menatap itu berpaling, .. Carlson dengan ekspresi sengitnya, dan Rathyan yang terpojok. Begitu juga orang-orang dalam ruang makan yang selama beberapa menit lalu hanya mampu memperhatikan perdebatan-perdebatan di antara mereka, tanpa mampu berbuat apa-apa.

Daze mengangkat kepalanya yang tertunduk. Ditatapnya Carlson, .. tidak dengan pandangan lembut seperti biasanya. Di dalamnya terlihat tekad. Daze meraih tangan Rathyan dan mengenggamnya erat, sementara pandangannya masih tertuju pada Carlson.

"Saya percaya padanya ... ," ujar Daze. "Apapun yang terjadi, .. sekalipun dia tidak mampu mengutarakan apa yang ingin kudengar, .. aku tetap percaya padanya .. "

Perlahan, Daze berpaling pada orangtuanya. "Omma, .. appa, .. Saya berharap omma dan appa mau merestui hubungan kami .. Jeobal .. "

"Dazya .. ," sahut omma dan appa lirih.

"Apa kau tidak akan menyesal, sayang?" tanya appa.

"Semua tidak bisa dirubah jikalau kau memutuskan bersamanya, Dazya .. ," Omma mengingatkan. "Kau tahu, dia bisa menyakitimu sangat dalam jika suatu saat dia memutuskan meninggalkanmu begitu saja .. Pria muda seperti dia .. "

"Saya tahu omma .. ," tukas Daze. "Namun, .. saya tetap memilih percaya padanya .. "

"Tapi kenapa, Dazya?" Carlson yang mengutarakan pertanyaan ini.

Dia tidak mengerti, .. sungguh--dia benar-benar tidak mengerti akan keputusan Daze. Gadis yang selama ini berpikir logika, .. bahkan ketika mereka pacaran dulu, selalu menjaga kemurnian statusnya, .. hanya sebagai seorang pacar dan .. tidak lebih dari itu. Karena itu Carlson merasa tidak bisa menerima perubahan drastis dari gadis ini, .. hanya demi seorang pria macam Rathyan Jang.

Bukan karena Rathyan tidak berguna, .. tidak! Bukan itu! .. Pemuda itu merupakan pewaris tunggal Max-Global, yang sekarang sangat terkenal, dan diakui para sesepuh kalangan bisnis karena kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonominya yang memukau, hanya dalam jangka waktu yang sangat pendek .. Carlson sadar, Rathyan memiliki segalanya. Yang tidak dipahaminya adalah .. Daze tidak pernah tertarik kepada pria macam Rathyan. Seorang pria yang tidak mampu memberikan perasaan aman terhadap dirinya. 

Daze berpaling pada Carlson. "Karna saya ingin percaya!" jawab Daze sungguh-sungguh. "Hanya itu. Dan saya tidak memerlukan alasan lainnya .. " Tiba-tiba seseorang menyambar tangannya.
Daze menoleh, dan mendapatkan Rathyan mengangkat tangan yang mengenggam erat tangannya.

"Ayo pergi!" ajak pemuda itu.

Daze melebarkan matanya. "Kemana?"

"Ke suatu tempat .. ," sahut Rathyan. "Saya ingin menunjukan sesuatu padamu. Kacha!"

"Hah?" Daze membuka mulut, tapi keburu ditarik Rathyan.

Rathyan membungkuk pendek kepada orang-orang dalam ruang makan itu. "See you ... ," katanya sambil mengerakan tangannya.

Terburu-buru Daze mengikuti jejak Rathyan. "Anyongheseyo .. " Daze lalu menoleh pada omma dan appa. "Miane, omma-appa ... Kami tidak jadi sarapan. Kalian--sarapanlah sendiri .. "

Dirasakannya tarikan di tangannya semakin keras. "Kacha!" seru Rathyan.

"Eh--ne .. " Daze merapatkan mantelnya, lalu bergegas-gegas mengikuti Rathyan keluar dari ruang makan yang tidak begitu besar itu, .. dengan diantar pandangan berkeryit dari orang-orang dalam ruangan.


-> --> O <-- <-



"Kita mau ke mana?" tanya Daze sambil melempar pandangan keluar jendela. Saat itu, salju turun lagi, .. walau tidak begitu lebat. Serpihan-serpihan putihnya terbawa angin, .. berlawanan arah dengan laju mobil mereka. Sesekali ban mobil berdecit-decit halus akibat terselip gumpalan-gumpalan salju tipis.

"Rath .. " Daze berbalik, "Ke mana?" ulangnya sembari menatap pemuda yang sedang menyetir di sampingnya itu.

"Hn--" Hanya gumaman pelan keluar dari mulut Rathyan. Konsentrasinya--penuh terpusat ke keadaan jalan di depannya.

"Rath .. " Daze memanjangkan bibirnya, cemberut.

"Mwo?" tanya Rathyan tanpa menoleh.

"Mau kemana sih?" decak Daze.

Rathyan berpaling dan tersenyum. Dia menginjak pedal sehingga mobil sport biru terang yang dikendarainya melambat, sampai akhirnya berhenti di halaman sebuah rumah kayu yang tidak begitu besar.

"Sudah sampai .. ," sahut Rathyan kemudian.

Daze memicingkan matanya. "Di .. sini .. ?" tanyanya ragu-ragu.

Rathyan mengangguk. "Ne, .. memangnya kenapa?"

"A .. niyo .. " Daze mengeleng cepat.

"Kalau begitu ayo keluar!"

Rathyan membuka pintu, lalu berjalan keluar. Tapi Daze masih setia di posisinya. Dia menatap rumah di depannya, .. terpaku.

Rumah itu seutuhnya terbuat dari kayu. Bahkan atap dan tiang-tiang penyangganya juga. Dari luar, rumah tersebut terlihat sangat sederhana. Benar-benar rumah bercorak minimalis dengan jendela-jendela kacanya yang berjajar di samping pintu, .. sebanyak tiga buah.

Halaman depannya dikelilingi pagar kayu pendek yang melingkar dari belakang rumah samping ke samping taman kecil di sebelah kanan. Beberapa utas tambang tampak bergantung di setiap sisinya, entah gunanya untuk apa, .. termasuk tambang berukuran lebih besar menjuntai di tengah lubang sebuah lingkaran dari bata, .. yang diperkirakan Daze merupakan sebuah sumur. Pintu masuk rumah tersebut juga terbuat dari kayu, beserta dua lentera yang mengapitnya.

Daze membuka mulut perlahan, ... dia seakan memasuki dunia dongeng sekarang. Ditambah salju putih yang menyelimuti atap dan pagar rumah, juga penerangan remang-remang dari lentera-lentera kayu, .. tempat ini sungguh-sungguh seperti khayalan.

"Masih duduk di situ?"

Teguran Rathyan menyadarkan Daze dari lamunannya. Tubuh jangkung itu dicondongkan sampai hampir mengenai wajahnya ketika ditolehkan.

"Dhe?" tukas Daze linglung.

"Ayo turun!" ajak Rathyan. Diraihnya tangan gadis itu, dan dengan agak tidak sabar, menariknya keluar. "Kacha! .. Nanti salju meleleh!"

"Eh--?" Daze menatapnya tidak mengerti. "Apa maksudmu?"

"Nanti juga kau tahu sendiri .. " Rathyan menjawab dengan senyumannya.

Kembali, .. Daze termangu. Gadis itu jadi bertanya-tanya, Kira-kira .. sudah berapa kali dia melihat Rathyan tersenyum pagi ini? Sampai di sini, Daze ikut melebarkan senyumnya.



-> --> O <-- <-



"Lihatlah!" ujar Rathyan sambil menunjuk ke jendela di belakang mereka.

Saat itu, dia baru saja menyelesaikan kegiatannya menyalakan perapian di belakang rumah, dan membuat seteko coklat panas di atas meja, lengkap dengan sepiring cookies yang terlihat lezat. Dia menuang coklat ke sebuah cangkir, di antara 2 cangkir yang tersedia di atas nampan, sembari melayangkan telunjuknya keluar jendela.

Daze menoleh dari posisinya di sofa, dan mengikuti arah telunjuk Rathyan, ..  mata bundar itu melebar seketika itu juga. Daze tertegun. Apa yang dilihatnya lewat jendela kaca di luar sana, .. sungguh tidak bisa dipercaya. Pemandangan laksana surga yang untuk pertama kali dilihatnya.

Mentari pagi yang beranjak siang menyebarkan sinar keoranye-oranyean jatuh menimpa gumpalan-gumpalan salju yang menghampar di rerumputan dan dedaunan yang terlapisi embun tipis. Semburat mentari berkilat dan memantulkan sinar laksana bintang-bintang yang terkadang berkerlap-kerlip di angkasa malam. Beberapa ekor burung gereja terlihat meloncat-loncat di atas rumput, menghindari terpaan angin, .. sambil memperdengarkan kicauan-kicauan seperti nyanyian gereja yang teramat merdu. Sementara kolam kecil yang berada di sisi sebelah kiri, agak tertutup gorden jendela, .. menyemburat keperak-perakan. Berkas-berkasnya menyebar sampai ke sekelilingnya, .. memberi nuansa laser yang ditembakan, .. bukan hasil kerja manusia, tapi hasil alam yang memukau. Beberapa bayangan putih tampak bergerak memantul-mantul di pinggir kolam.

Daze berdiri dari sofa dan mendekati jendela. Matanya dipicingkan, .. dan terlihat jelas olehnya kini, .. ternyata bayangan-bayangan putih tersebut merupakan sosok-sosok kelinci liar yang sedang mencari makanan buat sarapan mereka.

"Indah sekali ... " ujar Daze serak. "Tempat ini ... punyamu ... ?"

Rathyan mendekatinya dengan dua cangkir tergenggam di tangan.

 "Ne .. ," sahut Rathyan sambil menyodorkan salah satu gelas di tangannya. "Coklat panas. Minumlah!" ujarnya. "Cukup untuk menghangatkan badan .. " Rathyan menyeruput coklat dari cangkir yang tersisa di tangannya.

"Gumawo .. " Daze menerima cangkir dari tangan Rathyan, kemudian melakukan hal yang sama, .. menyuruput coklat mengepul dari dalamnya. "Kau yang membelinya .. ?"

Rathyan mengangguk. "Dengan tabungan sendiri .. ," jawabnya segan, .. seolah kata-kata itu tabu baginya.

Daze mengangkat wajah dari cangkir yang dihadapinya. "Jinja?" Mata bulatnya melebar. "Weeyo?" tanyanya heran. "Pekerjaanmu ada di Seoul, .. jadi kenapa membeli rumah di Perth ini? Apa kau berencana menginvestasikannya?" Daze mengedarkan pandangannya berkeliling. "Sangat disayangkan .. , .. ," desahnya lirih. " ... padahal tempat ini sangat nyaman .. "

Rathyan menghela nafas, dan kembali menyeruput coklat panasnya. "Saya cukup menyukai Perth .. ," ujarnya dengan pikiran melayang.

"Eh--?" Daze berpaling dengan cepat pada Rathyan. Jawaban yang tidak menyambung dari pemuda itu membuatnya bingung. Kemudian ditatapnya Rathyan penuh tanya.

"Banyak yang dimulai dari sini ... ," desis Rathyan ... suaranya terdengar sangat pelan. “Namun, banyak pula yang berakhir di sini .. “ Lalu dia berpaling hingga pandangannya bertemu langsung dengan tatapan Daze. "Kita bertemu di sini, .. merasakan, dan saling melengkapi—juga di sini .. Walaupun tidak segalanya indah, .. kematian halmoniemu, kejadian yang terjadi pada Dave, .. dan juga, .. perpisahan yang terjadi antara kita, .. kesalahpahaman yang seharusnya tidak perlu .. “ Rathyan mendesah, .. kepalanya tertunduk perlahan. “Semua bisa dikatakan .. bagai takdir. Aku merasa berjodoh dengan kota Perth ini. … Aku ingin memulai segalanya dari sini—buat masa depan .. ,” Kepala yang tertunduk itu terangkat, lalu menerawang ke langit-langit ruangan. “ .. merintis karirku bukan atas nama Max-Global, atau apapun yang berhubungan dengan nama besar ‘Jang’, melainkan atas namaku sendiri .. “ Rathyan mengembalikan pandangannya pada Daze, dan menatapnya lekat-lekat. “ .. dan juga, berkeluarga … “

“Kau .. berencana tinggal di Perth .. ?” tanya Daze perlahan-lahan.

“Ne .. “ Rathyan mengangguk.

“Tidak kembali ke Seoul?”

Rathyan mengeleng.

“Dan juga .. New York .. ?”

Rathyan terlihat mengatupkan rahangnya. “Saya benci New York!” tukasnya dengan mata berkilat, .. tajam dan penuh kebencian. Tampangnya menjadi keras seketika itu juga. Kepalan tangannya terkepal dan dihantamkan ke dinding.

BUKK!!

“Rath!!” jerit Daze. Dia melihat buku-buku tangan Rathyan memerah. Terdapat bercak-bercak memar di sana, .. punggung tangannya menjadi agak bengkak.

“New York mendatangkan banyak petaka bagiku!” tukas Rathyan sambil mengesek-gesekan gerahamnya sehingga menimbulkan bunyi-bunyi nyaring yang mendirikan bulu roma.

“A … apa .. ?” tanya Daze perlahan. Dia menyentuh lengan Rathyan, .. berusaha untuk menenangkannya.

Rathyan menghembuskan nafasnya yang beruap. “Orang-orang yang teramat penting dalam hidupku, .. pergi satu-persatu .. Semua terjadi di New York—kota laknat itu!”

“Begitu .. ?” Daze menatap sendu. “Omma .. dan noonamu?” tanyanya pelan.

Rathyan tidak menjawab. Ekspresi murkanya berubah kaku. Tubuh jangkung itu membujur, tegak lurus .. dengan pandangan yang diterawangkan ke luar jendela. Tiba-tiba saja dia meraih tubuh Daze ke dalam pelukannya. Dagunya mendarat di pundak mungil gadis itu, .. dan Daze dapat merasakan hembusan hangat menerpa tenguknya.

“Berjanjilah padaku .. ,” desah Rathyan di sela-sela rambut Daze.

“Mwo .. ?” tanya Daze sambil mengangkat wajah dan melebarkan matanya.

“Jangan pergi dariku … ,” pinta Rathyan dengan nada tersendat. “Apapun yang terjadi, tetaplah di sini .. selamanya di sisiku .. “

“Eh—“ Daze tergangga dalam dekapan Rathyan.

“Walau rintangan apapun yang menghadang, .. aku berharap kau percaya padaku .. Kita akan mampu melewatinya .. Aku tidak akan membiarkanmu sedih, apalagi menderita .. Akan kupertaruhkan segalanya, dengan nyawaku sekalipun—agar kau berbahagia. Kau dengar, Dazya?”

“Hn—Ne .. ,” jawab Daze gugup. “Tapi .. ,” dia melanjutkan dengan agak ragu-ragu. “Bagaimana dengan Max-Global, dan abojimu, jika kau memutuskan tinggal di sini ..?”

“Persetan dengan itu semua!” Rathyan mengibaskan tangannya. “Saya tidak mau tahu tentang mereka!”

“Tapi Rath .. “

“Saya mohon padamu, Dazya .. “ Rathyan mengendorkan rangkulannya dan menatap Daze tajam. Permohonannya tidak asli sebuah permohonan, karna pengucapannya penuh tekanan. Seakan tidak boleh dibantah, .. harus dituruti .. tidak boleh tidak. “Saya tidak ingin membahas hal-hal yang berhubungan dengan ‘Nama Besar Jang’! Apapun itu, dan .. se-sedikit gimanapun!”

“ .. “ Daze tidak mampu bersuara.

“Yang saya bicarakan sekarang adalah ‘masalah kita’. Berjanjilah padaku .. kau tidak akan meninggalkanku .. ,” kata Rathyan sambil menatap Daze lekat-lekat. Tatapannya berubah sendu. “Dazya .. “ Rathyan kembali meraih tubuh mungil Daze dan memeluknya erat-erat. “Berjanjilah, .. ya? .. Masuklah ke duniaku .. “

Daze memejamkan matanya. “Ne .. ,” jawabnya dengan nada mendesah.

Rathyan merapatkan wajahnya, lalu menghirup dalam-dalam aroma mawar yang keluar dari rambut Daze. Dia membungkuk, dan perlahan mencium daun telinga yang hanya berjarak seinci dari bibirnya. Terdengar Daze mendesah.

“Rath .. “

Rathyan tidak mengubris. Bibirnya berpindah ke rahang Daze, .. mencium dan menjilatinya penuh rasa, .. lalu turun ke dagu, mengecupnya dengan bergairah, .. sampai ke bagian bibir, meraup bibir mungil yang agak terbuka tersebut .. melumat dan mengecapnya dengan nafsu yang semakin membara.

“Rath .. “

“Hm—“

Rathyan melingkarkan lengannya di leher Daze, sedangkan tangan satunya lagi menopang bagian belakang pahanya lalu, .. hup, dia mengangkat tubuh mungil tersebut dengan sepasang tangan kekarnya.

Dengan bibir yang masih saling memagut, Rathyan membawa Daze ke kamar yang berada di lorong tengah rumah tersebut.

BAMM!!

Pintu dihempaskan Rathyan dengan kakinya. Sebentar saja, terdengar erangan-erangan dan rintihan-rintihan halus, yang dibarengi deheman-deheman berat, .. terpantul dari kamar itu.


-> --> O <-- <-



Rathyan menyetir dengan senyum terkembang di bibirnya. Sesekali, dia memperdengarkan siulan halus, yang membuat Daze segera berpaling heran padanya.

“Weeyo?” tanya Daze.

Rathyan mengeleng. “Aniyo .. “

“Kau kelihatan lain?” selidik Daze.

Dengan pandangan masih terpusat ke depan, Rathyan melebarkan senyumnya.

“Ada yang aneh!” Daze mencondongkan badan ke depan, … sampai berdempet di lengan Rathyan. “Katakan padaku, apa yang kau pikirkan .. “

“Tidak ada .. ,” sahut Rathyan dengan suara khasnya, .. dalam dan agak-agak serak.

“Tidak percaya!” Daze memanjangkan bibirnya. “Kau pasti sedang memikirkanku!” cerocosnya ngasal, .. tenang dan tanpa keraguan.

“ .. “ Rathyan tidak merespon. Namun, senyum lebar makin berkibar di wajahnya.

“Benar kan?” tebak Daze sambil menjentikan jarinya.

“Mwo?” Rathyan tertawa. “Kau kelihatannya yakin sekali?!”

“Tentu saja!” Daze mengangguk kuat-kuat. “Karna kau sangat mencintaiku, Iya kan?” katanya sambil menunjuk Rathyan.

“ … “

Tubuh jangkung yang memegang kemudi berubah kaku.

“Rath?” Suara Daze mendadak jadi kering.

“Dazya, .. saya ..

“Lupakanlah!” Daze tiba-tiba menimpali dengan cepat. Raut seputih salju, .. laksana yang dijatuhkan dari langit itu, tersenyum. “Saya tidak akan memaksamu … sekalipun ..

Kring .. kring .. , saat itu ponsel Rathyan berbunyi. Rathyan mengangkat tangannya memberi isyarat pada Daze, bahwa dia akan menerima telepon dulu. Gadis itu mengangguk, kemudian mengarahkan pandangannya ke luar jendela.

Rathyan menekan tombol di ponsel, dan hubungan terjalin.

“Yeoboseyo .. ,” ujar Rathyan datar.

”Doronim .. ,” terdengar suara Tuan Park.

“Ya. Ada apa?” sahut Rathyan lebih datar lagi. Setelah mendengar yang menghubunginya ternyata Tuan Park, asisten pribadi ayahnya yang sengaja ditugaskan untuk mengikutinya, .. membuat semangatnya langsung turun, .. jatuh sedalam-dalamnya.

”Saya baru dapat kabar .. ,” ujar Tuan Park lambat-lambat.

“Ya, apa itu?” tukas Rathyan cepat. Terlihat jelas kesabarannya mulai habis. Mendengar suaranya terkesan lain, Daze menoleh dan memusatkan perhatian padanya.

”Miss White sudah sampai di Perth, doronim … ,” sahut Tuan Park dari seberang.

“Mwo?” Rathyan tersentak kaget. Hampir saja dia membanting stir, .. “Shittt!!” Rathyan mengumpat. Dengan cepat dia memutar gagang stir hingga mobilnya bisa berjalan normal kembali.

Daze memiringkan kepalanya.

“Dia ada di mana?” tanya Rathyan setengah berteriak.

“Perth Hotel, doronim .. “

“Sejak kapan, .. dan tahu dari mana?” tanya Rathyan beruntun.

”Pesawatnya mendarat sejam yang lalu, .. Miss White sendiri yang menghubungiku .. “

Rathyan terdiam sejenak. Jemarinya meremas-remas dan mengenggam erat gagang kemudi. “Apa yang dikatakannya?”

”Tidak banyak, doronim … ,” ujar Tuan Park. ”Miss White hanya merengek buat diketemukan sama doronim … Dan dia, mengancam dengan memakai nama ayahnya … “

“Huh—“ Bukk—Rathyan memukul dashboard. “Selalu begitu!!”

Daze langsung meliriknya dengan pandangan bertanya.

”Apa doronim mau menemuinya .. ?” tanya Tuan Park ragu-ragu.

“Tidak!!” sahut Rathyan tegas dan keras. “Saya tidak ingin bertemu dengannya!!” dia mendengus. “Jangan memberitahuku urusan yang berhubungan dengannya! Ingat, Tuan Park—ini yang terakhir kalinya!”

Untuk beberapa lama, hanya hening yang didapati Rathyan dari seberang.

“Tuan Park!” tegur Rathyan.

”Ne, doronim .. ,” jawab Tuan Park dari ujung telepon.

“Araso?!!”

”Ne … ,” Tuan Park terdengar menghela nafasnya. ”Agashimida, doronim .. “

“Bagus!” Rathyan mendesis. “Kalau begitu, sambungan saya putus, Tuan Park!”

Tanpa menunggu sahutan Tuan Park, Rathyan memutuskan hubungan mereka.

“Weeyo?” Daze memberanikan diri bertanya begitu pembicaraan Rathyan di telepon berakhir.

Rathyan mengangkat pundaknya. “Aniyo .. “

“Tuan Park?” selidik Daze.

Rathyan mengangguk.

“Berhubungan dengan pekerjaan?” lanjut Daze.

“Kau berisik sekali!” Bukannya menjawab, Rathyan malah menukas tajam.

Daze terdiam. Sejenak dia membiarkan keheningan menyelimuti mereka, .. memberi kesempatan Rathyan untuk menenangkan diri. Lalu, perlahan-lahan dia menyandar ke sandaran kursi di belakang.

“Sudah baikan?” tanyanya beberapa saat kemudian.

“ .. “ Rathyan tidak menjawab.

“Kalau begitu lupakan saja .. “ Daze tersenyum.

Rathyan berpaling padanya. Alisnya berkernyit, .. tapi dia tidak menanyakan atau berkomentar apa-apa.

“Kembali ke masalah kita .. “ Daze berpaling sehingga tatapan mereka bertaut. “ .. tidak apa kau tidak mampu mengutarakan kata ‘suka’ dan ‘cinta’ yang ingin kudengar… “

Rathyan mengerutkan alisnya.

Daze tersenyum dan melanjutkan. “ … karna mulai detik ini, aku yang akan mengatakannya .. “

“Mwo?” Akhirnya, rasa penasaran yang memuncak membuat Rathyan mengeluarkan pertanyaannya.

Daze menempelkan sepasang tangannya yang dibentuk berupa corong di depan mulut, lalu .. dia berteriak sekeras-kerasnya. “SARANGEYOOO RATHYAN JANGGG!!!”

“Heyy!!” Rathyan segera menutup telinganya. Teriakan Daze membuat telingannya berdenging-denging. “Apa yang kau lakukan?” tegurnya sengit. “Sudah gila ya?”

“NE!!” sahut Daze yakin. “Aku sudah gila karena kamu!” serunya sambil melayang ciuman kilat ke wajah Rathyan. “Karna aku sangat ‘MENCINTAIMU!!’ I LOVE YOU, RATHYAN JANGGG!!” Kembali teriakan tersebut berkumandang dalam mobil yang kapasitasnya tidak begitu besar itu.

Rathyan menutup mulutnya yang sempat tergangga. Perlahan, dia mengelengkan kepala, … satu kali, .. dua kali, .. makin lama makin keras, .. sampai akhirnya dia tidak mampu menahannya lagi, .. tawanya pecah begitu saja, .. sengau dan renyah.

“Kau benar-benar sudah gila, Daze Han .... “

Daze ikut tertawa dan menyenggol lengannya. “Ne, I am .. “


-> --> O <-- <-

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Mamiiii tengkyu mam,pagi2 ada santapan lebih enak ni dari sekedar sarapan biasa,hmf. Daze daze kamar sendiri napa dia yg malah nyumput dikamar mandi ,hahahaha. Kasiman ni CARLS ,ga kuat pgn ketawa liat tampang cengonya liat penampilan daze and rath,hihìhi. Mami, rath dipikir2 sifatnya konyol juga kirain gw mau ngemeng Daze,i love u, eh malah maen aksi Hot Kiss didpn ortu Daze,gimana eomma & appa nya Daze kgk shock,ckckk. Yg lucunya aksi rath yg wink wink ke carl ,tanda kemenangan rath atas daze ama Dave yg da ga kaget ama sikap sahabtnya ntu. Yey si Rath pasti aja cuma alasan ngajak daze ke "gubuk"nya pasti mau lanjutin ronde ke-2 yg sempet ketunda,soalnya yg disini aman sentosa kgk ada gangguan,hmf. RATH RATH seneng banget si ampe senyum2 gaje,hmf. Tp gw suka pernyataan Rath ttg alasannya menyukai Perth sampai membeli rumah,karena dia ingin mempunyai "keluarga" , Rath da ga sbr ya mam pengen married ama Daze?? Daze gila cinta tp gw suka dg keputusannya yg percaya dan tdk akan menuntut rath u/ menyatakan cinta. SARANGHEYO RATHYAN JANG, ... I LOVE U RATHYAN JANG ... Ni chapie full of sweet moment RathDAZE.,. Next chap siap2 culik jenjen biar ga ganggu2 rathdaze,hihihhhi


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
i like this chapt momz hihihihi
si rath bisa ketawa lepaz,si daze jg inisiatif gt nyatain rasa cinta y ma rath!walaupun bagi rath itu susah buat ngungkapin y he8
kenapa rath g jujur ma daze klo d si ms white itu sih mi?jangan2 ntr bikin konflik lg!padahal dah adem ayem he9

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Mamiii makasih udh update :3 sweet deh yang inii.. Jangan lupa update cepet-cepet yakkk :)

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
RATHYAN JANG I LOVE U TOO [AddEmoticons04234]...Thank u mami sudah di update [clap] chap ini ditaburi dengan senyuman rath [biggrin] n perbuatan ekstremnya didepan camer bikin kaget sj.Daze bener2 diapaain sm rath nerimo aja.
Tukan my rath bisa sweet juga.sudahnyiapin rumah impian buat keluarganya kelak n datang2 langsung nyobain kamarnya [hmpfh]...ngakak bayangin carls saat dagunya sudah hampir menyentuh dada saking kagetnya [laughing],sapa yang gak kaget coba moso rath bukain pintu kmr daze  n ngeliat penampilan kyk habis dijambak2 trus daze tiba2 muncul hanya memakai selimut [sweat] nih anak 2 seperti orang linglung sj.belum lg rath seenaknya narik daze n akhirnya ngajak balik kekamar buat makein baju daze [on]  [rofl] [rofl] serasa udah jd pemilik syah.sungguh malang nasibmu carls dibuat sport jantung mulu pagi2 [wacko] hampir dapat tonjokkan lg gara-gara mandangin daze.ckckck
btw kapan nih mi mereka pindahan [what] [heh]

ONE MORE  RATHYAN JANG I'M CRAZY IN LOVE WITH YOU [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]  [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [weird] [weird] [2vil3jc]
[/size][/color][/b]

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
sepanjang perjalanan FSTP kayaknya ini chap deh yang paling ringan dan sweet  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
daze nekat ya mom,,nyatain cinta ke rath [hmpfh] [hmpfh]
si rath galak amat yakk ama daze,,orang cuma tanya kok  [whip]  [hmpfh]
oia mam chap ini keknya gak sepanjangggggggggggggggggggggggggggg biasanya ya  [what]
« Last Edit: May 14, 2011, 08:14:54 pm by virna yuniar »

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Mamiiii tengkyu mam,pagi2 ada santapan lebih enak ni dari sekedar sarapan biasa,hmf. Daze daze kamar sendiri napa dia yg malah nyumput dikamar mandi ,hahahaha. Kasiman ni CARLS ,ga kuat pgn ketawa liat tampang cengonya liat penampilan daze and rath,hihìhi. Mami, rath dipikir2 sifatnya konyol juga kirain gw mau ngemeng Daze,i love u, eh malah maen aksi Hot Kiss didpn ortu Daze,gimana eomma & appa nya Daze kgk shock,ckckk. Yg lucunya aksi rath yg wink wink ke carl ,tanda kemenangan rath atas daze ama Dave yg da ga kaget ama sikap sahabtnya ntu. Yey si Rath pasti aja cuma alasan ngajak daze ke "gubuk"nya pasti mau lanjutin ronde ke-2 yg sempet ketunda,soalnya yg disini aman sentosa kgk ada gangguan,hmf. RATH RATH seneng banget si ampe senyum2 gaje,hmf. Tp gw suka pernyataan Rath ttg alasannya menyukai Perth sampai membeli rumah,karena dia ingin mempunyai "keluarga" , Rath da ga sbr ya mam pengen married ama Daze?? Daze gila cinta tp gw suka dg keputusannya yg percaya dan tdk akan menuntut rath u/ menyatakan cinta. SARANGHEYO RATHYAN JANG, ... I LOVE U RATHYAN JANG ... Ni chapie full of sweet moment RathDAZE.,. Next chap siap2 culik jenjen biar ga ganggu2 rathdaze,hihihhhi
[hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]"Kau benar2 sudah gila, Daze Han!" #gw setuju ama elu, rath [laughing] [laughing] gila tuh daze, nekat banget ya, ampe blg bener dia udah gila gara2 rath [hmff] [hmff]
aksi hot kissnya gimana nih [chin] woke ga [laughing] [laughing] gw jg ngerasa si rath konyol, bin gaje lagi [hmpfh] moso buktiin cinta make nyium hot [laughing] [laughing] ya tentu aja pada shock sekampung [laughing] tentu aja rath make wink, kan udah seratus persen yakin daze miliknya seutuhnya, termasuk keperawanannya [laughing] [laughing] #capek ketawa nih gara2 rath [sweat] [hmff]
nah bener kan kejadian lagi, babak kedua di gubuk, gimana ga tekdung coba [hmpfh] [on] [drool] #sis ita, editin yg ini dong [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04254] Emoticons0422
ketika kembali ke new york tahun lalu, rath blg sangat membenci perth, karna dia merasa tersakiti di situ. hati yang hancur, cinta yg kandas, membuatnya benar2 ngerasa perth neraka baginya, .. tapi sekrg, setelah dipikir2, dia merasa perth berjodoh dengannya. segala sesuatu terjadi di situ, dimulai di situ .. termasuk perasaannya pada daze, dan ini .. lebih penting baginya dari apapun. karena itu dia memutuskan mengatakannya pd daze, bahwa dia menyukai perth, dan ingin memiliki keluarga di kota itu, .. tinggal di sana selamanya #jadi terharu Emoticons0429 Emoticons0429

dah sono, elu bertugas nyekepin jenjen buat next depan ya [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
 thank you mami updatannya :)

  Akhirnya di chap ini bisa membyangkan kebhagian mereka walu pun masih terbesik kekhwatiran krna dtangnya Miss With & appanya Rath :( .

  sangat indah membyangkan rumah kayu yg di beli Rath klo new yk negara yg terktuk bagi Rath , Part kota yg indah penuh kenangan indah :) .

  Jadi kasian membyangkan keadaan Carsl saat di tahu klo Daze sudah menyerahkan segalanya pada Rath sudah pupus harapannya untuk medpatkan Daze :( sbar ya carsl .

  Kayanya chap selanjutkan perlu mempersiapkan dri karna mami bilng akan ada mulai ketegngan, tpi... Biar lah banyak kompleknya asal jngan membuat Rath & Daze terpisahkan lagi ya mam , udah ckup perpisahan yg dlu :) .

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
HOREEEEE....UPDET .....  [clap] [clap] [clap]...

Phewww....jadi bingung. Rath ini orangnya rada emosian ya....Moga2 Daze mampu mengontrol sikap dan sifatnya yang rada temperamen, dan gue ngerasa dia sedikit posesip. Awal2 mngkin romantis....tapi kalo dia gitu terus, bisa2 Daze jadi gak bisa bernafas, karena sifat dan kelakuan Rath yang rada posesip  [hmpfh] [hmpfh]...

Gue seneng si Daze yang lebih ekspresif dalam hubungan mereka. BIar Rath orangnya berat untuk mengatakan cinta, dia lebih suka bertindak, daripada berkata2...jieeee.....bahasa gue.... [laughing]...

Itu si Miss WHite mau ngapain si datang??? Heran. Untung Rath gak meduliin dia...Kasian deh lu White.... [hmpfh]...

Thanks again ya Luph....luph you..... [arms] [arms]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
i like this chapt momz hihihihi
si rath bisa ketawa lepaz,si daze jg inisiatif gt nyatain rasa cinta y ma rath!walaupun bagi rath itu susah buat ngungkapin y he8
kenapa rath g jujur ma daze klo d si ms white itu sih mi?jangan2 ntr bikin konflik lg!padahal dah adem ayem he9
rath bisa ketawa lepas karna hampir semua bebannya sudah terangkat [biggrin] yg plg penting tuh, dia udah tahu klu daze bener2 mencintainya [lovestruck] [lovestruck]
rath ga pernah menganggap jenjen, karna itu dia tdk menceritakan kedatangan wanita itu pada daze. buat apa jika dia tdk menemuinya? iya kan? sedangkan daze sendiri, mulai saat itu, memutuskan utk tdk bertanya banyak jikalau dilhtnya rath tdk bisa menjawab, atau tdk ingin menjawab. dia lebih memilih percaya pd pria pilihannya ini, menyerahkan segala keputusan di tangan rath beserta pemecahannya. Karna dia tahu, akan runyam klu mendesak rath. seperti yg dilakukannya selama ini. bisa2 rath murka, mungkin bukan atas keinginannya sendiri, kau tahu sendiri kan klu rath emosian [sweat] [sweat] .. keputusan ini yg akan membuat hubungan mereka langgeng ampe akhir [lovestruck] [lovestruck]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
HOREEEEE....UPDET .....  [clap] [clap] [clap]...

Phewww....jadi bingung. Rath ini orangnya rada emosian ya....Moga2 Daze mampu mengontrol sikap dan sifatnya yang rada temperamen, dan gue ngerasa dia sedikit posesip. Awal2 mngkin romantis....tapi kalo dia gitu terus, bisa2 Daze jadi gak bisa bernafas, karena sifat dan kelakuan Rath yang rada posesip  [hmpfh] [hmpfh]...

Gue seneng si Daze yang lebih ekspresif dalam hubungan mereka. BIar Rath orangnya berat untuk mengatakan cinta, dia lebih suka bertindak, daripada berkata2...jieeee.....bahasa gue.... [laughing]...

Itu si Miss WHite mau ngapain si datang??? Heran. Untung Rath gak meduliin dia...Kasian deh lu White.... [hmpfh]...

Thanks again ya Luph....luph you..... [arms] [arms]
dari awal rath emang udah emosian and posesif [hmpfh] [hmpfh] ini membuktikan temperamen mudanya yg 'HOT' [laughing] [laughing] ya, susah mengendalikan rath. tp mulai saat itu, daze mengambil keputusan utk menghadapi rath lyknya menjaga anak kecil--jika dia tdk suka, jangan dipaksa [hmpfh] [hmpfh] jika tidak ingin menjawab, biar saya yg mengambil keputusan baginya [hmff] [hmff] and jika dia menunjukan gejala2 tdk baik, lgs redam emosinya dgn [on] [cheekkiss] -->yg ini sih cuma becanda [laughing] [laughing]
miss white datang buat deketin rath,, tp ga tahu ya dianya klu rath kita cuma tertarik ama makhluk yg namanya 'DAZE HAN' .. wanita lain? udah mati baginya [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Mamiii makasih udh update :3 sweet deh yang inii.. Jangan lupa update cepet-cepet yakkk :)
nonggolnya cepet banget [chin] tumben [hmpfh] [hmpfh] tetep-->ABMS dong [laughing] [laughing]
updatean selanjutnya, setelah tret ini mencapai page ke 200 [goodgrief] [goodgrief] gw udah blg kemarin2, n ini bener2 udah harga mati dari gw [goodgrief]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Hedeuh rantang ane kirain waktu carls bilang ga bs ngucapin 3kata bakalan ngemeng I LOVE U eh ga taunya malah nyosor pd cengo yg liat ga sopan ah ada anak kecil jg hmpf

PrikitieewwwWww jebol maning jebol maning daze yg jebol nape ane selalu yg ser2an lol


ADAM COUPLE SELCA

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
akhirnya d update [clap] [clap] [clap]

gumawo,mami [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Rath membuktikn kesungguhannya dgn bicara langsung sm orangtua Daze...yah, wlopn blm bisa ngomong klo sbenarnya dia cinta ama Daze,tp itu dh termasuk langkah besar dr seorang Rath...omma & appa Daze hrsnya bersyukur anaknya bs meluluhkn hatinya Rath [biggrin] (btw,ciumannya i2 lho,bang Rath...bikin yg lain terpana bin ternganga aja...Cherryl aja smpai nangis keras2,mngkn dia kgk rela melihat bibir tantenya dsosor d hadapan orang banyak [hmpfh])

dan akhirnya stlah sekian lama...gw bs menghilngkn ke-confuse-an gw thdp sikap Rath pd Daze [hmpfh] (mian,mam...tp mmng kdng2 gw suka confuse sndiri gr2 sikap Rath yg dingin k Daze...gw kdng2 gemes sm tokoh satu ini (pdhl sonsaengnim sm misteriusnya...tp kok gw kgk prnh confuse sm dia ya??? [hmff])

dan yg plng bikin happy adalh pengakuan Rath pd Daze ttg impiannya ingin memiliki sebuah kluarga...i love kata2 yg d ucapkn Rath pd Daze...romantis bener!!! wlopn akhirnya tetep Rath kgk bs ngomong "I LOVE YOU" ke Daze...yg penting ucapannya sdh bs mewakili isi hatinya (aw...aw...aw...bahasaku indah sekali [hmpfh])

sweet chap,mam...mnurut gw ini chap ter-romantis di ff ini [lovestruck] (sejauh ini,sih...mudh2an bakalan ada chap yg lbh romantis lg [biggrin])

skali lg...gumawo,mami...keep HWAITING,ya biar bisa update chap yg lebih romantis lg [AddEmoticons04225]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
RATHYAN JANG I LOVE U TOO [AddEmoticons04234]...Thank u mami sudah di update [clap] chap ini ditaburi dengan senyuman rath [biggrin] n perbuatan ekstremnya didepan camer bikin kaget sj.Daze bener2 diapaain sm rath nerimo aja.
Tukan my rath bisa sweet juga.sudahnyiapin rumah impian buat keluarganya kelak n datang2 langsung nyobain kamarnya [hmpfh]...ngakak bayangin carls saat dagunya sudah hampir menyentuh dada saking kagetnya [laughing],sapa yang gak kaget coba moso rath bukain pintu kmr daze  n ngeliat penampilan kyk habis dijambak2 trus daze tiba2 muncul hanya memakai selimut [sweat] nih anak 2 seperti orang linglung sj.belum lg rath seenaknya narik daze n akhirnya ngajak balik kekamar buat makein baju daze [on]  [rofl] [rofl] serasa udah jd pemilik syah.sungguh malang nasibmu carls dibuat sport jantung mulu pagi2 [wacko] hampir dapat tonjokkan lg gara-gara mandangin daze.ckckck
btw kapan nih mi mereka pindahan [what] [heh]

ONE MORE  RATHYAN JANG I'M CRAZY IN LOVE WITH YOU [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]  [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [weird] [weird] [2vil3jc]
abis ML ya sumringah terus dong [hmpfh] [hmpfh] si rath apa kepikiran terus ama 'tubuh polos daze' ya [hmff]
perbuatan ekstrem di depan mertua [laughing] [laughing] daze ridho aja diapain ama rath [hmpfh]
si rath sweet ya [chin] menurut gw sih nekat whistling whistling nyobain kamarnya [laughing] [laughing] kira2, enak ga ya tuh ranjang [hmff] klu ditanya ke daze sih jawabannya  pasti -->'ya wuenak dong' [on] [on] Sekalipun ranjangnya terbuat dari batu ttp aja wuenak,, soalnya yg balapin si yummy rath sih [laughing] [laughing] #error [hammer3]
mereka pindahan setelah resmi nikah,, jadi elu tungguin aja ye [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun