Author Topic: Be Strong, Jan Di ~ masih bukan chapter masih bukan spoiler..OMG ~  (Read 53379 times)

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 3, 3 Oct 2010 ~
« Reply #150 on: November 15, 2010, 03:08:11 pm »

Liko sist, annyeong :)
sama kek yg laen,ditunggu update-an nya  [smiley]

‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

gwendolyn

  • Guest
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 3, 3 Oct 2010 ~
« Reply #151 on: November 16, 2010, 07:20:20 am »
sist liko.......... [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]

hehehe,,, update ya say,,,,,, gumawo...... [i love you] [i love you] [i love you] [i love you]

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 3, 3 Oct 2010 ~
« Reply #152 on: December 06, 2010, 04:49:24 am »
liko ini kapan di Update.............. hammer2 hammer2 hammer2
UPDATE  [smiley-gen013] punk UPDATE [smiley-gen013] punk UPDATE  [smiley-gen013]  punk UPDATE [smiley-gen013]  punk
                                               [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 3, 3 Oct 2010 ~
« Reply #153 on: December 06, 2010, 09:24:49 am »
tau aja yg ini mau diupdate  [hmff] tp besok ya mumpung besok tanggal merah jd bs aku kebut malam ini [biggrin]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 3, 3 Oct 2010 ~
« Reply #154 on: December 06, 2010, 08:11:40 pm »
tau aja yg ini mau diupdate  [hmff] tp besok ya mumpung besok tanggal merah jd bs aku kebut malam ini [biggrin]
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Song hye sun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 46
  • nomu.nomu.nomu chuaaaa
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 3, 3 Oct 2010 ~
« Reply #155 on: December 07, 2010, 05:36:20 am »
anyong^^   [flowers] [flowers]
liko ayo dong tepati janjinya untuk update ff ini,,udah lebih 1 bulann,pengen liat jundi again.. [cry] [cry]
semangat [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

you and i together it's just feel so right

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 3, 3 Oct 2010 ~
« Reply #156 on: December 07, 2010, 06:37:01 am »
iya...iya...sebentar lg diupdate  [biggrin]

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 3, 3 Oct 2010 ~
« Reply #157 on: December 07, 2010, 07:30:07 am »
liko sista katanya mau diupdate mana sist...kutagih janjimu

UPDATE.......UPDATE....UPDATE.....
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 3, 3 Oct 2010 ~
« Reply #158 on: December 07, 2010, 07:41:02 am »
Chapter 4

Additional Cast


Lee Si Young as Oh Min Ji


Benarkah ini kamar pelayan? Mengapa begitu lux? Ukurannya yang besar dan perabotannya yang lengkap membuat kamar ini tidak pantas dihuni oleh seorang pelayan seperti aku. Ya, mulai sekarang aku menjadi pelayan keluarga Goo. Aku mendapatkan pekerjaan ini sebagai imbalan karena telah menolong Nyonya Goo.

Sehabis dari rumah sakit, aku langsung diboyong Yoon Ji Hoo-ssi menuju rumah keluarga Goo. Di rumah super mewah ini aku dipertemukan dengan Nyonya Goo. Kami berbicara panjang lebar. Begitu mengetahui aku tidak memiliki tempat tinggal, Nyonya Goo memintaku untuk menetap secara cuma-cuma di rumahnya. Tentu saja kutolak. Aku tidak terbiasa hidup berpangku tangan pada orang lain. Tapi Nyonya Goo bersikeras memintaku tinggal dengan dalih ingin membalas jasa ku.

Demi menengahi perbedaan kemauan kami, aku mengajukan win win solution. Aku bersedia menetap di istana Goo asalkan diperkenankan menjadi pelayan mereka. Nyonya Goo sempat tertegun lama mempertimbangkan penawaran ku. Beliau tampaknya tidak tega melihatku menjadi pelayan setelah menerima pertolonganku. Namun akhirnya Nyonya Goo meluluskan permintaan ku. Beliau mendapuk diriku sebagai pelayan tuan muda Goo. Maka di sinilah aku. Bekerja sekaligus tinggal di kediaman Goo.

Walau status pelayan menempel pada diriku, perlakuan yang kuterima tidak seperti pelayan-pelayan lain. Aku difasilitasi oleh sarana yang berlebihan, misalnya saja kamar ini. Putri keturunan Goo lebih pantas atas kamar nan luas dan megah ini dibandingkan aku yang hanya seorang upik abu. Tadinya aku hendak menolak menempati kamar yang berseberangan langsung dengan kamar tuan muda. Tapi tatapan tajam Nyonya Goo sudah keburu menghadang niatku.

Besok aku mulai bekerja. Aku harus segera tidur agar tidak kesiangan di hari pertama ku. Kasur empuk yang dibalut seprei halus sudah siap menemani menyusuri alam mimpi. Segera saja kurebahkan tubuh di atasnya. Ah, nyaman sekali. Aku berguling ke sana ke mari seakan tidak ingin melewati sedikitpun kenyamanan yang ditawarkan kasur mahal ini.

