Author Topic: Be Strong, Jan Di ~ masih bukan chapter masih bukan spoiler..OMG ~  (Read 53467 times)

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #120 on: September 24, 2010, 10:46:46 am »
kapan diupdate say?


bingung mam ff ini mau dibawa kemana  [what]
soalnya take line yg ada di kepala ku rada mirip ama ff punya tetangga sebelah  [sweat]  walaupun ga sama 100persen
aku sih updatenya kelamaan  banghead

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #121 on: September 24, 2010, 10:56:54 am »
kapan diupdate say?


bingung mam ff ini mau dibawa kemana  [what]
soalnya take line yg ada di kepala ku rada mirip ama ff punya tetangga sebelah  [sweat]  walaupun ga sama 100persen
aku sih updatenya kelamaan  banghead
ff tetangga yg mana?

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #122 on: September 24, 2010, 11:04:04 am »
kapan diupdate say?


bingung mam ff ini mau dibawa kemana  [what]
soalnya take line yg ada di kepala ku rada mirip ama ff punya tetangga sebelah  [sweat]  walaupun ga sama 100persen
aku sih updatenya kelamaan  banghead
ff tetangga yg mana?

punya voldi  [bored]

voldi, aku kalah cepat dgn dirimu  [wacko]

maklumlah jam terbang ku akhir2 ini padat merayap jd ga ada waktu noel2 ff  [heh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #123 on: September 24, 2010, 11:36:22 am »
maksunya ff pembantu itu ya [chin] [chin] .. biar aja mirip, yg penting update update update [smiley-gen013] [smiley-gen013]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #124 on: September 24, 2010, 08:22:04 pm »
maksunya ff pembantu itu ya [chin] [chin] .. biar aja mirip, yg penting update update update [smiley-gen013] [smiley-gen013]

ga enaklah mam klo mirip gitu, ntar bukan galur murni lg dong *hihihi istilahku sangat genetika  [hmff]

gimana klo ff ini cukup sampai di sini, kelanjutannya baca aja ff sebelah, toh karakter junpyo sama2 manja trus juga aku berencana jandi jadi PRT di rmh junpyo. mirip kan alur ceritanya. jd mendingan ff ini disudahi sampai di sini. SETUJU!

pasti SETUJU!  [hmff] [hmff] [hmff]

 [bye] [bye] [bye] [bye] [bye]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #125 on: September 24, 2010, 09:36:19 pm »
jiaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh liko [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] musti lanjoooottttttttttttttttt dunk [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]


ADAM COUPLE SELCA

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #126 on: September 24, 2010, 11:14:04 pm »
Hualah sist liko [cry]      knpa di udahin aja. . . Jgn gitu do0nx sist, [cry]      biar pun mirip tp pasti konflik'a beda sist. Lagi pla yg d ff sist voldi tuh jan di uda pnya pacar, sedangkan d sini kn blm, uda lah sist coba aja dulu. . .     
         
Yud sist laen x klo update yg cpt biar gk keduluan, yg off air update aja dulu sist, . .  *ngerayu.com* [hmff]   
       
Jgn nyerah gitu do0nx. . .     
Ayo update! [smiley-gen013] 
hwaiting! [smiley-gen013] 
semangat! [smiley-gen013]
cayo! [smiley-gen013]

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #127 on: September 24, 2010, 11:45:54 pm »
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
AYOOO SEMANGAAAAAAAAAT [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Song hye sun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 46
  • nomu.nomu.nomu chuaaaa
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #128 on: September 25, 2010, 07:28:23 pm »
Anyong salam kenal [flowers]
[what] Liko please jgn stopin ff in [cry] [cry]
ff u in salah satu ff idolaku yg sgt q tunggu. .
Lagipula tetangga sblh hiatus mulu,mending lu aja yg buat,gue tergila2 sm fanfict ini.please liko please lanjutin. . [cry] [cry]

you and i together it's just feel so right

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #129 on: September 26, 2010, 06:31:08 pm »
Uuuuuuuuaaaaaaaaapdateeeee....
Go liko go liko go [smiley-gen013] go liko go liko go [smiley-gen013]
uuuuuaaaaaaaaaaaapdateeeee.....

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #130 on: September 27, 2010, 09:40:43 am »
anyong song hye sun-ssi [bye]

hai, kelinci_hilang [bye]

serius nih pd minta lanjut  [what]

td dr ff sebelah dan ternyata perkembangan ceritanya beda   [chin]

oke deh kita lanjut  [biggrin]  aku bikin dulu ya...segera menuju ms word...be strong chp 3 i'm comingggggggggg

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #131 on: September 27, 2010, 06:17:47 pm »
anyong song hye sun-ssi [bye]

hai, kelinci_hilang [bye]

serius nih pd minta lanjut  [what]

td dr ff sebelah dan ternyata perkembangan ceritanya beda   [chin]

oke deh kita lanjut  [biggrin]  aku bikin dulu ya...segera menuju ms word...be strong chp 3 i'm comingggggggggg
yeahhh [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] hidup liko [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #132 on: September 28, 2010, 04:28:15 am »
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
AYOOOO UPDATE [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #133 on: October 03, 2010, 03:41:41 am »
tes tes tes 1 2 3 ...
CM kenapa ya dr semalem kagak bs dibuka, mau apdet gagal terus  hammer2

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #134 on: October 03, 2010, 04:01:12 am »
Chapter 3


Pagi ini aku meninggalkan rumah Ga Eul. Sudah 7 hari tempat tinggal keluarga Chu aku tumpangi. Mereka memperlakukan ku layaknya keluarga sendiri. Segala keperluan ku ditanggung sepenuhnya oleh orang tua Ga Eul. Ini membuat ku tidak enak hati. Walau kami sudah seperti keluarga tapi aku tidak mau merepotkan mereka. Aku ingin berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Aku tidak mau menjadi benalu yang berparasit pada keluarga Chu.

Ga Eul menentang penuh keinginan ku. Dia berusaha keras menahan kepergian ku. Sikap Ga Eul ini sudah bisa ku tebak sejak awal. Semalaman kami berdebat hingga akhirnya Ga Eul menyerah kalah. Dengan seperempat hati –bukan sepenuh hati– Ga Eul merelakanku.

Selepas dari rumah Ga Eul, aku menuju toko bubur. Mulai sekarang aku menempati gudang di toko tersebut. Bos mengizinkan tempat tak terpakai itu dijadikan ruang istirahat ku. Dengan begini aku jadi berhemat 2 hal sekaligus, yaitu waktu dan saku. Waktu ku jadi lebih efisien karena tidak perlu menempuh jarak puluhan kilo meter menuju toko bubur. Cukup dengan beberapa langkah saja aku sudah tiba di tempat dinas ku. Selain itu aku juga tidak perlu merogoh saku untuk membayar ongkos bis. Dengan begitu, aku bisa memanfaatkan uang transport untuk keperluan lain.

Hidup ku berdenyut lagi di hunian yang minimalis ini. Ku coba percikan asa dalam episode hidup ku yang baru. Awan gelap yang belakangan ini rajin berarak, sudah ku usir hingga menyingkir. Pergilah duka, aku tak mau berteman dengan mu. Enyahlah nestapa, kau bukan takdir ku. Mulai detik ini roda hidup ku akan berputar lagi. Cukup sekian aku berkubang dalam kesedihan. Masih ada pelangi harapan di ujung sana. Aku harus bangkit dan meraihnya. Geum Jan Di, Hwaiting!

*******

Tiga hari telah berlalu. Hidup ku sudah tertata rapi. Sampai akhirnya ...

“Mwo? Toko bubur akan ditutup?” berita yang baru saja ku dengar dari si bos berhasil mengoyak kedamaian ku.

Bayangkan saja, baru 3 hari awan putih memayungi. Namun kini awan hitam sudah datang menghampiri. Dengan tiba-tiba bos membawa kabar tak sedap ke lubang telingaku. Ia akan menutup toko bubur dan menjualnya pada orang lain. Bos sedang butuh dana cepat untuk pengobatan kanker sang ayah.

Keputusan menjual toko bubur sepertinya tidak salah. Omset rumah makan ini sudah bermasalah dari dulu. Tiap bulannya, pengunjung toko bubur terus saja berkurang. Padahal bos sudah mencoba inovasi baru pada resep buburnya. Tapi tetap saja tidak menarik selera konsumen.

“Mianhe, Jan Di-a. Kau harus segera berkemas dari sini” ucap bos ku.

“Gwenchana, aku bisa memaklumi kesulitan mu” tentu saja sekarang aku sedang membual. Aku sama sekali tidak merasa baik-baik saja. Aku bingung kemana lagi mencari tempat berteduh. Rumah Ga Eul bukan tujuan yang tepat.

“Lalu kau akan tinggal di mana? Ga Eul dan keluarganya tidak berada di Seoul. Mereka baru kembali 3 hari lagi setelah pernikahan sepupu Ga Eul. Ottoke, Jan Di-a?” bos ternyata mengkhawatirkan ku juga.

“Aku akan mencari rumah kontrakan” jawab ku.

“Kau punya uang? Aku tidak bisa memberi mu pesangon yang besar” bos terlihat sangat menyesal.

“Aku punya uang asuransi rumah. Tabungan ku juga ada” hibur ku pada si bos.

Maka aku pun berkemas. Beruntung bawaan ku tidak banyak. Sebuah koper dan tas ransel sudah bisa menampung seluruh barang-barang ku. Cukup dengan waktu 10 menit gudang toko bubur telah bersih dari segala pernak-pernik milik ku.

Kini tinggal foto kesayangan yang belum ku masukkan. Aku masih asyik menatap lekat foto usang tersebut. Sebelum memasukkannya ke dalam ransel, ku kecup wajah teduh wanita dalam foto itu. Syukurlah masih ada dia di samping ku. Walau hanya sebuah foto tapi dia mampu membangkitkan gelora hidup ku.

Setelah foto berpigura oval berada dalam ransel, kaki ku mulai terayun meninggalkan toko bubur. Meski hari masih pagi, toko bubur sudah aku tinggalkan. Hal ini sengaja aku lakukan agar punya banyak waktu mencari tempat tinggal baru. Mata ku melirik ke ufuk timur. Matahari pagi ini terlihat seperti telur mata sapi. Bentuknya bulat padat, warnanya jingga pekat. Semoga sinar sang surya tidak melelehkan energi ku. Semoga cahaya mentari dapat membakar semangat ku. Ya. Semoga.



*******

“Dasar kalian keluarga serakah!” umpat seorang wanita paruh baya.

“Mrs. Choi, tolong jaga lidah anda” balas wanita paruh baya lain pada lawan bicaranya yang bermarga Choi.

“Sebenarnya apalagi yang dikejar Shinhwa?! Kalian sudah menguasai hampir 100 persen perekonomian Korea tapi cucu mu itu masih saja menyerobot tender-tender kecil. Jadi sangatlah pantas jika keluarga Goo kusebut serakah!” emosi Mrs. Choi makin tak terkendali.

“Kami tidak memandang tender besar atau kecil. Jika prospeknya cerah Jun Pyo akan mengambilnya” Nenek Goo Jun Pyo ini berusaha menahan amarah walau telinganya sudah memerah.

Begitulah situasi di sebuah restoran berkelas. Atmosfernya kian memanas di siang yang suhunya sudah cukup panas. Pertengkaran hebat terjadi antara Mrs. Choi dan Goo haelmoni. Makan siang Goo haelmoni dirusak dengan kehadiran Mrs. Choi.

Awalnya Goo haelmoni tidak sendirian di restoran megah tersebut. Ada Mrs. Goo yang menemani. Dua wanita ini memilih melahap santap siang mereka di luar rumah. Di penghujung acara makan siang, ponsel Mrs. Goo tiba-tiba berdering hingga membuat Mrs. Goo harus angkat kaki lebih dulu. Urusan mendadak memaksa Mrs. Goo meninggalkan Goo haelmoni seorang diri.

Sepeninggalan Mrs. Goo, Mrs. Choi datang menghampiri meja Goo haelmoni. Makian kasar terlontar dari bibir Mrs. Choi untuk Goo haelmoni. Penyebabnya sepele saja. Mrs. Choi tidak rela partner bisnis keluarga Choi beralih memihak Shinhwa.

“Cucu mu itu pebisnis yang tidak punya hati! Goo Jun Pyo terlalu tamak!” hardikan Mrs. Choi kian terasa pedas.

“CUKUP! HENTIKAN MENJELEK-JELEKKAN JUN PYO!” amarah yang sejak tadi ditahan akhirnya datang juga. Goo haelmoni tidak rela cucu kebanggannya dijelek-jelekkan.

“Anhi! Aku tidak bisa berhenti sebelum melihat Shinhwa terkubur bersama Goo Jun Pyo!” ucap Mrs. Choi.

“KAU … !!!” Goo haelmoni tambah berang. Ia ingin sekali membalas perkataan Mrs. Choi namun tak kuasa.

Napas Goo haelmoni mendadak tidak beraturan. Tangannya menekan dada kiri di mana ada jantung dalam rongga tubuhnya. Goo haelmoni terlihat kesulitan mengambil napas. Wajah keriputnya memucat. Ucapan pedas Mrs. Choi berhasil membuat penyakit jantung Goo haelmoni kembali kambuh.

“Mrs. Choi, semoga kali ini adalah perjumpaan kita yang terakhir. Ucapan mu barusan sudah kulupakan. Aku memaklumi kondisi psikologis mu yang terguncang karena perusahaan keluarga kalian baru saja gulung tikar” setelah menenangkan diri beberapa saat, Goo haelmoni angkat bicara lagi.

“Kami akan terus menghantui keluarga kalian. Jangan harap bisa hidup tenang setelah menghancurkan perusahaan ku” ucap Mrs. Choi pada Goo haelmoni yang bersiap meninggalkan restoran.

“Yya! Nenek Tua! Mau kemana kau, aku belum selesai” Mrs. Choi berusaha menahan kepergian Goo haelmoni. Ia mengikuti langkah kaki Goo haelmoni.

“Maaf, Nyonya. Tolong jaga sikap anda. Ketenangan tamu kami terganggu karena anda” Manager restoran menghadang Mrs. Choi.

Teguran manager restoran menghentikan ulah Mrs. Choi. Wanita yang 10 tahun lebih muda dari Goo haelmoni ini tidak berkutik lagi. Wajahnya memerah setelah menyadari ada banyak pasang mata menyaksikan sikap arogannya.

Goo haelmoni keluar restoran dengan langkah terseok. Tangannya belum beranjak dari dada kiri. Napasnya tak kunjung normal, justru terlihat lebih buruk. Goo haelmoni tampak tersiksa dengan rasa sakit yang berpusat di jantungnya. Ia ingin cepat tiba di rumah namun belum ada supir yang datang menjemput.

Supir yang mengantar Goo haelmoni ke restoran telah pergi bersama Mrs. Goo. Sedangkan supir lain yang sudah diperintah Mrs. Goo untuk menjemput Goo halemoni belum tiba di restoran. Sambil menanti kedatangan supir, Goo haelmoni memutuskan duduk di bangku taman.

*******

Dari tadi pagi sampai sesiang ini, aku belum menemukan rumah kontrakan yang cocok. Harganya terlalu berat untuk dipikul oleh kapasitas kantong ku. Andai Ga Eul ada di Seoul, aku bisa menumpang lagi di rumahnya. Tapi sekarang Ga Eul sedang menghadiri pernikahan sepupunya. Aku tidak bisa datang ke rumah keluarga Chu karena pasti pintunya terkunci.

Ku susuri jalan dengan peluh yang mengalir deras. Matahari terasa begitu menyengat. Bola api raksasa itu seolah hanya berjarak satu hasta saja di atas kepala ku. Huh, aku lelah sekali. Kaki ku bekerja terlalu keras hari ini. Ada taman asri di ujung sana. Ku seret kaki ini menuju taman. Istirahat. Aku ingin istirahat dulu di fasilitas umum itu.



Seorang wanita lanjut usia dan pelajar SMU menduduki bangku taman yang ku tuju. Aku mengambil tempat di samping pelajar SMU. Liur ku hampir jatuh tatkala melihat aktivitas siswi SMU tersebut. Remaja belasan tahun ini sedang asyik menyeruput orange jus. Mata ku turut menikmati minuman itu. Aku membayangkan kesegaran orange jus membasahi tenggorokan. Dia menjadi ketakutan saat menyadari kelakuan aneh ku. Pelajar SMU tersebut segera bangkit dan langsung meninggalkan taman.

Setelah kepergian siswi SMU beserta orange jusnya, yang tersisa di taman hanya aku dan seorang wanita renta. Diam-diam bola mata ku melirik ke arahnya. Pandangan ku jatuh di dada kiri yang senantiasa ia pegangi. Tangan keriputnya menekan kuat seolah menahan sesuatu yang siap melesat. Napasnya tidak berjalan lancar seakan terlilit balutan tali. Karena penasaran dengan tingkahnya, ku gerakkan bola mata ini lebih ke atas lagi. Oh Tuhan, wajahnya pucat sekali dan agak membiru. Ia terlihat sungguh menderita. Ada apa dengannya? Sakitkah?

“Nyonya, apa anda sakit?” ku putuskan menghampirinya. Dia hanya menatap ku tanpa menjawab pertanyaan ku.

“Nyonya, ada apa dengan anda?” aku mengulangi pertanyaan.

“Tolong ... antar ... aku ... ke rumah ...” ia menjawab dengan lemah.

“Apa anda hanya seorang diri, Nyonya?” pertanyaan ini dijawab dengan sebuah anggukan.

Ya Tuhan, tega sekali keluarga nyonya ini. Harusnya mereka tidak membiarkan orang tua berkeliaran di luar tanpa ada yang menemani. Terlebih di saat fisiknya buruk. Apa yang harus ku lakukan. Aku tidak bisa mengantarkannya pulang. Selain tidak tahu alamat rumahnya, aku juga masih harus mencari tempat tinggal. Bagaimana jika aku panggilkan taksi untuknya. Biarkan nyonya ini pulang bersama taksi. Tapi seandainya di perjalanan terjadi hal buruk, siapa yang akan menolong dia. Aduh, aku harus bagaimana.

Di tengah upaya mencari jalan keluar, tangan nyonya ini tiba-tiba meremas tanganku. Aku sampai terkejut dibuatnya. Genggaman tangan nyonya ini kuat sekali. Meski hanya satu tangan saja yang meremas tangan ku -sebab tangan yang lain belum beranjak dari dada kiri- tapi sudah cukup membuatku kesakitan. Melalui cengkraman tangannya, nyonya ini seolah ingin mengatakan ‘Cepat antar aku pulang, aku tak tahan lagi dengan rasa sakit ini, ku mohon bawa aku pulang segera’.

“Ba ... baiklah, a ... a ... anda ... akan aku antar” dengan terbata-bata ku sanggupi mengantarkannya pulang. Tak tega rasanya menolak permohonan nyonya ini. Ia pun tersenyum pilu seraya berterima kasih atas kesediaan ku. Aku tambah miris dibuatnya.

“Anda tinggal dimana, nyonya?” aku bermaksud menanyakan alamat rumahnya. Namun nyonya ini tidak sempat menjawab sebab kesadarannya sudah keburu terbang melayang.

“Nyonya bangun, ku mohon bangunlah, buka mata anda nyonya” ku goncangkan seonggok tubuh yang terkulai di dada ku. Nyonya ini pingsan di saat ia belum mengatakan alamat rumahnya. Oh Tuhan, bagaimana ini?

*******

Rumah Keluarga Goo
Dua pria dan satu wanita tengah berkumpul di ruang keluarga. Sama sekali tidak ada ketenangan di raut wajah mereka. Ketiganya dirajai rasa panik yang amat sangat.

“Ji Hoo-a, kerahkan seruluh anak buah mu, haelmoni harus ditemukan hari ini juga” perintah salah satu pria.

“Ne. Ageshimida, Paman Goo” jawab Ji Hoo -si penerima perintah- kepada Mr. Goo -si pemberi perintah.

“Ji Hoo-a, bibi mohon cepat temukan haelmoni” pinta satu-satunya wanita dalam ruangan itu.

“Aku akan segera membawa haelmoni pulang untuk Bibi Goo. Bibi jangan terlalu cemas” hibur Ji Hoo

“Semua karena kecerobohan ku. Harusnya aku tidak meninggalkan haelmoni sendirian di restoran” sesal perempuan ayu ini.

“Anhiyo. Istriku, kau tidak boleh menyalahkan dirimu seperti itu” Mr. Goo berusaha menghapus rasa bersalah Mrs. Goo -sang istri tercinta.

“Ucapan paman benar. Tidak ada yang menyalahkan bibi” ucap Ji Hoo.

“Paman, Bibi, aku pergi sekarang” pamit Ji Hoo.

“Ne. Bergegaslah segera” sambung Mr. Goo.

“Ji Hoo-a, tolong rahasiakan masalah ini dari Jun Pyo. Jika dia tahu haelmoninya menghilang, pikiran Jun Pyo di Macau akan bercabang ke sini” pesan Mrs. Goo.

“Arasso” jawab Ji Hoo sambil membungkukkan badan kemudian melangkah keluar.



“Jangan khawatir, istriku. Ji Hoo bisa diandalkan. Keluarga Yoon sudah bertahun-tahun membantu keluarga kita. Aku yakin Ji Hoo tidak akan mengecewakan” hibur Mr. Goo.

“Ku harap juga begitu” ujar Mrs. Goo sambil meremas tas Goo haelmoni yang ditemukan Ji Hoo di restoran.

Mr dan Mrs Goo menanti cemas kabar keberadaan Goo haelmoni. Goo haelmoni pergi dan belum kembali padahal malam sudah menghampiri. Pencarian Goo haelmoni diserahkan pada Yoon Ji Hoo. Keturunan keluarga Yoon bukan sehari dua hari mengabdi pada keluarga Goo. Semasa hidupnya, kakek Ji Hoo selalu setia mendampingi kakek Jun Pyo. Lalu ayah Ji Hoo menjadi tangan kanan Mr. Goo selama puluhan tahun. Sekarang Ji Hoo pun turut berbakti pada keluarga Goo.

Ji Hoo mengepalai beberapa divisi di Shinhwa. Meski berstatus sebagai karyawan Shinhwa, Jin Hoo sudah dianggap orang dalam oleh keluarga Goo. Terlebih oleh Jun Pyo. Jun Pyo tidak pernah menganggap Ji Hoo sebagai bawahannya. Mereka sangat dekat layaknya saudara kandung. Mungkin karena Jun Pyo dan Ji Hoo sebaya dan tumbuh besar bersama.

*******

Pandangan ku menerawang tak tentu arah. Kejadian tadi siang masih segar dalam ingatan. Saat dimana wanita paruh baya tergolek tak berdaya dalam pelukan ku. Wanita yang minta diantarkan pulang ke rumahnya. Tapi bukannya mengantarkan pulang, aku malah membawa wanita tersebut ke tempat ini. Dia kularikan ke rumah sakit setelah tak sadarkan diri.

Wanita lanjut usia itu sudah aman sekarang. Dia berada di bawah pengawasan orang yang tepat. Beberapa dokter ahli kardiologi berhasil menyelamatkannya. Kata dokter, nyonya ini terkena serangan jantung. Ia tidak boleh tertekan sedikit pun. Aku tidak tahu apa atau siapa yang menekannya. Yang ku tahu adalah ia sungguh menderita.

Nyonya yang ku tolong kini terbaring tenang di depan ku. Wajahnya yang tadi pucat, telah berangsur segar. Napasnya yang sempat tersendat, sudah mengalir lancar. Aku seharusnya merasa lega berkat progress bagus ini. Benar, aku memang sudah lega. Tapi belum sepenuhnya lega. Nyonya malang ini masih jadi tanggung jawab ku. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja di rumah sakit sebelum keluarganya datang. Aku harus mengabari keluarganya namun sulit kulakukan. Tak ada informasi apapun melekat pada dirinya. Ia tidak membawa tanda pengenal atau bukti identitas lain.

Pihak rumah sakit memita ku menjadi penjaminnya. Dengan cepat aku pun mengangguk. Aku tidak bisa menggeleng karena nasib nyonya ini berada di ujung tanduk. Mereka hanya mau menyelamatkan pasien yang jelas jaminan administrasinya. Jika aku tak bersedia menjadi penjamin maka nyonya ini tidak bisa mendapat perawatan.

Sebagai penjamin, aku diwajibkan membayar uang muka rawat inap pasien. Barisan nol di nota pembayaran sangat panjang. Nominal itu harus kutanggung agar nyonya ini dapat dirawat. Tabungan dan uang asuransi rumah terpakai untuk menutupi biaya rumah sakit.

Uang ku habis, koper yang berisi barang bawaan ku juga hilang. Sepertinya koper itu ketinggalan di taman tempat aku bertemu nyonya ini. Karena terlampau panik, aku melupakan koper tersebut. Alhasil yang ku punya sekarang hanya tas ransel. Benda yang satu itu selalu menempel di punggung ku jadi tidak mungkin tertinggal. Omo, bagaimana dengan foto kesayangan ku? Apakah hilang juga bersama koper? Untungnya tidak, sebab foto tersebut aku masukan dalam ransel.

Masalah ku tambah banyak saja. Di tengah kesibukan mencari tempat tinggal, aku harus menemukan keluarga nyonya ini. Jikalau keluarganya sudah ku temukan, uang dalam dompet ku pasti sudah tak bersisa. Lalu biaya hidup ku diperoleh dari mana? Rumah kontrakan idaman ku harus dibayar pakai apa? Entahlah, aku lelah dengan semua. Biarlah tumpukan masalah ini dilanjutkan esok hari saja.

Kepala ku sudah terasa berat. Pandangan ku mulai berbayang. Kalau gejala seperti ini menyerang, pertanda rasa kantuk telah datang. Aku merebahkan kepala di tepi ranjang. Nyonya ini tampak tertidur lelap jadi ku putuskan untuk beristirahat. Ternyata ada untungnya juga menjadi penjamin. Aku jadi bisa bermalam di kamar rumah sakit secara cuma-cuma. Lambat laun mata ku terpejam hingga tertutup rapat. Kesadaran ku telah pergi karena aku sudah berada dalam dekapan mimpi.

*******

Perlahan raga ku terisi nyawa. Pelan-pelan kelopak mata ku mulai terbuka. Lho, mengapa aku tidur sambil duduk? Di mana aku sekarang? Setelah tertegun beberapa saat, akhirnya aku teringat asal muasal keberadan ku di sini. Aku menginap di rumah sakit untuk menjaga seorang nyonya yang terkena serangan jantung. Lalu bagaimana kabar nyonya itu sekarang?

“Kau sudah bangun?” pertanyaan ku barusan langsung terjawab. Nyonya yang kumaksud sudah siuman.

“Anda sudah sadar, syukurlah” rasa senang dan terkejut campur aduk jadi satu. Aku senang karena nyonya ini kembali membuka matanya. Aku juga terkejut sebab tak mengira ia bangun lebih pagi dari ku.



“Aku akan panggilkan dokter. Suster bilang harus segera melapor saat anda siuman” aku bangkit dari kursi dan hendak keluar.

“Temani haelmoni, nak” tangan ku ditahan olehnya.

“Tapi anda harus diperiksa dokter” jawab ku.

“Haelmoni sudah merasa baikan, nanti saja panggil dokternya” ia bersikeras ingin kutemani.

“Baiklah. Nyonya ingin sesuatu? Minum atau makan?” tawar ku sambil duduk kembali.

“Anhi. Nama mu siapa nak? Haelmoni bermarga Goo. Haelmoni harus memanggil mu apa?” tanyanya.

“Geum Jan Di, nyonya bisa panggil aku Jan Di” jawab ku.

“Gomawo, Jan Di-a. Jika tidak ada kau entah apa yang akan terjadi pada ku” rasa terima kasih darinya ku balas dengan anggukan dan sebuah senyuman kecil.

“Sama-sama, Nyonya Goo” ia mengaku bermarga Goo jadi ku panggil ia Nyonya Goo.

“Seharusnya kau tidak perlu bermalam di rumah sakit. Haelmoni khawatir keluarga mu akan cemas” ia tidak perlu cemas karena aku kan sebatang kara.

“Jan Di-a, setelah keluar dari rumah sakit, boleh haelmoni berkunjung ke rumah mu? Halemoni ingin berterima kasih kepada keluarga mu karena mengizinkan mu bermalam di sini” pintanya. Aku terdiam. Permintaan nyonya Goo mustahil ku kabulkan.

“Jan Di-a, apa kau keberatan dengan maksud haelmoni?” ia kembali bertanya karena aku terus membisu.

“Anhiyo. Hanya saja keinginan nyonya sulit ku penuhi” jawab ku sendu.

“Waeyo?” ia terlihat heran.

“Karena ... karena ... aku tidak punya siapa-siapa ... keluarga ku telah tiada” jawab ku.

“Mwo? Miane. Haelmoni pasti sudah membuat mu sedih” ia terlihat menyesal.

“Gwenchana. Kita baru bertemu jadi wajar saja kalau nyonya tidak tahu” ujar ku.

“Walaupun tidak bisa bertemu keluarga mu tapi haelmoni tetap ingin berkunjung ke rumah mu. Katakan Jan Di-a, dimana rumah mu? Haelmoni ingin lebih mengenalmu” desaknya.

“Aku ... ehm ... rumah ku ... masih dicari” jawab ku.

“Mwo? Apa maksudnya masih dicari?” tanyanya lagi.

“Miane nyonya Goo. Masa lalu ku cukup rumit” ucap ku.

“Serumit apakah?” kening nyonya Goo berkerut menerima jawaban ku.

“Ehmm ... Aku ke toilet dulu. Permisi, nyonya” aku menghindari pertanyaannya dengan cara izin ke toilet.

“Jan Di-a, apa haelmoni menyinggung perasaan mu? Miane, Jan Di-a” ucapannya kudengar sambil berjalan keluar.

Pertanyaan nyonya Goo terlalu menyelidik. Lebih baik aku keluar dan membersihkan diri di toilet. Ku susuri lorong rumah sakit yang menghubungkan dengan toilet. Saat sepertiga lorong ku lewati, tampak segerombolan orang muncul di ujung koridor. Mereka memasuki lorong yang sedang kulewati. Semakin lama jarak kami semakin dekat.

Setelah kuhitung, gerombolan itu berjumlah 8 orang ditambah seorang perawat sebagai petunjuk jalan. Tiga orang terdepan terdiri dari 2 orang pria dan 1 orang wanita. Yang wanita tampak begitu cemas. Dua orang pria yang mengapit wanita tersebut juga terlihat cemas tapi tingkat kecemasannya tidak separah yang wanita. Sepertinya 2 di antara mereka adalah pasangan suami istri. Lalu pria satunya lagi yang berambut lurus mungkin putra mereka. Sedangkan 5 orang yang tersisa kurasa hanya pengawal saja.

Derap langkah gerombolan ini sangat cepat. Sebentar lain tiga orang terdepan dari gerombolan itu akan berpapasan dengan ku. Aku menghentikan langkah dan merapat ke dinding guna mempermudah jalan mereka. Lorong rumah sakit ini terlalu sempit untuk diserbu oleh 8 orang sekaligus.

Aku diam tertunduk saat mereka lewat di hadapan ku. Putra dari suami-istri tersebut menghentikan langkah sejenak di depan ku untuk sedikit membungkukkan badan. Ku rasa ia ingin berterima kasih karena aku memberi jalan untuk mereka. Aku pun membalas bungkukan badannya. Pandangan kami sempat bertemu sesaat. Dari situ asumsi ku di awal ternyata salah. Sepertinya suami-istri tadi bukan orang tua pria ini sebab wajah mereka tidak serupa. Kenapa aku berubah jadi analisator wajah? Lupakan sajalah, tidak penting bagiku. Setelah gerombolan itu berlalu, ku lanjutkan langkah yang tertunda. Aku kembali ke tujuan asal. Toilet. Aku perlu membasuh muka dengan air.

*******

Pintu kamar pasien terbuka. Tiga orang masuk ke dalam.

“Jan Di-a, kau sudah kembali nak” Goo haelmoni mengira Jan Di lah yang datang.

“Omma, syukurlah kami bisa menemukan mu” ucap orang yang baru datang.

“Kalian ...” ternyata bukan Jan Di yang datang melainkan Mr. Goo, Mrs. Goo dan Ji Hoo.

“Miane, omma. Harusnya aku tidak meninggalkan omma di restoran” sesal Mrs. Goo.

“Menantu bodoh. Buat apa menyalahkan dirimu. Toh, aku baik-baik saja” hibur Goo haelmoni.

“Apa yang omma rasakan sekarang? Masih sulit bernapas?” tanya Mr. Goo.

“Anhi. Aku baik-baik saja. Untung ada peri penyelamat” ucap Goo haelmoni.

“Siapa peri penyelamat?” tanya Mrs. Goo.

“Seorang gadis manis. Dia yang sudah menyelamatkan ku dan membawa ku ke rumah sakit. Dia bahkan menjaga ku semalaman” urai Goo haelmoni.

“Dimana dia?” tanya Mrs. Goo.

“Sedang ke toilet. Sebentar lagi mungkin kembali” jawab Goo haelmoni.

“Kita tidak bisa lama-lama di sini. Kami berniat membawa omma sekarang juga. Omma harus segera ditangani dr. Han, beliau lebih tahu seluk beluk penyakit omma”  ujar Mr. Goo.

“Tunggulah sebentar dia akan segera kembali. Aku ingin berpamitan dulu dengannya” ucap Goo haelmoni.

“Anhi. Kita harus pergi sekarang juga. Kesehatan omma lebih penting. Masalah gadis itu biar Ji Hoo yang mengurus” desak Mr. Goo.

“Paman benar. Haelmoni pergilah. Aku akan menemukan gadis itu” sambung Ji Hoo.

“Aigoo, kalian ini ... baiklah. Ji Hoo-a, tolong cari gadis yang telah menyelamatkan haelmoni. Gadis itu bermata besar. Kulitnya putih bersih, lebih putih dari orang kebanyakan. Rambutnya lurus sebahu. Ia menguncir sedikit rambutnya ke samping atas. Lalu gadis itu memakai rok kotak-kotak merah dan kaos berwarna cream bergaris horizontal” urai Goo halemoni.

“Sepertinya aku pernah melihat dia ...” ucap Ji Hoo pelan.

“Ji Hoo-a, dengar tidak ucapan haelmoni” Goo haelmoni menegur Ji Hoo yang terlihat melamun.

“Ne. Aku paham ciri-ciri gadis yang haelmoni deskripsikan” jawab Ji Hoo.

“Kalau sudah ketemu, bawa Jan Di ke rumah. Haelmoni belum puas bertatap muka dengannya” ujar Goo haelmoni.

“Jan Di?” tanya Ji Hoo heran.

“Ne. Nama gadis itu Jan Di. GEUM JAN DI” tukas Goo haelmoni tegas.

“Arasso, haelmo. Aku pasti membawa Jan Di ke hadapan haelmoni” janji Ji Hoo.

“Gomawo Ji Hoo-a. Haelmoni selalu memberimu pekerjaan sulit” sambung Goo haelmoni.

“Anhi. Tugas dari haelmoni tidak menyulitkan. Justru tugas dari Jun Pyo yang sering membuatku gelang-geleng kepala” jawab Ji Hoo sambil tersenyum.

Setelah itu Mr dan Mrs Goo membawa Goo haelmoni keluar dari rumah sakit. Sedangkan Ji Hoo belum meninggalkan rumah sakit guna menemukan Jan Di.

*******

Segaaaar. Aku merasa lebih segar setelah membasuh muka dengan air. Heran. Kenapa nyonya Goo begitu tertarik dengan hidup ku? Dia terlalu ingin tahu. Padahal kan jalan hidup ku tidak menarik sama sekali. Setelah ini biar aku yang gantian menanyai dia. Aku akan bertanya siapa keluarganya dan di mana rumahnya. Dengan begitu aku bisa mengabari keluarganya.

Jangan-jangan dia sebatang kara juga. Sama seperti diriku ini. Mungkin itu sebabnya dia antusias terhadap kehidupan ku karena latar belakang kami sama. Tapi mustahil. Nyonya Goo terlihat dari kalangan berkelas. Baju yang dikenakannya kurasa sangat mahal. Tatanan rambutnya seperti hasil karya hair stylist papan atas. Jadi tidak mungkin dia tidak punya keluarga. Dari pada menerka-nerka lebih baik ku tanya langsung padanya.

Aku beranjak dari wastafel menuju pintu. Ku buka pintu toilet namun segera ku tutup lagi. Aku urungkan niat untuk keluar dari kamar mandi. Pemandangan di luar sana sungguh mengejutkan. Nyonya Goo dibawa oleh gerombolan orang yang berpapasan dengan ku di lorong tadi. Siapa mereka? Penculik? Tapi dokter dan suster rumah sakit ini ikut mengantar nyonya Goo. Kalau mereka adalah gerombolan penculik tentunya tidak dibiarkan begitu saja oleh pihak rumah sakit. Pasti mereka adalah keluarga nyonya Goo. Syukurlah dia sudah kembali pada keluarganya.

Pintu toilet ku buka sedikit. Iring-ringan yang menjemput nyonya Goo sudah berjalan hingga ambang gerbang rumah sakit. Aku memutuskan keluar dari toilet dan menguntit mereka dari kejauhan. Nyonya Goo dan keluarganya masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian roda mobil pun berputar hingga meninggalkan rumah sakit.

Satu ... Dua ... Tiga. Ku hitung jumlah mobil yang menjemput nyonya Goo. Ada 3 mobil mewah bercat hitam keluar dari halaman rumah sakit. Dua orang pengawal naik di mobil pertama, nyonya Goo dan pasangan suami-istri naik di mobil kedua, lalu 3 orang pengawal naik di mobil ke tiga. Sepertinya kurang satu orang.

“Anyonghaseyo, Geum Jan Di-ssi” suara asing dari belakang mengejutkan keseriusan ku menguntit kepergian nyonya Goo. Aku sempat terlonjak dibuatnya. Segera saja ku balikkan badan untuk mencari tahu siapa yang mengejutkan ku.

“A ... A ... Anyong ... haseyo” kegugupan ku karena ketangkap basah sedang menguntit orang tercermin dalam ucapan ku yang terbata-bata.

Aku tidak berkedip menatap wajah di depan ku. Wajah ini pernah ku lihat sebelumnya. Kami berpapasan di lorong rumah sakit saat aku hendak ke toilet. Dia termasuk ke dalam iring-iringan yang menjemput nyonya Goo. Tapi kenapa dia masih di sini? Nyonya Goo dan yang lainnya sudah pulang. Apa dia tercecar dari rombongannya?

“Agashi yang bernama Geum Jan Di kan?” tanya pria ini.

Seingat ku saat kami berpapasan hanya saling membungkukan badan. Aku tidak menyebutkan nama. Dari mana dia tahu nama ku? Aku tidak memakai name tag. Aku juga tidak mengalungi ID card.

“Ne. Aku Geum Jan Di” jawab ku.

“Ternyata benar. Maaf telah membuat anda terkejut. Kenalkan nama ku Yoon Ji Hoo” tangan kanannya terulur pada ku. Dengan ragu kusambut jabatan tangannya.

“Anda ada perlu apa?” tanya ku.

“Saya perwakilan Goo haelmoni, wanita yang anda selamatkan” jawabnya.

“Lalu?” tanya ku lagi.

“Mohon anda ikut saya” pintanya.

“Kemana?” belum juga dia menjawab pikiran ku sudah berasumsi macam-macam.

“Goo haelmoni mengundang anda bertandang ke rumahnya” jelas pria bermarga Yoon ini.

“Dalam rangka apa?” tanya ku.

“Beliau ingin berterima kasih kepada anda” jawab tuan Yoon.

“Nyonya Goo sudah melakukannya, tidak perlu diulang lagi” ku kibaskan tangan kepadanya.

“Putra dan menantu Goo haelmoni juga ingin bertatap muka dengan anda” alasan pria ini bertambah.

“Mianhe, aku masih ada urusan. Sampaikan saja salam ku pada nyonya Goo dan keluarganya. Mereka tidak perlu merasa hutang budi pada ku” ajakannya ku tolak sehalus mungkin.

“Tolonglah, agashi. Penuhi permintaan Goo haelmoni. Beliau sangat ingin bertemu dengan anda. Jika keinginannya ini tidak terkabul, beliau bisa terkena serangan jantung lagi” papar tuan Yoon.

“Mwo! Arasso. Aku akan ikut dengan mu, tuan” aku langsung nurut padanya. Entah hanya gertakan atau memang kenyataan, yang jelas ucapan tuan Yoon barusan membuat ku ketakutan. Dari pada penyakit jantung nyonya Goo kambuh lebih baik ku turuti kemauannya. Bahaya jika nyonya Goo benar-benar terkena serangan lagi, bisa-bisa aku yang disalahkan karena tidak memenuhi keinginannya.

“Gomawo” ucap tuan Yoon sambil tersenyum manis. Aku jadi kikuk menerima senyuman semanis itu.

*******


chapter yg membosankan ya [sweat] terlalu bertele2 dan ga ada si keriting jun pyo
smoga pada ga kecewa [sweat]