Author Topic: LOVE : "WHAT'S HAPPENING?" update 17 oktober  (Read 17283 times)

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
Re: LOVE : sparkling update 26 april
« Reply #225 on: April 26, 2011, 07:54:20 am »
gaje

gak gaje,kok sist.voldi...romantis [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

gumawo,ya [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Re: LOVE : sparkling update 26 april
« Reply #226 on: April 26, 2011, 08:27:21 am »
Thanks ya Voldi...
Gile, romantis abis...Kata2nya Minho bikin cewe2 pasti pada klepek-klepek. MUdah2an aja tulus dari hatinya, dan bukan gombal... [hmpfh]...Tapi ya pasti tulus lah yaaa...

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: LOVE : sparkling update 26 april
« Reply #227 on: April 26, 2011, 08:55:52 am »
o o o, just tell love without word 'love' ... i like it.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile
Re: LOVE : sparkling update 26 april
« Reply #228 on: April 26, 2011, 09:10:36 am »

sweet!
and yepzzz setiap insan akan terlihat sempurna di mata pemuja-nya:)  [lovestruck] [lovestruck]

‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: LOVE : sparkling update 26 april
« Reply #229 on: April 26, 2011, 09:41:52 am »
   ini cerita benar" sweeet betapa berharganya hyesun  bagi minho :) sampe" dia tidak mau berbagi dengan

   orang lain , hanya buat minho seorng yang bisa menikmati keindahan hyesun.


   masih ada lanjutannya engga neh voldy....?

Offline Luhiexminsun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 18
    • View Profile
Re: LOVE : sparkling update 26 april
« Reply #230 on: April 26, 2011, 09:53:32 am »
  voldy slam kenal ya....! aku baru aja gbung di froom ini

   biar pun minho mempunyai sikap yg lumyan cuek tpi....! dia bisa menunjukkan ke hyesun

  klo dia sangat mencinta'i tanpa hrus di ucapkan setiap saat , aku **** banget sma kmu voldy

  mempunya'i begitu bnyak ff dengan cerita yg berbeda" & kata" nya yg membuat aku suka ff kmu

 dsni atau pun di FB ( NOTE )

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: LOVE : sparkling update 26 april
« Reply #231 on: April 26, 2011, 11:11:34 am »
love it...love it...love it,,vol..potato nan indah [lovestruck] [lovestruck]

Love you more than I can say

iiuuu

  • Guest
Re: LOVE : sparkling update 26 april
« Reply #232 on: April 26, 2011, 05:18:26 pm »
sweet bgd papi mami... lol..

gak gaje kok.. keren malah.. yg love n love part2 yg d fb taro mari aje.. pasti byk yg suka hyesun jd oon.. he..

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: LOVE : sparkling update 26 april
« Reply #233 on: April 26, 2011, 06:16:03 pm »
Dia selalu punya cara merayakan 9 November, bukan hadiah yang besar, hanya hadiah kecil yang bahkan bisa dibuat semua orang, hal kecil yang romantis dan besar dan amat berarti.

Dia bukan Apollo, Hades, Persefone atau Daphne—sama seperti yang kau perbandingkan.

Tapi dialah…

"Aku pergi dulu."

Cup.

Satu kecupan kau rasakan selama sepersekian detik lalu sebuah tangan besar mengelus pelan rambut menjuntaimu yang berantakan dan untuk selanjutnya yang kau dengar hanyalah suara pintu yang ditutup pelan—sangat pelan dan hati-hati. Beberapa menit seterusnya hanya suara air conditioner yang berdengung yang kau dengar hingga suara pagar yang digeser berbunyi nyaring serta deru halus mobil yang semakin lama memelan hingga tak terdengar.

Kau membuka kelopak matamu perlahan menampakkan cahaya kehitaman matamu, kau menggeser tubuhmu hingga menabrak dipan di belakangmu, bulu domba yang dirajut sebagai penghangat tubuhmu kau tarik hingga sebatas dagumu menutupi tubuh porselenmu yang berbercak merah.

Satu senyuman terukir di wajah cantikmu mengingat kecupan mesra yang tak cukup lama dari suamimu yang sangat kau cintai, diikuti senyuman-senyuman abstrak lainnya mengingat semalam apa saja yang kau lakukan dengannya. Diam-diam kau meraba tubuh tak berbalutmu sendiri membayangkan lelaki lembut kemarin malam yang menjadi milikmu.

Kau masih ingat ketika kemarin malam sepulangnya dia dari rutinitas membanting tulangnya, lalu dia yang biasa romantis dengan hal-hal kecil menjadi sangat romantis dan sangat memanjakanmu bahkan ia merayumu—satu hal yang kau tahu ia tak bisa, hingga kau jatuh di atas ranjang dan di bawah tubuhnya. Hal yang pertama ia lakukan adalah menanggalkan satu per satu jubah tidurmu hingga kau menampakan tubuh mulusmu yang polos tak tersentuh.

Satu kecupan lembut ia daratkan pada bibirmu diikuti kecupan lain dimata, telinga, leher dan… dadamu. Lelaki itu sedikit salah tingkah melihat bulatan besar itu, dengan kehati-hatian ekstra ia menghimpit mahkota kecil dadamu disela-sela giginya. Seterusnya hanya nyanyian nikmat keluar dari bibirmu, sesekali teriakan namanya dan lontaran perintahmu padanya kau ucapkan. Hingga kau merasa dunia semakin buram tak bercahaya, sakit dan menyenangkan. Dan akhirnya kau tertidur lelap dengan bayangan tubuhmu yang menonjol naik turun mengikuti tusukan dan tarikan pangeran kewanitaanmu.

Pukul tiga dini hari kau mengerjapkan matamu dan menemukan lelaki itu masih menaik turunkan tubuhnya dengan tetesan air yang keluar dari folikel rambutnya. Kau merasakan ada sesuatu yang melebar di bawah sana, saat kau menyentuh daerah privasimu ada sesuatu yang lain yang membuntui jurang pribadimu.

"Sa… sakit…" kau menggeliat di bawah pria bringas yang sudah entah sejak berapa lama mencumbuimu—dia pulang pukul lima sore, berarti…

"Sedikit lagi," laki-laki itu berucap disela-sela difusi oksigennya. Desahan panjang pun terdengar diikuti air hangat yang memenuhi rahimmu—yang entah sudah berapa kali sejak kemarin sore.

Ting… tong… ting… tong…

Suara bel rumah terdengar diseluruh penjuru kediamanmu membangunkan imajinasi dewasamu ke masa kini, pagi ini, pukul tujuh pagi ini, sembilan november dua ribu sebelas. Kau mengerjapkan matamu berkali-kali mencoba melihat dengan seksama kalender elektronik di samping ranjang tak teraturmu.


November, 9th 2011

07:00 a.m


Kau membangunkan tubuhmu kasar—terkejut menyadari tanggal berapa ini. Kaki panjangmu kau banting di atas marmer. "Auuu," kau memegang alat vitalmu yang entah mengapa terasa sakit. Selimut bulu domba milikmu dan miliknya kau singkap menampakkan tubuhmu yang memerah dan jejak gigi-gigi di sana-sini—di setiap inci tubuhmu, adalah sebuah prasasti akan sesuatu yang telah terjadi kemarin.

"Tch, ini gara-gara maniak ranjang itu yang bermain sepanjang malam!" kau mendecih dan memutuskan membaringkan tubuhmu lagi di bawah gumulan selimut domba Australia milikmu dan miliknya. Tak kau hiraukan suara-suara bel yang sering berbunyi hari ini—ada apa ya?

.

.

.

Dua jam lebih kau habiskan waktumu membalik-balikkan tubuhmu di bawah selimut putih gading. Kebiasaan burukmu jika tak tahu akan melakukan apa. Sakit di area pembuktianmu sebagai wanita cukup menjadi alasan mengapa kau tak datang ke rumah sakit hari ini—tentu saja kau tak mengatakan alasan yang sebenarnya bukan, karena absenmu hari ini?

"Dia masih pulang nanti," kau melirik kalender digital itu lagi. Sembilan november masih tertulis di LCD itu. Hal kecil apa lagi ya yang akan ia berikan padaku?


9 November 'delapan tahun yang lalu—dari sekarang'

Dia. Laki-laki. Sempurna. Di dunia ini—bagimu, tentu saja.

Laki-laki tertampan di sekolahmu yang dielu-elukan gadis-gadis remaja untuk dijadikan laki-laki yang selalu berjalan beriringan. Kau sama dengan gadis yang lain itu, mengaguminya, menyukainya, bahkan mencintainya—walau kau sama sekali tidak tahu apa definisi lima huruf berawalan 'C' itu. Yang kau tahu, kau ingin memeluknya tiap kali ia berjalan membagi parfum B&G-nya dan menampakkan cetakan atletis tubuhnya. Yang kau tahu, kau ingin mencecap bibir merah tanpa nikotinnya tiap kali ia berujar. Yang kau tahu, kau ingin meletakkan kepalanya tiap kali ia tertidur di bawah pohon. Yang kau tahu, ia adalah segalanya, segalanya yang mengkontaminasi tiap bagian otakmu untuk sekadar mengetik namanya untuk dilanjutkan disimpan dalam memori jangka panjangmu.

Hingga suatu hari, pada hari ke sembilan bulan ke sebelas, ia datang dan menyeretmu ke belakang taman sekolah di bawah pohon Mapple yang berguguran—tempat ia menghabiskan siang istirahatnya, di bawah langit yang memerah, di bawah helaian daun-daun yang jatuh, di bawah koakan burung yang menyemut menuju sarangnya, di bawah langit ulang tahunmu.

Ia memerintahmu untuk menutup matamu dan segera kau lakukan—perintahnya adalah permintaan bukti cintamu padanya. Sebuah tali tipis mengerat di leher jenjangmu, seperti benang tipis namun halus. Perintah untuk membuka kelopak cahaya hitammu keluar lagi dari mulutnya lagi—dan kau penuhi lagi. Kau meraba pelan sesuatu yang melingkar itu dan kau temukan sebuah lambang kecil yang sederhana dan unik sebagai liontin kalung emas miliknya. "Ini?"

"Tanda jika kau adalah milikku!" cerocosnya.

Saat itulah kau tahu bahwa kau bagaikan Sphinx yang rela memenggal kepalanya sendiri ketika Apollo bisa menjawab pertanyaannya tentang hewan berkaki empat dipagi hari, berkaki tiga disiang hari dan berkaki dua dimalam hari. Tapi kau tidak menjadi Sphinx yang memberikan kepalamu pada Apollo, kau Sphinx lain yang memberikan hatimu untuk sang Apollo-mu yang bisa menjawab apa definisi lima huruf berawalan 'C'—yang kau tak tahu.

Cinta itu dia!


9 November 'tujuh tahun yang lalu—dari sekarang'

Tujuh belas tahun harusnya menjadi hari yang diidam-idamkan gadis remaja kasmaran, bukan? Tapi tidak untuk gadis bermata hitam ditengah-tengah oval hijau iris matanya, ia mengutuk hari ini, hari senin tepat ujian akhir sekolahnya, hari sibuk untuk menemukan jawaban soal-soal dewa buatan para guru-nya, hari ulang tahunnya yang dilupakan seseorang, teman cintamu. Hingga jam dinding kamarmu hampir mencapai tengah malam—batasan akhir hari spesialmu.

Semenjak senja hari tadi selepas jam sekolah kau mengurung kepalamu di bawah bantal meredam isakan kealpaan kekasihmu tentang hari ini. Sudah berkali-kali kau memancingnya tentang tanggal berapa sekarang dan hari apa sekarang, tapi kekasihmu yang diberkati kejeniusan itu seolah menjadi orang dungu yang lupa hari ulang tahunmu.

Ketokan pelan menggetarkan jendela besar di sudut kamarmu. Kau hiraukan ketokan yang semakin lama semakin keras seperti tak sabar. Kau menurunkan kaki berbalut gaun tidurmu, menghentak-hentakkan kaki sambil menyeka air mata dan membuka gorden merahmu, menyaksikkan lukisan Tuhan, seorang laki-laki muda tersenyum sinis di balik jendela. Kau tak lekas membuka jendelamu, kau ingin memberi hukuman bagi laki-laki berambut tak beraturan itu yang melupakan hari sakralmu, ketokan lagi tapi ini dengan sinyal mata obsidiannya yang menginstruksikan agar kau membuka jendela itu. Kau geser pelan jendela beningmu dan…

Cup.

Ciuman lamaaaa sekaliiii mendarat di bibirmu yang berlumuran air matamu. Raja hatimu bagai seorang Zelda yang berhasil mengambil pedang yang tak seorang pun bisa mengambilnya. "Untukmu!" dia memberikan setoples berisi burung-burungan kertas yang berjumlah… kau tidak tahu, kan?

"Bangau-bangauan," ia menyodorkan toples yang segera kau peluk di depan dada besarmu. "Jam berapa sekarang?"

"Kau menengadah menatap jam dinding kamarmu. "Pukul 11. 58 p.m."

"Syukurlah, tidak terlambat…"

"Terlambat apanya?" Hanya jawaban 'hn' yang terucap dari bibir kekasihmu itu pada tiap pertanyaan yang membutuhkan jawaban panjang; Apa ini? Apa maksud hadiah ini? Apakah ini hadiah ulang tahunku? Tujuh belas tahun harusnya diberi hadiah yang tak terlupakan, kenapa kau tidak memberikannya?

Hingga akhirnya kau merasa sebal dan memaksanya pergi dari balkon kamarmu—kau mengusirnya.

Kau menutup jendelamu sebal dan meletakkan toples kaca itu diatas meja belajarmu. Semua orang bisa membuat burung bangau-bangauan bukan? Lalu kenapa dia memberikan hadiah umum seperti ini padamu? Kau buka tutup toples kaca itu dan membuka kasar kertas yang dilipat-lipat bermodel bangau.

Saengil chukae. Saranghae, Goo Hye Sun.

Satu buah kalimat bertitik dan sebuah nama tertulis dalam burung kertas itu. Kau buka yang lainnya dan kau menemukan tulisan yang sama, tulisan ucapan selamat ulang tahun, kata cinta, namamu dan namanya yang ditulis dengan tangannya—kau hafal betul model tulisannya. Kejutan pangeran hatimu tak berhenti di situ, ketika kau memadamkan lampu kamarmu, kau menemukan cahaya berwarna-warni dari dalam toples kaca itu. Kertas itu bersinar, bersinar digelap ujung malam sembilan november.

Malam itu kau tahu jika kau adalah Apollo yang terkena karma hingga jatuh cinta kepada Daphne karena mengolok si cupid sebagai anak kecil yang tak pantas bermain busur panah. Hingga Apollo harus puas menerima penolakan Daphne yang lebih memilih menjadi pohon laurel daripada mencintainya. Kau sama dengan Apollo yang mengolok pilihan cinta si cupid untukmu adalah salah, kau muak dan mengutuk dewa cinta itu sepanjang malam itu, bertambah muak ketika hadiah untuk sweet seventeen-mu hanyalah sebuah toples berisi kertas-kertas. Hingga kau harus menyesal Daphne-mu yang tidak terlalu lama tinggal di sana—di kamarmu, karena kau usir. Tapi Daphne-mu tak lekas berdoa pada ayahnya, Peneus, untuk menjadi pohon laurel. Ia lebih memilih memberimu burung kertas tanda jika pilihan si cupid tak salah.


9 November 'lima tahun yang lalu—dari sekarang'

Seperti sembilan november yang lalu, di depan kaki pintu apartemenmu sudah banyak tumpukan kertas berwarna-warni bergambar kue tart, lilin, kalender berangka 9 dan sebagainya. Kau tersenyum melihat tumpukan kertas ucapan selamat atas 18 tahunnya kau hidup bahagia, banyak juga orang yang masih ingat dan peduli hari ini, bukan?

Kau tak lekas membuka satu per satu pos itu, kau masih sibuk membolak-balik kertas itu satu per satu sambil membaca pengirimnya sekilas. Bibir merahmu mengerucut sekian centi ketika tak mendapati pacarmu belum mengirimi kartu ucapan. Tapi kemudian terganti dengan ulasan senyum tipis manakala kau ingat dia selalu punya cara berbeda merayakan hari ulang tahunmu. Selanjutnya kau habiskan pagimu hingga pukul sembilan untuk membuka satu per satu kado dari penggemar rahasiamu, Goo Hye Sun patut disejajarkan dengan Aphrodite, bukan?

Satu pencetan bel apartemenmu mampu membuatmu meloncat girang menggapai gagang pintu apartemen yang sengaja kau sewa selama kuliah di luar kotamu. Sebelum kau benar-benar membukanya, kau pastikan wajahmu cukup cantik pagi ini dengan lipstick warna peach, blush on merah tipis, eye liner hitam menantang, eye shadow dengan warna tak mencolok, bulu mata palsu yang melingkar sempurna, bedak kuning tipis dan parfum Gucci Florist berlebih. "Hai!"

"Lama," ujarnya masih dengan tampang datarnya—seperti biasa.

Kau mengerucutkan bibirmu untuk kesekian kali, marah nampaknya karena bukan ucapan selamat ulang tahun yang kau dengar setelah membuka pintu atau sebuket mawar merah menutupi wajah bak Narcisscus-nya. "Kau tidak lupa kan hari ini hari apa?"

"Sembilan november, kamis pagi, menjemputmu pukul 8 tepat, sarapan pagi di Manolin, makan siang pukul 1 tepat di kantin kampus, mengantarmu ke salon tiap hari kamis dan mengantarmu pulang pukul 5 tepat serta menemanimu menonton parody favoritmu sepanjang sore."

"Ini bukan kamis biasa!" ujarmu sangsi mendengar jawaban polosnya.

"Ya, ini kamis luar biasa karena kita sudah terlambat sepersekian sekon," ia memasuki apartemenmu, mencangklongkan ranselmu dan menarikmu keluar dari apartemenmu serta menggesekkan kartu untuk mengunci kamar bernomor 2803 itu. Ia terus menarikmu di belakang punggungnya hingga membukakan pintu mobil Porsche-nya untukmu. "Untukmu," ia melempar kotak CD—yang ternyata Blue Ray Disc, tanpa cover padamu.

"Apa ini?" tanyamu bingung dan hanya jawaban mesin mobil yang mulai distater. "Ku putar ya?" kau hampir meraih CD Player di dashboard mobilnya namun terhalang tangan kekasihmu.

"Pakai ini saja," ia menyodorkan dismen ber-headset.

Kau tekan tombol play dan hanya dengungan tak jelas yang terdengar—alis pinkmu bersatu menyadari keanehan itu.

"Ehm, ehm…" suara baritone yang kau hafal betul (kau menoleh pada pengemudi di sampingmu yang kemudian membuang wajahnya menatap trotoar jalan—dan meringis kecil, tak sabar akan kejutannya). "Untukmu, tujuh buah lagu favoritmu. Original pita suaraku." Kau tertawa keras mendengar kalimat terakhirnya, dia bisa melucu?

Menit-menit seterusnya hanya suara petikan gitar yang halus dan suara tecno lembut miliknya yang kau dengar. Hadiah ulang tahunku!

Tahun ini dia kembali menjadi Apollo yang pandai bermain kithara. Tapi dia tak sejahat dan secongkak Apollo yang rela bertarung dengan Pan dan kukuh jika ialah yang terbaik dalam bermusik hingga ia mengubah Midas—yang merasa musik Pan lebih baik darinya, menjadi bertelinga keledai. Ia adalah Apollo dengan nurani lain yang hanya merelakan musiknya untukmu, teruntukmu.


9 November 'empat tahun yang lalu—dari sekarang'

Ulang tahun ke dua puluh ini nampaknya akan benar-benar berbeda dengan kebiasaan mulai empat tahun yang lalu. Sakura harus menerima getir penderitaannya—menurutnya, karena harus merayakan ulang tahunnya sendiri tanpa laki-laki susah-diatur-nya. Sebab lelaki itu harus puas memanjakan tugas akhir kuliahnya, observasi, penelitian ilmiah, di luar negri.

Sebuah bungkusan yang cukup besar berbungkus kertas putih polos teronggok sedih di tengah ranjangmu. Kau sama sekali tak ingin membuka kado darinya itu karena hal itu bukan kebiasaanmu, kebiasaanmu adalah membuka kadonya di depan wajah berepitel pucatnya. Sekuat hati kau menghalau penasaranmu soal bungkusan yang paling besar darinya—sampai saat ini. Hingga akhirnya kau menyerah dan menggradak kasar bungkus putih bersih itu, memunculkan buku lusuh tebal bersampul oranye bergambar dua bocah kecil dalam bentuk chibi. Kau tersenyum melihat lekuk wajah dan postur wajah kekasihmu dalam bentuk miniatur yang sangat imut itu. Kau buka halaman pertama buku itu dan kau temukan biodata lengkap tentang kekasihmu itu yang ditulis dengan model cakar ayam—berantakan, jelek, tulisan khas anak TK.

Halaman per halam kau buka dan kau baca seksama hingga kau tahu jika itu bukan buku biasa, itu buku harian, buku harian miliknya dari kecil hingga dia dewasa saat ini. Sepanjang malam ini kau habiskan menekuni autobiografi itu, sesekali kau menitikkan air matamu menyadari realitas lelaki itu tentang kau, ya TENTANG KAU!

Tentang kau yang sudah disukainya semenjak sekolah tingkat pertama, alasan-alasan mengapa ia menyukaimu bahkan usahanya mengumpulkan uang untuk dibelikan kalung sebagai tanda kau miliknya—kalung hadiah ulang tahunmu yang pertama darinya. Serta usaha dia melipat lembaran kertas menjadi seribu burung bangau yang berisi satu buah kalimat bertitik dan nama lengkapnya—hadiah ulang tahun keduamu darinya, sekarang kau tahu jumlah burung kertas itu, bukan? Juga betapa malu dan takutnya dia menciummu ketika kau berumur 17 tahun.

Dan terakhir usaha dia yang sengaja melatih suaranya sebelum merekam suaranya dalam Blue Ray Disc sebagai hadiah ulang tahun ketigamu darinya. Lalu lembaran terakhir mampu membuatmu menangis bahagia. Kuizinkan kau memasuki duniaku dan membagi duniaku. Aku mencintaimu. Selalu. Tanpa batas.

Kau bukan seperti Persefone yang menyesal memakan buah di dunia Hades sehingga Persefone tak boleh meninggalkan Hades dan tak bisa kembali pada dunianya sendiri, dunia dengan Dementer. Tapi kau adalah Persefone! Persefone yang sudah terlanjur memakan hati Hades-mu untuk kau simpan dalam dirimu hingga kau harus tetap menjaganya tak meninggalkannya. Kau Persefone baru yang bersyukur karena jebakan Hades-mu.


9 November 'tiga tahun yang lalu—dari sekarang'

Berkali-kali kau tersenyum menatap lingkaran sempurna di jari manis tangan kirimu, berkali-kali pula kau buka dan membaca ukiran nama dalam cincin itu, berkali-kali juga kau mengerjapkan matamu dan memastikan jika tulisan itu benar-benar namanya dan terakhir berkali-kali pulalah kau tersenyum tak percaya sambil bertanya apakah ini kenyataan pada lelaki yang mulai bosan menjawab 'ya' padamu itu.

Hadiah kelima darinya. Sebuah pesta pertunangan kecil yang dihadiri keluargamu dan keluarganya serta orang-orang yang mengaku teman, sahabat atau saudaramu. Dimalam sembilan november, di pesta kebun bergermelap bintang dan berbulan supermoon yang nampak delapan belas tahun sekali, di awal musim semi, di hari yang tak terbayangkan dan tak kau ketahui. Intinya malam ini adalah malam pertunangan kejutan untukmu. "Kenapa kau tak bilang akan melamarku malam ini. Untung saja aku mau menerima pertunangan ini!" Sindirmu yang dijawab dengan kecupan mesra didepan seluruh khalayak di situ tanpa malu karena seluruh dunia sudah tahu laki-laki dengan seringaiannya itu adalah calon lelaki masa depanmu, suamimu kelak, entah berapa tahun lagi.

Pertunangan itu adalah tanda dialah Apollo-mu, Apollo yang tidak akan pernah dimiliki siapapun baik Daphne, Leucothea, Marpessa, Castalia dan Cassandra—pemilik Apollo, cinta Apollo. Tak akan ada lagi orang-orang yang menjadi Daphne, Leucothea, Marpessa, Castalia atau Cassandra yang mengakui cinta Apollo-mu. Karena Apollo-mu adalah milikmu, Goo Hye Sun.


9 November 'dua tahun yang lalu—dari sekarang'

Kau menutup tubuh berbikinimu di depan mata lelaki dewasa yang duduk di atas sofa di depanmu. Berkali-kali tanganmu disingkirkan oleh pelayan-pelayan ber-blazer yang mengakui dirinya sebagai asisten desainer baju pengantinmu, bukannya kau tak mau diukur badanmu tapi kau malu berbusana mini di depannya walau sudah beberapa kali kau bertelanjang bulat-bulat di depannya, namun tak lekas membuat barisan titik-titik merah yang berubah menjadi garis di sekitar wajah manismu untuk tetap muncul, bahkan berkali-kali kau memalingkan wajahmu saat matamu bersirobok dengan mata teduhnya (dan kau mendapat ejekan dari bibirnya).

Seusai pengukuran itu berakhir, sesegera kau mengambil bajumu untuk dipakai kembali. Tapi tangan kekasihmu lebih cekatan untuk mengambilnya hingga kau harus berlari-lari berpakaian dalam mengejar dirinya di dalam kamarnya. Tawa renyahnya meledak keras dan teriakan-teriakan frustasi dari bibirmu saling bersahutan. Hingga lelaki itu membuka jendela besar kamarnya lalu membuang bajumu keluar ruangan dan membuang dirimu di atas ranjangnya untuk bermain-main sedikit—seperti biasa, kau tahulah.

Tapi itu kejadian beberapa bulan yang lalu, sebelum 9 November ulang tahunmu. Tahun ini kau mendapat hadiah gaun mewah jahitan desainer terkenal di dunia ini. Puluhan kali kau tersenyum sendiri membayangkan dirimu berbalut gaun itu tahun depan, kau mengayun-ayunkan tubuhmu sambil menempelkan baju pengantin itu, membayangkan kau berdansa dengannya di malam pernikahanmu dengannya. Dan tak lupa berkali-kali pulalah kau menginjak jengkel karpet di kamarmu mengingat kejahilan lelaki itu di siang hari pengukuran gaun pernikahan itu. Tapi kau juga senang kan saat itu?

Kau adalah Dementer dan dia adalah Persefone, kau dan dia terikat satu sama lain, tak bisa terpisah. Kaulah Dementer yang mengubah musim semi di sekitarmu menjadi musim dingin, kaulah Dementer yang mengutus semua tumbuhan untuk berhenti dan melupakan untuk tumbuh ketika Persefone pergi diikat oleh Hades di dunia bawah. Kau tak bisa berpisah tanpanya, kau tak bisa mekar tanpa cahaya Persefone, Persefone-mu.


9 November 'setahun yang lalu'

Buku besar bersampul hitam pekat dengan goresan tinta emas berhuruf latin tertulis di sudut kiri atas buku itu—Sakura, kata itu tertulis. Ada spasi besar di belakang nama Hye Sun, spasi yang kosong, entah apa maksudnya. Kau membuka pelan buku sampul itu dan terkejut membaca sub-judul buku itu. Metamorfosa aku dan kamu.

Detik-detik selanjutnya hanya kikikan geli dari mulutmu manakala kau menatap dua foto manusia berbeda gender yang ditempel berjejeran, bukan posenya yang lucu tapi wajahnya yang lucu menggemaskan—wajah dia maksudnya, bukan wajahmu bukan?

Kau masih membuka lembar demi lembar album foto itu. Bayangan di otakmu sekarang terjawab tentang seperti apa dirinya di masa kecil, malah memberi jawab yang lebih dari cukup, album ini adalah sebuah situs yang wajib kau jaga karena berisi tentang hidupmu dan hidupnya. Album tebal itu berisi fotomu dan fotonya dari semenjak lahir hingga dewasa yang ditempel bersampingan sesuai dengan umur.

Jika fotomu saat itu berumur dua tahun maka ia juga menempelkan fotonya ketika dua tahun, begitu seterusnya, namun lembar ketika kau berumur enam belas tahun mulai berubah strukturnya, tidak lagi dipasang berjejeran tetapi kini kau dan dia berada disatu foto—kalian berdua berfoto bersama. Begitulah lembar-lembar selanjutnya, tempelan foto kalian berdua diberbagai musim, tempat, situasi, waktu hingga lembar paling akhir—lembar dengan foto paling besar (hampir mencapai selembar album itu) tergambarlah foto pernikahan kalian, foto ketika bibir kalian saling melumat satu sama lain dan tubuh kalian berbalut pakian pernikahan yang sudah dirancang setahun sebelumnya.

Lembar selanjutnya kau buka dan hanya lembar-lembar putih polos tak terisi yang kau temukan. Mungkin dia sudah tak bisa lagi mengisinya, jadi inilah saatmu bukan?

BRAAK

Kau terbangun dari lamunan panjangmu dan terbelalak kaget melihat sang suami tercintamu sudah berdiri di depan ranjangmu dan dirimu yang masih sama seperti tadi pagi—kusut, bau, berbercak merah dan… telajang!

Dia menarik cepat selimut domba milikmu dan miliknya, menampilkan tubuh porselenmu yang masih sama seperti tadi pagi—berpeluh, menggiurkan, pantas dicoba lagi, haha. "Kau disitu sejak tadi pagi?" tanyanya.

"Emmm, ano… aku…"

Dia mendekati areamu yang melebar dari sebelumnya dan menelusupkan lidahnya disana lalu memutar-mutarnya dan sentuhan terakhir menghisapnya. "Syukurlah, kupikir—"

"Kupikir apa?" kau membentaknya seolah tahu jalan pikirannya.

Ia menyeringai. "Oke, oke, aku tahu kau adalah istri setia," dia mendekat. "Jadi bagaimana kalau dilanjutkan saja?" ia memutar mahkota dadamu.

Kau mendesah. "Tidak, Lee Min Ho! Gara-gara kemarin disini sakit tahu! " kau menunjuk bagianmu dan sedikit merengek.

"Baik-baiklah, maafkan perbuatanku kemarin. Itu demimu juga," ia tesenyum lebar—hal yang tak pernah dilakukannya. "Ayo, kubantu membersihkan diri!"

"Akal bulus mesum. Tapi, baiklah."

.

.

.

Kau menonton acara audisi model dengan mengunyah makanan bergelatin dengan perlahan sambil sesekali mendongak Lee Min Ho-mu yang sedang mencuci piring di belakang sana dan melirik jam yang dinding yang menunjukkan semakin larutnya hari ini. Hadiah apa darinya di tahun pernikahan kami ini, ya?

Min Ho duduk disampingmu merangkul pundakmu dan meletakkan kepala pinkmu di bahu kirinya. Kau menghalaunya dan mendongak menatapnya yang sedang mengerutkan alis bingung melihat penolakanmu padanya. "Kau tidak lupa mengatakan selamat ulang tahun untukku, kan?"

Min Ho membuang mukanya asal ke segala arah—hal yang sering ia lakukan ketika kau bertanya hal yang sama, kau tahu, bukannya ia tak mau mengucapkan selamat ulang tahun untukmu tapi ia bingung bagaimana mengucapkan tiga kata itu yang dirangakai kalimat itu. Kau tahu—ia takut tak bisa mengucapkan selamat ulang tahun yang normal, karena suaranya yang terkesan sinis dan diam. Jadi ia lebih memilih memberimu hadiah tanpa ucapan.

Min Ho mengambil sesuatu di saku celananya dan segera menyerahkan padamu. "Untukmu!"

"Test pack?" tanyamu.

"Cobalah."

Kau tersenyum penuh arti padanya dan berharap sesuatu yang kau nantikan. Segera kau melesat menuju kamar mandi dan keluar semenit kemudian dengan berlari dan menjatuhkan tubuhmu di atas tubuh Min Hoyang menonton tv. "Terima kasih untuk malam kemarin."

"Syukurlah, usahaku berhasil."

Kau menunjukkan test pack bergaris dua itu padanya dan kembali membenamkann tubuhmu dalam dekapan hangatnya. Terima kasih untuk hadiah besar ini, Lee Min Ho!


Dia selalu punya cara merayakan 9 November, bukan hadiah yang besar, hanya hadiah kecil yang bahkan bisa dibuat semua orang, hal kecil yang romantis dan besar dan amat berarti.

Dia bukan Apollo, Hades, Persefone atau Daphne—sama seperti yang kau perbandingkan.

Tapi dialah…

Lee Min Ho dengan caranya sendiri tanpa bisa dibandingkan dengan Apollo, Hades, Persefone atau Daphne sekalipun.
« Last Edit: April 26, 2011, 07:23:13 pm by voldi »
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
kok tambah gak jelas ya [heh]

happy minsun's day aja. gak tau benaran atau gak, tapi denger2 sih gitu. cuman yg pengn gw tanyain, tau darimana mereka jadian 26 april [what]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
wah, hadiah tahun ini anak,ya?


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Voldi.... Chapter yg ini romantis buangeeeet... Mingo bener2 cowi ideal dan sempurna, dambaan cewe2 waras di dunia ini. Gw bacanya aja klepek2. Di mana ya bisa ketemu cowo kaya Minho... Hyesun super beruntung...tp Minho jg beruntung punya pasangan seperti Hyesun ... He4....
Thanks bgt ya Voldi... I love banget deh story yg ini...

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
wah, hadiah tahun ini anak,ya?
[biggrin]

Voldi.... Chapter yg ini romantis buangeeeet... Mingo bener2 cowi ideal dan sempurna, dambaan cewe2 waras di dunia ini. Gw bacanya aja klepek2. Di mana ya bisa ketemu cowo kaya Minho... Hyesun super beruntung...tp Minho jg beruntung punya pasangan seperti Hyesun ... He4....
Thanks bgt ya Voldi... I love banget deh story yg ini...
makasih.
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
hadiah setelah nikahnya dedek bayi #gubrakk [hmpfh] [lovestruck]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
hadiah setelah nikahnya dedek bayi #gubrakk [hmpfh] [lovestruck]
taun depan hadiahnya dedek lagi, taun depannya lagi dedek lagi. tiap taun gitu minsun bisa buka panti asuhan
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME