Poll

tolong vote buat polling di bawah ini! kira-kira hubungan sun-hye mau dikemanain? hehe

dipasangkan ama si-hwan
6 (16.7%)
dipasangkan ama min-chan
27 (75%)
tetep ama geun-suk
0 (0%)
ribet. sendirian aja deh
3 (8.3%)

Total Members Voted: 31

Author Topic: The Sounds of death--CHAPTER 10--8/4/12  (Read 20036 times)

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
Re: The Sounds of death--sedikit spoilerrrr
« Reply #615 on: August 19, 2011, 05:52:32 am »
paman chan....... [on] [on] [on] [on] [on]
gimana kabar dirimu???

 [biggrin] [biggrin]


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death--sedikit spoilerrrr
« Reply #616 on: August 20, 2011, 04:36:12 am »





Sun-Hye meremas-remas jari-jemarinya di depan pintu masuk ruang duduk lantai atas. Dia menarik nafas dalam-dalam, sebelum memutuskan untuk membuka pintu tersebut. Sun-Hye melangkah masuk dan langsung disambut oleh dua pria yang segera berdiri dari posisi duduk mereka begitu melihat kehadiran Sun-Hye di ruangan itu. Tuan Moon dari kantor pengacara Moon & Mine beserta asistennya yang berkacamata dan selalu terlihat gugup.

“Noona Goo .. ,” sapa Tuan Moon dan asistennya dengan senyum ramah tersungging di bibir mereka.

Sun-Hye membalas salam mereka dengan agak kikuk. “O—selamat pagi, Tuan Moon. Dan juga anda—Tuan … “ Sun-Hye sengaja mengantung kata-katanya, karna memang—dia tidak mengetahui nama sang asisten ini.

“Yoon—Yoon shik Jeong .. ,” jawab asisten muda berkacamata tebal itu gugup.

Sun-Hye mengangguk. “Tuan Yoon .. “ lalu dia beralih pada Tuan Moon kembali. “Silahkan duduk .. “

Tuan Moon dan asistennya, Tuan Yoon, menanggapi dengan anggukan pendek. Kemudian mereka duduk kembali di kursi masing-masing.

“Terus terang—saya agak kaget dengan undangan nona. Apalagi sepagi ini .. “ Tuan Moon memulai pembicaraan mereka sambil melebarkan senyumnya. “Apa ada masalah yang serius?”

Sun-Hye mulai merutuki diri saat ini. Kenapa dia sampai menyanggupi permintaan Si-Hwan? Detektif gadungan itu--kenapa dia membantunya? Si-Hwan digaji untuk pekerjaan ini, Lalu kenapa dia—selaku orang yang mengajinya, sampai bersusah payah melakukan pekerjaan konyol ini? … Melakukan penyelidikan terhadap kasus yang seharusnya bukan tugasnya--Hah?

Sun-Hye mengigit bibir bawahnya. Gara-gara Si-Hwan, dia harus duduk di sini—menghadapi Tuan Moon sebelum sarapan.

“Sosoenghamida, Tuan Moon … ,” sesal Sun-Hye. “Undangan saya ini mungkin agak lancang. Karna itu—saya ingin minta maaf dulu. O ya—apa tuan-tuan sudah sarapan?”

Tuan Moon mengibaskan tangan begitu melihat ‘ketidak-enakan’ Sun-Hye.

“Gwencanayo. Kami bisa sarapan setelah masalah ini selesai. Ada urusan mendesak sehingga nona mengundang kami sepagi ini? Berhubungan dengan almarhum Tuan Besar Goo, mungkin?” tebak Tuan Moon kemudian.

“Hmm—Ada sedikit masalah yang membingungkanku, Tuan Moon. Dan, aku tidak ingin hal ini diketahui anggota keluarga yang lain. Karna itu aku mengundang anda sepagi ini … “

“Ya?” Tuan Moon tersenyum ramah.

Sun-Hye kembali mengigit bibir bawahnya. Sembari mengingat-ngingat, bagaimana cara mengajukan pertanyaan secara benar—seperti yang telah diajarkan Si-Hwan kepadanya supaya Tuan Moon tidak curiga.

“Begini Tuan Moon .. ,” kata Sun-Hye beberapa saat kemudian. “Kalau tidak salah, anda pernah menyinggung bahwa harabojiku pernah merubah surat wasiatnya beberapa kali. Atau lebih tepatnya, surat-surat wasiat tersebut ‘benar-benar’ dibuat olehnya—dalam keadaan tidak sadar .. “

“Ne .. “

“Bagaimana anda bisa yakin?” tanya Sun-Hye dengan nada berubah tegas.

“Maksud nona?” Tuan Moon yang tidak begitu menangkap arah pertanyaan Sun-Hye, balik bertanya.

“Bagaimana anda bisa yakin kalau surat-surat wasiat tersebut dibuat dalam keadaan tidak sadar?” Sun-Hye memperjelas pertanyaannya. “Mungkin saja kan haraboji dalam keadaan sadar kala itu? Bahwa dia tahu apa yang sedang dilakukannya?”

Pengacara dari Moon & Mine tersebut tersenyum halus. “Tidak mungkin. Kami telah memeriksa dengan seksama, dan menemukan bahwa seluruh surat wasiat yang dibuat setelah surat wasiat yang berlaku, sama sekali tidak resmi di mata hokum. Dan buat orang sejeli Tuan Besar Goo, beliau tidak mungkin melakukan kesalahan seperti ini. Kecuali kalau beliau benar-benar tidak sadar waktu itu .. “

“Apa ada kemungkinan haraboji diancam?” Tiba-tiba saja, entah mengapa, pertanyaan tersebut terlontar begitu saja dari mulut Sun-Hye. Dia juga heran mengapa kemungkinan tersebut melintas dalam pikirannya.

Tuan Moon mengangkat pundaknya. “Tidak menutup kemungkinan itu. Tapi, kalau memang itu yang terjadi, maka .. “ Tuan Moon tidak melanjutkan perkataannya.

“Ya .. “ Sun-Hye mendesah. “Saya tahu .. ,” kata gadis itu sambil menundukan kepala, lelah. “Berarti pelakunya …, orang rumah ..”

“Maafkan saya .. “ Tuan Moon berucap penuh sesal.

“Tidak apa!” Sun-Hye menukas cepat. Dia mencoba tersenyum walau terlihat sangat kecut. “Saya mengerti, Tuan Moon … “

Tuan Moon membiarkan Sun-Hye menenangkan diri selama beberapa saat. Dia tahu—menerima kenyataan mengenai pembunuh kakeknya ‘MUNGKIN’ berasal dari keluarganya sendiri, bukan hal yang gampang bagi seorang gadis sebelia Sun-Hye.

“Jika boleh saya tahu, Tuan Moon .. “ Sun-Hye berujar pelan. Kepalanya yang semula menunduk mengapai jari-jemarinya yang saling meremas, diangkat dan menatap Tuan Moon. “ … apa isi .. surat-surat wasiat haraboji yang baru?—Yang menurut tuan, tidak sah di mata hukum?” Akhirnya, .. sampai juga pada inti pertanyaan, desis Sun-Hye dalam hati.

Tuan Moon membalas tatapan Sun-Hye. Pengacara profesional itu terlihat enggan menjawab.

“Saya tidak boleh mengetahuinya?”

Tuan Moon membungkukkan badannya. “Sosoengmida .. “

“Sekalipun status saya sebagai cucu almarhum?” selidik Sun-Hye.

Tuan Moon kembali menunjukan penyesalannya. “Maafkan saya, nona .. “

“Bagaimana kalau .. pembicaraan ini kita anggap .. pembicaraan yang berlangsung antar dua sahabat .. ?” kata Sun-Hye dengan penuh harap. Nada suaranya terdengar memelas. “Selaku cucu satu-satunya …. , saya hanya ingin .. mengetahui apa yang dipikirkan haraboji .. sebelum ..maut merenggut nyawanya—Hanya itu, Tuan Moon … Saya sangat menyesal tidak memberi perhatian lebih padanya .. “ Lalu, .. Sun-Hye menutupi wajah dengan sepasang tangannya. Dia mulai menangis tersedu-sedu.

Apa ini termasuk sandiwara? Tidak. Hatinya benar-benar tercabik-cabik begitu mengingat haraboji. Luka yang sudah berangsur-angsur sembuh itu terkoyak kembali. Dan tangisan yang sudah berhenti tidak mampu dibendungnya lagi—tumpah begitu merasakan .. , haraboji mungkin mengetahui dan menyembunyikan sesuatu menjelang ajal menjemputnya. Apakah tentang pembunuh itu? Berarti benar, orang itu—orang dalam rumah? Sun-Hye tidak tahu. Dan juga, dia tidak ingin menebak apa-apa. Kemungkinan itu begitu mengerikan baginya.

Tuan Moon yang melihat kesedihan Sun-Hye jadi salah tingkah. Dia menerima tissue yang disodorkan asistennya dan menyodorkannya pada Sun-Hye.

“Jangan terlalu bersedih, nona .. Kejadian itu kan sudah lama lewat … “

“Dia harabojiku, Tuan Moon .. ,” sela Sun-Hye di sela-sela tangisnya yang makin mengeras. Dia menerima tissue dari tangan Tuan Moon dan menghapus airmatanya yang kerap bercucuran membasahi sepasang pipinya. “Anda tidak akan mengerti bagaimana perasaan saya--bagaimana sedihnya saya .. Dan betapa saya ingin mengetahui siapa pembunuh itu .. Saya ingin ‘dia’ mendapatkan balasan yang setimpal buat dosa-dosanya karna telah ‘menghabisi’ harabojiku ..  “

“Ya .. ,” desah Tuan Moon resah. Dia sudah agak terpengaruh terhadap ‘jebakan’ Sun-Hye kini. “Saya mengerti perasaan nona .. “

“Anda tidak mengerti!” bantah Sun-Hye. Tissue yang sudah basah dilemparnya ke pojok meja. Wajahnya terlihat sangat merah. Antara menahan sedih yang mendalam dan marah yang hampir meledak. “Jika anda mengerti, .. anda tidak akan bersikap begini padaku .. “

“Tapi .. ini .. “ Tuan Moon jadi semakin serba salah.

“Saya tahu tugas anda tidak mengijinkan untuk membongkar privasi dari seorang klien .. ,” sergah Sun-Hye. “Maka itu saya bilang—anggap ini pembicaraan antar sahabat .. “

Tuan Moon bergerak gelisah di tempatnya. Dia melirik asisten pribadinya, yang saat itu ikut meliriknya. Pria muda berkacamata yang sering terlihat gugup di sebelah Tuan Moon itu mengenyitkan alis dan terlihat tidak menyetujui keputusan yang dirasa akan diambil majikannya itu. Dan benar saja, .. Tuan Moon memerintahkannya untuk keluar. Meninggalkannya sendirian dengan Sun-Hye di ruang tamu yang luas dan tertata apik tersebut.

“Tuan Moon .. ,” sang asisten bermaksud menasehati.

“Keluarlah, Jeong-a .. “ Tuan Moon mengulangi perintahnya, .. kali ini terdengar lebih tegas dari sebelumnya.

“Ta .. tapi … “ Shik Jeong menaikkan kacamatanya yang agak melorot. “Anda yakin? .. Ini melanggar hukum .. “

“Saya tahu.” Tuan Moon menatap Shik Jeong lekat-lekat. “Karna itu .. saya ingin kau membungkam .. “

“Tuan Moon .. ,” desah Shik Jeong.

“Keluarlah.” Tuan Moon mengalihkan perhatian ke arah lain. “Tunggu saya di depan pintu. Sepuluh menit lagi saya selesai .. “

Shik Jeong tidak mungkin membantah lagi setelah Tuan Moon mengambil keputusan yang sangat bulat. Semua terlihat dari mata Tuan Moon yang bersinar penuh tekad. Tanpa Tuan Moon sadari, dia sudah masuk perangkap Sun-Hye, layaknya serangga yang terjebak jaring laba-laba yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Setelah kepergian Shik Jeong, Tuan Moon memutar tubuh—berhadapan dengan Sun-Hye.

 

_______ oOo ____________




“Isi surat-surat wasiat tersebut tidak jauh berbeda dengan surat wasiat sebelumnya,” ujar Tuan Moon pelan, .. seolah takut dinding-dinding kelam akan ikut mendengarkan pembicaraannya dengan Sun-Hye. Sepasang sikunya bertumpu pada pahanya ketika berbicara, dan tubuhnya agak dicondongkan ke depan. “Hanya saja .. ,” perkataannya terhenti dengan agak ragu-ragu.

“Hanya saja?” Sun-Hye membulatkan matanya. “Hanya apa, Tuan Moon? Dan apa maksud anda dengan kata—isi surat wasiat yang tidak jauh berbeda? Memangnya bagaimana isi surat-surat wasiat yang tidak berlaku itu yang sebenarnya? Sungguh tidak jauh berbeda??!” Alis Sun-Hye naik sesenti—hingga hampir menyentuh poninya yang terpotong pendek dan menjuntai ke bawah.

Tuan Moon mengiyakan dengan menganggukan kepala--tanpa menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari Sun-Hye.

“Tapi .. “ Sun-Hye menarik bantal kecil yang menyandar di sofa dan memeluknya erat-erat. Dia terlihat berpikir. “Ini mengherankan .. Jika memang tidak jauh berbeda, untuk apa haraboji membuat surat wasiat yang baru? Tidak hanya satu rangkap, tapi berangkap-rangkap .. ?”

“Semula kami berpikir begitu .. “ Tuan Moon menatap meja teh di depannya. “Kami juga sangat heran kenapa surat wasiat yang baru tersebut mesti dibuat berulangkali. Tapi setelah kami teliti dengan seksama, ada sesuatu yang mencolok di situ—Yang kalau dipikir-pikir kembali, agak-agak mencurigakan .. “

“Maksud tuan?” serobot Sun-Hye. Ketertarikannya yang semula pudar, tergelitik kembali. Ditatapnya Tuan Moon dengan mata berbinar.

“Warisan yang akan diberikan pada anak tirinya .. “ Tuan Moon menatap Sun-Hye dalam-dalam.

“Paman Chan?” desis Sun-Hye. Pandangannya mulai meredup sekarang. Entah mengapa hatinya ikut bergetar seiring jawaban yang akan didapatkannya dari Tuan Moon.

“Ya. Tuan Muda Lee Min Chan .. “ Tuan Moon menganggukan kepalanya. “Saya bertemu dengannya sekali di saat rapat pembacaan surat wasiat Tuan Goo beberapa waktu lalu .. “

“Ya, saya ingat. Lalu, .. apa hubungannya dengan surat-surat wasiat tersebut?”

“Perbedaan kecil dari surat-surat wasiat tersebut—seluruhnya terletak pada warisan yang akan diperoleh pemuda itu .. “

“MWOO?!!” Seperti mendengar petir menyambar di siang bolong, Sun-Hye terlonjak dari tempat duduknya. “Omong kosong apa ini?!”

Tuan Moon menepuk-nepuk lengan Sun-Hye buat menenangkannya. “Duduklah dulu, nona Goo. Jika anda ingin mengetahui kebenaran dibalik semua ini—dengarkan saya .. “

Sun-Hye menghembuskan nafas kuat-kuat. Masih dalam keadaan syok, dia menghempaskan tubuhnya kembali ke sofa, .. dan berusaha mendengarkan penjelasan Tuan Moon selanjutnya, .. walau dengan angan yang mengambang.

“Tuan Goo sering bercerita tentang putra tirinya itu padaku—dulunya. Katanya—pemuda itu sangat bisa dibanggakan, .. seorang pengacara terampil dan punya kecakapan serta masa depan yang cemerlang. Haraboji anda cukup menyukainya. Dan juga menaruh harapan besar padanya. Namun demikian—tetap ada yang menganjal. Dia bukan keturunan langsung dari keluarga Goo. Dia bukan ‘bermarga Goo!’ .. Anda tahu, apa maksud dibalik ini, nona Goo .. ?“

Sun-Hye mengangguk pelan. “Ya, saya mengerti. Teruskan, Tuan Moon .. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?”

“Karna alasan itu, Tuan Besar Goo hanya bisa memberi kesempatan pada Tuan Muda Lee Min Chan buat mengembangkan karirnya dengan mewakili anda—nona Goo, .. buat menjalankan Goo Global sebelum nona mencapai umur 21, jikalau beliau meninggal nanti. Tuan Goo sadar kalau pendapatan terbesar dan masa depan paling menjanjikan—ada pada Goo Global. Selain itu—beliau tidak ingin ada skandal kalau dia pilih kasih terhadap anak tirinya itu sementara masih ada yang perlu diperhatikan. Yaitu .. cucu dari adiknya sendiri, nona Yoon Eun Hye .. “

Sun-Hye mengenyitkan alis setelah Tuan Moon menghentikan penjelasannya yang berkepanjangan.

“Lalu, .. apa kaitannya dengan surat-surat wasiat selanjutnya? Masih berhubungan dengan paman Chan?”

Tuan Moon mengiyakan. “Di surat wasiat yang baru, pada dasarnya—isinya sama saja. Hanya saja .. “

“Anda berbalik lagi ke situ, Tuan Moon!” tegur Sun-Hye agak tidak sabar. “hanya apa? Katakan saja!”

Tuan Moon menatap Sun-Hye lekat-lekat. “Tiba-tiba terselip jumlah warisan yang sangat besar diberikan pada pemuda itu—Bahkan bisa dikatakan, hampir menyamai warisan yang anda terima .. “

“MWO?!!”

Untuk keduakalinya pemberitahuan Tuan Moon mengagetkan Sun-Hye. Sepasang tangan dara ayu itu terayun lemah di sisi sofa. Dia sudah tidak bertenaga lagi. Kenyataan ini membuatnya hilang kepercayaan. Benarkah Min-Chan patut dicurigai? Dia merasa yakin kini. Dan perasaan tersebut membuatnya tidak suka. Sungguh—dia tidak tahu kenapa dia membenci perasaan itu. Dia ingin menolak sekeras-kerasnya. Tidak mungkin Paman Chan yang melakukannya!! Tidak mungkin!!

"Satu hal lagi .. ," kata Tuan Moon beberapa saat kemudian--setelah mereka terdiam selama lima menit lamanya.

Sun-Hye yang masih tenggelam dalam lamunannya--mengangkat kepala, menatap Tuan Moon dengan tatapan ngambang. Dia tidak berucap apa-apa--meski hanya untuk menanyakan sebuah pertanyaan sekalipun. Rasanya, .. dia masih berada dalam alam mimpi. Sangat sulit rasanya mempercayai cerita Tuan Moon barusan.

"Tuan Goo pernah ... mengungkapkan kebimbangannya ... " Suara Tuan Moon berubah pelan. Pria itu menatap Sun-Hye dalam-dalam, .. seolah takut perkataan selanjutnya, akan menimbulkan dampak yang tidak ringan bagi gadis itu. " .. sebenarnya sangat samar. Tuan Goo tidak mengutarakannya secara langsung dan terbuka padaku. Waktu itu, Beliau ... , beliau seperti sedang berbicara pada diri sendiri ... "

"Ya .. ?" Sun-Hye agak melebarkan kelopak matanya.

"Mengenai keputusan yang seharusnya, diambilnya ... ," tandas Tuan Moon.

"Keputusan?" Sun-Hye bergerak sedikit dari posisinya. "Keputusan apa maksud anda?" tanyanya dengan mata tak berkedip.

"Tuan Goo bimbang, apakah keputusan yang akan diambilnya itu benar atau tidak. Beliau bergumam mengenai ... pembagian warisan yang dirasanya paling adil. Tentang jumlah yang seharusnya diberikan pada orang luar—di luar marga Goo. Saya menebak, orang yang dimaksud itu .. anak tirinya .. " Tuan Moon menghela nafas berat. "Tapi yah--itu hanya tebakan saya .. Mungkin saja salah .. “ Pria itu tersenyum lembut. " Nona Yoon juga bukan bermarga Goo, kan? ... "

"Maksud anda, waktu itu .. " Sun-Hye mengigit bibir bawah keras-keras. " .. haraboji sudah mempertimbangkan pembagian warisan buat .. paman Chan?"

"Ne .. mungkin begitu .. "

"Dan ... setelah itu, .. ditemukan berangkap-rangkap surat wasiat yang menguntungkan Paman Chan--yang setelah diperiksa, ternyata tidak resmi .. " Desahan panjang terdengar dari mulut Sun-Hye.

"Ne .. " Tuan Moon kembali menyahut pendek.

"Oh--" Tubuh Sun-Hye terhempas ke sandaran sofa. Kemudian, sepasang tangannya menutupi wajahnya. Dia merasa susah bernafas. "Apa ini artinya .. ada sesuatu dibalik semua ini?"

"Kami tidak bermaksud mencurigai apa-apa, nona Goo .. " Tuan Moon melirik sekilas jam tangannya. Dia mengibas pendek ujung jasnya, kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Saya menceritakan ini atas permintaan nona ... Namun, selama tidak ada bukti yang mencukupi, kami tidak akan melakukan apa-apa .. Karna kami—memang tidak berhak melakukan apa-apa .. " Tuan Moon memutar tubuhnya ke arah pintu. "Hanya saja ... " Tiba-tiba dia berbalik kembali, dan menatap Sun-Hye sungguh-sungguh. " ... ada sesuatu tentang pemuda itu yang mesti diwaspadai .. " Tuan Moon menekan keras kata 'diwaspadai', yang dikeluarkannya. "Haraboji anda, mengetahui sebuah penyelundupan yang terjadi di KimsJustice .. "

Sun-Hye mencondongkan badannya. "Maksud anda, .. lenyapnya dokumen penting negara .. ?"

"Omo--" Mata Tuan Moon terbelalak. "Nona mengetahui itu?"

Sun-Hye menyengir hambar. "Hanya sedikit .. "

Tuan Moon manggut-manggut. "Saya rasa, .. itu lah penyebab kebimbangan Tuan Goo menjelang ajalnya ... "  



_________ oOo ____________




PLAPP!

Sebuah buku catatan yang tidak begitu tebal mendarat di meja kaca di hadapan Si-Hwan. Si-Hwan yang saat itu sedang membaca koran sambil menyilangkan kaki mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangan ke arah datangnya buku tak diundang tersebut.  

“PUAS?!!” delik Sun-Hye sambil melangkah panjang-panjang menghampiri Si-Hwan.

Si-Hwan mengenyitkan alis melihat raut Sun-Hye. “Mwo??” tanyanya polos, seolah tidak mengetahui sumber kekesalan gadis itu.

Dengan cuek, Si-Hwan menarik buku yang dilempar Sun-Hye tadi, dan membawanya ke pangkuannya. Lalu dibukanya lembaran pertama dan diamatinya dengan seksama. Gayanya tersebut sangat tenang hingga mengesalkan Sun-Hye.

“Kauuu—kauuu—kauuuu .. ,” jerit Sun-Hye dengan nada tercekik. Sumpah serapah yang sudah dipersiapkan sebelumnya mendadak tersangkut di tenggorokan saking marahnya--tidak mampu untuk dikeluarkannya. Sun-Hye hanya dapat menunjuk-nunjuk Si-Hwan dengan mata membeliak lebar.

“Mwo?!” tanya Si-Hwan kembali.

“Kau .. Kau mati jika melakukannya lagi!!” Sun-Hye mengatup giginya kuat-kuat.

“Melakukan apa?” Si-Hwan memasang tampang tidak mengerti.

“Kau mati jika memerintahku lagiii!!!! Arasooo?!!!” teriak Sun-Hye sampai nafas tersengal-sengal.

“O—itu .. “ Si-Hwan manggut-manggut. “Bilang kek dari tadi—“ Ganti dia yang mengomel.

“Mwo, .. a .. ku yang kau salahin .. ?” Mata Sun-Hye melebar tak percaya.

“Tentu saja—“ Si-Hwan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. “Kalau kau ngomongnya lebih jelas, saya tidak akan salah tanggap .. “ Kemudian jemari tangannya yang panjang, mulai menyibak halaman kedua.

“Aku yang mengajimu, tahu?!” Sun-Hye menyambar buku catatan dari tangan Si-Hwan dan mencampakannya ke lantai lalu menginjak-nginjaknya. “Jika kau memang hebat—dapatkan info ini sendiri .. ,” tantang Sun-Hye sambil membusungkan dada.

Si-Hwan berdecak tidak sabar. Sambil membungkuk sedikit, dia memunggut buku catatan yang dilempar Sun-Hye dan mengibas-ngibas setiap lembaran buat membersihkannya.

“Kau tahu saya tidak bisa melakukannya .. “

“Kenapa?!” ejek Sun-Hye. “Takut?!”

“Pabo!”

Omelan itu yang didapat Sun-Hye.

“MWO?!!”

“Bukankah begitu?!” sahut Si-Hwan keras. “Tidak seorangpun mengetahui statusku di sini—tidak juga omma dan Chan, .. dan sekarang--kau menyuruhku menyelidikinya secara terang-terangan? Dikemanakan otakmu? Bukan bodoh, apalagi namanya?!!”

“Hm—“ Sun-Hye kehilangan kata-kata.

“Cuma kau—partnerku satu-satunya di rumah ini, yang mengetahui tujuan dan maksud kedatanganku ke sini. Jadi wajar kan kalau aku minta bantuanmu … “

“ .. “ Sun-Hye mengerak-gerakan bola matanya.

“Lagipula—apa kau ingin ketahuan tentang penyelidikan kita? Tapi, jika memang begitu sih—aku tidak keberatan .. “

“Mwo?!” Perkataan terakhir Si-Hwan sukses membuat Sun-Hye tersentak dari ketermenungannya. “Mworagu?!”

“Saya bilang—SAYA TIDAK AKAN KEBERATAN, APALAGI MELARANG NONA MEMBEBERKAN STATUS SAYA SEBAGAI DETEKTIF YANG DISEWA BUAT MENYELIDIKI KEMATIAN HARABOJI ANDA DI SINI, KARNA PEMBEBERAN TERSEBUT TIDAK AKAN BERDAMPAK APA-APA PADAKU!” ulang Si-Hwan dengan nada yang sengaja dibuat sekeras-kerasnya.

“HAH?!!”

“Bagaimana?!" Si-Hwan menyeringai. "Masih ingin saya menyelidikinya sendiri?!”

“HUH!!” Sun-Hye mendengus sambil membuang muka. Dia kalah. Ya—kali ini dia harus mengakui kekalahannya. Maksud kedatangan Si-Hwan di Goo’s Mansion tidak boleh diketahui orang.

“Menyerah?” ejek Si-Hwan.

“ .. “ Sun-Hye menatap jengkel dinding ruang duduk di sampingnya.

“Jika begitu ..

Sun-Hye mendengar bunyi kursi digeser orang.

… duduklah di sini, dan kita membahasnya bersama .. ,” lanjut Si-Hwan, tidak sampai sedetik kemudian.

Sun-Hye menoleh kearah Si-Hwan dengan malas. “MWO?!!”

“Duduk di sini!” Si-Hwan menepuk sebuah kursi yang sudah ditarik ke sebelah kursi yang sedang didudukinya.

Sun-Hye mempelototi Si-Hwan. Dia tidak beranjak dari tempatnya meski sudah diminta pemuda itu. Belum sepenuhnya dia memaafkan Si-Hwan buat sikap yang dianggapnya kurang ajar tadi pagi, .. memerintah seenak hatinya?

Si-Hwan mengamati Sun-Hye untuk sejenak. Seulas senyum--sekilas berkembang di bibirnya. Dia menunduk dan berhadapan kembali dengan buku catatan di pangkuannya.

Sun-Hye mengenyitkan alis. Pemuda di hadapannya terlihat tidak memperdulikannya lagi. Lembaran demi lembaran disibak Si-Hwan dengan tenang, .. lalu mengamatinya satu-persatu. Sun-Hye mendengus dongkol. Dia mencak-mencak sambil mendelik tajam. Rambut panjangnya yang semula tersisir rapi sudah berantakan akibat seringnya diremas-remas. Setelah sadar apa yang dilakukannya percuma saja—keteguhan pendiriannya tersebut tidak akan berpengaruh bagi detektif seperti Si-Hwan, .. Sun-Hye melangkah lebar-lebar kearah pemuda itu dan menghempaskan tubuhnya di kursi yang dimaksudkan.

Si-Hwan meliriknya sekilas, lalu kembali lagi ke buku catatannya. Tidak ada yang bersuara. Si-Hwan menekuni setiap jawaban buat pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk ditanyakan Sun-Hye, dan yang sekarang sudah tertulis rapi pada buku catatan di tangannya—Sampai segelintir jawaban membuatnya termangu.

"Warisan yang akan diperoleh Chan ... " Mata Si-Hwan melebar sedikit. "Seharusnya dia memperoleh warisan yang setara denganmu?" Kepala yang terbungkus rambut hitam pekat dengan poni tergel ke atas itu mendongak dan menatap Sun-Hye.

Sun-Hye menghela nafas lemah. "Ne ... "

"Surat-surat wasiat yang tidak resmi dan tidak berlaku di mata hukum .. ," Si-Hwan bergumam sambil berpikir keras.

"Apa menurutmu, ada kemungkinan haraboji diancam waktu itu?"

Si-Hwan menatapnya.

"A .. ada kemungkinan itu kan .. ?" lanjut Sun-Hye tergagap-gagap begitu mendapati tatapan yang begitu lekat dari Si-Hwan, membuatnya merasa bersalah. Bersalah? Kenapa juga dia harus merasa bersalah? Sun-Hye mengeleng kepala tidak mengerti. "Kalau boleh saya bertanya .. ?" tanya Sun-Hye setelah berhasil mengusir kegelisahannya yang sedikit tadi. " .. apa kasus ini .. berpengaruh .. terhadapmu .. ?"

"Maksudmu?" Si-Hwan balas bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari Sun-Hye.

"Maksudku--" Sun-Hye mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Ada .. omma .. dan .. dongsengmu .. yang  .. terlibat dalam ... "

"Saya mengerti!" tandas Si-Hwan cepat, .. sebelum Sun-Hye berhasil menyelesaikan kalimatnya. "Tapi saya pastikan padamu, Goo Sun Hye-ssi .. "

"Ne?"

"Saya profesional!" Wajah yang sering membuat Sun-Hye kesal itu menunduk menghadapi buku catatan di pangkuannya kembali. "Tidak ada SESUATUPUN, yang dapat mengoyahkan peganganku pada keadilan. Tidak omma, Chan, .. dan .. " Mendadak wajah itu terangkat, menatap Sun-Hye berkilat-kilat. Seraut wajah yang mungkin belum pernah dilihat Sun-Hye dari seorang Lee Si-Hwan. Telunjuk sang detektif itu menekan sampai hampir menyentuh cuping hidung Sun-Hye. ".. tidak juga, ... KAU!!"

"Mwo?!! A .. aku .. " Sun-Hye menunjuk dirinya, kaget. "Maksudmu, .. kau mencurigaiku sebagai pembunuh haraboji?!!"

Si-Hwan tersenyum mengejek, .. sudut bibir sebelah kirinya tertarik ke atas.

"Kau .. tidak .. sungguh-sungguh, kan .. ?"

“Weeyo?” Si-Hwan menyengir lebar. “Takut?”

“Lee Si Hwan!!!” Sun-Hye bangkit dari kursinya. “Lelucon ini sudah tidak lucu lagi!! Sa .. saya tidak ingin mendengar gurauan berbentuk apapun, sebelum ada bukti .. cam kan itu—“

Sun-Hye beranjak ke pintu dengan sepasang tangan terkepal.

“Saya belum selesai!”

Teriakan Si-Hwan menghentikan langkah Sun-Hye di depan pintu.

“Semula saya berpikir—semua yang berada dalam rumah ini, patut dicurigai. Tidak terkecuali kau! Malah motifmu yang paling besar—karna kau yang akan mewarisi kekayaan harabojimu setelah meninggal. Dan juga—kau yang mendatangiku hari itu, dan memaksaku untuk membantu penyelidikan terhadap kematian harabojimu. Biasanya—orang yang paling tidak mungkin dicurigai, itulah pembunuhnya .. “

“Jadi?” tanya Sun-Hye tenang. Emosi yang tadi sempat menghinggapinya berangsur-angsur hilang. Dia menatap Si-Hwan ingin tahu.

“Ada sesuatu yang membuatku yakin kalau kau—bukan pembunuhnya .. Kau tidak mungkin menjadi seorang pembunuh, Goo Sun Hye .. “

Mata Sun-Hye menyipit. “Apa itu?”

Si-Hwan membalas tatapan Sun-Hye dengan senyum lebar. “Suatu saat kau akan tahu sendiri .. ,” tandasnya sambil beralih kembali pada buku dalam pangkuannya. “Sampai saat itu tiba—berjanjilah, kau akan tetap tersenyum .. ,” lanjut Si-Hwan sambil melirik Sun-Hye lewat ekor matanya.

Sun-Hye memicingkan mata sesaat. Sungguh dia tidak mengerti arti kata-kata Si-Hwan. Sebentar kemudian dia mengangkat kedua pundaknya, lalu berjalan keluar.

 
________ oOo ___________



Mercedes abu-abu itu melambat, hingga berhenti sama sekali, tepat di perempatan jalan raya yang cukup ramai begitu rambu lalu lintas berubah merah. Nyonya Goo yang duduk di jok belakang mengendurkan sedikit sabuk pengaman pada tubuhnya, sebelum menolehkan kepala ke luar jendela. Udara terasa panas di sore hari itu, dan AC yang menyala tidak mampu meredam rasa gerah yang ada.

Alis Nyonya Goo berkenyit, .. dua sosok yang berada dalam mobil di sebelah, serasa dikenalnya. Namun hanya sesaat Nyonya Goo menunjukan keperduliannya terhadap 'tetangga' yang berada di sebelah tersebut. Sebentar kemudian, perhatiannya sudah teralih kembali kepada sopirnya yang saat itu sedang mengamati keadaan jalan di depan mereka.

"Mau berapa lama lagi kita sampai ke tujuan, pak Song?"

Pak Song melirik lewat kaca spion di depannya. "Sekitar duapuluh menit lagi, Nyonya. Dan itu juga kalau tidak ada hambatan. Sepertinya, .. terjadi kecelakaan kecil di depan .. "

Nyonya Goo menghembuskan nafas sambil mengipas-ngipas badan dengan sepasang tangannya. "Cepatlah sedikit. Suhu dalam mobil ini semakin panas saja .. "

Pak Song mengangguk hormat. "Ne, Nyonya. Akan saya usahakan .. "

Nyonya Goo kembali menghembuskan nafasnya. Dengan gerakan tangannya, dia memberi isyarat agar Pak Song membukakan jendela mobil untuknya.

"Saya butuh udara segar ... " Alasan Nyonya Goo begitu Pak Song meliriknya keheranan.

Jendela kaca di samping Nyonya Goo diturunkan. Dan pada saat bersamaan, .. jendela kaca dari mobil di sebelahnya juga bergerak turun.

Mata Nyonya Goo terbelalak seketika. Apa yang dilihatnya, .. lebih tepatnya, dua orang yang dilihatnya sedang bercengkrama dalam mobil di sebelah, .. membuat sekujur tubuhnya, kaku seketika. Dia tidak mampu bersuara. Tangannya bergetar ketika menutup pintu jendela di sampingnya. Nyonya Goo menekan dada dengan nafas tersengal. Dia berpikir keras. Berkelebat dalam pikirannya, .. penjelasan tegas Si-Hwan beberapa waktu lalu.

"Anak itu membohongiku .... ," kelopak yang sudah agak keriput itu terpejam perlahan. "Kenapa ... "

"Nyonya--gwencana?"

Pertanyaan Pak Song menyadarkan Nyonya Goo. Mata yang terpejam tadi, dibukanya kembali.

"Kita tidak jadi belanja, Pak Song ... ," desis Nyonya Goo lemah. "Kita kembali saja. Ada yang ingin saya lakukan di rumah, sekarang juga--"

"Ne ... "

Mobil yang membawa mereka berputar arah, ... membelah kepadatan kota, .. kembali ke Goo's Mansion.


___________ oOo ____________



"Goo Sun Hye!!"

Langkah Sun-Hye terhenti di depan pintu masuk kamarnya. Dengan gerakan lambat, dia memutar tubuh menghadap ke belakang. Eun-Hye sudah berdiri di depannya, agak jauh, dengan raut keras yang membuat Sun-Hye menelan ludah. Entah sejak kapan dia merasa gentar dengan sepupu jauhnya ini.

"Ya, Eun Hye-a?"

"Saya ingin membicarakan sesuatu denganmu .. " Eun-Hye menatap Sun-Hye lekat-lekat.

"Ya?" tanya Sun-Hye kembali. Tenggorokannya terasa semakin kering. Apalagi begitu Eun-Hye bergerak semakin dekat kearahnya. Eun-Hye berhenti, tepat di depan Sun-Hye.

"Mengenai pemuda itu .. "

"Eh?" Sun-Hye tersentak. "Mak .. maksudmu .. ?"

"Pemuda yang bernama Lee Si-Hwan itu .. ," tandas Eun-Hye ketus. "Saya tidak mau tahu apa hubungannya denganmu, dan apa alasannya tinggal di sini, .. apa benar seperti yang dikatakannya bahwa kalian pacaran .. atau dia mempunyai hubungan dengan .. wanita tua itu .. ," Sun-Hye berhenti. Alisnya yang melengkung bagus berkenyit. Dia terlihat berpikir sebentar. Lima detik kemudian dia melanjutkan. "Well--mungkin itu berlebihan. Walau dia mempunyai wajah yang sangat mirip dengan Paman Chan, tapi sepertinya .. mereka tidak menunjukan adanya pertalian itu .. " Eun-Hye menegakan badannya, dan melanjutkan.  "Yang jelas, saya tidak menyukainya! Saya tidak ingin melihatnya lagi di sini, .. Dia sangat memuakan dengan gerak-geriknya yang seakan menyelidikiku .. ," decak Eun-Hye jijik. "Lagipula Goo Sun Hye--Membiarkan seorang pemuda tinggal serumah denganmu, tidak-kah itu memuakan dan terdengar rendahan?! Apa kau tidak takut akan terhembus berita dan skandal yang menjatuhkan nama baik Goo?!!"

"Ren .. rendahan .. ? Skandal ... ? Menjatuhkan .. na .. nama baik Goo ... ?" ulang Sun-Hye tergagap-gagap. "Ta .. tapi bukan .. "

Belum lagi selesai bantahan Sun-Hye, Eun-Hye sudah beranjak ke pintu—meninggalkan Sun-Hye tergangga sendirian di tempatnya.

Sun-Hye menghembuskan nafas keras-keras. "Memangnya apa yang bisa kulakukan?! Aku juga tidak memintanya tinggal di sini! Hanya dianya saja yang keras kepala dan memaksa kalau ini jalan terbaik! HUH_!!"

Sun-Hye menghempas pintu kamarnya keras-keras.



____________ oOo _______________




"Mana Tuan Lee Si-Hwan?!!" tanya Nyonya Goo dengan nada tajam pada seorang pelayan yang membukakan pintu depan untuknya.

"Di ruang duduk lantai atas, Nyonya." Si pelayan membungkuk hormat. "Agashi sedang bersamanya .. "

Nyonya Goo mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, wanita tengah baya itu berlari menaiki anak tangga. Min-Chan yang kebetulan berpapasan dengannya di pertengahan anak tangga yang dituruninya, tidak digubris sama sekali. Atau, ... Nyonya Goo tidak melihat keberadaan Min-Chan karna pikirannya sedang terfokus kearah lain?

"Omma .. ," panggil Min-Chan.

Nyonya Goo sudah mencapai anak tangga teratas. Dengan laju yang tidak diperlambat, dia bergerak ke arah mana, ruang duduk berada.

Alis Min-Chan berkerut. Pandangannya masih mengikuti gerak punggung Nyonya Goo sampai menghilang di ujung lorong atas. Tergesa-gesa Min-Chan memutar badan, dan melangkah cepat-cepat menaiki tangga, mengejar ommanya.



___________ oOo _____________  




Nyonya Goo membuka pintu ruang duduk dengan tanpa mengetuknya lagi. Dia menghambur masuk, melangkah dengan langkah lebar-lebar dan hampir setengah berlari, sampai tiba di hadapan dua orang yang sedang duduk sambil ngobrol di sofa tengah ruangan.

Dua orang tersebut—Sun-Hye dan Si-Hwan, langsung mengalihkan perhatiannya kepada Nyonya Goo begitu mendengar suara berdebam dari pintu yang mengenai dinding. Di belakang Nyonya Goo, Min-Chan mengikuti dengan raut bertanya. Sebentar pandangan pemuda tersebut berbenturan dengan Si-Hwan dan Sun-Hye yang sudah berdiri dari posisi duduk masing-masing. Lalu, perhatiannya dikembalikan lagi pada ibunya.

“Hwan!! Kenapa kau lakukan itu terhadap omma?!!” tanya Nyonya Goo langsung, tegas dan tanpa berbasa-basi lagi. Rautnya sangat keras saat itu, .. apalagi sepasang matanya—merah sampai ke kelopak-kelopaknya.

Alis Si-Hwan berkenyit perlahan. “Omma .. ,” sapanya, tidak mengerti apa yang salah pada ommanya. “Ada sesuatu?”

“Apa kau kira bisa mengelabui omma--sampai sekarang?!” jerit Nyonya Goo. “Kau anggap apa omma ini?! wanita bodoh?!!”

“Omma .. “

Nyonya Goo merasakan sentuhan di lengannya. Dia menoleh. Ternyata orang yang menyentuhnya itu adalah Min-Chan. Ada apa? Mungkin pertanyaan itu juga yang tersirat dari pandangan Min-Chan.

“Apa sebenarnya yang terjadi .. ?” Pertanyaan dari Si-Hwan menyadarkan Nyonya Goo. Namun sebelum wanita itu menjawab, Si-Hwan segera mengangkat tangannya. “Tunggu sebentar .. ,” katanya sambil beranjak ke pintu. Lalu ditutupnya pintu yang terbuka lebar itu. “Begini lebih aman .. ,” lanjut Si-Hwan sambil berbalik, menghadap ke orang-orang dalam ruangan.

“Katakan yang sejujurnya!” tekan Nyonya Goo.

“Apa?” tanya Si-Hwan kebingungan. “Saya sungguh-sungguh tidak mengerti maksud omma .. “

“Kau tidak mengerti?” kata Nyonya Goo hambar. “Baik. Kalau begitu, dengar baik-baik!”

Si-Hwan meluruskan badannya. Begitu juga Sun-Hye yang berdiri di belakang. Min-Chan sedikit mengeser posisinya, hingga bisa menatap langsung ekspresi ommanya saat ini.

“Perempuan yang bersama abojimu—“ Nyonya Goo mengigit bibirnya keras-keras, .. bukan karna tegang, melainkan karna kemarahan yang sudah mencapai ke ubun-ubun. “Kau pernah bilang Bibi Jin saat perjumpaan pertama kita! Sekarang omma ingin tahu, siapa itu BIBI JIN?!”

“Omma .. ,” desis Si-Hwan yang berubah jadi waspada.

“Kau ingin omma percaya?!!” bentak Nyonya Goo. Emosi tinggi membuat sepasang tangannya tergenggam erat. “WANITA ITU SONG JIN AH—ADIK SEPUPU DARI ABOJIMU!!”

“Ba .. bagaimana omma tahu .. ?” desah Si-Hwan putus asa. Kekuatan yang sudah dipersiapkan sebelumnya, melayang seperti kapas. Hilang entah kemana. Dia tahu, dan sadar, .. terbongkarnya kebohongan ini, akan membuat hubungannya dengan ommanya berantakan. Nyonya Goo memang paling benci dikhianati, .. dan dia sudah tahu rahasia kecil ini dari abojinya.

“Memangnya kenapa? Takut karna kedapatan telah membohongi omma?!” Nyonya Goo mempelototi Si-Hwan. “Begitu teganya kau menyembunyikan semua dari omma?! Kau—anak durhaka!! Ternyata benar dugaan omma selama ini, .. abojimu dan adik sepupunya itu telah menjalin hubungan sebelum perpisahan kami … Ayahmu mengkhianatiku, dan sekarang kau memihaknya?!!!”

“Bukan begitu, omma .. “ Si-Hwan kembali mendesah. Dia bermaksud menenangkan Nyonya Goo dengan cara menyentuh tangannya, tapi segera ditepis wanita itu.

“Jangan menyentuhku!!!”

“Omma, … dengarkan dulu penjelasanku, … yang sebenarnya adalah .. “

“Omma tidak ingin dengar!!” potong Nyonya Goo tegas. Tampangnya yang berang seakan ingin menelan Si-Hwan hidup-hidup. “Semula omma mengira, dengan pertemuan kita, .. merupakan keberuntungan terbesar bagi omma. Omma bisa menebus kesalahan padamu, .. karna membiarkanmu hidup sendirian sejak bayi, dan tidak mampu memberi kasih sayang seorang ibu yang kau butuhkan telah membuat omma menyesal dan selalu menyalahkan diri sendiri, .. omma sangat bahagia—sungguh-sungguh sangat bahagia, .. tapi ternyata—kau sama saja dengan abojimu!! Hanya bisa menyalahkanku, .. mencemoohku sebagai istri tidak baik—hanya mementingkan diri sendiri dan tidak memperhatikan kepentingan keluarga. Setiap hari kerjanya hanya berjudi dan mabuk-mabukan, tapi lihat—dia yang telah mengkhianatiku duluan!! Dengan alasan-alasan yang memuakan itu, dia mendepak-ku keluar dari keluarga Lee dan sekarang … , dia hidup bahagia dengan adik sepupunya itu—yang berulangkali ditegaskan ‘Hanya  sekedar adik sepupu’ baginya!!!”

“Omma .. “ Si-Hwan tidak mampu meneruskan perkataannya. Pandangannya hanya mampu bertemu tatapan Nyonya Goo dalam kebisuan. Dia tahu, .. berkata apapun sudah tidak ada gunanya lagi sekarang. Nyonya Goo tidak akan mendengarnya.

Min-Chan yang sejak tadi berdiri dengan sepasang tangan terlipat di depan dada sambil menatap ommanya, mengalihkan perhatian kepada Si-Hwan. Dalam otaknya, berkelebat seribu satu pertanyaan. Namun, alis yang berkerut sangat dalam, dan otak yang penuh itu tidak menjadikannya mengeluarkan sepatahpun.

Lalu, … bagaimana dengan Sun-Hye?

Gadis mungil itu berdiri termangu, menatap satu-satu tiga orang yang berada di sekelilingnya, silih berganti. Untuk pertama kalinya Sun-Hye melihat nenek tirinya, Nyonya Goo, semurka ini. Sepasang tangan yang terkepal erat tersebut menunjukan kemarahan wanita itu. Sepasang mata yang merah dan menjatuhkan airmata merupakan saksi dari sakit hatinya. Hati yang mungkin terasa terkhianati—hati yang mungkin terasa terbuang, dan kini baru diketahui kebenarannya. Sebagaimana sakitnya itu? Sun-Hye tidak mampu membayangkannya.

Sedangkan Si-Hwan, .. samar-samar, Sun-Hye seperti dapat menangkap maksud yang tersembunyi dibalik tindakan pemuda itu. Adakah rahasia yang disengaja? Yang tidak mungkin, .. bahkan tidak boleh diungkapkannya? Sekalipun kepada omma kandungnya ini? Karna dengan begitu, masalah tersebut akan lebih rumit,.. seperti sekarang? … Tapi, apa itu? Bukankah menyembunyikan pengkhianatan abojinya, justru akan membuat ommanya membencinya?

Lambat-lambat, .. Sun-Hye mengalihkan perhatian pada Min-Chan. Alisnya berkerut perlahan. Ingin sekali dia tahu—apa yang sedang dipikirkan pemuda itu sekarang. Raut Min-Chan terlihat sangat datar, .. tapi dibalik itu—Sun-Hye seakan melihat kepedihan yang mendalam. Tapi kenapa? Sun-Hye menghembuskan nafasnya keras-keras. Persetan! Saya tidak mau berhubungan lagi dengan pemuda angkuh ini! Apapaun itu—dia merupakan orang yang paling dicurigai atas kematian haraboji!!

“Orang yang paling memahami omma .. hanya Chan seorang … ,” Nyonya Goo mendesis lirih. “Dari dulu sampai sekarang … hanya Chan seorang … “ Nyonya Goo mundur perlahan.

“Omma … “ Si-Hwan mencoba bersuara. Kakinya bergerak ke depan, bermaksud menghampiri Nyonya Goo, tapi segera ditahan oleh wanita yang terlihat sangat terguncang itu.

“Tidak!!” Nyonya Goo mengangkat tangannya. “Jangan mendekat! Omma tidak ingin melihatmu, dan juga tidak ingin mendengar penjelasanmu!”

Nyonya Goo memutar badannya, lalu berlari ke pintu—keluar dari ruang duduk itu.

“Omma!!” teriak Min-Chan dan Si-Hwan bersamaan. Namun pintu itu sudah ditutup oleh Nyonya Goo.

Min-Chan berpaling pada Si-Hwan. Suaranya terdengar dingin ketika berucap. “Saya tidak akan memaafkanmu kalau terjadi sesuatu pada omma .. “ Tatapan Min-Chan menusuk, .. seolah menyakinkan—dia mampu melakukan ancamannya.

Lalu perlahan-lahan, tatapan itu beralih pada Sun-Hye. “Selesai dinner, ke kamarku malam ini. Ada yang ingin kubicarakan denganmu .. “

“Hah?!!”

Belum selesai keterkejutan Sun-Hye, Min-Chan sudah berlalu kearah pintu.

“Hey?!!”

Min-Chan tidak menghiraukan Sun-Hye. Dengan tenang dibukanya pintu di depannya, kemudian berjalan keluar.

“PAMAN CHAN!!” Sun-Hye memanjangkan bibirnya, kesal. “Apa-apaan sih?!! HUH—memerintah seenak perutnya!!”

Sun-Hye menoleh dengan cepat kearah Si-Hwan, .. dipelototinya Si-Hwan yang saat itu kebetulan menatapnya.

“Adik kakak—sama saja!!” Sun-Hye mengerutu kesal.

Si-Hwan hanya mengangkat pundak, kemudian menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Dia terlihat malas meladeni Sun-Hye sekarang. Tidak biasanya, mengingat dia tidak pernah mau kalah dari Sun-Hye.



__________ oOo ____________      




Rembulan merayap semakin tinggi, bergerak seolah menyibak gumpalan awan gelap yang tebal diterbangkan angin. Si-Hwan duduk menengadah dengan sepasang kaki terjuntai lemah pada pinggiran pagar beton yang memugari air mancur kecil di taman belakang Goo's Mansion. Sesaat sepasang kaki panjang tersebut digoyang-goyangkan, namun sebentar kemudian, sudah berhenti sama sekali. Terbujur kaku menatap gumpalan awak yang berarak lambat.

"Ada yang menarik?"

Pertanyaan agak lantang yang datangnya dari belakang, mengejutkan Si-Hwan. Dia menoleh dengan cepat.

"Kau?!!" Alis Si-Hwan terangkat sedikit. "Belum tidur jua? Buat apa kemari?"

Sun-Hye mencibir. Lehernya yang tadi agak dipanjangkan dengan posisi sedikit menengadah, ditariknya kembali. Dengan langkah lebar, dia mendekati Si-Hwan. Dan tanpa memperdulikan pandangan berkenyit dari pemuda di depannya, .. Sun-Hye menyandarkan punggungnya di dinding pagar beton—terbalik dari posisi Si-Hwan. Sun-Hye menghadap ke jalan setapak, sedangkan Si-Hwan menghadap ke air mancur dalam taman.

"Masih merisaukan kejadian tadi sore .. ?" tanya Sun-Hye seakan tak perduli, sambil ikut melayangkan pandangannya ke cakrawala kelam di atas sana. Sementara tangannya yang memegang gelas, mengenggam erat.

"Hmm---"

Agak aneh mendengar sahutan yang berupa deheman pendek dari Si-Hwan. Detektif yang biasanya urakan dan seenaknya ini, menyendirikan diri dan menunjukan rasa perduli terhadap sesuatu di luar kasus yang diselidikinya? Sun-Hye berpaling dan mengerutkan alisnya.

"Hmm--? Hanya itu jawabanmu?"

Si-Hwan menghela nafas dan mengalihkan perhatian ke air mancur yang memercik dan beriak kecil di bawah kakinya.

"Heran .. ," ujar Sun-Hye yang tiba-tiba mengulum senyum. " .. sejak kapan kau perduli akan perasaan orang .. ?"

"Mwo?" Si-Hwan mengangkat kepala, dan menopang dagu dengan tangan yang bertumpu pada kakinya. "Mworagu?"

"Biasanya, .. kau kan hanya perduli pada penyelidikanmu," ejek Sun-Hye. "Mana pernah kau memperhatikan perasaan orang. Ingat bagaimana .. dengan seenak perutnya kau mengaku sebagai pacarmu? Apa kau pernah minta persetujuanku untuk itu? Aniyo. Dan juga memaksa untuk tinggal di sini dengan alasan yang .. yang tidak masuk akal--hanya untuk meluruskan penyelidikanmu …"

"Yaa--Goo Sun Hye!!" Si-Hwan menegur Sun-Hye dengan mendorong pundaknya, yang menyandar di pagar beton, dengan agak kesal. “Semua demi kau, tahu?”

Sun-Hye tertawa. Gelas yang sejak tadi digenggamnya, disodorkan pada Si-Hwan. "Nih--"

"Apa?" tanya Si-Hwan heran. Tapi lebih dari itu, tangannya bergerak juga menerima gelas dari tangan Sun-Hye.

"Coffee .. ," jawab Sun-Hye sambil menyapu-nyapukan telapak tangannya yang tertempeli pasir dan abu beton.

"Coffee?" Iris Si-Hwan melebar. "Yaa--Goo Sun Hye!!" teriaknya keras. "Saya tidak suka kopi, tahu?!!!"

Jidat Sun-Hye mengerut. "Tidak tahu!" sahutnya seketika. "Lagipula, .. kopi itu bukan kubuat khusus untukmu. Semula aku membuatnya untuk diriku sendiri. Tapi melihat tampangmu yang memprihatinkan, ya sudah--kurelakan untukmu. Tapi lihat, apa balasanmu?"

"Ho-ho!" Si-Hwan berdecak. "Saya mau coklat panas .. ," tandasnya tegas.

"Tidak ada!" sahut Sun-Hye sambil melangkahkan kakinya menjauhi Si-Hwan, mengarah ke pintu masuk yang terletak di belakang Goo's Mansion yang remang diterangi lentera dinding kecil. Masih ada yang mesti dilakukannya sebelum pukul sembilan, dan dia tidak boleh terlambat. Dia ingin tahu, apa yang akan dikatakan Min-Chan padanya.

"Hoy!! Begini caramu menghiburku?!!" teriak Si-Hwan.

"Masa bodoh!!"

Bumm!! Pintu yang menghadap ke taman dengan corak klasik modern itu terhempas dengan keras. Sosok Sun-Hye menghilang seiring tertutupnya pintu tersebut. Si-Hwan masih duduk di tempatnya dengan posisi--sedikit memutar ke arah Goo's Mansion. Perlahan gelas di tangannya diangkat, kemudian diteguknya cairan pekat dari dalamnya. Terasa sangat pahit.

"Huekk!!" Si-Hwan menjulurkan lidah panjang-panjang dengan reaksi jijik. "I hate coffee!!" Kemudian ditekannya gelas yang berisi kopi di tangannya keras-keras ke lantai beton.

Si-Hwan menerawangkan pandangannya ke atas langit. Beberapa menit berlalu dan, ... seulas senyum tipis samar-samar tersungging di bibir pemuda itu. "Goo Sun Hye .... ," desisnya halus. " .. menarik ... "



___________ oOo ____________
« Last Edit: August 21, 2011, 04:50:25 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death--sedikit spoilerrrr
« Reply #617 on: August 20, 2011, 04:40:15 am »
ini akibatnya kalau sedang males, ga mood, eneg, dll,, mian klu ga memuaskan [sweat] [sweat] , gw tahu jalan ceritanya makin ga jelas and membingungkan [rofl] [rofl] [rofl]

mohon saran and kritiknya ya,, yg pedes jg ga pa2 [biggrin] [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
minchan..  [what] [what] si hwan,,  [what] [what]
minchan..  [what] [what] si hwan  [what] [what]
minchan..  [what] [what] si hwan  [what] [what]
sun he cocok ma siapa ya??  [chin] [chin]
si hwan aja deh..... coz keseringan ma si hwan sih... lagian karakter si hwan yg tenang bikin ane jatcin, beda ama paman chan yang datar....

hoi hoi .... hidup DETEKTIF GADUNGAN....!!! [clap] detective detective detective [clap] [clap]

ada apa dengan si hwan?? apa udah mulai kesemsem ma sunhye?? [laughing] [hmpfh]



kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
minchan..  [what] [what] si hwan,,  [what] [what]
minchan..  [what] [what] si hwan  [what] [what]
minchan..  [what] [what] si hwan  [what] [what]
sun he cocok ma siapa ya??  [chin] [chin]
si hwan aja deh..... coz keseringan ma si hwan sih... lagian karakter si hwan yg tenang bikin ane jatcin, beda ama paman chan yang datar....

hoi hoi .... hidup DETEKTIF GADUNGAN....!!! [clap] detective detective detective [clap] [clap]

ada apa dengan si hwan?? apa udah mulai kesemsem ma sunhye?? [laughing] [hmpfh]


iya, dikit2 [hmpfh] [hmpfh] pan jarang2 tuh dia blg sunhye menarik [laughing] [laughing] [laughing]

horeeeee niat ane berhasil [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] whistling whistling

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
minchan..  [what] [what] si hwan,,  [what] [what]
minchan..  [what] [what] si hwan  [what] [what]
minchan..  [what] [what] si hwan  [what] [what]
sun he cocok ma siapa ya??  [chin] [chin]
si hwan aja deh..... coz keseringan ma si hwan sih... lagian karakter si hwan yg tenang bikin ane jatcin, beda ama paman chan yang datar....

hoi hoi .... hidup DETEKTIF GADUNGAN....!!! [clap] detective detective detective [clap] [clap]

ada apa dengan si hwan?? apa udah mulai kesemsem ma sunhye?? [laughing] [hmpfh]


iya, dikit2 [hmpfh] [hmpfh] pan jarang2 tuh dia blg sunhye menarik [laughing] [laughing] [laughing]

horeeeee niat ane berhasil [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] whistling whistling

niat apa mam?? niat buat nyatuin sihwan ma suh hye??  [hug]

hahaha...... ane setujuuuuuu dah.... paman chan maaf [sweat] [sweat]


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
mamiiiiiii...first of all...gumawo dh d update ya [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

sekarang komentnya :

pembicaraan antara sun hye & mr.moon bener2 bikin gw nahan nafas,mam...bacanya smpai berulang2,takut ada kata yg ktingggalan...coz paman chan yg jd topik utamanya [sweat]

tp,wlopn paman chan jd dcurigain...gw tetap suka ama karakter dia...misterius,susah dtebak...pokoknya bikin penasaran deh [biggrin]

si hwan...oh,si hwan...yg satu ini mlh mulai kyk kakaknya...ada perasaan suka ama sun hye ya bang??? [AddEmoticons04258]...sun hye,pesonamu mengalihkn dunia si kembar [hmpfh]

sukaaaa banget ama adegan trakhir wkt sun hye ngasih kopi ke si hwan...'kopi itu bukan kubuat khusus untukmu. Semula aku membuatnya untuk diriku sendiri. Tapi melihat tampangmu yang memprihatinkan, ya sudah--kurelakan untukmu' ...si hwan minta coklat panas,mlh dtolak mentah2...kacian,si hwan [hmpfh]

nah,yg bikin penasaran adlh...apa yg akan dkatakn oleh paman chan kpd sun hye??? apa paman chan mo mendeklarasikn rasa cintanya utk sun hye??? (kok,gw mlh mikirnya paman chan cemburu wkt liat sun hye & si hwan ngobrol beduaan ya??? [hmff])

lanjut,mam...ff ini beda dr yg lain...bikin penasaran (siapa pembunuh haraboji)...bikin geregetan (kisah anatara paman chan,sun hye & si hwan)...pokoknya asyik dh buat d ikuti...lanjutkn ya,mam [AddEmoticons04258]

HWAITING,mami!!! [AddEmoticons04262]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mamiiiiiii...first of all...gumawo dh d update ya [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

sekarang komentnya :

pembicaraan antara sun hye & mr.moon bener2 bikin gw nahan nafas,mam...bacanya smpai berulang2,takut ada kata yg ktingggalan...coz paman chan yg jd topik utamanya [sweat]

tp,wlopn paman chan jd dcurigain...gw tetap suka ama karakter dia...misterius,susah dtebak...pokoknya bikin penasaran deh [biggrin]

si hwan...oh,si hwan...yg satu ini mlh mulai kyk kakaknya...ada perasaan suka ama sun hye ya bang??? [AddEmoticons04258]...sun hye,pesonamu mengalihkn dunia si kembar [hmpfh]

sukaaaa banget ama adegan trakhir wkt sun hye ngasih kopi ke si hwan...'kopi itu bukan kubuat khusus untukmu. Semula aku membuatnya untuk diriku sendiri. Tapi melihat tampangmu yang memprihatinkan, ya sudah--kurelakan untukmu' ...si hwan minta coklat panas,mlh dtolak mentah2...kacian,si hwan [hmpfh]

nah,yg bikin penasaran adlh...apa yg akan dkatakn oleh paman chan kpd sun hye??? apa paman chan mo mendeklarasikn rasa cintanya utk sun hye??? (kok,gw mlh mikirnya paman chan cemburu wkt liat sun hye & si hwan ngobrol beduaan ya??? [hmff])

lanjut,mam...ff ini beda dr yg lain...bikin penasaran (siapa pembunuh haraboji)...bikin geregetan (kisah anatara paman chan,sun hye & si hwan)...pokoknya asyik dh buat d ikuti...lanjutkn ya,mam [AddEmoticons04258]

HWAITING,mami!!! [AddEmoticons04262]
ada yg mesti gw perbaiki,, sihwan tuh kakaknya minchan, n bukan sebaliknya [whip] [whip] akit? [hmpfh]
sihwan pan suka ama coklat n bukan kopi, makanya dia minta coklat panas ke sunhye [AddEmoticons04258] nah, klu sunhye--mana mau diperintah lagi ama sihwan [nono] udah bagus, dia nawarin kopi, eh ini malah minta coklat. alias kata pepatah, udah dikasi jantung, masih minta ati [hmff] [hmff] [hammer3]

ttg pembicaraan chan2 ama sunhye, nantikan aja di chp berikutnya [AddEmoticons04258] [AddEmoticons04258]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
minchan..  [what] [what] si hwan,,  [what] [what]
minchan..  [what] [what] si hwan  [what] [what]
minchan..  [what] [what] si hwan  [what] [what]
sun he cocok ma siapa ya??  [chin] [chin]
si hwan aja deh..... coz keseringan ma si hwan sih... lagian karakter si hwan yg tenang bikin ane jatcin, beda ama paman chan yang datar....

hoi hoi .... hidup DETEKTIF GADUNGAN....!!! [clap] detective detective detective [clap] [clap]

ada apa dengan si hwan?? apa udah mulai kesemsem ma sunhye?? [laughing] [hmpfh]


iya, dikit2 [hmpfh] [hmpfh] pan jarang2 tuh dia blg sunhye menarik [laughing] [laughing] [laughing]

horeeeee niat ane berhasil [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] whistling whistling

niat apa mam?? niat buat nyatuin sihwan ma suh hye??  [hug]

hahaha...... ane setujuuuuuu dah.... paman chan maaf [sweat] [sweat]

bukan. tp niat tersembunyi ane--ternyata berhasil. byk yang berubah haluan dari pendukung chan2 jd pendukung hwan2 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline My My

  • Junior
  • **
  • Posts: 165
    • View Profile
Saatnya Coment

Bacanya dah dr tadi,,tp ru sempet koment

"Goo Sun Hye,,,"
",,menarik,,," Si hwan dah mulai tertarik ma Sun Hye pan mam??

Ntu Min chan mw ngomongin apaan ma Sun hye

Pada curiga ma paman Chan ya?? Kalau ane malah curiganya ama Ny. Goo Muda Hmpfh,,,,,

"Berjanjilah,,sampai saat itu tiba,,kau akan tetap tersenyum,,"Apa maksud Si hwan ngmong githu ya???

Lee Min Chan yg LEGOWO ya,,hmpfhhh

Mami byk pertanyaan,,di jawab ya,,N Next Chapt jngan Lama2


HWAITING!!!!!!!!!!

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Saatnya Coment

Bacanya dah dr tadi,,tp ru sempet koment

"Goo Sun Hye,,,"
",,menarik,,," Si hwan dah mulai tertarik ma Sun Hye pan mam??

Ntu Min chan mw ngomongin apaan ma Sun hye

Pada curiga ma paman Chan ya?? Kalau ane malah curiganya ama Ny. Goo Muda Hmpfh,,,,,

"Berjanjilah,,sampai saat itu tiba,,kau akan tetap tersenyum,,"Apa maksud Si hwan ngmong githu ya???

Lee Min Chan yg LEGOWO ya,,hmpfhhh

Mami byk pertanyaan,,di jawab ya,,N Next Chapt jngan Lama2


HWAITING!!!!!!!!!!
gw lum tahu apa maksud sihwan ngomong gitu ama sunhye #gubrakk,, lum kepikiran, neng [sweat] pelan2 aja dulu ye [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mian, ada sdkt kesalahan pengetikan,, seharusnya nyonya goo blg kendepaknya keluar dr kluarga lee, and bkn goo,,, tar gw perbaiki ya?

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
ehm... jadi nyonya goo pisah ma suaminya gara2 suaminya selingkuh? emang sih... aku juga akan sakit hati kalao digituin... jadi kasihan ma min chan... selama ini pan dia jadi saksi penderitaan ommanya... tapi makin salut ma dia, walau pun dia dingin, tapi masih perduli pada ibunya...  [lovestruck] [lovestruck]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
minchan..  [what] [what] si hwan,,  [what] [what]
minchan..  [what] [what] si hwan  [what] [what]
minchan..  [what] [what] si hwan  [what] [what]
sun he cocok ma siapa ya??  [chin] [chin]
si hwan aja deh..... coz keseringan ma si hwan sih... lagian karakter si hwan yg tenang bikin ane jatcin, beda ama paman chan yang datar....

hoi hoi .... hidup DETEKTIF GADUNGAN....!!! [clap] detective detective detective [clap] [clap]

ada apa dengan si hwan?? apa udah mulai kesemsem ma sunhye?? [laughing] [hmpfh]


iya, dikit2 [hmpfh] [hmpfh] pan jarang2 tuh dia blg sunhye menarik [laughing] [laughing] [laughing]

horeeeee niat ane berhasil [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] whistling whistling

niat apa mam?? niat buat nyatuin sihwan ma suh hye??  [hug]

hahaha...... ane setujuuuuuu dah.... paman chan maaf [sweat] [sweat]

bukan. tp niat tersembunyi ane--ternyata berhasil. byk yang berubah haluan dari pendukung chan2 jd pendukung hwan2 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

gimana gk pindah haluan... sunhye keseringan ma sihwan sih...... aduh... jangan bikin bingung lagi ye mam.... ntar pindah haluan lagi.... tapi mending ma sihwan aja deh...


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Semakin misterius aja neh Luph...makin bingung aja neh. Min Chan kan yang membunuj harabojinya, karena dia ternyata dapet bagian dari wasiat itu> Tapi buat apa dia membunuh kalau toh dia dapet bagian? Apa dia mau makin cepet kebagian??
Trs si Si Hwan juga kenapa nyimpen rahasia tentang tentang Abojinya ke ibunya??
Si Sun hye pasti tambah prustasi tuh, karena masih kusut aja tuh kasus siapa yg membunuh Harabojinya....

Ditunggu lanjutannya lagi ya Luph...don't take too long pleaseeee.... [bored]