Author Topic: The Secret Flower  (Read 5413 times)

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #15 on: August 17, 2010, 12:08:05 am »
aku tunggu sist chap selanjutnya [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #16 on: August 19, 2010, 01:44:49 am »
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Heeti, gw tunggu chapter 2 nya.. GPL yaw [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #17 on: August 19, 2010, 02:08:31 am »
ikutan...

updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013] updet  [smiley-gen013]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #18 on: August 19, 2010, 07:23:27 pm »
jin ho?  [what] untung bukan ama kae in  [sweat]

anyong heethi  [bye] kenalan yuk  [biggrin]

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #19 on: August 20, 2010, 05:16:08 am »
jin ho?  [what] untung bukan ama kae in  [sweat]

anyong heethi  [bye] kenalan yuk  [biggrin]

hallo juga, kak Liko...

he... he... he...  [lovestruck]
lagi suka sama nama Jin-ho, makanya make nama ini...
ga pa-pa kan???  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

 [flowers] [flowers] [flowers]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #20 on: August 20, 2010, 05:41:04 am »
jin ho?  [what] untung bukan ama kae in  [sweat]

anyong heethi  [bye] kenalan yuk  [biggrin]

hallo juga, kak Liko...

he... he... he...  [lovestruck]
lagi suka sama nama Jin-ho, makanya make nama ini...
ga pa-pa kan???  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

 [flowers] [flowers] [flowers]

ya gak pa2 lah, wong ini ff kamu, suka2 authornya aja  [hmpfh]

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower, update chap 2 (21 agustus)
« Reply #21 on: August 21, 2010, 02:26:23 am »
CAST :

Lee Min-ho as Song Jin-ho


Goo Hye-sun as Jin Sae-ryun


Choi Si-won as Song Jeong-wo


Lee Yoon Hee as Na Hye-na






Chapter 2

Jin-ho berjalan masuk ke dalam kamarnya. Ia mengeluarkan sebuah kertas dari jaket hitam yang digunakannya sejak makan malam tadi.

Ia memperhatikan isi kertas itu dengan serius. “Haruskah aku menghubunginya sekarang?” tanya Jin-ho, pada dirinya sendiri.

Jin-ho lalu bergerak mendekati tempat tidurnya dan tiduran di atasnya. Ia terus berpikir tentang hal itu dengan penuh keraguan. Apakah tidak apa-apa jika meneleponnya sekarang?

Jin-ho kemudian bangkit dari tidurnya. Ia mengambil handphonenya dari dalam kantung celana cokelatnya. Ia menekan tombol-tombol yang ada di telepon genggamnya itu. Beberapa saat kemudian, nada sambung berbunyi.

“Yoboseyo…”

“Yoboseyo…” kata Jin-ho, membalas salam dari orang yang ada di seberangnya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya orang disana, dengan sopan.

Jin-ho menarik napas panjang, “ne… saya… Song Jin-ho…”

“Song Jin-ho ssi…” seru orang itu, dengan nada kaget.

Jin-ho kembali menarik napas panjang. Ia harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga. “Ne… itu saya… Saya menelepon anda karena saya ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan anda yang telah mengembalikan tas kerja saya tadi pagi. Lalu… saya juga ingin mengembalikan bunga Tulip anda yang kemarin tidak sengaja saya bawa…”

“Ah… ne… araso! Jadi, kapan kau akan mengembalikannya?” tanya gadis di seberang, memotong perkataan Jin-ho.

Hhh… gadis ini cerewet sekali! Aku belum selesai bicara, dia sudah memotong terus…, batin Jin-ho dalam hati.

“Bagaimana jika besok siang di Cold Café? Kau setuju?” usul gadis itu, menghentikan Jin-ho yang sudah membuka mulutnya untuk mulai bicara.

Jin-ho kini menghembuskan napasnya. Ia lalu menggelengkan kepalanya yang tidak pusing itu. Jika tahu begini, lebih baik Jin-ho tidak perlu bicara saja karena gadis itu pasti sudah tahu apa jawaban dari pertanyaan yang dilontarkannya sendiri. Sungguh aneh!

“Ne… aku akan menunggumu disana besok pagi pukul 10.00 tepat dan jangan sampai terlambat karena aku masih memiliki banyak pekerjaan besok…” kata Jin-ho dengan cepat, takut bila disela lagi oleh gadis yang ada di seberang sana, yang kini sedang berbincang ria dengannya.

“Wah… aku tidak mengira jika kau bisa berbicara secepat itu! Kenapa kau bicara cepat sekali? Tidak seperti waktu kita bicara di bandara waktu itu…”  komentar gadis itu, ketika dia mendengar Jin-ho berbicara dengan cepat tanpa titik dan koma apalagi mungkin spasi juga tidak ada.

Itu karena dirimu juga tahu!, kata Jin-ho dalam hati, mencoba meredakan kekesalannya yang sudah sampai ke ubun-ubun itu. “Baiklah, besok pagi di Cold Café pukul 10.00. Aku akan ada disana dan mengembalikan bungamu…” kata Jin-ho dengan lebih pelan, menyimpulkan hasil pembicaraan mereka tadi agar gadis di seberangnya mengerti dan tidak banyak bertanya lagi.

Jin-ho langsung mematikan sambungan handphonenya saat ia sudah selesai mengatakan hal itu. Ia lalu duduk di sebuah kursi di depan meja bacanya. “Ini akan menjadi benar-benar aneh jika aku terus bertemu dengan gadis itu!” kata Jin-ho. Ia lalu berjalan menuju ke sebuah jendela di dekatnya dan melihat ke  luar, memandang bintang dan bulan yang bersinar malam ini.



Sae-ryun menutup handphonenya. Ia senang karena besok ia sudah dapat memberikan Bibi Joo-young bunga Tulip asli dari Belanda itu. Itu berarti, ia tidak akan malu lagi di depan Bibi Joo-young. Dan hari-harinya di Seoul akan kembali normal seperti semula, tanpa rasa segan apalagi rasa malu.

Sae-ryun senyum-senyum sendiri di atas tempat tidurnya. Seharusnya, ia tadi tidak bersikap ramah seperti itu kepada pemuda yang tidak sopan dengan seorang gadis seperti Jin-ho. Tetapi ia tidak bisa. Hatinya sedang berbunga-bunga sekarang. Dan ia tidak ingin menodai malam indahnya itu dengan marah-marah tidak jelas kepada orang yang sudah jelas tidak akan mengerti isi hatinya itu. Dan sudah pasti, ia malah jadi malu di depan pemuda itu. Masa dari kemarin sampai hari ini tidak bisa juga memaafkan orang lain. Itu kan terlihat sangat kekanak-kanakan!, kata Sae-ryun, dalam hati.

Tiba-tiba handphone Sae-ryun kembali berbunyi. Sae-ryun menerima telepon itu dan segera mendekatkan handphonenya di telinga kanannya. “Yoboseyo…”

“Sae-ryun na…” sahut orang di seberang, dengan lembut.

“Eomma ya…”

“Ne… bagaimana kabarmu disana? Apakah kau baik-baik saja, sayang?”

Sae-ryun melebarkan senyumnya, “ne… aku baik-baik saja, eomma. Eomma… kenapa eomma tidak pernah bilang jika pertunanganku dengan Jeong-wo oppa akan dipercepat? Aku kan jadi seperti orang bodoh disini…”

Wajah Sae-ryun berubah menjadi merah. Ia sungguh malu. Tetapi di lain pihak, ia juga sangat senang ketika mendengar berita itu.

“Sae-ryun na… tidak perlu malu seperti itu! Eomma sekarang bisa membayangkan betapa merahnya mukamu saat ini! Eomma jadi ingin melihatnya…” kata ibu Sae-ryun, sambil terus menggoda Sae-ryun. “Kau tenang saja, ya, eomma akan kembali ke Korea secepatnya. Lagipula, pekerjaan ayahmu disini juga sudah hampir selesai, jadi kami mungkin bisa pulang lebih cepat dibanding perkiraan kita selama ini. Tenanglah disana, jangan khawatir! Kami akan memberikanmu pertunangan paling indah yang pernah kau inginkan…” pesan ibu Sae-ryun, dengan lembut.

Sae-ryun kembali tersenyum. Ia lalu menganggukkan kepalanya. “Ne, eomma!”
  
Mereka berdua lalu berbincang-bincang. Sesekali terdengar tawa Sae-ryun saat sedang bercerita dengan ibunya itu. Beberapa menit kemudian, Sae-ryun menutup handphonenya dan meletakkannya di atas meja tulisnya.

Sae-ryun lalu berjalan ke tempat tidurnya. Ia lalu tidur-tiduran disana. Sesaat kemudian, ia memasuki alam khayalannya saat ia dan Jeong-wo sudah menikah nanti…



Jin-ho sudah bersiap-siap untuk pergi. Saat ia sudah membawa tas ranselnya dengan sebuah kantung hitam di tangan kanannya, tiba-tiba saja ibunya memanggilnya.

“Jin-ho ya…”

Jin-ho mengalihkan pandangannya ke belakang. “Ne, eomma…”

Ibu Jin-ho lalu berjalan mendekati Jin-ho. “Nanti jangan lupa berkunjung ke sekolah, ya…” bisik ibu Jin-ho.

Jin-ho mengernyitkan dahinya, “memangnya ada apa?”

Ibu Jin-ho diam sejenak, seolah-olah berpikir. Sementara itu, Jin-ho dengan setia menunggu jawaban dari ibunya. “Lihat saja nanti!” jawab ibu Jin-ho, lalu berjalan masuk ke dalam.

Jin-ho menghela napas panjang, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Kembali, saat Jin-ho akan melangkah keluar, ibunya berteriak padanya dengan keras, “JANGAN SAMPAI LUPA JIN-HO YA!”

Jin-ho lalu berhenti dan menyahut dengan keras, “NE… EOMMA…”

Ibunya memang seperti itu. Selalu saja mengingatkan Jin-ho di saat apapun agar Jin-ho tidak lupa. Bahkan… sampai sekarang. Hingga Jin-ho kecil sudah tumbuh dan kini telah menjadi seorang Jin-ho dewasa. Sampai-sampai, Jin-ho dewasa merasa geram saat mendengarnya, meskipun ia selalu membutuhkan semua teriakan-teriakan itu…



Sae-ryun membuka jendela kamarnya agar udara segar masuk. Ia menguap. Sungguh lelah setelah semalaman tidak bisa tidur. Ya, kemarin malam ia tidak bisa tidur. Apalagi alasan yang membuatnya seperti ini jika bukan karena senang atas pertunangannya dengan Jeong-wo yang dimajukan.

Mata Sae-ryun masih belum terbuka sepenuhnya. Tetapi, mata itu dapat menangkap dengan jelas suatu pemandangan yang terjadi di luar. Pemandangan yang membuat Sae-ryun galau sekaligus senang.

Sae-ryun lalu sibuk memperhatikan apa yang terjadi di luar. Pikirannya penuh dengan bermacam-macam prasangka dan kesimpulan yang diambilnya sendiri, tanpa berniat untuk berpindah dari tempatnya berdiri sekarang dan bertanya kepada kedua orang disana tentang apa yang sedang mereka lakukan di taman. Perhatiannya langsung teralih saat ia mendengar sebuah bunyi yang cukup nyaring yang berasal dari handphone miliknya.

Sae-ryun berjalan ke arah meja tulisnya. Diambilnya handphone touch screen berwarna pink miliknya itu kemudian membaca isi dari alarm yang berbunyi.

Bertemu dengan Song Jin-ho

Sae-ryun langsung menepuk jidatnya, tanpa sadar. “Aigoo… bagaimana aku bisa lupa?” tanyanya pada dirinya sendiri, menyesali kelupaannya akan janji yang telah dibuatnya dengan Jin-ho.

Sae-ryun segera berlari ke pintu kamar mandi yang berada di sebelah kanan meja bacanya. Tanpa banyak basa-basi, Sae-ryun langsung bergerak ke lantai bawah sambil membawa tas tangannya setelah selesai mandi dan rapi-rapi.

“Agashi…”

Sae-ryun melihat seorang pelayan dengan seragamnya menghampirinya. “Mworago?” tanya Sae-ryun, dengan nada tidak sabaran.

“Agashi… apakah anda tidak sarapan dulu? Kami telah menyiapkan roti bakar…”

Sae-ryun tidak dapat lagi mendengar perkataan pelayan itu dengan jelas. Hatinya sudah gelisah. Ia takut terlambat.

Sae-ryun melihat jam tangan yang melingkar manis di lengannya. Sudah pukul 9.50 pagi. Itu artinya, Sae-ryun hanya punya waktu 10 menit untuk tiba disana.

“Ah… mianhata, Pelayan Han. Aku sudah sangat terburu-buru. Aku memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang pada pukul 10 dan itu artinya aku tidak sempat lagi untuk sarapan ataupun mencicipi resep barumu. Mianhata…” kata Sae-ryun, menghentikan perkataan Pelayan Han yang hanya bisa termangu melihat kepergian Sae-ryun yang sangat… sangat… tergesa-gesa itu.

“Huh… ya sudah kalau begitu. Mungkin aku akan meminta orang lain untuk mencicipinya…” kata Pelayan Han, kemudian melangkah pergi.

Langkah Pelayan Han kembali terhenti. Kini, tuan mudanya sudah ada didepannya dan menghalanginya untuk mencari orang guna mencicipi resep terbarunya yang sudah mengalami proses percobaan selama berminggu-minggu itu.

“Ah… annyong haseyo, doryonim…” sapa Pelayan Han, sambil membungkukkan badannya.

“Annyong… hm… Pelayan Han, apakah Sae-ryun sudah bangun?” tanya Jeong-wo, langsung ke pokok pertanyaan.

“Sudah, doryonim. Tetapi, baru saja Sae-ryun agashi pergi keluar. Sepertinya Sae-ryun agashi terlambat untuk bertemu dengan seseorang karena ia terlihat sangat terburu-buru sekali tadi…” jawab Pelayan Han.

Jeong-wo kaget ketika mendengar penuturan dari Pelayan Han. Sae-ryun pergi keluar? Karena punya janji? Memangnya Sae-ryun berjanji dengan siapa? Bukankah dengan dirinya? Bukankah kemarin… ia telah membuat janji dengan Sae-ryun untuk pergi hari ini?

“Jika tidak ada lagi yang doryonim butuhkan, saya permisi pergi, doryonim…” kata Pelayan Han, kemudian berjalan meninggalkan Jeong-wo yang masih diam berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun.

   

Jin-ho kembali melihat ke arah pintu masuk café yang kini sedang dikunjunginya. Ia melihat jam di tangannya dengan seksama. Pukul 10.15. Ia kemudian mendesah. Benar-benar terlambat!

Jin-ho akhirnya pasrah. Ia kembali melanjutkan kegiatan membacanya, meskipun masih dengan setengah hati. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya kepada secangkir cappuccino yang tadi dipesannya. Diseruputnya minuman itu, dan terasa di lidahnya bahwa cappuccino itu telah dingin. Menandakan betapa lamanya Jin-ho sudah duduk di café itu untuk menunggu seseorang yang menurutnya benar-benar sangat ngaret!!!

Klining… klining…

Pintu masuk café terbuka. Dari tempat duduknya, Jin-ho dapat melihat seorang gadis dengan kemeja pink dan celana jins masuk ke dalam. Jin-ho lalu berdiri, agar gadis itu dapat melihatnya dan tidak perlu bingung mencari-carinya. Gadis itu pun dapat melihat Jin-ho dan segera berjalan menghampirinya.

“Jwesonghamnida, Song Jin-ho ssi… tadi pagi aku terlambat bangun, makanya baru bisa pergi menemuimu pukul 9. 50 tadi… Sekali lagi, maafkan atas keterlambatanku ini ya, Jin-ho ssi…” jelas gadis itu panjang lebar, setelah membungkukkan badannya tanda salam.

Jin-ho membalas salam gadis tadi dengan membungkuk juga. Dengan emosi yang ditahan-tahan, ia berkata, “tidak apa-apa, Jin Sae-ryun ssi… aku mengerti alasan keterlambatanmu tadi. Dan menurutku, itu tidak perlu kita bahas lagi…”

Jin-ho lalu mempersilahkan Sae-ryun untuk duduk. Sae-ryun mengangguk dan ikut duduk setelah Jin-ho duduk di depannya.

“Ini bungamu. Aku harap, bunga itu masih sama ketika kau membawanya kemarin…” kata Jin-ho. Ia kemudian memberi Sae-ryun sebuah kantung yang cukup besar dan berat itu.

Sae-ryun melihat ke dalam isi kantung besar itu. Ia kemudian mengangguk, “ne… ini sama dengan punyaku kemarin. Malah menurutku, ini lebih bagus dan terawat daripada kemarin.”

 “Baiklah kalau begitu, berarti urusan kita sudah selesai. Aku permisi pergi dulu. Semoga harimu menyenangkan…” kata Jin-ho, kemudian berdiri dan membungkukkan badannya tanda perpisahan.

“Ah… ne… aku senang karena bisa bertemu denganmu lagi, Song Jin-ho ssi. Dan aku harap, kita dapat bertemu lagi di kemudian hari. Berhati-hatilah di jalan…” balas Sae-ryun dengan senyum manis di bibirnya.  Ia kemudian membungkuk kepada Jin-ho bersamaan dengan bungkukan Jin-ho juga padanya.

Jin-ho keluar dari Cold Café dengan cepat. Baru beberapa langkah keluar dari café, Jin-ho menghentikan langkahnya. Dilihatnya Sae-ryun yang sedang duduk di tempat mereka bertemu tadi dengan tajam. “Maaf Sae-ryun ssi… tetapi, aku sudah lelah jika harus bertemu denganmu lagi…” gumam Jin-ho, kemudian kembali berjalan keluar dari halaman café itu.



Setelah memesan segelas Mocca dingin, Sae-ryun melihat ke luar jendela Cold Café itu. Dari jendela itu, Sae-ryun dapat melihat langkah kaki Jin-ho yang menuju ke luar halaman café tempat mereka bertemu. Sae-ryun menghembuskan napas panjang. “Mianhata Jin-ho ssi… sebenarnya, aku malas jika harus bertemu denganmu lagi… Tolong maafkan aku ya, Jin-hos, karena telah berbohong tadi…” kata Sae-ryun pelan, sambil terus melihat ke arah punggung Jin-ho yang semakin menjauh dari pandangannya.   



Sae-ryun membawa kantung besar itu dengan riang. Di sepanjang perjalanan, ia bernyanyi dan tersenyum dengan perasaan lega. Sesekali, ia melihat ke arah Bunga Tulip yang muncul di antara kantung besar itu. Ia tersenyum. Ternyata, bunga Tulipnya indah sekali!

“Cepat bawa semua bunga-bunga itu keluar, Pelayan Han!”

Sae-ryun langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar teriakan yang berasal dari dalam rumah mewah dan besar “Song Mansion” yang akan dimasukinya itu. Dari tempatnya berdiri, Sae-ryun dapat melihat dua orang laki-laki yang sedang berdiri dengan pakaian seragam tempat mereka bekerja. Di samping kedua laki-laki itu, terparkirlah sebuah mobil Pick Up berwarna hitam polos.

Sae-ryun tetap dalam posisinya, tanpa berniat sedikit pun untuk menghampiri kedua laki-laki disana untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia akhirnya berjalan ke samping dan melihat apa yang terjadi di pekarangan rumah mewah itu dari balik batang pohon besar yang dapat menyamarkan tubuhnya dari pandangan orang yang ada di luar rumah.

“Siapa yang menyuruh kalian untuk membawa bunga-bunga itu kemari?” tanya Joo-young, dengan emosi yang meluap-luap.

Kedua laki-laki itu menunduk. “Maaf, Nyonya, tetapi kami diminta oleh Tuan Song Yook-jae untuk mengantarkan bunga-bunga itu ke rumah ini. Kami hanya melaksanakan tugas, Nyonya, bukan berniat untuk mengganggu anda…” jawab salah seorang di antara kedua laki-laki itu.

“Begitukah? Mengapa suamiku tidak mengatakan hal ini padaku dulu?” tanya Joo-young, pada dirinya sendiri.

“Kami tidak tahu, Nyonya. Kami datang kemari hanya untuk mengantarkan bunga-bunga ini menurut permintaan Tuan Song. Jadi kami harap, Nyonya dapat menerima bunga ini dan mungkin nanti dapat menanyakan perihal bunga ini kepada Tuan Song sendiri nanti…”

Joo-young mengerutkan dadanya. Hatinya benar-benar sesak oleh kemarahan-kemarahan akibat datangnya bermacam-macam bunga itu kepadanya, benda yang kurang disukainya itu. “Sudahlah… masukkan ini semua ke dalam kembali, Pelayan Han! Seharusnya ia tidak perlu lagi mengisi rumah dengan bunga-bunga yang sudah bertebaran dimana-mana itu! Aku saja sudah muak melihatnya…” maki Joo-young, sambil berjalan masuk ke dalam rumah dengan tangan yang memijit-mijit kepala. Mungkin kepalanya juga ikut pusing karena tidak berhasil menyingkirkan bunga-bunga itu dari rumah besarnya.

Sae-ryun mengubah posisi badannya, dari yang menghadap ke rumah, kini menghadap ke jalan yang ada di depannya. Ia melihat bunga Tulip yang sedang dibawanya itu dengan sayang. Ia mendesah panjang.

Apakah yang dilihatnya itu benar? Sejak kapan Bibi Joo-young tidak menyukai bunga? Jika memang pada kenyataannya Bibi Joo-young tidak menyukai bunga, untuk apa ia berbohong padanya dulu? Dan apakah ia akan tetap memberikan bunga Tulip yang tidak berdosa itu kepada calon mertuanya?



Jin-ho kembali menenteng sebuah kantung besar di tangannya. Kini isinya bukan sepot bunga lagi, tetapi seperangkat makan siang. Rencananya, sesuai dengan permintaan ibunya tadi pagi, Jin-ho akan pergi mengunjungi ibunya di Song Hye School, sekolah menengah atas di dekat kawasan Gunung Namsan yang didirikan oleh ibunya sendiri.

Jin-ho selalu merasa kagum terhadap ibunya  itu. Selain pengabdian dan ketulusannya dalam memajukan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu khususnya, ibunya itu juga selalu mengajarkan padanya untuk memiliki rasa sabar dan sikap yang tulus. Dan tidak cuma itu,  Jin-ho juga belum pernah melihat ibunya menangis apalagi menyesali keadaan yang sedang terjadi pada dirinya. Dan semua itu sangat berguna untuk Jin-ho hingga saat ini, di saat ia harus merasa ikhlas terhadap apa yang telah terjadi pada dirinya…  

Jin-ho mencari-cari ibunya di sekitar ruang kepala sekolah. Ya, pemilik sekaligus kepala sekolah. Ibunya ini tidak ingin menyerahkan tampuk kepemimpinan sekolah kesayangannya itu kepada orang lain, jika ia tidak benar-benar berhalangan, seperti ketika ia masuk ke rumah sakit kemarin. Alasannya sih karena ia ingin terus memperhatikan siswa/i di sekolahnya karena remaja-remaja di usia rawan seperti ini harus banyak mendapat perhatian. Katanya, ketika ia bersama dengan anak-anak muridnya itu, ia selalu merasa ceria. Oleh karena itu, ia selalu menyuruh Jin-ho untuk menikmati hidup ini apa adanya dan bersyukur atas apa yang telah diperoleh meskipun di saat yang sulit sekalipun.

 “Jin-ho ya…”

Jin-ho melihat ke belakang. Ia melihat ibunya itu sedang melambaikan tangan kepadanya agar ia berjalan kesana.

Jin-ho berlari dan menghampiri ibunya. “Eomma, ayo kita makan!” ajak Jin-ho, sambil menunjukkan kantung yang dibawanya.

“Ayo…”

Ibu Jin-ho lalu mengajak Jin-ho untuk makan di bukit belakang sekolah. Bukit itu menghadap langsung ke arah perkotaan Seoul. Angin yang semilir tiba-tiba bertiup ke arah Jin-ho dan ibunya yang membuat suasana disana menjadi sejuk untuk memulai makan siang.

“Eomma pikir kau lupa dengan janjimu tadi, Jin-ho…” kata Ibu Jin-ho, memulai perbincangan mereka di tengah makan siang.

Jin-ho memasukkan seiris selada ke mulutnya. “Tentu saja tidak, eomma. Eomma saja sudah mengirim pesan kepadaku sampai berkali-kali seperti itu, bagaimana aku bisa lupa,” jawab Jin-ho, asyik mengutak-atik makanan di mangkuknya.

“Ne… dan untungnya saja pesanku sampai, jika tidak… mungkin kau juga akan malas untuk datang…” timpal Ibu Jin-ho, sambil memberikan saus asam manis ke udang goreng yang akan dimakannya dan membaginya dengan Jin-ho.

“Tidak eomma ingatkan pun aku akan tetap datang, eomma…” kata Jin-ho, sambil memakan udang yang diletakkan ibunya ke dalam mangkuknya.

Ibu Jin-ho melihat Jin-ho yang sedang menuangkan jus jeruk dari botol kemasan ke gelasnya sendiri. Ia kemudian menghampiri Jin-ho dan memeluknya dari samping, “eomma tahu. Dan itu sudah pasti ada di dalam pikiran seorang Song Jin-ho…”

Jin-ho terdiam, ketika ibunya memeluknya dengan hangat. Ia kemudian tersenyum. Dielusnya lengan ibunya yang melingkar di lehernya dan berkata, “terima kasih, eomma…”

Ibu Jin-ho ikut tersenyum, setelah mendengar tiga kata yang diucapkan Jin-ho dengan tulus. Ia lalu melepaskan pelukannya dan kembali duduk di tempatnya semula, di depan Jin-ho.

“Besok ayahmu mengundang kita untuk makan malam di rumahnya. Katanya, ayahmu ingin kita ikut serta dalam merencanakan pesta pertunangan Jeong-wo dengan pacarnya. Kau mau kita hadir besok malam, Jin-ho?” tanya Ibu Jin-ho, memulai topik baru yang membuat Jin-ho menghentikan kegiatan makannya.

“Seperti kemarin, jika eomma datang… aku juga akan datang...” jawab Jin-ho, melihat ke arah ibunya.

“Ibu senang kau mau datang besok. Kita sama-sama berjuang, ya...” kata Ibu Jin-ho, melanjutkan makannya seperti Jin-ho.

Siang itu amat terik. Tetapi tidak begitu terik ketika kita bersama dengan orang yang kita sayangi. Dan itulah yang Jin-ho rasakan saat ini…



“Silahkan duduk, Doryonim…”

Jin-ho menerima tawaran dari salah seorang pelayan di “Song Mansion” dengan senyum. Ia kemudian duduk disana, di samping tempat duduk ibunya dengan tenang. Dilihatnya jam di tangan kirinya. Sudah pukul 7, tetapi ayahnya belum juga tiba.

Sang pelayan yang tadi menawari Jin-ho untuk duduk, dapat melihat kegelisahan Jin-ho. “Tuan Besar dan Nyonya Besar Joo-young serta Jeong-wo Doryonim sedang menjemput Tuan dan Nyonya Jin serta Sae-ryun Agashi di Park Hyatt Seoul Hotel. Oleh karena itu, dimohon kepada Nyonya Besar Eun-hye dan Jin-ho Doryonim agar sabar menunggu hingga Tuan Besar datang…” jelas Pelayan Jang, kepala pelayan di “Song Mansion”.

Jin-ho mengangguk. “Hm… begitu ya…” katanya, menanggapi penjelasan Pelayan Jang.

Jin-ho kemudian berjalan melihat-lihat benda-benda unik yang ada di ruang makan itu. Sementara itu, Eun-hye masih bertanya kepada Pelayan Jang mengenai calon tunangan Jeong-wo. Kata Pelayan Jang, Sae-ryun, calon tunangan Jeong-wo, sudah tiba di Seoul sekitar 4 hari yang lalu. Dan selama Tuan dan Nyonya Jin masih berada di Belanda, Sae-ryun tinggal di “Song Mansion” atas saran dari Joo-young, ibu Jeong-wo. Namun, ketika orang tuanya sudah menyusulnya ke Korea, Sae-ryun dan kedua orang tuanya tinggal di Park Hyatt Seoul Hotel.

Jin-ho yang sedari tadi sedang asyik sendiri dengan kegiatannya melihat-lihat, segera menghampiri ibunya saat ia sudah mulai bosan. “Eomma… bagaimana kalau kita pergi ke perpustakaan sambil menunggu ayah tiba? Aku sudah lama sekali tidak membaca novel luar. Lagipula, eomma tentunya juga ingin melihat bunga sakura yang tumbuh di taman kecil di dalam perpustakaan, kan?” ajak Jin-ho, membujuk ibunya dengan manja.

Eun-hye melihat Jin-ho. “Hm… apakah kau benar-benar ingin kesana? Baiklah, ayo pergi!” jawab Eun-hye, menerima tawaran Jin-ho.

Setelah menitip pesan kepada Pelayan Jang agar memberitahu mereka jika Yook-jae tiba, Jin-ho dan ibunya berjalan ke perpustakaan. Setelah melewati beberapa lorong dan sebuah tangga untuk menuju ke lantai dua, mereka pun tiba di depan pintu perpustakaan.

Jin-ho membuka pintu perpustakaan pribadi di rumah ayahnya itu. Ruangan perpustakaan itu sungguh besar. Dindingnya berwarna coklat yang berpadu dengan krem dengan beberapa buah rak buku antik tua yang menjulang tinggi. Di dalam ruangan itu juga tersedia dua buah sofa panjang, lima buah meja baca dengan lampu kecil di dalamnya lengkap dengan kursi nyaman dan bantal, serta beberapa buah komputer lengkap dengan perangkatnya jika sang pemilik rumah ingin mengerjakan sesuatu dengan komputer.

Jin-ho berjalan ke sebuah rak besar di ujung perpustakaan. Sementara itu, Eun-hye berjalan mendekati sebuah taman kecil yang manis dan rimbun berisi bunga sakura serta tanaman dan pohon-pohon kecil yang melengkapinya. Taman kecil itu terletak di tepi sebuah kaca besar yang menyuguhkan sebuah pemandangan indah di halaman samping kanan “Song Mansion”.



Jin-ho memperhatikan buku yang tersusun rapi di baris “K” dengan teliti. Sesekali Jin-ho mengambil sebuah buku yang dianggapnya menarik kemudian dikembalikannya lagi setelah melihat sekilas isi dari buku itu.

Beberapa menit kemudian, jari telunjuk Jin-ho menunjuk sebuah buku yang cukup tebal di antara dua buku yang sangat tebal lain yang membahas tentang arsitektur bangunan. Jin-ho kemudian mengambil buku itu. Sebuah buku novel luar yang selama ini ia cari. Korean Rose.

Jin-ho lalu mengambil tempat untuk membaca di sebuah meja baca di dekat rak buku “K” tersebut. Sesaat kemudian, Jin-ho tenggelam di dalam kegiatan membacanya. Sampai-sampai ia lupa apa tujuannya ia datang ke “Song Mansion”.



Tok… tok… tok…

Pintu besar perpustakaan terbuka. Seorang gadis cantik dan putih dengan pakaian khusus pelayan “Song Mansion” masuk ke ruangan. Ia berjalan ke arah sebuah meja bulat di tengah-tengah perpustakaan dengan membawa sebuah nampan yang berisi dua cangkir teh, sepiring brownies coklat dan sepiring kue sus yang menggugah selera.

Setelah ia meletakkan semua minuman dan makanan yang dibawanya tadi, ia berjalan menghampiri Jin-ho yang sedang berkonsentrasi pada bukunya.

“Doryonim, teh dan makanan kecil saya letakkan di meja bulat disana. Silahkan dinikmati, Doryonim…” kata pelayan itu, dengan sopan.

Jin-ho mengangguk, kini sambil melihat pelayan yang ada di depannya setelah menutup bukunya. “Ya… aku dan ibu akan memakannya nanti. Gamsahamnida…”

Pelayan itu kemudian berjalan meninggalkan Jin-ho yang kembali membuka bukunya. Namun, baru beberapa langkah berjalan, pelayan itu berhenti. “Apakah itu Korean Rose, Doryonim?” tanyanya, sambil kembali melihat Jin-ho.

Jin-ho mengalihkan pandangannya dari buku ke pelayan itu. Ia mengangguk, mengiyakan. “Ne… darimana kau tahu?” tanya Jin-ho.

Pelayan itu mengubah arah jalannya, kembali menghampiri Jin-ho. “Itu adalah novel luar favorit saya, Doryonim. Apakah Doryonim juga menyukainya?”

“Tentu saja. Novel sebagus ini tidak mungkin aku lewatkan begitu saja. Meskipun aku sudah pernah membaca ini sebelumnya, tetapi aku tidak pernah bosan untuk mengulanginya lagi. Apakah kau juga seperti itu?” tanya Jin-ho, antusias.

Pelayan itu kini gantian mengangguk. “Ne, Doryonim. Ini adalah salah satu novel yang bisa membuat saya tertawa dan menangis. Sebuah kisah cinta di antara dua orang yang berasal dari beda negara dan kebudayaan…”

“Ya… Rose berasal dari Australia, sementara Kemal berasal dari Turki…” sambung Jin-ho, dengan senyum di bibirnya.

“Mereka berdua bertemu di Korea Selatan dan saling mencintai di antara semua perbedaan itu. Cinta mereka bertemu di tengah perang yang sedang berkecamuk dan di tengah jarak yang jauh yang bisa saja memisahkan mereka berdua…” kata pelayan itu, melanjutkan perkataan Jin-ho.

“Sebuah kisah tentang cinta. Cinta yang menurutku tidak akan pernah lekang oleh waktu…”

“Ne, Doryonim benar. Cinta yang tidak akan pernah hilang meskipun tidak berada di tempat yang sama…”

Beberapa saat kemudian, Jin-ho dan pelayan yang diketahui namanya Na Hye-na itu berbincang dengan riang di perpustakaan. Kadang mereka tertawa. Tetapi, beberapa detik kemudian, mereka kembali serius. Sementara itu, Eun-hye hanya bisa melihat anaknya yang merasa senang itu dengan tersenyum.



“Baiklah Doryonim, saya permisi pergi. Saya merasa sangat senang karena bisa berbincang-bincang dengan Doryonim hari ini…” pamit Hye-na, setelah berdiri dari kursi tempatnya duduk di sebelah Jin-ho.

“Ne… aku juga senang karena bisa bercerita denganmu. Lain kali, mungkin kita bisa bertemu dan kembali mengobrol…” kata Jin-ho, dengan senyum.

Hye-na kemudian keluar dari perpustakaan. Jin-ho melihat kepergian gadis itu dengan tersenyum. Setelah sosok Hye-na menghilang dari pintu, Jin-ho berjalan ke meja bulat untuk minum.

“Eomma… jangan bunyikan lagu itu! Aku bisa-bisa tidur sekarang jika terus mendengar lagu itu…” teriak Jin-ho, ketika mendengar sebuah instrument piano slow yang disetel ibunya di piringan hitam.

Eun-hye mengalihkan pandangannya dari piringan hitam ke Jin-ho. “Sudahlah, biarkan ibu senang sekali saja! Ibu sudah lama tidak mendengarkan lagu ini. Ibu rindu. Jadi, kau sebagai anak yang berbakti harus ikhlas untuk melihat ibumu senang, ok?” kata Eun-hye, sambil mengacungkan jempolnya kepada Jin-ho.

“Huh… Ne, eomma… tetapi aku tidak tanggung jawab ya jika aku ketiduran…” jawab Jin-ho, akhirnya menyerah dan kembali ke meja bacanya.



Eun-hye mengambil jarum pemutar piringan hitam dari piringan hitam agar lagu yang dibunyikannya berhenti. Eun-hye kemudian melihat Jin-ho yang tertidur pulas di atas meja dengan tangan yang menjadi bantalnya.

Eun-hye berjalan mendekati Jin-ho setelah mengambil sebuah bantal dari sofa panjang di dekatnya. Diletakkannya bantal itu di bawah kepala Jin-ho untuk mengganti tangannya. Dilihatnya Jin-ho dengan penuh kasih sayang. Dibelainya rambut anak kebanggaannya itu dengan lembut, kemudian dikecupnya kening Jin-ho. Ia berharap, Jin-ho dapat mendapatkan kebahagiannya setelah menerima hal-hal yang menurutnya tidak adil…



“Biar aku yang memanggil mereka…” kata Yook-jae, kepada Pelayan Jang.

Kaki panjang Yook-jae melangkah melewati banyak pintu di sekelilingnya. Setelah sekian lama berjalan, Yook-jae pun tiba di sebuah ruangan dengan pintu besar yang menutupnya. Dengan pelan, Yook-jae membuka pintu besar itu. Ketika ia berniat untuk masuk, langkahnya terhenti seketika saat ia melihat pemandangan yang mengharukan di dalam sana. Eun-hye, istri pertamanya, mencium kening Jin-ho, anak keduanya, dengan penuh kasih sayang.

Yook-jae melihat pemandangan itu dengan seksama. Badannya kemudian berbalik, membelakangi pintu perpustakaan. Ia menghembuskan napas panjang dengan berat. Tangannya menutup wajahnya yang tampan dan berwibawa itu.

“Tuan Besar…” panggil Pelayan Jang.

Pelayan Jang berjalan mendekati Yook-jae yang sudah berdiri dengan tegak sekarang. Yook-jae lalu melepas tangannya dari mukanya dan membetulkan jas hitamnya yang elegant. “Sudahlah, makan malamnya kita tunda saja. Kelihatannya mereka berdua sangat lelah karena menungguku terlalu lama…” kata Yook-jae, sebelum Pelayan Jang bertanya.

“Baik, Tuan Besar…”

“Aku akan menemui Jin Su-hoon…” kata Yook-jae, berjalan meninggalkan Pelayan Jang. Namun, tiba-tiba saja langkah Yook-jae terhenti.

“Dan jangan lupa untuk membersihkan kamar Eun-hye dan Jin-ho. Suruh mereka tinggal disini malam ini…” pesan Yook-jae, lalu kembali melanjutkan perjalanannya.

Pelayan Jang membungkuk sambil menjawab, “baik, Tuan Besar.”

 

“Hoahm…”

Jin-ho menguap lebar. Matanya masih belum terbuka sepenuhnya. Sinar silau dari matahari yang menerobos kaca besar di depannya membuat ia terpaksa bangun.

Ketika pikirannya sudah mulai sadar, Jin-ho melihat ke sekelilingnya. Ia masih berada di meja baca perpustakaan dengan selimut di tubuhnya dan bantal di atas meja yang digunakannya untuk tidur.

Jin-ho kemudian berjalan ke arah dispenser yang ada di pojok sebelah rak buku baris “A” untuk mengambil air putih.  Selesai minum, Jin-ho menghampiri salah satu sofa panjang yang berada di dekat meja bacanya tadi. Ibunya tertidur disana, tanpa selimut.

Jin-ho menyelimuti ibunya dengan lembut. Ia kemudian keluar dari perpustakaan dan menuruni tangga untuk ke lantai satu. Beberapa menit kemudian, Jin-ho tiba di dapur, tempat yang ingin ditujunya.

Jin-ho memanaskan air dan mengolesi roti tawar dengan mentega. Setelah itu, ia memberi empat sendok makan susu cokelat ke dalam dua gelas kaca. Kemudian, ia memasukkan roti-roti yang telah diolesi mentega ke dalam tooster. Setelah air yang dipanaskannya tadi panas, ia memasukkan air itu ke dalam gelas dan mengaduknya.

Saat Jin-ho sedang menunggu rotinya terbakar dengan baik, tiba-tiba saja ia mendengar seseorang berteriak…



“Selamat pagi, agashi…”

“Selamat pagi…”

Sae-ryun berjalan dengan riang di halaman depan “Song Mansion”. Kemarin, ia dan orang tuanya bermalam disini. Rencananya, kemarin malam keluarganya dan keluarga Jeong-wo akan makan malam bersama di “Song Mansion”, kediaman keluarga Song. Tetapi, karena gaun pesanan ibunya terlambat untuk diantar ditambah lagi jalanan yang macet karena adanya kecelakaan beruntun yang membuat acara makan malam itu batal. Selain karena sudah lelah setelah perjalanan yang panjang, juga karena adiknya Jeong-wo yang baru pulang dari Indonesia itu sudah tidur ketika keluarga Sae-ryun datang. Sae-ryun sebenarnya kecewa karena makan malam yang dinantikannya itu tidak jadi. Tetapi apa boleh buat, tidak mungkin Sae-ryun tetap memaksakan kehendaknya kepada keluarga Jeong-wo, kan?

Meskipun tidak jadi makan malam, Sae-ryun tetap senang. Kenapa? Karena Jeong-wo. Kemarin Jeong-wo memberikan sebuah kalung padanya. Kalung emas putih dengan motif love. Kalung berwarna pink, warna kesukaan Sae-ryun, yang kini menjadi kalung kesayangan Sae-ryun.

Sae-ryun masuk ke dalam rumah dan berjalan ke dapur. Rencananya hari ini ia akan menyiapkan sarapan dibantu oleh Pelayan Han untuk Jeong-wo dan adiknya.

“Pelayan Han…” panggil Sae-ryun, dari jauh.

“Maaf, Pelayan Han sedang pergi belanja ke…”

Sae-ryun melihat orang yang ada di hadapannya dengan kaget, “Jin-ho ssi…”

Sementara itu, Jin-ho juga melihat Sae-ryun dengan perasaan kaget yang luar biasa.

The end…



tolong partisipasinya ya....
semoga menghibur....  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

 [flowers] [flowers] [flowers]
« Last Edit: August 21, 2010, 04:52:19 am by mrs. Lee Min Ho »

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #22 on: August 21, 2010, 03:45:17 am »
heethi, piku2nya ga muncul tuh [what] [what] apa belum diupload ya? gw coba buka linknya jg ga bisa [heh] [heh] apa perlu gw editin piku2nya? cara elu udah bener, cuma linknya kali yg bermasalah [biggrin]

edit ---

thanks ya udah diupdate. sptnya hubungan keluarga jinho dgn keluarga appanya masih baik ya? ibunya manis banget [hmpfh] .. kaget tuh si saeryun wkt ketemu jinho lagi. apalagi di rumah yg sama. si hyena tuh enak banget ya? pembantu aja diajak berbincang2 seru ama jinho,, gw jd mikir wkt di chp 1 kok sikap jinho menyebalkan banget ke saeryun. pdhl menurut gw sifatnya ga spt itu.  [sweat]
« Last Edit: August 21, 2010, 04:11:24 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #23 on: August 21, 2010, 04:09:00 am »
heethi, piku2nya ga muncul tuh [what] [what] apa belum diupload ya? gw coba buka linknya jg ga bisa [heh] [heh] apa perlu gw editin piku2nya? cara elu udah bener, cuma linknya kali yg bermasalah [biggrin]

iya kak, aku ga ngerti gimana cara masukin fotonya...  [heh] [heh] [heh]
tolong dibantu ya....  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

 [flowers] [flowers] [flowers]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #24 on: August 21, 2010, 04:59:41 am »
heethi, lee yoon hee-nya bener lee yoon hee di piku itu ga [what]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: The Secret Flower
« Reply #25 on: August 21, 2010, 05:14:59 am »
Hai Heethi. . . [bye] 
makaci uda d update [lovestruck] 
 
wuah, keren nie keluarga. jin ho ama appa nya masih akur bnget. . . Tp emma nya jin ho koQ bilang klo jin ho tuh kasihan krna ke'adaan yg gk adil. . . 
Mang yg gk adil th apa ya sist?? *gk mudeng aQ*

wah, sama" gk ma0 ketemu e, tau" nya malah ade ipar ama kk ipar. . . Gimana nie reaksi mreka br-2. . .

Lanjutkan sist!!! 
Cayo!! [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #26 on: August 21, 2010, 07:04:17 am »
wah sist heethi, makasyong udah diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
next chap jgn lama2 yaaa.. [biggrin]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Tir_@

  • Newbie
  • *
  • Posts: 84
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #27 on: August 22, 2010, 01:12:34 am »
Hi heethi salam kenal Y...
Enak bener ntuh pelayan d ajak ngobrol ama jin ho *sadar donkz*
Ckckckc emang jodoh y mereka bedua padahal uda bersumpah nggak mau ketemu... Oc sist d tunggu next chaptnya :D

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower update chap 2
« Reply #28 on: August 22, 2010, 03:51:28 am »







Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #29 on: August 23, 2010, 12:28:45 am »
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] thanks heethi udah diupdate [jumpy] [jumpy] [jumpy]

 [ohmy] [ohmy] [ohmy] aku jg mau kalo jd pembokatnya jinho whistling enak bener bs ngobrol bebas begono yak [smiley-dance013], istri kedua appanya jinho tu jahat ga siy akur nda sm istri pertama [chin] [chin] [chin]

jinho ketemu lg sm saeryun kaget pastinya [biggrin] kok bs ketemu lg tp seru siy apalagi kalo jinho tau saeryun tu calon istri ddnya punk punk punk


ADAM COUPLE SELCA