Author Topic: -My Everything III : Just This Moment!!!- Chapter one (part i) update 15 Januari  (Read 10194 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Thanx God! Akhrnya pintu hati mami terketuk jg buat update ni ff. No problemo mo dibg 2 part ato 3 part,yg penting update update. Lee jung min

hore akhrx update!
« Last Edit: January 09, 2011, 06:49:57 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

minsunlover

  • Guest
Mamiiii....ayo dong segera post chapter 1-nya...udah kelamaan dianggurin nih FF (ntar gw utus om chow lho buat hammer mami kalo kelamaan di update) hehehehehe ^^v

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Thanx God! Akhrnya pintu hati mami terketuk jg buat update ni ff. No problemo mo dibg 2 part ato 3 part,yg penting update update. Lee jung min & goo jundi (namanya bener ga?  miane kalo salah. Tp salahkan authornya aja coz kelamaan update nya),-p mam,hehe.
yeee lee jae min, not lee jung min,, emangnya ff MRD hammer2 [hmpfh]

 [AddEmoticons04254]yeee si mami, pan ane dah bilang salahkan saja pd authornya coz kelamaan kgk up date2nya [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh], kabooorrrrrrr sblm di  [hammer] [hammer] [hammer]lagi ama mami


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
perasaan ampe jamuran nungguin updatetan ME III!!!!!!..... Emoticons0430

Love you more than I can say

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
perasaan ampe jamuran nungguin updatetan ME III!!!!!!..... Emoticons0430
sedang diusahakan sekrg [heh] [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
 [hmpfh] [hmpfh] kesalahan ada pada author yang bikin reader jatuh cinta ma ff2nya....!!!!! [laughing]

tapi kalo blom smpt gapapa mam  [cheekkiss]

Love you more than I can say

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Asyik. Mami emang paling asoy dech,hehehe. Gw tunggu ye mam update-annya. Lee jae min kutunggu kedtganmu,hmph hmph.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline mutiara_minsun

  • Junior
  • **
  • Posts: 199
  • mino bilng."sayang kmu trmakn ak jd cow kmu?"hehe
    • View Profile
perasaan ampe jamuran nungguin updatetan ME III!!!!!!..... Emoticons0430
sedang diusahakan sekrg [heh] [heh]


ASEKKKKKK......................

Offline Sasa_MinozSunniez

  • Junior
  • **
  • Posts: 107
  • Location: indonesia
    • View Profile
mami !!
kapan nie di update ...
udah lumutan dah nungguin berbulan" yg serasa berabad"  Emoticons0430

Offline lee sun ho

  • Full
  • ***
  • Posts: 265
  • onnie you're so pretty
    • View Profile
mami.....
update donk....dh kering kerontang niy kgk diupdate2
update y mi....dku setia menunggumu mami [lovestruck]
mami update jg UL nya mi.....hwaiting !!!!!!!!!!!kabooooooorrrrrrrr
MinSun....''I will always love Them''
forever and ever

Offline azri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 23
    • View Profile
Mom gw bru slese bca ME II wkwk tlat banget, oh si janpyo bner2 bkin mabuk kpayang, tpi gw kgen ma junpyo di ME kgen ma sifat childish nye, hbs si Janpyo srius bgt wkwk

Gue tungguin Mom update an ME III nya, kra2 karakter si lee jae min gmna y dsni, ah pnasaran, semangat Mom!!

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER ONE
Part (i)




Goo Jun Di menghentikan langkahnya, tepat di depan pintu utama bandara internasional Incheon yang sangat luas. Alisnya berkerut. Gerimis langsung menyambutnya. Diterbangkan angin kencang kearahnya. Gadis remaja itu mendongak ke atas. Langit sedikit mendung, tapi tak menghalangi sinar mentari pagi yang dipancarkan ke bumi.

Jundi kembali mengarahkan pandangan ke depan. Sudah berapa lama dia tak menginjakan kakinya di Korea? Atau tepatnya di Seoul? Hmm—mungkin hampir setahun lamanya. Ya, dia ingat—sejak natal tahun lalu. Ketika itu dia dipaksa orangtuanya—Goo Jun Pyo dan Geum Jan Di—untuk menghadiri pertemuan keluarga itu. Pertemuan yang tak disukainya karna dia lebih suka mengembara. Menikmati keindahan-keindahan di dunia ini daripada harus terikat dengan segala macam acara keluarga yang membosankan.

Semua tak berubah .. , desisnya. Baik itu bangunan-bangunannya yang terlihat dari bandara ini, ataupun orang-orangnya yang terlihat cuek satu sama lain. Bahkan udaranya masih terasa pengap seperti dulu. Jundi menghembuskan nafasnya keras-keras. Udara pengap ini selalu menganggu pernafasannya, menjadikannya terasa berat. Semua tak berubah … , sekali lagi dia mendesis, kemudian menekuk bibirnya. Tak disangka dia akan kembali lagi, bahkan menetap di sini, kota yang tak disukainya—

“Kenapa termenung di situ?”

Sebuah suara mengejutkannya. Seseorang telah berdiri di sebelah sambil mendaratkan tangan ke pundaknya.

“Ada yang menarik?” tanya pemuda tersebut sambil celingak-celinguk ke kiri dan kanan.

Jundi menoleh padanya. Pemuda berpostur tegap dengan ransel besar tersampir di pundak dan dua koper besar tergenggam di tangan itu ikut mengalihkan perhatian kearahnya. Jundi tersenyum lalu menunjuk ke atas.

“Gerimis .. ,” katanya cuek bebek sambil bergerak dari situ.

“Mwo?!!” pemuda itu melongo. Tapi sebentar saja dia sudah berseru keras. “Hey—mobilnya terparkir di sana!!” Dia menunjuk ke arah berlawanan yang dituju Jundi.

“Aku tahu!” jawab Jundi tanpa menoleh. “Tapi aku tak mau pulang dulu. Beritahu oppa kalau kita jalan-jalan sebentar! Koper-kopernya biar diantar pak sopir ke Goo’s mansion. Kau segera bergabung denganku, Mike. Aku akan mencari taxi di situ!”

“Tapi .. “

“Kau boleh tak ikut!” sela Jundi dengan mata berbinar. Mengingat tak perlu dikawal Michael membuat hatinya bersorak-sorak kegirangan. “Aku bisa berkeliling sendiri.”

“Tidak bisa!!” sahut Michael tegas. “Aku telah diperintah Janpyo untuk menjagamu, jadi jangan sekali-kali berharap bisa melepaskan diri dari pengawasanku. Kuingatkan untuk kesekian kalinya, Jundi-a,--jangan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan ..”

“Cih—“ Jundi mencibir. Dia segera meneruskan langkah, tanpa memperdulikan Michael lagi. “Kalau begitu cepatlah!! Aku menunggumu di taxi!!!”

“Tak pakai sopir?!!!” teriak Michael.

“TIDAK!!!” Jundi mengangkat tangan tinggi-tinggi. Sebentar saja bayangannya sudah lenyap dalam salah sebuah taxi yang antri menunggu penumpang.

“Huh—anak ini … “

Michael mengelengkan kepalanya. Setelah memperbaiki posisi ransel yang agak merosot dari punggungnya, dia bergegas menyeret dua koper yang dibawanya ke mobil berplat nomor yang sudah diberikan terlebih dahulu oleh Janpyo kepadanya. Seorang pria setengah baya terburu-buru keluar dari mobil. Dia menanyakan identitas Michael. Setelah memastikan semuanya beres dan benar, sopir keluarga Goo itu segera membantu Michael memasukan bawaannya ke dalam bagasi. Habis itu, Michael bergabung kembali dengan Jundi.


=====> <=====



Pemandangan di luar bergerak cepat, seakan saling berkejaran, berusaha mengapai segala sesuatu di depannya, tapi yang pada akhirnya mundur secara teratur. Jundi membuka pintu mobil dan menjulurkan kepalanya.

"Yuhuii!!"

"Hey--" Michael segera menariknya ke dalam. "Kau sudah gila ya?!" bentak pemuda itu. "Berbahaya menjulurkan kepalamu seperti itu--tahu?"

"Yee--" protes Jundi. Bibirnya dipanjangkan. Sesaat kemudian mereka saling menatap. Terlihat kedongkolan tersirat dari wajah Jundi, sedangkan Michael, dia menghembuskan nafas lewat hidungnya. Memang susah mengatur remaja yang satu ini!! Sampai, Jundi melemparkan pandangannya kembali ke luar jendela. "Mike!!" serunya tiba-tiba. Tangannya langsung mencengkram lengan pemuda di sebelahnya.

"Wee? Weeyo?" tanya Michael kaget.

"Apa itu?" teriak Jundi sambil menunjuk keluar jendela di sebelahnya.

Michael mengikuti telunjuk Jundi. Di luar, terlihat sebuah kereta kayu yang cukup besar sedang ramai dikerubuni orang. Dari tengah-tengah kereta tersebut terdapat tumpukan tusukan-tusukan bulatan yang mengunung yang mengepul-ngepulkan asap tebal. Gerimis yang semakin lebat tak menjadikan orang-orang tersebut mencari tempat berteduh malah mengelilingi penjual jalanan yang menjajakan makanannya.

“Mike?!!” tegur Jundi ketika Michael tak menjawab pertanyaannya.

Michael tersentak, kemudian beralih padanya dengan raut bingung.Dia tak jua menjawab pertanyaan tadi.

“Michael Choi!!” tegur Jundi sekali lagi dengan nada tak sabar. Alisnya berkenyit, dan bibirnya dipanjangkan hampir dua senti.

“A .. aku juga tak tahu … “ Michael mengangkat tangan, menyerah.

“Huh—kau tak tahu?” seru Jundi kaget bercampur tak percaya. “Bagaimana mungkin? Bukankah kau tahu segalanya? Oh—anhi, maksudku—seharusnya kau tahu segalanya!!”

“Buktinya, tidak!” Michael tersenyum. “Ini untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki di Korea, jadi .. “

“Mwo?!!” Jundi menyela—kaget, “ … pertama kali? Jeongmal?”

“Ne .. ,” Michael mengangguk. “Untuk apa saya berbohong? Apa Janpyo tak memberitahumu, bahwa saya dilahirkan di Amerika dan tak pernah kembali ke Korea—tempat kelahiran orangtuaku?”

“Anhi .. ,” Jundi mengeleng, untuk kemudian dia mendesah begitu mengingat oppanya, Goo Jan Pyo. “Kau tahu sendiri bagaimana oppa? Dan, heyy—!!!” mendadak tangannya mengapai pintu dan tubuhnya dicondongkan hingga hidungnya mencium jendela kaca dari taxi yang mereka tumpangi. “Yaa—kelewatan deh!!” serunya kecewa. “Gara-gara bicara denganmu, kereta dagangan tadi kelewatan … “ Jundi berpaling pada Michael dengan pandangan menyalahkan. “ … padahal penasaran apa itu .. “

“Itu tusuk bakso ikan!” tiba-tiba terdengar sahutan menyela pembicaraan mereka dari jok depan.

Jundi dan Michael berpaling.”Mwo?!” tanya mereka berbarengan.

Si sopir taxi tersenyum simpul, terlihat lewat spion depan. “Tusuk-tusuk bakso ikan .. ,” katanya—mengulang jawaban tadi. “Jajakan jalanan yang cukup digemari di sini. Selain murah meriah, juga enak dan menghangatkan, apalagi di cuaca gerimis seperti ini .. “

“O—“ Jundi membuka mulutnya. “Sungguh enak?”

“Ne. Sangat enak. Agashi mau mencobanya?”

“Woww—“ Jundi langsung menekan lengan Michael, membuatnya meringis halus. “Kau dengar, Mike?!!”

“Ne—Ne—“ sahut pemuda itu sambil berusaha melepaskan diri. “Aku mendengarnya, kau tak perlu mencengkramku sekeras ini .. “

“Oh—miane .. “ Jundi melepaskan tangannya dari lengan Michael sambil meleletkan lidahnya. “Terlalu antusias .. ,” sambungnya, lalu terbahak-bahak.

“Huh—“ Michael mengeleng kemudian menyentuh kepala cewek itu. “Tapi, apa kau belum pernah mencobanya? Kau sering pulang ke sini, kan?”

“Ya—“ Jundi mengangkat pundak, lemah, “Mana pernah aku mencobanya?”lanjutnya sambil mengerutu. “Melihatnya aja baru pertama kali. Oppa tak pernah mengijinkanku keluyuran seorang diri di sini—pengawalnya selalu menempeliku seperti perangko, Huh—dia menjagaku sangat, sangat ketat,--sepertinya aku ini calon penculikan yang siap diculik setiap saat … “

“Maaf, tuan dan nona … “ si sopir taxi tiba-tiba menyela. Dia melihat kepada Jundi dan Michael lewat kaca spion di atas kepalanya. “Ke mana tujuan anda?”

“Oh—“ Jundi tersentak. “Sosoengheyo pak, kita berbalik kembali ke kereta dagang tadi .. “

“Mwo? Kau serius?” tanya Michael kaget.

“Ne. Ada masalah?”

“Saya belum menghubungi Janpyo. Nanti dia mencari kita .. “

“Kalau begitu, hubungi sekarang juga .. ,” perintah Jundi dengan nada cuek. “Berbalik, pak .. “ serunya pada pak sopir.

“Ne .. “ Lelaki itu memelankan mobilnya perlahan. Sampai di sebuah belokan, dia memutar stir dan berbalik haluan kearah datangnya tadi.

Michael memperhatikan semua itu sambil mengeleng-gelengkan kepala. Untuk kesekian kali dia sependapat dengan Janpyo. Goo Jun Di, memang sulit diatur!


=====> <=====



Jundi menghambur keluar dari taxi dan langsung berdesakan dengan orang-orang yang masih ramai mengerubuni kereta dagang yang mereka lihat tadi. Michael yang ditinggal, kembali mengelengkan kepalanya. Dia mengeluarkan dompet dan membayar ongkos kepada pak sopir kemudian keluar dari mobil.

"Mike!!! Di sini!!" Jundi mengangkat sepasang tangannya yang mengenggam hampir lima tusuk bakso ikan di masing-masing tangan setinggi-tingginya. Digerak-gerakannya kedua tangannya dengan semangat. Wajahnya berseri-seri dan mengambarkan suasana hatinya yang meluap-luap. "Kau mau nggak?!" teriaknya di antara kerumunan orang-orang.

Michael mengeleng. "Aniyo! Kau makan saja sendiri. Jangan kebanyakan, nanti sakit perut!!" ujarnya keras-keras agar terdengar oleh gadis itu.

"Huh--kenapa?!!"

"Saya biasa saja terhadap makanan seperti itu!" sahut Michael. "Lagian saya harus menelepon Janpyo dan mengabarinya tentang kepulangan kita yang agak terlambat." Lalu stand lain yang berdiri berhadapan dengan stand yang diserbu Hyesun menarik perhatiannya. "Jundiya!!" teriaknya, "--sambil mencari majalah yang kukatakan padamu kemarin ya?!" lanjut Michael sambil menunjuk stand penjual koran dan majalah.

Jundi mengikuti arah yang ditunjuknya sebentar, kemudian mengangkat tangannya. "Ok!"

"Ingat, jangan kemana-mana! Aku akan segera kembali!"

"Beres!!" sahut Jundi tanpa memperhatikannya lagi. Dia sudah disibukan dengan jajakan-jajakan lezat yang menarik perhatiannya itu.

Banyak sekali makanan-makanan yang dijajakan di stand itu. Selain tusuk-tusuk bakso ikan yang menumpuk di tengah kereta, ternyata terdapat juga manisan-manisan dan minuman-minuman dari buah-buahan. Dengan semangat tinggi Jundi membilah-bilah di antara makanan-makanan tersebut.

"Apa ini?" tanyanya pada si penjual dengan mata berbinar-binar.

"Kue rasa stroberi ... ," jawab si penjual.

"O--" Jundi memanjangkan bibirnya. "Kalau yang ini?" dia menunjuk dengan antusias.

"Yang ini rasa apel. Apakah agashi juga mau bakso ikannya?"

"Ne, tentu saja!" sahut Jundi keras. "Aku mau ... ," dia menghitung tusuk-tusuk bakso ikan di tangannya dengan perlahan. "Sepuluh. Sepuluh tusuk! Dan .. hey--bagaimana dengan yang ini?" lanjutnya sambil menunjuk sesuatu yang terlihat kenyal dan berwarna hijau agak kehitam-hitaman dengan mata melebar.

"Yang ini kue rasa kiwi. Agashi mau?"

"Kiwi?!"

"Ne .. "

"Aniyo!" Jundi langsung mengeleng sekeras-kerasnya. "Saya alergi terhadap kiwi. Saya mau rasa stroberi dan peach aja!" katanya sambil menjilat telunjuknya yang tadi sempat menyentuh kue-kue lezat di hadapannya.

"Baiklah." si penjual memasukan semua yang dipesan Jundi ke dalam kantong kemudian menyebutkan harga semua itu.

Jundi manggut-manggut sambil mengambil dompet dari tas selempangnya. Ketika dia membuka dompet tersebut, tiba-tiba sesuatu atau tepatnya seseorang melesat cepat di depannya, laksana angin dan langsung menyambar dompetnya. Jundi tersentak. Dia sempat melongo selama beberapa saat sambil melihat tangannya yang sudah kosong. Kemana dompetnya?

Jundi berpaling cepat. "HEY--" teriaknya ketika seseorang berpostur tinggi, memakai kemeja biru laut dan celana ketat putih sudah berada hampir lima meter di hadapannya. Pencopet itu hampir mencapai tikungan yang dibatasi tembok. "MIKE!!!"

Michael yang sedang melihat-lihat majalah di stand seberang terperanjat. "Wegude?!!"

"Aku kecopetan!!" seru Jundi sambil menerjang ke depan. "ITU MIKE--YANG MEMAKAI KEMEJA BIRU LAUT DAN CELANA PUTIH!!" dia menunjuk ke depan--kearah orang yang sudah berbelok ke blok lain.

"TUNGGU!!" teriak Michael. "Sial!!", dengan cepat dia meraih majalah yang dicarinya dan melemparkan selembar won kearah si penjual koran. "Tak usah kembalinya, ahjuma!!" Lalu dia mengejar Jundi yang sudah ikut menghilang di belokan jalan.


=====> <=====



Michael sampai di tikungan yang terhalangi tembok. Langkahnya terhenti secara mendadak. Bayangan Jundi tak kelihatan dari tempatnya berdiri. Nafasnya tersengal-sengal ketika pandangannya diarahkan bersekeliling dengan liar.

Terdapat dua jalan yang membelah di sebelah kanan dan kiri. Michael memiringkan kepalanya. Dia tak tahu harus memilih jalan mana.

"Sial!!" dengusnya sambil melayangkan tinju ke udara. "Goo Jun Di!!!!" teriaknya keras-keras. Suaranya mengema, dipantulkan tembok, kemudian berbalik kembali kearahnya, terdengar sangat keras. Tak ada sahutan yang ingin didengarnya.

Beberapa orang yang kebetulan lewat dua jalan yang membelah di situ langsung menoleh dengan raut berkerut. Sebagian dari mereka terlihat tertarik, sebagian lagi--mungkin keheranan melihat seorang pemuda sekeren itu berteriak-teriak tak karuan.

Sementara, gerimis yang dijatuhkan ke bumi menjadi semakin deras dan menguyur siapa dan apa saja yang berada di bawahnya. Orang-orang yang berada di stand-stand di belakang semakin menyusut ke dekat kereta, dan yang berada di luar segera berlari mencari tempat berteduh.

Michael menoleh secara bergantian, dari jalan sebelah kiri ke jalan sebelah kanan, sebelum akhirnya dia mengambil keputusan bulat. Tubuhnya sudah basah separuh kala itu.

"JUNDIYA--!!!!" Michael berlari ke jalan kecil di sebelah kiri dan berharap jalan itu pula yang dituju Jundi.

Sementara di jalan yang berlawanan ...

Jundi berlari dengan nafas tersengal-sengal. Hujan yang mulai menderas menguyur tubuh dan wajahnya, menjadikannya basah kuyup. Rambutnya terasa lengket di wajahnya, dan matanya tak mampu dibuka lagi. Jundi membilas wajah dengan tangan dan meneruskan larinya. Tak dilihatnya bayangan laki-laki yang tadi dikejarnya.

Sekarang dia berbelok ke tikungan berikutnya. Itu dia!! Jundi bersorak kegirangan. Sosok jangkung itu dilihatnya lagi. Sedang bersandar di dinding pendek yang membatasi sebuah sekolah dengan jalan raya. Wajahnya tertunduk--mungkin untuk menghindari hujan--terarah ke sepatu kets putih yang dipakainya. Kemeja biru laut dan celana putih itu dikenali Jundi. Tidak salah lagi!! batinnya yakin.

Jundi mempercepat larinya sampai tiba di hadapan orang itu. Tanpa tedeng aling-aling lagi, dia langsung meraih pergelangan tangan orang itu, mengenggamnya erat-erat dan menarik kearahnya.

"Kembalikan dompetku!!" Jundi berseru dengan perasaan meluap-luap. Sepasang matanya memancarkan bara api.

Orang itu--yang ternyata seorang pria--terperanjat. Dengan segera dia mengangkat wajah.

"DHOOO?!!" Teriakan Jundi bak petir menyambar di siang bolong. Bagaimana tidak? Orang yang dilihatnya, yang berhadapan dengannya, ... bagaimana mungkin? Jundi mengeleng sekeras-kerasnya. "Bagaimana mungkin? Oppa??!!!"

Pemuda tersebut kelihatan tak kalah terkejutnya. Tapi bukan karna perkataan Jundi, lebih karena teriakan menganggunya tadi. "Mwo?!" balas si pemuda ketus sambil mengibaskan tangannya, terlepas dari genggaman Jundi.

"Kenapa oppa sampai berada di sini?" tanya Jundi setelah berhasil menguasai dirinya. "Tadi kan Mike sudah hubungi kalau kami akan pulang agak malaman .. "

"Oppa?" Pemuda itu mengusap rambutnya yang agak panjang dan basah ke belakang. "Siapa yang kau maksud, nona?"

"Mwo? Tentu saja oppa!" sahut Jundi keheranan. Sikap si pemuda membingungkannya.

"Iya oppa!" kesal pemuda itu. "Lalu siapa oppamu?!!"

"Jangan main-main!!" Jundi mulai dibuat dongkol. "Tidak lucu lelucon oppa!!"

"Saya tak mengenalmu!" sahut si pemuda, dari kesal jadi cuek. Tubuhnya menegak dan bermaksud dilangkahkan dari situ.

"Hey--" tapi tiba-tiba Jundi menariknya kembali. "Tunggu sebentar, oppa!"

"Oppa apaan?!!" sekali lagi tangan kokoh itu menepis lengan Jundi. "Jaga sikapmu, nona!" Sekarang mereka saling berhadapan.

Hujan lebat tadi mulai mengecil, berubah jadi gerimis kemudian berhenti secara perlahan-lahan. Si pemuda memicingkan mata sambil mengulung lengan kemejanya. Jundi mengikuti gerak-geriknya tersebut. Dia semakin bingung dan ... agak bimbang begitu melihat goretan yang cukup panjang tersibak dari lengan kemeja yang digulung ke atas itu. Sejak kapan oppanya memiliki bekas luka sepanjang itu?

"Nona?!"

Jundi mengangkat wajahnya, sampai tatapannya bertemu dengan mata gelap dari si pemuda. Poni yang panjang dan basah milik pemuda itu terbelah di sisi sebelah kanan dan kirinya. Jundi mengamati wajah itu dengan seksama. Mengapa begitu mirip? Sampai, goretan yang lain membuatnya termangu. Goretan itu termasuk tipis, tapi agak kecoklatan dan terlihat sangat jelas di jidatnya yang lebar itu. Goretan tersebut berakhir hampir di ujung alisnya, meninggalkan bekas yang sedikit menganggu di wajahnya yang tampan dan sempurna.

"Nona?!" tegur pemuda itu lagi. "Kau belum tuli--kan?"

"Ohh--" Jundi menutup mulut dengan tangan. "Kau bukan oppa!!"

"Sudah kubilang?!" sembur si pemuda.

"Kalau begitu .. ," Jundi tiba-tiba menarik ujung kemejanya. "Kembalikan dompetku!!"

"Mwo?!"

"Kembalikan dompetku, pencopet!!" jerit Jundi.

"Aku tidak ... "

Belum selesai protesnya, terdengar deruman mobil berhenti dari belakang ... drrrrummm ....

"Hey--Lee Jae Min!!" seseorang melambai dari dalam mobil yang kapnya terbuka. "Kau bermain-main dengan wanita ho ho ? Sejak kapan kau tertarik pada wanita?" Jundi dan pemuda yang dipanggil Lee Jae Min berpaling. Orang dalam mobil tertawa. " ... apalagi yang bau kencur seperti dia ... ha .. ha .. "

"Berengsek!!" Jaemin mendengus. Sebelum Jundi sadar apa yang terjadi, pemuda itu sudah meloncat--melangkahi jendela dengan bertumpu pada sisi mobil dan menjatuhkan tubuhnya di samping si pengemudi. "Jalankan mobilnya!!"

"Hey--"

"Jalankan--kataku!!!" bentaknya tegas.

"Ok .. " Si pengemudi tak membantah lagi. Dia mengangguk sedikit dan tersenyum tipis pada Jundi sebelum menjalankan mobilnya. Dalam sekejap Porche hitam itu meraung-raung keras, meninggalkan Jundi yang masih terpaku di tempatnya.


=====> <=====



"Gwencana?!"

Sentuhan keras di pundak membuat Jundi terkejut. Dia berpaling dan melihat Michael sudah berada di belakangnya dengan nafas terengah-engah.

"Dari mana saja kau?" Jundi meruncingkan bibirnya.

"A .. agak tersesat, .. Ba .. bagaimana? Dapat pencopetnya?"

"Tidak!" sahut Jundi sambil memutar badannya. "Kita cari taxi dan pulang ke rumah .. "

"What? Pulang sekarang?" Michael terheran-heran. "Bagaimana dengan dompetmu? Apa tak perlu melaporkannya ke kantor polisi?"

"Tak perlu. Saya paling benci berurusan dengan polisi .. ," jawab Jundi tanpa berpaling. "Lagipula tubuhku basah semua. Aku ingin membersihkan diri secepatnya .. "

"Tapi .. " Michael berpaling ke belakang, tapi segera tersentak kembali oleh perkataan Jundi selanjutnya.

"Mike, ikut denganku!!"

"Well--" Michael mengangkat bahunya.


=====> <=====



Si pengemudi Porche hitam melirik pemuda di sebelahnya, dan kemudian, dia tersenyum--senyuman mengejek.

"Yaa--apa aku tak salah lihat? Ini kau--Lee Jae Min?"

Brakkkk!!!

"Hey--!!" Pengemudi itu berseru keras ketika sebilah pisau lipat diarahkan kemudian ditekan ke lehernya. Grrrr, kakinya menekan pedal rem secara mendadak dan mobil yang dikendarainya berhenti dengan suara mendecit keras.

"Apa-apa ... an ... "

Jeritannya terputus oleh perih yang dirasakan di lehernya.

"Sekali lagi kau memanggilku dengan nama itu, aku akan membunuhmu!" ancam Jaemin dengan nada dingin. "Kau dengar?"

"Ne .. ne .. ," sahut si pengemudi ketakutan. Dia menyusut dari posisinya.

Jaemin mendengus, untuk kemudian menarik kembali tangannya. Dia melipat pisau lipat dalam genggamannya kemudian memasukannya ke dalam saku celana.

"Aku lupa .. ," si pengemudi muda berkata sambil meraba lehernya yang sedikit berdarah. "Aku lupa tak boleh memanggilmu dengan nama panjang ... ," kemudian dia mengibas jasnya dengan nada dongkol. Lee Jae Min, selalu memperlakukannya seenak perutnya!!

"Bagaimana?" tanya Jaemin dengan pandangan lurus terarah ke depan.

Pria muda yang bersamanya tak menjawab. Mungkin saking tak puasnya terhadap sikap Jaemin padanya.

"Jang Geun Suk!" tegur Jaemin.

Geunsuk membuka dasbor depan, mengeluarkan setumpuk dokumen kemudian menyodorkannya pada Jaemin dengan enggan.

Jaemin menerima lalu mengamatinya secara seksama. "Ini yang berhasil kita peroleh?"

"Ne." jawab Geunsuk pelan.

Jaemin mengangguk kemudian melemparkan dokumen-dokumen itu kembali pada Geunsuk.

"Lalu persiapan pembukaan J.M. gimana?"

"Hampir beres .. ," kata Geunsuk sambil memasukan dokumen-dokumen itu ke dalam tempatnya.

"Shin Hwa?"

"Sudah dikirim. Kartu undangannya sesuai permintaanmu. Apa perlu diperiksa ulang?"

"Tidak!" Jaemin melempar pandangan kearah lain.

"Ok .. ," Geunsuk mengangkat tangannya. "Kau hadir di acara itu?"

Jaemin langsung berpaling padanya. "Kau sudah gila?!! Apa bedanya dengan membongkar rahasia sendiri?"

"Aku heran denganmu, mengapa kau .. "

Jaemin mengangkat tangan, menghentikan perkataan Geunsuk. "Aku paling benci berurusan langsung dengan dunia bisnis, apalagi orang-orangnya--semua munafik!"

Geunsuk mencibir tipis. "Lalu bagaimana dengan acara pembukaan J.M.? Tanpamu--siapa yang akan memberikan kata sambutan dan menandatangani kontrak-kontrak yang sudah ada?"

"Seperti kesepakatan semula, aku otaknya dan kau yang menjalankannya .. Tapi ingat, jangan sekali-kali berbuat curang--aku akan mengawasimu terus-menerus!"

Geunsuk tak memberikan tanggapannya. Pikirannya sedang bertaut dengan alasan-alasan mengapa dia sampai bekerjasama dengan pemuda dingin di sebelahnya ini.

"Satu hal lagi--"

Perkataan Jaemin selanjutnya menghentaknya dari lamunan.

"Ne?"

"Selidiki gadis tadi--siapa dia, aku ingin tahu!"

"Ho ho--" wajah muram Geunsuk menjadi bersinar kembali. Dia menemukan alasan yang tepat buat mengejek Jaemin. "Jadi benar dugaanku, kau tertarik pada gadis ingusan itu?!"

Jaemin menoleh padanya dengan kening berkenyit. "Dia pasti mempunyai hubungan dengan Shin Hwa--"

"Mwo?" mata Geunsuk melebar. "Kenapa berpikir begitu?"

"Tadi--dia salah mengenaliku--memanggilku oppa. Kau tahu sendiri wajah kami sangat mirip, jadi saya rasa dia ... "

"Adik kandung Janpyo?" seru Geunsuk.

"Ini hanya dugaan semula!" ujar Jaemin datar. "Karna itu aku menyuruhmu menyelidikinya." lalu pandangannya berubah gelap. "Yang lebih penting dari semua itu, temukan orang yang telah menyebabkan ku difitnah sebagai seorang pencopet!!!"

"Mwo? Kau dikira pencopet?!!" Tak tertahankan, Geunsuk tertawa terbahak-bahak, sampai sepasang tangan mendorongnya hingga menabrak pintu dengan keras. "Hey--"

"Keluar dari mobil sekarang juga!!"

"Kenapa?" tanya Geunsuk tak terima.

"Aku membutuhkan mobil ini!! Jadi keluarlah!" sahut Jaemin dingin.

"Tapi .. bagaimana denganku?"

"Kau mau manggil taxi, telepon bawahanmu agar dijemput, atau jalan kaki, aku tak perduli! Sekarang keluarlah!!"

Jaemin kembali mendorong Geunsuk. Kali ini lebih keras. Dia melepas sabuk pengaman Geunsuk dengan paksa kemudian menekan tubuhnya sehingga terpental keluar dari mobil.

"Lee Jae Min!!"

Grrrrgggg ,,, mesin mobil dihidupkan Jaemin. Pedal gas diinjak dengan keras, kemudian Porche hitam itu melesat dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan landasannya. Dalam sekejap bayangannya sudah tak kelihatan lagi.

"LEE JAE MIN!!! KAU BERENGSEK--TAK BERBEDA DENGAN JANPYO!! BAHKAN KAU--JAUH LEBIH BURUK!!!" teriak Geunsuk sampai mengetarkan suasana di sekitar situ. Beberapa ekor burung gereja segera menyembunyikan diri di sarangnya begitu Geunsuk mengarahkan tendangan ke pohon di mana sarang mereka terbentuk.


=====> TBC to part ii <=====

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile

JaeMin ama Janpyo mirip  [what]
truss Jae Min bukan anak Junpyo khan  [ohmy]
ga bapak ga anak, sama aja over protective biar sama adek-nya sekalipun,  [hmpfh][lovestruck]
Janpyo kmaren ama si Edelweis ana Jihoo
si jandi ntar bukan ama siGaJeong atow satu nya (anak woo bin &Jae Kyong) mpe lupaa nama nya [hmpfh]
pasti ama Jae Min y, *asbak*.....yg jadi Jae Min Minooo jugaaa [what]


Quote
Lalu stand lain yang berdiri berhadapan dengan stand yang diserbu Hyesun menarik perhatiannya.
belibet ya Lophh  [hmpfh] kok Hye Sun siyy[laughing]

gomawoo update-an nya Lopphh :)

‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

minsunlover

  • Guest
Akhirnya di update juga....
Mami kok ditengah2 malah nyelip nama hyesun ya? Hihihihi

Offline azri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 23
    • View Profile
Jdi crita ME III dimulai wktu Jundi dtg ke korea buat mnghdri pertemuan keluarga, gw kra crita dimulai shabis pernikahan janpyo ma jilly,
Akhir'y jae min aka unknown muncul jga.
Si jundi ngira jae min oppa'y wkwk ya iyalh kn emg dbuat sma mami ha ha
Gumawo Mom updatean'y ; )