Poll

tolong vote buat polling di bawah ini! kira-kira hubungan sun-hye mau dikemanain? hehe

dipasangkan ama si-hwan
6 (16.7%)
dipasangkan ama min-chan
27 (75%)
tetep ama geun-suk
0 (0%)
ribet. sendirian aja deh
3 (8.3%)

Total Members Voted: 31

Author Topic: The Sounds of death--CHAPTER 10--8/4/12  (Read 19544 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
geunsuk asal nebak malaikat lewat jadi jodoh deh minsunx.napa blm update mam?lg galau nih,update dong..eh..avatarx mami,minho ya?kumisnya  palsu or asli tuh,tambh macho skarang.cocok jd gavin
kumisnya kyknya palsu deh,,, ternyata minho cocok jg berkumis ya? macho banget [lovestruck] semula kirain si minho cuma cocok klimis mis mis [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
yap jadi beda,kalo diliat skilas kyk bukan dia..cocok cocok,tp mdh2n palsu tu kumis.
[/size][/color][/b]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
hmmm mami doyan gelombang juga  [hmff]  kapan nih updatenya  [what]  satu jam lagi kan  [clap]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
hmmm mami doyan gelombang juga  [hmff]  kapan nih updatenya  [what]  satu jam lagi kan  [clap]
enak aja hammer2 hammer2
sebnrnya malam ini pingin lanjut nulis tp tah knp ga konsen,, lg lg pikiran gw sumpek [sweat] [sweat] pdhl kemarin malam rada lumayan hingga bisa nulis agak panjangan. tp malam ini, boro2 deh,, satu part aja ga sesai sesai [sweat] [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
ini si dede sama baelah kaya mami demen pake gelombang2 mulu...ntar reader disuru nyambungin tuh sop iler atu2 biar jadi chap hammer2 hammer2

Love you more than I can say

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
sama mam gw jg lagi sumpek nih,makany dengern lagu terus(gak ada yg nanya)..yaudh spoiler lg aj,g papa kok ngasi spoiler tiap hari.
[/size][/color][/b]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Sun-Hye menjatuhkan tubuhnya di atas kursi ruang makan pagi itu. Tampangnya cemberut, .. terutama ketika bertemu pandang dengan Si-Hwan yang duduk di seberang meja. Gadis itu mendengus kemudian mengalihkan pandangan ke piringnya begitu detektif muda tersebut menyengir padanya. Alis Si-Hwan berkerut ketika mendapat reaksi tidak wajar dari Sun-Hye.

Sementara .. pemilik sepasang iris gelap mengamati interaksi di antara mereka lewat ujung meja. Min-Chan .. menyendok makanannya lambat-lambat kemudian menundukan kepalanya. Dia tidak bersuara, .. menatap nanar sarapan yang terdiri dari ham dan sosis hangat. Pelan-pelan .. dimasukannya sosis yang sudah dipotong kecil-kecil dan digarpu itu ke dalam mulut, .. mengunyahnya dengan sangat pelan dan kaku.

“Bagaimana perasaanmu hari ini, Chan-a?” terdengar pertanyaan Nyonya Goo, .. mengusik kesenyapan yang tercipta dalam ruang makan tersebut. "Baik?"

Min-Chan terlihat sedikit tersentak, .. dengan gerakan lambat dia mengangkat wajah dan menatap ommanya.

Nyonya Goo tersenyum ketika mendapat pertanyaan tersirat dari mata Min-Chan.

“Maksud omma kau mulai bekerja di Goo Global hari ini, .. Apa kau sudah siap?”

Min-Chan tersenyum samar. Sangat lambat dia mengangguk, .. setelah itu kembali menghadapi sarapannya yang masih tersisa setengah.

“Kau tidak membutuhkan bantuan, kan?” tanya Nyonya Goo lebih lanjut. Badannya ditegakan, .. dan dia terlihat ragu-ragu ketika melanjutkan perkataan selanjutnya, “.. atau, kalau kau perlukan .. Omma bisa meminta ajudan Oh buat membantumu .. “

“Anhi, omma!” tukas Min-Chan tegas.

Pernyataan tersebut agak mengejutkan orang-orang yang mengelilingi meja makan; Eun-Hye melirik lewat ekor matanya, mengangkat alis sebentar untuk kemudian menunjukan sikap tidak perduli dengan melanjutkan sarapannya yang sempat terhenti, .. sedangkan Sun-Hye dan Si-Hwan (tanpa sadar) saling melempar pandang dengan alis berkerut; .. semua dikarenakan sejak memasuki ruang makan ini, untuk pertama kalinya Min-Chan mengeluarkan suara. Dan bantahan tersebut terdengar keras. “Saya bisa mengatasi semuanya sendiri .. “ Min-Chan meraup gelas berisi orange juice di depannya kemudian meminumnya sampai habis. Gelas yang sudah kosong diletakannya dengan pelan di atas meja, lalu dia berdiri dari kursinya. “Saya sudah kenyang ..,” katanya dengan nada datar sambil membungkuk pendek pada orang-orang yang mengelilingi meja.

“Makananmu belum habis .. ,” tukas Nyonya Goo sambil melirik piring Min-Chan yang masih tersisa cukup banyak.

“Saya sudah kenyang, omma .. “ Min-Chan mengulangi perkataannya dengan tenang dan tidak mungkin dibantah. Setelah mendorong kursinya pelan-pelan ke belakang, dia beranjak dari ruangan itu. Sekilas, Sun-Hye seperti merasakan aura yang aneh menerpa punggungnya. Sun-Hye segera menoleh, .. namun sepertinya apa yang dirasakannya tidak beralasan. Min-Chan sudah menghilang dari ruangan itu.

Sun-Hye mengembalikan pandangannya ke depan dan, .. tatapannya bertemu langsung dengan sorot menyelidik dari Si-Hwan. Detektif yang menurutnya gadungan dan tidak bisa dipercaya itu mengamatinya dengan penuh tanya. Sun-Hye mendengus, dan segera membuang muka kearah lain. Sarapan yang tersisa dimakannya dengan malas-malasan. Nafsu makannya memang sudah menghilang sejak melihat Si-Hwan tadi.

Menyadari bahwa Sun-Hye tidak ingin mengubrisnya saat ini, atau gadis itu sedang marah padanya, tapi tidak diketahui apa kesalahannya, ..Si-Hwan mengalihkan perhatian pada Eun-Hye yang duduk di sebelah Sun-Hye—yang otomatis dia sedikit menyamping dari posisinya.

“Saya dengar nona calon dokter?”

Eun-Hye mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan Si-Hwan, .. sementara Sun-Hye melirik dengan alis berkerut. Dia mengumpat dalam hati, Sudah tahu masih nanya! Apa sih maunya orang ini?!! Huh—

Eun-Hye membalas tatapan Si-Hwan dingin, .. namun pemuda itu seperti tidak terpengaruh, atau tidak menyadari pandangan menusuk dari Eun-Hye. Sambil menyunggingkan senyum yang dibuat seramah mungkin, Si-Hwan melanjutkan basa-basinya.

“Pasti pusing ya setiap hari berkelut dengan obat-obatan yang berbeda-beda?”

Eun-Hye mendorong piringnya yang telah kosong ke tengah meja, kemudian mengelap bibir dengan serbet yang disediakan para pelayan untuknya dengan tenang. “Apa maksud pertanyaan tuan?” tanyanya sambil menatap Si-Hwan lekat-lekat. “Apa yang ingin tuan ketahui?”

Si-Hwan mengangkat pundak seakan tak acuh. “Tidak ada .. Hanya sekedar bertanya kok—“ Lewat ekor mata, dia mengamati Eun-Hye dengan seksama. Seolah berusaha menangkap sedikit saja reaksi tidak wajar dari gadis itu. Apa yang dilakukannya sangat samar dan tidak menyolok mata, .. hingga orang-orang yang mengelilingi meja sama sekali tidak menyadarinya, .. termasuk Eun-Hye sendiri.

“Memang, .. saya calon dokter .. ,” sahut Eun-Hye kemudian.

“O—“ Si-Hwan mengangguk-anggukan kepala sambil mengelus-ngelus bibirnya.

Sun-Hye melirik mereka sekilas, .. setelah mencibir kesal, dia berbalik kembali ke sarapannya.

Si-Hwan menurunkan tangan yang menyentuh dagu, dan meletakannya di pinggir meja. Secara mendadak dia mencondongkan tubuh kearah Eun-Hye. “Selain obat-obatan, anda pasti akan berhubungan dengan racun, kan?”

