Author Topic: Be Strong, Jan Di ~ masih bukan chapter masih bukan spoiler..OMG ~  (Read 53620 times)

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ SPOILERRRRRRRRR ~
« Reply #345 on: March 13, 2011, 07:34:52 am »
gumawo....sist.Liko  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

walopn spoilernya cm setengah cuil,tp tetep bs bikin seneng (apalagi klo dah update chap terbaru...apalagi klo chap terbarunya i2 panjang  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh])

jd gak sabar,nunggu si manja Goo Jun Pyo beraksi lg...update yg cepat,ya sist....dah lama nih kangen sm Jun Pyo-Jan Di  [biggrin] [biggrin] [biggrin]

HWAITING!!!  [AddEmoticons04262]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ SPOILERRRRRRRRR ~
« Reply #346 on: March 13, 2011, 07:36:42 am »
likoooo pelokk teletubiesss [hug]
kapann update-nyaaa?? <--- jiayhahha ujung-ujungnya  [laughing]
kangen JP yang kolokan ,childish,manja,etc etc *_*
si eomma udaa mulee nee test uji cobaaa  [hmpfh]

‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ SPOILERRRRRRRRR ~
« Reply #347 on: March 13, 2011, 08:04:17 am »
dalbyeol, makasih semangatnya  [cheekkiss]  sabar ya sist  [biggrin]

freesia, berpelukan  [hug]  [hug]  [hug]  next chp si omma sudah mulai beraksi ... waspadalah  [hmff]

Offline Graciela

  • Newbie
  • *
  • Posts: 87
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ SPOILERRRRRRRRR ~
« Reply #348 on: March 13, 2011, 08:29:02 am »
Kalo dah ada spoiler berarti dah mau di update dong ya sista?

Asyiiiikkkkkk....kangen berat ama ff ini ;)

Btw itu mamanya Jun Pyo udah sadar ya kalo anaknya suka ama Jan Di. Dia merestui kan? Tapi kok bimbang? Trus Halmoni-nya gimana? Udah tau juga belum?
Ayo update dong sista kalo dah ga capek lagi ya

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ SPOILERRRRRRRRR ~
« Reply #349 on: March 13, 2011, 09:44:59 am »
wah sist liko kasih spoiler secuil doank kagak napa deh dari pada sedulit *mang sabun colek??* he9 yg penting full chap y g secuil tp long chap *mau y he9*
d tunggu sist

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ SPOILERRRRRRRRR ~
« Reply #350 on: March 13, 2011, 09:45:20 am »
wah sist liko kasih spoiler secuil doank kagak napa deh dari pada sedulit *mang sabun colek??* he9 yg penting full chap y g secuil tp long chap *mau y he9*
d tunggu sist

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ SPOILERRRRRRRRR ~
« Reply #351 on: March 16, 2011, 04:25:20 am »
Sist,,liko update donk dach lumutan nich nung"unya,,,

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ SPOILERRRRRRRRR ~
« Reply #352 on: March 16, 2011, 04:37:20 am »
hi moow, aku dari mana-mana (saking bnyknya ribet klo ditulis satu satu  [heh]  )

mami, bukan secuil tp setengah cuil  [hmff]

sisicia, bawa2 min ji cuma akal2an omma jun pyo buat ngetes anaknya  [biggrin]

minsunlover, mian baru bs ksh ini, harap maklum krn authornya abis melanglang buana 3 minggu ga pulang ke rmh, badan msh pegel linu euy  [collapse]  *alasan eitss kenyataan kok  [hmpfh]

imah, belom bs malem ini say, badan msh remuk redam  *lebay ah  [laughing]  [laughing]

santi, makasih semangatnya  [cheekkiss]

voldi, namanya jg sop iler ... ya jdnya cuma segitu  [heh]



ayo buruAN up dateeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee [hmpfh] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ SPOILERRRRRRRRR ~
« Reply #353 on: March 16, 2011, 11:17:46 am »
graciela, si omma bimbang soalnya jun pyo berubah krn jandi yg notabene nya ga selevel ama jun pyo. klo haelmoni belom tau apa2  [biggrin]

el, next chap middle aja ga long jg ga short and mian ga ada yg sweet2 lg  [heh]

adinda & santi, bentar lg bakal diupdate jd tidur dulu gih  [hmpfh]

lah malah suruh tidur  [laughing]  tp kayaknya penghuni CM emang udah pada molor semua  [hmff]

oyyy ada orng ga  [what]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ SPOILERRRRRRRRR ~
« Reply #354 on: March 16, 2011, 11:29:15 am »
Chapter 7

Additional Cast


Lee Min Jung as Ha Jae Kyung [devil2]


Aku masuk kamar setelah doronim meninggalkan rumah. Hari ini doronim mulai aktif ke kantor lagi setelah 2 hari absent dari Shinhwa. Demam yang mendera doronim sudah mereda. Meski begitu doronim tidak langsung pergi ke Shinhwa karena dilarang Mrs Goo. Doronim disuruh istirahat satu hari lagi guna memulihkan fisiknya.

Selama bed rest, doronim mendapat perhatian ekstra dari Mrs Goo. Menyiapkan makanan, menggeruskan obat dan segala keperluan doronim lainnya ditangani sendiri oleh Mrs Goo. Aku sama sekali tidak kebagian jatah. Saat menawarkan diri untuk membantu, Mrs Goo bilang akan lebih baik jika doronim berada dalam pengawasan ommanya. Alhasil, selama 2 hari kemarin kerjaan ku hanya ongkang-ongkang kaki karena semua urusan doronim diambil alih oleh Mrs Goo.

Ada yang mengganjal begitu aku masuk kamar. Dua buah box tergeletak di meja rias ku. Box pertama berukuran besar sementara box lainnya berukuran kecil. Aku mendekati meja rias sambil menatap heran pada 2 box asing itu. Perlahan ku buka box yang lebih besar. Aneka alat lukis mulai dari cat, kuas dan kanvas berjejalan di box itu. Aku perhatikan satu persatu. Semua alat masih terbungkus rapi dan terlihat baru. Sekarang aku beralih ke kotak yang lebih kecil. Sebuah ponsel keluaran terbaru ada dalam kotak itu.

Rasa bingung langsung menjalar. Seingat ku, aku tidak pernah memesan barang-barang bermerk ini. Lantas punya siapa semua barang-barang ini? Dari mana asal mereka? Siapa yang menyasarkannya sampai ke kamar ku?



Itu sebagian pertanyaan yang berlalu-lalang di kepala ku. Otak pas-pasan ini kupaksa menganalisa keganjilan di depan ku. Ketika jawaban gamblang masih mengawang-awang, aku dikejutkan oleh ponsel super slim yang tiba-tiba berdering nyaring.

“Goo – Jun – Pyo ???” aku membaca tulisan yang tertera di layar ponsel.

“Doronim …?” perkiraan ku menyebutkan bahwa ponsel ini kepunyaan doronim. Mungkin ada yang salah menaruhnya di kamar ku, mengingat kamar kami berseberangan. Ku rasa doronim sedang mencari ponsel ini, makanya ia menelepon.

Aku berniat menekan tombol hijau tapi tidak jadi karena deringan terhenti. Sedetik kemudian ponsel ini berbunyi lagi. Kali ini aku segera menekan tombol hijau supaya doronim tenang ponselnya aman berada di rumah.

“Yeo … boseyo …” ucap ku.

Yya, kenapa lama sekali mengangkat teleponnya. Memangnya kau sedang apa?” sembur doronim.

“Mianhe. Saya tidak enak menerima panggilan dari ponsel orang lain” jawab ku.

Ponsel orang lain?” tanya doronim. “Ponsel itu milik mu, arasso” sambung doronim.

“Mwo?!” suara nyaring ku membahana.

Ne, ponsel dan alat lukis itu kepunyaan mu” terang doronim.

“Peralatan lukis juga?” aku tambah shock saja.

Ne. Alat lukis itu untuk menggantikan punya mu yang rusak sedangkan ponsel itu untuk memudahkan aku mencari mu jika kau kesasar lagi” ujar doronim.

Jangan-jangan doronim berharap aku kesasar’ batin ku.

Yeoboseyo, Jan Di-a, kau masih mendengarkan aku?” doronim menyalak saat tak ada sahutan dari ku.

“Ne. Saya masih di sini” jawab ku.

Baiklah, aku tutup dulu” ujar doronim. “Ah, chakamanyo …” tahan doronim sedetik kemudian.

Jika terjadi sesuatu pada mu, segera telepon aku. Tekan saja angka satu, speed dial-nya sudah aku setting terhubung ke ponsel ku” pesan doronim.

Sudah dulu ya dan ingat pesan ku tadi” doronim menutup telepon tanpa memberi ku kesempatan berterima kasih.

*******

Gerimis tipis mengundang pelangi segaris. Langit berlembayung berhasil mengusir mendung. Raja Siang bersiap turun dari peraduan. Dewi Malam perlahan naik menggantikan. Dua wanita dari generasi berbeda tidak menyia-nyiakan keanggunan alam yang satu ini. Wanita yang lebih berumur memanfaatkan pesona senja di kala itu sebagai objeknya. Kuas Goo haelmoni menari lincah membentuk lukisan indah. Mrs Goo dibuat terpukau dengan kelihaian ibu mertuanya itu.

“Omma, lukisan omma seperti sungguhan. Cantik sekali. Benar-benar hidup” puji Mrs Goo.

“Aku mengikuti gaya melukisnya Jan Di” jawab Goo haelmoni.

“Jan Di?” Mrs Goo tidak percaya lukisan Goo haelmoni terinspirasi oleh Jan Di.

“Ne. Aku pernah melukis bersama Jan Di. Anak itu punya bakat lukis yang alami” ucap Goo haelmoni.

“Jeongmal? Sangat disayangkan jika masa depan Jan Di berakhir sebagai pelayan” sesal Mrs Goo.

“Ne, sebenarnya sejak awal aku tidak tega menjadikan Jan Di pelayan” jawab Goo haelmoni.

“Omma, aku punya usul buat Jan Di” sambung Mrs Goo antusias.

“Usul apa?” tanya Goo haelmoni.

“Bagaimana kalau kita pekerjakan Jan Di di Shinhwa?” saran Mrs Goo.

“Shinhwa?” Goo haelmoni tidak yakin.

“Ne. Berikan saja pekerjaan mudah dulu agar Jan Di bisa belajar. Tempatkan Jan Di di cabang yang baru kita buka, ku rasa ada posisi untuk Jan Di di cabang baru itu” jawab Mrs Goo.

Goo haelmoni meneletakkan kuasnya. Ia tampak serius mempertimbangkan ide cetusan Mrs Goo.

“Siapa penanggung jawab cabang itu? Aku tidak tenang melepas Jan Di sendirian di Shinhwa” ujar Mrs Goo.

“Ji Hoo. Dia yang bertanggung jawab atas cabang baru itu. Percayakan saja Jan Di pada Ji Hoo. Aku yakin Ji Hoo dapat diandalkan” jawab Mrs Goo.

“Lalu Jun Pyo? Apa kita perlu mencari pelayan pribadi untuk dia?” tanya Goo haelmoni.

“Tidak perlu, biar aku saja yang mengurusi anak itu. Lagi pula sejak dulu Jun Pyo tidak pernah punya pelayan pribadi” ucap Mrs Goo.

“Ehm, ide mu bagus juga” jawab Goo haelmoni sambil mengangguk-angguk. “Baiklah, mulai hari senin Jan Di bekerja di Shinhwa saja” sambung Goo haelmoni.

“Ne” jawab Mrs Goo senang.

“Oh iya omma, tadi pagi Mrs Ha telepon. Beliau bilang Jae Kyung sudah kembali dari lawatan diplomasinya” ucap Mrs Goo.

“Jae Kyung?” tanya Goo haelmoni.

“Ne. Jangan bilang omma lupa kesepakatan kita dengan keluarga Ha” jawab Mrs Goo.

“Aku belum setua itu untuk jadi pikun” balas Goo haelmoni.

“Berhubung Jae Kyung sedang di Seoul, bagaimana jika kita mulai bergerak?” saran Mrs Goo.

“Kau serius dengan Jae Kyung? Aku tidak mau pernikahan Jun Pyo hanya didasari kepentingan bisnis” kecam Goo haelmoni.

“Aku dan appanya Jun Pyo juga tidak menghendaki pernikahan seperti itu. Jae Kyung terpilih bukan semata-mata latar belakang keluarganya, tapi juga dari kepribadian dan pendidikannya. Lagi pula bukankah omma yang mengusulkan Jae Kyung?” Mrs Goo balik bertanya.

“Memang, tapi sesungguhnya hati ku tidak yakin 100 persen” jawab Goo haelmoni.

“Apa yang membuat omma ragu? Jae Kyung gadis yang baik, pendidikannya juga bagus. Ku rasa Jun Pyo akan menyukainya” hasut Mrs Goo.

“Entahlah, hanya naluri ku saja” jawab Goo haelmoni tak yakin.

“Itu karena omma terlalu sayang pada Jun Pyo hingga tidak rela berbagi Jun Pyo dengan wanita lain” goda Mrs Goo.

“Bukannya itu dirimu” balas Goo haelmoni.

“Omma …” protes Mrs Goo.

“Saat berhadapan dengan Jae Kyung, perasaan ku datar-datar saja. Gadis itu tidak bisa menghangatkan hati ku” kilah Goo haelmoni.

“Segalanya butuh proses, omma” ucap Mrs Goo.

“Lalu kau sendiri, apa sudah yakin Jae Kyung wanita yang tepat untuk Jun Pyo? Bisa menerima Jae Kyung sebagai pendamping anak manja mu itu?” cecar Goo haelmoni.

“Ehmm … akan ku coba” jawab Mrs Goo.

Goo haelmoni tersenyum. Ia yakin bahwa sesungguhnya Mrs Goo pun ragu meminang Jae Kyung untuk Jun Pyo. Entah apa yang melatarbelakangi, namun mereka sama-sama sangsi akan perjodohan ini. Keduanya tidak punya alibi untuk tidak menyukai Jae Kyung. Hanya naluri mereka yang datang memperingati.

*******

Jun Pyo tiba di rumah dengan raut wajah kurang cerah. Jadwal padat di Shinhwa menyisakan gurat-gurat lelah. Guratan itu perlahan musnah saat mata Jun Pyo menangkap sosok Jan Di terduduk seorang diri. Jan Di yang tidak menyadari kedatangan Jun Pyo, terlihat asik bersama ponsel barunya. Jan Di berbincang riang dengan orang di ujung sana. Sesekali Jan Di tertawa renyah. Jun Pyo jadi latah. Ia ikut-ikutan tertawa tapi tanpa suara.



Tawa Jan Di ampuh membunuh sejuta lelah Jun Pyo. Apalagi saat teringat asal usul ponsel yang menemani tawa Jan Di. Ada kebanggaan yang Jun Pyo rasakan karena barang pemberiannya turut andil dalam menghadirkan keriangan bagi Jan Di. Sejak bertemu, baru kali ini Jun Pyo melihat Jan Di tertawa lepas. Wajar saja, pertemuan-pertemuan mereka terdahulu selalu bernuansakan huru-hara.

Tiba-tiba alis Jun Pyo berkerut. Ia penasaran dengan lawan bicara Jan Di. Siapa gerangan orang di seberang yang terang-terangan mengajak Jan Di tertawa riang. Berani-beraninya orang itu dekat-dekat dengan Jan Di. Pakai acara bercanda segala lagi. Siapa sih orang di ujung telepon? Yang dipermasalahkan Jun Pyo adalah jenis kelaminnya, pria ataukah wanita? Seandainya pria, apa hubungan mereka? Awas saja kalau Jan Di ketahuan berpacaran menggunakan barang yang ia fasilitasi.

“Dimodalin handphone malah dipakai buat pacaran!” gerutu Jun Pyo sambil mempertinggi keseriusannya mengintai Jan Di. Jun Pyo sudah seperti paparazzi professional yang memburu skandal artis terkenal.

*******

MWO! Jadi kau menelepon dari ponsel mu sendiri?!” pekik Ga Eul.

“Ne. Simpan nomor ku ya. Jika ingin menghubungi aku ke nomor ini saja” aku pamer ponsel baru pada Ga Eul.

Arasso” jawab Ga Eul.

“Ga Eul-a, apa kesibukan mu? Sudah dapat pekerjaan baru?” tanya ku setelah puas bersenda gurau dengan Ga Eul.

Anhiyo. Sejak toko bubur di jual, aku belum dapat pekerjaan lagi” keluh Ga Eul.

“Aku kasihan sama si Bos. Toko bubur sudah dirintisnya sejak bertahun-tahun. Tapi sekarang toko itu tinggal kenangan” suara ku berangsur mengendur. Wajah ku tidak lagi terhias tawa lepas. Perbincangan riang kami sudah selesai begitu menyentuh topik seputar toko bubur.

Aku berharap toko bubur bisa dibuka lagi” ucap Ga Eul.

“Andai saja aku orang kaya, punya uang banyak, punya kuasa kuat, akan aku beri suntikan dana untuk si bos supaya bisa membeli toko buburnya lagi” khayal ku.

Yya, jangan mimpi Jan Di-a. Ini baru jam 8 malam, belum waktunya bermimpi” ejek Ga Eul.

“Aku serius, Ga Eul. Jika aku punya uang, aku pasti membantu si bos mendapatkan kembali toko buburnya. Toko itu sudah seperti rumah ke dua bagi ku. Banyak kenangan manis kita di sana. Apa kau lupa?” selidik ku.

Anhi, tentu saja aku ingat” protes Ga Eul.

Suasana hening seketika. Aku dan Ga Eul tidak bersuara. Keriangan yang mengawali percakapan sudah lenyap, berganti sunyi senyap. Kami teringat masa-masa kebersamaan di toko bubur.

“Ga Eul-a, Sudah dulu ya. Kita sambung lain waktu” aku jadi tidak semangat melanjuti perbincangan ini.

Ok. Jaga kesehatan mu, Jan Di” pesan Ga Eul.

“Kau juga” balas ku mengakhiri sambungan telepon.

Huh, aku membuang napas berat. Ku bawa punggung ini bersandar. Pikiran ku melayang ke toko bubur. Kenyataan bahwa toko itu telah gulung tikar belum bisa aku terima. Toko kecil tempat ku mengais rezeki sudah tak lagi berdiri. Wajah ku berubah muram saat memikirkan nasib toko bubur yang kian suram.

“Jun Pyo-a, apa yang kau lakukan nak?” aku menoleh cepat ketika suara Mrs Goo tiba-tiba terdengar. Lamunan ku buyar bersama suara Mrs Goo.

“a … a … anhiyo. Aku … Aku sedang mencari buku” doronim muncul dari belakang rak buku. “Ne … mencari buku …” sambung doronim sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Omo, ternyata doronim sudah pulang. Aku langsung meninggalkan tempat duduk dan memberi salam hormat pada doronim dan Mrs Goo. Mudah-mudahan doronim baru tiba. Semoga saja doronim tidak melihat ku menelepon Ga Eul dan duduk melamun di tengah jam kerja seperti ini.

“Buku?” Mrs Goo berusaha mencari kejelasan akan tingkah aneh doronim.

“Ne … sebuah buku” jawab doronim kurang yakin.

Meski tidak terlalu percaya dengan omongan doronim, Mrs Goo tidak bertanya lagi.

“Jan Di-a, haelmoni ingin bicara dengan mu” Mrs Goo beralih pada ku. “Temui beliau di kamarnya. Biar aku yang mengurus Jun Pyo” ucap Mrs Goo.

“Ne” kamar Nyonya Besar segera ku tuju. Aku berlalu di depan doronim yang berdiri kaku di dekat rak buku.

Lagi-lagi Mrs Goo mengambil alih tugas utama ku. Kalau sudah begini, aku tidak bisa apa-apa. Tidak mungkin kan aku meminta doronim memilih di antara kami. Doronim pasti lebih berat ke Mrs Goo. Doronim kan anak mami. Ups, pelayan dilarang menjelek-jelekkan majikannya  [hmff]

*******

“Jun Pyo-a, hari minggu nanti temani kami ke perjamuan makan malam” ucap Mrs Goo saat Jan Di sudah menghilang.

“Kami?” tanya Jun Pyo

“Ne. Haelmoni, appa dan omma” jelas Mrs Goo.

“Memangnya ada perjamuan makan malam dengan siapa hingga kita harus pergi dengan formasi lengkap?” selidik Jun Pyo.

“Nanti juga kau akan tahu” jawab Mrs Goo berahasia.

“Omma misterius sekali” balas Jun Pyo.

“Sudahlah, ikuti saja, kau tidak akan menyesal. Memangnya pernah omma membawa mu ke acara makan malam yang sia-sia?” Mrs Goo balik bertanya.

“Arasso, akan ku kosongkan jadwal” ucap Jun Pyo.

“Demi omma” sambung Jun Pyo sambil melingkarkan tangan ke pinggang Mrs Goo. Kalau sudah begini pertanda Jun Pyo Si Anak Mami akan kembali beraksi.

“Jan Di-a, kenapa masih di sini?” tanya Mrs Goo yang berhasil membuat Jun Pyo terlonjak kaget.

“Aku kan menyuruhmu menemui haelmoni” lanjut Mrs Goo di tengah serangan manja Jun Pyo.

Dengan cepat Jun Pyo menarik tangannya dari pinggang Mrs Goo. Ia segera menyilangkan kedua tangan ke belakang. Bersikap senormal mungkin. Berusaha mengkondisikan diri seolah sedang berada di Shinhwa. Menghapus niatnya untuk bermanja-manja ria.

“Oh, ternyata Min Ji … bukan Jan Di …” ralat Mrs Goo.

Jun Pyo yang masih memasang sikap sempurna, mengerutkan alisnya. Ia bingung dengan ucapan Mrs Goo. Sebenarnya Jan Di atau Min Ji yang dilihat ommanya. Jun Pyo menoleh guna memastikan sendiri. Dan ternyata yang ia lihat adalah Min Ji.

Paras Jan Di dan Min Ji sungguh jauh berbeda. Jan Di berambut lurus sementara rambut Min Ji bergelombang. Min Ji yang saat itu lewat tidak berseragam hitam putih seperti yang dipakai Jan Di barusan. Dengan perbedaan mencolok ini harusnya Mrs Goo tidak salah lihat.

“Omma, aku mandi dulu” Jun Pyo yang merasa terkecoh langsung terbirit masuk ke kamar. Mrs Goo menatap punggung Jun Pyo sambil menggeleng pelan. Muslihat kecilnya berhasil menjerat Jun Pyo.

“Jan Di sudah merubah mu, nak. Omma senang tapi juga bimbang” gumam Mrs Goo.

*******

Jun Pyo melangkah masuk kamar. “Fuih, ada apa dengan omma?” gumam Jun Pyo sambil membaringkan diri di ranjang.

Kring … Kring … Baru juga Jun Pyo hendak berpikir perihal sikap ganjil ommanya, nama Sekretaris Park sudah keburu muncul di layar ponsel. Jun Pyo menekan tombol hijau dan mulai membuka pembicaraan.

“Yeoboseyo. Ada apa Sekretaris Park?” tanya Jun Pyo.

Maaf doronim, saya mengganggu istirahat anda. Mr Moon minta dijadwalkan untuk makan malam bersama anda hari minggu nanti” ucap Sekretaris Park.

“Tolak saja. Aku sudah ada janji makan malam” jawab Jun Pyo.

Ne, akan saya batalkan” sambung Sekretaris Park.

“Sekretaris Park, ada tugas untuk mu” ucap Jun Pyo.

Katakan saja doronim” jawab Sekretaris Park.

“Tugas mu berkaitan dengan toko yang sempat aku datangi sepulang dari Macau” jelas Jun Pyo.

*******

Denting piano mengalun merdu. Menjelajah nada menaiki tangga lagu. Tiap pasang telinga dibuat terkesima dengan performa pianist di restoran ternama itu. Tapi tidak dengan Jun Pyo. Wajahnya murung tak bersemangat.

“Jun Pyo-a, jangan memasang muka seperti itu” tegur Mrs Goo terhadap tampang masam Jun Pyo.

“Aku sudah tidak tahan, omma. Sampai kapan kita harus menunggu” gerutu Jun Pyo.

“Bukankah makan malam ini dijadwalkan jam 7? Coba omma lihat sekarang jam berapa. Sudah lebih dari jam 8” sambung Jun Pyo.

“Arayo. Mereka bilang ada urusan mendadak, maklumilah sedikit” pinta Mrs Goo.

“Kalau bukan demi masa depan Jun Pyo, pasti aku sudah pulang” giliran Goo haelmoni yang menuangkan kejengkelannya.

“Masa depan ku?” tanya Jun Pyo heran.

“Ada yang bisa menjelaskan arti perkataan haelmoni?” Jun Pyo memandang satu persatu anggota keluarganya yang duduk di restoran itu. Mulai dari Goo haelmoni, Mrs Goo kemudian Mr Goo. Namun ketiganya bungkam.

“Yya, kenapa tidak ada yang menjawab?” keluh Jun Pyo.

“Baiklah, sambil menunggu mereka datang biar haelmoni jelaskan” jawab Goo haelmoni.

Sebuah tarikan napas panjang dihembuskan Goo haelmoni sebelum mulai bercerita “Begini Jun Pyo-a, maksud dari pertemuan ini adalah …”

“Oh! Itu mereka datang” potong Mrs Goo sambil menunjuk ke seorang pria dan dua orang wanita yang berjalan tergesa mendekati meja mereka.

Jun Pyo mengikuti arah telunjuk Mrs Goo. Bola matanya menangkap dua orang yang tidak asing baginya. Sepasang suami istri yang banyak membantu pelebaran sayap Shinhwa di kancah dunia. Mereka adalah Mr dan Mrs Ha. Diplomat senior yang sudah banyak makan asam garam di dunia diplomasi bisnis internasional maupun politik luar negeri. Jun Pyo sering bertemu mereka, tak terkecuali saat perjalanannya ke Macau beberapa waktu lalu.

Mr dan Mrs Ha datang bersama seorang gadis yang belum pernah Jun Pyo temui. Gadis itu berpenampilan elegan. Tubuh proporsionalnya dibalut busana formal. Dari tampilannya dapat disimpulkan bahwa gadis ini baru saja terbebas dari rutinitas kantor. Ia tetap bergelut dengan pekerjaan meski hari di kalender berwarna merah. Maklum saja dunia yang ia geluti tidak pandang hari. Kapan pun ada kesempatan akan dimanfaatkan untuk berdiplomasi. Gadis ini mewarisi bakat ayah ibunya yang juga seorang diplomat.

“Anyonghaseyo, maaf kami terlambat” Mr Ha mengulurkan tangan pada Mr Goo.

“Gwenchana. Berurusan dengan keluarga diplomat memang harus sabar” canda Mr Goo.

“Kami sungguh-sungguh menyesal atas keterlambatan ini. Tiba-tiba saja Jae Kyung dihubungi utusan perdana menteri Inggris, ada masalah yang harus dibahas” jelas Mrs Ha.

“Kami paham. Anda tidak perlu sungkan” hibur Mrs Goo.

“Anyonghaseyo, Goo haelmoni. Bagaimana kesehatan anda?” sapa Mrs Ha.

“Selama cucu ku tidak berulah, kesehatan ku akan baik-baik saja” gurau Goo haelmoni sambil melirik Jun Pyo.

“Jun Pyo, anyong. Bagaimana kabar mu?” Mr Ha beralih pada Jun Pyo.

“Ne, kabar ku baik” jawab Jun Pyo dengan senyum tipis.

“Kita bertemu terakhir kali di Macau bukan?” tanya Mrs Ha.

“Ne” jawab Jun Pyo.

“Sayang sekali waktu itu kau pulang lebih cepat dari jadwal awal. Coba kau tinggal satu hari lagi, pasti akan bertemu putri ku” ucap Mrs Ha.

“Miane, waktu itu ada yang harus aku urus di Seoul” kilah Jun Pyo.

“Tidak masalah. Kami paham kesibukan mu. Lagi pula akhirnya kalian bertemu di sini” ujar Mrs Ha. “Jun Pyo-a, kenalkan ini putri kami” sambung Mrs Ha sambil menyikut gadis semampai di sampingnya yang asik berdiri dalam diam.



Mrs Goo yang melihat Jun Pyo tidak berinisiatif membuka perkenalan berdehem kecil. Lewat sorot matanya, ia menyuruh Jun Pyo angkat suara lebih dulu.

“Anyonghaseyo, Goo Jun Pyo-imnida” Jun Pyo menuruti isyarat Mrs Goo. Ia memulai pembiacara sambil mengulurkan tangan.

“Anyonghaseyo, Ha Jae Kyung-imnida” balas putri diplomat kenamaan ini.

Selanjutnya pembicaraan seputar bisnis bergulir seru antara Mr-Mrs Goo dan Mr-Mrs Ha. Goo haelmoni sesekali menimpali ketika dimintai pendapat. Sementara Jun Pyo dan Jae Kyung hanya bicara sekedarnya.

“Aigoo, kenapa jadi ngelantur begini. Urusan bisnis kita kesampingkan sebentar. Bahas masa depan putra-putri kita dulu. Lagi pula memang itu kan tujuan utama pertemuan ini” sela Mrs Ha.

“ha … ha … ha … tujuan utama malah terlupakan” tawa Mr Goo.

“Jun Pyo-a, Jae Kyung-a, kami punya rencana untuk kalian” suasana berubah kaku saat Mr Goo membelokkan ke sebuah topik baru.

“Ne, appa mu benar Jun Pyo. Kami berniat mengingkat tali kekeluargaan yang lebih kekal antara kau dan Jae Kyung” timpal Mr Ha.

“Maksudnya?” tanya Jun Pyo dan Jae Kyung kompak.

“Kalian akan kami sandingkan sebagai suami istri” jawab Mr Goo.

“MWO!” ucap Jun Pyo dan Jae Kyung secara bersamaan.

*******

Acara makan malam berlangsung kering setelah rencana perjodohan Jun Pyo dan Jae Kyung diumumkan. Baik Jun Pyo maupun Jae Kyung tidak setuju dengan usulan orang tua mereka. Namun keduanya tidak bersikap frontal. Mereka hanya menunjukkan melalui sikap acuh sepanjang makan malam. Sesampainya di rumah, Jun Pyo dan Jae Kyung langsung protes pada orang tua masing-masing. Tapi percuma. Protes mereka sia-sia. Perjodohan ini berlaku mutlak tanpa bisa diganggu gugat.

“Jun Pyo-a, sebenarnya apa alasan mu menolak perjodohan ini?”

“Kau sudah punya pilihan hati?”

“Kalau memang ada, pastikan gadis itu tepat untuk keluarga kita”

“Mencarikan mu pasangan hidup memang susah-susah gampang. Omma, appa dan haelmoni juga memikirkan perasaan mu. Kami tidak sembarangan memilih orang. Kami tidak ingin mempertaruhkan kebahagian mu di atas kepentingan Shinhwa”

“Coba kau pikirkan, andai kau menikah dengan gadis dari strata lain apa yang terjadi?”

“Omma bukan bermaksud meremehkan gadis kalangan bawah. Kalau untuk urusan pergaulan, kau boleh berteman dengan siapa saja. Tapi jaga baik-baik hatimu, jangan sampai tertambat pada gadis yang tidak tepat   ”


Ucapan Mrs Goo terus mengiang di telinga Jun Pyo. Tadinya Jun Pyo ingin minta dukungan pada sang bunda untuk tidak menyetujui perjodohan dengan Jae Kyung. Namun ternyata ommanya sulit diajak kompromi untuk urusan yang satu ini.

“Omma, aku mampu memperkuat Shinhwa di pasar internasional tanpa bantuan diplomasi dari keluarga Ha. Tidak perlu ada ikatan pernikahan antara keluarga kita dengan keluarga Ha karena aku berjanji akan membawa kejayaan Shinhwa di mata dunia dengan tangan ku sendiri”

Begitulah cara Jun Pyo meyakinkan ommanya. Mrs Goo menanggapi omongan Jun Pyo dengan berucap …

”Omma percaya kemampuan mu, nak. Tapi perjodohan ini bukan semata demi Shinhwa melainkan untuk masa depan mu juga. Sudah saatnya bagimu untuk berkeluarga. Kami sangat merindukan tangis seorang bayi … terutama omma”

Jun Pyo langsung bungkam ketika Mrs Goo menyinggung masalah penerus keluarga Goo. Ia juga begitu ingin menghadiahkan ommanya seorang bayi mungil, tapi bukan dari rahim wanita yang bernama Ha Jae Kyung.

Tidak hanya di rumah Goo saja yang terjadi protes. Jae Kyung pun melakukan hal serupa. Diplomat muda berbakat ini menolak dijodohkan dengan alasan ingin mengejar karir sebelum terpasung dalam dunia pernikahan. Jae Kyung tipe gadis workaholic. Ia sangat mencintai pekerjaan sampai-sampai tidak menyisihkan waktu untuk urusan percintaan. Setiap pria yang datang mendekat akan langsung didepak. Jae Kyung tergolong wanita yang terlampau mandiri hingga merasa tidak butuh sosok yang bernama lelaki. Ia terlalu angkuh untuk berbagi hati dengan orang lain. Di usianya yang sudah 27 tahun ini, pernikahan adalah hal tabu bagi seorang Ha Jae Kyung.

*******

“Jeongmal? Toko bubur sudah dibuka lagi?” tanya ku antusias pada ponsel yang berujung dengan Ga Eul.

Ne. Ada orang yang berbaik hati menyuntikkan dana untuk toko bubur si bos. Rencananya besok toko bubur dibuka lagi dan aku akan bekerja di sana lagi” ujar Ga Eul penuh semangat.

“Syukurlah. Aku sangat senang mendengar berita ini. Ngomong-ngomong siapa yang membantu bos membuka toko buburnya?” tanya ku.

Jangankan aku, si bos sendiri saja tidak tahu siapa dermawan itu” jawab Ga Eul.

“Mwo?” sahut ku.

Orang itu merahasikan identitasnya. Dia tidak bersedia mengungkapkan jati dirnya” jelas Ga Eul.

“Jinja? Misterius sekali” sambung ku.

Siapapun orangnya tidak masalah yang penting toko bubur bisa dibuka lagi” ucap Ga Eul.

“Ne, kau benar. Ga Eul-a, sudah dulu ya aku harus berangkat sekarang” aku mempersingkat obrolan dengan Ga Eul saat melihat Nyonya Besar berjalan ke arah ku.

Ok, semoga kau betah bekerja di Shinhwa. Hwaiting” ucap Ga Eul yang sudah tahu perihal pekerjaan baru ku.

“Ne, gomawo. Sampaikan salam ku untuk si bos. Bye” jawab ku yang dilanjutkan dengan menekan tombol merah di ponsel.

“Bagaimana tidur mu? Nyenyak?” tanya Nyonya Besar begitu tiba di hadapan ku.

“Aku tidak bisa tidur. Aku terlalu gugup untuk memulai bekerja di Shinhwa” jawab ku.

“Pabo. Untuk apa gugup” ujar Nyonya Besar.

“Sudah sana, berangkatlah, jangan sampai telat di hari pertama mu” lanjut Nyonya Besar.

“Nyonya, anda yakin menyuruhku bekerja di Shinhwa? Aku takut akan mengecewakan dan menimbulkan masalah” sejak semula aku ragu akan usul yang disampaikan Nyonya Besar. Hingga pagi ini keraguan itu masih ada.

Karir ku melonjak drastis. Dari seorang pelayan langsung naik pangkat menjadi karyawan. Promosi jabatan ini kurasa terlalu dini. Aku butuh belajar sebelum diterjunkan langsung ke Shinhwa. Walau sudah didandani bak wanita karir, jiwa yang ada dalam diri ku tetaplah jiwa seorang pelayan. Aku sama sekali tidak berpengalaman bekerja di kantoran. Terlebih perusahaan raksasa macam Shinhwa.

“Gwenchana” Nyonya Besar berusaha menghapus keraguan ku.

“Ji Hoo akan membimbing mu” Nyonya Besar berusaha menenangkan ku.

“Ne. Kau tidak perlu khawatir” sambar Tuan Yoon yang entah sejak kapan memasuki ruangan itu.

“Ji Hoo-a, syukurlah kau datang. Haelmoni titip Jan Di ya” pesan Nyonya Besar pada Tuan Yoon yang datang untuk menjemput ku.

“Ne, akan ku jaga Jan Di baik-baik” jawab Tuan Yoon.

“Kau sudah siap berangkat sekarang?” tanya Tuan Yoon sambil tersenyum.

“Ne” jawab ku. “Kami berangkat, Nyonya” pamit ku.

“Chakaman” cegah Nyonya Besar. “Biar haelmoni lihat dulu penampilan mu” beliau meraih bahu ku dan mengamati dengan teliti tiap detail yang menempel pada tubuh ku.

“Selamat pagi” sapa doronim di tengah keseriusan Nyonya Besar menelisik ku ke setiap sudut.

“Hai, Ji Hoo. Tidak menyangka kau akan mampir” doronim menepuk lengan Tuan Yoon.

“Ne. Aku datang untuk menjemput dia” Tuan Yoon menunjukku yang membelakangi doronim.

“Dia? Haelmo siapa dia?” tanya doronim yang penasaran dengan sosok yang membelakangi dirinya.

“Ok. Penampilanmu sudah cantik Jan Di” ucap Nyonya Besar tanpa menghiraukan pertanyaan doronim.

“MWO! JAN DI!” tangan doronim langsung merampas tubuh ku dari Nyonya Besar. Aku berputar 180 derajat hingga menghadap doronim.

“Ka … Ka … Kau …?” mata doronim terbuka sepenuhnya. “Yy … Yy … Yya … ada apa ini? Sejak kapan seragam pelayan mu diganti?” tanya doronim sambil mencengkram bahu ku.

“Jan Di bukan pelayan mu lagi” Nyonya Besar menarik ku dari cengkraman doronim.

“MWO?! Apa maksud haelmoni?” doronim berubah panik.

“Mulai hari ini Jan Di bekerja di Shinhwa. Haelmoni yang menyuruhnya” jawab Nyonya Besar.

“Kenapa tidak meminta izin dulu padaku? Andwe! Aku melarang Jan Di bekerja di Shinhwa” tolak doronim.

“Dengan atau tanpa izin dari mu, Jan Di tetap akan bekerja di Shinhwa. Keputusan haelmoni sudah final, tidak bisa dirubah lagi” balas Nyonya Besar.

“Jan Di tidak akan berkembang jika terus-terusan jadi pelayan. Lagi pula dari awal haelmoni sudah bilang bahwa jabatan Jan Di sebagai pelayan mu hanya sementara” jelas Nyonya Besar.

“Aish … baiklah baiklah, aku terima keputusan haelmoni dengan syarat Jan Di tetap melayani ku sepulang dari Shinhwa” ujar doronim.

“Yya, kau ini tega sekali. Dari pagi hingga sore Jan Di sudah lelah bekerja di Shinhwa, jangan kau tambah-tambah dengan yang aneh-aneh” bela Nyonya Besar.

“Kalau begitu Jan Di tidak boleh bekerja di Shinhwa” jawab doronim.

“Aish … anak ini pagi-pagi sudah bikin kesel orang tua” tangan Nyonya Besar bersiap menyerang doronim tapi segera aku tahan.

“Aku setuju aku setuju” ucap ku sambil memegangi tangan Nyonya Besar.

“Jan Di-a, tidak perlu seperti itu nak. Tiba di rumah waktunya istirahat, tidak perlu melayani Jun Pyo lagi” jawab Nyonya Besar.

“Gwenchana. Saya bisa atur waktu istirahat” aku mengambil jalan tengah ini supaya tidak mengecewakan doronim maupun Nyonya Besar.

“Aigoo … Baiklah, kita putuskan begitu saja” jawab Nyonya Besar.

“Sekarang kau berangkatlah. Ji Hoo akan mengantar mu” ucap Nyonya Besar pada ku.

“Yya, kenapa harus diantar Ji Hoo. Pergi dengan ku saja” cegah doronim.

“Tidak perlu repot begitu, Jun Pyo-a. Akan lebih baik jika Jan Di pergi bersama ku karena kantor kami satu gedung” jawab Tuan Yoon.

“MWO? Apa maksud mu?” tanya doronim sambil melirik tajam pada Tuan Yoon.



“Haelmoni tidak menempatkan Jan Di di kantor pusat melainkan di kantor cabang yang sedang dikelola Ji Hoo” jawab Nyonya Besar.

“Kenapa harus di cabangnya Ji Hoo?” cecar doronim.

“Agar Jan Di dapat pembimbing. Haelmoni tidak tenang menempatkan Jan Di di kantor pusat, tidak ada orang yang bisa haelmoni percaya di sana. Siapa yang akan menjaga dan mengajari Jan Di jika bukan Ji Hoo? … Kau? Mana mungkin, kau pasti punya banyak urusan” urai Nyonya Besar. Doronim diam tak berkutik. Dia kalah telak dengan argumen Nyonya Besar.

“Kalian berdua, lekas pergilah” ujar Nyonya Besar pada ku dan Tuan Yoon.

“Baiklah kami berangkat” pamit Tuan Yoon. “Mari” Tuan Yoon membuka jalan untuk ku. Tangannya diulurkan ke depan seraya mempersilahkan aku untuk jalan lebih dulu.

“Ne. Nyonya Besar, doronim, aku mohon diri” aku membungkuk satu kali kemudian berlalu dari hadapan mereka.

Aku pergi meninggalkan doronim yang berwajah … ehmmm … berwajah apa ya??? Mian, sulit diungkapkan dengan kata-kata. Andai disuruh menuangkan dalam sebuah kanvas juga tak bisa. Sebab percuma karena hanya akan menghabiskan tinta merah ku saja. Butuh 10 botol tinta merah ukuran jumbo jika ingin mengambarkan kondisi doronim saat ini. Lebih mudah melukiskan wajah dongkol Shin Chan dari pada menggambarkan ekspresi mengerikan doronim ketika melepas kepergian ku bersama Tuan Yoon.

Ada hawa panas yang tiba-tiba menjalar. Aku seperti berada di samping gunung berapi yang akan meletus setelah tidur selama ratusan tahun. Gunung itu siap menyemburkan laharnya. Awan panas sudah memayungi kawahnya. Suara gemuruh sesekali berdentum dari dapur magmanya. Aku tak kuat berlama-lama. Segera saja aku angkat kaki meninggalkan lelehan lava yang hangus membakar kaldera.
« Last Edit: March 16, 2011, 11:59:24 am by Liko »

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 7, 16 Maret 2011 ~
« Reply #355 on: March 16, 2011, 02:36:00 pm »
h3h3h3, akhirnya jandi naik pangkat.... jae kyung lagi jae kyung lagi... huft...


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 7, 16 Maret 2011 ~
« Reply #356 on: March 16, 2011, 04:42:31 pm »
go junpyo cemburu berat sma jiho bisa di byangkan deh mukanya kya gimna, tpi....! gmna dengan perjodohan junpyo & jay gyung ya....? rsa pensran sma lanjutannya mkin kuat aja tankyu sist udah di updat next nya pleeeeees jngan lma" lgi ya....!

Offline Graciela

  • Newbie
  • *
  • Posts: 87
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 7, 16 Maret 2011 ~
« Reply #357 on: March 16, 2011, 08:17:22 pm »
Bwakakakakakakakakakakakakakakakaka #ngakakgaketulungan

Chapter ini emang ga ada yg romantis, tapi liat tingkah pola Jun Pyo semuanya lucuuu and kocaaaakkk abiiiisssss

Liat Jan Di ketawa2 di telepon aja si Jun Pyo ampe ikutan latah ketawa2 sendiri. Trus rela2 sembunyi di belakang rak buku buat mengintai Jan Di lagi ngobrol ama siapa di telepon. Lalu pas lagi manja2 ama omma-nya trus omma-nya sengaja salah nyebut nama Jan Di eh si Jun Pyo langsung pasang sikap formal gitu. Apalagi pas manyun n gondok gara2 Jan Di harus kerja ama Ji Hoo.....hohohohohoho si anak mami cemburuuuuuuu tuh ^.^

Btw, kan baik JP dan JK sama2 nolak mau ditunangin, berarti batal dong ya pertunangannya? Trus apa nanti Ji Hoo juga akan suka sama Jan Di? Lalu Jan Di suka ga ama Ji Hoo????

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 7, 16 Maret 2011 ~
« Reply #358 on: March 16, 2011, 10:19:00 pm »
Likooo thanks say dah di upd ate..

Jun Pyo Jun pyo kocak banget sih manjanya ama eommanya trus tiba2 dilepas setelah dgr eomannya nyebut nama Jan Di, ckckckkkk padahal di boongin,  [hmpfh] [hmpfh]

kyknya halmonie ama Eomma Junpyo punya feeling kalo Jun Pyo emang suka ama jan Di makanya mereka merasa belum yakin dgn perjodohan Jun Pyo dan Jae Kyung , tp mereka masih belum menyadarinya. [chin] tp Eomma JP seperti kurang suka jika gadis yg disukai anaknya itu Jandi, waduh pasti jdi masalah ni, [goodgrief]

yayaaaa, JP cemburu ama Ji Hoo coz Jan di kerja di cabang Shinwa yg dipimpin JI Hoo,  [heh] [heh] pasti ketar ketir nih JP kyknya bakalan tiap menit Jandi di telepon and dasar JP geblek  [head break] [head break]emang nya JD itu wonder woman , masa dah kerja di kantor masih juga disuruh jd pelayan pribadi JP [guns]......

Liko komawoyo dah di up date, tinggal up date OFF AIR dunks say [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Diamond of Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 714
  • Your smile make me cool..Your love around me,,
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 7, 16 Maret 2011 ~
« Reply #359 on: March 16, 2011, 10:41:49 pm »
Perjodohan adalah mutlak dlm keluarga bisnis kyk keluarga Ha dan juga kel.Goo..
Goo haelmoni kyknya suka nih sama jan di..keliatan dr tampangnya..lebih perhatian gitu, trs sering maen kuas bareng..apalagi kehangatan n kepolosan si jan di alami banget sama haelmoni..jadi dapet deh kriteria mantu..

Tapi, ngeliat gelagat omma jp, dia kurang mendukung ya klo jp suka sama jandi..secara ada dialognya diatas..musti sekalangan, trs wktu ommanya pura2 nge-tes jp dgn memanggil min ji yang nyatanya si jd..lha keliatankan, ketidaksukaannya ommanya..
Lagian knp juga ommanya jp ngebet amat pengen jd ga ngurus jp lagi..

Tanda2 memisahkan udah muncul..oh poorr...!

Gumawo sist liko udah update nyang ni..seneng deh..*wlpn agak lma*
From the bottom of my heart,,
i wish you here with me ever and forever..
Become a real couple..

Aza aza hwaiting!!!