Author Topic: The Secret Flower  (Read 5419 times)

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: The Secret Flower
« Reply #45 on: September 20, 2010, 07:33:20 am »
Hai hai sist heethi [bye]   gmana nie kabar'a?    KoQ gk d update" c sist, uda mau 1bln loh. . .   
Update do0nx.     
Update.  [smiley-gen013]
update. .  [smiley-gen013]
update. . .  [smiley-gen013]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #46 on: September 23, 2010, 03:56:47 am »
Heethi ayo UP DATE UP DATE UP DATE [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #47 on: September 25, 2010, 04:34:26 am »
Cast :

Lee Min-ho as Song Jin-ho

Goo Hye-sun as Jin Sae-ryun

Choi Si-won as Song Jeong-wo

Lee Yoon-hee as Na Hye-na





Chapter 4

   “Ada. Jin-ho bisa bermain piano dengan baik. Bahkan sangat baik…”
   

Kata-kata Sae-ryun kembali terngiang di telinga Jin-ho dengan jelas. Jin-ho memukul setir di depannya dengan keras. Emosinya sudah mulai meluap-luap. Jin-ho semakin memijak pedal gas ke dalam sehingga mobilnya melaju semakin kencang.

“Kau tidak akan mungkin menjadi seperti ayahmu, Song Jin-ho! Impian dan cita-citamu itu hanya akan menjadi impian dan cita-cita pada akhirnya. Tidak akan berubah menjadi apa yang engkau inginkan. Karena apa? Karena kau adalah Song Jin-ho. Karena kau adalah seorang Song Jin-ho! Seorang pemuda manja yang terlalu beruntung untuk mendapatkan apa yang telah didapatnya selama ini dan terlalu rakus hingga sama sekali tidak mau berbagi…”

Jin-ho menghembuskan napas panjang. Ia mendadak menginjak rem mobilnya dan dengan seketika mobil itu berhenti. Untuk beberapa saat, Jin-ho yang ada di dalam  mobil, terdiam dengan tatapan mata kosong. Ia lalu menelungkupkan wajahnya dan menangis, ketika bayangan-bayangan masa lalunya yang kejam kembali hadir di dalam pikirannya…



   “Jangan diambil hati ya, Sae-ryun! Mungkin Jin-ho sedang tidak enak badan sehingga bersikap sensitive seperti itu…” hibur Jeong-wo, ketika ia menghampiri Sae-ryun yang sedang berada di balkon kamarnya sendiri.

   “Ne… araso…” jawab Sae-ryun, dengan lemas. Sae-ryun melihat ke arah kolam ikan dan gazebo yang nampak dari balkon kamarnya.

Sae-ryun sebenarnya senang akan perhatian yang Jeong-wo berikan padanya. Tetapi, bayangan-bayangan kejadian di ruang makan tadi sudah menghilangkan semua rasa senangnya. Seolah-olah menguap begitu saja. Ditambah lagi, Sae-ryun juga sangat khawatir akan keadaan Jin-ho sekarang. Bagaimana bisa Jin-ho marah-marah padanya seperti itu, sementara ia hanya ingin membantu Jin-ho untuk mengeluarkan kemampuannya? Bukankah memiliki kemampuan lebih dibanding yang lain itu membuatnya bahagia, apalagi jika ia bisa menggunakan kelebihannya itu menghibur orang lain? Ia sungguh sedih. Karena dirinya, Jin-ho kini terluka, meskipun ia juga sangat kesal terhadap sikap Jin-ho yang kekanak-kanakan. Memang benar, ini adalah hak Jin-ho untuk marah pada Sae-ryun. Jin-ho berhak untuk menunjukkan kelebihannya, tetapi juga berhak untuk memendamnya. Meskipun buruk, tetapi tidak ada yang boleh memaksakan Jin-ho untuk mengeluarkan kemampuannya itu jika ia tidak mau. Dan bodohnya, Sae-ryun melakukannya. Dan kini, ia harus menanggung resiko jika Jin-ho marah padanya lagi dan hubungannya dengan Jin-ho menjadi kembali tidak baik. Padahal, baru saja dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk merubah hubungan yang tidak baik itu....

Sae-ryun mendesah panjang. Pikirannya kembali pada saat ketika ia dan Jin-ho sedang melukis bersama. Masih ingat di dalam pikirannya, senyum dan kegembiraan yang terpancar dari wajah tampan Jin-ho. Dan ketika itu, mereka sudah seperti teman baik. Segalanya menjadi baik-baik saja, di detik yang sama. Tetapi kini? Kenapa ia tidak bisa menjaga kepercayaan Jin-ho padanya untuk menjadi salah satu teman baiknya? Bukankah Jin-ho sudah berusaha untuk bersikap baik padanya dan tidak bersikap dingin lagi? Kenapa ia tidak bisa?

Sae-ryun memukul-mukul kepalanya dengan keras. Kau memang bodoh, Sae-ryun…, katanya dalam hati. Kini, selain pikirannya yang masih tertuju pada Jin-ho, hatinya juga berisi akan perasaan tidak enak yang dirasakannya kepada seluruh anggota Keluarga Song dan keluarganya sendiri, terutama sekali kepada Bibi Eun-hye, ibu Jin-ho. Dan kini, dada Sae-ryun semakin sesak ketika mengingat semua hal itu.

   Jeong-wo masih terus menatap Sae-ryun sejak kehadirannya disana. Dari balik mata Sae-ryun, Jeong-wo dapat melihat kegelisahan dan kekhawatiran Sae-ryun. Jeong-wo juga dapat melihat tingkah-tingkah Sae-ryun yang semakin memperjelas keadaan dan perasaan hati Sae-ryun sekarang.

“Apakah kau sangat mengkhawatirkan Jin-ho?” tanya Jeong-wo, tiba-tiba.

   Sae-ryun mengubah pandangannya kepada Jeong-wo. “Hm?”

   “Kau baik-baik saja kan? Kau terlihat sangat tertekan…” tanya Jeong-wo, sambil menatap Sae-ryun dengan senyum.

   Sae-ryun ikut tersenyum, setelah melihat Jeong-wo yang tersenyum padanya. “Aniyo… aku baik-baik saja. Aku hanya takut…”

   “Takut?”

   “Uhm… takut. Aku takut… jika Jin-ho marah padaku…. Dia sangat sabar, dan aku mengecewakannya begitu saja…” jawab Sae-ryun, dengan pelan.

   Jeong-wo melihat Sae-ryun dengan seksama. Dari balik matanya, Jeong-wo dapat melihat kecantikan Sae-ryun. Mungkin bagi seluruh pemuda di dunia ini, Sae-ryun nyaris sempurna. Wajah cantik, kulit putih, pintar, karier bagus, modis, anggun, dan berasal dari keluarga yang terhormat. Oleh karena itu, mereka pasti menganggap Jeong-wo dan Sae-ryun adalah pasangan yang cocok dan serasi. Kenapa? Karena Jeong-wo tidak berbeda jauh dengan Sae-ryun. Selain wajah tampan dan postur tubuh yang tinggi dan bagus, Jeong-wo juga cerdas dan memiliki karier yang cemerlang. Dan itu dapat terbukti ketika engkau bertemu dengannya. Seketika, hatimu akan terpesona dan jatuh hati padanya.

   Jeong-wo mengalihkan pandangannya ke bawah balkon kamar Sae-ryun. Dari atas, Jeong-wo dapat melihat Hye-na, pelayan pribadinya yang selalu mengurus kebutuhannya dan sering menemaninya berkebun itu. Hye-na sekarang sedang duduk di atas ayunan di sebelah gazebo dengan buku di tangannya. 

   “Huh… apakah sekarang dia baik-baik saja?” gumam Sae-ryun, pada dirinya sendiri.

   Jeong-wo masih terus memandang Hye-na dari atas dengan senyuman lebar di wajahnya. Entah apa yang dipikirkannya, tetapi saat ini kita semua tahu bahwa ia tidak lagi memperhatikan perkataan maupun tingkah laku Sae-ryun yang berdiri di sampingnya. Tiba-tiba saja, pikirannya beralih dari mengkhawatirkan Sae-ryun menjadi memperhatikan Hye-na.

   Sae-ryun masih diam. Jeong-wo pun juga begitu. Beberapa saat kemudian, Sae-ryun kembali mengajak bicara pacarnya itu. “Hm… oppa, aku ingin istirahat. Bisakah oppa keluar sekarang?” kata Sae-ryun, masih dengan nada lemas.

   Jeong-wo tidak mendengarkan kata-kata Sae-ryun. Pikirannya masih tertuju pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Hye-na di bawah, meskipun pada kenyataannya, Hye-na tidak melakukan apa-apa. Hanya membaca. Dan entah kenapa, Jeong-wo tetap ingin melihatnya terus-menerusnya.

   Sae-ryun mengikuti arah mata Jeong-wo. Tetapi, Sae-ryun tetap tidak bisa mengikuti kemana arah mata Jeong-wo berlabuh. Pikirannya sudah benar-benar penat. Dan kelihatannya, kesendirianlah yang dapat membuatnya menjadi lebih tenang.

   “Oppa…” panggil Sae-ryun, berada di ambang pintu kaca yang memisahkannya dengan balkon. “Aku akan menutup pintunya sekarang. Tolong keluar…” pinta Sae-ryun lagi, tanpa memikirkan apa yang sedang diperhatikan dan dilakukan oleh Jeong-wo.

   Jeong-wo langsung tersadar dari lamunannya dan segera menghampiri Sae-ryun yang benar-benar kelihatan tidak sehat. “Kau benar tidak apa-apa?” tanya Jeong-wo, ketika melihat wajah Sae-ryun yang mulai pucat.

   Sae-ryun mengangguk dan berusaha tersenyum, “ne… aku baik-baik saja. Oppa tidak perlu khawatir. Dan aku harap, semuanya akan baik-baik saja besok…”

   Jeong-wo ikut mengangguk. “Beristirahatlah… aku akan keluar sekarang…. Dan besok, semuanya akan baik-baik saja, ok?” kata Jeong-wo, lalu berjalan keluar dari kamar Sae-ryun.

   Sae-ryun lalu menutup pintu kamarnya dengan pelan dan menguncinya. Ia terduduk di kursi bulat tempatnya bersantai. Diambilnya majalah yang tergeletak di sebelahnya. Diangkatnya majalah itu untuk beberapa saat.

   “Hhhh… seharusnya engkau tidak mempercayai saran konyol seperti ini, Sae-ryun…” gumam Sae-ryun, lalu mencampakkan majalah yang tadi dipegangnya ke lantai.

   Sae-ryun menutup wajahnya. Di dalam pikirannya masih berkecamuk bermacam-macam beban yang sungguh membuatnya pusing.

   Sae-ryun lalu mendesah pelan. “Aku harus meminta maaf kepada Jin-ho nanti. Apapun yang terjadi, aku harus melakukannya. Harus!” kata Sae-ryun, bertekad dengan kuat.