Eun-Hye tersentak, .. serbet yang digenggamnya diremas tanpa sadar, ... setelah itu dilemparnya gumpalan serbet tersebut secara sembarangan ke sudut meja kemudian mempelototi Si-Hwan dengan amarah meluap. “Tuan ingin memastikan apa?!” teriaknya. “Bahwa saya telah meracuni haraboji?!! Begitu?!” Dia meloncat dari kursi dengan tangan terkepal erat. “Untuk tuan ketahui—saya sama sekali tidak ada niat untuk tinggal di sini!!”

“Hey—jangan emosi dulu!” Si-Hwan mengangkat tangan berupaya menenangkan. Dia tersenyum dengan sabar. “Saya tidak berniat atau bermaksud apa-apa. Saya hanya bertanya--Hanya sekedar bertanya, nona .. Saya tidak bermaksud mencari kebenaran apa-apa .. " Si-Hwan berhenti sebentar, .. dia kelihatan berpikir, " .. lagipula, .. kematian Tuan besar Goo tidak ada hubungannya dengan saya .. “

Eun-Hye menghembuskan nafasnya kuat-kuat. “Lain kali, harap diperhatikan perkataan tuan!”

Si-Hwan mengangkat tangan kembali. “Ok .. “ Senyum hangat lagi-lagi terukir di wajahnya yang tampan dan hangat. “Saya sungguh-sungguh tidak bermaksud apa-apa. ..  Saya hanya ingin tahu, apakah seorang dokter juga akan berhubungan dengan racun. Hanya itu—“

Eun-Hye yang sudah berniat beranjak dari posisinya, berbalik kembali. Dihujamnya mata Si-Hwan dengan pandangan menusuk. “Racun .. bisa dimaksudkan dalam arti luas. Obat yang paling manjur sekalipun dapat menjadi racun yang mematikan! Jadi, .. racun apa yang ingin tuan ketahui?”

Si-Hwan mengerakan bola matanya, .. kemudian dia mengangkat pundak. “Tidak ada .. “

Eun-Hye mendengus. Setelah mengibaskan jubah dokternya dengan kesal, dia melangkah lebar-lebar meninggalkan ruangan tersebut. Beberapa pasang mata mengikuti kepergiannya dengan terheran-heran. Termasuk dua orang pelayan yang berdiri menyampir di dinding dekat lemari pajang. Mereka saling berpandangan, .. sepertinya, .. emosi Eun-Hye memang rada tidak stabil pagi ini.


******



Sun-Hye menuruni anak tangga dengan kaki dihentak-hentakan. Dia sangat kesal, ... teramat kesal pada pemuda bermimik cerah dan bertingkah-laku aneh yang dikenalnya lewat perantara paman So-Eun itu. Mengingat apa yang telah dilakukannya kemarin malam, benar-benar membuatnya jengkel setengah mati. Ingin rasanya dia mencekik mati pemuda sok ganteng dan sok tahu itu.

Anak tangga paling bawah menjadi luapan kekesalan Sun-Hye. Hak sepatunya yang tinggi mendarat dengan keras di papan kayu.

"Aish!!"

"Ada apa?" Sebuah tangan tiba-tiba mendarat di pundak Sun-Hye.

Sun-Hye tersentak, .. kaget--sontak saja dia berpaling dengan cepat. Si-Hwan tampak menatapnya heran dari dua anak tangga di atas. Tangan kiri pemuda itu merogoh ke dalam saku celana dan melempar sebutir coklat pekat ke dalam mulutnya.

"Weeyo?" lanjut Si-Hwan sambil menaikan sebelah alis dan mengunyah coklatnya.

"Hah?!" Sun-Hye membelalakan mata lebar-lebar.

Si-Hwan berdecak, .. setelah mensejajarkan posisi dengan Sun-Hye, dia mencondongkan wajah kearah gadis itu dan mengamatinya dengan seksama. "Kenapa emosian terus sejak tadi pagi?"

"Huh!" Sun-Hye mendengus, .. setelah mendelik sengit, dia berbalik dan melangkah cepat menjauhi Si-Hwan.

"Hey?!" teriak suara dari belakang. "Ada apa denganmu?"

"Tanyakan aja pada dirimu sendiri!" sahut Sun-Hye tanpa berbalik.

"Memangnya apa yang kulakukan?" Si-Hwan segera mengejar Sun-Hye. Dan tidak membutuhkan waktu banyak sampai di sisinya mengingat sepasang kaki Si-Hwan yang panjang dan atletis. Tidak sampai tujuh detik dia sudah menyeimbangi langkah Sun-Hye. "Bisa kau jelaskan padaku?"

Sun-Hye tidak melirik, .. ataupun menyahutnya. Dia diam seribu bahasa.

"Hoy--" Si-Hwan menarik tangan Sun-Hye. "Tidak adil jika aku dihukum buat sesuatu yang tidak kuketahui?"

"Hoho--bukankah kau detektif?!" sindir Sun-Hye pedas. Ditepisnya tangan Si-Hwan dengan agak kasar.

Si-Hwan berdecak tak sabar. "Detektif tidak harus mengetahui segalanya, kan?"

Sun-Hye tidak menjawab. Langkahnya makin dipercepat hingga sampai di pintu keluar yang menuju ke taman.

"Aku bukan dewa, tahu?!" seru Si-Hwan sengit. Bergegas-gegas dia mengejar Sun-Hye.

"Terserah kau mau bilang apa?!" Sun-Hye membuka pintu di depannya dan membentangkannya lebar-lebar. "Dan .. jangan mengikutiku!" tukas Sun-Hye dengan mata mendelik lebar.

"Aku akan mengikutimu terus jika kau tidak memberitahu kesalahanku!" Si-Hwan melangkahkan kakinya keluar dari rumah bersamaan dengan Sun-Hye. Dan sekarang dia sudah berdiri di depan menghalangi langkah gadis itu.

Sun-Hye melotot tidak senang. "Kau sungguh-sungguh menyebalkan!"

Si-Hwan menyengir lebar. "Jadi bisa katakan sekarang?!"

Sun-Hye mengigit bibir. Setelah bersitatap agak lama, .. berperang urat yang membuat leher dan kepala terasa sakit dan berdenyut-denyut, .. dia membuang muka dengan kesal. "Kau mengeledah kamarku?" tuduhnya langsung.

"Mwo?!!" Seperti mendengar petir di siang bolong begitu pengakuan ketus Sun-Hye menyambar telinga Si-Hwan. "Aku mengeledah kamarmu?" Si-Hwan menarik Sun-Hye hingga menghadap kearahnya. "Maksudmu--AKU?!" tanyanya memastikan, .. sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Ne!" Sun-Hye menepis tangan Si-Hwan dari lengannya. "Kau mengeledah kamarku--sampai berantakan!"

"Apa kau tidak salah orang, nona?!!" Sikap Si-Hwan mulai berubah. Ketenangan dan kekocakan yang ditunjukannya menghilang sudah. Masalah ini sudah menjadi serius. Dia dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya. Dan sesuatu itu melanggar hukum. Hal yang sungguh tidak mungkin dilakukannya!

"Tentu saja tidak!" tukas Sun-Hye ketus. Dia tidak terima pernyataannya ditepis begitu saja oleh Si-Hwan, .. seakan dia ini seorang pembohong besar.

"Kau bisa memastikan orang itu aku?!"

Sun-Hye tertegun. Ditanya seperti itu, .. entah kenapa dia menjadi agak ragu. Sesungguhnya, dia tidak bisa benar-benar memastikan orang yang kemarin malam memasuki kamarnya. Hanya naluri dan instingnya saja yang mengatakan kalau orang itu orang asing. Dan satu-satunya orang yang paling asing di Goo's Mansion adalah detektif gadungan ini, .. lagipula—sosok yang dilihatnya dalam gelap itu teramat jangkung, sama persis dengan Si-Hwan.

"Bagaimana?" tegur Si-Hwan.

Sun-Hye terlonjak. "Eh?!"

"Kau bisa memastikan orang itu adalah aku?"

"Ehm--" Sun-Hye melirik dengan gugup. Dia ingin menjawab 'Iya', .. namun tatapan tajam dari pemuda ini membuatnya bungkam. Tidak mampu menuduh dengan sembarangan. "Mung .. mungkin .. ," akhirnya Sun-Hye berkata tergagap-gagap.

"Tidak bisa, kan?" Si-Hwan mengejek. "Karna orang itu sama sekali bukan aku!"

" A .. aku .. " Sun-Hye menghela nafas panjang, terputus-putus.

"Kau sendiri tidak pasti, .. bagaimana mungkin kau marah-marah begitu saja padaku?"

"Ta .. tapi . ." Sun-Hye berusaha membela diri. "Orang itu .. sangat mirip .. denganmu .. "

"Di mana letak kemiripannya?" tukas Si-Hwan cepat.

Kembali Sun-Hye dibuat membisu. Dia tidak mampu menjawab.

"Tidak tahu? .. atau ... kau coba menguji kesabaranku, nona?"

"Mwo?! Bukan begitu!” Tiba-tiba Sun-Hye berubah tegas. “Aku tidak sebebal itu untuk mempermainkanmu! Malam itu, benar-benar ada seseorang memasuki kamarku. Dia mengeledah isi barangku, .. aku melihat punggungnya dengan jelas walau dikuasai kantuk yang luar biasa. Dan pagi harinya, .. aku mendapati kalau barang-barang dalam laci lemariku agak bergeser dari tempatnya .. Tidak! Bukan agak lagi—tapi sudah berantakan!“

“Kau yakin?” Si-Hwan menaikan alis dan membalas tatapan Sun-Hye lekat-lekat.

“NE!” Gadis itu mengangguk kuat-kuat. “Walau pandanganku mengambang waktu itu .. tapi aku yakin, itu bukan halusinasi .. “

Sesaat, … kedua manusia itu saling berpandangan. Bertaut dalam pertarungan pikiran masing-masing. Sun-Hye dengan keheranan luar biasa begitu merasakan, mungkin terdapat sedikit kebenaran dalam pernyataan Si-Hwan;bahwa dia tidak melakukannya .. sedangkan Si-Hwan;mencerna kembali alasan dibalik kedongkolan Sun-Hye terhadapnya hari ini.

“ .. kira-kira siapa orang itu .. ?” desis Sun-Hye halus.

Si-Hwan agak terlonjak, .. pertanyaan Sun-Hye menyadarkannya akan sesuatu yang akan dilakukannya hari ini. Tergesa-gesa pemuda itu menyentuh lengan Sun-Hye sedikit, .. menepuknya dua kali.

“Aku ingat ada janji di luar—“

“Mwo?!” Sun-Hye berbalik mengikuti kepergian Si-Hwan yang sudah beberapa langkah di belakangnya. “Mau kemana?!!”

Si-Hwan mengangkat tangan dengan posisi memunggungi Sun-Hye, .. dia tidak menoleh. “Ada yang harus kulakukan—Jangan menungguku!!”

“Siapa pula yang menunggumu!!” teriak Sun-Hye. Suaranya terdengar sumbang. Dalam hati, dia memaki-maki .. ’kurang ajar sekali detektif yang kupekerjakan ini—Keluar masuk Goo’s Mansion seenak perutnya!’


******



VW bobrok biru tua itu berhenti di bawah sebatang pohon banyan yang tumbuh lebat dekat pagar taman pinggir kota. Mesinnya yang sudah lapuk terbatuk-batuk agak keras ketika dimatikan. Pengemudinya keluar dan mengedarkan pandangan berkeliling. Perhatiannya kemudian jatuh ke sosok yang agak menyandar di pagar dari bambu. Pria bertampang angker dengan dandanan yang sangat rapi. Si-Hwan merapikan mantelnya, untuk kemudian menghampiri orang itu.

“Butler Song .. ,” sapa Si-Hwan ringan. Ditepuknya lengan pria berwajah tembok di depannya dengan ramah.

Pria itu terlihat agak kaget. Dia berpaling cepat kearah Si-Hwan, .. sesaat kemudian dia membungkukan badan perlahan begitu melihat siapa yang menyapanya. “Tuan Lee .. “

Si-Hwan mengangguk sambil menyunggingkan senyum lebar. “Bagaimana?” tanya Si-Hwan—langsung ke pokok masalah.

“Tuan ingin mendengar yang mana dulu?” Pria yang dipanggil Butler Song—Yang sesungguhnya merupakan informan rahasia Si-Hwan—balas bertanya.

“Hmm—“ Si-Hwan terlihat berpikir. Tidak sampai lima detik, dia membuka mulut. “Pekerjaan dulu deh—“

Sang informan menegakan badannya. "Belum ada titik terang dalam kasus pembunuhan Tuan Goo. Si terdakwa terang-terangan tidak mengakui pembunuhan yang dilakukan terhadap Tuan Besar Goo. Sebagaimanapun dia dipaksa untuk mengakuinya. Dia—Joan Ahjuma, sampai detik ini tetap bersikeras bukan dia pembunuh majikannya. Memang benar dia yang menyiapkan kopi terakhir buat korban, namun .. kopi tersebut sempat tertunda di lorong luar kamar selama sekitar lima menit begitu dia mendengar suara-suara mencurigakan dari lorong bawah sebelum dibawa masuk ke kamar si korban .. “

“Maksudmu .. “ Si-Hwan mengenyitkan alis sambil mengelus-ngelus dagunya. “ .. ada kemungkinan seseorang telah mengendapkan racun strychnine itu ke dalam kopi milik korban begitu ditinggal sebentar oleh pelayan pribadi itu? .. Dan orang itu yang menimbulkan suara-suara berisik kecil yang sempat menarik perhatian Joan Ahjuma? Yang memang disengaja untuk mengalihkan perhatian pelayan tersebut?”

Butler Song mengangguk samar. “Mungkin. Tapi—itu hanya sebuah kemungkinan mengingat tidak ada fakta yang mendukung alibi dari tertuduh. Semua hanya menurut pengakuan Joan Ahjuma, tanpa bukti yang jelas .. “

Si-Hwan menghela nafas dan mengalihkan pandangan ke depan. Matanya memicing kearah jalan setapak di depan taman.

“Walau begitu, .. ada fakta kecil yang mendukung pembantahan dari Joan Ahjuma .. “

Perkataan lanjut dari Butler Song membuat Si-Hwan mengembalikan perhatian padanya.

“Ya? Apa itu?”

Butler Song membalas tatapan Si-Hwan. “Dengan kematian Tuan Goo, maksudku—kematian wajar, .. Joan Ahjuma tetap akan mendapatkan warisan yang menjadi haknya. Jadi, saya rasa .. tidak ada bedanya bagi Joan Ahjuma apabila majikannya itu mati wajar atau dibunuh. Semua tidak akan merubah apapun. Warisan yang diterimanya tidak akan lebih atau kurang ..”

“Maksudmu .. itu akan menjelaskan bahwa tidak ada alasan bagi Joan Ahjuma untuk melakukan pembunuhan terhadap majikannya?”

Butler Song mengangguk. “Ne .. “

“Hm—benar juga sih!” Si-Hwan terlihat berpikir. “ .. kecuali kalau .. pembunuhan tersebut terjadi tanpa disengaja . .”

“Apa menurut tuan—itu mungkin?”

Si-Hwan tertawa hambar. “Tentu saja tidak! Pembunuhan tersebut telah direncanakan dengan matang. Tidak ada teori pembunuhan tak disengaja!”

Sesaat keadaan jadi hening .. , sampai ..

“Tuan .. “ Butler Song menyapa Si-Hwan agak ragu.

Si-Hwan berpaling padanya. “Ne?”

Dua pasang mata saling berpandangan. Butler Song terlihat makin ragu dengan maksudnya. Sedangkan Si-Hwan—tersenyum mencoba menyakinkan.

“Katakan saja, Butler Song. Jangan ragu! Apa sampai saat ini, anda masih meragukanku?”

“Tidak! Bukan begitu, Tuan!” sanggah Butler Song cepat dan jengah. Mengelikan sebenarnya melihat tampangnya yang sangar berubah memerah begitu. “Saya tidak bermaksud meragukan tuan hanya saja, .. menurut tuan, .. kira-kira—apa perkataan Joan Ahjuma bisa dipercaya .. ?”

Si-Hwan memperhatikan Butler Song yang masih memperlihatkan ketidak-nyamanannya. Detektif handal dari kepolisian Seoul itu kemudian tersenyum simpul dan menepuk pundak informan terpercayanya tersebut buat menenangkannya.

“Tenang saja, Butler Song. Aku tidak pernah mencurigaimu kok. Hanya saja—sejak anda ditugaskan membantuku, .. aku tidak pernah mendengar kau menanyakan kasus yang kita tangani. Dan kali ini untuk pertama kalinya. Aku jadi bertanya-tanya apakah kasus ini teramat istimewa dan berbeda sehingga anda melangkahi langkah pertama ini .. “

Butler Song menundukan kepala menyesali perkataannya. “Miane, Tuan Lee .. “

Shi-Hwan mengangkat bahunya. “Tidak apa, Butler Song. Saya tidak menyalahkan anda. Malah, saya merasa senang anda tidak sekaku dulu lagi—waktu pertama kali saya mengenalmu .. “ Si-Hwan terkekeh dengan lelucon kecil yang dilontarkannya buat mengoda Butler Song. Yang dibalas dengan senyum simpul oleh yang bersangkutan.

“Saya akan berusaha tidak sekaku sesuai keinginan tuan .. “

“Bagus .. “ Si-Hwan mengangkat jempol kanannya. “Saya yakin anda mampu melakukannya. Mengenai .. ,” sampai di sini, Si-Hwan berhenti sebentar. Dia terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu. “ .. mengenai .. apakah perkataan Joan Ahjuma bisa dipercaya atau tidak saya merasa, .. perlu diteliti lebih lanjut. Teruskan penyelidikanmu, Butler Song .. “

Butler Song mengangguk hormat. “Ne, Tuan Lee .. “

Si-Hwan tersenyum puas pada informan pribadinya. “Sekarang, .. berikan laporanmu tentang masalah pribadi yang kuminta .. “

Butler Song kembali menganggukan kepalanya. Kali ini dia tidak bertanya-tanya lagi seperti tadi. Dengan lugas, pria berwajah tembok itu mengeluarkan sebuah map coklat dari dalam tas besarnya kemudian menyerahkannya pada Si-Hwan.

“Semua tertera di sini?” tanya Si-Hwan sambil membuka map yang sudah berada di tangannya.

“Ne .. ,” sahut Butler Song.

“Teruskan .. ,” perintah Si-Hwan sambil menyibak lembaran-lembaran kertas yang terjepit dalam map.

“Duapuluh tahun yang lalu orang yang ingin tuan ketahui—LEE MIN CHAN-SSI—bersekolah di sebuah taman kanak-kanak yang cukup bergengsi di Seoul ini. Dia anak yang sangat tertutup dan pemalu. Kehidupan taman kanak-kanaknya tidak bisa dibilang baik karna dia sering diejek dan terlibat dalam perkelahian, walau bukan dia yang memulainya .. “ Butler Song berhenti sejenak dan memperhatikan reaksi Si-Hwan.

“Bukan dia yang memulainya?” Seperti dugaan Butler Song, .. pertanyaan ini segera terlontar dari bibir Si-Hwan.

Butler Song mengangguk. “Ne. Tapi tidak banyak yang tahu .. Terutama ibunya; TIDAK TAHU APA-APA .. “

Tanpa sadar Si-Hwan meremas kertas dalam tangannya. “Maksudmu?”

“Info yang kudapat—Nyonya Lee, atau tepatnya mantan Nyonya Lee .. “ Butler Song mengamati Si-Hwan dengan seksama, .. seakan menyelidik apakah nama tersebut berpengaruh padanya, .. namun pemuda di sampingnya sama sekali tidak mengubris. “ .. selalu menyelesaikan segala sesuatunya dengan uang. Tanpa mau mencari tahu penyebab perkelahian putranya itu. Walau keadaan ekonomi mereka tidak bisa dibilang baik namun, .. Mantan Nyonya Lee, atau sekarang sebaiknya kita sebut Nyonya Goo, selalu punya cara untuk mendapatkan uang buat mengeluarkan putranya dari masalah .. “

Si-Hwan menyibak lembaran terakhir dengan sangat pelan. “Lalu … ?”

“Min Chan kecil berhasil menyelesaikan taman kanak-kanaknya dengan cukup mulus berkat dorongan belakang dari Nyonya Goo. Setelah itu dia memasuki sebuah sekolah dasar yang sangat terkenal di pusat kota Seoul. Dan sejarah terulang lagi. Min-Chan kecil sering diledek dan dicemooh teman-teman sekolah, terutama teman sekelasnya. Mereka menganiaya dia, .. dari mencoret meja dan bangku belajarnya, menghilangkan bekal siang ataupun menyembunyikan tas sekolah dan sepatunya entah kemana. Namun ini bukan yang terparah. Lee Min Chan-ssi juga dapat melewatinya .. Dia masuk ke jenjang yang lebih tinggi dengan nilai yang memuaskan. Tentu saja Nyonya Goo sangat bangga padanya .. “

“Dia sangat pintar?” tanya Si-Hwan sambil melirik kecil informan pribadinya. Map tadi sudah ditaruhnya di dalam mobil.

“SANGAT!” jawab Butler Song pasti. “Tapi, … kejadian seperti yang sudah-sudah terulang kembali. Dan kali ini sangat parah. Min-Chan ssi terlibat perkelahian sengit dan tragis yang hampir merenggut nyawanya. Pengeroyokan secara besar-besaran yang dilakukan sekelompok anak sekolah menengah pertama terhadapnya. Jika saja tidak ada polisi yang datang waktu itu, .. mungkin nyawa anak itu sudah tidak tertolong lagi. Dia terkapar merenggang nyawa dengan sekujur tubuh berdarah waktu ditemukan … “

Si-Hwan membuka mulutnya perlahan-lahan … “Ta .. tahu apa .. penyebabnya .. ?” tanyanya terbatah-batah.

“Iya .. “ Butler Song membalas tatapan Si-Hwan tanpa berkedip. “Dengar-dengar .. karna sebuah ejekan. Ejekan yang dirasanya penghinaan besar yang untuk pertama kali didengarnya .. “

“Hah?” Si-Hwan melebarkan mata tidak mengerti.

“Dia sering diledek sebagai anak yatim—tapi itu tidak masalah. Ataupun dibilang dia anak tidak tahu diri karna kepintarannya—Itu juga tidak menjadi masalah baginya. Bahkan, dia sering ditindas tidak jelas. Dianiaya atau disakiti hanya karna masalah sepele. Pisau lipat sering diiris ke tubuhnya, .. ataupun tongkat-tongkat yang dilayangkan setiap saat—namun dia tetap tidak bersuara. Menelannya bulat-bulat. Karna begitulah dia. Dia anak pendiam. Takut menghadapi masalah. Sedapat mungkin, dia akan menghindari masalah-masalah tersebut. Setelah disiksa, .. dia hanya mampu berharap semuanya akan berakhir suatu hari nanti sampai … ejekan yang menurutnya sangat sangat keterlaluan itu terlontar keluar .. “

“A .. apa itu .. ?” tanya Si-Hwan dengan bibir gemetar. Semenjak mendengar pengutaraan-pengutaraan Butler Song mengenai masa lalu Min-Chan, lututnya sudah terasa lemah. Dia seakan sudah tidak mampu berdiri tegak lagi.

Butler Song terlihat mengeraskan gerahamnya. “ .. bahwa ibunya seorang .. pelacur .. “

Tubuh Si-Hwan langsung terhenyak di badan mobil.

“ .. wanita murahan yang menjual dirinya pada laki-laki kaya yang bersedia membayarnya hanya demi uang .. ,” lanjut Butler Song dengan sedikit perasaan bersalah. Jujur saja dia merasa enggan mengungkapkan berita ini, .. tapi sebagai informan yang dipercaya, dia harus memberikan berita akurat yang diketahuinya kepada majikannya—tanpa terkecuali.

“ .. karna ejekan itu .. maka … “ Si-Hwan tidak mampu melanjutkan pertanyaannya.

“Ne!” tukas pria di sebelahnya cepat. “Karna ‘ITU’ dia melawan mereka. Mempertaruhkan nyawanya hanya demi kehormatan ibunya. Dan sejak kejadian tragis itu pula, dia berubah … “

Si-Hwan mengangkat kepala perlahan-lahan. “Berubah? .. Seperti sekarang?”

“Ne .. ,” jawab Butler Song. “Sepertinya, .. Setelah kejadian tersebut, Tuan Lee Min Chan mulai membentengi diri agar tidak disakiti. Dia mulai belajar ilmu bela diri. Menatap sangar dan dingin setiap orang yang berusaha menyindir atau mendekatinya. Namun sebenarnya itu tidak terlalu perlu. Karna setelah pemberontakan mati-matiannya waktu itu, para penganiayanya sepertinya sudah segan padanya .. “

Si-Hwan menghembuskan nafas panjang-panjang sambil menatap semu orang-orang yang berlalu-lalang di jalan kecil di depan mereka. Lima menit berlalu, dan pemuda tersebut lalu berpaling lambat-lambat kepada Butler Song. Dan seakan mengerti arti pandangan dari Si-Hwan, Butler Song menganggukan kepalanya. “Berita ini bisa dipercaya .. “          


****



Sun-Hye mengendap-ngendap dalam kamarnya. Pintu dibuka sangat pelan, dan kepala yang terjulur lewat celah yang tidak begitu lebar tersebut melongok ke kanan dan kiri—waspada. Setelah memastikan tidak ada yang akan ‘membunuhnya’, Sun-Hye bergegas-gegas keluar dari kamar. Dia menuruni anak tangga dengan cepat, .. rasanya merupakan langkah terlebar yang pernah dilakukannya dan meloncati dua anak tangga sekaligus.

Dia menginjakan kaki di lantai bawah dan melintasi lorong tengah dengan agak tergesa-gesa. Setelah sampai di ruang depan, dia berhenti. Diamatinya ruangan tersebut dengan hati-hati dan seksama. Tidak ada anggota keluarganya yang berada di situ. Hanya terlihat dua orang pelayan sedang merapikan ruang depan yang sekaligus berfungsi sebagai ruang duduk dengan khusuk. Saking asyiknya sama sekali tidak menyadari kehadiran Sun-Hye di antara mereka. Perlahan-lahan Sun-Hye menyusut dari posisinya sampai berada di luar ruangan. Dengan sangat pelan dia berbalik dan beranjak ke pintu utama. Dibukanya pintu tersebut dengan hati-hati kemudian berjalan keluar.

Setelah berada di luar dengan—yang menurutnya ‘Selamat-dari-mara-bahaya’—Sun-Hye menghembuskan nafasnya keras-keras. Dia menyandar sebentar di dinding pilar depan rumah, sebelum melangkahkan sepasang kaki bergetarnya menyusuri jalan setapak kecil yang memanjang sepanjang halaman depan rumah.

Sebenarnya apa yang membuat Sun-Hye sewaspada itu?

Masalah terjadi sepeninggal Si-Hwan setengah jam yang lalu. Sun-Hye sedang berjongkok memunggut beberapa koin yang jatuh dari saku jeansnya yang ‘ternyata’ berlobang ketika sebuah pot bunga yang ‘seharusnya’ berada di atas pagar pendek balkon lantai dua jatuh ke tanah, hampir mengenai kepalanya. Sun-Hye sangat terkejut. Dia sampai terhenyak kaget dengan posisi terduduk di atas tanah. Dengan cepat dia mendongak, .. namun tidak didapatkan keberadaan siapapun di atas balkon. Keadaan sangat sunyi di hari menginjak siang itu. Angin bertiup sepoi-sepoi mengerak-gerakan rambut dan poni Sun-Hye hingga menutupi wajahnya. Agak gugup, Sun-Hye mengibaskan helai-helai rambut tersebut dari wajahnya. Dia mengamati keadaan lebih teliti lagi. Sama saja. Para penghuni rumah pasti sedang sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan mereka. Sun-Hye berdiri dengan tergesa-gesa. Setelah melirik ngeri beberapa kali, dia segera melarikan diri dari tempat yang dirasanya ‘hampir merenggut nyawanya’ itu.

Hampir dua jam Sun-Hye mendekam di kamarnya. Setelah merasa agak bosan dan ... 'mungkin sedikit aman', barulah dia berani keluar dari kamarnya.

Sun-Hye berjalan dengan kepala tertunduk hingga tidak menyadari kehadiran seseorang yang sudah berada di depannya. Tubuh mungil Sun-Hye hampir menabrak pria berpostur besar itu.

“Sun Hye-a .. “

Panggilan yang sangat pelan membuat Sun-Hye terhenyak seketika. Bagaimana tidak jika suara itu sangat dikenalnya? Sun-Hye mengangkat wajah dengan cepat.

“Jang Geun Suk!!” seru Sun-Hye hampir menjerit, .. tangannya menunjuk dengan ekspresi horror. “Mau apa kau ke sini?!!”

“Miane .. ,” tukas Geun-Suk halus. “Waktu itu, .. aku tidak berniat begitu, sungguh .. “

“Aku tidak ingin mendengar!!” Sun-Hye menutup telinganya dengan muak. “Pergi sekarang juga! Aku tidak ingin bertemu lagi denganmu!”

“Sun Hye-a .. “

“PERGI!!!” jerit Sun-Hye sambil mengerak-gerakan tangannya histeris.

“Bisa mendengarku sebentar!” Tiba-tiba Geun-Suk menarik tangan Sun-Hye. “Ada yang ingin kujelaskan!”

“TIDAK!!” Sun-Hye masih saja menjerit sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Sepasang matanya terpejam rapat-rapat, .. seakan enggan bertatapmuka dengan pria yang dianggapnya bajingan ini. Pria yang hampir mempekosanya tanpa ampun walau dia sudah mengiba-ngiba minta dikasihani.

“Aku hanya ingin tahu alasanmu memutuskanku!” seru Geun-Suk berusaha menenangkan Sun-Hye dari kehisterisannya.

Sun-Hye merasa tekanan di tangannya makin erat, .. dia membuka mata perlahan dan menatap Geun-Suk benci. “Sudah kujelaskan waktu itu! Apa masih tidak cukup?!!”

“Bahwa kau memutuskanku karna kita tidak cocok satu sama lain?” balas Geun-Suk yang tiba-tiba berubah tajam dan menusuk. “Kau ingin aku percaya, Goo Sun-Hye?” Pemuda itu tersenyum mengejek.

“Terserah apa yang kau pikirkan!” Sun-Hye menepis tangan Geun-Suk dan bermaksud berlalu tapi segera ditarik kembali.

“Ada orang ketiga, kan?” tuduh pemuda itu tiba-tiba.

“Mwo?!!” Iris coklat Sun-Hye melebar. “Apa maksudmu?!”

“Sudah jelas kan?” Geun-Suk menyengir tidak suka. “Setelah kehadiran orang itu, kau mulai berubah dingin padaku!”

Sun-Hye tampak berpikir. Dia sama sekali tidak menangkap perkataan Geun-Suk. “Orang mana yang kau maksud?!”

“Jangan berlagak bodoh, Goo Sun Hye!” Suara Geun-Suk berubah tajam.

Sun-Hye mendesah, untuk kemudian mengangkat pundaknya. “Aku benar-benar tidak mengerti perkataanmu!” Tubuhnya diputar dan bersiap meninggalkan Geun-Suk.

“LEE MIN CHAN!!”

Seruan yang merupakan jawaban dari Geun-Suk menghentikan langkahnya. Alis Sun-Hye terangkat. Dia berbalik dengan cepat.

“Paman Chan?!” tanyanya kaget.

“Ya. Lee Min Chan!” Geun-Suk mendekati Sun-Hye, .. sampai berada di depannya, .. menatap mata coklat gadis itu lekat-lekat.

Tidak sampai sedetik kemudian, Sun-Hye tertawa kikuk. “Ha .. ha .. omong kosong apa ini? .. Saya dan paman Chan? .. Kau benar-benar sudah tidak waras, Jang Geun Suk!!”

“Kenapa?” Geun-Suk mencibir. Sementara matanya menyidik tajam. “Kau terlihat resah, Sun-Hye a? .. Apa perkataanku mengena di hatimu?” Untuk kesekian kalinya Geun-Suk mengeluarkan pertanyaan menyindir. “Aku sudah mengeledah barang-barangmu kemarin malam buat mendapatkan bukti, .. tapi sayang ternyata kau tidak menyimpan segala sesuatu yang berhubungan dengan pria itu. Kalau tidak, .. aku sudah mengulitimu habis-habisan, tahu?!!”

Mata Sun-Hye terbelalak lebar. Pengakuan Geun-Suk yang tidak disangka-sangka membuat kakinya goyah. “Ja .. jadi .. orang yang  .. yang mengeledah kamarku itu .. kau?!!” tanya Sun-Hye dengan suara gemetar, .. dan tidak percaya.

Geun-Suk mengangguk diiringi cibiran. “Weeyo? Takut ketahuan?”

“Bagaimana kau masuk?!!” potong Sun-Hye hampir menjerit.

“Kau lupa siapa aku?!” Geun-Suk balas bertanya. “Hanya untuk mendapatkan duplikat dari kunci-kunci yang dimiliki pacarku, itu tidak sulit .. “

“Kau gila!! Kau Gila!!”

Entah keberanian dari mana yang membuat Sun-Hye mendorong Geun-Suk keras-keras. Pemuda itu hampir jatuh dari berdirinya. Sun-Hye berlari meninggalkan Geun-Suk yang terbengong-bengong .. dengan debaran-debaran di hati yang tidak dimengerti. Gadis itu menekan dadanya yang berdebar keras.

Geun-Suk gila penyebabnya! Ya. Pasti dia penyebabnya! jerit Sun-Hye dalam hati, .. mencoba menepis tuduhan yang dilontarkan pemuda itu terhadap perasaannya pada Min-Chan.

    
****



Sun-Hye menghempaskan pintu kamarnya keras-keras. Dia berbalik, kemudian mondar-mandir tidak tenang dalam ruangan yang sangat besar itu. Tuduhan Geun-Suk masih saja tergiang-giang dalam pikirannya. Sun-Hye menekan telinga erat-erat kemudian menghempaskan diri ke atas ranjang, .. berusaha untuk melupakan segalanya. Sepasang tangan dan kakinya dipentangkan lebar-lebar, sedangkan sepasang mata coklatnya menatap kikuk langit-langit kamar. Hanya sebentar dia berbaring dalam posisi seperti itu, karna sekejap saja dia sudah meloncat bangun dengan sepasang mata terbelalak lebar.

"ANHI!! Tidak mungkin!!" Sun-Hye mengeleng-gelengkan kepalanya. "Saya sudah gila kalau menyakini sedikit saja perkataan si brengsek itu!!" jerit Sun-Hye sambil terus-menerus mengeleng-gelengkan kepalanya.

Sun-Hye melangkah lebar-lebar ke meja rias dan mengeledah tas selempang yang teronggok di pinggir meja dengan kasar dan asal-asalan. Dikeluarkannya ponsel warna pink dari dalam dan menekan beberapa tombol buat menghubungi seseorang.

"Kim So-Eun!" seru Sun-Hye cepat, .. tanpa memberi kesempatan pada lawan bicaranya untuk menyapa. "Datang sekarang juga!" lanjutnya tegas--dengan nada memerintah.

"Mwo?" suara di seberang membalas tidak kalah kerasnya. "Mau apa?" lanjut So-Eun ogah-ogahan. "Saya sedang dipinggit paman Joo nih, .. Besok saja ya? Saya diharuskan menyelesaikan laporan keterlambatan kemarin malam--"

"Laporan keterlambatan?!" Sun-Hye menegakan badan dan melirik ponselnya tidak mengerti.

"NE, laporan keterlambatan!" teriak So-Eun. Dan samar-samar Sun-Hye dapat mendengar bunyi tuts-tuts keyboard yang dimain-mainkan memasuki telinganya. "Paman Joo menghukumku gara-gara terlambat pulang kemarin malam. .. Beliau mengharuskanku menyelesaikan laporan dari penyebab keterlambatanku hari ini, seakurat mungkin. Dan harus yang panjang. Tidak boleh kurang dari lima lembar. Bayangkan, padahal aku cuma terlambat duapuluh menit dari waktu yang ditentukannya buat pulang ke rumah. Katanya--tidak ada kata terlambat lagi untuk hari-hari selanjutnya. Karna itu, Goo Sun-Hye, kuharap kau tidak mencoba untuk mencelakakanku lagi--Jangan mengangguku!"

"Hoho--Memangnya kenapa kau sampai terlambat?" tukas Sun-Hye cuek. "Sudah tahu paman Joo mu disiplin tentara kayak gitu--"

"Ketiduran di perpustakaan .. "

Jawaban So-Eun hampir saja membuat kaki Sun-Hye terantuk kaki kursi. "Ketiduran .. di perpustakaan .. ?"

"NE!"

Sahutan keras So-Eun selanjutnya disertai tawa Sun-Hye yang meledak saat itu juga.

"Kau ini ada-ada saja .. " Sun-Hye memegangi perutnya yang terasa tergelitik.

"Tahu ah--" jawab So-Eun asal-asalan. "Jadi jangan mengangguku!"

"Tapi aku membutuhkanmu .. " Sun-Hye menghentikan tawanya dan menjadi serius. "Datang ke rumahku, So Eun-a .. "

"Sudah kubilang aku tidak bisa! Laporan ini ...

"Akan kubantu menyelesaikannya!" tukas Sun-Hye segera, .. sebelum So-Eun melanjutkan bantahannya.

"Jeongmal?" Sayang Sun-Hye tidak bisa melihat bagaimana sepasang mata So-Eun melebar ceria.

"Ne!" sahut Sun-Hye agak-agak tidak rela. "Datanglah sekarang juga!"

"Ok, boss!!"

Tutttt!!! Tidak sampai sedetik, hubungan diputuskan So-Eun.

"Sialan! Sekali ada manfaatnya, pastilah ... " Sun-Hye tidak menyelesaikan kalimatnya. Kepalanya digeleng-gelengkan disertai desahan berat. Ponsel di tangannya kemudian dihempaskan ke atas ranjang.


*******



So-Eun tiba di Goo's Mansion tidak sampai duapuluh menit kemudian. Hae mengantarnya ke kamar Sun-Hye yang berada di lantai atas. Pintu dibuka, .. dan saat itu Sun-Hye terlihat sedang tertelungkup di atas ranjang, malas-malasan menyibak lembaran-lembaran majalah gosip di tangannya.

"Hey—Goo Sun Hye!" sapa So-Eun sambil mendekati Sun-Hye dan menjatuhkan diri di pinggir ranjang.

Sun-Hye menoleh, untuk kemudian bangun dari baringnya dan duduk di atas ranjang. Majalah tadi dilempar Sun-Hye ke sudut ranjang. Dia lalu berpaling pada Hae, tanpa mengindahkan So-Eun yang menatapnya penuh tanya.

"Siapkan dua cangkir teh hijau, Hae-a .. "

Belum lagi Hae menyahut, So-Eun segera mengangkat tangannya. "Tidak. Tidak perlu, Hae-a. Saya tidak akan lama di sini ... "

"Memangnya kau mau kemana?" Sun-Hye mempelototi So-Eun.

So-Eun berpaling padanya. "Tentu saja kembali ke rumah. Saya tidak boleh terlambat berada di rumah sebelum paman Joo pulang dari kantor kepolisian .. "

"Menyusahkan saja .. " Sun-Hye mengerutu.

Namun So-Eun tak memperdulikannya. Cewek centil itu malah menghempaskan tubuhnya di ranjang dan menarik ujung kaos Sun-Hye. "Sekarang katakan ada apa memintaku kemari?" Sun-Hye belum juga menyahut ketika si So-Eun sudah mengeluarkan beberapa kertas dari ranselnya. "Tapi sebelum itu, .. bantu aku menulis ini .. "

Sun-Hye mengibaskan tangan tidak sabar. "Nanti saja!"

So-Eun menatap Sun-Hye sejenak untuk kemudian mengangkat pundak dan sepasang tangannya. "OK, terserah .. "

Hening sejenak. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. So-Eun terlihat memain-mainkan bibirnya, sebelum memutuskan untuk melanjutkan penulisan terhadap laporan yang ditugaskan paman Joo, yang sempat tertunda gara-gara 'dipaksa' Sun-Hye untuk segera ke Goo's Mansion. Sedangkan Sun-Hye, .. tampak sedang berpikir keras. Dia sedang mempertimbangkan sesuatu. Setelah waktu berlalu beberapa menit, dia mengepalkan tangan dan mengambil keputusan.

“Eh—Kim So Eun!! Jurusan apa yang akan kau ambil nanti? Tinggal seminggu lagi kuliah dimulai loh—“

Pertanyaan mendadak dari Sun-Hye membuat kertas-kertas dan pen di tangan So-Eun langsung berhamburan di lantai. “MWOO?!!” Sumpah—dia benci sekali diingatkan akan kewajibannya yang satu ini. Memilih jurusan??!! HOHO—bukankah sudah ditentukan Paman Joo buatnya??!

“Jurusan apa yang akan kau ambil kuliah nanti?!!” ulang Sun-Hye tidak sabar.

“Huh!” So-Eun mendengus keras. “Mwola!!!”

“Mwo?!! Tidak tahu?!!” Sun-Hye tersentak bangun dari ranjangnya. “Bagaimana mungkin? Tinggal seminggu lagi loh—“

“Mana tahu!” So-Eun mengangkat bahunya cuek. “Saya tidak diberi kesempatan memilih. Paman Joo sudah menentukan segalanya bagiku—masa depanku. Kau tahu sendiri kan bagaimana optimisnya beliau? Hidupku dikendalikan tanpa dapat ku bantah huhu—“ Tiba-tiba saja So-Eun berubah jadi mengibakan. Sepasang tangannya terkatup di depan dada dengan pandangan terarah ke atas seakan memanjatkan doa.

Sun-Hye tergelak dan tidak tahan untuk tidak melayangkan ketokan ke jidatnya. “Sudah selesai mengeluhnya? Bilang aja kau tidak punya pilihan hingga Paman Joo harus memilihkannya untuk mu?!!”

So-Eun memanjangkan bibirnya. “Tapi benarkan nasibku menyedihkan .. ?” tanyanya berharap jawaban ‘iya’ dari Sun-Hye.

Namun tentu saja Sun-Hye tidak mengatakannya. “Apa Paman Joo memilihkan jurusan yang berhubungan dengan hukum untukmu .. ?” tebaknya sembarangan.

“Iya .. “ Bibir So-Eun meruncing semakin ke depan.

“Dia ingin kau jadi apa? Notaris?!!” celetuk Sun-Hye cepat.

So-Eun cemberut.

“Ha ha ha .. benar?? Sungguh tidak dapat dipercaya—“

“Eh—Pengacara, nona!” sergah So-Eun dengan kelopak mata yang hampir terpejam.

Sun-Hye menghentikan tawanya. “Benarkah?” Mata coklatnya melebar. “Kebetulan sekali!!” Dia meraih tangan So-Eun dan mencengkramnya erat-erat. “Sangat kebetulan sekali!!”

“Eh—“ So-Eun membuka mulutnya .. cengo.

“Tapi kenapa Paman Joo menginginkanmu jadi pengacara?”

So-Eun mengangkat bahunya capek. “Kau tahu sendiri jiwa patriot paman? Kalau misalnya Korea diserbu musuh, saya yakin paman akan berada di barisan paling depan buat menahan serangan dari musuh-musuh yang tidak diinginkan .. “ Cewek itu menghela nafas. Sesaat kemudian dia mengembalikan pandangan kepada Sun-Hye. “Ngomong-ngomong, .. apa maksud kata ‘sangat kebetulan sekali’ tadi?”

“O ya, saya belum cerita .. “ Sun-Hye menyengir lebar.

“Apa?!!” tanya So-Eun tidak sabar.

“Saya juga ingin ambil jurusan hukum—menjadi seorang pengacara seperti juga kamu—“

“Hah?!!” So-Eun hampir ambruk dari duduknya. Dia segera mengapai-ngapai ujung ranjang dengan tidak elitnya guna menjaga keseimbangan tubuh yang hampir hilang. “Kenapa bisa begitu??!! Bukankah kau harus meneruskan Goo Global?!! Seharusnya kau mengambil jurusan ekonomi, Sun Hye-a .. “

“Antwee!!” Sun-Hye menghempaskan tubuh ke atas ranjang dan memejamkan matanya. “Pokoknya aku mau jadi pengacara!!”

So-Eun menatap Sun-Hye semakin tidak mengerti. Dicoleknya pinggang cewek itu tapi tamparan di tangan yang didapatkannya. So-Eun berteriak keras. Punggung tangannya jadi merah akibat ‘kekejaman’ Sun-Hye.

“Hey—“ So-Eun mengoyang-goyangkan pundak Sun-Hye. “Kau berjanji untuk membantuku membuat laporan. Ayo bangun!!” Ditariknya lengan Sun-Hye yang terkulai lemas di atas ranjang. “Palli!!”

Sun-Hye mengibaskan tangan So-Eun dengan sepasang mata masih terpejam. “Capek. Nanti saja ya—Duapuluh menit lagi, So Eun-a .. “

“Huhh!!” So-Eun menampar punggung Sun-Hye kesal. “Kau ini sungguh keterlaluan. Sudah tahu saya harus buru-buru pulang ke rumah … “

Sun-Hye mengangkat tangan tanpa berbalik ataupun bangun dari telungkupnya. Tamparan yang lebih keras kembali mendarat di punggungnya. Sun-Hye meringis sambil melirik kecil lewat ekor matanya dan melihat So-Eun mulai menghadapi laporan keterlambatan yang baru ada setengahnya. Sun-Hye tersenyum perlahan. Bukan maksudnya untuk tidak membantu So-Eun, .. ataupun melanggar janjinya. Namun untuk saat ini dia tidak ingin bergerak, .. tidak ingin melakukan apapun selain berpikir. Kira-kira apa yang menyebabkan dia berubah dan tertarik terhadap hukum. Menjadi seorang pengacara? Rasanya sangat berbeda dengan cita-cita atau impiannya semula yang ingin menjadi seorang fashion desainer, ataupun meneruskan perusahaan harabojinya.

Namun sekarang, … mengapa??? Adakah hal lain yang menjadi penyebabnya?

Kejadian yang membuatnya terdepak dari badan pengacara ini .. Kecerobohan yang memaksanya untuk meninggalkan karirnya sebagai seorang pengacara cakap ... Kecerobohan yang sebenarnya .. bukan kesalahannya ...

Mata Sun-Hye melebar. Apa karna alasan itu dia ingin jadi seorang pengacara??? Karna Min-Chan tidak bisa melanjutkan cita-citanya maka dia ingin membantu mewujudkan cita-cita tersebut?? Karna dia perduli pada …

Sun-Hye mengelengkan kepala keras-keras. TIDAK MUNGKIN!!!  


*****



Min-Chan menghempaskan punggung di sandaran kursi dalam ruang kantornya setelah rapat direksi yang berkepanjangan pada hari kerja pertamanya siang itu. Kepalanya menengadah ke atas menghadap ke langit-langit ruangan, .. dengan sepasang mata terpejam rapat.

Ruang kantornya diketuk beberapa saat kemudian.

Min-Chan membuka matanya. "Masuk .. " Dia mempersilahkan dengan nada datar.

Pintu dibuka dengan sangat pelan, dan seorang pria berpostur kurus masuk ke dalam ruangan Min-Chan.

"Tuan, .. ini data-data yang tuan minta .. " Ajudan Oh meletakan setumpuk dokumen di atas meja kerja Min-Chan.

Min-Chan melirik Ajudan Oh sebentar, .. sebelum mengulurkan tangan dan menyibak-nyibak beberapa dokumen paling atas secara tak beratur. Diamatinya secara sekilas dokumen-dokumen tersebut--satu persatu. Tentang pembukuan dan laporan keuangan tahun ini; proposal-proposal yang diajukan perusahaan-perusahaan lain namun belum disepakati; maupun kontrak-kontrak kerjasama yang belum ditanda-tangani; dan juga proyek-proyek yang masih berjalan. Semuanya bertumpuk jadi satu. Seperti yang dimintanya pada Ajudan Oh begitu memasuki ruang kantornya untuk pertama kali hari ini.

"Tuan membutuhkan bantuanku?" lanjut Ajudan Oh ragu-ragu, .. begitu melihat Min-Chan tidak memberi perhatian padanya.

Min-Chan mengangkat wajah dari dokumen-dokumen yang dihadapinya. Sesaat pandangan kedua pria itu bertemu. Min-Chan kemudian mengelengkan kepala pelan-pelan. "Tidak. Tidak perlu. Saya bisa memeriksanya sendiri .. "

"O--" Ajudan Oh mengangguk. "Jika tuan memerlukan bantuanku, .. aku ada di meja kerja luar ... "

Min-Chan mengangguk tanpa menoleh pada Ajudan Oh lagi. Pria berpostur kurus di depan Min-Chan ini mengamati 'majikan barunya' sejenak, sebelum memutuskan keluar dari ruangan itu. Sebenarnya; dia ingin memberikan bantuan dengan menjelaskan detail-detail Goo Global pada Min-Chan namun kelihatannya pemuda tersebut tidak tertarik. Min-Chan terlihat punya cara kerja sendiri. Berlainan dengan almarhum Tuan Besar Goo yang selalu meminta pendapatnya sebelum mengambil keputusan terhadap sesuatu.

Pintu ruang kantor Min-Chan ditutup, dan Ajudan Oh kembali ke meja kerjanya.

Sepeninggal Ajudan Oh, .. Min-Chan meletakan dokumen yang tadi dipelajarinya di atas tumpukan dokumen yang lain. Dia mendorong kursi yang diduduki hingga menyenggol garis lantai yang menempel di dinding jendela. Min-Chan memutar kursinya hingga menghadap ke jendela-jendela besar dari kaca di belakangnya. Untuk beberapa lama dia mengamati keadaan di luar dengan pandangan nanar. Sampai menit kedua puluh, Min-Chan kembali ke posisi semula. Kursinya diputar menghadap ke meja kerjanya yang sesak oleh file-file menumpuk. Tangannya membuka file-file tersebut satu-persatu, ... menelitinya dengan hati ngambang.

"Ini akan menjadi milik Sun-Hye ...... Seluruhnya ... ," bisik Min-Chan lirih, .. tangannya kemudian menekan, dan jari-jemarinya menyelusuri deretan angka-angka panjang yang tercetak dalam laporan paling atas--laporan tebal yang menjabarkan keadaan keuangan Goo Global, .. dengan gerak yang sangat lambat. " .. tiga tahun kemudian .. ini akan menjadi miliknya ... "


*****



Sun-Hye baru selesai membersihkan diri dan membungkus tubuh dengan kimono handuk ketika sebuah suara mengagetkannya.

"Hey--" Sapaan yang cukup keras dari pintu kamar membuat langkah Sun-Hye terhenti seketika.

Sun-Hye membelalakan mata lebar-lebar. Tidak percaya begitu melihat siapa yang sudah menyandar di ambang pintu dengan pandangan tertuju padanya.

"KAU!!!" Sun-Hye menunjuk Si-Hwan tajam-tajam.

Pemuda yang diteriaki seakan tidak merasa bersalah, .. dengan cuek memasukan dan mengemot lollipopnya dalam mulut. "Kenapa?"

"MASUK TIDAK BILANG-BILANGGG!!!" jerit Sun-Hye. "Gimana kalau saya belum pakai baju?!!! Bisa tidak kau ketuk pintu dulu, Lee Si Hwan-ssi??!!!"

"Aku?!" Sun-Hye melihat iris pemuda itu melebar. Sosok jangkung itu melangkah masuk ke dalam kamar sambil menoleh kearah pintu. "Tapi pintu itu tadi sudah seperti itu kok!tidak ditutup .. "

"Hah?!!" Sekarang gantian Sun-Hye yang membelalakan matanya. Pandangannya beralih dari Si-Hwan ke pintu, lalu berbalik lagi dari pintu ke Si-Hwan; Si-Hwan ke pintu, .. begitu seterusnya. "HAEEEE!!!" teriak Sun-Hye tiba-tiba. Pasti--pasti Hae yang tidak menutup pintu setelah keluar dari kamarnya.

"Aushh!!" Mulut Sun-Hye dibekap secara tiba-tiba. "Kau berisik sekali!" oceh Si-Hwan didekat telinga Sun-Hye. "Sudah malam, tahu?"

"Ehmm--ehmm--" Sun-Hye mendelik sengit. "Ehmm--" Suaranya tenggelam dalam bekapan tangan kekar Si-Hwan.

"Mwo?" tanya Si-Hwan tidak mengerti.

Sun-Hye menunjuk tangan Si-Hwan yang membekap mulutnya kemudian mengibasnya dengan kasar. "Huhh!!" Dia menarik nafas keras-keras begitu terlepas dari belenggu pemuda itu.

"Bilang kek!" celetuk Si-Hwan tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Sun-Hye segera mempelototinya. "KAU ... "

"Jangan marah dulu!" Si-Hwan menukas cepat. "Ada yang ingin kukatakan padamu! Lakukan sesuatu buatku .. "

Sun-Hye menatapnya curiga.

"Jangan mempelototiku begitu!" protes Si-Hwan tidak nyaman. "Aku tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang tidak mungkin untuk dilakukan .. "

"Apa itu .. ?" Masih dengan keragu-raguannya, Sun-Hye bertanya.

"Besok pagi-pagi sekali hubungi Tuan Moon dari kantor pengacara Moon & Mine untuk pembicaraan empat mata .. "

"Mwo?? Untuk apa??"

"Kau tidak perlu banyak tanya. Aku akan mengajarimu apa yang mesti kau lakukan dan tanyakan besok .. "


*******
« Last Edit: January 14, 2012, 01:02:01 pm by Be my self »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
kasian, mi chan. masa lalunya sgt menyedhkan. btaway kok td ad perubhan sdt pandg cerita scr tiba2,ya?


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
kasian, mi chan. masa lalunya sgt menyedhkan. btaway kok td ad perubhan sdt pandg cerita scr tiba2,ya?
perubahan sudut pandang [what] yg mana?

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
thanku mom sdh updet ff misteri ini..minchan ngomong semua pd heboh pdhal cuma spatah kata aj.tp kl ngebayangin suasana rmhx sunhye g nyaman bgt slain menyeramkn tak ada keceriaan.masa lalu minchan tragis pantesan aneh gtu.btw sunhye jd bingung ya ma kata2 eks pacarnya,mulai ada perasaanka?buat soeun emang enak tinggal ma org yg ngedidikx kyk tentara.haha
[/size][/color][/b]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
thanku mom sdh updet ff misteri ini..minchan ngomong semua pd heboh pdhal cuma spatah kata aj.tp kl ngebayangin suasana rmhx sunhye g nyaman bgt slain menyeramkn tak ada keceriaan.masa lalu minchan tragis pantesan aneh gtu.btw sunhye jd bingung ya ma kata2 eks pacarnya,mulai ada perasaanka?buat soeun emang enak tinggal ma org yg ngedidikx kyk tentara.haha
sama2,, thanks dah baca [biggrin]
minchan kan ga terbiasa berbicara jadi wajar dong kalau sekali bersuara pada heboh semua [hmpfh] [hmpfh] iya emang. suasana rumah sunhye ga nyaman banget,, itu para penghuninya berwajah tembok semua. ga bisa ditebak apa yagn ada di pikiran mereka [sweat] yup masa lalu minchan tragis begitu, makanya jadi aneh neh [heh]
sunhye jadi bingung ama perkataan geunsuk karna dia ga ngerti ama perasaannya sendiri,, mulai ada perasaankah?? mungkin saja hehe .. si soeun?--kacian dianya [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
untung cm aneh,coba kalo rada2 mubasir tuh wajah..tambh ksian ma minchan masa kecilx makanhati trus udh ortunya cere,ikut mamanya yg g punya apa2,jd bhan olok2n tmanx,ampe kekerasan.ihh.. bpknya juga  g ada usaha bwt nyari n ngebiayain beda bgt ma hdupnya sihwan antara langit n bumi.hehe..btw sihwan curiga ma eunhye kok aq enggak ya?mlah lbh curiga sm si nekat geunsuk..mgkin dia emang g sengaja bunuh harabojinya..ayo minchan nembak sunhye ntar keduluan ma kembaranmu si lucky
[/size][/color][/b]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
untung cm aneh,coba kalo rada2 mubasir tuh wajah..tambh ksian ma minchan masa kecilx makanhati trus udh ortunya cere,ikut mamanya yg g punya apa2,jd bhan olok2n tmanx,ampe kekerasan.ihh.. bpknya juga  g ada usaha bwt nyari n ngebiayain beda bgt ma hdupnya sihwan antara langit n bumi.hehe..btw sihwan curiga ma eunhye kok aq enggak ya?mlah lbh curiga sm si nekat geunsuk..mgkin dia emang g sengaja bunuh harabojinya..ayo minchan nembak sunhye ntar keduluan ma kembaranmu si lucky
itu yg gw kasi tanda merah, maksudnya apa [what] [what] gw mikir2, ubek2 and dirumus2in, ga ngerti2 [laughing] [laughing] maaf, mungkin gwnya yg rada wwwudek [hmpfh]
iya masa kecil minchan emang rada2 makan ati begitu [sweat] [sweat] bapaknya dah berusaha mencarinya kok tp ga dapat2. masalah itu kan pernah dibahas di chp2 lalu. mungkin karna ommanya sengaja menghindari diri dari appanya hingga menyebabkan appanya tidak berhasil mencari keberadaan mereka [heh] [heh]
kehidupan sihwan and minchan emang bak langit dan bumi, karna itu sifat mereka jadi sangat bertolak belakang. yg atu cuek and ringan2 aja menjalani hidup ini, dengan tanpa perlu memusingkan apapun. karna semua org mendukungnya, terutama keluarganya sendiri. sedangkan yg satu lagi, sejak kecil sudah mengalami getar getirnya kehidupan dunia ini. oleh sebab itu sifatnya jadi dingin dan pendiam begitu. karna dia tidak pandai dan tidak ingin mengungkapkan perasaannya. dia hanya bsia berharap semuanya dpt mengerti dia, terutama ibunya [sweat]
tentang yg membunuh harabojinya sunhye, masih teka2i ga jelas [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
ituloh mam (jari telunjuk diangkat tempel dikening lalu dimiringkan) singkatx gak waras,sinting..gw dihammer dah..switnya masih lama nih kalo smuanya msh tekateki.minchan yg sabar ya.next wine dong..smiley
[/size][/color][/b]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
mami,tengkyu udinan di up date

1 kata buat si hwan GOKILLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL [hmpfh] [hmpfh]

emang ye kalo scene si hwan ama sun hye bawaannya pengen ketawa mulu. emang bener kata si hwan dia ga salah2 amat kok nyelonong masuk kamar sun hye pan pintunya juga da kebuka [hmpfh] [hmpfh]

untung pake kimono si Sun hye coba kalo lagi polos, bisa2 si hwan langsung  [on] [on] [love eyes] [love eyes] [hmpfh]


min chan min chan, kasian bener sih baby ku satu ini, tragis bener nasibnya... tp mam kalo menurut pandangan gw kayaknya antara min chan ama sun hye punya ikatan batin ya ,maksudnya tanpa disadari keduanya mereka saling mencemaskan keadaan masing 2, kyk min chan yg mencemaskan Sun Hye dan soal pengurusan warisan sun hye and sun hye yang awalnya pengen jadi fashion designer berubah pengen jadi pengacara ,mungkin tanpa disadarinya ingin mewujudkan cita2 min chan yg terputus ( spt dalam pemikirannya) [heh]

geun suk itu kurang ajar banget sih maen nyelonong kamar org seenaknya ,agak2 creepy yeh si geun suk [goodgrief] [goodgrief]


si hwan mo nyuruh apa ke sun hye,jgn2 yg rada2 nyeleneh bin ajaib lagi  [hmpfh]

kalo gini gw jadi pengen cepet2 nyatuin min chan ama sun hye, biar min chan ga merasa kesepian lagi and belajar untuk lebih sering tersenyum apalagi kalo udah terkena panah asmara sun hye [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho