WARNING : KENTANG GOREEEEEEEEENG !!!!
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
Jan Di melangkahkan kakinya menyusuri karpet merah di dalam hotel Ritz Carlton. Ia baru saja tiba di Macau dan kemudian mendapatkan titah agar segera menemui tuan muda Goo Jun Pyo di hotel ini. Tiba didepan sebuah pintu berwarna coklat tua, Jan Di mengetuk pintunya. “Masuk.” suara bariton khas Jun Pyo terdengar dari dalam. Jan Di segera masuk. Dilihatnya Jun Pyo sedang duduk menghadap jendela besar yang otomatis membelakangi dirinya.
“Doronim.” Kata Jan Di. “Saya sudah sampai.”
Jun Pyo membalikkan badannya menghadap Jan Di. “Ow...baguslah kau sudah datang.” Kata Jun Pyo. “Kemarilah. Aku butuh bantuanmu.”
Jan Di berjalan mendekati majikannya dan kemudian duduk disamping Jun Pyo. Ia melihat ke sekeliling kamar hotel yang ditempati majikannya ini. Begitu mengerikan. Ranjang besar yang belum dirapikan, baju-baju yang berserakan, dan juga puntung-puntung rokok yang terserak begitu saja di lantai. Usut punya usut, Jun Pyo menolak fasilitas housekeeping karena ia hanya ingin Jan Di yang mengurusnya. Oh Jun Pyo baby, kau benar-benar tidak bisa hidup tanpa Jan Di.
“Kotor sekali kamarmu.”
Jun Pyo tersenyum sinis, “Kau pikir untuk apa aku mengajakmu kemari?”
OoO
Menjadi seorang maid khusus seorang presiden direktur perusahaan raksasa merupakan kebanggaan tersendiri, tapi juga penyiksaan fisik. Setelah tiba di Macau Jan Di tidak punya waktu barang meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah perjalanan dari Korea. Ia harus mengatur kamar Jun Pyo yang berantakannya amit-amit, menyiapkan makan siang secara khusus untuk Jun Pyo, dan kemudian menemani Jun Pyo bertemu dengan salah satu klien Shinhwa. Yang untungnya sama-sama orang Korea.
“Jadi, kalian sudah menentukan hari baiknya?” tanya Mr. Park. “Kalian pasangan paling serasi yang pernah kutemui. Hahahaha.”
Jan Di hampir saja tersedak mendengarnya. Sedangkan Jun Pyo tersenyum penuh arti disebelahnya. “Aku ingin fokus dulu ke Shinhwha. Masalah pernikahan, Jan Di tidak akan lari dariku. Jadi aku tidak perlu khawatir. “ kata Jun Pyo. Ia menggenggam tangan kiri Jan Di dan mengangkatnya sehingga pasangan Park bisa melihat kedua tangan mereka yang saling bertautan erat. Mata Jan Di melotot saking kagetnya. Ia tidak menyangka jawaban Jun Pyo akan seperti ini. Hhhh.... ya sudahlah, paling juga Jun Pyo hanya bercanda.
“Ya setidaknya jangan terlalu sering menunda-nunda waktu.” Kata Mrs. Lee, “Tidak baik.”
“Aku tahu.” Kata Jun Pyo, “Aku akan mempertimbangkan saran Anda. Terima kasih.” Jun Pyo tersenyum sembari mengeratkan genggaman tangannya pada Jan Di.
“Aha.” Kata Mr. Lee, ia meminum winenya sedikit sebelum melanjutkan, “Kalian sudah memikirkan soal anak?”
Jun Pyo mengerling ke arah Jan Di yang matanya semakin melotot. Ia senang dengan situasi ini, di mana ia bisa menjahili Jan Di dan melihat perubahan ekspresi Jan Di yang menurutnya sangat menggemaskan.
“Ah, benar. Anak. Pewaris. Aku membutuhkannya untuk membantuku menguatkan pondasi Shinhwa.”
“Anak di titipkan oleh Tuhan bukan untuk dimanfaatkan, Jun Pyo-a.” Kata Mrs. Lee, “Anak dititipkan untuk membuat kita semakin bersyukur pada Tuhan.”
Jan Di mengerutkan keningnya, ia merasa pembicaraan ini sudah semakin melenceng jauh. “Ehm. Aku juga belum berniat untuk menikah.” Kata Jan Di. “Umurku masih 18 tahun, Nyonya.”
“18 tahun?” tanya Mrs. Lee, ia menatap Jun Pyo dengan pandangan horor, “Kau bertunangan dengan seorang anak SMA? Oh...”
Tawa Jun Pyo hampir saja meledak ketika dilihatnya wajah Jan Di yang memerah. Dan sisa pertemuan itu dihabiskan Jan Di dengan menutup mulutnya rapat-rapat. Ia memilih untuk diam daripada harus bersuara dan membuat pasangan ini kena serangan jantung.
OoO
“Kenapa kau mengatakan kepada mereka bahwa kita bertunangan?” tanya Jan Di. “Kau keterlaluan.”
Mereka berdua sekarang tengah didalam lift. Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam dan Jun Pyo memutuskan mengakhiri pertemuan ketika dilihatnya mata Jan Di semakin memerah. Jun Pyo tahu betul mata Jan Di tidak akan tahan melebihi pukul 10 malam.
“Hei.” Kata Jun Pyo. “Aku tidak bilang bahwa kita bertunangan. Mereka sendiri yang berpendapat seperti itu. Aku hanya bilang bahwa kau tidak mungkin lari dariku, dan itu benar. Kau kan maidku.”
Jan Di memutar bola matanya bosan. “Ya ya ya...terseralah.”
Kamar Jun Pyo dan Jan Di terletak di lantai paling atas, lantai 52, lantai yang dikhususkan bagi dewan direksi Ritz Carlton, dan tentu saja Jun Pyo masuk dalam hitungannya. Ritz Carlton merupakan perusahaan dibawah pimpinan Park Jung Soo yang juga merupakan adik ibu Jun Pyo. Lift kembali terbuka dilantai 5 dan seorang wanita yang ada didalamnya keluar meninggalkan Jun Pyo dan Jan Di berdua. Sekali lagi Jan Di menguap, ia mengerjap-ngerjapkan matanya menahan kantuk.
“Kemarilah.” kata Jun Pyo, ia membuka lebar kedua tangannya menyuruh Jan Di masuk kedalam pelukannya.
Jan Di yang setengah sadar setengah tidak langsung menuruti perkataan Jun Pyo. Ia memeluk Jun Pyo dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Jun Pyo. Sedangkan Jun Pyo bersandar pada dinding kaca dibelakangnya sambil memeluk erat pinggang ramping Jan Di, menahan agar keseimbangan Jan Di tidak goyah. Ia mengecup pelan puncak kepala Jan Di dan menghirup aroma khas Jan Di. Ia selalu menyukai aroma yang menguar dari tubuh Jan Di. Begitu menenangkan.
OoO
Salju berterbangan berputar-putar menerpa lagi jendela-jendela yang sedingin es. Sebentar lagi Natal. Berberapa orang yang bertugas menghias lobi hotel Ritz Carlton berbondong-bondong membawa kurang lebih dua belas pohon Natal. Untaian holi dan perada kertas emas dan perak telah dililitkan ke sekeliling ekskalator, ratusan lilin berpendar dari dalam kotak-kotak mungil yang digantungkan di atas langit-langit tinggi, sehingga nampak seperti jutaan bintang. Jan Di berjalan sambil menghindari untaian-untaian holi yang belum selesai dipasangkan. Berkali-kali kepalanya ditadahkan untuk melihat sudah sejauh mana para pekerja memasang ratusan lilin dilangit-langit lobi hotel. Jan Di melihat Jun Pyo yang sedang mengobrol dengan seorang pria setengah baya tepat didepan lobi.
“Ehm.” Kata Jan Di.
Serentak Jun Pyo dan pria itu menoleh ke sumber suara. Jun Pyo tersenyum kemudian merangkul Jan Di pinggangnya. “Wanita ini yang aku ceritakan.” Kata Jun Pyo.
Pria itu tersenyum ke arah Jan Di dan menjulurkan tangannya mengajak bersalaman. “Gerry Kingsley.”. Jan Di menyambut uluran tangan itu dan tersenyum hangat, “Jan Di.”
Selanjutnya Jun Pyo dan Gerry kembali terlibat percakapan serius yang membuat Jan Di lebih banyak diam didalam rangkulan erat Jun Pyo. “Ah, itu istriku.” Kata Gerry sambil menunjuk seorang wanita cantik yang berjalan dengan anggungnya ke arah mereka.
“Aku pergi dulu. Merry Chrismast, Nyonya Goo.”
Hye Sun tersenyum maklum mendengarnya. Jun Pyo pasti mengatakan hal yang tidak-tidak pada Gerry. Sudahlah, malam ini malam Natal. Biarkan saja Jun Pyo bersikap seenaknya malam ini. Jan Di tersenyum ke arah Jun Pyo yang melihatnya dengan pandangan bertanya. Biasanya dia marah, batin Jun Pyo heran. Jun Pyo mengangkat bahunya cuek. Ia kemudian membimbing Jan Di masuk ke dalam mobil sport berwarna hitam yang sedari tadi nangkring dihadapan mereka berdua. Natal kali ini kembali dilewati Jan Di bersama Jun Pyo.
Tanpa kekasih tercintanya.