Author Topic: My Job Is... your Job...?!?!? (Chapter 8) 1st February 2013  (Read 9190 times)

Offline reni minsunniez

  • Newbie
  • *
  • Posts: 11
  • Location: Seoul
    • View Profile
ff kedua.... [heh] [heh] [heh]

tapi belum sempet launching prolog atau yang lainnya

baru bisa kasih ini

Genre: comedy  [heh] [heh] [what] [what] Romance  [sweat] [sweat] about bodyguard [heh] [heh]
 
Cast :
Goo Hye sun : Lee Joo Ri

Lee Min ho : Goo Yong Joon

cast yang lainnya menyusul...

makasih banyak
[head break]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
nah sekarang yang ai masih bingung... siapa kandidat yang cocok untuk jadi Luke... aktor korea gitu... yang bisa bikin Yong jun kepanasan juga gara2 bisa nyaingin seorang Yong jun... hmmmmmm siapa ya... ada yang mau bantu kasih usul gak...?

gw boleh usul ga say, heheh

1. HYUN BIN



2. WON BIN



ga tahu kenapa gw ;ebih prefer WON BIN buat peran LUKE, ni ada piku lag adu tembak, keren nyo,hehehe



ni cuma saran tp lebih hepi bisa dipake [hmpfh] [hmpfh]

yuki,up dateeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee [smiley-gen013] [smiley-gen013]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
nah sekarang yang ai masih bingung... siapa kandidat yang cocok untuk jadi Luke... aktor korea gitu... yang bisa bikin Yong jun kepanasan juga gara2 bisa nyaingin seorang Yong jun... hmmmmmm siapa ya... ada yang mau bantu kasih usul gak...?

gw boleh usul ga say, heheh

1. HYUN BIN



2. WON BIN



ga tahu kenapa gw ;ebih prefer WON BIN buat peran LUKE, ni ada piku lag adu tembak, keren nyo,hehehe



ni cuma saran tp lebih hepi bisa dipake [hmpfh] [hmpfh]

yuki,up dateeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee [smiley-gen013] [smiley-gen013]

boleh juga  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] thank u say...

 punk punk punk punk

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: My Job Is... your Job...?!?!? (chapter 4) 10 may
« Reply #153 on: August 04, 2011, 06:19:08 pm »
terima kasih semua untuk doanya... akhirnya udah menyandang gelar S1... tinggal nunggu di wisuda...  [sweat] [sweat] [sweat] SEMANGAT!!

sekarang waktunya updateeeeee... maaf sebelumnya... baru bisa... [heh] [heh] [heh] [hug] [hug] [hug]

DAN... SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA BAGI YANG MENJALANKAN... SEMOGA DIPERTEMUKAN DENGAN HARI KEMENANGAN DAN RAMADHAN SELANJUTNYA... AMIIIIIEENNNN


Chapter 5


Additional Cast



Noh Min woo as Luke/ Jang Jae min

Matahari mulai memperlihatkan pancaran dan kehangatannya, mencoba untuk membangunkan beberapa orang yang masih terlelap ditidurnya. Joo ri membuka matanya perlahan, membiasakan penglihatannya dengan sinar mentari yang menyilaukan pagi itu. dan sesuatu yang mengejutkannya, membuatnya segera bangun dari tempatnya, menatap jam meja disisinya.

“ah!! Sial!! Aku terlambat!!” seru Joo ri lirih yang kemudian segera bangkit, mengganti bajunya cepat dengan sebuah kaos dan jaket kulit yang menutupinya. Joo ri membuka pintu dihadapannya dan berlari cepat keluar dari kamarnya, kearah kamar yang berada tak jauh dari kamarnya.

“Yong jun!! bangun!! Kau sudah terlambat!!”seru Joo ri mengetuk pintu di hadapannya cepat, keras. Namun lama ia menunggu sama sekali tidak ada jawaban dari dalam. Joo ri mengetuk pintu dihadapannya lebih keras, dan sama saja seperti sebelumnya, tidak ada jawaban dari dalam ruangan. Jawaban yang sangat ia tunggu.

Joo ri menatap pintu dihadapannya sengit, geram, kedua tangannya terkepal kuat dan bergemelutuk kuat (penulis mau lebay dikit… he he he) “baiklah… jika itu mau mu… maka akan aku lakukan…”gumam Joo ri, menatap pintu dihadapannya dan kemudian menggulung lengan jaket kulitnya dan mengangkat tangannya, bersiap untuk mendobrak pintu dihadapannya, namun belum sempat ia melakukannya, pintu dihadapannya terbuka pelan, dimana setelahnya terlihat seorang laki-laki yang berdiri tanpa pakaian dan hanya mengenakan celana pendeknya, bersikap malas sambil menggaruk rambutnya yang berantakan.

“ada apa…kenapa pagi-pagi begini berteriak tidak jelas…”kata Yong jun pelan, menatap malas Joo ri dihadapannya.

“cih… aku mulai muak denganmu… aku ini bodyguardmu… tapi sekarang aku sudah merangkap menjadi manajermu… carilah manajer!! Kau bahkan tidak membayarku sebagai manajer…”gumam Joo ri marah, dan kemudian melangkah pergi meninggalkan Yong jun.

“segeralah bersiap… setelah Luke menjemput… kita akan pergi… kau ada syuting film mu hari ini.. dan lakukan dengan cepat…. Karena hanya sekitar 5 menit lagi Luke akan datang… kalau kau tidak bersiap tepat di waktunya, maka aku akan menyeretmu bagaimanapun keadaanmu!”gertak Joo ri, berjalan kearah dapur dan mulai mengambil beberapa roti untuk dia panggang.

Yong jun menatap Joo ri tajam dan mulai melakukan apa yang Joo ri perintahkan agar hal buruk yang sama tidak terulang lagi dihidupnya. Pengalaman yang sangat memalukan untuk dirinya. Tidak pernah sekalipun ia mengalami hal itu, dan ia berjanji hal itu tidak akan pernah terulang lagi.

Yong jun menatap Joo ri, dan ingatan itu kembali.

Flashback

Joo ri membangunkannya pagi-pagi sekali hari itu, kantuk yang masih hinggap di dalam dirinya belum menghilang pagi itu, dan akhirnya ia memutuskan untuk tidak menggubris ajakan Joo ri untuk bangun. Dan akhirnya, sesuai harapannya, suara melengking Joo ri di pagi yang dingin saat itu tidak terdengar lagi, namun hanya selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba pintu kamar Yong jun menjeblak terbuka, terpuruk tanpa daya, karena berhasil dihantam Joo ri hingga terlepas dari engselnya. Yong jun bangkit dari tempatnya cepat,menatap terkejut Joo ri yang ada dihadapannya.

“ap..apa yang kau lakukan… kau…”

“bangun… sudah waktunya..”

“apa…?!?”

“hari ini jadwalmu untuk syuting film mu!! Sekarang bangun dan segera bersiap…!!”

“…aku masih mengantuk…”keluh Yong jun yang kemudian tertidur kembali.

Joo ri memutar kepalanya menatap Yong jun dan menyipitkan matanya menatap Yong jun.

“aku bilang bangun… 5 menit dari sekarang… lakukan perkataanku… atau… aku akan…”

“apa… lakukan saja tugasmu… kau hanya seorang bodyguard…”

Joo ri menatap jam ditangannya, “dan… hanya tinggal 1 menit lagi…” Joo ri terdiam sesaat, masih menatap jam tangannya namun senyum kemudian terlihat diwajahnya “…. Dan hanya tinggal 10 detik dari sekarang… 8…7…6…5…4…3…2…1” tambah Joo ri yang senyumnya terlihat lebih lebar dari sebelumnya, menatap detak jam ditangannya. Tepat setelah hitungan Joo ri selesai, suara derum mobil dan klakson terdengar. Joo ri mengalihkan pandangannya menatap arah suara itu dan melangkah mendekat.

Yong jun masih diam ditempatnya, malah semakin merapatkan selimut tebal ke tubuhnya, meringkuk di bawah selimut.

“…aku yang bertindak…”gumam Joo ri yang kemudian melangkah mendekat, menyibak selimut dari tubuh Yong jun yang hanya mengenakan celana pendek merah miliknya. Joo ri menarik tangan Yong jun bangun dan membawanya atau mungkin lebih tepatnya menyeretnya keluar dari kamarnya.

“auusshhh!! Yya!! Apa yang kau lakukan!! Kau…aku belum memakai pakaianku… YYA!! Hentikan tingkahmu!!”

“aku sudah bilang bukan… aku yang bertindak!!”seru Joo ri tidak kalah keras dari suara Yong jun. Joo ri masih menarik Yong jun masuk kedalam mobil. Luke menatap terkejut Yong jun tanpa pakaiannya.

Luke tersenyum lebar menatap itu dan bersiul senang.

“sepertinya ada yang bersenang-senang pagi ini…”cetus Luke senang

“...” Yong jun menatap Luke menyipitkan matanya, kesal.

“pakai ini…”kata Joo ri sambil memberikan sebuah mantel kulit panjang pada Yong jun.

“auusshhh!!”keluh Yong jun, menerima mantel yang diberikan Joo ri dan mengenakan mantel yang diberikan Joo ri padanya.

“ada yang terlihat sangat seksi pagi ini…” gumam Joo ri, melirik sekilas Yong jun yang duduk mendekap dirinya karena dingin yang menusuk dirinya pagi itu.

End Flashback

Yong jun bergidik mengingat semua yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Pengalaman yang memalukan bagi dirinya. Dengan cepat Yong jun masuk kembali kekamarnya dan mulai bersiap. Ia selesai tepat saat bunyi klakson mobil Luke terdengar.

“kau sudah siap…”tanya Joo ri, menatap Yong jun yang sudah mengenakan pakaian lengkapnya dan jaket kulit dengan warna yang sama dengan Joo ri. Hitam.



“sepertinya tidak ada yang terlihat seksi lagi pagi ini…”ujar Luke menatap Yong jun yang masuk bersamaan dengan Joo ri. Joo ri tersenyum senang mendengar perkataan Luke. Joo ri masuk kedalam mobil dan tak lama Luke menyusulnya dan duduk disisi Joo ri. Luke yang berperan sebagai pengemudi pagi itu, sedangkan Yong jun duduk di tempat duduk belakang. Yong jun menatap sinis pada Luke dan Joo ri.

“makanlah… ini masih hangat…”ujar Joo ri kemudian, memberikan roti panggang dengan selai coklat buatannya.
*******

Yong jun menghela napas lega, menatap wanita yang dikhawatirkannya menghilang hampir 2 hari sebelumnya, tanpa menyadari tatapan Luke dihadapannya. Tatapan sinis yang juga terlihat dendam mendalam disana.
Luke diam dan bangkit dari tempatnya, kemudian duduk disisi Yong jun, mengikuti arah tatapan Yong jun.

“apa yang kau lihat…”potong Luke tiba-tiba menatap Yong jun

“tidak ada…”jawab Yong jun yang terlihat memperbaiki cara duduknya, menjadi terlihat lebih tegap untuk menjaga imagenya.
Luke tersenyum menatap Yong jun. Senyum yang berhasil membuat Yong jun merasa kesal padanya “…apa maksud senyum mu itu…”tanya Yong jun

“…tak ada… hanya…sebuah pertanyaan yang mengganggu…”kata Luke
Yong jun diam, kemudian mengambil gelas kopi dihadapannya dan meneguknya habis dalam satu tegukan. Luke masih terdiam menatapnya, menatap Yong jun

“apa ada sesuatu antara kau dan Kolonel…?”Tanya Luke tiba-tiba, meneguk kopi dari gelasnya tenang. Dan tidak ada jawaban dari Yong jun. Luke mengalihkan pandangannya, menatap Yong jun, dan sebuah pertanyaan terdengar kembali. Luke lebih mempersempit pertanyaannya sekarang “…apa kau menyukai Joo ri…”tanya Luke tiba-tiba, membuat Yong jun tersedak kopinya, terbatuk ditempatnya, menatap Luke terkejut, tidak percaya dan segera mengalihkan pandangannya ketika ia bertemu pandang dengan Luke

“ap…apa maksudmu…?”tanya Yong jun gugup mendengar perkataan Luke

“…tak ada… hanya sebuah pertanyaan yang menginginkan sebuah kejujuran…”jawab Luke, meneguk kopi hangat miliknya.

Yong jun diam ditempatnya menatap Luke yang duduk disisinya, mencoba mencari sesuatu yang tersembunyi dari orang disisinya itu.

“…memang kenapa… apa yang kau inginkan…”tanya Yong jun kemudian, menatap tajam Luke.

Luke menarik napas panjang dan mendesah kuat. “bukankah sudah aku bilang…”

“mw..mwo…?”

“aiissshhh…”seru Joo ri tiba-tiba “aku benar-benar muak denganmu…” keluh Joo ri lagi, menatap Yong jun dan melemparkan sebuah berkas tebal di meja tepat dihadapan Yong jun. Joo ri mendesah kuat, kesal. “bisakah kau mencari manajer atau asisten untukmu…”keluh Joo ri, menatap marah Yong jun “ini!- bukan!- tugas!-ku!”seru Joo ri yang kemudian duduk dikursi tepat dihadapan keduanya. Joo ri melipat tangannya didada.

Luke tersenyum menatap Yong jun dan mengalihkan pandangannya pada Joo ri masih dengan senyum yang sama.

“minumlah dulu…”kata Luke kemudian, menggeser gelas kopi Joo ri yang sebelumnya sudah ia pesankan tadi.

Joo ri menegak cepat kopi dihadapannya. Yong jun diam ditempatnya, menatap Joo ri dan segera mengalihkan pandangannya begitu Joo ri memandangnya. “sebenarnya kenapa manajer-manajermu tidak dapat bertahan lama disisimu…?”Tanya Joo ri.

Yong jun masih diam ditempatnya, tidak mampu menjawab dan ia merasa benar-benar kalah karena tatapan Joo ri yang meminta sebuah jawaban dari rasa penasarannya. Ia tidak mampu melawan tatapan Joo ri.

******

Joo ri menatap diam Yong jun yang tengah melakukan perannya, sekaligus melakukan penjagaan padanya. Menatap sekelilingnya, mencari jika ada sesuatu yang dapat mengganggu kliennya itu, sedangkan Luke berada disisinya terdiam, dan terkadang menegak air mineral dalam botol yang ia pegang.

“…apa perannya…”Tanya Luke tiba-tiba menatap Yong jun, dan meminum air mineral di botolnya

“…seorang agen rahasia…”

“cih… yang benar…”kata Luke lagi, tidak percaya “bagaimana bisa…”tambah Luke lagi.

Joo ri mendengus meledek, sama tidak habis pikirnya dengan Luke “… aku saja tidak percaya…”jawab Joo ri, menambahi. Luke terdiam, namun tak lama kemudian, senyum terlihat terkembang diwajahnya. Hanya sesaat berselang kemudian, Joo ri dan Luke terdiam. Yong jun datang dan segera menjatuhkan dirinya di kursi diantara keduanya, mengambil air mineral yang sudah disediakan Joo ri sebelumnya, di hadapannya.

Yong jun menarik napas panjang, dan menatap keduanya bingung “ada apa?”Tanya Yong jun, mengusap mulutnya dengan punggung tangan, menatap Joo ri dan Luke, bingung sekaligus curiga “ada apa…?”Tanya lagi yang sama sekali tidak mendapat jawaban setelahnya.

Joo ri dan Luke hanya terdiam ditempatnya, kemudian bersamaan keduanya mengangkat kedua bahunya, tidak mengerti, menjawab pertanyaan Yong jun.

“yya!!” seru Yong jun tiba-tiba, masih menatap keduanya bergantian, tidak puas dengan jawaban yang diterimanya.

“apa?!?”seru Joo ri lagi, menatap Yong jun galak, membuat Yong jun menggeser tubuhnya mundur, menempel ketat pada punggung kursinya, takut-takut menatap Joo ri.

Yong jun mengedip-kedipkan kedua matanya, tidak mampu melawan wanita dihadapannya. Joo ri masih menatap Yong jun galak, Yong jun mengalihkan pandangannya pada Luke, yang terlihat tenang meminum air mineral dari botol ditangannya. Yong jun menyerah sekaligus kesal, bangkit dari kursinya

“auussshhh!!!”, kemudian pergi tanpa menatap Joo ri dan Luke yang terlihat tersenyum.

Yong jun menatap keduanya kesal dan pergi, meninggalkan keduanya. Joo ri tersenyum lebar. Luke menatap dalam diam.
********

Joo ri diam ditempatnya, menatap tempat pengambilan gambar yang saat itu berada di salah satu tempat di Seoul, dimana banyak sekali orang berlalu lalang. Banyak toko-toko makanan dan pakaian dan juga beberap pedagang kaki lima yang sedang menjajakan dagangannya. Beberapa terlihat menjual balon, permen lollipop dan beberapa terlihat tengah menjajakan makanan kecil.

Joo ri diam, menatap penuh perhatian pada beberapa orang yang melewati dirinya. Tak lama desahan napas terdengar, syuting Yong jun belum selesai, tapi dia sudah sangat lelah, ia sangat benci menunggu, dan tidak ada yang bisa ia lakukan saat ia menunggu. Ditambah lagi, sangat sulit melakukan penjagaan ditempat yang ramai seperti tempat ini. Joo ri lagi-lagi menghela napas panjang.

Namun tiba-tiba seseorang menyerangnya dari belakang, pandangannya menjadi gelap, seseorang menutupi kedua matanya dengan tangannya, membuat Joo ri terdiam sesaat, dan sepertinya tanpa terduga oleh orang itu, Joo ri mengambil tangan yang menutupi kedua matanya dan memelintirnya, membanting orang itu jatuh terkapar dihadapannya.

“ahhh!! Ini aku…”kata orang itu, setelah Joo ri membantingnya jatuh.

“ahhh!! Oppa!! Mianhe…”ujar Joo ri, membantu seseorang yang ternyata laki-laki untuk bangkit berdiri. Joo ri tersenyum menatap orang itu.

“mianhe oppa…”kata Joo ri lagi, membungkukkan separuh tubuhnya, menatap laki-laki dihadapannya. Laki-laki itu tersenyum, menatap Joo ri lalu duduk dimana Joo ri sebelumnya duduk, dan mengambil botol air mineral milik Joo ri yang ia letakkan di meja dihadapan laki-laki itu.

“ahh… oppa.. aku bar-“

Terlambat, laki-laki itu sudah mengambil air mineral Joo ri, membuka tutupnya dan meminum beberapa teguk air mineral Joo ri, kemudian ia terlihat mengalihkan pandangannya tersenyum menatap Joo ri.

“Ji Hoon oppa…”keluh Joo ri, menatap Ji hoon sedikit kesal karena telah mengambil air mineralnya

Ji hoon tersenyum menatap Joo ri.



“mworagu…”ujarnya

“auusshhh… ahniya…”jawab Joo ri akhirnya, mengalihkan tatapannya.
Keduanya terdiam sesaat, menatap beberapa orang yang berlalu lalang dihadapannya, sekarang beberapa kru film sudah mulai berkumpul, menyiapkan tempat untuk pengambilan gambar dan beberapa peralatan yang dibutuhkan.

Beberapa orang mendatangi Joo ri dan Ji hoon. Orang-orang itu bertugas merias wajah Ji hoon seperti yang dibutuhkan untuk syuting hari itu. Joo ri, menggeser tubuhnya sedikit saat itu, menatap Ji hoon yang tengah dirias. Entah mengerti atau tidak, Ji hoon tersenyum sambil memejamkan matanya.

Tak lama proses merias Ji hoon selesai, Ji hoon kembali hanya berdua bersama Joo ri di tempat itu.

Joo ri berdeham keras, tanpa menatap Ji hoon, sedangkan Ji hoon terlihat mengalihkan wajahnya menatap Joo rid an tersenyum.
“ada apa?”tanua Ji hoon kemudian

Joo ri berdeham lagi “…antwe… hanya saja kenapa Ji hoon oppa baru datang, apa-“

“ne… sebelum ini aku ada syuting video klip terbaruku… dan lihatlah, aku masih menggunakan beberapa aksesorisnya…”

“apa ini…?”Tanya Joo ri, menatap pergelangan tangan Ji hoon dan sedikit tato yang terlukis di lengannya

“…ini… untuk laguku…” Ji hoon tersenyum menatap Joo ri. Sebuah senyum lebar yang terlihat sangat manis. Joo ri terdiam menatap terpesona Ji hoon dihadapannya, semakin tertarik “jadi kau juga penyanyi?”Tanya Joo ri.

Ji hoon tersenyum, “seperti yang kau tahu…”jawab Ji hoon tersenyum manis menatap Joo ri “…tapi… Yong jun juga seorang penyanyi… bahkan… ia sudah membuat beberapa film yang semuanya masuk dalam nominasi dan mendapat penghargaan… dia salah seorang artis multitalenta…”tambah Ji hoon, menatap kosong beberapa orang kru yang kini mulai berlari menyiapkan segalanya.

Joo ri diam ditempatnya.

“…baik…sepertinya persiapan sudah selesai, aku harus menemui sutradara dulu…”kata Ji hoon kemudian, meninggalkan Joo ri yang terdiam sendiri ditempatnya, menatap Ji hoon.

*******

“apa yang kau lihat”sapa seseorang tiba-tiba. Joo ri memejamkan matanya, kesal, tanpa ia lihat siapa orang yang duduk disisinya yang (sudah pasti) mengusik pikirannya, Joo ri sudah hafal dengan gaya bicara yang dingin dan penuh ejekan dari orang yang duduk disisinya.

“apa yang kau amati?”tanyanya lagi, menatap kearah Joo ri memandang. Tak lama senyum terlihat diwajah orang itu, senyum penuh kemenangan yang aneh, membuat Joo ri memejamkan matanya kesal, sangat kesal “kau mengamati Kang Ji hoon? Ada apa? Apa kau menyukainya..?” katanya lagi, berusaha menggoda Joo ri, membuatnya semakin panas mendengarnya. Joo ri semakin memejamkan matanya kesal, dan tanpa bisa menahan kesabarannya lagi, Joo ri mengeluarkan pistol di sarung pinggulnya, kemudian membidik Yong jun tepat dikepalanya, yang kemudian terdiam disisinya, menatap Joo ri, takut, mengangkat kedua tangannya keatas.

“yy..yya!! kau bercanda bukan..?”
Joo ri diam, dan masih mengarahkan pistolnya pada Yong jun. Yong jun bangkit dari tempatnya, menatap Joo ri takut. “yy..yya!! kau tidak akan…”
Dan tidak seperti dugaannya, Joo ri ternyata benar-benar menarik pelatuknya, menatap Yong jun tajam. “kau ti..tidak mungkin..” Yong Jun memejamkan matanya, menutupi wajahnya dengan kedua lengan dan tangannya sebagai bentuk perlindungan diri sedangkan Joo ri masih diam ditempatnya, alih-alih ia menatap Yong jun. Ia membidik sesuatu. Joo ri menatapnya tajam, sedangkan Yong jun masih menutup kedua matanya.

Joo ri masih diam ditempatnya, membidik dan secara tiba-tiba dan tepat pada waktunya, Joo ri menarik lengan Yong jun, membawa Yong jun menunduk dibalik sebuah tong sampah. Yong jun diam terkejut ditempatnya, dan semakin terkejut dan ketakutan saat ia melihat sesuatu menghantam kursi yang terbuat dari batubata hingga pecah. Yong jun menatap diam, masih terkejut pada bongkahan kursi tersebut

“ap…apa yang terjadi?!?”Tanya Yong jun, menatap Joo ri bingung. Joo ri hanya diam, memunggungi kursi dari batubata tersebut, bersandar padanya. “apa yang terjadi…”Tanya Yong jun lagi

“diam…”seru Joo ri

***********

Joo ri bangkit dari tempatnya, menatap semua kru yang berdiri diam dibelakang keduanya, bingung menatap Joo ri dan Yong jun.

“KALIAN SEMUA!! PERGI DARI SINI! SELAMATKAN DIRI KALIAN!!”seru Joo ri pada semua orang yang berada disekelilingnya. Beberapa orang terlihat mulai mengerti saat sebuah peluru kembali berdesing mengenai kaca sebuah toko dan membuat kaca itu retak sebelum akhirnya hancur berkeping-keping, menambah kehebohan. Semua orang terlihat mulai berlari berhamburan mencoba menyelamatkan diri.

Usaha Joo ri berhasil. Joo ri kembali menundukkan kepalanya, menyembunyikan tubuhnya, menatap Yong jun yang masih diam, terkejut ditempatnya

“ada apa sebenarnya…?”Tanya seseorang tiba-tiba, menyusul Joo ri dan Yong jun, berlindung dibalik bak sampah dan sesekali menatap sekelilignya yang penuh dengan orang yang berlarian.

“OPPA!!”seru Joo ri terkejut ketika menyadari kedatangan Ji hoon.

“apa yang terjadi sebenarnya… apa seperti yang kemarin?”Tanya Ji hoon lagi, menatap Joo ri. “kenapa oppa disini… bukankah aku sudah bilang untuk pergi”seru Joo ri, menatap Ji hoon dan mengacuhkan pertanyaan Ji hoon

“aku tidak bisa membiarkan kau sendiri”jawab Ji hoon

“tapi….”

“apa yang terjadi?!?!”seru Yong jun tiba-tiba, menunjukkan keberadaannya, membuat Joo ri dan Ji hoon terdiam, menatap Yong jun.

Joo ri diam, menatap sesuatu dari balik tong kemudian mengalihkan pandangannya pada Yong jun, menatapnya serius “apa yang terjadi?!?!”seru Yong jun lagi, benar-benar tidak mengerti.

“aushhhh!!”seru Yong jun tidak sabar, bangkit dari tempatnya, menatap kearah dibalik tong sampah. Tak lama, hanya beberapa detik saat Yong jun berbalik dan mencoba mencari tahu, tiba-tiba sebuah peluru berdesing mengenai tong sampah, membuat Yong jun duduk merunduk kembali.Yong jun diam, menatap Joo ri terkejut “ap..apa yang…”

Tidak hanya keterkejutan Yong jun yang membuat Joo ri semakin kesal, namun beberapa orang yang berlari cepat dan berteriak meninggalkan lokasi tempat Joo ri dan Yong jun berada “ck!! Aussshhh!!”seru Joo ri kesal, menatap masih banyaknya orang yang berlari berusaha menyelamatkan diri mereka.Joo ri mengambil ponselnya cepat, menekan sebuah nomer, yang hanya beberapa detik, Joo ri dapat berbicara pada seseorang dibalik ponselnya.

“LUKE!! POSISI!?!”seru Joo ri melalui ponselnya, sambil menarik kerah kemeja Yong jun dan menggerakkan kepalanya, memberikan isyarat pada Ji hoon untuk mengikutinya untuk pergi dari tempat dimana ketiganya berada, untuk mencari tempat berlindung yang lebih baik. “BAIK… ketemu disana!! Aku sedang membawa mereka ketempat itu!!” kata Joo ri melalui ponselnya.

Joo ri menatap sekelilingnya, hanya tinggal beberapa orang yang terlihat berlari meninggalkan tempat kejadian. Joo ri mengalihkan pandangannya menatap berkeliling, mencari. Dengan kemampuannya, Joo ri berhasil mengetahui keberadaan penembak-penembak itu.

“ada 3 orang disana…”

“bagaimana…?” Tanya Yong jun, menatap Joo ri bingung.

Ji hoon terlihat diam seakan ia sudah mengerti.
“kalian harus pergi kebalik toko itu… Luke menunggu kalian…”

Yong jun kini terlihat diam ditempatnya, menatap Joo ri, sedangkan Ji hoon terlihat terperangah mendengar ucapan Joo ri “apa yang akan kau lakukan?”Tanya Ji hoon, menatap Joo ri khawatir. “kau tidak akan…?” Ji hoon tidak dapat melanjutkan ucapannya, menatap Joo ri tajam. “tapi…”tambah Ji hoon lagi.

Joo ri melongokkan kepalanya dari balik dinding yang tak lama kemudian terdengar sebuah peluru mengenai dinding, membuat Joo ri menjatuhkan dirinya berlindung dibalik dinding. Joo ri membuka pistolnya, mengecek isi pelurunya, kemudian mengalihkan pandangannya menatap Yong jun yang terdiam, masih dengan keterkejutannya dengan peluru yang baru saja terlempar menembus dinding dibelakang mereka.
“kalian pergi dari sini!!”kata Joo ri kemudian, menatap Yong jun dan Ji hoon dihadapannya, setelah ia melihat sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat mereka.

“apa maksudmu…”Tanya Yong jun

“tidak…!!”jawab Ji hoon

“ausshhh…!! Pergi sekarang!!”seru Joo ri, menatap marah pada Ji hoon. “Luke ada disana” kata Joo ri menunjukkan posisi Luke dan mobilnya yang ada di bagian lain toko tempat ia berlindung.

“apa yang akan kau lakukan…?”Tanya Ji hoon

”…aku ingin kalian segera pergi bersama Luke..”terang Joo ri lagi

“tapi…”

Luke terlihat diam, berlindung dibalik mobilnya, menatap sekelilingnya sebelum akhirnya ia beranjak berlari kearah Joo ri, Ji hoon dan Yong jun berada.

“bagaimana…?”Tanya Luke tiba-tiba, mengangkat senjatanya

“tiga orang… disana…” kata Joo ri menunjukkan tempat di balik pohon yang jauh dari tempat ke empatnya. Luke menatap orang itu yang tengah mengamati keempatnya dengan pistol terangkat. “disana…”tambah Joo ri lagi yang menunjukkan sebuah tempat dibalik sebuah kursi besi panjang. Luke mengalihkan pandangannya kembali, menatapnya. Ia dapat melihat orang itu tengah mengganti pelurunya, dengan posisi membelakangi ke empatnya.

“dan terakhir… disana…”kata Joo ri, menunjukkan lokasi penembak ketiga dengan dagunya pada sebuah toko, berjarak 2 blok dari tempatnya. Luke menghela napas pelan, dan menatap Joo ri tajam. Luke terlihat tersenyum, terpesona dengan kemampuan Joo ri. “… aku melihatnya dari arah mereka menembak pada tong sampah tempatku bersembunyi…”

“apa rencanamu…”potong Luke, menatap Joo ri, tidak memperdulikan tatapan Yong jun maupun Ji hoon di antara mereka.

Joo ri menatap Luke tajam dan penuh keyakinan, kemudian mendekatkan kepalanya pada kepala Luke, membuat Ji hoon membelalakkan matanya tak terkecuali Yong jun. Joo ri terlihat mendekatkan mulutnya pada telinga Luke dan membisikkan sesuatu di sana.

Luke diam mendengarkan, menatap Joo ri kemudian menganggukkan kepalanya mantap “kalian… ikut aku…”kata Luke, menatap Ji hoon dan Yong jun.

“tapi…” Ji hoon, menatap Joo ri, khawatir

“cepat!! SEKARANG!!” seru Joo ri kemudian, menarik kerah baju Yong jun untuk bangkit dan mendorongnya untuk segera berlari bersama Luke “tapi Joo ri-aa” kata Ji Hoon menatap Joo ri

“pergi oppa!! SEKARANG!!”

“tapi…”

“disini terlalu berbahaya…!!”tambah Joo ri lagi, menatap Ji hoon dan sesaat kemudian, ia sudah beranjak pergi, mendekati seseorang yang terlihat menyelinap diantara beberapa kursi, tong sampah dan dinding toko. Joo ri menatap mereka, mencari tempat perlindungan yang lebih dapat menjangkau penyerang itu, dan mulai membidik, sebelum mengeluarkan timah panasnya.


Yong jun duduk diam, tenang ditempatnya, tidak seperti sebelumnya saat ia ada dihadapan Joo ri. Ji hoon mengalihkan pandangannya, gelisah sekaligus khawatir akan keselamatan Joo ri “…kau!!... kenapa kau tidak menolong Joo ri”seru Ji hoon pada Luke yang saat itu tengah berperan sebagai supir untuk keduanya.

Luke diam, tidak menggubris ucapan Ji hoon “hei!!”seru Ji hoon lagi. Luke berdecak kesal dan semakin mempercepat laju mobilnya, menembus angin.Hingga hanya berselang beberapa menit kemudian, laju mobil mulai melambat dan mulai masuk ke sebuah rumah. Rumah Yong jun tepatnya. Rumah yang tentu saja sudah dilengkapi dengan system pengamanan yang canggih dan ketat, atas permintaan Joo ri.

“aku menolongnya… aku membawa kalian ketempat yang aman…”kata Luke lagi, menatap Ji hoon kesal. Ji hoon diam ditempatnya, menatap Luke. Luke masih diam ditempatnya menatap tajam Ji hoon.

“kalian berdua tetap disini… aku harus melakukan apa yang Joo ri perintahkan”kata Luke menatap Ji hoon dan Yong jun. Yong jun terlihat diam ditempatnya, menundukkan kepalanya, terlihat memikirkan sesuatu sedangkan Ji hoon menatap Luke khawatir.



Ji hoon duduk diam ditempatnya, setelah ia mengantar kepergian Luke dengan sebuah pesan darinya, sedangkan Luke terlihat menghentikan laju mobilnya sesaat dan menekan sebuah alat ditangannya, memunculkan titik merah disana, menandakan alat itu berfungsi dengan baik.

“bagus…”gumam Luke yang kemudian melajukan mobilnya kembali, cepat menembus angin.

************

Sudah hampir setengah jam berlalu sejak kejadian itu. Joo ri menarik napas panjang. Keheningan merajai sekelilingnya. Sudah hampir 1 jam tempat itu dikosongkan. Tidak ada tanda-tanda apapun disana, hanya suara hembusan angin dan gemerisik daun yang tertiup angin di puncak pohon. Joo ri memeriksa isi pistolnya kembali. Ia memegang 2 senjata ditangannya. Revolver dan baretta kesayangannya.

Joo ri melongokkan kepalanya, melihat kearah dimana para penyerang berada, dan kejutan untuknya, saat itu tiba-tiba sebuah timah panas mengarah padanya dan mengenai tepat di dinding di sisinya.

Joo ri mendesah kuat “hampir saja…”gumamnya

Joo ri masih terlihat diam beberapa saat, menatap jam ditangannya dan sesaat kemudian, akhirnya ia mulai menetapkan sesuatu dihatinya, ia harus segera menyelesaikannya.

Joo ri keluar dari tempat persembunyiannya, berlari cepat, kearah sebuah pohon besar yang tak jauh berada di depannya. Salah satu diantara mereka mengetahuinya dan menembakkan peluru berkali-kali padanya. Beberapa kali meleset, namun… Joo ri terlihat meringis ditempatnya, memegang erat lengannya. Joo ri merasakan lengannya robek. Timah panas itu menyerempet lengannya. Joo ri menyobek kain dikemejanya dan mengikat kuat pada lengannya. Darah terlihat mulai merembes dikain itu.

Joo ri diam ditempatnya, mencoba mengamati para penyerang itu. Joo ri menarik napas panjang sesaat dan menghembuskannya panjang. Joo ri mengalihkan pandangannya berkeliling mencari sesuatu, dan… ia menemukannya. Cermin persimpangan jalan, ia dapat melihatnya, berdiri kokoh membelakanginya. Joo ri menatap cermin itu, dan senyum terlihat merekah di wajahnya

“baik…sekarang…”kata Joo ri berkata pada dirinya sendiri.

Joo ri mulai keluar dari persembunyiannya, dan berlari sambil membidik dan mengeluarkan timah panas dari senjatanya sebelum Joo ri menjatuhkan dirinya, bersembunyi dibalik kursi dari batubata.

Terdengar teriakan dari salah satu penyerangnya tepat saat Joo ri menjatuhkan dirinya tengkurap dibalik kursi batubata. Joo ri menarik napas panjang disana, dan mulai membidik lagi. Ia melihat orang salah satu penyerangnya yang berdiri dibalik kursi besi panjang berlutut jatuh, menekan kuat bahunya.

Joo ri menghembuskan napasnya panjang memeriksa sisa pelurunya. Bersandar dibawah kursi batubata tersebut,ia dapat mengamati 2 orang yang lain yang terlihat khawatir melihat salah satu kawannya yang terluka.

Keadaan sunyi senyap, yang terdengar hanya erangan sakit dari penyerang yang terluka oleh Joo ri. Tidak terlihat gerakan atau suara apapun dari keempatnya, namun itu hanya sesaat tak lama kemudian terdengar erangan yang lain yang lebih keras dari sebelumnya dari arah yang berbeda. Joo ri mengangkat kepalanya melihat kearah cermin tikungan jalan. Sesuatu sedang bergerak diantara mereka.

Joo ri terdiam, menatap lebih tajam dan lebih serius ke cermin, kemudian sesuatu membuatnya tersadar, Joo ri bangkit dari tempatnya, masih menatap cermin diatasnya. Dan saat itu ia melihat sesuatu yang bergerak cepat, berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, bahkan sesuatu itu tidak hanya menarik perhatian Joo ri melainkan juga para penyerang itu. Salah satu diantaranya jatuh pingsan. Dan 2 yang lain menembak sesuatu yang bersembunyi di balik dinding atap toko. Joo ri diam ditempatnya, mengamati tempat itu.

Bingung antara menyerangnya juga atau membantu orang yang entah siapa itu yang bersembunyi. Joo ri diam ditempatnya dan taklama kemudian ke 2 orang yang lain terjatuh pingsan ditempat mereka. Orang yang entah siapa itu terlihat turun dari atap dan berdiri menatap ketiga penyerang dan juga Joo ri yang masih diam ditempatnya. Orang itu mengambil tali dan mengikat ketiga penyerang itu. Joo ri masih diam ditempatnya, menatap orang itu, hingga orang itu beranjak pergi setelah mengalihkan pandangannya menatap Joo ri yang diam masih terdiam ditempatnya. Orang itu pergi dan kesadaran Joo ri kembali, Joo ri berlari kearah para penyerang yang terikat di hadapannya.

Joo ri menatap orang misterius itu lagi, namun orang itu sudah tidak terlihat lagi, Joo ri diam, menghembuskan napas dan menatap para penyerang yang terikat dan pingsan dibawahnya.

Joo ri menyadari sesuatu, secarik kertas terselip di tali para penyerangnya. Joo ri mengambilnya tepat ketika seseorang memanggilnya.

“kolonel…”panggil orang itu

Joo ri mengalihkan pandangannya menatap pemanggilnya, dan keterkejutan terlihat diwajahnya.

“ya…”jawab Joo ri, menatap Luke yang berdiri dibelakangnya.

“apa itu kolonel..” Tanya Luke, menatap Joo ri dan kertas ditangannya bergantian, bingung. Joo ri diam ditempatnya, terlihat menyadari sesuatu kemudian segera disembunyikannya secarik kertas ditangannya itu, menatap Luke yang terlihat diam dibelakangnya, menatap Joo ri curiga.

*********

Joo ri diam, tidak mendengarkan LetJen Kang yang berbicara di depan ruangan saat ia kembali ke kantor pusat. Rasa penasaran dan bingung masih menyertainya.



“kolonel…”

Joo ri terlihat masih diam ditempatnya. pikirannya melayang jauh. Bukan Luke… lalu siapa…? Apa letJen Kang tahu.. siapa…, batin Joo ri, terdiam berpikir ditempatnya, hingga tiba-tiba seseorang menarik lengannya, membuatnya tersadar dari keterdiamannya.

Joo ri menatap Luke yang duduk disisinya. “hah?!?”ujar Joo ri, menatap Luke. Luke menatap Joo ri dan memberikan isyarat dengan mata, menunjuk pada LetJen Kang yang berbicara di depan ruangan.

“kau tak apa kolonel?” Tanya LetJen Kang

“ahh.. ne.. soseongheyo…”

“lukamu tak apa bukan…?”Tanya Letjen Kang lagi.

“ne… tidak masalah…lanjutkan saja…”jawab Joo ri, yang kemudian terdiam kembali ditempatnya.

LetJen Kang menatap Joo ri, diam ditempatnya, berbagai hal berputar dibenaknya. Dan terdengar helaan napas panjang darinya. LetJen Kang menundukkan kepalanya sesaat sebelum akhirnya ia memutuskan untuk…



“sampai disini dulu… terima kasih untuk kerja keras kalian…”kata LetJen Kang. Semua orang diruangan itu terlihat mulai meninggalkan tempat mereka hingga akhirnya tersisa Joo ri, Luke dan LetJen Kang sendiri. Letjen Kang duduk disisi Joo ri, menatap Joo ri.

“bagaimana keadaanmu…”Tanya LetJen Kang tiba-tiba, memecah keterdiaman Joo ri.

“ahhh…”seru Joo ri terkejut, bangkit dari tempatnya, menatap sekelilingnya, bingung. “kemana semua orang…?”Tanya Joo ri, mengalihkan pandangannya.

“sudah selesai…”kata letJen Kan kemudian tersenyum menatap Joo ri

“ahh… mianhe Sunbae…”kata Joo ri kemudian, menjatuhkan dirinya dikursi lagi, menatap LetJen Kang dan kemudian menundukkan wajahnya, menyesal.

“tak apa… dan sekarang… saat ini kita berbicara sebagai paman dan keponakan…”kata Letjen Kang lagi, menatap Joo ri.

“de..?”

“…bagaimana dengan lukamu…? Tidak apa bukan…?”Tanya LetJen Kang

“ahh… ne ahjussi… baik… sudah terbiasa aku mendapatkan banyak luka di tubuh…”kata Joo ri, tersenyum menatap Kang ahjussi dihadapannya. Letjen Kang terlihat tersenyum menatap Joo ri.

“senyummu manis… seperti ibumu…”kata LetJen Kang lagi, menatap Joo ri

Joo ri diam, menatap LetJen Kang, kemudian senyum terlihat merekah kembali diwajahnya, Joo ri menundukkan kepalanya, teringat kembali “…ahh ne.. haraboji juga bilang seperti itu…”kata Joo ri

“ya… tapi sayangnya senyum itu sudah jarang terlihat lagi… gara-gara pekerjaanmu…”kata LetJen Kang

“mwo…?”

“ya… jabatanmu sebagai kolonel… dan apa yang harus kau lakukan di basecamp membuat kau harus menyembunyikan senyum itu…”kata LetJen Kang

“ahniya… tak apa ahjussi… bukankah ini keinginanku juga… lagipula haraboji tidak pernah memaksaku untuk mengambil jalannya…”hibur Joo ri.

Kang ahjussi tersenyum, kemudian mengangkat tangannya dan mengusap kepala Joo ri lembut. “kau sudah dewasa sekarang…”gumam Kang ahjussi pelan, namun masih dapat terdengar Joo ri. Joo ri tersenyum, kemudian keheningan meresapi keduanya. Joo ri diam, menundukkan kepalanya, teringat sesuatu. Sesuatu yang membuatnya banyak berpikir, dan saat ia akan mengutarakannya, tidak menyangkan Kang ahjussi menanyakan hal yang mengganggunya itu.

“sebenarnya apa yang kau pikirkan…”Tanya Kang ahjussi

Joo ri menatap Kang ahjussi, ia terdiam sesaat “…errmmm… anda menanyakan ini sebagai seorang paman atau sebagai seorang atasan…?”Tanya Joo ri, menatap Kang ahjussi penuh selidik.

“…ermmm… tergantung apa yang membuatmu banyak berpikir hingga tidak berkonsentrasi pada penjelasanku…”kata Kang ahjussi

“…ermmm… kalau begitu sebagai seorang atasan saja…”kata Joo ri lagi. Joo ri tersenyum sesaat dan mengambil secarik kertas yang disimpannya.

“ini…”kata Joo ri sambil menyerahkan secarik kertas tersebut pada LetJen Kang

“apa ini…”

“ini yang membuatku banyak berpikir…”kata Joo ri, menunjukkan pada secarik kertas yang dibawa LetJen Kang yang membuat LetJen Kang akhirnya mulai menatap secarik kertas itu.

Terdapat tulisan disana… sebuah kalimat dan sebuah inisial nama.

“JJ…”gumam LetJen Kang, menatap kertas ditangannya sesaat dan menerawang, mencoba mencari arti inisial nama itu di kepalanya.

“anda tahu…?”

“entahlah… tapi apa hubungannya denganmu…?”

“dia… entahlah… menolongku atau memang memiliki urusan dengan para penjahat itu… tapi… bisa dibilang secara tidak langsung dia menolongku… dia juga memberikan pesan dikertas itu…”

“jaga keselamatan…” gumam LetJen Kang, membaca pesan yang tertulis disecarik kertas itu.

“ne… tapi aku bingung…apa maksudnya?”Tanya Joo ri

“… ini pesan yang bagus…”jawab LetJen Kang, menatap Joo ri tersenyum

“aiissshh… ayolah Sunbae… jangan bercanda…”kata Joo ri, menatap kesal LetJen Kang dan menarik kembali secarik kertas dari tangan LetJen Kang, kemudian melangkah pergi meninggalkan LetJen Kang sendiri

“YYA!!”seru LetJen Kang, menatap Joo ri “apa begitu sikapmu pada atasanmu…!!”seru LetJen Kang tepat sebelum Joo ri menutup pintu dihadapannya. LetJen Kang tersenyum menatap pintu yang tertutup dihadapannya, namun senyum itu hanya sesaat, keseriusan terlihat diwajahnya.

“JJ…”gumamnya pelan, menundukkan kepalanya “apa dia…”tambahnya lagi, kemudian menghela napas panjang, meyakinkan dirinya.

*********

Joo ri terlihat diam, duduk kursi penumpang, disisi Luke. Keduanya kini berada dalam mobil dan melaju cepat kearah rumah Yong jun. segala urusan sudah selesai, dan waktunya untuk bekerja kembali disisi Yong jun.

Joo ri diam, membuat Luke mengalihkan pandangannya dari jalanan, melirik sekilas pada Joo ri.

“apa yang kau pikirkan…”Tanya Luke tiba-tiba ketika ia memutas setirnya berbelok ditikungan.

“ahh… ahniya… tak ada…”

Luke diam sesaat, menatap Joo ri “artinya ada yang kau pikirkan kalau begitu…”

Joo ri mengalihkan pandangannya, menatap Luke, mencoba menebak sama halnya dengan Luke, berkutat dengan pikirannya, menebak sesuatu yang berputas di pikiran wanita disisinya.

“apa… berhubungan dengan Yong jun…?”tebak Luke lagi, menghentikan laju nobilnya, menatap rumah dihadapannya sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya menatap Joo ri yang tengah menatapnya.

“tentu saja bukan… untuk apa aku memikirkan laki-laki itu… aku… yahhh… mungkin juga… tapi ini berkaitan dengan keselamatannya… aku…sedikit bingung…”jawab Joo ri

Luke diam, menatap Joo ri “apa yang kau bingungkan… apa tentang tugasmu…”

“ne… tugasku…”jawab Joo ri. Joo ri mendesah keras “haraboji…ah maksudku Jenderal memerintahkanku untuk melakukan penjagaan pada Yong jun… anehnya ini hal yang terlalu sepele untuk seorang anggota angkatan darat…kenapa harus aku… kenapa bukan dari lembaga resmi sendiri… dan Yong jun… apa yang terjadi padanya sehingga ia membutuhkan seorang bodyguard untuknya… ini…”

“tidak masuk akal…”sambung Luke, tersenyum

“ne… tidak masuk akal…”tambah Joo ri

Luke menatap Joo ri yang menundukkan kepalanya, kemudian ia mendesah kuat, dan mengambil sebuah remote kontrol dimana terdapat lampu kecil merah disana. Lampu itu membuat Joo ri bertanya-tanya “apa itu…?”Tanya Joo ri

“aku menambahkan pengaman…”

“mwo…?”

“dirumuah itu… sehingga tidak ada satu orangpun yang bisa masuk kedalam dan keluar dari rumah itu…”terang Luke

Joo ri diam, menatap Luke kesal “… ini perintah dari LetJen… maaf tidak memberitahu dirimu sebelumnya… kolonel…”kata Luke

Joo ri masih diam “tak apa…”jawab Joo ri yang kemudian membuka pintu mobil disisinya dan keluar. Luke menekan tombol pada remote kontrol ditangannya, membuat alarmnya non aktif.

“seharusnya tidak ada yang keluar dan masuk dari tempat ini…”gumam Luke pelan dan mengikuti langkah Joo ri masuk kedalam rumah itu.

*************

End Of Chapter


maaf ada kesalahan...  [biggrin] [biggrin] [biggrin]
« Last Edit: August 04, 2011, 06:31:55 pm by ai_yuki »

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
thanks ai dah update ff ini,, terus terang gw masih raa2 nggak ngeh ama ff ini [hmpfh] [hmpfh]
btw--yg nolongin joo ri tuh yong jun ya [what] [what] (nebak.com [hmpfh] )

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline My My

  • Junior
  • **
  • Posts: 165
    • View Profile
 Updateeeeeeeeee  gumowo sist Ai,lam kenal ea.i like this fic
ntu JJ=jang jae (min)/joo ji (hoon)
or (yong)jun and Joo ri
masih byk misteri'a,ngerti kn mksud p'tnyaan gw soal'a gw ndre agak bingung hehehe updatean next chap jgn lama2 ea
HWAITING!!!!!!!!!!!!!!!!

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
yuki komawo dear dah di up date and thanx buat long chapie nya [lovestruck]

luke nya Noh Min Woo , aduh itu kan cem2an ane yang baru say, cocok deh buat jadi saingan si youngjun, [hmpfh]

sebenarnya young jun itu siapa sih? kenpa selalu saja terjadi penembakan di lokasi syuting young jun atau dimanapun young jun berada, memangnya young jun itu orang penting ya sampe harus dilindungi segala ????

yang nolong joo ri jangan2 youngjun lagi [chin] [chin]

yuki hwaiting ^^


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
@ mami love : kangeeennnn mi... [huglove] [huglove] [huglove] [huglove]  mang sengaja bikin bingung pembaca... masih banyak misteri yang mungkin bikin tambah membingungkan... belum ai buka nih asal muasal segalanya... diikutin aja mi...  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [heh] [heh] [heh]

...yang nolongin... nanti terjawab mi... kan masih misteri

@ tya : haloooowww... dapat temen baru nih...  [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss]
 JJ..?!?! silahkan menebak... masih boleh kok... bisa jadi salah satu yang sudah disebutkan itu  [hmff] [hmff]... masih misteri... belum mau ai bukan di chapter awal  [heh] [heh] [heh]

@ shanty_minsun : terima kasih banyak say... kangeeeennn niiieeehhh...  [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] iya... sama... lagi tertarik ma noh min woo ma Kim So Hyun...  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

nah... pertanyaan yang bagus... Joo ri aja bertanya-tanya... sebenarnya apa yang terjadi ma Yong jun... ada apa dengan Yong jun... he he he he... sebentar lagi bakal terjawab... satu persatu  [biggrin] [biggrin] [biggrin]

terima kasih semua...

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Chapter 6

Matahari bersinar terik, membuat beberapa orang menghentikan pekerjaannya dan beristirahat sejenak. Joo ri terlihat duduk, menatap seseorang yang tengah disibukkan dengan kegiatannya, sama sekali tidak memperdulikan panas yang terik.

“bagaimana..”tanya seseorang tiba-tiba, memberikan sebotol air mineral dingin pada Joo ri

“tak ada masalah…”jawab Joo ri, tersenyum menatap orang itu dan menerima air mineral yang diberikan orang itu “gomawo…”tambah Joo ri
Keduanya terdiam sesaat, menatap kearah yang sama “darimana saja kau Luke…”tanya Joo ri lagi

“biasa… letJen memanggilku… dan… Jenderal sudah kembali…”

“ooohh… benarkah…?”seru Joo ri tiba-tiba, menatap Luke tidak percaya

“ne… tadi aku bertemu dengannya di kantor dan...kau merindukannya bukan…”

Joo ri diam, menatap Luke sesaat “ahni…”jawab Joo ri

Luke tersenyum diam ditempatnya, menatap Joo ri “tapi dia merindukanmu…” tambah Luke kemudin, menatap Joo ri tersenyum.

Joo ri diam, menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyumnya.


“berikan aku air minum…”seru seseorang tiba-tiba, mengambil air mineral milik Joo ri atau lebih tepatnya merebut secara tiba-tiba.

“heii…!! Ausshhh…”seru Joo ri, menatap orang itu kesal

“bukankah ini untukku…”ujar orang itu lagi, membalas tatapan Joo ri dan dengan tiba-tiba menjatuhkan dirinya di tengah-tengah, antara Joo ri dan Luke

“YYA!!!”seru Joo ri semakin kesal, menatap Yong jun kesal. Ketiganya terdiam, tidak melakukan apapun hingga akhirnya Joo ri berdeham keras, mencoba mengawali pembicaraan “…eheemmm…”

Berhasil membuat Luke dan Yong jun memalingkan wajahnya, menatap Joo ri “…aku sudah menemukan seseorang untuk menjadi manajermu…”ujar Joo ri, sambil kemudian menyerahkan sebuah map coklat pada Yong jun. Yong jun terlihat diam sesaat menatap Joo ri bergantian dengan map yang kini masih berada ditangan Joo ri.

“aku tidak membutuhkan manajer…”ujar Yong jun membuang muka tidak peduli dan meneguk air mineralnya kembali.

“harus…”ujar Joo ri keras

Yong jun menatap Joo ri sedikit takut namun egonya lebih meraja dihatinya “siapapun yang kau minta menjadi manajer ku harus aku seleksi dulu… aku tidak ingin menerima sembarang orang untuk menangani semua keperluanku…”ujar Yong jun tegas, dan bangkit dari tempatnya, menatap Joo ri dan Luke dengan gayanya yang angkuh. Joo ri terlihat diam ditempatnya, menatap kepergian Yong jun kesal
“ciihh… pantas saja…” ujar Joo ri sedangkan Luke terlihat diam ditempatnya, menatap tersenyum kepergian Yong jun.

*********


Hari berlalu dan Yong jun masih melakukan pekerjaannya seperti biasa… seperti biasa, dingin di hari yang hangat, sombong di tempat senyum saling menyapa.
Joo ri menatapnya tersenyum sesaat sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya menatap Luke yang menatapnya tersenyum, yang dibalas dengan sebuah senyuman lebar khas Luke untuknya “… nanti… dia akan datang… dan tolong perketat penjagaan… jangan biarkan hal ini bisa memancing siapapun untuk melakukan kejahatan di saat pertama kali kita menerima tamu…”

Luke tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya “siapa… siapa yang akan datang…”
Joo ri menatap Yong jun “…seseorang…”

“siapa dan dimana… aku tidak akan pernah mengijinkan kau atau laki-laki itu menerima tamu dirumahku…”ujar Yong jun ketus, menatap Luke kesal. Luke membalas tatapan Yong jun sama dinginnya, namun senyum masih terlihat terkembang diwajah Luke sebelum akhirnya ia melangkah pergi meninggalkan Yong jun dan Joo ri untuk melakukan perintah Joo ri.

Yong jun mengalihkan pandangannya menatap Joo ri. “apa!!”ujar Joo ri ketus, membuat Yong jun sedikit bergetar ditempatnya.

“peraturanku tidak bisa dilanggar”ujar Yong jun tiba-tiba, membalas perkataan Joo ri.

“…aku tidak menerima tamu dirumahmu… aku punya tempat lain…”

“…aku tidak ikut…”

“harus… bukankah kau yang bilang untuk melihat orangnya dulu…”

Yong jun diam ditempatnya “… bukankah sudah aku bilang sebelumnya… tidak ada…”

“aku lelah!!”ujar Joo ri keras, menatap Yong jun marah, “aku hanya ingin
melakukan tugasku dengan baik… dan tugasku bukan menjadi manajermu..! aku tidak habis pikir kenapa sunbae menjadikanku bodyguardmu… bukankah masih banyak orang lain…”

“ne… terlebih aku…”ujar Yong jun yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Joo ri, ditempatnya, menatapnya semakin kesal dan marah.

********

“bagaimana kabarmu nak…”ujar seseorang ditengah hangatnya terik mentari siang di tengah cuaca yang dingin karena hujan yang baru saja turun membasahi bumi.

“gwenchana haraboji… lalu bagaimana haraboji sendiri… bagaimana urusan haraboji…”

Sang kakek terlihat tersenyum menatap sang cucu yang diam ditempatnya menunggu jawaban sang kakek yang sangat ia rindukan.

“…ne… hanya sedikit flu beberapa hari yang lalu… sepertinya kakek terlalu lelah…”

“auushhh… Joo ri sudah sering bilang… kakek harus menjaga kesehatan kakek… apapun pekerjaan kakek jika tubuh kakek tidak kuat.. kakek harus beristirahat… kita melakukan janji antar lelaki saat itu…”ujar Joo ri tegas, yang kemudian bangkit dan duduk di sisi kaki sang kakek dan perlahan mulai memijat kaki sang kakek lembut dan sayang “ Joo ri mohon… jaga kesehatan kakek… hanya kakek satu-satunya yang Joo ri punya… Joo ri tidak minta yang lain… hanya itu..”

Kakek Joo ri terlihat tersenyum dan mengusap kepala Joo ri yang bersandar di pangkuan sang kakek.

“… ne arasso… kakek tahu… mianhe…”

Joo ri diam, tersenyum ditempatnya, menikmati kehangatan pangkuan sang kakek yang sejak kecil selalu membuat dirinya nyaman dan menenangkan dirinya.

“ahhh… kata LetJen Kang…dia memilihmu untuk menjadi seorang bodyguard…”

“auusshhh… tolong kakek jangan bahas itu…”seru Joo ri yang kemudian bangkit dan berjalan menjauh kemudian duduk di meja kerja sang kakek. Sang kakek terlihat menatapnya lembut tepat saat Joo ri melihat sebuah berkas di mejanya.

“kemarilah nak… ceritakan pada kakek bagaimana pekerjaanmu itu…”

“ahniyo…”

“kalau begitu… pijat kakek lagi…”ujar sang kakek yang kemudian membuat Joo ri tersenyum menatapnya dan melangkah mendekati sang kakek.

Joo ri mulai menggerakkan tangannya yang terlihat lemah gemulai namun kuat. Ia tidak pernah mempergunakan tangannya itu untuk memasak atau melakukan sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan perempuan, yang sering ia lakukan dengan tangan itu adalah memukul jatuh orang lain dan menembak seseorang dengan pistol kesayangannya yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Instingnya memerintahkan dirinya untuk selalu waspada dengan apapun dan siapapun di tempat manapun seperti sekarang ini…

Joo ri mulai menggerakkan jemarinya di kaki pundak sang kakek saat tiba-tiba Joo ri bertindak lebih cepat dan mulai mengacungkan pistol magnum hitam dengan garis perak kesayangannya di kepala seseorang yang mengendap dan mendekati keduanya.


“…ok… ok… ok… ahjussi kalah…”

“sunbae… apa yang kau lakukan mengendap-endap seperti itu…”

“ahni… hanya mencoba instingmu sebagai seorang tentara… dan ternyata itu masih ada… bagaimana kabar anda Jenderal…”ujar LetJen Kang yang kemudian terlihat membungkukkan tubuhnya dihadapan Jenderal Lee

“ah… gwenchana… apa aku sudah setua itu.. hingga semua orang harus menanyakan keadaanku…?”

“haraboji…”Seru Joo ri. Joo ri tersenyum dan memasukkan kembali magnumnya kedalam sarungnya “…ahhh.. bagaimana dengan Yong jun…?

“jangan tanya itu… cucuku ini benci membahas itu…”ujar Jenderal Lee

“haraboji… bukan cucu… aku sekarang kolonel…”ujar Joo ri marah, menatap sang kakek.

“mwo…? Ada apa…? Apa ada masalah…?”

“ne ahjussi setiap hari selalu bermasalah jika aku bersama dengannya…”

“ada apa…?”

Joo ri diam ditempatnya tidak ingin menjawab, namun tiba-tiba ia teringat akan sesuatu “…sunbae… bisakah aku meminta pertolonganmu…?”ujar Joo ri menatap LetJen Kang

“ahhh… ini baru kabar baru… kolonel kita meminta bantuan…”ujar Jenderal Lee, menatap Joo ri tersenyum simpul.

“haraboji…!!!”

“baiklah… mianhe…”

“apa yang bisa aku lakukan untukmu… katakan…”

“ne…”

***********

“apa yang kalian lakukan…?”ujar Joo ri terkejut dengan apa yang ia dapati setelah ia kembali dari berkunjung dari kakeknya. “kenapa dengan wajah kalian… oh tidak kau juga… lihat!! Lebam biru diwajahmu…”ujar Joo ri yang melangkah cepat mendekati Yong jun yang duduk tak jauh dihadapannya.

Joo ri baru akan menyentuh luka Yong jun sebelum tiba-tiba Yong jun bangkit dari tempatnya menatap Joo ri marah.

Joo ri diam ditempatnya, menatap Yong jun kesal “apa yang terjadi…”tanya Joo ri mengalihkan pandangannya menatap Luke yang bangkit dari tempatnya, melangkah kearah lemari es didapur, mengambil sesuatu dari sana.

“apa yang akan kau lakukan?!”tanya Yong jun marah, menatap Luke yang tengah berkutat di balik pintu lemari es, mengambil sesuatu “jangan lakukan itu… aku peringatkan jangan lakukan apa yang ada dipikiranmu… aku tidak…” namun terlambat, ketakutan yang ada dipikiran Yong jun terjadi, seiris daging segar terlihat mendarat di wajah Yong jun yang memar tak berbeda dengan Luke.

“ahhh… sudah aku bilang..aku tidak ingin seperti ini…”keluh Yong Jun kesal, menatap Luke semakin kesal dan marah, namun menekan daging di ujung bibir dan matanya erat.

“itu akan lebih baik jika hanya kau biarkan saja…”

“auuusshhh…”

Joo ri menatap keduanya dan tersenyum kecil menatap keduanya “kalian berdua benar-benar terlihat sangat akrab…”

“YYA!!!”seru Yong jun tanpa diperdulikan oleh Joo ri yang melangkah meninggalkan keduanya di ruang tamu rumah milik Yong jun.

Yong jun diam ditempatnya, menatap kepergian Joo ri sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya menatap Luke yang duduk tak jauh dihadapannya.

“apa?!?”tanya Luke keras, menatap Yong jun sengit. Yong jun diam, menatap Luke tak kalah sengitnya “…kau!!”seru Yong jun lirih, menatap arah Joo ri sebelumnya pergi.

“…”Luke diam, tidak memperdulikan Yong jun

“jangan katakan apapun tentang apapun yang kita bahas sebelumnya!!” ujar Yong jun, melangkah mendekati Luke dan meletakkan daging segar yang ada diwajahnya keras, tepat dihadapan Luke. Luke tersenyum ditempatnya, menatap kepergian Yong jun yang terlihat sangat marah sekaligus kesal padanya.

Luke tersenyum menatap Yong jun “…kau memiliki sesuatu dan ingin melindungi sesuatu yang sama kawan… dan aku tidak akan menyerah, hanya karenamu…”ujar Luke lirih, menatap punggung Yong jun yang menghilang masuk kedalam kamarnya, tersenyum.

********

Malam menjelma. Bulan muncul, meninggi menggantikan matahari. Joo ri terlihat diam, meneguk kopi hangatnya dan sesekali menatap secarik kertas ditangannya. Begitu serius hingga tidak menyadari kehadiran seseorang.

“apa yang kau lakukan…?” tanya seseorang tiba-tiba, menatap Joo ri, membuatnya terkejut

“ahhh… ahniya… hanya surat ancaman yang lain…”

“ancaman…?”

“ne… hanya sedikit bingung… sepertinya surat ini tidak ditujukan padaku…”

“benarkah…”

“ne…sedikit bingung dengan isinya… disini ditujukan pada seseorang… dan sama sekali tidak untuk mengancam keselamatan Yong jun…”ujar joo ri, mengalihkan pandangannya menatap orang itu “…bagaimana menurutmu Luke…?”tanya Joo ri lagi sambil menyerahkan secarik kertas itu pada Luke yang kini berdiri dihadapannya yang dibatasi meja diantara keduanya.

“…”Luke diam, membaca kertas itu “… tidak ada yang aneh… hanya surat seperti biasa…”ujar Luke

Keduanya terdiam saling menatap, melemparkan argument keduanya melalui pikiran mereka, hingga tidak menyadari kehadiran seseorang hingga sebuah cahaya menghalangi cahaya dari rembulan.

“apa yang kalian lakukan gelap-gelap seperti itu…”

Joo ri dan Luke memutar tubuhnya, menatap orang itu. Keduanya sama sekali tidak terlihat terkejut “…kau bangun Yong jun…?” ujar Luke tiba-tiba, menatap Yong jun tersenyum.

Yong jun melangkah mendekat dan mengambil dengan kasar secarik kertas yang berada di tangan Luke.

“yya!!”seru Joo ri kesal

“apa ini…?”tanya Yong jun, menatap kertas ditangannya dan Luke serta Joo ri bergantian.

“bukan urusanmu… berikan kertas itu…”seru Joo ri yang kemudian mengambil kertas itu dari tangan Yong jun.

“auushhh…”

Kini ketiganya terlihat duduk mengelilingi meja di antara ketiganya. Yong jun menatap Joo ri curiga sedangkan yang ditatap hanya diam, menikmati secangkir kopi hangat ditangannya. Sedangkan Luke terlihat diam, tidak memperdulikan Yong jun.



Yong jun menarik napas panjang, menatap Joo ri “ini…”ujar Yong jun kemudian, sambil memberikan sesuatu pada Joo ri.

“apa ini…”

“baca…”ujar Yong jun

Joo ri diam, menatap Yong jun dan mulai melakukan apa yang dikatakan oleh Yong jun. Joo ri membuka amplopnya “undangan…?”

“ne… itu undangan pernikahan seorang sutradara… aku tidak ingin datang… tapi… ternyata aku harus datang…” ujar Yong jun

“…ya… datang saja…”ujar Joo ri, sambil kemudian bangkit dari tempatnya dan memberikan undangan itu kembali pada Yong jun dan beranjak pergi meninggalkan keduanya, namun…

“kau ikut denganku…”ujar Yong jun kemudian, menghentikan langkah Joo ri serta membuat Luke tersedak.

“mwo…?!”seru keduanya

“ne… kau… temani aku… datang bersamaku…”ujar Yong jun

“ahni!!”

“kau akan datang denganku…”ujar Yong jun lagi, lebih tegas dari sebelumnya dan kini benar-benar terdengar mengancam. Joo ri diam menatap tajam Yong jun. Yong jun diam, membalas tatapan Joo ri penuh keyakinan dan kemudian melangkah pergi meninggalkan keduanya, diam tidak berdaya ditempatnya.

Luke diam menatap kepergian Yong jun dan beralih pada Joo ri yang menatap kesal pada Yong jun.

“ikut saja… bukankah kau juga harus menjaganya… jika kau datang dengannya, maka kau bisa lebih menjaganya…”ujar Luke, menatap Joo ri tersenyum, kemudian bangkit, menepuk bahu Joo ri pelan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Joo ri.

********


Malam menjelma, bulan menjemput, bintang menemani. Yong jun terlihat terdiam menunggu seseorang yang tak kunjung datang.

“ausshh!!! Pasti dia tidak akan datang…?”ujar Yong jun kesal, menatap Luke. Luke diam, tersenyum ditempatnya, antara memperdulikan dan tidak. Dengan cepat Luke bangkit dari tempatnya, meninggalkan Yong jun yang menggerutu dengan keterlambatan Joo ri, dan tak lama akhirnya…

“maaf… aku terlambat… ada sesuatu yang harus aku lakukan tadi…”ujar Joo ri, menatap Yong jun terengah dan berhasil menghentikan langkah Luke yang memutar tubuhnya ke dapur dan mengambil minuman untuk dirinya dan perlahan ia melangkah mendekati Joo rid an memberikan gelas yang lain ditangannya.

“minum dulu…”ujar Luke

“ahhh… terima kasih…”ujar Joo ri, menerima gelas yang diberikan Luke. Joo ri akan meneguknya sebelum tiba-tiba Yong jun merebutnya dan menegaknya hingga habis “aahh… sudah tidak ada waktu lagi… sebaiknya kau segera bersiap-siap…”ujar Yong jun ketus, menatap Joo ri marah.

“ahni… aku pergi dengan ini saja…”

“MWO?!?!”

“YYA!! Tidak perlu berteriak… memang apa masalahmu…”ujar Joo ri tidak kalah kerasnya.

Yong jun diam ditempatnya, menatap Joo ri dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Saat itu Joo ri benar-benar terlihat seperti pekerjaannya, seorang tentara.

Malam itu Joo ri mengenakan celana jeans belel dengan kaos putih dan jaket kulit hitam ditambah lagi, rambut Joo ri yang diikat seadanya, berantakan. Sama sekali tidak pantas untuk pergi kesebuah acara resmi.

“apa?!?”seru Joo ri marah, menatap Yong jun yang seakan tengah menilai dirinya, penampilannya.

“cihh… kau benar-benar… ganti bajumu!!”seru Yong jun

“ahni”

“wae… kau harus menggunakan pakaian yang rapi… dan lepaskan semua senjata yang menggantung ditubuhmu itu..!1”

“mwo?!?! Antwe!!!”

Keduanya terdiam, tidak memperdulikan Luke yang terlihat tersenyum geli menatap keduanya.

“…lagipula…aku tidak pernah bilang kalau aku akan pergi denganmu… cari saja orang lain!!”seru Joo ri benar-benar kesal kemudian beranjak pergi meninggalkan Yong jun yang diam dan Luke yang tertawa keras ditempatnya, namun hanya beberapa langkah, tiba-tiba Yong jun menarik tangan Joo ri kuat dan menariknya pergi.

“YYA!!! LEPASKAN!!!”seru Joo ri, membuat tawa Luke terendam oleh teriakannya.

Yong jun tidak memperdulikan teriakan Joo ri dan tetap membawa Joo ri masuk kedalam mobilnya.”duduk diam!! Jangan melakukan apapun!! Ausshhh!! Kau benar-benar wanita yang merepotkan!!”seru Yong jun, menatap Joo ri yang duduk disisinya kesal.

Luke terlihat diam, menatap keduanya dalam mobil dari jendela rumah Yong jun, meyakinkan sesuatu.

*******

“diam!! Dan turuti apa kataku… kau ini..!! ausshhh!!!”seru Yong jun ketika keduanya berada di sebuah butik pakaian, dimana Yong jun memeberikan beberapa pakaian untuk dicoba oleh Joo ri.

“YYA!! Aku tidak bisa menggunakan pakaian seperti ini!!”seru Joo ri setelah hampir 10 pakaian ia coba namun tidak satupun yang membuat Yong jun menghentikannya.

Yong jun diam, menatap Joo ri dengan pandangan marah dan ternyata cukup membuat Joo ri menundukkan kepalanya, menyerah. Bukan benar-benar menyerah, hanya karena Yong jun membawa semua senajatanya dan Joo ri yakin Yong jun dapat menarik pelatuknya jika Joo ri terlalu banyak protes atau bertingkah.

“coba pakaian ini…” ujar Yong jun memberikan 10 lagi pakaian untuk Joo ri coba

“lagi?!?!” seru Joo ri semakin kesal.

“ya…”

“sampai kapan…?”

“sampai aku puas… dan diamlah… lakukan saja apa yang aku perintahkan…” ujar Yong jun, menatap Joo ri marah dan memberikan dengan paksa pakaian di tangannya pada Joo ri.

Joo ri menuruti keinginan Yong jun, dan mulai mencoba satu persatu pakaian yang diberikan Yong jun, hingga akhirnya…

Joo ri keluar dengan sebuah gaun panjang berwarna putih tulang dengan hiasan dibagian perutnya. Warna putih itu semakin menunjukkan putih dan segarnya kulit Joo ri, membuat Joo ri terlihat manis, sekaligus cantik.

Yong jun terlihat diam ditempatnya ketika menatap Joo ri yang terlihat malu-malu menunjukkan pakaian yang dicobanya.

“jelek bukan… aku ganti yang lain saja…”

“ahni!! Tunggu dulu… aku ambil itu!1”ujar Yong jun yang kemudian bangkit dan pergi meninggalkan Joo ri yang menatap kesal Yong jun.

Yong jun tersenyum menatap Joo ri yang membalas tatapan kesalnya dengan kemarahan dari Joo ri “cih..!! benar-benar sial…”ujar Joo ri lirih yang melangkah perlahan kesofa dimana semua senjata dan sepatu kets kesayangannya berada.

Joo ri mengenakan perlengkapan dan semua senjatanya ketubuhnya kembali. Dua senjata magnum hitam dengan garis perak kesayangannya, revolver kecil yang ia letakkan di kakinya, sebuah pisau dan beberapa senjata yang lain.

Joo ri berjalan mendekati Yong jun yang tengah berdiri, menunggunya. Yong jun menatap Joo ri dari kepala hingga ujung kaki.

“lepaskan sepatumu…”ujar Yong jun, menatap sinis pada sepatu kets Joo ri.

“waeyo?!?!”seru Joo ri semakin kesal dengan Yong jun

“lepaskan dan ganti dengan sepatu ini…”jawab Yong jun, sambil memberikan sepati high heels pada Joo ri.

“ahni!! Ahniya… ahniya… ahniya…ahniya… antwe!!”seru Joo ri, menatap semakin marah pada Yong jun.

“harus!! Lepaskan sepatumu sekarang!!”seru Yong jun tidak kalah keras, mendorong tubuh Joo ri jatuh terduduk di sofa dan melepas paksa sepatu Joo ri tentu saja dengan bantuan pelayan butik tersebut untuk memegangi lengan Joo ri yang terus memberontak.

“ahni!! Lepaskan aku!! Aku tidak mau!! LEPASKAN!!”seru Joo ri seraya kemudian, Yong jun melepaskan sepatu kets yang diberikan oleh Joo ri dan mengenakan sepatu high heels di kaki Joo ri

“AHHHH!!! ANTWE!!!”seru Joo ri ketika sepasang sepatu itu berhasil berada di sepasang kaki Joo ri. Yong jun tersenyum senang, menatap kemenangannya yang berhasil memakaikan sepatu yang sangat dibenci oleh Joo ri.

“pakai itu sampai akhir nanti… dan lepaskan semua senjatamu…!!”ujar Yong jun lagi

“antwe!!”

“lepaskan!!”ujar Yong jun keras, menatap Joo ri dengan membelalakkan matanya.

“ANTWE!! Kau boleh melakukan semuanya padaku… mengganti pakaian ku dan membuatku memakai sepatu yang menyusahkan ini… tapi tidak dengan senjataku!!”

Yong jun diam, menatap Joo ri serius, kemudian helaan napas terdengar darinya “…baiklah…”ujar Yong jun yang kemudian mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah angka speed dial di ponselnya.

“ahh.. tuan Kang.. maaf…”

“akhhh!! Apa yang kau lakukan…”ujar Joo ri yang merebut ponsel Yong jun tiba-tiba, menghentikan percakapan Yong jun dengan siapapun yang ia telepon saat itu “baiklah!! Kau tidak perlu seperti itu… tapi paling tidak kau harus membawa sebuah senjata di sakumu… jika terjadi sesuatu maka kau akan dapat melindungi dirimu…”ujar Joo ri yang kemudian menyerahkan ponsel Yong jun kembali dan kemudian bertahap Joo ri melepaskan semua senjata ditubuhnya. Satu persatu Joo ri memberikannya pada Yong jun, pertama sepasang magnum hitam dengan garis perak yang ia letakkan di sarung pistol yang ia letakkan ditubuhnya seperti rompi, sebuah revolver bersamaan dengan sarungnya yang ia ikatkan di betisnya, sebuah pisau disisi lain revolver tersebut.

Tak lama Joo ri juga mengangkat gaunnya lebih keatas, namun terhenti “…jangan mengintip… putar tubuhmu…”ujar Joo ri ketus

“waeyo..?”

“lakukan!!”seru Joo ri. Yong jun tersenyum menatap Joo ri dan segera memutar tubuhnya membelakangi Joo ri.

Joo ri melepaskan semua senjata ditubuhnya yang tanpa diketahui Yong jun membuat beberapa orang pelayan toko tersebut tercengan dengan mulut terbuka menatap Joo ri yang ternyata mengeluarkan banyak senjata dari tubuhnya termasuk senjata besar dan laras panjang (disimpen dimana ya itu senjata… ahhh… namanya aja Cuma cerita… fiktif belaka…he he he he)

“sudah…”tanya Yong jun tanpa membalikkan tubuhnya

“ne…”

“semuanya…”

“ne… semuanya…”ujar Joo ri meyakinkan.

“bagus…”ujar Yong jun yang kemudian memutas tubuhnya, dan betapa terkejutnya Yong jun ketika menatap tumpukan senjata-senjata di hadapannya.

“sebanyak itu…?”tanya Yong jun tidak percaya

“ne… itu sudah semuanya…”ujar Joo ri, menatap Yong jun meyakinkan.

“…”Yong jun diam ditempatnya, menatap Joo ri sama seperti sebelumnya, dari ujung kepala hingga ujung kaki “… dimana kau menyembunyikan semua itu…”ujar Yong jun lirih, tanpa dapat didengar oleh Joo ri.

“ini… bawa ini”ujar Joo ri sambil memberikan senjata revolver laras pendeknya pada Yong jun “dan jaga dirimu sendiri..”ujar Joo ri, aku hanya dapat menggunakan tenaga tanpa senjata…”ujar Joo ri yang kemudian melangkah pergi, meninggalkan Yong jun, yang masih terdiam ditempatnya.

“ayo… katamu kita sudah terlambat…”ujar Joo ri, menatap Yong jun, menunggu.

*********

“kau benar-benar menyebalkan Yong jun-ssi… bagaimana bisa kau menyuruhku mengenakan pakaian seperti ini…”keluh Joo ri lirih

“kau pengawalku… maka kau harus bisa menyesuaikan dengan kegiatanku…” jawab Yong jun yang sama sekali tidak disadari oleh Joo ri.

“auusshhh…”ujar Joo ri lirih, memalingkan wajahnya.

Joo ri melangkah pelan bersisian dengan Yong jun. Joo ri terlihat diam hingga kedatangan seseorang membuatnya terlihat lebih bersemangat. Joo ri melangkah cepat, tersenyum menghampiri orang itu.

“oppa…”panggil Joo ri tersenyum, melangkah cepat



Ji hoon memutar kepalanya menatap Joo ri dan tersenyum takjub menatap Joo ri.
“woow…”ujar Kang Ji hoon, menatap Joo ri tidak percaya dan tersenyum.



“oppa… kau juga datang…”ujar Joo ri, menatap Ji hoon tidak menyangka

“ne… mereka mengundangku… dan kau…?”

“ne… aku harus datang dan harus mengenakan pakaian yang menyusahkan ini… benar-benar menyebalkan…”ujar Joo ri, menatap sinis Yong jun yang sudah berdiri disisi Joo ri.

“kau punya tugas untuk menjagaku…”

“tapi tidak perlu seperti ini…”

“cukup… kita harus menemui kedua mempelai untuk mengucapkan selamat…”

“tapi…”

“oppa…!!’seru seseorang tiba-tiba, menghampiri Ji hoon yang berdiri dihadapan Joo ri dan Yong jun. Joo ri terlihat diam menatap orang itu, sedikit sebal juga.

“ini minumannya…”ujar Yeun jin, sambil kemudian memberikan minuman mana Ji hoon.

“gomawo Yeun jin-aa…”

Choi Yeun jin terlihat sangat cantik malam itu dengan gaun putih, rambut di gelung dan sebuah pita bunga berwarna pink yang menghiasinya. Joo ri terlihat diam, menundukkan kepalanya.

Yong jun diam, mengetahui itu, kemudian berdeham keras “…ayo…ikut aku… kita harus menemui kedua mempelai dna mengucapkan selamat…”ujar Yong jun yang kemudian menarik tangan Joo ri untuk mengikutinya

“…” Joo ri menghela napas keras dan mengikuti langkah Yong jun.

Joo ri melangkah diam, tanpa sekalipun lengah dengan sekitar. Ia menatap beberapa sudut yang mungkin dapat digunakan oleh orang-orang yang mengejar sang Siberian husky dan mengancam keselamatan Siberian husky nya itu.

“yya… apa yang kau lakukan..”ujar Yong jun ketika menyadari tangan Joo ri melingkar dilengan Yong jun untuk berpegangan.

“yya… aku takut jatuh dengan sepatu ini…”

“yya!! Takut?!?! Bukankah kau tdai dapat berlari dengan sepatu itu ketika mengejar Kang Ji hoon…?”

“ausshhh…” Joo ri menyadari kesalahannya.

Tak lama setelah memeberikan selamat selesai, Joo ri kembali berjaga, melihat sekitarnya, menjaga Yong jun, hingga tiba-tiba seseorang mendekapnya dari belakang dan berhasil membuat sedikit keributan karena tiba-tiba juga Joo ri menarik lengan orang yang mendekapnya, memitingnya dan menjatuhkannya hingga jatuh terkurap dengan salah satu lengan yang dipelintir oleh Joo ri.

“akkh!! Kau menyakiti lenganku…”ujar Kim bum, kesakitan

“ahh… mianhe…” ujar Joo ri yang kemudian melepaskan pelintirannya, dan perlahan membantu Kim bum bangun.

“gwenchana… aku juga yang salah, karena tiba-tiba memelukmu…”

“mianhe…”ujar Joo ri sambil membungkukkan separo tubuhnya pada Kim bum, semua tamu yang hadir dan juga kedua mempelai. “maaf… maaf…”ujar Joo ri.

Yong jun diam, tidak memperdulikan Joo ri hingga tiba-tiba dengan gerakan cepat, Yong jun menggendong Joo rid an membawanya pergi. Desing peluru terdengar tepat setelahnya, membuat beberapa orang tamu yang menyadarinya mulai pergi disusul oleh tamu yang lain.

Joo ri diam ditempatnya, menatap Yong jun yang terlihat tengah berlindung dibalik pohon bersamanya dan mengintai siapapun yang menembakkan pelurunya ditengah kerumunan. Yong jun menggenggam pistol yang diberikan Joo ri layaknya seorang tentara yang tengah mengintai musuhnya.

Joo ri menatap takjub pada Yong jun, tidak menyangka.

“apa kau tidak memiliki senjata apapun di tanganmu…”tanya Yong jun

“ahni!! Tak ada… bukankah kau bilang untuk melepaskan semuanya… jadi aku benar-benar melepaskan semuanya…”

“ausshhh… bodoh…”

“kau yang bodoh…”

Keduanya diam dan kembali mengintai. Tak lama tiba-tiba sebuah peluru menghantam keras pohon dimana tempat keduanya berlindung dan membuat keduanya kembali siaga dan bersembunyi kembali.

“auusshhh… cari bantuan… kita tidak mungkin menghadapinya… dan lagipula kita tidak tahu berapa banyak mereka…”

“ausshh… tentu saja… aku sudah terlatih…”ujar Joo ri kesal, menekan sebuah nomer di ponselnya dan kemudian segera terhubung dengan seseorang.

“Luke… butuh bantuan…”ujar Joo ri yang kemudian segera menutup ponsel ditangannya dan kembali waspada.

“auusshhh… apa tidak ada orang lain…?”ujar Yong jun kesal

Joo ri diam menatap Yong jun aneh sekaligus kesal


***********

End Of Chapters


Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
[what] tebak2 buah durian, Yong Jun satu profesi ama Joo Ri. kalo tugas Joo Ri jagain Yong Jun, diem2 Yong Jun ama Luke jagain Joo Ri atas perintah kakeknya *yee..ngawur [clap] [clap] [hmff]

Love you more than I can say

Offline Dindin

  • Newbie
  • *
  • Posts: 76
    • View Profile
Sist ai yg ini juga di update dong Hface

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
waahhhh ternyata udah satu tahun gak update nih ff  [heh] [heh] [heh]

mianhe semuanya  [lovestruck] [lovestruck]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
 Chapter 7


“Joo ri sayang… apa kau senang pergi berlibur dengan appa dan omma…”ujar seorang laki-laki sambil mengalihkan pandangannya sesekali dari hadapannya kearah seorang anak kecil yang duduk di jok belakang mobil.

“ne appa… Joo ri senang sekali…”

“ha ha ha ha ha…”laki-laki itu kembali tertawa keras, menatap jalanan yang berliku dihadapannya.

“sudah lama bukan appa tidak mengajakmu keluar… dan sekarang, benar-benar hari keberuntunganmu…”

“ehm!!”Joo ri menganggukkan kepalanya penuh semangat yang kemudian menjulurkan kepalanya di tengah, diantara sang ayah dan ibunya “omma…”ujar Joo ri yang kemudian mengecup pipi sang ibu.

“auuushhh… bagaimana dengan appa…”ujar sang ayah yang merasa iri dengan perlakuan Joo ri pada ibunya

“baiklah… apa juga…”ujar Joo ri yang kemudian mendekatkan wajahnya pada sang appa, dan sang appa juga perlahan mulai mendekatkan wajahnya kearah Joo ri, memejamkana kedua matanya, merasakan ciuman anaknya di pipinya.

“Joo ri ku benar-benar…”

“AWAS!!!”seru ibu Joo ri tiba-tiba menghentikan kalimat sang ayah. Dengan cepat pula ayah Joo ri membanting setirnya ke kanan kearah jurang yang kemudian membawa mobil yang mereka naiki terjatuh dari tebing dan berada tepat di tengah jalan di bawah mereka dimana tak lama sebuah truk melaju kencang dan menabrak mobil ketiganya hingga mobil ketiganya terjatuh kedalam jurang.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari ketiganya, hanya percikan api kecil yang terlhat dari mesin mobil yang telah rusak, hingga tak lama terdengar suara tangisan seorang perempuan kecil diantara tubuh sang ibu dan ayah.

“omma…”panggil Joo ri kemudian, menatap sang ibu yang berada diatas tubuhnya, bersimbah darah. “Joo ri sa..saya..ng… ka..kau ba..baik-baik sa..ja…”ujar sang ibu lemah.

“omma…!!”panggil Joo ri lagi. Sang ibu terlihat tersenyum menatap Joo ri, mengecup dahinya sesaat sebelum akhirnya ibu Joo ri menghembuskan napasnya.

“omma…!! Appa!! Banguuuunnn… banguuuunnnn…!! jangan tinggalkan Joo ri sendiri… jangan tinggalkan Joo ri… aku mohon…” ujar Joo ri, menatap sepasang tubuh dihadapannya yang tergolek lemah, tidak bernyawa. “ommmaaa…”panggil Joo ri lagi, sambil mengguncang tubuh sang ibu yang terlihat mendekapnya

“appa!!! Omma!!! Banguuuunnnnn…!!”seru Joo ri


Joo ri terdiam ditempatnya, menatap kosong hadapannya dan kemudian pandangannya teralih pada bagian tubuh yang ditekannya kuat. Rasa sakit mulai meraja di tubuhnya, darah segar perlahan mulai mengalir turun, menembus gaun putihnya dan tangan yang menutupinya.

Joo ri menundukkan kepalanya, dengan pandangan terkejut, ia mengangkat tangannya dan sangat jelas di matanya darah segar ditangannya. Air mata mulai turun. Air mata atas rasa sakit yang ditahannya. Tubuhnya perlahan oleng dan kakinya mulai tidak kuat menahan tubuhnya yang kini mulai mati rasa, Joo ri tidak dapat merasakan tubuhnya lagi. Ia terjatuh.

“Joo ri!! Joo ri!! JOO RI!!”seru seseorang tiba-tiba, ah… seseorang… Joo ri mendengar suara yang berbeda kini, siapa… Seseorang yang lain terdengar samar memanggilnya “JOO RI!!! Joo ri…” namun panggilan yang kedua terdengar melemah, tidak sekuat panggilan orang pertama.

“Joo ri… Joo ri…” dan Joo ri tidak mampu mendengar apapun lagi setelahnya

“om…mma… app…appa…”ujar Joo ri terbata dan mulai melemah, kemudian segalanya gelap. Joo ri tidak dapat mendengar apapun dan tidak dapat melihat apapun lagi

*********

Joo ri memnbuka matanya perlahan, dan cahaya putih langusng menyinarinya, menyilaukan kedua penglihatannya.

“Joo ri…nak…”panggil seseorang tiba-tiba, menatap Joo ri yang masih belum mampu membuka matanya lebar-lebar, menatap siluet yang membelakangi cahaya, namun Joo ri mengenal suaranya “…appa…”panggil Joo ri terdengar lemah.

“OMMA!!! APPA!!!”seru Joo ri yang tiba-tiba bangkit dari tidurnya, dengan napas yang memburu.

“gwenchana…?”tanya seseorang tiba-tiba, menatap Joo ri, dan duduk di dekatnya.

“apa yang terjadi…? Dimana aku…”ujar Joo ri yang terlihat menyapu ruangan yang ditempatinya.

“apa kau baik-baik saja…?”

Joo ri mengalihkan pandangannya menatap seseorang yang duduk dihadapannya. “dimana…?”

“kau berada dirumah sakit… semuanya sudah baik sekarang…”

Joo ri menatap laki-laki dihadapannya, sambil mencoba menenangkan dirinya. “apa yang terjadi…? Bagaimana dengan Yong Jun… apa dia baik-baik… AKHHH!!!”

“auusshhhhh… minum ini…”ujar Luke, yang kemudian memberikan segelas air putih pada Joo ri yang segera setelahnya Joo ri meminumnya.

Joo ri menatap Luke sesaat “apa kau baik-baik saja… dimana Yong Jun”

“apa yang terjadi…?”tanya Joo ri lagi, menatap Luke yang terlihat duduk di hadapan Joo ri, menatapnya tajam, diam. “kenapa kau pergi tanpa senjata…?”tanya Luke, dengan nada menginterogerasi.

Joo ri diam, menekan kepalanya yang masih terasa berdenyut kemudian memalingkan wajahnya menatap Luke “…aku…” Joo ri menghentikan kalimatnya sesaat “…dimana Yong jun…? dimana dia…? Apa dia baik-baik saja…?”tanya Joo ri menatap Luke penasaran.

“ck ck ck… kau ini…” ujar Luke, menatap kesal Joo ri sesaat kemudian memalingkan wajahnya, menahan rasa kesalnya “…tenanglah… sejauh yang aku tahu dia baik-baik saja… hanya beberapa luka lecet ditubuhnya…”



 Luke terlihat bangkit dari tempatnya, menghembuskan napasnya “setelah kau melakukan perlawanan tanpa senjata… seseorang melemparkan bom kearahmu… untung saja Joon…” Luke menghentikan ucapannya tiba-tiba, menatap Joo ri sesaat kemudian mengalihkan pandangannya dan berdeham keras “…untung saja aku dan yang lainnya datang tepat pada waktunya…”ujar luke,

"namun ledakan bom itu membuat kalian berdua terlempar jauh dan membuatmu terbentur…”ujar Luke sambil menunjukkan luka dikepala Joo ri yang sudah dibalut dengan perban.

Joo ri menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit “aduuhh…”

“istirahatlah…”ujar Luke

“ahni… aku ingin bertemu dengan Harabo…” Joo ri menghentikan kalimatnya tiba-tiba menatap Luke dihadapannya dan Yong jun bergantian, kemudian dengan cepat memalingkan wajahnya “…ehem! Maksudku Jenderal Lee…”ralat Joo ri.

“tapi…”

“istirahatlah…”tambah Luke lagi, yang kini terlihat menatap Joo ri dengan tatapan memaksa dan tidak bisa dibantah.

Joo ri tidak mendengarkan ucapan Luke dan perlahan bangkit dari tempatnya, menahan rasa sakit dikepalanya, namun ketika akan bangkit dari ranjangnya tiba-tiba Luke menarik lengan Joo ri, dan melemparnya jatuh kembali ke ranjang. Joo ri diam, menatap kesal Luke.

“apa masalahmu…”seru Joo ri kesal, menatap Luke marah

“aku bilang istirahat… apa kau tidak mendengarku…?”

“tapi aku…”

“auuushhh… sudahlah… kau hanya harus istirahat… biarkan tubuhmu memperbaiki dirinya… jangan memaksa… sudah tidur…”ujar Luke lagi.

Joo ri diam, menatap Luke, kemudian segera menyelimuti dirinya, hingga menutupi wajahnya.Ia benar-benar kesal gengannya.

***********

“apa anak itu sudah membaik Letnan Kang…?”

“ne.. dia sudah membaik…”

“dan bagaimana dengan Luke dan Yong jun…?”

“Luke masih bersama dengan Joo ri pak… apa kau ingin bertemu dengannya dan…?” tanya Letnan Kang menghentikan ucapannya, seakan tidak ingin mengucapkan apapun dan siapapun yang akan diucapkannya. Letjen kang menatap Jenderal Lee menunggu, dan belum sempat Jenderal Lee menjawabnya, seseorang mengetuk pintu ruangan tersebut. Jenderal Lee diam, menatap LetJen Kang, dengan tatapan bertanya.

“masuk…”seru LetJen Kang akhirnya yang kemudian pintu dihadapannya mulai terbuka, dan seseorang melangkah masuk kedalam ruangan itu. Jenderal Lee menatap laki-laki itu yang mengangkat sebelah tangannya memberi hormat khas tentara sebelum kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit, untuk menghormati atasannya yang juga lebih tua.

“ahhh… kau…”ujar Jenderal Lee, menatap tersenyum orang itu.

“ada apa…?”tanya LetJen Kang, langsung

Mendengar pertanyaan LetJen Kang orang itu terlihat mulai serius dan mengambil berkas yang terselip dilengannya kemudian menyerahkannya pada LetJen Kang yang berdiri tak jauh dari orang itu.

“apa ini…?”tanya LetJen Kang, menatap berkas itu.

“…semua data yang anda minta tuan… saya sudah mencari tahu semuanya…”ujar orang itu

“bagus… kau sudah banyak berkorban disini…”

“ini…”ujar LetJen Kang yang kemudian menyerahkan berkas itu pada Jenderal Lee. “sudah menjadi tugas saya pak…”tambah orang itu, mendengar pujian dari Jenderal Lee.

Orang itu terlihat diam ditempatnya, menatap LetJen Kang dan Jenderal Lee yang masih berusaha menghayati laporan yang dibawanya. Ia terlihat berpikir keras “…tapi pak…”panggil orang itu, membuat Jenderal Lee dan LetJen Kang mengalihkan pandangannya. “ada apa…”tanya Jenderal Lee, menatap orang itu

“aku ingin minta waktu lagi…”

“untuk apa…”

“ada sesuatu yang masih misterius yang membutuhkan penyelidikan lagi… jadi aku minta sedikit waktu untuk lebih mengerti semuanya…”

“lalu…”

“ne…” orang itu menghentikan ucapannya sesaat, mengingat setiap ucapannya dan orang-orang yang –mungkin- dia anggap bertanggung jawab untuk semua yng terjadi pada Lee Joo ri. Tapi ia masih belum dapat melakukannya, ia masih belum punya banyak bukti yang cukup. Dan untuk mendapatkan bukti-bukti itu, ia hanya harus melanjutkan apa yang sudah ia kerjakan selama 2 tahun ini. Orang itu menghela napas panjang.

“ada apa…?”tanya Jenderal Lee, menatap orang itu.

“…aku minta waktu dan juga ijin anda untuk memberiku kebebasan dalam melakukan tugasku…”

Jenderal Lee dan LetJen Kang terdiam sesaat ditempatnya, memikirkan ucapan laki-laki dihadapan mereka berdua, hingga akhirnya sebuah kalimat meluncur keluar dari mulut LetJen Kang “…apa maksudmu dengan…”Jenderal Lee menghentikan kalimatnya sesaat, menatap laki-laki dihadapannya penuh selidik.

***********

Malam mulai hadir. Bulan dan bintang kembali melakukan tugasnya dengan berada di posisi mereka masing-masing, namun tidak dengan seseorang yang terlihat diam, menatap seseorang yang terlelap dihadapannya. Menjaga, menunggu.

“mianhe…”ujarnya lirih tidak ingin membangunkan seseorang yang terlelap di hadapannya.

Orang itu mendesah perlahan, mengangkat tangannya untuk mengusap lembut keningnya.

“jangan sakit…”ujar orang itu lagi “aku benar-benar tidak bisa menjagamu dengan baik…”tambahnya yang kemudian terdengar helaan panjang sebelum akhirnya orang itu berbalik, melangkah untuk pergi, namun sesuatu menghentikan langkahnya, seseorang menggenggam tangannya, mencegahnya untuk pergi.

Orang itu menatapnya, terkejut tidak menyangka orang yang tengah terlelap tidur akan menyadari keberadaannya, laki-laki itu membalikkan tubuhnya perlahan menatapnya, terkejut. “ahhh… aku…”

“jangan pergi… jangan pergi omma…”ujar orang itu dalam lelap tidurnya.

Laki-laki itu menatapnya “…hanya mimpi…”ujarnya yang kemudian melangkah mendekat dan menggenggam lebih erat tangan yang mencengkeram tangannya. “tenanglah…”ujarnya, lembut sambil perlahan menepuk pelan tubuh orang itu, menenangkannya, membuatnya keluar dari mimmpinya, menghapus mimpi buruknya itu.

“tenanglah… tenanglah… tidak akan terjadi apapun…”ujarnya dengan suara yang lembut serta menenangkan, dan menatap  takjub ketika senyum terlihat terkembang diwajahnya, menghiasi wajahnya yang indah.

***********

“ahhh… kau sudah bangun…? Apa semuanya baik…”tanya seorang wanita tepat saat Joo ri membuka matanya dan bangkit dari ranjangnya perlahan.

“ahhh… bibi Yang… ne gwenchana…”ujar Joo ri malas, kemudian ia teringat sesuatu… “haraboji…?!?!”tanya Joo ri terhenti “…ne… beliau sudah berangkat dan tidak ada pesan apapun untuk anda agashi… hanya ini…”ujar bibi Yang sambil menyerahkan sebuah kertas tertutup pada Joo ri yang kemudian segera membukanya.

Joo ri menghela napas panjang setelah membaca surat yang diterimanya dari bibi Yang dan seakan mengerti dan ternyata memang sangat memahami, bibi Yang tersenyum menatap Joo ri.

“beliau menyuruh agashi untuk bertugas lagi…?!?”ujar bibi Yang menebak namun tidak hanya sekedar sebuah tebakan, karena itu memang benar. Joo ri menghela napasnya kembali dan menganggukkan kepalanya.

“jika anda belum merasa baik, lebih baik jangan…”

“ahni…”potong Joo ri cepat “gwenchana… aku sudah menerima pekerjaan ini dan akan aku tuntaskan…”jawab Joo ri lagi, membuat senyum bibi Yang semakin lebar diwajahnya.

“baiklah… kalau begitu hati-hati agashi…”ujar bibi Yang, lembut

Joo ri bangkit dari tempatnya, mengenakan pakaiannya dan ketika ia akan mengambil senjatanya ia benar-benar terkejut, senjatanya terlihat tertata rapi di meja di ujung ruangan. Semua senjatanya di letakkan disana, tanpa satupun yang terlupakan. Joo ri diam, menatap senjata-senjata itu sesaat dan berjanji tidak akan pernah menanggalkan senjata-senjata itu sebelum akhirnya mengenakan senjata-senjata itu ditubuhnya dan tidak melupakan apapun.

Bibi Yang menatap nona mudanya itu “…anda benar-benar sangat berbeda dengan orang tua anda agashi…”

Joo ri diam, mengalihkan pandangannya menatap bibi Yang, meminta penjelasan darinya “… maksud saya… anda memilih jalur seperti kakek anda dan tidak memilih menjadi seorang pengusaha atau seorang dokter seperti ayah dan ibu anda, tapi menjadi seorang tentara…” bibi Yang menghentikan kalimatnya, kemudian menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang terjadi pada gadis manis, cantik dan lembut yang berdiri dihadapannya. entah kemana gadis manis, cantik dan lembut yang sebelumnya ia kenal. Kini gadis itu berubah menjadi gadis manis, cantik, lembut disaat-saat tertentu dan akan segera berubah menajdi ganas dan tegas disaat yang lain. Bibi Yang mendesah pelan.

Joo ri diam, menundukkan kepalanya sesaat sebelum akhirnya mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap bibi Yang “…aku kagum dengan haraboji bibi Yang… dan ini adalah impianku sejak aku masih kecil…”jawab Joo ri.

Bibi Yang diam ditempatnya, tersenyum manis menatap Joo ri.


Joo ri menghela napas panjang sambil merentangkan kedua tangannya lebar setelah ia keluar dari kediaman Jenderal besar Lee dan menghirup udara segar yang berhembus pagi itu seolah dia baru saja keluar dari kungkungan yang sangat lama.

“aku sudah mengira kau akan seperti ini…”ujar seseorang tiba-tiba, membuat Joo ri bergerak cepat, memegang senjatanya, waspada.

“Luke… sudah berapa lama kau disana…?”tanya Joo ri, membalikkan tubuhnya menatap Luke yang berdiri bersandar di sisi pintu, tak jauh di belakang Joo ri berdiri. Luke menghela napas dan bangkit dari tempatnya, melangkah mendekati Joo ri “…beberapa jam yang lalu… dank au, bukankah Jenderal sudah melarangmu untuk pergi kenapa…”

“auuussshhhh… aku masih bertugas… dan kemana si Siberian itu…”

Luke mendengus, memahami sifat Joo ri “…seperti biasa, banyak acara dan banyak bertemu orang…”

Joo ri mendekati Luke “…kau tidak berjaga disisinya…?!?!?”ujar Joo ri, menyipitkan matanya, menatap Luke. Luke diam, tidak terengaruh dan tersenyum lebar “…dia cukup aman… ayo…”ujar luke sambil melangkah ke mobilnya. Keduanya membuaka pintu mobil dan masuk hampir dengan bersamaan, tidak menaydari 2 pasang mata tengah menatap keduanya.

“mereka sudah pergi…”

“ne…”

Keduanya terdiam sesaat, masih menatap mobil dimana Joo ri baru saja menghilang masuk kedalamnya. “…apa ini baik Jenderal…?”

Sang Jenderal diam, menghela napas panjang kemudian membalikkan tubuhnya menatap seseorang yang berdiri tak jauh dibelakangnya “…entahlah Sung bin-aa… aku tidak terlalu yakin, tapi kita tunggu dan lihat saja…”ujar sang Jenderal yang kini menundukkan kepalanya dan menatap diam lututnya dengan kedua tangannya di dagunya, mencoba berpikir.

*************

Yong jun diam menatap sekelilingnya, mencari seseorang ditengah teriknya mentari yang menyengat siang itu. Namun ternyata orang itu tidak ada disana. Yong jun diam, dan melangkah perlahan ke tempatnya beristirahat semabri menunggu gilirannya untuk pengambilan gambarnya.

“minumlah… udara panas sekali… dan kau sudah banyak berkeringat…”ujar seseorang tiba-tiba, membuat Yong jun mengangkat wajahnya dan menatap orang itu.

Menyadari seseorang yang ada dihadapannya adalah orang yang sedari tadi dicarinya, Yong jun tersenyum lebar kemudian bangkit dari tempatnya dan secara reflex ia membawa orang itu kedalam pelukannya.



 “mianhe…”ujar Yong jun masih memeluk orang itu dan kini mulai mendekapnya lebih dalam, membuatnya hampir kesulitan untuk bernapas. “gwenchana..??!?”tanya Yong jun yang menjauhkan tangannya, namun masih tidak melepaskan tangannya dari bahunya.

Ditatapnya orang itu dalam “…ahh… mianhe… mianhe…”ujar Yong jun yang kembali membawanya kedalam pelukannya, memeluknya erat “…aku benar-benar merasa bersalah dan khawatir padamu…”ujar Yong jun, yang semakin membuat joo ri terdiam ditempatnya, bingung dengan perubahan yang didapatnya sekarang. “y…yya..” Joo ri mulai mengeluarkan suarany, terdengar gugup sekaligus bingung, menepuk pelan bahu Yong jun, mencoba untuk menghentikan apa yang dilakukan Yong jun padanya.

Dan keduanya benar-benar terkejut ditempatnya saat tiba-tiba seseorang berseru, memanggil namanya “YYA!!! Joo ri!!! apa yang kalian berdua lakukan?!?!”seru seseorang tiba-tiba yang membuat Joo ri segera melepaskan pelukan Yong jun, cepat dan terdiam, mencoba menenangkan dirinya. Sesaat tadi, ia merasakan jantungnya berdebar sangat kencang, ia merasakan rasa panas yang terasa diwajahnya yang terlihat memerah. Joo ri benar-benar tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Ia terdiam.

Lamunan Joo ri buyar ketika seseorang tiba-tiba melingkarkan lengannya di bahunya dan membawanya lebih dekat dengannya “ahhh… Joo ri… aku merindukanmu… berapa lama kita tidak bertemu setelah kejadian di vila itu dan AKKHHHHH!!!”serunya tiba-tiba ketika Joo ri menekuk jari-jari orang itu berlawanan, untuk mematahkan jari-jarinya “…aku benar-benar akan mematahkannya sekarang…”bisik Joo ri mengancam.

“AKKHHHHH!!! Ahniya!!! Ahniya!!!”seru orang itu yang segera menjauhkan lengannya dari bahu Joo rid an melangkah menjauh dari jangkauannya. Joo ri menatapnya dengan pandangan marah. “bagus…”ujar Joo ri santai.

“kau tidak pernah belajar Kim Sang bum…”ujar Ji hoon, menatap Joo ri dan Sang bum tersenyum.

Menatap kedatangan Ji hoon, Joo ri segera mengalihkan pandangannya dan menatap Ji hoon takjub, penuh dengan kerinduan “…oppa…”ujar Joo ri yang terdengar hampir seperti sebuah desahan.

Yong jun diam, menatap tajam Ji hoon yang melangkah tersenyum mendekati Joo ri. “auusshhh… lagi-lagi… seorang wanita jika berada didekat Ji hoon…”gumam Sang bum kesal namun masih terdengar oleh Joo ri dan Ji hoon yang membalas gumamannya itu dengan senyuman lebar.

“bagaimana keadaanmu…” tanyanya “…apa semuanya baik…”tambahnya lagi.

Joo ri tersenyum malu-malu “…auushhhhh…”seru dua orang tiba-tiba ketika menatap tingkah Joo ri yang terlihat malu-malu ditatap Ji hoon tajam dan penuh kekhawatiran. Sang bum dan Yong jun terlihat terganggu dengan apa yang ada dihadapan keduanya dan mulai melangkah menjauhi Joo rid an Ji hoon “….gwenchana oppa… semuanya baik…”

Ji hoon diam ditempatnya, menatap Joo ri sesaat kemudian menghela napas panjang sebelum kemudian ia mulai melangkah pelan sambil melipat kedua lengannya didada “….yaa… untungnya Yong jun bersikap cepat dan teliti ketika bom itu dilemparkan kearahmu… dia benar-benar gesit dan cepat… bahkan sebelum peluru itu mengenai sesuatu didekatmu, ia sudah membawamu pergi dan berlindung dibalik pohon…”terang Ji hoon, “ahh… dan juga bom itu… jika ia meleset sedikit saja, mungkin kalian berdua akan hancur berkeping-keping…”tambah Ji hoon, yang kemudian membalikkan tubuhnya, untuk mendapati Joo ri yang mengikuti langkahnya dan terlihat terdiam ditempatnya, memikirkan sesuatu. “gwenchana…?”tanya Ji hoon tiba-tiba, menatap Joo ri penasaran sekaligus khawatir.

Joo ri mengangkat wajahnya cepat dan menatap Ji hoon tersenyum “…gwenchana oppa…” Joo ri diam sesaat, beberapa hal masih berkelebat di pikirannya “…tapi…” Joo ri terdiam kembali sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya, dan menatap Ji hoon penasaran “…oppa… apa kau yakin dengan apa yang kau katakan… Yong jun yang…” Joo ri kembali terdiam, ragu dengan kalimatnya.

“ne… tentu saja…”jawab Ji hoon yang kemudian terdiam ditempatnya, menatap Joo ri dalam, membaca sesuatu “apa kau tidak ingat…?"tanya Ji hoon menatap Joo ri bingung. Joo ri menggelengkan kepalanya lemah, memikirkan banyak hal dikepalanya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya “…aku melihat sendiri apa yang dia lakukan ketika aku akan menarikmu untuk berlindung, dia menarikmu lebih dulu dan kalian berlindung jauh di balik bebatuan untuk menghindari ledakan peluru itu... namun memang sedikit terlambat dengan bom itu hingga membuat kalian berdua terlempar… tapi Yong jun sangat terlatih hingga tidak membuat cidera yang serius, atau efek lain dari ledakan itu…” jelas Ji hoon.

Joo ri terdiam ditempatnya, banyak pikiran mulai mengganggunya. “…sepertinya kau benar-benar tidak ingat… mungkin karena luka dikepalamu..”ujar Ji hoon yang kemudian duduk tak jauh dari tempat keduanya berdiri dan mengalihkan pandangannya menatap Joo ri, “duduklah…”ujar Ji hoon

Joo ri tersenyum menatap Ji hoon dan ketika ia akan duduk disisinya, seseorang memanggil namanya keras “..YYA!!! bodyguard!!! Kita harus pulang…!!!”ujar orang itu. Joo ri sangat mengenal suara itu dan seketika itu ia mendesah panjang, memejamkan matanya lelah. Joo ri membalikkan tubuhnya untuk memberikan orang itu sebuah tatapan ingin membunuh namun hanya sesaat setelah Joo ri menatap orang itu yang diam sambil menyilangkan lengannya di depan dadanya, menatapnya dari ujung kaki ke kepala kemudian berhenti di kedua matanya.



 Joo ri merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya. Seperti ada tegangan listrik yang mengaliri tubuhnya. Joo ri diam, mendesah pelan kemudian kembali mengalihkan pandangannya menatap Ji hoon, lesu “…baiklah oppa… mianhe… aku harus pergi…”ujar Joo ri yang kemudian membungkukkan kepalanya, membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan Ji hoon yang tersenyum menatap kepergiannya.

************

Mobil mulai melaju kencang, menerobos angin dan meninggalkan jejak panjang di jalan lurus yang mereka lalui. Joo ri terlihat diam ditempatnya, menatap sesuatu ditangannya yang terlihat seperti layar, namun juga terlihat seperti ponsel.

“apa yang kau lihat…?”tanya Yong jun, menatap Joo ri yang duduk disisinya penasaran.

Joo ri tersenyum kemudian senyum itu menghilang ketika ia mengalihkan pandangannya pada Yong jun. “tak ada…”

Yong jun diam, tidak percaya dengan jawaban Joo ri “…apa itu… berikan padaku…”ujar Yong jun memaksa.

Joo ri diam, menatap Yong jun kesal “…ini bukan apa-apa… hanya monitor yang, menunjukkan keadaan kamera pengawas yang kupasang di beberapa tempat…”

Yong jun diam, mencoba menerima jawaban Joo ri atas pertanyaannya “…mwo…?!?!? Beberapa tempat…? Dimana saja…?!?!? Jangan bilang kau juga memasangnya di rumahku…”

Joo ri tersenyum penuh kemenangan kemudian kembali menatap layar seukuran ponsel ditangannya “…RA-HA-SI-A”jawab Joo ri, tidak memperdulikan rasa kesal yang terlihat di mata Yong jun.

“YYA!!! kau sudah melanggar privasiku…”seru Yong jun.

Joo ri diam, kemudian mengedikkan bahunya, memberikan jawaban menggantung pada laki-laki yang duduk dibalik kemudian, disisinya itu.

“AUUUSSHHHH!!!” Yong jun terlihat frustasi, keduanya terdiam selama beberapa saat. Keterdiaman yang mencekam disatu sisi, dan tentu saja di sisi Yong jun, sedangkan Joo ri terlihat diam, dan tersenyum sendiri menatap layar ditangannya. “auuussshhh…” Yong jun terlihat semakin kesal.

Keterdiaman mulai meraja kembali hingga “…Cham!!! Kau juga memasangnya di kamar dan kamar mandiku!?!?!”tebak Yong jun, menatap Joo ri tidak percaya, yang kembali menjawab pertanyaan Yong jun dengan sebuah kedikkan di bahunya.

“YYYA!!! Kau ini benar-benar!!! Auussshhhh…” Yong jun semakin marah dan mengacak rambutnya frustasi.

Keduanya terdiam, dan menyibukkan diri dengan apa yang mereka masing-masing. Yong jun dengan setirnya sedangkan Joo ri masih serius dan masih dengan senyum lucu menatap layar dihadapannya. Hanya beberapa saat kemudian Joo ri mengalihkan pandangannya singkat ke jendela mobil Yong jun dan menatap jalanan. Joo ri tidak mengenal jalan yang mereka lalui saat itu, Joo ri bingung “…mau kemana kita…”tanyanya, menatap Yong jun, penasaran.

Yong jun terlihat diam, dan mengacuhkan pertanyaan Joo ri padanya. “YYA!!!”seru Joo ri kemudian.

Yong jun mengalihkan pandangannya menatap Joo ri, dengan pandangan dan senyumannya yang mengejek “RA-HA-SI-A”

Joo ri menatap Yong jun diam, membuka mulutnya lebar, benar-benar terkejut dengan jawaban laki-laki itu “AUUSSHHHH!!!”Seru Joo ri, dan kembali mengalihkan pandangannya pada layar ditangannya.

Yong jun tersenyum puas, dan kembali menatap ke jalan yang mereka lalui. Pembalasan memang terasa manis dan menyenangkan…, pikir Yong jun senang. Tersenyum semakin lebar.

**********

“kita gagal lagi… dia sama sekali tidak berhenti… apa yang harus kita lakukan sekarang…” ujar seseorang yang terlihat tengah menghisap rokoknya dalam kemudian menghembuskan asapnya, hingga memenuhi ruangan yang lumayan sempit itu.

Hanya ada sebuah meja persegi dan 3 buah kursi yang terlihat sangat tidak nyaman di ruangan itu. Ada sebuah telepon kabel kecil yang menggantung di dinding dekat dengan pintu keluar yang tertutup saat itu. Sebuah layar yang memperlihatkan beberapa bagian ruangan lain, dimana terlihat beberapa orang tengah berjaga dan beberapa yang lain terlihat tengah bersantai sambil minum-minum.

Beberapa bagian dari layar juga memperlihatkan beberapa aktivitas yang menunjukkan kegiatan siang sebuah klub malam. Beberapa orang tampak melakukan tugasnya, membersihkan bagian-bagian klub tersebut sebelum klub malam itu buka untuk menerima tamu-tamu yang sudah menajdi langganan klub itu juga beberapa tamu yang lain.

Siang itu, udaranya panas, karena hanya sebuah ventilasi kecil yang membuat hanya sedikit udara yang dapat masuk kedalamnya, karenanya, terlihat peluh yang mengucur di wajah hingga tubuh orang-orang yang ada didalamnya, benar-benar tidak nyaman. Bahkan beberapa orang sudah melepas setiap kancing dibajunya untuk mendapatkan sedikit kesejukan.

“sekarang pasti dia sudah melipat gandakan penjagaan… sampai semutpun tidak akan bisa menerobos masuk dan menyentuh kulitnya…” ujar orang yang lain yang terlihat sedikit lebih tua dari sebelumnya karena uban yang mulai tampak di beberapa bagian rambutnya dan lebih kurus. Lagi-lagi ia menenggak air dingin di gelas besar dihadapannya, untuk menambah kesejukan.

“kita serahkan saja segalanya pada orang itu… aku yakin dia bisa melakukannya… dia lebih cerdik dari kelihatannya, dan aku yakin kita akan memenangkan segalany… trophy juga souvenirnya…” ujar yang lain, yang terlihat lebih muda dari orang pertama dan terlihat lebih berotot dari kedua orang yang lain.

Semua kancing dibajunya tampak terbuka, untuk menghapus peluh yang mengucur dari tubuhnya, dan hampir membasahi seluruh bagian bajunya. Orang itu bangkit dari tempatnya, dan mengambil telepon di dinding tak jauh dari pintu, menghubungi seseorang “…aku ingin kau melakukannya… bunuh dia,apapun caranya, dekati dia”orang itu menghentikan ucapannya sesaat, terlihat sangat marah hingga menggemerutukkan giginya, dan menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya “…cari kelemahannya… cari saat yang tepat… cari sela kosong yang dapat kau gunakan untuk membunuhnya… lakukan apapun untuk itu… dan aku ingin hari ini eksekusi itu selesai…”ujarnya, yang kemudian menutup telepon itu setelah mendengar persetujuan dari orang yang dihubunginya. Orang itu menghela napas panjang, kemudian melangkah kembali ketempatnya dan tersenyum.

“kau terlalu gegabah…”

“aku tidak ingin menunggu lagi… segalanya harus cepat diselesaikan… dan aku sudah sangat muak dengan laki-laki itu…”

2 orang yang lain terlihat tersenyum dengan ketidak sabaran rekan mereka, namun mendukung rencananya walaupun hanya beberapa persen keyakinan yang mereka berikan untuknya.

Dan udara semakin memanas diruangan itu,entah kenapa orang-orang ini begitu bertahan untuk berada didalam ruangan sempit itu. Ruangan yang mereka sebut ruang rahasia. Ruangan yang mereka gunakan untuk menyusun rencana dan bersiap untuk melakukan rencana mereka.

***********

Yong jun menginjak rem kaki mobilnya, kemudian mobil itu segera berhenti sebelum kemudian Yong jun mengambil kuncinya kemudian membuka pintu disisinya.

“dimana kita…?”tanya Joo ri, sebelum Yong jun menutup pintu disisinya. Yong jun hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Joo ri, hanya turun, menutup pintunya kemudian berputar kearah pintu disisi Joo ri. “turun”katanya tegas.

“kita dimana…?”

“turun…”ujar Yong jun lagi sambil menarik lengan Joo rid an membawanya keluar dari mobil. “ausshhhh… yya!!! tidak perlu seperti ini…”seru Joo ri sambil melepaskan cengkraman tangan Yong jun di lengannya dan menatap Yong jun tajam.

Yong jun diam dan memimpin keduanya masuk kesebuah gedung tak terlalu besar yang hampir berada di pinggir kota. Yong jun melangkah hingga ia mendapati seseorang berdiri di pintu gedung itu, member hormat padanya dan tersenyum menyapa “…pagi pak…”ujarnya.

Yong jun tersenyum singkat “…pagi… segalanya baik pak…”sapanya.

“terkendali tuan…”

Joo ri diam, menatap interaksi itu, hingga kemudian Yong jun meraih tangannya dan menariknya masuk. “yya!!! tidak usah seperti ini…”ujar Joo ri sambil berusaha melepaskan tangan Yong jun dari pergelangan tangannya. “kemana…”ucapan Joo ri terhenti, ia menatap tempat itu sesaat, dan terkesima, terdiam. “ini…”

“perusahaanku… JJent…”

“jadi kau… tapi kenapa…”

“aku masih memiliki beberapa kontrak dengan tuan Kang… dan aku harus menyelesaikannya sebelum akhirnya aku bisa lebih berkonsentrasi pada talent agent dan perusahaan produksiku ini…”jawab Yong jun sambil terus melangkah keruangannya.

Joo ri melangkah mengikuti Yong jun dalam diam, memikirkan sesuatu sambil melihat sekelilingnya. “…masuk… dan jangan sekali-sekali memasang kamera pengawas tanpa ijinku ditempat ini…”

“tapi…”potong Joo ri yang kemudian segera dipotong kembali oleh Yong jun “karena… pertama aku jarang disini… dan kedua…”pandangan Yong jun pada Joo ri semakin tajam dan mengancam “…aku tidak ingin privasiku kau usik… dan tidak untuk yang satu ini…”ujar Yong jun, mengancam. Joo ri diam ditempatnya, menatap Yong jun terkejut dengan ketegasannya. “mengerti?!?!?”ujar Yong jun lagi, terdengar sedikit berseru.

Joo ri masih diam ditempatnya “…jawab aku prajurit!!”seru Yong jun

“ne!! agashimnida!!”jawab Joo ri dengan sikap tubuh tegap layaknya seorang prajurit yang diberikan perintah.

“bagus…”ujar Yong jun tersenyum kemudian melangkah masuk dan menutup pintu dibelakangnya. Joo ri berdiri diam tak jauh dari jendela kaca besar di ruangan Yong jun, menatap sekilas pemandangan awan yang berarak, sebelum tiba-tiba Yong jun menariknya duduk di kursi dihadapannya “…duduk”ujar Yong jun singkat dan melangkah cepat kearah kursinya, duduk dan membuka laci di mejanya kemudian bangkit “kita pergi…”ujar Yong jun dan melangkah kerah pintu.

“hanya itu…?”tanya Joo ri menatap Yong jun singkat.

“ne… mau apa lagi… masih banyak yang harus aku lakukan…”

Joo ri diam, menatap Yong jun “kalau begitu kemana lagi kita sekarang…”

“ikut saja…”

“ahni… aku harus memberikan laporan pada anak buahku… kau sudah melanggarnya sekali dan sekarang tidak akan lagi…”

Yong jun diam, menghela napas panjang, memijat ujung hidungnya pelan “… bertemu tuan Kang… ada yang ingin aku bicarakan dengannya… dan dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku…”

Joo ri menganggukkan kepalanya singkat dan kemudian menekan nomor di ponselnya, memberikan kabar pada orang yang Yong jun yakini adalah Luke “ok… kita bertemu disana Luke…”ujar Joo ri sebelum mengakhiri pembicaraannya, menyisakan pandangan mencela dari Yong jun.

********

Yong jun menghentikan mobilnya disebuah gedung besar teap ditengah kota dengan banyaknya orang dan banyaknya kesibukan yang dilakukan oleh orang-orang itu disekeliling mereka, membuat Joori mengedarkan pandangannya lebih waspada. Joo ri melangkah cepat ke sisi pintu Yong jun sebelum Yong jun membuka pintu itu, menunggunya disana, mencoba melindungi orang yang ia diperintahkan untuk melindungi.

“tidak akan ada apa-apa…”ujar Yong jun malas, ketika ia menginjakkan kakinya keluar dari mobilnya dan mendapati Joo ri berdiri dihadapannya dengan senjata yang siap ia ambil dari kantung hostlernya dipinggang.

“segalanya harus waspada dan lebih hati-hati…”ujar Joo ri yang kemudian melangkah mendahului Yong jun setelah meyakini tidak ada yang menyerang atau mencurigakannya, hingga…

DOOORRRR… terdengar letusan senjata ditengah kerumunan orang dan ditengah keramaian yang ada saat itu.
Beberapa orang terlihat diam ditempatnya saat, menghentikan semua aktivitas yang mereka lakukan, dan segalanya hening, tidak terdengar apapun selama beberapa detik, hingga kemudian semua orang mulai menjerit dan berhamburan, berlari untuk menyelamatkan diri mereka.

Luke menyadari situasinya dan dengan cepat melangkah keluar dari mobilnya dan berlari kearah Joo ri dan Yong jun sambil terus waspada pada sekelilingnya. Luke menyadari Joo ri dan Yong jun yang masih terdiam ditempatnya, dan itu hal yang sangat berbahaya untuk mereka, membuka diri untuk menerima tembakan, bukankah seharusnya Joo ri menyadari posisi mereka, tapi kenapa…

Luke menghentikan langkahnya seketika ketika menatap Yong jun yang terlihat menatap Joo ri yang berdiri dihadapannya, menghadap kearahnya. Yong jun, diam terlihat sangat terkejut dengan apa yang terjadi dihadapannya. Luke melangkah lebih mendekat untuk lebih mengetahui apa yang tengah terjadi pada keduanya, namun saat langkahnya mulai mendekat, ia menyadari sesuatu yang salah dengan apa yang dilihatnya… seseorang telah tertembak, darah terlihat mengucur dan menggenangi sekeliling Yong jun dan Joo ri.



Luke semakin takut, dan ketika ia kembali tersadar dari keterdiamannya, Luke menyadari semua darah itu berasal dari seseorang yang berdiri membelakanginya, Luke menyadari Joo ri tertembak.



End Of Chapter
« Last Edit: January 23, 2013, 08:11:32 am by ai_yuki »

Offline loveminsun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 21
    • View Profile
haduuu joo ri tertembak,,, jgn di bikin meningga author!!!
gak rela ane sist   [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break]

Offline Rya

  • Newbie
  • *
  • Posts: 47
    • View Profile
lanjootttttt palliii omo joo ri tertembakkk???