Author Topic: The Secret Flower  (Read 5324 times)

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
The Secret Flower
« on: August 14, 2010, 03:15:21 am »
Hallo....
aku baru akhir-akhir ini ikut forum ini (meskipun jrg ngomment)...
dan menurutku, ini menyenangkan....  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

melihat banyaknya ff yg dibuat oleh teman2 sekalian...
aku jadinya pengen nyoba jg...
semoga dapat diterima dengan baik, ya....   [bye]

title : the secret flower

cast :

Lee Min-ho as Song Jin-ho
Goo Hye-sun as Jin Sae-ryun
Choi Si-won as Song Jeong-wo
Lee Yoon-hee as Na Hye-na

Chapter 1

   “Halo…”
   “Jin-ho doryonim…”
   Jin-ho mengangkat handphonenya dari telinga kanannya. Sebuah telepon dari luar negeri. Setelah melihat untuk beberapa saat, Jin-ho lalu kembali meletakkan handphonenya di telinganya untuk kembali berbicara dengan orang di seberang.
    “Doryonim…” panggil orang di seberang. Dari nada suaranya, ia kelihatan sangat cemas.
   “Mworago?” tanya Jin-ho dengan dingin.
   “Nyonya besar…”
   “Ada apa dengan ibu?” tanya Jin-ho, langsung memotong perkataan orang yang sedang meneleponnya saat ini. Wajah Jin-ho berubah. Dari yang tidak peduli menjadi wajah yang penuh kekhawatiran.
   “Nyonya besar kini… sedang dirawat di rumah sakit…” kata orang itu dengan sedikit hati-hati. Ia takut membuat tuan mudanya ini menjadi kaget. Padahal ia tahu, sudah pasti Jin-ho akan kaget ketika mendengar berita itu.
   Tubuh Jin-ho tiba-tiba lemah. Tangan kanannya langsung kaku dan handphone yang dipegangnya jatuh dengan keras ke lantai. Sejenak Jin-ho terdiam. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa. Sementara itu, orang yang meneleponnya tadi hanya bisa memanggil Jin-ho meskipun ia tahu bahwa tuan mudanya saat ini pasti sedang terpukul.
   Tubuh Jin-ho lalu terduduk di lantai. Air muka Jin-ho tidak menunjukkan apa-apa. Air matanya tiba-tiba jatuh. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Eomma…” rintih Jin-ho dengan nada yang menyesakkan dada.
   Langit tiba-tiba menjadi hitam. Seperti hujan akan turun dengan deras malam ini. Mungkin derasnya menunjukkan betapa besar air mata yang keluar di hati Jin-ho. Bahkan saking derasnya, Jin-ho sampai-sampai tidak mampu untuk berdiri lagi.

   Incheon International Airport…
   Jin-ho berjalan dengan cepat. Di tangan kanannya, ia mendorong sebuah koper hitam besar. Lalu di tangan kirinya, Jin-ho membawa sebuah kantung putih dengan logo “Korean Air” yang tadi ia minta di pesawat untuk membawa alat-alat praktek kedokterannya.
   BRUKK…
   Jin-ho terduduk di lantai. Kantung bawaan yang tadi dibawanya, terjatuh tepat di depannya dengan bunyi yang cukup keras.
   Setelah beberapa saat duduk dalam keadaan speechales, Jin-ho kemudian berdiri dari lantai. Ia menepuk-nepuk celananya yang kotor karena terkena debu.
   “Aww…”
   Gadis yang ada di depan Jin-ho, yang sedang merintih kesakitan akibat lututnya yang lecet, kini sedang menatap Jin-ho dengan tajam. Sementara itu, Jin-ho yang dilihat  hanya diam saja tanpa mempedulikannya sama sekali, apalagi balas melihatnya.
   Gadis itu lalu berdiri. Ia membersihkan kaki di sekitar lututnya yang lecet dari kotoran agar tidak infeksi. Saat gadis itu sedang terfokus pada lukanya, Jin-ho  mengambil sebuah kantung putih dan koper hitam besar miliknya yang jatuh tergeletak begitu saja di sampingnya. Jin-ho lalu berjalan pergi. Dan disaat yang sama, gadis itu melihat kepergian Jin-ho dengan geram.
   “HEI…” teriak gadis itu, yang membuat Jin-ho berpaling untuk melihatnya.
   “Aku?” tanya Jin-ho pada gadis itu, dengan nada datar.
   “Ne… kau!” jawab gadis itu, sambil menunjuk Jin-ho dengan telunjuk kanannya.
   Gadis itu lalu menghampiri Jin-ho yang masih diam di tempatnya dengan santai. Meskipun dengan kaki yang sedikit pincang, gadis itu dengan kuat tetap berjalan menuju Jin-ho yang berdiri cukup jauh dari tempatnya memanggil tadi.
   Gadis itu kini telah berada di depan Jin-ho. Ia menatap Jin-ho dengan marah.
   “Apakah anda tidak ingin mengatakan sesuatu, Tuan?” tanya gadis itu pada Jin-ho, kini sedikit lebih pelan. Gadis itu berharap, Jin-ho dapat membantunya untuk mencari obat atau paling tidak meminta maaf karena ia telah menjadi korban, meskipun ia sadar bahwa mereka sama-sama salah.
   “Tidak ada. Aku tidak ingin berkata apapun padamu…” jawab Jin-ho, masih dengan nada datarnya.
   Gadis itu menghela napas panjang. Sungguh lelah bila harus terus berbicara dengan orang dingin seperti Jin-ho!
   Gadis itu lalu mengangkat wajahnya untuk melihat Jin-ho. “Baiklah… begini maksud saya, apakah anda tidak ingin menyampaikan sesuatu setelah peristiwa tabrakan kita tadi?” tanya gadis itu, masih dengan pelan. Dari wajahnya, gadis itu terlihat sekali sedang bersabar untuk tidak menunjukkan amarahnya di tempat umum seperti tempat dimana ia sedang berdiri sekarang ini.
   Jin-ho menatap gadis di hadapannya dengan dahi yang berkerut. Ia merasa, tidak ada yang harus dikatakannya kepada gadis itu.
   Gadis itu masih terus menatap Jin-ho dengan penuh harap. Mengapa dia susah sekali mengerti apa maksudku, sih?
   Beberapa saat kemudian, Jin-ho akhirnya mengerti. “Apa yang anda ingin saya ucapkan?” tanya Jin-ho.
   Gadis itu membelalakkan matanya. Ia sungguh tidak percaya akan perkataan pemuda yang sudah diajaknya berbicara selama beberapa menit itu. “Apakah anda sama sekali tidak merasa bersalah, Tuan?” tanya gadis itu, menyerah. Ia sudah cukup lelah bila harus terus memancing orang seperti Jin-ho untuk menuruti apa yang ia inginkan. Ditambah lagi dengan luka di lututnya yang setiap detik semakin sakit, ia benar-benar merasa lelah!
   Jin-ho menghembuskan napasnya sejenak. Ia lalu menghadap ke arah gadis itu agar dapat benar-benar melihatnya dengan jelas. “Maaf, agashi. Bukankah suatu ketidak sengajaan itu seharusnya tidak diawali dengan kata “maaf” dan diakhiri dengan kalimat “sekali lagi saya minta maaf”, ya?” jawab Jin-ho, kali ini lebih panjang dibanding perkataannya yang sebelumnya.
   Gadis itu melihat Jin-ho dengan tatapan tidak percaya. Setelah selama ini mereka saling berbicara, dia hanya mendapatkan kata-kata itu? Kata-kata yang sama sekali menurutnya tidak sopan untuk dikatakan apabila kau telah menabrak seorang wanita.
   “Mwo?”
   “Ne… pendapat saya itu benar, kan?” kata Jin-ho, memperjelas. “Baiklah, saya anggap anda telah mengerti tentang perkataan saya tadi. Kalau begitu, saya permisi…” kata Jin-ho, kemudian pergi meninggalkan gadis itu sendirian dengan keadaan yang acak-acakan akibat tabrakan yang terjadi di antara mereka.
   Gadis itu masih terus memperhatikan langkah panjang Jin-ho yang telah meninggalkannya. Ia merasa bahwa hari ini sungguh aneh bila harus dilewatkan dengan bertemu seseorang yang dingin sekaligus kurang ajar seperti Jin-ho.
   “Huh… sabarlah, Sae-ryun… sabarlah! Kau pasti akan mendapatkan keberuntungan setelah mengalami bencana yang buruk hari ini!” kata gadis itu. Ia kemudian berjalan kembali ke kantung barangnya dan kopernya yang berada di lantai. Setelah itu, ia pergi meninggalkan tempat dimana ia bertemu dengan orang aneh seperti Jin-ho.

    Jin-ho berjalan masuk ke pekarangan sebuah rumah tradisional yang cukup besar di daerah itu. Di depan pintu gerbang rumah itu, terpampanglah sebuah papan yang bertuliskan “Ha Na” dalam huruf Jepang.    
   Setibanya di depan pintu utama, Jin-ho membuka pintu geser dari kayu berwarna coklat alami itu. Jin-ho lalu melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah miliknya yang sudah lama tidak digunakannya. Tetapi meskipun begitu, sandal itu masih bersih seperti baru.
   Jin-ho lalu meletakkan kantung bawaannya yang berwarna putih tadi di atas sebuah lemari sedang tempat telepon rumah berada. “Ah… berat sekali! Seperti membawa batu saja…” keluh Jin-ho.
   “Kau bawa apa, Jin-ho ya?”
   “Ah… eomma… aku hanya membawa…”
   Jin-ho langsung menghentikan perkataannya saat ia sadar akan siapa orang yang bertanya padanya tadi. Ibunya…
   “Eomma ya... mengapa bisa ada disini?” tanya Jin-ho, dengan perasaan kaget. Ia melihat wanita yang sedang ada di hadapannya dari atas ke bawah. Dan benar… itu adalah ibunya.
   “Tentu saja bisa. Ini adalah rumah eomma. Mengapa eomma tidak boleh berada di rumah eomma sendiri, Jin-ho?” jawab ibu Jin-ho.
   “Tetapi… eomma seharusnya berada di rumah sakit, kan? Jika belum sehat benar, mengapa sudah pulang?” tanya Jin-ho dengan khawatir.
   Ibu Jin-ho langsung memeluk Jin-ho dengan erat. Jin-ho pun tidak menolaknya. Ia pun sangat menginginkan pelukan hangat milik ibunya yang sudah lama tidak dirasakannya itu.
   “Jika eomma sekarang di rumah sakit, tentu saja eomma tidak bisa memelukmu seperti ini… eomma sangat merindukanmu, Jin-ho…” kata ibu Jin-ho dengan sangat lembut.
   Air mata ibu Jin-ho pun jatuh. Dan Jin-ho dapat merasakannya. Air mata itu jatuh tepat di bahunya. Air mata yang hangat dan lembut.
   “Aku juga, eomma…” kata Jin-ho, membalas perkataan ibu tersayangnya.
   Ibu Jin-ho lalu melepas pelukannya. Ia melihat Jin-ho dalam. Anaknya ini sudah besar dan dewasa. Ia pun sadar bahwa ia sudah lama tidak bertemu dengan anak kesayangannya ini.
   Ibu Jin-ho kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sebuah kantung yang dibawa Jin-ho tadi. “Jadi, apa yang kau bawa?” tanya ibu Jin-ho.
Jin-ho melihat ke arah dimana ibunya melihat. “Oh… itu alat praktekku, bu,” jawab Jin- ho.
“Jadi… kau sudah benar-benar memutuskan untuk menjadi seorang dokter?” tanya ibu Jin-ho dengan sangat hati-hati.
Jin-ho memandang ibunya. Ia dapat melihat sejuta kasih sayang dari mata ibunya itu. “Ne…” jawab Jin-ho, pelan sekaligus terkesan ragu.
“Apakah kau tidak ingin mencobanya?”
Jin-ho kembali memandang ibunya, “ne?”
“Jika kau ingin mencobanya, maka cobalah! Jangan ragu apalagi takut untuk melakukannya, Song Jin-ho!” kata ibu Jin-ho dengan bijak, sambil memegang tangan Jin-ho.
Jin-ho masih memperhatikan ibunya dengan seksama. Ia kemudian tersenyum. Ternyata, ia memang sangat beruntung.
“Boleh ibu lihat alat praktekmu?” tanya ibu Jin-ho, sambil berjalan ke arah lemari sedang.
“Apakah ibu ingin melihatnya?” tanya Jin-ho, dengan senyuman di bibirnya.
“Tentu saja. Ibu kan jarang melihat peralatan seorang dokter,” jawab ibu Jin-ho, kemudian mengambil kantung bawaan Jin-ho di atas lemari sedang.
Ibu Jin-ho lalu mengeluarkan semua barang-barang yang ada di kantung itu.
“Bunga Tulip? Dan batu-batu kerikil untuk hiasan taman?”
Jin-ho langsung mengalihkan pandangannya kepada barang-barang yang telah dikeluarkan oleh ibunya dari kantung yang dibawanya.
“Apakah ini semua untuk ibu?”
“Aniyo… ini bukan barang-barangku!” gumam Jin-ho. Jin-ho lalu memperhatikan tanaman Tulip dan batu-batu kerikil di hadapannya. Ia lalu teringat akan tabrakan yang dialaminya di bandara tadi ketika ia sampai di Korea Selatan. “Ah… ini pasti karena itu…” kata Jin-ho, diiringi dengan ekspresi kaget ibunya.
“Karena apa?” tanya ibu Jin-ho, ingin tahu.
“A… bukan karena apa-apa, bu… aku hanya mengira bahwa barangku pasti tertukar dengan penumpang lain di bandara tadi…” jawab Jin-ho, beralasan.
“O… hm… bagaimana jika Tulip ini ditanam saja?” kata ibu Jin-ho, sambil memegang bunga Tulip di tangannya dengan lembut.
“Mwo? Tetapi, ini kan punya orang, bu!” kata Jin-ho, menolak permintaan ibunya.
“Tetapi, bunga ini bisa mati jika tidak ditanam dan disiram oleh air. Nanti jika kau sudah bertemu dengan pemilik bunga ini, kau bisa mencabutnya dan memberikannya kepada orang itu,” kata ibu Jin-ho, masih terus memandangi bunga Tulip indah yang disukainya.
“Terserah ibu sajalah kalau begitu…” kata Jin-ho, menyerah. Ibunya memang seperti ini. Sangat menyukai tanaman, terutama bunga. Ia sangat menyayangi bunga sampai-sampai rumah mereka saja diberi nama “Ha Na” yang artinya “bunga” dalam bahasa Jepang.
Ibu Jin-ho lalu berjalan ke luar rumah. Ia mulai mengeluarkan alat-alat perangnya. Sementara itu, Jin-ho duduk di lantai kayu yang hangat sambil menunggu ibunya bercocok tanam. Tidak sampai lima menit, bunga Tulip itu sudah tertanam di samping bunga Mawar putih koleksi ibunya.
Jin-ho masih duduk di tempatnya, ketika ia melihat sebuah undangan di meja tamu milik ibunya. Jin-ho mengambil undangan itu kemudian membacanya dengan serius.
“Eomma… Jeong-wo mau bertunangan, ya?” tanya Jin-ho, saat ia sudah berada di teras samping rumahnya.
Ibu Jin-ho mengalihkan pandangannya dari bunga ke Jin-ho. “Ne… apakah kau mau datang?”
Jin-ho berpikir sebentar. “Aku akan datang jika eomma juga datang,” jawab Jin-ho, masih memegang undangan di tangannya.
“Hm… kalau begitu, kita datang saja… ok?” kata ibu Jin-ho, kemudian kembali tenggelam dalam kegiatan favoritnya itu.
Jin-ho kembali melihat undangan yang sedang dipegangnya itu dengan seksama. Setelah itu, dia masuk ke dalam rumah diikuti dengan mata ibunya.

“Sae-ryun ssi…”
“Ah… Bibi…”
Seorang wanita dewasa menghampiri Sae-ryun dan memeluknya. Dan Sae-ryun pun menerima pelukan itu dengan bahagia.
“Apa kabar? Apakah kau baik-baik saja?” tanya wanita itu dengan ramah. Ia lalu mengajak Sae-ryun untuk masuk ke dalam rumahnya yang besar dan mewah yang memiliki halaman luas dengan sebuah air mancur di tengah halaman itu.
“Baik-baik saja, Bi. Bibi sendiri bagaimana?”
“Seperti yang kau lihat, Bibi baik-baik saja…” jawab wanita itu, masih dengan senyuman di bibirnya.
Mereka lalu duduk di sebuah sofa empuk dan besar di ruang tamu. Beberapa detik kemudian, datanglah tiga orang pelayan yang menghidangkan teh dan kue untuk mereka.
“Oh iya Bi, aku ada oleh-oleh untukmu. Aku harap Bibi suka…” kata Sae-ryun. Ia lalu menyodorkan sebuah kantung belanjaan miliknya kepada wanita dewasa yang ia panggil “Bibi” itu.
Wanita itu lalu menerima bungkusan itu dan membukanya.
“Apa ini, Sae-ryun ssi?” tanya wanita itu, menerima bingkisan dari Sae-ryun.
Wanita itu lalu mengeluarkan satu persatu barang yang ada di dalam kantung belanjaan yang tengah dipegangnya saat ini. Dan tanpa diduga sama sekali, yang muncul dari dalam kantung belanjaan itu adalah alat-alat kedokteran yang masih bagus dan baru itu.
Sae-ryun menatap barang-barang di hadapannya dengan kaget. Bagaimana bisa begini?
Melihat wajah Sae-ryun yang mulai pucat karena malu, wanita itu pun menenangkannya, “sudahlah… tidak apa-apa, kau pasti salah membawa barang kan? Aku bisa memakluminya. Lagipula, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, bukankah begitu?”
Wajah Sae-ryun masih pucat. Ia sungguh tidak menyangka bahwa ia harus mengalami kejadian yang buruk dalam satu hari ini lagi.
“Sudahlah, tidak perlu tidak enak begitu… ini hal biasa bukan?” kata wanita itu lagi.
“Jwesonghamnida, Bi…” kata Sae-ryun, sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam.
“Ah… tidak apa-apa… tidak usah terlalu dipikirkan. Sekarang, beristirahatlah. Kau pasti sangat lelah kan?” kata wanita itu.
Sae-ryun beranjak dari kursi yang didudukinya. Seorang pelayan lalu memimpin jalannya menuju ke sebuah kamar yang sangat besar dengan dinding berwarna krem dan perabotan manis berwarna coklat dan putih yang memberikan nuansa lembut.
Sae-ryun kemudian duduk di sebuah kursi kayu di depan meja tulis. Ia berpikir, bagaimana bisa oleh-oleh yang khusus dibawanya untuk Bibi Joo-young, calon mertuanya itu berupa alat-alat kedokteran? Betapa gilanya Sae-ryun bila memberikan semua itu untuknya!
Sae-ryun lalu membuka kantung yang akan diberikannya kepada Bibi Joo-young yang dibawa oleh salah seorang pelayan yang tadi berjalan di belakangnya. Dikeluarkannya semua alat-alat kedokteran yang ada disana. Saat Sae-ryun akan membuang kantung yang bertuliskan “Korean Air” itu, tiba-tiba saja sebuah kertas jatuh dari dalamnya. Sae-ryun mengambil kertas itu dan membacanya.
 “Hm… Panti Asuhan Gook Nam? Aku harus mendapatkan bungaku kembali…” gumam Sae-ryun, saat ia sedang berpikir setelah membaca isi kertas itu.

Jin-ho berjalan dengan riang. Kini, ia tidak khawatir sama sekali. Ibunya sudah mulai sehat dan tugasnya di Indonesia sebagai relawan juga telah ada yang menggantikan. Jadi, kini ia bebas untuk sejenak berlibur dari rutinitasnya yang sangat padat itu.
Jin-ho berkeliling di sekitar pusat perbelanjaan di jantung kota Seoul. Setelah lama melihat-lihat, Jin-ho akhirnya membeli baju dan buku dalam jumlah yang cukup banyak. Setelah puas berjalan, Jin-ho pun meninggalkan tempat itu dengan mobil sport hitamnya.
Beberapa menit kemudian, mobil Jin-ho melewati jalan yang berkelok dan hutan-hutan lebat dengan pemandangan pantai di sampingnya. Jin-ho kemudian menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang cukup besar dimana banyak anak-anak yang bermain di halaman depan rumah itu. Jin-ho menurunkan semua barang-barang belanjaannya. Dan ia pun disambut dengan gembira di rumah itu.
“Jin-ho oppa…” seru salah seorang anak, ketika melihat Jin-ho turun dari mobilnya.
“A-rin na…” balas Jin-ho.
Seorang gadis kecil lalu memeluk Jin-ho dari arah lain. Jin-ho pun menerima pelukan anak itu dengan sayang.
Saat Jin-ho sedang memeluk gadis kecil itu, datanglah lagi beberapa anak sambil memanggil namanya. “Jin-ho oppa…”
Akhirnya, semua anak yang ada disana datang menghampirinya dan langsung memeluknya. Jin-ho yang hanya seorang, akhirnya tenggelam di antara anak-anak kecil yang lucu dan pintar itu.
Gadis kecil yang tadi pertama kali memeluknya, bertanya dengan nada lucu dan manja, “mengapa oppa lama sekali tidak datang kesini?”
Anak-anak yang lain lalu ikut melepaskan pelukannya untuk mendengar jawaban dari Jin-ho.
“Hm… oppa sudah lama tidak datang kesini karena oppa harus bekerja dan membantu orang lain,” jawab Jin-ho dengan lembut kepada anak-anak yang ada di hadapannya maupun yang berdiri di sampingnya.
“Oppa kerja apa sampai tidak bisa menemui kami hingga selama ini?” tanya seorang gadis yang memiliki wajah paling cantik.
“Oppa bekerja sebagai seorang dokter… tahukah kalian apa kerja dari seorang dokter?”
“Untuk membantu orang-orang yang sakit sehingga menjadi tidak sakit lagi dan dapat menjalankan aktivitasnya seperti biasa dengan baik,” jawab salah seorang anak di antara mereka yang memakai kacamata.
“Sang-hoon na… kau semakin pintar saja!” kata Jin-ho, sambil mengelus-elus kepala anak tadi dengan lembut.
“Hei… sudah-sudah, jangan mengganggu Jin-ho oppa lagi! Tidakkah kalian merasa kasihan melihat Jin-ho oppa yang kesulitan saat menghadapi kalian yang banyak seperti ini?” kata seorang laki-laki tua yang berjalan mendekati Jin-ho dan anak-anak kecil yang mengelilinginya. Dari wajahnya, laki-laki itu terlihat sangat bijaksana dan lembut.
“Ne, haraboeji…” jawab anak-anak itu serempak, lalu berjalan meninggalkan Jin-ho dan kakek tua itu berdua.
“Hei… oppa membawa baju dan buku-buku untuk kalian… dipakai dan digunakan dengan baik, ya!” teriak Jin-ho kepada anak-anak itu saat anak-anak itu sudah mulai jauh meninggalkannya dan mereka pun masuk ke dalam rumah.
“Ayo, duduk…”
Kakek Jeong dan Jin-ho lalu duduk di batu yang difungsikan menjadi kursi di halaman dekat bunga-bunga tumbuh. Jin-ho menghirup napas dalam-dalam. Sungguh segar.
“Mengapa kau pulang ke Korea?” tanya Kakek Jeong, memulai pembicaraan mereka.
Jin-ho melihat Kakek Jeong. “Aku rindu udara disini. Udara disini sungguh segar… aku tidak akan mungkin mendapatkannya di tempat lain…”
Kakek Jeong melihat Jin-ho dengan tatapan tajam. “Aku dengar ibumu sakit. Apakah karena itu kau pulang sekarang?”
“Ne… aku takut terjadi apa-apa dengan eomma,” jawab Jin-ho dengan senyuman di bibirnya. “Jadi, aku memutuskan untuk tidak meninggalkan eomma sendirian lagi…” lanjut Jin-ho, melihat ke arah Kakek Jeong yang duduk di sampingnya.
“Lalu… apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”
Jin-ho diam sebentar. “Mungkin aku akan membuka praktek disini…” jawab Jin-ho, sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Kakek Jeong melihat Jin-ho kembali dengan tajam dan dalam. “Tidakkah kau ingin mencobanya walau untuk sekali seumur hidupmu, Song Jin-ho?”
Jin-ho kembali menatap Kakek Jeong. “Aku belum yakin akan mencobanya, meskipun aku sangat ingin melakukannya…” jawab Jin-ho, kembali dengan wajah yang menunduk.
Kakek Jeong menatap Jin-ho dengan seksama. Ia dapat merasakan aura Jin-ho yang kuat dengan hati yang lembut itu. “Aku tidak akan memaksakannya padamu, Jin-ho ya…” kata Kakek Jeong kemudian, berniat untuk tidak membicarakan hal yang sama sekali tidak ingin dibahas oleh Jin-ho dengan siapapun.
Jin-ho lalu mengembangkan senyumnya sambil melihat Kakek Jeong sebagai pertanda terima kasih. Mereka lalu terdiam sesaat. Masing-masing tenggelam di dalam pikirannya yang mungkin memikirkan hal yang sama.
“Oh iya, tadi ada seorang gadis yang datang untuk menemuimu…” kata Kakek Jeong, kembali memulai topik baru untuk diperbincangkan.
“Seorang gadis? Siapa?” tanya Jin-ho, tidak mengerti.
“Aku juga tidak tahu. Tetapi, dia berkata tentang alat-alat kedokteran… dan sebuah tanaman… yang aku lupa sebenarnya apa maksud dari perkataannya itu…” lanjut Kakek Jeong, berusaha menjelaskan kepada Jin-ho tentang gadis itu.
“Alat-alat kedokteran…? Tanaman…?” guman Jin-ho sendiri, sambil terus berpikir tentang siapa sebenarnya gadis yang mencarinya itu.
“Oh iya, aku ingat satu kata lagi… bandara! Ya… di bandara…” kata Kakek Jeong, manggut-manggut.
Jin-ho kembali berpikir, tetapi tidak lama. “Oh… gadis itu… kenapa dia tahu tentang panti asuhan ini?” tanya Jin-ho dalam hati, berusaha mencari tahu sendiri jawabannya.
“Mungkin kau memberitahu ia bahwa kau sering datang kesini…” timpal Kakek Jeong, yang ikut-ikutan bingung.
”Kapan dia datang kesini, haraboeji?” tanya Jin-ho kemudian, mengalihkan perhatiannya kepada pertanyaan lain yang mungkin dapat ia temukan jawabannya.
“Tadi pagi. Tetapi, kelihatannya ia buru-buru sehingga ia langsung pergi begitu saja setelah menitipkan alat-alat praktekmu kepadaku,” jawab Kakek Jeong dengan lancar sambil memberikan sebuah tas dokter yang merupakan milik Jin-ho.
Jin-ho menerima tas itu dan meletakkannya di samping bawah batu yang didudukinya. Ia kemudian kembali bertanya kepada Kakek Jeong, “apakah dia memberikan sesuatu untukku, Kek?”
Kakek Jeong lalu mencoba untuk mengingatnya. Beberapa menit kemudian, Kakek Jeong mengeluarkan sesuatu dari kantungnya, “dia memberikan ini padaku. Katanya, kau boleh menghubunginya setelah kau siap untuk mengembalikan… apa, ya?” jawab Kakek Jeong, kemudian kembali mencoba mengingat-ingat
Jin-ho mengambil kertas berisi nomor handphone gadis yang mencarinya itu dari tangan Kakek Jeong. Setelah membacanya sebentar, Jin-ho pun meminta izin kepada Kakek Jeong untuk pergi.
“Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Kek! Eomma memaksaku untuk tidak pulang terlambat agar bisa makan malam bersamanya malam ini. Aku pergi ya, Kek!” kata Jin-ho, lalu berjalan meninggalkan Kakek Jeong sendirian dengan membawa tas yang berisi alat-alat praktek miliknya. Beberapa menit kemudian, mobil Jin-ho melesat dengan cepat.

“Song Jin-ho… dr. Song Jin-ho… Praktek : Panti Asuhan Gook Nam…”
Sae-ryun terus mengulang-ulang isi dari kertas yang dipegang tangan kanannya sekarang. Dengan wajah serius, ia masih berpikir tentang orang itu. Orang yang bernama Song Jin-ho, yang tanpa sengaja menabraknya dan menunjukkan ketidak sopanannya di depan Sae-ryun.
“Jin-ho… Song Jin-ho… Jin… Ho… Song Jin-ho… dr. Song... dr. Song Jin-ho… Jin-ho…” gumam Sae-ryun, dengan nada yang berbeda-beda.
“Sae-ryun na…”
Sae-ryun menoleh ke belakang, ke arah sebuah suara yang memanggilnya. Senyumnya langsung merekah ketika ia melihat siapa yang datang mengunjunginya.
“Jeong-wo oppa…” seru Sae-ryun.
Jeong-wo berjalan mendekati Sae-ryun yang sedang berdiri di pinggir kolam renang. Jeong-wo lalu memeluk Sae-ryun. Dan Sae-ryun pun dengan senang hati membalas pelukan itu dengan lebih hangat.
Selama beberapa lama, mereka berdua saling menumpahkan kerinduan. Sae-ryun semakin memeluk Jeong-wo dengan erat seolah-olah tidak mau melepaskannya.
“Aku sangat merindukan, oppa…” kata Sae-ryun dengan pelan, dari balik bahu Jeong-wo.
Jeong-wo melirik Sae-ryun sebentar. “Aku juga… sangat senang melihatmu ada disini sekarang…” kata Jeong-wo, membalas ungkapan hati Sae-ryun.
Sae-ryun melepaskan pelukan Jeong-wo dari tubuhnya. “Perkataan oppa terdengar sangat aneh. Ada apa? Mengapa bicara seformal itu terhadap pacar sendiri?” tanya Sae-ryun, dengan cemberut.
Jeong-wo terdiam mendengar pertanyaan Sae-ryun. Sae-ryun jadi merasa tidak enak ketika melihat Jeong-wo menjadi bingung seperti ini.
“Ah… araso! Pasti karena pekerjaan di kantor kan? Makanya oppa jadi berbicara seformal ini… Hei, aku ini pacarmu, bukan sekretarismu! Jangan lakukan ini lagi, ya! Aku harap, oppa tidak memikirkan pekerjaan ketika sedang bersamaku…” kata Sae-ryun, panjang lebar dengan senyuman manis di bibirnya.
Jeong-wo melihat Sae-ryun dengan kaget. Sesaat kemudian, ia kembali melihat ke arah lain di samping kirinya.
“Apakah oppa baik-baik saja?” tanya Sae-ryun, dengan nada khawatir.
Jeong-wo kembali melihat gadis yang ada di depannya sekarang. Sesaat kemudian, Jeong-wo mencoba tersenyum. “Tidak… aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit lelah,” jawab Jeong-wo.
Sae-ryun bergerak mendekati Jeong-wo. Ia lalu meletakkan telapak tangan kanannya di dahi Jeong-wo. Muka Jeong-wo menjadi merah.
“Ne… oppa memang terlihat tidak sehat. Beristirahatlah! Besok, oppa harus cuti untuk mengajakku jalan-jalan sebagai ganti hari ini, ok?” kata Sae-ryun, dengan riang.
Jeong-wo tidak menjawab.
“Ok?” tanya Sae-ryun, mencari keyakinan dari mulut Jeong-wo.
Jeong-wo masih belum menjawab. Ia kelihatan sangat mempertimbangkan permintaan Sae-ryun itu. “Ne…” jawab Jeong-wo kemudian.
Sae-ryun diam, begitu pula dengan Jeong-wo. Sae-ryun lalu melihat Jeong-wo, “apakah aku perlu mengantar oppa ke kamar dan menemani oppa sampai oppa tertidur?”
Jeong-wo langsung menggelengkan kepalanya dengan keras, “tidak… tidak perlu! Aku pikir… aku akan beristirahat sekarang. Dan aku berjanji akan pergi denganmu besok, ok?”
Sae-ryun mengangguk, “ne…”
Jeong-wo pergi meninggalkan Sae-ryun di taman sendiri. Sae-ryun kembali melihat kolam renang yang ada di depannya. Ia lalu melihat kertas yang dari tadi dipegangnya. Setelah itu, ia memasukkan kertas itu ke dalam saku jaket hitamnya dengan kasar.

“Jin-ho ya…”
Jin-ho keluar dari kamarnya dan bergegas menuju meja makan yang terletak di belakang rumah Jin-ho.
“Eomma ya…”
“Ayo, duduk! Eomma telah membuat kimchi kesukaanmu… makan yang banyak, ya!” pesan Ibu Jin-ho, lalu duduk di depan Jin-ho yang sudah duduk dengan manis di meja makan.
“Benarkah? Wah, aku sangat merindukan kimchi ini!” seru Jin-ho, saat melihat makanan yang tersedia di atas meja makan.
Ibu Jin-ho mengambil piring yang ada di depan Jin-ho dan mengambil nasi untuk Jin-ho. Setelah itu, ia meletakkan nasi itu di depan Jin-ho dan memberi ikan kabar ke dalam piring Jin-ho.
“Makan dulu, baru makan kimchinya. Jangan sampai kau tidak makan nasi karena itu akan sangat berbahaya untuk dokter bandel sepertimu!” pesan Ibu Jin-ho, sambil melihat Jin-ho yang tersenyum ketika memakan kimchi buatannya.
“Ne, eomma. Aku akan menuruti permintaanmu!” kata Jin-ho, menjawab pesan ibunya.
Jin-ho mulai makan. Di saat yang sama, Ibu Jin-ho keluar dari ruang makan dan kembali dengan membawa sebuah pot bunga Tulip yang kemarin ditanamnya.
Jin-ho melihat bunga Tulip yang dibawanya ibunya. Sambil makan, ia bertanya, “mengapa ibu membawa bunga itu kemari?”
Ibu Jin-ho lalu meletakkan bunga Tulip itu di meja samping yang ada di seberang meja makan. “Ne… ibu kira, kita memang tidak seharusnya menanam bunga yang bukan milik kita. Apalagi, bunga ini adalah bunga nyasar! Sudah pasti pemiliknya akan mencarinya karena ia sangat membutuhkannya…” kata Ibu Jin-ho panjang lebar.
Jin-ho menatap ibunya, setelah meletakkan sendok makannya di atas piring. “Eomma yakin? Apakah eomma tidak takut bila bunga itu mati seperti kemarin?” tanya Jin-ho, sambil mendekatkan wajahnya kepada ibunya.
“Tentu saja yakin! Seharusnya, kemarin ibu memikirkan perkataanmu. Lagipula, kemarin itu kan ibu berkata seperti itu karena melihat bunga itu layu… makanya ibu ingin menanamnya… kan kasihan jika bunga itu mati hanya karena tidak disiram…” jawab Ibu Jin-ho.
Jin-ho manggut-manggut, tanda mengerti.
“Kapan kau akan mengembalikan bunga ini?” tanya Ibu Jin-ho, saat melihat Jin-ho kembali makan.
Jin-ho melihat ibunya, dan kembali menghentikan makannya. “Hm… nanti aku akan mencoba menghubunginya…” jawab Jin-ho, singkat, kemudian kembali makan.
“Syukurlah kalau begitu. Jangan sampai lupa, ya! Orang itu kini pasti sedang mencari bunga ini…” kata Ibu Jin-ho, kemudian duduk di depan Jin-ho.
   Jin-ho yang sedang makan, melihat ke arah ibunya yang sedari tadi memperhatikannya. Sebenarnya apa yang ibunya lihat dari ia?
“Apakah ibu tidak makan?”
Ibu Jin-ho menggelengkan kepalanya. “Aniyo… ibu ingin melihatmu makan. Nanti setelah kau selesai, ibu akan makan, ok?”
Jin-ho menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia lalu ingat saat ia masih kecil dulu…
Jin-ho kecil yang kira-kira berumur 10 tahun sedang bermain dengan riangnya di taman belakang. Saat itu, ibu Jin-ho datang dan langsung memeluknya.
   “Akhirnya eomma pulang juga! Aku sudah menunggu eomma dari tadi…” kata Jin-ho kecil, dengan mimik mukanya yang  lucu dan suara yang menggemaskan.
   Ibu Jin-ho menatap Jin-ho dengan sayang. “Mianata Jin-ho ya… kau pasti marah karena ibu terlambat untuk menemanimu bermain kan?” tanya ibu Jin-ho, dengan lembut.
   Ibu Jin-ho lalu mengeluarkan sesuatu dari balik tangannya. “Ini… jangan marah lagi, ya! Ibu sengaja membawakanmu ini... semoga kau suka, Jin-ho ya!” kata ibu Jin-ho, sambil memberi Jin-ho kecil sekotak kue coklat kesukaannya.
   “Untukku?”
   “Ne… makanlah! Dan jangan sampai tersisa!” jawab ibu Jin-ho, dengan senyuman manis miliknya.
   Jin-ho kecil lalu melihat kue yang ada di hadapannya. “Apakah eomma sudah makan?” tanyanya, ketika ia melihat ibunya.
   “Sudah…”
   “Mari makan kue ini bersama-sama!” ajak Jin-ho kecil, sambil membawa kue itu ke meja makan.
   “Mwo?”
   “Ne…” kata Jin-ho kecil, lalu melihat ibunya. “Jangan mencoba membohongiku, bu! Aku tahu, ibu tidak akan makan bila belum melihat aku makan, benarkan?”
   Mata ibu Jin-ho langsung membelalak. “Bagaimana kau tahu, Jin-ho ya?”
   Jin-ho kecil lalu duduk di sebuah kursi di depan meja makan. “Ibu tahu, itu adalah kebiasaan yang aneh!” kata Jin-ho kecil, sambil mengambil sebuah kue coklat dari dalam kotak kue dari ibunya.
   “Dan kau tahu kenapa ibu seperti itu?”
   Jin-ho kecil menggelengkan kepalanya, pertanda tidak tahu.
   “Karena ibu ingin memberikan yang terbaik untukmu…” jawab ibu Jin-ho, lalu duduk di depan Jin-ho kecil dan ikut makan. Jin-ho kecil melihat ibunya dengan seksama. Untuk anak kecil seperti Jin-ho, wajar bila kalimat itu terdengar asing di telinganya.
“Gomawoyo, eomma…” ucap Jin-ho, setelah beberapa menit terdiam.
Ibu Jin-ho melihat Jin-ho, sama ketika Jin-ho melihatnya tadi.
“Meskipun aku masih belum mengerti apa maksud eomma saat itu, tetapi…” Jin-ho diam sejenak. “Aku tidak akan meninggalkan eomma lagi…” sambung Jin-ho, lalu melanjutkan aktivitas makannya.
Ibu Jin-ho menatap Jin-ho yang sedang makan dengan penuh kasih. Ia sangat bangga memiliki putra seperti Jin-ho, dan akan selalu memberikan yang terbaik untuk Jin-ho…

the end...

mohon partisipasinya, ya...
maaf kalo jelek apalagi ada yg salah...
berhubung masih belajar, jdi belum begitu pinter bgt buatnya...
mianhata....   [smiley] [smiley] [smiley]

Share on Bluesky Share on Facebook


Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #1 on: August 14, 2010, 03:34:34 am »
wah ada FF baru [lovestruck] [lovestruck]
langsung dilaunching lg [lovestruck]
aku baca dulu ah [bye]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #2 on: August 14, 2010, 04:12:25 am »
heethi, antar paragrafnya bisa dikasih spasi ga [what] dempek kyk gitu jd puyeng bacanya [wacko] [wacko] and tolong hurufnya diperbesar dong, maklum gw kan rada rabun jauh terus pikun2 jg [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: The Secret Flower
« Reply #3 on: August 14, 2010, 04:17:06 am »
Annyong Heethi. . . [bye]
Salam kenall ya.??

Ua, ff prtama'a. . . Uda bgus koQ. . . Jago dech bikin'a. . .

aQ jd iri ama kluarga song. . . . So cwit bnget c ibu ama ank cwo'a bsa akrab ky gitu. . . Ibu'a jin ho penyayang bnget ya. . . Huhu [cry]

wah, tunangan c sea-ryun koQ ky mencuriga kn gitu c. . .  Jgn" dy uda nge'2 in sea-ryun ya??

Lanjutkn sist!! Keren koQ ff'a. . . Cayo!! [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #4 on: August 14, 2010, 05:42:56 am »
iya... besok aku coba untuk merubahnya, ya...
makasih atas saran dan partisipasinya...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #5 on: August 14, 2010, 06:20:11 am »
menunggu jin-ho ketemu lg ama sae-ryun [smiley-gen013] [smiley-gen013]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #6 on: August 14, 2010, 10:12:44 am »
hola Heethi...  [bye] [bye] [bye] salam kenal...  [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss]

bagus sist... lanjutkan yah... cuman 1 nih sist... sama kayak mami... tulisannya terlalu kecil n rapat  [biggrin] [biggrin] ampe keulang2 bacanya  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]

menunggu jin-ho ketemu lg ama sae-ryun [smiley-gen013] [smiley-gen013]

jiah... si mami... kegirangan... tapi  [heh] [heh] sama juga dink mi... pingin sae ryun ketemu ma jin ho lagi... kalo bisa yang lama... ngapain gitu sist... kencan kek  [hmpfh] [hmpfh] (ngarep)  [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing]

tuh si Jin ho ma jeong wo masih sodaraan ya sist...? terus pertunangannya itu, pertunangan antara jeong wo ma sae ryun ya...? tapi kok di bagian akhir tadi kayaknya ada yang disembunyiin gitu ma si jeong wo...? penasaran nih sist... chapter berikutnya jangan lama2 ya sist  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] piiissss...

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #7 on: August 14, 2010, 10:44:47 pm »
iya kak ai_yuki....
jin-ho sama jeong-wo itu bersaudara...
satu ayah, tapi beda ibu...
trims ya, atas sarannya...  [lovestruck] [lovestruck]
semoga ceritanya tdk membosankan... [heh] [heh]

 [flowers] [flowers] [flowers]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #8 on: August 15, 2010, 12:03:27 am »
iya kak ai_yuki....
jin-ho sama jeong-wo itu bersaudara...
satu ayah, tapi beda ibu...
trims ya, atas sarannya...  [lovestruck] [lovestruck]
semoga ceritanya tdk membosankan... [heh] [heh]

 [flowers] [flowers] [flowers]

wooaaahhh... beda ibu to  [chin] [chin]

ceritanya gak ngebosenin kok... pokoknya LANJUTKAN!!! SEMANGAT!!!  [jumpy] [jumpy] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

udah penasaran... kayaknya ada sesuatu yang disembunyiin ma Jeong wo... kok aneh banget gelagatnya... [chin] [chin] kenapa ya...?

gak akan terjadi apa2 kan sist ma Sae ryun...? kalaupun terjadi sesuatu, Jin ho bakal selalu ada disisinya kan sist...? (ngarep)  [hmpfh] [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #9 on: August 15, 2010, 01:14:13 am »
mungkin jeong wo selingkuh ama cewek lain ya [chin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #10 on: August 15, 2010, 02:25:15 am »
olaaaaaaaaaaaa Heethi  [bye] [bye] [bye] welcome to crazy this club with crazy momod  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] *lirik2 si mami*  [hmff] [hmff] [hmff]

so farrrr ceritanya bagus n gak ngebosenin cumannnnnnnn as mami say jarak antar spasi tolong di perhatiin yah say binun bacanya neh ampe  [wacko] ngeliat tulisan yang dempet2 begono  [hmpfh] sooooooooo ditunggu kelanjutannya karna ini masuk ke FF reguler artinya ceritanya masih panjang tooo  [biggrin] punk

ntuuuu tebakan ane si siwon  [hmff] mian lom bisa inget tunangan ma orang lain yow  whistling buttt disini karakter hyesun cinta bener ma siwon seneng dah si nyong bisa liat wonsung lover  [hmff] [hmff] [hmff]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #11 on: August 15, 2010, 09:32:10 pm »
annyeong Heetie salam kenal juga [arms] [arms] [arms] [arms] [arms] [arms] [arms] [arms]
kapan nich up date next chapternya.
waduh Jin Ho ama sae ryun kapan ketemu lagi jadi penasaran, soalnya sae ryunkan mo tunangan ama jeong wo, pasti kaget2 gitu, hehehe.
HWAITING!!!!!!!


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #12 on: August 15, 2010, 11:33:02 pm »
anyeong heethi [bye]

seneng deh kalo makin banyak yg bikin ff [clap] [clap] [clap] bagus kok critanya tetep smangat ya bikinnya [AddEmoticons04237]

IDEMMMMM dah sm si mak nem curiga nih jgn2 tunangan jeongwo orang lain ya bukan sae ryun [chin] [chin] [chin] pengen cpt liat jinho ketemuan lg sm sae ryun [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Jin-ho kembali menatap Kakek Jeong. “Aku belum yakin akan mencobanya, meskipun aku sangat ingin melakukannya…” jawab Jin-ho, kembali dengan wajah yang menunduk.
Kakek Jeong menatap Jin-ho dengan seksama. Ia dapat merasakan aura Jin-ho yang kuat dengan hati yang lembut itu. “Aku tidak akan memaksakannya padamu, Jin-ho ya…” kata Kakek Jeong kemudian, berniat untuk tidak membicarakan hal yang sama sekali tidak ingin dibahas oleh Jin-ho dengan siapapun.


ni kamsudnya mau nyoba apaan heethi bukan dlm hal kedokteran ya sotoy kumat [hmpfh] ato disuruh kerja diperusahaan sm appanya [AddEmoticons04280]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #13 on: August 16, 2010, 11:56:57 pm »
ini ya, chap 1 yg udah aq perbaikin...
semoga membantu....

Chapter 1

   “Halo…”

   “Jin-ho doryonim…”

   Jin-ho mengangkat handphonenya dari telinga kanannya. Sebuah telepon dari luar negeri. Setelah melihat untuk beberapa saat, Jin-ho lalu kembali meletakkan handphonenya di telinganya untuk kembali berbicara dengan orang di seberang.

    “Doryonim…” panggil orang di seberang. Dari nada suaranya, ia kelihatan sangat cemas.

   “Mworago?” tanya Jin-ho dengan dingin.

   “Nyonya besar…”

   “Ada apa dengan ibu?” tanya Jin-ho, langsung memotong perkataan orang yang sedang meneleponnya saat ini. Wajah Jin-ho berubah. Dari yang tidak peduli menjadi wajah yang penuh kekhawatiran.

   “Nyonya besar kini… sedang dirawat di rumah sakit…” kata orang itu dengan sedikit hati-hati. Ia takut membuat tuan mudanya ini menjadi kaget. Padahal ia tahu, sudah pasti Jin-ho akan kaget ketika mendengar berita itu.

   Tubuh Jin-ho tiba-tiba lemah. Tangan kanannya langsung kaku dan handphone yang dipegangnya jatuh dengan keras ke lantai. Sejenak Jin-ho terdiam. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa. Sementara itu, orang yang meneleponnya tadi hanya bisa memanggil Jin-ho meskipun ia tahu bahwa tuan mudanya saat ini pasti sedang terpukul.

   Tubuh Jin-ho lalu terduduk di lantai. Air muka Jin-ho tidak menunjukkan apa-apa. Air matanya tiba-tiba jatuh. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Eomma…” rintih Jin-ho dengan nada yang menyesakkan dada.

   Langit tiba-tiba menjadi hitam. Seperti hujan akan turun dengan deras malam ini. Mungkin derasnya menunjukkan betapa besar air mata yang keluar di hati Jin-ho. Bahkan saking derasnya, Jin-ho sampai-sampai tidak mampu untuk berdiri lagi.



   Incheon International Airport…

   Jin-ho berjalan dengan cepat. Di tangan kanannya, ia mendorong sebuah koper hitam besar. Lalu di tangan kirinya, Jin-ho membawa sebuah kantung putih dengan logo “Korean Air” yang tadi ia minta di pesawat untuk membawa alat-alat praktek kedokterannya.

   BRUKK…

   Jin-ho terduduk di lantai. Kantung bawaan yang tadi dibawanya, terjatuh tepat di depannya dengan bunyi yang cukup keras.

   Setelah beberapa saat duduk dalam keadaan speechales, Jin-ho kemudian berdiri dari lantai. Ia menepuk-nepuk celananya yang kotor karena terkena debu.

   “Aww…”

   Gadis yang ada di depan Jin-ho, yang sedang merintih kesakitan akibat lututnya yang lecet, kini sedang menatap Jin-ho dengan tajam. Sementara itu, Jin-ho yang dilihat  hanya diam saja tanpa mempedulikannya sama sekali, apalagi balas melihatnya.

   Gadis itu lalu berdiri. Ia membersihkan kaki di sekitar lututnya yang lecet dari kotoran agar tidak infeksi. Saat gadis itu sedang terfokus pada lukanya, Jin-ho  mengambil sebuah kantung putih dan koper hitam besar miliknya yang jatuh tergeletak begitu saja di sampingnya. Jin-ho lalu berjalan pergi. Dan disaat yang sama, gadis itu melihat kepergian Jin-ho dengan geram.

   “HEI…” teriak gadis itu, yang membuat Jin-ho berpaling untuk melihatnya.

   “Aku?” tanya Jin-ho pada gadis itu, dengan nada datar.

   “Ne… kau!” jawab gadis itu, sambil menunjuk Jin-ho dengan telunjuk kanannya.

   Gadis itu lalu menghampiri Jin-ho yang masih diam di tempatnya dengan santai. Meskipun dengan kaki yang sedikit pincang, gadis itu dengan kuat tetap berjalan menuju Jin-ho yang berdiri cukup jauh dari tempatnya memanggil tadi.

   Gadis itu kini telah berada di depan Jin-ho. Ia menatap Jin-ho dengan marah.

   “Apakah anda tidak ingin mengatakan sesuatu, Tuan?” tanya gadis itu pada Jin-ho, kini sedikit lebih pelan. Gadis itu berharap, Jin-ho dapat membantunya untuk mencari obat atau paling tidak meminta maaf karena ia telah menjadi korban, meskipun ia sadar bahwa mereka sama-sama salah.

   “Tidak ada. Aku tidak ingin berkata apapun padamu…” jawab Jin-ho, masih dengan nada datarnya.

   Gadis itu menghela napas panjang. Sungguh lelah bila harus terus berbicara dengan orang dingin seperti Jin-ho!

   Gadis itu lalu mengangkat wajahnya untuk melihat Jin-ho. “Baiklah… begini maksud saya, apakah anda tidak ingin menyampaikan sesuatu setelah peristiwa tabrakan kita tadi?” tanya gadis itu, masih dengan pelan. Dari wajahnya, gadis itu terlihat sekali sedang bersabar untuk tidak menunjukkan amarahnya di tempat umum seperti tempat dimana ia sedang berdiri sekarang ini.

   Jin-ho menatap gadis di hadapannya dengan dahi yang berkerut. Ia merasa, tidak ada yang harus dikatakannya kepada gadis itu.

   Gadis itu masih terus menatap Jin-ho dengan penuh harap. Mengapa dia susah sekali mengerti apa maksudku, sih?

   Beberapa saat kemudian, Jin-ho akhirnya mengerti. “Apa yang anda ingin saya ucapkan?” tanya Jin-ho.

   Gadis itu membelalakkan matanya. Ia sungguh tidak percaya akan perkataan pemuda yang sudah diajaknya berbicara selama beberapa menit itu. “Apakah anda sama sekali tidak merasa bersalah, Tuan?” tanya gadis itu, menyerah. Ia sudah cukup lelah bila harus terus memancing orang seperti Jin-ho untuk menuruti apa yang ia inginkan. Ditambah lagi dengan luka di lututnya yang setiap detik semakin sakit, ia benar-benar merasa lelah!

   Jin-ho menghembuskan napasnya sejenak. Ia lalu menghadap ke arah gadis itu agar dapat benar-benar melihatnya dengan jelas. “Maaf, agashi. Bukankah suatu ketidak sengajaan itu seharusnya tidak diawali dengan kata “maaf” dan diakhiri dengan kalimat “sekali lagi saya minta maaf”, ya?” jawab Jin-ho, kali ini lebih panjang dibanding perkataannya yang sebelumnya.

   Gadis itu melihat Jin-ho dengan tatapan tidak percaya. Setelah selama ini mereka saling berbicara, dia hanya mendapatkan kata-kata itu? Kata-kata yang sama sekali menurutnya tidak sopan untuk dikatakan apabila kau telah menabrak seorang wanita.

   “Mwo?”

   “Ne… pendapat saya itu benar, kan?” kata Jin-ho, memperjelas. “Baiklah, saya anggap anda telah mengerti tentang perkataan saya tadi. Kalau begitu, saya permisi…” kata Jin-ho, kemudian pergi meninggalkan gadis itu sendirian dengan keadaan yang acak-acakan akibat tabrakan yang terjadi di antara mereka.

   Gadis itu masih terus memperhatikan langkah panjang Jin-ho yang telah meninggalkannya. Ia merasa bahwa hari ini sungguh aneh bila harus dilewatkan dengan bertemu seseorang yang dingin sekaligus kurang ajar seperti Jin-ho.

   “Huh… sabarlah, Sae-ryun… sabarlah! Kau pasti akan mendapatkan keberuntungan setelah mengalami bencana yang buruk hari ini!” kata gadis itu. Ia kemudian berjalan kembali ke kantung barangnya dan kopernya yang berada di lantai. Setelah itu, ia pergi meninggalkan tempat dimana ia bertemu dengan orang aneh seperti Jin-ho.



    Jin-ho berjalan masuk ke pekarangan sebuah rumah tradisional yang cukup besar di daerah itu. Di depan pintu gerbang rumah itu, terpampanglah sebuah papan yang bertuliskan “Ha Na” dalam huruf Jepang.    

   Setibanya di depan pintu utama, Jin-ho membuka pintu geser dari kayu berwarna coklat alami itu. Jin-ho lalu melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah miliknya yang sudah lama tidak digunakannya. Tetapi meskipun begitu, sandal itu masih bersih seperti baru.

   Jin-ho lalu meletakkan kantung bawaannya yang berwarna putih tadi di atas sebuah lemari sedang tempat telepon rumah berada. “Ah… berat sekali! Seperti membawa batu saja…” keluh Jin-ho.
   “Kau bawa apa, Jin-ho ya?”

   “Ah… eomma… aku hanya membawa…”

   Jin-ho langsung menghentikan perkataannya saat ia sadar akan siapa orang yang bertanya padanya tadi. Ibunya…

   “Eomma ya... mengapa bisa ada disini?” tanya Jin-ho, dengan perasaan kaget. Ia melihat wanita yang sedang ada di hadapannya dari atas ke bawah. Dan benar… itu adalah ibunya.

   “Tentu saja bisa. Ini adalah rumah eomma. Mengapa eomma tidak boleh berada di rumah eomma sendiri, Jin-ho?” jawab ibu Jin-ho.

   “Tetapi… eomma seharusnya berada di rumah sakit, kan? Jika belum sehat benar, mengapa sudah pulang?” tanya Jin-ho dengan khawatir.

   Ibu Jin-ho langsung memeluk Jin-ho dengan erat. Jin-ho pun tidak menolaknya. Ia pun sangat menginginkan pelukan hangat milik ibunya yang sudah lama tidak dirasakannya itu.

   “Jika eomma sekarang di rumah sakit, tentu saja eomma tidak bisa memelukmu seperti ini… eomma sangat merindukanmu, Jin-ho…” kata ibu Jin-ho dengan sangat lembut.

   Air mata ibu Jin-ho pun jatuh. Dan Jin-ho dapat merasakannya. Air mata itu jatuh tepat di bahunya. Air mata yang hangat dan lembut.

   “Aku juga, eomma…” kata Jin-ho, membalas perkataan ibu tersayangnya.

   Ibu Jin-ho lalu melepas pelukannya. Ia melihat Jin-ho dalam. Anaknya ini sudah besar dan dewasa. Ia pun sadar bahwa ia sudah lama tidak bertemu dengan anak kesayangannya ini.

   Ibu Jin-ho kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sebuah kantung yang dibawa Jin-ho tadi. “Jadi, apa yang kau bawa?” tanya ibu Jin-ho.

Jin-ho melihat ke arah dimana ibunya melihat. “Oh… itu alat praktekku, bu,” jawab Jin- ho.

“Jadi… kau sudah benar-benar memutuskan untuk menjadi seorang dokter?” tanya ibu Jin-ho dengan sangat hati-hati.

Jin-ho memandang ibunya. Ia dapat melihat sejuta kasih sayang dari mata ibunya itu. “Ne…” jawab Jin-ho, pelan sekaligus terkesan ragu.

“Apakah kau tidak ingin mencobanya?”

Jin-ho kembali memandang ibunya, “ne?”

“Jika kau ingin mencobanya, maka cobalah! Jangan ragu apalagi takut untuk melakukannya, Song Jin-ho!” kata ibu Jin-ho dengan bijak, sambil memegang tangan Jin-ho.

Jin-ho masih memperhatikan ibunya dengan seksama. Ia kemudian tersenyum. Ternyata, ia memang sangat beruntung.

“Boleh ibu lihat alat praktekmu?” tanya ibu Jin-ho, sambil berjalan ke arah lemari sedang.

“Apakah ibu ingin melihatnya?” tanya Jin-ho, dengan senyuman di bibirnya.

“Tentu saja. Ibu kan jarang melihat peralatan seorang dokter,” jawab ibu Jin-ho, kemudian mengambil kantung bawaan Jin-ho di atas lemari sedang.

Ibu Jin-ho lalu mengeluarkan semua barang-barang yang ada di kantung itu.

“Bunga Tulip? Dan batu-batu kerikil untuk hiasan taman?”

Jin-ho langsung mengalihkan pandangannya kepada barang-barang yang telah dikeluarkan oleh ibunya dari kantung yang dibawanya.

“Apakah ini semua untuk ibu?”

“Aniyo… ini bukan barang-barangku!” gumam Jin-ho. Jin-ho lalu memperhatikan tanaman Tulip dan batu-batu kerikil di hadapannya. Ia lalu teringat akan tabrakan yang dialaminya di bandara tadi ketika ia sampai di Korea Selatan. “Ah… ini pasti karena itu…” kata Jin-ho, diiringi dengan ekspresi kaget ibunya.

“Karena apa?” tanya ibu Jin-ho, ingin tahu.

“A… bukan karena apa-apa, bu… aku hanya mengira bahwa barangku pasti tertukar dengan penumpang lain di bandara tadi…” jawab Jin-ho, beralasan.

“O… hm… bagaimana jika Tulip ini ditanam saja?” kata ibu Jin-ho, sambil memegang bunga Tulip di tangannya dengan lembut.

“Mwo? Tetapi, ini kan punya orang, bu!” kata Jin-ho, menolak permintaan ibunya.

“Tetapi, bunga ini bisa mati jika tidak ditanam dan disiram oleh air. Nanti jika kau sudah bertemu dengan pemilik bunga ini, kau bisa mencabutnya dan memberikannya kepada orang itu,” kata ibu Jin-ho, masih terus memandangi bunga Tulip indah yang disukainya.

“Terserah ibu sajalah kalau begitu…” kata Jin-ho, menyerah. Ibunya memang seperti ini. Sangat menyukai tanaman, terutama bunga. Ia sangat menyayangi bunga sampai-sampai rumah mereka saja diberi nama “Ha Na” yang artinya “bunga” dalam bahasa Jepang.

Ibu Jin-ho lalu berjalan ke luar rumah. Ia mulai mengeluarkan alat-alat perangnya. Sementara itu, Jin-ho duduk di lantai kayu yang hangat sambil menunggu ibunya bercocok tanam. Tidak sampai lima menit, bunga Tulip itu sudah tertanam di samping bunga Mawar putih koleksi ibunya.

Jin-ho masih duduk di tempatnya, ketika ia melihat sebuah undangan di meja tamu milik ibunya. Jin-ho mengambil undangan itu kemudian membacanya dengan serius.

“Eomma… Jeong-wo mau bertunangan, ya?” tanya Jin-ho, saat ia sudah berada di teras samping rumahnya.

Ibu Jin-ho mengalihkan pandangannya dari bunga ke Jin-ho. “Ne… apakah kau mau datang?”

Jin-ho berpikir sebentar. “Aku akan datang jika eomma juga datang,” jawab Jin-ho, masih memegang undangan di tangannya.

“Hm… kalau begitu, kita datang saja… ok?” kata ibu Jin-ho, kemudian kembali tenggelam dalam kegiatan favoritnya itu.

Jin-ho kembali melihat undangan yang sedang dipegangnya itu dengan seksama. Setelah itu, dia masuk ke dalam rumah diikuti dengan mata ibunya.



“Sae-ryun ssi…”

“Ah… Bibi…”

Seorang wanita dewasa menghampiri Sae-ryun dan memeluknya. Dan Sae-ryun pun menerima pelukan itu dengan bahagia.

“Apa kabar? Apakah kau baik-baik saja?” tanya wanita itu dengan ramah. Ia lalu mengajak Sae-ryun untuk masuk ke dalam rumahnya yang besar dan mewah yang memiliki halaman luas dengan sebuah air mancur di tengah halaman itu.

“Baik-baik saja, Bi. Bibi sendiri bagaimana?”

“Seperti yang kau lihat, Bibi baik-baik saja…” jawab wanita itu, masih dengan senyuman di bibirnya.

Mereka lalu duduk di sebuah sofa empuk dan besar di ruang tamu. Beberapa detik kemudian, datanglah tiga orang pelayan yang menghidangkan teh dan kue untuk mereka.

“Oh iya Bi, aku ada oleh-oleh untukmu. Aku harap Bibi suka…” kata Sae-ryun. Ia lalu menyodorkan sebuah kantung belanjaan miliknya kepada wanita dewasa yang ia panggil “Bibi” itu.

Wanita itu lalu menerima bungkusan itu dan membukanya.

“Apa ini, Sae-ryun ssi?” tanya wanita itu, menerima bingkisan dari Sae-ryun.

Wanita itu lalu mengeluarkan satu persatu barang yang ada di dalam kantung belanjaan yang tengah dipegangnya saat ini. Dan tanpa diduga sama sekali, yang muncul dari dalam kantung belanjaan itu adalah alat-alat kedokteran yang masih bagus dan baru itu.

Sae-ryun menatap barang-barang di hadapannya dengan kaget. Bagaimana bisa begini?

Melihat wajah Sae-ryun yang mulai pucat karena malu, wanita itu pun menenangkannya, “sudahlah… tidak apa-apa, kau pasti salah membawa barang kan? Aku bisa memakluminya. Lagipula, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, bukankah begitu?”

Wajah Sae-ryun masih pucat. Ia sungguh tidak menyangka bahwa ia harus mengalami kejadian yang buruk dalam satu hari ini lagi.

“Sudahlah, tidak perlu tidak enak begitu… ini hal biasa bukan?” kata wanita itu lagi.

“Jwesonghamnida, Bi…” kata Sae-ryun, sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Ah… tidak apa-apa… tidak usah terlalu dipikirkan. Sekarang, beristirahatlah. Kau pasti sangat lelah kan?” kata wanita itu.

Sae-ryun beranjak dari kursi yang didudukinya. Seorang pelayan lalu memimpin jalannya menuju ke sebuah kamar yang sangat besar dengan dinding berwarna krem dan perabotan manis berwarna coklat dan putih yang memberikan nuansa lembut.

Sae-ryun kemudian duduk di sebuah kursi kayu di depan meja tulis. Ia berpikir, bagaimana bisa oleh-oleh yang khusus dibawanya untuk Bibi Joo-young, calon mertuanya itu berupa alat-alat kedokteran? Betapa gilanya Sae-ryun bila memberikan semua itu untuknya!

Sae-ryun lalu membuka kantung yang akan diberikannya kepada Bibi Joo-young yang dibawa oleh salah seorang pelayan yang tadi berjalan di belakangnya. Dikeluarkannya semua alat-alat kedokteran yang ada disana. Saat Sae-ryun akan membuang kantung yang bertuliskan “Korean Air” itu, tiba-tiba saja sebuah kertas jatuh dari dalamnya. Sae-ryun mengambil kertas itu dan membacanya.

 “Hm… Panti Asuhan Gook Nam? Aku harus mendapatkan bungaku kembali…” gumam Sae-ryun, saat ia sedang berpikir setelah membaca isi kertas itu.



Jin-ho berjalan dengan riang. Kini, ia tidak khawatir sama sekali. Ibunya sudah mulai sehat dan tugasnya di Indonesia sebagai relawan juga telah ada yang menggantikan. Jadi, kini ia bebas untuk sejenak berlibur dari rutinitasnya yang sangat padat itu.

Jin-ho berkeliling di sekitar pusat perbelanjaan di jantung kota Seoul. Setelah lama melihat-lihat, Jin-ho akhirnya membeli baju dan buku dalam jumlah yang cukup banyak. Setelah puas berjalan, Jin-ho pun meninggalkan tempat itu dengan mobil sport hitamnya.

Beberapa menit kemudian, mobil Jin-ho melewati jalan yang berkelok dan hutan-hutan lebat dengan pemandangan pantai di sampingnya. Jin-ho kemudian menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang cukup besar dimana banyak anak-anak yang bermain di halaman depan rumah itu. Jin-ho menurunkan semua barang-barang belanjaannya. Dan ia pun disambut dengan gembira di rumah itu.

“Jin-ho oppa…” seru salah seorang anak, ketika melihat Jin-ho turun dari mobilnya.

“A-rin na…” balas Jin-ho.

Seorang gadis kecil lalu memeluk Jin-ho dari arah lain. Jin-ho pun menerima pelukan anak itu dengan sayang.

Saat Jin-ho sedang memeluk gadis kecil itu, datanglah lagi beberapa anak sambil memanggil namanya. “Jin-ho oppa…”

Akhirnya, semua anak yang ada disana datang menghampirinya dan langsung memeluknya. Jin-ho yang hanya seorang, akhirnya tenggelam di antara anak-anak kecil yang lucu dan pintar itu.

Gadis kecil yang tadi pertama kali memeluknya, bertanya dengan nada lucu dan manja, “mengapa oppa lama sekali tidak datang kesini?”

Anak-anak yang lain lalu ikut melepaskan pelukannya untuk mendengar jawaban dari Jin-ho.

“Hm… oppa sudah lama tidak datang kesini karena oppa harus bekerja dan membantu orang lain,” jawab Jin-ho dengan lembut kepada anak-anak yang ada di hadapannya maupun yang berdiri di sampingnya.

“Oppa kerja apa sampai tidak bisa menemui kami hingga selama ini?” tanya seorang gadis yang memiliki wajah paling cantik.

“Oppa bekerja sebagai seorang dokter… tahukah kalian apa kerja dari seorang dokter?”

“Untuk membantu orang-orang yang sakit sehingga menjadi tidak sakit lagi dan dapat menjalankan aktivitasnya seperti biasa dengan baik,” jawab salah seorang anak di antara mereka yang memakai kacamata.

“Sang-hoon na… kau semakin pintar saja!” kata Jin-ho, sambil mengelus-elus kepala anak tadi dengan lembut.

“Hei… sudah-sudah, jangan mengganggu Jin-ho oppa lagi! Tidakkah kalian merasa kasihan melihat Jin-ho oppa yang kesulitan saat menghadapi kalian yang banyak seperti ini?” kata seorang laki-laki tua yang berjalan mendekati Jin-ho dan anak-anak kecil yang mengelilinginya. Dari wajahnya, laki-laki itu terlihat sangat bijaksana dan lembut.

“Ne, haraboeji…” jawab anak-anak itu serempak, lalu berjalan meninggalkan Jin-ho dan kakek tua itu berdua.

“Hei… oppa membawa baju dan buku-buku untuk kalian… dipakai dan digunakan dengan baik, ya!” teriak Jin-ho kepada anak-anak itu saat anak-anak itu sudah mulai jauh meninggalkannya dan mereka pun masuk ke dalam rumah.

“Ayo, duduk…”

Kakek Jeong dan Jin-ho lalu duduk di batu yang difungsikan menjadi kursi di halaman dekat bunga-bunga tumbuh. Jin-ho menghirup napas dalam-dalam. Sungguh segar.

“Mengapa kau pulang ke Korea?” tanya Kakek Jeong, memulai pembicaraan mereka.

Jin-ho melihat Kakek Jeong. “Aku rindu udara disini. Udara disini sungguh segar… aku tidak akan mungkin mendapatkannya di tempat lain…”

Kakek Jeong melihat Jin-ho dengan tatapan tajam. “Aku dengar ibumu sakit. Apakah karena itu kau pulang sekarang?”

“Ne… aku takut terjadi apa-apa dengan eomma,” jawab Jin-ho dengan senyuman di bibirnya. “Jadi, aku memutuskan untuk tidak meninggalkan eomma sendirian lagi…” lanjut Jin-ho, melihat ke arah Kakek Jeong yang duduk di sampingnya.

“Lalu… apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

Jin-ho diam sebentar. “Mungkin aku akan membuka praktek disini…” jawab Jin-ho, sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Kakek Jeong melihat Jin-ho kembali dengan tajam dan dalam. “Tidakkah kau ingin mencobanya walau untuk sekali seumur hidupmu, Song Jin-ho?”

Jin-ho kembali menatap Kakek Jeong. “Aku belum yakin akan mencobanya, meskipun aku sangat ingin melakukannya…” jawab Jin-ho, kembali dengan wajah yang menunduk.

Kakek Jeong menatap Jin-ho dengan seksama. Ia dapat merasakan aura Jin-ho yang kuat dengan hati yang lembut itu. “Aku tidak akan memaksakannya padamu, Jin-ho ya…” kata Kakek Jeong kemudian, berniat untuk tidak membicarakan hal yang sama sekali tidak ingin dibahas oleh Jin-ho dengan siapapun.

Jin-ho lalu mengembangkan senyumnya sambil melihat Kakek Jeong sebagai pertanda terima kasih. Mereka lalu terdiam sesaat. Masing-masing tenggelam di dalam pikirannya yang mungkin memikirkan hal yang sama.

“Oh iya, tadi ada seorang gadis yang datang untuk menemuimu…” kata Kakek Jeong, kembali memulai topik baru untuk diperbincangkan.

“Seorang gadis? Siapa?” tanya Jin-ho, tidak mengerti.

“Aku juga tidak tahu. Tetapi, dia berkata tentang alat-alat kedokteran… dan sebuah tanaman… yang aku lupa sebenarnya apa maksud dari perkataannya itu…” lanjut Kakek Jeong, berusaha menjelaskan kepada Jin-ho tentang gadis itu.

“Alat-alat kedokteran…? Tanaman…?” guman Jin-ho sendiri, sambil terus berpikir tentang siapa sebenarnya gadis yang mencarinya itu.

“Oh iya, aku ingat satu kata lagi… bandara! Ya… di bandara…” kata Kakek Jeong, manggut-manggut.

Jin-ho kembali berpikir, tetapi tidak lama. “Oh… gadis itu… kenapa dia tahu tentang panti asuhan ini?” tanya Jin-ho dalam hati, berusaha mencari tahu sendiri jawabannya.

“Mungkin kau memberitahu ia bahwa kau sering datang kesini…” timpal Kakek Jeong, yang ikut-ikutan bingung.

”Kapan dia datang kesini, haraboeji?” tanya Jin-ho kemudian, mengalihkan perhatiannya kepada pertanyaan lain yang mungkin dapat ia temukan jawabannya.

“Tadi pagi. Tetapi, kelihatannya ia buru-buru sehingga ia langsung pergi begitu saja setelah menitipkan alat-alat praktekmu kepadaku,” jawab Kakek Jeong dengan lancar sambil memberikan sebuah tas dokter yang merupakan milik Jin-ho.

Jin-ho menerima tas itu dan meletakkannya di samping bawah batu yang didudukinya. Ia kemudian kembali bertanya kepada Kakek Jeong, “apakah dia memberikan sesuatu untukku, Kek?”

Kakek Jeong lalu mencoba untuk mengingatnya. Beberapa menit kemudian, Kakek Jeong mengeluarkan sesuatu dari kantungnya, “dia memberikan ini padaku. Katanya, kau boleh menghubunginya setelah kau siap untuk mengembalikan… apa, ya?” jawab Kakek Jeong, kemudian kembali mencoba mengingat-ingat.

Jin-ho mengambil kertas berisi nomor handphone gadis yang mencarinya itu dari tangan Kakek Jeong. Setelah membacanya sebentar, Jin-ho pun meminta izin kepada Kakek Jeong untuk pergi.

“Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Kek! Eomma memaksaku untuk tidak pulang terlambat agar bisa makan malam bersamanya malam ini. Aku pergi ya, Kek!” kata Jin-ho, lalu berjalan meninggalkan Kakek Jeong sendirian dengan membawa tas yang berisi alat-alat praktek miliknya. Beberapa menit kemudian, mobil Jin-ho melesat dengan cepat.



“Song Jin-ho… dr. Song Jin-ho… Praktek : Panti Asuhan Gook Nam…”

Sae-ryun terus mengulang-ulang isi dari kertas yang dipegang tangan kanannya sekarang. Dengan wajah serius, ia masih berpikir tentang orang itu. Orang yang bernama Song Jin-ho, yang tanpa sengaja menabraknya dan menunjukkan ketidak sopanannya di depan Sae-ryun.

“Jin-ho… Song Jin-ho… Jin… Ho… Song Jin-ho… dr. Song... dr. Song Jin-ho… Jin-ho…” gumam Sae-ryun, dengan nada yang berbeda-beda.

“Sae-ryun na…”

Sae-ryun menoleh ke belakang, ke arah sebuah suara yang memanggilnya. Senyumnya langsung merekah ketika ia melihat siapa yang datang mengunjunginya.

“Jeong-wo oppa…” seru Sae-ryun.

Jeong-wo berjalan mendekati Sae-ryun yang sedang berdiri di pinggir kolam renang. Jeong-wo lalu memeluk Sae-ryun. Dan Sae-ryun pun dengan senang hati membalas pelukan itu dengan lebih hangat.

Selama beberapa lama, mereka berdua saling menumpahkan kerinduan. Sae-ryun semakin memeluk Jeong-wo dengan erat seolah-olah tidak mau melepaskannya.

“Aku sangat merindukan, oppa…” kata Sae-ryun dengan pelan, dari balik bahu Jeong-wo.

Jeong-wo melirik Sae-ryun sebentar. “Aku juga… sangat senang melihatmu ada disini sekarang…” kata Jeong-wo, membalas ungkapan hati Sae-ryun.

Sae-ryun melepaskan pelukan Jeong-wo dari tubuhnya. “Perkataan oppa terdengar sangat aneh. Ada apa? Mengapa bicara seformal itu terhadap pacar sendiri?” tanya Sae-ryun, dengan cemberut.

Jeong-wo terdiam mendengar pertanyaan Sae-ryun. Sae-ryun jadi merasa tidak enak ketika melihat Jeong-wo menjadi bingung seperti ini.

“Ah… araso! Pasti karena pekerjaan di kantor kan? Makanya oppa jadi berbicara seformal ini… Hei, aku ini pacarmu, bukan sekretarismu! Jangan lakukan ini lagi, ya! Aku harap, oppa tidak memikirkan pekerjaan ketika sedang bersamaku…” kata Sae-ryun, panjang lebar dengan senyuman manis di bibirnya.

Jeong-wo melihat Sae-ryun dengan kaget. Sesaat kemudian, ia kembali melihat ke arah lain di samping kirinya.

“Apakah oppa baik-baik saja?” tanya Sae-ryun, dengan nada khawatir.

Jeong-wo kembali melihat gadis yang ada di depannya sekarang. Sesaat kemudian, Jeong-wo mencoba tersenyum. “Tidak… aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit lelah,” jawab Jeong-wo.

Sae-ryun bergerak mendekati Jeong-wo. Ia lalu meletakkan telapak tangan kanannya di dahi Jeong-wo. Muka Jeong-wo menjadi merah.

“Ne… oppa memang terlihat tidak sehat. Beristirahatlah! Besok, oppa harus cuti untuk mengajakku jalan-jalan sebagai ganti hari ini, ok?” kata Sae-ryun, dengan riang.

Jeong-wo tidak menjawab.

“Ok?” tanya Sae-ryun, mencari keyakinan dari mulut Jeong-wo.

Jeong-wo masih belum menjawab. Ia kelihatan sangat mempertimbangkan permintaan Sae-ryun itu. “Ne…” jawab Jeong-wo kemudian.

Sae-ryun diam, begitu pula dengan Jeong-wo. Sae-ryun lalu melihat Jeong-wo, “apakah aku perlu mengantar oppa ke kamar dan menemani oppa sampai oppa tertidur?”

Jeong-wo langsung menggelengkan kepalanya dengan keras, “tidak… tidak perlu! Aku pikir… aku akan beristirahat sekarang. Dan aku berjanji akan pergi denganmu besok, ok?”

Sae-ryun mengangguk, “ne…”

Jeong-wo pergi meninggalkan Sae-ryun di taman sendiri. Sae-ryun kembali melihat kolam renang yang ada di depannya. Ia lalu melihat kertas yang dari tadi dipegangnya. Setelah itu, ia memasukkan kertas itu ke dalam saku jaket hitamnya dengan kasar.



“Jin-ho ya…”

Jin-ho keluar dari kamarnya dan bergegas menuju meja makan yang terletak di belakang rumah Jin-ho.

“Eomma ya…”

“Ayo, duduk! Eomma telah membuat kimchi kesukaanmu… makan yang banyak, ya!” pesan Ibu Jin-ho, lalu duduk di depan Jin-ho yang sudah duduk dengan manis di meja makan.

“Benarkah? Wah, aku sangat merindukan kimchi ini!” seru Jin-ho, saat melihat makanan yang tersedia di atas meja makan.

Ibu Jin-ho mengambil piring yang ada di depan Jin-ho dan mengambil nasi untuk Jin-ho. Setelah itu, ia meletakkan nasi itu di depan Jin-ho dan memberi ikan kabar ke dalam piring Jin-ho.

“Makan dulu, baru makan kimchinya. Jangan sampai kau tidak makan nasi karena itu akan sangat berbahaya untuk dokter bandel sepertimu!” pesan Ibu Jin-ho, sambil melihat Jin-ho yang tersenyum ketika memakan kimchi buatannya.

“Ne, eomma. Aku akan menuruti permintaanmu!” kata Jin-ho, menjawab pesan ibunya.

Jin-ho mulai makan. Di saat yang sama, Ibu Jin-ho keluar dari ruang makan dan kembali dengan membawa sebuah pot bunga Tulip yang kemarin ditanamnya.

Jin-ho melihat bunga Tulip yang dibawanya ibunya. Sambil makan, ia bertanya, “mengapa ibu membawa bunga itu kemari?”

Ibu Jin-ho lalu meletakkan bunga Tulip itu di meja samping yang ada di seberang meja makan. “Ne… ibu kira, kita memang tidak seharusnya menanam bunga yang bukan milik kita. Apalagi, bunga ini adalah bunga nyasar! Sudah pasti pemiliknya akan mencarinya karena ia sangat membutuhkannya…” kata Ibu Jin-ho panjang lebar.

Jin-ho menatap ibunya, setelah meletakkan sendok makannya di atas piring. “Eomma yakin? Apakah eomma tidak takut bila bunga itu mati seperti kemarin?” tanya Jin-ho, sambil mendekatkan wajahnya kepada ibunya.

“Tentu saja yakin! Seharusnya, kemarin ibu memikirkan perkataanmu. Lagipula, kemarin itu kan ibu berkata seperti itu karena melihat bunga itu layu… makanya ibu ingin menanamnya… kan kasihan jika bunga itu mati hanya karena tidak disiram…” jawab Ibu Jin-ho.

Jin-ho manggut-manggut, tanda mengerti.

“Kapan kau akan mengembalikan bunga ini?” tanya Ibu Jin-ho, saat melihat Jin-ho kembali makan.

Jin-ho melihat ibunya, dan kembali menghentikan makannya. “Hm… nanti aku akan mencoba menghubunginya…” jawab Jin-ho, singkat, kemudian kembali makan.

“Syukurlah kalau begitu. Jangan sampai lupa, ya! Orang itu kini pasti sedang mencari bunga ini…” kata Ibu Jin-ho, kemudian duduk di depan Jin-ho.

   Jin-ho yang sedang makan, melihat ke arah ibunya yang sedari tadi memperhatikannya. Sebenarnya apa yang ibunya lihat dari ia?

“Apakah ibu tidak makan?”

Ibu Jin-ho menggelengkan kepalanya. “Aniyo… ibu ingin melihatmu makan. Nanti setelah kau selesai, ibu akan makan, ok?”

Jin-ho menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia lalu ingat saat ia masih kecil dulu…

Jin-ho kecil yang kira-kira berumur 10 tahun sedang bermain dengan riangnya di taman belakang. Saat itu, ibu Jin-ho datang dan langsung memeluknya.

   “Akhirnya eomma pulang juga! Aku sudah menunggu eomma dari tadi…” kata Jin-ho kecil, dengan mimik mukanya yang  lucu dan suara yang menggemaskan.

   Ibu Jin-ho menatap Jin-ho dengan sayang. “Mianata Jin-ho ya… kau pasti marah karena ibu terlambat untuk menemanimu bermain kan?” tanya ibu Jin-ho, dengan lembut.

   Ibu Jin-ho lalu mengeluarkan sesuatu dari balik tangannya. “Ini… jangan marah lagi, ya! Ibu sengaja membawakanmu ini... semoga kau suka, Jin-ho ya!” kata ibu Jin-ho, sambil memberi Jin-ho kecil sekotak kue coklat kesukaannya.

   “Untukku?”

   “Ne… makanlah! Dan jangan sampai tersisa!” jawab ibu Jin-ho, dengan senyuman manis miliknya.

   Jin-ho kecil lalu melihat kue yang ada di hadapannya. “Apakah eomma sudah makan?” tanyanya, ketika ia melihat ibunya.

   “Sudah…”

   “Mari makan kue ini bersama-sama!” ajak Jin-ho kecil, sambil membawa kue itu ke meja makan.

   “Mwo?”

   “Ne…” kata Jin-ho kecil, lalu melihat ibunya. “Jangan mencoba membohongiku, bu! Aku tahu, ibu tidak akan makan bila belum melihat aku makan, benarkan?”

   Mata ibu Jin-ho langsung membelalak. “Bagaimana kau tahu, Jin-ho ya?”

   Jin-ho kecil lalu duduk di sebuah kursi di depan meja makan. “Ibu tahu, itu adalah kebiasaan yang aneh!” kata Jin-ho kecil, sambil mengambil sebuah kue coklat dari dalam kotak kue dari ibunya.
   “Dan kau tahu kenapa ibu seperti itu?”

   Jin-ho kecil menggelengkan kepalanya, pertanda tidak tahu.

   “Karena ibu ingin memberikan yang terbaik untukmu…” jawab ibu Jin-ho, lalu duduk di depan Jin-ho kecil dan ikut makan. Jin-ho kecil melihat ibunya dengan seksama. Untuk anak kecil seperti Jin-ho, wajar bila kalimat itu terdengar asing di telinganya.


“Gomawoyo, eomma…” ucap Jin-ho, setelah beberapa menit terdiam.

Ibu Jin-ho melihat Jin-ho, sama ketika Jin-ho melihatnya tadi.

“Meskipun aku masih belum mengerti apa maksud eomma saat itu, tetapi…” Jin-ho diam sejenak. “Aku tidak akan meninggalkan eomma lagi…” sambung Jin-ho, lalu melanjutkan aktivitas makannya.

Ibu Jin-ho menatap Jin-ho yang sedang makan dengan penuh kasih. Ia sangat bangga memiliki putra seperti Jin-ho, dan akan selalu memberikan yang terbaik untuk Jin-ho…

the end...


Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #14 on: August 17, 2010, 12:04:58 am »
Untuk chap 2, udah ku buat...
tapi masih ku lihat sana-sini...
harap maklum, ya!!!  [flowers] [flowers] [flowers]