Author Topic: Be Strong, Jan Di ~ masih bukan chapter masih bukan spoiler..OMG ~  (Read 53406 times)

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #480 on: April 28, 2011, 08:18:49 pm »
sist liko gelombangnya jangan banyak-banyak donk....ntar kesapu lagi xixixixi [hmpfh]
sist nitu jandi dah cembokur ya??
chapterselanjutnya jangan segera ya [biggrin] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

ok meei sesuai permintaan, updatenya ga bakal segera  [hmff]  demen nih ama reader model sist meei  [lovestruck]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #481 on: April 28, 2011, 08:20:15 pm »
kapan update [what]

maunya kapan  [what]  tinggal blng aja  [biggrin]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #482 on: April 28, 2011, 08:22:02 pm »
anyong  likoo  [flowers] [flowers] salam kenal to ALL MEMBER's HERE    [smiley] [smiley]
btw .. kapan nih be strong jandinya mau di update lagi seru ceritanya  [smiley-gen013] [smiley-gen013] jangan gelombang-gelombang terus ya  [heh] [heh]

anyong ananda  [bye]  met gabung di mari  [arms]

updatenya kapan ya  [chin]  [chin]

Offline anggii.pp_minsun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • suasana bhagia MINSUN di BBF :D
  • Location: palembang
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #483 on: April 28, 2011, 08:22:23 pm »
kapan update [what]

maunya kapan  [what]  tinggal blng aja  [biggrin]

SEKARANG bisa sist   [what] [hmpfh]
   

sabarr papi ku

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #484 on: April 28, 2011, 11:10:30 pm »
Update,,,,

Offline serenity

  • Newbie
  • *
  • Posts: 53
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #485 on: April 28, 2011, 11:44:46 pm »
kapan update [what]

maunya kapan  [what]  tinggal blng aja  [biggrin]
gimana kalo skrng ja sist......... [hmff]  [hmff]

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #486 on: April 29, 2011, 07:03:13 am »
menanti updatetan sambil makan siang with my new husband <-- prince william atau ayang i'am  [hmpfh]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #487 on: April 29, 2011, 11:02:21 am »
CHAPTER 8



Hari ku di Shinhwa berjalan lancar. Tugas-tugas dari Tuan Yoon terselesaikan dengan benar. Bukan karena aku pintar. Melainkan lebih disebabkan detailnya arahan yang Tuan Yoon berikan. Intinya aku baik-baik saja di sini. Namun semua berubah begitu ponsel gratisan dari doronim berdering.

Doronim menghubungi ku dan meminta datang ke Shinhwa pusat sekarang juga. Doronim bilang aku harus melayani makan siangnya. Tentu saja aku menolak dengan dalih belum waktunya bagi ku untuk melayani doronim. Bukankah menurut perjanjian disebutkan demikian. Aku hanya melayani doronim sepulang dari Shinhwa. Di luar itu doronim bukan tanggung jawab ku.

Sayangnya mau menolak sekuat apa pun tetap gagal. Doronim bersikukuh menyuruh ku ke kantornya. Bahkan tiba-tiba muncul Sekretaris Park di saat aku masih adu argument di telepon. Akhirnya mau tidak mau aku nurut saja diboyong Sekretaris Park ke hadapan doronim. Lalu kemana Tuan Yoon? Harusnya dia tidak tinggal diam melihat anak didiknya dibajak orang lain. Satu jam lalu Tuan Yoon keluar kantor. Beliau ada pertemuan mendadak. Akibatnya doronim jadi lebih leluasa mensabotase diriku.

*******

Jun Pyo memperhatikan meja bundar di depannya. Berbagai hidangan mewah tersaji di sana. Sekretaris Park memesan aneka makanan atas perintah Jun Pyo. Makanan-makanan itu tertata rapi di ruang kerja Jun Pyo. Peralatan makan yang disediakan terdiri dari dua set. Menu yang dipesan pun hanya cukup untuk dua orang saja.

Tok … Tok … Tok … pintu ruangan Jun Pyo diketuk tiga kali.

Jun Pyo memeriksa kembali susunan meja makan. Setelah yakin semuanya telah sempurna, Jun Pyo berjalan tergesa menuju pintu. Ditariknya handle pintu dengan semangat. Segaris senyum tersungging di bibir Jun Pyo.

“Yya, kenapa la …” lidah Jun Pyo tercekat untuk berucap. Senyum yang tadi terpampang seketika menghilang.

“Ka … Kau …” Jun Pyo terkejut karena yang datang bukan orang yang ia harapkan.

“Tidak perlu terkejut melihat ku” ujar tamu tak terduga ini sambil ngeloyor masuk.

“Hei! Siapa yang mengizinkan mu masuk” geram Jun Pyo.

“Apa aku perlu izin sebelum memasuki ruangan calon suami ku sendiri” ternyata yang datang adalah Jae Kyung.

“MWO! Calon suami?” tanya Jun Pyo tak percaya.

“Aish, mian mian. Aku tarik lagi perkataan itu. Aku jijik mendengarnya” jawab Jae Kyung.

“Jijik? Baguslah. Aku juga MUAK dengan rencana itu” timpal Jun Pyo.

“Lalu untuk apa kau kemari?” tanya Jun Pyo.

“Menyerahkan ini” Jae Kyung menyodorkan sebuah map coklat.

“Apa ini?” Jun Pyo minta penjelasan.

“Laporan perkembangan proyek Berlin” jawab Jae Kyung.

“Berlin? Sejak kapan kau turut campur urusan di Berlin?” tanya Jun Pyo kesal.

“Sejak perjodohan gila itu” jawab Jae Kyung tak kalah kesal.

“Mwo? Maksud mu orang tua kita yang mendalangi semua ini” tebak Jun Pyo.

“Ku rasa begitu” terka Jae Kyung.

Sejak awal proyek Shinhwa di Berlin ditangani oleh Mr Ha. Mendadak proyek itu jatuh ke tangan Jae Kyung. Padahal Mr Ha bukan tipikal orang yang bekerja setengah-setengah. Ada dugaan bahwa Mr Goo dan Mr Ha merencanakan ini semua demi kelancaran pernikahan putra-putri mereka. Jun Pyo dan Jae Kyung sengaja dilibatkan dalam urusan yang sama agar intensitas pertemuan mereka semakin tinggi. Dengan begitu diharapkan akan timbul riak-riak asmara di antara keduanya.

“Yya, kenapa kau mau saja menangani urusan di Berlin?” telisik Jun Pyo.

“Kau pikir aku langsung terima pekerjaan ini. Aku sudah berdebat habis-habisan melawan keinginan appa” jelas Jae Kyung.

“Konyol …” dengus Jun Pyo.

“Jangan khawatir, aku pastikan kita tidak akan sering-sering bertemu” ucap Jae Kyung.

“Maksudmu?” tanya Jun Pyo.

“Proyek Berlin memang sudah menjadi tanggung jawab ku. Urusan negosiasi dengan investor di Berlin akan ku tangani sendiri. Tapi untuk berdiskusi dengan mu biar asisten ku saja yang mengerjakannya” papar Jae Kyung.

“Ok, begitu jauh lebih baik” Jun Pyo sedikir lega.

“Omo … Sepertinya kau ada janji makan siang dengan seseorang” Jae Kyung melihat dekorasi mini di ruangan Jun Pyo.

“Ne” jawab Jun Pyo singkat.

“Yeoja?” selidik Jae Kyung perihal teman makan siang Jun Pyo.

“Bukan urusan mu” hardik Jun Pyo.

“Ah, benar juga. Setelah rencana pernikahan gila itu kau pasti harus merayu pacarmu agar tidak salah paham” ucap Jae Kyung.

“Yya, apa maksudmu?” tanya Jun Pyo.

“Lakukanlah. Jelaskan pada yeoja mu bahwa aku tidak berminat dengan pernikahan ini. Jelaskan sedetail mungkin pada dia. Aku tidak ingin tiba-tiba ada gadis yang melabrak ku, atau ada ancaman lewat surat kaleng, atau ada teror melalui sms” ucap Jae Kyung.

“Ha Jae Kyung! Jaga mulut mu! Dia bukan wanita seperti itu. Dia bahkan tidak tahu akan perjodohan kita” bela Jun Pyo.

“Aigoo, ada yang tidak terima pacarnya diolok-olok” ejek Jae Kyung.

Jun Pyo tambah meradang. Kedua rahanya saling beradu. Kalau saja Jae Kyung bukan wanita, dapat dipastikan bogem Jun Pyo telah melayang.

“Baiklah, aku pergi sekarang. Semoga makan siang kalian menyenangkan. Jangan lupa sampaikan salam ku untuk pacar tersayang mu” akhirnya Jae Kyung keluar juga dari ruangan Jun Pyo.

*******

Untuk kali ke dua aku menapakkan kaki di gedung megah Shinhwa. Saat pertama ke sini, seragam pelayan yang aku gunakan. Sekarang penampilan ku jauh berubah. Tapi tujuannya tetap sama, melayani keperluan doronim.

Begitu tiba di ambang Shinhwa, sesosok paras anggun mencuri perhatian ku. Wanita dengan balutan blazer ungu serta rok hitam berjalan mendekati pintu keluar Shinhwa. Langkahnya mantap perlambang kepercayaan diri yang kuat. Tidak hanya fisik saja yang mempesona, pembawaan wanita ini juga terlihat sempurna. Walau terkesan sedikit arogan tapi sesuai dengan kedudukannya yang sepertinya berkuasa.

Semakin dilihat dari dekat, kekaguman ku tambah melekat. Kira-kira apa yang ada di pikiran para lelaki ketika wanita anggun ini berlalu di hadapan mereka. Aku saja yang sama-sama perempuan terpikat dengan pesonanya. Apalagi kaum pria.

“Anyonghaseyo, agashi” Sekretaris Park membungkuk padanya. Omo, ternyata Sekretaris Park kenal wanita ini.

“Anyong …” sapaan hangat Sekretaris Park disambut dingin. Hal ini tambah memperkental kesan wibawanya. Aigoo, dia keren sekali.

“Anda sudah akan pergi?” tanya Sekretaris Park.

“Ne, urusan ku sudah beres” jawabnya.

“Selamat jalan, agashi” Sekretaris Park melepas kepergian wanita ini dengan tubuh membungkuk.

Dia pun berlalu, berjalan tepat di depan ku. Kami sempat beradu pandang sejenak. Sorot matanya begitu kuat. Ambisi dan jiwa menggebu terpancar di sepasang mata indah itu. Aku rasa tidak ada istilah kalah dalam kamus hidupnya. Dia terlahir untuk jadi juara. Aish, kapan aku bisa seperti dia.

“Ehm, maaf Sekretaris Park … Apa anda mengenal wanita itu?” setelah dia jauh berlalu, aku beranikan diri bertanya.

“Tentu saja” jawab Sekretaris Park.

“Dia Diplomat Ha Jae Kyung, putri tunggal Diplomat Ha. Keluarga Ha banyak berperan dalam bisnis Shinhwa di luar negeri” tutur Sekretaris Park.

“Maksud anda keluarga nona tadi dan keluarga doronim adalah rekan bisnis” tanya ku lagi.

“Untuk saat ini iya” jawab Sekretaris Park.

“Ne? Apa maksudnya? Apakah mereka berniat memutuskan jalinan bisnis?” tebak ku.

“Anhi, bukan seperti itu. Untuk saat ini mereka adalah rekan bisnis, tapi sebentar lagi dua keluarga itu akan menjadi saudara” papar Sekretaris Park.

“Saudara?” aku tambah tidak paham.

“Mr Goo dan Mr Ha sepakat untuk menikahkan doronim dengan Jae Kyung agashi”

Pletak. Auw! Aku keserimpet hak sepatu. Entah mengapa tubuhku labil seketika. Kaki ku kehilangan tenaga hingga sulit menjaga keseimbangan di atas hak sepatu yang sebenarnya tidak terlalu tinggi.

“Gwenchana?” Sekretaris Park membantu mengembalikan keseimbangan tubuh ku.

“Ne, gwenchana. Aku … aku … tidak biasa memakai sepatu hak tinggi” aku mengkambinghitamkan sepatu.

Omma, kenapa hati ku terasa perih. Apa yang menyebabkan aku jadi begini. Apa karena berita yang baru saja aku ketahui. Memangnya apa urusan ku kalau doronim menikah dengan gadis yang aku kagumi tadi. Mereka pasangan serasi. Lalu siapa aku ini? Hanya gadis rendahan yang beruntung dapat kesempatan mencari nafkah di keluarga Goo. Hanya itu … tidak lebih … CAMKAN JAN DI!



*******

Sejak memasuki ruang kerja doronim tampang ku tidak ada manis-manisnya. Aku begitu layu, persis seperti tanaman yang 7 hari tidak disiram. Aku berdiri mematung di depan pintu yang baru saja ditutup Sekretaris Park setelah mengantar ku ke hadapan doronim.

“Yya, kenapa diam saja. Kemarilah …” panggil doronim.

“Ada yang bisa saya bantu?” selepas kepergian Sekretaris Park, aku belum bergerak selangkah pun.

“Duduk di sini” doronim menarik sebuah bangku di depan meja yang dipenuhi makanan.

“…” aku tak bersuara, juga tak bergerak. Melihat kepasifan ku, doronim pun mendekat.

“Kacha” doronim menyambar pergelangan tangan ku, bermaksud membawa ku menuju meja makan mini. Tapi segera saja kutepis ajakan doronim.

“Yya, ada apa dengan mu? Cepat temani aku makan” doronim sedikit kesal karena aku menghempaskan tangannya dengan kasar. SANGAT KASAR.

“Kenapa tidak minta ditemani calon istri anda?” tanya ku dengan nada menantang.



“MWO?!” doronim berubah panik seakan takut kalau aku mengetahui rahasia besarnya.

“Akan lebih pantas jika nona diplomat yang duduk di bangku itu” ucap ku ketus.

“Yy … Yy … Yya … Yya … a .. a .. apa … maksud .. mu?” doronim jadi tambah gugup.

“Anda lebih paham akan ucapan saya” jawab ku sambil membungkuk seraya berpamitan.

“Saya mohon diri” aku tinggalkan doronim begitu saja. Entah dari mana timbulnya keberanian untuk memberontak. Tapi yang pasti saat ini aku malas meladeni doronim. Perasaan dikhianati bermain-main di dasar hati.

*******

Jun Pyo menatap kosong meja yang penuh oleh hidangan santap siang. Setelah ditinggal pergi Jan Di, makanan-makanan itu tidak disentuh lagi. Pikirannya tidak tenang setelah Jan Di tahu mengenai perjodohan itu.

“Dari mana dia tahu?”

“Aish, cepat atau lambat dia pasti tahu”

“Tapi aku belum siap menghadapi situasi ini”

“Aku tidak ingin dia menjauh karena perjodohan yang hanya sepihak”

“Perlukah aku menjelaskan padanya bahwa kami sama-sama tidak menyetujui untuk dijodohkan …”

“Haruskah aku menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya agar dia tidak salah paham …”

“Tapi mengapa … dan untuk apa aku memberikan penjelasan”

“… tidak ada motif yang tepat di balik penjelasan ku …”

“Aku tidak wajib menjelaskan apapun dan dia juga berhak menjauh kapan pun”

“Tapi sungguh … aku tidak sanggup menerima perlakuan demikian”

“Aku tidak tahan dengan penolakannya. Aku tidak terima akan sikap preventifnya”

“Bagaimana jika dia terus menghindar lalu berlari ke sisi pria lain”

“Aish, baru  membayangkan saja darah ku seperti sudah mendidih”

Tangan Jun Pyo terkepal. Napasnya tersengal-sengal. Ia dikendalikan oleh prasangka yang tidak-tidak. Pikirannya dirasuki rasa takut tingkat akut.

“Tenang Jun Pyo-a, dia tidak akan berani macam-macam. Dia tidak punya akses menuju pria. Dia sekarang sudah bekerja jadi tidak akan sempat main mata”

Jun Pyo mencoba menghibur diri. Semua prasangka buruk disingkiri. Ia tidak ingin dipusingkan dengan hal yang belum jelas kebenarannya. Membayangkan hal-hal negatif hanya akan menguras energi. Jun Pyo memilih untuk cooling down. Sekarang ia sudah lebih tenang. Tapi rupanya ketenangan itu hanya sekejap. Jun Pyo kembali gusar begitu teringat satu hal.

“OMONA!! JI HOO!!! … Dia bekerja bersama Ji Hoo!”

“Andwe! Andwe!  Tidak boleh Ji Hoo … Tidak juga pria lain”

“Dia tidak boleh berpaling pada pria mana pun … termasuk Ji Hoo sekali pun”

Jun Pyo menggeleng berkali-kali. Kecemasan kembali menghantui. Kali ini emosinya tidak terkendali.

“Aish, kenapa aku jadi begini …” rambut keriting Jun Pyo diacak-acak sebagai target pelampiasan kekesalan.

“Geum Jan Di, kau membuat ku gila !!! …” seru Jun Pyo.

*******

Jam kerja Shinhwa sudah berakhir 30 menit yang lalu tapi aku belum beranjak pulang. Aku masih berkutat dengan file-file. Kinerja ku melambat sekembali dari Shinhwa pusat. Mood ku melorot tajam setelah pertemuan singkat dengan doronim tadi siang. Aku baru merapikan meja dari serakan berkas ketika Tuan Yoon menyuruh ku pulang.

“Lanjutkan besok saja, sekarang waktunya pulang” tegur Tuan Yoon.

“Ne, agashimida” jawab ku.

“Kita makan malam dulu baru ku antar kau pulang” ucap Tuan Yoon.

“Anhiyo, Tuan Yoon. Saya bisa makan di rumah dan anda tidak perlu repot mengantar saya” tolak ku.

“Bisakah kau berhenti memanggil ku Tuan Yoon?” tanyanya.

“Ne?” aku balik bertanya.

“Jangan pangil aku dengan sebutan Tuan Yoon. Kedengarannya terlalu formal” jawab Tuan Yoon.

“Lalu saya harus memanggil anda apa?” tanya ku.

“Panggil nama ku saja” pinta Tuan Yoon.

“Ku rasa panggilan itu terdengar kurang sopan” sanggah ku.

“Kalau dipanggil tuan, aku merasa kau adalah bawahan ku” kilah Tuan Yoon.

“Saya memang bawahan anda” jawab ku.

“Anhi. Aku tidak pernah menerima mu sebagai bawahan. Haelmoni menitipkan mu pada ku, jadi tidak ada istilah bawahan atau atasan” ujar Tuan Yoon.

“Tapi anda senior saya” elak ku.

“Senior?” Tuan Yoon terdiam sesaat. Ia terlihat menemukan sebuah solusi tepat.

“Kalau begitu panggil aku sunbae” jawabnya setelah selesai tertegun.

“Tapi itu …” padahal aku baru mau mengelak, tapi sudah dipotong oleh Tuan Yoon.

“Tidak ada bantahan lagi. Kau sendiri yang bilang aku ini senior mu. Jadi mulai sekarang panggil aku Ji Hoo sunbae, arasso” ucap Tuan Yoon tegas.

“…” aku membisu.

“Hei, kenapa tidak menjawab … Ayo panggil aku sunbae” desak Tuan Yoon.

“Ne, sun … bae” dengan ragu kuturuti permintaan Tuan Yoon, anhi maksud ku sunbae.

“Nah, begini jauh lebih baik” ucap sunbae.

“Kacha, perut ku sudah lapar. Kita isi perut dulu” ajak sunbae seraya menarik tangan ku. Kalau sudah begini tidak ada kesempatan ku untuk menolak.

*******

Jun Pyo duduk diam dalam mobil. Tangannya meremas keras stir kemudi. Pemandangan yang dilihat membuatnya naik pitam. Dengan mata kepala sendiri Jun Pyo menyaksikan Ji Hoo berjalan bersisian bersama Jan Di. Mereka baru saja meninggalkan restoran setelah kurang lebih satu jam berada di dalam. Dan tentu saja selama satu jam pula Jun Pyo menunggu di luar restoran. Jun Pyo bahkan sudah menguntit Ji Hoo dan Jan Di sejak mereka keluar dari kantor. Maksud hati ingin membawa pulang Jan Di tapi ada daya ternyata Ji Hoo bergerak lebih dini.



Jun Pyo mengamati tiap adegan yang Ji Hoo dan Jan Di lakoni. Semakin dicermati semakin mendidihkan aliran nadi. Jun Pyo benar-benar geram melihat perhatian Ji Hoo pada Jan Di. Ji Hoo menarikkan kursi restoran buat Jan Di. Ji Hoo membukakan pintu mobil untuk Jan Di. Ji Hoo memakaikan sabuk pengaman pada Jan Di. Hal-hal itu yang membuat Jun Pyo gusar. Sebenarnya interaksi Ji Hoo dan Jan Di masih dalam taraf wajar. Tapi di mata seorang Goo Jun Pyo kebersamaan mereka bagaikan bencana besar.

 “Ternyata seperti ini tingkah kalian di belakang ku” geram Jun Pyo.

“Padahal baru satu hari mereka bekerja bersama, bagaimana jika sudah satu bulan. Kalau begini terus tidak bisa didiamkan” Jun Pyo menginjak kasar pedal gas. Jun Pyo membawa mobilnya menjauhi Ji Hoo dan Jan Di. Mobil berplat B1234CD itu menggila di jalan raya.

*******

Akhirnya aku tiba di rumah Goo. Masih ada satu tugas yang menunggu. Aku harus menghidangkan makan malam sesegera mungkin sebab tadi ku lihat mobil doronim sudah terparkir. Aku sadar aku telat. Oleh karenanya aku menaiki anak tangga dengan setengah berlari.

“Baru pulang?” doronim tiba-tiba menghadang saat aku sampai di anak tangga terakhir.

“Ne” jawab ku.

“Cepat siapkan makan malam ku” sambung doronim.

“Arasso. Setelah ganti pakaian akan saya siapkan” aku berjalan menuju kamar meninggalkan doronim

“Yya, besok harus pulang tepat waktu. Mana ada pelayan pulang larut malam” teguran doronim menghentikan langkah ku.

Aku memutar badan. Ku dapati tatapan tajam doronim. Aku pun tidak mau kalah. Ku balas tatapan itu seolah aku tidak punya rasa bersalah.

“Saya MAKAN MALAM dulu bersama sunbae” nada suara ku menekan dua buah kata.

“Sunbae?” doronim malah terusik dengan kata sunbae, bukan pada dua kata yang kuberi penekanan.

“Ne, Ji Hoo sunbae. Saya habis MAKAN MALAM bersama Ji Hoo sunbae” lagi-lagi kutekan dua kata itu, kali ini lebih tegas terucap.

“Sejak kapan kau memanggil Ji Hoo dengan sebutan sunbae?” aish doronim malah penasaran dengan panggilan sunbae. Padahal yang ingin aku umbar adalah acara makan malam bersama sunbae. Tapi sayangnya doronim tidak terpancing, seolah dia sudah tahu.

“Panggilan itu berlaku sejak makan malam tadi” jawab ku.

“HENTIKAN MENYINGGUNG MAKAN MALAM NORAK KALIAN !!!” tiba-tiba doronim membentak. Semula tujuan ku memang ingin pamer soal makan malam tapi tidak disangka doronim akan murka.

“Mi … Miane …” aku jadi ketakutan sendiri menghadapi kemarahan doronim.

Doronim menarik napas panjang “Sudahlah … Sekarang siapkan makan malam ku. Kau tidak lupa tanggung jawab yang satu itu, bukan?”

“Ne, akan segera saya siapkan” dengan cepat aku menuju dapur. Niat berganti pakaian aku urungkan. Aku lebih memilih langsung menyiapkan santap malam sebelum amarah doronim bangkit kembali.

*******

Mentari pagi ramah menyapa. Teriknya memancarkan semangat dan asa. Awal yang indah di pagi hari. Tapi tidak bagi Jun Pyo. Ia memulai hari dengan rasa keki. Perlakuan Jan Di pagi ini membuatnya gundah hati. Jan Di tidak menatap Jun Pyo padahal mereka sempat bertatap muka. Jan Di tidak menyapa Jun Pyo padahal Jun Pyo sudah berusaha menarik perhatiannya. Jun Pyo yakin Jan Di sedang menghindar. Jun Pyo merasa Jan Di semakin jauh darinya.

Dengan membawa kegusaran, Jun Pyo pergi ke Shinhwa. Sampai di kantor, Jun Pyo tidak bisa konsetrasi. Kejadian kemarin bermain lagi di benaknya. Kemarin adalah hari yang berat bagi Jun Pyo. Serentetan kejadian telah membuatnya uring-uringan. Diawali dengan rencana perjodohan yang bocor ke Jan Di. Dilanjutkan dengan upaya Jan Di menjauhi Jun Pyo. Lalu ditutup dengan dinner Jan Di dan Ji Hoo.

Peristiwa kemarin dan keacuhan Jan Di tadi pagi berpadu jadi satu. Akibatnya dari pagi hingga kini, awan hitam dengan setia memayungi Shinhwa. Bukan karena gangguan cuaca. Melainkan ada yang tidak beres dengan pimpinannya. Setiap 30 menit sekali teriakan Jun Pyo menggelegar. Seharian Jun Pyo uring-uringan. Kerjanya marah-marah tak karuan. Staf Shinhwa yang tidak tahu apa-apa jadi sasaran. Pekerjaan bawahannya dianggap salah semua.

“LAPORAN MACAM APA INI! SEGERA PERBAIKI DAN KEMBALI PADA KU SATU JAM LAGI!” bentak Jun Pyo pada manager keuangan.

“YYA! APA KAU DIGAJI UNTUK HASIL SEPERTI INI. DASAR TIDAK BECUS!” hardik Jun Pyo pada manager marketing.

“MWO! BELUM SELESAI?! SELAMA INI APA SAJA YANG KALIAN KERJAKAN!” maki Jun Pyo pada manager HRD.

Sekretaris Park sampai bingung menghadapi Jun Pyo. Tuan mudanya ini memang terkenal galak tapi tidak pernah marah tanpa sebab. Sekretaris Park menilai alasan kemarahan Jun Pyo tidak logis. Para manager itu telah bekerja semaksimal mungkin. Hasil kerja mereka juga tidak mengecewakan.

*******

Menjelang sore, amarah Jun Pyo berangsur kendur. Ia tidak marah-marah lagi dan lebih banyak berdiam diri. Jun Pyo duduk bersandar dengan ponsel menemani. Entah sudah berapa lama handphone itu berada dalam genggamannya. Nomor yang dituju Jun Pyo tidak pernah menjawab. Puluhan kali Jun Pyo menghubungi ponsel Jan Di tapi tidak diangkat.

“Sebegitu kuatkah keinginan mu menjauhi ku?” gumam Jun Pyo saat gagal lagi menghubungi Jan Di.

Tok … Tok … ketukan pelan mengalihkan Jun Pyo dari ponselnya.

“Masuk …” jawab Jun Pyo dingin.

Sekretaris Park membungkuk dengan hormat. “Maaf doronim, Tuan Yoon Ji Hoo minta bertemu”

“…” tak ada jawaban dari Jun Pyo.

“Akan saya minta datang lagi esok hari” Sekertaris Park seolah tahu keinginan Jun Pyo untuk menyendiri.

“Anhi, biarkan Ji Hoo masuk” jawab Jun Pyo.

“Ne, agashimida” Sekretaris Park berjalan mundur menuju pintu lalu mempersilahkan Ji Hoo menemui Jun Pyo.

Hawa tidak enak langsung dirasa Ji Hoo begitu memasuki ruangan Jun Pyo. Alis Ji Hoo berkerut dalam melihat Jun Pyo yang tidak semangat.

“Jun Pyo-a, apa kau sakit?” tanya Ji Hoo.

“Anhi” Jun Pyo menggeleng pelan.

“Kau tidak bersama Jan Di?” selidik Jun Pyo.

“Tadinya aku mau mengantarnya pulang, tapi Jan Di bilang ingin mampir dulu ke tempat lain” jawab Ji Hoo.

“Mampir?” alis Jun Pyo berkerut. “Mampir kemana?” tanya Jun Pyo lagi.

“Ehm … kalau tidak salah ke toko bubur. Tapi aku tidak tahu toko bubur mana yang Jan Di maksud” ujar Ji Hoo.

“Ada yang ingin kau sampaikan?” Jun Pyo menyudahi membahas Jan Di dan beralih ke tujuan Ji Hoo menemuinya.

“Ne. Aku ingin melaporkan perkembangan cabang baru. Tapi bisa ditunda besok karena sepertinya kau kurang sehat” ujar Ji Hoo.

“Sudah hampir jam 7” Ji Hoo melirik jam tangannya. “Sebaiknya kau pulang, jangan terlalu keras bekerja” saran Ji Hoo.

“Gwenchana. Apa yang mau kau laporkan. Sampaikanlah …” jawab Jun Pyo.

“Jinja?” tanya Ji Hoo tak yakin.

“Berikan laporannya” Jun Pyo mengulurkan tangan.

Dengan ragu Ji Hoo menyerahkan map putih. Jun Pyo menyambarnya lalu mulai mengamati deretan huruf dan angka yang tertera di laporan Ji Hoo.

“Jelaskan pada ku maksud laporan mu” pinta Jun Pyo.

“Ne. Cabang baru Shinhwa mendapat surplus 37 persen. Aku tahu ini jauh dari target yang kau inginkan. Tim ku akan mencoba inovasi baru. Beberapa hari ini kami sudah mengobservasi. Kami berencana untuk … “Ji Hoo menjelaskan panjang lebar gagasan barunya.

Sudah lebih dari 20 menit Ji Hoo memaparkan terobosan yang akan diterapkan di cabang baru. Ji Hoo menyampaikannya dengan antusias dan semangat menggebu. Saking semangatnya, Ji Hoo sampai tak sadar kalau Jun Pyo tidak menyimak. Pandangan Jun Pyo memang terfokus mengamati laporan Ji Hoo. Tapi pikiran pria ini tertuju pada masalah lain.

Ji Hoo terus mencekoki Jun Pyo dengan ide barunya. “Aku akan menerapkan system ini mulai minggu depan. Sebagai awalan, aku berencana membuat …”

“Ji Hoo-a, kau pernah jatuh cinta?” tanya Jun Pyo di tengah presentasi Ji Hoo.

“Mw … Mwo?!” lidah Ji Hoo langsung tercekat.

“Aku tanya apa kau pernah jatuh cinta” ulang Jun Pyo.

“Jatuh cinta ???? Ha … Ha … Ha …” Ji Hoo menanggapi dengan ledakan tawa.

“Goo Jun Pyo, ada apa dengan mu? Ha .. Ha .. Ha ..” dengan derai tawa Ji Hoo coba bertanya.

“Aku tidak sedang bercanda” Jun Pyo memasang wajah serius. Melihat tampang serius Jun Pyo, Ji Hoo berusaha menghentikan gelak tawanya. Ji Hoo baru sadar kalau karibnya ini tidak sedang bergurau.

“Yya, kenapa tiba-tiba menyinggung jatuh cinta. Baru kali ini kau bertanya seputar asmara” selidik Ji Hoo.

“Kau tahu kan kalau aku dijodohkan” ucap Jun Pyo.

“Ne, berita itu cepat tersebar” sahut Ji Hoo “Ah, aku paham sekarang … kau pasti ingin mengetes apakah dirimu sedang jatuh cinta pada diplomat cantik itu, bukan?” goda Ji Hoo.

“Aish! Jangan bawa-bawa dia. Jawab saja pertanyaan ku. Bagaimana rasanya kalau sedang jatuh cinta!” geram Jun Pyo.

“Yya! Kau ini bertanya atau cari ribut?! Galak sekali” dengus Ji Hoo.

“Ayolah cepat jelaskan padaku” paksa Jun Pyo.

“Lalu laporan ku?” Ji Hoo merasa paparanya tadi sia-sia.

“Lupakan saja. Kita bahas kapan-kapan. Sekarang jawab pertanyaan ku tadi” ucap Jun Pyo.

“Arasso, akan ku jelaskan. Dengarkan baik-baik” Ji Hoo mulai memberi kuliah singkat seputar cinta.

“Jika kau sedang jatuh cinta maka bayangan gadis itu akan terus berkelebat di pikiran mu” ciri pertama yang disebutkan Ji Hoo persis seperti yang Jun Pyo alami. Hati kecil Jun Pyo mengakui bahwa akhir-akhir ini bayangannya kerap menghantui.

“Kau selalu berusaha melindungi dia dari mara bahaya” Ji Hoo memaparkan ciri kedua. Jun Pyo jadi teringat betapa khawatirnya ia saat tahu ada yang tersesat.

“Berusaha memberikan apa saja untuk menyenangkan hatinya” tutur Ji Hoo lagi. Masih hangat di benak Jun Pyo perihal hadiah ponsel dan seperangkat alat lukis. Bahkan Jun Pyo juga berdonasi untuk toko bubur.

“Kau berusaha tampil sempurna jika ada gadis yang kau suka. Segala kekurangan mu akan kau tutup serapat mungkin” ucapan Ji Hoo yang ini begitu menancap di hati Jun Pyo. Ia masih ingat betul betapa malunya saat kepergok kedok yang asli. Biasanya Jun Pyo cuek saja ketika ada pelayan melihat tingkah manjanya. Baru kali ini Jun Pyo berlaga sok dewasa di depan seorang wanita.

“Waeyo?” tegur Ji Hoo. “Apa kau demam?” Ji Hoo melihat semburat merah di pipi Jun Pyo. Ji Hoo salah. Rona merah itu bukan karena Jun Pyo terserang demam. Ia sedang menahan malu sebab teringat saat tertangkap basah bersikap manja.

“Anhiyo. Lanjutkan saja” Jun Pyo berusaha menutupi rasa malunya. “Apa sudah selesai?” tanya Jun Pyo.

“Anhi. Masih ada satu lagi. Ini adalah bukti terkuat. Kalau kau mengalaminya maka kau positif jatuh cinta” tutur Ji Hoo.

“Apa itu?” selidik Jun Pyo.

“Kau akan berubah seperti gunung yang siap meletus ketika gadis itu bersama pria lain” papar Ji Hoo. Jun Pyo menyeringai kecil. Kejadian ini baru saja ia alami. Betapa tidak relanya Jun Pyo ketika harus melepasnya meski pada Ji Hoo yang sudah menjadi sahabat kental sejak dulu. Betapa tersiksanya Jun Pyo saat menerima sikap acuh darinya.

“Waeyo? Semua yang aku sebutkan sedang kau rasakan?” telisik Ji Hoo.

“…” Jun Pyo diam tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. Senyum pertama yang terpampang di bibir Jun Pyo setelah seharian meradang.

“Yya, jawab aku. Jangan diam begitu” tegur Ji Hoo.

“Ne” jawab Jun Pyo mantap.

“Wow! Kemajuan mu pesat Jun Pyo-a” Ji Hoo bersorak-sorai buat perkembangan Jun Pyo.

“Omong-omong siapa gadis itu? Si Nona Diplomat? Aigoo pesonanya sungguh hebat” ucap Ji Hoo.

“Ne, dia memang hebat” Jun Pyo membenarkan ucapan Ji Hoo. Padahal dia yang Jun Pyo maksud berbeda dengan dia yang Ji Hoo kira.

“Gomawo Ji Hoo-a. Mian aku tinggal dulu” Jun Pyo langsung bangkit lalu melesat meninggalkan Ji Hoo.

“Jun Pyo-a, kau mau kemana?” Ji Hoo terpaksa berteriak karena Jun Pyo sudah keluar secepat kilat.

“Aish, bagaimana nasib laporan ku?” ucap Ji Hoo dengan tampang memelas.

*******

Sejak dibuka lagi, baru kali ini aku menyambangi toko bubur. Ga Eul dan si Bos menyambut kedatangan ku dengan suka cita. Kami ngobrol bertiga hingga lupa kalau malam kian meraja.

“Sudah malam, aku harus pulang sekarang” pamit ku.

“Yya, kenapa buru-buru. Aku masih rindu” jawab Ga Eul.

“Ga Eul-a, ini sudah larut. Biarkan Jan Di pulang. Lain waktu kita ngobrol lagi” ucap si Bos.

“Jan Di-a, kau harus janji akan mengunjungi kami lagi” Ga Eul menggenggam tangan ku.

“Ne, aku janji” aku membalas genggaman tangan Ga Eul.

Aku pun meninggalkan toko bubur. Berjalan lambat menuju tempat penyeberangan. Lalu lalang kendaraan sudah sepi. Aku memilih menyeberang tanpa menunggu warna hijau di lampu pejalan kaki.

*******

Jun Pyo memperhatikan toko bubur dari dalam mobil. Sudah 20 menit dia di sini. Jun Pyo tidak melakukan apa-apa selain menatap Jan Di dari kejauhan. Gelak tawa Jan Di bersama Ga Eul dan mantan bosnya dicermati Jun Pyo dengan seksama. Ingin rasanya Jun Pyo memiliki kesempatan seperti Ga Eul dan bosnya. Menghabiskan waktu bersama Jan Di dan gelak tawanya. Melewati hari berdua Jan Di dan senyum manisnya.

Jun Pyo menegakkan posisi duduk. Ia tidak lagi bersandar pada jok mobil ketika Jan Di keluar dari toko bubur. Jun Pyo melihat Jan Di di depan zebra cross. Begitu Jan Di melangkahkan kaki, Jun Pyo langsung menginjak pedal gas. Jun Pyo memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Ia ingin bermain-main sedikit dengan Jan Di.

*******

Sorotan lampu mobil tiba-tiba memancar ke arah ku. Sebuah mobil bercat merah terlihat melaju dengan cepat. Napas ku tertahan di tenggorokan. Kaki ku tertambat diam tak bergerak. Sebenarnya aku ingin menghindar ke tepi jalan. Tapi tak tahu kenapa kaki ini begitu berat untuk diangkat. Mungkin karena aku terlalu kaget jadinya tak ada tenaga untuk angkat kaki.

Tubuh gemetar ku berdiri kaku di tengah jalan. Peluh berjatuhan disertai de javu yang sekonyong-konyong datang menyerang. Aku seolah pernah mengalami hal yang sama. Beberapa bulan lalu di tempat ini juga, aku pernah bertindak gila dengan menghadang mobil doronim. Tapi mengapa di saat genting begini bayangan itu kembali hadir.

Mulut ku komat-kamit memanjatkan doa. Kalau harus bertemu omma, appa dan Gang San sekarang aku tidak keberatan. Aku sudah pasrah. Jiwa raga ini aku serahkan seutuhnya pada si pengemudi mobil merah. Dengan cemas aku menanti benturan. Menunggu datanganya hantaman mobil dengan mata terpejam.

Ciiiiittttt … decitan mobil terdengar ngilu. Aku membuka mata perlahan. Ku dapati tubuh ku masih utuh tanpa goresan. Dengan napas terengah aku menoleh ke mobil merah. Sesosok pria yang SANGAT SANGAT tidak asing duduk di bangku kemudi. DORONIM!!! Ya, si pengendara mobil tidak lain adalah doronim ku.

Doronim membuka pintu mobil lalu berjalan ke arah ku. Langkahnya lemah tanpa gairah. Wajah sendunya terlihat sayu. Tatapan matanya redup menahan pilu. Kaki ku mundur satu demi satu. Mencoba mengelak dari hadapan doronim. Aku hanya bisa mundur 3 langkah. Sebab dengan cepat doronim meraih tubuh ku ke dalam dekapannya.



Lagi! Tubuh ku kini berada dalam pelukan doronim lagi. Aku kembali tertawan dalam dada bidang ini. Tak ku sangka kejadian serupa akan terulang untuk ke dua kali. Rasa itu pun hadir kembali. Desiran yang sama seperti pelukan pertama kami. Tapi desiran yang ini terasa lebih kuat. Gelora yang kurasa semakin hebat. Apalagi ditambah bumbu nostalgia yang dihadirkan doronim.

“Masih ingat potongan adegan tadi?” bisik doronim.

“Tiga bulan yang lalu seorang gadis menghadang mobil ku di jalan raya ini. Dia minta tumpangan cuma-cuma. Tapi sekarang gadis itu menghindari ku” ucap doronim sambil menambah kekuatan pelukannya.

“Jangan menghindar lagi. Aku tidak tahan dengan sikap acuh mu” doronim membelai lembut helaian rambut ku. Debaran jantung ku kian tak menentu. Batal ditabrak tidak membuat ku tenang. Aku malah tambah tegang. Pelukan doronim sungguh menentramkan tapi juga menegangkan.

Perlahan pelukan doronim mengendur. Tubuh kami mulai menjauh tapi tangan doronim tetap melingkari pinggang ku. Aku tahu doronim sedang menatap ku. Bisa kurasakan tatapan itu mengenai tiap inchi wajah tertunduk ku.

“Tatap aku, Jan Di” pinta doronim.

Bukannya menengadah, aku malah lebih dalam membenamkan wajah. Pandangan ku terpusat pada barisan kancing jas doronim. Aku tidak berani membalas tatapannya. Pelan-pelan tangan kanan doronim terangkat. Hanya tangan kirinya saja yang masih di pinggangku untuk membekap. Doronim menyentuh dagu ku. Berusaha mengangkat wajah ku. Mulanya aku mengelak. Namun akhirnya wajah ku pun terangkat.

“Mulai detik ini hanya nama ku saja yang harus kau ingat, hanya suara ku saja yang harus kau dengar dan hanya wajah ku saja yang boleh kau tatap” ucapan doronim membuat ku terperangah. Aku coba mencernanya. Mencari makna yang tersembunyi di tiap kata.

Di tengah kebingungan memikirkan maksud perkataan doronim, dengan lambat wajah doronim bergerak mendekat. Tubuhnya agak membungkuk sementara kepalanya sedikit dimiringkan. Ketika jarak yang memisahkan kami mengecil, hembusan napas doronim terasa menerpa wajah. Mata ku terbelalak begitu doronim menempelkan bibirnya pada bibir ku.



Tubuh ku membeku. Aku tidak bisa berbuat banyak. Yang sanggup aku lakukan hanyalah memandangi mata doronim yang tertutup rapat. Bulu mata hitam dan panjang bergantungan di sepasang kelopak. Samar-samar aku merasa bibir itu mulai terbuka. Desiran hebat bergejolak saat doronim mulai melumat.

Bibir ku gemetar. Wajar saja karena ini pengalaman pertama. Aku tidak tahu harus bagaimana. Yang kurasa bibir doronim semakin aktif merajalela. Setelah hampir 15 detik, doronim melepaskan lumatannya. Ia lantas bergerak mendekati telinga ku.
“Saranghae …” doronim berbisik mesra.

Dunia ku runtuh seketika. Setelah mencuri ciuman pertama ku, doronim malah menyatakan cinta. Dan kini ketika hati ku masih porak-poranda, doronim kembali melancarkan ciumannya. Saat menyudahi lumatan tadi, aku pikir ciuman kami sudah berhenti. Ternyata salah. Doronim memberi jeda untuk membisikkan kata cinta. Setelah itu ia melanjutkan lagi serangannya.

Ciuman kali ini sungguh berbeda. Doronim melumat bibir ku dengan lebih agresif. Yang tadi mungkin baru tahap penjajalan saja. Sepertinya doronim belum lihai dalam hal ciuman. Ia terlihat agak gugup karena mungkin belum berpengalaman. Di ciuman kami yang kedua, doronim sudah pandai berimprovisasi. Tangan kiri doronim membekap pinggang ku dengan erat. Sementara tangan kanannya menyusup ke leher ku dengan mantap. Kalau sudah begini doronim jadi lebih leluasa melumat bibir ku.

Di tengah permainan, aku bertindak gila. Aku menyambut lumatan doronim. Aku membalas lumatan itu meski sambil gemetaran. Keputusan ku untuk ikut melumat ternyata berakibat fatal. Doronim jadi tambah semangat begitu merasa bibirnya aku lumat. Doronim bahkan rela membungkuk lebih rendah demi menggapai bibir ku seutuhnya.
 


Ciuman kami berakhir saat oksigen mulai terasa tiris. Kami saling pandang dengan napas tidak beraturan. Ada rasa malu menyembul dalam hati ku. Semburat merah muda merona di pipi ku. Ciuman tadi benar-benar meninggalkan sensasi tinggi. Aku tidak menyangka bisa mengalami semua ini. Bibir ku sampai pucat. Lipstick yang kupakai luntur, menempel pada sudut bibir doronim.

“Saranghae …” suara parau doronim kembali  mengumandangkan kata cinta. Membuat aku terlena. Tak kuasa membedakan mimpi atau nyata. Ku mohon jangan taburi benih bahagia jika akhirnya menuai duka.


Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ update 30 Apr 2011 ~
« Reply #488 on: April 29, 2011, 12:37:14 pm »
Liko thanks updatetannya.. [arms]
First coment [biggrin]
Maksud hati ingin membawa pulang Jan Di tapi ada daya ternyata Ji Hoo bergerak lebih dini.. [rofl] #pepatah baru by Liko
PERTANYAAN AJAIB dimata kuliah "CINTA" ala chef Tuan Yoon --> good question Doronim [lovestruck]

Mulut ku komat-kamit memanjatkan doa. Aku sudah pasrah. Jiwa raga ini aku serahkan seutuhnya pada si pengemudi mobil merah. Dengan cemas aku menanti benturan. Menunggu datangnya hantaman mobil dengan mata terpejam. (gw pernah ngalamin itu DAN SAYANGNYA GW DITABRAK untung masi idup #curcol [laughing] [laughing] )

“Mulai detik ini hanya nama ku saja yang harus kau ingat, hanya suara ku saja yang harus kau dengar dan hanya wajah ku saja yang boleh kau tatap”... "Saranghae" [collapse] [collapse] --> beloved Doronim [lovestruck]

Aku membalas lumatan itu meski sambil gemetaran.. --> ikutan gemeter bacanya #reader lebay [hmff]

Ku mohon jangan taburi benih bahagia jika akhirnya menuai duka. [what] jadi takut [sweat] [sweat]

PUAS Bgt bacanya..."campur2nya dapet"!!!! love it... [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Love you more than I can say

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ update 30 Apr 2011 ~
« Reply #489 on: April 29, 2011, 05:01:08 pm »

Likoooo  [arms] [hug]
keadaan JP waktu jealous  [laughing] [laughing]


- tapi Ji Hoo Sunbae salah paham, khan yg dimaksud JP ce' itu si Jandi bukan si JK ^__^
jadinya Ji Ho sunbae teuteup ga taw klo klo JP cinta ma Jandi,
dan perlakuan JI Hoo sunbae ke Jandi akan tetap seperti biasanya, ...hwaduhh bisa perang  lg d  [hmff]

- akhirnya si anak mami,manja dan kolokan benar2 menjadi pria dewasa  [hmpfh]
seorang Jandi telah merubahnya menjadi seperti itu  [lovestruck] [lovestruck]

- Jun Pyoa, gw salut padamu *syaaahhhh*  [hmpfh]
lanjutkan perjuangan-mu  [AddEmoticons04273]
msiy harus ngadepin sesepuh-2 yg merencanakan perjodohan JP dan JK, Jun Poaa...Fihgting... Emoticons0426


Likooo  smangat untuk chap berikut-nyaa  [huglove]



‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ update 30 Apr 2011 ~
« Reply #490 on: April 29, 2011, 06:26:16 pm »
                             
                                OH.... SWEET MOMEN'S ^_^

   AKHIRNYA... jun pyo anak mami punya keberanian menyatakan cintanya waluapun masih ada kegugupan
 
  tapi....! setelah ini mereka mesti menghadapi maslah keluarganya jun pyo ....!

  apa lagi orang tuanya jun pyo yg sudah mempunyai rencana menjdodhkan jun pyo..

   sist liko updat lagi donk.....! :(

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ update 30 Apr 2011 ~
« Reply #491 on: April 29, 2011, 09:09:52 pm »
Maksud hati ingin membawa pulang Jan Di tapi ada daya ternyata Ji Hoo bergerak lebih dini.. [rofl] #pepatah baru by Liko
pepatah jadi2an  [laughing]  [laughing]

PERTANYAAN AJAIB dimata kuliah "CINTA" ala chef Tuan Yoon --> good question Doronim [lovestruck]
gara2 pertanyaan itu meeting jd ngarol-ngidul  [hmff]

Mulut ku komat-kamit memanjatkan doa. Aku sudah pasrah. Jiwa raga ini aku serahkan seutuhnya pada si pengemudi mobil merah. Dengan cemas aku menanti benturan. Menunggu datangnya hantaman mobil dengan mata terpejam. (gw pernah ngalamin itu DAN SAYANGNYA GW DITABRAK untung masi idup #curcol [laughing] [laughing] )
klo yg nabrak junpyo apa jadinya  [heh]

“Mulai detik ini hanya nama ku saja yang harus kau ingat, hanya suara ku saja yang harus kau dengar dan hanya wajah ku saja yang boleh kau tatap”... "Saranghae" [collapse] [collapse] --> beloved Doronim [lovestruck]
idemmmmmmmmm  [biggrin]

Aku membalas lumatan itu meski sambil gemetaran.. --> ikutan gemeter bacanya #reader lebay [hmff]
yg gemeter apanya  [hmpfh]

Ku mohon jangan taburi benih bahagia jika akhirnya menuai duka. [what] jadi takut [sweat] [sweat]
jandi ga mau terlalu berharap makanya belom apa2 udah pesimis  [sweat]

PUAS Bgt bacanya..."campur2nya dapet"!!!! love it... [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
asal jgn campur iler aja  [laughing]  [laughing]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ update 30 Apr 2011 ~
« Reply #492 on: April 29, 2011, 09:15:47 pm »
- tapi Ji Hoo Sunbae salah paham, khan yg dimaksud JP ce' itu si Jandi bukan si JK ^__^
jadinya Ji Ho sunbae teuteup ga taw klo klo JP cinta ma Jandi,
dan perlakuan JI Hoo sunbae ke Jandi akan tetap seperti biasanya, ...hwaduhh bisa perang  lg d  [hmff]
iya, sunbae ngira doronim suka ama jahekeong  [hmpfh]

- akhirnya si anak mami,manja dan kolokan benar2 menjadi pria dewasa  [hmpfh]
seorang Jandi telah merubahnya menjadi seperti itu  [lovestruck] [lovestruck]
klo ketemu emaknya palingan jg junpyo balik manja lagi  [laughing]  [laughing]

- Jun Pyoa, gw salut padamu *syaaahhhh*  [hmpfh]
lanjutkan perjuangan-mu  [AddEmoticons04273]
msiy harus ngadepin sesepuh-2 yg merencanakan perjodohan JP dan JK, Jun Poaa...Fihgting... Emoticons0426
HWAITING DORONIM!!!  [clap]

Likooo  smangat untuk chap berikut-nyaa  [huglove]
okokokok  punk  punk

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ update 30 Apr 2011 ~
« Reply #493 on: April 29, 2011, 09:19:51 pm »
                             
                                OH.... SWEET MOMEN'S ^_^

   AKHIRNYA... jun pyo anak mami punya keberanian menyatakan cintanya waluapun masih ada kegugupan
 
  tapi....! setelah ini mereka mesti menghadapi maslah keluarganya jun pyo ....!

  apa lagi orang tuanya jun pyo yg sudah mempunyai rencana menjdodhkan jun pyo..

   sist liko updat lagi donk.....! :(


duri dan kerikil tajam sudah menunggu di depan mereka  [heh]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ update 30 Apr 2011 ~
« Reply #494 on: April 29, 2011, 10:31:37 pm »
Likooooooooooooooooooo [huglove] [huglove] [huglove] sweet banget and loooooooonnnnnnnggggggggg chapie  [lovestruck] [lovestruck]

“Tenang Jun Pyo-a, dia tidak akan berani macam-macam. Dia tidak punya akses menuju pria. Dia sekarang sudah bekerja jadi tidak akan sempat main mata”


“OMONA!! JI HOO!!! … Dia bekerja bersama Ji Hoo!”

“Andwe! Andwe!  Tidak boleh Ji Hoo … Tidak juga pria lain”

“Dia tidak boleh berpaling pada pria mana pun … termasuk Ji Hoo sekali pun”



paling demen adegan JP yg jealousnya kgk ketulungan [hmpfh]

Jun Pyo akhirnya menyatakan cintanya juga pada jandi and cintanya ,maksudnya ciumannya tidak bertepuk sebelah bibir  [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc]

“Mulai detik ini hanya nama ku saja yang harus kau ingat, hanya suara ku saja yang harus kau dengar dan hanya wajah ku saja yang boleh kau tatap” ucapan doronim membuat ku terperangah. Aku coba mencernanya. Mencari makna yang tersembunyi di tiap kata.

 [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225]

tp Ji hoo ngiranya JP jatuh cinta ama Jk,, waduh gimana kalo ampe ntar JH nyampein ke halmonie atau JD, pasti ntar disangka perjodohan nya tdk sia2,

gw berharap JK bakalan berjodoh ama JH, okay [heh] [heh]


liko ,komawo tengkyu  [AddEmoticons04225]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho