Poll

tolong vote buat polling di bawah ini! kira-kira hubungan sun-hye mau dikemanain? hehe

dipasangkan ama si-hwan
6 (16.7%)
dipasangkan ama min-chan
27 (75%)
tetep ama geun-suk
0 (0%)
ribet. sendirian aja deh
3 (8.3%)

Total Members Voted: 31

Author Topic: The Sounds of death--CHAPTER 10--8/4/12  (Read 19632 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death--spoilerrrr!!!!
« Reply #480 on: May 27, 2011, 09:59:48 pm »
Spoiler ..


“Sun-Hye ssi—“ sapa Si-Hwan riang begitu melihat Sun-Hye memasuki ruangan. Hae mengekori dari belakang dengan agak kesusahan. Langkahnya terantuk berulangkali, .. bukan oleh kecepatan langkah itu sendiri, .. tapi oleh tali sepatu yang terlepas dan belum sempat diikatnya.

“Kau mau apa?!” tanya Sun-Hye langsung dan tajam pada Si-Hwan. Dia tidak ingin basa-basi lagi. Diliriknya koper yang menyandar di meja, .. kemudian beralih kembali pada Si-Hwan, .. menatapnya dengan pandangan menuntut buat jawaban yang barusan diutarakannya.

“Flat-ku direnovasi .. “ Si-Hwan menjawab tak acuh. Kepalanya dimiringkan dengan pandangan mengoda kearah Sun-Hye. “Untuk sementara, kuputuskan tinggal di sini .. ,”

“Mwo?!!” Sun-Hye terbelalak lebar. “Siapa yang mengijinkanmu?!”

“Tentu saja kau—“ Si-Hwan menunjuk Sun-Hye. “Kekasihku—“

“Ke .. kekasih .. ?” Sun-Hye berkata gagap. Sumpah, .. dia sudah melupakan ide gila detektif gadungan ini untuk menjadikannya pacar bohongan HANYA buat merahasiakan penyelidikan tersembunyi mereka terhadap kasus pembunuhan Tuan Besar Goo.

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
"K . O . N . Y . O . L"

[hmpfh] [hmff]

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
UPDATEnya kapan mam kalo isinya iler mulu??? [wacko] [wacko]

Love you more than I can say

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
"K . O . N . Y . O . L"

[hmpfh] [hmff]
apanya yg konyol [what] [what]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline mbah dukun

  • Junior
  • **
  • Posts: 142
  • My Name Is JangKelin
    • View Profile
menurut mata bathinku,si hwan sudah mulai suka nih.  [chin]

siti minsun

  • Guest
haaaaiiiiiiii semua,,,,,,,,,,,,,,,,,salam kenal ya [smiley] [biggrin] [smiley]
mian ru bisa komen krn dari dulu blm tw cr .a...aku udah ngikutin ff ne,,,bagus bgt,,,
ditunggu ya updatetannya ... 

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
haaaaiiiiiiii semua,,,,,,,,,,,,,,,,,salam kenal ya [smiley] [biggrin] [smiley]
mian ru bisa komen krn dari dulu blm tw cr .a...aku udah ngikutin ff ne,,,bagus bgt,,,
ditunggu ya updatetannya ... 
hi jg, klu ga da halangan updatenya tar malam [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

siti minsun

  • Guest
aku tungguin ya,,,,,senang dech udah bisa koment n ngumpul2 ma penggemar ff minsun
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
aduhduh eke makin cinta ama suhwan [lovestruck]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Kapan neh luph updatenya???  [hmpfh. Kalo Si Hwan pindah, bakalan seru neh...Si Min Chan bisa2 mulai khawatir....Kapan neh sinyal2 cinta nya MinChan di relay ke Hyesun. Abis kayanya masih adem ayem neh... [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Additional Cast :
Park Shin Hye as Kim Hyo-Ri




Sehabis makan malam, .. Sun-Hye mendekati Min-Chan yang sedang duduk-duduk santai di sofa. Sepasang tangan pemuda itu bersidekap di depan dada. Sedangkan sepasang matanya terpejam dan agak tertunduk ke lantai. Hal ini membuat Sun-Hye ragu-ragu sejenak. Tapi dia segera memantapkan diri begitu dilihatnya Min-Chan bergerak sedikit dari posisinya. Ini menandakan pemuda itu belum terlelap.

“Paman Chan .. ,” panggil Sun-Hye lambat-lambat.

Mata Min-Chan terbuka perlahan. Dia tidak berpaling kearah Sun-Hye ketika menyahut. “Ya?”

Sun-Hye tidak segera menjawab. Setelah menyinsingkan lengan bajunya, dia ikut menjatuhkan diri di sebelah Min-Chan.

“Paman Chan .. kenal Ha Joon Hyun-ssi .. ?” tanya Sun-Hye kemudian.

Kali ini, Min-Chan memperlihatkan reaksi tertarik. Dengan cepat dia berpaling pada Sun-Hye. “Joon-Hyun?”

Sun-Hye mengangguk. “Ne. Dia titip salam buat paman.”

Alis Min-Chan berkerut perlahan. “Kau tahu dari mana tentang dia?”

“Hn—“ Sun-Hye terlihat ragu-ragu. Haruskah dia memberitahu kaitan orang yang dibicarakan ini dengan kasus yang sedang diselidikinya? Dia mengeleng. Tidak. Masalah ini harus dirahasiakan dulu, .. dan itu akan lebih baik. Bagaimanapun, .. dia tidak tahu mana musuh dan mana orang yang dapat dipercaya. Sekalipun, .. sesungguhnya, dan ini entah mengapa, .. kecurigaannya terdapat Min-Chan sudah hilang tak berbekas.

“Saya mendengar sesuatu yang berhubungan dengan haraboji dan .. kantor pengacara KimJustice.” Sun-Hye melanjutkan. “Dengar-dengar, .. haraboji berniat memindahkan hak kepengacaraannya dari Moon & Mine karna .. suatu urusan. Kalau tidak salah, .. permainan kecil di bawah tangan. Tapi tidak jadi oleh suatu hal. Dan .. haraboji memutuskan untuk melupakannya. Sebenarnya sudah terjadi pembicaraan resmi di antara KimJustice dan haraboji, .. tapi berhubung masalah besar yang terjadi lebih menghebohkan daripada masalah kecil yang didapat dari Moon & Mine, maka .. haraboji memutuskan rencana kerjasama tersebut, secara sepihak .. “

“Joon-Hyun yang menceritakannya padamu?” tukas Min-Chan, memutus penjelasaan Sun-Hye yang belum selesai.

Sun-Hye mengangguk. “Ne.”

“Apalagi yang diceritakannya?” tuntut Min-Chan. Terdengar sedikit kekhawatiran dalam suaranya.

“Memangnya .. apa yang paman harap, akan diceritakan Joon-Hyun ssi padaku?” Bukannya menjawab, Sun-Hye malah melontarkan pertanyaan menyelidik. Matanya agak dipicingkan kearah Min-Chan.

“Tidak ada.” Tukas Min-Chan datar.

“Hn—“ Sun-Hye mengangguk kecil. “Begitu?”