Aigoo, bukannya memudar, pandangan mata ku justru semakin segar. Aku memang tidak pernah bisa langsung menyatu di tempat tinggal baru. Saat pindah ke rumah baru, aku pasti terjaga di malam pertama. Maka jangan heran jika aku belum terlelap karena rasa kantuk tak kunjung hinggap.

Aku bangkit dari kasur lalu berjalan ke luar kamar. Begitu ku tarik handle pintu, kamar doronim langsung tampak di pelupuk mata. Daun pintu kamar itu tertutup rapat. Penghuninya sedang ke Macau. Nyonya Besar bilang, doronim baru akan pulang paling cepat 3 hari lagi.

Kuturuni satu per satu anak tangga berkarpet biru. Tempat yang kutuju adalah dapur. Sebelum sampai di dapur, aku melewati ruang keluarga. Mata ku menemukan ada pelayan sedang berbenah seorang diri di sana.

“Anyonghaseyo” ucap ku sambil melangkah masuk ke ruang keluarga.

“Anyonghaseyo” balas wanita berambut sebahu, sama seperti rambutku bedanya rambut dia bergelombang.

“Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku.

“Ne?” ia keheranan dengan pertanyaanku.

“Kenalkan, nama ku Geum Jan Di” kuulurkan tangan kanan ku. “Aku pelayan baru di sini” sambung ku.

“Aku Oh Min Ji” ia membalas uluran tanganku. “Aku sudah dengar tentang mu. Kau gadis yang menyelamatkan Nyonya Besar, kan?” tanyanya.

“Ne” jawab ku sambil memasang senyum malu.



“Kau butuh sesuatu, Jan Di?” dia bertanya dengan penuh keramahan.

“Anhiyo. Hanya saja aku tidak bisa tidur jadi kuputuskan untuk turun ke bawah. Nona Min Ji, aku …” kalimat ku terpotong.

“Yya, jangan panggil nona. Aku hanya pelayan di sini. Kau bisa memanggilku Min Ji. Atau … panggil onnie juga boleh karena sepertinya aku lebih tua darimu. Jan Di-a, tidak perlu sungkan denganku” kepalanya menggeleng satu kali.

“Arasseo, onnie. Mohon bimbingan onnie” jawab ku dengan diiringi bungkukan badan.

“Aish, sudah kubilang jangan sungkan” protes Min Ji onnie.

“Jan Di-a, kau beruntung sekali. Nyonya Besar sangat memperhatikan mu” sambung Min Ji onnie.

“Beliau terlalu berlebihan. Imbalan darinya tidak setimpal dengan apa yang telah kuperbuat ” urai ku.

“Nyonya Besar memang seperti itu. Oh iya, kudengar kau akan menjadi pelayan pribadi doronim. Benarkah?” tanya Min Ji onnie.

“Ne. Mulai besok aku bertugas melayani tuan muda Goo … Jun … Goo Jun …” bola mataku berputar saat aku berusaha mengingat-ingat nama majikan baru ku.

“TUAN MUDA GOO JUN PYO” Min Ji onnie membantu mengingatkan.

“Ne. Benar. Goo Jun Pyo doronim” ucap ku sambil tersenyum.

“Baru kali ini Jun Pyo doronim punya pelayan pribadi” Min Ji onnie berucap dengan heran.

“Benarkah? Jadi doronim tidak pernah punya pelayan pribadi?” aku tidak percaya dengan info Min Ji onnie.

“Ne, karena percuma saja” jawab Min Ji onnie.

“Waeyo?” aku jadi makin heran.

“Karena doronim jarang sekali di rumah. Waktunya banyak dihabiskan di kantor. Doronim juga sering melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri dalam waktu lama. Jadi percuma saja jika ia punya pelayan pribadi karena pelayan itu akan banyak waktu luangnya” jelas Min Ji onnie.

“Jadi ini maksud Nyonya Besar menjadikan aku pelayan pribadi doronim” ucap ku pelan.

“Kau bilang apa Jan Di?” Min Ji onnie tidak mendengar jelas perkataan ku barusan.

“Anhiyo. Aku hanya tidak menyangka kebiasaan Jun Pyo doronim ternyata seperti itu” jawab ku.

“Mungkin Nyonya Besar sengaja menjadikan mu pelayan doronim agar kau tidak perlu banyak bekerja di rumah ini. Kau kan sudah berjasa pada Nyonya Besar jadi kurasa beliau tidak tega memberikanmu pekerjaan berat” sambung Min Ji onnie.

“Entahlah onnie, yang penting aku ingin bekerja serius di rumah ini” ucap ku dengan penuh semangat.

“Ha ... Ha ... Ha ... aku suka gadis semangat seperti mu” Min Ji onnie melepas tawa renyahnya.



Min Ji onnie merangkul bahuku. Ia membawa tubuh ku berbalik menghadap dinding. “Jun Pyo doronim, anda sangat beruntung mendapat pelayan pribadi seperti Jan Di” ucap Min Ji onnie.

Ku rasa perkataan Min Ji onnie ditujukan untuk doronim. Akan tetapi bukankah doronim tidak ada di rumah. Lalu Min Ji onnie bicara dengan siapa? Aku menoleh ke arah Min Ji onnie. Kudapati kepalanya agak menengadah ke dinding di depan kami. Ada senyum simpul di bibir Min Ji onnie. Sepertinya ada hal yang membuatnya terpukau. Karena penasaran, mata ku mengikuti arah pandang Min Ji onnie.

Napas ku tertahan begitu ikut melihat objek yang sama dengan Min Ji onnie. Di dinding bercat cream tergantung sebuah foto. Wajah pria berambut keriting yang pernah kutemui beberapa kali terpampang jelas di pigura itu.



“o ... o ... onnie ... si ... si ... siapa orang ini?” tanya ku panik.

“Majikan mu. Dia adalah Jun Pyo doronim” jawab Min Ji onnie.

“MWO?!” teriak ku dengan mata terbuka lebar.

*******

Jun Pyo mendarat di landasan Incheon. Ia melewati pintu VIP dan langsung menuju mobil. Sekretaris Park dan 3 orang bodyguard mengapit langkah Jun Pyo dengan ketat.

“Anda mau langsung ke rumah, doronim?” tanya Sekeretaris Park saat Jun Pyo sudah berada dalam mobil.

“Ne” jawab Jun Pyo. “Anhi ... Anhi ... Aku ingin mampir dulu” ralat Jun Pyo.

“Jalankan mobil sesuai rute menuju Shinhwa” sambung Jun Pyo.

“Arasso. Aku akan menyuruh penjaga membuka gerbang Shinhwa untuk anda” jawab Sekretaris Park.

“Tidak perlu” cegah Jun Pyo.

“Ne?” Sekretaris Park bertanya heran.

“Apa aku bilang akan ke Shinhwa? Aku minta dibawa menuju rute Shinhwa bukan ingin datang ke Shinhwa. Arasso!” ujar Jun Pyo dengan agak ketus.



“Ne. Ageshimida” angguk Sekretaris Park.

Mobil yang ditumpangi Jun Pyo melaju mulus di jalanan beraspal hitam. Kemacetan tak terasa karena malam sudah meraja.

“Kurangi kecepatan” seru Jun Pyo 30 menit kemudian.

“Ambil jalur lambat. Kita lewati bahu jalan saja” pinta Jun Pyo sambil menyisir barisan toko yang berdiri di sisi kanan jalan.

“STOP!” teriak Jun Pyo tiba-tiba. Dengan seketika sopir menginjak pedal rem. Mobil berhenti mendadak hingga membuat tubuh Jun Pyo terdorong ke depan.

“Mianhe, doronim” sang sopir mengemis maaf Jun Pyo. Ia khawatir cara mengemudinya bakal melukai Jun Pyo. Akan tetapi kekhawatiran sopir tidak digubris oleh Jun Pyo. Tuan mudanya ini sudah meninggalkan mobil dan tengah sibuk mengitari toko.

“Maaf doronim. Apa yang anda cari?” tanya Sekretaris Park yang terus mengikuti Jun Pyo.

“Toko bubur” jawab Jun Pyo sambil tetap berkeliling.

“Akan kusuruh Pelayan Jang menyiapkan bubur special untuk Anda” tawaran Sekretaris Park dijadikan angin lalu oleh Jun Pyo.

“Aku yakin toko itu di sini tapi mengapa sekarang tidak ada ...” gumam Jun Pyo setibanya di depan tempat kerja Jan Di. Rumah makan itu sudah berubah. Bubur tidak lagi diperdagangkan di sana. Puluhan tusuk bakso ikan berjejer rapi menggantikan menu andalan toko tersebut.

“Selamat datang. Tuan mau pesan berapa tusuk?” seorang pramuniaga berinisiatif menyambut Jun Pyo yang terlihat berdiri mematung di depan toko.

Jun Pyo masuk ke dalam. Hanya 5 menit ia bertahan di sana. Jun Pyo gagal mengorek info perihal keberadaan toko bubur beserta pelayannya. Yang Jun Pyo tahu dari pramuniaga itu adalah toko bubur telah dijual kepada majikan si pramuniaga.

Sekeluarnya dari bekas toko bubur, Jun Pyo menaiki mobil dengan tergesa. “Kita ke rumah Ga Eul” pinta Jun Pyo.

“Rumah Ga ... Eul ... ?” entah sudah berapa kali Sekretaris Park dibuat binggung oleh tuan mudanya.

“Cepat jalankan mobil. Belok kanan setelah lampu merah di depan” instruksi Jun Pyo dengan tak sabaran.

“Baik, doronim” angguk sopir pribadi Jun Pyo.

Lima belas menit kemudian, Jun Pyo tiba di depan rumah bercat putih. Seluruh penerangan di rumah itu tidak diaktifkan. Hanya satu lampu taman saja yang menyala. Bel kecil pada sudut pintu ditekan oleh jari Jun Pyo. Tidak ada jawaban dari pemilik rumah. Jun Pyo menekan berulang-ulang bel tersebut tapi tetap tak ada tanggapan dari siapa pun.

“Yya, buka pintunya” teriak Jun Pyo sambil menggedor-gedor pintu rumah Ga Eul.

“Doronim, hentikan” pinta Sekretaris Park.

“YYA, CEPAT BUKA PINTUNYA” teriakan Jun Pyo bertambah keras. Pintu rumah Ga Eul terus-menerus digedor Jun Pyo.

“Saya mohon hentikan doronim. Ku rasa penghuni rumah ini sedang tidak ada” Sekretaris Park menahan kepalan tangan Jun Pyo. Tubuh jangkung Jun Pyo dibawa masuk ke dalam mobil oleh Sekretaris Park. Amukan Jun Pyo berhasil diredam setelah Sekretaris Park berusaha keras.

“Di mana kau Geum Jan Di” ucap Jun Pyo lirih dengan tangan terkepal dan wajah tertunduk lunglai.



*******

“Itu adalah foto Jun Pyo doronim” tukas Min Ji onnie lagi.

“MWORAGU!!!” lengkingan suara ku memecah kesunyian malam.

“Jan Di-a, waegude?” Nyonya Besar yang kebetulan melintas di depan ruang keluarga ternyata mendengar teriakan ku.

“a ... a ... anhiyo ...” sanggah ku dengan gugup. “Anda belum tidur, Nyonya?” tanya ku.

“Tadi siang aku terlalu banyak tidur. Jadi sepertinya malam ini menantu ku terpaksa bergadang” ucap Nyonya Besar sambil melirik Nyonya Goo yang memapahnya menuju kursi.

“Omma teman bergadang yang menyenangkan” senyum teduh Nyonya Goo merekah indah.

“Nyonya Besar, bagaimana jika aku menjadi pelayan pribadi anda saja? Aku terbiasa tidur larut jadi tak masalah jika harus menemani Anda bergadang” alibi sempurna ini cocok untuk menghindari jabatan sebagai pelayan doronim.

“Mwo? Jan Di-a, kau akan kerepotan mengurus nenek tua seperti aku” ucap Nyonya Besar.

“Anhi. Aku justru senang bisa melayani anda” semoga bujuk rayu ku berhasil merubah pendirian Nyonya Besar.

“Aku ingin kau menjadi teman ku bukan pelayan ku” jawab Nyonya Besar.

“Jan Di-a, omma sudah punya banyak pelayan. Tidak ada lowongan untuk pelayan baru omma” canda Nyonya Goo.

“Tapi, aku ingin ...” suara ku memelan. Nyonya Besar memandang ku dengan tatapan tajam. Sorot matanya seakan berkata ‘Jangan membantah lagi’.

“Arasso” dengan lemas kupatuhi keputusan Nyonya Besar. Rayuan ku gagal total. Nyonya Besar sulit diintimidasi.



Oh, Tuhan. Kenapa membawa ku dalam situasi seperti ini. Apa jadinya jika doronim tahu aku adalah pelayannya. Aku tidak punya muka untuk menghadapi dia setelah pertemuan terakhir kami. Perlakuan ku padanya tidak bisa ditolerir. Setelah menghadang mobilnya, aku malah memberikan tamparan telak. Padahal dia sudah berbaik hati memberiku tumpangan gratis. Perbuatan ku sangat tidak sopan. Mau dipasang di sebalah mana wajah ku ini? Aigoo, apa yang harus aku lakukan? Omma, ottoke?

*******

Jun Pyo pulang dibalut dengan rasa suntuk. Sekretaris Park tanpa kenal lelah terus setia mengikuti Jun Pyo hingga masuk ke dalam rumah.

“Sekretaris Park, temui aku besok pagi. Ada misi rahasia untuk mu. Aku ingin kau mencari jejak seseorang” perintah Jun Pyo.

“Arasso, doronim” angguk Sekretaris Park.

“Ingat, PAGI. Kau harus tiba di rumah ini SEPAGI MUNGKIN” Jun Pyo memberi penekanan pada kalimatnya.

“Ne. Ageshimida” jawab Sekretaris Park yang membuntuti Jun Pyo hingga ke ruang keluarga.

Jun Pyo melewati depan ruang keluarga. Ia berlalu begitu saja tanpa memperhatikan isi dalam ruangan tersebut.

“Jun Pyo-a, kau sudah pulang” tegur Mrs. Goo. Mendengar panggilan ommanya, Jun Pyo langsung berbalik menuju ruang keluarga.

“Omma?” Jun Pyo berjalan mendekati Mrs. Goo. Ia tidak menyangka ommanya belum masuk kamar padahal hari sudah sangat larut.

“Haelmoni?” Jun Pyo juga tak menduga ternyata neneknya belum pergi tidur.

Hanya 2 orang ini yang tertangkap jelas oleh mata letih Jun Pyo. Padahal masih ada 2 pelayan di ruangan itu namun Jun Pyo tidak terlalu memperdulikannya. Posisi Jun Pyo yang duduk membelakangi 2 pelayan tersebut, makin membuat Jun Pyo tidak mengindahkan keberadaan pelayan-pelayannya.

Meski luput dari pandangan Jun Pyo, kedua pelayan ini tetap setia berdiri di belakang majikan mereka. Pelayan pertama bersikap sempurna dengan maksimal sedangkan pelayan kedua membenamkan kepalanya dengan optimal.



“Bagaimana? Urusan di Macau lancar-lancar saja kan?” tanya Mrs. Goo pada Jun Pyo yang sekarang sudah bersandar di dada wanita itu.

“Ehm, pekerjaan di Macau beres semua. Omma bogoshipo” ucap Jun Pyo sambil mempererat pelukan.

“Aigoo, apa jadinya jika karyawan Shinhwa tahu ‘belang’ mu” sindir Goo haelmoni.

“Haelmoni jangan mennggoda ku seperti itu” protes Jun Pyo.

“Kalau kau bisa bersikap dewasa, haelmoni akan berhenti menggodamu” tantang Goo haelmoni.

Mrs. Goo hanya tersenyum menyaksikan perdebatan putra dan ibu mertuanya. Begitu pula dengan salah satu pelayan yang berada di ruangan itu. Pelayan berseragam hitam-putih ini sudah hafal akan sifat asli Jun Pyo. Ia terkekeh kecil menyaksikan tingkah sang majikan.

Bagaimana dengan pelayan satunya lagi? Si pelayan baru ini masih enggan mengangkat wajah pucatnya. Meski terus menunduk tapi ia tetap menyimak pembicaraan yang sedang berlangsung. Fakta baru seputar kelakuan majikannya membuat gadis berkulit putih ini terbengong-bengong sejenak.

“Jun Pyo-a, kenapa kau sudah pulang? Bukankah kau bilang akan pulang 3 hari lagi? Apa ada yang tidak beres dengan kesehatan mu?” tanya Mrs. Goo dengan nada khawatir.

“Putra omma ini sehat-sehat saja. Ada hal penting yang harus kuurus di Seoul jadi kuputuskan pulang lebih cepat” jawab Jun Pyo.

“Kebetulan sekali kau sudah pulang” ucap Goo haelmoni.

“Kebetulan kenapa?” tanya Jun Pyo.

“Haelmoni baru saja merekrut seorang pelayan untuk mu” jawab Goo haelmoni.

“Pelayan?” tanya Jun Pyo yang masih betah bersandar dalam pelukan sang bunda.

“Aku tidak butuh pelayan, aku hanya butuh omma seorang” Jun Pyo membawa tangan Mrs. Goo menuju rambut keritingnya. Kalau sudah begini artinya Jun Pyo minta dibelai oleh Mrs. Goo. Sambil mengulum senyum, Mrs. Goo menuruti kemauan Jun Pyo. Belaian lembut sarat kasih sayang segera diberikan Mrs. Goo untuk putra tunggalnya itu.

“Oh, Tuhan ku. Ibu dan anak sama saja” Goo haelmoni mengomentari kekompakan cucu dan menantunya. Mereka sungguh kompak dalam hal manja-manjaan.

Kemanjaan Jun Pyo sebenarnya bisa diminimalisir andai saja Mrs. Goo mau diajak kerja sama. Goo halemoni telah berulang kali mengingatkan Mrs. Goo untuk tidak meladeni sifat manja Jun Pyo. Namun sayangnya saat gelagat manja Jun Pyo keluar, Mrs Goo dengan senang hati menyambutnya.

“Jan Di-a, harap maklumi sifat cucu ku ini” ujar Goo haelmoni pada pelayan yang berdiri tepat di belakang Jun Pyo.

“Jan Di?” gumam Jun Pyo sambil mengerutkan sepasang alis tebalnya.

“Ne. Jan Di adalah pelayan baru mu. Sebenarnya Jan Di adalah tamu kehormatan halemoni. Tapi karena dia memaksa untuk bekerja di sini jadi haelmoni putuskan untuk mengangkat Jan Di sebagai pelayan mu” urai Goo haelmoni.

“Jan ... Di ...” Jun Pyo memperdalam kerutan di keningnya.

“Ne. Jan Di. Dia ada di belakang mu” Goo haelmoni mengarahkan telunjuknya ke belakang Jun Pyo.


*******

Andwe! Jangan menoleh ke belakang. Aku belum siap dia tahu kenyataan pahit ini. Pelayan baru untuknya adalah aku. Si Geum Jan Di yang sudah lancang menghadang laju mobilnya lalu menampar pipinya. Apa yang terjadi jika ia tahu aku lah pelayan baru itu? Dia pasti akan menelanku bulat-bulat. Omma, bawa aku dari tempat ini.

Dengan malas dia mengangkat kepalanya yang bersandar di dada Mrs. Goo. Aduh, aduh, matanya mulai melirik. Ku pendamkan wajah ini dalam-dalam. Perlahan tapi pasti pandanganya mengarah ke diriku. Dan ... Tadaaa!



