Author Topic: The Little Coward --clueeeee!!! next banner and song ^^  (Read 47424 times)

Chainezz_Vian

  • Guest
Yahh, mii koQ gk d lanjut.in c? Sayang bnget [cry]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Yahh, mii koQ gk d lanjut.in c? Sayang bnget [cry]
maksudnya [what] oh itu ya? [hmpfh] [hmpfh]
yeee--kan udah gw blg klu ff ini scenenya bakal loncat2 [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Yahh, mii koQ gk d lanjut.in c? Sayang bnget [cry]
maksudnya [what] oh itu ya? [hmpfh] [hmpfh]
yeee--kan udah gw blg klu ff ini scenenya bakal loncat2 [laughing]

yahh, klo gitu kpn deket'a. . . Masa tiap ketemu cuma say hai do0nx. . .  Geregetan nie aQ mii >.<

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Yahh, mii koQ gk d lanjut.in c? Sayang bnget [cry]
maksudnya [what] oh itu ya? [hmpfh] [hmpfh]
yeee--kan udah gw blg klu ff ini scenenya bakal loncat2 [laughing]

yahh, klo gitu kpn deket'a. . . Masa tiap ketemu cuma say hai do0nx. . .  Geregetan nie aQ mii >.<
gw seneng ama pembaca yg gregetan [hmpfh] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Yahh, mii koQ gk d lanjut.in c? Sayang bnget [cry]
maksudnya [what] oh itu ya? [hmpfh] [hmpfh]
yeee--kan udah gw blg klu ff ini scenenya bakal loncat2 [laughing]

yahh, klo gitu kpn deket'a. . . Masa tiap ketemu cuma say hai do0nx. . .  Geregetan nie aQ mii >.<
gw seneng ama pembaca yg gregetan [hmpfh] [laughing]

mamii seneng aQ geregetan >.<   klo gk, kasih bocoran kek mii, chap brapa hubungan'a lngsung maju 10 lngkah? [hmff] [hmff] 

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
vian, ga tahu juga [hmpfh] elu tunggu aja deh [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
haaaaaaaaaaaaaaah udah chp 5  [ohmy] [ohmy] [ohmy] kok ya cepet amat [what] updatenya tiap hari ya mam?
baca dulu ahhhhhhhh [biggrin]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
haaaaaaaaaaaaaaah udah chp 5  [ohmy] [ohmy] [ohmy] kok ya cepet amat [what] updatenya tiap hari ya mam?
baca dulu ahhhhhhhh [biggrin]
emang elu lum baca [hammer3] [hammer3] cepet karna setiap chpnya pendek [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
haaaaaaaaaaaaaaah udah chp 5  [ohmy] [ohmy] [ohmy] kok ya cepet amat [what] updatenya tiap hari ya mam?
baca dulu ahhhhhhhh [biggrin]
emang elu lum baca [hammer3] [hammer3] cepet karna setiap chpnya pendek [hmff] [hmff]

hehehe iya mam baru baca td, 5 chp skligus loh, dr kmrn2 ga sempet mampir ke CM [heh]

fun nya berasa bgt mam sesuai ama slogan ff ini "just for fun" [hmff]

thanks ya mam buat ff ini yg udah membawa penyegaran di otak penat ku  [huglove]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
haaaaaaaaaaaaaaah udah chp 5  [ohmy] [ohmy] [ohmy] kok ya cepet amat [what] updatenya tiap hari ya mam?
baca dulu ahhhhhhhh [biggrin]
emang elu lum baca [hammer3] [hammer3] cepet karna setiap chpnya pendek [hmff] [hmff]

hehehe iya mam baru baca td, 5 chp skligus loh, dr kmrn2 ga sempet mampir ke CM [heh]

fun nya berasa bgt mam sesuai ama slogan ff ini "just for fun" [hmff]

thanks ya mam buat ff ini yg udah membawa penyegaran di otak penat ku  [huglove]
sama-sama [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




"Mworagu--apa katamu?" tanyaku sambil membelalakkan mata lebar-lebar--mengira telah salah menangkap apa yang barusan dikatakan Soeun.

"Kencan!" Soeun mengulangi kata-katanya lambar-lambat, menekankannya huruf demi huruf. "Did you get it?"

Aku mengangguk dengan sepasang mata berkejap-kejap. "Tapi .. apa urusannya denganku?"

Soeun berdecak. Sekali tarik, aku sudah berada dalam rangkulannya.

"Aku dan Bum sudah merencanakan kencan buat sabtu besok. Sialnya, sang ayah tiba-tiba memintanya menemani putra sahabat baik sekaligus rekan kerjanya, yang baru tiba di sini beberapa waktu yang lalu, buat berkeliling Seoul pada hari yang sama.. "

"Terus?" tanyaku masih tak mengerti.

Soeun segera mendelik begitu menyadari semua penjelasannya sia-sia saja. Aku, si kepala kerbau, tetap tidak mengerti maksudnya.

"Kami tidak bisa kencan dengan kehadiran orang ketiga! Mengerti sekarang?"

Aku mengangguk ragu-ragu. "Lalu .. kau mau apa denganku?"

Soeun tersenyum perlahan. Senyuman yang mengandung misteri. Ekspresi itu membuatku menyusut ngeri. Wajah jutek itu terlihat licik.

"Yaa--kau mau apa?" kukibaskan tangannya dengan cepat dan kasar.

Soeun langsung berseru dan meringgis kesakitan. "Akhh--kau ini ... "

"TIDAK MAU!! AKU TIDAK MAU!!"

Aku mengeleng keras-keras.

"Yaa--aku belum sampai ke titik masalah!" protes Soeun.

"Pokoknya yang berhubungan dengan kencan dan .. segala sesuatu yang berhubungan dengan itu, jangan libatkan denganku!" aku menutup telinga erat-erat. "Omma sudah mewanti-wanti agar aku tidak terlibat hubungan apapun di sekolah ini. Tidak!!"

"Mwo? Yaa--dengarkan aku dulu!"

"Antwee!!!"

"Yaa--," Soeun menarik sepasang tanganku yang menutupi telinga. "Kau tak perlu kencan beneran dengannya. Hanya membantu kami melepaskan diri, ok?"

"Yaa--sama aja boong!!" protesku cemberut.

"Tentu saja lain .. ," Soeun tertawa sambil menarik bibirku yang monyong beberapa mili. "Jika kau kencan beneran dengannya, mungkin ... ," tiba-tiba dia mencondongkan wajah kearahku dengan ekspresi mengoda. " .... dia akan melakukan sesuatu melebihi apa yang dapat kau bayangkan ... "

"Mak .. maksudmu?" tanyaku sambil menelan ludah. Membayangkannya saja sudah membuatku panas dingin.

"Ha .. ha .. mengapa setakut itu?" Soeun menarik diri ke belakang. "Ternyata julukan itu benar-benar cocok buatmu ... ," dia tertawa terbahak-bahak.

"YAA--" aku segera memukulnya kesal. "Berhenti mengodaku!"

"Ne. Ne. Mianeyo ..."

Soeun berteriak minta ampun setelah lengannya merah-merah karena seranganku.

"Awas kalau masih berani mengejekku!!"

Soeun mengangkat tangannya sambil mengulum senyum. "Karena itu, tolonglah aku ... ," dia membujukku lagi. "Lagipula orang itu kau kenal juga .. "

"Dhuga?" tanyaku sambil lalu.

"Dongsae, si murid baru .. "

"Yang katanya putra pemilik perbankan terbesar di Korea itu?"

Aku mengangkat alis--mulai tertarik dengan pembicaraan ini. Bukan pada orang bernama Dongsae itu, tapi pada gosip-gosip hangat yang tengah beredar di seantero sekolah mengenai murid pindahan itu.

"Bukan katanya, tapi kenyataan .. " jawab Soeun dengan pasti. "Ayah Bum adalah salah seorang partner kerja ayahnya. Mereka baru saja menandatangani proyek kerjasama yang sangat penting. Berhubungan dengan perhotelan yang akan didirikan di Seoul ini .. ." Tangan Soeun mengelayut ke tanganku. " .. karena itu, bantulah kami, Sun-a. Kami tidak boleh mengecewakannya, kan? Iya, kan? ya?"

Berulangkali Soeun menyenggol lenganku. Dia memohon-mohon dengan memelas. Sepasang tangannya terkatup di depan dada dan digerak-gerakkan dari atas ke bawah. Aku menghela nafas, kemudian memejamkan mata perlahan--tak tahu keputusan apa yang mesti kuambil ...


*********



Soeun, Bum dan Dongsae menjemputku di apartemen pagi itu.

"Hy .. ," sapa Dongsae.

Tampangku langsung masam. Jangan sok akrab!! ingin sekali aku berteriak. Namun, tentu saja tidak boleh kulakukan. Soeun bisa membunuhku saat ini juga jika aku nekat melakukannya. Sebagai balasan terhadap sapaan tadi, aku tersenyum kecut. Walaupun terpaksa, akhirnya aku menerima juga ide gila Soeun untuk kencan bersama. Well, sesungguhnya hanya dia dan Bum yang kencan, sedangkan aku--hanya sebagai alat untuk menjauhkan Dongsae dari mereka. Mungkin kedengarannya menyedihkan, namun kenyataannya aku memang selalu lemah terhadap bujuk rayu Soeun.

"Ok, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Dongsae memecahkan kebisuan di antara kami.

Bum dan Soeun tampak saling melempar pandangan. Aku sadar, siasat-siasat jitu untuk menyingkirkan Dongsae dan (aku) sudah dipersiapkan oleh mereka.

"Hyesun belum sarapan, kan?" tanya Bum.

Aku mengeleng pelan.

"Kalau begitu, kita sarapan dulu .. ," Soeun menyambung perkataan kekasihnya. "Baru setelah itu kita melanjutkan ke acara-acara selanjutnya .. "

"Acara-acara selanjutnya? Apa itu?" tanya Dongsae penasaran.

"Kita akan bermain ke Lotte World ... ," sahut Bum. "Kau belum ke sana-kan, Sae-a?" dia bertanya.

"Belum .. ," jawab Dongsae segera.

"Kalau begitu saya akan membawamu ke sana ... "

"Kedengarannya menarik .. ," Dongsae mengelus dagunya.

"Lumayan-la .. ," Bum tertawa.

"Lalu ... ," lanjut Dongsae mengebu-gebu. "Kemana lagi?"

“Lunch, diteruskan ke Namsan Tower. Setelah tea time, kita akan berkeliling kota sebentar. Kemudian dinner yang ditutup dengan nonton film bersama. Bagaimana?”

“Kedengarannya sangat perfect!” Dongsae berseru.

“Tunggu sebentar!” potongku tiba-tiba. “Kenapa acaranya sepadat itu?”

“Namanya juga kencan!” Soeun menyenggol tanganku, yang langsung disambut ketawa yang lain.

“YAA--,” aku segera mendorong si centil itu. “Tidak bisa! Aku tidak bisa dinner dan nonton bareng kalian. Banyak tugas yang harus kulakukan hari ini … “

“Apa itu?” tanya Soeun dengan nada tak senang.

“O .. omma akan meneleponku malam ini .. ,” bagus. Aku berbohong lagi. “Aku harus menunggu telepon darinya di rumah. Bisa mampus jika ketahuan aku keluyuran malam hari .. “ Bukannya merasa berdosa, bualanku malah semakin berlebihan.

Soeun kelihatan memanjangkan bibirnya. Dia tidak bisa menerima alasanku. Aku tahu itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa kalau alasan itu kukaitkan dengan omma. Aku memang cerdik, senyumku dalam hati penuh kemenangan.

“Ya, sudahlah kalau begitu.” Bum berkata. “Kita jalan-jalannya sampai jam lima sore saja. Setelah itu pulang sendiri-sendiri .. “

Yang lain menganggukkan kepala menyetujui. Dalam hati, aku cekikikan sendiri.


*******



Acara kencan (ralat=>boongan) dimulai dengan sarapan bersama di sebuah restoran yang cukup terkenal dalam Lotte World. Selama acara itu, aku menyadari satu hal, Dongsae lebih menyebalkan dari Bum. Dia nyerocos terus. Dan yang dibicarakannya tidak ada yang penting. Yang lebih mengesalkan lagi, lawan bicara yang dituju selalu aku. Mengapa? Huhu—ingin sekali aku menanggis.

Dia mencolek lenganku berkali-kali, kemudian membisikan sesuatu di telingaku--layaknya kami sudah mengenal dalam waktu yang lama. Ingin sekali aku menonjok wajahnya yang cengar-cengir melulu itu. Apa dia kira yang dikatakannya lucu? HUHH!! Tapi malang bagiku. Sekali lagi aku tidak boleh melakukannya. Menangkap gelagat sekecil apapun dariku, Soeun langsung melototkan matanya sampai mau meloncat keluar dari rongganya

Setelah sarapan, kami mencoba segala sesuatu yang ada dalam Lotte World. Permainan-permainan yang cukup menarik, tapi tidak mengenakkan karena aku selalu ditinggalkan sendiri dengan Dongsae oleh Soeun dan Bum. Kedua anak itu selalu menghilang begitu saja. Ohh well, ini dunia mereka. Aku dan Dongsae hanya panjangan—seperti yang kukatakan di awal-awal paragraf.

Kami sedang melihat-lihat beberapa toko yang menjual pakaian dan aksesoris ketika Soeun tiba-tiba menarik tanganku.

“Heyy—itu idolamu!!”

Aku mendengus kesal. “Jangan mempermainkanku lagi!” Sudah kapok aku dipermainkan dengan semua bualan-bualan Soeun tentang dirimu. Tapi, walaupun begitu, aku menoleh juga. Kebiasaan jika mendengar namamu lol.

Dan .. mataku langsung terbelalak lebar. “Omo—“ segera saja aku berbalik kearah berlainan—bermaksud ngeloyor pergi, tapi ditarik kembali oleh Soeun.

“Jangan melarikan diri terus!”

“Mwo? Yaa—apa-apaan ini?! Lepaskan!!”

“Shido!!” Soeun memperkeras tarikannya. “Ayo kita ke sana!”

“Mwo?! Antwee!! Lepaskan aku!”

Tiba-tiba Soeun menempelkan wajahnya di wajahku. “Mari kita tunjukkan ke dia kalau kau laku juga .. “

“Yaa—Kim So Eun!”

“Let’s go!!”

Aku tidak bisa menolak karena Soeun menarik kerah bajuku dengan keras. Aku terseret-seret di belakangnya. Sedangkan para adam, mengikuti kami sambil mengaruk-garuk kepalanya. Tidak mengerti mengapa para cewek yang tadi begitu bersemangat dengan pakaian-pakaian dan aksesories-aksesories itu berbalik arah.

“Minho sunbae!”

Soeun menepuk lenganmu begitu kami sudah sampai di dekatmu.

Kau mengalihkan perhatian dari … lensa-lensa kamera di tangan dan etalase toko kearah kami. Aku melihatmu sedikit terkejut. Itu terlihat dari sepasang matamu yang melebar perlahan. Namun itu hanya sesaat—tak sampai lima tiga detik ekspresi wajahmu sudah datar lagi.

“Sudah kukira tak salah lihat. Benar sunbae .. ,” Soeun tersenyum semanis mungkin.

“O—anyong .. ,” kau menangguk kecil pada kami.

Bum dan Dongsae membalasnya dengan hormat. Itu tak mengherankan karena hampir seluruh siswa mengenal dan mengagumi serta menyanjungmu, tanpa kecuali, baik itu cowok maupun cewek.

“Apa yang sunbae lakukan di sini?” si reseh itu bertanya lagi.

Kau tersenyum. Sebelum menjawab, seorang sales muncul dari meja layan.

“Lensa yang tuan maksud baru akan tiba beberapa hari lagi … ,” kata si sales.

Kau berbalik menghadapinya. “Aku mau dua. Jika sudah sampai, tolong kirim ke alamat ini .. “ kau mengeluarkan sebuah kartu nama kemudian memberikannya pada sales itu.

“No, problem sir .. ,” si sales menerima sambil membungkukkan badannya.

Kau mengangguk. “Thanks .. “ Setelah itu kau menoleh pada kami. “Sampai ketemu lagi, dongsaeng-a .. “ Kau melambaikan tangan sebentar— sekilas aku melihatmu seperti tersenyum tipis—kemudian kau berlalu dari toko yang menjual alat-alat elektronik itu.

“Heyy—“ tiba-tiba Soeun menyenggol lenganku. “Ternyata idolamu benar-benar hebat waktu dilihat dari dekat. Itu-lohh—kulit, mata, hidung ama bibirnya nggak nahan … “ dia cekikikan.

“YAA--,” aku mempelototinya. Jangan berpikir yang tidak-tidak!, ancamku lewat pandangan membunuh itu.


********** 



Aku baru saja melemparkan tas selempangku ke sofa ketika sebuah suara terdengar dari belakang.

“Begitu caranya berkencan?”

Aku langsung terlonjak kaget.

Aku berbalik ke belakang.“Sunbae .. “

Kau berdiri di hadapanku dengan secangkir cappuccino terpegang di tangan. Kau tersenyum perlahan—sangat tipis dan terkesan seperti ejekan. Sudut bibir sebelah kiri itu tertarik ke atas. Berupa cengiran. Aku menjadi panik.

“Ba .. bagaimana .. sunbae tahu .. kalau .. kalau kami .. berkencan? Oh—tidak! Bu .. bukan begitu .. ,” aku mengeleng keras-keras—tidak mengerti sendiri apa yang kuucapkan.

“Bukan begitu?” kepalamu agak digerakkan—menanti jawaban dariku.

“Ne. Kami .. kami … ,” bagus! Aku menjadi gagap sekarang.

“Kami?” kepalamu terjulur semakin mendekatiku.

“Kami .. ,” aku menundukkan kepala sambil mengigit bibir keras-keras. “ … hanya … hanya jalan-jalan .. bersama … “ Apa itu ada bedanya? Oh, tidak! Apa yang harus kukatakan sekarang?!

“Begitu?”

Tarikan di bibirmu semakin tajam. Aku melirik lewat sudut mataku. Kau mengangkat cangkir kemudian menghirup kopi dari dalamnya dengan nikmat.

“Jika kau tak keberatan, aku akan mengajarimu cara kencan yang benar?” lanjutmu dengan tenang.

Aku langsung terlonjak dari posisiku. Tanganku hampir menjatuhkan cangkir dari tanganmu. Dan lebih parah lagi, batok kepalaku berhasil menabrak dagumu yang berada sangat dekat denganku.“Dhe?” mataku terbelalak lebar, tak mampu mempercayai apa yang barusan kudengar.

Kau mendengus sambil mengelus-ngelus dagumu yang meninggalkan bekas merah.“Mulai sekarang aku gurumu. Panggil sonsaengnim!"

“MWO? Sunbae!”

“Sonsaengnim!” katamu tegas. Kepalamu sekarang menyentuh jidatku, Apa sebagai balasan dari ketidak-sengajaanku tadi?, membuatku memejamkan mata—tak tahan membalas pandangan tajam darimu.

“Sonsaengnim … ,”akhirnya aku memanggil, tak berdaya.

“Bagus!”

Aku melihatmu tersenyum puas. Segera saja bibirku meruncing ke depan. Tak mengerti apa yang membuatmu sepuas itu.

“Kita akan memulai kencan ini dengan … “

“Kencan?!” aku menyela, kaget.

“Kencan bohongan, pengecut kecil!” mendadak kau mengetok kepalaku.

“Yaa—sun .. ,” perkataanku terputus oleh telunjukmu yang sudah menempel di cuping hidungku. “ … sonsaengnim … ,” lanjutku lemas.

“Murid bagus .. ,” kau tertawa renyah.

Lalu, bagaimana denganku? Aku hanya bisa memandangimu dengan sepasang mata terbelalak lebar. Kenapa kau selalu kelihatan senang dan puas dengan posisiku yang terpojok dan merana?

“Jangan memandangiku seperti itu!” kembali getukanmu mendarat di kepalaku. Kali ini di bagian dekat jidat. “Dan jangan berpikiran macam-macam! Ini hanya sandiwara. Kencan kita hanya berkisar pada apa yang biasa dilakukan anak-anak muda saat berpacaran pada umumnya. Tidak akan melebihi batas, jadi jangan berharap yang tidak-tidak. Araso?”

Pipiku perlahan-lahan memerah. Mengapa kau seperti bisa membaca pikiranku? Mengetahui apa yang sedang kupikirkan dan kuharapkan? Aku sangat putus-asa. Sungguh merasa ditelanjangi olehmu--bulat-bulat!

“Bu .. bukan begitu .. ,” aku berusaha membantah, namun kau sudah membelokkan percakapan ke arah lain.

"Sebagai bayarannya kau harus menyediakan secangkir cappucino buatku. Ingat, setiap hari--sebelum sarapan!"

"MWO?" teriakku sangat keras. Sepasang mataku terbelalak lebar.

"Kenapa berteriak?" alismu berkerut. "Tidak pernah kau berteriak seperti itu padaku?!"

Apa ini keberatan darimu?

"Aku .. ti .. dak .. ," aku kelabakan sendiri. Tidak tahu bagaimana caranya menjawab pertanyaanmu. Mataku melirik kesana-kemari--gugup dan gelisah. " ... maksudku, ... ti .. tidak baik minum kopi se .. sebelum sarapan. Nanti .. nanti kau bisa sakit maag .. "

"Maag?" kau terlihat keheranan. "Apa yang kau bicarakan=>dirimu sendiri?"

Mampus aku!! Senjata makan tuan. Penolakan halus dariku berbalik kembali padaku. Sangat jitu dan membuatku mati kutu. Kau hebat, bisa membalikkan perkataanku dengan tenang dan cerdik. Oh--lalu, apa yang harus kukatakan sekarang?

Aku mencuri pandang dengan tampang super memelas kearahmu. Dan .. horeeee--aku langsung bersorak kegirangan (tentu saja dalam hati weeekk--) ... kau sudah tidak memperlihatkan reaksi seperti tadi lagi. Ekpresi dan nada sedikit mengejek tadi menghilang begitu saja. Tampangmu berubah datar ketika mempertimbangkan sesuatu.

“Hmm—sebaiknya bagaimana kita memulai pelajaran ini .. ,” kau mengelus-ngelus dagu berusaha mencari cara yang tepat. Tiba-tiba kau menjentikkan jari ke atas. “Bagaimana kalau dinner bersama di luar malam ini!?”

Mulutku mengangga. “Dinner bersama?” Aku berharap tidak salah dengar. Ini pertama kalinya kau mengajakku dinner bersama. Di luar lagi. Walaupun hanya kencan bohongan, apa peduliku? Yang penting, bisa menghabiskan waktu semalaman denganmu, cihuuyyyy!!!!

“Bagaimana?”

Aku mengangguk  seperti kerbau dicucuk hidungnya.

“Bagus. Kalau begitu bersiaplah! Kita akan keluar lima menit lagi.”

Sebelum berlalu ke dapur--buat menaruh cangkir yang sudah kosong, kau mencolek halus daguku. Tubuhku langsung menjadi kaku. Selama beberapa bulan tinggal bersama, hanya hari ini, Tidak! maksudku, hanya beberapa puluh menit terakhir, kau menyentuhku, beberapa kali berturut-turut. OH Tuhan! Aku ingin berteriak, … huhuhu tapi sayang, aku lupa sudah berapa kali kau menyentuhku. Termasuk getokan-getokan pelan tadi. Bagaimana bisa? Hal sepenting itu .. hiksssss…..

"Belum siap juga?!"

Suaramu kembali terdengar. Oh--aku mengangga. Apakah lima menit sudah berlalu? Secepat itu?

"Jika kau masih saja berdiri di situ, aku akan pergi seorang diri!"

Tanpa menungguku, kau berjalan ke arah pintu depan.

"YAA--SUN .."

"EITSS--!!" kau langsung berbalik sambil mengarahkan telunjuk ke arahku. Matamu bersinar tajam.

"Sonsaengnim, .. " aku mengangkat tangan ke atas dan mengangguk berkali-kali--sebagai permohonan maaf, "tunggu sebentar lagi ... ," lanjutku lambat-lambat. "Please .... ," suaraku terdengar memelas. Lalu dengan cepat kuangkat satu jari ke atas. "Satu menit saja!" ujarku. "Satu menit!!"

Kau menghembuskan nafas sambil melanjutkan langkah yang tadi tertunda.

"Jika dalam waktu semenit kau belum nonggol juga, aku akan pergi!" sahutmu tanpa menoleh ke arahku.

"Ne!!"

Tak perlu diperintah untuk kedua kali, aku langsung menghambur ke dalam kamar. Untuk apa? Ya, untuk menganti pakaian sekedarnya. Pakaian yang sekarang kukenakan sudah basah oleh keringat. Dan sedikit apek. Aku menghembuskan nafas berulang-kali. Tidak tahan sendiri dengan bau apek yang menyiksa ini. Apa tadi tercium olehmu ya?[/b]


********

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Surie_Riri

  • Full
  • ***
  • Posts: 297
  • i'm silent reader, mian...
    • View Profile
baca dulu mi, comment nyusul... [hmpfh]
[lovestruck]

Offline Surie_Riri

  • Full
  • ***
  • Posts: 297
  • i'm silent reader, mian...
    • View Profile
mi, sekarang 4 nop mi bukan 4 okt  [head break] [head break] [head break] [hmpfh]

lanjut baca lagi...
[lovestruck]

Offline mumu

  • Junior
  • **
  • Posts: 200
  • Tatapanmu mengalihkan duniaku....
  • Location: indonesia
    • View Profile
go mami go mami.... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
lanjutkan mi.....
DALIMUNTE, PROFESOR MUDA DENGAN ROMANTISME KELUARGA KECILNYA...mau...mau...

Offline Surie_Riri

  • Full
  • ***
  • Posts: 297
  • i'm silent reader, mian...
    • View Profile
yaaah mami nih belum juga kencan dah di-cut...

lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii....
[lovestruck]