“Jadi?”

“Tidak ada.” Sun-Hye membalas dengan cepat. Dia berdiri dari sofa dan mengibaskan rok pendeknya yang tidak berdebu. “Cuma itu yang disampaikan Joon-Hyun ssi. Dia minta paman mengunjunginya jika ada waktu. Sudah hampir setengah tahun katanya .. “

Sun-Hye berusaha memberikan senyuman termanis yang dia punyai, .. namun dibalas dengan sorot mata tak bernyawa pemuda itu. Iris hitam kelamnya terlihat sangat redup, .. tidak menandakan kehidupan sama sekali. Perlahan, .. sepasang mata itu terpejam.

“Arasso .. ,” katanya, …. pendek dan sengau.

Sun-Hye memanyunkan bibir. Untuk berbicara dengan orang ini, memang susahnya tidak terkira! rutuknya dalam hati. Sesaat, Sun-Hye masih menjelajahi wajah yang agak tertunduk dengan mata terpejam itu. Rupa yang sempurna, walau agak terganggu oleh goresan panjang di sekitar jidatnya.

Alis Sun-Hye berkerut. Bekas luka itu jadi mengingatkannya kembali akan cerita Joon-Hyun. Mungkinkah luka tersebut berhubungan dengan masa lalu Min-Chan?

Ah—buat apa aku ambil pusing!! Sun-Hye mengetok kepala sendiri. Agak tergesa-gesa dia memutar badan, … untuk kemudian, keluar dari ruang tamu tersebut. Meninggalkan Min-Chan yang perlahan membuka matanya. Pandangan redup pemuda itu mengikuti kepergian Sun-Hye sampai menghilang dari balik pintu.

Dia mendesah. Andai saja .. aku mempunyai kekuatan lebih … Miane, Hye-a .. Aku tidak bisa berbuat apa-apa .. Melepasmu, .. jalan terbaik …


*******



Sebuah VW bobrok berhenti di halaman depan Lee’s mansion yang luas dan terawat baik. Pengemudinya beranjak turun, untuk kemudian membuka pintu depan dengan kunci di tangannya. Seorang pelayan paruh baya yang kebetulan sedang membersihkan pegangan tangga di ruang depan segera menyapa hangat dan hormat begitu melihat kedatangan pemuda tersebut.

“Selamat sore, doronim .. “

“Sore,--“ Orang itu, Lee Si-Hwan, menyahut dengan senyum hangat. “Mana appa dan Tante Song, ahjuma?”

“Tuan dan Nyonya besar ada di kamarnya, doronim .. ,” kata si pembokat tersebut. “Apa, perlu kupanggilkan?”

Si-Hwan mengeleng seraya meneruskan langkahnya. “Tidak perlu. Aku akan menemui mereka nanti, waktu jam makan malam. Ahjuma kembalilah ke pekerjaanmu ..”

“Ne.” sahut si ahjuma. “Doronim kelihatannya sedang gembira?” tebak pelayan tersebut. “Pasti ada sesuatu yang terjadi kan? Wajah doronim secerah itu .. “

Si-Hwan tertawa sambil menaiki tangga. “Ahjuma selalu tahu perasaanku .. ,” katanya sambil melambaikan tangan, .. sebelum menghilang di lorong atas.


*******



“Kau—di sini?”

Si-Hwan menghentikan langkahnya di ambang pintu, begitu melihat seorang wanita berada di dalam kamarnya. Sosok tersebut membelakanginya, dengan perhatian yang seutuhnya tertumpah pada laptop di hadapannya. Tanpa perlu melihat wajahnya sekali-pun, Si-Hwan dapat menebak siapa wanita tersebut.

Wanita itu, .. yang ternyata seorang gadis muda umur duapuluhan, .. menoleh dari posisinya. Mata indahnya melebar begitu melihat kehadiran Si-Hwan di situ.

"Oppa?!!"

"Kenapa berada di sini?" Si-Hwan memasuki kamarnya, .. sampai berada di pinggir ranjang. Setelah itu, dia menjatuhkan dirinya, .. duduk dengan kaki disilangkan. "Ada urusan?" tanyanya sembari merogoh sebungkus coklat pekat, dan melempar beberapa butir ke dalam mulutnya.

Gadis muda tersebut mengeleng. "Ahniyo. Saya diundang paman dan bibi buat makan malam di sini." Mata jelinya mengamati Si-Hwan. "Bagaimana dengan oppa?"

"Hanya kunjungan biasa .. ," jawab Si-Hwan sambil mengangkat pundak.

"O--" Gadis itu mengangguk.

"Tapi, .. " Si-Hwan memutar tubuh, .. kemudian menghempaskan punggungnya ke atas ranjang. " .. kenapa kau berada di kamarku, Hyo-Ri a?" tanyanya sambil memejamkan mata.

"Saya meminjam laptop oppa .. " Hyo-Ri terlihat memonyongkan bibirnya. "Tidak boleh? .. Paman tadi mengijinkannya .. "

"Ahniyo!" Si-Hwan menukas cepat. "Bukan begitu maksud oppa." Sepasang matanya kemudian terbuka. Tubuhnya digeser sampai menghadap ke Hyo-Ri. "Hanya saja, .. tidak baik bagi seorang gadis memasuki kamar seorang pria dewasa begitu saja .. "

"Bukan pria biasa!" Hyo-Ri segera memotongnya. "Tapi oppa! Saya tidak masalah dibicarakan, .. asal dengan oppa ... "

"Kau terlalu banyak berpikir, Hyo-Ri a .. " Si-Hwan berujar pelan sambil mengembangkan senyumnya. "Oppa hanya menganggapmu seorang dongseng, sejak dulu .. Dan oppa kira, .. kau juga mengerti .... "

"Ne, saya tahu!" tukas Hyo-Ri cepat. "Oppa tidak perlu menjelaskannya kembali. Anggap saja saya tidak pernah mengatakannya. Tapi, .. saya ingin oppa tahu bahwa, .. saya tidak akan menyerah .. "

Si-Hwan tertawa, .. untuk kemudian, .. kembali memejamkan matanya. Tangannya dikibaskan dengan gaya mengusir. "Oppa tahu. ... Sekarang,--kau keluarlah, .. oppa ingin istirahat sampai jam makan malam nanti .. "

"Oppa ... "

Si-Hwan mengangkat tangannya. "Keluarlah--"

Hyo-Ri memanyunkan bibirnya. Kemudian, diguncangnya pundak Si-Hwan buat sebentar, .. namun pemuda itu sama sekali tidak menghiraukannya. Dengan kesal, Hyo-Ri mendorong pundak Si-Hwan. "Oppa selalu begitu--" dengusnya kesal.


*********



Makan malam sudah dipersiapkan dalam ruang makan. Si-Hwan mengambil tempat di sudut ruangan, .. sedangkan Hyo-Ri, duduk dengan wajah cemberut, terpisah meja panjang. Si-Hwan tertawa sambil mengerak-gerakan tangan di depan gadis itu.

"Hey--masih marah pada oppa?"

Hyo-Ri memalingkan wajahnya. "Tidak!"

"Ho ho--oppa tidak percaya .. "

"Terserah--" Hyo-Ri makin memanjangkan bibirnya.

Si-Hwan melebarkan senyumnya. Saat itu, sepasang pria dan wanita umur kepala lima memasuki ruang makan. Langkah mereka tersendat di ambang pintu begitu melihat Si-Hwan.

"Hwan-a .. ," seru si wanita. "Kapan kau datang? Kenapa tidak beritahu tante dan appamu?"

Si-Hwan mengomentari dengan menganggukan kepalanya. "Tiga jam yang lalu, tante Song. Saya tidak ingin menganggu tante dan appa, makanya kuputuskan tidur sebentar tadi .. "

"O--" Si wanita, yang dipanggil Tante Song oleh Si-Hwan, ... memberikan rangkulan hangat pada anak tirinya. "Kau--sudah jarang pulang ke sini, anak ku .. "

"Saya sangat sibuk, Tante ... " Si-Hwan membalas rangkulan Tante Song. Kemudian mengangguk pendek dan akrab pada appanya, .. yang sedari tadi memperhatikannya dengan senyum tersungging di bibir. "Appa."

"Bagaimana kabar mu?" tanya Tuan Lee.

"Baik .. ," jawab Si-Hwan.

"Kau tidak tahu, Hwan-a .. betapa appamu merindukanmu .. ," goda Tante Song.

Si-Hwan tertawa. "Saya tahu, tante. Dan saya rasa, .. bukan appa saja yang merindukanku, .. tapi tante juga .. "

"Tentu saja .. ," balas Tante Song riang. Perhatiannya kemudian dialihkan begitu melihat gadis yang duduk di samping Si-Hwan mengerutkan wajahnya sejak tadi. "Weeyo, Hyo-Ri a? Kau tidak senang melihat kedatangan oppa mu?"

"Siapa yang tidak senang?" Hyo-Ri mengerucutkan bibirnya. "Bukan saya yang tidak senang dengan kedatangan oppa, bi .. tapi oppa yang tidak suka bertemu Hyo-Ri .. "

"Ahniyo!" Si-Hwan menukas dengan cepat. "Kenapa kau berpikiran begitu?" tanyanya sambil menyengir lebar.

"Nah--lihat senyum oppa!" tukas Hyo-Ri tidak senang. "Oppa selalu senang menyindirku!"

"Hey--ahniyo!"

"Sudah! Sudah!" Sebelum perselisihan semakin sengit, Tuan Lee segera melerai. "Waktunya makan malam, anak-anak .. "


********



Makan malam berlangsung khusuk, ... sampai, hampir seluruh hidangan berhasil dihabiskan dan para pelayan mulai membereskan peralatan makan, ... Tante Song mengeluarkan suaranya.

"Kapan kau kembali ke sini, Hwan a? Kau tahu, tante selalu merindukan mu?"

Si-Hwan menghabiskan minumannya, kemudian meletakan gelas kosong di tangannya ke atas meja.

"Saya tidak ada rencana pulang ke sini, tante .. ," jawabnya sambil tersenyum pada wanita itu. "Lagipula, .. jika saya kembali dan tinggal di sini, .. bukannya akan menganggu kencan appa dan tante he .. he .. "

"Jangan mengoda orangtua, anak bandel .. " Tante Song berlagak mengetok kepala Si-Hwan, .. yang direspon dengan melindungi kepala dengan sepasang tangannya oleh Si-Hwan. "Kau tahu tante tidak pernah khawatir kau ganggu, Hwan-a .. Tante yang membesarkanmu, .. dan tante sangat menyayangimu .. "

"Ne. Saya tahu, tante Song .. ," ujar Si-Hwan terharu. "Karna itu saya sangat berterimakasih ... "

"Tidak perlu, nak .. " Tante Song menghapus airmatanya yang mulai mengalir keluar. "Asal kau sehat, dan bahagia dengan hidupmu, .. tante sudah puas .. "

Si-Hwan tersenyum. Dia berdiri dari kursinya, .. kemudian mendekati wanita itu dan memeluknya dengan erat. "Gumawo, tante ... "

"Tante selalu mengkhawatirkan sepak terjangmu selama ini. Entah apa yang kau lakukan di luar sana .. " Tante Song mengelus pipi Si-Hwan.

"Saya bisa menjaga diri, tante .. ," kata Si-Hwan, .. berusaha menenangkan wanita paruh baya tersebut. "Saya tidak akan mencelakakan diri sendiri .. jadi, jangan khawatir .. "

"Semoga saja .. ," ujar Tante Song. "Kapan kau belajar mengurus perusahaan appamu?"

"Tante .. ," desah Si-Hwan.

"Ne, ne .. arasso .. ," tukas Tante Song. "Kau tidak suka diikat? Benar kan?"

Si-Hwan menyengir lebar. "Ne ... "

"Tante tidak akan mendesak mu. Kurasa, appamu juga, tidak akan memaksamu ... " Lalu wanita itu beralih pada suaminya. "Iya kan, yeobo?"

Tuan Lee mengiyakan dengan menganggukan kepalanya. Sementara itu, ... Hyo-Ri memperhatikan pembicaraan keluarga tersebut dengan sedikit iri.

Ya, .. dari dulu dia selalu iri dengan kehidupan Si-Hwan. Pemuda itu, selalu memperoleh segalanya. Apapun yang dilakukannya, .. selalu didukung oleh kedua orangtuanya. Meskipun Tante Song bukan ibu kandung Si-Hwan, .. namun semua orang tahu, kalau wanita itu begitu mencintai putra tirinya ini.

Berlainan dengan Hyo-Ri yang hidupnya bergelimang harta. Orangtuanya memiliki segalanya, .. harta benda, nama besar dan kedudukan tinggi dalam pemerintahan. Namun semua itu tidak mendatangkan kebahagiaan baginya. Sejak kecil, orangtuanya selalu meninggalkannya buat urusan-urusan bisnis, .. ataupun, dengan segala alasan demi kebahagiaannya, .. padahal, dia tidak menginginkan itu.

Karnanya, .. sejak kecil, Hyo-Ri akrab dengan keluarga Lee, .. yang nota bene sahabat kental sekaligus rekan bisnis ayahnya. Terutama dengan Si-Hwan, yang merupakan anak satu-satunya dalam keluarga itu. Hampir bisa dikatakan, .. dia besar bersama Si-Hwan. Sampai, setelah Si-Hwan meneruskan kuliahnya di luar negeri, .. barulah hubungan mereka menjadi renggang. Bahkan setelah Si-Hwan kembali ke Korea dan memutuskan pindah dari Lee's Mansion, .. mereka makin jarang bertemu.

"Appa .. "

Panggilan Si-Hwan menyadarkan Hyo-Ri dari lamunan.

"Sehabis makan malam ini, .. ada yang ingin saya bicarakan .. ," lanjut Si-Hwan.

"Ada yang serius?" Tuan Lee mengalihkan perhatiannya pada Si-Hwan.

"Ya." Si-Hwan melirik Tante Song, .. lalu kepada Hyo-Ri, .. untuk kemudian kembali pada appanya. "Agak rahasia."

"Baik." Tuan Lee meletakan koran yang tadi sempat diraihnya. "Di ruang kerja appa saja .. " Pria itu bangkit dari posisinya. "Saya masuk dulu, yeobo .. " Dia menyentuh pundak istrinya dengan lembut. "Kalian teruskan saja berbincangnya .. " Lalu dia beralih pada Hyo-Ri. "Hyo-Ri a, kau bermalam di sini kan?"

"Ne, paman .. ," sahut Hyo-Ri.

"Bagus. Temani tante .. "

Kedua wanita tersebut mengangguk. Si-Hwan ikut berdiri dari kursinya, lalu mengikuti appanya keluar dari ruang makan.


*******



"Saya sedang menangani sebuah kasus .. ," mulai Si-Hwan, begitu menjatuhkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Tuan Lee.

"Weeyo?" tanya Tuan Lee dengan pandangan menyelidik. Dokumen-dokumen yang menumpuk tinggi di atas meja digesernya ke samping, .. sampai tidak menghalangi pandangannya ke Si-Hwan. "Biasanya, kau tidak membicarakan pekerjaanmu pada appa .. "

"Ada sesuatu .. " Si-Hwan terlihat, sedang mempertimbangkan kembali keputusan yang akan diambilnya.

"Apa?" Tuan Lee menatap lembut. "Kasus yang rumit? Apa pihak kepolisian tidak memberikan bantuannya?"

"Aniyo!" Si-Hwan mengeleng. "Kali ini tidak berhubungan dengan pihak polisi . ."

"Mwo?" Tuan Lee terlihat tidak mengerti.

"Kasus pribadi .. "

"Kasus pribadi?" Tuan Lee semakin dibuat bingung. "Maksudmu, .. kau menerima kasus pribadi?"

"Ne .. "

"Tapi, ... kenapa?" Tuan Lee terlihat lebih serius kini. "Tidak biasanya kau terlibat kasus pribadi .. "

Si-Hwan mengiyakan dengan menganggukan kepala perlahan. "Memang .. "

"Jadi?"

"Kali ini lain, .. kasus ini berhubungan ... " Si-Hwan menghentikan perkataannya.

"Ya?" Tuan Lee terlihat memberi semangat pada Si-Hwan untuk melanjutkan perkataannya. "Katakan saja pada appa. Kalau appa memang bisa membantu, .. appa akan melakukannya dengan senang hati .. "

"Kasus ini berkaitan dengan .. omma .. ," suara Si-Hwan memelan sampai di akhir kalimat.

"Mwo?" Tuan Lee tersentak dari tempatnya. "Maksudmu, .. omma yang melahirkanmu?"

Si-Hwan mengangguk.

"Kau bertemu dengannya?"

"Ne .. "

"Oh--" Tuan Lee menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi. Lalu tangannya mengusap wajah dengan putus asa. Dia mendesah berat.

"Saya tidak mendatanginya sendiri, appa ... " lanjut Si-Hwan beberapa menit kemudian. "Hanya saja, .. kasus tersebut berhubungan dengannya ... "

"Bagaimana keadaannya sekarang?" Tuan Lee menurunkan sepasang tangannya, .. lalu menyandarkan kepalanya di bantalan kursi kerjanya yang tinggi.

"Baik." Si-Hwan berusaha tersenyum. "Bisa dikatakan, .. dia terlihat sangat baik ... "

"Ya--" Tuan Lee mendesah. "Semoga saja dia bahagia. Appa mendengar pernikahannya dengan Tuan Besar Goo enam bulan yang lalu, .. dan kabarnya, pemilik Goo Global tersebut mati mengenaskan akibat kecerobohan kepala pelayannya .. "

"Ne .. " Si-Hwan menghembuskan nafas lewat mulutnya. "Kira-kira begitu, appa .. Namun, .. cucu dari korban yang bersangkutan tidak percaya akan keputusan tersebut ... Dia yang memintaku menyelidiki tentang kematian harabojinya .. "

"Dan .. kau takut .. semua itu berhubungan dengan omma mu?"

Sekali lagi Si-Hwan menghembuskan nafasnya. "Mungkinkah itu .. ?"

"Entahlah .. " Tuan Lee mengelengkan kepalanya. "Sudah hampir duapuluh tiga tahun appa tidak bertemu dengannya, .. apa yang terjadi padanya, .. apakah dia sudah berubah, .. appa benar-benar tidak tahu. Dan appa, .. tidak ingin memberi masukan yang menyesatkan buat kasus yang sedang kau tangani."

Si-Hwan mengenyitkan alisnya. "Saya sangat bimbang, appa .. "

"Itu terlihat, anak ku ... " Tuan Lee memaklumi. "Kau tidak biasa minta pendapat appa mengenai kasus-kasus yang kau tangani ... jadi, kali ini pasti sangat lain--"

"Ya--" Si-Hwan mengangguk. "Satu hal lagi, appa ... tentang Min-Chan, .. Dia terlihat .. agak-agak aneh ... "

"Min-Chan?!!" Tuan Lee menukas cepat. "Dongsengmu?"

"Ne ... ," jawab Si-Hwan. "Dia berada di Goo's Mansion, .. bersama omma .. "

"Jadi .. " Tuan Lee berdiri dari tempatnya. "Dia ... dia merawat Chan sendiri ... ?"

"Iya .. "

"Oh--" Tuan Lee menghempaskan dirinya kembali ke kursi. "Kenapa jadi begini? ... Appa kira, ... dia akan memberikan atau menjual Chan setelah membawanya pergi .. Karna itu, appa memerintahkan orang-orang kita mencari Chan ke mana-mana, .. tapi ternyata ... oh--" Mata rapuhnya terpejam. "Pantas saja, .. sifat Chan menjadi aneh seperti katamu ... "

"Maksud appa, .. omma yang mempengaruhinya?"

"Mungkin ... " Tuan Lee mengangkat pundaknya. Ingin sekali, ... dia mengatakan 'iya'--mungkin sekali, .. tapi, melihat keseriusan putranya ini, ... dia tidak tega untuk 'lebih' memperburuk kesan-kesan Si-Hwan terhadap ibu yang sejak kelahirannya yang beberapa bulan telah meninggalkannya. "Appa tidak tahu dengan jelas, Hwan-a .. Jika kau ingin menolong dongsengmu, ... temanilah dia lebih banyak .. ," nasehat Tuan Lee kemudian.

"Ya--" Si-Hwan menyetujui. "Mungkin itu jalan satu-satunya ... " Dia menoleh ke arah jendela, .. dan mengamati ribuan bintang yang berkerlap-kerlip di atas langit. "Akan kukembalikan dongseng yang satu ini ... ," Si-Hwan mendesis pelan.

Dirasakannya sebuah sentuhan halus mendarat di pundaknya. Si-Hwan mendongak. "Appa .. "

"Kau harus berhasil, Hwan-a .. Kita sudah banyak berhutang pada Chan ... "

"Ne. Saya tahu ... "


*********   



Pagi-pagi sekali, .. Si-Hwan menampakan diri di Goo's Mansion dengan sebuah koper yang berukuran cukup besar terseret di tangannya. Wajah tersebut berseri, .. apalagi ketika dilihatnya pandangan terbelalak Hae yang kebetulan melintas di ruang depan. Terburu-buru, ... pelayan mungil tersebut berlari menaiki tangga menuju lantai atas, .. sambil menyerukan panggilan buat majikannya, Sun-Hye, .... tanpa menghiraukan lagi sapaan yang terucap dari mulut Si-Hwan.

"Selamat .. pagi, .. Hae- ... ssi ... " sapaannya memelan ... Si-Hwan memiringkan kepala ke samping. "Terburu-buru sekali ... "

"Tuan .. " Sapaan pelayan yang tadi membukakan pintu baginya, .. berhasil menyita perhatiannya.

"Sebelah sini, .. ," lanjut pelayan tersebut sambil menyilahkan Si-Hwan mengikutinya masuk ke ruang tamu yang berada di lantai tersebut, … walau dengan sejuta tanya yang berseliweran dalam otaknya.

Dia tidak mengerti. Meskipun sadar, sebagai pelayan kelas bawah, dia tidak boleh mengutarakan maksud tersebut namun, … dia tidak mampu mencegah, ... kenapa tamu yang berjalan di belakangnya ini begitu mirip majikan satunya, Lee Min-Chan? Apa benar dia Lee Min-Chan? Tapi, sangat tidak mungkin mengingat Min-Chan belum keluar dari kamarnya sejak dinner kemarin malam. Ataukah … , memang ada hubungan apa-apa antara keduanya?

“Gumawo .. “

Ucapan Si-Hwan menyadarkan si pelayan dari lamunannya.

“Eh—“ Pelayan tersebut bertingkah dengan serba salah. “Sosoengheyo, tuan .. “

Si-Hwan tersenyum sambil menganggukan kepalanya. “Arasoyo .. ,” katanya berusaha menenangkan. “Saya bukan Lee Min-Chan, .. dan, kami tidak punya hubungan apa-apa .. “, lanjutnya kemudian, .. seperti menyeruakan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran si pelayan.

“Eh—“ Pelayan tersebut membungkuk hormat. “Bukan begitu maksud saya. Sekali lagi, sosoeghamida, tuan … “

“Tidak apa .. “ Si-Hwan mengibaskan tangannya. Disandarkannya kopernya ke meja teh, .. lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa.

“Tuan tunggulah sebentar .. “ kata pelayan tersebut, .. masih agak gugup. “Hae sedang menghubungi agashi. Sebentar lagi, .. dia akan turun .. “

“Araso .. “ Si-Hwan mengangguk. “Saya akan menunggunya di sini. Kau, kembalilah ke pekerjaanmu. Aku tidak perlu dilayani .. “

“Ne.”

Pelayan tersebut kemudian berlalu dari ruangan tersebut. Si-Hwan mengarahkan pandangannya berkeliling, .. mengamati ruangan tersebut untuk sebentar. Tidak ada yang menarik perhatiannya, … kecuali, sebuah foto besar yang dipugari bingkai perak yang kelihatan sangat mahal di tengah ruangan. Foto seorang gadis umur tujuh belasan dengan rambut dikepang dua yang sedang tersenyum lebar. Foto Goo Sun-Hye. Tanpa sadar, bibir Si-Hwan tertarik ke atas, .. membentuk senyum samar. Tangannya merogoh ke dalam saku mantel, .. kemudian mengeluarkan beberapa butir coklat yang langsung dilemparnya ke dalam mulut.


*****



Hae mengetuk pintu kamar Sun-Hye dengan sangat keras. Tidak diperdulikannya lagi kemungkinan akan dimarahi majikannya tersebut karna membangunkannya terlalu pagi.

“AGASHI!! AGASHI!!!”

Bukk, .. Bukkkk, … Bukkk, ..

“AGASHIII!!!”

Sun-Hye membuka mata dengan malas dan masih mengantuk. Sepasang kelopak matanya berkejap-kejap sebentar, .. diliriknya jam kecil di atas ranjang sebelahnya—masih sangat pagi. Dia menguap, sebelum akhirnya menarik selimut dan mengatupkan mata kembali, .. mencuekan teriakan-teriakan dari luar.

“AGASHIII!!” Namun sepertinya, Hae tidak mau menyerah. Dia masih saja mengetuk pintu terus. Gebukan-gebukannya semakin keras, .. begitu juga teriakannya yang melengking nyaring di hari sepagi itu.

“AGASHIII!!!”

“HUH!!!—“ Sun-Hye menyepak selimutnya, lalu meloncat turun dari ranjang. Dengan kepala yang masih terantuk-antuk karna rasa ngantuk yang menguasainya, .. dia berteriak kearah pintu. “TIDAK DIKUNCI. MASUK!!!”

Brakk, … pintu dibuka dengan hampir didobrak oleh Hae. Tersengal-sengal, ... pelayan muda tersebut mendekati Sun-Hye.

“A .. a .. ga .. shi .. “

“Weeyo?!” Sun-Hye mendelik. “Tahu tidak ini jam berapa?”

“So .. soengheyo .. ,” jawab Hae dengan wajah memerah. Dia hampir kehilangan nafas sehingga tidak mampu berkata lebih lanjut.

“Wee?” tukas Sun-Hye tidak sabar.

“O .. orang itu .. ke .. kemari .. “ Dengan nafas tersengal, Hae menunjuk keluar pintu. “Di .. dia .. membawa .. koper .. “

“Dhuga?” Alis Sun-Hye berkenyit. Pandangannya dilayangkan keluar kamar, .. namun tetap tidak menangkap perkataan Hae. Sebentar kemudian, .. mata bundarnya melebar. Benarkah? Tiba-tiba perasaannya jadi tidak karuan. Rasa takut menyerangnya dengan sangat hebat. “Jang .. Geun .. Suk?”

Hae mengeleng keras-keras. “Ahniyo!! Si-Hwan ssi—“

“MWO?!!” Sun-Hye terperanjat dari posisinya yang agak menyandar di pinggir ranjang. “Dia kemari?!! Sepagi ini? .. Bawa apa tadi katamu? Koper?!!”

Hae mengangguk. “Ne .. “

“Hufh—“ Sun-Hye mengacak-acak rambutnya, putus asa .. , ”Apa yang diinginkan orang itu?!!”

“Tidak tahu, agashi .. ,” Hae menimpali dengan tampang polosnya.

“Huhu—menyusahkan saja!”

Sun-Hye menyambar kimono handuknya, .. memakainya asal-asalan lalu mengikatkan tali di pinggangnya, .. selanjutnya, dia berlari kearah pintu. Hae mengejarnya dengan tergesa-gesa.

“Agashi tidak perlu membersihkan diri dulu?”

“Tidak!!” sahut Sun-Hye keras. Dia menyusuri lorong pemisah ruangan dengan langkah buru-buru. “Aku mau lihat apa yang diinginkan orang itu!” Lalu dia menoleh pada Hae. “Dia ada di mana, Hae-a?”

“Mungkin .. ada di ruang tamu bawah, agashi .. ,” sahut Hae dengan nafas memburu.

Sun-Hye mengangguk. “Kalau begitu, kita turun sekarang juga .. “

“Ne ..”


*****



“Sun-Hye ssi—“ sapa Si-Hwan riang begitu melihat Sun-Hye memasuki ruangan. Hae mengekori dari belakang dengan agak kesusahan. Langkahnya terantuk berulangkali, .. bukan oleh kecepatan langkah itu sendiri, .. tapi oleh tali sepatu yang terlepas dan belum sempat diikatnya.

“Kau mau apa?!” tanya Sun-Hye langsung dan tajam pada Si-Hwan. Dia tidak ingin basa-basi lagi. Diliriknya koper yang menyandar di meja, .. kemudian beralih kembali pada Si-Hwan, .. menatapnya dengan pandangan menuntut buat jawaban yang barusan diutarakannya.

“Flat-ku direnovasi .. “ Si-Hwan menjawab tak acuh. Kepalanya dimiringkan dengan pandangan mengoda kearah Sun-Hye. “Untuk sementara, kuputuskan tinggal di sini .. ,”

“Mwo?!!” Sun-Hye terbelalak lebar. “Siapa yang mengijinkanmu?!”

“Tentu saja kau—“ Si-Hwan menunjuk Sun-Hye. “Kekasihku—“

“Ke .. kekasih .. ?” Sun-Hye berkata gagap. Sumpah, .. dia sudah melupakan ide gila detektif gadungan ini untuk menjadikannya pacar bohongan HANYA buat merahasiakan penyelidikan tersembunyi mereka terhadap kasus pembunuhan Tuan Besar Goo.

“KEKASIH?!!” Namun keterkejutan Sun-Hye tidak sebanding dengan Hae. Pelayan tersebut membelalakan mata lebar-lebar. Seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Agashi .. dan .. ,” kata pelayan mungil tersebut sambil menunjuk Si-Hwan.

“Ne . . “ Si-Hwan tertawa. “Ada yang aneh, Hae-ssi?”

“Agashi … , bukankah .. agashi .. masih .. berhubungan dengan Geun Suk ..

“Jangan menyinggung orang itu!!” tukas Sun-Hye sengit.

“Eh—“ Hae berpaling pada Sun-Hye. “Kenapa, agashi?”

“Pokoknya, saya tidak mau tahu tentang orang itu!!” seru Sun-Hye nyaring. “Kalau dia kemari lagi, .. ataupun ingin bertemu denganku, .. segera usir dia. Dengan cara apapun, .. araso?!!”

Melihat kemurkaan Sun-Hye, Hae menyusut takut-takut. “Ne …e … “

“Huh!!—“ Sun-Hye memalingkan wajahnya kearah lain. “Aku muak dengannya!!!” Semenit berlalu, .. perhatian Sun-Hye kemudian dialihkan kembali pada Si-Hwan. “Apapun alasanmu, .. saya tidak mengijinkanmu tinggal di sini!”

“O ya?—“ Si-Hwan menyengir lebar. “Namun kurasa, … ‘Nyonya Goo’ tidak akan keberatan!” katanya lebih lanjut, .. dengan sengaja menekankan nama ‘Nyonya Goo’ dalam perkataannya.

“Ka .. kau—“ Sun-Hye mengacungkan telunjuknya dengan wajah yang berubah pucat. “Mengancamku .. ?”

Si-Hwan mengangkat pundaknya. “Tidak! .. Ini hanya untuk melancarkan ‘hubungan’ kita. Kurasa, .. kau juga tidak keberatan. Benar kan, Goo Sun Hye-ssi?”

“Huh—“ Sun-Hye mengibaskan tangannya dengan teramat kesal.

Pandangan Si-Hwan sudah mengisyaratkan semuanya. Dia melakukan itu untuk mempermudah penyelidikan mereka. Dengan tinggal di Goo’s Mansion, dia akan bergerak lebih leluasa. Mungkin juga untuk melindunginya. Selain itu, .. alasan yang diutarakannya juga masuk akal. Statusnya sebagai detektif tidak boleh diketahui orang, .. dan satu-satunya jalan, agar terlihat wajar tinggal di Goo’s Mansion adalah .. berpura-pura jadi pacarnya. Namun entah mengapa, … Sun-Hye tetap saja tidak menyukai ide yang seharusnya tidak merugikannya ini.

“Terserah kau saja—“ Sun-Hye berbalik dan melangkah lebar-lebar ke pintu. Melihat itu, .. Hae mengikutinya dengan terburu-buru.

“Hey—mau ke mana?” teriak Si-Hwan.

“Membersihkan diri!” sahut Sun-Hye lantang, .. tanpa menoleh sedikitpun. Sesaat kemudian, .. buk, pintu ruang tamu tersebut ditutup.

Si-Hwan mengamati gerak-geriknya dengan senyum lebar tersungging di bibir. Dua butir coklat terakhir dilemparnya ke dalam mulut dan kunyahnya dengan pelan.

“Kasus ini semakin menarik saja .. “


*****



Sarapan dimulai setengah jam kemudian. Nyonya Goo agak terkejut sewaktu mendapatkan kehadiran Si-Hwan di ruang makan. Sun-Hye yang duduk di sebelah pemuda itu hanya bisa memalingkan wajah dengan malas. Sedangkan Eun-Hye, yang berada di seberang meja melirik beberapa kali ke Si-Hwan. Dia agak heran dengan basa-basi berkepanjangan dari pemuda itu, .. yang diyakini, sangat beda dari Min-Chan yang dikenalnya. Tapi kelihatannya, rasa ingin tahu Eun-Hye hilang pagi itu. Setelah melirik untuk ketiga kalinya, .. perhatiannya kembali dicurahkan seluruhnya pada piring di depannya.

Si-Hwan membungkuk pendek pada Nyonya Goo kemudian memberikan penjelasan seadanya kenapa dia bisa sampai berada di situ. Nyonya Goo mengangguk dan terlihat berseri-seri.

“Begitulah, Nyonya Goo … “ Si-Hwan menyelesaikan ceritanya.

“Nyonya Goo?” Sun-Hye berpaling dengan cepat. Alisnya dikerutkan sangat dalam.

Pandangan yang diberikannya pada Si-Hwan membuat pemuda itu menukas cepat. “Tentu saja. Memang kau berharap saya memanggil Nyonya Goo dengan apa?”

“O—“ Sun-Hye membalas dengan malas. Ya, dengan apa? Bukankah mereka ingin hubungan di antara mereka tertutup dari anggota keluarga lainnya? Terutama dari Eun-Hye yang selama ini dicurigainya?

Sun-Hye merasakan sesuatu mendarat di lengannya. "Halmonie mengerti kok, Sun Hye-a .. "

Wanita paruh baya di sebelah kanannya tersenyum menenangkan. Sun-Hye balas dengan terpaksa.

"Ne, halmonie ... "

"O ya, .. Mana Chan?"

Seperti baru disadarkan akan ketidakhadiran putra satunya lagi dalam ruang makan tersebut, Nyonya Goo mengedarkan pandangannya ke setiap inci ruangan. Termasuk pintu masuk yang tidak tertutup. "Mana doronim?" tanyanya pada pelayan yang berdiri di sampingnya.

"Tidak tahu, Nyonya .. " jawab pelayan tersebut takut-takut.

Nyonya Goo meletakan serbet di tangannya, kemudian mengerak-gerakan tangan pada pelayan yang berjaga di dekat pintu.

"Panggil doronim, .. dan minta dia segera turun buat sarapan!"

"Ne!" Pelayan itu menyahut hormat. Baru saja dia berniat keluar ruangan--seorang pelayan lain masuk dengan terburu-buru.

"Nyonya,--Chan doronim minta ijin keluar pagi ini. Katanya, ... tidak ikut sarapan, .. jadi  tuan dan nyonya dipersilahkan makan sendiri .. "

"O--" Nyonya Goo mengangguk-anggukan kepalanya. "Tahu dia kemana?"

"Ahniyo, Nyonya ... "

"Hn--sudah kalau begitu. Kau keluarlah--" Nyonya Goo mengibaskan tangannya.

Pelayan tersebut membungkuk dalam-dalam, kemudian berlalu dari hadapan mereka.

Nyonya Goo mengembalikan perhatiannya pada orang-orang dalam ruangan. "Kita sarapan saja sekarang .. "


*****



Joon-Hyun sedang menyeruput skim latte-nya ketika sebuah tonjokan ringan mendarat di lengan sebelah kirinya. Dia agak tersentak, .. sehingga sebagian dari kopi dalam cangkirnya muncrat ke lantai.

“Yaish—“ Joon-Hyun berbalik.

Baru saja dia siap menyerang dengan umpatan, .. namun, .. seseorang yang sangat dikenal dan yang sudah berdiri di hadapannya membuatnya tertegun. Dia bermaksud menyerukan sebuah nama ketika tanda peringatan di kepalanya berbunyi.

“Tunggu sebentar!!”

Joon-Hyun berdiri dari kursi, .. untuk kemudian mengangkat tangan dan mengibaskan poni tamu tak diundang tersebut.

“Benar kau—Lee Min Chan!!” seru Joon-Hyun surprise.

Min-Chan mengangguk pendek. “Ne. Bagaimana kabarmu, Hyun-a?”

“Baik! Baik!” Joon-Hyun menyahut antusias. Ditepuknya pundak Min-Chan berulangkali. “Bagaimana dengan kau sendiri, buddy?”

“Saya baik juga .. ,” balas Min-Chan datar.

Reaksinya yang tidak bisa dibilang bersahabat itu tidak mengejutkan Joon-Hyun. Sahabat yang sudah mengenal Min-Chan sejak kecil tersebut, seperti tahu—beginilah watak dan sifat sobat karibnya yang satu ini.

“Coba tebak, saya bertemu siapa kemarin?” ujar Joon-Hyun beberapa menit kemudian. Telunjuknya mengarah ke atas.

Min-Chan menaikan alisnya, namun tak berucap apa-apa.

“Goo Sun Hye-ssi!” tukas Joon-Hyun dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan. “Aneh, bukan? …. Dia datang dengan seorang pemuda yang semula kukira kau. Pemuda tersebut sangat mirip denganmu. Katanya, .. dia saudara kembarmu .. “

“Ne. Saya tahu,” Min-Chan menyahut pendek.

“Kau sudah tahu?” tanya Joon-Hyun heran.

Min-Chan mengangguk. “Ne. Hye sendiri yang menyampaikan pesan darimu .. “

“O—“ Joon-Hyun akhirnya mengerti. "Kukira kau mengunjungiku atas keinginan sendiri, tapi ternyata ... "

"I am--" potong Min-Chan segera. "Cepat atau lambat, aku akan mendatangimu, .. karna kau satu-satunya sahabatku ... "

"Kukira kau sudah melupakan itu--" goda Joon-Hyun. Tapi segera diputusnya begitu mendapat lirikan kaku dari Min-Chan. "Ne, arasoyo .. " Joon-Hyun tertawa sambil berusaha menenangkan Min-Chan yang agak tidak tenang. "Aku tidak bermaksud mengodamu, hanya saja .. kebersamaan saudara kembarmu dengan Sun-Hye ssi itu yang membuatku heran. .. Mereka cukup akrab?"

Min-Chan mengangkat pundaknya. "Mungkin .. " Jawabannya terdengar sangat pelan dan lemah.

Joon-Hyun mengamatinya sesaat, .. sebelum memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut mengenai Sun-Hye.

"Duduklah dulu .. ," tawarnya pada Min-Chan.

Min-Chan mengangguk, .. untuk kemudian menjatuhkan dirinya di kursi sebelah Joon-Hyun.

"Kembali ke masalah yang tidak kumengerti--" Joon-Hyun melanjutkan.

Min-Chan berpaling padanya namun, .. Joon-Hyun tidak segera menyelesaikan perkataannya tersebut. Dia malah menjatuhkan pandangan ke cangkir kopinya yang hampir habis. "Apa kau haus? Perlu minum sesuatu?"

Min-Chan ikut melirik cangkir di depan Joon-Hyun. Dia mengeleng perlahan. "Tidak usah .. "

"Eh--come on," Joon-Hyun menepuk lengan Min-Chan. "Kau pasti belum sarapan. Hari masih pagi begini--hm, bagaimana kalau sepotong sandwich dan ... ," samar-samar, seulas senyum tipis tersurat di bibir Joon-Hyun. " .. secangkir coklat panas?" tawarnya tiba-tiba.

Alis Min-Chan bertaut perlahan. "Kau bercanda?" tanyanya dengan nada tawar.

Joon-Hyun tertawa, memperlihatkan barisan giginya yang putih bersih. "Ne, aku tahu. Kau tidak suka coklat, .. karna kandungan zat-zat yang terdapat dalam coklat membuat kadar darah di tubuhmu tidak seimbang, .. Aku masih ingat itu. Ha .. ha .. ok, anggap saja aku benar-benar bercanda. Kalau begitu, .. bagaimana kalau secangkir cappuccino, atau .. espresso?"

"Espresoo!" sahut Min-Chan pendek.

Joon-Hyun mengangguk. "Baiklah .. " Lalu dia mengangkat tangan, .. memanggil pelayan terdekat untuk memasukan pesanan mereka. Satu paket sandwich dan secangkir espresso buat Min-Chan, dan secangkir latte--lagi--untuk dirinya sendiri.

"Kutahu, .. omma mu beneran menikahi si tua Goo--" Mulai Joon-Hyun setelah pelayan yang memasukan pesanan meninggalkan mereka.

Min-Chan tidak merespon. Punggungnya disandarkan ke sandaran kursi, .. dan ditatapnya Joon-Hyun tidak berkedip.

"Yang tidak kumengerti, .. kenapa? Apa dia tidak tahu perasaanmu? Kau tidak menceritakannya?"

" .. " Min-Chan masih membisu di tempatnya. Dia bergerak sedikit, .. melipat tangan di depan dada.

"Ini benar-benar gila, Chan-a!" Joon-Hyun menjadi tidak sabar. Tubuh jangkungnya ditegakan, .. dan tangannya mendarat di daun meja. "Kau jatuh cinta pada cucu si kakek tua itu, sedangkan ommamu .. menikahi harabojinya?!!"

" ... " Min-Chan menundukan kepala perlahan. Terdengar desahan halus terhembus dari hidung dan bibirnya.

"Kenapa bisa begitu?" desak Joon-Hyun.

"Aku tidak bisa berbuat apa-apa ... " Akhirnya, Min-Chan mengeluarkan suaranya, .. dengan sangat pelan.

"Kau belum mengutarakan perasaanmu kan? .. Dari apa yang kulihat dari pertemuanku dengan Sun-Hye ssi, dia tidak tahu apa-apa. Dia sepertinya, tidak mengenalmu sebelum kau menapakan kaki di Goo's Mansion sebagai putra dari wanita yang menikahi harabojinya .. "

"Ya--" Min-Chan membenarkan dengan pandangan nanar tertuju ke depan.

"Jadi, .. benar begitu?" Joon-Hyun mengelengkan kepala sambil menghela nafas. "Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, Chan-a .. Kau sangat mencintai gadis itu, aku tahu pasti. Waktu pertama kau melihatnya, .. aku melihat sorot mata yang lain. Biasanya kau tidak perduli, .. tapi waktu itu, pandanganmu tak berkedip tertuju padanya. Ada kehidupan baru di sana. Dan ketika ... kau mengatakan padaku bahwa kau sudah bertekad berkenalan dengannya, .. kukira ada harapan. Tapi mengapa, .. mengapa malah jadi begini? .. Tiba-tiba saja kau datang keesokan harinya dalam keadaan yang sungguh--sangat mengibakan ... waktu kau mengatakan semuanya tidak mungkin. Omma mu akan menikah dengan haraboji gadis itu, ... tapi kenapa? Kau punya pilihan lain kan? ... Bisa saja kau mengutarakan maksudmu pada Nyonya Goo, ... mengatakan padanya bahwa kau mencintai cucu dari pria yang akan dinikahinya?"

Min-Chan menengadah sambil memejamkan matanya. "Omma mencintai pria itu ... ," ujarnya pelan.

"Lalu ... kenapa? Memangnya dia tidak bisa melepas perasaan itu buat membahagiakan putra kandungnya?" Joon-Hyun bersikeras. "Aku tidak percaya omma mu wanita seperti itu--"

Min-Chan membuka mata, .. kemudian menumpukan sepasang lengannya di lutut. Telapak tangannya saling meremas dengan jemari yang menekan-nekan bibirnya. "Kau tidak akan mengerti--" desisnya halus.

"Tidak mengerti bagaimana?" tukas Joon-Hyun cepat. "Kukira, kau yang tidak mengerti, Lee Min Chan! .. Kenapa hubungan antara ibu dan anak yang kalian jalani .. serumit ini? .. Kurasa, .. hal terpenting yang hilang dalam hubungan kalian adalah komunikasi. Kalian menganggap sudah memahami tanpa perlu dirundingkan, padahal tidak .. "

Tap, .. Min-Chan berdiri dari kursi bersamaan dengan sampainya pesanan yang diantar pelayan.

"Saya tahu apa yang omma inginkan!" sahut Min-Chan tegas.

Pelayan yang berada di sampingnya tampak ketakutan. Dengan segera, ... pesanan yang ada di nampan dalam tangannya ditaruhnya di atas meja, .. lalu tergesa-gesa, dia meninggalkan kedua pelangan tersebut.

"Mungkin--" Joon-Hyun ikut bangun dari kursinya, .. sambil menghadapi Min-Chan yang sekarang memunggunginya. "Mungkin kau tahu apa yang diinginkannya, .. tapi, bagaimana dengan dia? Apa dia memahamimu?"

Tangan Min-Chan terkepal perlahan. Sambil mengigit bibirnya kuat-kuat, .. dia mulai mengerakan kaki ke depan. "Saya tidak jadi sarapan denganmu. Untuk saat ini, perasaanku sedang tidak bagus. Mungkin kapan-kapan, .. saya akan mendatangimu lagi .. "

"Apa kau lupa dengan, ... apa yang dilakukan omma mu setelah pengeroyokan sadis semasa kelas satu sekolah menengah pertama dulu??!!!"

Teriakan Joon-Hyun menghentikan langkah Min-Chan. Kepalan tangan pemuda jangkung tersebut, .. yang terkepal erat jadi semakin erat. Iris yang sangat gelap tertuju ke depan, ... tidak berkedip, .. seolah siap membunuh siapa saja yang berada di depannya.

"Penganiayaan tragis yang merubahmu seperti sekarang ini?" Joon-Hyun beringsut pelan, .. bermaksud mendekati Min-Chan yang masih berdiri kaku di tempatnya. "Peristiwa yang membuatmu membentengi diri dengan keras, supaya tidak teraniaya lagi ... "

Joon-Hyun semakin mendekat. Namun, sebelum tangannya berhasil meraih lengan Min-Chan, .. sahabatnya itu sudah meneruskan langkahnya kembali.

"CHAN-A!!"

"Bukan hanya Hye yang .. sangat berarti bagiku ... ," ujar Min-Chan sambil meneruskan langkahnya. Suaranya sangat pelan, .. sehingga hanya samar-samar saja memasuki pendengaran Joon-Hyun. "Selain dia, ... masih ada omma yang harus kuperhatikan .. Aku tidak boleh meninggalkannya begitu saja ... "

"Chan-a ... " Joon-Hyun mendesah sambil menghela nafasnya. Dilihatnya bayangan Min-Chan makin mengecil dan akhirnya menghilang dari pandangannya. Joon-Hyun mengelengkan kepala perlahan. "Hidup dengan omma seperti itu ... Kau sudah melakukan yang terbaik, Chan-a .. Sudah terlalu banyak yang kau lakukan, .. dan sudah saatnya buatmu untuk bahagia ... "


******

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
 [chin] [chin] aku jadi makin curiga ma NYonya Goo... sepertinya kejiwaan Nyonya Goo juga labil...


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
[chin] [chin] aku jadi makin curiga ma NYonya Goo... sepertinya kejiwaan Nyonya Goo juga labil...
bukan ga labil sih, .. hanya saja, dia punya masa lalu yg ga begitu baik, makanya diceraikan suaminya [heh] [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
[chin] [chin] aku jadi makin curiga ma NYonya Goo... sepertinya kejiwaan Nyonya Goo juga labil...
bukan ga labil sih, .. hanya saja, dia punya masa lalu yg ga begitu baik, makanya diceraikan suaminya [heh] [heh]

 [sweat] oh... ku kira agak2 psikopat gitu, si nyonya Goo


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
[chin] [chin] aku jadi makin curiga ma NYonya Goo... sepertinya kejiwaan Nyonya Goo juga labil...
bukan ga labil sih, .. hanya saja, dia punya masa lalu yg ga begitu baik, makanya diceraikan suaminya [heh] [heh]

 [sweat] oh... ku kira agak2 psikopat gitu, si nyonya Goo
dia masih waras, say [hmpfh] [hmpfh] hanya kurang pengertian aja ke putranya [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun