Author Topic: The Little Coward --clueeeee!!! next banner and song ^^  (Read 46615 times)

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
mom bennermu bagus banget... [huglove]
sih mami mah ngasih bener aja, setidaknya kasih spoiler or di uodate dong
seneng ya bikin kita2 pada [bav] [bav] cepet di update ya mom anak2mu nanti pasti pada rusuh loh [hmpfh]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ada yg mampu nunggu updatean ini ga ya [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Aku mempelototi lembaran-lembaran kertas jawaban di kedua tanganku. Berulang-kali. Mataku berkejap-kejap tak mampu mempercayai apa yang kulihat. Omo, apa ini tak salah?

Aku membalik kertas pertama. Kosong! Kertas kedua--sama saja.. Mataku berputar ke atas. Yaishh--tentu saja. Dasar bego!! Lembaran-lembaran kertas jawaban ulangan ini kan hanya berisi di salah satu sisinya! Aku membalik dua kertas itu kembali. Biologi=>80, matematika=>78, mataku berkejap-kejap lagi. Angka-angka langka dan ajaib yang sudah lama tak kuraih. Aku tak sedang bermimpi, kan? Kucubit pipiku untuk meyakinkan.

"Akhh!!" aku langsung berteriak keras. Terasa sakit, berarti .... Tidak bermimpi!!! WOWWWW!!!!

"Huhh--menyebalkan!!"

Tiba-tiba Soeun sudah menjatuhkan diri di sampingku. Tangannya mengenggam lembaran-lembaran kertas jawaban ulangan yang sudah agak kusut.

"Mwo?!" aku tersentak dan berpaling padanya.

"Nilai-nilaiku jatuh ... ," perkataannya terputus begitu pandangannya menangkap lembaran-lembaran kertas di tanganku. "Omo, nilaimu?" Segera saja dia merebut kertas-kertas tersebut dari tanganku. "Bagaimana mungkin? Kau curang ya, Hyesun-a? Nyontek?!!" dia menuduhku secara bertubi-tubi.

"Enak saja!!" bentakku. Dengan kasar kusambar kembali kertas-kertas kesayanganku. "Aku memperoleh nilai-nilai yang sepadan dengan usaha kerasku, tahu?!"

"Cihh--," Soeun mencibir.

"Lalu bagaimana denganmu?" tanyaku tanpa memperdulikan tampang jengkelnya.

"Buruk!" sahutnya gusar. Mendadak dia mengacak-acak rambut dengan frustasi. "Yaishhh--gimana bisa konsentrasi kalau yang ngajarin ajushi reyot kayak sonsaengnim yang disewa omma?!! Lain ceritanya kalau sonsaengnimnya keren kayak Minho sunbae ... "

Lalu Soeun memandangiku dengan ekspresi tak tertafsirkan. Terlihat licik dan ... hmmm--aku tak menyukainya.

"Mwo?!" celetukku.

"Aku juga mau dong diajarin Minho sunbae .. ," dia merapat kearahku. "Boleh ya?! Ya?!" dia menyenggol lenganku, memohon-mohon dengan rayuan gombal. Terus terang, tak akan mempan terhadapku kalau permintaan ini berhubungan denganmu. Membiarkan si centil ini lengket-lengket di dekatmu sama saja membiarkan seekor kumbang berkeliaran di sekuncup  kembang lol. "Hyesun-a, ya?! Ya?!" Suara menyebalkan itu terdengar terus!

"SHIDO!! ANTWEE!!" teriakku keras. Aku segera bergesar dari posisiku dan mendelik padanya.

Tak kusadari sebuah penghapus papan dilayangkan pak Bi kearahku. Pukk .. penghapus papan dari kain yang membaluti kapas itu sukses mengenai pipiku. Untung saja bukan penghapus kayu di sebelahnya, jika tidak, pipiku pasti sudah benjol-benjol .... huhhh ...

"Yaishh---siapa?!! Siapa yang lakukan ini?!"

Aku terperanjat bangun dengan posisi memasang kuda-kuda--seperti ahli kungfu sedang mempersiapkan diri menghadapi lawannya, sebelah kakiku dikedepankan, sedangkan sepasang tanganku terkepal dengan agak dikembangkan di depan dada--dan kepala celengak-celengok ke kanan dan kiri guna mencari orang jahil itu. Seisi kelas langsung terbahak-bahak. Parasku berubah pucat pasi begitu mendapati pak Bi sedang mempelototiku.

"INI BUKAN PELAJARAN BELA DIRI. KALAU INGIN TERIAK-TERIAK KAYAK TARZAN, HARAP KELUAR DARI KELASKU!!"

Mulutku terbuka dan bergetar. "Sosoengheyo ... pak Bi .. sosoengheyo .. " Aku menunduk dan membungkuk sedalam-dalamnya.

"Bisa diteruskan sekarang?!" tanya pak Bi tajam.

"Ne ... ," jawabku pelan.

"Kalau begitu duduklah kembali. Dan yang lain ... ," guru yang masih muda itu mengedarkan pandangannya. "Jika masih ingin tertawa, silahkan keluar ..."

Ancaman tersebut membuat seisi kelas langsung senyap. Aku duduk kembali di kursiku dan si Soeun langsung menarik lengan bajuku--tentu saja tanpa sepengetahuan pak Bi yang sudah konsentrasi kembali dengan rumus-rumus matematika di papan tulis.

"Boleh ya?"

"Mwo?!" tanyaku kesal.

"Permintaan tadi. Diajari Minho sunbae. Kau bilang padanya. Ya?"

"Tidak!!" jawabku sambil menahan agar volume suaraku tak sampai kedengaran pak Bi. "Sudah kubilang tidak bisa!"

"Weeyo? Kau mau memonopoli guru sebaik sunbae?"

"Bukan begitu!" sahutku risih.

"Lalu?!"

"Sunbae hanya bersedia mengajariku. Dia tak menerima lowongan murid baru .. ," jawabku sok tahu.

"Yaa--kau kan belum minta padanya jadi bagaimana kau tahu sunbae tak terima murid baru?" celetuk Soeun tak terima.

"Itu ...  pokoknya tak bisa .. ," aku beralih ke buku di atas meja dan pura-pura konsentrasi pada rumus yang diajarkan pak Bi.

"Tak terima!" dengus Soeun. "Aku harus belajar ke sunbae!"

"Sudah kubilang tak bisa!!" balasku tak kalah mengebunya. "Sonsaengnim tuh tak punya jadwal tetap dalam mengajarnya, jadi kami belajar setiap waktu dan setiap saat. Karena kami tinggal bersama maka sistem itu bisa diterapkan. Kalau denganmu ... ," aku mengangkat jari dan mengerak-gerakkannya ke kanan dan kiri. " ... tak akan berhasil ... " Hebat Hyesun-a. Jawaban ini sangat masuk akal .. he he he. Aku bersorak dalam hati dan cengar-cengir sendiri.

"Yaa .. ," desah Soeun sedikit putus asa. "Diusahakan kek ... ," sambungnya berusaha tak menyerah.

"Tidak bisa ... ," aku mengeleng sekali lagi. "Sudah, kembali sana ke guru privatmu itu ... ," tak kuasa aku menahan senyum begitu membayangkan tampang pak Sung--si guru privat yang sudah reyot dengan kacamata tebal itu. Aku bertemu sekali dengannya ketika berkunjung ke rumah Soeun sekitar dua bulan yang lalu.

"Mampus deh ... " Soeun menjatuhkan dagunya ke atas meja. "Aku ingin omma mengantinya dengan guru privat lain yang jauh lebih muda, ganteng dan ok tapi omma selalu bilang pak Sung itu guru yang pintar aku akan berhasil dengan diajar olehnya, tapi lihat .. nilai-nilaiku malah merosot semua. Bawaanku ngantuk melulu begitu lihat wajahnya .. huhh ... "

Aku mengigit bibir bawah—berusaha menahan senyum. Si centil ini dapat hukumannya juga!


**********



Sore itu, sekitar pukul setengah tujuh …

"Hey--little coward!!"

Syurrr .. pensil yang terselip di antara hidung dan bibirku melayang ke udara dengan posisi melengkung ke bawah, jatuh dan bergulingan sejenak di atas meja, kemudian .. plokkk ... jatuh ke lantai. Mataku terbelalak lebar. Secepat kilat aku berpaling ke belakang.

"Sonsaengnim?!!" seruku kaget.

"Belajar?!" Kau mendekatiku. "Ya--tumben si pemalas, rajin bener!!" Kau sampai di sampingku dan berkata dengan nada menyindir.

"Yaa--sonsaengnim!!" protesku dengan bibir runcing ke depan.

Kau menjatuhkan diri di kursi yang ada di depanku. Aku menjadi serba salah ketika matamu mulai menjelajahi buku-buku di atas meja, kemudian berbalik kembali padaku. Aku segera menunduk dan menghindari pandanganmu dengan berpura-pura (sebenarnya beneran sih weee .. ) memungut pensil yang terjatuh tadi.

"Ada kemajuan?"

Aku langsung menarik diri ke atas dan duduk dengan posisi tegak. Pertanyaanmu menyadarkanku pada sesuatu. Segera saja aku mengeledah di antara tumpukan buku-buku. Tidak ada!! Kusibakkan lembaran-lembarannya satu-persatu. Mungkin terselip di salah satu buku sialan ini!! Harapku. Namun, tetap tak kutemukan. Aku menjadi panik. Kemana perginya kertas ulangan Biologi dan Matematika itu?

"Apa yang kau cari?" alismu berkenyit seiring kesibukanku.

"Kertas .. kertas .. ulangan ... ," ujarku terbata-bata dengan sepasang tangan masih mengeledah dengan gila-gilaan.

Dan akhirnya ... hore, dapat!! Sekuat tenaga aku menarik dua lembar kertas dari tumpukan buku paling bawah.

"Nih--," aku menyodorkan lembaran-lembaran jawaban tersebut padamu. Kemudian menunggu dengan harap-harap cemas. Kira-kira apa yang akan kau katakan ya?

"80 dan 78 .. ?" kau menatapku.

"Ne .. ," jawabku sambil mengigit bibir. "Aku tahu bukan nilai memuaskan, tapi ... ," suaraku memelan dan aku segera menunduk dalam-dalam. " ... aku sudah berusaha ... Sungguh ... "

Hening sejenak. Mengapa kau tak bersuara? Aku segera mengangkat wajah.

" .. bukan kesalahanku ... ," lanjutku, tapi langsung terputus begitu berbentrokan dengan tatapanmu. Aku menunduk lagi. "Mianeyo .. aku .. aku emang bego ... "

Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh kepalaku.

"Gwencanayo ... "

Mataku melebar. Benar itu suaramu? Aku mengangkat wajah kembali.

"Sonsaengnim ... "

"Pelan-pelan aja .. nggak perlu dipaksakan. Nilai-nilaimu sudah lumayan kok ... "

"O--jeongmal?!" tanyaku tak percaya. Kau tak mengetok kepalaku lagi?

"Ne .. ," kau tersenyum kecil. Sesaat kemudian, "Sekarang bersiaplah!" mendadak kau mendorong kursi ke belakang dan berdiri dari kursi.

"Dhe?!" Aku mengangga.

"Sonsaengnim akan mengajakmu ke suatu tempat .. "

"Kemana?" mulutku mengangga semakin lebar.

Kau tersenyum misterius. "Nanti juga kau tahu sendiri. O ya, sonsaengnim juga suah menyediakan sebuah hadiah untukmu .. " Kau memutar tubuh membelakangiku kemudian melangkah kearah kamarmu.

"Hadiah .. buatku?" aku tersentak bangun. "Sonsaengnim--apa itu?!"

Aku belum mengambil inisiatif mengejarmu, pintu kamar dari kayu itu sudah ditutup olehmu.


************



"Sonsaengnim .. ," panggilku ragu-ragu sambil menyembulkan kepalaku dari balik pintu.

"Hmm--," kau bergumam tanpa berbalik.

Aku melihatmu sedang sibuk memasukkan beberapa peralatan fotografi ke dalam sebuah tas selempang besar. Sebenarnya kau akan mengajakku ke mana? Foto-foto bersama? Berpikir sampai di sini aku cengegesan sendiri.

"Ada apa?"

Mendadak kau berpaling padaku.

"Hahh?!" Mulutku terbuka lebar. "Oh--aniyo!!' Aku segera mengeleng keras-keras.

"Tidak ada? Jadi, untuk apa kau berdiri aja di situ? Masih belum bersiap juga?"

Aku menelan ludah dengan susah payah. "A ... apa .. perlu aku .. ganti pakaian terlebih dahulu?"

"Tak usah!" Kau segera mengibaskan tangan. "Dan kuperingatkan, jangan berdandan yang aneh-aneh!" sambungmu dengan nada mengancam.

Yaa—ketahuan juga apa yang kupikirkan!! Emang sejak kapan kau tak mengetahuinya ya? Berpikir sampai di sini, kumajukan bibir bawahku. Susah benar kalau sudah berhadapan denganmu. Selalu saja aku seperti ditelanjangi bulat-bulat. Padahal niat semula ingin memakai gaun. Kau akan mengajakku foto-foto bersama kan? Jadi kenapa melarangku berdandan yang cantik dan feminim? Sumpah, aku tak akan berdandan yang aneh-aneh. Namun, .. apakah aku berani mengeluarkan keberatan-keberatan tersebut? Tentu aja tidak! Dan aku yakin kalian semua juga sudah mengetahuinya!

“Sonsaengnim … ,” ujarku memelas.

“Wee?”

Aku mendesah. “Tidak apa-apa … “

“Bagus .. kalau begitu kita berangkat lima menit lagi .. “

Kau menarik resleting panjang pada tas selempang besar yang sudah terisi penuh kemudian berdiri dari posisi berjongkok di lantai. Kau berjalan ke lemari, mengambil sehelai kemeja kotak-kotak bergaris hitam dan merah kemudian memakainya. Sambil lalu, kau menyambar sebuah topi bebek warna coklat tua dari atas meja kecil dekat tempat tidur, mengibaskannya sebentar kemudian menenggerkannya di atas kepala. Kau mengambil tas selempang tadi lalu menyilangkannya di antara dada dan punggung.

“Kacha!!” katamu sambil melewatiku.

Mulutku terbuka perlahan. Tak mengandengku? Tok .. sebuah palu kecil digetokkan sesosok malaikat mungil di atas kepalaku. Jangan bermimpi lagi, Hyesun-a! teriak malaikat mungil tersebut di dekat gendang telingaku.

“NE!!” teriakku keras-keras.

Kau segera berpaling. “MWO?!”

Aku tersadar. Yaa—ternyata terlalu banyak berkhayal! Sosok malaikat mungil tadi hilang seketika.

“ANIYO!!” Aku mengeleng keras-keras sambil memejamkan mataku rapat-rapat.

Alismu berkenyit. Kau terdiam sebentar dan mengawasiku dengan pandangan menyelidik.  

“Kalau begitu .. ambil ranselmu. Masuk-kan semua makanan dan minuman ringan yang kubeli tadi. Semuanya ada dalam kantong plastic di atas meja. Yang lain nggak usah. Seluruhnya sudah berada dalam tasku … ,” kau berpaling ke depan dan melanjutkan langkah yang tadi tertunda karna teriakanku. “Aku menunggumu di tempat parkir depan. Ingat, dekat lapangan basket—sepuluh menit lagi. Jangan salah tempat!”

Bruk .. pintu depan ditutup olehmu. Yaa—kok nggak membantuku berberes-beres sih? Dasar nih sonsaengnim! Aku mengerutu seorang diri.


*********



“Omo, .. ini?” Mataku terbelalak lebar.

Kau tersenyum simpul. “Bagaimana? Kali ini sonsaengnim tak salah lagi kan? Kau suka bersepeda.”

Aku meraba sepeda mungil bercat putih dan merah muda yang dilengkapi keranjang putih kecil yang kau tunjukkan. Suaraku menjadi serak ketika berkata.

“Benar … dan ini, untukku? Benar-benar untukku?”

“Ne. Kau suka?”

Kau mendekati sepeda lain yang terparkir di dekat sepeda yang kau hadiahkan padaku, kemudian menyandar ke stangnya.

“Sangat .. ,” aku menatapmu. “Dulu—waktu masih di Jeju, aku sering bersepeda bareng teman-temanku. Tapi sekarang, aku sudah tak melakukannya lagi. Sangat tak memungkinkan bersepeda di Seoul .. “

“Siapa bilang?” katamu sambil membuka rantai pengunci sepeda. “Kita bisa melakukannya setiap saat asal di tempat yang tepat .. “

“Seperti?” tanyaku sambil melakukan hal yang sama.

Kau tersenyum. “Kita ke pinggir Han river. Di sana ada jalan kecil yang bisa digunakan buat bersepeda .. “

“Jeongmal?” aku bersorak. “Tapi sonsaengnim … “

“Ya?” Kau berpaling padaku.

“Bagaimana sonsaengnim tahu aku pintar bersepeda?”

“Pintar bersepeda?” kakimu yang bersiap menginjak pedal sepeda terhenti. “Aku tak tahu itu. Yang kutahu hanya, kau bisa bersepeda. Paling tidak, tak akan jatuh seperti ice skating dulu. Eunhye yang memberitahukannya padaku .. “

“Hahh?” Saat ini juga aku ingin menyembunyikan diri di perut bumi. Saat-saat memalukan dulu kenapa harus disinggung lagi?!

“Bagaimana? Kau tak perlu diajari, kan?”

“Aniyo!!” aku mengeleng dengan cepat. “Aku mampu melakukannya sendiri. Bahkan sangat baik! Lihat saja nanti!” ujarku sambil membusungkan dada. Kecuali ice skating sialan itu, aku bisa melakukan semuanya dengan baik. Ya, kecuali belajar juga. Sorry ketinggalan upsss .. Apalagi bersepeda—yang merupakan kemahiranku. Kau akan terbengong-bengong melihat kehebatanku nanti .. he .. he … Sambungku dalam hati.

Kau mengangkat bahu. “Ya, udah. Kita berangkat sekarang!”

Kau memutar sepedamu kearah berlainan kemudian mulai mengayuh ke depan—tanpa menungguku lagi.

“Yaa--,” aku tersentak kaget. “Tung .. tunggu dulu … sonsaengnim … “

Tergesa-gesa aku memutar sepeda kearah berlalunya dirimu tadi.


*********
  

Tanpa terasa, aku dan kau sudah mengayuh sepeda sekitar setengah jam. Perlahan kita memasuki sebuah taman kecil yang cukup padat ditumbuhi tanaman-tanaman dan rumput liar. Jalan kecil yang menghubungkan apartemen onnie dengan Han river di kejauhan sana hanya cukup dilalui sebuah sepeda sehingga aku terpaksa menjadi penguntit setia dari belakang. Jarak kita semakin lebar. Kau semakin jauh dan perlahan-lahan hanya tinggal bayangan saja. Aku menekuk bibir dan mendengus berulangkali. Keindahan pemandangan di sekitar sungai Han-pun tak lagi menarik bagiku.

“YAA—SONSAENGNIM, TUNGGUIN DONG!!” aku berteriak dengan suara serak.

Samar-samar bayangan di depan mengerem sepedanya. Kau berhenti dan menoleh kearahku.

“LAMBAT AMAT!!” kau balas berteriak.

Aku merengut. Enak aja! Coba aku punya kaki sepanjang itu, tentu lebih cepat darimu!

“HEY—DENGAR TIDAK?!!”

Masih aja berteriak padahal nafasku sudah ngos-ngosan. Dasar nih sonsaengnim kesayanganku!

“NE!!”

Sekuat tenaga aku mengayuh pedal sepeda hingga sampai di depanmu. “Son .. sonsaeng .. nim … “

“Aku bukannya memaksamu, tapi … ,” kau melihat ke jam tangan yang melingkar di lengan kirimu. “ .. ini sudah pukul 7 lewat seperempat. Sebentar lagi waktunya tiba. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, di seberang Han river, di antara lampu-lampu yang berkerlap-kerlip di penghujung langit .. “

“Dhe?” tanyaku tak mengerti.

“Ikut saja. Nanti kau tahu sendiri .. “

Sekali lagi kau melirik jam tangan sambil menaruh sebelah kaki ke pedal sepeda. “Jam setengah delapan, jadi bergegaslah!” Kau menginjak pedal dan mulai mengayuh.

Yaish—kau ini tak tanggung-tanggung. Sekali kayuh, kau sudah melesat jauh ke depan.

“Yaa—sonsaengnim!!”

Teriakanku tak kau perdulikan. Kegelapan perlahan-lahan turun dari langit dan mulai menyelimuti bumi, membuat sosokmu tinggal bayangan dalam sekejap. Yaishh--!!! Dengan gugup, aku segera mendorong sepeda pemberianmu ini ke depan dan mulai mengayuh dengan sekuat tenaga.

Lima belas menit lamanya aku menguntitmu dengan susah payah. Apa ini termasuk jadwal kencan yang kau ajarkan? Aku menjadi ragu. Terus terang tak ada yang kurasakan. Mengapa ajaran-ajaranmu tak ada romantisnya? Dari permulaan hingga sekarang—hanya ketakutan, kekhawatiran, kerisihan dan rasa malu yang menghinggapiku. Ya, selain kejutan yang kau berikan dengan membelikan es krim waktu ice skating dulu, ataupun mengelap bibirku yang berlepotan es krim tersebut, dan juga memakaikan sepatu ice skating—namun, semua itu termasuk sedikit, kan? (Jangan mengataiku rakus!! Awas!!—dengan pandangan mengancam!) Yang kuharapkan lebih dari itu dan aku yakin kau mengetahuinya.

Kalau kejadiannya begini, lebih baik tak kuterima anjuranmu—ajaran-ajaranmu. Tidak! Bukan! Lebih tepatnya lagi, kalau tahu begini rasanya berpacaran, aku bersumpah tak akan memulainya dengan cowok manapun.


*********



Aku merapatkan sepedaku di dekat sepedamu yang sudah terparkir rapi di tepi Han river—agak keluar dari jalan kecil yang tadi kita lalui. Nafasku tersengal-sengal ketika kau mengangkat telunjuk secara mendadak.

“Lihat itu!!”

Aku tak jadi bersuara. Kebiasaan berubah bodoh jika berhadapan denganmu membuatku berpaling mengikuti telunjukmu. Beberapa detik ke depan aku hanya bisa mengangga. Omo, apa itu? Bintangkah? Tapi kenapa seterang dan sebesar itu? Atau .. berliankah? Namun, .. mengapa tergantung di langit? Mana ada berlian yang berkerlap-kerlip di langit?!

“Yeppo-yo??” kau bertanya tanpa beralih dari benda luar biasa yang tergantung tinggi di seberang sana.

Aku mengangguk perlahan-lahan. “Ne … jeongmal yeppo-yo .. “

“Dia muncul sebulan sekali. Dan paling sempurna dilihat dari posisi sini—di tengah-tengah pinggiran Han river .. “

Aku berpaling padamu. “Bintangkah?”

Kau mengangguk. “Ne .. ,” lalu menoleh padaku. “Dia punya nama khusus … “

“Mwo? Jeongmal?” alisku berkerut. “Mana mungkin? Sonsaengnim pasti bercanda .. “

“Tidak. Aku tak bercanda .. ,” kau mengeleng sambil tertawa.

“Chinja? Lalu apa namanya?” tanyaku penasaran.

Tiba-tiba kau condong kearahku. “Hmm—The little coward … “

“YAA--!!”

Reflek, aku langsung mengayunkan tangan dan plakk … mengenai lenganmu.

“Aishh … “

Kau meringis kesakitan. Aku segera menyusut ke belakang—ketakutan, begitu mendapat tatapan tajam darimu. Tamparanku tadi cukup keras sehingga menimbulkan bekas memerah di lengan kirimu.

“Kau ini—bawaannya nggak stabil mulu … ,” gerutumu sambil mengelus-ngelus bekas tamparan tadi. “Kalau bukan ketakutan setengah mati, pasti marah mendadak seperti barusan .. “

“Sosoengheyo .. “ Aku membungkuk sambil menunduk dalam-dalam.

Kudengar kau mendengus. Setelah itu hening, tak bersuara. Diam-diam aku mengangkat kepala sedikit dan mencuri pandang ke atas. Kau terlihat sedang mengeledah sesuatu dalam tas selempang besar yang kau kaitkan di stang sepeda. Begitu dapat, kau menyorongkannya padaku.

“Ambil ini!”

Aku mengangkat kepala perlahan-lahan dengan sepasang mata melebar. “Apa ini?” tanyaku sambil menerima benda itu. Ternyata sebuah teropong genggam.

“Teropong genggam .. “

Aku beralih padamu. “Genthe, untuk apa?”

Sekali lagi, kau menunjuk ke ‘Little Coward’—nama pemberianmu yang AMAT SANGAT tak kusukai karna Cuma aku seorang yang boleh mendapatkan panggilan kesayangan itu. Tidak boleh orang lain, ataupun benda lain!! Terhadap benda mati—seperti bintang aja, aku cemburu setengah mati, .. dasar, payah!!

“Bintang itu sebenarnya hanya bintang biasa—tak ada bedanya dengan bintang-bintang lainnya. Dia terlihat besar dan terang hanya tipuan saja. Beberapa aspek membuatnya terlihat berbeda dan istimewa. Aku sudah menyelidikinya beberapa bulan yang lalu … ,” telunjukmu berpindah ke deretan bola-bola lampu yang berkilauan di seberang sungai. “Kau lihat lampu-lampu di ujung sana?”

Aku mengangguk.

“Mereka unsur utamanya, ya selain air sungai dan bintang-bintang lain di sekelilingnya … “

“Maksud sonsaengnim?” tanyaku sambil mengaruk-garuk kepala. Aku benar-benar tak mengerti kearah mana penjelasan-penjelasanmu itu.

“Berkas-berkas terang dari lampu-lampu di seberang sungai jatuh ke air yang kemudian dipantulkan ke langit. Setelah bergabung dengan sinar dari bintang-bintang lainnya akan mengenai bintang yang berada di tengah-tengah. Itulah dia—The Little Coward ..”

“Jeongmal?” tanyaku dengan nada tak percaya. Akhirnya aku mengerti juga keterangan-keteranganmu yang teramat ribet dan rumit itu he .. he .. . Aku menatapmu lekat-lekat guna mencari sedikit saja bocoran dari ceritamu yang terdengar sangat masuk akal dan sempurna. Kau pasti sedang mengodaku!Tapi, tidak. Kau tak bergeming sedikitpun. Perlahan pandanganku beralih kembali ke langit.

“Tahu kenapa bintang itu kunamai begitu?” kau bertanya.

Aku mengeleng. “Aniyo .. “

Kau tersenyum perlahan-lahan. “Karna aku merasa dia sepertimu. Penuh kebohongan dan ketakutan-ketakutan kecil—selalu bersembunyi dibalik kepengecutan yang tak wajar. Tak pernah berani menunjukkan jati diri sendiri … “

“Sonsaengnim .. ,” bibirku mengerucut. Tega benar kau berkata begitu! Walaupun memang kenyataan sih, tapi kan nggak perlu seterus-terang itu! Sesaat kemudian, aku segera mengalihkan pembicaraan kearah lain. “Benar hanya bintang biasa?” ujarku pelan, masih dengan nada tak percaya.

“Jika masih mencurigaiku mempermainkanmu, angkat teropong di tanganmu dan lihat sendiri ..,” sahutmu dengan sepasang tangan bersidekap di depan dada.

Pipiku langsung mengembung. Kebaca juga pikiran-pikiranku olehmu!

Aku mengikuti saranmu dan mengarahkan teropong genggam di tanganku ke langit. Tak berapa lama kudapatkan bintang yang berada paling di tengah.

“Omo?!!”

Aku menurunkan teropong tersebut sambil mengejap-ngejapkan mata tak mengerti. Tak berubah—bintang yang kau namai The Little Coward masih terlihat terang dan besar dengan mata telanjang. Tapi mengapa di teropong tadi terlihat tak berbeda dengan bintang-bintang lainnya?

Aku mengangkat teropong itu kembali dan menempelkannya di mataku. Sekali lagi—bintang itu sama kecil dan redupnya dengan bintang-bintang lainnya. Jadi benar, kau tak mempermainkanku?

“Gimana?” tanyamu sambil menoleh padaku. “Lihat perbedaannya, kan?”

Aku mengangguk perlahan. “Ne. .. Tapi, bagaimana bisa?”

“Sudah kujelaskan tadi … “

Toeng!! Sebuah palu mendarat di atas kepalaku. Aku mengelus-ngelus kepalaku yang tak apa-apa. Cuma khayalan aja udah terasa sakit ..

Kau menegakkan tubuh dan mulai mendorong sepedamu ke jalan kecil yang dibatasi jalan rumput.

“YAA—SONSAENGNIM MAU KEMANA?”

“Cahaya itu hanya bertahan selama 15 menit, jadi sebentar lagi hilang. Sebaiknya kita mencari makanan sekarang .. ,” sahutmu tanpa berpaling padaku. Kau sampai di jalan kecil, lalu mulai mengayuh sepedamu tanpa menungguku lagi.

“SONSAENGNIMMMM!!!”

Terburu-buru aku mendorong sepedaku keluar dari jalan rumput sambil mengejarmu secepat mungkin.


*********



Soeun mendekatiku dengan raut berseri-seri siang itu.

“Ada kabar baik .. ,” katanya sambil menjatuhkan diri di depanku.

“Mwo?” tanyaku tanpa berpaling dari majalah di tangan.

“Omma menganti guru privatku dengan guru lain. Guru yang lumayan ganteng dan memikat he .. he .. Akhirnya beliau setuju juga kalau si sonsaengnim reyot tak cocok buat mengajarku. Ya maklumlah, nilai-nilaiku jatuh semua … “

“Bilang aja kau kecentilan!” ujarku masih sibuk dengan gosip-gosip terakbar para selebritis Korea dalam majalah. O ternyata si Son Ye Jin berusaha mengaet ajushi kaya pemilik Soni co. Aku mengangguk-angguk. Pantas aja dia selalu kepergok ama para wartawan sering keluar masuk rumah milioner itu! .. Dan apa ini .. ? Mataku melebar. Mana mungkin? Si …

Srett, Soeun menyambar majalah dari tanganku.

“Yaa—apa-apaan?” aku memprotes.

Soeun langsung mendelik. “Aku berbicara padamu. Bisa mendengarkanku dulu nggak?”

Aku mengangkat bahu—cuek. “Ada apa?”

“MWO? Apa kau tak dengar perkataanku tadi?! Ommaku menganti guru privatkuuuuuuuuuu!!!!”

“Yaishh--!!!” aku menutup telinga erat-erat. “Kau udah gila ya? Kenapa teriak-teriak begitu?”

“Habis, kau nyebelin sih!!” gerutu Soeun.

“Hey—cewek-cewek!!”

Sebuah suara membuyarkan ketegangan kami. Aku dan Soeun menoleh secara bersamaan. Bibirku langsung manyun mendapati kehadiran Dongsae di sini. Bum berada tak begitu jauh darinya.

“Udah dengar gosip terbaru mengenai Minho sunbae, lum?” Dongsae tersenyum penuh rahasia.

Aku segera menyeruak ke hadapannya. “Apa? Apa?!!”

Dongsae menyengir. “Kalian tahu tentang Bom sunbae?”

“Park Bom, ballerina terkenal yang pindah mendadak ke sini beberapa hari yang lalu?” Soeun balas bertanya dengan nada tertarik.

Dongsae mengangguk. “Bingo! Menurut gosip yang beredar, penyakit lamanya kumat sehingga harus berhenti dari karirnya sebagai ballerina. Dan sekarang dia melanjutkan kuliahnya di sini .. “

“Lalu apa hubungannya dengan sunbae?” selaku tak sabar. Yang ingin kuketahui hanya hubungannya denganmu. Persetan tentang dirinya! Mau berpenyakitan kek, berhenti jadi ballerina kek, nggak ada hubungannya denganku!

“Mereka sudah kenal sejak dulu. Mungkin sejak sekolah menengah. Bom sunbae merupakan juniornya Minho sunbae. Sekitar satu atau dua tahun lebih muda. Dan menurut kabar, dia mantan pacarnya Minho sunbae .. “

Brakk, kakiku menabrak kaki meja ketika tak sadar mundur ke belakang.

“Hyesun-a .. ,” tampang Soeun berubah khawatir. “Hanya gosip masa lalu .. jangan dianggap serius .. ,” lanjutnya berusaha menenangkanku.

Tapi aku tak menghiraukannya. Perasaanku sangat kacau begitu mendengar penjelasan-penjelasan Dongsae tadi. Si ballerina cantik itu, benar mantan pacarmu? Sungguhkah?

“Tidak mungkin .. ,” aku mengeleng perlahan. “Tidak mungkin … “

Secepat kilat aku menghambur keluar dari ruang kelas.

“HYESUN-A!!” teriak Soeun kaget.

Dia berlari mengejarku. “MAU KEMANA?”

“AKU … AKU TIDAK ENAK BADAN, SOEUN-A. TOLONG MINTA IJIN KE PAK BI!!” balasku tanpa berpaling kearahnya.


**********
« Last Edit: November 26, 2010, 07:41:55 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Mino kok kayaknya kena gosip pacaran ama cewek tenar mulu ya, yg pertama si model *lupa namanya* yg kedua sama balerina, trus sama siapa lagi ntar?

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Mino kok kayaknya kena gosip pacaran ama cewek tenar mulu ya, yg pertama si model *lupa namanya* yg kedua sama balerina, trus sama siapa lagi ntar?  [sweat] [sweat] [sweat] poor hye sun. Oh ya keahlian hye sun apa sih [what] mustahilkan hye sun gak ada kelebihannya. Kulit hye sun kan putih,mulus dan sehat. Jadikan dia model iklan kosmetik kek gitu *harapan yg mustahil*. Habis ini donsae bakal terus ngejar hye sun mati-matian kan? Btw thanks atas update-tannya. Seru bgt tuh pas liat bintang. Kayaknya lee min ho emang romantis tp si pengecut kecil itu tdk menyadari [hmpfh] [hmff]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Mino kok kayaknya kena gosip pacaran ama cewek tenar mulu ya, yg pertama si model *lupa namanya* yg kedua sama balerina, trus sama siapa lagi ntar?  [sweat] [sweat] [sweat] poor hye sun. Oh ya keahlian hye sun apa sih [what] mustahilkan hye sun gak ada kelebihannya. Kulit hye sun kan putih,mulus dan sehat. Jadikan dia model iklan kosmetik kek gitu *harapan yg mustahil*. Habis ini donsae bakal terus ngejar hye sun mati-matian kan? Btw thanks atas update-tannya. Seru bgt tuh pas liat bintang. Kayaknya lee min ho emang romantis tp si pengecut kecil itu tdk menyadari [hmpfh] [hmff]
namanya jg si pengecut [hmpfh] [hmpfh] [laughing]
wahhh hyesun tuh masih remaja (16 thn) maso jd model sih [hmff] [hmff] dia mau, omma and appanya jg ga kasih [laughing] [laughing] ...
hyesun di sini tuh orgnya pemimpi, sering berkhayal yg nggak2 tp klu disuruh mewujudkannya pasti ga berani [hmpfh] dia tuh tipe remaja yg menjalani hidup apa adanya, ga pernah memikirkan masa depan [laughing] [laughing] (pengalaman sendiri wkt dulu. klu ditanya cita2nya, bisa beratus2 profesi terpikir olehku [laughing] [laughing] )

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile
@ Luvee
bebrapa chap trakhir lumayan panjang
ga kek chap-2  yg awal :)
sama kek sist Liko bilang, baca FF yg niy baca-nya enjoy banget  [smiley] ga dag-dig-dig kek klo lg baca Rathh hehhehe
kapan nembak-nya niyy Sonsaengnim ^.^

‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
@ Luvee
bebrapa chap trakhir lumayan panjang
ga kek chap-2  yg awal :)
sama kek sist Liko bilang, baca FF yg niy baca-nya enjoy banget  [smiley] ga dag-dig-dig kek klo lg baca Rathh hehhehe
kapan nembak-nya niyy Sonsaengnim ^.^
thanks buat komentnya [lovestruck]
sonsaengnim nembaknya di akhir2 cerita [hmpfh] jadi, masih lama bo [laughing] [laughing] [laughing] and kyknya, bakal diplesetkan ama hyesun [sweat] maklumlah, namanya jg pengecut apalagi minho nembaknya begitu, rada ga jelas, gitu [goodgrief] [goodgrief] moso si little coward ditanya apa menyukainya [hmpfh] [laughing] gimana jawabnya coba [what] [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile
thanks buat komentnya [lovestruck]
sonsaengnim nembaknya di akhir2 cerita [hmpfh] jadi, masih lama bo [laughing] [laughing] [laughing] and kyknya, bakal diplesetkan ama hyesun [sweat] maklumlah, namanya jg pengecut apalagi minho nembaknya begitu, rada ga jelas, gitu [goodgrief] [goodgrief] moso si little coward ditanya apa menyukainya [hmpfh] [laughing] gimana jawabnya coba [what] [heh]
msiyy lama, gpp Luve, brarti msiy banyak moment-2 si lil coward ama sonsaengnim-nya [hug]
mino niyy tipe-2 kek co' yg susah ngungkapin prasaan-nya?
apa-2 gara-2 calon psikolog jadi ngumung-nya pake bahasa-2 falsafah gitu [laughing]
terang aja si hye sun rada2 ga mudeng [sweat]


‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
thanks buat komentnya [lovestruck]
sonsaengnim nembaknya di akhir2 cerita [hmpfh] jadi, masih lama bo [laughing] [laughing] [laughing] and kyknya, bakal diplesetkan ama hyesun [sweat] maklumlah, namanya jg pengecut apalagi minho nembaknya begitu, rada ga jelas, gitu [goodgrief] [goodgrief] moso si little coward ditanya apa menyukainya [hmpfh] [laughing] gimana jawabnya coba [what] [heh]
msiyy lama, gpp Luve, brarti msiy banyak moment-2 si lil coward ama sonsaengnim-nya [hug]
mino niyy tipe-2 kek co' yg susah ngungkapin prasaan-nya?
apa-2 gara-2 calon psikolog jadi ngumung-nya pake bahasa-2 falsafah gitu [laughing]
terang aja si hye sun rada2 ga mudeng [sweat]


minho bukan tipe kyk rath kok [nono] dia ga susah dibuat ngungkapin perasaannya, hanya saja .. dia sangat mengerti n mengenal tipe2 kyk apa si hyesun itu [hmpfh] klu ditembak langsung, pasti bakal menghindar (sama aja sih klu pakai cara halus. hyesun emang payah [laughing] [laughing] ) .. yup omongan2 minho yg kebykan falsafahnya itu ada kaitannya ama keahliannya [biggrin] .. hyesun bukannya ga mudeng (hmm--sedikit2 sih [laughing] [laughing] ) dia hanya ga mau atau ga mampu percaya si minho bakal menyukai apalagi mencintainya. selama ini kan  hanya berupa khayalan2 doang--akan sangat membahagiakan klu si sonsaengnim sampai bener2 mencintainya [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Gumawo mii bwt update'an nya [lovestruck]    bca ff ini ky lg ngintip k diary hye sun dech. Seru [lovestruck]     
     
haha. Ngakak aQ mii, wktu bca. . .  Ada malykat yg getok" pala hye sun [laughing]     ckck penghayal berat nie hye sun [laughing]     
     
ya ampun hye sun, bru juga gosip. Masa uda ky syok berat gitu c? [hmff]    mang bnr ya mii? Mantan'a mino [chin]   firasat aQ c engak. . . [heh]       
         
huah, bintang'a d ksh nama LC sama ky hye sun. Sweet bnget c [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Gumawo mii bwt update'an nya [lovestruck]    bca ff ini ky lg ngintip k diary hye sun dech. Seru [lovestruck]     
     
haha. Ngakak aQ mii, wktu bca. . .  Ada malykat yg getok" pala hye sun [laughing]     ckck penghayal berat nie hye sun [laughing]     
     
ya ampun hye sun, bru juga gosip. Masa uda ky syok berat gitu c? [hmff]    mang bnr ya mii? Mantan'a mino [chin]   firasat aQ c engak. . . [heh]       
         
huah, bintang'a d ksh nama LC sama ky hye sun. Sweet bnget c [lovestruck]
apa bener mantan minho [chin] [chin] elu lht aja nanti [hmpfh] menurut elu, apa minho tipe kyk gitu [what] [hmff] .. yup hyesun pemimpi ama pengkhayal berat [heh] .. karna bintang itu sifatnya sama kyk hyesun. di luar ama dalamnya ga sama, kyk hyesun yg suka berbohong maka minho menamakannya begitu [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Gumawo mii bwt update'an nya [lovestruck]    bca ff ini ky lg ngintip k diary hye sun dech. Seru [lovestruck]     
     
haha. Ngakak aQ mii, wktu bca. . .  Ada malykat yg getok" pala hye sun [laughing]     ckck penghayal berat nie hye sun [laughing]     
     
ya ampun hye sun, bru juga gosip. Masa uda ky syok berat gitu c? [hmff]    mang bnr ya mii? Mantan'a mino [chin]   firasat aQ c engak. . . [heh]       
         
huah, bintang'a d ksh nama LC sama ky hye sun. Sweet bnget c [lovestruck]
apa bener mantan minho [chin] [chin] elu lht aja nanti [hmpfh] menurut elu, apa minho tipe kyk gitu [what] [hmff] .. yup hyesun pemimpi ama pengkhayal berat [heh] .. karna bintang itu sifatnya sama kyk hyesun. di luar ama dalamnya ga sama, kyk hyesun yg suka berbohong maka minho menamakannya begitu [laughing] [laughing]

tipe mino? Yg mana mii [chin]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
vian, maksudku, apa menurutmu minho tipe cowok yg suka berganti pacar di wkt dulu? [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Kenapa ini terus yg diupdate!!!! [angry]  [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break]
Itu bengkok sesion pertama gimana ceritanyaaaaaaaaa  hammer2 hammer2 hammer2 hammer2 hammer2 hammer2
 [hmpfh]