Matanya sudah jatuh tepat di wajah ku. Loh, tidak ada reaksi apapun darinya. Syukurlah, dia tidak menyadari siapa diriku. Mungkin dia sudah lupa padaku. Fuih, leganya. Ku hembuskan napas yang dari tadi tak bisa terlepas bebas. Kelegaan menyeruak seketika. Omo, kelegaan itu hanya mampir sebentar. Dia kembali berpaling ke arah ku. Kali ini dia menoleh dengan kecepatan maksimal.

“KAU!” pekiknya dengan histeris.

“Anyonghaseyo, doronim” aku berusaha tenang walau situasi sedang tegang. Mulai detik ini mau tidak mau aku harus memanggilnya doronim. Goo Jun Pyo doronim.

“Bukankah kau si pengendara sepeda yang waktu itu?” tanya doronim.

“Jun Pyo-a, kau kenal Jan Di?” sambung Mrs. Goo sambil membelai rambut doronim.

“A ... A ... Anhiyo ... Hanya saja ...” sanggah doronim.

“Hanya saja apa?” Nyonya Besar tidak sabaran menghadapi omongan doronim yang bertele-tele.

“Jun Pyo-a, waegude? Kenapa wajah mu tiba-tiba memucat?” kali ini belaian Mrs. Goo berpindah ke pipi doronim.

“Omma! Jangan begitu, aku bukan anak kecil” tepis doronim.

Loh, ada apa ini? Bukannya tadi doronim sendiri yang memulai manja-manjaan dengan Mrs. Goo. Lalu sekarang kenapa ia justru mati-matian menolak ???

Aku mengamati perubahan perilaku doronim yang drastis. Ia terlihat salah tingkah. Doronim sepertinya berusaha menutupi sifat aslinya. Tapi mengapa? Dan untuk apa? Entahlah, aku hanya bisa mengangkat bahu untuk 2 pertanyaan itu.

“Jun Pyo-a, baik-baiklah terhadap Jan Di. Seperti yang haelmoni katakan tadi, Jan Di adalah tamu istimewa kita karena dia penyelamat halemoni jadi kau dilarang macam-macam padanya. Arasso!” ujar Nyonya Besar tegas.

“Ne. Arasso” jawab doronim lemas.

“Jan Di-a, kalau kau kesulitan menghadapi Jun Pyo cepat laporkan pada halemoni” ucap Nyonya Besar pada ku.

“Ne. Ageshimida” jawabku dibarengi bungkukan badan.

Suasana hening sejenak. Kami larut dalam pikiran masing-masing. Mrs. Goo belum selesai mengamati perubahan sikap doronim. Nyonya Besar sedang menyeruput teh buatan Min Ji onnie. Lalu doronim? Dia seperti orang linglung. Aku tidak bisa menebak isi kepalanya. Sebenarnya aku ingin tahu apakah dia suka atau tidak pada jabatan baru ku sebagai pelayan pribadinya. Pabo, Jan Di-a. Tentu saja dia tidak suka!

“Omma, haelmoni, aku istirahat dulu. Selamat malam” doronim pamit pada omma dan haelmoninya. Ia memutuskan meninggalkan ruang keluarga.

“Ne, tidurlah. Kami juga akan segera pergi tidur” jawab Mrs. Goo.

“Dan kau. Ikut aku ke kamar” doronim memerintah ku ikut bersamanya ke kamar.

“Ne?” aku berusaha meyakinkan bahwa doronim tidak salah ucap.

“Iya, kau. Cepat ikut bersama ku” ulang doronim sambil keluar meninggalkan ruang keluarga. Aku membungkuk pada Nyonya Besar dan Mrs. Goo kemudian berlari mengikuti langkah doronim.

“Aneh. Biasanya Jun Pyo selalu menyodorkan keningnya untuk ku kecup sebelum ia pergi tidur. Tapi kenapa sekarang tidak lagi?” gumaman pelan Mrs. Goo sempat tertangkap telinga ku. Ia tampak kebingungan dengan perubahan sikap doronim.

Saat doronim hendak menaiki tangga, seorang pria berjas hitam menghampirinya. “Saya mohon diri dulu. Saya akan kembali besok pagi untuk menerima misi dari anda” ucap pria berjas hitam itu.

Langkah doronim berhenti sesaat. “Tidak perlu, Sekretaris Park” ucap doronim pada pria berambut cepak yang ternyata adalah sekretaris doronim.

“Misi dibatalkan!” sambung doronim sambil menatap tajam pada ku seolah aku ini penyebab batalnya misi doronim.

*******

Doronim masuk ke kamar diiukuti oleh diriku yang tak bosan-bosannya menatap lantai. Aku baru tergiur untuk berhenti menunduk setelah berada dalam kamar doronim. Ya Tuhan, ini kamar atau hall? Jika hanya untuk menampung satu orang saja, kamar ini terlalu luas. Berada dalam kamar doronim yang super besar membuat ku seperti kurcaci kerdil.

“Aku lapar. Buatkan Tagliatelle“ ucapan doronim membuyarkan ketakjuban ku akan kamarnya.

“tag ... tagli ... mwo?” entah apa yang diucapkan doronim barusan. Lidah ku kerepotan mengucapkannya.

“Tagliatelle” ulang doronim.

Makanan macam apa itu? Baru dengar aku ada makanan seperti itu. Jangankan membuatnya, melafalkannya saja aku tak mampu. Aneh-aneh saja selera makan doronim ini.

“Mianhe. Aku tidak bisa membuat masakan seperti itu” dari pada sok tahu lebih aman jujur saja. Moga-moga saja doronim memecatku karena tidak becus dalam hal makanan.

“Kalau begitu buatkan aku Fettuccine” pinta doronim. Omo, makanan aneh apa lagi yang dipesan doronim. Kali ini aku tidak menjawab.

“Waeyo? Kau juga tidak bisa membuatkan Fettuccine?” aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan doronim.

“Bagaimana dengan Fusilli? Bisa kau buatkan untukku?” tanya doronim. Aku menggeleng dengan lemas.

“Linguine?” doronim kembali bertanya dan aku pun kembali menggeleng.

“Vermicelli?” doronim mengganti pesanannya tapi lagi-lagi gelengan kepala yang kusuguhkan.

“Yya, sebenarnya kau ini bisa masak apa?” emosi doronim mulai tersulut. Ia tampak kesal dengan sikap ku. Tapi memang inikan yang ku tunggu. Berharap doronim marah lalu memecatku.

“Mianhe” ucap ku lirih.

“Aku ingin makan pasta. Terserah mau kau olah pasta menjadi apa. Yang penting buatkan aku makanan dengan bahan dasar pasta” ujar doronim.

“Pas .. ta ...?” tanya ku.

“Ne. Pasta. Sejenis mie atau semacam ramen” jelas doronim.

“Arasso” aku membungkuk lalu keluar dari kamar doronim



Ternyata ramen. Kalau hanya ramen aku sih pakarnya. Kenapa dari awal doronim tidak langsung bilang ramen. Bikin orang pusing saja.

Dua puluh menit kemudian aku kembali ke kamar doronim. Saat aku masuk, doronim tengah fokus pada kerta-kertas putih yang ku tak tahu apa isinya.

“Letakkan saja di meja” perintah doronim tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya. Doronim mengambil pulpen kemudian membubuhkan paraf di atas kertas yang tadi diperiksanya. Setelah itu dia bangkit lalu berjalan menuju meja yang terdapat masakanku.

“Apa ini?” tanya doronim setelah membuka tutup mangkok yang kusuguhkan.

“Ramen” jawab ku singkat.

“Mana pasta yang ku minta?” tagih doronim.

“Kemampuan memasakku hanya sebatas mengolah ramen. Aku buta sama sekali tentang pasta dan makanan-makanan lain yang anda pesan tadi. Mianhamnida” ucap ku.

Plang. Tutup mangkok itu diletakkan dengan kasar hingga menimbulkan suara nyaring. Doronim menutup kembali mangkok berisi ramen. Ia batal menyantap masakanku. Setelah itu doronim menghembuskan napas dengan susah payah. Ku rasa ia tengah mati-matian menahan luapan emosinya.

“Kau boleh istirahat” ujar doronim.

“Ne. Ramen ini akan saya bawa ke dapur saja” aku berinisiatif membenahi ramen yang tidak menggugah selera makan doronim.

“Tidak perlu. Sudah sana pergilah tidur” perintah dorornim.

“Ne. Selamat malam, doronim” pamit ku.

“Chakamanyo...” perkataan doronim menahan langkah kakiku.

“Pindahkan semua barang-barang mu ke kamar yang ada di seberang kamar ku. Mulai sekarang kau menempati kamar itu supaya aku jadi lebih mudah memanggilmu jika perlu sesuatu” ucap doronim.

“Nyonya Besar memang sudah menempatkan ku di kamar itu” jawab ku.

“MWO?” doronim agak terkejut dengan tindakan Nyonya Besar. “Kalau begitu bagus. Sekarang tidurlah” sambung doronim yang kini kembali berkutat dengan kertas-kertasnya.

Aku memutar badan setelah membungkuk satu kali. Doronim terlihat serius mengamati berkas pekerjaannya. Pemecatan yang sangat kuharapkan tidak terjadi. Mungkin saja besok. Ya, barangkali aku akan dipecat esok hari. Berkas yang sedang diteliti doronim mungkin adalah surat PHK untuk ku. Semoga saja demikian.

*******

Sepeninggal Jan Di, Jun Pyo langsung menghamburkan lembaran-lembaran kertas yang sedari tadi pura-pura ia amati. Senyuman manis terpampang jelas di wajah Jun Pyo. Tak disangka tak diduga. Gadis yang selama ini ia cari-cari ternyata berada dalam rumahnya sendiri.

“Tidak akan kubiarkan kau pergi lagi” gumam Jun Pyo. Senyuman di birbirnya masih terbentuk, bahkan senyum itu makin lama kian melebar.

Jun Pyo bangkit dari kursi lalu berjalan mendekati mangkok berisi ramen buatan Jan Di. Tangan kiri Jun Pyo mengangkat mangkok sedangkan tangan kanannya memegang sumpit. Jun Pyo langsung melahap ramen dengan rakusnya. Dan lagi-lagi Jun Pyo mengulum senyum. Di sela waktu makannya, Jun Pyo menyelingi dengan tawa sumringah.



Tidak sampai 5 menit ramen karya Jan Di ludes diserbu Jun Pyo. Kuah ramen pun tak luput diseruput Jun Pyo hingga tetes kuah penghabisan. Meski makan malam Jun Pyo diisi dengan menu ala kadarnya, namun hidangan pada malam itu terasa amat special. Pasalnya si pembuat hidangan adalah gadis pertama yang sanggup meniupkan napas kebahagiaan ke dalam bilik hati Si Manja Goo Jun Pyo.

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 4, 7 Dec 2010 ~
« Reply #159 on: December 07, 2010, 07:54:40 am »
gomawo sist dah di update punk
sista liko kau baik hati sekali  [cheekkiss]  [cheekkiss]
kayaknya jd jadi pembantu di rumah jp ya  [heh]
blm bisa comment baca dulu ya kaburrrrrrrrrrrrrrr...
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 4, 7 Dec 2010 ~
« Reply #160 on: December 07, 2010, 09:14:02 am »
thanks liko cayang [hmpfh] [hmpfh]

wowww kadar manja junpyo [hmff] [hmff] lucunya, pas kelihatan ama jandi lgs menghilang [laughing] anak manja pingin kelihatan dewasa, susah deh whistling whistling ..
wah wah moment2nya jundi bakal byk nih setelah tinggal bersama (berseberangan kamar lg [hmff] [hmff] )

update lagi dong say [on] [hmpfh] [hmpfh] kaborrrrrrrrrr [bye]
« Last Edit: December 07, 2010, 09:34:23 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 4, 7 Dec 2010 ~
« Reply #161 on: December 07, 2010, 09:26:08 am »
Gumawo sist uda d update [flowers]     
       
i like this chap [lovestruck]    sweet + cute bnget dech. . .   
Aha, jun pyo ini malu" meong dech [hmff]      tp kasian mrs. Goo [cry]       
hoho. Ky'a jun pyo bkal betah d rmh nie [hmff]      jun pyo uda naksir berat ya sist ama jandi? [what]     
       
d tunggu next chap'a. Hwaiting!! [clap] [clap]

nanaa46

  • Guest
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 4, 7 Dec 2010 ~
« Reply #162 on: December 07, 2010, 10:01:48 am »
Gumawo sist uda d update [flowers]     
       
i like this chap [lovestruck]    sweet + cute bnget dech. . .   
Aha, jun pyo ini malu" meong dech [hmff]      tp kasian mrs. Goo [cry]       
hoho. Ky'a jun pyo bkal betah d rmh nie [hmff]      jun pyo uda naksir berat ya sist ama jandi? [what]     
       
d tunggu next chap'a. Hwaiting!! [clap] [clap]
, Yup setuju ma Vian... di FF ini karakter Jun Pyo lain dari yang lain, dia anak mami banget,
so sweet,
 n dia malu gitu pas dia terlalu manja ma mami nya, ehhh ketauan gitu ma Jan Di,,, LOL....
sepertinya Jun Pyo emang udah Cinta Hidup ...   gitu ma Jan Di, dari pada cinta mati LOL, kasihan kan jun pyo,,,
Bakalan jadi romance antara main ma majikan nehhh,
eh sist Liko buat aja tuu si jandi nga bisa berkutik n terus terusan jadi bulan bulanan si Jun Pyo,,,,
ya biar ada alasan wat Jun Pyo semakin dekat ma jan Di,,, ih emang maid yg satu itu bikin majikan klengerrrr,

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 4, 7 Dec 2010 ~
« Reply #163 on: December 07, 2010, 04:25:33 pm »
gomawo sist liko uda updatee :
junpyo doronim manja bet  [hmpfh]
lgs sok cool bgituw taw ada Jandi [hmpfh] ksiyan omma-nya yg blom taw apa-2  [laughing]

di tunggu update-nya lg sist, lebi panjang lebi baek, lebi cepet lebi bagus [hmff]

‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 4, 7 Dec 2010 ~
« Reply #164 on: December 07, 2010, 07:58:33 pm »
tengkyu liko udah diupdate [lovestruck] [lovestruck]

jiaaahhhhh si jp manjanya ga ketulungan tp begitu liat jd langsung sok2an dewasa dasar anak mami [hmpfh] [laughing]
mantaffff de hari2 jp bs sama2 jd trs pasti mintanya yg aneh2 de belagak sok cool gt tp dlmnya girang bgt [smiley-dance013]


ADAM COUPLE SELCA