Author Topic: Be Strong, Jan Di ~ masih bukan chapter masih bukan spoiler..OMG ~  (Read 54171 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 4, 7 Dec 2010 ~
« Reply #180 on: December 23, 2010, 09:47:07 am »
ADA YG INGIN BE STRONGGGGGGGGGGGG   [AddEmoticons04234]
ANGKAT TANGAN TINGGI-TINGGI "SAYA!!!!!!"
update malam ini ya [hmpfh] [hmpfh]

oh, iya mam, iya iya. Malam ini update. Long chap pula. Stay tune ya... *digorok liko* [hmpfh]
ok [lovestruck] [lovestruck] --disembelih liko [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 4, 7 Dec 2010 ~
« Reply #181 on: December 23, 2010, 10:18:05 am »

saiaaa jugaa maw sist likooo * angkat tangan ga pake kaki* [rofl]
update maelm iniii y?? [smiley-gen013]

‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 4, 7 Dec 2010 ~
« Reply #182 on: December 23, 2010, 10:19:54 am »
mami, voldi terimalah ini  [guns] [guns] [guns] [head break] [head break] [head break]


saiaaa jugaa maw sist likooo * angkat tangan ga pake kaki* [rofl]

angkat kaki jatoh dong  [hmff]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 4, 7 Dec 2010 ~
« Reply #183 on: December 23, 2010, 10:31:24 am »
mami, voldi terimalah ini  [guns] [guns] [guns] [head break] [head break] [head break]


saiaaa jugaa maw sist likooo * angkat tangan ga pake kaki* [rofl]

angkat kaki jatoh dong  [hmff]
mana nih updateannya [head break] [head break]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 4, 7 Dec 2010 ~
« Reply #184 on: December 23, 2010, 10:37:55 am »
CHAPTER 5


Malam bergulir, pagi pun hadir. Kicauan burung mengalun merdu membentuk simfoni nan syahdu. Sinar mentari menyusupi sela-sela dedaunan. Cahayanya terhalang kerimbunan pohon yang tertata apik di taman nan asri milik keluarga Goo. Jun Pyo melangkah di atas hamparan rumput hijau. Ia mendekati bangku taman yang diduduki seorang wanita berparas ayu. Jun Pyo berjalan sambil memandangi wajah perempuan yang masih terlihat cantik walau usianya terus merangkak naik.

“Selamat pagi, omma” sapa Jun Pyo.

“Pagi, sayang. Wajah mu cerah sekali. Pasti semalam kau bermimpi indah” terka Mrs Goo.

“Anhi. Semalam aku tidak memimpikan apa pun” sanggah Jun Pyo.

“Jeongmal? Lantas apa yang membuatmu berseri-seri?” selidik Mrs Goo.

“Ehmmm ... mungkin karena suasana hati ku sedang baik” jawab Jun Pyo.

“Penyebabnya?” tanya Mrs Goo

“Karena aku punya ibu sebaik omma” ucap Jun Pyo yang dibarengi dengan memeluk erat Mrs Goo.

“Kau ini ... pagi-pagi sudah kumat” goda Mrs Goo.

“Biar saja” ujar Jun Pyo sambil merebahkan badan di pangkuan Mrs Goo.

“Omma, sudah lama telingaku tidak omma bersihkan” Jun Pyo menyerahkan cotton buds yang ia bawa dari kamar.

“Salah mu sendiri yang jarang di rumah” Mrs Goo menyentil pelan hidung bangir Jun Pyo. “Miringkan badan mu. Biar omma bersihkan sekarang” sambung Mrs Goo.

Jun Pyo memiringkan badan sementara Mrs Goo mengeluarkan sebatang cotton buds. Tubuh Mrs Goo dibungkukan sedikit. Ia hendak memasukkan cotton buds ke lubang telinga Jun Pyo namun tiba-tiba Jun Pyo bangkit dari pangkuannya.

“Waeyo?” tanya Mrs Goo bingung.

Jun Pyo menolehkan kepala ke kanan, ke kiri lalu ke belakang. “Jun Pyo-a, apa yang kau cari, nak?” tanya Mrs Goo lagi.

“Omma hanya sendirian di sini kan?” Jun Pyo balik bertanya.

“Ne. Dari tadi omma hanya seorang diri di taman ini” jawab Mrs Goo.

“Tidak ditemani pelayan?” tanya Jun Pyo.

“Anhi. Tidak ada pelayan bersama omma” jelas Mrs Goo. “Mereka sedang menyiapkan makanan” sambung Mrs Goo.

“Mereka?” Jun Pyo penasaran siapa yang dimaksud dengan mereka.

“Ne. Pelayan Jang sedang menyiapkan sarapan dibantu Min Ji, Seo Hyun, Tae Yeon dan …” ucapan Mrs Goo terhenti.

“Dan siapa???” mata Jun Pyo tak berkedip menantikan kelanjutan jawaban Mrs Goo.

“Dan … Jan Di” lanjut Mrs Goo.

“ooo ..” ucap Jun Pyo lumayan panjang. “Kalau begitu aman” sambungnya lagi.

“Aman? Apa yang aman?” tanya Mrs Goo.

“Anhi. Omma, lekas bersihkan telinga ku” kilah Jun Pyo.

Jun Pyo kembali rebahan di pangkuan ommanya. Mrs Goo mulai membersihkan telinga Jun Pyo, walau sebenarnya ia agak keheranan dengan tingkah Jun Pyo. Dengan hati-hati Mrs Goo memasukkan cotton buds ke lubang telinga Jun Pyo.

*******

Selesai. Tugas ku membantu Min Ji onnie menata meja makan sudah beres. Piring, gelas, sendok, garpu, sumpit telah duduk manis di posisinya masing-masing. Beragam makanan berpenampilan lezat tersaji di atas meja makan panjang. Dasar orang kaya, santap pagi saja semewah ini. Mereka mau sarapan atau jamuan resepsi pernikahan.

Berada di depan meja makan ini seperti sedang berwisata kuliner. Pasalnya jenis makanan yang dibuat chef pribadi keluarga Goo banyak sekali. Mulai dari makanan khas Korea hingga masakan manca negara ada semua. Termasuk makanan yang dipesan doronim tadi malam. Yang namanya sulit diucapkan itu, tagli … tagli … tagli apa ya? Aigoo, sampai sekarang nama masakan itu tidak bersahabat dengan lidah ku.

“Jan Di-a, tolong panggilkan Mrs Goo dan doronim. Mereka ada di taman. Nyonya Besar sedang menuju ruang makan. Tidak baik membiarkan beliau menunggu Mrs Goo dan doronim terlalu lama” tiba-tiba Min Ji onnie memegang bahu ku lalu mengarahkan tubuh ku berjalan ke taman.

“Cepat sana” Min Ji onnie mempertegas ucapannya hingga membuat ku tak bisa mengelak.

Ku turuti instruksi Min Ji onnie. Ruang makan aku tinggalkan, taman belakang aku singgahi. Mataku langsung terpukau begitu tiba di taman. Kulihat doronim sedang berbaring di pangkuan Mrs Goo. Mereka menyuguhkan keakraban ibu dan anak yang sangat kuidamkan. Kalau saja aku dibekali peralatan lukis, objek di depan ku ini akan segera ku abadikan di atas kanvas. Sudah lama aku mencari moment demikian. Sekalinya dapat, aku sedang bekerja. Sepertinya aku kurang beruntung.

“Sarapan pagi sudah siap. Nyonya Besar menunggu anda berdua di meja makan” ucap ku setibanya di hadapan doronim dan Mrs Goo.

Doronim melonjak kaget dengan kehadiran ku. Ia langsung berdiri saat melihat ku. Wajahnya menyemu merah. Doronim terlihat begitu galau seakan ada aib yang semestinya tidak aku ketahui.



“Yya, lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk” tegur doronim. Pintu? Inikan di taman. Mana ada pintu yang bisa ku ketuk di sini.

“Joesonghabnida” ujar ku.

“Gwenchana” Mrs Goo membelaku.

“Jan Di-a, kembalilah ke ruang makan. Kami akan segera menyusul” sambung Mrs Goo.

“Ne” aku membungkuk sekali lalu meninggalkan pasangan ibu dan anak ini.

Doronim, kau membuatku iri. Iri karena di sampingmu ada sesosok ibu yang jempolan. Iri karena kau diasupi kasih sayang ibu yang bertubi. Iri karena kau bebas menikmati belaian hangat dari wanita yang telah menghadirkan mu ke dunia. Iri karena kau disertai bidadari yang tak pernah cuti menjaga mu dikala sakit, menghibur mu dikala sulit, mendoakan mu dikala masalah melilit.

Andai aku jadi doronim, akan aku pamerkan kemesaraan ku bersama omma. Tapi yang doronim lakukan justru sebaliknya. Doronim berusaha membungkus rapat suatu hal yang ku rasa sangat memikat untuk dilihat. Jujur saja aku pun tercegang saat pertama kali memergoki tingkah manja doronim. Tapi setelah ku pikir lagi memang apa salahnya bergelayut manja pada sang bunda. Apa karena faktor usia? Jangan ambil pusing dengan yang satu itu. Bersikap saja apa adanya. Doronim tidak perlu menyembunyikan apapun, terlebih di depan ku yang hanya seorang upik abu.

*******

Selepas sarapan, Jun Pyo langsung meluncur menuju Shinhwa. Segudang tugas dan setumpuk pekerjaan sudah menanti di sana. Jun Pyo menapaki gedung Shinhwa dengan wajah cerah ceria. Kalau sudah berada di areal Shinhwa, wibawa dan kharisma Jun Pyo hadir seketika. Karyawan Shinhwa dibuat takluk dengan sejuta pesona penuh wibawa dari Jun Pyo. Bungkukan hormat dari para bawahan dibalas Jun Pyo dengan senyuman manis.



“Jun Pyo-a, ternyata kau sudah kembali” suara tak asing di telinga Jun Pyo terdengar menyapanya.

“Ji Hoo …” sapa Jun Pyo sambil menepuk bahu Ji Hoo.

“Kapan kau pulang?” tanya Ji Hoo.

“Semalam” jawab Jun Pyo.

“Bukankah seharusnya kau pulang 3 hari lagi?” tanya Ji Hoo penasaran.

“Aku mempercepat kepulangan” jawab Jun Pyo.

“Waeyo?” selidik Ji Hoo.

“Ada hal penting yang harus ku urus” jawab Jun Pyo.

“Hal penting?” kening Ji Hoo berkerut. “Hal penting apa yang kau maksud. Seingatku tidak ada agenda mendesak di Shinhwa” sambung Ji Hoo.

“Rahasia” jawab Jun Pyo dengan penuh misterius.

“Yya, sejak kapan kau main rahasia-rahasiaan dengan ku” protes Ji Hoo.

“Dan sejak kapan kau jadi banyak tanya seperti ini?” balas Jun Pyo.

Sekretaris Park tersenyum melihat obrolan ringan tersebut. Percakapan yang dibumbui canda tawa ini tak berlangsung lama. Jun Pyo segera membawa pembicaraan ke seputar Shinhwa. Jika topik ini sudah diangkat Jun Pyo, Ji Hoo tak dapat menghindari pertanyaan dan opini kritis dari atasannya itu. Maka bergulirlah diskusi panjang dan lebar antara Jun Pyo dan Ji Hoo.

*******

Sepeninggal doronim, aku melanjutkan tugas membersihkan kamarnya. Tidak banyak barang yang harus kubereskan. Semua barang terlihat menempati posisinya masing-masing. Ku rasa doronim orang yang rapi. Ia sepertinya langsung mengembalikan barang ke tempat semula begitu selesai menggunakan barang tersebut.

Tempat tidur doronim pun tidak terlalu berantakan. Hanya sedikit bagian seprei yang menjuntai keluar. Bantal dan guling juga telah berada pada posisi yang tepat. Ku kira akan memakan banyak waktu untuk membereskan kamar super luas ini. Ternyata kurang dari sepuluh menit pekerjaan ku telah rampung.

Setelah tempat tidur dan meja kerja doronim selesai kubereskan, aku hendak meninggalkan kamar doronim. Sebelum pergi aku mendekati meja dan mengambil mangkok yang berada di atasnya. Mangkok tersebut berisi ramen yang kubuat semalam. Aku keluar dari kamar bersama mangkok ramen.

Aku berjalan menuju dapur. Sampai di dapur, aku mengarah ke tong sampah. Ku injak pedal tong sampah hingga tong sampah itu menganga. Ku angkat tutup mangkok agar bisa membuang ramen yang pasti sudah basi.

“Mwo! Ramennya pergi ke mana?” tanya ku dengan agak berteriak. Min Ji onnie yang sedang mencuci piring menjadi kaget.

“Ramen apa maksudmu?” tanya Min Ji onnie.

“Ramen untuk doronim. Tadi malam aku mebuatkan ramen untuk doronim tapi kenapa sekarang tidak ada” ujar ku heran.

“Pasti sudah dimakan doronim” terka Min Ji onnie.

“Mustahil!” sanggah ku yakin.

“Waeyo?” tanya Min Ji onnie.

“Karena aku salah bikin masakan” jawab ku malu.

“Maksudmu?” tanya Min Ji onnie.

“Doronim minta dibuatkan tag … tagli …” lagi-lagi nama makanan aneh itu tak bisa keluar dari mulutku.

“Tagliatelle” timpal Min Ji onnie.

“Ne…Ne…Benar, itu maksud ku” sambung ku.

“Lalu?” Min Ji onnie minta penjelasan lebih lanjut.

“Karena aku tidak tahu tata cara membuatnya jadi kumasakan ramen. Doronim bilang masakan itu sejenis pasta atau mie jadi untuk menggantikannya aku bikinkan ramen saja” urai ku.

“MWO?! Kau mengganti tagliatelle dengan ramen! Ha … Ha … Ha …” tawa Min Ji onnie membahana.

“Onnie…jangan menertawaiku seperti itu” meski sadar bahwa aku salah, tapi aku tidak rela dijadikan bahan tawaan.

“Mian…Mian…Aku tak bermaksud menggodamu” dengan susah payah Min Ji onnie menahan ledakan tawanya.

“Jan Di-a, mau ku ajarkan cara membuat tagliatelle?” tawar Min Ji onnie.

“Tentu saja mau” ucap ku antusias.

Setelah itu aku mengambil kursus kilat pada Min Ji onnie. Senior ku ini sungguh baik hati. Dengan sabar ia menerangkan tata cara pembuatan tagliatelle. Aku mencermati tiap ucapan yang dikeluarkan Min Ji onnie. Aku belajar membuat tagliatelle dengan serius sampai lupa memikirkan kemana larinya ramen buatanku.

*******

Hari sudah bergulir setengahnya. Jun Pyo masih berkutat dengan berkas-berkas yang antri minta ditandatangani.

Tok…Tok…Tok…Pintu ruang kerja Jun Pyo diketuk 3 kali.

“Masuk” jawab Jun Pyo sambil membubuhkan paraf.

Pintu terbuka, Sekretaris Park terlihat di ambang pintu. Ia berjalan mendekati meja kerja Jun Pyo. “Maaf mengganggu. Doronim ingin saya pesankan apa untuk menu makan siang?” tanya Sekretaris Park.

Jun Pyo tidak langsung menjawab. Ia merasa tawaran makan siang Sekretaris Park terlalu dini. Jun Pyo melirik jam kecil di sudut meja. Ternyata sekretarisnya tidak salah. Waktu saat ini memang sudah mendekati jam makan saing.

Jun Pyo membawa punggungnya bersandar ke kursi. Matanya menerawang memikirkan makanan apa yang tepat untuk mengisi perutnya. Setelah beberapa menit berpikir, bibir Jun Pyo menyunggingkan senyuman tipis.

“Aku mau ramen” ucap Jun Pyo.

“Ne?!” Sekretaris Park terlihat tidak percaya dengan pendengarannya.

“Ramen kataku” ulang Jun Pyo.

“Arasso. Akan ku minta Pelayan Jang menyiapkannya” jawab Sekretaris Park.

“Anhi. Aku mau ramen buatan Jan Di” ujar Jun Pyo.

“Jan Di?” tanya Sekretaris Park.

“Ne. Jan Di, pelayan pribadi ku. Beri tahu Jan Di, aku ingin makan ramen seperti yang ia buatkan semalam” jawab Jun Pyo.

“Ne. Agashimida” Sekretaris Park membungkuk sekali lalu berjalan mundur menjauhi Jun Pyo.

“Chakaman …” tahan Jun Pyo.

“Ada lagi yang anda butuhkan, doronim?” tanya Sekeretaris Park.

“Jangan hanya ramennya saja yang dibawa padaku” ujar Jun Pyo.

“Maksud anda?” tanya Sekretaris Park.

“Bawa serta Jan Di ke sini” jawab Jun Pyo.

“Arasso. Saya akan menyuruh Jan Di datang” ucap Sekretaris Park.

“Kau sendiri yang harus menjemput Jan Di” perintah Jun Pyo.

“Agashimida” Sekretaris Park tak berani membantah perintah Jun Pyo. Ia langsung bertolak ke rumah keluarga Goo untuk menjemput Jan Di beserta ramennya.

*******

“Jan Di-a, lukisan mu indah sekali” puji Nyonya Besar.

“Anhiyo. Lukisan Nyonya Besar jauh lebih indah” aku balik memuji Nyonya Besar.

Setelah belajar membuat tagliatelle, aku menggantikan tugas Mrs Goo menemani Nyonya Besar melukis. Ternyata kami menyukai bidang yang sama. Beliau menekuni hobi ini sejak doronim belum lahir. Beberapa lukisan yang dipajang di rumah ini merupakan hasil goresan kuas Nyonya Besar. Awalnya aku hanya diminta menemani beliau melukis. Namun karena aku keceplosan bercerita bahwa aku juga bisa melukis, Nyonya Besar meminta ku ikut melukis bersamanya.

“Siapa yangmengajari mu melukis?” tanya Nyonya Besar.

“Tidak ada” jawab ku.

“Jeongmal. Aku tak percaya. Kua pasti didaftarkan kursus lukis oleh ibumu” terka Nyonya Besar.

“Anhiyo. Aku tidak pernah ikut kursus seperti itu” sanggah ku. “Sejak kecil aku sering membuat coretan tak beraturan. Lambat laun aku kembangkan hingga menjadi sebuah gambar” jelas ku.

“Tidak ada yang mengajarimu?” tanya Nyonya Besar.

“Ne. Aku belajar sendiri” jawab ku.

“Luar biasa. Aku tak menyangka lukisan ini lahir dari seorang autodidak” puji Nyonya Besar sambil mengamati lukisan buatan ku.

“Appa bilang, bakat ku ini menurun dari omma” ungkap ku jujur.

“Berarti kau sering melukis bersama omma mu?” tanya Nyonya Besar. Aku tertunduk membisu.

“Mianhe, Jan Di. Halemoni tidak bermaksud mengungkit kesedihan mu” sesal Nyonya Besar.

“Gwenchana. Hanya saja pertanyaan anda sangat sesuai dengan keinginan ku yang tak pernah jadi nyata. Tuhan tidak memberikan kesempatan kepada ku dan omma untuk melukis bersama. Omma sudah keburu …” ucapan ku terhenti. Aku gagal curhat pada Nyonya Besar.

“Ternyata omma di sini” ucap Mrs Goo. Kedatangan Mrs Goo memotong perkataanku.

“Gomawo, Jan Di. Kau sudah menemani omma melukis selama aku pergi” ujar Mrs Goo.

“Tidak perlu sungkan. Aku senang menemani Nyonya Besar” jawab ku. “Karena anda telah kembali, aku akan meninggalkan kalian. Jika perlu sesuatu panggil saja aku” sambung ku.

Aku mohon diri dari hadapan Nyonya Besar dan Mrs Goo. Karena tadi sempat menyinggung tentang omma, perasaan ku kembali teriris. Rasa rindu yang kuredam selama puluhan tahun kembali membuncah. Sepertinya Nyonya Besar bisa menangkap api rindu di mataku. Beliau seolah ingin menahan ku di ruangan itu agar aku bisa berbagi cerita dengannya. Tapi mungkin ia tahan karena tidak ingin membuka luka lama ku.

Aku keluar dari studio lukis Nyonya Besar sambil berjalan tertunduk. Langkah demi langkah kulalui tanpa energi. Kalau sudah teringat akan omma perasaan ku langsung berubah sendu. Aku berjalan tanpa koordinasi yang baik akibatnya … dug … aku menabrak seseorang.

“Joesonghabnida” aku langsung membungkuk pada orang yang ku tabrak.

“Gwenchana. Lain kali berhati-hatilah” jawab orang yang ku tabrak.

“Agashimida” ucap ku.

“Apa kau yang bernama Jan Di?” tanya orang tersebut.

“Ne, saya Jan Di” jawab ku. Jangan heran jika orang yang kutabrak tahu namaku karena dia adalah sekretarisnya doronim yang kulihat semalam.

“Perkenalkan, saya sekretarisnya doronim. Saya bermarga Park” Sekretaris Park mengajak ku bersalaman.

Selesai berjabat tangan, Sekretaris Park berucap lagi.“Doronim minta dibuatkan ramen” ujarnya.

“Mwo?!” tanyaku tak percaya.

*******

Satu jam kemudian aku sudah mengijakkan kaki di gedung megah Shinhwa. Seragam hitam-putih yang ku pakai mengundang banyak pasang mata. Karyawan Shinhwa menatap heran ke arah ku sejak aku turun dari mobil doronim. Mereka tak henti berbisik. Walau omongan mereka tidak sanggup aku jangkau, tapi percayalah bahwa pembicaraan mereka berputar pada satu tema. Topik yang diusung pastilah aku –si upik abu– yang mestinya tidak berkeliaran di perkantoran ini.

Kasak-kusuk para bawahan doronim aku biarkan pergi bersama angin lalu. Padanganku tidak melirik sama sekali ke arah mereka. Mataku terus tertuju pada langkah kaki Sekretaris Park. Aku berjalan tertunduk sambil memeluk erat kotak makan berisi ramen. Sesampainya di depan ruang doronim, Sekretaris Park langsung membawa ku masuk.

“Aku ingin masalah ini segera clear …” doronim tampak serius berbicara di telepon. Keseriusan doronim agak berkurang saat kedatangan ku. Doronim melihat sekilas ke arah ku sebelum melanjutkan pembicaraan dengan orang di ujung telepon.

“Waktu kalian 1 kali 24 jam. Jika masih ada ketidakberesan pada proyek ini, surat pengunduran diri kalian harus ada di meja ku besok pagi. Arasso” pembicaraan disudahi sepihak oleh doronim.

“Ada masalah, doronim?” tanya Sekretaris Park setelah doronim selesai menelepon.

“Ne, semoga segera teratasi” jawab doronim sembari menekan pelipis kanannya.

“Kau bawa pesanan ku?” sambung doronim.

“Ne, reman anda sudah siap” jawab Sekretaris Park.

“Aku bertanya pada dia” ucap doronim. Tatapan doronim terjurus pada ku guna menjelaskan siapa yang dimaksud dengan dia.

“Jan Di-a, doronim bertanya padamu” tegur Sekeretaris Park.

“Ramen pesanan anda sudah saya buatkan, doronim” jawab ku. Kotak makan yang sedari tadi berada dalam pelukan ku, kini sudah aku letakkan di meja bersofa cokelat.

Ku buka penutup kotak makan. Ramen yang masih hangat terlihat mengepulkan uap. “Silahkan” tawar ku.

Doronim pindah dari kursi kerja menuju sofa. “Kau boleh keluar” perintah doronim. Aku dan Sekretaris Park membungkuk bersama lalu berjalan menuju pintu keluar.

Kami baru mundur 3 langkah namun suara doronim kembali memecah. “Yya, Geum Jan Di! Siapa yang menyuruh mu keluar juga?!” seru doronim.

“Ne? Joesonghabnida” sesal ku.

“Jan Di-a, temani doronim makan siang. Layani dengan baik” pesan Sekretaris Park sebelum meninggalkan aku dan doronim di ruangan ini. Kini yang tersisa hanya kami, majikan dan pelayannya.

“Aku baru tahu ternyata kau hobi berdiri dengan wajah tertunduk” ucap doronim sambil meniup uap panas ramen.



“Ne?” tanya ku.

“Duduk” jawab doronim sambil mengarahkan wajah ke tempat kosong di sampingnya.

“Gwenchana. Saya berdiri saja” tolak ku halus.

“Jangan membantah” sambung doronim cepat. Aku turuti kemauan doronim. Walau sofa di depan doronim kosong, aku memilih duduk di samping doronim sesuai permintaannya.

Menit berikutnya berlalu tanpa ada interaksi antara kami. Aku diam tak bergerak mendampingi doronim menyantap makan siangnya. Begitu ramen habis, segelas air putih kusuguhkan ke hadapan doronim. Tangan doronim langsung menyambar gelas dan meminum isinya hingga setengah. Doronim meletakkan gelas yang masih berisi air. Kemudian ia menyilangkan kaki sambil merentangkan tangan di atas sandaran sofa. Tangan itu hampir saja menyentuh pundak ku andai aku tidak sigap menyudut ke pojok sofa.

Entah apa yang dipandangi doronim saat ini. Dari posisi duduk yang menyerong ke arah ku, sepertinya doronim sedang memandangi aku. Anhi! Jangan ge-er Jan Di! Pasti ada yang menarik di belakang ku hingga doronim melihat ke situ. Aku hanya bisa menebak tanpa ada minat mencari tahu. Aku tak bernyali untuk menyelidiki. Pandangan ku jatuh ke bawah tertuju pada ujung sepatu doronim.

“Yya, apa itu?” telunjuk doronim mengarah padaku. Ada bercak merah di seragam ku.

“i … i … itu mungkin bekas cat” jawab ku gugup.

“Cat? Apa kau mengecat kamar ku?” tuduh doronim.

“Anhiyo. Tadi saya habis melukis bersama Nyonya Besar” sanggah ku.

“Kau bisa melukis?” tanya doronim.

“Ne, walaupun tidak sebagus lukisan Nyonya Besar” jawab ku.

“Tentu saja. Lukisan haelmoni tak ada tandingannya” puji doronim.

“Kebetulan sekali kau tahu tentang lukisan. Ikut aku. Kita keluar sekarang” ajak doronim.

Aku tidak segera mengikuti langkah doronim yang sudah bergerak lebih dulu menuju pintu. Doronim menarik gagang pintu namun tidak langsung ke luar.

“Biarkan saja. Kita harus pergi sekarang” cegah doronim saat aku hendak memberekan kotak makan siangnya.

“Ne” ku tinggalkan kotak makan di atas meja. Kaki ku melangkah cepat menuju doronim yang menunggu di ambang pintu.

Seketaris Park menghampiri doronim. Ia mengikuti kami. “Aku keluar sebentar. Siapkan mobil, biar aku yang menyetir” ucap doronim.

“Saya akan mengikuti mobil anda” jawab Sekretaris Park

“Tidak perlu kawal aku” larang doronim.

“Tapi doronim, saya tidak tenang membiarkan anda keluar tanpa pengawalan” ujar Sekretaris Park.

“Aku bisa jaga diri” jawab doronim.

“Baiklah. Mohon anda kembali sebelum jam 3 sore untuk menghadiri rapat dengan Tuan Kim” Sekeretaris Park mengingatkan agenda penting doronim.

“Arasso” jawab doronim sambil terus melangkah.

Sampai di pelataran Shinhwa, mobil doronim sudah menanti. Seorang doorman membukakan pintu mobil di bagian bangku kemudi. Dengan segala hormat, doorman itu mempersilahkan doronim menaiki mobil. Bukannya masuk mobil, doronim malah membukakan pintu dulu untuk ku.

“Naiklah” doronim menyuruh ku duduk di depan, di samping kursi kemudi.

“Ne” dengan canggung ku turuti omongan doronim.

Sejujurnya, aku merasa tidak pantas berada satu mobil dengan doronim. Apalagi sampai duduk di sampingnya, tak pernah terpikirkan sama sekali. Membayangkanya saja aku tidak berani. Aku memang pernah satu mobil dengan doronim tapi saat itu bukanlah diri ku yang sesugguhnya. Geum Jan Di yang waktu itu adalah Geum Jan Di yang sedang kerasukan.

*******

Sepanjang perjalanan mulut ku terkunci mati. Doronim pun demikian. Ia fokus pada kemudi tanpa menghiraukan keberadaan ku di sampingnya. Tiga puluh menit kemudian doronim menghentikan mobil di parkiran sebuah butik.

Doronim keluar dengan tergesa. Ku lihat ia sedikit berlari memutari mobil bagian depan. Tiba di samping mobil, doronim membukakan pintu. “Kita mampir dulu ke butik. Turunlah” ucap doronim.

“Gamsahabnida” special service dari doronim membuat ku bergidik.

Doronim menutup pintu mobil begitu aku keluar. Ia berjalan masuk butik sementara aku menjadi ekornya.

“Selamat datang. Tuan Goo ingin cari apa?” sapaan ramah pelayan butik langsung menyambut kedatangan doronim.

“Di mana majikan mu?” tanya doronim.

“Saya di sini” pemilik butik menyeruak keluar saat tahu doronim datang. Wanita seumuran Mrs Goo ini terlihat bangga atas kedatangan seorang tamu berdarah Goo.

“Angin apa yang membawa tuan muda Jun Pyo menyambangi butik sederhana saya” pemilik butik bahkan sampai merendah. Menurut hematku – yang awam perihal fashion – butik ini adalah butik kelas satu. Gaun-gaun yang dipakai patung peraga terlihat begitu fantastis, dan ku rasa harganya pasti bombastis.

“Dandani dia” doronim meraih bahu ku lalu membawa tubuh ku ke hadapan pemilik butik.



“di … di … dia?” kulihat banyak tanda tanya di atas kepala pemilik butik. Tapi tanda tanya yang dia punya tidak seberapa dibanding tanda tanya milikku.

“Benar. Dia customer kalian, layani dengan sopan” tukas doronim. “Pilihkan gaun terbaik koleksi butik ini” sambung doronim.

“Arasso” jawab pemilik butik. “Silahkan ikut saya. Akan saya tunjukkan gaun terbaik di sini” pemilik butik mengajak ku melihat-lihat.

“Doronim …” aku menoleh ke doronim. Maksud hati ingin menolak tapi doronim tidak sependapat.

“Gwenchana. Ikutlah bersamanya” doronim berusaha menenangkan. “Seragam mu kena cat. Ganti baju dulu. Ppalli” tangan doronim terkibas-kibas mengusir ku.

Alasan doronim kurang berlogika. Kalau hanya noda cat, dibasuh dengan air juga hilang, tidak perlu membawa ku ke butik. Karena tak ada daya menolak, aku pun pasrah saja dipermak.

Pertama, aku disuguhkan gaun indah beraneka warna. Kedua, aku diminta memilih aksesoris bermacam rupa. “Terserah anda saja, yang mana pun boleh asal murah” ucap ku tak mau repot.



Setengah jam kemudian aku sudah berdiri di depan cermin besar. Seorang gadis bergaun hitam selutut dengan rambut lurus sebahu memandangi ku dari dalam cermin. Gadis itu selalu saja mengikuti gerak-gerik ku. Saat aku meraba wajah, dia melakukan hal yang sama. Ketika aku membelai rambut, dia juga mengikut. Bagaimana kami bisa sekompak ini? Omo, ternyata dia adalah bayangan ku sendiri.

Aku menahan napas melihat perubahan yang ku alami. Itik sudah disulap menjadi angsa. Ku amati lagi penampilan baru ku. Tangan ku meraba gaun, sangat lembut dan halus. Ups, ada yang menempel di gaun ini. Ku tarik perlahan, ternyata hanya sebuah label bertuliskan angka 3 dan beberapa angka nol. OMO! Apa ini?! Gaun yang ku pakai dibandrol dengan harga 3 juta won!!!

“Sudah selesai?” pertanyaan doronim membuyarkan keterpanaan ku pada harga busana.

“Doronim, apa maksud …” ucapan ku berhenti karena heran melihat cara memandang doronim. Ia menatap ku seolah aku ini barang langka yang baru ditemukan setelah hilang berabad lamanya.



“Ehem …” aku pura-pura berdehem. Doronim sedikit terperanjat kemudian segera berlalu ke meja kasir. Mau tidak mau aku mengikutinya.

“Masukan semuanya ke tagihan ku” ucap doronim pada pemilik butik.

“Arasso. Mendandani nona ini tidak sulit” jawab pemilik butik pada doronim. “Lain kali mampir ke sini lagi, nona” sambungnya pada ku.

TIDAK AKAN’ gerutu ku dalam hati.

“Ayo jalan” ajak doronim.

Baru 3 langkah aku berjalan, doronim tiba-tiba berhenti. Doronim meraih sebuah topi dari kepala patung kemudian dipindahkan ke atas kepala ku.

“Bagus juga” ujar doronim.



Aku melepaskan topi lalu menyodorkan ke dada doronim dengan kasar. “APA MAKSUD ANDA?” bentak ku.

“Waeyo?” tanya doronim.

“Apa maksud semua ini? Menyuruh datang ke Shinhwa, membawa ke butik mewah, membelikan gaun mahal. Setelah ini tujuan kita kamar hotel kan?” omelan ku tak terbendung lagi.

“MWO?! Ha … Ha … Ha …” doronim tertawa geli.

“wae … wae … waeyo …?” emosi ku tiba-tiba menyurut berganti rasa gugup.

“Haelmoni minta dibelikan cat lukis tapi aku tidak bisa memilih cat yang berkualitas. Karena kau tahu tentang lukisan, jadi aku ingin membeli cat lukis bersama mu agar kau bisa memilihkan untukku” papar doronim. “Kalau tentang baju, aku membelikannya karena seragam mu kotor, tidak sedap dilihat. Puas dengan penjelasan ku, Geum Jan Di-ssi” sambung doronim.

“mi-ya-ne” ucap ku malu.

Doronim tersenyum penuh kemenangan. “Aku bukan pria macam itu” tukas doronim dengan tegas.

Topi yang tadi ku lepas, dipakaikan lagi. Doronim agak menekan kepala ku saat memakaikan topi, mungkin pertanda kekesalannya.

“Masukan topi ini dalam tagihan ku juga” ucap doronim pada pemilik butik.

“Ne” pemilik butik menganguk dan tersenyum lebar.

Setelah itu doronim melangkah keluar tanpa menghiraukan aku ikut bersamanya atau tidak. Sampai di luar butik doronim langsung masuk mobil, tidak ada layanan buka pintu lagi untuk ku. Doronim segera menjalankan mobil padahal seat belt ku belum terpasang.

Mobil doronim melaju tak karuan. Salip kanan, salip kiri. Mengerem mendadak kemudian melaju dengan cepat. Tubuh ku terombang-ambing dalam mobil. Akan tetapi doronim cuek saja seolah penumpang mobil itu hanyalah dia seorang. Aku dianggap barang transparan yang tak kasat mata.

Dua puluh menit kemudian roda mobil doronim berhenti berputar. Kami tiba di pusat perbelanjaan elit. Yang bisa belanja di sini hanya orang berduit. Doronim meninggalkan mobil dan memasuki pusat perbelanjaan. Langkah lebarnya membuat ku sulit mensejajarkan diri. Aku ingin protes tapi –seperti biasa– tidak berani. Ia masih bersikap sama seperti tadi, mengacuhkan aku.



Jangan-jangan dia marah karena tuduhan ku. Salah doronim sendiri yang tidak cerita akan membawa aku kemana. Kalau dari awal aku tahu maksud dan tujuan doronim, tuduhan seperti tadi tidak akan terjadi.

“Yya, cepat sedikit” sayup-sayup terdengar suara doronim.



Suara itu terasa begitu jauh. Ternyata memang benar jauh. Tanpa ku sadari, kami telah terpisah jarak yang lumayan besar. Karena terlalu serius memikirkan perubahan sikap doronim akibatnya langkah ku melambat hingga jauh tertinggal.

“Ne. Mianhe, doronim” aku segera berlari menyusul doronim. Ia mengulurkan tangan dan langsung menggenggam erat tangan ku.



“Jangan jauh-jauh dari ku. Tempat ini asing bagi mu, bahaya kalau kau hilang” ucap doronim yang makin memperkuat genggamannya. Digenggam erat seperti ini tidak membuat tangan ku sakit. Aku justru merasa aman, serasa punya malaikat pelindung. Hati ku dibuat tentram, jiwa ku terasa melayang. Oh Tuhan, kenapa aku punya perasaan seperti ini? Yya Geum Jan Di, jaga otak mu dari pikiran lancang.

Aku coba keluar dari genggaman doronim. Tapi doronim menawan tangan ku dengan begitu kuat. Situasi saat ini juga tidak mendukung ku. Maraknya pusat perbelanjaan membuat aku semakin terhimpit dengan doronim. Tak ada jarak semili pun di antara kami. Tangan ku jadi tambah sulit terbebas dari genggaman doronim. Karena merasa memberikan perlawanan sia-sia, aku pun menyerah kalah. Aku justru membalas genggaman tangan doronim.



Aku biarkan tangan kami bergenggaman. Aku relakan jari-jemari kami saling bersisian. Yang tak ku izinkan adalah munculnya geliat aneh di sela-sela sanubari ku. Jangan sampai perasaan asing ini mengganggu stabilitas hati ku. Alarm jiwa ku harus segera diaktifkan agar aku lekas sadar. Sadar akan latar belakang ku. Sadar akan status sosial ku. Sadar akan asal-muasal ku.

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 5, 23 Dec 2010 ~
« Reply #185 on: December 23, 2010, 10:46:14 am »
wah liko tanpa di pancing dah update aja...gomawo sist
pd hal gw dah niat mo gentayangin nih ff...
baca dulu ya komennya nyusul
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 5, 23 Dec 2010 ~
« Reply #186 on: December 23, 2010, 10:51:43 am »
yeahhh update juga,, thanks dear [hmpfh] [hmpfh]
koment menyusul [bye]

edit -----------------------------------

si junpyo, ttp seenak perutnya, moso pelayan pribadi dibawa ke kantor buat melayaninya makan siang [hmpfh] [hmpfh] terus didandani, ga heran dong klu jandi jd salah tingkah. omo, jandi mengira bakal dibawa ke hotel ya [what] maunya junpyo tuh [goodgrief] ehh salah, ternyata bukan maunya junpyo but maunya jandi (apaan coba [hmpfh] [hmpfh] )

thanks dear, next chp hadiah natal ya, update 25 des nanti [hmff] [hmff]
« Last Edit: December 23, 2010, 11:35:42 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 5, 23 Dec 2010 ~
« Reply #187 on: December 23, 2010, 10:56:47 am »
ita, malem jumat nih jgn ngomong gentayangan dong  [nono] jadi

awas tuh ita dibelakang ada putih2  [hmff]

mami, ditunggu komennya yg panjang ya

udah ah pengen  sleep1  off duluan ya  [bye]

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 5, 23 Dec 2010 ~
« Reply #188 on: December 23, 2010, 11:51:05 am »

<---- ini yg lg gentayangan ya'  [hmpfh]
kolokan aka manja-nya junpyo blum ilang yaa, bertahap kali ya sist
jyahahahhaa ni muka emang junpyo banget d klo lagi katawan  [hmpfh]

jandi msiy nglanjutin skull-nya khann ya?
cozz 2 chap trakhhir khan di sekitar junpyo & kediaman-nya
next chap..nungulin si gaeul ya' sist, secara dia khan temen deket jandi
(pasti nya lg kebingungan koq jandi nya ga da khabar)  [sweat]
junpyo juga lom taw klo yg bawa jandi ke ruma tuw si jihoo, pen liyat junpyo cemburu [hmpfh]
 
sistLikoo thanks dagh update  [hug]<-- baca dng penerangan 5 watt aka ngantuk sleep1


nightt all  [bye] surrender sleep1



‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 5, 23 Dec 2010 ~
« Reply #189 on: December 23, 2010, 12:11:05 pm »
hahaha, bershn kuping musti tgok kanan kiri dulu, ada jandi gak,ya.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 5, 23 Dec 2010 ~
« Reply #190 on: December 23, 2010, 09:55:18 pm »
wa...wa jp mau bersihin kuping aja minta ama ommanya bener2 kelewatan manjanya...
baca chp ini perasaan campur aduk...sedih..lucu..n' so sweet banget how jp treat jd lg d mall...*senyum2 sendiri*
liko setuju ama mommy update lagi ya tgl 25 jd christmas gift gitu*di hammer ama liko*
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 5, 23 Dec 2010 ~
« Reply #191 on: December 23, 2010, 10:30:00 pm »
Geum Jan Di gak berani berangan dan berharap sama Goo Jun Pyo doremin ya? Padahal Jun Pyo udah ngarep n gk mau lepas Jan Di tuch [hmpfh] [hmpfh] thanks dah update

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 5, 23 Dec 2010 ~
« Reply #192 on: December 23, 2010, 10:38:41 pm »
liko tengkyu udah diudpate [hug] [hug] [hug]

ckckck jp ni apa2 hrs jandi yg ngurusin *ya iyalah namanya jg pelayan pribadinya* [hmpfh] [hmpfh] kalo jandi ambil cuti gt punya waktu luang buat libur jp kyk apa jdnya uring2an ga jelas de pasti apelagi kalo seumpama diajak jalan2 sm jihoo wew bs terjadi perang dunia [hmpfh] [laughing]



ADAM COUPLE SELCA

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 5, 23 Dec 2010 ~
« Reply #193 on: December 23, 2010, 10:46:17 pm »
si jun pyo gokil bgt  [laughing] [laughing]
makasi sist likoooo [cheekkiss]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 5, 23 Dec 2010 ~
« Reply #194 on: December 23, 2010, 11:06:51 pm »
aiiih...liko cakep deh [briggin] [briggin] thx dah update chingu. btw besok update lagi ya, kado natal gitu
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME