Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 104791 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
wah uda hari jumat ni waktunya update dong...jadi mana rathnya... [AddEmoticons04217] [AddEmoticons04217] [AddEmoticons04280]
Gw kan blg update malam buta hmpfh

Lagu buat chp ini gw ganti jd 'so goodbye' nya ost CH [biggrin]
perasaan malem doang deh mam ga pake buta,klo malem buta itu buat ayam krn ayam klo malem matanya buta..nah bingung sendiri gw..jadi jam brp updatenya?.. [what]
Jam hmmmm ga kurang dr jam 11 kali hmpfh

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
mam, ni dah bisa komen.
jadi wajib up date ya. MWO jam 11an,gapapa ane siap kok begadang demi RATDAZE HOT COUPLE [hmpfh] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
 [AddEmoticons04217] cuma mampir ngelirik lirik [img] belum ya [what]..
jam11 [chin] [chin] [chin] [chin]  [chin] saat2  lemot ditempat gw tuh [heh]...FIGHTING  [AddEmoticons04237] [AddEmoticons04237] lagunya so goodbye [what]..yang nyanyi sopo mam [what] [what] udh ada gak ya di4shared [chin] [biggrin] [biggrin]
[/size][/color][/b]

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Jam 11??what what..
Ga papa deh..omesh malem2 hahaha
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
so goodbye dont cry and smile [AddEmoticons04262] upss malah nyanyi [hmpfh]
nah kok so goodbye ya mi? brarti ntar goodbye2an gitu? [what] #asbak

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
menunggu...menunggu [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
RATH COME TO ME,,BABY...

Love you more than I can say

Offline Ega_putrii

  • Newbie
  • *
  • Posts: 38
  • Minsunners forever..
  • Location: palembang
    • View Profile
B.E.L.U.M  [sweat] [sweat]
[lovestruck] [lovestruck]

           ^^ You’re My Everything ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Song of the day :



Lyrics : "So Goodbye "

those emotionally day's i will
treat it as a gift and give you
So goodbye , to the lonely me who once hide in the dark
i need you
i need your love again

just like waiting for every other day to arrive
leaving the aching wound and sad recollection of me
the impression of seeing your for the first time
as if the time has stopped, my eyes has got only you
although there is setback
i won't regret
closing my eyes i could feel you breathing
so i could smile


So goodbye don't cry and smile
those Emotionally day's i will
treat it as a gift and give you

So goodbye , to the lonely me who once hide in the dark
i need you
i need your love again
although there is setback
i won't regret
closing my eyes i could feel you breathing
so i could smile
So goodbye don't cry and smile
those Emotionally day's i will
treat it as a gift and give you

So goodbye , to the lonely me who once hide in the dark
i need you
i need your love again
So goodbye don't cry and smile
those exhausted years
for the sake of you i will forget
So goodbye , to the lonely me who once hide in the dark
i need you
i need your love again
i need you
i need you for my love





”Mwo?!! Omma dan appa pulang hari ini?” Daze terlonjak dari kursinya. Ditatapnya kedua orangtuanya tersebut dengan pandangan tidak percaya. “Kenapa se-mendadak ini? .. Seharusnya omma dan appa membicarakannya dulu dengan ku, kan?” Gadis itu melanjutkan dengan nada sedikit mengomel.

Omma tersenyum dan meraih tangannya. “Sudah cukup lama omma dan appa berada di sini, sayang. Sudah saatnya untuk kembali. Lagipula, .. nak Carls harus segera pulang buat menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda .. Dia mungkin membiarkan semuanya terbengkalai begitu saja .. “

Daze melirik Carlson. “Kau ikut pulang dengan appa dan omma .. ?” gumamnya pelan.

Carlson yang menatapnya, tersenyum. “Ne. Saya rasa, .. tidak ada lagi yang kuharapkan di sini .. ,” katanya dengan maksud mengoda.

Namun, .. mendengar perkataannya itu, … membuat Daze semakin merasa bersalah. Segera saja, .. gadis itu menundukan kepalanya. “Miane .. ,” desah Daze penuh sesal.

“Hey—“ Carlson tersentak. “Saya tidak bermaksud begitu, ok?!” ujarnya cepat. “Jangan salah paham, Dazya .. “

“Ne, saya tahu .. “ Daze memotong dengan tidak kalah cepatnya. “Saya tahu kau tidak bermaksud begitu … Hanya saja, .. saya .. saya menyesal buat apa yang telah terjadi .. ,” lanjut Daze pelan dan lirih.

“Gwencanayo .. “ Carlson berusaha menenangkannya. “Saya tidak apa-apa. Gwencana, Dazya .. “

Yang justru reaksi tersebut, .. membuat Daze semakin merasa berdosa.

“Miane .. ,” desah Daze kembali. Dengan iramanya yang makin lemah dan menyentuh.

Dave yang berada di sudut lain ruangan tersebut, bersama istri dan putri kecilnya, .. hanya mampu memperhatikan dalam diam. Sementara, .. sepasang mata elang yang lain, .. menatap tajam dari posisinya yang agak menyandar di sisi jendela. Rathyan mengamati setiap inci adegan dalam ruang tengah tersebut sambil menahan nafas dan mencengkram lengan mantelnya yang terbuat dari kulit warna hitam.

“Omma rasa, .. kau tidak ikut pulang dengan kami, iya kan?” Pertanyaan omma membuyarkan kebisuan yang sempat tercipta dalam ruangan yang tidak begitu besar itu.

Daze mendongak dan melihat kearah omma. “Omma … saya … “ Kata-katanya tidak berlanjut.

Daze terbungkam dalam diam. Dia ingin melanjutkan dengan, Ne. Saya tidak mungkin pulang karna pria yang kucintai memutuskan untuk tinggal di sini! Namun, .. tentu saja dia tidak boleh melakukannya. Selain tidak pantas, .. dia juga tidak ingin dianggap kurang ajar. Demi seorang pria, .. membangkang terhadap orangtuanya. Walau mengingat setahun yang lalu, .. dia pernah melakukannya. Dia bahkan hampir kehilangan nyawanya gara-gara tersesat dalam hutan pada saat badai salju. Mengingat ini, .. Daze jadi merinding.

Daze kemudian menundukan wajah kembali. “Miane omma, .. appa .. “

Omma menghembuskan nafasnya. Sentuhan lembut dari appa tidak mampu memberi ketenangan padanya. Sesaat, .. dia melirik Rathyan yang tengah mengarahkan pandangan keluar jendela, .. sebelum akhirnya dia mendesah dengan nafas yang terdengar berat.

“Kami tidak akan memaksamu lagi, karna percuma .. Kau sudah dewasa, Dazya .. Omma dan appa percaya, kau tahu apa yang kau lakukan .. “

Daze mengangkat kepala perlahan. Ditatapnya omma dan appa dengan pandangan berterimakasih. “Gumawo, omma .. appa .. “ Lalu dia beralih pada Carlson yang saat itu sedang menatapnya. “Kau juga, Carls-a .. Gumawo buat semuanya .. “

Carlson membalas dengan anggukan halus. “Semoga kau bahagia selalu, Dazya .. “

Daze tersenyum. “Ne. Aku akan bahagia .. “ Dia mengangguk dengan pasti. “I believe it .. “ Setelah itu, .. perhatiannya dialihkan kembali pada appa dan omma. “Pesawatnya kapan berangkat? .. Biar kuantar ke bandara .. “

“Tidak usah!!” Carlson melarang dengan segera. “Kau perlu istirahat yang banyak. Lihatlah—kau terlihat lelah sekali. Kami sudah mempersiapkan dan mengatur segala sesuatunya. Mobil yang dipesan, akan tiba sepuluh menit lagi, .. setelah itu, kami akan berangkat ke bandara. .. Pesawat yang kami tumpangi lepas landas sekitar jam dua  kemudian—“

“Tidak perlu kuantar?” Daze terlihat ragu-ragu.

“Iya, tidak perlu.” Appa yang menjawab kini. “Benar kata nak Carls, .. kau perlu istirahat, Dazya .. “

“Tapi, appa .. “ Daze masih berusaha membantah, .. namun segera diputus Dave yang menghampiri mereka.

“Sudah, noona! Biarkan saja appa dan omma berangkat sendiri. Ada Carls hyung yang menemani mereka, .. jadi semua pasti baik-baik saja. Noona tidak perlu khawatir .. “

“Dongseng-a .. ,” Daze mengeluarkan suaranya kembali. Namun sekali lagi, .. Dave mendahuluinya.

“Saya akan membantu omma dan appa mengeluarkan bagasi dari kamar .. “ Kemudian dia berpaling pada Carlson. “Kau juga kan, hyung? .. Bawaan diturunkan sekarang juga?!”

“Eh—ne .. “ Carlson berujar dan bergerak dari posisinya. “Saya rasa sudah saatnya sekarang .. “ Lalu pria tersebut berpamitan pada orang-orang dalam ruangan, kemudian berlalu ke pintu ..

Yang segera diikuti Dave. “Kubantu, hyung!!”

Carlson menoleh sedikit. “Thanks .. ,” katanya sambil mengangguk kecil.

Dua sosok jangkung tersebut menghilang dari pandangan beberapa saat kemudian. Natalie juga berpamitan bersama putrinya, berjarak dua menit setelah itu. Sekarang, .. tinggalah Daze, Rathyan beserta omma dan appa dalam ruangan tersebut.

Sejenak .. tercipta kekakuan di antara mereka. Rathyan masih saja setia bersandar di kusen jendela, .. tanpa berniat beranjak atau mendekat sedikitpun. Daze beberapa kali melirik Rathyan, .. yang untuk sesaat kemudian, dikembalikan pada omma dan appa. Dia sungguh tidak tahu harus berucap apa. Sampai keputusan yang diambil omma dan appa selanjutnya berhasil melegakan perasaannya. Seperti mampu menangkap ketidak leluasaan sikap Daze, .. omma dan appa memutuskan menunggu Dave dan Carlson di serambi depan.


>_______________<



Sepeninggal omma dan appa, .. keadaan menjadi hening. Daze menghampiri Rathyan dengan langkah yang sangat pelan, .. dan tidak menimbulkan suara yang berarti, … yang mampu membuat pemuda itu mengetahui keberadaannya kini. Semua terlihat dari sikap pemuda tersebut yang tidak bergerak dari posisinya. Rathyan masih berada di dekat jendela, .. tidak bergerak, dengan posisi menghadap keluar jendela.

“Rath .. “

Tidak terdengar sahutan dari Rathyan. Perhatiannya masih dipusatkan ke pemandangan di luar, .. yang sudah pasti tidak menarik karna hanya diselimuti lapisan salju yang cukup tebal.

“Apa yang kau lihat .. ?” Daze mencoba untuk memulai pembicaraan di antara mereka. Sekarang, dia sudah berada di samping Rathyan.

Tapi, .. lagi-lagi dia tidak mendapat reaksi dari pemuda di sebelahnya. Rathyan masih menatap nanar keadaan di luar.

“Apakah kau .. “ Suara Daze tercekat. Tiba-tiba saja Rathyan sudah merengkuhnya dari belakang, .. melingkarkan lengan kekarnya dari bagian punggung sampai mencapai tengkuknya yang terbuka. Mulut Daze terbuka perlahan, .. bisa dirasakannya telapak tangan Rathyan yang dingin mendarat di tengkuknya.

Rathyan mundur selangkah, dan merapatkan tubuhnya di punggung Daze. Matanya terpejam, .. lalu menghirup dalam-dalam aroma yang menyerbak dari tubuh dan rambut Daze.

“Perasaanku sangat galau … “ Rathyan mengeluarkan suara setelah kediaman yang berkepanjangan. “Aku takut … “ Perkataannya terhenti. Ditumpukannya dagunya di pundak Daze, … lalu mengecupnya pelan.

“Kau takut .. aku akan meninggalkanmu .. ?” Daze bertanya beberapa saat kemudian. Kepalanya agak diputar, .. menyamping ke sebelah kanan, .. sampai bersitatap dengan Rathyan. “Benar .. ?”

Rathyan tidak menjawab. Dia hanya membalas tatapan Daze dengan matanya yang gelap dan dalam. Daze kemudian mengangkat tangan, .. dan mengelus pelan wajah tegas yang terpahat sempurna itu.

“Jangan khawatir … Saya akan berada di sisimu. Bukankah sudah kujanjikan itu .. ,” ujar Daze pelan, .. sangat dekat di telinga Rathyan, dengan maksud menenangkannya.

Rathyan memejamkan matanya kembali. Mengendus sebentar rambut pendek Daze yang mulai memanjang. Kemudian tangannya yang sebelah kanan menekan pelan wajah Daze hingga makin mendekat dan menempel di wajahnya.

Agak menunduk, Rathyan meraih bibir Daze dengan bibirnya. Mengulum dan melumat bibir mungil tersebut dengan sangat dalam. Terdengar desahan dari mulut Daze. Sebuah perasaan yang sangat aneh dan ajaib kembali dirasakannya setiap kali bibir Rathyan menyentuh seinci tubuhnya. Apalagi begitu aroma cemara yang sangat kental samar-samar mengelitik hidungnya. Sumpah, .. aroma tersebut selalu sukses membuat jiwa dan raganya melayang. Serasa berenang di langit ke sembilan, .. ataupun mendarat di taman surgawi yang teramat indah dan menjanjikan kebahagian kekal.

Ciuman tersebut memanas hanya dalam hitungan detik. Rathyan menurunkan bibirnya ke leher jenjang Daze, .. menyusuri setiap jengkal dengan lidahnya yang panas, .. dan menciptakan stempel-stempel merah di sana. Daze mendesah, .. dia memekik kecil ketika merasakan perih-perih nikmat di sekitar lehernya. Kepalanya agak terangkat, .. sehingga permainan-permainan mereka semakin bebas dan liar.


>_______________<



Rathyan membuka matanya. Dia bernafas lega begitu mendapatkan Daze tertidur nyenyak dalam rangkulan sepasang tangan kekarnya, .. sama seperti kemarin-kemarin.

Dia tidak pergi. Dia tetap di sini, .. di sisiku seperti janjinya .. Begitu kata hatinya berulangkali.

Dia menatap Daze lekat-lekat. Menyentuh wajah mungil tersebut dengan sangat pelan, .. seakan takut akan membangunkan bidadarinya dari tidur manisnya. Dia dapat melihat bagaimana Daze tidur dengan raut yang seperti menyunggingkan senyum. Melihat itu, .. Rathyan tidak tahan untuk tidak ikut tersenyum. Tanpa sadar, … dia tersenyum sangat lebar. Hal yang mungkin hanya bisa dilakukannya di saat bersama Daze.

Rathyan menyangga tubuh dengan lengannya, .. sehingga postur jangkungnya berada di atas Daze. Diamatinya kembali, .. untuk kesekiankalinya dan tanpa merasa bosan, … paras ayu yang menawan tepat di bawah tubuh polosnya. Kemudian lambat-lambat dia menunduk, … menghadiahkan kecupan lekat di jidat Daze yang masih tertidur nyenyak.

“Aku akan membuatmu tidur pulas setiap malam, .. seperti ini … ,” gumam Rathyan pelan dan dalam. “ Aku berjanji, Dazya .. Tidak akan kubiarkan kau menderita lagi, … apalagi, .. mengalami insomnia seperti yang kau alami sejak setahun yang lalu .. “

Rathyan kembali mendaratkan ciumannya, .. kali ini bibir Daze yang menjadi sasarannya. Dilumat dan disesapnya pelan dan lembut bibir ranum Daze. Sampai ciuman tersebut makin menuntut, .. dan Daze memicingkan mata perlahan. Gadis itu tersenyum, .. semula agak terkejut juga, bangun-bangun sudah mendapatkan Rathyan sedang mencumbunya.

Namun, kekagetannya tidak lama. Karna dalam sekejap, Daze sudah membalas cumbuan Rathyan dengan permainan yang tidak kalah bergairah dan liarnya. Tangannya bergayut di leher kekar Rathyan, .. dan menariknya sampai dada bidang tersebut menempel ketat di dadanya sendiri yang tidak tertutup kain.

Sebentar saja desahan-desahan nikmat dan pekikan-pekikan kecil terpantul dari ruangan tersebut. Kamar yang semula dingin dan beku, .. walau sudah dilengkapi penghangat listrik, .. berubah jadi panas dan bergelora.


>_______________<



Rathyan menghentikan langkahnya ketika teriakan nyaring dan cempreng terdengar dari belakang.

“Oppa!!”

Alis Rathyan berkerut. Dengan sangat lambat, .. dia menoleh kearah asal suara tersebut. Dan, .. raut tidak senangnya menjadi makin dongkol saja begitu mendapatkan Jennifer White sudah berdiri di samping mobilnya, berdampingan dengan Tuan Park.

“Weeyo?” Rathyan berbalik dan mendekati mereka. “Kenapa memarkir mobilnya di sini?” tegur Rathyan pada Tuan Park, .. mengindahkan Jennifer.. dan seolah tidak melihat keberadaannya di situ.

“Oppa . .,” rengek Jennifer merasa dicuekin.

Rathyan tidak menjadi acuh. Dia masih menatap Tuan Park dengan sorot mata tajam. Sebenarnya, .. bukan masalah parkir mobil yang membuat Rathyan sejengkel itu, .. tapi terutama, kelancangan asisten pribadi ayahnya ini, yang membawa Jennifer kepadanya yang membuatnya tidak senang.

“Oppa .. “ Jennifer meraih lengan jas Rathyan yang tersetrika licin. “Oppa kok begitu .. ,” rengeknya kembali sambil meruncingkan bibirnya. “Tidak senang apa melihatku .. ?”

Rathyan mengibaskan lengan jasnya dengan ekspresi muak. “Aku tidak ada waktu meladenimu!” katanya dengan nada yang teramat dingin. “Jika ingin bermain, .. ajak yang lain. Aku sangat sibuk . .”

Rathyan membuka pintu mobil dan agak mendorong sampai Jennifer undur selangkah.

“Oppa!!” protes Jennifer.

Rathyan tidak mengindahkannya. Dia sudah masuk ke dalam, dan melempar dirinya di bangku dekat jendela. Kemudian ditunjuknya Jennifer dengan pandangan mengancam begitu gadis itu berniat ikut masuk.

“Kau—pulang sendiri!!” perintah Rathyan menyengat.

Jennifer menerima perlakuan tersebut dengan ekspresi mengangga. Dia tidak menyangka Rathyan akan setegas ini padanya. Walau selama mereka tinggal di New York, .. Rathyan memang tidak begitu mengindahkannya sih, .. namun membentaknya? .. hanya akhir-akhir ini dilakukannya. Begitu Rathyan pindah ke Seoul, .. segalanya seperti berubah. Pasti gara-gara wanita itu!! rutuk Jennifer dengan hati membara.

Rathyan berpaling pada Tuan Park yang masih berdiri kaku di posisinya. “Berangkat sekarang, Tuan Park. Sudah terlambat!”

Tuan Park membungkuk hormat. “Ne, doronim .. “ Dia sadar sudah melakukan kesalahan. Tapi, .. pria malang itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika Jennifer memaksanya untuk diantar menemui Rathyan pagi itu. Selain gadis itu merengek terus, .. hingga menganggu dan membuyarkan konsentrasinya, .. juga karena dia mengancam akan melaporkan kelancangannya pada Oliver jika Tuan Park masih saja bersikeras dengan pengangannya.

Tuan Park menjadi ragu begitu menyadari kedatangan Rathyan hanya seorang diri. Dan seperti mengetahui jalan pikiran asisten berpostur ceking itu, .. Rathyan mengiyakan dengan menganggukan kepalanya.

"Nona Han tidak ikut kita hari ini. Dia kuliburkan. Tidak perlu menunggunya, .. kita berangkat sekarang .. "

Mendengar penjelasan Rathyan, Tuan Park segera membungkukan badan. "Ne, doronim .. " Setelah itu,  pria tersebut beralih pada Jennifer. Dia mengangguk dengan hormat. “Sosoengheyo, agashi … “

Kemudian Tuan Park masuk ke mobil dan duduk di sebelah supir. Jennifer melihat semua itu dengan tangan terkepal. Dia sangat marah. Sampai mobil mewah tersebut meluncur dari tempatnya, .. dia masih berdiri dalam posisi semula. Sebentar kemudian, .. dia melonjak-lonjak menghentak lantai yang beralas rumput.

“Keterlaluan!! Keterlaluan!!!”


>_______________<



Beberapa hari kemudian, .. Oliver Jang mendaratkan kakinya di Perth. Dia dijemput oleh Tuan Park yang telah terlebih dahulu dikabari tentang kedatangannya. Yang tidak disangka, .. Jennifer White ikut dalam acara penyambutan tersebut.

Gadis manis berdagu lancip itu langsung bergelayut di lengan Oliver begitu pria tersebut keluar dari gate bandara.

"Uncle Oli ... ," sapa Jennifer manja.

"O--" Oliver menanggapi dengan senyum elegannya. "Apa kabarmu, Jenny-a .. ?"

"Tidak baik!" Jennifer langsung membalas dengan agak ketus. Tapi itu hanya sesaat, .. sebentar kemudian sikap manjanya keluar lagi. "Rath oppa--dia tidak memperdulikanku ... ," adunya pada Oliver sambil meruncingkan bibirnya yang tipis dan terpoles lip gloss merah muda.

"Mungkin dia terlalu sibuk, sayang ... ," ucap Oliver ringan.

Terus terang saja, .. dia tidak bernafsu meladeni kemanjaan-kemanjaan Jennifer. Setelah Tuan Park mengambil-alih koper dari tangan seorang kuli, .. Oliver mulai mengerakan kakinya kearah gerbang keluar bandara.

"Tapi Uncle Oli ... "

Perkataan Jennifer segera diputus Oliver dengan mengangkat tangannya.

"Kita bicarakan di apartemen saja, nak ... Di sini terlalu ramai dan tidak nyaman ... "

Jennifer terlihat ingin membantah, namun Oliver sudah tidak memperhatikannya. Pemilik Max-Global itu terus saja melangkah, ... tanpa berpaling sedikitpun. Sampai postur jangkungnya tiba di pintu keluar dari kaca, .. dia berjalan keluar dan terbebas dari pandangan Jennifer.

"Uncle Oli ... " Jennifer mendengus.

Dengan tergesa-gesa gadis itu berlari, .. menyusul Oliver dan Tuan Park yang sudah menghilang dari daya tangkapnya.


>_______________<



" ..., kira-kira begitu. Uncle Oli harus melakukan sesuatu .. ," rengek Jennifer setelah menghabiskan ceritanya yang teramat panjang dan terasa menganggu.

Tuan Park melirik dari posisinya di sudut ruangan dekat jendela. Dia tidak mengeluarkan suara.

Oliver yang hanya mendengarkan separuh-separuh cerita tersebut, menaruh koran di tangannya ke atas meja. Dia tidak memperlihatkan reaksi apa-apa ketika Jennifer menatapnya dengan penuh harap. Ataupun ketika gadis itu menyentuh lengannya dan mengerakannya dengan gaya yang dibikin memelas.

"Paman mendengarnya .. ," Oliver berujar ringan. Dia menyeruput sisa kopi terakhir dari cangkirnya, kemudian menatap lawan bicaranya ini. "Ini sudah larut, Jenny-a .. Kau harus kembali ke kamarmu .. ," desak Oliver samar sambil menaruh cangkir kosong dalam genggamannya.

"Tapi Uncle Oli ... "

Rengekan Jennifer terhenti ketika Oliver beranjak bangun dari sofa.

"Kembalilah ke kamarmu ... " Pria itu masih terlihat berusaha bersikap ramah, .. walau kebanyolan dan kekanak-kanakan Jennifer sudah hampir melampaui batas kesabarannya. "Paman tahu bagaimana meluruskan masalah ini, .. jadi serahkan semuanya pada paman. Kau--kembalilah ke kamarmu dan tidurlah .. "

"Uncle yakin bisa menyelesaikannya .. ?" tanya Jennifer, tidak begitu yakin ketika menuju ke pintu. Dia berjalan sambil menoleh ke arah Oliver. " ... sementara oppa .. "

"Uncle tahu apa yang kau pikirkan!" potong Oliver cepat. Dia mengibaskan tangan supaya Jennifer segera keluar dari ruangannya. "Rath memang sulit untuk dibuat mengerti. Tapi percayalah, .. paman punya cara untuk melunak-kannya .. "

"Saya mempercayakan semuanya pada paman ... " Jennifer tersenyum. Dia mengangkat tangan dan melambaikannya pada Oliver, yang dibalas pria tersebut dengan mengangguk pelan. Pintu kemudian ditutup, .. dan ruangan tersebut seketika menjadi sunyi. Oliver menghembuskan nafas. Kelakuan-kelakuan Jennifer memang selalu membuatnya sesak.

"Tuan Park ... " Oliver beralih pada Tuan Park.

Pria yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara dan berdiri kaku di dekat jendela menghampirinya. "Ne, pak presiden?" Tuan Park membungkuk dengan hormat.

"Siapkan segala sesuatunya!" Oliver berkata dengan nada datar. Pandangannya dialihkan keluar jendela yang memperlihatkan pemandangan kelam kota Perth di malam hari. "Setelah meeting dengan Aussie Land, .. urus pertemuanku dengan Nona Han. Masalah ini harus segera diselesaikan--"

"Ne, pak presiden!"

Raut Tuan Park sedikit berubah. Dan, .. hal itu tidak terlihat Oliver yang masih menatap keluar jendela.


>_______________<



"Tidak mau!!" Daze menyembunyikan tangannya ke belakang pinggang.

"Perlihatkan padaku!" desak Rathyan untuk kedua kalinya.

"Kenapa kau reseh sekali pagi ini?!" omel Daze. "Kau biasanya tidak begini?" lanjutnya kembali seraya menghindari terjangan Rathyan.

"Kau sudah berjanji untuk jujur padaku!" balas Rathyan tidak perduli. "Sekarang tunjukan padaku!!"

"Huh--ini bukan apa-apa!" bantah Daze lagi. Dia segera memutar tubuh begitu Rathyan kembali melancarkan serangannya.

"Daze Han!!" Rathyan memandanginya tajam-tajam.

"Sudah kubilang ... ini bukan apa-apa ... " Daze memanjangkan bibirnya.

Kalau sudah begini, .. rasanya dia yang akan kalah. Setiap kali mendapat tatapan tajam dari Rathyan, .. sudah dipastikan, .. lututnya terasa lemah. Dia tidak mungkin dapat membantah. Perlahan, .. tangan yang menyembunyikan sesuatu, terulur kepada Rathyan.

Rathyan memandanginya sejenak, .. sebelum menerima 'benda' yang ternyata secarik kertas tersebut. Rathyan mengamatinya sesaat, .. kemudian .. alisnya bertaut perlahan. "Ini ... laporan kesehatanmu ... ?" tanyanya lambat-lambat.

"Ne ... ," jawab Daze pelan. "Sudah kubilang bukan apa-apa. Di situ tertulis, .. insomniaku sudah sembuh ... "

Rathyan tidak berucap apa-apa. Iris gelap dan tajam bak elang itu menatap nanar huruf-huruf kecil yang tertera dalam kertas di tangannya.

"Tidak apa-apa ... ," ujar Daze kembali. Tangannya bergerak, .. bermaksud mengambil kertas dalam tangan Rathyan. " .. berikan padaku ... "

Namun Rathyan tidak melepaskan genggamannya. Tangan yang memegang kertas tersebut perlahan terkepal, .. membuat kertas di tangannya menjadi lecek. Mereka berdiri dengan posisi seperti itu cukup lama.

"Rath .. " Daze mengerakan tangannya yang memegang ujung kertas. Menegur Rathyan.

Pemuda tersebut tetap tidak merespon. Pandangannya masih setia menempel di kertas laporan dari dokter tersebut.

"Rath ...

Drekk,,,

"Noona!"

Panggilan Daze terputus oleh pintu dapur yang dibuka dari luar. Dave menonggolkan kepalanya dari balik pintu.

"Ada yang nyariin .. "

Daze mengeser posisi yang terhalangi postur gede Rathyan. "Dhuga?" tanya Daze pada dongsengnya itu.

Dave mengangkat pundak. "Tidak tahu. Seorang pria perlente bersama pria lain, yang mungkin bawahannya .. ," jelasnya susah payah sambil mengingat-ingat.

Daze terlihat menyipitkan matanya. Lalu dia beralih pada Rathyan. "Dhuguji? Kira-kira siapa ya--sepagi ini?"

Rathyan tidak menjawab. Seperti juga Daze, ....  alisnya berkerut heran.

"Dav, .. kau mengenal mereka?" Daze mengembalikan perhatian pada Dave.

Pemuda itu mengeleng pelan. "Ahniyo! Baru pertamakalinya saya bertemu dengan mereka .. "

"O--" Daze membuka mulut, kemudian mengangguk. "Katakan, saya segera turun. Akan menemui mereka lima menit lagi--"

"Ne .. "

Dave menarik diri dan menutup pintu dapur di depannya. Keadaan menjadi hening kembali. Memanfaatkan kesempatan itu, Daze merebut kertas di tangan Rathyan sebelum sempat diprotes. Lalu mundur ke arah pintu.

"Saya akan menemui para tamu tak diundang itu dulu--"

"Chakaman!"

Tangan Daze yang sudah bersiap menekan gerendel, terhenti. Gadis itu menoleh dari posisinya yang memunggungi Rathyan.

"Dhe?"

"Saya ikut denganmu!" sahut Rathyan tegas.

Tubuh jangkung itu bergerak kearah Daze. Dan membuka pintu dapur sebelum gadis itu menyadari apa yang telah terjadi.

"Eh--Rath!!"

Rathyan sudah berada jauh di depannya. Daze menghembuskan nafas kuat-kuat. Agak tergesa-gesa, dia menutup pintu dan berlari mengejar Rathyan yang menelusuri lorong tengah menuju ruang tamu.


>_______________<



Rathyan yang berjalan di depan Daze, menghentikan langkahnya di depan pintu. Mulut lembab itu perlahan-lahan .. mengangga, .. lalu mengatup dalam tatapan menyengat. Apa yang dilihatnya dalam ruangan tersebut membuat emosinya langsung meningkat sampai ke ubun-ubun. Siapa lagi kalau bukan ayahnya, Oliver Jang .. dan asisten pribadi yang paling setia, Tuan Park?

"Doronim .. " Tuan Park menyapa dengan anggukan pendek, .. kemudian pada Daze yang kebingungan dibalik postur Rathyan. "Nona Han--"

Daze mengeser posisinya sampai bisa melihat jelas kedua tamu tersebut. "Tuan Park?" tanyanya agak terkejut. "Kenapa kemari?" Dia tampak keheranan, "Dan, ... " Lalu Daze menoleh kearah pria satunya, .. yang berpakaian perlente dengan sikap yang sangat elegan. Pria tersebut duduk di sofa lengan dengan kaki terlipat di depan. "Tuan ... ?" Entah apa yang membuat Daze tiba-tiba berpaling pada Rathyan,

Tanggapan yang sungguh tidak diperkirakannya, .. Rathyan mengangguk pelan.

"Ne. Dia ayahku." sahut Rathyan dingin. Dengan tatapan menusuk yang tertuju pada pria yang duduk di sofa. "Dialah orangnya--si pengendali Max-Global--"

"OH--" Daze menutup mulut dengan sepasang tangan. Mata bulatnya terbelalak lebar. "An .. anyong .. heseyo .. , pak .. pak presiden .. ," sapa Daze dengan kegugupan yang teramat sangat.

Rathyan berdecak. Segera dia menarik Daze sampai tertutup tubuhnya.

"Apa maumu?" tanyanya dingin pada Oliver.

"Rath .. " Sesuatu menepuk lengannya. Rathyan menoleh ke belakang.

"Mwo?"

Namun, sahutan berasal dari depan mereka, .. dan bukan dari Daze.

"Aku mencarinya, dan bukan mencarimu!" ... baik Rathyan maupun Daze menoleh pada Oliver. "Tidak appa kira kau juga berada di sini .. " Oliver tersenyum sinis.

Rathyan kembali menutupi postur Daze dengan tubuhnya. Seperti menghalanginya dari sesuatu yang bakal menyakiti.

"Apa maksudmu dengan semua ini?!"

Oliver tidak mengindahkan Rathyan. Pandangannya lalu berpindah ke Daze.

"Nona Han .. " Mulainya sambil menurunkan kaki yang terlipat ke lantai. "Bisa bicara sebentar?!"

"Eh--" Daze tersentak. "Ten .. tentu saja, .. pak presiden .. ," jawabnya dengan gugup.

Oliver mengangguk. "Bagus. Kalau ada tempat yang lebih bagus ... "

"O--di ruang duduk saja--" usul Daze. "Tidak ada yang akan menganggu di sana .. dan ..

Belum lagi kata-katanya selesai, .. cengkraman keras sudah bersarang di lengannya.

"Apa kau sudah gila, Daze Han?!!" Rathyan menarik Daze kearahnya. "Sudah kubilang berapa kali, .. jauhi orang ini!!" lanjutnya dengan nada bergemuruh. "Dia akan menyakitimu!!"

"Tenanglah .. " Daze tiba-tiba melebarkan senyumnya. Dia menyentuh Rathyan buat menenangkannya, .. lalu melanjutkan dengan pelan, .. yang hanya terdengar mereka berdua. "Saya sudah menjanjikannya padamu, kan? .. Walau apa yang terjadi, .. saya tidak akan meninggalkanmu. This is my promise, Rath-a .. percayalah. Biarkan saya membicarakannya sendiri dengan appamu, .. karna ini keinginannya. Jika tidak begitu, .. dia tidak akan berhenti. Kau tahu itu--"

Rathyan masih menatap Daze dengan tidak rela, .. sekalipun Daze sudah menyelesaikan kalimatnya. Sampai sentuhan hangat dari Daze mendarat di lengannya.

"Rath ... "

Perlahan, .. Rathyan melepaskan cengkramannya. "Asal, .. kau pegang janjimu, Dazya ... "

"Ne .. " Daze mengamini.

Lalu gadis itu beralih pada tamunya, Tuan Oliver Jang. "Sebelah sini, pak presiden ... "

Rathyan mengikuti kepergian Daze dan Oliver dengan hati galau. Berkali-kali dia mengingatkan diri bahwa, .. Daze sudah berjanji, dan .. dia harus percaya. Gadisnya tidak akan melanggar janji, .. Ngomong sih begitu--tapi, .. .. perasaannya tetap tidak tenang.

Rathyan menjatuhkan diri di sofa yang tadi diduduki Oliver. Nafasnya terhembus jelas ketika sepasang matanya terpejam. Perlahan, .. punggung dan kepalanya disandarkan ke belakang kursi. Perasaannya tetap tidak karuan.

Tuan Park memperhatikan semua itu sambil menghela nafas, .. dia seperti bisa memahami apa yang dirasakan Rathyan saat ini. Perasaan bingung dan bimbang terhadap sesuatu yang tidak yakin mampu dikendalikannya. Perasaan takut kehilangan yang dilihatnya dalam diri Rathyan ketika majikan mudanya ini kehilangan omma, .. dan juga noonanya berselang beberapa tahun kemudian.


>_______________<



"Bapak mau minum apa? Anggur, .. atau .. minuman tak beralkohol lainnya?" Daze menawarkan, begitu dia dan Oliver memasuki ruang duduk di lantai atas.

"Tidak perlu!" sahut pria di belakangnya.

Daze meliriknya sekilas, .. untuk kemudian mengangguk sedikit. Dia masih saja merasa sengan dan takut-takut menghadapi pria berkharisma ini. Seperti juga di kala menghadapi Rathyan, .. pria ini mampu membuat hati dan jantungnya lemah.

Mereka sampai di depan sebuah meja pendek yang dikelilingi beberapa sofa lengan. Daze menyilahkan tamunya duduk di sofa yang menghadap jendela terlebih dahulu, .. sebelum mengambil tempat di depannya. Sesaat suasana menjadi hening. Daze enggan mengeluarkan suara, jadi dibiarkannya tamu tersebut asyik dengan kesibukannya mengamati keadaan di ruangan itu.

"Ruang duduk ini cukup nyaman .. ," mulai Oliver sambil menjatuhkan perhatiannya pada Daze.

"Eh--ne .. " Daze tersentak. Dia tenggelam terlalu dalam dalam lamunan hingga tak menyangka Oliver akan memulai secepat itu. "Tempat ini ... dipakai halmonie .. buat .. buat merajut ... sewaktu masih hidup ... "

"Halmoniemu?"

"Ne." Daze menundukan kepala lambat-lambat. Mengingat halmonie, membuat matanya mulai berair.

"Sudah meninggal?"

Daze mengangguk.

Terdengar Oliver menghembuskan nafas. "Sorry. Saya tidak bermaksud mengungkit kenangan yang tidak menyenangkan .. "

Daze tersenyum kecut. "Tidak apa. Masalah itu sudah lewat kok .. "

Oliver mengangguk. "Baiklah. Sekarang, .. langsung ke pokok masalah .. "

Mendengar itu, Daze langsung menegakan badannya. Akhirnya, .. pria ini akan memulai pembicaraannya, setelah berputar-putar cukup lama.

"Begini, .. saya berharap ...

"Anda ingin saya meninggalkan Rath?" Daze memotong dengan cepat.

Setelah itu dia tergangga sendiri, .. tidak menyangka dirinya akan menyerobot dengan pertanyaan itu.

Oliver terlihat tersenyum puas. "Kau bukan gadis bodoh, nona. Saya yakin anda tahu, 'ITU' memang maksud kedatanganku .. "

Daze mengigit bibirnya. "Jika itu maksud kedatangan tuan, .. " Daze terlihat mengambil tekad. Lalu, .. dia membalas dengan senyuman. "Mianeyo, .. tapi saya tidak bisa melakukannya .. "

"Mwo?!!" Oliver tersentak kaget. Posisinya yang menyandar santai di punggung sofa, .. menjadi tegang. "Maksud nona?!!" tanyanya dengan nada berubah dingin.

"Tuan tentu tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan .. " Daze masih berusaha memberikan penjelasannya. Dia ingin Oliver tahu, .. Dia tidak mungkin menyerah terhadap Rathyan. "Saya pernah merasakannya..." lanjut Daze dengan suara memelan. Kepalanya tertunduk, .. dan jemari-jemarinya dimainkan dengan pikiran melayang. ".. setahun yang lalu .. dan, .. itu sangat menyakitkan. Melebihi kematian. .. Saya tidak bisa tidur. .. setiap memejamkan mata, yang terbayang--hanya orang yang kurindukan. Berharap dia akan berada di situ, .. muncul setiap saat di hadapanku, mengatakan satu patah kata saja. Bahkan karena itu, .. saya harus bergantung pada obat-obatan agar bisa terlelap, .. "

Oliver menatap Daze dengan ekspresi kaku, .. sepasang mata tak berkedip.

"Aku tidak ingin mengulanginya lagi .. ," desis Daze sambil mengelengkan kepalanya. "Tidak ingin. Perasaan itu--terlalu menakutkan .. "

"Oleh karena itu--?" tanya Oliver dingin.

Daze tersenyum lembut. "Saya tidak akan meninggalkannya," kata Daze penuh tekad. "Tidak akan lagi!"

"Kau menantangku, nona?"

"Anhiyo .. ," jawab Daze. "Saya bukannya menantang, pak presiden. Saya tahu jika melakukannya, .. juga tidak akan menang. Hanya saja, .. saya sudah menjanjikan itu pada Rathyan. Saya tidak akan meninggalkannya, .. apapun yang terjadi. Jadi, .. saya akan memegang teguh janji itu. Saya tidak ingin melihatnya menyesali pelanggaranku ... Saya sudah pernah melihatnya, .. dan dampak dari semua itu membuat hatiku sangat perih, ‘sakit’. Oleh karena itu, saya tidak ingin terulang kembali ... "

"Saya tidak perduli bagaimana hubungan kalian .. " Oliver berdeham membersihkan tenggorokannya, .. lalu dia berdiri dari sofa. "Tapi kupastikan pada anda, nona. Saya tidak akan membiarkan hubungan kalian berlanjut. Rathyan sudah ditakdirkan meneruskan usaha keluarga, .. dia satu-satunya yang kumiliki, ... karenanya, aku tidak akan membiarkannya menghancurkan masa depannya sendiri. Dia masih muda, dan sangat labil. Dia belum bisa membedakan, mana yang terbaik dan mana yang mungkin akan menghancurkannya. Karna itu, aku harus memilih untuknya .. "

Oliver mengibas ujung jasnya yang agak kusut, .. kemudian berjalan ke pintu.

"Untuk meninggalkan Rathyan tak mungkin kulakukan!" seru Daze, .. yang berhasil menghentikan langkah Oliver di depan pintu. "Tapi, .. jika tuan ingin menjemputnya kembali, dan mencoba memperbaiki hubungan yang selama ini tidak terjalin baik, .. saya akan berusaha membantu. Saya akan menasehatinya untuk pulang bersama anda!"

"Kau?!" Oliver menoleh. "Kenapa?"

"Karna .. aku mulai memahaminya--" jawab Daze dengan mata tak berkejap. Lewat ekspresi itu, .. dia ingin Oliver tahu, ... dia benar-benar sudah berusaha hanya demi seorang Rathyan. "Aku tahu hanya di luarnya saja dia kelihatan tidak perduli--Sesungguhnya, Rathyan sangat rapuh. Dia membutuhkan kasih sayang .. ," kata Daze dengan pandangan meredup. "Saya tahu sesungguhnya Rathyan sangat membutuhkan anda. Tapi dia tidak mampu mengungkapkannya. Karna begitulah dia .. "

"Kau sepertinya sangat yakin akan hal itu, nona?" Oliver tersenyum meremehkan. "Berapa lama kau mengenalnya?--Satu tahun? Dua tahun?!! .. Seperti apa dia, dan pernah melakukan apa, .. saya rasa, kau tak pernah mampu membayangkannya!"

Oliver kemudian meraih gerendel pintu dan menariknya dengan cukup keras. Sebelum dia melangkah keluar, .. suara Daze terdengar kembali.

"Saya akan membujuknya!!"

"Tidak perlu!!" sahut Oliver datar, tanpa berpaling sedikitpun.

"Saya tetap akan melakukannya!" balas Daze tegas. "Saya yakin dia akan mendengarnya, .. daripada paksaan dari anda!"

Oliver terhenti sejenak. Perkataan Daze ternyata berpengaruh terhadapnya. "Terserah nona .. "


>_______________<



"Apa yang dikatakannya?!" tanya Rathyan menyelidik, .. begitu Daze menjatuhkan diri di sebelahnya.

Daze berusaha tersenyum. "Tidak ada yang berarti .. ," katanya, .. segera menghindari tatapan Rathyan.

"Jangan membohongiku, Daze Han!!" tegur Rathyan tidak senang.

"Eh--" Daze terdiam.

"Ada sesuatu, kan?" lanjut Rathyan sambil menatapnya tajam-tajam. "Tidak mungkin dia mengajakmu bicara dua mata jika tidak ada yang ingin dikatakannya."

"Dia ... " Daze mengatur nafas, .. sebelum menghembuskannya. " .. memintaku untuk meninggalkanmu .. ," lanjutnya kemudian, .. melirik Rathyan sambil berusaha tersenyum, kembali?!

Brakk, Tinju Rathyan tiba-tiba sudah mendarat saja di meja teh di depan mereka.

Dan--prangg, .. sebuah gelas yang berada paling dekat jatuh mengenai meja dan pecah dalam kepingan-kepingan besar.

"RATH!!" pekik Daze kaget. Dia terlonjak bangun, dan segera meraih tangan Rathyan, ... untuk kemudian mengamati dan memeriksanya dengan teliti. Terlihat darah segar merembes keluar dari luka yang tergores cukup panjang di punggung tangan Rathyan. "Kau sudah gila ya?!" tegur Daze dengan nada tercekik.

"Kau yang sudah gila!!" Rathyan menarik tangannya kembali dari genggaman Daze. Dan membiarkan tangan tersebut terjuntai lemah di engsel lengannya, .. darah segar terus mengalir dengan cukup deras dan menitik di lantai. Namun, .. Rathyan kelihatan tidak perduli. Dia tidak memperlihatkan reaksi dan ekspresi apa-apa. Rasa sakit yang tentu saja dirasakannya, .. seakan tidak melebihi kekhawatiran yang sekarang dirasakannya. "Kau ... meluruskannya ... ?" tanya Rathyan dengan rahang dikatupkan, Rapat.

"Mwo?" tanya Daze bingung. Dia tidak menangkap arti pertanyaan Rathyan, .. karna sejak tadi, perhatiannya berpusat pada punggung tangan Rathyan. "Kau harus segera diobati .. "

"Apa kau meluruskannya?" ulang Rathyan, ... tanpa memperdulikan kekhawatiran Daze.

"Mwo?!!" Daze berteriak. "Saya tidak mengerti maksudmu--Oh, demi Tuhan, .. kau harus segera diobati. Darahnya semakin banyak .. "

Namun, .. Rathyan tetap tak mengindahkan semua itu. "Permintaan tersebut--Apa kau meluruskannya?!!"

"Hah?!!"

"Meninggalkanku!!!" pekik Rathyan.

Daze tergangga. Pekikan yang melengking tinggi itu menyadarkannya akan sesuatu. Ada lapisan embun di mata Rathyan. Memang tidak sampai jatuh membasahi paras sempurnanya, .. tapi, .. lapisan embun itu sangat kentara. Rathyan sedang menahan diri untuk tidak menangis.

"Apa kau meluruskan permintaan itu, Dazya .. ?" Pertanyaan Rathyan berubah pelan.

"Anhi!!" Daze mengeleng keras-keras. "Tentu saja tidak!! Kau kira aku apa?--Aku sudah menjanjikannya padamu, kan?"

Rathyan agak terhuyung. Matanya terpejam ketika menengadah ke atas. Apa dia bersyukur? Ya. Karna apa yang ingin didengarnya, .. didapatkan sudah.

"Demi Tuhan, Rathyan .. " Suara Daze terdengar sangat samar memasuki pendengaran Rathyan. " .. tanganmu .. "

Rathyan membuka matanya, .. hal pertama yang berhasil dilihatnya adalah raut ngeri dan gelisah Daze.

"Ini .. tidak apa-apa .. ," sahut Rathyan menenangkan. Dia merobek kemeja tipis dibalik mantel tebal yang dikenakannya, kemudian membalut dan mengikatkan di bagian lengan yang  terluka. "Lihat!!" Lalu dia memamerkannya pada Daze. "Sudah berhenti mengalir .. "

Daze berhembus lega. "Lain kali, .. jangan lakukan lagi .. ," ucap Daze pelan. "Kau membuatku takut. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu, .. Apa yang akan kulakukan? .. siapa yang menjagaku?"

Rathyan mendesah pelan, .. lalu membenamkan kepala Daze di dadanya. "Tidak akan lagi--"

Daze memejamkan mata, dan menghirup dalam-dalam aroma cemara yang menyerbak dari badan Rathyan. Sebentar kemudian, .. dia mengendorkan lingkaran tangannya di pinggang kekar dan ramping pemuda itu.

"Saya memang tidak mengabulkan permintaannya, .. tapi .. ," sampai di sini, .. Daze memutus perkataannya.

"Ya?" Rathyan menatap Daze lekat, .. dan menunggu perkataan selanjutnya dengan kesabaran yang sempat membuat Daze tergangga.

"Kau .. tidak akan marah, kan?" tanya Daze lambat-lambat.

"Marah?" Alis Rathyan terlihat mengkerut. "Maksudmu?"

Daze mengeleng lemah. "Saya takut kau akan murka setelah mendengarnya, .. karna itu berjanjilah dulu .. , jangan marah .. "

"Katakan sekarang juga, Daze Han!!" perintah Rathyan tegas. Kesabarannya ternyata hanya berkisar segitu saja.

"Saya .. saya .. berjanji padanya .. untuk .. membujukmu ... kembali ke rumah ... "

"MWO?!!" Rathyan terbelalak lebar. Dia tidak pernah menyangka, .. hal ini yang akan diutarakan Daze. "Apa bedanya dengan melanggar janji yang telah kau ucapkan, Daze Han!!" Mata Rathyan mengobarkan amarah. Dia sangat murka. Perasaannya yang agak tenang akibat pernyataan Daze tadi, .. hilang seketika. "Kau benar-benar seorang pembohong besar!!!"

"Bukan begitu!!" Daze menukas cepat. Segera disentuhnya lengan Rathyan, .. namun langsung ditepis pemuda itu. "Karna saya mengerti kau ... ," dia berusaha melanjutkan, .. walau terlihat jelas, Rathyan tidak ingin mendengarnya.

Pemuda itu memutar tubuh menghadap jendela. Sepasang tangannya terkepal erat, .. sedangkan rahangnya terkatup rapat.

"Saya tahu kau akan marah ... ," Daze berkata pelan. " .. karna itu, saya tidak bermaksud mengungkitnya. Tapi, .. " Daze kembali menyentuh lengan Rathyan. Kali ini, .. pemuda itu tidak mengibaskannya. Rathyan berdiri dalam diam. " ... saya sadar kau tidak boleh begini, Rath-a .. Menghindar dari masalah, bukan sesuatu yang baik. Masalah tersebut tidak akan selesai, bahkan akan semakin runyam jika tidak segera diselesaikan. Hadapi dengan lapang dada, … itu jalan terbaik .. “

“Dengan memintaku kembali padanya, .. itu jalan terbaik yang kau maksud?” tanya Rathyan tanpa memandang Daze.

Suaranya terdengar sangat kering. Dia tidak berteriak lagi, .. atau mungkin—dia sudah sangat capek untuk meneriakan sesuatu yang tidak dipahaminya. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran gadis ini. Sekuat apapun dia berusaha, .. Daze tetap sulit untuk dipahami.

Kenapa gadis ini harus menjanjikan sesuatu yang dia tahu, ‘sangat tidak’ disukainya, pada pria yang jelas-jelas enggan dihadapinya jika tidak sangat terpaksa, sementara, .. dia—Daze, sudah menjanjikan sesuatu yang teramat indah? Tidak meninggalkannya?!! Bukahkah kedua hal itu tidak berbeda? Memintanya pulang, .. sama saja dengan memaksa dia untuk meninggalkannya, bukan? Rathyan sungguh-sungguh tidak mengerti jalan pikiran yang satu ini.

“Aku tahu ini menyakitkan .. ,” desah Daze lirih. “Tapi, .. yakinlah, ini yang paling kau butuhkan sekarang .. “

Rathyan memutar tubuh, .. dan menatapnya lekat-lekat. “Kau tidak akan menyesal?”

Daze berusaha tersenyum, walau dia yakin senyumnya terlihat pahit. “Aku akan menunggumu, .. apapun yang terjadi. .. aku akan tetap di sini, .. tidak akan kemana-mana, .. tidak seperti setahun yang lalu. Kau akan menemukanku setiap saat, jika semua masalah telah selesai .. “

Rathyan mengangguk. “Kau tahu, aku melakukannya hanya untukmu?”

“Ne. Aku tahu .. “ Daze memastikan. “Aku merasakannya di sini.. “ Gadis itu meletakan tangan di dadanya. “Aku akan merindukanmu, Rath-a .. “

Tidak bisa ditahan lagi, .. titik-titik air berlomba menuruni pipi Daze. Gadis itu merentangkan tangan dan merangkul Rathyan erat-erat, .. menumpahkan segenap luapan perasaan yang dirasakannya. Ini bukan sentuhan yang terakhir—dia tahu, .. Rathyan akan kembali padanya, dan .. dia akan setia menunggu moment itu. Tapi mengingat, .. Rathyan akan meninggalkannya untuk waktu, .. yang dia sendiri tidak tahu berapa lama, .. nafasnya jadi sesak.

Tangan Rathyan terangkat pelan, .. lalu ditekannya kepala gadis itu sampai terbenam di dadanya. Dapat dirasakannya, kemeja di bagian tersebut menjadi basah. Juga dadanya sendiri yang tidak tertutup kain, .. akibat sudah dirobek buat membalut lukanya tadi, .. sudah terasa sangat dingin akibat airmata yang mengalir tiada henti.

“Jangan begini!” desis Rathyan halus. “Aku tidak akan rela meninggalkanmu jika kau menangis terus .. “

“Rath .. hu .. hu .. “

Rangkulan di pinggang Rathyan semakin erat. Waktu beberapa menit mereka habiskan seperti itu, .. tanpa menyadari, pemilik sepasang mata gelap mengamati gerak-gerik mereka dari celah pintu. Oliver dan Tuan Park—yang agak memisahkan diri dari majikannya, .. memang sedang menunggu Rathyan di depan kamar buat pergi bersama mereka.

Rathyan mengendurkan rangkulannya. Kemudian, dihapusnya sisa-sisa airmata Daze dengan telapak tangannya. “Jangan menangis lagi. Saya tidak ingin melihatnya, araso .. ,” ujar Rathyan dengan nada datar namun menyayat.

Daze mengangguk. Pandangan mereka bertaut dalam diam, .. sinar mata yang menyiratkan arti yang sangat dalam. Saling menatap dalam janji yang hanya mereka mengerti dan yakini masing-masing. Rathyan kemudian menundukan kepalanya, .. bersamaan dengan berjinjitnya sepasang kaki Daze. Bibir mereka bertemu dalam lumatan yang sangat dalam. Desahan terdengar.

Oliver yang melihat adegan tersebut, menahan nafasnya. Kakinya bermaksud digerakan ke dalam, .. namun sesuatu segera menahannya.

Ini yang terakhir kali, .. biarkan saja!, begitu peringatan yang membuatnya akhirnya membatalkan maksud itu.       


>_______________<



"Kuperingatkan,--aku pulang karna Daze. Dia yang memintaku mencobanya bersama anda, .. dai berharap aku bisa mengerti kau, .. meski--" Rathyan tersenyum sinis. Diliriknya Oliver dari ujung rambut sampai ujung kaki, .. lalu berbalik kembali, .. sambil mendengus. ".. aku tidak melihat keperluan dari semua itu--"

Oliver membalasnya dengan melipat sepasang tangan di depan dada. Ditatapnya Rathyan lekat-lekat. "Terserah apa yang kau katakan! Appa akan menyelesaikan tugas yang belum kau selesaikan selama beberapa hari ke depan, .. jadi, .. kita mesti tinggal di sini, sebelum kembali ke Seoul--"

Rathyan mengangkat bahunya. Oliver berpaling pada dua pengawal yang mengikut dengan setia di belakang mereka, .. lalu memberi isyarat melalui lirikan matanya. Salah seorang dari mereka mengangguk, .. kemudian membukakan pintu kamar di depan mereka. Setelah itu, .. pengawal bertubuh tegap tersebut mengerakan tangannya.

"Silahkan, doronim .. "

Rathyan berdecak, lalu melangkah ke dalam.

"Untuk sementara ini kamarmu .. "

Dia mendengar ayahnya berkata dengan nada datar. Rathyan kembali mengangkat pundaknya, cuek--kemudian menjatuhkan tubuh di atas ranjang.

"Setelah semuanya beres, kita akan segera kembali ke Seoul .."

"Bagaimana dengan Daze?!" Rathyan bangun dari posisi berbaringnya, dan menatap Oliver yang berada di luar kamar.

"Appa berjanji tidak akan melakukan apa-apa terhadapnya--" ucap Oliver beberapa saat kemudian.

Rathyan mengangguk. Matanya tidak berkedip ketika membalas tatapan Oliver lewat pintu yang dibiarkan terbuka.

"Kupastikan kau, untuk memegang janji itu--" katanya dengan nada tajam.

Oliver mengangguk. "Tenang saja, .. appa bukan orang yang suka melanggar janji--"

Setelah itu, pria itu undur ke belakang, .. membiarkan salah seorang pengawalnya untuk menutup pintu. Keadaan di dalam kamar hening seketika. Rathyan kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, .. kemudian, berusaha menyenyakan diri meski masih pagi.

Sementara di luar kamar, .. Oliver memberi isyarat kepada pengawal yang mengapit di dua sisi pintu untuk mengerendel gagang pintu dengan rantai yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

"Jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia keluar kamar, setapakpun tanpa seijinku--" perintah Oliver pada pengawalnya.

Kedua pengawal tersebut mengangguk. "Ne, pak presiden .. "

Oliver melirik ke daun pintu, .. lalu berujar pelan. Suaranya terdengar dingin, .. namun lebih seperti desahan. "Kau yang memaksa appa, Rath-a. Jangan menyalahkanku!" Kemudian dia memutar tubuh, .. mulai melangkah menuju ke ruangan yang berseberangan dengan kamar yang ditempati Rathyan.

Oliver melewati Tuan Park yang sejak tadi memperhatikan adegan-adegan antar ayah dan anak tersebut dalam kebisuan.

"Ikut denganku, Tuan Park! Ada yang ingin kubicarakan sehubungan dengan proyek kerjasama dengan Aussie Land ... "

Tuan Park menjawab dengan pandangan yang terarah ke kamar Rathyan. "Ne, pak presiden .. "


>_______________<



Rathyan menekan gagang pintu dan bermaksud membukanya. Namun tidak bisa. Dia mengulanginya kembali. Sama saja. Pintu tersebut tidak bisa dibuka. Alis Rathyan bertaut perlahan-lahan.

"Hoy--"

Bukk!! Bukkk!! Bukkk!!!

Kepalan Rathyan mendarat di daun pintu.

"Buka pintu!!" teriak Rathyan, .. sambil diiringi gebukan-gebukan yang semakin keras.

Bukk!!! Bukkk!!!

"Hey--Dengar?!! Aku bilang--buka pintu!!!!"

Dua pengawal yang menjaga di pintu saling berpandangan.

"Buka pintu!!!"

Bukk!! Bukk!! Bukk!!

Gedoran-gedoran tersebut makin mengila, ... terdengar berisik dan mengusik di hari yang masih sangat pagi itu.

"Gimana?" bisik pengawal yang menjaga di sebelah kiri pada rekannya.

Pria yang diajak bicara mengangkat pundak. "Biarkan saja!"

"Ne." Rekannya kemudian mengiyakan. "Jika kita membuka pintu buatnya, ... pasti dimarahi pak presiden .. "

"Iya. Nanti juga berhenti sendiri .. "

Lalu kedua pengawal tersebut memutar badan membelakangi pintu, .. dan berlaku tidak mendengar apa-apa. Meski gebukan-gebukan dan gedoran-gedoran di pintu semakin memekakan telinga.

Hampir duapuluh menit lamanya Rathyan betah berkelut dengan daun pintu, .. punggung tangannya sudah melepuh saat dia menghentikan tindakan gila tersebut. Sepasang lengannya gemetar. Dia kemudian menyandar di pintu, .. membiarkan tubuhnya merosot sampai terduduk di lantai yang beralas karpet kelabu.

"Kau benar melakukan ini?!!!" umpat Rathyan sambil memukul daun pintu. Kali ini, sisa tenaganya sudah sedikit. Suara yang dihasilkan dari kepalan tangannya hanya bunyi pelan dan tak bertenaga. "Ingin mengurungku?!!" Rathyan bergumam dingin, "Kau salah jika mengira ini akan berhasil!!"


>_______________<

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Seminggu sudah berlalu, ... dan Oliver menghempaskan dokumen di tangannya ke atas meja. Berikut tubuhnya yang terasa lelah di kursi tinggi yang berhadapan dengan meja. Dilepasnya dasi yang mengikat leher dengan sekali tarikan, dan melemparnya begitu saja ke samping, .. hingga menyangkut kemudian bergoyang-goyang di lengan sofa yang berada dekat pintu.

"Berengsek!!" umpat pria itu.

Tuan Park yang setia menemani, segera menyodorkan secangkir teh yang disuguh dari teko kecil di meja yang berhadapan dengan sofa kepadanya.

"Minum dulu tehnya, pak presiden .. ," anjurnya pada Oliver yang terlihat sangat gusar.

"Hm--"

Oliver menerima teh tersebut, dan menyeruputnya dengan cepat. Teh dalam cangkir habis hanya dalam beberapa tegukan. Kemudian dikembalikannya cangkir tersebut pada Tuan Park yang segera meletakannya kembali di meja yang diambilnya tadi.

"Orang-orang itu sungguh-sungguh menyebalkan!!" Oliver mengebrak meja di mana dokumen tadi dihempaskan. "Mereka kira bisa seenaknya begitu--?"

"Mereka .. punya hak untuk itu, .. pak .. ," ujar Tuan Park pelan-pelan. Dia takut pendapatnya akan mendapat dampratan dari Oliver. "Kita yang mengingkari janji terlebih dahulu ... "

Oliver menghembuskan nafasnya keras-keras, .. lalu mendorong punggungnya ke sandaran kursi. Sampai kursi tersebut terayun-ayun malas. "Tapi tidak perlu selama itu, kan? .. Huh--sebulan? Keterlaluan!!"

Tuan Park tidak mengeluarkan suara. Dibiarkannya majikannya buat menenangkan diri. Sampai di menit kelima, ... Oliver menarik badannya ke depan, dan menumpukan siku lengannya di atas meja. "Kau tahu sendiri, Tuan Park--Masalah Rath tidak bisa ditunda lagi. Dari hari ke hari, .. anak itu makin memberontak. Bahkan dua hari terakhir, .. dia tidak makan dan minum setetespun. Kalau begini terus, .. dia akan jatuh sakit. Kita harus kembali ke Seoul secepatnya!--"

Tuan Park mengangguk sebagai rasa pengertiannya yang tinggi. Namun tetap, tidak ada kata terucap dari bibirnya.

Oliver kembali menghela nafas, .. untuk kemudian menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.

"Kurasa tidak ada pilihan lain. Kita kembali setelah semua urusan di sini beres .. ," kata Oliver sambil menekan bagian perutnya. Entah mengapa, .. akhir-akhir ini lambungnya sering terasa nyeri. "Satu bulan, .. hh--" Dia menghela nafas panjang.

"Mungkin tidak selama itu--" Tuan Park berusaha memberikan hiburan selama berdiam diri cukup lama.

"Mudah-mudahan saja--" Oliver memejamkan mata dan berusaha menahan rasa nyeri yang dirasakannya.

Tuan Park melihat itu, .. sehingga berujar pelan. "Sakit lagi, pak?"

Oliver mengangguk. "Tolong ambilkan obat maagku yang ada di lemari, Tuan Park ... "

Tuan Park beranjak ke lemari besar yang menyandar di samping jendela. Sebentar kemudian, dia kembali lagi dengan sebuah tabung kecil berisi pil-pil yang dimaksud Oliver.

"Pak .. "

Oliver membuka mata dan menerima dua butir pil yang sudah dituangkan Tuan Park ke tangannya. Setelah memasukan pil-pil tersebut ke mulut, .. dia menelan dengan air yang disodorkan Tuan Park.

Tuan Park menaruh gelas yang sudah kosong di atas meja, .. kemudian memperhatikan wajah Oliver yang bersimbah keringat.

"Gimana, pak?" tanyanya agak cemas.

Oliver mengeleng dengan kepala menghadap ke langit-langit ruangan. "Sudah agak baikan--"


>_______________<



Rathyan menatap nanar kaca jendela yang gordennya terpentang lebar. Saat itu sedang hujan. Langit mendung, .. dan memperlihatkan butir-butir air sebesar biji jagung menampar-nampar kaca yang sudah menjadi kabur. Tidak ada lagi lapisan salju yang mengalasi jagat raya seperti beberapa waktu lalu. Semuanya sudah mencair.

"Apa yang kau lakukan di sana ... ?" gumam Rathyan lirih dalam pembaringannya. Tubuhnya agak bergerak di atas ranjang, .. namun iris gelap tersebut masih saja betah menyambut kedatangan hujan kepagian di pertengahan musim dingin ini. "Apa kau memikirkanku? … Menyesali keputusan yang telah kau ambil .. ?”

Rathyan mengejapkan mata perlahan, .. seperti juga hujan lebat di luar sana, .. lapisan embun tipis mulai mengenangi alat pendeteksi cahayanya.

“Aku merindukanmu .. ,” desis pemuda itu pelan. “Sungguh-sungguh merindukanmu .. “ Kemudian, … sepasang mata redup itu terpejam, .. perlahan tapi pasti, dua butir air bening menuruni sudut matanya. “Belum pernah kurasakan kerinduan menyesakan seperti ini, Dazya .. “

Kemudian, … dia beralih pada ponsel yang tergeletak di atas ranjang. “Haruskah aku menghubungimu … ,” desisnya pedih. “Tapi, .. jika begitu .. ,” tiba-tiba saja, .. nafasnya terasa sesak. “.. aku yakin .. akan semakin merindukanmu, .. semakin berharap kau muncul di hadapanku, .. memeluk dan merengkuhmu erat-erat, tidak kulepas lagi. Tapi bisakah ..? Sementara kau, .. kau mengharapkan aku mencoba belajar menerima orang itu .. “ Rathyan meraih ponsel tersebut dan menatapnya semu. “ … mengapa tidak kau saja yang menghubungiku? .. Menunjukan bahwa dirimu tidak perduli akan hal lain, .. hanya memperdulikanku …. Jika benar itu yang terjadi, .. aku bersumpah, Dazya … Akan kurobohkan gembok pemisah ini, .. aku tidak perduli lagi—“ Rathyan melempar ponselnya ke atas ranjang, .. dan pandangannya sekarang menerawang ke langit-langit kamar.

Tangan Rathyan terkepal meremas seprai, … giginya bergemelatuk. Dia tersentak bangun dan langsung menyambar nampan berisi sarapan yang tersaji di meja dekat ranjangnya.

PRANGGG,,,

Nampan beserta seluruh isinya terhampar mengenaskan di lantai bawah jendela.


>_______________<



Daze menghambur ke kamar mandi sambil membekap mulutnya. Sampai di dalam, dia langsung membungkuk di atas kloset dan …

HUEKK,,, menumpahkan hampir seluruh isi sarapannya ke dalam lubang pembuang hajat tersebut.

Natalie yang kebetulan melintasi kamar Daze, menghentikan langkahnya. Suara-suara dari dalam membuatnya menjulurkan kepala tertarik, .. dan kebetulan pintu kamar tersebut tidak tertutup sehingga Natalie dengan leluasa mengamati keadaan di dalam.

“Onnie .. ?”

Tidak terdengar jawaban dari Daze. Yang ada malah suara orang muntah-muntah dalam kamar mandi, .. yang terdengar makin jelas.

“Onnie, gwencana?” , .. terburu-buru Natalie memasuki kamar Daze.

“Onnie?!!” Natalie berhenti di ambang pintu kamar mandi. Matanya melebar begitu melihat keadaan Daze yang pucat pasi. Dengan segera dia menghampiri Daze. “Ada apa?”

Daze mengeleng sambil membilas mulutnya dengan punggung tangan. Nafasnya terdengar memburu. Setelah mencuci tangan dan mulut, .. dia menempelkan punggung di dinding kamar mandi dan memejamkan mata. “Gwencana .. ,” sahutnya kemudian, .. terdengar lemah dan lelah.

“Onnie salah makan?” tanya Natalie dengan alis berkerut.

Daze mengeleng. “Entahlah … ,” jawabnya, tidak begitu mengerti. “Tapi, .. yang kumakan, sama saja dengan kalian .. “

“Ne? Tapi, kami tidak apa-apa . ,” tukas Natalie heran.

Daze mengangkat bahunya. “Mungkin system pencernaanku yang bermasalah .. “ Saat itu, .. rasa mual tersebut menyerang kembali. Daze segera membungkukan badannya menghadap ke kloset, .. dan sekali lagi, .. isi perutnya dipaksa untuk dikeluarkan.

HUEKKK,,,

“Omong kosong!!” tukas Natalie sambil mengelus-ngelus punggung Daze, buat melegakannya. “Sistem pencernaan onnie selama ini baik-baik saja. Jadi, tidak mungkin itu penyebabnya .. Mungkin—“ Tiba-tiba perkataan Natalie terputus. Matanya membulat. Dia menyadari sesuatu, .. Mungkinkah--? Dengan segera Natalie menjatuhkan pandangan ke Daze yang sedang memunggunginya.

“Onnie .. ,” panggil Natalie pelan.

Daze menyelesaikan penderitaannya. Badannya menegak. Setelah membersihkan tangan dan mulut dari sisa-sisa muntahan, .. dia menoleh pada Natalie. “Ya?”

“Ka .. kapan … haid onnie .. yang terakhir .. ?” tanya Natalie lambat-lambat.

Daze tertegun. Mendapat pertanyaan tak terduga seperti itu, .. badannya kaku mendadak, .. tidak mampu merespon dengan cepat. Tanpa sadar, .. alam bawah sadarnya berusaha mencerna arti pertanyaan Natalie.

“Mungkinkah onnie bukan salah makan, .. melainkan … “ Natalie menatapnya penuh praduga.

Daze diam seribu bahasa. Kemungkinan yang diungkapkan Natalie mulai terpikirkan olehnya.

“Onnie .. sudah sering melakukannya, bukan?” lanjut Natalie tidak enak. Menanyakan pertanyaan seperti itu terdengar tidak sopan dan membuatnya risih.

Wajah Daze merona seketika. Dia berusaha menghindari tatapan Natalie.

“Miane,” ujar Natalie. “Bukannya ingin menghakimi .. ,” lanjut gadis itu sambil tersenyum. “Saya hanya ingin onnie menyadari sesuatu. Mungkin saja onnie sedang mengandung tanpa disadari. Onnie tidak perlu merasa malu padaku, .. aku dan Dave juga seperti itu kok,--“

Daze mengangguk. Hiburan yang diberikan Natalie cukup menenangkannya. “Lalu, .. apa yang harus kulakukan?” tanya Daze lambat-lambat.

“Sebaiknya onnie memeriksakan diri ke dokter kandungan . .,” saran Natalie. “Saya akan menemani onnie jika diperlukan .. “

“Kau?”

“Ne. Kita bawa Cherryl ikut serta—hari ini Dave ada mata pelajaran di kampus. Hn—“ Natalie melihat jam tangannya. “Dia pasti sudah berangkat sekarang, jadi kita tidak bisa menumpang mobilnya. Ayo, onnie—berbereslah, .. bersihkan diri dan ganti baju, .. aku menunggu di luar. Kita naik kendaraan umum saja .. “

Daze mengangguk. Begitu melihat Natalie sudah bermaksud keluar dari kamar mandi, .. dia segera menyentuh lengannya. “Gumawo, Nat .. “

Natalie berbalik dan tersenyum padanya. “Sama-sama, onnie. Saya senang melihat onnie bahagia—Tahu tidak, .. beberapa minggu terakhir ini, selama kebersamaan onnie dan Rath, .. saya baru benar-benar melihat kebahagiaan itu .. “

“Ne. Saya juga sangat merasakannya … “ Daze menundukan wajahnya. Tersipu-sipu.

“Boleh kutanyakan sesuatu, onnie .. ?” Suara Natalie terdengar berubah pelan.

“Ne?”

“Apa onnie .. akan mempertahankan bayi itu?”

Daze terperanjat, .. syok mendengar pertanyaan Natalie. “Tentu saja!!!” sahutnya hampir menjerit. “Kau ini kenapa sih--? Menanyakan pertanyaan seperti itu?—“ tegurnya tajam dan tidak senang.

“Miane .. “ Natalie terlihat menyesal. “Saya hanya ingin memastikan . .” Sesaat kemudian dia tersenyum. “Tapi, … saya senang mendengar jawaban onnie. Kuberitahu—“ Natalie menepuk lengan Daze. “Aku tidak pernah menyesal melahirkan Cherr—“

Daze ikut tersenyum. “Tentu saja. Karna dia sangat lucu .. “

Natalie terkekeh. “Ne—“


>_______________<



”APA?!!! NOONA HAMIL?!!” Dave hampir menjerit mengetahui kenyataan ini dari istrinya malam itu.

“Hush—“ Natalie segera menegurnya. “Kau bisa membangunkan Cherr, tahu? Dia baru tidur setelah rewel hampir setengah jam—“

“Oh—miane .. “ Dave mengungkapkan penyesalan dengan segera merangkul istrinya. “Tapi, .. kenapa bisa begitu?” tanyanya kemudian, .. kembali ke masalah yang mereka bicarakan semula. “Apa bayi itu, milik Rath?”

Natalie mengangguk. “Ne—“

“Lalu .. , bagaimana tanggapan noona?”

“Dia akan mempertahankan bayi itu.”

“Apa dia terlihat bahagia?”

Natalie mengangguk. “Ne. Onnie sangat bahagia. Begitu mengetahui kenyataan ini, sepanjang perjalanan pulang dari klinik, dia tersenyum terus .. “

“Jinja?” tanya Dave untuk memastikan.

“Ne!” sahut Natalie pasti.

“Kalau begitu, .. Rath harus mengetahuinya—“ lanjut Dave tegas. “Saya akan membicarakannya dengan Rath—Kurasa dia belum tahu .. “

“Memang—“ jawab Natalie sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang. “Sudah, jangan dipikirkan. Tidurlah dulu—“

Dave mengangguk. Dia kemudian menjatuhkan diri di sebelah istrinya, .. dan kemudian memeluknya erat-erat. “Sarangheyo, Nat .. “ Ini ucapan penghantar tidur yang selalu diucapkannya selama setahun terakhir kebersamaan mereka.


>_______________<



Daze sedang menuruni tangga dengan langkah ringan malam itu. Sesekali tangannya mengelus perutnya yang masih rata, .. dan bibir mungilnya tidak henti-hentinya menyenandungkan irama riang penghibur lara.

Sampai di anak tangga terakhir, Daze berpapasan dengan Dave yang melintasi lorong bawah yang memisahkan ruang tengah dengan ruang makan. Semula, Daze tidak menghiraukan dongsengnya tersebut, .. masih melangkah sambil menyandungkan irama yang lain sekarang. Seakan Dave tidak nyata dan tidak terlihat olehnya.

Namun Dave yang kebetulan melihat Daze, segera berseru memanggil noonanya yang sedang berbelok ke dapur.

“Noona!!”

Daze berhenti. Secara gerak lambat, dia berbalik. “Ya--?”

“Bisa bicara sebentar?” Dave tiba di hadapan Daze.

Gadis itu tersenyum. “Jika yang ingin kau bicarakan, .. ini—“ Daze menunjuk perut yang sejak tadi dielusnya. “Noona rasa Nat sudah menceritakannya padamu. Ya, benar—noona hamil. Dan noona sudah memutuskan untuk melahirkannya .. “

Selama beberapa saat, mereka sama-sama tidak bersuara. Dave memperhatikan noonanya dengan seksama, .. dan merasa yakin bahwa, keputusan Daze tidak mungkin dibantah. Terlihat tekad yang teramat kuat terpancar dari matanya. Mungkin tidak seorangpun yang akan mampu membujuknya untuk membatalkan keputusan tersebut.

Sedangkan Daze, ..merasa diperhatikan seperti itu, .. tersenyum perlahan. “Mungkin kau mengkhawatirkan reaksi omma dan appa bila mengetahui kejadian ini. Jangan khawatir—noona sudah menceritakannya pada mereka begitu dalam perjalanan pulang dari klinik kemarin …. “

“Hah?—“ Dave mengangga. Tindakan yang diberitakan Daze sungguh di luar dugaannya, .. lagipula, Natalie yang menemani Daze ke klinik kandungan kemarin, tidak menceritakan hal ini. Mungkin, .. Natalie juga tidak tahu mengenai laporan Daze tentang kandungannya kepada orangtua mereka.

“Ne—“ jawab Daze sambil tersipu malu-malu.

“Lalu, .. bagaimana reaksi appa dan omma?” tanya Dave yang terlihat penasaran.

Wajah Daze yang merona, mendadak menjadi agak kuyu. Nafasnya terhembus perlahan, .. “Seperti sebelum keberangkatan mereka ke Seoul, .. omma bilang—saya sudah dewasa. Semua berada di tanganku, .. apa yang sudah kulakukan, harus kutanggung sendiri .. “

“Noona .. menyesal .. ?”

Daze mengeleng dengan cepat. “Anhi!! Saya bahagia akan menjadi seorang ibu .. “

“Bagaimana dengan Rath?!!” seru Dave mendadak. “Apa noona sudah menghubunginya?”

Daze kembali mengeleng, .. kali ini terlihat lemah. “Noona tidak mau .. menganggu konsentrasinya. Untuk saat ini—ada beberapa masalah penting yang harus diluluskannya .. “

“Dengan menghiraukan kenyataan penting bahwa noona hamil?” tanya Dave tidak percaya.

“Ini keputusan noona,” Daze meluruskan badannya. “Noona sangat mengerti, .. untuk saat ini, hubungan Rath dengan appanya yang paling penting!”

“Noona yakin?”

Daze mengangguk, .. walau,.. sedikit terlihat ragu juga. “Bayi ini .. bisa menunggu untuk bertemu appanya .. ,” Dia menunduk dan membelai perutnya yang saat itu terasa mual kembali.

Tapi Dave berpendapat lain. Pemuda itu menukas dengan cepat. “Omong kosong!! Apa yang lebih penting daripada mengetahui kita akan menjadi seorang ayah!!” Dave berbalik dan melangkah panjang-panjang menuju tangga. “Saya yang akan menghubunginya jika noona tidak mau melakukannya!” lanjutnya dengan nada dikeraskan.

“DAVE!!!” teriak Daze. “JANGAN KAU LAKUKAN!!”

Namun, Dave sudah tidak menghiraukannya lagi. Pemuda itu terus saja melangkah, .. bahkan sekarang agak berlari, .. hingga dengan cepat bayangannya sudah menghilang di tikungan lantai atas.

“Hey—“

Daze yang mengejarnya tidak melihatnya lagi karna Dave sudah masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.


>_______________<



Dave menghempaskan tubuhnya di ranjang, dan memikirkan kembali permintaan Dave padanya. Berulangkali alisnya berkerut. Semakin lama semakin dalam. Natalie yang sedang menidurkan Cherryl, meliriknya heran dari sofa ayun di samping jendela.

“Weegude?” tanya Natalie.

Dave mengeleng. Dan memberi isyarat Natalie untuk tidak bersuara. Natalie kemudian mengangkat pundaknya, .. dan kembali berkonsentrasi me-nina-bobokan Cherryl yang terlihat tidak nyenyak tidur. Sebentar saja, .. nyanyian penghantar tidur yang lembut dan mengalun pelan, terdengar dalam ruangan itu.

Dave mengepal tangannya. Sampai menit yang ke-duapuluh, akhirnya dia mengambil keputusan. Dirogohnya saku celana dan mengeluarkan ponsel dari dalam. Dia mencari-cari sebentar di antara list nama-nama yang terpampang di layar, .. setelah ditemukan, ditekannya nomor tersebut. Dave mendengarkan dengan seksama, .. nomor sambung tidak terdengar, … yang ada malah busy call.


>_______________<



Bersamaan dengan itu, .. Daze mendengar nada tersambung di seberang.

“Daze!!” Sapaan cukup keras yang sangat dirindukannya terdengar.

Suara sengau yang terdengar semakin serak dan kering, namun tetap menimbulkan desir aneh di hatinya. Betapa dia merindukan suara itu—Satu bulan sudah, .. Ya—walaupun waktu satu bulan tidak bisa dikatakan lama, .. namun bagi Daze, .. itu sudah lebih dari cukup untuk membunuh jiwa dan raganya.

“Daze,, kau masih di situ?!!!” tegur Rathyan agak panik.

“Rath .. ,” Daze akhirnya berujar lirih. Sangat pelan hingga makin mengkhawatirkan Rathyan.

”Gwencana? Apa kau tidak bisa tidur?” tanya Rathyan lebih lanjut.

Daze mengeleng lemas di posisi duduknya di sofa ruang tengah. “Tidak, tidak. Aku baik-baik saja .. “

”Insomniamu tidak kambuh?”

“Tidak!” sahut Daze cepat. Walau itu tidak benar. Setelah berhenti cukup lama, .. dia melanjutkan, “Aku menghubungimu hanya untuk mengabari sesuatu .. “

”Ya?” Rathyan mendengarkan sambil turun dari ranjang. Tubuhnya terasa agak lemah, .. namun itu tidak diindahkannya. Dia merasa membutuhkan sesuatu untuk menyegarkan pikirannya yang sumpek sekarang. Rathyan kemudian berjalan ke jendela dan membuka gordennya lebar-lebar. Sinar redup sang rembulan langsung merembes memasuki kamarnya.

“Tidak penting-penting amat sih, jadi—jangan terlalu dipikirkan. Jangan sampai masalah ini menganggu konsentrasimu … ,” lanjut Daze dengan nada dibuat setenang mungkin. “Hanya saja, .. aku rasa kau perlu mengetahuinya .. “

”Ya?” Rathyan menurunkan pandangannya—taman di bawah jendela terlihat kelam. Kemudian perhatiannya dialihkan, .. dengan pelan dia bergerak ke samping, sampai menempel ketat di sudut kamar. Dalam posisi begitu, terlihat jelas keadaan di serambil depan. Tampak dua orang pengawal sedang berjaga di sana. Sudut bibir Rathyan tertarik ke atas, membentuk seringai mengejek.

Setelah kesunyian yang cukup lama, .. suara Daze kembali menyapanya. “Semula … aku tidak berniat menganggumu dengan berita ini. Tapi, .. setelah dipikir-pikir .. kau punya hak untuk mengetahuinya, .. karna .. selain sudah menjanjikannya padamu, bahwa aku tidak akan pernah menyembunyikan apa-apa lagi, .. juga karna, dia bagian dari milikmu .. “

Rathyan menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangan ke serambi depan ketika melanjutkan, ”Milik ku?”

“Ne!” sahut Daze setelah mengambil nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja pernafasannya jadi lancar. Sambil tersenyum, dia menghela nafas dengan dada lapang. “Saya hamil, Rath-a!”

“MWO?!!” Tangan Rathyan yang menyibakan tirai tertahan seketika. Matanya terbelalak lebar. Dia merasa telah salah dengar. Hamil? Benarkah kata itu yang barusan dilontarkan Daze? “Hamil??!!!”

“Ne .. “ Daze tersenyum di seberang. Tangannya, yang untuk kesekian kalinya sejak kemarin, ... mengelus bagian perutnya dengan penuh kelembutan. “Saya hanya ingin mengabari itu. Sekarang—lakukankah apa yang seharusnya kau lakukan. Agak bersabarlah pada appamu, .. begitu juga pekerjaan-pekerjaan yang diperintahkannya padamu .. Aku akan selalu menunggumu di sini—Sarangheyo, Rathyan Jang!”

Daze tidak tahu kalau Rathyan sudah tidak mendengar lagi perkataan-perkataannya. Ponsel di tangan Rathyan diturunkan perlahan-lahan, sampai menjuntai dan kemudian terjatuh ke lantai. Rathyan mundur dengan agak sempoyongan. Masih tergiang-giang kata-kata Daze dalam pikirannya. Daze hamil? Daze mengandung anaknya?

Rathyan berbalik membelakangi jendela. Sesaat matanya jelalatan, … mencari-cari sesuatu. Entah apa yang dicarinya, .. dia juga tidak begitu tahu. Pikirannya sedang buntu. Apa yang diinginkannya saat itu, .. hanyalah pergi dari rumah terkutuk itu secepatnya.

Sampai matanya yang sudah bersinar bak elang marah itu, tajam dan liar, .. jatuh ke kursi kayu yang menyandar di dinding. Dia menghampiri kursi tersebut dengan langkah lebar-lebar, .. diangkatnya hanya dengan sekali sambar, .. kemudian dia mengarahkannya ke jendela.

PANGGG,,

Jendela dari kaca bergetar hebat. Namun tidak sampai retak. Rathyan mendengus, … kemudian melakukannya lagi.

PANGGGG,,

Tetap saja kaca-kaca besar yang melapisi kamar tersebut tidak bergeming. Masih berdiri angkuh memperlihatkan kuasanya.

PANGGG!!!

Rathyan menghempaskan kursi di tangannya keras-keras. Dan brakkk,,, Kursi tersebut hancur berantakan. Namun, kaca-kaca anti peluru di depannya masih saja bertahan dalam kondisi semula. Tidak tergores sedikitpun.

Dua pengawal yang menjaga di luar kamar saling berpandangan, .. hanya sesaat, .. karena sedetik kemudian, .. mereka sudah tidak perduli. Memang, keributan-keributan seperti itu sudah sering terdengar dari kamar Rathyan. Kali ini mungkin lebih parah dari sebelumnya, .. namun siapa yang perduli. Asal tidak terdengar jeritan, atau raungan kesakitan .. dan di saat selanjutnya, keributan tersebut terdengar kembali, .. mereka tidak akan mengacuhkannya. Kan itu membuktikan, doronim mereka tidak apa-apa. Hanya melampiaskan kemurkaannya pada barang-barang saja. Itu tidak merugikan.

Beberapa detik kemudian, .. suara barang yang dihempaskan terdengar kembali. Kedua pengawal tersebut saling mengerling, .. yang lebih tinggi dan berbadan kekar mengangkat pundak dan merentangkan tangannya. Rekannya merespon dengan cengiran lebar, .. setelah itu mereka kembali ke posisi semula.

Namun, kebisingan-kebisingan semakin terasa dan tidak berhenti. Kali ini, .. seperti ada orang yang mengores-gores kaca dengan pisau. Kedua pengawal tadi saling berpandangan kembali.

“Bagaimana?” tanya pria yang lebih tinggi.

Sebelum rekannya menjawab, .. Oliver dan Tuan Park keluar dari ruangan di depan mereka.

“Ada apa?” tanya Oliver Jang. “Ribut sekali!”

Pengawal yang bertanya tadi menoleh. Segera saja dia membungkuk hormat, .. begitu juga rekannya.

“Pak presiden .. “

“Ada apa?” ulang Oliver tajam.

Bersamaan dengan itu, .. dentuman keras kembali terdengar dari kamar Rathyan.

“Ada apa lagi?!!” dengus Oliver sambil berpaling ke kamar Rathyan. “Kenapa dengannya?”

“Doronim .. doronim .. ngamuk lagi, pak .. ,” jawab pengawal yang lebih pendek dan berkepala botak terbatah-batah.

Oliver menghembuskan nafasnya. “Selalu bikin onar. Apa dia tidak tahu dia sudah dewasa?” gerutunya bertubi-tubi. Kemudian dia mendekati pintu kamar, .. dengan setia diikuti Tuan Park. “Buka pintunya!” perintah Oliver pada kedua pengawal itu.

“Ne!”

Yang berkepala botak mengeluarkan kunci, kemudian membuka pintu. Daun pintu dipentangkannya lebar-lebar .. , apa yang dilihat di dalam, membuat mulut keempatnya tergangga lebar. Isi kamar seperti kapal pecah. Hampir semua barang, .. kecuali ranjang dan lemari besar, .. bergelimpangan di lantai. Makan malam yang belum disentuh sama sekali oleh Rathyan, ikut meramaikan dan memberi nuansa yang tidak mengenakan dari kamar tersebut. Aroma bawang yang sangat kental mendominasi udara. Sedangkan Rathyan, … si pemilik kamar dan pembuat onar, .. berjongkok di depan jendela, dan terlihat sedang mencongkel-congkel sesuatu.

“Apa yang kau lakukan?!” tanya Oliver dengan nada dingin.

Yang diajak bicara, tidak mengindahkan. Tangannya yang mengenggam sebilah pisau lipat kecil, masih terus saja mengores-gores celah di antara penghubung bingkai dan kaca jendela.

“Appa bertanya padamu—Apa yang kau lakukan?!!” Suara Oliver terdengar menghantam seisi kamar.

Rathyan menghentikan kesibukannya. Dia berdiri, .. kemudian berbalik menghadapi ayahnya dengan gerak lambat. Matanya menatap sangar, .. terlihat seperti bukan dirinya.

“Aku ingin pergi dari sini—“ ujar Rathyan dengan nada ditekan yang seolah terhembus dari hidung. Terdengar sangat sengau dan tertahan satu-satu. Perkataannya sangat jelas, .. Dia ingin pergi dari rumah itu.

“Mwo?” Oliver melebarkan matanya. Sesaat kemudian, diliriknya kembali hasil dari ulah Rathyan. “Karna itu, kau melakukan ini?” Tunjuk pria tersebut dengan emosi meninggi.

“Aku akan keluar dari sini!!” Rathyan membalas tatapan sengit dari Oliver, .. tidak gentar sedikitpun. Genggaman pada pisau di tangannya semakin dipererat.

“Tidak bisa!!” tukas Oliver ketus. “Kau tidak appa ijinkan keluar dari sini, … sebelum semua masalah di sini selesai, dan kita bisa kembali ke Korea … “

“Aku bilang—Pergi dari sini!!” Rathyan tidak mengubris, .. masih saja berkeras pada keputusannya.

“Apa kau tidak dengar?!!” Oliver mulai kehilangan kesabarannya. Masih dengan posisi berhadap-hadapan dengan Rathyan, .. dia menoleh pada salah seorang pengawalnya. “Bereskan semua barang di sini, .. setelah itu, ganti makan malamnya …. “

“Ne, pak ..

Belum habis perkataan pengawal tersebut, ketika seseorang sudah membelenggu leher dan menekannya dengan pisau. Pengawal tersebut terbelalak lebar. Tidak menyangka akan mendapat serangan mendadak dari Rathyan.

Rathyan menekan pisau di tangannya ke leher pengawal yang mulai kelihatan tegang tersebut.

“Apa yang kau lakukan?!” bentak Oliver tajam. “Lepaskan dia!!”

“Aku bilang—AKU INGIN KELUAR DARI SINI!!”

“Omong kosong!!” Oliver mengibaskan tangan dengan tidak sabar. “Appa bilang, lepaskan dia!”

Tangan Rathyan mulai bergerak, .. mengoreskan pisau di tangannya. Darah segar yang teramat tipis mengalir keluar dari luka yang tercipta di leher pria yang dibekuknya.

“Biarkan aku pergi dari sini atau, .. kubunuh dia!” ujar Rathyan tenang dan dingin. Emosinya terlihat mulai terkendali, .. apakah itu baik? Tidak juga. Karna dia kelihatan lebih beringas dan tidak terkendali dalam keadaan seperti itu. Bisa saja, .. dia langsung melakukan ancamannya. Memutuskan nadi leher pria dalam kuasanya hanya dalam satu goresan panjang.

“Kau tidak akan berani!” tantang Oliver. Ayah yang keras kepala itu mendekati putranya. “Jika kau membunuhnya, .. kau akan dipenjara!”

Rathyan menyeringai. Dia merasa capek, … sangat capek karna selama beberapa hari ini dia tidak begitu menyentuh makanan yang diantar para pelayan. Dan untuk detik yang sangat pendek, .. dia cukup menyesali tindakan ini. Seharusnya dia menjaga stamina dan tenaga buat menghadapi ayahnya ini.

Beberapa saat, tercipta kebisuan di antara mereka. Dua pasang mata saling menatap, … beradu pandang dalam perang yang sangat dingin. Boleh dikatakan, .. hampir seluruh urat nadi mereka dipertaruhkan.

Rathyan berdesis pelan. Sepasang matanya tidak berkedip selama perang dingin tersebut. “Anda--coba saja!” ujarnya dingin.

“Mwo?” Oliver menatapnya tidak mengerti.

“Kita lihat—siapa yang tidak perduli!” sahut Rathyan dengan nada yang masih sama dingin dan datarnya. “Jangan lupa—saya pribadi yang sudah mati, Tuan Besar Jang!! Tidak ada yang mampu menghentikanku!! Tidak juga, kata ‘penjara’ darimu itu!!”

Rathyan menghentak pergelangan tangannya, .. kemudian menurunkan pisau ke bagian dada pria yang dijadikan perisai olehnya. Tangan Rathyan bergerak sedikit, .. mengores dengan cukup keras, sehingga menorehkan luka yang bisa dikatakan tidak ringan di bagian dada yang sedikit berbulu tersebut.

“AKHHH—“ jerit pengawal malang dalam tahanan Rathyan. Darah segar mengucur deras dari lukanya yang mengangga lebar.

“Kuhitung sampai tiga, .. lihat kau yang menyesal, atau aku!” ujar Rathyan tak berkedip. Matanya masih tertuju pada Oliver. Dan sejak tadi juga, .. kelopak yang menghiasi sepasang mata gelap itu, tidak pernah berkedip.

“Satu, .. dua, .. ti ..

“Tunggu!!” Oliver memutus dengan cepat, .. tangannya terangkat tinggi-tinggi. Reaksi yang sungguh, … tidak diperkirakan sama sekali, olehnya sekalipun. Kenapa dia melakukannya? Dia juga tidak tahu.

Tuan Park yang berdiri sekitar dua langkah di belakangnya, melirik dengan pandangan bertanya. Seperti juga Oliver sendiri, .. Tuan Park juga agak terkejut dengan respon dari tuan besarnya ini. Tidak biasanya Oliver mengubris ancaman seseorang, .. terutama, .. putra yang sama keras kepala dengannya ini.

Rathyan menaikan alisnya. “Jadi?”

“Pergilah .. “ Oliver menghela nafas. “Pergilah sebelum appa berubah pikiran .. ,” lanjut pria tersebut dengan nada tertekan.

Rathyan menyeringai lebar. Dia mendorong pria yang sejak tadi dikuncinya hingga terkapar di lantai, .. kemudian, .. membersihkan bercak darah dari pisau dan mantel yang kenakannya. Dengan langkah lebar, dan tanpa berpaling sedikitpun, .. Rathyan melewati Oliver Jang dan Tuan park, .. keluar dari kamar yang keadaaannya teramat parah tersebut.


>_______________<



Sepeninggal Rathyan, .. Oliver hampir ambruk dari posisi berdirinya yang menghadap jendela. Tubuhnya oleng ke samping. Untung saja Tuan Park yang melihat gelagat tidak wajar itu, bergerak dengan cepat. Tuan Park segera menopang tubuh Oliver dengan sepasang tangannya yang tidak bisa dikatakan berisi. Sepasang tangan itu bahkan lebih kurus dari lengan anak kecil usia tujuh tahun.

Tuan Park menuntun Oliver ke sofa, .. dan mendudukannya di situ. Tangan Oliver terlihat menekan perutnya berulangkali.

“Pak presiden, gwencana?” tanya Tuan Park khawatir.

Oliver mengeleng lemah. “Apa kau tidak lihat itu, Tuan Park .. ?” tanyanya lirih.

“Dhe?”

Oliver kembali mengeleng. Sebelum melanjutkan, .. dia memberi isyarat pada pengawal yang sedang menopang rekannya untuk menuntun pria yang terluka tersebut keluar.

“Sinar mata itu .. ,” desis Oliver dengan pandangan menerawang ke langit-langit kamar. “Apa kau melihatnya? Terulang kembali, Tuan Park .. “

Tuan Park yang mulai menangkap perkataan Oliver mengangguk perlahan. Dia ikut mendesah, “Ne, pak presiden .. “

“Dia kembali ke masa lalu .. ketika melihat noonanya meninggal dalam dekapannya .. Rath—dia seakan bukan sebuah pribadi, melainkan mayat hidup .. “ Oliver kembali menekan dadanya yang terasa makin perih.

“Pak presiden .. “ Tuan Park segera berjongkok di depan Oliver. “Jangan terlalu dipikirkan .. Tidak baik buat kesehatan bapak … ,“ nasehatnya bijak. Kemudian dia menyentuh tangan Oliver yang menekan bagian dada. “Pak Presiden merasa sakit?”

Oliver mengeleng.

“Pak presiden harus ke rumah sakit .. ,” lanjut Tuan Park tegas. Dia bermaksud menarik lengan Oliver buat membantunya berdiri. Namun, .. kembali, Oliver mengeleng.

“Apa aku harus menyerah, Tuan Park?”

“Pak presiden jangan terlalu memikirkannya. Masalah doronim masih bisa diatur, … yang terpenting sekarang, adalah kesehatan Pak presiden. Saya akan membawa bapak ke rumah sakit .. “

Oliver mendesah berat. “Nanti saja, Tuan Park .. " kemudian, punggungya yang terasa lemah perlahan disandarkan ke sandaran kursi. "Aku menyerah, Tuan Park ... Mungkin sudah saatnya aku mencoba berpikir dari sudut pandangnya ... Aku harus membiarkannya pergi--jika tidak ingin dia mati dalam tanganku .. seperti burung yang terkurung dalam sangkarnya .. " Oliver mencoba menarik nafas dalam-dalam, .. nyeri di bagian perutnya semakin terasa. Dia meringis sambil menekan perutnya keras-keras. "Akh--"

"Pak .. " Tuan Park menegur dengan gelisah. "Gwencana?"

"A ... aku harus ke rumah sakit .. Tuan Park .. ," ujar Oliver terbatah-batah. Keringat dingin mulai mengucur deras dari sekujur wajah dan lehernya.

"Masalah dengan keluarga White .. ?" tanya Tuan Park ragu-ragu. Dia tahu bukan saatnya menanyakan itu, .. namun tugasnya sebagai asisten pribadi, harus mengutarakan tugas yang belum diselesaikannya apabila majikannya lupa. "Jika perjodohan antara doronim dan nona White dibatalkan maka, ..  Proyek ZigZag .. "

"Aku akan menyelesaikannya sendiri setelah itu, Tuan Park ... ," Oliver menukas dengan nafas tersengal. "Aku akan menjelaskan segala sesuatunya, secara terperinci pada Tuan White. Hanya ini yang bisa kulakukan ... "

"Tapi, .. " Tuan Park perlahan berdiri dari posisinya yang berjongkok di lantai. " .. jika hal itu terjadi, .. posisi Max-Global akan berbahaya ... Kita akan rugi besar .. Apakah ..

"Aku akan berusaha mendapatkan pengertian dari mereka .. Mudah-mudahan saja, mereka bisa menerima penjelasan kita ... " Suara Oliver Jang melemah. Kepalanya sudah hampir tidak mampu diangkat lagi ketika dia membeliakan mata berujar pelan, " .. ke rumah sakit, Tuan Park ... "


>_______________<



"DAZE HANNN!!!!"

Pintu kamar Daze yang tidak dikunci didobrak dari luar. Seseorang menghambur memasuki ruangan. Daze yang baru saja merebahkan diri di atas kasur dibuat terkejut, .. tersentak bangun sampai ke posisi duduk di atas ranjang. Mata bulatnya membesar, .. terbelalak menatap 'seseorang' yang kini, sudah berdiri di hadapannya dengan nafas tersengal-sengal.

Daze tidak mampu percaya, .. matanya berkejap sekali, .. dua kali, .. namun sosok tersebut tidak menghilang dari daya tangkapnya. Seolah sosok tersebut sungguh-sungguh nyata dan utuh .. , bukannya wujud dari kerinduan yang selama ini membelenggu hatinya.

Postur jangkung itu tetap berdiri kokoh di situ, .. menatapnya dengan pandangan yang sangat lekat.

"Rath ... "

Tanpa sadar, .. Daze menurunkan kakinya ke lantai. "Ini benar .. kau?"

Daze mendekati pemuda yang masih berdiri dengan nafas memburu itu. Tangannya diulurkan, .. bermaksud menyentuh lengannya, buat memastikan bahwa pemuda ini benar Rathyan adanya. Namun, .. respon yang diterimanya .. sungguh tak terduga.

Pemuda tersebut tiba-tiba merengkuhnya dalam dekapan, ... memeluknya erat-erat, .. sangat erat untuk membuatnya hampir tidak bisa bernafas.

"Menikahlah denganku ... " Nada yang berat,.. permintaan yang tidak terbayangkan, .. tidak bisa dibilang manis karna tanpa cincin dan bunga, .. namun, .. meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Sampai-sampai, .. Daze tidak yakin telah mendengarnya, ... dia mengira telah salah dengar.

"Mwo .. mworagu .. ?"

"Menikah denganku .. " ulang Rathyan sembari melepaskan pelukannya, .. menatap Daze dalam-dalam.

Daze terkesima. "Rath ... "

"Demi Tuhan, Dazya .. " Rathyan menyentuh wajah Daze, .. kemudian mengelusnya dengan penuh perasaan. "Menikahlah denganku .. " Suaranya mendesah berat.

Kali ini Daze yakin sudah. Dia tidak salah dengar. Dan hanya dalam hitungan detik, ... berbagai pikiran dan nostalgia masa lalu berkelebat dalam pikirannya, .. seolah memaksanya untuk mempertimbangkan, dan mengambil keputusan saat ini juga. Apakah dia harus mengorbankan perasaan dalam kesabaran, dan berharap suatu saat nanti akan terbuka harapan bagi mereka berdua, .. ataukah .. berjuang dengan resiko, .. akan benar-benar terbuang dari keluarga mereka masing-masing.

Daze membalas pelukan Rathyan erat-erat, .. dia tersenyum. Senyuman yang sangat lebar. Dia sudah mengambil keputusan. "Ne. Aku akan menikah denganmu ... "


>_______________<

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
gara2 si mamih udah off on lagi dah ane  [hmff] [hmff] [hmff] ngabur mo baca dulu koment nyusulll lol I LOVE RATHHHH YANG PASTI NEH MALEM ANE MIMPI RATH HOT  [hmff] [hmff] [hmff] gomawo yah mamiiiii  [hug] [hug] [hug]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Mamiii tengkyu udinan diupdate. Baca dulu ya br komen,heheh. RATHYAN I'M COMMING BABY,hmf


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
gara2 si mamih udah off on lagi dah ane  [hmff] [hmff] [hmff] ngabur mo baca dulu koment nyusulll lol I LOVE RATHHHH YANG PASTI NEH MALEM ANE MIMPI RATH HOT  [hmff] [hmff] [hmff] gomawo yah mamiiiii  [hug] [hug] [hug]
Gw tunggu komentnya,, sebyk n sepanjang updatean gw ya [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
mamiiiiii...chap yg ini bener2 panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnggggggggggggggggg banget...gumawo,puas bacanya [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

selain panjang chap ini jg ada yg [love eyes] [hmpfh]...Rath...Rath...Daze lg asyik tidur msh aja dcumbu [on] [hmff]

btw,si jennifer mmng cewek menjengkelkn [head break]...om oli aja bosan dgn rengekan2 manjanya [dry]

om oli jg agak menjengkelkn d chap ini [head break] (untungnya dia melepaskn Rath...tp,i2 jg gr2 Rath ngancam [dry])...ketemuan sm Daze cmn buat nyuruh Daze ninggalin Rath (untung aja Daze punya prinsip)...eh,dh dtolongin Daze buat ngajak Rath pulang,si Rath mlh dsekap d kamar...om oli,nih skali lg dpt [head break] dr gw [dry]

tp yg plng melegakn dsini adalh berita kehamilan Daze...Daze gak mau melepaskn baby-nya n ngomong jujur ke Rath klo dia tekdungtralala [lovestruck]...Rath jd makin gigih buat melarikn diri n...akhirnya lamaran [clap] [clap] [clap] [lovestruck]

tp apakh pernikahan Rath-Daze bakaln dpt halangan mam??? jd worry nih [sweat]

next chap dtunggu lho,mam...but,take your time biar bs update yg panjaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnggggggggggggg lg kyk chap ini [hmpfh]

SEMANGAT,mami [AddEmoticons04262]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Huuuaaaaaaaa
Kawin kawin
Tidur ada yang nemeninnnn hmpfh XD
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN