Author Topic: Be Strong, Jan Di ~ masih bukan chapter masih bukan spoiler..OMG ~  (Read 53379 times)

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ cipratan iler ke 2 ~
« Reply #585 on: May 21, 2011, 10:05:44 am »
spechless.... [sweat] [sweat] nasib jandi ditangan Liko nelangsa bener [cry] [cry]

ini belum seberapa masih tahap pemanasan  [hmff] [hmff]
[guns] [hammer] author reseh ya emang cuma si liliandrakomalangmelintangpukangditengahkubangan [laughing]

woyy klo mau minta updatean tuu mustinya ngerayu2 bukan blng reseh  [head break] [head break] [head break]
Liko... [cheekkiss]
jangan bikin Jandi sengsara yaa... #ngrayu critanya [laughing] [laughing]

Love you more than I can say

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ cipratan iler ke 2 ~
« Reply #586 on: May 23, 2011, 11:41:32 am »
CHAPTER 9



Kami duduk membisu dalam mobil. Rasa canggung menghimpit di sisi kanan dan kiri. Doronim terlihat ingin buka suara tapi selalu ditahan kembali. Aku harap doronim segera menghidupkan mobil lalu melajukan kendaraan ini. Aku ingin cepat pulang. Mengunci diri di kamar. Jauh dari pandangan doronim.

“Ehem …” doronim berdehem kecil. Mencairkan kebekuan yang entah sudah berapa lama tercipta.

“Jan Di-a, aku … serius dengan ucapan tadi …” doronim menyinggung pernyataan cintanya.

“Kau pasti mengira aku pria gila. Di saat hampir terikat aku malah menyatakan cinta” ucap doronim.

“Perjodohan itu hanya gagasan sepihak dari orang tua ku dan orang tua Jae Kyung. Perlu kau tahu bahwa kami sama-sama tidak menyetujui pernikahan ini” aku sedikit tersentak. Tidak percaya akan pengakuan doronim. Mana mungkin doronim menolak dinikahkan dengan wanita sesempurna nona diplomat.

“Kemarin aku bertemu Jae Kyung. Dia menyatakan keberatan untuk dijodohkan. Mungkin saja aku dan Jae Kyung akan bersekutu demi menggagalkan rencana itu” ujar doronim.

“Aku jamin tidak akan ada pernikahan. Orang tua kami tidak bisa memaksa karena calon mempelai yang mereka pasangkan sama-sama tidak mau disandingkan” papar doronim.

Dari tadi cuma doronim yang kedengaran suaranya. Aku hanya menjadi pendengar setia. Aku tidak tahu harus berucap apa. Karena jujur saja aku tidak menyangka bahwa mereka sepakat untuk menentang pernikahan itu.

“Aku yakin banyak yang menentang kalau kita bersatu … tapi sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan mu jadi ku harap kau tetap di samping ku, jangan menghindar apalagi lari dari ku” doronim berusaha meyakinkan keraguan ku. Rupanya doronim tahu ada rasa ragu di balik kebisuan ku.

Bukannya tambah yakin, aku justru semakin ragu. Aku tidak mau memasang mimpi terlalu tinggi. Doronim dan aku bagai langit dan bumi. Selamanya kami tidak mungkin bersatu sekuat apapun usaha yang ditempuh. Namun tampaknya doronim tidak perduli soal perbedaan kontras ini. Sepertinya harus aku yang berinisiatif mengenyahkan angan mustahil ini sekarang juga.

“Doronim …” akhirnya aku buka mulut juga.

“Hmm” sahut doronim seraya berpaling menatap wajah tertunduk ku.

“Saya tidak bisa …”

“Kau tidak perlu jawab sekarang. Jangan terburu-buru mengambil keputusan” doronim menyambar ucapan ku.

“Doronim, mohon lepaskan saya. Anda dan saya tidak mungkin …”

“Sudah ku bilang aku tidak minta jawaban sekarang. Jangan katakan jika kau masih ragu” lagi-lagi doronim menyela kalimat ku.

“Dan ingat satu hal, yakinlah pasti ada jalan untuk kita” doronim langsung menstarter mobil seakan enggan mendengar jawabanku seputar pernyataan cintanya.

*******

Sebelum tidur, Jun Pyo mengunjungi kamar Mrs Goo. Wanita ayu ini terduduk di depan LG 32 inch saat Jun Pyo datang menghampiri. Pandangan Mrs Goo berpaling dari siaran berita di televisi. Ia lebih tertarik dengan wajah sumringah putra kebanggaannya. Jun Pyo datang membawa tampang cerah ceria penuh suka cita.

“Omma belum tidur?” seperti biasa Jun Pyo langsung bersandar di pelukan Mrs Goo.

“Sebentar lagi. Omma mau menunggu appa mu dulu” jawab Mrs Goo.

“Appa belum pulang?” tanya Jun Pyo.

“Anhi. Appa mu sudah pulang sejam yang lalu tapi sekarang sedang memeriksa dokumen di ruang kerjanya” papar Mrs Goo.

“Kau sudah makan?” tanya Mrs Goo.

“Ne” sahut Jun Pyo dengan nada gembira.

“Waeyo, Jun Pyo-a? Omma perhatikan kau bahagia sekali” Mrs Goo mulai penasaran dengan sikap putranya.

“Ne, seperti yang omma lihat. Aku sedang bahagia” Jun Pyo membenarkan dugaan Mrs Goo.

“Apa telah terjadi sesuatu yang membuatmu gembira?” telisik Mrs Goo.

“…” Jun Pyo tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lebar. Bersembunyi di balik dekapan sang bunda.

“Yya, kau mulai main rahasia sama omma …” protes Mrs Goo atas sikap Jun Pyo yang terlihat enggan berbagi cerita bahagia.

“Jika saatnya tiba akan kuberi tahu pada omma” Jun Pyo menengadahkan kepala. Memasang senyum andalannya. Berusaha menghapus rasa kecewa ommanya.

“Arasso, omma akan sabar menunggu” Mrs Goo tidak memaksa Jun Pyo untuk cerita karena ia tahu hasilnya pasti percuma.

“Gomawo buat pengertian omma” Jun Pyo kembali membenamkan diri di pelukan Mrs Goo.

Sesaat suasana hening tanpa suara. Jun Pyo diam tak berucap. Mrs Goo pun menutup mulut dengan rapat. Hanya terdengar anchor di televisi yang menyampaikan berita.

“Jun Pyo-a …” Mrs Goo menyudahi kebisuan mereka.

“Ne, omma” sahut Jun Pyo mesra.

“Besok pergi ke butik bersama omma” ucap Mrs Goo.

“Untuk apa ke butik? Aku tidak memerlukan pakaian baru. Kalau omma ingin cari gaun, kita pergi hari minggu saja” tolak Jun Pyo halus.

“Harus besok. Tidak bisa ditunda. Omma sudah janji dengan Mrs Ha” jelas Mrs Goo.

“Mrs Ha?” Jun Pyo langsung keluar dari dekapan ommanya.

“Ne. Mrs Ha, ommanya Jae Kyung” jawab Mrs Goo. “Besok siang kau dan Jae Kyung akan fitting baju pengantin” sambung Mrs Goo.

“MWO?!” teriak Jun Pyo.

“Aish, jangan berteriak seperti itu. Mengagetkan saja” ujar Mrs Goo.

“Yang mengagetkan itu omma” balas Jun Pyo.

“Aku tidak setuju dengan pernikahan ini tapi mengapa omma bertindak sejauh itu” protes Jun Pyo.

“Seiring berjalannya waktu omma yakin hati mu akan luluh pada Jae Kyung” jawab Mrs Goo.

“Bagaimana omma bisa seyakin itu?” tanya Jun Pyo.

“Karena omma yang melahirkan mu” tukas Mrs Goo.

Lagi-lagi mereka terperangkap kebisuan. Baik Jun Pyo maupun Mrs Goo sama-sama berusaha menghindari silang pendapat. Mereka memilih diam untuk menurunkan suhu yang mulai memanas. Di saat keduanya mencoba menetralkan keadaan, berita di TV justru makin memperkeruh suasana.

“Pewaris tunggal Shinhwa Group akan segera melepas masa lajangnya. Goo Jun Pyo dikabarkan akan menikahi Ha Jae Kyung, seorang diplomat muda sekaligus putri diplomat senior Ha Sung In. Pernikahan Goo Jun Pyo dan Ha Jae Kyung dipastikan akan menjadi pernikahan termegah di Korea. Pernikahan antara klan Goo dan Ha ini disebut-sebut sebagai kontrak bisnis kedua keluarga. Mereka diperkirakan …”

Tep … Jun Pyo menyambar remote lalu mematikan televisi. Berita yang sedang disiarkan menjadi tidak tuntas disaksikan. Mrs Goo yang tengah serius mengikuti berita sedikit tersentak saat Jun Pyo tiba-tiba menonaktifkan layar plasma itu.

“Yya, kenapa dimatikan? Omma ingin menyaksikan beritanya lebih lanjut” geram Mrs Goo.

“Apa maksud berita itu?” Jun Pyo meremas keras remote televisi.

“Itu kenyataan” jawab Mrs Goo.

“Omma, aku tidak setuju menikah dengan Jae Kyung. Tolong jangan dipaksa” pinta Jun Pyo mengiba.

“Semua demi kebaikan mu, nak” dengan lembut Mrs Goo menyentuh pundak Jun Pyo. Ia pun sebenarnya tidak tega memaksakan kehendak.



“Aku mohon omma …” suara Jun Pyo mengecil.

“Jun Pyo-a, omma minta jangan seperti ini. Biasanya kau anak penurut. Kalau kau begini, omma merasa menjadi ibu yang semena-mena” Mrs Goo coba minta pengertian Jun Pyo.

“Aku sudah ngantuk … selamat malam …” Jun Pyo memilih mengakhiri pembicaraan.

Setelah ditinggal Jun Pyo, Mrs Goo termenung sendiri. Penolakan Jun Pyo bukan tidak diindahkannya. Mrs Goo sangat memperhatikan perasaan Jun Pyo. Tapi apa mau dikata. Perjodohan adalah hal lumrah di keluarga mereka. Ia dan anggota keluarga Goo yang lain berharap Jun Pyo dapat pendamping hidup yang tepat lewat perjodohan. Tapi entah mengapa. Mrs Goo justru merasa menjerumuskan Jun Pyo ke dalam lubang penderitaan.

*******

Aku berusaha memejamkan mata tapi hasilnya sia-sia. Kejadian di depan toko bubur berkelebat terus menerus. Ciuman pertama yang tak terduga. Setan mana yang merasuki pikiran ku hingga berani melakukan perbuatan jalang itu. Harusnya aku tidak meladeni kegilaan doronim. Ini salah. Ciuman tadi suatu kesalahan besar. Mana boleh seorang upik abu menjalin cinta dengan majikannya. Mana ada gadis melarat berpasangan dengan pria konglomerat. Itu semua tidak mungkin! Aku tidak mampu melawan hukum alam.

Kring … Kring … Kring  … deringan ponsel menyudahi aktivitas ku menghakimi diri sendiri. Nama Ga Eul terdeteksi di layar ponsel.

“Yoboseyo” sapa ku.

“Yya! Geum Jan Di! Apa kau sudah gila?! Dikemanakan akal sehat mu?” belum apa-apa Ga Eul sudah menyemprot ku dengan penuh amarah.

“Ga Eul-a waegude?” tanya ku binggung.

“Aku lihat semua adegan tadi!” jawab Ga Eul galak.

“Adegan yang mana?” aku masih belum mengerti.

“CIUMAN HARAM KALIAN!” ucap Ga Eul lantang.

“Mwo? ci … ciuman … haram …” DEG! jantung ku langsung terpompa kencang. Baru kali ini Ga Eul menghardikku dengan kata-kata kasar.

“Ne! Kau tahu kan siapa yang mencium mu?” tanya Ga Eul emosi.

“di … di … dia … majikan ku …” jawab ku terputus-putus.

“Selain majikan mu, dia juga pria yang sebentar lagi menikah! Kau dibohongi, Jan Di! Tuan muda mu sudah punya calon istri!” ujar Ga Eul dengan nada tinggi.

“Arayo” sambung ku lemas.

“MWO?! Jadi kau sudah tahu kalau dia bukan pria bebas?” suara Ga Eul terdengar tambah geram.

“Ne …” jawab ku.

“Aigoo, ku rasa ada yang tidak beres dengan otak mu” sambung Ga Eul.

“Kau … tahu dari mana tentang calon istri doronim?” tanya ku ragu.

“Nyalakan TV!” perintah Ga Eul.

“Mwo?” aku bertanya heran.

“Lihat siaran berita yang ditayangkan KBS Evening!” jelas Ga Eul.

“Memangnya ada berita apa?” aku tidak kunjung menuruti perintah Ga Eul.

“Lihat saja sendiri. Ppalli!” desak Ga Eul.

Ku raih remote televisi. Kebetulan channel KBS yang langsung tampil. Ada foto doronim di sana. Aku sudah biasa lihat doronim di layar kaca. Tapi kali ini hati ku pedih tak terkira begitu melihat ada nona diplomat juga. Berita pernikahan mereka tersiar ke seantero Korea. Suara merdu anchor wanita bak petir menyambar di siang bolong.



“Sudah jelas bukan?” tanya Ga Eul seputar hot news di KBS Evening.

“Awalnya aku berusaha menerima hubungan kalian. Tapi begitu lihat berita itu, aku adalah orang terdepan yang menentang jalinan haram kalian” peringat Ga Eul.

“Doronim tidak menyetujui pernikahan itu” bela ku.

“Lalu kau percaya?!” sambar Ga Eul. “Ku mohon jangan terlalu naïf, Jan Di-a” ujar Ga Eul.

“Tanpa atau dengan persetujuan doronim mu, pernikahan itu akan tetap berlangsung. Orang seperti Goo Jun Pyo tidak punya kebebasan dalam percintaan. Sekuat apapun dia menentang tidak berguna. Buktinya orang tua mereka tetap memberi tahu khalayak padahal doronim mu tidak setuju untuk dinikahkan” papar Ga Eul.

“Kalau langkah mereka sudah menyentuh media, pertanda rencana ini sudah matang. Mana mungkin keluarga Goo menyebarluaskan berita yang masih tanda tanya. Mereka tentunya tidak mau menanggung malu jika harus membatalkan pernikahan” sekuat tenaga Ga Eul berusaha membuka mata ku.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanya ku putus asa.

“Keluar dari rumah Goo!” ucap Ga Eul yakin.

“MWO?!” pekik ku.

“Aku serius. Tinggalkan kediaman Goo, segera pindah ke rumah ku. Kita bisa hidup bersama seperti dulu. Kau juga bisa kembali bekerja di toko bubur. Ku rasa bos tidak keberatan menerima mu lagi” hasut Ga Eul.

Bip … bunyi peringatan terdengar dari ponsel, pertanda ada panggilan lain yang masuk.

“Apa aku harus meninggalkan rumah ini?” tanya ku tanpa mengindahkan panggilan lain karena berasal dari doronim.

“Ne! Itu satu-satunya cara lepas dari Goo Jun Pyo” jawab Ga Eul.

“Ku harap kau mau menerima usul ini. Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk mu, Jan Di-a” Ga Eul menyudahi nasihatnya. Sambungan telepon kami pun berakhir. Rasa bimbang perlahan menyerang. Sedikit banyak aku terpengaruh provokasi Ga Eul. Tapi aku belum begitu yakin untuk angkat kaki dari rumah Goo.

Selesai dengan Ga Eul, ponsel ku berdering lagi. Yang ini dari doronim. Di tengah pembicaraan dengan Ga Eul, panggilan doronim terus saja menginterupsi. Meski sudah tidak lagi tersambung dengan Ga Eul, bukan berarti aku mau menjawab telepon doronim. Tak kutanggapi panggilan yang datang berulang-ulang. Hingga akhirnya doronim mengirim sebuah pesan singkat.

“Mereka mulai bertindak. Pernikahan mustahil itu sudah disebarluaskan. Jangan hiraukan berita yang kau terima. Ingat pesan ku tadi. Hanya suara ku yang boleh kau dengar. Abaikan suara-suara sumbang yang meracuni pikiran mu. Ku mohon percayalah sepenuhnya hanya pada ku … karena aku sungguh-sungguh mencintai mu … pasti ada jalan untuk kita … yakinlah, Jan Di-a …”

Satu persatu titik-titik bening mengaliri sepasang pipi ku. Pesan singkat doronim begitu menentramkan. Tapi ucapan Ga Eul jauh lebih masuk di akal. Omma, aku harus bagaimana? Andai wanita dalam pigura yang sedang kupandang masih ada di dunia, tentu aku tidak perlu dilemma. Cukup dia saja yang ku percayakan. Hanya dia saja yang ku butuhkan. Wanita luar biasa yang meniupkan napas hidup ku. Omma … aku hanya mau omma sekarang.



*******

Pagi hadir lagi ditemani cerahnya sang mentari. Aku kembali berkutat dengan pekerjaan di Shinhwa. Rangkaian kejadian kemarin terus saja membayangi pikiran ku. Untung saja aku bisa mengatasinya. Segera ku tepis saat penggalan itu merangsek masuk. Aku tidak mau dikendalikan ilusi tak berguna. Pekerjaan harus jadi prioritas utama.

“Ada kesulitan?” tanpa kusadari sunbae sudah berdiri di depan meja kerja ku.

“Anhiyo” kilah ku. “Sunbae mau keluar?” duga ku ketika melihat tas hitam menggantung di tangan sunbae.

“Ne. Aku tinggal sebentar ke butik” jawab sunbae.

“Butik?” tanya ku.

“Ada dokumen yang perlu ditandatangani Jun Pyo secepatnya” jelas sunbae.

“Tapi kenapa sunbae malah ke butik?” aku heran dengan niatan sunbae.

“Karena kata Sekretaris Park, saat ini Jun Pyo sedang ada di butik jadi mau tidak mau aku terpaksa menyambanginya ke sana” papar sunbae.

“Apa … doronim berniat membuka bisnis fashion?” tanya ku ragu.

“Bukan begitu. Keberadaan Jun Pyo di butik bukan urusan bisnis” jawab sunbae.

“Lalu?” tanya ku lagi.

Sunbae bergerak mendekat. Wajahnya hanya berjarak 15 cm dengan wajah ku. “Jun Pyo sedang fitting baju pengantin” bisik sunbae.

Pena yang ku pegang jatuh seketika. Perasaan ku kosong terasa hampa. Kalau doronim sedang fitting baju pengantin tandanya pernikahan mereka sudah di ambang mata. Lalu apa artinya SMS doronim semalam. Meminta ku untuk percaya tidak akan ada pernikahan ini. Meyakinkan ku bahwa ada jalan buat menyatukan kami. Apakah aku benar-benar telah dibohongi? Benarkah aku hanya dijadikan boneka mainan? Entahlah. Pikiran ku terlalu penuh oleh teka-teki. Sampai-sampai aku tidak sadar kalau sunbae sudah berlalu pergi.

*******

Mrs Goo menunduk dalam di sebuah butik elit bernuansakan artistik. Kelakuan Jun Pyo beberapa menit yang lalu membuatnya menanggung malu. Berkali-kali Mrs Goo minta maaf pada Mrs Ha atas tindakan Jun Pyo yang tiba-tiba hengkang dari acara fitting baju pengantin. Sejak dijemput Mrs Goo di Shinhwa, Jun Pyo memang sudah ogah-ogahan. Beragam alasan dikemukakan demi menolak ajakan ommanya. Walau akhirnya bersedia diseret ke butik, semata hanya karena tidak ingin mengecewakan Mrs Goo.

Sampai di butik, sikap Jun Pyo amat sangat tidak kooperatif. Ia terus saja mengelak untuk dipas ukuran bajunya. Jae Kyung yang melihat tingkah kekanakan Jun Pyo cuma bisa senyam-senyum. Ia justru senang dengan pemberontakan Jun Pyo. Meski Jae Kyung juga tidak sepenuh hati menjalani fitting gaun putihnya, ia memilih untuk menjadi gadis manis. Jae Kyung berpikiran belum saatnya turut andil dalam usaha penjegalan pernikahan. Ia merasa masih ada waktu merubah jalan pikiran orang tuanya. Jae Kyung lebih suka menggunakan cara diskusi. Membahas dari hati ke hati. Memberi pengertian pada Mr dan Mrs Ha bahwa ia belum siap berumah tangga.

“Maafkan sikap Jun Pyo, ku rasa anak itu terlalu gugup menghadapi hari besaranya” Mrs Goo berusaha minta pengertian Mrs Ha.

“Terus terang saya kecewa dengan tingkah Jun Pyo” jawab Mrs Ha.

“Sekali lagi saya mohon maaf. Akan saya cari hari lain untuk mengukur jas pengantin Jun Pyo” janji Mrs Goo.

“Itu harus karena pernikahan mereka tinggal menghitung hari” sambung Mrs Ha.

“Ne. Anda tidak perlu khawatir” ucap Mrs Goo.

“Kurasa tidak ada gunanya kita di sini. Saya pamit lebih dulu” tukas Mrs Ha.

“Ne. Saya juga tidak bisa lama-lama di sini” ujar Mrs Goo.

“Jae Kyung-a, mau omma temani ganti pakaian?” Mrs Ha menatap putrinya yang terbalut gaun serba putih.

“Anhiyo” Jae Kyung menggeleng. “Omma duluan saja” wajah Jae Kyung berubah cerah sejak ditinggal pergi Jun Pyo.



Mrs Ha pun keluar dari butik. Walau ada rasa kecewa pada calon menantunya tapi tidak ditunjukkan terang-terangan. Mrs Ha mencoba bersabar demi sesuatu yang lebih besar.

“Jae Kyung-a, mari aku bantu ganti pakaian” tawar Mrs Goo.

“Anhiyo, saya bisa melakukannya sendiri” jawab Jae Kyung. Sedetik kemudian ponsel Mrs Goo berdering. Hanya pembicaraan singkat yang terjalin.

“Anda pergilah …” dari komunikasi kilat di depannya, Jae Kyung dapat menangkap ada urusan mendesak yang harus diselesaikan Mrs Goo.

“Sekali lagi aku minta maaf atas perbuatan Jun Pyo” sesal Mrs Goo.

“Gwenchana. Tidak perlu mengkhawatirkan saya” hibur Jae Kyung.

Pengunjung butik pergi satu demi satu. Meninggalkan Jae Kyung bersama gaun putih yang masih melekat. Jae Kyung mematut diri di cermin besar. Bayangannya dari ujung rambut hingga ujung kuku terpantul jelas di sana. Jae Kyung merasa geli sendiri melihat penampilannya.

“Ini bukan dirimu, Ha Jae Kyung” gumam Jae Kyung.



Jae Kyung yang lebih sering mengenakan busana kantoran, kini terperangkap dalam gaun putih berdada rendah dengan hiasan pita merah muda di seputar pinggang. Sungguh tidak pernah terlintas dalam pikiran Jae Kyung akan ada hari di mana dirinya mengenakan pakaian dambaan kaum hawa ini. Ia akui busana tersebut memiliki daya tarik tersendiri. Suatu hari ia pun ingin mengenakannya. Tapi tidak sekarang dan bukan bersama Jun Pyo.

Tiba-tiba memori Jae Kyung berputar mundur. Bayangan seorang pria sederhana yang ia kenal semasa SMA berkelabat begitu saja tanpa diminta. Pertemuan singkat dengan pemuda Korea ketika Jae Kyung pulang ke tanah air setelah bertahun-tahun malang melintang ( jadi inget nama sendiri [laughing]) di negara asing. Pekerjaan Mr Ha membuat Jae Kyung jarang menginjak Seoul. Hari-hari Jae Kyung dilewati dengan berpindah tempat dari satu negara ke negara lain mengikuti perjalanan diplomasi appanya. Pernikahan kerabat dekat membuat Mr Ha memboyong Mrs Ha dan Jae Kyung kembali ke kampung halaman.

Kurang lebih 2 minggu mereka di Seoul. Mumpung di negeri sendiri, Jae Kyung memutuskan berkeliling seorang diri tanpa kawalan bodyguard pribadi. Jae Kyung menghabiskan waktu menelusuri keindahan tanah kelahirannya. Permainan takdir mempertemukan Jae Kyung dengan seseorang yang menorehkan bekas mendalam hingga sekarang. Mengetahui bahwa dirinya seorang pendatang, kenalan baru Jae Kyung itu berbaik hati menjadi tour guide cuma-cuma. Mereka bertemu hampir setiap hari. Menghabiskan waktu bersama dalam canda tawa.

Dua minggu berlalu dengan cepat. Tiba bagi Jae Kyung untuk terbang kembali bersama keluarganya. Dari awal mereka sadar moment perpisahan ini akan terjadi. Dengan berat hati Jae Kyung pun pergi. Meninggalkan Seoul dan cinta pertamanya. Meski terbilang singkat, kebersamaan mereka terjalin kuat. Buktinya Jae Kyung belum bisa mengusir sosok pria itu sampai sekarang. Bahkan di saat Jae Kyung mencoba baju pengantin, bayangan dia kembali hadir.

Dengan cepat Jae Kyung menepisnya. Beranggapan bahwa kisah itu hanya cinta anak remaja. Namun jika hanya sebatas cinta gadis yang sedang pubertas, mengapa Jae Kyung merasa berat menerima uluran tangan seorang pria. Disadari atau tidak, sosok pemuda itulah yang membuat Jae Kyung mengkerangkeng diri dari jamahan laki-laki.

“Audrey …” suara pelan seorang pria mengejutkan lamunan Jae Kyung.

Audrey’ batin Jae Kyung.

Panggilan itu hanya berlaku di luar negeri. Jika berada di Korea, Jae Kyung lebih suka dipanggil dengan nama asli. Tapi tunggu! Ada satu orang di Korea yang memanggil Jae Kyung dengan nama baratnya. Mungkinkah suara itu adalah dia …Jae Kyung berpaling cepat seolah tak sabar melihat sang empunya suara.

“Ji .. Ji … Hoo …” pekik Jae Kyung.

*******

Karena tidak mampir kemana-mana, aku jadi bisa tiba lebih cepat di rumah. Segera saja ku naiki tangga menuju kamar. Aku ingin istirahat sebentar sambil menunggu kepulangan doronim dan menyiapkan makan malamnya. Begitu sampai di lantai dua, mata ku langsung dihadapkan pada sosok jangkung yang tidak lain adalah doronim. Ia berdiri menyandar ke dinding dengan kedua tangan terlipat di depan dada.



Langkah ku terhenti saat mendapati keberadaan doronim. Tak kusangka jam segini doronim sudah pulang. Aku disambut dengan tatapan dinginnya. Ada apa ini? Aku kan tidak pulang telat. Kenapa doronim seolah ingin menghukum ku dengan tuduhan pulang terlambat. Kalau sudah begini aku cuma bisa menyiapkan mental. Berdiri dalam diam, bersiap kena omelan. Doronim beranjak dari sandaran dinding. Berjalan lebar ke arah ku. Begitu sudah dekat, doronim langsung meraup tubuh ku ke dalam pelukannya.

Loh, aku kira doronim mau marah. Ternyata ia malah menghadiahkan sebuah pelukan hangat. Sesaat aku terbuai. Terlena menikmati dada bidang doronim yang memberi ketentraman. Sayangnya hanya berlangsung sekejap. Begitu teringat agenda doronim tadi siang, aku langsung berontak.

“Lepaskan!” ronta ku. Doronim tidak tinggal diam dengan perlawanan ku. Tangannya semakin kuat melingkari pinggang ku.

“Sebentar saja … biarkan aku rileks sejenak … hari ini adalah hari yang sungguh melelahkan bagi ku …” pinta doronim.

“Tentu saja anda lelah setelah menjajal berbagai macam pakaian pengantin, bukan?” timpal ku.

“Mwo? Dari mana kau tahu?” doronim melepaskan pelukannya. Kali ini bahu ku yang jadi sasarannya.

“Semua dinding di Shinhwa bertelinga” jawab ku dingin.

“Yya, ingat SMS ku semalam. Jangan terpancing dengan omongan orang” doronim meremas bahu ku.



“Saya tidak terpancing oleh apapun. Saya hanya bersikap sesuai realita” balas ku.

“Kau tidak percaya padaku?” tanya doronim.

“Entahlah … “ jawab ku.

“Aku pergi ke butik karena tidak ingin mengecewakan omma” doronim beralasan.

“…” aku malas merespon alasannya.

“Sejak bertemu, aku tahu kalau kau tipe orang yang gampang menyerah” ungkap doronim.

“Tapi ku mohon kali ini jangan langsung putus asa. Yakinlah pasti ada jalan untuk kita” lagi-lagi doronim melontarkan kalimat itu. Meminta ku yakin akan ada jalan di balik ini semua. Sebuah kalimat mana bisa merubah perangai seseorang. Sifat dasar ku kan memang sudah begini. Terlalu pasrahan.

*******

Jari-jemari Mrs Goo menelungkup di atas bibirnya. Adegan Jun Pyo dan Jan Di yang tak sengaja dilihat, telah menjawab semua tanda tanya. Dugaan adanya perasaan special antara Jun Pyo dan Jan Di, kini bukan prasangka lagi. Semuanya sudah jelas sekarang. Mrs Goo tidak perlu menerka-nerka penyebab keanehan sikap Jun Pyo belakangan ini.

Perubahan Jun Pyo ternyata disebabkan oleh Jan Di. Jun Pyo yang selalu menyembunyikan sifat manjanya, rupanya ingin terlihat sempurna di depan sang pujaan hati. Mrs Goo belum pernah menemukan gadis macam Jan Di. Sosok gadis yang berhasil merubah anak manjanya. Figure gadis yang sudah lama dinantikan kehadirannya. Seluruh keluarga Goo sangat merindukan kedatangan gadis specialnya Jun Pyo.

Tapi di saat gadis itu sudah tiba, Mrs Goo justru merasa serba salah. Pertama tentu saja karena gadis pilihan Jun Pyo tidak berada dalam strata yang sama dengan mereka. Kedua karena Jun Pyo telah terlanjur dijodohkan dengan gadis yang jauh jauh lebih sepadan kedudukannya. Demi menjaga kehormatan keluarga, Mrs Goo memutuskan mengambil langkah antisipasi yang lebih tegas lagi.

*******

“Kau mau berjanji pada ku, kan?” doronim masih meremas bahu ku. Ia agak merendahkan diri demi mensejajarkan tinggi tubuh kami. Sinar mata doronim jatuh persis di wajah yang ku palingkan.

“Janji apa?” aku membuang muka ke kiri.



“Tatap aku” dengan berat hati, ku palingkan wajah menghadap doronim. Karena doronim tidak berdiri tegap, wajah kami jadi berada dalam satu garis lurus. Aku bisa melihat jelas rupa doronim yang terpahat sempurna.

“Jangan tinggalkan aku” ucap doronim sambil beradu pandangan dengan ku.

“Ku mohon berjanjilah …” ulang doronim seraya membawa wajahnya mendekati ku.

Wajah doronim bergerak maju. Kepalanya memiring sementara kelopak matanya merapat. Gelagat doronim membuat aliran darah ku tercekat. Hembusan napas doronim membutakan mata ku. Aroma khas doronim menghipnotis kesadaran ku. Akankah ciuman itu terulang? Aku ingin menghadang tapi hati ku melarang. Hati ku melemah kalau doronim sudah mengambil ancang-ancang. Akal sehat yang perlahan menghilang membuat mata ku ikut terpejam. Menanti pendaratan doronim dengan jantung terpompa kencang.

“Jun Pyo-a, kau sudah pulang nak” suara Mrs Goo membuat mata kami terbuka bersamaan. Dengan cepat ku tepis tangan doronim dari bahu ku kemudian mundur menjauh.

“Ne … ne … omma … aku sudah pulang …” rasa gugup doronim terasa kental di nada bicaranya. Kegugupan bukan hanya milik doronim seorang, tapi kepunyaan ku juga. Saat ini aku benar-benar bingung harus memasang muka di sebelah mana. Tatapan menusuk Mrs Goo mebuat ku mati kutu. Beliau pasti menyaksikan perilaku kami tadi.

“Masuklah ke kamar mu” doronim mencoba menyelamatkan ku dari intaian Mrs Goo.

“…” aku hanya diam tak berani melangkahkan kaki.

“Tunggu apa lagi. Lekas masuk ke kamar mu” ulang doronim tegas.

“… n … n … ne …” aku segera balik badan bersiap angkat kaki.

“Jan Di-a, bisa kita bicara sebentar” tahan Mrs Goo. Aku jadi urung masuk kamar dan malah balik badan lagi menghadap Mrs Goo.

“Biarkan Jan Di istirahat, omma. Ku rasa pekerjaan di Shinhwa sudah sangat menguras tenaganya” bela doronim. Ia lantas memutar tubuh ku lalu sedikit mendorong agar aku cepat-cepat melangkah ke kamar.

“Omma, di mana haelmoni?” doronim berupaya mengalihkan suasana.

“Di studionya” jawab Mrs Goo.

“Mwo? Malam-malam begini masih melukis” timpal doronim. “Omma, kita temani haelmoni melukis. Sudah lama aku tidak merecoki lukisannya” saat aku melirik, doronim tengah merangkul Mrs Goo. Ia membawa tubuh Mrs Goo menjauh dari ku.

Aku yakin Mrs Goo melihat semua kelakuan kami tadi. Dan ku rasa doronim menyadarinya. Karena itulah doronim buru-buru mengevakuasi diri ku dari hadapan Mrs Goo. Mungkin kali ini aku selamat, tapi siapa yang tahu nasib ku di lain waktu.

*******

Jun Pyo merebahkan diri setelah menemani Goo haelmoni melukis. Beruntung saat di studio lukis, Mrs Goo tidak menyinggung soal pemandangan yang tak sengaja dilihatnya. Tapi Jun Pyo malah jadi khawatir dengan sikap Mrs Goo yang tidak berbuat apa-apa. Jangan-jangan ommanya merencanakan sesuatu di luar dugaan. Membayangkan hal ini, Jun Pyo jadi gundah tingkat tinggi. Berkali-kali tubuhnya dimiringkan ke kanan kemudian ke kiri.

“Aish, omma tidak mungkin seperti itu” Jun Pyo menyanggah dugaannya sendiri.



“Aku tidak mau durhaka pada orang tua”

“Tapi aku juga tidak sanggup jika harus menuruti permintaan mereka”

“Yang ku mau cuma dia”

“Setiap kali menatapnya seolah memandang surga …”

“Tak pernah kutemukan yang seperti dia. Karya Tuhan yang maha sempurna”

“Di bawah telapak kakinya aku rela menyembah. Memohon agar dia tetap bersama ku”

“Buat ku dia adalah segalanya. Dia-lah mentari di pagi ku. Dia-lah bulan di malam ku”

“Bisakah kalian mengerti? Dapatkah kalian memahami?”

“Aku dibesarkan oleh keluarga yang penuh welas asih”

“Aku yakin betul kalian juga tidak sampai hati mengikat ku dalam pernikahan semu”

“Kelurga Goo tidak akan tumbang hanya karena bermenantukan gadis sederhana”

“Jangan kalian buat dia seperti angin bagi ku … “

“ … yang dapat kurasa tapi tak kuasa tuk meraihnya …”


Jun Pyo menyudahi renungannya. Ia kini berkutat dengan ponsel. Jarinya bermain lincah menyusun kata-kata. Sebuah asa kembali Jun Pyo kirimkan buat belahan jiwa. Bidadari surga yang tak bisa kembali ke nirwana karena kepak sayapnya tertahan seorang pria.

*******

Ku pandang satu bintang yang bersinar paling terang. Ingin rasanya ku petik dia dan ku bawa pulang. Tapi sayang, dia begitu jauh dari jangkauan. Sayap rapuh ku tak mampu menggapai apalagi memilikinya. Bintang gemerlap itu hanya untuk kalangan tinggi. Dia tercipta bukan untuk Geum Jan Di.

Analogi yang tepat bukan? Doronim tak ubah seperti bintang yang berkilap nun jauh di langit sana. Tak kan teraih walau ku coba terbang menghampiri. Sebelum jatuh tersungkur, aku memilih mendarat lagi. Berpijak di atas bumi ku sendiri. Kembali ke tempat yang seharusnya ku huni.

Menjauh darinya adalah langkah yang ku pilih. Hanya ini satu-satunya cara mengakhiri mimpi indah yang mustahil berbuah nyata. Apalagi sekarang Mrs Goo sudah mencium ketidakberesan pada putranya. Sebelum keluarga Goo mulai membenci ku, sebaiknya ku turuti anjuran Ga Eul. Rumah ini tidak cocok untuk ku. Terlalu banyak perbedaan yang sulit disatukan.

Ponsel di samping ku bergetar sekali. Ada pesan singkat yang masuk. Pesan itu dari doronim. Belakangan ini doronim lumayan rajin mengirimi ku pesan-pesan menjelang tidur malam.

“Jan Di-a, berhati-hatilah dengan omma ku. Segera menghindar jika ia coba mendekati mu. Jangan termakan omongan siapa pun. Percaya saja pada ku. Pasti ada jalan untuk kita”

“Pasti ada jalan untuk kita?” gumam ku. Doronim selalu saja mengakiri SMS nya dengan kalimat yang sama. Jalan mana yang dia maksud. Semua akses tertutup rapat buat aku dan doronim. Tidak ada celah yang dapat kami jamah. Yang ada hanya jalan buntu tanpa pintu.

Tok … Tok …  malam-malam begini ada yang mengetuk kamar ku. Lambat-lambat aku mendekati sumber suara.

“Siapa?” tanya ku.

“Ommanya Jun Pyo” jawab tamu tengah malam itu.

Omo, yang datang adalah Mrs Goo. Apa yang mesti ku lakukan? Jika menuruti SMS doronim maka aku tidak boleh membukakan pintu untuk Mrs Goo. Tapi apakah itu sopan? Meski pendidikan ku tidak tinggi, tapi keluarga ku membiasakan diri menjunjung tata krama.

“Anda butuh sesuatu, Nyonya?” aku melongok dari balik pintu.

“Anhi” jawab Mrs Goo. “Boleh aku masuk? Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu” pinta Mrs Goo.

“Silahkan …” ku buka lebar-lebar pintu kamar ku. Apa hak ku melarang nyonya rumah memasuki kamar pelayannya.

“Sebenarnya aku ingin bicara dengan Jun Pyo, tapi sepertinya dia sudah tidur” ucap Mrs Goo dalam kamar ku.

“Ne, ku rasa doronim telah terlelap” jawab ku.

“Anak itu pasti kelelahan setelah seharian mengepas jas pengantin” Mrs Goo menyinggung kesibukan doronim tadi siang, entah disengaja atau tidak.

“Ne …” timpal ku.

“Jan Di-a, boleh aku meminta sesuatu pada mu?” tanya Mrs Goo.

“Ne?” sambung ku.

“Jauhi Jun Pyo. Sebentar lagi dia akan menikah” peringat Mrs Goo.

Akhirnya alarm Mrs Goo berbunyi juga. Tanda peringatan yang sudah ku duga kini kudengar dengan mata terbuka. Untung aku sudah siap mental. Jika tidak, derai air mata pasti sudah mengalir deras.

“Anda tidak perlu khawatir, Nyonya. Saya bermaksud meninggalkan rumah ini” jawab ku.

“Omo, bukan maksud ku mengusir mu, Jan Di-a” Mrs Goo terlihat terkejut dengan keputusan ku.

“Saya paham maksud anda. Tapi ini lah satu-satunya cara” jelas ku.

“Kau cukup menjauhi Jun Pyo saja tidak perlu angkat kaki dari rumah ini. Jasa mu pada haelmoni belum tuntas kami tebus” sekarang Mrs Goo malah menahan kepergian ku.

“Saya tidak ingat jasa apa yang anda maksud. Yang terpenting sekarang adalah segera enyah dari keluarga ini” pendirian ku sudah mantap, tak bisa diganggu gugat.

“Jan Di-a, jangan begini. Aku jadi tidak enak hati” sesal Mrs Goo.

“Aku tahu Jun Pyo-lah yang mulai mendekati mu. Jadi yang perlu kau lakukan hanya mengabaikan dia. Itu saja” saran Mrs Goo.

“Anda tidak perlu merasa tidak enak hati. Saya pergi bukan karena permintaan anda tapi atas kemauan sendiri” jawab ku.

“Kalaupun anda tidak menemui saya malam ini, saya tetap akan pergi” ucapan ku membuat Mrs Goo merasa bersalah. Ia langsung keluar tanpa ada usaha menahan ku lagi.

Aku paham posisi Mrs Goo. Di satu sisi ia ingin putra tercinta bahagia bersama wanita dambaannya. Tapi di sisi lain ia juga harus menjaga kehormatan keluarga. Aku tidak menyalahkan Mrs Goo atas permintaanya menjauhi doronim. Mrs Goo hanya menjalankan tugas mempertahankan martabat keluarga. Beruntungnya doronim memiliki ibu seperti Mrs Goo.

Doronim, patuhilah omma mu. Penuhi permintaanya. Berbahagialah bersama nona diplomat. Maaf jika duri mawar ku telah melukai hati mu. Luka itu akan sembuh oleh penawar yang diberikan Jae Kyung agashi. Mulai sekarang tidak ada doronim dalam hidup ku. Semua tentang doronim sudah ku cabut hingga akarnya. Walau terasa berat tapi aku harus kuat. Be Strong, Geum Jan Di …


Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ cipratan iler ke 2 ~
« Reply #587 on: May 23, 2011, 11:43:14 am »
kenapa jd melankolis gini [what] bawaan PMS kali ya [hmff]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 9, 24 May 2011 ~
« Reply #588 on: May 23, 2011, 12:33:00 pm »
Akhirnya diupdate jg tanpa gelombang yg berliko-liko...kiding.thx u updatex sist liko.
Jae kyong sm jihoo?haha suka suka..Jandi dengerin aj junpyo kata2x menentramkan gitu kok,pasti ada jlan buat kalian.be strong jandi..
[/size][/color][/b]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 9, 24 May 2011 ~
« Reply #589 on: May 23, 2011, 04:59:26 pm »
  thank you updatannya :)


  satu sisi senag jun pyo sudah menemukan cintanya satu sisi lain prihatin atas nasip cintanya jun pyo :(

 YAKIN LAH JANDI PASTI ADA JALAN UNTUK KITA kata" jun pyo buat meyakin kan jandi

 iya jandi yakin lah sama jun pyo jangan menyerah pasti ada jalan.

  suka banget sama kata" jun pyo

 
“Aku tidak mau durhaka pada orang tua”

“Tapi aku juga tidak sanggup jika harus menuruti permintaan mereka”

“Yang ku mau cuma dia”

“Setiap kali menatapnya seolah memandang surga …”

“Tak pernah kutemukan yang seperti dia. Karya Tuhan yang maha sempurna”

“Di bawah telapak kakinya aku rela menyembah. Memohon agar dia tetap bersama ku”

“Buat ku dia adalah segalanya. Dia-lah mentari di pagi ku. Dia-lah bulan di malam ku”

“Bisakah kalian mengerti? Dapatkah kalian memahami?”

“Aku dibesarkan oleh keluarga yang penuh welas asih”

“Aku yakin betul kalian juga tidak sampai hati mengikat ku dalam pernikahan semu”

“Kelurga Goo tidak akan tumbang hanya karena bermenantukan gadis sederhana”

“Jangan kalian buat dia seperti angin bagi ku … “

“ … yang dapat kurasa tapi tak kuasa tuk meraihnya …”


authornya emang pandai merangkai kata"


  ja kyung & jiho ???? kyanya tepat toh !!!! hehehehe....

 


 

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 9, 24 May 2011 ~
« Reply #590 on: May 23, 2011, 05:40:52 pm »
Wiiiiii jp mantafff kata2nya bo' dr anak mami bs jd puitis begono so cuiiitttt ealah jandi bener kt jp loh jd org jgn terlalu cpt menyerah hrs brusaha maju minggat bukan solusi yg tepat walaupun minggat jg jp bakalan ngejar trs

Yay jihoo jahekeong cucok2 kawin sm itu aja jahekeongnya


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 9, 24 May 2011 ~
« Reply #591 on: May 23, 2011, 05:59:44 pm »
rupanya itu yang membuat jihoo akhirnya berusaha menolong junpyo and jandi [hmpfh] karna dia ga mau junpyo sampai menikah dgn jaekyung, .. karena ... dia mencintai jaekyung [hmff] [hmff]

lanjutannya jgn lama2 ya say [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 9, 24 May 2011 ~
« Reply #592 on: May 23, 2011, 06:04:47 pm »
sedih....


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 9, 24 May 2011 ~
« Reply #593 on: May 23, 2011, 07:18:47 pm »
Akhirnya diupdate jg tanpa gelombang yg berliko-liko...kiding.thx u updatex sist liko.
Jae kyong sm jihoo?haha suka suka..Jandi dengerin aj junpyo kata2x menentramkan gitu kok,pasti ada jlan buat kalian.be strong jandi..

tauu nih si jandi bandel kagak mau nurutin omongan doronim  hammer2  pasti ada jalan buat kalian, aku kan udah nyiapin dari jauh2 hari  [hmff]  jalannya seperti apa??? liat aja di next chap  [laughing] [laughing]  jalannya rada maksa sih tp bodo ahh yg penting jundi bs bersatu  [hmpfh] [hmpfh]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 9, 24 May 2011 ~
« Reply #594 on: May 23, 2011, 07:22:37 pm »
  thank you updatannya :)


  satu sisi senag jun pyo sudah menemukan cintanya satu sisi lain prihatin atas nasip cintanya jun pyo :(

 YAKIN LAH JANDI PASTI ADA JALAN UNTUK KITA kata" jun pyo buat meyakin kan jandi

 iya jandi yakin lah sama jun pyo jangan menyerah pasti ada jalan.

  suka banget sama kata" jun pyo

 
“Aku tidak mau durhaka pada orang tua”

“Tapi aku juga tidak sanggup jika harus menuruti permintaan mereka”

“Yang ku mau cuma dia”

“Setiap kali menatapnya seolah memandang surga …”

“Tak pernah kutemukan yang seperti dia. Karya Tuhan yang maha sempurna”

“Di bawah telapak kakinya aku rela menyembah. Memohon agar dia tetap bersama ku”

“Buat ku dia adalah segalanya. Dia-lah mentari di pagi ku. Dia-lah bulan di malam ku”

“Bisakah kalian mengerti? Dapatkah kalian memahami?”

“Aku dibesarkan oleh keluarga yang penuh welas asih”

“Aku yakin betul kalian juga tidak sampai hati mengikat ku dalam pernikahan semu”

“Kelurga Goo tidak akan tumbang hanya karena bermenantukan gadis sederhana”

“Jangan kalian buat dia seperti angin bagi ku … “

“ … yang dapat kurasa tapi tak kuasa tuk meraihnya …”


authornya emang pandai merangkai kata"


  ja kyung & jiho ???? kyanya tepat toh !!!! hehehehe....

 


 

lebih gampang merangkai kata dari pada merangkai bunga  [jumpy] [jumpy] [jumpy]

eitss jangan salah  [nono] [nono]  belum tentu jae kyung jadi ama ji hoo  [hmff]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 9, 24 May 2011 ~
« Reply #595 on: May 23, 2011, 07:27:24 pm »
liko, nama englishiii jaekyung--audreyy [what] [what] kenapa ga lindra, atau liliandra aje [hmpfh] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 9, 24 May 2011 ~
« Reply #596 on: May 23, 2011, 07:31:11 pm »
Wiiiiii jp mantafff kata2nya bo' dr anak mami bs jd puitis begono so cuiiitttt ealah jandi bener kt jp loh jd org jgn terlalu cpt menyerah hrs brusaha maju minggat bukan solusi yg tepat walaupun minggat jg jp bakalan ngejar trs

Yay jihoo jahekeong cucok2 kawin sm itu aja jahekeongnya

junpyo mendadak puitis krn cinta bisa menyulap orang menjadi pujangga  [heh] [heh]

jandi kan minggatnya ke tempat terpencil jadi si junpyo kagak bisa ngintil  [hmpfh]

jihoo-jae kyung cocok ya  [chin]  bentar deh dipikir2 dulu jd dikawanin ato kagak nih anak dua  [biggrin]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 9, 24 May 2011 ~
« Reply #597 on: May 23, 2011, 07:33:29 pm »
liko, nama englishiii jaekyung--audreyy [what] [what] kenapa ga lindra, atau liliandra aje [hmpfh] [laughing]

Yya! aku ga senarsis itu mami  [angry] [angry]  [head break] [head break] [head break]

gimana klo lovelyn aja biar terkesan kebarat2an *huekk*  [laughing] [laughing]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 9, 24 May 2011 ~
« Reply #598 on: May 23, 2011, 07:36:47 pm »
liko, nama englishiii jaekyung--audreyy [what] [what] kenapa ga lindra, atau liliandra aje [hmpfh] [laughing]

Yya! aku ga senarsis itu mami  [angry] [angry]  [head break] [head break] [head break]

gimana klo lovelyn aja biar terkesan kebarat2an *huekk*  [laughing] [laughing]
[nono] [nono] lili aja deh [hmpfh] teringat ama bunga lili, pasti harum and menimbulkan aura yg [on] [on] [drool] [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 9, 24 May 2011 ~
« Reply #599 on: May 23, 2011, 07:38:28 pm »
rupanya itu yang membuat jihoo akhirnya berusaha menolong junpyo and jandi [hmpfh] karna dia ga mau junpyo sampai menikah dgn jaekyung, .. karena ... dia mencintai jaekyung [hmff] [hmff]

lanjutannya jgn lama2 ya say [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [nono] [nono] [nono] tebakan mami salah besar  [jumpy] [jumpy]  jihoo ga berjasa apa2 buat hubungan jundi  [hmff]

lanjutannya nunggu coward dibobol sonsaengnim  [laughing] [laughing]