Author Topic: The Little Coward --clueeeee!!! next banner and song ^^  (Read 46641 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
setuju ama mak yem [hmpfh]

buat vay, hammer2 hammer2 [guns] [head break] sekalian buat jarang nonggol di sini [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
setuju ama mak yem [hmpfh]

buat vay, hammer2 hammer2 [guns] [head break] sekalian buat jarang nonggol di sini [hmff]

O nih org emang gak bisa dibilangin  [head break] udah dibilang HD gw minggu2 kemaren lagi sakaratul maut  [head break] [head break] [head break] arsip minsun gw, vidi ama fanfic minsun  [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
setuju ama mak yem [hmpfh]

buat vay, hammer2 hammer2 [guns] [head break] sekalian buat jarang nonggol di sini [hmff]

O nih org emang gak bisa dibilangin  [head break] udah dibilang HD gw minggu2 kemaren lagi sakaratul maut  [head break] [head break] [head break] arsip minsun gw, vidi ama fanfic minsun  [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241]
yee wkt reply ini kan lum tahu kompi lu bermasalah [hmpfh] harap maklum la [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
setuju ama mak yem [hmpfh]

buat vay, hammer2 hammer2 [guns] [head break] sekalian buat jarang nonggol di sini [hmff]

O nih org emang gak bisa dibilangin  [head break] udah dibilang HD gw minggu2 kemaren lagi sakaratul maut  [head break] [head break] [head break] arsip minsun gw, vidi ama fanfic minsun  [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241]
yee wkt reply ini kan lum tahu kompi lu bermasalah [hmpfh] harap maklum la [laughing]

Dasarrr!!!  [head break] [head break] [head break] tertawa di atas tangisan orang  [ranting] [ranting] [ranting]

Ada update-an gak mlem nih mam...  [drool]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
nggak ada. lg asik chatting ama anak2 soompi. topiknya menarik boo [hmpfh] [hmpfh] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
nggak ada. lg asik chatting ama anak2 soompi. topiknya menarik boo [hmpfh] [hmpfh] [laughing]

Weh weh apaan mbookk?? Bagi-bagi dun  [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
nggak ada. lg asik chatting ama anak2 soompi. topiknya menarik boo [hmpfh] [hmpfh] [laughing]

Weh weh apaan mbookk?? Bagi-bagi dun  [hmpfh]
[nono] [nono] [nono] rahasia [hmff] [hmff] pakai telepati aja, baca pikiran gw nih [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
nggak ada. lg asik chatting ama anak2 soompi. topiknya menarik boo [hmpfh] [hmpfh] [laughing]

Weh weh apaan mbookk?? Bagi-bagi dun  [hmpfh]
[nono] [nono] [nono] rahasia [hmff] [hmff] pakai telepati aja, baca pikiran gw nih [laughing]

EmangE gw dukun opo  whistling whistling whistling

Offline cHa_cHaa

  • Newbie
  • *
  • Posts: 22
    • View Profile

Ayo dong kak ...
UPDATE......!!!!
UPDATE..........!!!!!!
UPDATE........!!!!!!
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
UPDATE
SEKARANG..............................!!!!!!!!
JANGAN LAMA"......!!!
UD LUMUTAN NHI KAK NUNGGU UPDATE'NYA...
PLEASE......!!!! PLEASE...........!!!

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
MAMI . . yg in updte d0nk . . please . . .ToT . .
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




”Hey—nona, gimana?”

Seseorang mendorong pundakku. Bukk!! Buku tebal bertema ’Seribu Jurus Jitu menaklukkan Pria Idaman?’ lol (apaan sih si Hyesun sampai baca buku begituan?) terlempar dari tanganku. Malang bagi adik kelas yang duduk di kursi dekat rak buku yang berdekatan dengan tempatku berdiri—kepalanya sukses menerima pendaratan dari buku tadi.

“Akhh!!” dia menjerit kesakitan. Buku tersebut tidak hanya tebal, sampulnya juga tergolong keras. Tidak mengherankan jika kepalanya agak menonjol di sisi sebelah kanan. Apa benjol ya? (udah tahu malah nanya, payah!)

“Soseongheyo!” Terburu-buru aku memunggut kembali buku tadi sambil membungkuk berkali-kali padanya. “Aku tidak sengaja. Sosoengheyo .. “

“Sunbae kalau melamun, menjauh sedikit dong. Lihat nih kepalaku sampai benjol begini!” dengus adik kelasku, yang ternyata cerewet itu.

Aku meleletkan lidah. “Iya. Sekali lagi, sosoengheyo .. “

“Huh!!” sekali lagi dia mendengus, sambil mendelik kearahku.

Temannya, yang duduk di sebelah, segera menepuk bahu cewek yang sedang marah itu guna menenangkannya. “Sudahlah. Sunbae kan udah minta maaf .. “

“But, kepalaku benjol nih!” serunya sengit sambil menunjuk jidatnya yang membengkak.

“Hmm--Apa yang harus kulakukan buat menebus kesalahanku tadi?” tanyaku memelas.Tentu saja sambil mempelototi orang yang sudah mengejutkanku sehingga peristiwa yang tidak mengenakkan ini terjadi—Soeun berdiri terpaku di sampingku.

Begitu menyadari dirinya dipelototi, dia segera mengangkat tangan ke atas. “I’m sorry .. “

“Sorry, sorry!” dengusku kesal. “Tahu tidak, mengagetkan orang bisa menyebabkan kematian!”

Lalu aku berpaling kembali ke adik kelasku tadi. “Apa yang harus kulakukan?” tampangku berubah memprihatinkan.

“Ah—sudahlah!” si ceriwis itu mengibaskan tangannya. “Sebaiknya sunbae menjauh dariku …”

“Hey—come on!” tiba-tiba Soeun menarik kerah bajuku guna membalas omelanku tadi. “Aku tidak bermaksud mengejutkanmu. Lagian colekanku tadi pelan banget. Kau aja yang reaksinya berlebihan!” katanya membela diri.

Mataku terbelalak lebar. Colekan—katanya? Jelas-jelas, dia mendorongku tadi! Namun, sebelum dampratan selanjutnya kusemburkan, suara miss Ye Jin, si pengurus perpustakaan sekolah ini, tiba-tiba mengelegar dari tempat jaganya.

“YANG BERADA DI SANA! VOLUME SUARANYA HARAP DIKECILKAN!” Mwo? Bukannya suaranya sendiri yang mengelegar seperti itu? Dasar, tante-tante!” Bibirku maju dua senti karna cemberut. “JIKA TIDAK, KALIAN AKAN DIKELUARKAN DARI SINI!” sambung miss Ye jin dengan nada menegur.

Sekali lagi aku mendelik kearah Soeun. Ingin rasanya aku mencekik lehernya. Biar perpustakaan yang katanya sudah angker sejak dulu akibat pembantaian massal yang dilakukan jaman perang ini, bertambah satu mayatnya—yaitu jenasah Soeun, si reseh. Tapi tetap pikiran-pikiran gila ini hanya tertanam dalam hati, tanpa berani kulakukan. Bakal heboh se-Korea jika sampai benar-benar kulaksanakan. Si pengecut menjadi seorang pembunuh? Berita apa pula ini?

“Tuh—lihat akibat dari perbuatanmu!”

Soeun memanjangkan bibirnya—belajar dariku tuh!. Kemudian menjatuhkan diri di salah satu kursi yang mengelilingi meja panjang. Tampangnya cuek—tak memperdulikan bola mataku yang hampir meloncat keluar saking marah dan kesalnya.

“Lalu, gimana nih?!” tanyanya tenang.

“Mwo?” keningku berkerut. “Gimana apaan? Dari tadi aku nggak ngerti kearah mana pertanyaanmu .. “

Sementara adik kelas malang yang tadi mendadak mendapat buku jatuh ’Bukan bintang jatuh’ dariku, terburu-buru berdiri dari kursinya dan menyingkir dari antara kami sambil diikuti oleh temannya. Mungkin dia takut ketiban sial lagi!

“Tentu saja tentang Dongsae!” sahut Soeun begitu aku menempati kursi yang barusan kosong.

“Mwo?” aku agak terhenyak. “Maksudmu?”

“Ya—gimana perasaanmu padanya?” Soeun mulai kehilangan kesabarannya. “Saya dengar dari Bum, dia benar-benar tertarik padamu loh .. “

“Persetan deh!” cetusku cepat.

“Persetan gimana?” Soeun sewot. “Kalau suka ya bilang suka. Kalau nggak, bilang aja nggak!”

Mataku melebar. “NGGAK!! PUAS?!” teriakku keras.

Sekali lagi, si miss Ye Jin mendelik kearah kami—lebih tepatnya, kearahku. Aku sempat menangkap sorot matanya lewat sudut pandangku.

“Weeo?” tanya Soeun tak mengerti. “Dia kan lumayan. Tidak hanya kaya, tampangnya juga ok ...”

“Kalau gitu, buat kau aja!” cerocosku cuek.

“YAA—“ Soeun menampar tanganku—membuatku berteriak kesakitan. “Aku sudah punya Bum, tahu? Kalau kagak, kau kira aku akan melepaskan kesempatan ini?”

Aku melotot padanya. “Dasar mata keranjang!”

“He .. he …. “ Soeun nyenggir kuda. Dia lalu merogoh ke dalam saku seragamnya kemudian mengeluarkan beberapa lembar kertas persegi panjang—yang ternyata karcis, mengambil selembar lalu menyodorkannya padaku. “Nih—“

“Apa ini?” tanyaku linglung sambil menerima karcis tersebut.

“Karcis masuk arena ice skating di Grand Hyatt Hotel .. “

“Mwo?” Aku mengangkat wajah dari karcis di tangan.

“Dongsae memberikan tiga lembar padaku. Katanya salah satunya buatmu .. ,” tiba-tiba dia menyenggol lenganku. “Lihat-kan! Sudah kubilang dia tertarik padamu. Dia sungguh-sungguh pingin mengaetmu .. “

Tampangku berubah dongkol. Karcis tersebut kuremas kemudian kukembalikan padanya.

“Aku tidak punya waktu hari itu .. “

“Hey—waktunya hari sabtu siang kok!”

“Karna itu aku bilang nggak ada waktu .. ,” ujarku sambil beranjak bangun dari kursi. “Aku harus menunggu telepon dari omma .. “

“Lagi?” tanya Soeun agak curiga. “Sejak kapan kau rajin meladeni ommamu? Biasanya kan kau selalu menghindar darinya?”

Mampus deh! Si reseh ini mulai meragukan alasan yang sengaja kukaitkan dengan nama besar, ‘OMMA’… Kayaknya senjata .. atau lebih tepatnya kebohongan kecilku ini, sudah tidak berguna lagi … Aku harus memikirkan cara lain buat mengelabui Soeun!

Selanjutnya, aku tidak menghiraukan protes-protes si centil itu lagi. Secepat kilat aku menyelinap pergi dari perpustakaan tersebut—tanpa memperdulikan tatapan maut Soeun.


*********



“Nih!!”

Mataku langsung kabur oleh sesuatu yang hampir seinci tercium oleh hidungku. Tulisan-tulisan yang tercetak di sana segede gajah—saking dekatnya, tak terlihat dan terbaca oleh mataku.

Tapi, .. tunggu sebentar!! Mengapa warna-warna cerah yang mendominasi kertas berbentuk persegi panjang ini rasanya tidak asing?

Aku mengangkat wajah dan kau mengipaskan kertas tersebut ke wajahku.

“Ayo, diambil!”

Aku yang masih termangu, menerimanya dengan linglung.

“Apa ini?” tanyaku sambil mengamati kertas tersebut.

Dan …. Astaga!! Apa ini tidak salah? Ya—Tuhan! Bukankah ini .. ini … ? Oh—bagaimana mungkin Engkau bercanda sebesar ini? Mengapa  .. mengapa mempermainkanku? Hikss …. Sekarang, sambarkan saja geledek-Mu. Matiin deh aku sekalian! Ini-kan karcis masuk arena ice skating Grand Hyatt Hotel yang sama seperti yang ditawarkan Soeun tadi pagi?

“Bagaimana?” wajahmu condong kearahku. “Apa kau suka ice skating? Aku dapat karcisnya dari Eunhye. Katanya sih semula dia dan temannya berniat ice skating bersama, namun batal gara-gara ada acara mendadak di luar kota .. “

Aku tak menyahut. Wajahku tertunduk semakin dalam oleh tatapanmu.

“Wegude? Kau tak suka? .. atau … ,” perlahan senyum tipis menghiasi bibirmu. “ .. kau .. sama sekali tidak bisa skating?”

Badanku menegak. Ego yang mendadak muncul membuat ketakutan-ketakutan dan kekhawatiran-kekhawatiranku hilang seketika.

“Siapa bilang?!” seruku dengan sikap menantang.

Ekspresimu berubah. Mungkin tak menyangka reaksi dari si pengecut kecilmu akan seketus ini.

“O ya? Hmm—bagus kalau begitu!” Kau memutar badan membelakangiku. “Jangan lupa waktunya hari sabtu siang—sekitar pukul duabelas. Aku akan menjemputmu sehabis pulang kampus .. “

“Sonsaengnim kalau ada mata kuliah, sebaiknya kita berangkat sorean aja.. ,” selaku tiba-tiba, begitu melihat kau sudah bermaksud beranjak dari ruang depan ini.

Kau menoleh sedikit. “Tidak usah. Hari itu aku tidak kuliah kok. Hanya ada keperluan sedikit dengan pak Jung. Itu aja .. “

Mampus kau, Hyesun-a!! Siapa suruh pakai gengsi-gengsian segala? Menantang segala? Begini deh akibatnya! Kenapa tidak terus terang aja kalau kau benar-benar tidak pandai skating? Bukan. Lebih tepatnya, tidak pernah mencoba olahraga ice skating! Dan juga, kau tidak bisa ke acara itu alasan utamanya telah menolak ajakan Soeun ke tempat yang sama pagi ini. Aku terus-terusan menghujat dalam hati.

Apa sebaiknya acara ini dibatalkan saja ya? Tapi .. begitu melihat bayangan punggungmu yang perlahan menghilang di tikungan kamar, aku menjadi lemas.

Aku ingin pergi bersamamu. Ingin berice-skating buat pertamakalinya denganmu. Ingin digenggam erat-erat tangannya sambil meluncur di lapangan olehmu. Ingin .. ingin … ingin semuanya. Semua yang berhubungan denganmu. Yang jelas, kencan lagi denganmu. Walaupun tetap, hanya boongan …


********



Seperti perkiraanku. Jangankan menghindarkan diri dari Soeun, dari jarak belasan meter saja mata elang si reseh itu sudah menangkap keberadaanku di arena ice skating hotel ini.

“HYESUN-A!!” Teriaknya keras-keras. Antara histeris dan senang. Sepasang tangannya melambai-lambai kearahku.

Aku belum tuli! Masih bisa mendengar dengan baik, jadi nggak usah berteriak sekeras itu! Ingin aku memakinya.

Tapi yang kulakukan malah memasang tampang memelas sambil tersenyum kikuk padanya.

“Hy .. ,” aku mengangkat tangan tak bersemangat.

Soeun meluncur menghampiriku yang berdiri memojok di pinggir lapangan—menanti kepulanganmu dari mengambilkan sepatu ice skating buat kita berdua di ruangan dalam, di luar lapangan ini. Sementara dua cowok yang bersamanya, Bum dan Dongsae, mengikutinya dari belakang.

“Hey—Soeun-a, mau kemana?” Bum berteriak.

“Apa sudah cukup bermainnya?” Dongsae ikut menimpali.

Rupanya kedua cowok itu tidak melihatku. Semakin mendekat akhirnya mereka menyadari keberadaanku juga. Itu terdengar dari teriakan-teriakan saling bersahutan dari melera.

“Heyy—itu Goo Hye Sun!!” Bum menunjuk kearahku.

“Benar! Bagaimana bisa berada di sini?” Dongsae mengangkat tangannya. “HYESUN-A!”

Aku membalas mereka dengan senyum hambar. Soeun memperlambat laju luncurannya begitu menepi ke pagar pembatas lapangan yang terbuat dari kaca.

“Kenapa ada di sini?” pertanyaan yang sama diutarakan Soeun.

Belum sempat kujawab, jawaban itu sendiri mendadak muncul di sampingku.

“Sudah siap?” tanyamu.

Aku mengangguk sambil melirik Soeun.

Kau menyodorkan sepasang sepatu yang bagian bawahnya terdapat kisi-kisi memanjang—sepatu ice skating padaku. “Sekarang pakai sepatunya. Ukuranmu no 6.5, kan?”

Terdengar nafas Soeun terhembus. Aku berpaling padanya. Si centil itu membuka mulutnya lebar-lebar sehingga membentuk huruf ‘O’ besar. Sedangkan kepalanya terangguk-angguk. Aku mencium kata ’Pantas!!’ meloncat keluar dari mulut yang terbuka lebar itu.

“Hey—Kim So Eun, bukannya kau bilang Hyesun ada keperluan penting lainnya? Lalu mengapa bisa muncul di sini?” Dongsae bertanya pada Soeun dengan keheranan.

Soeun mengangkat bahunya. “Mana aku tahu!” sahutnya sinis sambil mempelototiku.

“Aku .. aku .. ,” aku mengaruk-garuk leher gelisah. Apa yang harus kujawab sekarang?

“Minho sunbae juga ada di sini?”

Sepertinya si Dongsae ini perlu diperiksakan ke dokter mata. Orang sejangkung kau baru kelihatan olehnya sekarang? Sungguh tak bisa dipercaya!

“Benar. Kenapa sampai bersama Hyesun?”

Nih dua cowok payah! Sama bego dan butanya! Wajahku berkerut.

“Hy .. ,” kau mengangkat tangan membalas sapaan mereka. “Kebetulan sekali .. “

Kedua cowok itu langsung membungkukkan badannya. “Anyongheseyo, Minho sunbae .. ,” kata mereka bersamaan.

“Anyong .. “

Kau tersenyum dan mengangguk pendek. Kemudian berpaling padaku. “Masih belum dipakai sepatunya?” tegurmu halus.

Aku tersentak. Lamunan-lamunan kecil tadi buyar begitu saja. Dengan gugup aku berjongkok, kemudian mulai memakai sepatu yang tadi kau berikan. Tapi entah tali-tali sepatu ini terlalu ribet atau aku yang terlalu gugup. Simpulnya salah semua. Saling mengait dan menimpa satu sama lain—tak bisa kubuka walaupun bermaksud kuperbaiki. Aku menghembuskan nafas putus asa. Sekitar lima menit aku berkutat dengan tali-tali tersebut—semakin rumit, dan akhirnya aku terkulai lemas. Benar-benar mati kutu!

“Memakai sepatu saja tidak bisa?”

Aku mendongak. Tiba-tiba kau sudah berjongkok di depanku.

“Berdirilah. Biar aku yang pakaikan!”

“Sonsaengnim … “

Perlahan-lahan aku berdiri dari lantai. Aku melihatmu mulai sibuk melepaskan ikatan-ikatan dan simpul-simpul mati yang tadi kubuat. Aku mengamatimu dalam kebisuan. Punggungmu bergerak-gerak seirama dengan kesibukanmu tersebut. Hampir tujuh menit lamanya kau berkutat dengan tali dan kaitan sepatu yang membingungkan ini. Aku mengira kau akan memarahiku lagi. Tapi tidak. Dengan sabar kau memakaikan sepasang sepatu ini buatku. Bahkan mendenguspun, kau tidak! Sumpah, aku tenggelam semakin dalam di dalam buaian pesona dan perhatianmu.

Tanpa kusadari, tiga pasang mata menatapku, perlahan beralih padamu kemudian saling berpandangan dengan sinar mata bertanya.


*********



Aku merapat ke pinggir lapangan sambil mengenggam erat tanganmu setelah setengah jam meluncur di tengah lapangan.

“Akhh!!”

Aku memekik keras ketika hampir menabrak pagar pembatas dari kaca.

Kau tertawa. “Tenanglah. Kau tidak apa-apa selama bersamaku .. “

Andai aku bisa! Seruku dalam hati.

Namun, pengalaman ini sungguh-sungguh luar biasa. Sangat mendebarkan. Sudah beberapa kali kakiku goyah dan hampir terjerembab mencium lantai licin laksana es jika saja kau tidak segera menarik atau menahan laju tubuhku. Untung kau senantiasa di sisiku jika tidak, tak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi padaku.

Melihat permainan Soeun yang cukup luwes dan licin, aku jadi iri. Dari mana anak itu belajar olahraga yang satu ini? Biasanya yang diketahui dan diminatinya hanya shopping dan berdandan aja. Jangankan ice skating, diajak berdansa aja biasanya dia ogah.

Di sisi lain, beberapa kali aku menangkap kerlingan tak mengenakkan dari Dongsae. Cowok itu kelihatan tak senang melihat keakrabanku denganmu. Dia sering mencibir begitu kedapatanku mempelototimu. Hey—apa haknya berlaku seperti itu padamu? Ingin sekali aku menendangnya ke laut. Tapi—sungguh menyedihkan. Dengan sepatu sialan ini, jangankan mengayunkan kaki, untuk berdiri tegak saja sangat susah. Tidak sampai goyah dan terkilir saja aku harus bersyukur—memuji kebesaran Tuhan. Sampai segitunya …. *sad …

Samar-samar aku menangkap pembicaraannya dengan Soeun begitu kau meluncur sendirian di tengah lapangan setelah meminggirkanku di tempat yang aman.

“Buat apa Minho sunbae dekat-dekat ke Hyesun terus?” tanyanya ketus.

Soeun melirikku sejenak, kemudian mengangkat bahu. “Saya rasa bukan kesalahan Minho sunbae .. “

Oh—bagus, Kim So Eun! Kau menyalahkanku?

“Maksudmu, Hyesun sendiri yang menempel terus padanya?” tanya Dongsae dengan alis berkerut.

Hey—cowok nggak ada kerjaan, apa urusannya denganmu?!

“Hmm—tidak tepat begitu .. ,” nyali Soeun agak menciut begitu menangkap pandangan tajam dariku.

“Jadi?”

Soeun berpikir sebentar, kemudian .. ,”Mereka tinggal bersama jadi tidak .. “

“MWO—Tinggal bersama?!”

Perkataan Soeun terpotong oleh teriakan Dongsae. Mata cowok itu terbelalak lebar.

“Bukan seperti yang kau pikirkan!” sela Soeun sedikit sebal. “Minho sunbae tinggal di apartemen Eunhye sunbae. Kau tahu sendiri, Eunhye sunbae tuh kakak sepupunya Hyesun. Dan sekarang mereka tinggal bersama karna hanya Eunhye sunbae satu-satunya saudara Hyesun di Seoul ini .. “

“O .. “

Aku melihat Dongsae mengangguk-angguk mengerti. Setelah itu aku tidak memperhatikan mereka lagi. Perhatianku teralih padamu yang sedang meluncur dengan gerakan mundur. Kau bermain ice skating dengan sangat baik. Setiap gerakanmu lancar dan luwes. Baik itu luncuran ke depan dan mundur, gerakan berputar ataupun melompat—semua kau lakukan dengan sempurna. Aku semakin kagum padamu. Tak kukira pria setenang dan sepintar dirimu, yang biasanya lebih menyukai seni, musik maupun olahraga yang tidak begitu menguras tenaga—golf misalnya, ternyata menguasai teknik tenis dan ice skating yang memukau. Kau tidak hanya bisa bermain, melainkan kau sungguh-sungguh menguasai keahlian di kedua bidang tersebut.

Sebenarnya, apa yang tak kau kuasai?


***********



Sekitar duapuluh menit aku menikmatimu meluncur di tengah lapangan. Setelah itu kau mendekatiku. Aku langsung mengeleng keras-keras—ketakutan, begitu kau menjulurkan tangan padaku.

“Antwee!!”

Kau merapat ke pinggir lapangan di sebelahku.

“Ayo-lah! Buat apa ke sini kalau kerjaanmu hanya memeluk pagar mulu?” desakmu sambil meraih tanganku.

“Antwee!!” kembali aku mengelengkan kepala keras-keras, sampai terasa pusing. Aku mengibaskan tanganmu kemudian mendekap pagar pembatas erat-erat.

“Lepas!” Kau kembali menarik pergelangan tanganku.

“Antwee!!” Aku mendekap pagar pembatas semakin erat. Bahkan memeluk dan merangkulnya sekuat tenaga.

“Lepas kataku!!” Kau memandangiku tajam-tajam.

Tapi, tidak!! Aku tak mau pengalaman mengerikan tadi terulang lagi. Kapok rasanya berjuang habis-habisan buat tidak terjerembab dan terpelanting ke lantai. Bahkan kakiku yang masih memakai sepatu skate ini masih terasa pegal dan nyeri. Ingin rasanya aku mengantinya dengan sepatu kets-ku, kemudian membuangnya jauh-jauh. Sepatu berengsek ini!

“Ada apa dengan kalian? Main tarik-tarikkan?”

Rombongan Soeun hadir di antara kita. Segera aku melepaskan diri dari lingkaranmu. Aku bergerak sedikit—berjalan dengan sangat lambat sambil berpegangan erat pada pagar kaca—takut jatuh boo …

“O …” Kau menoleh kepada rombongan kecil yang baru datang. Sesaat kau mengelus-ngelus dagu. “Apa kalian lelah, dongsaeng-a? Perlu istirahat?”

Mereka saling berpandangan.

“Boleh juga .. ,” sahut Soeun. Diikuti anggukan yang lain.

“Kalau begitu .. kita ke café kecil di sana saja .. ,” kau menunjuk ke shopping arcade di luar arena ice skating ini. “Pesan minuman buat menghangatkan badan .. “

Semua langsung setuju. Terutama aku—karna bisa terlepas dari ajaranmu hari ini he .. he .. he … Aku jadi heran, belajar kencan kok mesti di arena ice skating ya? Apa hubungannya?


**********



“Apa yang kalian pesan?” tanyamu sambil mengamati kami satu-persatu begitu kami menempati kursi masing-masing. “Hari ini sunbae yang traktir jadi jangan sungkan .. pesan aja apa yang kalian mau .. “

“Es Krim!!” aku menyeletuk cepat sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.

Namun lambat-lambat kuturunkan kembali begitu mendapat sorotan tajam darimu.

“Es krim?” alismu berkerut.

“Ide yang bagus!” Dongsae menimpali. “Saya juga mau es krim …”

“Saya juga .. ,” Soeun mengangkat tangannya dengan semangat, diikuti Bum.

“Jika sunbae tak keberatan, saya juga mau es krim .. “

Kau mengeleng perlahan. “Kalian aneh-aneh saja. Makan es krim di ruangan Ber-AC sedingin ini?”

“Weo?” tanya Dongsae. “Apa sunbae tidak suka es krim?”

“Bukan. Hanya saja, saya cuma makan es krim pada saat dan suasana yang tepat .. ,” kemudian kau tersenyum halus. “Mungkin usiaku terlalu tua untuk memahami cara berpikir dan pola hidup anak-anak remaja seusia kalian .. “

Dongsae tertawa terbahak-bahak—yang membuatku ingin segera menonjok dagunya. Apa yang lucu dari perkataanmu yang menyayat itu? Oh—well, mungkin kau tak apa-apa karna kau mengatakannya sambil tersenyum. Tapi bagiku, perkataan itu sangat menyakitkan. Bagaimana mungkin kau menganggap diri sendiri sudah tua? Bagiku, justru usiamu yang terpaut tujuh tahun dariku itu yang membuatmu terlihat dewasa dan menarik—tentu saja, selain wajah tampanmu yang memang tak ada duanya ha .. ha …

“Benar juga … ,” Dongsae menyahut. “Karna itu sunbae harus meluangkan waktu lebih banyak bergaul dengan remaja seperti kami .. “

Jika tidak ingin mati di tempat, harap membisu sekarang juga, Cho Dong Sae!! Aku mengepal tangan erat-erat.

“Akan kuusahakan … ,” katamu—meladeni Dongsae dengan halus. “Ok, sekarang kalian mau pesan apa?” Kau mengatupkan kedua telapak tangan kemudian berdiri dari kursi. “Masih mau es krim?”

“Ne!” sahut si centil Soeun. “Aku mau rasa coklat. Ghamsamida, sunbae .. “

“Saya rasa vanilla aja!” ujar Bum.

“Mango, thanks!” Dongsae mengangkat tangannya.

“Bagaimana denganmu?” Kau berpaling padaku. “Es krim juga?”

Aku tak menyahut. Ingin berteriak ’IYA’, tapi suaraku tak keluar. Perkataan-perkataanmu tadi masih tergiang-giang di telingaku. Apa kau tak menyukai cewek yang suka makan es krim di udara dingin ya? (Hyesun polos banget ><) Dalam arti tak bisa menempatkan diri pada keadaan?—seperti berpenampilan tak pada tempatnya waktu kita dinner bersama di restoran Perancis minggu yang lalu?

“Jika masih tak bisa mengambil keputusan juga, biar aku yang memesannya untukmu. Apapun yang kubeli, harus kau habiskan. Araso?”

Kau menatapku lekat-lekat sehingga mau tak mau aku menganggukkan kepala perlahan. Sekarang lenyap sudah harapanku untuk menikmati es krim kesayanganku. Demi kau, aku harus menahan siksaan ini, tekadku dalam hati. Entar, aku hanya bisa memandangi teman-temanku menikmati es krim yang super lezat sambil mengigit jari.

Tanpa kusadari, sebelum berlalu dari hadapan kami, segaris senyuman tipis tersembul dari wajahmu. Aku menunduk sambil meremas-remas sambil mempermainkan jari-jemariku. Tak kuperdulikan gurauan-gurauan Soeun, Bum dan Dongsae yang menghangat. Mereka sedang asyik membicarakan gosip-gosip paling segar yang sedang beredar di sekolah sekarang ini. Apalagi kalau bukan yang berhubungan dengan siapa digosipkan dengan siapa, dan siapa mengejar siapa. Aku, yang biasanya sangat antusias terhadap gosip-gosip seperti ini, kali ini tak begitu memperhatikannya. Seluruh pikiranku tertumpah padamu.

Sepuluh menit kemudian.

“Punyamu … “

Es krim dalam ukuran corn dengan rasa strawberry disodorkan di hadapanku. Mulutku mengangga. Secepat kilat aku menengadah. Kau tersenyum sambil mengerakkan-gerakkan corn tersebut kepadaku.

“Mau nggak?”

Mataku menjadi pedas. Aku merasakan selapis air tipis mengenangi bola mataku.

“Sonsaengnim .. ,” seruku lirih.

“Surprise .. ,” katamu dengan nada lembut.

Aku tersenyum dan segera menyambar es krim tersebut. Aku tak mau menunggumu sampai berubah pikiran. Ya, siapa tahu tiba-tiba kau berpendapat es krim tidak baik bagi kesehatanku weeee? Kan tak ada yang mampu membaca pikiranmu.

Melihat keagresifanku, kau tertawa perlahan. Aku langsung tersipu malu-malu. Ketahuan rakus sih! Lalu kau mulai membagikan es krim yang dipesan teman-temanku. Semuanya menerima dengan antusias. Beberapa saat kemudian kami menikmati es krim yang lezat dalam kebisuan. Kau menjatuhkan diri tepat di depanku, bersebelahan dengan Bum dan mulai menyeruput secangkir cappuccino kesukaanmu.

“Kelihatannya punyamu enak?”

Tiba-tiba Dongsae condong kearahku. Aku segera menyusut ke samping hingga menabrak dinding.

“Yaa—apa maumu? Menyingkir dariku!”

Aku mendorongnya dengan tangan kiri, sedangkan tangan satunya yang memegang corn terangkat guna melindungi diri. Aku melotot padanya. Dongsae tersenyum licik. Mendadak dia menggunakan mulutnya menyambar es krim di tanganku.

“YAA—“ teriakku kaget. Tak menyangka anak menyebalkan ini akan sekurang-ajar ini.

“Ternyata benar punyamu lebih enak .. ,” dia mengelap es krim yang berlepotan di bibirnya dengan tangan.

Mataku terbelalak lebar sampai mau meloncat dari rongganya. Aku menunjuknya dengan tangan bergetar.

“Kau … kau … ba .. bagaimana .. mungkin … “

“Mwo?” Dongsae menyela perkataanku yang terbatah-batah. “Aku Cuma mencicipi sedikit loh. Apa segitu aja kau minta diganti?”

Oh—Tuhan! Apa anak ini begitu tolol sehingga tidak merasa bersalah buat tindakannya tadi? Menyambar es krim orang seenak perutnya?

“Saya tidak mau lagi!” Aku memberenggut kesal. “Kau habiskan saja sekalian.” Kusorongkan es krim tersebut padanya dengan raut hampir menanggis. “Saya nggak mau berbagi liurmu!”

Dongsae mengangkat bahu cuek sambil menerima es krim tadi. “Kuganti ya?”

“Nggak usah!”

Aku bersidekap dengan bahu naik turun menahan emosi. Cowok ini sungguh-sungguh menyebalkan! Menerima incarannya? Oh—bunuh aja aku sekalian!

Masih dengan nafas tersengal-sengal aku mengangkat wajah. Tertangkap olehku, kau tersenyum—lagi? simpul sambil menyeruput busa-busa susu dari cangkir. Pandanganmu tak terarah padaku melainkan tertuju ke meja panjang yang membatasi kita berdua. Alisku berkerut perlahan. Apa ada yang lucu dari daun meja ini? Aku menunduk dan mengamati daun meja, tapi tidak kudapatkan sesuatu yang aneh di sini. Hanya beberapa lembar tisu dan brosur-brosur yang terlipat rapi tergeletak di sudut meja.

Aku berpikir sebentar. Apa .. kau menertawakan perselisihanku dengan Dongsae tadi? Tapi .. mengapa? Bukannya aku mesti dikasihani ya? Tapi mengapa kau malah cengar-cengir sendiri? Berbahagia buat penderitaanku? Aku memanjangkan bibir ke depan—manyun.

Drekk … terdengar bunyi kursi didorong ke belakang. Aku mengangkat wajah dan melihatmu berdiri dari posisi semula. Cangkir kopi yang sudah kosong kau letakkan di atas meja.

“Aku ingin beli sesuatu. “ katamu sambil merapikan jas biru muda yang agak kusut. “Apa ada yang kalian mau?” lanjutmu sambil memandangi kami.

“Aniyo .. ,” jawab Dongsae, Bum dan Soeun hampir berbarengan.

Kau mengangguk. “Ok, kalau begitu aku permisi sebentar .. “ Tiba-tiba kau mengalihkan perhatian padaku. “Kau—ikut denganku!”

“Mwo?” Mataku melebar. “Wee … o?” lanjutku kebingungan.

“Ikut saja .. “

Tanpa memberikan penjelasan apa-apa lagi, kau memutar tubuh sambil melangkah ke bagian kasir. Aku tersentak dari kursi dan mau tak mau mengikuti langkahmu. Setelah sampai di depan kasir, kau berpaling padaku.

“Masih menginginkan es krim?”

“Mwo?”

Kau tersenyum. Tanpa menjawab, kau berpaling pada kasir muda di depan.

“Es krim strawberry, please .. “

“Ne .. ,” sahut si kasir sambil sesekali mencuri pandang kearahmu.

Perasaan bahagia akibat perhatianmu yang besar ini sirna seketika. Aku melotot kearahnya. Jika dia masih menatapmu seperti ini akan kucongkel bola matanya atas pandangan kagumnya itu. Aku bersumpah!


*********


p.s : thanks to SR Ririt buat masukannya--kencan bohongan minsun di lapangan ice skating [biggrin] . Semoga elu enjoy this chapter, seperti juga saya sangat menikmati pembuatan chapter ini [lovestruck] [lovestruck]

buat para pembaca yang lain--mian jika chapter ini membosankan [heh] nggak gw periksa ulang. kalau ada kesalahan ketik atau kesalahan perbendaharaan kata, harap diberitahu. thanks [biggrin]
« Last Edit: March 23, 2011, 07:28:00 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
thank mami akhirnya setelah menanti lama diupdate juga....

Offline Song hye sun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 46
  • nomu.nomu.nomu chuaaaa
    • View Profile
mami gomawo udah di update, [smiley-gen013] [biggrin]
di chap ini minho romantis+care banget ama hyesun,pokoknya paling suka sama karakter minho di sini  [lovestruck] [lovestruck]
mami,chapter selanjutnya jangan lama-lama ya,udah jatuh cinta sama ff ini,,  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
[/quote]

you and i together it's just feel so right

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
thank's mommy for update  [hmpfh]

chapter ini bikin kangen sama BOF mam, kangen joondi maen ice skating bareng  [cry]

btw chapter ini romantis sih mam tapi kurang greget  [hmpfh] [laughing]

ayolah mam bikin songsaenim lebih romantis ke hyesun  [hmff]

oh yaa bikin dongsae maen ke apartement hyesun mam, bikin mereka jadian sekalian juga gapapa :LOL: pokonya bikin mereka nempel kaya perangko  [devil2]* di  [head break] sama mami*

biar si songsaenim cemburu  [laughing]
itu sebenernya minho suka hyesun ga sih mam?  [wacko]

kalo minho suka... jadi kapan mereka jadian mam ??? next chapter ya ya yaaa  [hmpfh] [laughing]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mami gomawo udah di update, [smiley-gen013] [biggrin]
di chap ini minho romantis+care banget ama hyesun,pokoknya paling suka sama karakter minho di sini  [lovestruck] [lovestruck]
mami,chapter selanjutnya jangan lama-lama ya,udah jatuh cinta sama ff ini,,  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
[/quote]
gw jg paling suka karakter minho di sini [lovestruck] [lovestruck] so perfect [hmpfh] [hmpfh]

vio, kencan mereka kan boongan [laughing] [laughing] mau jadian beneran? tunggu bertahun2 lagi deh [hmff] nggak jg sih hehehe, tunggu wkt yg tepat deh [biggrin] kan udah diblg tuh karakter minho di sini rada sulit ditebak. yang jelas dia suka hyesun but utk ungkapinnya dia perlu wkt. jgn lupa tuh tipe/sifat hyesun kyk gimana [hmpfh]

virna, thanks udah dibaca [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun