Poll

tolong vote buat polling di bawah ini! kira-kira hubungan sun-hye mau dikemanain? hehe

dipasangkan ama si-hwan
6 (16.7%)
dipasangkan ama min-chan
27 (75%)
tetep ama geun-suk
0 (0%)
ribet. sendirian aja deh
3 (8.3%)

Total Members Voted: 31

Author Topic: The Sounds of death--CHAPTER 10--8/4/12  (Read 20490 times)

Offline windayesg

  • Newbie
  • *
  • Posts: 42
  • cutie~
    • View Profile
Re: The Sounds of death--CHAPTER 9 UPDATED! #15 Jan'12
« Reply #675 on: January 23, 2012, 08:39:50 pm »
baru sempet baca [biggrin]

makin pnasaran jd siapa
yg bunuh haraboji??

Msih bnyak Rahasia  ya mi  [biggrin] [hmpfh] ato jangan2 paman chan yg ngeracun haraboji??  [AddEmoticons04220]

tp itu endingnya ngenes bgt ya ada seukie, minta di [head break] ama twins [hmff]

gumawo mam,, lanjut  [smiley-gen013]
sekrg yg terpenting bagi gw adalah bgmn menghidupkan karakter2 dlm ff ini. sapa yg menjadi pembunuh haraboji, sebaiknya dipikirin nanti2 aja [laughing] [laughing]

ngidupin pake batre aja mi  [hmff] [hmpfh] [heh]

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Re: The Sounds of death--CHAPTER 9 UPDATED! #15 Jan'12
« Reply #676 on: January 28, 2012, 05:33:01 am »
Sorry Luph, baru bisa komen sekarang...

Mianee... [bored]...

Jadi paman Min Chan sebenernya terlibat ngga sih? Curiga nih dengan kata2 si pengacara yang terakhir...Kayanya misterius banget...Gue rada ngga ngerti, omma mereka kok marah yah ama Si Hwan?? Salah apa sih dia?  kasian. Udah dipisahkan dari ibunya, sekarang ibunya malah gak percaya ama dia...

Ditunggu lagi yah lanjutannya....

Trimss..... [arms] [arms] [arms] [arms]


Offline My My

  • Junior
  • **
  • Posts: 165
    • View Profile
ini kapan update [what] [what] [what] [what] [what] #pasangmukapolos

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ini kapan update [what] [what] [what] [what] [what] #pasangmukapolos
kapan kapan ya [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Spoiler ...



****!!”Geun-Suk mengampar lantai. Menggunakan tangan untuk menyangga tubuhnya, dia bermaksud bangkit dari posisinya, namun gerakan tersebut terhenti begitu dirasa nyeri yang teramat sangat langsung menyerang bagian perutnya.  Geun-Suk menahan nafas, dan mengarahkan pandangan kepada Si-Hwan. Tampangnya berubah berang. Bibir Geun-Suk mengeluarkan desisan tajam begitu melihat siapa yang memukulnya.

“KAU__!!” Geun-Suk menunjuk Si-Hwan berapi-api. “Sejak pertama aku sudah tahu kau akan menjadi penghalang!!”

Si-Hwan mengenyitkan alisnya menatap Geun-Suk tidak mengerti. Tersirat pertanyaan dari sorot matanya yang tajam dan menusuk, tidak kalah dari Geun-Suk yang saat ini seakan ingin menelannya bulat-bulat, namun sikap Si-Hwan yang tenang tetap tidak berubah_sedikitpun.

“Benar bukan dugaanku?” Geun-Suk menyengir sinis. Dia beralih pada Sun-Hye yang menatapnya ngeri. “Begitu, Goo Sun-Hye? Tidak cocok denganku, hah?!!”

“Aku tidak mengerti maksudmu, tuan!!” tukas Si-Hwan sengit. “Dan aku juga tidak ingin mengerti!!” lanjutnya dengan nada ditinggikan. “Yang kutahu, kau melanggar batas pribadi, dan kami bisa menuntutmu untuk itu!!”

Geun-Suk mencibir. Dengan agak susah payah dia bangkit dan meludah ke lantai.

“CIH!! Kau kira aku takut?!!” Tiba-tiba Geun-Suk mendorong Si-Hwan dan memojokkannya sampai menabrak dinding. “Kau yang seharusnya dituntut buat perbuatanmu yang tidak tahu malu!!






Sampai di depan pintu warna coklat gelap, Sun-Hye menghentikan langkahnya. Matanya menatap lekat pintu yang terpoles mengkilap di depannya. Nafas dihembuskannya kuat-kuat seolah-olah untuk mengapai kekuatan yang diperlukannya saat ini. Sun-Hye mengepalkan tangan dan meraih gagang pintu. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Sun-Hye mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci itu sampai terpentang lebar.

"Paman Chan!! Ada yang tidak .... " Teriakan Sun-Hye memelan, dan hanya sampai setengahnya ketika terputus dan hilang begitu saja. Mulut Sun-Hye terbuka perlahan-lahan, ... terkunci dalam diam.

Mata bulat besarnya melebar. Pemandangan di depan bukan hanya tidak cukup digambarkan dengan kata-kata bagi Sun-Hye, namun ... lebih dari itu, dan sangat mengejutkan. Bukan tubuh jangkung dengan posisi memunggunginya itu yang membuatnya terpana dan membujur kaku, namun kulit kecoklatan tersebut dipenuhi goretan-goretan tebal menonjol yang mirip urat-urat bersilangan di sekujur tubuh yang membuatnya mengigil seakan kedinginan. Bulu kuduk Sun-Hye meremang. Tanpa sadar, Sun-Hye menurunkan tangannya yang sempat menutupi mulut, menekan dadanya, lalu mundur selangkah. Sampai menyenggol daun pintu hingga menimbulkan bunyi 'BUM' cukup keras.

Pemilik tubuh jangkung dengan kemeja yang masih bergantung di sepasang lengan kokohnya tersebut membujur sesaat. Min-Chan tidak bergerak dalam hitungan detik. Merasakan pandangan menerpa punggungnya, secepat kilat, ditariknya kemeja hingga menutupi seluruh badannya. Min-Chan berbalik dan mengenyitkan alis.

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Dindin

  • Newbie
  • *
  • Posts: 76
    • View Profile
Re: The Sounds of death--SPOILER--
« Reply #680 on: April 04, 2012, 05:20:39 pm »
Ada spoiler lagi, udah jangan lama" mi update langsung [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death--SPOILER--
« Reply #681 on: April 06, 2012, 09:14:43 pm »
Spoiler ke-2 ...



Si-Hwan mengelus-ngelus dagunya dan mendengarkan dengan seksama. Kata-kata terakhir Sun-Hye terpatri erat dalam otaknya. Ternyata Sun-Hye mempunyai penafsiran yang tidak bisa dikatakan lemah.

"Jadi menurutmu, .. ada kemungkinan Geun-Suk melakukannya?"

Pertanyaan Sun-Hye membuat Si-Hwan melebarkan matanya.

"Dia punya kesempatan itu, bukan?"

Si-Hwan menghela nafasnya. Dia tidak menjawab pertanyaan Sun-Hye. Dengan agak pelan, Si-Hwan mengeser kakinya.

"Jika saja malam itu dia datang dengan maksud tertentu, berarti dia punya kesempatan itu ... ," Sun-Hye bergumam pelan, " ... dia pasti sudah mempersiapkan segalanya, .. kira-kira kapan kopi haraboji akan dibuat, bagaimana kopi itu disajikan dan dibawa ke kamar kakek, waktu haraboji akan meminumnya dan ... kapan racun tersebut bereaksi. Kemungkinan besar, Geun-Suk sudah mempersiapkan alibinya pada saat ajal haraboji menjelang ... "




Sun-Hye kembali menurunkan pandangannya ke balik punggung Min-Chan, dan reaksi kecil ini berhasil tertangkap penglihatan Min-Chan.

Min-Chan membujurkan badannya dan berdiri dari ranjang. “Kau boleh pergi!”

“MWO?!” Sun-Hye terlonjak kaget. “Paman Chan!”

“Jika kedatanganmu hanya bermaksud membisu seperti ini, sebaiknya kau pergi!” Min-Chan mengerakan tangannya kearah pintu.

“Paman Chan!” Sun-Hye melompat dari duduknya. “Aku .. “

“Pergilah!” lanjut Min-Chan dengan nada yang terdengar tak bertenaga.

Sun-Hye mengamati Min-Chan. Dia tidak main-main … Sun-Hye menahan nafas. Min-Chan serius dengan ucapannya, dia bahkan tidak melihat kearah Sun-Hye.




"Kau bilang pot bunga itu berada di tempatnya seperti biasa?"

Pelayan itu berpikir sebentar kemudian mengangguk lambat-lambat. "Ne ... "

"Setelah itu, entah mengapa 'dia' berpindah tempat?"

Pelayan tersebut mengangguk-angguk kembali. "Ne, agashi .. "

"Jadi, ... ada jangga waktunya .. pot bunga tersebut tiba-tiba berpindah tempat, bukan?" Sun-Hye berkata pelan-pelan supaya si pelayan tidak bingung dan dapat mengerti.

Pelayan itu mengangkat kepalanya dan terlihat berpikir keras. Tangannya mengaruk-garuk kepala membuat rambutnya yang tersanggul ke atas jadi berantakan. Beberapa menit berlalu ketika dia berkutat dengan pikirannya yang terasa buntu. Akhirnya dia mengangguk-angguk, seolah-olah sudah menangkap maksud pertanyaan Sun-Hye.

"Kau mengerti?!" Sun-Hye sedikit memiringkan kepalanya.

"Ne .. ne ... "

"Jadi kemana kau pada saat itu?" selidik Sun-Hye.





Waktu berkelebat dengan sangat lamban ketika Sun-Hye menjatuhkan kakinya di lantai bawah. Mata bulatnya jelalatan ke kanan dan kiri. Tidak dilihatnya seorang pun! Dia menghembuskan nafas dan terburu-buru berlari dengan tanpa suara ke ruang kerja haraboji yang terletak di bagian belakang. Sun-Hye membuka pintu dengan sangat pelan. Penerangan yang berasal dari dalam ruangan langsung menyapa pandangannya. Mata Sun-Hye membulat.

Ada orang dalam ruangan?!

Sun-Hye membentangkan pintu lebar-lebar. Cahaya kelabu redup dari lampu kerja haraboji membuatnya sedikit mengejapkan matanya. Untuk beberapa detik, barulah mata Sun-Hye terbiasa dengan cahaya redup yang sempat mengiris selaput matanya tersebut.

Sun-Hye telonjak kaget. Orang yang berada dalam ruangan, yang sedang menghadap kearahnya saat ini, berdiri di belakang meja sambil menenteng sebuah buku yang terbuka di tangannya. Dia menatap lekat Sun-Hye dengan keterkejutan kentara yang tidak mampu disembunyikan dari wajahnya. Sun-Hye membujur kaku seketika. Tidak menyangka sosok ini yang akan didapatkannya berada dalam ruang kerja harabojinya. Di malam selarut ini?

"Kau .... " Sun-Hye menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa ... " suaranya bergetar ketika menyapu iris gelap yang agak tersembunyi dibalik rambut yang terjuntai lemah.

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
Re: The Sounds of death--SPOILER KE-2--
« Reply #682 on: April 07, 2012, 03:22:22 am »
Mom,,,, Update dah ayo.... lama bner,,, ampe ada sop iler 2,,,, kira2 dalam 3 hari ke depan bakal update gak ya???  [heh] [heh]

nah ini bntar lagi bakal ketahuan siapa pembunuh haraboji...


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death--SPOILER KE-2--
« Reply #683 on: April 08, 2012, 06:51:25 am »
CHAPTER 10






Kilasan chapter lalu …

“Sun-Hye.”

Sapaan itu menghentikan langkah Sun-Hye di depan pintu kamar. Sun-Hye mengenyitkan alis, terpekur begitu mengenali pemilik suara itu.

“Jang Geun Suk .. “ Sun-Hye mendesis halus. Reflek, tangannya menarik gagang pintu.

“Tunggu sebentar!!” Terlambat! Sebuah tangan kekar mencengkram tangannya.

“Akhhh!!!” Sun-Hye menjerit. Tubuh raksasa yang sangat ditakutinya semenjak kejadian ‘laknat’ yang memuakkan di ruang tamu bawah itu sudah menghadang jalannya. “Paman Channnn!!!!” Untuk saat ini, entah kenapa, hanya nama itu yang terpikirkan oleh Sun-Hye.




Bukan keinginan Geun-Suk ketika tubuh mungil Sun-Hye terhempas keras mengenai pintu. Sun-Hye meringgis, dia kembali menjerit namun kalah cepat oleh tangan Geun-Suk yang segera membekap mulutnya.

“Dengarkan dulu aku, Sunhye-a!”

“HMMM!!!”

Sun-Hye meronta keras. Sepasang matanya terbelalak lebar, ketakutan, ... sekuat tenaga dia mengerahkan kekuatan untuk teriak namun suaranya tertekan di tenggorokan, tidak keluar akibat bekapan Geun-Suk. Sun-Hye mengerakan tangan dan kakinya membabi-buta, berulangkali mencakar dan menampar, berusaha keras melarikan diri dari cengkraman Geun-Suk.

Geun-Suk menghembuskan nafasnya berat-berat ketika sebuah tamparan mendarat di wajahnya. Mata Sun-Hye terbelalak, dia tidak menyangka rontaannya akan berakibat begini. Pipi Geun-Suk memerah bekas keberingasannya. Geun-Suk mendengus, merah padam.

Tanpa sadar, Geun-Suk mempererat cengkramannya pada punggung Sun-Hye. Tangan kanannya menekan tubuh Sun-Hye hingga terhimpit ke dinding. Bekapannya terlepas, dan Sun-Hye memanfaatkan kesempatan ini untuk berteriak untuk kedua kalinya. “PAMAN CHAN!!”

BUKKK!!

"AKHH!!!" Sun-Hye menjerit. Badannya oleng hingga melorot jatuh ke lantai.

Mata Sun-Hye terbelalak. Dia melihat Geun-Suk tersungkur ke lantai sambil memegangi perutnya. Sun-Hye membekap mulut dengan tangannya, .. perlahan-lahan kepalanya diangkat, dan dia melihat Si-Hwan sudah berdiri di situ—menjulang kaku dengan kepalan terkepal erat, tepat di depan Geun-Suk.

“Hwan … ?” Sun-Hye berucap lirih. Bibirnya digigit untuk menahan isak  yang hampir membludak dari mulutnya.

“Kau siapa? Dan mau apa?” tanya Si-Hwan dingin, pada Geun-Suk yang terkapar menahan sakit di tempatnya. “Apa yang kau lakukan di tempat ini?”

****!!”Geun-Suk mengampar lantai. Menggunakan tangan untuk menyangga tubuhnya, dia bermaksud bangkit dari posisinya, namun gerakan tersebut terhenti begitu dirasa nyeri yang teramat sangat langsung menyerang bagian perutnya.  Geun-Suk menahan nafas, dan mengarahkan pandangan kepada Si-Hwan. Tampangnya berubah berang. Bibir Geun-Suk mengeluarkan desisan tajam begitu melihat siapa yang memukulnya.

“KAU__!!” Geun-Suk menunjuk Si-Hwan berapi-api. “Sejak pertama aku sudah tahu kau akan menjadi penghalang!!”

Si-Hwan mengenyitkan alisnya menatap Geun-Suk tidak mengerti. Tersirat pertanyaan dari sorot matanya yang tajam dan menusuk, tidak kalah dari Geun-Suk yang saat ini seakan ingin menelannya bulat-bulat, namun sikap Si-Hwan yang tenang tetap tidak berubah_sedikitpun.

“Benar bukan dugaanku?” Geun-Suk menyengir sinis. Dia beralih pada Sun-Hye yang menatapnya ngeri. “Begitu, Goo Sun-Hye? Tidak cocok denganku, hah?!!”

“Aku tidak mengerti maksudmu, tuan!!” tukas Si-Hwan sengit. “Dan aku juga tidak ingin mengerti!!” lanjutnya dengan nada ditinggikan. “Yang kutahu, kau melanggar batas pribadi, dan kami bisa menuntutmu untuk itu!!”

Geun-Suk mencibir. Dengan agak susah payah dia bangkit dan meludah ke lantai.

“CIH!! Kau kira aku takut?!!” Tiba-tiba Geun-Suk mendorong Si-Hwan dan memojokkannya sampai menabrak dinding. “Kau yang seharusnya dituntut buat perbuatanmu yang tidak tahu malu!!”

Si-Hwan mencekal dan menghempas tangan Geun-Suk yang sudah berniat memelintir lehernya hingga membentur dinding di sebelahnya. Dengan satu gerakan yang teramat gesit, Si-Hwan mengunci Geun-Suk ke belakang.

“Aku tidak ingin berdebat dengan orang sepertimu!!” Si-Hwan berkata dengan nada dingin di dekat telinga Geun-Suk. “Dan sekali lagi kukatakan, aku tidak mengerti maksudmu!!”

Si-Hwan mendorong Geun-Suk hingga hampir mencium lantai. Susah payah Geun-Suk menjaga keseimbangannya dan memutar tubuh mempelototi Si-Hwan. Tampang Geun-Suk merah padam. Giginya bergemelatuk keras ketika berkata dengan beringas.

"KAU--bajingan!!" Geun-Suk mengepalkan tangan dan melayangkannya ke Si-Hwan. Si-Hwan berdeham pelan dan mundur beriringan beberapa langkah sehingga terhindar dari serangan Geun-Suk. Dengan satu gerakan berputar, dia menjatuhkan Geun-Suk ke lantai.

"Aku tidak ingin berdebat denganmu, tuan!" kata Si-Hwan dingin, sambil berdiri menantang di depan Geun-Suk. "Jika tidak ada urusan penting, sebaiknya anda segera meninggalkan tempat ini!!"

Si-Hwan menoleh ke arah Sun-Hye. "Kau mengenalnya, SunHye-a?" tanya Si-Hwan sambil mengenyitkan sedikit jidatnya.

Sun-Hye mengigit bibir, berdesis ingin mengatakan sesuatu namun suaranya tidak mampu dikeluarkan. Sun-Hye kemudian mengeleng keras-keras.

"Ada keperluan dengannya?" lanjut Si-Hwan.

Sun-Hye kembali mengelengkan kepalanya. Dengan susah payah dia membuka mulut, .. suaranya keluar agak melengking dan parau.

"A ... aku .. tidak  .. ingin berurusan .. dengannya ... lagi ..."

"Goo Sun-Hye!!" Geun-Suk menyela seketika. Matanya terbelalak menatap Sun-Hye.

"Pergilah, .... pergi sekarang juga ... ," desis Sun-Hye sambil mendekap dadanya menahan sakit dan takut yang dirasakannya saat ini.

Geun-Suk terdiam, .. termenung menatap Sun-Hye seolah-olah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. "Tunggu sebentar! Ada yang ingin kubicarakan denganmu!" sahut Geun-Suk.

Sun-Hye menutup telinganya rapat-rapat. "TIDAK!! Apapun yang kau katakan aku tidak ingin dengar!! Pergilah! Enyah dari sini!!" Sun-Hye menunjuk lorong yang terhubung ke pintu luar. "PERGI SEKARANG JUGA, JANG GEUN SUK!!!"

"Sunhye-a!" Geun-Suk mengulurkan tangan bermaksud menyentuh Sun-Hye namun gadis itu langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan berteriak keras.

"PERGIIII!!!"

"Sunhye ... ?" Geun-Suk terperangah. Tangannya yang terhenti di tengah jalan bergantung lemah.

"Jangan membuat onar lagi!"

"AKH!!" Teriakan Geun-Suk terdengar ketika Si-Hwan secara mendadak memelintir tangannya ke belakang kepala.

"Kau mau apa?!!" dengus Geun-Suk geram sambil mempelototi Si-Hwan. Sepasang matanya seolah-olah sudah hampir meloncat keluar dari rongganya saking marah dan murkanya terhadap Si-Hwan.

"Aku ingin kau pergi!" Si-Hwan mendorong Geun-Suk hingga terselungkup ke lantai. Geun-Suk mengeram, dengan sekali loncat, dia sudah mengayunkan tangannya kearah wajah Si-Hwan, tapi salah dugaan Geun-Suk jika mengira Si-Hwan akan mudah dilumpuhkan. Si-Hwan bergerak gesit, menunduk dan melayangkan tinjunya ke perut Geun-Suk.

"AKHHH!!" Sekali lagi Geun-Suk berteriak kesakitan.

Si-Hwan akan melancarkan serangannya kembali ketika terdengar teriakan Sun-Hye.

"CUKUP!!! Hentikan!!"

Si-Hwan menoleh pada Sun-Hye.

"Usir dia pergi dari sini .. ," sinar mata memohon dari Sun-Hye.

Si-Hwan mengayun tangan Geun-Suk ke belakang lalu mendorongnya ke arah pintu.

"Pergi sekarang juga!!"

BRAKKK!! Tubuh Geun-Suk terhempas menerpa pintu. Dia meringgis, merangkak bangun dengan berpegangan pada pinggir pintu.

"LEE MIN CHAN!!" desis Geun-Suk. "Aku akan mengingatmu!!" Geun-Suk menunjuk Si-Hwan, memundurkan langkah secara perlahan, lalu tertatih-tatih meninggalkan Si-Hwan dan Sun-Hye.

Si-Hwan menghantar kepergian Geun-Suk dengan alis berkenyit. "Chan?" Dia mengulangi nama Min-Chan.

Si-Hwan menoleh pada Sun-Hye dan menaikan alisnya. Lewat pandangan tersebut, dia seakan minta jawaban Sun-Hye.

Namun gadis yang masih shock itu tidak melihat isyarat darinya. Sun-Hye masih menempelkan tubuhnya di dinding sambil menekan dadanya menahan tangis. Sun-Hye menghapus airmata dengan punggung tangan, lalu berjalan perlahan-lahan, dengan bertumpu pada dinding, masuk ke dalam kamarnya.

Si-Hwan melihat semua itu dengan tatapannya yang menyiratkan pertanyaan. Dia kemudian memutar sedikit tubuhnya, menoleh kembali kearah menghilangnya Geun-Suk lalu mengelus-ngelus dagunya. Si-Hwan melipat sepasang tangan di depan dada, sebelum akhirnya memutuskan mengikuti Sun-Hye masuk ke dalam kamar.



******




"Bisa katakan, siapa dia?" tanya Si-Hwan pada Sun-Hye yang sudah menjatuhkan diri di atas ranjang.

Sun-Hye menutup wajahnya dengan sepasang tangan, berusaha untuk tidak manatap Si-Hwan. Nafasnya memburu cepat terlontar lewat tenggorokannya.

"Goo Sun-Hye?!"

"Bisakah tidak kau tanyakan?!" Sun-Hye menurunkan tangan dengan cepat dan berseru keras. Matanya sembab habis menangis. Walau sekarang pernafasannya sudah mulai teratur baik, tapi terlihat jelas bahwa kekagetannya belum hilang.

"Kurasa, .... perlu ... " Si-Hwan mengulur perkataannya, bukan berniat memaksa tapi untuk sekedar menekankan Sun-Hye tujuan keberadaannya di tempat ini, di Goo's Mansion. " .... mengingat sepertinya, .. dia punya hubungan denganmu, .. dan mungkin juga dia mempunyai kaitan dengan kasus ini .. ," lanjut Si-Hwan sambil menatap Sun-Hye lekat-lekat.

Sun-Hye menghela nafasnya, .. membiarkan tekanan di hatinya memudar. Namun susah untuk dilakukan begitu mengingat tindakan-tindakan yang hampir dilakukan Geun-Suk padanya.

"Sunhye-ssi ... ," teguran Si-Hwan menyadarkan Sun-Hye.

Sun-Hye memeramkan sepasang matanya dan mengambil nafas dalam-dalam.

"Jang Geun Suk!" Sun-Hye membuka matanya. "Dia--Jang Geun Suk!"

"Jang Geun Suk?" Si-Hwan menyebut ulang nama itu sambil mengenyitkan alisnya. Seolah berpikir, atau merasa di mana pernah mendengarnya. Tersangka keempat .. Si-Hwan mengangkat kepala dan mengejapkan matanya.

"Mwo?" tanya Sun-Hye bingung. Melihat ekspresi Si-Hwan, dia merasa ada yang dipikirkan dan disembunyikannya.

Namun secepat kilat Si-Hwan memutar tubuh, mengalihkan perhatian ke arah lain, berlagak seolah tidak terjadi apapun.

Tangan Si-Hwan bergerak ke saku celananya dan mengeluarkan sebungkus kecil coklat yang kemudian dilemparkannya beberapa butir sekaligus ke dalam mulut.

"Ada sesuatu?" selidik Sun-Hye. "Yang berhubungan dengan Geun-Suk?"

"Tidak!" jawab Si-Hwan cepat.

"Kau bohong!" tukas Sun-Hye, seraya bangkit dari duduknya dan turun dari ranjang. "Aku sedikit mengerti kau sekarang! Kau kira bisa menyembunyikan sesuatu dariku?" tuduh Sun-Hye.

"Sudah kubilang tidak ada!" Si-Hwan mengunyah coklatnya. Namun pandangan pedas dari Sun-Hye berhasil menghentikan kunyahannya. "Yaaa, kau tidak perlu memandangiku seperti itu!" tukas Si-Hwan yang mendadak menjadi risih. Dan dia tidak mengerti mengapa bisa begitu. Terus terang saja dia merupakan orang yang tidak terlalu memikirkan anggapan orang terhadapnya, tapi melihat pandangan menyengat yang penuh tuduhan dari Sun-Hye, dia tidak tahan. Si-Hwan merasa menjadi tertuduh dan orang yang paling bersalah di dunia ini. Kenapa bisa begitu?

"Kau mencurigai Geun-Suk?" Sun-Hye menyipitkan matanya. "Kau mencurigai Geun-Suk terlibat dalam kasus ini?"

Si-Hwan melebarkan matanya, tidak percaya dengan pendengarannya terhadap pertanyaan-pertanyaan Sun-Hye barusan.

"Kau .. mempunyai kecurigaan yang sama.. ?" lanjut Sun-Hye begitu melihat Si-Hwan terpekur di tempatnya.

"Kau merasa begitu?" akhirnya Si-Hwan berucap sambil membetulkan posisi berdirinya yang agak membelakangi Sun-Hye. " .. sejak kapan, .. dan mengapa?" Si-Hwan mendekati Sun-Hye hingga berada tepat di hadapannya. " .. setahuku orang itu tidak berada di sini sewaktu kematian harabojimu ... "

Sun-Hye mengangguk lemah. "Memang. Geun-Suk tidak berada di sini ketika kematian kakek tapi ... dia berada di sini, makan malam bersama kami di malam itu ... Geun-Suk berada di antara kami dan punya kesempatan mengobrak-abrik peralatan yang dipakai kakek!"

Si-Hwan mengelus-ngelus dagunya dan mendengarkan dengan seksama. Kata-kata terakhir Sun-Hye terpatri erat dalam otaknya. Ternyata Sun-Hye mempunyai penafsiran yang tidak bisa dikatakan lemah.

"Jadi menurutmu, .. ada kemungkinan Geun-Suk melakukannya?"

Pertanyaan Sun-Hye membuat Si-Hwan melebarkan matanya.

"Dia punya kesempatan itu, bukan?"

Si-Hwan menghela nafasnya. Dia tidak menjawab pertanyaan Sun-Hye. Dengan agak pelan, Si-Hwan mengeser kakinya.

"Jika saja malam itu dia datang dengan maksud tertentu, berarti dia punya kesempatan itu ... ," Sun-Hye bergumam pelan, " ... dia pasti sudah mempersiapkan segalanya, .. kira-kira kapan kopi haraboji akan dibuat, bagaimana kopi itu disajikan dan dibawa ke kamar kakek, waktu haraboji akan meminumnya dan ... kapan racun tersebut bereaksi. Kemungkinan besar, Geun-Suk sudah mempersiapkan alibinya pada saat ajal haraboji menjelang ... "

"Kau sudah menerka terlalu jauh!"

Teguran Si-Hwan menghentak Sun-Hye. "Eh?" Kepalanya terangkat, memandang Si-Hwan terbelalak. "Maksudmu?"

Si-Hwan balas menatap Sun-Hye lekat-lekat. "Kau pernah memikirkan, dengan alasan apa Geun-Suk membunuh kakekmu?"

Sun-Hye mengenyitkan alisnya, berpikir. "A ... aku ... ," Sun-Hye mengepalkan tangan, ... berkelut dengan pikirannya selama beberapa detik. "Kurasa, .. haraboji tidak menyukainya ... ," kata Sun-Hye akhirnya.

"Hanya dengan alasan itu?!" Si-Hwan mengangkat sedikit dagunya, " .. apa kedengarannya tidak terlalu mustahil, Goo Sun-Hye? Hanya karna tidak disukai maka membunuh?"

Mendengar pertanyaan Si-Hwan membuat Sun-Hye memejamkan matanya. Dia tidak mampu menjawab. "Tidak tahu ... ," dia mendesah pelan.

"Jangan lupa! Geun-Suk tidak mendapatkan keuntungan apapun dari kematian kakekmu!" kata Si-Hwan mengingatkan.

"Yah--aku tahu ... " Sun-Hye meletakan tangannya menutupi wajah. Dia sangat pusing dengan keadaan yang dihadapinya sekarang. Sebenarnya, .. apa maksud kedatangan Geun-Suk malam itu? Murni, hanya kunjungan biasa?

Sesaat, keheningan menguasai kamar Sun-Hye. Tidak ada seorangpun mengeluarkan suara. Sun-Hye melepaskan tangan dari wajahnya dan berjalan ke ranjang. Dengan sisa-sisa tenaganya yang dirasa terbang begitu saja, dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Si-Hwan mengamati gerak-gerik Sun-Hye sambil berpikir.

"Apa dia pernah mengatakan sesuatu?" tanya Si-Hwan tiba-tiba.

Sun-Hye menengadah. "Siapa?" tanyanya linglung.

"Jang Geun-Suk!" jawab Si-Hwan sambil menatap Sun-Hye tajam-tajam.

"Maksudmu?"

Si-Hwan menyilang kaki kirinya ke depan lalu memasukan beberapa butir coklat lagi ke dalam mulutnya. "Apa dia pernah mengatakan sesuatu yang ... , yang berhubungan dengan harabojimu ... ?" Si-Hwan mengunyah coklatnya pelan sambil mempertimbangkan lanjutan dari pertanyaannya. " ... sesuatu mengenai ... harta kekayaan kakekmu, mungkin ... ?"

Sun-Hye mengenyitkan alis mengingat-ingat. Dia berpikir keras buat pertanyaan Si-Hwan. Tapi seiring otaknya yang berputar-putar ke perkataan-perkataan Geun-Suk yang pernah dilontarkan padanya, Sun-Hye merasa tidak pernah mendengarnya.

"Anhiyo ... ," Sun-Hye mengeleng pelan-pelan. "Seingatku, .. Geun-Suk tidak pernah menyinggung apapun yang berhubungan dengan haraboji. Geun-Suk tidak menyukainya, begitu juga sebaliknya. Sedapat mungkin, Geun-Suk akan menghindari haraboji. Dia tidak pernah mau mengungkit ataupun menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan haraboji .. " Sun-Hye menerawangkan pandangannya ke dinding di belakang Si-Hwan. Tiba-tiba ada yang menganjal di hatinya. " ... tapi malam itu, .. entah kenapa dia kemari ... "

"Kunjungannya agak mencurigakan?" tanya Si-Hwan. "Begitu maksudmu?"

Sun-Hye mengeleng. "Anhiyo! Bukan kunjungan itu yang mencurigakan! Geun-Suk bercanda seperti biasa. Tidak ada yang aneh atau berbeda dari sikapnya. Yah, tentu saja kecuali kecenderungannya menghindari haraboji tapi itu sudah wajar. Geun-Suk memang tidak pernah mau bersitatap langsung dengan haraboji ... "

"Jadi?" Si-Hwan menunggu dengan sabar. Dia yakin Sun-Hye belum menuntaskan ceritanya yang seperti mengambang di udara. Sun-Hye tidak seperti berbicara padanya, tapi lebih pada sebuah ruang yang tidak terlihat oleh mata.

"Dia tidak terbiasa kemari di saat kakek ada ... ," Sun-Hye menuntaskan kata terakhir pada sinar lampu yang menyorot ke lantai.

"Kesimpulannya, .. hal itu sangat janggal?!" Si-Hwan menekan pertanyaannya.

Sun-Hye mengangguk lemah.

"Bukan mencurigakan, tapi hal yang tidak wajar dilakukan Geun-Suk?" Si-Hwan mengulangi pertanyaannya yang memiliki makna serupa.

Sun-Hye kembali menganggukan kepalanya.

"Kau lihat?--dia bisa jadi tersangka maupun tidak!" ujar Si-Hwan.

Sun-Hye mendesah lemah. "Yah, kau benar. Geun-Suk masih merupakan teka-teki. Terlalu cepat untuk mencurigainya sebagai tersangka ... "

Iris Sun-Hye nanar mencapai lantai yang berlapis karpet abu-abu. Tanpa disadari Sun-Hye, Si-Hwan mengamatinya lewat ujung matanya. Si-Hwan melihat kelopak mata Sun-Hye meredup, merapat perlahan-lahan. Kepala gadis itu diturunkan dengan sangat pelan ke atas ranjang. Sun-Hye mendekap bantalnya, kemudian memeluknya erat-erat, memasangnya di atas kepala dan menyembunyikan mukanya.

"Beristirahatlah .. ," kata Si-Hwan sambil berjalan ke arah pintu. "Jangan berpikir terlalu keras. Serahkan semuanya padaku ... " Si-Hwan berdiri di ambang yang menghadap lorong luar sambil memperhatikan Sun-Hye sebentar. Dia meraih handel dan menutup pintunya dengan sangat pelan, meninggalkan Sun-Hye yang tidak bereaksi dari tempatnya.



******



"Nih!!" So-Eun menyorongkan setumpuk kertas pada Sun-Hye yang menatapnya heran siang itu.

"Mwo?" tanya Sun-Hye sambil melirik tumpukan kertas tersebut. Diambilnya selembar lalu diangkatnya di depan So-Eun. "Buat apa?"

"Data-data mengenai Seoul University .. ," jawab So-Eun sambil menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang Sun-Hye. "Paman Joo yang memberikannya padaku, dan kurasa, kau juga memerlukannya." So-Eun tiba-tiba menepuk lengan Sun-Hye dan menarik pergelangan tangannya. "Akhirnya, Sunhye-a!" seru So-Eun keras-keras " .. kuputuskan masuk ke Seoul University, ambil jurusan hukum .. "

"Seoul University?" Sun-Hye meraih selembar brosur dan menatapnya. Dia tidak kelihatan terkejut ataupun antusias dengan keputusan yang dilontarkan So-Eun secara mendadak barusan. Irisnya kelabu ketika menyapu nanar tulisan kecil-kecil yang tercetak di atas brosur. Entah sudah berapa lama dia berada di posisi seperti itu ketika tangan So-Eun tiba-tiba mendarat di pundaknya.

"Wegude, Sunhye-a?" So-Eun mendekatkan wajahnya di dekat Sun-Hye, dan mengangkat tangan menyentuh jidatnya. "Wajahmu terlihat pucat. Gwencana? Kau sakit?"

"Hah?" Sun-Hye tersentak dan serta merta menjauhkan diri dari So-Eun.

"Kau tidak apa-apa, bukan?" tanya So-Eun khawatir. Melihat tingkah Sun-Hye yang tidak seperti biasanya, membuat So-Eun cemas.

"A .. aku .. " Sun-Hye mendesah, matanya dipejamkan ketika berbalik dan menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang. Sun-Hye mengacak-ngacak rambutnya. Kepala dibenamkan dalam-dalam di bantalnya yang terbalut sarung biru muda.

"Sunhye-a ... " So-Eun menyentuh pundak Sun-Hye. "Ada masalah?"

Sun-Hye mengangkat kepala lalu membalikan tubuh menghadap ke langit-langit kamar. Wajahnya terlihat pucat saat itu. So-Eun sampai berkenyit khawatir melihatnya.

"Geun-Suk datang tadi pagi ... ," Sun-Hye akhirnya mengeluarkan kata-kata yang membebani pikirannya.

"MWOOO?!!" So-Eun membelalakan mata bulat-bulat. Tanpa sadar, dia mencengkram dan menguncang pundak Sun-Hye. "Apa yang dimaui orang itu?!" lanjut So-Eun sengit. "Apa belum cukup apa yang dilakukannya padamu waktu itu? Setelah hampir memperkosamu?!!"

"SOEUN-A!!" Sun-Hye menjerit. Tangannya menutup telinga erat-erat, lalu menurun membekap mulutnya dengan tangan dan menahan diri untuk tidak menangis. Sudah terlalu banyak--rasanya, dia menangis buat kejadian tersebut.

"Mi .. ane ... ," sesal So-Eun. Segera saja dia memeluk pundak Sun-Hye buat menenangkannya. "Dho--gwencana?"

Sun-Hye mengigit bibir dan menganggukan kepala. Dia ingin berkata 'tidak!dia tidak baik-baik saja', namun membuat So-Eun khawatir akan keadaannya tidak bijak rasanya.

Akhirnya, kata 'gwencana' yang terlontar dari bibir Sun-Hye.

"Gwencana-yo, kejadian tersebut .. sudah lewat ... "

"Jangan sampai aku ketemu orang itu lagi!" So-Eun mengepalkan tangannya. "Akan kuhajar dia kalau berani kemari!"

"Hn--" Sun-Hye menundukkan kepala. Bayang-bayang Geun-Suk yang sangar tergiang-giang dalam otaknya.

"Mau apa sih sebenarnya dia?" Omel So-Eun. "Bukankah kau sudah bilang kalau kalian tidak cocok dan putus saja?"

"Geun-Suk tidak mau terima ... ," desis Sun-Hye pelan.

"Lalu, bagaimana? ," tukas So-Eun. ".. karna itu, dia boleh seenaknya?"

"Aku tidak tahu ... ," Sun-Hye mengangkat pundaknya lemah. "Geun-Suk dari dulu memang seperti itu, kau juga tahu bukan ... ?" Sun-Hye memejamkan mata dan menjatuhkan kepalanya di atas bantal. "Kau ingat dua tahun yang lalu, ketika mula-mula kita mengenalnya? Dia berani mencongkel mobil orang, padahal waktu itu siang bolong dan banyak saksi mata yang melihat kelakuannya ... " Sun-Hye menyeringai terpaksa. "Dia memang ugal-ugalan ... "

"Namun kau menerimanya waktu dia mengejarmu .. ," tegur So-Eun sedikit menyesal.

"Yah--" Sun-Hye menghela nafas capek. Dia membuka mata dan menatap So-Eun. "Mungkin waktu itu aku lagi buta. Aku melihat keberandalan-keberandalannya malah ... aku merasa dia keren ... "

"Kau menyesal, Sunhye-a?" So-Eun menyentuh pundak Sun-Hye.

Sun-Hye membalas tatapan So-Eun, .. mengeleng pelan. "Sudah lewat ... "

So-Eun menyetujuinya. "Ya, sudah lewat. Yang penting sekarang, jangan berurusan lagi dengannya .. "

"Tapi aku takut dia datang lagi!" ujar Sun-Hye sambil bangkit dari ranjang. "Dia sepertinya, ... sangat marah pada Hwan ... "

"Hwan?" So-Eun membulatkan matanya. Sepertinya dia sudah melupakan nama detektif yang dikenalkan Paman Joo buat membantu kasus pembunuhan haraboji Sun-Hye.

"Lee Si Hwan!" sahut Sun-Hye. "Kakak kembar Paman Chan yang pernah kuceritakan padamu. Sepertinya, dia mengira hwan tuh Paman Chan ... "

Tiba-tiba So-Eun menarik lengan Sun-Hye. "Jadi benar--Sunhye-a, Geun-Suk mencurigai hubunganmu dengan paman Chan?" selidik So-Eun.

Sun-Hye terlihat berpikir. "Mungkin ... "

"Maksudmu, Geun-Suk cemburu pada Paman Chan?"

"HAH?!" Mata Sun-Hye terbelalak. "Tentu saja bukan! Kau ini, nebak sembarangan!" Sun-Hye segera membuang muka ke arah lain.

"Benarkah?" So-Eun mengaruk-garuk dagunya, seolah-olah tidak begitu percaya.

"Tentu saja benar!!" tandas Sun-Hye. "Untuk apa dia cemburu pada Paman Chan?! Kami tidak punya hubungan apa-apa!" Sun-Hye terlihat kebingungan ketika mengatakan kata-kata itu. "Maksudku, tidak seperti dugaan Geun-Suk. Aku dan Paman Chan, kami berdua_ ... bahkan bertutur-sapa saja jarang, .. bagaimana mungkin Geun-Suk sampai berprasangka buruk terhadap hubungan kami .. ?" Dia segera memperbaikinya.

So-Eun tidak mengeluarkan bantahan-bantahannya seperti biasa. Dia mengangkat bahu ketika Sun-Hye mulai memandangnya menyayat. Mungkin So-Eun sudah capek mengurusi masalah Sun-Hye dengan Min-Chan. Dari beberapa bulan lalu hingga kini, seperti tidak ada habis-habisnya.

"Ini benar!!" tandas Sun-Hye.

"Terserah deh--" So-Eun menyerah. Dia mengambil brosur-brosur dari ranjang dan menyorongkannya ke Sun-Hye. "Lalu bagaimana dengan ini? Kau ikut denganku?"

Sun-Hye menatap kertas-kertas di tangan So-Eun, sedikit mengenyitkan alisnya.

"Batas waktunya sudah dekat loh! Kau belum putuskan?" tanya So-Eun sambil memicingkan matanya.

Sun-Hye menghela nafas dan mengangkat bahunya.

"Bukankah kau pernah bilang akan ambil jurusan hukum?" tanya So-Eun heran. "Menjadi pengacara? Kau yang mengatakannya!"

"Memang .... ," ujar Sun-Hye lirih. Dia memang pernah mengatakan itu. Tapi kenapa ... sekarang.. dia jadi ragu? Kasus pembunuhan haraboji yang makin rumit seakan membuat Sun-Hye ingin melepas diri dari cita-citanya yang terdengar sangat berat tersebut.

"Terserah kau saja ... " So-Eun menyentuh pundak Sun-Hye dan menjepit brosur-brosur di antara ketiaknya. " .. asal jangan lama-lama ... "

"Tidak perlu!" Sun-Hye mendadak merebut lembaran-lembaran kertas tersebut dari So-Eun. "Sudah kuputuskan!" Sun-Hye mengangkat kertas di tangannya.

"Benar?" So-Eun menyengir lebar.

"Tentu saja!" Sun-Hye mengangguk yakin.

Pada saat itu, terdengar ketukan pada pintu kamar Sun-Hye.

Tok Tok Tok ...

Ketukan yang terdengar pelan dan berirama, tidak terburu-buru seperti orang yang diburu waktu. Sun-Hye segera melirik So-Eun. Sahabatnya itu mengangkat bahu, sebagai balasan dia juga tidak tahu. Sun-Hye melihat ke jam tangannya, sudah sore saat itu--sekitar pukul 3 seperempat, jam makan siang sudah lewat sedangkan waktu minum teh belum tiba, jadi .. siapa yang mengetuk pintu kamarnya di jam segini? Raut wajah Geun-Suk tiba-tiba muncul dalam benak Sun-Hye.

"Siapa ... ?" tanya Sun-Hye pelan seraya beranjak bangun dari ranjangnya.

"Aku ... ," terdengar jawaban agak sengau dari luar.

Sun-Hye mempertajam pendengarannya, suara itu tidak asing. Sun-Hye berdiri cukup lama di dekat pintu, sebelum memutuskan membukanya. Dia melirik sekali lagi pada So-Eun yang memberi isyarat padanya untuk membuka pintu.

"Tunggu apa lagi?" bisik So-Eun.

Sun-Hye menahan nafas lalu menarik gerendel pintu keras-keras dan membukanya.

"Paman Chan ... ," desis Sun-Hye tak percaya. Memang dia sudah memperkirakan suara yang terdengar tadi adalah milik Min-Chan namun dia tidak pernah menyangka dugaannya benar. Sejarah ingatannya, Min-Chan tidak pernah mengunjunginya di kamarnya seperti sekarang ini. TIDAK PERNAH! "A ... ada apa ... ?" tanya Sun-Hye yang tiba-tiba menjadi gagap. Dia tidak bergeser dari posisinya, tidak juga memberi gelagat akan mempersilahkan Min-Chan masuk ke dalam kamarnya. Sun-Hye berdiri mematung dengan sepasang mata terpicing lebar.

Min-Chan tidak menjawab. Dia mengangkat tangan kanannya yang menjinjing setumpuk file dan menyodorkannya pada Sun-Hye.

"Mwo?" tanya Sun-Hye yang mendadak tersadar dari keterkejutannya.

"Data-data yang kemarin tidak lengkap .. ," kata Min-Chan datar. " .. ada yang ketinggalan, dan kurasa ... ini sangat perlu ... "

"Data?" Sun-Hye menerima tumpukan dokumen dari tangan Min-Chan dan menatapnya nanar.

"Ini bagian dari pembukuan kemarin. Pendapatan dari proyek yang sudah selesai ... "

Sun-Hye menghela nafasnya. Sesaat, diamatinya tumpukan kertas di atas tangannya, merasakan ada bagian yang sakit. Dia mengepalkan tangan, mencengkram ujung-ujung file dalam genggamannya lalu menyorongkannya dengan cepat kearah Min-Chan.

"Paman tidak perlu melaporkan secara detail padaku ... ," ujar Sun-Hye. "Aku hanya perlu tahu penghasilan akhir ... Di atas segalanya, aku percaya pada paman ... "

"Lebih baik perjelas semuanya!" Min-Chan memutar tubuh dan memunggungi Sun-Hye. "Aku hanya bertugas mewakilimu, di atas itu--KAULAH PEMILIK GOO GLOBAL!"

Min-Chan mengerakan kakinya, meninggalkan Sun-Hye yang terperangah seketika.

"Sun-Hye A!!" Panggilan So-Eun menyentak Sun-Hye.

"Ya?" Sun-Hye berpaling.

"Ada masalah?" tanya So-Eun yang tidak berhasil menangkap pembicaraan antara Sun-Hye dan Min-Chan.

Sun-Hye tersenyum kecut dan mengelengkan kepalanya. "Ti .. tidak ... " Sun-Hye menoleh kembali ke lorong di mana Min-Chan tadi berada. Pemuda itu sudah menghilang, masuk ke dalam kamarnya. Sun-Hye mundur perlahan-lahan sampai berada di kamarnya, dengan sangat pelan dan tidak bertenaga ditutupnya pintu di depannya.


*******




Setelah membersihkan diri, Sun-Hye menjatuhkan tubuhnya duduk di pinggir ranjang. Handuk kecil masih bertengger di kepalanya ketika menoleh ke sisi kiri ranjang dan mendapati dokumen-dokumen yang diserahkan Min-Chan padanya masih tergeletak di situ, belum tersentuh sama sekali. Sun-Hye menatap tumpukan tersebut tanpa berkedip, kemudian agak malas-malasan dia meraih file yang paling atas dan membukanya asal. Deretan angka-angka yang memusingkan langsung menyapa mata Sun-Hye. Tergesa-gesa, Sun-Hye menutup dokumen itu kembali dan menghembuskan nafasnya.

Sun-Hye berdiri dari ranjang, berniat meninggalkan kamarnya. Handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya, dilempar sembarangan ke kursi yang terletak di dekat pintu. Sun-Hye baru beranjak satu langkah ketika memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Sun-Hye kembali ke ranjang dan mengangkat tumpukan dokumen dari atas kasur.

Sekali lagi Sun-Hye membuka salah satu map file dan mengamatinya. Beberapa menit berlalu dan akhirnya dia menyerah. Menutup map tersebut dengan satu hentakan. Sun-Hye melempar dokumen-dokumen di tangannya ke atas meja kecil yang berada di sisi ranjang. Baru saja dia memutar tubuh, tiba-tiba sebuah ide yang terasa gila melintas di benaknya.

Bisakah? .. Apa tidak berbahaya? Ntar, dimarahi lagi! Sun-Hye mengatupkan bibirnya dan mengambil tekad. Terserah deh akibat yang bakal diterima nanti!

Sun-Hye berbalik dan menyambar tumpukan dokumen yang dilempar tadi dan terburu-buru berlari ke arah pintu, membukanya lalu menghambur keluar.



******




Sampai di depan pintu warna coklat gelap, Sun-Hye menghentikan langkahnya. Matanya menatap lekat pintu yang terpoles mengkilap di depannya. Nafas dihembuskannya kuat-kuat seolah-olah untuk mengapai kekuatan yang diperlukannya saat ini. Sun-Hye mengepalkan tangan dan meraih gagang pintu. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Sun-Hye mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci itu sampai terpentang lebar.

"Paman Chan!! Ada yang tidak .... " Teriakan Sun-Hye memelan, dan hanya sampai setengahnya ketika terputus dan hilang begitu saja. Mulut Sun-Hye terbuka perlahan-lahan, ... terkunci dalam diam.

Mata bulat besarnya melebar. Pemandangan di depan bukan hanya tidak cukup digambarkan dengan kata-kata bagi Sun-Hye, namun ... lebih dari itu, dan sangat mengejutkan. Bukan tubuh jangkung dengan posisi memunggunginya itu yang membuatnya terpana dan membujur kaku, namun kulit kecoklatan tersebut dipenuhi goretan-goretan tebal menonjol yang mirip urat-urat bersilangan di sekujur tubuh yang membuatnya mengigil seakan kedinginan. Bulu kuduk Sun-Hye meremang. Tanpa sadar, Sun-Hye menurunkan tangannya yang sempat menutupi mulut, menekan dadanya, lalu mundur selangkah. Sampai menyenggol daun pintu hingga menimbulkan bunyi 'BUM' cukup keras.

Pemilik tubuh jangkung dengan kemeja yang masih bergantung di sepasang lengan kokohnya tersebut membujur sesaat. Min-Chan tidak bergerak dalam hitungan detik. Merasakan pandangan menerpa punggungnya, secepat kilat, ditariknya kemeja hingga menutupi seluruh badannya. Min-Chan berbalik dan mengenyitkan alis.

"I ... itu ... " Sun-Hye mengarahkan telunjuknya ke badan Min-Chan. Selanjutnya, tidak ada lagi kata-kata yang terucap. Dia tidak mampu bertanya lebih lanjut karna sekarang hatinya diliputi rasa kaget dan 'ngeri?' yang teramat sangat.

Min-Chan menyipitkan matanya, menyapa Sun-Hye dengan pandangan menegur. Dia tidak mengindahkan pandangan bertanya Sun-Hye ketika bertanya dengan datar. "Apa ini kebiasaanmu?"

"A .. aku .... ," Sun-Hye terdiam.

Min-Chan menatap Sun-Hye lekat. Agak pelan dia bergerak, berjalan ke ranjang dan mendudukan dirinya sedikit di pinggir ranjang. "Lain kali, ketuk pintu dulu ... "

"Paman Chan ... " Sun-Hye bergerak pelan masuk ke kamar Min-Chan. Matanya masih tidak berkedip menyapu sosok pria jangkung di depannya. Sesekali, bola matanya melirik bagian punggung Min-Chan lalu kembali ke wajah sendunya yang agak menunduk menatap lantai. " ... apa sebenarnya yang ... "

"Kau ada keperluan?!" tandas Min-Chan seketika. Kepalanya diangkat, menatap Sun-Hye tajam-tajam. Lalu pandangannya jatuh ke setumpuk file yang dirangkul Sun-Hye. “Ada yang ingin ditanyakan?” tanya Min-Chan sambil mengembalikan perhatian pada Sun-Hye.

“Hn—“ Sun-Hye melirik dokumen di tangannya. Memang ada! Tapi apa itu penting untuk ditanyakan sekarang? Sun-Hye bermaksud mengurungkan niatnya ketika teguran Min-Chan terdengar kembali.

“Kemarikan file itu jika ingin kau tanyakan!”

“Eh?” Sun-Hye membelalakan mata lebar-lebar.

“Duduklah di sini!” Masih dengan ekspresi datarnya, yang seolah sudah mendarah-daging dalam diri Min-Chan, Min-Chan menepuk pelan tempat di sisinya. “Mana yang tidak kau mengerti?”

Dengan sangat berat, Sun-Hye menghampiri Min-Chan. Agak segan, dia menjatuhkan diri duduk di tempat yang ditunjuk Min-Chan.

“Berikan dokumen-dokumen tersebut!” Min-Chan mengulurkan tangannya.

Sun-Hye melihat sepintas ‘barang-barang’ yang dipegangnya lalu menyerahkan pada Min-Chan. Dia tidak bersuara dan tatapannya tidak bisa dilepaskan dari punggung Min-Chan, yang sekarang …. Begitu dekat dengannya. Sebenarnya, .. apa yang telah terjadi? Mengapa badannya bisa rusak seperti itu? Rasa penasaran makin menguasai diri Sun-Hye.

“Mana yang ingin kau ketahui?”

Sun-Hye membulatkan matanya. “HAH?!”

Min-Chan menghentikan pengamatannya dari berkas-berkas di atas pangkuannya dan menatap Sun-Hye tanpa berkedip. Sun-Hye segera mengeser badannya, menjauh dari Min-Chan. Sun-Hye memperbaiki posisi duduknya dengan agak gugup. Dia merasa risih diperhatikan begini oleh Min-Chan, apalagi Min-Chan … seolah menegurnya karna tidak konsentrasi terhadap kata-katanya.

Sun-Hye kembali menurunkan pandangannya ke balik punggung Min-Chan, dan reaksi kecil ini berhasil tertangkap penglihatan Min-Chan.

Min-Chan membujurkan badannya dan berdiri dari ranjang. “Kau boleh pergi!”

“MWO?!” Sun-Hye terlonjak kaget. “Paman Chan!”

“Jika kedatanganmu hanya bermaksud membisu seperti ini, sebaiknya kau pergi!” Min-Chan mengerakan tangannya kearah pintu.

“Paman Chan!” Sun-Hye melompat dari duduknya. “Aku .. “

“Pergilah!” lanjut Min-Chan dengan nada yang terdengar tak bertenaga.

Sun-Hye mengamati Min-Chan. Dia tidak main-main … Sun-Hye menahan nafas. Min-Chan serius dengan ucapannya, dia bahkan tidak melihat kearah Sun-Hye.

“Baiklah … Selamat malam .. “ Sun-Hye mengambil dokumen-dokumen yang dibawanya tadi dari tangan Min-Chan dan berjalan loyo ke pintu. “… sebenarnya ada beberapa jumlah pemasukan dan pengeluaran yang tidak kumengerti tapi … “ Sun-Hye menoleh dari ambang pintu. “ … kurasa paman tidak berniat menjelaskannya sekarang … “ Sun-Hye menarik gerendel pintu dan berjalan keluar.

Min-Chan memejamkan mata dan menghembuskan nafas yang tadi ditahannya. Dia seolah tak bertenaga. Tubuh jangkung miliknya terhempas kuat ke sofa lengan yang menyandar di dinding dekat jendela. Min-Chan membungkuk ke depan, menyangga sepasang sikunya di lutut.

Mata Min-Chan terbuka, mengiris pembaringan di depannya dengan nanar. Hatinya seperti tersayat pisau tajam. Bayangan-bayangan masa lalu kembali bermain-main dalam ingatannya. Min-Chan kembali merasakan sakit itu. Sakit yang sudah lama hilang. Sakit ketika dianiya, sakit ketika nyawanya hampir melayang, dan terlebih .. sakit karna penghinaan itu. Penghinaan yang dilontarkan orang-orang biadab kepada ommanya.

Min-Chan menyandarkan kepalanya pada bantal sofa. Semua memang sudah lewat tapi meninggalkan bekas yang sangat dalam. Min-Chan membuka kancing kemejanya kemudian menurunkannya sampai ke pinggang. Bagian yang rusak dan mengerikan itu terpantul dari kaca besar di dekat pintu. Kenapa semua terlihat Sun-Hye? Kenapa?

Min-Chan menutup mata erat-erat, menjatuhkan dua bulir airmata yang sudah lama tidak dikeluarkannya, sungguh-sungguh sudah lama sekali ....


******




BRAKKK!!!

Sesuatu jatuh di lantai tempat Sun-Hye hampir mendaratkan kakinya ketika keluar lewat pintu belakang yang menghadap taman dan pecah berkeping-keping. Mata Sun-Hye terbelalak. Pot bunga berat yang besarnya hampir tiga kali lipat dari kepalanya tersebut sejengkal saja akan menghancurkan batok kepalanya.

Sun-Hye mendongak memandang ke balkon yang seharusnya pot bunga tersebut terletak. Dia melihat sebuah kepala terjulur. Seorang pelayan muda berseru ketakutan.

"Oh agashi!! Sosoengheyo, sosoengheyo ... "

Bibir Sun-Hye bergetar. Buku-buku tangannya memutih ketika mencengkram ujung-ujung gaunnya yang berpotongan pendek.

"Aku tadi bermaksud menurunkan pot bunga tersebut dari pagar balkon ... ," alasan si pelayan sambil membungkukan badannya berulangkali. " .. tapi terlalu berat dan letaknya terlalu jauh sehingga bergeser dan jatuh ... Sosoenghamida, agashi ... "

Sun-Hye melirik tempat pot bunga tadi hampir merenggut nyawanya. Posisinya memang tepat di atas pelayan muda itu berada. Sun-Hye mengangkat kepalanya kembali dan menatap si pelayan dengan pandangan menegur. "Siapa yang suruh kau taruh pot bunga ini di atas pagar balkon?"

"Bukan aku, agashi!" teriak pelayan itu seketika. "Bukan aku yang menaruhnya!"

"Bukan kau yang menaruhnya?" Sun-Hye mengepalkan tangannya. "Itu tugasmu, dan kau bilang--bukan kau yang menaruhnya?"

"Sumpah!" Pelayan muda tersebut mengangkat tangan ketakutan. "Bukan aku, agashi. Tadi, aku memang sedang menyiram dan memangkas tanaman-tanaman di balkon ini. Pot bunga itu ... " Pelayan itu menunjuk pot bunga yang berkeping-keping di dekat kaki Sun-Hye. " .. masih terletak di sini, tidak berbeda seperti biasanya ... " Telunjuk si pelayan berpindah ke lantai di kakinya.

Sun-Hye memandang sepintas posisi yang ditunjukan pelayan tersebut. "Lalu?"

"Aku juga tidak tahu .. kenapa mendadak bisa berada di atas pagar .. ," lanjut pelayan malang itu kebingungan.

"Maksudmu?" tegur Sun-Hye. "Cerita yang jelas! Jangan berbelit-belit!"

"Eh ... " Pelayan yang semakin ketakutan tersebut bergerak-gerak gelisah. Matanya jelalatan kesana kemari, tidak berani menatap Sun-Hye. "Aku juga tidak mengerti, agashi ... Aku tidak tahu ... "

"Pot itu masih berada di tempat biasa, katamu ... ," Sun-Hye mencoba membantu dan tidak membuat pelayan kecil itu lebih takut lagi. Karna dengan begitu, mungkin dia akan mendapatkan informasi yang berarti. Sun-Hye mengatur pernafasan dan pikirannya yang sebenarnya belum pulih benar, dan memaksanya untuk berpikir.

Pelayan muda di atas balkon mengangguk pelan. "Ne, agashi ... "

"Lalu kapan pot bunga tersebut berpindah tempat?" tanya Sun-Hye.

"Eh?" Mata sipit si pelayan melebar. "Maksud agashi?" tanyanya bingung. Sun-Hye menghela nafas, sepertinya pelayan ini bukan termasuk orang pintar. Cara berpikirnya mungkin terlalu lurus untuk dapat menangkap maksud pertanyaan Sun-Hye.

Ini cukup bagus. Paling tidak, dia bisa dipercaya .. , gumam Sun-Hye pada diri sendiri.

"Kau bilang pot bunga itu berada di tempatnya seperti biasa?"

Pelayan itu berpikir sebentar kemudian mengangguk lambat-lambat. "Ne ... "

"Setelah itu, entah mengapa 'dia' berpindah tempat?"

Pelayan tersebut mengangguk-angguk kembali. "Ne, agashi .. "

"Jadi, ... ada jangga waktu dimana .. pot bunga tersebut tiba-tiba berpindah tempat, bukan?" Sun-Hye berkata pelan-pelan supaya si pelayan tidak bingung dan dapat mengerti.

Pelayan itu mengangkat kepalanya dan terlihat berpikir keras. Tangannya mengaruk-garuk kepala membuat rambutnya yang tersanggul ke atas jadi berantakan. Beberapa menit berlalu ketika dia berkutat dengan pikirannya yang terasa buntu. Akhirnya dia mengangguk-angguk, seolah-olah sudah menangkap maksud pertanyaan Sun-Hye.

"Kau mengerti?!" Sun-Hye sedikit memiringkan kepalanya.

"Ne .. ne ... "

"Jadi kemana kau pada saat itu?" selidik Sun-Hye.

Si pelayan mengaruk-garuk kepalanya kembali. Dia menatap Sun-Hye, agak segan ketika menjawab. "Sosoengheyo, agashi ... "

"Kemana kau?!" ulang Sun-Hye tegas.

"Tadi ... ," pelayan muda tersebut menelan ludah. "... ada ... ada suara yang mencurigakan ... " Dia menunjuk bagian dalam rumah. " ... datang dari sana tapi ketika kudatangi, menghilang begitu saja. Hanya pecahan vas bunga kaca  yang terpajang di meja kecil dekat lorong tengah yang kulihat di situ. Karna takut mencelakakan orang, aku terpaksa membersihkannya dulu sebelum melanjutkan tugasku memangkas tanaman di balkon ini ... "

"Dan pada saat itu, kau melihat pot bunga tersebut sudah tidak berada di tempatnya melainkan di atas pagar balkon ... "

"Ne?"

"Dan kau bermaksud menurunkannya tapi terjadi kecelakaan tadi?"

"Ne .. " Pelayan itu segera membungkukkan badannya kembali, berkali-kali. "Sosoengheyo, agashi. Aku hampir mencelakakan anda, sosoengheyo .. Jeongmal sosoengheyo .. "

Sun-Hye mengarahkan pandangannya ke balkon tempat pot bunga yang hampir mengenai kepalanya seharusnya berada, kemudian berpindah ke pagar balkon. Perlahan dia beralih ke puing-puing di bawah kakinya. Sun-Hye menarik nafas dalam-dalam. Kejadian itu terulang lagi. Setelah kecelakaan-kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya beberapa minggu lalu, yang hampir-hampir dilupakannya, serangan-serangan itu sepertinya dilancarkan kembali padanya. Tapi, .. benarkah?

"Sosoengheyo, agashi ... sosoengheyo ... "

Sun-Hye mengibaskan tangannya. Segera dia berbalik dan bergegas-gegas beranjak meninggalkan tempat itu. Dia berlari, sekencang-kencangnya. Sedapat mungkin, sebaiknya segera kembali ke kamar. Itu tempat yang paling aman! desis Sun-Hye dalam hatinya.



*******




Sun-Hye tersentak bangun dari ranjang. Matanya berkejap dan jantungnya berdetak kencang. Sun-Hye menekan dadanya lalu menghapus keringat dingin yang membasahi sekujur wajah dan lehernya. Pernafasannya memburu. Aliran dingin yang seperti terpaan angin seakan-akan mengelus-elus punggungnya. Sun-Hye mengigil dalam balutan selimut tebal yang menutupi badan sampai ke kakinya.

Sun-Hye memeramkan matanya perlahan-lahan. Baru saja dia mengalami mimpi buruk--mimpi yang teramat buruk yang membuatnya terjerat rasa takut yang amat sangat. Diamatinya sekeliling kamarnya, buram. Penerangan hanya didapat dari lampu meja kecil yang bersinar redup di atas meja dekat ranjang.

Sun-Hye mengatur pernafasannya lalu turun dari ranjang, lambat-lambat. Alisnya berkenyit ketika memikirkan kembali isi mimpinya. Apa yang dimimpikannya tadi?

Pelan-pelan, seraut wajah muncul dalam ingatannya. Seraut wajah yang amat dikenal, seraut wajah yang selalu dirindukannya. Seraut wajah milik haraboji yang muncul berupa asap yang makin lama makin jelas dalam pikiran Sun-Hye.

"Haraboji ... ," Sun-Hye berdesis pelan. Dia ingat mimpi itu sekarang. Wajah haraboji yang redup dan tidak bercahaya ketika membuka pintu ruang kerjanya yang terletak di lantai bawah. Haraboji menoleh ke dalam ruang kerja, kembali padanya, lalu kembali lagi ke ruang kerjanya, dan begitu seterusnya. Seolah-olah haraboji ingin mengisyaratkan sesuatu padanya.

"Ruang kerja ... " Sun-Hye mengarahkan pandangan pada pintu kamarnya. Perlahan kakinya digerakan. "Haraboji .... " Sun-Hye membuka pintu lalu melonggokan kepala keluar kamar. Sepi, buram. Dengan ragu-ragu dan ketakutan yang mengeluti hatinya akibat kejadian tadi sore, Sun-Hye melangkahkan kakinya ke lorong.


*****




Sun-Hye merasa aneh mengendap-endap di rumahnya seperti ini. Ini tempat yang sama yang dilewatinya setiap hari--tempat membosankan yang sama. Tapi sekarang, lampu di tengah tangga tidak menyala dan lorong bawah kosong, tempat ini terasa sangat berbeda.

Sun-Hye berhenti setiap beberapa langkah. Dia mendengarkan bunyi sepatu atau apapun yang bergerak di atas lantai. Sun-Hye menyangka akan mendengar suara langkah maupun bisikan halus, sekalipun angin yang bertiup kencang menampar-nampar di luar jendela. Tapi dia tidak mendengar apa-apa.

Sun-Hye tidak melepaskan pandangan dari setiap sudut ruangan ketika menuruni tangga. Dia menyelinap dengan sangat hati-hati, seakan-akan ini tindakan yang paling ditakutinya. Menyelinap laksana pencuri, hanya dilakukannya semenjak kematian haraboji!

Sun-Hye tidak mengerti, .. apakah lebih karna perasaan takut merasa hidupnya selalu dibayang-bayangi, ataukah memang adanya ancaman-ancaman tersembunyi yang siap menerkamnya setiap saat yang menjadi penyebabnya. Sun-Hye takut sewaktu-waktu ada barang yang dijatuhkan di atas kepalanya seperti kemarin-kemarin, ataupun benda-benda berbahaya yang dibuat sebagai perangkap di atas lantai yang tidak terlihat olehnya.

Waktu berkelebat dengan sangat lamban ketika Sun-Hye menjatuhkan kakinya di lantai bawah. Mata bulatnya jelalatan ke kanan dan kiri. Tidak dilihatnya seorang pun! Dia menghembuskan nafas dan terburu-buru berlari dengan tanpa suara ke ruang kerja haraboji yang terletak di bagian belakang. Sun-Hye membuka pintu dengan sangat pelan. Penerangan yang berasal dari dalam ruangan langsung menyapa pandangannya. Mata Sun-Hye membulat.

Ada orang dalam ruangan?!

Sun-Hye membentangkan pintu lebar-lebar. Cahaya kelabu redup dari lampu kerja haraboji membuatnya sedikit mengejapkan matanya. Untuk beberapa detik, barulah mata Sun-Hye terbiasa dengan cahaya redup yang sempat mengiris selaput matanya tersebut.

Sun-Hye telonjak kaget. Orang yang berada dalam ruangan, yang sedang menghadap kearahnya saat ini, berdiri di belakang meja sambil menenteng sebuah buku yang terbuka di tangannya. Dia menatap lekat Sun-Hye dengan keterkejutan kentara yang tidak mampu disembunyikan dari wajahnya. Sun-Hye membujur kaku seketika. Tidak menyangka sosok ini yang akan didapatkannya berada dalam ruang kerja harabojinya. Di malam selarut ini?

"Kau .... " Sun-Hye menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa ... " suaranya bergetar ketika menyapu iris gelap yang agak tersembunyi dibalik rambutnya yang terjuntai lemah.



_______ TBC _________

        
« Last Edit: April 08, 2012, 11:27:07 am by Be my self »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
Re: The Sounds of death--CHAPTER 10--8/4/12
« Reply #684 on: April 08, 2012, 07:41:31 pm »
jang geun suk??? apa ia dibalik semua ini??? atau memang orang-orang yang tak terduga seperti Ny Goo atau mungki paman chan??? belum ada tanda2.... geunsuk ngapain juga datang tiba2 menakuti sunhye aja,,,
geun suk mengiran klo si hwan adalah paman chan? lalu apa maksudnya "Sejak pertama aku sudah tahu kau akan menjadi penghalang!!”  apa geunsuk tahu kalau min chan suka ama sun hye???

minchan punya banyak luka di tubuhnya,,, owww so swet bisa diihat ama sunhye,,,

apakah pelayan itu juga ada sangkut pautnya???
nah,,, lalu siapakah orang yang ditemui sunhye di ruang kerja harabojinya??? Mrs Goo? paman Chan?? atau siapakah...??


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: The Sounds of death--CHAPTER 10--8/4/12
« Reply #685 on: April 08, 2012, 09:41:05 pm »
Makasih updatenya mami,
Ff ini benar" penuh dengan misteri ...!!! Tapi..kalau mau menebak ada kemungkinan tersangka pembunuhnya itu orang dalam rumahnya yang tahu seluk beluk haraboji kegiatannya sehari" baik makan, minum, Dll , aku aga menaruh kecurian sama nyonya Go !!! Karna kemungkinan nyonya Go. mau menguasai harta keluarga Go. Ada , secara kehidupan yg dijalani nyonya Go. Dan min chan di masa lalu sangat keras , jadi nyonya Go. Ada ketakutan buat nyonya Go. kembali kekehidupa mereka yg dulu, apa lagi kejadia" yg menimpa su hye beberapa kali itu yg sangat mencurigakan, kalau orang luar sangat sulit, atau mungkin suster yg sering memberikan haraboji obat" ada keikut sertaan dalam kasus * ini hanya sedekar pemikiranku aja ya mami * tapi..beraharp aja bukan nyonya Go. Karna G bisa dibayangkan klau itu terjadi orang yg palng shock pasti min chan dan shiwan , ada apa dengan mimpi su hye dan siapa yg dia temui di ruang kerja kakeknya ???

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death--CHAPTER 10--8/4/12
« Reply #686 on: April 08, 2012, 10:00:14 pm »
jang geun suk??? apa ia dibalik semua ini??? atau memang orang-orang yang tak terduga seperti Ny Goo atau mungki paman chan??? belum ada tanda2.... geunsuk ngapain juga datang tiba2 menakuti sunhye aja,,,
geun suk mengiran klo si hwan adalah paman chan? lalu apa maksudnya "Sejak pertama aku sudah tahu kau akan menjadi penghalang!!”  apa geunsuk tahu kalau min chan suka ama sun hye???

minchan punya banyak luka di tubuhnya,,, owww so swet bisa diihat ama sunhye,,,

apakah pelayan itu juga ada sangkut pautnya???
nah,,, lalu siapakah orang yang ditemui sunhye di ruang kerja harabojinya??? Mrs Goo? paman Chan?? atau siapakah...??

lah pan byk pertanyaan [wacko] [wacko] jujur aja gw jg teler ama ff ini [hmpfh] [hmpfh] kira2 gimana ya ngegungkap semua teka2i yg terjd di goo's mansion [what] [what] apa geunsuk terlibat? siapa yg ingin membunuh sunhye [chin] [chin] dgn kematian sunhye, apa yg akan didptkannya [chin] [chin] secara org yg diplg dicurigai pasti org yg secara otomatis akan mendptkan harta kekayaan tuan goo begitu sunhye meninggal Hface Hface tp, benarkah org itu mempunyai hubungan dgn kematian harabojinya sunhye [heh] [heh] masih far far far away [goodgrief] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death--CHAPTER 10--8/4/12
« Reply #687 on: April 08, 2012, 10:03:15 pm »
Makasih updatenya mami,
Ff ini benar" penuh dengan misteri ...!!! Tapi..kalau mau menebak ada kemungkinan tersangka pembunuhnya itu orang dalam rumahnya yang tahu seluk beluk haraboji kegiatannya sehari" baik makan, minum, Dll , aku aga menaruh kecurian sama nyonya Go !!! Karna kemungkinan nyonya Go. mau menguasai harta keluarga Go. Ada , secara kehidupan yg dijalani nyonya Go. Dan min chan di masa lalu sangat keras , jadi nyonya Go. Ada ketakutan buat nyonya Go. kembali kekehidupa mereka yg dulu, apa lagi kejadia" yg menimpa su hye beberapa kali itu yg sangat mencurigakan, kalau orang luar sangat sulit, atau mungkin suster yg sering memberikan haraboji obat" ada keikut sertaan dalam kasus * ini hanya sedekar pemikiranku aja ya mami * tapi..beraharp aja bukan nyonya Go. Karna G bisa dibayangkan klau itu terjadi orang yg palng shock pasti min chan dan shiwan , ada apa dengan mimpi su hye dan siapa yg dia temui di ruang kerja kakeknya ???
namanya jg minsun misteri, jd harus penuh dengan misteri dung [hmpfh] [hmpfh]
tebakan2 elu boleh juga, tp tuk sementara gw ga akan beri gambaran. elu mikirin aja sendr kira2 siapa pembunuh tuan goo [biggrin] [biggrin] 'yg berkaitan', otomatis tentu aja org rumah. jadi elu tebak aja sendr [hmff] bisa aja nyonya goo, eunhye, minchan, geunsuk, hae or ... sunhye sendiri [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline chizumi

  • Junior
  • **
  • Posts: 132
    • View Profile
Re: The Sounds of death--CHAPTER 10--8/4/12
« Reply #688 on: April 09, 2012, 10:00:47 pm »
haduhhh mom... gantung yaaa...

siapa kah dia??
kenapa gw kepikiran klo itu Paman Chan ya...
tapi pas tau Goo Sun Hye manggilnya dgn kata "Kau" jadi berubah klo itu adalah Jang Geun Seuk

tapi klo soal pot gw nuduhnya Nyonya Goo...
itu berarti pelakunya org rumah itu sendiri kan, soalnya siapa lagi yg masuk...
JGS kan datengnya kemarin sedangkan kejadian berubah posisi pot tersebut ya hari itu juga...

bener2 Teka Teki nie mom, membingungkan...

mending langsung di update mom, klo ditunda pasti jadi tambah bingung nanti...  [hmpfh] *maksa.com*

but anyway thanx ya mom, udah di update..
please jangan telantarkan FF yg lain, pleaseeeee... update jg mom  [AddEmoticons04219]
semangatttt  [AddEmoticons04237]

oiya pas Sun Hye liat punggungnya Paman Chan kirain bakal berlanjut dgn penjelasan/cerita dari Paman Chan gitu mom... ehhh... malah suasana dingin yg tercipta... Paman Chan u need someone for share your problem... so please open your heart & mind...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Sounds of death--CHAPTER 10--8/4/12
« Reply #689 on: April 13, 2012, 10:19:23 am »
haduhhh mom... gantung yaaa...

siapa kah dia??
kenapa gw kepikiran klo itu Paman Chan ya...
tapi pas tau Goo Sun Hye manggilnya dgn kata "Kau" jadi berubah klo itu adalah Jang Geun Seuk

tapi klo soal pot gw nuduhnya Nyonya Goo...
itu berarti pelakunya org rumah itu sendiri kan, soalnya siapa lagi yg masuk...
JGS kan datengnya kemarin sedangkan kejadian berubah posisi pot tersebut ya hari itu juga...

bener2 Teka Teki nie mom, membingungkan...

mending langsung di update mom, klo ditunda pasti jadi tambah bingung nanti...  [hmpfh] *maksa.com*

but anyway thanx ya mom, udah di update..
please jangan telantarkan FF yg lain, pleaseeeee... update jg mom  [AddEmoticons04219]
semangatttt  [AddEmoticons04237]

oiya pas Sun Hye liat punggungnya Paman Chan kirain bakal berlanjut dgn penjelasan/cerita dari Paman Chan gitu mom... ehhh... malah suasana dingin yg tercipta... Paman Chan u need someone for share your problem... so please open your heart & mind...

elu lupa ya gw plg suka ending gantung [hmpfh] [hmpfh]
siapa kira2 yg berada di ruang kerja haraboji sunhye [chin] [chin] ini pertanyaan buat chp yg akan datang Hface Hface [hmff]
yg menjatuhkan pot bunga [chin] [chin] ini masih teka2i yg belum bisa dipaparin [laughing] [laughing]
gw setuju ama elu, dear,, sehrsnya paman chan bisa lbh membuka hatinya buat org2 di sekitarnya, bukannya hanya terhadap sunhye tp terutama terhadap ommanya [cry] [cry]
yg terakhir, thanks dah baca ff gw yg atu ini [hug] [hug]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun