Author Topic: Tale of a Black Canvas HIATUS  (Read 3890 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Tale of a Black Canvas HIATUS
« on: August 04, 2010, 04:46:16 am »
A new fic story.

Sebuah dunia dimana penyihir masih ada. Tersembunyi dan bersembunyi di antara para manusia non penyihir.
Intrik. Kekuasaan. Kegelapan. Balas dendam. Sihir. Dan, Cinta. Melebur menjadi satu. Menciptakan suatu kisah penuh warna -merah, hitam, biru, hijau di atas sebuah kanvas putih polos tanpa noda. Dan menamakan dirinya ....

Tale of a Black Canvas
[/b]

starring :

Goo Hye Sun - Ara Jessica Russo

Lee Min Ho - David Ziva

Kim Hyung Joong - Justin Xavier

coming soon
« Last Edit: May 05, 2011, 12:56:29 am by voldi »
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME

Share on Bluesky Share on Facebook


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Tale of a Black Canvas
« Reply #1 on: August 04, 2010, 05:14:02 am »
 [heh] [heh] nama2 karangan elu lebih memusingkan lagi [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Tir_@

  • Newbie
  • *
  • Posts: 84
    • View Profile
Re: Tale of a Black Canvas
« Reply #2 on: August 04, 2010, 06:22:46 am »
Yeeeeee... Sist voldi bikin FF lagi, mengenai sihir ni... Aq demen ni kayak dramione *HARPOT* D tunggu sist chapt 1 y... *SEMANGAT* :-D
 

Offline Tir_@

  • Newbie
  • *
  • Posts: 84
    • View Profile
Re: Tale of a Black Canvas
« Reply #3 on: August 04, 2010, 06:27:18 am »
Yeeeeee... Sist voldi bikin FF lagi, mengenai sihir ni... Aq demen ni kayak  *HARPOT* apalagi Dramione y, D tunggu sist chapt 1 y... *SEMANGAT* :-D
 

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: Tale of a Black Canvas
« Reply #4 on: August 04, 2010, 07:39:31 am »
akhir2 ni kok sering bgt ada ff baru ya ? [ohmy] [ohmy]
enak donk kalo semakin banyak ff.. [hmpfh] [hmpfh]
bikin semangat baca aja  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [hmpfh]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: Tale of a Black Canvas
« Reply #5 on: August 04, 2010, 06:39:26 pm »
 [ohmy] [ohmy] [ohmy] voldi bikin ff lg [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] jd makin bejibun de tp gpp jd makin banyak pan koleksi ffku punk punk punk

huft musti inget2 nama lg dah [sweat] [sweat] [sweat] tu namanya susah buat diinget kyk si mami nih demen bikin nama yg puyeng [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Rizkyta_A

  • Junior
  • **
  • Posts: 169
  • my first lovely couple
  • Location: depok
    • View Profile
Re: Tale of a Black Canvas
« Reply #6 on: August 04, 2010, 06:53:04 pm »
anyeong....lam knal.....aku snang,,,mkin bnyk FF bru d. CM...smua.a... add fb aku ya..trims...

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Tale of a Black Canvas
« Reply #7 on: August 05, 2010, 04:07:35 pm »
Hari ini sebelum hiatus, aku cuma bisa kasih spoiler . Maaf y

Malam itu, malam 28 November 1988, 2 bayi mulai menjalani takdir mereka. Satu bayi, kehilangan figur seorang Ayah namun diangkat sebagai pewaris utama perusahaan raksasa dunia, Ziva Corporation. Para penghuni dunianya ini tidak peduli pada sang Ayah yang tewas terbunuh. Bayi tersebut, laki-laki berambut hitam, hidung mancung, bibir penuh nan sexy, pahatan wajah yang sungguh sempurna. Bayi laki-laki itu menangis di pangkuan ibunya yang menatap jasad suaminya dengan naas. Sedangkan, bayi satu lagi kehilangan kedua orang tuanya, figur Ayah yang hangat dan sesosok Bunda yang penuh kasih. Kalau saja sang Ayah lebih cepat satu detik, si bayi tak perlu mengalaminya.

Si bayi perempuan menangis di keranjang, di bawa ke panti asuhan beberapa hari kemudian.

Takdir menyeringai.


*****

mami, kalau ada adegan pembunuhan itu masuk rated M gak mi?
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: Tale of a Black Canvas
« Reply #8 on: August 06, 2010, 12:30:42 am »
Hari ini sebelum hiatus, aku cuma bisa kasih spoiler . Maaf y

Malam itu, malam 28 November 1988, 2 bayi mulai menjalani takdir mereka. Satu bayi, kehilangan figur seorang Ayah namun diangkat sebagai pewaris utama perusahaan raksasa dunia, Ziva Corporation. Para penghuni dunianya ini tidak peduli pada sang Ayah yang tewas terbunuh. Bayi tersebut, laki-laki berambut hitam, hidung mancung, bibir penuh nan sexy, pahatan wajah yang sungguh sempurna. Bayi laki-laki itu menangis di pangkuan ibunya yang menatap jasad suaminya dengan naas. Sedangkan, bayi satu lagi kehilangan kedua orang tuanya, figur Ayah yang hangat dan sesosok Bunda yang penuh kasih. Kalau saja sang Ayah lebih cepat satu detik, si bayi tak perlu mengalaminya.

Si bayi perempuan menangis di keranjang, di bawa ke panti asuhan beberapa hari kemudian.
 [ohmy] [ohmy] [ohmy] [ohmy] [ohmy] [ohmy] [ohmy] spoiler doank, HIATUS,  [nono] [nono] [nono] [nono] [nono]
voldi!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! up date!!!!!!!!!!!!!!!!! [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]




Takdir menyeringai.


*****

mami, kalau ada adegan pembunuhan itu masuk rated M gak mi?


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
BuseEt Voldi.. !!
Bkalan ad adgan pembunuhan yah???
JiakKkh
baCa FF loe in,harus bCa sama yg brwajib kyakx.. Biar bisa tw sypa pembunuhx.
Haha 'lol'
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline Tir_@

  • Newbie
  • *
  • Posts: 84
    • View Profile
Re: Tale of a Black Canvas
« Reply #10 on: August 06, 2010, 01:24:43 am »
Hari ini sebelum hiatus, aku cuma bisa kasih spoiler . Maaf y

Malam itu, malam 28 November 1988, 2 bayi mulai menjalani takdir mereka. Satu bayi, kehilangan figur seorang Ayah namun diangkat sebagai pewaris utama perusahaan raksasa dunia, Ziva Corporation. Para penghuni dunianya ini tidak peduli pada sang Ayah yang tewas terbunuh. Bayi tersebut, laki-laki berambut hitam, hidung mancung, bibir penuh nan sexy, pahatan wajah yang sungguh sempurna. Bayi laki-laki itu menangis di pangkuan ibunya yang menatap jasad suaminya dengan naas. Sedangkan, bayi satu lagi kehilangan kedua orang tuanya, figur Ayah yang hangat dan sesosok Bunda yang penuh kasih. Kalau saja sang Ayah lebih cepat satu detik, si bayi tak perlu mengalaminya.

Si bayi perempuan menangis di keranjang, di bawa ke panti asuhan beberapa hari kemudian.

Takdir menyeringai.


*****

mami, kalau ada adegan pembunuhan itu masuk rated M gak mi?
jiihaaa... Kok spoiler doang sist
Langsun chapt 1 aja sist d *timpuk* sist voldi, jng lama donk hiatus y :-)
UPDATE...
UPDATE...
UPDATE...
PISSSsss ^^V

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
ayoo sist, lanjuuuuuuuuut [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
voldi, kyknya nggak soalnya ff gw yg atu jg ttg pembunuhan [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Tale of a Black Canvas
« Reply #13 on: August 06, 2010, 11:28:08 am »
Hari ini sebelum hiatus, aku cuma bisa kasih spoiler . Maaf y

Malam itu, malam 28 November 1988, 2 bayi mulai menjalani takdir mereka. Satu bayi, kehilangan figur seorang Ayah namun diangkat sebagai pewaris utama perusahaan raksasa dunia, Ziva Corporation. Para penghuni dunianya ini tidak peduli pada sang Ayah yang tewas terbunuh. Bayi tersebut, laki-laki berambut hitam, hidung mancung, bibir penuh nan sexy, pahatan wajah yang sungguh sempurna. Bayi laki-laki itu menangis di pangkuan ibunya yang menatap jasad suaminya dengan naas. Sedangkan, bayi satu lagi kehilangan kedua orang tuanya, figur Ayah yang hangat dan sesosok Bunda yang penuh kasih. Kalau saja sang Ayah lebih cepat satu detik, si bayi tak perlu mengalaminya.

Si bayi perempuan menangis di keranjang, di bawa ke panti asuhan beberapa hari kemudian.

Takdir menyeringai.


*****

mami, kalau ada adegan pembunuhan itu masuk rated M gak mi?

yah... malah hiatus... eh bikin tambah penasarn cuman ngasih spoiler duang lagi... ni sist voldi minta di  [head break] [hammer] [guns]

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Chapter 1

CRASS ..

Benda tajam itu menembus kulit Brad. Darah bercampur keringat menyatu di tubuhnya. Si pelaku menyeringai kesenangan, “Dimana tongkat sihirmu, Russo?”
Langkah kakinya kemudian beralih ke dalam suatu ruangan yang penerangannya remang-remang.

BRAKK ..

Suara pintu yang dibuka secara paksa membuat seorang wanita memekik pelan. Pelukannya pada seorang bayi perempuan mungil di eratkan.

"Ku..kumohon. Jangan sakiti Ara. Sakiti aku saja. Kumohon, Zavi", wanita itu semakin terpojok di sudut ruangan sejalan dengan langkah kaki Zavi yang semakin dekat.

"Aku tidak pernah pilih kasih, Belinda. Brad mati. Kau dan anakmu pun harus ikut dengannya. Bukankah kalian keluarga yang harmonis, huh?", Zavi kembali menyeringai, ia memperlihatkan sebilah pisau yang terlihat berkilau akibat pantulan cahaya dari bohlam lampu atas.

"Kumohon, Zavi. Please. Ara tidak tahu apa-apa tentang permasalahan kita. Ara tidak bersalah sama sekali. Please. Hiks hiks"

Zavi kembali menyeringai.

PLAKK

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Belinda. Dengan paksa Zavi mengambil Ara -bayi perempuan berumur 2 bulan- dari pelukan Belinda.

"Anak haram ini akan menjadi santapan terakhirku", Zavi kembali menyeringai.

Zavi menggenggam lengan Belinda dengan kasar, kemudian mendorongnya ke arah tembok yang tepat berhadapan dengan Ara yang menangis.

PLAKK

Kembali tamparan keras mendarat di pipi mulus Belinda.

"Itu untuk sakit hatiku"

PLAKK

"Itu dari Cissy"

CRASS

"Itu dendam keluarga Ziva dan Goo"

Pisau yang menancap di perut Belinda ditarik dengan sangat perlahan dengan arah horizontal oleh Ziva. Belinda berteriak kesakitan. Nyeri, pedih, sakit bercampur di pikirannya. Puas melihat Belinda merasakan sakit, Ziva menarik pisaunya dengan cepat. Seulas senyum sinis tersungging di bibirnya.

"Ini belum berakhir, Mrs. Russo", gumam Ziva.

Dengan kasar Ziva kembali mendorong Belinda. Kali ini ia jatuh terlentang. Tangan kanannya berusaha mencegah pendarahan diperutnya yang semakin banyak. Ziva melangkah mendekati Belinda. Ia menunduk sedikit, ujung pisaunya menekan leher jenjang Belinda. Hingga setetes darah membasahi ujung pangkal pisaunya.

“Leher ini tiap malam mendapat kecupan hangat dari Brad, bukan?”

“Hiks… bunuh aku secepatnya, Zavi. Jangan siksa aku. Hiks”, rintih Belinda.
Air mata mulai membasahi pipinya dan kemudian menyatu dengan darahnya sendiri.

“Aku ingin bersenang-senang, Mrs. Russo”

“Hen ARRGGHHHH”, Belinda menjerit seiring menembusnya benda tajam itu dilehernya. Zavi menggerakkannya perlahan. Turun lalu berbelok arah. Dan suara teriakan itu berhenti ketika Zavi mencabut cutter itu. Zavi tahu dimana letak nadinya. Jadi, sengaja tidak memotongnya. Ia ingin permainan ini menjadi mengasyikan. Dengan satu gerakan, Zavi menyobek rok panjang yang dikenakan Belinda dengan cutter miliknya. Kedua iris coklatnya menelusuri dari jari kaki hingga paha wanita itu. Terlihat halus dan indah dengan warnanya, putih pucat. Pria itu membiarkan jari-jarinya menari perlahan di atas kaki milik Belinda. Merasakan seberapa halus kulit yang ia miliki.

"Kulitmu begitu halus. Brad pasti menikmatinya setiap malam, bukan? Kakimu indah. Mungkin akan lebih terlihat cantik jika warna merah dan putih bercampur menjadi satu, ya, kan?" Zavi tersenyum pada Belinda yang tubuhnya sudah gemetar.

"Ja KYAAA!", Lagi. Sebuah teriakan keras memenuhi ruangan itu, seiring dengan sebilah pisau daging yang menancap di pahanya lalu bergerak turun ke bawah, merobek jaringan tipis dan daging yang menghalangi.

"Lihat. Terlihat cantik bukan?", Zavi meraba paha perempuan di bawahnya yang telah membelah, lalu mengangkat tangannya sebatas wajah.

Seulas senyum muncul di wajahnya ketika darah-darah itu menetes perlahan. Sedangkan Belinda hanya bisa terengah merasakan kakinya diperlakukan secara barbar. Zavi lalu melepas alas kaki Belinda. Pertama-tama sebelah kanan.

"Kuku di kakimu panjang juga. Pantas Brad sangat mencintaimu. Hei, bagaimana kalau kubantu untuk memotongnya? Mau, ya? Tenang saja, aku tidak akan menarik ongkosnya padamu, kok," Zavi tersenyum seolah menyakinkan. Belinda hanya diam. Apapun jawabannya nanti tidak akan berpengaruh. Zavi akan terus menyiksanya. Dia merintih di sela napasnya yang memburu. Zavi mengambil gunting kertas yang ada di meja yang tak jauh dari tempatnya 'bekerja'. Dengan cepat, ia memotong kuku mulik Belinda secara asal. Dan jelas saja, hasilnya berantakan. Merasa tak puas akan hasil kerjanya, ia mengeluh pelan, "Ah sial. Aku memang tidak berbakat dalam hal begini. Hasilnya benar-benar jelek. Supaya lebih bagus, bagaimana kalau kupotong semuanya saja?" entah darimana dan bagaimana, sebuah gunting rumput yang cukup besar sudah ada di tangannya.

"Kalau begini kan jadi lebih mudah," katanya dengan nada riang.

Dalam satu kali kedipan mata, Zavi sudah siap dengan guntingnya, dan hanya membutuhkan satu gerakan, satu jari kakinya telah terlepas dari tempatnya. Benda itu jatuh dengan disertai jeritan melengking yang memekakkan telinga.

"Tangan ini, pundak ini, kau sering memamerkannya, bukan? Apa sebaiknya", Jeritannya tertahan oleh bekapan tangan Zavi di mulutnya.

CRASH!T

Sayatan melintang di lengannya begitu dalam. Lalu Zavi menggerakkannya perlahan. Jeritan itu semakin keras seiring terbukanya daging di lengan itu. Membuat sebagian tulangnya terekspos dengan jelas. Warna putih di antara cairan kental dan daging.

Zavi tersenyum melihatnya.

“Brengsek! Keparat!"gumamnya.

"Kau! Brengsek! Kau pria gila! Psikopat! Hentikan semua ini”

CREP!

Pisau perak menancap di perutnya lagi. Zavi mencabutnya, lalu dihujamkan lagi. Hingga akhirnya Zavi melepaskan pisau daging itu dan berganti dengan cutter.

"HUAAA!" jeritannya kembali menggema.

"Rupanya kau begitu berisik, ya?" kata Zavi dengan pandangan yang begitu menusuk. Tangan kirinya menyentuh pipi gadis itu. Mengusapnya perlahan. Lalu membuka mulutnya secara paksa.

"Kalau kau terlalu banyak bicara, mulutmu akan semakin lebar, lho."

CRASH!T

Cutter yang tadinya menempel pada tepi bibirnya, berhasil membuat sebuah sobekan di pipi Belinda. Ia menjerit tertahan karena mulutnya yang ditutup paksa oleh Zavi.

"Lihat, kan? Mulutmu jadi semakin lebar, tuh."

Dan sisi bibirnya yang lain, Zavi memotongnya perlahan. Jaringan epitel penyusunnya, satu-persatu terpotong. Tersenyum puas, ia berpindah tempat. Iris coklatnya mencari bagian tubuhnya yang belum terjamah.

"Kau tahu? Aku sungguh muak melihatmu!" Zavi menginjak perutnya. Darah segar mengucur keluar melalui lubang yang dibuat Zavi tadi. Sementara Belinda hanya melenguh pelan. Hampir tak ada lagi tenaga untuk sekedar berteriak. Hampir sekujur tubuhnya terasa mati rasa. Hanya beberapa organ yang dapat merasakan sakitnya.

"Ah, tunggu. Aku baru sadar kalau kau memiliki mata yang indah. Boleh untukku?" Zavi bertanya. Namun tak ada jawaban dari sang pemilik. Pendengarannya tak begitu jelas, karena beberapa syaraf yang rusak. Pandangannya juga mengabur. Pandangannya yang semula mengabur, kini menjadi hitam sebagian. Karena salah satu bola mata miliknya telah keluar dari teritorialnya. Sang pemilik hanya bisa menjerit tertahan kala salah satu indera terpentingnya
dikeluarkan secara paksa. Setelah satu bola matanya terambil, Zavi beralih pada sebelah matanya. Ia buka secara paksa mata yang terpejam itu. Ditusukkannya pisau daging yang dipegangnya pada bagian bawah mata sang gadis. Tangan kirinya terjulur, yang kemudian mengambilnya.

"Sayang sekali, ya. Kau punya mata seindah ini, namun kau menggunakannya untuk
menggoda pria milik wanita lain," kata Zavi yang nadanya dibuat-buat.

Pisaunya kembali tertancap di perut gadis malang yang kini tergeletak lemah. Zavi menyeret pisaunya, hingga membuat sebuah lubang menganga di bagian perutnya. Ususnya terburai dengan kasarnya. Kini, bau anyir benar - benar telah menyebar ke seluruh ruangan. Aromanya yang begitu menusuk hidung, entah mengapa tetap saja membuat Zavi tetap bergeming di tempat itu. Setelah mengeluarkan sebagian isi perutnya, ia kembali pada bagian atas. Belinda kini hanya tergeletak. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Karena sekarang, ia sedang berada di antara jembatan hidup dan mati. Dan mungkin, apa yang akan Zavi lakukan setelah ini, ia tak akan merasakannya.

Dengan cepat, pisau perak itu telah memotong saluran pencernaan dan pernapasan
sekaligus di bagian leher. Darahnya bermuncratan keluar. Beberapa ada yang menodai jas hitam Zavi di sebelahnya. Cairan kental terus mengalir dari sana. Dan di leher itu, terlihat
lubang menganga yang mengerikan. Tubuh Belinda seperti ikan yang menggelepar di darat. Beberapa detik, sebelum akhirnya ia benar-benar tak bergerak.

Zavi mengalihkan pandangannya ke seorang bayi yang sedari tadi terus menangis. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi memperlihatkan pisau tajam.

“Sekarang giliranmu, anak haram”, desisnya.

Belum sempat tangan kotornya meraih bayi perempuan itu, ia dikagetkan dengan dobrakan pintu dibelakangnya. Dengan cepat ia berbalik. Dibalik pintu itu nampak beberapa orang berseragam polisi, tangan mereka menodong pistol kearahnya.

“Kau ditahan. Dengan tuduhan pembunuhan berencana. Menyerahlah, Brian Zavi”

Salah satu sudut bibir Zavi terangkat. Senyum sinisnya malah semakin membuat para polisi itu geram.

“Letakkan senjatamu”, lanjut salah polisi itu.

“Tidak sebelum aku membunuh anak haram ini”, desisnya.

Baru saja Zavi membalikkan tubuhnya kearah bayi didalam boks itu, tembakan berturut-turut menerpanya. Brian Zavi, Presiden Direktur Zavi Corporation, roboh dengan berlumuran darah diseluruh tubuhnya. Tubuhnya menghantam lantai dengan keras, tepat disamping jasad Belinda yang amburadul. Tewas.

Diwaktu yang sama, Zavi Mansion.

Seorang bayi laki-laki menangis dengan kerasnya. Tangisannya begitu menyayat hati. Seorang wanita cantik yang tidur disebelahnya terdiam. Ia merasakan firasat buruk. Dengan penuh kasih ia mengangkat bayi laki-laki itu dan memeluknya hangat didadanya.

‘Semoga Brian baik-baik saja’, ujarnya dalam hati.

Baru sekitar sepuluh menit anaknya tertidur kembali, wanita tadi dikagetkan deringan ponsel yang tergeletak di meja kecil disamping tempat tidur mewahnya.

“Yobseo”, ujarnya pelan, takut membangunkan anaknya.

Baru sekitar 15 detik ia menggenggam ponsel itu tapi tiba-tiba genggamnya terlepas. Ponselnya jatuh kelantai dengan bunyi brak keras. Wajahnya memucat. Ia tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Brian Zavi, suaminya, tewas terbunuh setelah melakukan pembunuhan sadis pada pasangan suami istri keluarga Russo.

Cissy –nama wanita itu menatap nanar putra tunggalnya. Bibirnya bergetar hebat menahan tangis. Pandangan matanya liar. Barulah setelah seseorang menenangkannya ia mulai menangis.

Malam itu, malam 28 November 1988, dua bayi mulai menjalani takdir mereka masing-masing. Satu bayi kehilangan figur seorang Ayah namun diangkat menjadi pewaris utama perusahaan raksasa dunia, Ziva Corporation. Para penghuni dunianya ini tidak peduli pada sang Ayah yang tewas terbunuh. Bayi tersebut, laki-laki berambut hitam, hidung mancung, bibir penuh nan sexi, menangis dipangkuan ibunya yang menatapa jasad suaminya dengan na’as. Sedangkan, satu bayi lagi kehilangan kedua orangtuanya, figur Ayah yang hangat dan sesosok Bunda yang penuh kasih. Kalau saja sang Ayah lebih cepat satu detik, si bayi tak perlu mengalaminya.

Si bayi perempuan menangis di keranjangan, dibawa ke panti asuhan beberapa hari kemudian.

Takdir menyeringai.


****


maaf kalo kurang sadis pembunuhannya. aku bener-bener nyerha deh. gak bakat jadi psikopat [collapse]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME