Author Topic: My Job Is... your Job...?!?!? (Chapter 8) 1st February 2013  (Read 9187 times)

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Akhirnya ini update juga makash....!!!
Yoo ri engga mengingat kronologi kejadiannya tapi... .untung ji hoon mengatakannya benar kata ji hoon mungkin akibat luka di keplanya tapi...yg datang ke kamar itu siapa ? yoon jun atau luke ?
OmG.... baru sembuh dari luka yoo ri tertembakk lagi ??? andweeee ? target mereka yoon ju tapi... yoo ri terlalu sigapp
lanjutttttt jangan lama " ya

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
Akhirnyaaaa FF ini update jugaaaa!makin curiga sist klo yong jun itu punya profesi sama kayak joo ri cuman dalam penyamaran!and malah dia yg justru jaga joo ri dengan cara yang beda (sotoY banget...m)
Omooo omoooo joo ri tertembak?gimana reaksi yonG jun and LukE?trus oraang2 Yg merencanakan membunuh seseorang itu siapa?apa TargeT mreka itu Joo ri ?

Thanx for Updating and rajin2 update lg y sista,sama FF y yg laen!hahahaahha

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
haduuu joo ri tertembak,,, jgn di bikin meningga author!!!
gak rela ane sist   [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break]

gomawo sista untuk komentnya seneng di  [head break]

 [rofl] [rofl]

 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] di chap selanjutnya kejawab sist... tenang aja... di bikin meninggal kayaknya seru tuh  [hmpfh] [hmpfh]

author di  [guns] [guns] [guns]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
lanjootttttt palliii omo joo ri tertembakkk???

ok  Emoticons0423

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Akhirnya ini update juga makash....!!!
Yoo ri engga mengingat kronologi kejadiannya tapi... .untung ji hoon mengatakannya benar kata ji hoon mungkin akibat luka di keplanya tapi...yg datang ke kamar itu siapa ? yoon jun atau luke ?
OmG.... baru sembuh dari luka yoo ri tertembakk lagi ??? andweeee ? target mereka yoon ju tapi... yoo ri terlalu sigapp
lanjutttttt jangan lama " ya

sama2 sist... terima kasih juga untuk komentnya sist... udah setahun, akhirnya bisa update  [clap] [clap] ai pikir belum ampe 1 tahun ternyata  [AddEmoticons04231]

klo tentang yang dateng itu, mungkin kejawab di chapter berikutnya sist... di chapter berikutnya mungkin mau ai buka semuanya ke-misteriusan ff ini... soalnya waktu baca koment2 sista semua, keyaknya cerita ini makin membingungkan...  [AddEmoticons04241] mianhe...  Emoticons0429

jadi sudah cukup ke misteriusannya, mau ai buka semuanya  [smiley-gen013] [smiley-gen013]

yup, uri kolonel memang sudah sangat terlatih sist  punk punk

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Akhirnyaaaa FF ini update jugaaaa!makin curiga sist klo yong jun itu punya profesi sama kayak joo ri cuman dalam penyamaran!and malah dia yg justru jaga joo ri dengan cara yang beda (sotoY banget...m)
Omooo omoooo joo ri tertembak?gimana reaksi yonG jun and LukE?trus oraang2 Yg merencanakan membunuh seseorang itu siapa?apa TargeT mreka itu Joo ri ?

Thanx for Updating and rajin2 update lg y sista,sama FF y yg laen!hahahaahha

 [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04218] Emoticons0432

he he he he he  [smiley-dance013] [smiley-dance013]

klo tentang orang yang ngerencanain itu kayaknya ai masih simpen dulu sist... di chap selanjutnya ai pingin buka identitas Yong jun, Luke, dan Joo ri sendiri... buat ngedukung semua tebakan sista semua... bener gak sih, Yong jun punya pekerjaan yang sama kayak Joo ri *penulis langsung di  [guns]*

sama2 sist... terima kasih juga untuk komentnya  [huglove] [huglove]

Offline PM

  • Newbie
  • *
  • Posts: 8
    • View Profile
dag dig dug ..... RRRR
Rasanya baca ini bikin deg deg 'an terus ..hahaha

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
 [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] kenapa joo ri ketembak
ayo update seceppatnyaaaaa  [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
dag dig dug ..... RRRR
Rasanya baca ini bikin deg deg 'an terus ..hahaha

terima kasih untuk komentnya  [hug] [hug]

  [welcome]seneng ada temen baru  [huglove] [huglove] [jumpy] [jumpy]

he he he he he... tapi jangan sampai copot aja tuh jantung  [hmpfh] [hmpfh]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
[ranting] [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] kenapa joo ri ketembak
ayo update seceppatnyaaaaa  [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]

joo ri ketembak untuk ngelindungi siberian husky nya sist..  [hmff] langsung di  [head break] [head break] [head break] ma sist virna...

sebenernya sist, awalnya bingung mau bikin ada kejadian apa lagi, tadinya yang ketembak mau yang lain, tapi ai pikir ini jalan untuk bisa buka kemisterusan cerita ini, jadi ai bikin Joo ri yang ketembak...

 Emoticons0423 sedang ai usahain sist... lagi dalam pembuatan  [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

Offline Lee Hye Rhiie

  • Newbie
  • *
  • Posts: 8
    • View Profile
deg degan juga baca ini kak ..
Si yoon jun udh mulai suka gk sihh sama joo ri pdhl brharap ada mement" mereka br2 gitu hehe ..
Gomawo kak udh update semangat yahh buat nglanjutin ff yg ini + lainnya

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
deg degan juga baca ini kak ..
Si yoon jun udh mulai suka gk sihh sama joo ri pdhl brharap ada mement" mereka br2 gitu hehe ..
Gomawo kak udh update semangat yahh buat nglanjutin ff yg ini + lainnya

terima kasih juga untuk komentnya sist... aduh... jadi malu dipanggil kakak  Emoticons0426

klo suka sih, belum keliatan sist, tapi klo Joo ri kayaknya udah ngerasain getar2 listrik yang hampir bikin dia klepek2 klo dia ngeliat Yong jun  [on]  [laughing] [lovestruck]

iya, kali ini diusahain cepet sist... soalnya gak ada tanggungan di short fanfic lagi, tinggal My Job ini sama FOL jadi agak ringan... terima kasih banyak untuk komentnya  [hug] [hug] [hug]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
mianhe semuanya... kemarin dapet usul dari adik tercinta... dia bilang cerita My Job Your Job dibikin sebegai cerita fiksi yang agak nyains...   [chin] dan mungkin mau ai coba, tapi belum tahu nyains gak... soalnya baru nyoba... mungkin mulai cerita yang nunjukin sains fiction di chapter selanjutnya... sedang dalam bayangan, masih belum yakin juga soalnya... minta dukungannya ya sist... [smiley-dance013] [smiley-dance013]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
pingin kasih Spoiler... ceritanya belum 100% selesai, tapi di chap ini ai buka semuanya... semua teka teki yang udah bikin bingung... dan bagi yang tebakannya benar, selamat!!! anda dapat.....  [huglove] [huglove]

 [hmff] [hmff]

Spoiler Chapter 8

Sang anak laki-laki terdiam ditempatnya, menatap anak perempuan itu, kemudian meletakkan piringnya dan mengambil piring anak perempuan itu dan membawa anak perempuan itu kedalam pelukannya, menepuk pundaknya lembut yang segera disambut oleh dekapan kuat anak perempuan itu, membawa diriya semakin masuk kedalam pelukan anak laki-laki itu “…begini lebih baik BaekSeolri… kau harus menangis… ahjussi bilang, menangis sama sekali bukan hal yang memalukan, tapi hal yang membuatmu akan jauh lebih baik…”ujar anak laki-laki itu, sambil terus menepuk lembut punggung anak perempuan itu. Joo ri terdiam ditempatnya, menatap interaksi itu dan perlahan air matanya pun menetes. Joo ri juga terisak ditempatnya, hingga jatuh terduduk di sisi kedua anak itu.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba kedua anak itu berpaling padanya, dan memeluknya bersamaan erat, menghiburnya. Joo ri mengingatnya, Joo ri mengingat rasa sakit itu. Rasa sakit karena telah ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat dicintainya. Joo ri menangis sejadinya, dan saat itu tidak ada yang menghalanginya untuk menangis. Joo ri menangis sekerasn-kerasnya, dan ia merasa hatinya terbebas dari ikatan kencang yang selama ini membelenggunya. Beban dipundaknya pun mulai sirna. Joo ri menangis, Hingga, ia mendengar sebuah panggilan, sebuah tarikan.


Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Chapter 8

 Yong jun hanya diam ditempatnya, kesadarannya belum kembali saat suara peluru terdengar hingga sekarang, namun saat itu tubuhnya seolah ingin segera bergerak dan menangkap tubuh Joo ri yang mulai merosot jatuh, tapi nyatanya ia masih diam menatap Joo ri yang berdiri dihadapannya dan perlahan-lahan mulai hilang dari pandangannya saat tubuh Joo ri yang lemah mulai jatuh ke pelukan Yong jun dan merosot jatuh.

Yong jun belum dapat menangkap tubuh Joo ri yang mulai jatuh melemah dan hanya dapat menggerakkan kedua matanya, menatap Joo ri yang tengah menatapnya. Anehnya, senyum terlihat diwajahnya. seolah ingin mengatakan bahwa segalanya baik-baik saja, tapi nyatanya tidak, segalanya tidak baik saat Yong jun mulai melihat darah yang mulai menggenang di sisi tubuh Joo ri yang menelungkup jatuh di kakinya.

Joo ri hanya diam menatap Yong jun, kemudian sebuah kalimat yang terdengar lemah keluar dari mulutnya “…gwen…gwenchan…a…”tanya Joo ri lirih, menahan sakit di tubuhnya.

“YYA!! Joo ri-aa… YYA!!!”

Luke segera berlari menghampiri keduanya berusaha meraih Joo ri, namun saat itu kesadaran Yong jun mulai menjelma, merasuk keseluruh tubuhnya, mengalirkan sengatan listrik hingga akhirnya Yong jun mulai bergerak,membawa Joo ri kedalam lengannya, mendekapnya dalam lingkaran lengannya.

Luke menatap itu dan hanya diam, menatap Joo ri dan Yong jun secara bergantian, menyadari sesuatu.



 “YYA!!!”seru Yong jun, terperangah menatap apa yang ada dihadapannya dan yang sedang dialaminya. Seakan mengharapkan itu hanya mimpi dan tidak ada yang terjadi ketika ia bangun, tapi, darah itu nyata. Darah yang menggenang ditangannya yang menopang punggung Joo ri nyata. Ia dapat merasakannya dan mencium baunya ketika Yong jun mengangkat tangannya. Darah itu terus keluar dan bertambah ditangannya dan Yong jun benar-benar seperti anak kecil yang kebingungan ketika tersesat, dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya menatap semua darah itu.

“YYA!!! Prajurit!!! Joo ri!!! Kolonel!!! Joo ri—aaa…”panggilnya sambil terus menggerakkan tubuh Joo ri yang semakin membuatnya meringis, menahan rasa sakit ditubuhnya.

“YYA!!! jangan menggerakkan tubuhnya… akan semakin memperdalam pelurunya!!”seru Luke tiba-tiba, mengambil Joo ri dari dekapan Yong jun, membuka jaket kulit yang dikenakan Joo ri, “apa yang kau lakukan?!?!”seru Yong jun, menatap Luke marah dengan apa yang dilakukannya. “memeriksa lukanya bodoh!!”

Yong jun diam, menatap Luke ketika dengan perlahan Luke membuka jaket kulit yang dikenakan Joo ri dan melihat luka tembak dipunggungnya. Luke dan Yong jun mendesah tenang saat menyadari pelurunya bersarang cukup jauh dari organ vital Joo ri dan yakin tidak akan berefek buruk pada Joo ri, namun kini masalahnya darah Joo ri terus mengalir keluar dari tubuhnya, yang semakin memperbesar resiko kematian Joo ri. “auusshhh!!! Darahnya… bagaimana menghentikannya…”ujar Luke frustasi. Yong jun diam, menatap Luke, kemudian menyadari jaket kulit Joo ri yang diberikan Luke padanya.

Yong jun dengan cepat melilitkan jaket kulit itu dibawah luka Joo ri, mengikatnya kuat, dengan harapan dapat mengurangi resiko banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya. “sudah… ayo lebih baik segera bawa dia…”ujar Yong jun yang kemudian membawa Joo ri dalam dekapannya ke mobilnya perlahan namun dengan langkah yang cepat masuk kedalam mobilnya yang memang tak jauh dari tempat keduanya berada.

“kau menyetir…”ujar Yong jun, memberikan kunci mobilnya pada Luke,yang kemudian segera melangkah ke kursi kemudi mengambil alih. “pastikan jaket itu mengikatnya dengan kuat… pastikan kau menekan lukanya agar tidak banyak mengeluarkan darah…”ujar Luke yang kemudian segera melajukan mobilnya cepat.

Joo ri diam. Samar ia masih dapat mendengar beberapa suara khawatir disekelilingnya, namun hanya sesaat, kemudian segalanya gelap. Joo ri tidak dapat lagi melihat sekelilingnya. Tubuhnya lemah, darah sudah banyak keluar dari tubuhnya, dan dia benar-benar tidak dapat mampu melakukan apapun. Joo ri hanya berharap Luke akan melakukan tugasnya, menggantikan tugasnya, menjaga Yong jun.

********



 Yong jun diam ditempatnya, pandangannya kosong. Sudah hampir 3 jam Joo ri berada dalam ruang operasi dan Dia tidak dapat melakukan apapun atau memikirkan apapun, selain bayangan Joo ri yang menghalangi peluru itu menembus tepat di jantungnya. Joo ri menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Yong jun, padahal saat itu…

Flashback

“yya!! bisa tidak kalau kita tidak menunggu laki-laki itu… aku sudah lelah berdiri…”

“kau masuk saja dulu…”

“antwe!!”jawab Yong jun cepat. “Kita masuk kedalam bersama.”
Joo ri menatap Yong jun kesal “…kalau begitu tunggu sebentar… aku harus bertemu dengan Luke dan mengatakan apa yang perlu dikatakan sebelum kau mengajak untuk pergi lagi… Banyak informasi yang harus aku katakan…”

Yong jun menatap Joo ri, dengan menyipitkan matanya curiga “…yya!! jangan coba-coba untuk memasang kamera pengawas di perusahaanku… jika kau melakukan maka…”

“apa?!?!?”tantang Joo ri “kau akan memecatku…?!?!? Lakukan saja…”

“auusssssshhhh!!! Kau!!!”

Joo ri tersenyum menatap Yong jun yang semakin kesal padanya “tunggu sebentar… mungkin 5 menit lagi…”ujar Joo ri, yang ternyata berhasil membuat Yong jun diam, menurut untuk menunggu.

Ia terlihat tersenyum pada beberapa rekan seperkerjaannya dan pada beberapa karyawan perusahaan tuan Kang, hingga ia menyadari sesuatu. Yong jun dapat melihat jelas orang itu. Ia berdiri di balik pagar pembatas puncak gedung tepat di depan gedung tuan Kang, dan terlihat tengah membidik kearahnya.

Yong jun diam, sesaat, dia tidak ingin membuat keributan ditempat itu, tapi ia harus dapat menghalangi peluru itu agar tidak dapat mencelakai siapapun yang ada di tempat itu, termasuk Joo ri. Dia punya tanggung jawab untuk itu.

Hanya sepersekian detik saat Yong jun menatap dan menyadari timah panas itu mulai dimuntahkan. Yong jun akan membawa Joo ri untuk menghindari peluru itu, tapi tiba-tiba Joo ri mendekapnya, dan menghalangi timah panas itu untuk menembus ke tubuhnya.

Yong jun tidak menyangka. Yong jun menyadari dan sangat mengetahui tentang ketanggapan Joo ri untuk merasakan peluru itu sesaat setelah peluru ditembakkan dan melesat kearah mereka hingga kemudian dapat menghindarinya namun Yong jun benar-benar terkejut dengan tindakan Joo ri, dia benar-benar tidak menyangka Joo ri akan membuat dirinya menjadi tameng untuk Yong jun. Melindungi Yong jun, dan membuat Yong jun tidak mendapatkan imbasnya ketika Joo ri menghindari peluru itu, karena bisa saja peluru itu mengenai dada kanan Yong jun, dan melukainya, tapi ini… Yong Jun benar-benar dibuat terkejut saat itu dan kini ia sangat menyesal tidak dapat menghalangi peluru itu menembus tubuh Joo ri atau melindungi Joo ri seperti yang sudah ditugaskan untuknya.

Yong Jun benar-benar dibuat terkejut saat itu dan kini ia sangat menyesal tidak dapat menghalangi peluru itu menembus tubuh Joo ri atau melindungi Joo ri seperti yang sudah ditugaskan untuknya.

End Of Flashback


Yong jun masih diam ditempatnya, menatap lantai putih dibawahnya kosong. Banyak hal yang berkelebat dikepalanya termasuk rasa bersalah yang menghantuinya.
Hingga tidak menyadari tatapan tajam Luke padanya, kemudian dengan langkah yang cepat, Luke mednekati Yong jun dan berdiri diam dihadapannya. Membuyarkan tatapan Yong jun, menegalihkan perhatiannya dari lantai putih kosong yang ditatapnya sedari tadi.

“bangun”ujar Luke, tegas, berusaha menahan amarahnya. Yong jun masih diam, ditatapnya Luke dengan senyum yang mengejek, dan setelahnya ia mengalihkan pandangannya kembali, tidak mengacuhkan Luke.

Luke semakin kesal menatap tingkah Yong jun, hingga kemudian dengan cepat Luke meraih kerah kemeja Yong jun dan menariknya berdiri “…aku bilang…” Luke menarik napas sesaat, menatap Yong jun tajam “…BANGUN!!!”serunya kemudian, tepat dihadapan wajah Yong jun yang hanya berjarak 10 senti saja dari hadapannya.

“kau!!!”seru Luke lagi. Yong jun diam, tidak memperdulikan Luke dan berdiri pasrah dengan perlakuan Luke padanya, namun tidak dengan senyum yang terlukis diwajahnya. Senyum itu mengejek, senyum yang tidak perduli dengan orang yang ada dihadapannya.

“kau benar-benar…” Luke tidak melanjutkan kalimat dan setelahnya Yong jun sudah jatuh merosot lemah, bersandar di tembok seberang tempatnya berada sebelumnya.
Yong jun mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan cairan merah, menatapnya sesaat kemudian bangkit dengan masih menunjukkan senyum yang sama pada Luke, senyum meremehkan… senyum mengejek.

“pukulanmu benar-benar lemah…seperti perempuan…”ujar Yong jun yang ternyata semakin menyulut amarah Luke yang kembali melayang bogem mentahnya ke wajah Yong jun kemudian memukul perut Yong jun hingga Yong jun berdiri terbungkuk dihadapannya dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya, menahan rasa sakit yang hadir. Kini rasa sakit itu tidak hanya ada dihatinya, namun juga diseluruh tubuhnya menyusul beberapa tendangan Luke di tubuhnya ketika Yong jun jatuh jatuh memiringkan tubuhnya, melingkar dengan memeluk lututnya, melindungi organ-organ tubuhnya. Tidak, ia sama sekali tidak memikirkan tubuhnya, namun rasa sakit itu semakin terasa, dan ia memeluk lututnya, mencoba menahan rasa sakit yang medera hatinya.

“YYA!!! hentikan!!! Apa yang kalian lakukan!!! Ini rumah sakit!!!”seru seseorang tiba-tiba, menghentikan tendangan Luke di tubuh Yong jun.

“LetJen Kang…”ujar Luke, menatap LetJen Kang kemudian memberi hormat padanya. Letjen Kan terlihat diam sesaat, menatap Yong jun dan Luke bergantian sebelum kemudian ia melangkah mendekati Yong jun dan membantunya bangkit, sambil menatapnya iba.

“duduklah… dan kau Luke tenangkan dirimu… kita berada dirumah sakit… butuh ketenangan disini…”ujar LetJen Kang

Luke mengangkat ujung bibirnya, tersenyum “…bukankah menguntungkan untuknya, jika dia sekarat, tidak perlu jauh-jauh untuk membawanya ke rumah sakit…”ujar Luke kasar

LetJen Kang diam, menatap Luke kemudian mendesah panjang “bagaimana keadaan Joo ri…?”tanya Letjen Kang menatap Yong jun dan Luke bergantian.

“belum tahu… lampu operasi masih menyala, kemungkinan masih dalam penanganan, dan…” ucapan Yong jun berhenti ketika lampu ruang operasi padam dan seseorang keluar diikuti oleh beberapa orang suster yang pergi “… dokter… bagaimana keadaannya…?”tanya Yong jun cepat, menatap sang dokter tajam, kemudian diikuti 2 orang yang lain, berdiri disisinya, sama-sama menatap sang dokter menunggu.
Dokter itu mendesah panjang, melepas penutup kepalanya, menundukkan kepalanya sesaat, kemudian menatap 3 orang dihadapannya dengan pandangan iba. “…kalian keluarga pasien…”tanyanya

“ne… saya pamannya… ada apa dok…? Bagaimana keadaannya…? Apa terjadi sesuatu yang serius…?”

Dokter itu lagi-lagi mendesah panjang sebelum kemudian menjawab pertanyaan LetJen Kang

*********

Luke terlihat duduk diam menatap ranjang di hadapannya, dimana terdapat seseorang yang tergolek lemah di sana. Sebelumnya ada beberapa peralatan kedokteran yang terhubung ditubuhnya, untuk membantu tubuhnya, menopang tubuhnya dan Joo ri dinyatakan koma. Namun beberapa saat yang lalu semua peralatan itu dicabut, setelah diketahui tubuh Joo ri tidak lagi membutuhkan semua peralatan itu, walaupun tubuh Joo ri masih koma, namun terjadi hal yang menakjubkan, proses recovery Joo ri berjalan lebih cepat dari kebanyakan orang yang terluka hampir parah di tubuhnya.

Luka Joo ri sebelumnya juga sudah 100% sembuh, jadi tidak mempengaruhi proses penyembuhan lukanya yang baru. Peluru yang ditembakkan dan bersarang ditubuh Joo ri tepat berada di atas jantungnya dan sedikit menyerempet pembuluh aorta, hingga banyak darah yang keluar dari tubuhnya.

Untungnya luka itu dapat ditangani dengan cepat, dan hanya dengan beberapa kali transfusi darah dan proses penyembuhan jahitan Joo ri, dia dapat beraktivitas seperti sebelumnya walaupun disarankan tidak terlalu banyak berlari, atau tidak terlalu banyak melakukan hal yang memicu kerja jantungnya, karena pembuluh aortanya masih perlu cukup waktu untuk recovery. Tapi tetap saja, Joo ri masih koma dan belum sadarkan diri.

Luke tersenyum dan mendesah perlahan, terdiam ditempatnya, menatap tubuh Joo ri yang masih lemah. Masih koma, pikirnya, namun yang dilihatnya tidak seperti itu. Sebuah ekspresi terlihat diwajahnya. Luke menatap Joo ri seakan ia hanya tengah tidur dihadapannya, dengan tenang, tanpa tekanan diwajahnya, tanpa kerutan, dan sebuah senyuman diwajahnya, entah apa yang membuatnya tersenyum seperti itu. Luke ikut tersenyum menatap itu.



 Luke bangkit perlahan dari tempatnya ketika menatp seseorang yang masuk tak lama kemudian. Luke mengangkat tangannya, memberi hormat, kemudian membuangkuk rendah. Orang itu tersenyum “…bagaimana kabar anda Tuan Lee…”sapanya.
“semuanya lebih baik setelah mendengar ucapan dokter… dan bagaimana perkembangannya…?”tanya Jenderal Lee, menatap Joo ri yang masih terbaring diranjangnya dengan wajah yang tenang.

“sepertinya lebih baik sekarang… dia tampak tenang…”ujar Luke.

Jenderal Lee menganggukkan kepalanya “…syukurlah…”jawabnya, melangkah mendekat dan duduk di kursi disisi ranjang Joo ri, mengambil tangan Joo ri dan menggenggamnya. Jenderal Lee hanya diam, menatap cucu tersayangnya prihatin. Tanpa mengatakan apapun, Luke keluar dari ruangan itu, memberikan sedikit privasi untuk kakek dan cucunya itu.

“maafkan haraboji sayang..”ujarnya kemudian, menatap Joo ri dengan air mata yang hampir jatuh kewajahnya, dan mata yang memerah berusaha menahan air mata, namun hanya beberapa saat, kemudian segalanya pecah

“segalanya terjadi karena salah haraboji… segalanya… seandainya haraboji bisa mengganti segalanya… maafkan haraboji…”ujar Jenderal Lee di tengah isak dan air mata yang mulai jatuh membasahi wajahnya.

***********

Joo ri diam, dan sesekali mengalihkan pandangannya menatap sekelilingnya. Tempat itu indah, lembut. Dengan padang rumput yang hijau, pohon-pohon yang menjulang tinggi dan bunga-bunga berwarna warni yang bermekaran tak jauh dari tempatnya.

Joo ri tersenyum menatap beberapa binatang yang terlihat berinteraksi dengan alam. Sudah lama Joo ri duduk di tempat itu, namun rasa bosan tidak merasuki dirinya. Entah apa yang dilakukannya di tempat itu. Tempat itu asing, namun Joo ri merasa dia sedang menunggu seseorang disana, entah seseorang atau beberapa orang, tapi dia merasa dia harus menunggu di sana.

 Joo ri terkesiap ketika ia menatap sebuah kupu-kupu cantik dengan warna dasar kuning dan merah yang menyelinginya hinggap di bahunya. Joo ri menatap kupu-kupu itu sesaat sebelum kemudian mulai pergi terbang jauh. Joo ri mengantarkan kupu-kupu itu dengan senyumannya, dan tak lama ia menyadari ada 2 orang yang tengah berdiri dihadapannya, menatapnya tersenyum.

Joo ri menatap kedua orang itu, dan mengenali siapa orang itu. Seorang wanita dan seorang pria yang mengenakan hanbok kesukaannya,dengan Jôgori warna kuning muda yang indah dan terlihat cantik ditubuhnya serta bawahan berwarna merah muda yang membuat wanita dihadapannya tampil sangat cantik dan menawan. Wanita itu tersenyum, menatapnya. Joo ri terkejut sesaat, namun tak lama senyum terkembang diwajahnya, senyum lebar penuh suka cita.

“Omma!!! Appa!!”panggilnya, menatap kedua orang itu yang kemudian duduk dikedua sisi Joo ri. Joo ri mendekap sang wanita sebelum beralih pada si pria yang duduk disisi kirinya. “gwenchana…?”tanya appanya masih memeluk Joo ri erat.

“gwenchana… sekarang bahkan lebih baik setelah bertemu dengan kalian…”ujar Joo ri dengan senyum kanak-kanaknya. Sang ayah melepaskan pelukan Joo rid an menatap Joo ri. Saat itu tiba-tiba Joo ri kembali menjadi sesosok anak kecil dimasa kecil Joo ri sesaat sebelum kecelakaan itu menghampiri keluarga kecil itu.

“appa sangat merindukan senyummu itu…”ujar sang ayah.

Senyum Joo ri semakin melebar, mendengar ucapan sang ayah. “…bagaimana keadaan haraboji…?”tanya sang omma tiba-tiba, menatap Joo ri yang mengalihkan pandangannya menatap sang ibu. “semuanya baik omma… tidak ada yang perlu dirisaukan… dan aku…” Joo ri menghentikan kalimatnya tiba-tiba ketika menyadari air mata mulai jatuh dipipinya. Sang ibu tersenyum dan membelai halus pipi Joo ri, menghapus air matanya, kemudian Joo ri mendengar suara lembut sang ibu “kau harus kembali nak… banyak yang menunggumu… harabojimu… dan…”

“orang itu…”sambung sang ayah, menatap Joo ri tersenyum.

“orang…” Joo ri menatap orang tuanya bingung.

“kami harus pergi sayang…”ujar sang ayah yang kemudian bangkit dari tempatnya menatap Joo ri lembut “…jaga dirimu nak…”

“tapi… aku…”

“kau tidak bisa disini… belum waktunya sayang…”

“tapi…”

“kami akan selalu bersamamu dan kami akan menunggumu disini sampai waktu menakdirkan kita untuk bersama lagi… ujar sang ibu yang kemudian pergi, bersama sang ayah, menghilang bersamaan dengan sepasang kupu-kupu yang terbang dan hinggap dibahu Joo ri dan mengalihkan perhatiannya dari kedua orang tuanya.

Sementara itu,

“Joo ri… Lee Joo ri… ”panggil seseorang, sambil terus menggenggam tangan Joo ri dan diwaktu yang sama, setitik demi setitik air mata terlihat membasahi tangan Joo ri. “bangunlah… kau sudah tidur terlalu lama…”ujarnya lagi, menatap Joo ri yang tampak sebuah senyuman diwajahnya.

Joo ri terlihat diam, menatap sang kupu-kupu, kemudian segalanya berubah, seakan segalanya tersedot kedalam satu titik dan tempat Joo ri berpijak berganti. Tidak lagi taman padang rumput yang luas yang ada dihadapannya, melainkan sebuah taman yang sangat dikenalnya. Joo ri dapat melihat sepasang anak tengah berada di taman itu. Anak laki-laki kecil yang terlihat lebih tua dari anak perempuan terlihat tengah memetik beberapa bunga yang diberikan pada anak perempuan itu.

Saat itu entah kenapa, Joo ri dapat merasakan kesedihan sang anak perempuan walaupun diwajahnya tidak tergores ekspresi apapun, dan meneurut Joo ri sang anak laki-laki tengah berusaha menghibur sang anak perempuan, namun Joo ri tahu bahwa segalanya gagal, sang anak perempuan masih diam ditempatnya, tanpa ekspresi. Anak laki-laki itu terlihat mulai putus asa, dan tidak tahu harus melakukan apa lagi pada anak perempuan itu agar keluar dari keterdiamannya.

“YYA!!! jangan diam saja… jika ingin menangis… menangislah… itu akan lebih baik…”ujar anak laki-laki itu, mulai kesal, namun ternyata anak perempuan itu masih diam ditempatnya, seakan tidak menggubris ucapan anak laki-laki itu.

“YYA!!! Aussshhhh!!! Kau benar-benar membuatku gila…”tambahnya lagi, sambil mengacak rambutnya frustasi. Hingga seseorang datang, “Nyonya Yang… BaekSeolRi…” anak laki-laki itu terlihat ingin melaporkan sesuatu yang salah namun terhenti ketika menatap perempuan paruh baya dihadapannya “ahhhh… BaekSeolGi!!!”seru anak itu tiba-tiba, ketika menatap nyonya Yang yang membawa nampan berisi 2 piring BaekSeolGi diatasnya.

BaekSeolGi, kue tradisional yang terbuat dari tepung beras yang secara tradisional akan dibagikan pada seratus orang di hari yang ke 100 dari kelahiran seorang anak, dengan harapan anak tersebut akan selalu sehat dan berumur panjang. BaekSeolGi berisi 3 macam kue beras yang biasanya berwarna putih, merah muda dan coklat. Dan roti itu sangat disukai oleh anak perempuan dihadapannya, karena setiap ia berulang tahun, ibunya pasti membuatkan beberapa piring untuknya.

Anak laki-laki itu tersenyum menatap anak perempuan dan memberikan sepiring untuknya, dan kali ini ternyata berhasil membawa anak perempuan itu keluar dari keterdiamannya. Joo ri tersenyum menatap itu. Perlahan Joo ri mendekat kearah keduanya dan menatap mereka. Sebuah senyuman terlihat diwajahnya, ketika anak perempuan itu menatap BaekSeolGi di piringnya dan tersenyum menatap sang anak laki-laki sambil menerima piring yang disodorkan padanya. Perlahan keduanya mulai memakan kue beras itu hingga terdengar sebuah isakan dari anak perempuan dihadapannya.

Sang anak laki-laki terdiam ditempatnya, menatap anak perempuan itu, kemudian meletakkan piringnya dan mengambil piring anak perempuan itu dan membawa anak perempuan itu kedalam pelukannya, menepuk pundaknya lembut yang segera disambut oleh dekapan kuat anak perempuan itu, membawa diriya semakin masuk kedalam pelukan anak laki-laki itu “…begini lebih baik BaekSeolri… kau harus menangis… ahjussi bilang, menangis sama sekali bukan hal yang memalukan, tapi hal yang membuatmu akan jauh lebih baik…”ujar anak laki-laki itu, sambil terus menepuk lembut punggung anak perempuan itu. Joo ri terdiam ditempatnya, menatap interaksi itu dan perlahan air matanya pun menetes. Joo ri juga terisak ditempatnya, hingga jatuh terduduk di sisi kedua anak itu.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba kedua anak itu berpaling padanya, dan memeluknya bersamaan erat, menghiburnya. Joo ri mengingatnya, Joo ri mengingat rasa sakit itu. Rasa sakit karena telah ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat dicintainya. Joo ri menangis sejadinya, dan saat itu tidak ada yang menghalanginya untuk menangis.

Joo ri menangis sekerasn-kerasnya, dan ia merasa hatinya terbebas dari ikatan kencang yang selama ini membelenggunya. Beban dipundaknya pun mulai sirna. Joo ri menangis, Hingga, ia mendengar sebuah panggilan, sebuah tarikan.


“YYA!! Joo ri bangun!!! Kenapa kau menangis!!! Joo ri!!! YYA!!! BAEKSEOLRI!!!”seru orang itu, hingga kemudian Joo ri membuka matanya lebar terkesiap, terkejut, dan tiba-tiba bngun dan duduk diranjangnya, seolah nyawanya baru saja dikembalikan ke tempatnya dengan tiba-tiba. Saat itu pandangannya kosong, dan hanya beberapa detik kemudian, tubuh Joo ri kembali rebah di ranjangnya, ia tertidur. Orang itu menatap diam Joo ri, dan benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja terjadi dihadapannya.

***********

“Joo ri… Lee Joo ri… ”panggil seseorang, sambil terus menggenggam tangan Joo ri dan diwaktu yang sama, setitik demi setitik air mata terlihat membasahi tangan Joo ri. “bangunlah… kau sudah tidur terlalu lama…”ujarnya lagi, menatap Joo ri yang tampak sebuah senyuman diwajahnya.

“kau tersenyum…”ujar orang itu yang dengah hati-hati mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh lembut pipi Joo ri dengan jarinya kemudian mengarahkan ibu jarinya ke ujung bibir Joo ri yang tertarik melengkung karena senyumannya. “apa yang kau lihat sekarang…”tanya orang itu, menatap Joo ri tersenyum.

Orang itu diam ditempatnya, menatap Joo ri, mengenggam tangannya dan mulai bercerita.

“sepertinya kau memang ditakdirkan untuk menyiksaku… kau selalu menyiksaku… kau selalu membuatku tidak tenang dan sakit… terutama disini”ujarnya sambil menunjukkan dadanya.

Orang itu diam sesaat, menarik napas panjang kemudian menghembuskannya seelum mulai melanjutkan kalimatnya “…kau ingat… beberapa hari setelah orang tuamu meninggal…”ujarnya, menatap Joo ri kemudian membelai kepalanya “…aku melihatmu seperti mayat hidup, tanpa ekspresi ataupun apapun… tidak ada kata-kata dan kau hanya diam…” orang itu menghela napas panjang “…aku pernah kehilangan orang tua… sepertimu… tapi saat itu yang bisa aku lakukan hanya menangis dan menangis, setelah semua tangis itu keluar, aku merasa perasaan yang lebih baik… dan karenanya, aku ingin kau menangis, tapi kau hanya diam dan tidak menggubris siapapun… kau hanya diam, diam, dan diam tanpa ekspresi…”

“kau bahkan tidak mengatakan apapun atau melakukan apapun ketika aku mengejekmu atau mencarikan dan membawakanmu bunga dari taman… kau masih diam dan aku sama sekali tidak dapat membawamu keluar dari keterdiamanmu… dari apa yang kau pikirkan saat itu, dari dunia hitam putihmu tanpa suara ataupun ekspresi…”

“tapi sesuatu, sesuatu membuatmu terbangun dan keluar dari dunia hitam putihmu yang tanpa suara atau ekspresi. Sesuatu yang akhirnya bisa membuatmu menangis, walaupun setelah itu aku menyesalinya karena selama 1 malam kau menangis tanpa henti… dan aku kau membuatku ketakutan saat itu…” orang itu terlihat tersenyum, mengingat kenangannya.

“BaekSeolRi…”ujarnya lagi “…kau ingat… kau sangat menyukai BaekSeolGi… kue yang terbuat dari tepung beras dan sangat kau sukai… dan karenanya aku menjulukimu BaekSeolri… BaekSeolri…” orang itu tersenyum menatap Joo ri, mengingat segalanya. “ditambah lagi, kau sangat cocok dengan gambaran kue itu…” katanya, tersenyum semakin lebar, membawa tangan Joo ri kehadapannya dan menatapnya, dalam.

“salju putih…” tambahnya lirih. “kau sangat cantik dengan kulitmu dan senyummu… seputih salju namun dilain hal kau sehangat mentari…”

“aku berhasil membawamu keluar dari dunia hitam putihmu… sama halnya seperti kau yang berhasil memberikan kehangatan dan warna diduniaku… aku sangat berterima kasih untuk itu… dan sekarang… kau bahkan melakukan lebih untukku… kau melakukan tugasmu dengan baik… kau menyelamatkanku, dimana seharusnya aku yang menjagamu dan menyelamatkanmu…”



 Yong Jun tersenyum menatap Joo ri, namun tiba-tiba senyum itu hilang seketika ketika menatap air mata yang menetes dan mengalir dipipinya yang seputih salju. Yong jun segera bangkit dari tempatnya dan mendekati Joo ri “YYA!! Joo ri bangun!!! Kenapa kau menangis!!! Joo ri!!! YYA!!! BAEKSEOLRI!!!”seru Yong jun, hingga kemudian dengan tiba-tiba Joo ri membuka matanya lebar terkesiap, terkejut, dan tiba-tiba bangun dan duduk diranjangnya, seolah nyawanya baru saja dikembalikan ke tempatnya dengan tiba-tiba.

Saat itu pandangannya kosong, dan hanya beberapa detik kemudian, tubuh Joo ri kembali rebah di ranjangnya, ia tertidur. Yong jun menatap diam Joo ri, dan benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja terjadi dihadapannya.

Dengan cepat Yong jun bangkit dari tempatnya dan menekan sebuah tombol disisi ranjang Joo ri untuk memanggil petugas medis dan dokter yang memeriksa Joo ri. Beberapa saat kemudian seorang perawat dan dokter yang mengoperasi Joo ri melangkah cepat masuk ke ruangan Joo ri. “dokter… dia bangun…! Baru saja dia bangun dan membuka matanya…! Dia bangun!”ujar Yong jun cepat “periksa dia dokter… periksa dia…”ujarnya lagi sambil menarik dokter itu untuk mednekati Joo ri dan agar memulai pemeriksaannya.

Yong jun menunggu, menatap dokter itu, kemudian rasa lega terpancar diwajah dokter itu ketika mengalihkan pandangannya menatap Yong jun “…syukurlah… segalany sudah membaik, dia sudah keluar dari koma, dan jantungnya sudah normal kembali… sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi… hanya waktu untuk memperbaiki tubuhnya yang terluka. Joo ri juga tidak membutuhkan infus darah lagi… jantungnya sudah bekerja dengan normal kembali…”

Yong jun diam mendengar itu, tidak menyangka dengan apa yang didengarnya, tanpa berpikir apapun tiba-tiba ia memeluk sang dokter erat dan mengucapkan terima kasih padanya sebelum dokter tersebut keluar dari ruangan Joo ri. Ia senang dan lega sekarang… sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi… segalanya sudah membaik…

*********

Matahari bersinar terik. Pagi telah menjelang, dan Joo ri membuka sepasang matanya perlahan, mengangkat tangannya, berusaha menghindari terpaan sinar matahari yang menyerang langsung ke matanya “Ughhh…” hela Joo ri ketika penglihatannya terhalang oleh sinar terang matahari. Joo ri memejamkan matanya sesaat, kemudian memalingkan wajahnya menatap kesekelilingnya.

“dimana aku…”ujar Joo ri lirih, pada dirinya sendiri. Joo ri menyadarinya kemudian perlahan bangkit dari tempatnya dan berhenti ketika ia merasakan sakit di punggung dan dadanya. “AKH!” Joo ri kembali merebahkan tubuhnya dan menatap sekelilingnya. Kini pandangannya mulai mencari, namun ia tiadk mendapati seorangpun di tempat itu, tidak ada siapapun dan hanya dirinya. Joo ri bangkit dan duduk diranjangnya ketika didengarnya beberapa suara yang terdengar tengah mendebatkan sesuatu.

Joo ri mengenal suara itu, Joo ri mengalihkan pandangannya dan menatap kearah pintu, penasaran dengan apa yang dibicarakan dan diperdebatkan. Perlahan Joo ri bangkit dengan menopang tangan kirinya, menahan rasa sakit yang akan datang jika Joo ri bergedik atau menggerakkan tangannya kearah yang salah.

Joo ri membuka pintu perlahan dan mencoba untuk keluar dari ruangannya, namun urung ketika ia mendengar namanya disebut ditengah perdebatan itu. Joo ri membuka sedikit pintu dihadapannya dan mengintip melalui pintu untuk mencuri dengar dan menatap orang-orang itu.

“… itu tidak mungkin!!! Tugas ini belum selesai… LetJen Kang… aku mohon, kau tidak bisa memutuskan hal ini… ini semua…”

“Jenderal yang memerintahkannya… kalian dibebas tugaskan dari tugas kalian menjaga Joo ri…”ujar LetJen Kang

“dan itu berarti kami dianggap gagal…?”

Letjen Kang terlihat diam ditempatnya, menatap kedua orang laki-laki yang berdiri dihadapannya dan membelakangi Joo ri. Joo ri dapat mengenal suara dan tubuh kedua laki-laki itu, namun identitas belum menjadi daya tariknya saat itu, ia hanya tertarik pada pembicaraan ketiganya. Letjen Kang menarik napas panjang kemudian menghelanya singkat “… kalian ditugaskan untuk menjaga Joo ri… Lee Joo ri… alih-alih Lee Joo ri yang menjagamu Yong jun… tugasnya menjadi tugasmu sejak kalian diperkenalkan sebagai bodyguardmu… dan Jenderal juga aku memilihmu karena integritas, tanggung jawab dan keahlianmu pada pekerjaanmu…”

“Jenderal menjamin kau masih dapat melakukan pekerjaanmu sebagai pekerja seni, namun kau juga diperintahkan untuk menjaga Joo ri… dan aku sendiri yang meminta pada bosmu… Kang Jung gil untuk membantuku… kita berhasil membuat drama ini berjalan dengan baik… tapi segalanya berubah setelah 3 kali kau gagal menjaga Joo ri…”

Kedua laki-laki itu terlihat diam ditempatnya menatap LetJen Kang “…Yong jun… Luke… aku sangat mengerti… ini akan lebih mudah jika Joo ri sendiri tahu jika kalian yang menjaganya… tapi Jenderal juga mengalami kesulitan yang sama… Joo ri seorang prajurit yang kuat dan Jenderal tahu dia tidak akan mau jika ada 2 orang yang menjaganya… dia akan berpikir Jenderal menganggapnya lemah… dan dia akan memilih membahayakan dirinya sendiri… jadi… alih-alih menjagamu Yong jun… kalian menjaganya, tapi sekarang tugas itu selesai… Jenderal tidak ingin mengambil resiko lagi pada diri Joo ri… jadi kalian dapat kembali ke pekerjaan kalian masing-masing dan lupakan tentang semua ini…”

“tapi hal ini juga tidak akan bisa menjamin keselamatannya…”ujar Luke

Letjen Kang mendesah pelan, mulai frustasi dengan obrolan dan debat yang sedang dihadapinya saat itu “…ne… benar… jadi karenanya, Jenderal sudah membuat rencana untuk Joo ri sendiri… dia tidak ingin mengulang tragedy yang terjadi pada orang tua Joo ri… dan dia juga aku… tidak ingin kehilangan Joo ri… aku tidak ingin dia bertahan hidup dengan cara mencelakakan dirinya… Jenderal sudah merasa bersalah dengan yang terjadi pada kedua orang tua Joo ri dan dia tidak ingin terjadi hal yang sama dengan Joo ri…”

Joo ri terdiam ditempatnya, mendengar dan menatap segalanya. Ia menyadari rasa marah yang membuncah di dirinya. Ia benar-benar marah. Ia merasa dipermainkan dan dibohongi secara besar-besaran oleh kakeknya sendiri, dan dia sama sekali tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh kakeknya itu. Joo ri menutup pintu kamarnya kemudian dengan cepat namun perlahan kembali ke ranjangnya.

Rasa sakit menerpanya, tidak hanya pada tubuhnya, melainkan hatinya. Kenangan dan ingatan itu kembali. Segalanya, penolakan, penerimaan dan sekarang kebohongan…selanjutnya apalagi…? Dan adakah sesuatu yang lain yang disembunyikan kakeknya…? Sesuatu yang berhubungan dengan orang tuanya…? Sesuatu yang tidak pernah ada dalam pikirannya…? Sesuatu yang membuatnya kehilangan orang yang sangat dicintainya…? Sesuatu yang membuatnya hidup…? Atau sesuatu yang akan membunuhnya…?

Joo ri diam, mencoba menahan air matanya untuk sakit yang dirasakannya. Ia mulai memikirkan sesuatu di kepalanya. Merencanakan sesuatu.

Joo ri memejamkan matanya dan sudah tidak tertarik dengan apa yang dibicarakan 3 laki-laki yang sudah meremehkan dirinya itu. Membohongi sekaligus mempermainkannya. Dan sama sekali tidak mendengar apa yang terjadi selanjutnya. Yang akan dia lakukan adalah mengakhiri segalanya, segalanya, dan ia akan kembali dimana segalanya bermula, ia harus segera mencari tahu segalanya…

*********

Luke sedang berlatih dengan barble dan peralatan olahraganya ketika ia mendengar suara dering ponselnya. Luke dengan segera meletakkan barble diantara kedua kakinya dan melangkah kearah mejanya sebelum kemudian mengambil ponselnya dan mulai mengangkat telepon itu. Luke sudah menunggu telepon itu. Ia menunggu jawaban yang diberikan orang diseberangnya tentang apa yang dimintanya beberapa saat yang lalu dan sekarang jawaban itu akhirnya datang.

“ne!”

“kau benar bos… JJ adalah Kim Jae Joon, dia sendiri dan beberapa orang yang mengenalnya dan mengetahui tentangnya yang menyebut dirinya seperti itu… dia seorang MayJen ketika dia berhasil mengalahkan kawanan teroris besar Asia yang diselesaikannya hanya dalam semalam."

"Dia diketahui sebagai seorang prajurit, pemburu dan pelindung… dia akan melakukan tugasnya hingga selesai apapun konsekuensi yang mungkin akan diterimanya… sebelum menjadi seorang Mayor Jenderal, dia pernah tergabung dalam organisasi khusus pencari dan pemburu teroris yang dibentuk oleh kesatuannya… dan di organisasi itu ia menjabat sebagai ketuanya…”

“selain pandai menggunakan seluruh tubuhnya untuk bertarung, dia juga seorang sniper dan dikenal jenius dalam menyusun rencana dan taktik… Dia memiliki keahlian sebagai mata-mata dan pencari informasi yang handal… dia memiliki semua jaringan yang ada diseluruh kemiliteran, dan karenanya dia sangat mudah mencari informasi-informasi yang dibutuhkannya…”

Luke diam, mendengar setiap kalimat yang diucapkan orang itu dan mulai memikirkannya.

“dan ini yang paling menarik bos…”ujar orang itu lagi. Saat itu Luke dapat melihat senyum yang terkembang diwajahnya walaupun keduanya tidak saling bertatapan, Luke sudah sangat mengenal orang yang berada diseberang sambungan teleponnya itu “…dia juga memiliki jaringan persenjataan yang dapat memenuhi semua permintaannya baik secara legal maupun illegal… bahkan terkadang dia merancang senjatanya sendiri… dia pernah membuat sebuah bom dengan ledakan mencapai radius 100 m hanya dengan sebuah baterei ponsel yang dihubungkan dengan gas… ”

Luke diam, dan tersenyum ketika mendengarnya “…dia dapat berteman denganmu kalau begitu Chris…”

“tentu saja… aku akan jauh lebih bahagia… dia memiliki jaringan yang melebihi jaringanku bos… bahkan jaringan rahasia illegalku adalah jaringan penyedia senjata yang legal untuknya…”

Luke terdiam, mendengar setiap kalimat yang dijelaskan orang diseberangnya. “…bagaimana dengan kehidupannya… masa lalunya Chris” potong Luke kemudian.

“tidak diketahui bos… dia pintar menyembunyikannya… dia menghapus data dirinya setelah ia masuk kedalam organisasi kemiliteran, dan setauku itu dimulai saat ia berumur 16 tahun…”

“16 tahun…”gumam Luke, terkejut dengan apa yang didengarnya.

“ne.. dan… ah… satu lagi, dia mendapat rekomendasi khusus dari seorang Wonsu… Jenderal Besar Lee Jung sik ketika ia mulai memasuki organisasi kemiliteran…”

“Jenderal Lee Jung sik… kakek Joo ri…”gumam Luke “…ada apa bos…”tanya orang itu ketika samar mendengar gumaman Luke “..ah tidak ada…”

Chris terlihat diam “…kalau begitu terima kasih banyak Chris untuk informasinya… tapi aku masih mengharapkan informasi yang lain darimu… dan jika kau dapat mencari informasi kehidupannya, maka mungkin aku akan memikirkan permintaanmu sebelumnya…”

Luke tersenyum dan menaydari senyum lebar di wajah Chris saat ia mengatakan itu

“…JEONGMAL?!?!?”

“ne…”

“ne… cetak biru senjata itu… kau bisa memilikinya dan menganggapnya sebagai ciptaanmu jika kau berhasil… aku masih penasaran dengan hal itu, walaupun aku merasa sudah sedikit mengetahuinya…”

“baik… dan jangan menyesal bos… aku benar-benar sangat mengagumi semua senjata rancanganmu… walaupun terkadang aku lebih menyukai senjata rancangan Mayor Jenderal JJ ini…”ujarnya tertawa sebelum kemudian memutuskan sambungan telepon itu.

Luke meletakkan ponselnya kembali, kemudian terdiam, merenungkan segalanya.

*********

Joo ri membuka matanya perlahan. Ia masih berada ditempat yang sama seperti sebelumnya. Joo ri bangkit dan merasakan tubuhnya lebih ringan. Ia mulai mengedarkan pandangannya dan menatap sekelilingnya, mencari tahu, dan… sesuai yang diinginkannya, tidak ada siapapun diruangan itu. Joo ri melangkah ke ujung ruangannya, ia membuka lemari yang ada disana dan mengambil pakaiannya sebelumnya.

Kemeja hitam yang dikenakannya sebelumnya masih terdapat lubang dan beberapa noda darah disana. Bahkan Jaket kulit dan celana yang dikenakan sebelumnya, masih tercetak noda darah di beberapa tempat dan yang paling menonjol tampak di bagian punggung bagian kiri tepat diatas jantungnya.

Joo ri menyentuh dada kirinya. Ia memejamkan matanya dan ia masih dapat merasakan detak jantungnya. Joo ri tersenyum, namun hanya sesaat, ia harus segera mencari tahu dan menjalankan rencananya, ia harus segera pergi. Secepat ia melepaskan pakaiannya, secepat itu pula ia mengenakan kemejanya dan jaket kulitnya. Bau darah itu sudah menghilang namun Joo ri masih dapat merasakan rasa panas di punggung kirinya. Rasa panas yang menembus punggungnya.

Joo ri melangkah kearah pintu, mengintip sesaat keadaan diluar ruangan kemudian melangkah pergi setelah ia mengenakan topinya, mencoba menyembunyikan dirinya.
 

Joo ri berhasil keluar dari bangunan itu dan berjalan kearah jalan sebelum kemudian ia menghentikan sebuah taksi. Joo ri memberikan alamat yang ditujunya kemudian terdiam. Ia harus mencari tahu. Ia harus mengetahui segalanya dan ia harus menghentikan segalanya. Banyak pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya, jika benar ada sesuatu dibalik kecelakaan orang tuanya, maka ia dapat membalaskan dendam untuk orang tuanya, dan jika sesuatu itu juga mengancam nyawanya, ia harus berjuang untuk nyawanya sendiri. Ia yakin pada dirinya sendiri.


Tak lama taksi itu berhenti tepat disebuah mansion dengan pagar yang menjulang tinggi, Joo ri menekan bel dan tak lama kemudian seseorang melangkah keluar menghampiri pintu. “…pak Kim… kakek didalam…?”tanya Joo ri cepat, tidak menginginkan ada waktu yang terbuang. “ne… tapi agashi…anda seharusnya…”

“tolong bayarkan taksi itu untukku…”ujar Joo ri sebelum kemudian melangkah cepat masuk kedalam mansion dan melangkah ke ruangan sang kakek dimana biasanya beliau berada. Pak Kim terdiam ditempatnya, menatap Joo ri bingung. Ia benar-benar melihat nona mudanya itu, dan ia tidak salah, tapi seharusnya ia berada di rumah sakit dan seharusnya dalam keadaan… suara bel taksi menggangu keterdiamannya, dan ia kembali teringat pesan nona mudanya itu.

Joo ri menatap pintu besar dihadapannya. Beberapa tahun yang lalu, setelah ia kehilangan orang tuanya, Joo ri takut sekali untuk menatap ataupun masuk kedalam pintu itu. Pintu yang terlihat tua, namun tidak menunjukkan kerapuhannya, masih terlihat sangat kuat dan kokoh. Joo ri diam, ia sudah menetapkan segalanya, setelahnya, ia akan mengurusnya sendiri.

Joo ri mendorong pintu itu terbuka, tanpa mengetuk atau mengucap salam. Joo ri masuk dan melangkah cepat kearah meja dimana sang kakek terlihat tengah disibukkan dengan beberapa dokumen yang membutuhkan perhatiannya. “Jenderal Besar Lee Jung sik…”panggil Joo ri, menatap sang kakek, dingin.

Jenderal Lee dengan cepat mengangkat wajahnya, menatap Joo ri, begitu menyadari suara itu “Jo…Joo ri…”ujarnya, terlihat sedikit raut terkejut di antara keriputnya. Ya, Joo ri menyadari umur sang kakek, namun sama sekali tidak memupus kemarahan atau rasa kesal Joo ri dari dalam dirinya. “…jelaskan padaku segalanya haraboji…”ujar Joo ri, menekan kata ‘Haraboji’ dan menatap sang kakek tajam.


Jenderal Besar Lee terdiam ditempatnya, menatap Joo ri tidak mengerti, namun Joo ri yakin kakeknya itu mengerti apa maksud cucu perempuannya itu. “ap…apa maksudmu…?”

“jelaskan segalanya haraboji… segalanya…”

Sang kakek diam “…aku ingin tahu segalanya…”

“iya… tapi apa… kau ingin penjelasan tentang apa…?”tanya sang kakek.
Joo ri diam. Napasnya mulai memburu cepat, dan dadanya tiba-tiba terasa sakit. Joo ri menahannya, tidak ingin menunjukkan kelemahannya pada sang kakek, Joo ri menjatuhkan dirinya di kursi tepat dihadapan sang kakek, namun sang kakek sangat memahami cucunya itu. “bukankah kau seharusnya dirumah sakit…”ujar sang kakek sambil menyerahkan segelas air putih pada cucunya itu, namun segera ditolak dengan cepat oleh Joo ri “…aku tidak membutuhkannya, yang aku butuhkan penjelasan… katakan… apa yang terjadi pada orang tuaku dan kenapa orang-orang itu mengincarku…”ujar Joo ri masih sekeras sebelumnya, walaupun rasa sakit masih menyergapnya.

Jenderal Lee diam ditempatnya, menatap Joo ri terkejut dengan apa yang sudah didengarnya “…lebih baik anda yang menjelaskan atau aku akan emcnari seseorang yang dapat menjelaskan ini semua…”nacam Joo ri ketika ia menyadari sang kakek sama sekali tidak mengeluarkan jawabannya dan hanya terdiam. Kini ia terlihat menundukkan kepala, menyembunyikan ekspresinya.

Joo ri menunggu, dan beberapa menit kemudian, kesabaran Joo ri hilang. Dengan cepat Joo ri bangkit dari tempatnya kemudian membalikkan tubuhnya “…ini semua salah kakek…”ujar Jenderal Lee, menghentikan langkah Joo ri dan membuat Joo ri membalikkan tubuhnya menatap sang kakek. “kakek yang…” Jenderal Lee terdiam sesaat, menatap Joo ri dalam. Kini Joo ri dapat melihat kelemahan dan rasa lelah di raut wajahnya “…kakek yang membunuh mereka…”

“kakek yang membunuh orang tuamu…”

********

Yong Jun melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung itu. Senyum terlihat terkembang diwajahnya saat ia menatap sesuatu ditangannya. Ia sudah membayangkan senyum yang akan terlihat diwajah Joo ri ketika mendapat apa yang ia bawa saat itu.

Yong jun melangkah cepat ketika menatap sebuah lift yang terbuka. Seseorang dengan topi dan pakaian yang aneh melangkah keluar dari lift itu dan terlihat bergegas. Yong jun menatapnya sesaat, dan setelahnya, ia tidak memperdulikannya lagi. Ia harus segera bertemu dengan Joo ri dan memberikan apa yang dibawanya. Ia sudah memesannya dan ia ingin memakannya bersama Joo ri.

Yong jun berbelok diujung lorong kemudian menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu yang tertutup.



 Dengan senyum masih terkembang diwajahnya, Yong jun mengetuk pintu itu dan menunggu, namun tidak ada jawaban dari dalam. Sekali lagi, Yong jun mengetuk pintu, dan kali ini tetap sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban “…apa dia masih tidur…”gumam Yong jun kemudian.

Yong jun menghela napas kemudian masih dengan senyum lebar yang sama Yong jun membuka pintu dan melangkah masuk. Seketika itu senyum diwajahnya sirna, dan digantikan oleh keterkejutan. Yong jun menatap sekelilingnya dan mulai mencari.

Yong jun mengalihkan pandangannya menatap pada satu-satunya pintu yang tertutup diruangan itu. Yong jun melangkah cepat kearahnya dan membuka pintu itu, namun tidak ada siapapun disana. Yong jun menatap sekelilingnya lagi, panik, dan saat itu ia menyadari sesuatu yang salah dengan lemari diujung ruangan. Yong jun melangkah cepat kearahnya, membuka lemari itu kuat. Dan tepat apa yang dia pikirkan. Yong jun menatap sekelilingnya, kemudian menatap kesebuah titik tak jauh dari tempatnya berada dimana kegelapan meraja, gigi Yong jun bergemulutuk karena marah “…aku-sudah menyuruhmu untuk menjaganya… sekarang…” Yong jun memejamkan matanya, berusaha merendam amarahnya “…lalu…bagaimana sekarang… dia sudah pergi!! dan…”

“…kami mengetahui keberadaannya tuan…”

***********

End of Chapter
« Last Edit: February 01, 2013, 04:49:05 pm by ai_yuki »