Poll

tolong vote buat polling di bawah ini! kira-kira hubungan sun-hye mau dikemanain? hehe

dipasangkan ama si-hwan
6 (16.7%)
dipasangkan ama min-chan
27 (75%)
tetep ama geun-suk
0 (0%)
ribet. sendirian aja deh
3 (8.3%)

Total Members Voted: 31

Author Topic: The Sounds of death--CHAPTER 10--8/4/12  (Read 19457 times)

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter one, 14 august
« Reply #195 on: September 27, 2010, 09:11:15 pm »
weekend ya [biggrin]
asyik weekend, gw bakalan sabar menanti mam [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter one, 14 august
« Reply #196 on: September 28, 2010, 04:33:56 am »
horaaaaaay [clap] [clap] [clap]
setelah nunggu berabad-abad, akhirnya ni FF mau diupdate [lovestruck] [lovestruck]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter one, 14 august
« Reply #197 on: September 30, 2010, 09:49:51 pm »




Sun-Hye menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah. Dua bungkusan di tangannya dilemparkan begitu saja ke lantai berkarpet tebal. Dia melirik jam besar yang berdiri angkuh di sudut ruangan. Sudah pukul sembilan malam. Waktu yang sangat terlambat buat peraturan pulang ke rumah yang diterapkan haraboji ketika masih hidup. Sun-Hye menghembuskan nafas kuat-kuat. Hari ini hari yang melelahkan. Sudah lama dia tidak bermain segila ini. Sehabis dari apartemen tua milik detektif gadungan—Lee Si Hwan—dia memang memaksa So-Eun menemaninya shopping. Semoga So-Eun tidak mendapat masalah dari paman Joo, harap Sun-Hye dalam hati.

Seorang pelayan yang khusus ditunjuk haraboji untuk merawatnya tergopoh-gopoh mendekatinya. Wajah pelayan muda tersebut bersemu merah ketika sampai di dekatnya. Nafasnya memburu.

“Agashi sudah pulang?” dia membungkuk dengan hormat.

Sun-Hye tersenyum. Pelayan ini sudah bekerja untuknya selama dua tahun tapi sikapnya masih saja sekaku ini.

“Ne, Hae-a .. “

“Apa agashi sudah makan?” tanya Hae ragu-ragu. “Makan malamnya sudah dibereskan tadi .. “

“Tidak apa-apa .. ,” jawab Sun-Hye. “Saya sudah makan kok .. “ Kemudian dia berdiri dari tempatnya. “Tolong bawa belanjaanku ke kamar, Hae-a. Saya akan mandi dulu. Tubuhku lengket oleh keringat .. “

“Ne, agashi .. “ Hae mengambil dua bungkusan tadi kemudian mengikuti Sun-Hye. Tiba-tiba langkahnya terhenti. “O ya, agashi?”

Sun-Hye menoleh. “Ya?”

“Tadi sore Jang Geun Suk-ssi kemari .. “

“Mwo?” Sun-Hye berhenti kemudian berbalik menghadapi Hae. Rautnya berubah tak senang. “Buat apa dia ke sini?”

“Katanya mencari agashi .. ,” jawab Hae.

“Lalu apa katamu?”

“Saya bilang agashi sedang keluar dengan So Eun-ssi .. “

Sun-Hye menghela nafas kemudian meneruskan langkahnya. “Lain kali jika dia ke sini katakan padanya saya sibuk dan tidak ingin diganggu .. “

“Ne .. ,” jawab Hae.

Mereka keluar dari ruang tengah menuju lorong besar di sudut kanan ruangan itu. Di sana terdapat tangga putar yang menuju lantai atas. Langkah Sun-Hye tersendat. Hae hampir menabraknya. Pelayan pribadi itu memekik pelan.

Sun-Hye melihat seorang pria muda sedang menyandar di jendela kaca besar yang terpasang di sepanjang lorong tersebut. Wajah pemuda itu tertunduk. Kakinya yang beralas sepatu kets warna hitam bergaris putih menyepak-nyepak lantai. Sepasang tangannya terselip ke dalam saku celana sedangkan rambutnya yang halus dan berwarna coklat pekat menutupi wajahnya. Sun-Hye tidak mampu menangkap ekspresi pemuda itu lewat posisinya sekarang.

Perlahan dia melanjutkan langkahnya. Ketika melewati pemuda tersebut, dia menunduk perlahan.

“Paman Chan .. ,” sapa Sun-Hye pelan.

Min-Chan mengangkat wajahnya. Wajah yang datar tanpa ekspresi. Sun-Hye mendesah dalam hati. Tidak mengerti mengapa pemuda ini selalu memperlihatkan respon seperti ini. Atau .. mungkinkah dia yang tidak pandai membaca raut seseorang? Apakah raut datar ini telah mengambarkan perasaannya? Tapi apa? Sun-Hye mengeleng tak mengerti.

Gadis itu berusaha tersenyum tapi Min-Chan tidak menyambutnya. Tubuh pemuda itu menegak. Kepalanya ditarik ke belakang sehingga poninya yang terjuntai menutupi jidatnya agak tersibak. Kening Sun-Hye berkerut. Samar-samar dia menangkap goresan yang cukup panjang—sekitar 2 cm—di jidat yang tinggi dan lebar itu. Mulutnya terbuka, bermaksud mengatakan sesuatu tapi pemuda itu dengan tenang sudah bergerak dari tempatnya--ke arah berlainan. Tanpa mengatakan apa-apa? Tidak menyahutnya?! Wajah Sun-Hye mengeras. Ok, saya sudah mencoba bersikap sopan. Kalau memang tidak dianggap masa bodoh. Memangnya kamu siapa, Lee Min-Chan? Mengapa harus selalu saya yang memulainya? Mengapa harus saya yang menyapamu lebih dahulu? Karena kamu pamanku? Oh come on, apa hebatnya seorang paman?! Huhhh!!

Sun-Hye berlari menaiki anak tangga. Hae sangat terkejut. Tergesa-gesa dia mengejar Sun-Hye.

“Agashi, ada apa?”

“Tidak apa-apa!” jawab Sun-Hye tanpa berbalik. “Saya hanya .. ingin cepat-cepat membersihkan diri. Setelah menaruh isi belanjaan itu, siapkan teh hangat buatku, Hae-a .. “

“Ne, agashi .. ,” jawab Hae dengan terengah-engah.


***********



Sinar mentari pagi berusaha menembus tirai jendela kamar Sun-Hye. Hae masuk dengan nampan berisi segelas susu hangat di tangannya. Setelah meletakkan nampan tersebut ke meja pendek di tengah ruangan yang luas itu, dia berjalan ke deretan jendela kaca besar di ujung ruangan. Dibukanya tirai yang menutupi jendela-jendela kaca tersebut. Sinar yang menyilaukan langsung menerobos masuk mengenai wajah Sun-Hye.

Tubuh mungilnya bergerak. Matanya berkejap-kejap. Setelah terbiasa Sun-Hye bangun dengan posisi duduk di ranjangnya.

“Selamat pagi, agashi .. ,” sapa Hae halus.

Sun-Hye tersenyum sambil mengerak-gerakkan tubuhnya. “Pagi, Hae-a. Pagi yang cerah, ya?”

“Ne.” Hae berjalan ke meja pendek dan mengambil gelas dari dalam nampan. “Apa agashi akan sarapan di ruang makan atau di dalam kamar saja?” Hae menyerahkan gelas di tangannya.

Sun-Hye menerima gelas tersebut dan meminum susu di dalamnya. “Apa yang lain sudah siap? Jam berapa sekarang?”

Hae melihat jam tangannya. “Pukul setengah delapan, agashi. Ketika melewati ruang makan, saya melihat nyonya muda dan Min-Chan doronim sudah berada di sana.”

Sun-Hye mengangguk dan menyerahkan gelas kosong di tangannya. “Kalau begitu saya sarapan di bawah saja.” Dia turun dari ranjang lalu berjalan ke kamar mandi dalam ruangan itu. “Saya akan selesai dalam lima menit, Hae-a. Tolong beritahu yang lain.”

“Ne, agashi.” Hae berjalan ke lemari dan mengambil sepotong sweater abu-abu beserta jeans ketat warna putih kemudian menyerahkannya pada Sun-Hye.

Majikan mudanya itu masuk ke dalam kamar mandi. Dalam hitungan detik kepalanya nonggol lagi di ambang pintu. “Hae-a?!”

Hae menghentikan langkahnya dan berpaling, “Dhe?”

“Apa ada yang mencariku?”

“Maksud agashi, Jang Geun Suk-ssi?” Hae balas bertanya.

Sun-Hye mengeleng keras-keras. “Anhi! Seseorang yang .. hmm—mirip paman Chan?” suaranya memelan begitu mencapai kata-kata terakhir.

“Mirip Min-Chan doronim?” gumam Hae kebingungan. “Tidak. Apa agashi menunggu orang seperti itu?”

“Kira-kira begitu .. ,” jawab Sun-Hye risih. Kemudian dia mengibaskan tangannya. “Tidak ada perintah lagi, Hae. Keluarlah!”

“Ne.” Hae membungkuk dalam-dalam kemudian berlalu dari ruangan itu.

Sun-Hye memperhatikannya sampai lenyap dari pandangan.

“Apa reaksi penghuni rumah yang lain jika bertemu detektif gadungan itu? Wajah yang begitu mirip .. ,” dia mengeleng perlahan. “Anhi .. bukan mirip. Tapi sama … “

Sun-Hye menarik diri kembali ke kamar mandi kemudian menutup pintunya.


***********



Ruang makan di Goo’s mansion sangat sunyi. Hanya suara benturan-benturan dari peralatan makan di tangan orang-orang yang berada di ruangan itu dengan peralatan di atas meja yang terdengar. Semua penghuninya sarapan tanpa bersuara. Tidak ada pembicaraan atau tawa ceria yang mengiringi acara sarapan tersebut. Bukan karna larangan di rumah itu tapi karna para penghuninya saja yang tidak berniat memulai tindakan kecil ini.

Drekkk ..

Sun-Hye mengangkat wajah dari piring yang dihadapinya. Tepat di hadapannya, Min-Chan sudah berdiri dari tempat duduknya. Rupanya suara menderek tadi adalah suara kursi yang didorong ke belakang oleh pemuda jangkung itu. Wajah Sun-Hye berkerut. Apa dia tidak bisa menunggu sampai semua selesai sarapan?. Sun-Hye menghembuskan nafas lewat hidungnya. Semakin kesal aja dia pada pemuda aneh ini.

Min-Chan membungkuk pada ommanya. “Saya selesai .. ,” katanya pendek dengan suara khas yang agak serak-serak basah yang sangat diingat Sun-Hye. Mengapa? Mungkin karena dia jarang mendengar pemuda ini mengeluarkan suara. Ya, tentu saja itu alasannya. Min-Chan mengalihkan perhatiannya satu-persatu kepada orang-orang yang mengelilingi meja makan. “Permisi .. ,” dia membungkuk lagi. Kemudian pandangannya bertemu dengan pandangan Sun-Hye. Sekali lagi wajah itu tidak memperlihatkan perasaan apa-apa. Hanya sekilas tatapan mereka saling beradu. Min-Chan lalu memutar tubuhnya dan keluar dari ruangan itu.

Terdengar nyonya muda Goo tertawa risih. “Ha .. ha .. miane, si Chan selalu begitu .. “

Sun-Hye berpaling padanya. Dia ikut tersenyum. “Tidak apa, halmonie. Kita semua tahu kok .. “

Nyonya muda Goo menatapnya terharu. “Gumawo, Sunhye-a. Kamu selalu perhatian .. “

Dipuji begitu Sun-Hye menjadi kikuk. “Ha .. ha .. halmonie pandai bercanda .. “

“Halmonie tidak bercanda, Sunhye-a.” Nyonya muda Goo jadi serius. “Halmonie selalu berharap … ,” dia berhenti, kemudian mengeleng perlahan. Senyuman tersungging di bibirnya. “Mungkin harapan selamanya hanya harapan. Tidak akan menjadi kenyataan.” Dia tertawa. “Lalu bagaimana sekolahmu? Dua bulan lagi kamu kuliah, kan? Sudah menentukan jurusan yang akan diambil?”

Sun-Hye meletakkan sendok di tangannya. “Ne. Saya akan belajar hukum.”

“Hukum?” wanita setengah baya itu terlihat keheranan.

“Ne.” Sun-Hye menatapnya dengan seksama. “Memangnya kenapa, halmonie? Ada yang salah?”

Nyonya muda Goo mengeleng. “Tidak.” Dia tertawa perlahan. “Saya hanya merasa heran. Apa kamu tidak berniat melanjutkan usaha kakekmu?”

“Itu .. ,” Sun-Hye terdiam sebentar. Tangannya menopang dagu. Tiba-tiba perasaannya berdesir halus. Dia merasa ada yang memperhatikannya. Dengan cepat ia menoleh ke samping. Tepat saat itu tertangkap olehnya pandangan tajam dari Eun-Hye.

Gadis yang sudah berseragam dokter itu langsung memalingkan mukanya. Alis Sun-Hye berkerut. Apa Eun-Hye ingin menghindari sesuatu? Bertatap muka denganku? Tapi mengapa? Karena dia bersalah? Sun-Hye menghela nafas berat. Dia tidak tahu. Terlalu banyak kedok dari para penghuni rumah ini. Dia tidak mengenali mereka.

“Gimana?”

Pertanyaan tersebut menyadarkan Sun-Hye. Dia beralih kembali pada Nyonya muda Goo. “Sejujurnya saya tidak tertarik pada usaha haraboji. Tapi .. entahlah .. ,” dia tersenyum hambar. “Saya masih memiliki waktu kan? Tiga tahun lagi. Setelah menyelesaikan kuliah baru deh saya menentukan pilihan. Mana yang terbaik .. “

Nyonya muda Goo menyentuh pundaknya. “Pikirkanlah masak-masak. Halmonie akan mendukungmu .. “

Sun-Hye mengangguk. “Gumawo, halmonie …”          


***********



Pukul 11 kurang tujuh menit, Hae berlari mendekati Sun-Hye.

"Agashi!"

Sun-Hye mengangkat wajah dari majalah di tangannya. Alisnya terangkat begitu melihat wajah Hae bersimbah keringat.

"Weo?" dia melirik ke belakang. "Dikejar hantu?"

Hae mengeleng sambil menelan dengan susah payah. "Anhi .. agashi ... "

Sun-Hye tertawa. "Tentu saja tidak. Saya hanya bercanda kok." dia meletakkan majalah di tangannya ke samping kemudian menatap Hae. "Memangnya ada apa?"

Hae menunjuk ke belakang. Tenggorokannya terasa kering sehingga tidak mampu menyahut.

"Mwo?!" tanya Sun-Hye lagi.

"O .. orang .. orang yang ditunggu agashi .. ," kata Hae terbatah-batah.

"Sudah tiba?!" Sun-Hye tersentak bangun dari tempatnya.

Hae mengangguk. "Dan ... ," dia mengigit bibir keras-keras. "Dia .. dia ... "

"Mirip paman Chan maksudmu?" Sun-Hye membantunya.

Hae mengangguk lagi. "Ba .. bagaimana mungkin?" katanya lirih.

Sun-Hye melewatinya. "Saya juga tidak tahu, Hae-a .. "

Hae memutar tubuh kemudian berlari-lari kecil di belakang Sun-Hye. "Apa dia .. dia bukan orang yang sama, agashi? .. Maksud saya .. Min-Chan doronim?"

Sun-Hye mengeleng. Sekarang mereka sudah keluar dari ruang tengah. "Tidak, Hae. Dia orang yang berbeda. Dia bukan paman Chan."

"Oh ... ," Hae menutup mulut dengan kedua tangannya. Sepasang mata beningnya yang selalu gugup terbelalak lebar. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu mirip?, batinnya tak percaya.

"Dia ada di mana sekarang?" tanya Sun-Hye tanpa menoleh ke arah Hae.

Pelayan berbadan kecil itu tersentak. Lamunan-lamunannya buyar seketika. "Di .. di ruang tamu lantai atas, agashi."

Langkah Sun-Hye terhenti. Dia berbalik dengan alis terangkat tinggi-tinggi. "Lantai atas? Mengapa?"

Hae menjadi heran. "Dia bilang, itu keinginan agashi. Supaya kedatangannya dirahasiakan dulu dari orang-orang rumah. Apa .. bukan begitu?" lanjutnya ragu-ragu.

Sun-Hye menghembuskan nafas mendengar penjelasan itu. Perlahan dia mengangguk sebagai tanda membenarkan. Kemudian langkahnya diteruskan mulai menaiki tangga bundar yang menuju lantai atas.


***********



Pintu ruang tamu lantai dua dibuka oleh Hae. Dia agak membungkuk ketika Sun-Hye melewatinya. Kemudian dia mengekor dari belakang. Seorang pemuda dengan postur yang sangat tinggi memutar badan perlahan begitu mendengar suara saling bersahutan di belakangnya. Suara-suara tersebut berasal dari sepatu Sun-Hye dan Hae yang beradu dengan lantai kayu.

Terdengar suara anjing menyalak. Mata Sun-Hye terbelalak perlahan. Tidak mampu mempercayai apa yang dilihatnya. Jadi benar dia memiliki seekor anak anjing .. dan .. dibawa kemari? Ohhh!! Tiba-tiba Sun-Hye merasa seseorang menyenggol tangannya. Dia menoleh.

"Miane, agashi. Saya lupa memberitahukan tentang .. anjing itu .. ," seru Hae lirih. Penuh penyesalan.

Sun-Hye tidak mampu berkata apa-apa. Pikirannya dipenuhi oleh keanehan-keanehan dari pemuda yang mengaku detektif ternama ini. Oh well, mungkin bukan pengakuannya, hanya pengakuan paman Joo. Tapi itu tidak berbeda. Sikapnya menunjukkan kalau dia mengetahui segalanya. Dan ini lebih parah dari pengakuan yang keluar dari mulutnya sendiri. Sun-Hye membela dalam hati.

Pemuda di hadapannya tersenyum. Tangannya menepuk halus kepala anjing berbadan kecil dalam rangkulannya sehingga berhenti menyalak.

"Anyong .... hmm--," tangan pemuda itu menunjuk Sun-Hye. Dia terlihat sedang berpikir, kemudian .., " ...  o ya, Goo Sun Hye-ssi .. ," lanjutnya dengan mata berbinar. Jarinya dijentikkan pada saat bersamaan. Ia terlihat puas. Apa buat tebakannya barusan?

Raut wajah Sun-Hye berubah dongkol. Langkahnya yang sempat terhenti diteruskan ke pemuda itu. "De ... "

"Ssstttt!!" sebelum ucapan itu dikeluarkan, telunjuk si pemuda sudah mendarat di bibirnya.

Sun-Hye sangat terkejut. Dia langsung mundur ke belakang dengan sempoyongan. Hae menahan tubuhnya sehingga kakinya terinjak. Pelayan malang itu langsung meringis kesakitan.

Mata Sun-Hye melebar menghadapi pemuda itu. Kurang ajar sekali dia!! Mulutnya terbuka buat menyemburkan kata-kata pedas. Tapi lagi-lagi terpotong begitu pemuda tersebut mencondongkan tubuh ke depan. Wajah mereka hampir bertabrakan.

"Apa ... "

"Bukankah kau ingin semuanya dirahasiakan?" sela Si-Hwan. Sun-Hye terpaku. "Jika iya, jangan memanggilku detektif Lee .. ," lanjutnya halus di telinga Sun-Hye.

Lalu tubuhnya ditarik ke belakang. Dia melirik Hae yang kebingungan. "Bisa menolongku, nona?"

"Dhe?!" Hae tersentak.

Si-Hwan melewati Sun-Hye dan mendekati Hae yang berada sekitar tiga langkah di belakangnya. "Tolong jaga Dorky untukku. Ada yang ingin saya bicarakan dengan majikanmu .. " Dia menyodorkan anjing berbadan mungil yang bernama Dorky itu.

Hae memandanginya sesaat. Wajahnya terlihat tegang. Seumur hidup ia memang belum pernah berurusan dengan binatang. Apalagi binatang yang suka menyalak. Dorky terlihat mengerikan baginya. Hae beralih pada Sun-Hye. Seakan meminta pertolongannya. Tapi Sun-Hye mengangguk sehingga mau tak mau Hae menerima Dorky dengan takut-takut.

"Jangan khawatir. Dia tidak akan mengigitmu .. ," Si-Hwan tertawa. Membuat Hae semakin kaku.

Sun-Hye menepuk lengan Hae. "Bawalah dia keluar. Kami tidak ingin diganggu. Tanpa perintah dariku, jangan biarkan seorangpun memasuki ruangan ini. Araso!"

Hae mengangguk dengan ekspresi seperti orang menanggis. Dia berusaha menjauhkan Dorky dari tubuhnya. Anjing kecil itu menyepak-nyepak tak karuan, membuat Hae memekik pelan. "Agashi .. ," serunya memelas.

"Peluk dia. Jika tidak, nanti jatuh ke lantai .. ," kata Si-Hwan segera. Dia menekan Dorky sehingga merapat ke tubuh Hae. Sekali lagi pelayan malang itu memekik.
"Agashi .. " teriaknya jijik.

"Keluarlah!" perintah Sun-Hye tanpa membantu. "Jika kewalahan, berikan pada pak Jung. Kalau tak salah, dia suka anjing." tangannya dikibaskan--memaksa Hae berlalu dari situ.

Dengan tubuh lunglai, Hae keluar ruangan. Dorky masih terlihat memberontak dalam dekapannya. Sun-Hye mendesah. Dia merasa kasihan pada Hae tapi apa boleh buat dia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang lebih penting sekarang adalah masalah yang menyangkut kematian harabojinya. Dan dia tidak ingin Hae mendengar rencana penyelidikan yang akan dilakukannya dengan detektif gadungan ini sehingga Hae terpaksa harus disingkirkan dalam pembicaraan rahasia ini.

Si-Hwan menjatuhkan diri ke sofa. "Saya habis dari badan penyelidik polisi .. ,"  mulainya. "Semua bukti sudah kuketahui dengan jelas .. "

Badan Sun-Hye menegang. Langkahnya diperlebar ketika mendekatinya. "Lalu .. bagaimana? Apa ada yang mencurigakan?"

Si-Hwan mengangkat bahunya. "Mungkin .. ," jawabnya seenaknya.

Alis Sun-Hye terangkat, "Maksud anda?"

"Bukti itu tidak perlu .. " si detektif merogoh ke dalam saku celana dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil.

Sun-Hye mempertajam penglihatannya. Oh,, mulutnya terbuka. Ternyata itu bungkusan coklat. Dengan santai detektif muda itu menuang butiran-butiran coklat pekat ke telapak tangannya dan menyodorkan pada Sun-Hye. Gadis itu segera mengeleng kuat-kuat.

"Tidak! Terimakasih .. ," katanya dengan wajah merah padam. Dia tidak suka coklat dan sekarang perasaan tidak suka itu semakin dalam begitu melihat ketergantungan detektif, yang mestinya bisa diandalkannya ini, pada coklat.

Si-Hwan mengangkat bahu lagi--cuek, kemudian dia memasukkan butiran-butiran coklat tersebut ke mulutnya. Dikunyahnya perlahan sehingga menimbulkan bunyi halus. Tampang Sun-Hye semakin dongkol.

"Apa tidak ada lagi yang anda selidiki?"

Telunjuk Si-Hwan terangkat. "Ada!" katanya seperti mendapat ide. "Saya tahu pengacara tuan Goo, yaitu harabojimu, akan datang hari ini dan mengumumkan isi surat wasiat kakekmu tersebut .. "

"MWO?" Sun-Hye sangat terkejut. "Bagaimana kamu mengetahuinya?"

"Apa kamu tidak tahu?" Si-Hwan balas bertanya.

"Saya tahu .. ," Sun-Hye membela diri.

"Dan anda tidak memberitahukannya padaku?" Si-Hwan berkata dengan nada menyalahkan.

Sun-Hye menjadi risih. "Bu ... bukan begitu. Sa .. saya hanya ... ," wajahnya tertunduk perlahan. "Well,, saya lupa .. "

Si-Hwan mengibaskan tangannya. "Tidak apa-apa. Saya tidak akan menyalahkanmu .. "

Sun-Hye mengangkat wajah, kemudian mendelik. "Tapi, walaupun begitu .. apa masalah ini penting untuk kau ketahui?"

"Tentu saja!" jawab Si-Hwan tegas. Sesaat mereka berpandangan dengan ekspresi keras. Sampai sikap Si-Hwan melunak perlahan. "Sudahlah, lupakan saja .. ," tiba-tiba dia berdiri. "Bisa membantuku mengatur sesuatu?"

"Mwo?" tanya Sun-Hye, masih dengan nada tidak senang.

"Aku ingin bertemu dengan istri kakekmu dan juga putranya .. "

Wajah Sun-Hye berkerut. "Untuk apa?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya.

Si-Hwan mengelus-ngelus dagunya. "Ada aja .. "

Tepat pada saat itu, pintu ruang tamu diketuk. Sun-Hye berpaling dengan jengkel.

"SIAPA?!" teriaknya keras.

"Sa .. saya, agashi .. ," terdengar suara Hae menyahut takut-takut dari luar.

"MASUKLAH!!"

Pintu ruangan dibuka. Hae melangkah masuk dengan perlahan-lahan. Dia tidak berani menatap Sun-Hye.

"Sudah kubilang saya tidak ingin diganggu!" sembur Sun-Hye. "Mengapa masih mengangguku? Ada apa?!"

"Miane, agashi .. ," jawab Hae pelan. "Tapi .. tuan Moon sudah tiba dan .. "

Sun-Hye menghembuskan nafas keras-keras sehingga memutuskan perkataan Hae. "Mana yang lain?" tanya Sun-Hye.

"Sudah menunggu di ruang pribadi, agashi .. "

Sun-Hye mengangguk kemudian berpaling pada Si-Hwan.

"Saya tahu .. ," kata Si-Hwan sebelum Sun-hye mengeluarkan suaranya. "Pergilah. Saya akan menunggumu di sini. Tidak akan kemana-mana."

"Bagus .. ," kata Sun-Hye sambil membalikkan badannya.

"Tapi ingat dengan permintaanku tadi .. ," seru Si-Hwan.

Sun-Hye memejamkan matanya tanpa berbalik. "Araso .. "

"Satu lagi .. ," lanjut si detektif.  "Nona Hae, mana Dorky?"

Hae tampak tersentak. "Oh, dia .. dia kuberikan pada pak Jung. Apa .. apa tuan menginginkannya sekarang? Saya bisa .. ," wajahnya perlahan-lahan berubah pucat. ".. bisa mengambilkannya buat tuan?"

Si-Hwan mengeleng. "Tidak perlu. Pak Jungmu menyukainya, kan?"

Hae berubah ceria. "Ne ... "

"Kalau begitu biarkan saja begitu .. ," Si-Hwan tersenyum.

Senyuman yang membuat Hae terpaku. Bukan karena apa-apa, tapi karena senyuman itu sangat mirip majikannya yang lain, Lee Min-Chan. Brakkk ... bunyi pintu dihempaskan menghentak Hae. Dia menoleh, ternyata Sun-Hye sudah menghilang dari situ. Dia membungkuk kearah Si-Hwan dan tergesa-gesa mengejar majikan mudanya itu.


***********



Tuan Moon, pemilik—sekaligus pengacara berpengaruh dari badan pengacara Moon & Mine, mengamati secara seksama orang-orang yang duduk mengelilingi meja di ruang pribadi dengan sepasang matanya yang luwes dan waspada. Semua orang tampak tegang. Dan ini terlihat jelas dari sikap duduk dan pandangan mereka. Lirikan-lirikan saling mencurigai antara yang satu dengan yang lainnya terlihat berulangkali. Hanya satu orang yang kelihatan tidak terpengaruh dengan keadaan ini. Tatapan pemuda yang duduk di sofa di hadapannya terarah keluar jendela.

Tuan Moon menghela nafas sejenak. Tugas pembacaan isi surat wasiat ini sebenarnya sudah sangat terlambat. Banyak hal-hal yang menyulitkan penanganan terhadap wasiat yang dipercayakan pemilik Goo Global kepada perusahaannya ini. Saat-saat terakhir sebelum kematian tuan Goo tua, si pemilik tertinggi dari Goo Global ini memang sering merubah surat wasiatnya. Dan ini baru diketahui oleh tuan Moon setelah kematian si Goo tua.

Setelah melakukan pemeriksaan yang berkepanjangan. Dengan mengikutsertakan pengacara-pengacara berpengalaman dari Moon & Mine, akhirnya pihak badan pengacara yang mengurus semua urusan hukum tuan Goo, memutuskan bahwa surat wasiat lama yang berlaku. Sedangkan beberapa surat wasiat yang dibuat tuan Goo sesudahnya dinyatakan tidak sah karena tidak sesuai dengan ketentuan hukum. Tuan Moon cukup heran dengan kenyataan ini. Sepengetahuannya, tuan Goo tua bukan orang yang ceroboh dalam mengurus kepentingan harta kekayaannya. Beliau selalu memperhatikan dengan seksama semua yang berhubungan dengan pembagian hartanya setelah dia meninggal nanti. Mungkin si tua bangka itu kembali lagi ke masa kanak-kanak. Ingin mempermainkan anggota keluarganya yang mungkin akhir-akhir ini sangat mengecewakannya. Akhirnya tuan Moon berpendapat demikian.

Tuan Moon berdeham dan asisten pribadinya, pria muda berkacamata tebal yang kelihatan agak gugup, segera menyerahkan arsip dalam map cokelat tua di tangannya. Tuan Moon membuka map tersebut dengan tenang. Kemudian mulai menyelusuri setiap perkataan yang sudah dihapalnya di luar kepala dengan pandangannya, untuk kemudian mengamati para penghuni rumah lagi.

“Begini nyonya Goo, tuan muda Lee dan nona-nona sekalian. Pertama-tama saya ingin meminta maaf atas keterlambatan pemberitahuan isi surat wasiat ini. Seperti yang pernah saya katakan bahwa ada hal-hal lain yang harus kami periksa terlebih dahulu .. ,” tuan Moon berhenti sejenak.

Semua mengamatinya dengan penuh perhatian. Alis tuan Moon berkerut perlahan. Sikap pemuda yang duduk tepat di hadapannya tidak berubah. Dia tidak meliriknya sedikitpun. Sepasang mata yang tajam itu tetap tertuju ke arah jendela. Tuan Moon menarik nafas dalam-dalam. Dia merasa agak terganggu juga dengan sikap pemuda ini. Mengapa dia terlihat tidak peduli sama sekali?

“Untuk pembayaran yang tidak perlu, seperti pembayaran kecil kepada para pembantu, dan juga sumbangan-sumbangan ke yayasan-yayasan sosial, saya rasa tidak perlu dijelaskan dengan panjang lebar. Selain pengeluaran-pengeluaran tersebut, masih tersisa Goo Global dan semua kekayaannya, baik dalam bentuk  tunai, saham maupun asset-asset berharga lainnya, misalnya hotel-hotel, merek-merek fashion-elektronik-makanan dan lain-lain, juga supermarket-supermarket, gedung-gedung, apartemen-apartemen, rumah sakit-rumah sakit, sekolah-sekolah dan masih banyak lagi. Yang saya yakin kalau dihitung, jumlahnya pasti memukau hadirin sekalian. Kemudian masih ada Goo’s mansion, dan beberapa apartemen pribadi di luar negeri, seperti New York, Paris, Tokyo, dan Sydney.” Tuan Moon mengambil nafas, kemudian melanjutkan perkataannya yang tertunda. “Nyonya Goo akan mendapat tunjangan sebesar US$10.000 setiap bulannya. Dan ini akan diberikan seumur hidup selama nyonya Goo tetap menjanda.” Tuan Moon berhenti lagi dan memperhatikan reaksi dari mereka. Hening. Tidak ada yang berkomentar atau merasa keberatan dengan ketentuan yang satu ini.

Tuan Moon menegakkan badannya kemudian melanjutkan. “Sedangkan Yoon Eun-Hye ssi, tidak jauh berbeda dengan nyonya Goo, hanya saja .. ,” tuan Moon sengaja mengulur perkataannya. Dan benar saja, Eun-Hye langsung meliriknya dengan pandangan menyelidik.

“Hanya apa?” tanyanya dengan nada tajam.

“Ada sedikit perbedaan, Eun-Hye ssi .. ,” kata tuan Moon. “Tunjangan yang diberikan pada anda hanya berhubungan dengan kuliah kedokteran yang anda ambil. Tuan Goo akan menanggung semua biaya kuliah anda sampai selesai. Tapi setelah itu, anda diharapkan bisa mandiri sendiri .. “

“MWO?!” Eun-Hye melompat dari duduknya. “Maksudmu si tua bangka itu tidak bersedia menunjang hidupku?”

“Tidak. Hanya sebatas pendidikan. Itu saja.” Jawab tuan Moon tegas.

Tangan Eun-Hye terkepal. Dadanya naik turun karena menahan gejolak perasaannya yang memburu. Tidak mengira usahaku selama ini sia-sia. SIA-SIA SAJA!!” teriaknya dalam hati.

“Omong Kosong!!” dia mengeleng. “Tidak mungkin. Ini tidak adil!”

“Duduklah dulu nona.” Tuan Moon berusaha menenangkannya. “Dengarkan dulu detail-detail yang belum selesai kubacakan.”

Eun-Hye mengerling tajam ke semua orang yang mengelilingi ruangan itu. Seakan bermaksud menelan mereka bulat-bulat. Sinar matanya penuh amarah. Dia berpaling menghadap tuan Moon lagi. Sinar mata menenangkan itu akhirnya membuatnya menjatuhkan diri kembali ke sofa. Tangannya masih terkepal erat.

“Bagus.” Kata tuan Moon sambil tersenyum. Diliriknya sekilas map file di tangannya, lalu berkata lagi. “Untuk kekayaan yang lain—setelah dikurangi pembagian-pembagian yang telah kukatakan tadi, seluruhnya, tanpa terkecuali, diberikan kepada cucu perempuan satu-satunya, Goo Sun-Hye, dengan semua kepengurusan akan diwakili oleh tuan Lee Min-Chan sampai Sun-Hye ssi berumur 21 tahun. Min-Chan ssi dipercayakan mengurus Goo Global sampai Sun-Hye ssi cukup umur untuk menanganinya. Dan Min-Chan ssi hanya akan mendapat keberuntungan dari laba perusahaan selama kepengurusannya itu. Jika tidak—rugi misalnya, dia tidak akan mendapat apa-apa.”

“MWO?!” sekarang nyonya Goo yang tersentak dari posisinya. “Chan tidak mendapat apa-apa? Ti .. tidak mungkin!”

“Ini isi surat wasiat almarhum yang saya bacakan, nyonya .. ,” kata tuan Moon dengan nada tersinggung.

“Bukan itu maksud perkataanku, tuan Moon. Hanya saja .. hanya saja .. Chan, dia .. dia .. “

Drekkk!! Terdengar bunyi kaki sofa tergeser dari tempatnya. Semua berpaling. Min-Chan sudah berdiri dengan posisi tangan terselip di saku celana.

“Bagaimana jika saya menolaknya?” tanya pemuda itu dingin.

Suaranya mengiris kalbu. Sun-Hye menghela nafasnya berat. Kelihatannya keadaan semakin tak terkendali. Jika boleh memilih, dia ingin melepas semua yang menjadi haknya saat ini agar keharmonisan keluarganya bisa terbina kembali.

“Jika anda tidak mau menerima keputusan tersebut, maka .. terpaksa nona Sun-Hye yang akan menerima tanggungjawab ini.”

Merasa namanya disebut, Sun-Hye mengangkat wajahnya. Di saat bersamaan dia mendapat tatapan yang tak tertafsirkan dari Min-Chan.

Perkataan-perkataan tuan Moon masih bersahut-sahutan di gendang telinga Sun-Hye kala itu.

“Walaupun dia belum cukup umur, tapi jika ditemani pengacara, saya rasa tidak masalah.”

“CUKUP!” potong Min-Chan. “Saya menerimanya.”

“Chan-a!” seru nyonya Goo tak percaya.

“Apa salahnya?” pemuda itu mengangkat bahu kemudian menghempaskan diri kembali ke sofa. “Terima atau tidak, sama saja kan?”

Tidak ada yang berkomentar lagi. Tuan Moon melanjutkan pemberitahuan mengenai beberapa hal kecil yang tidak berarti kemudian menutup map file di tangannya. Dia menunggu sebentar. Setelah tidak mendapatkan tanggapan apa-apa dari para ahli waris dalam surat wasiat di tangannya, dia mengangguk sedikit, dan berlalu dari ruangan itu. Diikuti oleh si asisten berkacamata.

Kekakuan mulai tercipta dalam ruang pribadi yang terhias apik tersebut. Tidak ada yang bergerak terlebih dahulu. Lima menit berlalu dan Eun-Hye mula-mula yang berdiri dari tempatnya. Dengan langkah lebar dia menuju ke pintu. Nyonya Goo mengikutinya kemudian. Begitu juga Min-Chan.

Tergesa-gesa Sun-Hye mengejar mereka.

“Halmonie, bisa ikut denganku ke suatu tempat?” tanyanya salah tingkah.

Min-Chan berhenti di sebelah ommanya. Setelah melirik sekilas, dia melangkahkan kaki ke arah pintu.

“Kamu juga, paman Chan!” seru Sun-Hye sebelum sosok jangkung itu berlalu dari situ.

Min-Chan berbalik. Wajahnya berkerut perlahan. Tapi seperti biasa, dia tidak menyahut perkataan Sun-Hye.

“Ada yang ingin kutunjukkan.” Sun-Hye mengeleng. “Tidak. Maksudku, ada orang yang ingin bertemu kalian.”

Sun-Hye menatap nyonya Goo dan Min-Chan, yang dibalas pandangan tajam dari mereka. Kemudian dia bergerak perlahan. “Ikuti saya .. “

Min-Chan mengerakkan badannya sedikit dan berniat berjalan kearah berlawanan tapi segera ditarik kembali oleh nyonya Goo.

“Kita lihat siapa yang ingin dipertemukan Sun-Hye kepada kita .. ,” bisiknya halus di telinga Min-Chan.

Pemuda itu berdeham pelan. Nyonya Goo sudah bergerak dari situ. Mau tak mau, dia mengikuti langkah kedua wanita tersebut.


***********



Si-Hwan membalikkan badan ketika pintu ruang tamu dibuka. Dua orang wanita tampak sedang bercakap-cakap seru sedang memasuki ruangan. Agak jauh di belakang—seorang pria jangkung mengikuti mereka dengan tampang datar. Salah seorang dari wanita tersebut—wanita setengah baya yang berada di sebelah kanan tercekat. Langkahnya terhenti tepat di tengah ruangan, di depan Si-Hwan.

“Ka .. kamu .. ,” telunjuknya bergetar ketika menunjuk ke depan. Begitu juga bibirnya. Sinar matanya mengambarkan ketidakpercayaan yang begitu besar. “Ba .. bagai .. mana mungkin .. “

Si-Hwan tersenyum. Dengan langkah mantap, dia mendekati nyonya Goo. Min-Chan sudah berdiri di belakang mereka sekarang. Kepalanya agak dimiringkan ketika melihat reaksi yang terjadi pada ommanya. Tapi seperti biasa, dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Sedangkan Sun-Hye, melirik kedua orang ini silih berganti dengan alis yang dikerutkan dalam-dalam. Semakin penasaran dengan hubungan mereka. Sepertinya kedua orang ini saling mengenal. Dia juga berpaling pada Min-Chan. Pemuda itu sikapnya tetap kaku. Sama sekali tidak terpengaruh dengan sikap nyonya Goo. Mungkin hanya sedikit .. hmm—heran tersirat di wajahnya. Dan itu juga sangat samar. Sun-Hye mendesah. Sulit sekali membaca pikiran pemuda yang satu ini.

Si-Hwan sampai di depan nyonya Goo yang masih dalam keterkejutan luar biasa.

“Ti .. tidak mungkin … Bagai .. bagaimana bisa berada .. di .. di sini? .. Tidak mungkin … saya .. saya pasti bermimpi … “

“Omma!” sapaan yang cukup keras itu mengetarkan seisi ruangan—mengejutkan semua orang yang berdiri tegak dengan posisi tegang di tengah ruangan.

Mata Sun-Hye terbelalak, “Omma?” dia berharap telah salah dengar.

Tubuh Min-Chan agak bergerak sedikit. Sun-Hye berpaling padanya. Tapi tampang kaku itu tidak mengisyaratkan apapun.

Yang paling terguncang adalah nyonya Goo. Tubuhnya hampir ambruk ke depan jika saja Si-Hwan tidak segera menahan berat badannya dan begitu juga Min-Chan yang tidak segera menariknya ke belakang. Kedua pemuda dengan wajah serupa itu saling menatap secara bersamaan. Tangan mereka masih berada di lengan kanan dan kiri nyonya Goo. Wanita malang itu terhimpit di tengah-tengah dua postur raksasa ini. Entah atmosfir apa yang sekarang menguasai ruang tamu tersebut. Sun-Hye menyusut perlahan dari posisinya.


***********
« Last Edit: April 15, 2011, 10:13:37 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter two, 1 Oct
« Reply #198 on: September 30, 2010, 09:57:14 pm »
mian kalau jelek [heh] masih dlm tahap penyesuaian sih,, masih belum dpt ide2 selanjutnya, begitu jg apa yang menganjal di masa lalu  [hmpfh] , ayo main tebak2an dulu [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline huey

  • Newbie
  • *
  • Posts: 73
  • bogosipta....saranghae...
  • Location: Semarang
    • View Profile
    • Huey is Coming
Re: The Sounds of death-chapter two, 1 Oct
« Reply #199 on: October 01, 2010, 01:05:16 am »
horeeeeee.... [lovestruck]

di update jg....... [hmpfh]

tengkyu yaaaaa..... [arms] [arms] mami....

comentny nyusul, ni mw dbc dlu.... [clap] [clap] [clap]

heeee [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter two, 1 Oct
« Reply #200 on: October 01, 2010, 03:04:43 am »
 [clap] [clap] [clap] thanks mami udah diupdate [hug] [hug] [cheekkiss] [cheekkiss]

ommanya minchan pengen minchan punya pacar gt mam trs kawin punya kluarga [chin] [chin] smua yg ada didalem rumah tu pd pura2 bae smua ya berarti halmoninya jg donk jgn2 kawin sm haraboji cm karna harta doank au ah ane puyeng [wacko] [wacko]

akhirnya ketemu jg tu si hwan sm ommanya si minchan ekspresinya datar amir ketemu sodara kembarnya [goodgrief]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter two, 1 Oct
« Reply #201 on: October 01, 2010, 03:13:02 am »
[clap] [clap] [clap] thanks mami udah diupdate [hug] [hug] [cheekkiss] [cheekkiss]

ommanya minchan pengen minchan punya pacar gt mam trs kawin punya kluarga [chin] [chin] smua yg ada didalem rumah tu pd pura2 bae smua ya berarti halmoninya jg donk jgn2 kawin sm haraboji cm karna harta doank au ah ane puyeng [wacko] [wacko]

akhirnya ketemu jg tu si hwan sm ommanya si minchan ekspresinya datar amir ketemu sodara kembarnya [goodgrief]
tentu aja ommanya minchan pingin minchan menikah dan punya keluarga sendiri. terus terang dia berharap org itu sunhye tapi sayang itu ga mungkin terwujud. mungkin--mungkin jika dia tahu suatu rahasia yg tersembunyi di hati minchan, dia tidak pernah akan menikah dengan haraboji sunhye [heh]
si minchan ga tahu kalau dia punya saudara kembar. mengapa bisa begitu [chin] elu lht aja di kedepannya [biggrin] ayo main tebak2an lagi [hmpfh] [hmpfh] apa yang mesti ditebak? ga tahu [laughing] [laughing]
« Last Edit: October 01, 2010, 03:14:51 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter two, 1 Oct
« Reply #202 on: October 01, 2010, 03:27:39 am »
mami, gomawo dah di update.

wah settingnya seru nich mam, berasa gw ada ditengah2 percakapan tentang pembagian warisan. wedew eun hye bete sangat kyknya cuma dapt tunjangan buat sekolahnya tapi kalau hidup disusruh mandiri, tp asoy mam duo kembar dah ketemu, tapi kok si hwan nampak biasa aja si mam pas ketemu ommanya maksudnya ekspresinya kagak sekaget Ny. muda Goo pas ketemu ama si hwan, apa si hwan sebenarnya dah tau kalau ommanya ntu diperistri ama harabojinya Sun Hye.
ommanya kok nampang lebih menyayangi min chan di banding si hwan??????

gw suka mam pas bagian min chan yg awalnya nolak jadi wali sun hye selama sun hye lom mencapai 21 thn untuk ngurusin perusahaan dll, tapi akhirnya min chan nerima juga, jangan2 min chan dah cinta ya mam ama sun hye?????

mam, up datenya jangan lama2 duonks, heheheheh...
Min chan sosoknya serius, gw paling demen ama cowok misterius, xixixixixixiii. Min Chan bogoshipo [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter two, 1 Oct
« Reply #203 on: October 01, 2010, 03:35:43 am »
mami, gomawo dah di update.

wah settingnya seru nich mam, berasa gw ada ditengah2 percakapan tentang pembagian warisan. wedew eun hye bete sangat kyknya cuma dapt tunjangan buat sekolahnya tapi kalau hidup disusruh mandiri, tp asoy mam duo kembar dah ketemu, tapi kok si hwan nampak biasa aja si mam pas ketemu ommanya maksudnya ekspresinya kagak sekaget Ny. muda Goo pas ketemu ama si hwan, apa si hwan sebenarnya dah tau kalau ommanya ntu diperistri ama harabojinya Sun Hye.
ommanya kok nampang lebih menyayangi min chan di banding si hwan??????

gw suka mam pas bagian min chan yg awalnya nolak jadi wali sun hye selama sun hye lom mencapai 21 thn untuk ngurusin perusahaan dll, tapi akhirnya min chan nerima juga, jangan2 min chan dah cinta ya mam ama sun hye?????

mam, up datenya jangan lama2 duonks, heheheheh...
Min chan sosoknya serius, gw paling demen ama cowok misterius, xixixixixixiii. Min Chan bogoshipo [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
sihwan tahu segala2nya. elu lupa ya pemikiran sunhye ttg sihwan?
Quote
Oh well, mungkin bukan pengakuannya, hanya pengakuan paman Joo. Tapi itu tidak berbeda. Sikapnya menunjukkan kalau dia mengetahui segalanya. Dan ini lebih parah dari pengakuan yang keluar dari mulutnya sendiri.
[hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

omma mereka bukannya lebih menyayangi minchan kok. dia ama sihwan tuh udah terpisah sejak sihwan masih bayi jadi wajar aja klu sifatnya ke sihwan dan minchan begitu. maksud gw, berbeda kyk gitu [biggrin]

ttg minchan apakah sudah mencintai sunhye? elu lht aja deh di chp2 mendatang. yg jelas dia mau menerima amanat haraboji karena ingin menolong sunhye. dia tahu kalau sunhye tdk suka memimpim perusahaan harabojinya [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: The Sounds of death-chapter two, 1 Oct
« Reply #204 on: October 01, 2010, 03:53:53 am »
Hai mii [bye]         
wah, bru mampir eh,uda ada update'a. . . Mantap mii [lovestruck]         
         
duh, harta warisan, maen'an nya. . .    Pasti bakal ribet [what]        akir'a min chan ama si hwan ktemu juga, [clap]          loh koQ bisa mii, omma'a min chan gk ketemu si hwan dr baby. . . Mang npa ya mii?? [what] [what]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter two, 1 Oct
« Reply #205 on: October 01, 2010, 03:56:50 am »
oh, begitu toch mam, gomawo!!!

nah kalo si minchan mo nolong sun hye berarti dia pasti adalah perasaan cinta ama sun hye, bener gak mam, mam, bener kan?? ( maksa.com)

tp karakter si hwan disini agak nyebelin , nampak seperti detektif tengil yag tahu segalanya yach walauppun bener, tapi agak penasaran juga nich ama si hwan , eh mam, dia suka juga lagi ama sun hye buktinya dia berani nempelin jarinya dibibir sun hye,  [hmpfh] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter two, 1 Oct
« Reply #206 on: October 01, 2010, 04:00:51 am »
oh, begitu toch mam, gomawo!!!

nah kalo si minchan mo nolong sun hye berarti dia pasti adalah perasaan cinta ama sun hye, bener gak mam, mam, bener kan?? ( maksa.com)

tp karakter si hwan disini agak nyebelin , nampak seperti detektif tengil yag tahu segalanya yach walauppun bener, tapi agak penasaran juga nich ama si hwan , eh mam, dia suka juga lagi ama sun hye buktinya dia berani nempelin jarinya dibibir sun hye,  [hmpfh] [hmpfh]
yee itu kan maksudnya buat sunhye tutup mulut hammer2 hammer2

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter two, 1 Oct
« Reply #207 on: October 01, 2010, 04:41:08 am »
Hai mii [bye]         
wah, bru mampir eh,uda ada update'a. . . Mantap mii [lovestruck]         
         
duh, harta warisan, maen'an nya. . .    Pasti bakal ribet [what]        akir'a min chan ama si hwan ktemu juga, [clap]          loh koQ bisa mii, omma'a min chan gk ketemu si hwan dr baby. . . Mang npa ya mii?? [what] [what]
mengapa bisa begitu ya [chin] [chin] itu gara2 ortu mereka udah berpisah sejak kelahiran sihwan and minchan beberapa bulan kemudian. sihwan ikut bapaknya sedangkan minchan ikut ibunya. kenapa bisa berpisah/cerai? elu ikutin aja kelanjutan ff ini [smiley-dance013] [smiley-dance013]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter two, 1 Oct
« Reply #208 on: October 01, 2010, 06:26:33 am »
mamiiii gumawo dah update [flowers]
wih akhirnya duo kembar ketemuan juga [on]
sihwan tuh beda bgt ya sifatnya ama minchan, kayaknya sihwan lebih friendly gimana gitu [lovestruck]
makin cinta ama sihwan [lovestruck] [lovestruck]
next chap jgn lama2 ya mi [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death-chapter two, 1 Oct
« Reply #209 on: October 01, 2010, 09:28:59 am »
mamiiii gumawo dah update [flowers]
wih akhirnya duo kembar ketemuan juga [on]
sihwan tuh beda bgt ya sifatnya ama minchan, kayaknya sihwan lebih friendly gimana gitu [lovestruck]
makin cinta ama sihwan [lovestruck] [lovestruck]
next chap jgn lama2 ya mi [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
yup ,, sifat mereka memang berbeda 180 derajat ,, dan ini karena pengaruh dari lingkungan tempat mereka dibesarkan [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun