Author Topic: The Secret Flower  (Read 5342 times)

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #30 on: August 26, 2010, 12:39:37 am »
ayo sist, lanjutkaaaaaaaaaaan !

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Tir_@

  • Newbie
  • *
  • Posts: 84
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #31 on: August 26, 2010, 01:44:04 am »
ayo sist, lanjutkaaaaaaaaaaan !
BETUL... BETUL... BETUL... :D

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #32 on: August 26, 2010, 10:08:59 pm »
UP DATE!!!! UP DATE!!!! [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Tir_@

  • Newbie
  • *
  • Posts: 84
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #33 on: August 26, 2010, 11:33:29 pm »
Cuma 1 sist UPDATEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE
Pengen tau sist diantara mereka siapa yang duluan jatuh cinta sist :D ayo d update penasaran nih *HWAITING*

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #34 on: August 27, 2010, 12:32:28 am »
udah di updet ternyata chap 2 nya... makasih banyak sist... [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]ketinggalan sist  [hmff] [hmff]

Mata Sae-ryun masih belum terbuka sepenuhnya. Tetapi, mata itu dapat menangkap dengan jelas suatu pemandangan yang terjadi di luar. Pemandangan yang membuat Sae-ryun galau sekaligus senang.

Sae-ryun lalu sibuk memperhatikan apa yang terjadi di luar. Pikirannya penuh dengan bermacam-macam prasangka dan kesimpulan yang diambilnya sendiri, tanpa berniat untuk berpindah dari tempatnya berdiri sekarang dan bertanya kepada kedua orang disana tentang apa yang sedang mereka lakukan di taman.


penasaran... siapa sih yang dilihat sae ryun...? kok bisa galau sekaligus senang...

ternyata salah tebak juga... beneran ya mereka tunangan... ternyata cuma di cepetin aja ya sist.. [hmff] [hmff]

akhirnya jin ho ma sae ryun ketemu lagi... tapi tuh si pembantu na hye na bakal jadi penghalang mereka nih kayaknya... [goodgrief] [goodgrief]

Offline tisa

  • Newbie
  • *
  • Posts: 60
  • minsun always in my heart :)
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #35 on: August 27, 2010, 02:04:28 am »
haai sist,, aku newbie disini... [bye]
slaam knal yuaaa [biggrin]
oya,, sist heethi...
lanjutin dong..
udah penasaran banget nich  [biggrin]

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #36 on: August 28, 2010, 12:54:30 am »
wah sist heethi kemana nih ? [what] [what]
kok gg nongol2 ? [what] [what]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #37 on: August 30, 2010, 09:07:13 pm »
wah sist heethi kemana nih ? [what] [what]
kok gg nongol2 ? [what] [what]

iya kak, maaf ya...
berhubung saya masih pelajar, makanya saya gak bisa sering nongol disini...  [heh] [heh] [heh]
mohon maklum, ya... [sweat] [sweat] [sweat]

 [flowers] [flowers] [flowers]

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #38 on: August 30, 2010, 09:13:24 pm »
jadi kapan neh diupdate??? [chin]

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #39 on: August 30, 2010, 09:17:16 pm »
heethi, piku2nya ga muncul tuh [what] [what] apa belum diupload ya? gw coba buka linknya jg ga bisa [heh] [heh] apa perlu gw editin piku2nya? cara elu udah bener, cuma linknya kali yg bermasalah [biggrin]

edit ---

thanks ya udah diupdate. sptnya hubungan keluarga jinho dgn keluarga appanya masih baik ya? ibunya manis banget [hmpfh] .. kaget tuh si saeryun wkt ketemu jinho lagi. apalagi di rumah yg sama. si hyena tuh enak banget ya? pembantu aja diajak berbincang2 seru ama jinho,, gw jd mikir wkt di chp 1 kok sikap jinho menyebalkan banget ke saeryun. pdhl menurut gw sifatnya ga spt itu.  [sweat]

Thanks ya kak atas bantuannya...  [hug] [hug]
sorry telah ngucapinnya....
terus masalah gimana sikap Jin-ho ke Sae-ryun akan mulai kelihatan kok di chap 3 ini.... (semoga aja bisa kelihatan ya, soalnya aku bingung banget cara buatnya gimana...)  [heh] [heh] [heh]
Sekali lagi thanks ya kak....  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #40 on: August 30, 2010, 09:39:21 pm »
Cast :

Lee Min-ho as Song Jin-ho
Gu Hye-seon as Jin Sae-ryun
Choi Si-won as Song Jeong-wo
Lee Yoon-hee as Na Hye-na


Chapter 3

   “Jin-ho ssi…”

   Sae-ryun menatap pemuda di hadapannya dengan kaget. “Bagaimana bisa kau ada disini?” tanya Sae-ryun, masih dengan nada tidak percaya akan sosok Jin-ho yang ada di depannya.

   “Ini rumahku. Kau sendiri ada urusan apa disini, Sae-ryun ssi?” tanya Jin-ho.

   “Ini… rumah calon tunanganku…” jawab Sae-ryun, dengan polos.

   Jin-ho berpikir sebentar. “Jadi… kau calon tunangannya Jeong-wo?” tanya Jin-ho, memastikan.

   “Jadi, Jin Sae-ryun yang dimaksud itu benar-benar kau? Bukan orang lain?” tanya Jin-ho lagi.

   “Ne… aku adalah calon tunangan Jeong-wo oppa. Dan kau… Song Jin-ho yang dimaksud Jeong-wo oppa adalah kau? Kau adalah adiknya? Aku pikir… Song Jin-ho, putra kedua dari “Song Architecture Construction” adalah orang lain, bukan kau …” kata Sae-ryun, sambil menunjuk Jin-ho.

   Jin-ho dan Sae-ryun kemudian terdiam bersama setelah mengeluarkan isi pikiran mereka masing-masing. Beberapa saat kemudian, mereka lalu tertawa bersama, ketika membayangkan kesalah pahaman yang terjadi pada pikiran mereka masing-masing.


   “Ha… ha… ha… aku tidak mengira jika Jin Sae-ryun yang dimaksud Jeong-wo adalah kau. Kupikir siapa…” kata Jin-ho, masih dengan senyum di bibirnya yang sedikit terpaksa.

   Sae-ryun mengambil giliran, “aku juga, kupikir… Song Jin-ho itu orangnya seperti apa, ternyata Song Jin-ho yang dimaksud itu kau…”

   “Begitu banyak nama dan marga yang sama di Korea Selatan ini… seharusnya aku tetap bisa menduga bahwa itu kau, Sae-ryun…” kata Jin-ho.

   “Ne… aku juga. Aku juga seharusnya begitu…” kata Sae-ryun, mengangguk, menyetujui perkataaan Jin-ho. “Ya sudah kalau begitu, aku ke kamar dulu, ya! Ada sesuatu hal yang harus kukerjakan,” kata Sae-ryun, kemudian berjalan pergi meninggalkan Jin-ho.

   Sae-ryun terus melangkahkan kakinya meninggalkan Jin-ho. “Hhhh… kenapa perkataanku kemarin menjadi kenyataan, Tuhan? Apakah aku telah melakukan dosa besar padaMu? Ternyata, berbohong itu benar-benar merugikan!” kata Sae-ryun dalam hati, dengan kekecewaan yang sangat di dalam hati.

   Jin-ho melihat kepergian Sae-ryun masih dengan sedikit perasaan kaget. Bagaimana bisa gadis itu ada disini? Kenapa ia bertemu dengannya lagi? Kenapa ia yang menjadi calon tunangannya Jeong-wo? Jika pertunangan itu jadi, maka tidak dapat dielakkan lagi jika Jin-ho akan semakin sering bertemu dengannya. Dan itu artinya…

   “Huh… aku seharusnya tidak bertemu dengannya lagi. Tuhan… apakah aku telah bertindak jahat sehingga aku harus bertemu dengannya lagi?”



   Hye-na menyajikan kue coklat dan tiga gelas orange juice di atas meja bulat yang berada di dalam gazebo dengan empat kursi yang mengelilinginya. Gazebo itu sendiri berada di tengah-tengah kolam ikan besar yang penuh dengan ikan-ikan koi dan mas koki yang berseliweran berenang kesana kemari.

   “Gomapta…” kata Jeong-wo, kepada Hye-na dengan tersenyum manis.

   “Ne, doryonim,” kata Hye-na, kemudian berjalan menuruni tangga meninggalkan gazebo.

   “Oppa… untuk apa oppa mengajakku bersantai disini?” tanya Sae-ryun, sambil bersandar di papan kayu penyangga yang mengelilingi gazebo yang membuatnya tidak jatuh ke dalam kolam.

   “Aku ingin mempertemukanmu dengan Jin-ho, adikku…” jawab Jeong-wo, sambil membaca majalah politik yang ada di meja.

   Sae-ryun mengalihkan pandangannya kepada Jeong-wo. “Apa? Bertemu dengan Jin-ho?”

   Jeong-wo mengangguk. “Iya… kemarin kau sangat ingin bertemu dengannya, kan?” kata Jeong-wo, sambil melihat Sae-ryun.

   Sae-ryun salah tingkah. “Hm… ya… itu benar… aku memang sangat ingin bertemu dengan… Song Jin-ho!” jawab Sae-ryun, berusaha menutupi rasa tidak enaknya.

   “Jin-ho ya…” teriak Jeong-wo tiba-tiba, membuat Sae-ryun mendesah panjang.

   Jin-ho berjalan menuju gazebo. Setibanya disana, ia melirik Sae-ryun sebentar kemudian duduk di sebelah Jeong-wo dan meminum segelas Orange Juice yang berada di dekatnya.

   “Kau terlihat lelah…” kata Jeong-wo, ketika melihat keringat yang mengucur dari dahi Jin-ho.

   “Ne… tadi aku membantu ibu dulu untuk menanam bunga-bunga baru yang dibeli ayah kemarin di kebun bunga. Seharusnya, kau tadi tidak mendadak untuk memintaku datang kesini…” kata Jin-ho, lalu meletakkan gelas kosong miliknya ke atas meja.

   “Hm… kau memang rajin! Oh iya, sebenarnya… aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang. Dengan pacarku…” kata Jeong-wo, mengemukakan alasannya.

   Sae-ryun yang merasa dipanggil, segera menghampiri kedua pemuda tampan itu dan berdiri dengan tegak di dekat mereka. Kini, ia menghadap ke arah Jin-ho dan berdiri dengan tegak di samping Jeong-wo.

   “Ini pacarku, sekaligus calon tunanganku… Jin Sae-ryun…”

   Jin-ho melihat Sae-ryun dari atas ke bawah, seolah-olah belum pernah bertemu. “Oh… aku sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya…” kata Jin-ho dengan nada datar, membuat Jeong-wo kaget.

   “Benarkah? Dimana? Kapan?” tanya Jeong-wo, penasaran.

   “Hm… baru-baru ini. Hanya tidak sengaja bertemu saja… tidak ada yang penting…” jawab Jin-ho, setengah-setengah.

   “Wah… dunia benar-benar sempit, ya! Baguslah kalau begitu, berarti… aku tidak perlu mengenalkan Sae-ryun padamu lebih jauh lagi. Dan itu artinya… lebih mudah untukku dan Sae-ryun dalam melaksanakan pertunangan kami karena tidak ada yang perlu diperkenalkan lagi,” kata Jeong-wo, sambil tersenyum pada Jin-ho.

   Jin-ho mengangguk. “Ne… aku pikir juga begitu.”

   Jin-ho lalu berdiri dan menghampiri Sae-ryun. “Senang bisa bertemu denganmu lagi, Sae-ryun. Aku harap, pertunanganmu dengan Jeong-wo dapat berjalan dengan lancar,” kata Jin-ho, sambil mengangkat tangan kanannya untuk mengajak Sae-ryun berjabat tangan.

   Sae-ryun menyambut jabatan tangan itu. “Ne… aku juga berharap hal yang sama sepertimu, Jin-ho,” kata Sae-ryun.

   Jin-ho kemudian melepas jabat tangan mereka. Ia lalu pergi meninggalkan Jeong-wo dan Sae-ryun di gazebo berdua setelah memukul punggung Jeong-wo pertanda salam persaudaraan.

   Setelah Jin-ho pergi, Sae-ryun segera duduk di sebelah Jeong-wo. “Oppa… kenapa tadi Jin-ho tidak memanggil oppa dengan sebutan “hyung”?” tanya Sae-ryun tiba-tiba, merasa bahwa apa yang dilakukan Jin-ho adalah hal yang tidak sopan. Dan bagi Sae-ryun, Jin-ho memang sudah dianggapnya tidak sopan dalam hal-hal tertentu sejak pertama kali mereka bertemu.

   “Oh… tentang itu… sebenarnya aku yang menyuruhnya. Lagipula, kami hanya berbeda satu tahun. Ditambah lagi, Jin-ho dulu masuk ke SD sama-sama denganku. Dia anak yang pintar sekali kan? Pintar matematika… jago melukis…” jawab Jeong-wo, dengan tersenyum.

   Sae-ryun mengangguk mengerti. “Lalu… eomma yang dimaksud Jin-ho itu…”

   “Ibunya. Ibu kandungnya…” jawab Jeong-wo, masih dengan tersenyum ketika mendengar pertanyaan-pertanyaan Sae-ryun padanya. Ya, ia mengerti mengapa Sae-ryun menjadi ingin tahu seperti ini. Dia ingin dekat dengan keluarga Jeong-wo. Dan itu tidak terkecuali dengan Jin-ho dan ibunya.

   “Hm… berarti… Bibi Eun-hye, ya?” tanya Sae-ryun, memastikan kebenaran atas jawabannya.

   Jeong-wo mengangguk, kemudian kembali membaca majalah yang dipegangnya.

   Sae-ryun berjalan menjauhi Jeong-wo untuk melihat kembali ke kolam ikan di bawahnya. Hm... jadi begitu, ya…, kata Sae-ryun dalam hati.

   Bagi Sae-ryun, mengenal keluarga Jeong-wo tidaklah terlalu sulit. Apalagi jika harus dekat dengan ibunya Jeong-wo, Bibi Joo-young. Tidak perlu menunggu berbulan-bulan, Sae-ryun dan Bibi Joo-young sudah akrab dengan sendirinya. Tetapi, kini Sae-ryun menarik kata-kata itu. Karena kini dia mengalami kesulitan untuk mendekati anggota keluarga Song yang lain. Bibi Eun-hye yang baru dikenalnya dan… Song Jin-ho, yang menurutnya paling sulit. Bukan apa-apa, tetapi Sae-ryun saja baru bertemu dengan Bibi Eun-hye ketika ia berjalan-jalan di halaman depan tadi pagi. Dan kelihatannya, Bibi Eun-hye adalah orang yang baik serta ramah. Jadi, mungkin ini masih bisa diatasi oleh Sae-ryun.

   Lalu bagaimana dengan Jin-ho? Sae-ryun langsung menghembuskan napas panjangnya. Ini yang susah. Sejak pertama kali bertemu, Sae-ryun dan Jin-ho sudah berada di dalam atmosfir yang tidak enak alias tidak bisa berhubungan dengan baik, meskipun kini sudah lebih mendingan. Tetapi, Sae-ryun tetap masih belum menyukai Jin-ho, kan? Bagaimana bisa ia menaruh rasa simpati kepada Jin-ho dan berhubungan baik dengannya jika ia saja tidak tertarik pada Jin-ho? Sudah dingin, tidak sopan, huh… Sae-ryun saja pusing memikirkannya…

   Sae-ryun akhirnya memutuskan sesuatu. Ia harus bisa menyukai dan mendekati Jin-ho setelah kejadian tidak menyenangkan di bandara dan keterlambatannya kemarin. Jika ia dan Jin-ho sudah akrab, berarti semuanya sudah beres. Dan dengan begitu, Sae-ryun akan siap untuk menjadi Nyonya Song, istri dari Song Jeong-wo, putra pertama dari Song Architecture Construction yang menjadi CEO sekaligus arsitek utama disana.



   Jin-ho menaiki tangga besar menuju ke lantai dua di Song Mansion. Ia berjalan dengan pelan menyusuri sebuah lorong panjang yang berakhir pada sebuah pintu besar di ujungnya. Jin-ho kemudian berbelok di sebuah tikungan yang muncul di lorong panjang itu sebelum sampai di pintu besar di depannya.


   “Appa…”

   “Ah… Jin-ho ya…” kata Yook-jae, menerima pelukan Jin-ho kecil dan menggendongnya.

   “Apakah engkau sedang menunggu appa, Jin-ho?” tanya Yook-jae, melihat mata Jin-ho kecil yang bulat hitam dan bening dengan senyum di bibirnya.

   Jin-ho kecil mengangguk, “ne… aku ingin appa memainkan piano itu.”

   Yook-jae melihat ke arah piano yang ditunjuk oleh Jin-ho kecil. “Baiklah. Sekarang, kau duduk di sebelah appa, ya!” kata Yook-jae, menuruti permintaan Jin-ho kecil dan mendudukkan Jin-ho kecil di tempat duduk berukuran sedang yang berada di depan piano.