   Sae-ryun kemudian mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dengan santai. Besok, akan menjadi hari yang lebih berat untuknya. Dan mau tak mau, Sae-ryun harus melewatinya dan memperbaiki hari ini dengan baik…

 

   “Ini… pelajari dulu, ya…” pesan Dokter Hyun, sambil memberikan setumpuk buku yang cukup tebal yang membahas tentang ilmu kedokteran kepada Jin-ho.

   Jin-ho melihat buku di tangannya dengan mata mendelik. Ternyata, untuk mempelajari ilmu kedokteran itu tidak mudah, ya…, katanya dalam hati.

   “Jangan dilihat dari seberapa tebal buku yang kuberikan. Tetapi, bacalah. Jika kau membacanya dengan serius dan kau mengerti apa yang dijelaskan disana, buku yang tebal itu akan menjadi tipis untukmu…” jelas Dokter Hyun, ketika melihat ekspresi wajah Jin-ho saat pertama kali melihat buku kedokteran yang sesungguhnya.

   “Ne… aku mengerti. Aku akan berusaha dengan keras untuk membacanya dengan benar…” kata Jin-ho, lalu berjalan menuju mejanya yang kini berada di ruangan yang sama dengan Dokter Hyun. Ya, sebagai dokter junior sekaligus murid pelatihan disini, Jin-ho masih diawasi dengan serius oleh Dokter Hyun selaku pimpinan di “General Clinic”.

   Jin-ho mulai membuka buku yang tadi diberikan padanya. Sesaat, Jin-ho masih memperhatikan halaman pertama dari buku itu yang berisi gambar dari organ-organ penyusun tubuh manusia. Setelah menyimpannya di dalam otak, Jin-ho kemudian membalik buku yang sedang dibacanya itu dan mulai masuk ke halaman selanjutnya. Di halaman kedua ini, Jin-ho mulai melihat tulisan-tulisan yang berupa teori yang menjelaskan tentang otak, mulai dari system kerjanya, sampai pada penyakit-penyakit yang mungkin dan sering terjadi pada otak.

   Setelah habis membaca halaman tentang otak itu, Jin-ho berlanjut ke topik selanjutnya. Ketika Jin-ho baru mau mulai membaca, tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. Jin-ho lalu mengangkat panggilan dari handphonenya itu.

   “Yoboseyo…”

   “Jin-ho ya…”

   “Eomma…” kata Jin-ho, dengan pelan. Sebenarnya, Jin-ho tidak terlalu kaget akan telepon dari ibunya itu. Tetapi entah mengapa, setelah kejadian di malam itu, Jin-ho jadi merasa bersalah kepada ibunya yang sangat disayanginya itu, karena ia telah membohonginya... benar-benar membohonginya….

   “Kau baik-baik saja kan? Ibu khawatir saat kau keluar dari rumah dan mulai mengemudi dengan kencang di malam itu…” kata Eun-hye, dengan lembut dan pelan, penuh kasih sayang.

   Jin-ho melirik ke sekelilingnya. Tidak ada orang. Mungkin Dokter Hyun pergi keluar ketika Jin-ho sedang membaca tadi.

   “Aku rindu eomma…” ucap Jin-ho tiba-tiba, membuat Eun-hye kaget.

   “Sungguh tidak menyenangkan jika tidak melihat eomma sebelum tidur. Seharusnya, aku tidak mengulanginya lagi seperti aku di Indonesia dulu…” lanjut Jin-ho, dengan nada manja.

   “Jin-ho ya… kau ini sungguh manja! Hal-hal seperti itu seharusnya tidak engkau jadikan kebiasaan…” kata Eun-hye, berpura-pura memarahi Jin-ho.

   “Hm… Ne, eomma… aku akan pulang nanti. Aku sangat ingin bertemu dengan eomma…” kata Jin-ho.

   “Eomma akan menunggumu hingga kau pulang. Berhati-hatilah dan jangan ngebut di jalan, ya…” pesan Eun-hye, lalu memutus hubungan teleponnya.

   Jin-ho menghela napas panjang. Ia kemudian tersenyum. Hatinya terasa lapang. Memang… memang seharusnya masalah kecil seperti itu tidak perlu membangkitkan emosinya, meskipun masalah itu telah mampu membuka luka hatinya. Tetapi tidak apa-apa. Jin-ho akan kembali kuat. Karena… Jin-ho memang harus kuat dan menguatkan ibunya…



   Jin-ho keluar dari mobilnya dengan membawa tas ransel di punggungnya dan setumpuk buku di kedua tangannya. Ia lalu berjalan masuk ke dalam “Song Mansion” dengan langkah tegak.

   “Doryonim…”

   Jin-ho menghentikan langkahnya. Dilihatnya siapa yang memanggilnya tadi. Ternyata, Hye-na.

   “Hye-na ya…” sapa Jin-ho, membalas sapaan Hye-na yang kaget karena kedatangan Jin-ho kembali ke Song Mansion setelah kejadian semalam.

   Hye-na yang sejenak terpaku akan kedatangan Jin-ho akhirnya sadar kembali. Ia tersenyum. “Sungguh senang karena anda kembali ke rumah ini, Doryonim…” sambut Hye-na, setelah membungkukkan badannya kepada Jin-ho.

   “Ne… gomawo…” kata Jin-ho.

   “Biarkan saya membawa buku-buku anda, Doryonim…” pinta Hye-na.

   Jin-ho lalu memberikan tumpukan buku kedokteran yang dibawanya dari “General Clinic” tadi kepada Hye-na dengan hati-hati. Ia takut jika buku itu jatuh dan rusak. Itu bukan buku miliknya, oleh karena itu ia harus menjaga buku itu baik-baik.

   Jin-ho kembali berjalan masuk ke dalam. Sementara itu, Hye-na mengikutinya dari belakang dengan membawa buku-buku Jin-ho di tangannya.

   Jin-ho lalu berhenti di depan tangga menuju lantai dua. “Hye-na, tolong letakkan buku-buku itu di perpustakaan, ya! Jangan sampai jatuh… itu buku-buku penting…” pesan Jin-ho.

   Hye-na mengangguk, mengerti. “Baik, Doryonim…”

   Jin-ho lalu menaiki tangga di depannya diikuti dengan sorotan mata Hye-na yang bahagia. Setibanya di lantai atas, Jin-ho langsung menuju ke kamar ibunya.



   Tok… tok… tok…

   Pintu perpustakaan terbuka. Dari balik pintu coklat besar yang menutupinya, tampaklah seorang gadis cantik yang berdiri dengan gugup sambil terus meremas-remas kedua tangannya dengan cemas.

   Jin-ho melihat ke arah pintu. Ia langsung mendesah ketika tahu siapa gadis yang berada di balik pintu perpustakaan itu.

   Sae-ryun masuk ke dalam ruangan yang besar itu dengan langkah pelan dan hati-hati. Seketika, ia dapat menemukan keberadaan Jin-ho berada.

   Sae-ryun mendekati Jin-ho dengan perlahan. “Jin-ho ya…”

   Jin-ho mengalihkan pandangannya dari buku anatomi yang dibawanya dari “General Clinic” tadi. Ia lalu menatap Sae-ryun. Melihat Sae-ryun yang tidak mengucapkan sepatah katapun, Jin-ho akhirnya kembali menatap buku yang ada di hadapannya.

   “Jin-ho ya… kau… masih marah padaku, ya?” tanya Sae-ryun, dengan hati-hati.

   Jin-ho kembali menatap Sae-ryun yang berdiri di depannya. Ia lalu menghembuskan napas panjang. “Menurutmu?” tanya Jin-ho, dengan dingin, tanpa berniat menjawab pertanyaan Sae-ryun.

   Sae-ryun mengelus-elus lehernya, karena tidak tahu harus menjawab apa. Tetapi karena ditanya, akhirnya Sae-ryun menjawab juga dengan seadanya, “hm… masih marah…”

   Jin-ho lalu menutup bukunya dan berdiri. “Kau sudah tahu. Lalu untuk apa bertanya lagi?”

   Sae-ryun semakin merasa tidak enak ketika Jin-ho membalas jawabannya tadi. Ia lalu memainkan kaki-kaki putihnya sambil berkata pada Jin-ho, “Jin-ho ya… tolong maafkan aku, ya… jangan marah lagi…”

   Sae-ryun menunggu jawaban Jin-ho dengan sabar sambil menundukkan wajahnya. Karena Jin-ho tidak juga mengatakan sesuatu, Sae-ryun akhirnya berkata lagi, “seharusnya setelah perbincangan kita di perpustakaan umum kemarin… aku tidak lagi mengatakan segala hal yang berkaitan tentang privasimu, karena kau tidak suka itu kan, Jin-ho?”

   Sae-ryun lalu menarik napas dalam-dalam. “Dan ini semua adalah kesalahanku… oleh karena itu, aku sungguh minta maaf… Jin-ho ya…”

   Jin-ho menatap Sae-ryun yang sedang menunduk ke bawah dengan seksama. Ia kemudian kembali mengingat pertemuannya dengan ibunya tadi sore…

   Tok… tok… tok…

   “Masuk…”

   Jin-ho masuk ke dalam kamar ibunya dengan setengah berlari. Ia langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat. “Aku sangat merindukan eomma… Apakah eomma juga merindukanku?”

   “Ne… tentu saja…” jawab Eun-hye, seperti biasa dengan lembut.

   Eun-hye lalu melepaskan pelukan Jin-ho darinya. “Apakah kau baik-baik saja?”

   Jin-ho terdiam  untuk beberapa saat, menatap wajah cantik ibunya. Ia kemudian mengangguk. “Ne…”

   “Jin-ho ya…” panggil Eun-hye, pelan. “Eomma rasa… kau tidak perlu menutupi hal itu…”

   Jin-ho menatap Eun-hye dengan seksama. Ia tidak bisa berbohong bila sudah melihat mata lembut ibunya itu. “Tetapi… aku tidak mau seperti appa, eomma…” kata Jin-ho, perlahan tetapi pasti.

   Eun-hye masih melihat Jin-ho. Ia dapat melihat kegelisahan yang amat dalam yang sedang dirasakan oleh Jin-ho sekarang. “Tetapi itu bukan suatu alasan untuk mundur kan?”

   “Mundur?”

   “Bukan berarti jika kau bisa bermain piano berarti engkau seperti ayahmu kan, Jin-ho? Di dunia ini, masih banyak orang lain yang memiliki keahlian untuk bermain piano, bahkan lebih baik daripada ayahmu. Tidakkah hal itu pernah terlintas di dalam pikiranmu?”

   Jin-ho terdiam, mencerna kata-kata ibunya dengan baik.

   “Kau bahkan tega mengatakan bahwa Sae-ryun telah berbohong di depan kami semua. Apakah kau tidak kasihan padanya? Dia bermaksud baik padamu. Dia hanya ingin, engkau dapat menunjukkan kemampuanmu itu di depan kami. Dan dia tidak pernah bermaksud untuk menyamakanmu apalagi melihatmu seperti ayahmu, Jin-ho…”

   Jin-ho menghembuskan napas panjang. “Araso… tetapi, gadis itu… aku tidak tahu kenapa, tetapi aku tidak suka dia. Meskipun pada awalnya perasaan tidak suka ini tidak ada, tetapi semakin aku bertemu dengannya, semakin aku merasa bahwa aku tidak bisa cocok dengannya…. Dan itu nyata, eomma... bukan alasan!”

   Eun-hye terdiam. Ia masih menunggu pengakuan apalagi yang akan Jin-ho ceritakan padanya.

   “Aku tidak tahu mengapa… mungkin aku yang terlalu berlebihan, tetapi… sejak pertama kali bertemu, aku dan dia memang sudah tidak cocok… sikapnya yang cerewet… lalu sifatnya yang kekanak-kanakan… ah… aku tidak tahu lagi!” cerita Jin-ho, dengan menggebu-gebu, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras.

   Eun-hye tersenyum mendengar kejujuran dari Jin-ho. Ia lalu memegang tangan Jin-ho dengan hangat, mendinginkan hati Jin-ho yang sudah terbakar api emosi. “Berarti kau juga membenci ibu dong?” tanya Eun-hye tiba-tiba.

   Jin-ho melirik ibunya. “Ne… aku juga sangat kesal terhadap ibu… bahkan sekarang aku juga masih kesal terhadap ibu…” jawab Jin-ho, mengiyakan, meskipun niatnya hanya bercanda.

   “Berarti dirimu itu yang tidak tahu bahwa perempuan itu memang cerewet…” kata Eun-hye, menyudutkan Jin-ho.

   Mata Jin-ho mendelik. “Eomma… tentu saja ini berbeda! Jika eomma, sudah pasti dengan senang hati aku akan menerima semua sikap eomma yang cerewet… meskipun terkadang memang membuat kesal…” kata Jin-ho.

Eun-hye kembali tersenyum. “Apakah kau pikir dia juga suka dengan sikapmu?” tanya Eun-hye tiba-tiba, membuat Jin-ho melihatnya dengan serius.

   “Hm… aku tidak tahu…” jawab Jin-ho, dengan polos.

   “Untung saja kau jawab tidak tahu. Jika sampai kau jawab “dia menyukaimu”, berarti kau benar-benar memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, Song Jin-ho…” kata Eun-hye. “Hm… Ibu pikir tidak. Bagaimana bisa dia menyukai seorang pemuda yang sering mengacuhkannya dan selalu bersikap dingin padanya? Jika ibu jadi Sae-ryun, ibu juga tidak mau dekat-dekat denganmu…” lanjut Eun-hye, meskipun melihat anak semata wayangnya itu memanyunkan mulutnya.

   “Ne… dan aku juga tidak menyukainya. Jadi, kami sama kan?”

   Eun-hye menggeleng karena jawaban Jin-ho. “Bukan itu yang eomma maksud, Jin-ho…” kata Eun-hye. “Kau tahu, sekarang Sae-ryun adalah calon tunangan Jeong-wo. Dan itu berarti, tidak lama lagi Sae-ryun akan menjadi anggota dari keluarga Song. Dan ibu tahu jika kau mengerti apa maksud ibu, Jin-ho…”

   Jin-ho terdiam sejenak. Ia lalu menatap ibunya yang masih setia menunggunya dan memberinya nasehat ketika Jin-ho memerlukannya.

   “Mau tidak mau, kau harus bisa berhubungan baik dengan Sae-ryun. Jangan karena engkau, pertunangan Jeong-wo dengan Sae-ryun menjadi batal! Sae-ryun adalah gadis yang baik dan kau tahu itu…” kata Eun-hye lagi, kini lebih lembut. “Tidak sulitkan untuk menyesuaikan diri dengan Sae-ryun walau hanya sedikit?”

   Jin-ho masih diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. “Ne, eomma… aku akan berusaha…” jawab Jin-ho, dengan anggukan yang pasti dari wajahnya.

   Eun-hye tersenyum mendengar keputusan Jin-ho. Ia lalu memeluk Jin-ho dengan lembut. “Kau bisa melakukannya, karena kau adalah Song Jin-ho…” kata Eun-hye, menyemangati Jin-ho.

   Jin-ho membalas pelukan ibunya dengan sama hangatnya. Ia merasa, beban di pundaknya semakin berkurang seiring dengan kasih sayang yang diberikan ibunya padanya yang mengalir lewat setiap sentuhan lembutnya…


   Jin-ho kembali menghembuskan napas panjang. “Ne… aku memaafkanmu…” jawab Jin-ho pelan, yang langsung membuat Sae-ryun kaget setengah mati.

   Mwo? Jin-ho memaafkanku? Semudah itu Jin-ho memaafkanku? Aku sedang tidak bermimpi kan? Kenapa semuanya jadi begitu  mudah seperti ini?

   Jin-ho melihat Sae-ryun yang masih berdiri mematung karena kaget di depannya dengan tatapan tajam. “Waeyo? Apakah ada yang salah?”

   Sae-ryun langsung tersadar dari lamunannya. Ia menggeleng kuat ketika Jin-ho bertanya padanya tadi. “Aniyo… tentu saja tidak ada yang salah…” jawab Sae-ryun, dengan senyuman lebar di wajahnya.

   “Baguslah kalau begitu… aku senang jika semuanya baik-baik saja…” kata Jin-ho, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.

   Jin-ho lalu berjalan keluar dari perpustakaan tanpa membawa buku-bukunya. Sae-ryun yang masih berdiri di posisinya, segera mencegah kepergian Jin-ho dari ruangan itu.

   “Tunggu, Jin-ho ya…”

   Jin-ho menghentikan langkahnya. “Ada apa lagi?”

   Sae-ryun berjalan menghampiri Jin-ho. “Tetapi… sebenarnya kau memang bisa bermain piano kan?” tanya Sae-ryun, mencari kebenaran dari Jin-ho bahwa apa yang ia lihat kemarin adalah benar.

   Jin-ho terdiam setelah mendengar pertanyaan Sae-ryun. Ia menatap Sae-ryun dengan tajam. Dan ia mulai menjawab pertanyaan Sae-ryun dengan tatapan mata yang mulai lembut, “ne… aku memang bisa bermain piano. Lalu kau mau apa? Jangan coba-coba menghancurkan mood ku lagi…”

   Sae-ryun menggeleng kuat. “Aniyo… aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun lagi. Aku akan menjaga privasimu dengan baik. Aku berjanji…” jawab Sae-ryun, sambil memicingkan sebelah matanya dan tersenyum.

   Jin-ho mengangguk percaya. Ia benar-benar berusaha untuk mempercayai Sae-ryun dan mencoba untuk berhubungan baik dengannya, sesuai dengan permintaan ibunya.

   “Tetapi… sebenarnya aku ingin sekali engkau bermain di pertunanganku nanti, Jin-ho…” kata Sae-ryun tiba-tiba, membuat Jin-ho melotot padanya.

   “Mwo??? Kau…”

   “Aku memang berjanji untuk tidak mengatakan kemampuanmu dalam bermain piano ini pada orang lain. Tetapi, tidak mungkin selamanya kau akan menyembunyikannya, kan? Lagipula, pertunanganku dengan Jeong-wo oppa juga akan dilaksanakan sekitar 3 minggu lagi. Itu waktu yang cukup lama kan? Aku hanya ingin membantumu saja, Jin-ho…. Hanya itu! Apakah kau juga tidak mau ikut meramaikan kebahagiaan hyung-mu di hari yang cukup penting baginya?” pinta Sae-ryun, dengan setengah memohon.

   “Aku tidak mau. Dan aku masih percaya akan janjimu padaku tadi, Jin Sae-ryun…” jawab Jin-ho, dengan tegas.

   Sae-ryun mendesah panjang setelah mendengar jawaban Jin-ho yang tidak menggembirakan untuknya itu. “Aku memang tidak akan mengatakannya kepada siapapun, Jin-ho! Tetapi, jika kelak ada yang tahu bahwa kau benar-benar bisa bermain piano, jangan salahkan aku karena memang pada akhirnya mereka akan tahu juga, benarkan?”

    “Lagipula, kenapa kau tidak mau sih? Apa alasanmu hingga kau tidak mau orang lain tahu akan kemampuanmu ini? Apakah kau takut jika orang lain tidak percaya jika kau bisa bermain piano bahkan lebih baik daripada ayahmu? Aku melihat…” tanya Sae-ryun, masih belum mengerti apa jalan pikiran Jin-ho.

   Jin-ho kembali mengalihkan pandangannya dan menatap Sae-ryun. “Mungkin… mungkin karena tidak akan ada yang percaya bahwa aku bisa menjadi seperti ayahku…” kata Jin-ho, tanpa sadar. “Bukan… bukan itu maksudku… tetapi…”

   “Ne… aku yakin mereka akan percaya. Kau tidak perlu khawatir. Aku punya rekaman ketika kau bermain piano pada waktu itu…. Dan kau bermain sangat bagus ketika itu…” kata Sae-ryun, lalu mengeluarkan handphone kesayangannya dari dalam celana jins yang dikenakannya.

   “Lihat… kau bermain sangat bagus disini! Mereka akan kagum padamu, Jin-ho…” kata Sae-ryun, sambil memperlihatkan hasil rekaman videonya pada Jin-ho.

   Jin-ho melihat video yang diputar di handphone Sae-ryun dengan seksama. Ya, itu dia. Itu adalah Jin-ho ketika ia sedang bermain piano yang ia kira tidak ada seorangpun yang melihatnya. Namun ternyata ada. Dan Sae-ryun lah orangnya. Ia lah yang membuka rahasia Jin-ho tentang kemampuannya dalam bermain piano. Kemampuan yang tidak pernah ingin Jin-ho perlihatkan kepada anggota keluarga Song. Tidak juga kepada ayahnya… ayah yang dulu dikaguminya…

   “Kau tidak akan memperlihatkan ini kepada orang-orang disini kan?” tanya Jin-ho, dengan nada serius.

   Sae-ryun mengangkat bahunya. “Tidak akan kuperlihatkan jika kau mau bermain besok di pertunanganku…” jawab Sae-ryun, dengan kemenangan mutlak. “Hello… waktumu masih panjang untuk mempersiapkan diri! Dan biarkanlah dirimu yang membuka semuanya, Jin-ho! Bukan orang lain yang mengetahuinya terlebih dulu…”

   Jin-ho menghela napas panjang. “Kau tahu, aku tidak akan mungkin bermain di pesta pertunanganmu. Dan jangan pernah bermimpi untuk hal itu, Sae-ryun…” jawab Jin-ho, tetap pada pendiriannya. “Tetapi… tunggu dulu, sepertinya aku memiliki tawaran yang menarik untukmu…”

   “Tawaran untukku? Maksudnya?”

   “Aku hanya memintamu untuk berjanji agar tidak mengatakan hal itu kepada siapapun dan kau tidak lagi memintaku untuk bermain di pesta pertunanganmu dan aku…”

   Sae-ryun menunggu kelanjutan kata-kata Jin-ho dengan sabar.

   “Dan aku akan mengabulkan satu permintaanmu… apapun itu…” lanjut Jin-ho, sambil menegakkan jari telunjuk kanannya sendiri.

   “Mwo? Apa katamu tadi?”

   “Ne…” jawab Jin-ho, dengan yakin.

   Sae-ryun memikirkan semua tawaran Jin-ho tadi baik-baik. Sementara itu, Jin-ho menunggu Sae-ryun yang sedang berpikir sambil kembali mengambil bukunya dan membacanya.

   “Aku tidak mau…” jawab Sae-ryun, sambil menggelengkan kepalanya.

   Jin-ho menghembuskan napas panjangnya sekali lagi. “Jadi… maumu apa? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak mengatakan semua itu kepada orang lain?”

   “Hm… bagaimana kalau tiga?” tawar Sae-ryun, sambil membentuk isyarat “angka tiga” di tangannya.

   Jin-ho kaget mendengar permintaan Sae-ryun, “mwo?”

   “Ne… aku tidak akan mengatakannya dan tidak memberi tahukan rekaman ini kepada semua orang, serta aku juga tidak akan memintamu untuk bermain di pesta pertunanganku lagi jika kau mau melakukan tiga permintaanku…” jelas Sae-ryun, dengan tersenyum cerdas. “Itu adil kan? Aku melakukan tiga… dan kau juga melakukan tiga… kita impas…” kata Sae-ryun lagi, meyakinkan Jin-ho.

   Jin-ho melirik ke arah Sae-ryun sebentar. Ia menatap gadis yang ada di depannya dengan tatapan tidak percaya. “MWO??? Kau?”

   “Ayolah…. Ini terdengar mudahkan?”

   “Jin Sae-ryun…”

   “Hanya tiga permintaan saja… dan aku tidak akan meminta yang aneh-aneh!”

   Jin-ho menghembuskan napasnya panjang. “Ne… aku setuju…” jawabnya, pasrah.

Sae-ryun tersenyum penuh kemenangan ketika Jin-ho menyetujui permintaannya itu. “Baiklah… aku senang karena kini kita sudah berbaikan…” kata Sae-ryun, dengan tersenyum manis.

   Jin-ho kembali melirik Sae-ryun.  Matanya lalu kembali tertuju kepada buku yang sedang berada di pangkuannya.

   “Ya sudah… kalau begitu aku pergi dulu, ya…” kata Sae-ryun, lalu berjalan meninggalkan ruang perpustakaan itu.

   Ketika langkah kakinya sudah hampir keluar dari ruangan yang besar itu, ia kembali menoleh ke arah Jin-ho. “Oh iya… Song Jin-ho!” panggil Sae-ryun lagi.

   Jin-ho melihat ke arah Sae-ryun dan menunggunya berbicara sesuatu.

“Jika pada akhirnya mereka tidak percaya padamu, kau tidak perlu khawatir… karena aku akan selalu percaya padamu…” kata Sae-ryun dengan benar-benar manis, kemudian benar-benar keluar dan meninggalkan Jin-ho sendiri.



   “Jeong-wo ya…”

   Jeong-wo membalikkan badannya. “Ne, eomma…”

Joo-young menghampiri Jeong-wo yang masih berdiri di tempatnya.

“Hm… lusa kau ada acara?”

Jeong-wo menggeleng. “Tidak ada. Tidak ada yang penting. Aku hanya akan pergi ke kantor lusa. Memangnya ada apa, eomma?”

“Lusa, pergilah ke rumah nenek… kau sudah lama tidak mengunjunginya kan?” perintah Joo-young.

“Hm?” tanya Jeong-wo, tidak mengerti. Jeong-wo merasa aneh ketika ibunya menyuruhnya untuk ke rumah neneknya, Nenek Song. Biasanya, jika bukan karena ada alasan tertentu, ibunya jarang memintanya untuk pergi ke rumah neneknya.

“Ne… kau harus meminta restu kepada nenek untuk segera melangsungkan pertunanganmu dengan Sae-ryun. Bukankah itu bagus?”

“Appa ikut?”

“Ne… dan Jin-ho akan ikut juga…”

Jeong-wo lalu mengangguk, mengerti. Kini, sudah jelas jika ayahnya lah yang telah meminta ibunya untuk menyuruh ia agar pergi ke rumah Nenek untuk mengenalkan Sae-ryun pada Nenek. Ide ini bukan usulan dari ibunya, tetapi dari ayahnya.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan memberitahu Jin-ho nanti…” kata Jeong-wo, lalu berjalan meninggalkan ibunya sendiri.

“Jeong-wo ya…” panggil Joo-young lagi, dengan pelan. “Jangan sampai kalah, ya…” kata Joo-young tiba-tiba, sehingga Jeong-wo berhenti melangkah.

 Jeong-wo membalikkan tubuhnya. Ia lalu menatap ibunya sebentar. Setelah itu,  kakinya kembali melangkah diikuti dengan tatapan tajam dari mata ibunya…



   “Jangan lupa diminum obatnya ya, Bu...” pesan Jin-ho kepada seorang wanita setengah baya yang duduk di depannya, setelah memberikan sebungkus plastik berisi obat-obatan tablet.

   “Gamsahamnida, Dok…” kata wanita itu, dengan tersenyum.

   Jin-ho lalu mengantarkan wanita itu dan anak perempuannya yang kira-kira masih berumur 5 tahun keluar dari General Clinic.

   “Terima kasih sekali lagi ya, dok… Sungguh senang karena bisa berobat dengan dokter... Semoga dokter selalu baik-baik saja dan mendapatkan gadis yang baik serta cantik…” kata wanita setengah baya itu, setelah mereka sampai di luar General Clinic.

   “Ah… mwo?” tanya Jin-ho, kurang mengerti akan maksud dari perkataan wanita yang hari ini menjadi pasien pertamanya di General Clinic.

   “Ne… Kalau begitu, saya permisi dulu… Yun-a, sampaikan salammu kepada dokter…”

   “Selamat tinggal, oppa… bekerja yang baik, ya!” kata Yun-a, kemudian mengikuti ibunya pergi dari lokasi General Clinic yang baru saja mereka kunjungi.

   Jin-ho melihat kepergian ibu dan anak kecil yang manis tadi dengan tersenyum. Ia lalu berdiri mematung di luar klinik. Ia memperhatikan wanita itu dan anaknya dengan seksama. Setelah bayangan mereka sudah menghilang dari pandangan Jin-ho, Jin-ho pun menggumam, “apa maksudnya tadi itu?”

   Karena tidak jua menemukan jawabannya, Jin-ho akhirnya kembali masuk ke General Clinic untuk melanjutkan tugas-tugasnya yang sudah menggunung.

   “Permisi…”

   Jin-ho segera membalikkan badannya ketika ia mendengar suara seorang perempuan yang sepertinya memanggilnya.

   “Hye-na ya…” gumam Jin-ho, ketika ia melihat gadis yang ada di hadapannya.

   “Doryonim…”

   Jin-ho dan Hye-na lalu masuk ke dalam klinik. Setelah menyerahkan sekaleng jus kepada Hye-na, Jin-ho kemudian duduk di depan Hye-na di lobi General Clinic.

   “Ada keperluan apa kau datang kemari?” tanya Jin-ho.

   “Saya datang kemari untuk mewawancarai Dokter Hyun Seo-joon dalam rangka menyelesaikan tugas kuliah. Doryonim sendiri sedang apa disini?”

   “Hm… aku bekerja disini. Oh iya, jika kau ingin bertemu dengan Dokter Hyun, kelihatannya tidak bisa sekarang. Tadi katanya dia pergi keluar sebentar. Tetapi jika kau mau menunggu juga tidak apa-apa, paling sebentar lagi dia juga sudah kembali…” kata Jin-ho, lalu meminum jus miliknya.

   Hye-na melihat Jin-ho yang sedang minum dengan tersenyum. Sungguh tampan… dan menarik…, kagumnya dalam hati.

   Jin-ho lalu melihat ke arah Hye-na. Melihat Hye-na yang sedang menatapnya dengan seksama, Jin-ho pun kemudian memanggil Hye-na.

   “Hye-na ya… apakah kau tidak apa-apa?”

   Hye-na menggeleng. “Aniyo… aku tidak apa-apa. Hm…” jawab Hye-na, lalu memutus perkataannya. “Doryonim hebat ya, sudah menjadi dokter sekarang…” kata Hye-na kemudian.

   “Mwo? Aniyo… aku juga baru belajar, sama sepertimu. Lagipula, aku hanya praktek saja disini sebagai dokter junior. Aku juga masih mempelajari teori sepertimu…” kata Jin-ho, menanggapi perkataan Hye-na.

   “Begitukah? Berarti… Doryonim benar-benar hebat! Aku saja belum diizinkan praktek meskipun nilaiku sudah mencukupi…” kata Hye-na, masih terus memuji Jin-ho.

   “Ya sudah kalau begitu. Terserah pendapatmu sajalah…”

   “Tetapi… sekali-sekali aku boleh membantu Doryonim disini kan? Mungkin… menjadi suster pribadi Dokter Song?” tanya Hye-na, setengah berharap pada Jin-ho.

   Jin-ho kaget ketika mendengar pertanyaan Hye-na. Namun, ia menjawab pertanyaan Hye-na dengan bijak, “tanyakan saja pada Dokter Hyun dulu. Jika boleh, jangankan menjadi suster, menjadi dokter junior sepertiku pun mungkin kau bisa, Hye-na…”

   Hye-na mendengarkan jawaban Jin-ho dengan baik. Meskipun sebenarnya jawaban itu tidak sesuai dengan harapannya, karena ia ingin menjadi suster yang membantu Jin-ho, bukan menjadi seorang dokter junior seperti Jin-ho, tetapi Hye-na tetap mengangguk mengerti.

   Tiba-tiba saja handphone Hye-na berbunyi. Hye-na lalu mengambil handphonenya itu dari dalam tas tangan yang dibawanya. Setelah membaca pesan yang dikirim untuknya, Hye-na pun kemudian memasukkan handphonenya kembali ke dalam tas.

   “Sepertinya Dokter Hyun ada urusan penting di luar sehingga tidak bisa bertemu denganku sekarang. Mungkin sebaiknya aku pulang saja ya, Doryonim…” kata Hye-na, dengan lembut dan berdiri dari tempat duduknya.

   Jin-ho lalu ikut berdiri seperti Hye-na. “Aku antar sampai ke luar, ya…”

   Jin-ho dan Hye-na  kemudian berjalan bersama, ke luar dari General Clinic. Setelah sampai di luar, Hye-na lalu berhenti untuk mengucapkan salam perpisahan.

   “Aku pulang dulu ya, Doryonim…” katanya, dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.

   “Ne… berhati-hatilah di jalan… tetap semangat untuk belajar, ya!” pesan Jin-ho kepada Hye-na yang diikuti dengan senyum lebar yang tetap nampak dari wajah Hye-na.

   Hye-na lalu melambaikan tangannya kepada Jin-ho. Setelah itu, taksi yang membawa Hye-na sudah pergi dari halaman General Clinic dimana tempat Jin-ho berdiri…

   Sementara itu, tanpa Jin-ho dan Hye-na ketahui, seorang pemuda tampan dengan jas hitam rapi sedang mengawasi mereka.

   “Hye-na ya… kenapa kau bisa tersenyum semanis itu ketika melihat Jin-ho? Kenapa matamu begitu berbinar saat engkau bersama dengannya? Apakah engkau menyukainya?” gumam pemuda itu pada dirinya sendiri, yang tak lain adalah Jeong-wo.

   “Apakah engkau tidak tahu bahwa aku sangat menyukaimu?”



the end....


aku minta maaf ya, atas ketidakmunculanku yang saaaaaaaaaaangat lama ini....  [sweat] [sweat] [sweat]
terima kasih kepada kakak-kakak yang sudah mengingatkanku bahwa aku sudah tidak update dan tidak muncul selama hampir satu bulan...  [heh] [heh] [heh]
aku minta partisipasinya lagi ya.....
selamat menikmati dan semoga terhibur.....  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

 [flowers] [flowers] [flowers]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #48 on: September 25, 2010, 05:27:00 am »
Heethi, thanks udah diupdate,, mian belum sempat baca jadi belum bisa komen [biggrin] [biggrin] sekrg lg sibuk ama ff sendiri, klu udah baca tar gw komen lagi,, once again thanks [huglove] [huglove]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #49 on: September 25, 2010, 05:45:28 am »
sist heethi maksyong dah update [flowers]
ntar ya komennya, aku lom baca [biggrin]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #50 on: September 25, 2010, 06:44:24 am »
Heethi,gomawo dear dah diupdate. Wah t'nyata jeong woo diam2 menyukai hye na. Mmm sptnya p'tunangan jeong woo dan sae ryun nampak bklan kgk jadi ya sist(asal nebak). Wah berarti jeong woo,sae ryun and jin ho bklan pergi bertiga ya sist,jd ga sbr nunggu sweet moment sae ryun and jin ho. Kyknya eommanya jin ho suka ama sae ryun,spt pgn sae ryun jd menantunya,hehehe.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #51 on: September 25, 2010, 12:19:26 pm »
Heethi,gomawo dear dah diupdate. Wah t'nyata jeong woo diam2 menyukai hye na. Mmm sptnya p'tunangan jeong woo dan sae ryun nampak bklan kgk jadi ya sist(asal nebak). Wah berarti jeong woo,sae ryun and jin ho bklan pergi bertiga ya sist,jd ga sbr nunggu sweet moment sae ryun and jin ho. Kyknya eommanya jin ho suka ama sae ryun,spt pgn sae ryun jd menantunya,hehehe.

iya... tapi gak hanya bertiga aja...
Hye-na tentunya ikut....  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
ini kan cerita cinta segi empat, jadi Hye-na juga harus ikut meramaikan....  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

thanks ya karena udah baca....  [jumpy] [jumpy] [jumpy]

 [flowers] [flowers] [flowers]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #52 on: September 25, 2010, 07:39:08 pm »
hmmm--sebenarnya gw lum dpt perasaan jinho ke saeryun. sebnrnya perasaannya gimana sih [what] [what] kyknya dia datar2 aja. sbg sahabat jg enggak mirip [sweat] [sweat] tertarik? apalagi [heh] [heh] tp klu benci jg, sptnya berlebihan [goodgrief] [goodgrief] .. kok perasaan gw saeryun yg dikira jinho tdk sama dgn saeryun menurut gw. apa benar dia kekanak2an [chin] menurut gw enggak. malah si jinho yg lebih kekanak2an [laughing] [laughing]

sedgk saeryun sendiri [chin] [chin] terlalu agresif menurut gw. jinho tuh calon adik iparnya, not namja yg ingin dikejarnya, kok sifatnya maksa bgt ke jinho. sampai gw merasa dia udah punya feeling ke jinho [lovestruck] [lovestruck] tp klu bnr kenapa dia tenang2 aja ama pertunangannya ama jeongwoo yg wktnya tinggal seminggu lg [what]

soal hyena, gw ngerasa dia akan cocok dgn jeongwoo tp sayang dia menyukai jinho [sweat] [sweat] cuma perasaan hyena ini yg plg jelas. yg lain--terutama jinho and saeryun, termasuk jeongwoo yg menerima aja rencana pertunangan dan pernikahannya dgn saeryun-- masih tebak2 buah manggis [hmff] [hmff]

ayo ayo update lagi say [smiley-gen013] [smiley-gen013] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: The Secret Flower
« Reply #53 on: November 12, 2010, 10:13:20 pm »
Mana nie update.a nya. . . Di tunggu loh sist heethi. . .
 Update! [smiley-gen013]
 update! [smiley-gen013]
 semangat!

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #54 on: November 13, 2010, 04:11:51 am »
Mana nie update.a nya. . . Di tunggu loh sist heethi. . .
 Update! [smiley-gen013]
 update! [smiley-gen013]
 semangat!

 [heh] [heh] [heh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #55 on: November 13, 2010, 07:04:10 am »
gw jg nunggu updatean [chin] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline cHa_cHaa

  • Newbie
  • *
  • Posts: 22
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #56 on: November 13, 2010, 08:50:21 am »
Ayo dong kak ...
UPDATE......!!!!
UPDATE..........!!!!!!
UPDATE........!!!!!!
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
SEKARANG..............................!!!!!!!!
JANGAN LAMA"......!!!
UD LUMUTAN NHI KAK NUNGGU UPDATE'NYA...
PLEASE......!!!! PLEASE...........!!!

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #57 on: November 17, 2010, 06:13:24 am »
[size=12

Chapter 5

   “Apakah seluruh barang bawaan dan koper Doryonim sudah siap?”

   Jin-ho mengangguk. “Ne… tolong panggilkan Pelayan Min kesini untuk meletakkan barangku di mobil ya, Hye-na…” pinta Jin-ho kepada Hye-na, pelayan pribadinya yang baru.

   Kemarin, ketika Jin-ho pulang dari General Clinic, ia mendapatkan dua berita penting. Pertama, ia, Jeong-wo, Yook-jae, dan Sae-ryun akan pergi ke Himeji (Jepang), kota tempat tinggal Nenek Song berada. Lalu yang kedua adalah, Pelayan Na atau yang sering dipanggil Hye-na oleh kedua tuan muda Song, mulai menjadi pelayan pribadi Jin-ho selama Jin-ho tinggal di Song Mansion bersama ibunya. Awalnya Jeong-wo merasa keberatan dan tidak setuju karena ia sudah merasa nyaman bersama Hye-na. Tetapi, Yook-jae tidak mengindahkannya. Menurutnya, Jin-ho lebih membutuhkan Hye-na daripada Jeong-wo yang sudah lama tinggal di Song Mansion. Oleh karena itu, kini Hye-na menjadi pelayan pribadi Jin-ho sejak Jin-ho dan ibunya pindah dari Ha Na House ke Song Mansion.

   Hye-na mengangguk, lalu keluar dari kamar Jin-ho yang sudah rapi dan bersih itu. Setelah Pelayan Min datang menemui Jin-ho dan meletakkan semua barang milik Jin-ho di dalam mobil, Jin-ho dan Hye-na lalu keluar dari rumah utama Song Mansion untuk berkumpul dengan keluarga yang lain di gazebo samping rumah.

   “Selamat pagi, Doryonim…” sapa salah seorang pelayan Song Mansion, saat Jin-ho berjalan menaiki tangga menuju gazebo.

   “Ne…” balasnya.

   Jin-ho lalu duduk di sebelah Eun-hye, sementara itu Hye-na berdiri di belakang Jin-ho sambil meletakkan kedua tangannya di depan dengan sopan.

   “Baiklah… karena semuanya sudah hadir, ayo kita mulai sarapannya…” kata Yook-jae, sekaligus menjadi perintah untuk Pelayan Han dan pelayan di bawahnya untuk menyajikan sarapan di hari itu.

   Setelah makanan dan minuman tersaji di meja makan, Keluarga Song dan Sae-ryun mulai makan dengan tenang.

   “Apakah kau akan tinggal di rumah ibu dalam waktu yang lama, sayang?” tanya Joo-young pada Yook-jae, dengan nada manja khas yang dimilikinya.

   “Ne… tidak terlalu lama. Paling hanya 1 minggu…” jawab Yook-jae.

   “Mwo? Tidakkah itu terlalu lama, sayang?”

   Yook-jae menghentikan makannya. “Tidak… itu tidak lama. Tinggal di rumah ibu sangat menyenangkan. Jin-ho dan Jeong-wo saja tahu tentang hal itu…” kilah Yook-jae, tetap teguh pada pendiriannya.

   Joo-young akhirnya diam dan menurut. Ia tidak lagi membantah kata-kata Yook-jae yang memang apabila sudah dikatakan A, maka akan susah untuk dirubah menjadi B. Pendirian dan sikap tegas telah menjadi ciri khas yang tidak bisa dipisahkan dari seorang Song Yook-jae lagi.

   “Oh ya, Sae-ryun, apakah kau sudah pernah ke Jepang sebelumnya?” tanya Yook-jae, lalu kembali melanjutkan sarapannya.

   “Sudah, paman. Bukankah dulu aku, eomma dan appa sudah pernah mengunjungi villa paman di Jepang? Paman lupa, ya?”

   Yook-jae mengernyitkan dahinya sebentar, menggali pikirannya kembali ke masa dulu. “Oh iya… aku lupa! Dulu… dulu sekali… benarkan?” seru Yook-jae, ingat ketika Sae-ryun dulu pernah mengunjunginya di Jepang.

   “Ne…”  Sae-ryun mengangguk dengan semangat. “Dulu… sangat dulu… dulu ketika sakura tengah bermekaran dengan sangat indahnya…. Dan Jeong-wo oppa pasti mengerti apa maksudku, benarkan oppa?”

   Sae-ryun mengalihkan pandangannya dari Yook-jae kepada Jeong-wo yang duduk di sebelahnya. Sae-ryun tersenyum. Dan Jeong-wo yang melihat Sae-ryun bahagia seperti itu, hanya mengangguk saja meskipun sebenarnya tidak mengerti apa maksud dari perkataan Sae-ryun tadi.

   Jin-ho melirik ke arah Sae-ryun sebentar. Ia seperti menangkap maksud dari perkataan Sae-ryun tadi dengan baik. Tetapi, Jin-ho segera melanjutkan makannya dan tidak mempedulikan perasaan hatinya yang sangat penasaran dengan ucapan-ucapan Sae-ryun yang terdengar familiar di telinganya.

   “Dan aku senang, karena sekarang bisa berkunjung ke rumah Nenek Jeong-wo oppa. Semoga aku bisa membantu, ya,” lanjut Sae-ryun, dengan mata yang bercahaya.

    Yook-jae mengangguk. “Benar… dan aku harap, kau akan senang ketika berada disana, Sae-ryun…”

   “Ne… aku harap juga begitu, paman,” kata Sae-ryun, dengan tersenyum manis.

   15 menit telah berlalu. Seluruh piring kotor sudah diangkat dan dibawa ke dapur. Dan kini, meja itu sudah terisi kembali dengan kue-kue kecil dan jus untuk penutup.

   “Aku akan ke mobil duluan. Jika kalian sudah selesai, cepat kesana agar tidak banyak membuang waktu…” kata Yook-jae, lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan gazebo tempat Keluarga Song sedang sarapan.

   Beberapa menit kemudian, Jin-ho, Jeong-wo, Sae-ryun, dan Hye-na sudah berkumpul di depan mobil yang akan membawa mereka ke bandara. Setelah berpamitan kepada orang rumah yang tinggal, mereka pun berangkat ke bandara setelah mengecek bahwa tidak ada barang yang ketinggalan.



   Himeji, Jepang…

   “Doryonim dan agashi pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh kan?”

   Pelayan Nam, kepala pelayan rumah Nenek Song, menyambut kedatangan Yook-jae dan rombongannya dengan hangat dan sopan. Setelah mereka tiba di ruang tengah, tampaklah seorang wanita tua berambut coklat yang sedang duduk di kursi goyang menghadap ke arah jendela di depannya. Wanita tua itu terlihat sedang termenung, memandang langit melalui jendela seperti mencari sesuatu.

   “Jin-ho ya… kau sudah datang?”

   Jin-ho yang dipanggil seperti itu, langsung tersentak kaget. Mereka belum mengatakan apa-apa. Tetapi entah mengapa, neneknya itu mengetahui bahwa ia sedang berdiri di hadapannya sekarang.

   “Ne… halmonie….” jawab Jin-ho, dengan pelan.

   Perlahan, Jin-ho berjalan mendekati Nenek Song yang masih duduk dengan tersenyum. Ia senang, kini ia bisa melihat dan bertemu dengan nenek kesayangannya itu. Dan setelah sampai di depan neneknya, Jin-ho lalu berjongkok dan memegang tangan neneknya dengan hangat.

   “Halmonie…”

   “Kau tahu, seperti biasa, sakura-sakura itu memberitahuku bahwa kau akan datang…” ucap Nenek Song, lalu memandang Jin-ho di depannya dengan penuh kasih. “Dan aku senang, karena kau masih ingat untuk menjengukku disini…”

   Jin-ho kembali menyunggingkan senyum di bibirnya dengan tulus. “Dan aku juga senang, karena bunga-bunga sakura itu tidak pernah lupa untuk mengingatkanku bahwa halmonie selalu menungguku disini…” kata Jin-ho, sambil memeluk neneknya itu dengan pelan. “Apakah halmonie baik-baik saja?”

   Nenek Song mengangguk, tetapi tidak menjawab. Jin-ho yang melihat neneknya diam saja itu, akhirnya melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangannya kepada Pelayan Nam yang masih berdiri di belakangnya.

   “Pelayan Nam, apakah halmonie baik-baik saja?” tanya Jin-ho, dengan tatapan tajam. Jin-ho memang sengaja memasang tampang serius seperti itu kepada Pelayan Nam, agar pelayan setia neneknya itu dapat berkata jujur dan tidak mengikuti perkataan neneknya agar berbohong kepadanya seperti dulu ketika ia masih kecil.

   Pelayan Nam bergidik sedikit ngeri. “Tekanan darah sedikit turun menjelang musim tumbuh bunga Sakura tiba, doryonim. Tetapi, sekarang nyonya tidak apa-apa…” jawab Pelayan Nam, setelah menghembuskan napas panjang agar tenang. “Dan saya telah memberitahu nyonya bahwa doryonim dan agashi akan datang hari ini, tetapi nyonya tidak mau percaya dan malah menyuruh saya untuk mengantarnya keluar dan halmonie belum minum obat sampai sekarang….”

    Jin-ho mendengar penjelasan dari Pelayan Nam dengan seksama. Ia lalu melihat neneknya lagi. “Benar-benar neneknya Song Jin-ho, ya…” seru Jin-ho, dengan tersenyum manis. Sementara itu, Nenek Song yang mendengar ucapan dari cucunya tadi juga ikut tersenyum dan mencubit kecil pinggang Jin-ho. “Jangan katakan itu lagi!” perintah Nenek Song, menggoda Jin-ho, pertanda tidak serius.

   Yook-jae ikut tersenyum melihat keakraban yang terjalin antara Jin-ho dan ibunya itu. Sae-ryun yang masih berdiri juga tersenyum saat matanya menangkap cubitan kecil dari Nenek Song kepada Jin-ho. Dan ketika Sae-ryun mengalihkan pandangannya kepada Jeong-wo yang berdiri tegak di sampingnya, Sae-ryun dapat melihat… bahwa Jeong-wo menatap pemandangan itu dengan tajam… dan seperti tidak suka….



   “Oppa… sekarang kita akan kemana?” tanya Sae-ryun pada Jeong-woo.

   Jeong-woo terdiam, berpura-pura berpikir. “Hm… bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman saja? Bukankah tadi kau ingin melihat bunga sakura?” jawab Jeong-woo, sambil menatap Sae-ryun yang sedang berjalan di sebelahnya.

   Sae-ryun langsung mengangguk senang. Dengan refleks, Sae-ryun memeluk tubuh Jeong-woo dari samping dengan erat. “Ne. Gomapta, oppa. Oppa memang sangat baik padaku.”

   Jeong-woo tertegun melihat tingkah laku Sae-ryun padanya yang begitu tiba-tiba. Ia sungguh merasa menyesal karena telah berbohong pada Sae-ryun selama ini. Ia tidak menyukainya. Lebih tepatnya, ia memang sudah tidak menyukai gadis itu sejak awal pertunangan ini. Tetapi, ia tidak bisa menolak. Memang, ini bukanlah suatu perjodohan. Jeong-woo sendirilah yang telah mengucapkan cinta dan meminta Sae-ryun untuk menjadi partner hidupnya seumur hidup. Namun, itu tidak benar-benar dari hatinya. Itu karena permintaan ibunya. Dan Jeong-woo tidak pernah bisa dan tidak pernah mau untuk menolak semua perintah dan permintaan dari ibunya. Ia menyayangi ibunya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang ingin dibahagiakannya kecuali ibunya. Meskipun pada akhirnya, kini ia harus semakin berusaha untuk membunuh perasaannya sendiri pada Hye-na, gadis yang sebenarnya mampu membuatnya benar-benar jatuh cinta.

   Sae-ryun melepaskan pelukannya dari Jeong-woo. Ia lalu menatap Jeong-woo dan tersenyum. Jeong-woo yang melihat Sae-ryun seperti itu, juga ikut tersenyum meskipun agak sedikit terpaksa.

   Di taman sakura…

   Sae-ryun langsung terkagum-kagum melihat pemandangan yang ada di depannya sekarang. Begitu banyak pohon bunga sakura yang berdiri dan tumbuh tegak disana. Sae-ryun menapaki jalan berbatu yang tertutup bunga sakura dan daun-daun kering itu dengan perlahan. Sementara itu, Jeong-woo masih mengikutinya dengan terus berjalan di sebelahnya.

   “Oppa… ini indah sekali! Aku tidak mengira ada pemandangan seindah ini…” gumam Sae-ryun pelan, tetapi masih terdengar oleh Jeong-woo.

   Jeong-woo mengangguk senang. Ia juga menikmati keindahan yang ditunjukkan oleh puluhan bunga di depannya itu. Meskipun tidak terlalu suka pada sakura, tetapi Jeong-woo tetap mengakui bahwa sakura memang indah. Dan memang mampu menarik perhatian.

   Sae-ryun mendekati salah satu pohon di dekatnya. “Sayang sekali ya, dua minggu lagi mereka akan gugur. Sungguh, aku ingin sekali melihat mereka tetap hidup dan selalu tumbuh untuk mewarnai dunia. Bukankah oppa juga ingin begitu?” kata Sae-ryun, lalu meminta jawaban “iya” dari mulut Jeong-woo.

   Namun sayang, apa yang diharapkan oleh Sae-ryun tidak didapatkannya sekarang. Jeong-wo hanya mengangguk tanpa menampakkan ekspresi wajah yang begitu kagum pada bunga sakura. Hanya sebuah anggukan dan setelah itu sudah.

   Sae-ryun menatap Jeong-woo dengan kecewa. Mengapa hanya begitu saja? Tidakkah ia ingin mengatakan sesuatu seperti dulu? Seperti dulu ketika mereka berdua yang masih kecil melihat bunga sakura bersama-sama? Bukankah dulu ia sangat menyukai bunga sakura? Bahkan ketika itu, aku bisa melihat dari matanya bahwa ia begitu berharap pada bunga sakura agar tidak gugur dan terus menemaninya sampai mati. Tetapi, mengapa sekarang ia biasa saja ketika melihat ini semua? Mengapa ia tidak menampakkan mata yang indah dan teduh seperti dulu?

   Sae-ryun masih berkutat di dalam pikiran-pikirannya seorang diri. Jeong-woo yang melihat Sae-ryun diam saja, akhirnya menyentuh pundak gadis cantik itu dengan pelan. Dan jelas, Sae-ryun tersentak kaget meskipun tidak teriak.
   “Kau kenapa? Kau baik-baik saja kan?” tanya Jeong-woo, sedikit khawatir pada Sae-ryun.

   Sae-ryun langsung menggeleng dengan kuat. “Aniyo… aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku malah berpikir bahwa oppa yang sedikit kenapa-napa…” jawab Sae-ryun, pelan.

   Jeong-woo mengernyitkan dahinya. “Aku? Aku kenapa-napa? Memangnya aku terlihat tidak baik, ya?” tanya Jeong-woo, bingung pada pernyataan Sae-ryun tadi.

   Sae-ryun melihat Jeong-woo sejenak. Ia menatapnya dengan tajam. Karena tidak juga menemukan apa yang ia cari, Sae-ryun akhirnya menyerah dan langsung mengalihkan pandangannya. “Hm… oppa terlihat baik-baik saja, kok! Aku hanya salah lihat saja tadi. Aku kira mata oppa sakit, tetapi ternyata tidak. Maaf ya oppa, karena telah sedikit mencemaskanmu,” ucap Sae-ryun, berusaha tersenyum meski sebenarnya tidak ingin.

   “Ayo jalan lagi! Kau pasti ingin melihat pohon sakura yang lebih indah kan?” ajak Jeong-woo, lalu menggandeng tangan Sae-ryun.

   Sae-ryun masih belum bergerak. Ia tidak mengikuti langkah kaki Jeong-woo yang mulai berjalan pergi dari tempat itu. Jeong-woo lalu melihat Sae-ryun di belakangnya. Ia menatap gadis itu kembali dengan dahi yang berkerut.

   “Apakah masih ada yang janggal?” tanya Jeong-woo, berusaha mengerti perasaan hati Sae-ryun yang kelihatannya agak sedikit lain hari ini.

   Sae-ryun kembali menatap Jeong-woo. “Hm… apakah oppa sebenarnya suka pada bunga sakura?” tanya Sae-ryun, dengan sedikit ragu tetapi sangat ingin tahu.

   Jeong-woo kaget mendengar pertanyaan Sae-ryun. Ya, dulu ketika ia menyatakan cinta pada gadis itu, gadis itu menerimanya. Dan saat ditanya mengapa gadis itu menerimanya, Jeong-woo tidak mengerti apa maksud jawaban yang diutarakannya. Gadis itu bilang, bahwa ia suka pada sosok Jeong-woo yang suka pada bunga sakura. Dan gadis itu berharap agar Jeong-woo mau menjadikannya sebagai pengganti bunga-bunga sakura yang hanya bertahan selama dua minggu itu di hati dan hidupnya. Meskipun tidak mengerti apa arti dari jawaban Sae-ryun, Jeong-woo hanya mengiyakan saja. Dan ternyata, satu hal yang membuat Jeong-woo tidak mengerti itu (bunga sakura), masih selalu diingat oleh Sae-ryun dan sangat penting untuk gadis itu. Dan itu terbukti dengan pertanyaannya pada hari ini. Pertanyaan yang membuatnya kembali harus berbohong entah untuk yang keberapa kali.

   Jeong-woo menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya agar kembali kuat untuk berbuat hal yang salah. Ia lalu melihat Sae-ryun. “Ne. Aku suka bunga sakura. Aku sangat menyukainya. Meskipun tidak terlalu terlihat, tetapi aku menyukainya. Sama ketika aku melihatmu sebagai bunga sakuraku untuk selamanya…” jawab Jeong-woo, pelan.

   Sae-ryun tertegun mendengar jawaban dari tunangannya. Ia senang, sekaligus ragu. Jeong-woo yang masih melihat keraguan dari mata Sae-ryun akhirnya memeluknya untuk meyakinkannya. Sae-ryun terkejut, namun kemudian tersenyum.

   “Aku harap, oppa tidak berbohong. Aku benar-benar menyukai oppa. Dan aku tidak ingin oppa menjadi orang lain yang tidak kukenal…” ucap Sae-ryun dengan suara yang kecil.

   Jeong-woo hanya bisa diam ketika mendengar permintaan Sae-ryun padanya. Ia tidak berubah. Sama sekali tidak berubah. Ia hanya berbohong. Dan Sae-ryun tidak tahu itu. Ia melakukan itu karena terpaksa. Dan untuk itu ia merasa bodoh. Ia memberikan harapan dan cinta yang palsu pada Sae-ryun. Dan ia meminta maaf karena itu. Meski hanya bisa mengatakan itu di dalam hati, tetapi Jeong-woo benar-benar ingin Sae-ryun tahu tentang kejujurannya…



   “Kau sedang membaca apa? Kelihatannya serius sekali.”

   Jin-ho menghampiri Hye-na yang sedang duduk dengan tenang di teras depan. Ia mengintip buku yang sedang dibaca oleh Hye-na. Ia kemudian tersenyum.

   “Kau sangat suka novel romantis, ya?” tanya Jin-ho.

   “Hm… ne…” jawab Hye-na, gugup.

   Jin-ho kembali tersenyum. “Aku suka kau, Hye-na. Kau gadis yang pintar. Kau juga suka membaca. Jarang sekali lho ada gadis sepertimu!” kata Jin-ho, memuji Hye-na.

   Hye-na langsung tersipu malu. Ia tidak menyangka jika pemuda yang disukainya itu akan berkata seperti ini padanya. Ini adalah sebuah keajaiban untuknya.

   “Hm…”

   Jin-ho tidak bisa menahan keinginannya untuk tertawa lagi. Ia lalu mengelus-elus kepala Hye-na dengan lembut. “Aku hanya bercanda. Aku suka kau sebagai seorang teman. Lagipula, aku juga suka kau karena kau adalah seorang teman yang baik dan pintar. Aku tidak benar-benar serius mengatakannya, Na Hye-na! Kau tidak perlu merasa malu seperti itu…” kata Jin-ho lagi, ketika ia melihat wajah Hye-na yang sudah sepenuhnya merah padam itu.

   Hye-na mengelus-elus dadanya dengan pelan. Jika kau benar-benar menyukaiku juga tidak apa-apa, kok. Aku malah senang. Karena aku juga suka kau. Tetapi, itu tidak hanya menjadi sebuah mimpi saja kan? Meskipun sekarang kau menganggapku sebagai teman, tetapi besok kau bisa melindungiku sebagai seorang wanita kan?, tanya Hye-na di dalam hati.

   Jin-ho kembali tertawa melihat tingkah laku Hye-na yang mengelus-elus dadanya seperti itu. Jin-ho lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tanpa sengaja, matanya terarah pada sebuah pohon sakura favoritnya. Ia lalu berjalan mendekati pohon itu. Dengan sedikit menjinjit, ia memetik sekuntum bunga sakura. Diciuminya bau harum bunga itu dengan pelan. Sejenak, ia dapat merasakan kedamaian di hatinya.

   “Doryonim suka sekali pada bunga sakura, ya?” tanya Hye-na, memunculkan wajahnya di samping Jin-ho.

   Jin-ho mengalihkan pandangannya yang tadi terpejam kepada Hye-na. Ia tersenyum. Ditatapnya bunga sakura di tangannya dan ia pun menjawab, “ne... aku sangat suka bunga sakura. Sakura itu keren. Mungkin akan terasa aneh jika seorang pemuda menyukai bunga. Tetapi, aku tidak bisa berpaling dari pesonanya. Ia benar-benar indah. Meskipun, ia tidak lebih indah daripada sakura rahasiaku…”

   Hye-na menatap Jin-ho dengan seksama. “Sakura rahasiaku? Maksud doryonim, seorang gadis yang doryonim suka?” tanya Hye-na, penasaran.

   Jin-ho tersenyum manis. “Hm… ne. Sakura rahasiaku itu adalah gadis yang kusuka. Aku kira, sakura adalah satu-satunya hal yang paling indah dan menyejukkan di dunia ini. Tetapi ternyata tidak. Setelah bertemu dengannya, aku merasa itu salah. Sakura rahasiaku ini… lebih indah dan menyejukkan. Dan yang jelas, lebih unik. Meskipun aku tidak tahu dimana ia sekarang, tetapi aku yakin akan bertemu dengannya suatu saat nanti… entah kapan…”

   Hye-na menatap Jin-ho dengan sedikit cemburu. Ia tidak suka jika pemuda itu memuji gadis lain. Dan meskipun Hye-na tahu bahwa Jin-ho sudah menyukai orang lain, tetapi ia tidak akan menyerah. Bisa saja kan, gadis itu kembali atau… tidak akan hadir lagi?

   Jin-ho lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada Hye-na. “Bisakah kau mengambilkanku sebuah minuman? Aku haus sekali…” pinta Jin-ho, yang langsung diikuti oleh anggukan dan langkah kaki Hye-na.

   Sepeninggalnya Hye-na yang berjalan ke dapur, Jin-ho kembali mengamati bunga sakura di tangannya. Ia sangat suka bunga itu. Dan ketika ia sedang asyik-asyiknya melihat pohon sakura di depannya, ayahnya datang dan berdiri di sampingnya.

   Jin-ho terkaget melihat sesosok pria sudah berdiri di sebelahnya. Ia menundukkan badannya sebentar ke arah Yook-jae, kemudian kembali berdiri dengan tegak dan sedikit kaku.

   “Bagaimana kabarmu selama berada di Indonesia kemarin? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Yook-jae, mencoba membuka percakapan dengan Jin-ho.

   Jin-ho mengangguk pelan. “Saya baik-baik saja, appa.”

   Yook-jae menatap Jin-ho. “Kau tidak perlu berbicara seresmi itu kan? Apakah sejak kejadian itu… kau memang tidak ingin dekat denganku lagi?” tanya Yook-jae, berusaha memancing Jin-ho untuk membuka perasaannya yang sebenarnya.

   Jin-ho hanya diam. Ditariknya napasnya dalam-dalam, kemudian berkata, “aku ingin dekat dengan appa. Tetapi, aku belum bisa melupakan kejadian itu.” Jin-ho kembali terdiam. “Memang, kejadian itu bukan kesalahan appa. Tetapi, karena kesalahanku sendiri. Oleh karena itu, aku benar-benar minta maaf karena ini…”

   Yook-jae menatap Jin-ho dengan sendu. Kejadian dua tahun yang lalu itu, ternyata telah mampu membuat Jin-ho jauh darinya. Ia mengerti, Jin-ho tidak membencinya. Tetapi, ia juga tahu, bahwa Jin-ho pasti kecewa padanya. Mungkin semua itu terjadi bukan karena kesalahannya. Namun, untuk mengatasi masalah dari kejadian itu, ia yang harus bersikap bijak. Dan sayangnya… ia tidak seperti itu ketika kejadian itu sedang nyata terjadi…

   “Aku juga ingin meminta maaf pada appa karena sikapku yang kekanak-kanakan seperti ini. Mungkin seharusnya aku sekarang melupakannya. Tetapi… jangan paksa aku untuk bisa melakukannya! Mungkin juga nanti appa memang harus memaksaku, tetapi nanti saja ya… jangan sekarang…”

   Yook-jae benar-benar merasa sedih ketika melihat Jin-ho yang seperti ini. Ia tahu betul bagaimana perasaan Jin-ho sekarang. Pemuda itu… anaknya ini… Song Jin-ho, harus kehilangan cita-citanya ketika ia hampir mendapatkannya. Semua itu terjadi karena dirinya yang terlalu egois dan emosional saat itu. Dan ketika ia tahu kebenarannya, ia sungguh merasa menyesal dan bersalah pada anak itu. Tetapi, Jin-ho malah biasa saja. Ia memaafkannya… ya, Yook-jae tahu jika Jin-ho telah memaafkannya, benar-benar memaafkannya! Namun... bukan itu yang penting. Sekarang, Jin-ho malah tidak mau mencoba cita-citanya lagi meskipun Yook-jae dan Eun-hye sudah membujuknya. Jin-ho menjadi sedikit berbeda. Jin-ho tidak lagi melakukan semuanya sesuai dengan keinginannya dan perasaan hatinya. Ia menjadi terlihat terpaksa dan tertekan ketika melakukan ini dan itu, terutama jika sudah menyangkut dengan Joo-young dan Jeong-woo, ibu dan saudaranya yang lain. Makanya, ketika Yook-jae menyuruh Jin-ho untuk tinggal di Song Mansion, ia kira akan sulit. Tetapi ternyata tidak, karena Eun-hye telah membantunya untuk itu.

   Yook-jae menghembuskan napasnya panjang. “Baiklah. Aku tidak ingin memaksakan apapun padamu, termasuk untuk bekerja di kantor dan meraih cita-citamu yang dulu lagi. Mungkin, dokter yang terbaik, tetapi aku pun juga tidak tahu. Hanya kau yang tahu tentang hal itu… dan jangan ragu untuk melakukannya jika kau ingin melakukannya dan kau yakin jika itu benar dan yang terbaik!”

   Jin-ho mengangguk perlahan. Ia lalu melihat Yook-jae yang sudah melangkah pergi. Ia sebenarnya tidak ingin berkata seperti itu pada ayahnya. Tetapi, itulah perasaannya sekarang. Mungkin bisa berubah. Dan ia sebenarnya sangat ingin agar perasaan itu berubah…



   “Jin-ho ya…”

   Jin-ho mengalihkan pandangannya ke belakang. Di belakang, ia dapat melihat Nenek Song bersama Sae-ryun, yang sedang mendorong kursi roda Nenek, berjalan ke arahnya.

   Jin-ho lalu memutar tubuhnya. “Halmonie sedang apa disini?” tanya Jin-ho, sambil membungkuk agar dapat melihat wajah neneknya dengan jelas.

   Halmonie memandang Jin-ho dengan tulus. Ia kemudian tersenyum. “Halmonie ingin pergi jalan-jalan.”

   “Apakah aku perlu menemani halmonie?” tawar Jin-ho, dengan mata teduhnya.

   Halmonie masih tersenyum. “Tidak perlu. Sae-ryun sudah ada di belakang halmonie dan berniat untuk mengantar halmonie jalan-jalan,” jawab Nenek Song, menolak halus tawaran dari Jin-ho.

   Jin-ho menatap tajam ke arah Sae-ryun. “Kenapa tidak bersamaku saja? Biarkan Sae-ryun pergi dengan Jeong-woo dan aku yang mengantar halmonie, bagaimana? Halmonie tidak ingin mengganggu orang pacaran kan?” bujuk Jin-ho lagi, yang membuat Sae-ryun sedikit tidak suka.

   Sae-ryun akhirnya angkat bicara. “Aku ingin mengantar halmonie jalan-jalan, Jin-ho! Kau tidak perlu repot-repot untuk menawarkan diri lagi. Lagipula. Jeong-woo oppa sedang mandi, jadi tidak mungkin untuk mengajaknya jalan-jalan,” kata Sae-ryun, sedikit ketus.

   Jin-ho tetap tidak menyerah. “Sudahlah halmonie, denganku saja ya! Aku sedang tidak ada kerjaan hari ini. Apakah halmonie tidak merindukanku?” Jin-ho kembali membujuk neneknya dengan manja.

   “Song Jin-ho, biarkan aku berdua dengan halmonie sekarang! Aku sangat ingin dekat dengan halmonie. Kau kan sudah sering jalan-jalan bersama halmonie, mengapa kau tidak mengizinkanku untuk bersamanya walau hanya sekali saja?” sahut Sae-ryun tiba-tiba, karena tidak senang dengan sikap Jin-ho yang kelihatannya ingin menjauhkannya dari Nenek Song.

   “Kau tahu, kau itu sok kenal dan sok dekat! Dan aku tidak suka itu. Dan halmonie pun juga tidak suka itu. Oleh karena itu, kau tidak perlu memaksakan diri untuk dekat dengan halmonie. Lagipula, kau itu juga cerewet dan kekanak-kanakan. Bukannya menjaga halmonie, nanti kau malah merepotkannya. Dan satu lagi… halmonie itu orang baik, jadi kau tidak perlu khawatir jika halmonie tidak merestui hubunganmu dengan Jeong-woo nanti…” kata Jin-ho, blak-blakan.

     Sae-ryun menatap Jin-ho dengan tidak percaya. “Apa kau bilang? Kau itu ya… sudah keterlaluan! Memangnya kau pikir, karena Jeong-woo oppa makanya aku mau bersikap baik pada halmonie, hah? Tidak, Song Jin-ho… TIDAK!!! Dan aku tahu, kau memang tidak suka padaku sejak awal. Tetapi, bukan berarti kau berhak membuat orang lain tidak menyukaiku kan? Lagipula, aku juga tidak pernah menyukaimu! Apakah kau tidak sadar, jika kau itu sungguh dingin dan kaku sekali? Apakah menurutmu itu membuat orang lain senang terhadapmu dan suka bergaul denganmu?” bentak Sae-ryun, marah.

   Jin-ho menatap Sae-ryun dengan tajam. Begitu pun juga dengan Sae-ryun, ia menatap pemuda itu dengan tajam. Sementara itu, halmonie yang berada di tengah-tengah mereka, akhirnya melerai juga. “Sudah… sudah…. Kalian tidak boleh begini. Sebentar lagi, kalian akan menjadi saudara kan, mengapa kalian malah bertengkar? Dan jika kalian seperti ini terus, kalian berarti memang kekanak-kanakan! Dan aku paling tidak suka dengan cucu yang kekanak-kanakkan!” ucap Nenek Song, lalu mendorong kursi rodanya seorang diri, meninggalkan kedua anak itu yang masih saling melotot satu sama lain.



   “Oh my God… halmonie kelihatannya marah pada kita…” Sae-ryun memegang kepalanya dengan keras. Ia bingung mengapa semuanya jadi begini.

   Jin-ho yang juga masih berada di ruang tamu, hanya bisa duduk bersandar di dinding dalam diam. Ia juga bingung harus melakukan apa. Sebelumnya, neneknya belum pernah semarah ini padanya. Memang sih, ini semua kesalahannya. Tetapi, ia hanya ingin neneknya itu baik-baik saja.

   Jin-ho akhirnya berdiri dan menghampiri Sae-ryun yang masih uring-uringan di depannya sambil mondar-mandir itu. “Aku kira ini kesalahanku. Mungkin tidak hanya kau saja yang kekanak-kanakan, tetapi aku juga. Seharusnya aku membiarkanmu pergi bersama halmonie. Tetapi, karena egois, aku jadinya menghinamu dan berakibat fatal seperti ini. Dan untuk itu, aku minta maaf…” ucap Jin-ho, pelan tetapi sungguh-sungguh.

   Sae-ryun menatap Jin-ho yang sudah berdiri di sampingnya itu dengan tajam. Perlahan, sorotan mata Sae-ryun berubah lembut. Ia lalu mengangguk. “Ne. Aku juga salah dalam hal ini. Mungkin jika aku tidak kekanak-kanakan, aku hanya akan diam ketika kau berbicara kejam seperti tadi padaku. Oleh karena itu, aku juga minta maaf ya, Jin-ho. Dan juga, aku minta maaf karena sering mengganggumu dan membuatmu terluka…” kata Sae-ryun, ikut menyesal atas kejadian ini.

   Dahi Jin-ho berkerut. “Terluka? Memangnya kapan kau membuatku bersedih? Perasaan… kesalahanmu itu hanya cerewet dan menggangguku saja, deh!” tanya Jin-ho, yang langsung membuat Sae-ryun nyengir.

   “Ketika aku berkata di depan semua orang bahwa kau bisa bermain piano. Apakah menurutmu itu biasa saja? Tentu saja tidak, bahkan kau sampai marah seperti itu padaku waktu itu. Dan kemarahanmu saat itu, bahkan lebih mengerikan daripada yang pernah kulihat!” jawab Sae-ryun, to the point.

   Jin-ho mengangguk mengerti. Ia lalu menatap Sae-ryun. “Bagaimana jika kita melupakan semua yang sudah terjadi? Maksudku, bagaimana kalau kita berdamai? Aku pikir, jika kita seperti ini terus, maka akan semakin banyak masalah yang muncul dan…”

   “Dan itu akan sangat melelahkan. Benarkan?” potong Sae-ryun, yang diiringi oleh anggukan setuju dari Jin-ho.

   “Aku setuju.” Sae-ryun mengangkat tangannya dan mengajak Jin-ho untuk berjabat tangan. Jin-ho pun menerima jabatan tangan itu dengan baik.

   “Jadi… sekarang kita punya dua perjanjian, ya…” gumam Sae-ryun, namun Jin-ho bisa mendengarnya.

   Jin-ho bertanya, “dua? Bukankah baru kali ini saja, ya?”

   Sae-ryun hendak memukul lengan Jin-ho jika Jin-ho tidak segera mengelak ke depan. “Kau itu ya… benar-benar menyebalkan! Awas jika kau lupa pada janjimu padaku tentang tiga permintaan itu!” ancam Sae-ryun, yang langsung membuat Jin-ho tertawa.

   “Iya… iya… aku ingat. Aku kan bukan seorang pembohong. Lagipula, palingan kau akan minta apa sih?” kata Jin-ho, seolah-olah meremehkan Sae-ryun.

   Mata Sae-ryun langsung berubah membelalak ketika melihat Jin-ho. “Kau tahu… aku akan meminta sesuatu yang membuatmu mati untuk mendapatkannya! Araso? Kau bersiap-siap saja…” kata Sae-ryun, yang membuat Jin-ho nyengir.

   Sae-ryun dan Jin-ho akhirnya sama-sama tertawa. Namun, tawa mereka langsung terhenti ketika melihat Nenek Song di taman belakang bersama seorang pelayannya. Mereka lalu bergegas berpikir untuk mencari cara yang tepat guna membujuk sang nenek agar tidak marah lagi…

The end
 
pt][/size]

hai, teman-teman....  [bye]
maaf ya kalau ceritanya gak kalian suka atau agak gak nyambung...  [heh] [heh] [heh]
semoga bisa menghibur...  [biggrin] [biggrin] [biggrin]

 [flowers] [flowers] [flowers]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #58 on: November 17, 2010, 09:02:50 am »
thanks buat updateannya, say [lovestruck] ,, komentnya besok ya [biggrin]

edit ============================================

jinho menyukai sakura, penyebabnya tuh sakura rahasia-nya yg dicintainya sejak dulu-dulu, sedgkan sae ryun mengira jeong wo menyukai sakura sehingga dia menerima pernyataan cinta palsu dari jeong wo pdhl  [nono] [nono] ,, berarti cinta pertama and sejati yg ada di hati jinho and saeryun sejak dulu tuh mereka sendiri kan [chin] [chin] benar kan? [what] [hmpfh] ..
aduh aduh jangan dibuat hyena jd pembokatnya jinho dong,, ga rela nih [dry] [goodgrief] [hmff]
lanjut lagi sis [smiley-gen013] [smiley-gen013]
« Last Edit: November 17, 2010, 06:10:20 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

fara

  • Guest
Re: The Secret Flower
« Reply #59 on: November 17, 2010, 12:30:42 pm »
Gomawo sist heethi udh diupdate [flowers] [flowers] [flowers]
wah ceritanya makin buat ak penasaran bgt nih say, kyknya sae-ryun salah mengenal jeong-wo ya sist? Kyknya orang yang dicintai sae-ryun sejak dulu itu jinho kan? Trus sakura rahasianya jinho itu sae-ryun [chin] [chin] [chin] [chin] jadi makin penasaran sama cerita selanjutnya hmpfh