   Yook-jae lalu duduk di sebelah Jin-ho kecil. Beberapa detik kemudian, alunan nada lembut dari piano terdengar. Membuat hati menjadi tenang dan tidak ingin lagu itu berakhir. Memanjakan telinga dengan nada-nada cantik yang dibalut dengan senyum di setiap memainkannya.

   Kepala Jin-ho kecil mengangguk-angguk pertanda menikmati lagu yang dimainkan ayahnya itu. Dan tanpa disadarinya, ia mengikuti ayahnya untuk bernyanyi. Bernyanyi bersama ayahnya, adalah satu hal yang paling membahagiakan bagi Jin-ho kecil ketika itu...



   Jari-jari panjang Jin-ho menekan tuts piano dengan lembut. Ia menikmati lagu yang dimainkannya dengan mata terpejam. Sementara itu, pikirannya terus melayang-layang ke kisah masa lalunya yang begitu indah dan tidak bisa terlupakan.

   Piano itu terus bermain tanpa mempedulikan apapun yang terjadi ataupun siapapun yang datang. Semakin lama, lagu yang dimainkan Jin-ho semakin terdengar indah sekaligus menyayat hati.

Mata Jin-ho tiba-tiba terbuka, bersamaan dengan jari-jari tangannya yang berhenti untuk bermain. Ia mengambil sebuah benda dari dalam kantung celananya. Ternyata, handphone miliknya bergetar pertanda telepon masuk.

   “Yoboseyo…”

   “Jin-ho ya…”

   Jin-ho mengganti tangannya untuk memegang handphone. “Ne… ada apa, Kek?” tanya Jin-ho, setelah mendengar suara serak dari seberang.

   Beberapa saat kemudian, Jin-ho dan Kakek Jeong berbicara dengan serius. Sesekali, Jin-ho mengangguk-angguk pertanda mengerti. Terkadang, Jin-ho juga bertanya. Dan setelah sekian lama mereka saling menelepon, Jin-ho lalu menutup handphonenya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya.



   Sae-ryun menutup pintu kamarnya setelah masuk ke dalam. Ia lalu berjalan mendekati jendela besar di depannya. Dari sana, ia dapat melihat taman bunga dan Bibi Eun-hye yang masih asyik melihat-lihat bunga yang sudah lama tidak dikunjunginya itu. Matanya terpejam menikmati hangatnya sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya.

   illyeoneul beotin geon
            I've made through the year
   naege judeon geu miso ttaemune
             thanks to your smile


   Mata Sae-ryun langsung terbuka lebar ketika mendengar sepenggal alunan lagu indah mengalir di telinganya. Sae-ryun menghembuskan napas panjang. Dahinya yang putih kini penuh dengan peluh yang bercucuran.

   Diambilnya sebuah tissue dari tempatnya di atas meja telepon di dekatnya. Dilapnya dahinya itu hingga tissue di tangannya basah seketika. Kemudian, dibuangnya tissue itu ke tong sampah yang berdiri di belakang kakinya.

   Sae-ryun lalu duduk di depan meja tulisnya. Ia meletakkan dagunya di atas kedua tangannya yang menopangnya. Dan tiba-tiba saja, sebuah suara muncul di dalam pikirannya...

“Sakura ga saiteimasu…”

   Sae-ryun menggeleng dengan keras. “Hosh… hosh… hosh… itu tidak mungkin dia, Sae-ryun… tidak mungkin dia…” kata-kata itu terus keluar dari mulut mungil Sae-ryun.

   Sae-ryun menutup mukanya, kemudian membukanya pelan. Dipijat-pijatnya dahinya yang mendadak pening. Jantungnya terus berdetak dengan cepat, seiring dengan kegelisahan hatinya yang tiada henti.

   Sae-ryun kembali mengingat kejadian yang dilihatnya di dekat ruang perpustakaan tadi siang. Saat itu, Sae-ryun sedang berjalan menuju kamarnya. Tetapi, sebuah suara piano yang lembut mencegahnya untuk masuk ke dalam kamar dan kembali berjalan mencari darimana asal dari suara piano itu.

   Langkah Sae-ryun terhenti ketika ia melihat seorang pemuda bersweater abu-abu yang tak lain adalah Jin-ho sedang duduk di depan piano dengan tenang. Sae-ryun lalu berdiri di balik tembok yang membuatnya tidak terlihat oleh Jin-ho.

   Dari tempatnya berdiri, Sae-ryun dapat mendengarkan lagu yang dimainkan Jin-ho dengan jelas. Meskipun hanya berupa instrument, tetapi lagu itu benar-benar menenangkan jiwa. Sae-ryun tidak ingin beranjak dari tempatnya berdiri. Dan tanpa disadarinya, tangannya mulai mengambil sesuatu dari balik kantung kanan jaket pink yang digunakannya. Dan tangan-tangan indah miliknya mulai merekam permainan piano Jin-ho yang seperti sudah professional itu…

   Song Jin-ho… mengapa kau memainkan  lagu itu? Kau itu… sebenarnya siapa? Mengapa engkau terlihat tidak asing ketika bermain piano tadi?

   

   Jin-ho menutup pintu mobilnya lalu menguncinya secara otomatis melalui kunci yang sedang dibawanya. Ia melihat sebuah bangunan yang kini ada di depannya dengan seksama. Tidak terlalu besar, tetapi dikatakan kecil juga tidak. Bangunan itu dikelilingi tumbuhan-tumbuhan teduh dan bunga-bunga pengindah yang membuatnya menjadi terlihat asri.

   Ceklik…

   Jin-ho membuka pintu bangunan “General Clinic” itu. Setelah melangkahkan kakinya ke dalam, ia kemudian menghampiri seorang gadis dengan pakaian putih-putih “suster”.

   ”Annyong haseyo… ada yang bisa yang saya bantu, Tuan?” tanya suster itu, saat Jin-ho sudah ada di depan meja panjang yang memisahkan mereka berdua.

   “Ne… aku Song Jin-ho… Aku ingin bertemu dengan Dokter Hyun Seo-joon. Apakah dia ada?”

   “Oh… Tuan Song… anda sudah ditunggu oleh Dokter Hyun di dalam…” kata suster itu, dengan sopan dan ramah.

   “Mari saya antar…” kata suster itu lagi, lalu memimpin jalan Jin-ho untuk menemui Dokter Hyun yang dimaksud olehnya itu.

   Jin-ho sudah melewati tiga buah pintu abu-abu. Satu buah pintu rawat untuk pasien dan dua lainnya adalah kamar untuk praktek dokter. Tinggal satu pintu di ujung lorong. Jin-ho sudah dapat  memastikan bahwa itu adalah ruangan Dokter Hyun yang dimaksud oleh suster itu.

   Saat mereka hampir tiba di pintu yang terakhir dari lorong itu, tiba-tiba saja suster itu berbelok. Sudah jelas Jin-ho kaget, namun tidak terlihat oleh suster itu. Jin-ho kembali mengikuti suster itu. Ketika Jin-ho hampir bertanya tentang dimana sebenarnya ruangan Dokter Hyun, suster itu sudah membuka sebuah pintu dan masuk  ke dalamnya.

   “Silahkan masuk Tuan Song, Dokter Hyun ada di dalam…” kata suster itu, ketika kembali ke luar dan mempersilahkan Jin-ho untuk masuk menemui Dokter Hyun. Sementara itu, suster itu segera melangkah pergi setelah Jin-ho masuk ke dalam ruangan Dokter Hyun.

   Di ruangan Dokter Hyun…

   “Ah… Song Jin-ho, ayo masuk!” kata Dokter Hyun, saat Jin-ho menutup pintu ruangannya setelah tiba di dalam.

   Jin-ho lalu berjalan mendekati Dokter Hyun yang sedang asyik melihat-lihat data pasien di tangan kanannya dan juga di meja.

   “Duduklah, Jin-ho…” tawar Dokter Hyun. Jin-ho yang sedang mencuri-curi lihat dokumen-dokumen milik Dokter Hyun, akhirnya mengangguk dan duduk di kursi di depan Dokter Hyun.

   Dokter Hyun lalu meletakkan semua dokumen-dokumennya ke atas meja. Dibiarkannya saja berkas-berkas miliknya berserakan di atas meja tanpa berniat untuk membereskannya.

   “Aku sudah mendengar cerita tentangmu dari Kakek Jeong…” kata Dokter Hyun, memulai pembicaraan serius mereka di hari itu. “Dan yang aku lihat sekarang… kau memang terlihat seperti itu, Jin-ho…” sambungnya, sambil melihat Jin-ho.

   Jin-ho mengernyitkan dahinya. Terlihat seperti itu? Maksudnya terlihat seperti apa?

   “Kau pasti bingung dengan apa yang sedang kubicarakan kan, Jin-ho?” kata Dokter Hyun, tepat sasaran.

   Dokter Hyun mengubah posisi duduknya. “Begini, aku dengar… kau baru kembali dari Indonesia setelah menjadi relawan pembantu selama kurang-lebih satu tahun disana. Kau menjadi relawan, setelah mempelajari sedikit ilmu kedokteran dengan Kakek Jeong selama 3 bulan, benarkan? Kemudian, aku mendapat berita lagi bahwa kau sudah dipercaya di Indonesia untuk menangani orang-orang sakit, seperti korban luka-luka akibat bencana alam. Bahkan, kau juga pernah menangani korban bencana alam yang gawat darurat pada waktu itu…”

   “Sementara itu, kita semua tahu bahwa relawan pembantu hanya bertugas untuk membantu korban saja, bukan untuk memeriksa kesehatannya. Bukankah menurutmu engkau sangat hebat, Jin-ho?” tanya Dokter Hyun.

   Jin-ho diam. Ia berpikir sebentar untuk menjawab apa. “Hm… aku tidak tahu itu hebat atau tidak, tetapi… aku hanya berusaha membantu pada waktu itu. Bukankah tugasku adalah membantu korban-korban itu?” jawab Jin-ho, merendahkan diri.

   “Benar… tetapi, dengan bekal ilmu kedokteran yang hanya engkau pelajari selama 3 bulan itu, kau bisa melakukan pertolongan pertama pada korban gawat darurat, bukankah itu sangat spektakuler?”

   Jin-ho kembali terdiam.

   Dokter Hyun melanjutkan perkataan, “dan jika kau benar-benar seorang mahasiswa kedokteran, maka kau belum tentu bisa melakukan hal itu, Jin-ho… Karena… menangani orang sakit bukan hanya membutuhkan ilmu dan praktek, tetapi ketenangan dan kepercayaan diri juga amat dibutuhkan disini…”

   Jin-ho masih tetap diam, tidak tahu harus berkomentar apa.

   “Dan kau memiliki dua hal penting yang sulit untuk dipelajari, Jin-ho. Ketenangan dan kepercayaan diri. Apakah kau tidak menyadarinya?”

   “Apalagi… kata Kakek Jeong, ia hanya mengajarimu tentang hal-hal dasar dalam ilmu kedokteran… ditambah dengan pertolongan pertama pada kecelakaan…” 

   Jin-ho akhirnya mengangguk. “Hm… mungkin…” katanya, dengan nada tidak enak.

   Dokter Hyun melihat Jin-ho tajam, dengan tersenyum.

   “Lalu, katanya kau mau membuka praktek ya, Jin-ho?” tanya Dokter Hyun, sambil mendekat pada Jin-ho dan melihatnya.

   “Ne… tetapi tentunya aku harus kuliah dulu untuk itu…” jawab Jin-ho, kini tidak merasa kesulitan lagi.

   “Dan kau akan kuliah di fakultas kedokteran di atas kebimbanganmu?” tanya Dokter Hyun, tiba-tiba.

   Jin-ho meneguk ludahnya. Bagaimana ia bisa tahu?

   “Kau tidak perlu bertanya darimana aku tahu! Kau sudah mendengar cerita dari Kakek Jeong kan, jika aku adalah anak panti asuhan miliknya dulu…” jawab Dokter Hyun, kembali mengena kepada Jin-ho.

   “Tentu saja aku dekat dengannya. Oleh karena itu, kau disuruh olehnya untuk datang kesini…”

   Jin-ho terdiam. Memang benar apa yang dikatakan oleh Dokter itu. Lalu, apa tujuan sebenarnya Jin-ho disuruh kesini? Setahu ia, ia disuruh datang kesini oleh Kakek Jeong untuk membicarakan universitas apa yang bagus untuknya belajar. Lalu, kenapa sekarang mereka malah membicarakan hal-hal yang pribadi seperti ini?

   “Tidak baik jika engkau menentukan pilihanmu sementara engkau masih bimbang, Jin-ho…” kata Dokter Hyun, sambil melihat Jin-ho tajam. “Dan sekarang, aku akan membantumu dengan… memberikan pembelajaran tentang kedokteran untukmu. Dan yang lebih menguntungkannya lagi adalah… kau bisa mengikuti pembelajaran itu sekaligus langsung bekerja sebagai dokter junior disini…”

   Jin-ho melihat Dokter Hyun dengan tidak percaya. Apa maksudnya?

   “Jika nanti kau benar-benar ingin menjadi seorang dokter, maka kau bisa memulai kegiatan belajarmu di universitas nanti. Tetapi jika tidak, kau bisa melanjutkan cita-citamu tanpa berniat untuk menundanya lagi…” lanjut Dokter Hyun.

   Jin-ho diam,  memikirkan tawaran Dokter Hyun yang menurutnya hanya akan membuang banyak waktu saja. Tetapi…, Jin-ho kembali berpikir. Tetapi itu adalah sebuah tawaran yang bagus untuknya. Ia masih bimbang. Ia tidak tahu apa yang seharusnya dipilihnya. Ia tidak ingin menjadi seorang dokter. Tetapi, ia juga tidak bisa melanjutkan cita-citanya. Jika ia tetap bersikeras untuk melanjutkan impiannya, itu hanya akan membuat dirinya terluka. Dan ia tidak mau terluka karena hal yang sama. Tidak akan lagi…

   Setelah beberapa lama berpikir, Jin-ho akhirnya mengangguk. Ia sudah menemukan jawabannya. Dan ia harap, jawaban ini adalah keputusannya yang terbaik untuk semua orang.

   Jin-ho melihat Dokter Hyun yang sedang membaca hasil diagnosa seorang pasien yang sedang ditanganinya. Dengan mantap dan tegas, Jin-ho menjawab, “aku menerima tawaranmu, Dokter Hyun Seo-joon…”

   Dokter Hyun melihat Jin-ho. Ia tersenyum lega. “Baguslah kalau begitu. Besok, bersiaplah untuk mulai belajar dan bekerja disini, Song Jin-ho!” kata Dokter Hyun, lalu mengajukan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jin-ho.

   Jin-ho menerima jabatan tangan Dokter Hyun dengan senyum. “Senang karena bisa belajar denganmu, Dokter Hyun…” kata Jin-ho.

   Dokter Hyun lalu melepaskan jabatan tangannya dari Jin-ho. “Oh iya, aku sampai lupa. Kau mau minum apa?” tanya Dokter Hyun, sambil berjalan ke arah kulkas miliknya.

   “Tidak perlu, Dokter. Aku akan pulang sekarang. Aku kira… aku membutuhkan sedikit persiapan untuk besok,” tolak Jin-ho, dengan sopan. “Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Terima kasih karena Dokter telah mau menolongku…” kata Jin-ho, melanjutkan perkataannya.

   Jin-ho lalu membungkuk tanda salam perpisahan. Sementara itu, Dokter Hyun juga membungkuk, membalas salam Jin-ho. “Sampai jumpa besok, Jin-ho…” kata Dokter Hyun.

   Jin-ho lalu berjalan keluar dari ruangan Dokter Hyun. Setelah ia tiba di luar, Jin-ho menghembuskan napas panjang. Ia kini tersenyum lebar, tanpa ada kebimbangan di hatinya lagi. Besok, ia akan mulai menjalani rutinitasnya yang baru. Dan itu berarti, ia harus kembali berjuang. Ya, kembali berjuang…



   Sae-ryun asyik membaca salah satu majalah yang sedang membahas tentang gaun pesta rancangannya, ketika Pelayan Han menyuguhkan Juice Alpukat padanya. Memang, Sae-ryun adalah salah satu perancang baju Korea Selatan yang telah go international. Itu dapat dilihat dengan seringnya pakaian rancangan Sae-ryun yang dimunculkan di berbagai majalah terkenal luar negeri  yang sangat mempengaruhi gaya atau style wanita dan gadis di dunia. Selain itu, pakaian rancangan Sae-ryun juga sering diikutkan ke dalam acara fashion show yang dihadiri oleh orang-orang penting dunia, model-model internasional, pengamat-pengamat fashion yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya, dan beberapa diantaranya juga orang-orang kaya dan sukses yang berasal dari berbagai penjuru dunia. 

   Sae-ryun membalik halaman majalahnya. Matanya tiba-tiba saja tertuju pada sebuah artikel yang dicari-carinya selama ini.


Bagaimana caranya agar engkau dapat dekat dengan
“orang itu”????
[/size][/b]

   Banyak orang di dunia merasa kesulitan ketika harus bergaul dengan orang lain, khususnya dengan “seseorang”. Apakah salah satu diantaranya adalah kau? Lalu, mengapa kau bisa sulit untuk dekat dengan”nya”? Mungkin kau sulit untuk dekat dengan “orang itu” karena sejak awal bertemu, kau dan dia sudah saling tidak tertarik. Atau mungkin, kau sulit untuk mendekatinya karena engkau dan dia sudah memiliki hubungan yang tidak baik di masa lalu. Atau kemungkinan lain, adalah kau dan dia pernah terjebak dalam suatu situasi yang membuat kalian tidak ingin dekat, dan sampai sekarang kejadian itu terus membuat kalian tidak memiliki ketertarikan satu sama lain untuk dapat berhubungan dengan baik?

   Sungguh tidak menyenangkan bila memiliki hubungan yang seperti itu dengan “seseorang”. Apalagi jika sekarang kau sedang belajar di sebuah sekolah dan kebetulan sekali kau sekelas dengan”nya”. Atau mungkin, kau harus bekerja sama dengan”nya” karena kalian sekarang satu kantor? Atau mungkin juga, kau sudah lelah jika harus terus berhubungan tidak baik dengan”nya” seperti ini?

Dan itulah gunanya engkau membaca artikel ini. Apa yang harus kau lakukan agar dapat memperbaiki hubunganmu dengannya???

    

   Sae-ryun terus membaca artikel yang ada di hadapannya dengan serius. Sesekali, ia mengangguk. Tidak dipedulikannya Jin-ho yang masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam itu.

   “Doryonim…” sapa salah seorang pelayan “Song Mansion”, ketika berpapasan dengan Jin-ho di depan Sae-ryun.

   “Ne…” balas Jin-ho, dengan tersenyum.

   Sae-ryun segera menegakkan wajahnya setelah mendengar kata-kata “doryonim”. Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Jin-ho yang terus berjalan menuju tangga ke lantai dua.

   Sae-ryun berlari mengejar Jin-ho. “Hei… Jin-ho ya…” panggil Sae-ryun, agar Jin-ho berhenti.

   Merasa dipanggil, Jin-ho menghentikan langkahnya ketika ia hendak menaiki tangga. Ia lalu melihat ke belakang. Setelah mengetahui siapa yang memanggilnya, Jin-ho hanya bisa menghembuskan napas panjang.

   “Jin-ho ya…” kata Sae-ryun, berdiri di samping Jin-ho dengan napas yang terengah-engah.

   “Ada apa? Kau mau mencari Jeong-wo? Aku tidak tahu dia dimana…” kata Jin-ho, dengan nada datar.

   Sae-ryun menepuk tangan kiri Jin-ho. “Hei… kau tidak boleh seperti itu. Aku memanggilmu bukan untuk mencari Jeong-wo oppa. Tetapi… aku ingin bicara denganmu,” kata Sae-ryun, sambil mengelap wajahnya dengan tissue yang berasal dari sebungkus tissue yang selalu dibawanya.

   “Ada apa?” tanya Jin-ho.

   “Aku ingin mengajakmu pergi ke taman bermain. Selain seru karena kita bisa bermain disana, kita juga bisa refreshing untuk menyegarkan pikiran kita kembali. Kau mau kan?” ajak Sae-ryun, sambil melihat Jin-ho.

   “Maaf ya, Sae-ryun. Aku tidak bisa. Aku sudah lelah hari ini. Aku akan tidur saja di kamar,” jawab Jin-ho, kemudian menaiki tangga yang tadi ada di hadapannya.

   “Eh… eh… tunggu dulu, Jin-ho!” seru Sae-ryun, kembali menyusul Jin-ho.

   Jin-ho menghentikan langkahnya dengan malas. Ia kemudian berbalik menghadap Sae-ryun agar Sae-ryun dapat berbicara dengannya disitu saja, tanpa mendekat padanya lagi.

   “Ayolah… aku sangat ingin sekali pergi kesana. Jeong-wo oppa pasti sekarang sedang sibuk di kantor.  Jadi, aku tidak bisa mengajaknya pergi. Ayolah, kau mau kan menemaniku?” bujuk Sae-ryun, sambil memegang tangan Jin-ho.

   Jin-ho melepas tangan Sae-ryun dari tangannya. “Baiklah, tetapi jangan lama-lama! Jika lebih dari dua jam kau disana, aku akan pulang duluan…” kata Jin-ho, menerima tawaran Sae-ryun meskipun dengan hati yang terpaksa.

        Ya… daripada mendengar bujukan cerewet dari mulut Sae-ryun lagi, lebih baik Jin-ho mengiyakannya saja. Dan itu adalah salah satu alasan yang membuat sikap Jin-ho berubah terhadap Sae-ryun. Sikap cerewetnya. Dan itu memang kurang Jin-ho sukai.

   “Ah… bagus kalau begitu. Sekarang, kau dan aku berganti baju dulu, kemudian kita bertemu di depan, ya!” kata Sae-ryun, lalu meninggalkan Jin-ho dengan hati yang berbunga-bunga.

   Jin-ho menggeleng ketika melihat kepergian Sae-ryun yang seperti anak kecil itu.  “Apa sih yang membuat Jeong-wo menyukai gadis seperti dia?” gumam Jin-ho, dengan suara yang cukup pelan, kemudian kembali menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.



   ”Pakai baju yang mana, ya?” gumam Sae-ryun, sambil memegang dua buah stel baju di tangan kanan dan kirinya.

   “Yang ini sajalah…” kata Sae-ryun, memutuskan untuk memakai sebuah terusan berwarna pink dengan sweater sebagai luarannya yang dipegangnya di tangan kanannya.

   Setelah selesai berias, Sae-ryun kemudian memandang dirinya yang terpantul di cermin. “Sae-ryun… kau benar-benar hebat! Dua buah rencanamu telah berhasil. Memanggil Jin-ho dengan panggilan akrab yaitu “Jin-ho ya...” dan mengajaknya pergi ke tempat santai, seperti ke taman bermain. Jin Sae-ryun… rencanamu sebentar lagi akan berhasil!” katanya, pada dirinya sendiri.

   Sae-ryun lalu mengambil majalah yang tadi dibacanya. “Dan sekarang, adalah waktunya untuk lanjut ke poin selanjutnya…”


3. Sering-seringlah menonjolkan atau memuji kelebihannya. Setiap orang senang dipuji, dan tidak terkecuali kau kan? Dengan begini, ia akan berbalik memujimu dan kalian akan semakin saling menghargai satu sama lain.

   
   “Hm… mungkin aku bisa melakukannya nanti…” gumam Sae-ryun, lalu meletakkan majalah yang sedang dipegangnya di atas meja rias.

   “Baiklah, jangan lakukan kesalahan lagi Sae-ryun!” katanya, menyemangati dirinya sendiri.

   Sae-ryun lalu berjalan keluar dari kamarnya setelah menyambar tas tangan putih yang elegant dari kursi bulat tempatnya bersantai. Di dalam hatinya, ia sangat berharap dapat jalan-jalan dengan Jin-ho dengan normal, tanpa perasaan tidak enak lagi…



   “Akhirnya tiba juga…” kata Sae-ryun, dengan lega.

   Mobil Jin-ho terparkir dengan rapi di halaman parkir taman bermain kota Seoul. Sae-ryun yang sudah jalan duluan, akhirnya menunggu Jin-ho yang sedang mengunci mobilnya dan mulai berjalan menyusul Sae-ryun dengan malas.

   Melihat Jin-ho yang berjalan seperti keong, Sae-ryun akhirnya menghampiri Jin-ho dan menarik tangannya. “Hei, jangan lambat begitu! Bersemangatlah! Sebenarnya, awalnya aku ingin mengajakmu pergi ke tempat lain, bukan ke taman bermain. Tetapi, berhubung majalah itu bilang bahwa taman bermain lebih bagus…”

   “Mwo??? Majalah?” tanya Jin-ho, sambil melihat Sae-ryun pertanda meminta penjelasan atas perkataan Sae-ryun tadi.

   “Ah… aniyo… bukan… bukan majalah! Aku tadi hanya salah bicara saja. Jangan diambil hati, ya!” jawab Sae-ryun, dengan gugup.

   Jin-ho menatap Sae-ryun dengan tajam, seolah-olah mencari kebenaran yang sesungguhnya dari mata Sae-ryun. Jin-ho lalu mengalihkan pandangannya. Ia lalu menanamkan dalam dirinya bahwa apa yang dikatakan oleh Sae-ryun tadi pasti hal yang tidak penting, jadi untuk apa ditanya lagi?

   “Ayo…” ajak Sae-ryun, kembali mempererat genggaman tangannya di tangan Jin-ho. Sementara itu, Jin-ho yang sebenarnya sama sekali tidak ingin apalagi tertarik akan ajakan Sae-ryun, hanya mengikut saja, tanpa perlawanan sedikit pun.



   “Huuuuuuuuu…..”

   Jin-ho hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Sae-ryun yang seperti anak kecil lagi. Sejak bertemu dengannya di bandara, hingga hari ini, ketika ia dan Sae-ryun sedang jalan ke taman bermain, Jin-ho belum pernah melihat sikap Sae-ryun yang dewasa, baik dari segi tingkah lakunya maupun perkataannya. Paling hanya sikap sopan. Dan Jin-ho tidak tahu mengapa Sae-ryun seperti itu, padahal umurnya kira-kira sudah 24 tahun, satu tahun lebih muda dari Jin-ho. Entah karena Sae-ryun yang memang memiliki sifat kekanak-kanakan seperti itu atau karena Sae-ryun ingin menikmati hidupnya dengan santai dan hanya bersikap dewasa disaat ia harus benar-benar bersikap dewasa. Dan untuk Jin-ho pribadi, ia tidak tahu mana yang benar.

        Beberapa saat kemudian, Jet Coaster yang dinaiki Jin-ho dan Sae-ryun berhenti. Jin-ho dan Sae-ryun lalu turun dari permainan yang menegangkan itu seperti pengunjung yang lain.

   “Huh… permainan tadi sungguh melelahkan, ya! Meskipun aku harus akui, permainan tadi itu benar-benar seru…” ujar Sae-ryun, dengan kedua tangan yang terangkat ke atas dan senyum di bibirnya. 
   
   Jin-ho yang diajak bicara, hanya diam saja, tidak berkomentar apapun, dan hanya terus berjalan tanpa mempedulikan Sae-ryun. Sae-ryun yang menyadari bahwa dirinya dicuekin, akhirnya menggoyang-goyang tubuh Jin-ho agar mau bicara dengannya.

   “Jin-ho ya… apakah kau tidak senang dengan permainan tadi? Ataukah… kau ingin mencoba permainan yang lain? Apakah iya, kau mau mencoba permainan yang lain? Aku akan menemanimu jika kau mau…” kata Sae-ryun, membujuk Jin-ho agar mau bicara.

   Jin-ho akhirnya menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Sae-ryun. “Jin Sae-ryun… aku sudah katakan tadi. Aku sedang tidak mood untuk pergi ke taman bermain sekarang. Jika kau terus memaksaku dan bersikap cerewet seperti ini, jangan marah padaku jika aku meninggalkanmu disini! Karena… kau tahu, aku sudah benar-benar lelah… dan sekarang, aku semakin merasa lelah!” kata Jin-ho, dengan keras dan tegas, karena perasaan dirinya yang sangat kesal pada Sae-ryun. 

   Sae-ryun terdiam mendengar isi hati Jin-ho. Ia bergidik ngeri. Kelihatannya, hidupku akan semakin sulit sekarang…, katanya dalam hati.

   Jin-ho kembali melanjutkan jalannya. Sementara itu, Sae-ryun masih diam di tempatnya dan melihat Jin-ho dari jauh.

   Setelah Jin-ho dan dirinya terpisah selama beberapa meter, Sae-ryun lalu tersenyum dan kembali mengejar Jin-ho.
   
   “Jin-ho ya… tunggu aku!” teriak Sae-ryun, sambil berlari.

   Jin-ho kembali menghentikan derap langkahnya yang panjang. Sae-ryun yang sedang kencang-kencangnya berlari, terkaget melihat Jin-ho yang tiba-tiba saja menghadap ke arahnya.

   Sae-ryun cepat-cepat menghentikan kakinya ketika ia hampir menabrak Jin-ho. Jin-ho pun yang mau ditabrak, hanya santai saja tanpa takut jika mereka jatuh bersama.

   “Hosh… hosh… hosh… Jin-ho ya!!!!” teriak Sae-ryun, ketika menyebut nama “Jin-ho”. “Aku tahu jika aku memintamu untuk menungguku tadi, tetapi tidak mendadak berhenti seperti itu juga kan?” lanjut Sae-ryun, masih dengan suara yang keras karena kesal akan tindakan “dadakan” Jin-ho tadi.

   “Jadi…”

   “Hosh… Hm… begini…” kata Sae-ryun, berhenti sebentar untuk menarik napas, “aku punya sebuah tempat favorit untuk bersantai. Kali ini, tempat ini benar-benar tempat yang dapat membuatku santai sekaligus tempat dimana aku bisa menjernihkan pikiranku! Dan aku harap, kau dapat bersantai juga disana…”

   “Ayolah, Jin-ho ya… mau, ya? Bagaimana jika kau coba dulu? Bila kau masih tidak suka juga, aku akan menyerah dan ikut denganmu untuk pulang…” bujuk Sae-ryun. “Aku hanya ingin mengajakmu bersantai saja. Kau tadi kan bilang bahwa kau sedang lelah, jadi…”

   “Araso…” jawab Jin-ho, memotong perkataan Sae-ryun yang menurutnya sudah semakin panjang saja sekarang.

   “Benarkah? Jadi… kau mau?” tanya Sae-ryun, meminta keyakinan dari mulut Jin-ho.

   “Ne… dan cepatlah sebelum aku berubah pikiran…” jawab Jin-ho, lalu berjalan lagi.

   Sae-ryun tersenyum melihat Jin-ho yang semakin jauh darinya. Ia lalu berlari lagi, menyusul Jin-ho yang memiliki langkah kaki panjang dan cepat itu. Meskipun sangat lelah, ia tetap senang. Ia senang karena bisa melewatkan waktunya dengan Jin-ho, calon adik iparnya…



   “Disini tempatnya?” tanya Jin-ho, ketika ia kembali menghentikan mobilnya.

   Sae-ryun mengangguk dengan semangat, “ne… apa pendapatmu?”

   Jin-ho terdiam, berpikir sebentar. “Hm… perpustakaan umum… aku pikir menarik…” jawab Jin-ho, sambil memegang dagunya.

   Sae-ryun tersenyum mendengar jawaban Jin-ho. “Baguslah kalau begitu. Berarti ini cocok denganmu. Dan sekarang… ayo keluar!”

   Sae-ryun lalu keluar dari mobil Jin-ho, diikuti dengan Jin-ho yang juga keluar dari mobilnya sendiri. Sae-ryun lalu menghampiri Jin-ho yang masih berdiri di samping mobil sport hitamnya.

   “Ayo… nanti keburu ramai…” kata Sae-ryun, lalu menarik Jin-ho untuk masuk ke dalam gedung perpustakaan umum yang megah itu.

   Jin-ho mengikuti langkah kaki Sae-ryun yang berjalan entah kemana. Sesekali, Jin-ho berhenti untuk melihat-lihat buku yang menarik perhatiannya. Namun, ketika Sae-ryun sudah terlalu jauh darinya, Jin-ho meletakkan buku yang sudah dibacanya setengah itu kembali ke dalam rak dan menyusul Sae-ryun.

   Sae-ryun terus berjalan dan kini ia sudah melewati lantai lima. Jin-ho yang sedari tadi diam saja dan hanya ikut kemana langkah kaki Sae-ryun membawanya pergi, akhirnya muak juga dan ingin bertanya kepada Sae-ryun kemana mereka sebenarnya akan pergi.

   “Jin Sae-ryun… sekarang, kau mau membawaku kemana?” tanya Jin-ho, dengan kesal karena tidak mengetahui kemana tujuan pasti mereka, sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya.

   “Hushh…. Jangan berisik!!! Ini perpustakaan. Aku harap, kau tidak bertanya dulu sebelum kita sampai di tempat tujuan…” jawab Sae-ryun, dengan jawaban yang menggantung.

   Jin-ho yang berada di belakang Sae-ryun, hanya bisa nyengir karena merasa tidak senang akan jawaban Sae-ryun. Namun, karena menyadari bahwa memang mereka sedang berada di perpustakaan yang sepi, Jin-ho akhirnya tidak berniat untuk bertanya lebih dalam lagi kepada Sae-ryun dan memilih untuk diam sambil terus mengikuti Sae-ryun dari belakang.

   “Nah… kita sudah sampai!” kata Sae-ryun, lalu berhenti di tempat.

   Jin-ho yang mengikuti Sae-ryun dari tadi, ikut berhenti di sebelah Sae-ryun. Jin-ho melihat ke ruangan di sekelilingnya. Sebuah ruangan yang cukup besar dengan dinding berwarna putih polos yang penuh dengan lukisan-lukisan, baik abstrak ataupun tidak yang menggantung di tubuh polosnya.

   Jin-ho masuk ke dalam ruangan itu. “Tempat apa ini? Aku belum pernah mengetahui ruangan ini ada di perpustakaan umum sebelumnya…” gumam Jin-ho, sambil terus mengamati ruangan yang sedang dikunjunginya itu untuk mengurangi rasa penasarannya akan tempat itu.

   Sae-ryun lalu tersenyum dan menghampiri Jin-ho yang kelihatan bingung. “Ini adalah sanggar lukis untuk umum. Biasanya, orang-orang yang tertarik akan lukisan maupun  mereka yang berbakat atau suka melukis, akan suka dan sering datang kesini. Baik hanya untuk melihat-lihat, ataupun hanya untuk sekedar bersantai sambil melukis. Bahkan, banyak juga anak-anak SMP atau SMA atau mungkin dari sanggar yang datang kemari untuk latihan melukis. Selain suasananya yang tenang, hasil lukisan kita juga bisa dipajang disini, tanpa terkecuali, apakah itu baik atau buruk. Harapannya sih… mana tahu, ada seorang pencari bakat yang melihat lukisan mereka dan menawarkan kepada mereka untuk dikembangkan bakatnya dalam bidang lukis-melukis ini…” jelas Sae-ryun, dengan lembut.   

   Jin-ho mengangguk ketika mendengar penuturan Sae-ryun. Ia lalu melihat Sae-ryun, “dan kau suka datang kesini karena…”

   “Karena aku senang melihat lukisan anak-anak kecil itu. Lukisan mereka sungguh lucu-lucu dan menarik. Menurutku, lukisan mereka itu langka dan sulit… karena imajinasi ketika kita sudah dewasa seperti ini, tidak akan bisa mengalahkan imajinasi mereka, anak-anak kecil yang memiliki jiwa jujur dan sedang senang-senangnya berkhayal…”

   “Lukisan mereka juga menggambarkan apa adanya. Tanpa dibuat-buat. Masih murni. Dan itulah yang membuatku tenang ketika aku berada disini. Aku melihat… tidak ada kebohongan. Yang ada hanya kebahagiaan dan kesenangan yang tanpa cela…” kata Sae-ryun, melihat lukisan anak-anak TK yang ada di hadapannya sekarang.

   Jin-ho menatap Sae-ryun dengan simpatik. “Kau tahu… baru kali ini aku melihat dirimu yang mempesona…” kata Jin-ho tiba-tiba, sambil berdiri di samping Sae-ryun dan ikut memperhatikan lukisan anak TK yang ada di hadapannya.

   Sae-ryun mengalihkan pandangannya dari lukisan ke Jin-ho. “Mwo?? Kau tadi bilang apa?” tanya Sae-ryun, meminta Jin-ho untuk mengulangi perkataannya karena tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Jin-ho tadi.

   Jin-ho menghembuskan napas panjang. “Tidak ada. Aku hanya ingin bilang bahwa aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku punya banyak adik di panti asuhan Kakek Jeong, dan ketika bersama mereka, berbagi segala hal dengan mereka, aku merasa sangat senang. Dan menurutku, itu adalah kesenangan tersendiri yang sulit didapat…” cerita Jin-ho, panjang lebar dengan tersenyum. Sementara itu, Sae-ryun yang masih berdiri di sampingnya, hanya melihat Jin-ho dengan tersenyum juga. Rupanya, pemuda dingin dan tidak sopan ini enak diajak bicara juga, ya…, kata Sae-ryun dalam hati, dengan senang.

        “Sudahlah, aku ingin mencoba melukis…” kata Jin-ho, mengalihkan pembicaraan. Ia lalu berjalan menuju sebuah tempat khusus untuk melukis yang sudah dipenuhi oleh anak-anak kecil disana.

   Sae-ryun melihat langkah Jin-ho. “Hei… kau harus mendaftar dulu sebelum melukis!” teriak Sae-ryun, tetapi tidak terlalu keras, sehingga menghentikan langkah Jin-ho untuk berjalan.

   Jin-ho membalikkan badannya dan melihat Sae-ryun. Sae-ryun lalu berjalan mendekati Jin-ho dan menyuruh Jin-ho untuk mengikutinya lagi.

   

   “Kenapa harus mendaftar dulu, sih?” tanya Jin-ho, setelah selesai mendaftar di sebuah loket di dekat ruangan melukis itu ditemani Sae-ryun. Jin-ho lalu memasukkan kartu anggota “Sanggar Lukis Perpustakaan Umum” miliknya ke dalam kantong.

   “Tentu saja harus. Itu penting untuk proses pendataan…” jawab Sae-ryun.

   Jin-ho dan Sae-ryun lalu berjalan ke tempat yang telah disediakan untuk melukis. Setibanya disana, Jin-ho dan Sae-ryun duduk berdampingan di dekat jendela yang menampakkan suasana perkotaan yang ramai dari atas.

   Jin-ho mengambil sebuah kuas dari tempatnya dan menuangkan beberapa buah cat warna ke dalam palet yang sedang dipegangnya. “Apakah ini gratis?” tanya Jin-ho, sambil mencampur-campurkan warna yang ada di paletnya dengan serius.

   “Ne… ini semua gratis. Memangnya kenapa? Kau mau bayar?” jawab Sae-ryun, sambil mengambil cat warna coklat dari paletnya dan mulai melukis, membentuk sebuah pola.

   “Tidak… hanya saja, bagaimana bisa semua peralatan lukis ini gratis? Ini kan mahal…” kata Jin-ho, mulai melukis di atas kanvas.

   “Aku juga tidak tahu kenapa. Tetapi, banyak orang yang membawa sendiri alat lukisnya jika ia memang menyukai bidang lukis-melukis ini. Mungkin besok kau bisa membawa alat-alatmu sendiri, agar tidak banyak alat lukis gratis yang tergunakan. Kau kan pintar menggambar, jadi alat lukismu pasti lengkap kan? Apalagi, kau juga telah menjadi alumni fakultas…”

   “Kau tidak perlu mengatakan hal itu kan?” kata Jin-ho tiba-tiba, dengan dingin, membuat Sae-ryun berhenti bicara.

   “Ne… araso. Tetapi, aku hanya tidak mengerti saja bagaimana jalan pikiranmu. Jika kau memang bisa dan memang menyukainya, kenapa tidak engkau lanjutkan? Banyak orang di dunia ini yang ingin melakukannya tetapi tidak memiliki keahlian untuk melanjutkannya. Bukankah kau benar-benar beruntung?” kata Sae-ryun, dengan santai, sambil terus melukis dengan penuh kehati-hatian.

        “Jika alasanmu hanya karena ada orang yang tidak suka jika engkau menjalankan profesi itu, itu menurutku tidak masuk akal. Kau seharusnya mempertahankannya dan menunjukkan bahwa kau memang bisa, bukannya malah melepaskannya! Aku yakin, jika dugaanku benar, orang itu sekarang pasti sedang bahagia sekarang di atas penyesalanmu…” lanjut Sae-ryun, tanpa kebohongan sedikit pun dari apa yang ingin diucapkannya.
     
         Jin-ho menghentikan kegiatan melukisnya. Ia tertegun mendengar penuturan jujur dari mulut Sae-ryun tadi. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Di dalam otaknya kini sedang berkecamuk bermacam-macam pemikiran yang dia sendiri tidak tahu mana yang benar dan apa yang harus ia lakukan.

         Sementara itu, Sae-ryun yang melihat Jin-ho seperti itu, merasa tidak enak dan mulai menghiburnya. “Sudahlah, tidak perlu engkau pikirkan terlalu dalam seperti itu. Aku hanya bercanda. Lagipula, itu kan hakmu untuk melakukan apa. Aku seharusnya tidak berkata seperti itu padamu tadi. Maafkan aku, ya…” kata Sae-ryun, sambil menatap Jin-ho yang masih diam.

         Jin-ho masih belum mengatakan apa-apa. Ia mendengar perkataan Sae-ryun, tetapi dia tidak mau menerima perkataan Sae-ryun untuk melupakan kata-kata Sae-ryun tadi. Hatinya masih keukeuh untuk memikirkan hal itu.

         “Daripada engkau pusing memikirkan hal itu, lebih baik sekarang engkau membuat sebuah gambar yang sedang ingin kau buat. Aku yakin, pikiranmu pasti akan menjadi lebih tenang ketika engkau melakukan hal yang engkau sukai…” saran Sae-ryun, memegang tangan Jin-ho agar tegak dan kembali kuat, tidak lemas seperti sekarang.

         Jin-ho masih terdiam untuk beberapa saat. Ia lalu menatap Sae-ryun… dan tersenyum dengan manis. “Gomawoyo…” kata Jin-ho, kemudian kembali berkonsentrasi kepada bidang yang akan dilukisnya.

         “Berikan hasil lukisanmu yang paling baik! Berjuanglah untuk membuat lukisan itu menjadi sebuah karya yang menginspirasi banyak orang…” pesan Sae-ryun, sambil menatap Jin-ho yang ada di sampingnya dengan senyum.

          Beberapa detik kemudian, Jin-ho dan Sae-ryun asyik dengan lukisannya masing-masing. Sesekali, mereka berdua tertawa bersama, entah ketika melihat hasil lukisan masing-masing atau ketika melihat tingkah anak-anak kecil yang berada di sekeliling mereka. Dan tanpa mereka sadari, matahari sudah hampir tenggelam dan hari beranjak gelap…



        “Selamat malam, Doryonim… Agashi…”

         Jin-ho dan Sae-ryun masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Sekarang sudah pukul 7 malam. Berarti, sebentar lagi makan malam antara Keluarga Song dengan Keluarga Jin akan segera dimulai. Makan malam kali ini adalah pengganti dari makan malam yang tertunda kemarin. Dan itu artinya, makan malam ini akan sangat penting untuk Sae-ryun, khususnya.

        “Mandi dan berganti bajulah. Mereka akan menunggumu, aku jamin itu…” kata Jin-ho, menghibur Sae-ryun agar tidak panik.

        “Ne… aku akan melakukannya dengan cepat…” kata Sae-ryun lalu pergi meninggalkan Jin-ho sendiri.

        “Jin-ho ya…”

         Jin-ho mengelus dadanya karena kaget. “Eomma… aigoo… membuatku kaget saja!” kata Jin-ho, sambil membalikkan tubuhnya ke arah ibunya.

         “Cepat mandi dan berganti baju, ya! Kau pulang terlambat sekali hari ini…” pesan Eun-hye, sambil mengelus rambut Jin-ho dengan lembut.

   Jin-ho mengangguk, “ne… aku ke kamar dulu ya, eomma…”

   Jin-ho lalu berjalan menuju tangga dan menaikinya. Sementara itu, Eun-hye melihat Jin-ho dari jauh dengan gelengan kepala.



   “Syukurlah… setelah penundaan makan malam kita kemarin, kini kita dapat melaksanakan makan malam yang dimaksud dengan baik…” kata Yook-jae, membuka acara makan malam pada pukul 8 yang cukup resmi tetapi masih santai itu.

   “Ne… ini adalah makan malam yang ditunggu-tunggu tentunya…” kata Jin Su-hoon, ayah Sae-ryun.

   “Jadi… apakah kita dapat memulai makan malam ini?” tanya Ibu Sae-ryun, Heo In-young, dengan senyum manis di bibirnya.

   “Tentu saja. Bagaimana kalau untuk pembukaan, kita mencicipi hidangan yang telah disiapkan oleh Pelayan Han?” kata Joo-young, menawarkan makan malamnya kepada tamu-tamu pentingnya.

   “Ne… itu ide yang bagus. Tetapi… bagaimana jika kita mendengarkan sebuah permainan piano yang indah dari Presdir Song Architecture Construction terlebih dahulu?” usul In-young, sambil mengedipkan matanya kepada Su-hoon.

   “Ha… ha… ha… benar. Ayo, silahkan pianis professional bekerja!” kata Su-hoon, mengerti arti dari kedipan istrinya itu.

   “Aduh, kalian ini! Apakah ada yang bisa menggantikanku untuk melakukan pekerjaan ini? Aku sudah lelah jika harus menjadi penghibur kalian terus…” keluh Yook-jae, kemudian berjalan mendekati piano di dekat meja makan tempat mereka berkumpul.

   “Ada.”

   Semua orang yang sedang berada di ruang makan langsung melihat ke arah seorang gadis yang tiba-tiba menyahut di sebelah In-young. Semua orang tahu, tidak ada seorang pun dari Keluarga Song ataupun Keluarga Jin yang bisa mengalahkan permainan piano seorang Song Yook-jae, kepala Keluarga Song. Dan jika tiba-tiba saja ada yang berkata “ada”, maka sudah pasti itu akan mengagetkan mereka semua.

   “Ada. Jin-ho bisa bermain piano dengan baik. Bahkan sangat baik…” kata gadis itu, yang tak lain adalah Sae-ryun.

   Eun-hye langsung melihat ke arah Jin-ho. “Apakah itu benar, Jin-ho?” tanya Eun-hye, dengan hati-hati. Di satu sisi, Eun-hye tidak bisa percaya akan perkataan Sae-ryun tadi, namun Eun-hye juga tahu bahwa Sae-ryun tidak mungkin berbohong.

   Jin-ho terdiam sesaat di tempat duduknya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk mengklarifikasi tentang perkataan Sae-ryun tadi tentangnya. Beberapa saat semua orang terdiam. Tidak ada yang berbicara satu pun. Masing-masing sedang sibuk dengan dugaan-dugaan yang ada di dalam pikiran mereka sendiri.

   Jin-ho lalu menegakkan wajahnya, melihat wajah ibunya dengan lembut. “Tidak. Tentu saja aku tidak bisa bermain piano seperti apa yang dikatakan oleh Sae-ryun tadi, eomma. Mana pernah aku bisa memainkan alat musik klasik itu…” kata Jin-ho, dengan tersenyum halus.

         “Dan kau Sae-ryun…” kata Jin-ho lalu mengalihkan pandangannya kepada Sae-ryun. “Jangan sok tahu, ya…” kata Jin-ho dengan pelan tetapi sinis, sambil menatap Sae-ryun tajam.

          Sae-ryun langsung kaget ketika mendengar pengakuan Jin-ho tadi. Tidak bisa bermain piano? Jadi, kemarin itu siapa yang bermain lagu seindah itu jika bukan Jin-ho? Hantu? Tidak mungkin kan? Jelas-jelas saja Sae-ryun melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Jin-ho lah yang duduk di depan piano kemarin. Song Jin-ho, aku benar-benar tidak mengerti apa jalan pikiranmu…, kata Sae-ryun dalam hati.

           Jin-ho kemudian berdiri dari tempat duduknya. Setelah menunduk memberi salam, ia lalu pergi dari ruang makan tanpa mengucapkan sepatah-katapun. Sementara itu, Eun-hye yang melihat tingkah laku Jin-ho yang aneh seperti itu, hanya diam saja sambil terus memperhatikan kepergian anaknya itu.


The end….

[/font][/size]

akhirnya bisa ngupdate juga...  [heh] [heh] [heh]
semoga bisa menghibur, ya....
dan aku minta partisipasi dari kalian lagi....  [biggrin] [biggrin] [biggrin]

 [flowers] [flowers] [flowers]


Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #41 on: August 30, 2010, 11:49:21 pm »
heethi, thnx yow dah di up date. it's a lonnnnnnnnnnnnnnn chapter demen gw ama yg panjang begini,  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
sae ryun tuch deketin jin ho buat akrab sebagai calon adik ipar aja yach, waduh ampe kudu liat dari majalah segala trik2nya, heheheheh.... jin ho emangnya kenapa sich kok gak mau ngakuin kalo dia emang jago main piano, emang dulu pernah ada masalah yach [chin] [chin] [chin] [chin] [chin] [chin]
tp pas scene jin ho and sae ryun maen di taman hiburan seru juga apalagi pas mereka juga sibuk ngelukis dah mulai akrab tuch berdua.
tapi disini gw ngerasa kalo jeong wo itu terkesan cuek ama sae ryun kurang mesra sebagai calon tunangannya, mmm beda ama sosok jin ho yg dingin tapi sebenarnya dia sangat penyayang apalagi sama eommanya.
sist, lanjutannya GPL yow makin penasaran nich. [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: The Secret Flower
« Reply #42 on: August 31, 2010, 01:36:45 am »
Sist heethi gumawo uda d update [flowers]       
wah, long chap nie. . . Good. Good. . . Hoho^^   
     
heethi msh plajar ya, sama do0nx. . .     
Ia, jd gk bsa OL pas pagi dech. Huhu [cry]     
apa lg klo ada tugas.   
Uf, susah bnget buat OL *curhat mode on*     
wah, minsun uda mulai deket nie, jd pnasaran ama next chap nya. . . Di tunggu yow sist.     
Cayo!! [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #43 on: August 31, 2010, 02:10:22 am »
 [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
thanks sist udah diupdate long chap lagi [hmpfh]
Wah si jinho mulai kesemsem neh ..
Asik dah pasti lama lama si jinho jatcin ama sae ryun
witing tresno jalaran seko kulino ,datangnya cinta berawal dari kebiasan wkwkwk*pepatah jawa*

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #44 on: August 31, 2010, 07:18:34 pm »
wah sist heethi, its long chap !  [clap]
next chap jgn lama2 yaaa [biggrin] [biggrin]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]