Author Topic: The Little Coward --clueeeee!!! next banner and song ^^  (Read 47424 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
yang ini kapan di updatenya mamm..... [chin]
belum,, lg males mikir [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline goo meei

  • Full
  • ***
  • Posts: 404
  • i love MINSUN
  • Location: denpasar
    • View Profile
makasih ya mi (boleh ikut panggil mami nggak? biar akrab gitu) [biggrin] [biggrin] atas patunjuknya hehehehe...lain kali kalau aku kesulitan tolong di bantu ya mi [heh] [heh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
makasih ya mi (boleh ikut panggil mami nggak? biar akrab gitu) [biggrin] [biggrin] atas patunjuknya hehehehe...lain kali kalau aku kesulitan tolong di bantu ya mi [heh] [heh]
sama2 say [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline serenity

  • Newbie
  • *
  • Posts: 53
    • View Profile
yang ini kapan di updatenya mamm..... [chin]
belum,, lg males mikir [sweat]


jangan males dong mii,,update skrng yaa mumpung mami lg ol....yaa...yaa.... [heh]*maksa.com

 hammer2 hammer2*langsung digetok sama mamii.......

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
cuma bisa kasih ini,, mian [sweat]


EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
wah mami dah kasih bennernya  [clap] [clap]
weekend di update ya mom  punk

whaiting mom...mo bikin mami semangat  punk punk

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
                             [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
                                                         [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
                                                                                     [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
                                                                                                         
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
spoilernya mana  [what] ato langsung apdet jg boleh  [clap] [clap] [clap] [hmff]

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
spoilernya mana  [what] ato langsung apdet jg boleh  [clap] [clap] [clap] [hmff]
Liko: gak mungkin di update ama mami...kan masih sumpeeeeeeeekkkkkkkkkkkkkk gak tau sampai kapan...benerkan mam [chin]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
spoilernya mana  [what] ato langsung apdet jg boleh  [clap] [clap] [clap] [hmff]
Liko: gak mungkin di update ama mami...kan masih sumpeeeeeeeekkkkkkkkkkkkkk gak tau sampai kapan...benerkan mam [chin]
yoi [hmff] [hmff]

liko, [nono] [nono] spoiler,, bikin aja belum [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
spoilernya mana  [what] ato langsung apdet jg boleh  [clap] [clap] [clap] [hmff]
Liko: gak mungkin di update ama mami...kan masih sumpeeeeeeeekkkkkkkkkkkkkk gak tau sampai kapan...benerkan mam [chin]
yoi [hmff] [hmff]

liko, [nono] [nono] spoiler,, bikin aja belum [hmpfh] [hmpfh]

ya amplop,,ternyata mami masih sumpek  [what]  sumpeknya jgn lama2 napa mam  [nono]

apa yg hrs aku lakukan biar mami ga sumpek  [chin]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
spoilernya mana  [what] ato langsung apdet jg boleh  [clap] [clap] [clap] [hmff]
Liko: gak mungkin di update ama mami...kan masih sumpeeeeeeeekkkkkkkkkkkkkk gak tau sampai kapan...benerkan mam [chin]
yoi [hmff] [hmff]

liko, [nono] [nono] spoiler,, bikin aja belum [hmpfh] [hmpfh]

ya amplop,,ternyata mami masih sumpek  [what]  sumpeknya jgn lama2 napa mam  [nono]

apa yg hrs aku lakukan biar mami ga sumpek  [chin]
update ff lu [hmff] [hmff] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Author’s note : Khusus part Minho and Eunhye atas permintaan Liko, thanks dear. Buat semuanya, untuk ff ini, gw menerima saran dan masukan buat gw pertimbangkan untuk dimasukan ke dalam chapter2 selanjutnya. Bagi yang berminat, silahkan masukan di komentarnya sekaligus. Ditunggu komentarnya, see you ….






"SONSAENGNIMMMMMMMMM!!!"

BRAKKKK, .... Pintu kamarmu didobrak olehku. Gesekan lembut biola yang samar-samar terdengar dari luar tadi, terhenti seketika itu juga.

Kau berpaling padaku sambil menurunkan biola di tanganmu. "Mwo?"

"Hhhh ... hhhh .... " Nafasku tersengal-sengal.

"Mwo? Apa yang terjadi?" alismu berkenyit seraya mengulangi pertanyaan tadi.

Aku membuka mulut—siap menyemburkan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikiranku sejak di sekolah tadi , namun .. tak ada suara yang keluar. Aku kebingungan sendiri. Tanganku mengaruk-garuk kepala yang tak terasa gatal. Apa yang harus kukatakan? Terus terang, aku tak tahu bagaimana menanyakan pertanyaan itu. Apa sebaiknya aku jujur saja bahwa aku cemburu pada Bom sunbae? But—bullshit dah, emangnya aku siapa? Cuma pacar boongan! Lalu apa hak-ku menanyakan itu? Lagipula .. tahu aja nggak aku terhadap hubunganmu dengannya, lalu gimana menanyakannya? Bisa-bisa aku langsung didamprat habis-habisan olehmu ... huhu ... Berpikir ke sini, aku menundukan kepala dalam-dalam.

"Gimana? Ada apa sebenarnya?" Suaramu terdengar lagi.

Aku mengangkat wajah, namun tetap tak mampu bersuara. Mulutku seperti terkunci—tak sanggup dibuat berbicara. Kubalas pandanganmu, tapi begitu bertemu, aku segera menunduk lagi.

"Tak ada?"

Aku mengeleng lambat-lambat.

"Ya sudah ... "

Aku mencuri pandang secara takut-takut lewat ekor mataku. Kau tampak berjalan kearah piano besar yang menempel di dinding, dekat pintu.

"O ya, kenapa kau pulangnya cepat hari ini? Nggak sekolah? Bolos ya?" tanyamu tanpa menoleh padaku.

Aku menelan ludah. "A .. aku .. nggak begitu ... sehat ... ," jawabku beralasan.

Kau melirikku sekilas. Apa itu senyuman? Sudut kiri bibirmu terlihat agak tertarik ke atas. Perlahan kepalamu bergerak, membelakangiku kembali—menghadap ke piano. Kau meletakan biola di atas meja, lalu berpindah ke kursi panjang yang menghadap piano.

Kau buka penutup piano kemudian jemari-jemarimu yang panjang dan lentik (melebihi keindahan jemari tanganku hiksss--sedih deh ... ) mulai bergerak-gerak lincah di atas tuts-tuts piano—berpindah-pindah dari tuts hitam ke tuts putih, bergerak dari tengah sampai ke pinggir, kemudian berbalik kembali—menimbulkan dentingan-dentingan bersahutan yang nyaring dan semarak. Kepalaku terangkat, dan aku terpaku mengikuti gerakan-gerakan tanganmu. Musik yang mula-mula dimainkan dengan sangat lincah dan riang perlahan berubah tenang dan syahdu. Iramanya mendayu-dayu sampai ke kalbu. Mataku terpejam dan aku menghela nafas pelan.

“Aku pergi, sonsaengnim … “

Kehadiranku sepertinya tak diharapkan, jadi kenapa aku masih berada di sini? Perlahan aku memutar tubuh kearah pintu.

“Kau masih berhutang padaku hari ini … “

Perkataanmu yang tiba-tiba membuat langkahku terhenti, tepat di depan pintu. Aku berbalik dengan cepat, dan yee—posisimu masih membelakangiku.

“Mwo?” tanyaku tak bersemangat.

“Secangkir cappuccino waktu sarapan, kau lupa membuatnya ..”

Oh--!! Mulutku terbuka lebar. Benar! Bagaimana mungkin aku sampai melupakannya?

“Mianeyo .. ,” ucapku pelan. Aku membungkuk perlahan. “Aku akan membuatnya sekarang juga …. “

Alunan piano segera terhenti. Kau menutup penutup piano tersebut kemudian memutar tubuh, berhadapan denganku. “Sorean saja, saat belajar nanti … Sebentar lagi aku akan keluar. Ada keperluan sedikit … “

“Ne .. “ Jawabku tanpa bermaksud bertanya lebih lanjut. Biarin deh apa urusanmu. Aku sudah tak perduli lagi. Bukan! Bukan tak perduli, tapi .. aku hanya tak sanggup perduli untuk hari ini … Hatiku terasa sakit dan tak mampu diungkapkan. Ingin bertanya padamu tapi mulutku tak bisa dibuka. Ingin menjerit namun lebih tak sanggup lagi ….

Dengan sangat lambat aku membuka pintu, kemudian melangkah keluar. Kututup pintu tersebut pelan-pelan. Aku menghembuskan nafas panjang-panjang. Perlahan kubenturkan kepalaku ke dinding—berulangkali.

Sungguh tak berguna! Bodoh! Tolol!! Bego!!!! Dasar pengecutttt!!!! Segitu aja nggak berani ditanyakan huhhh, … gimana jika sonsaengnim sampai pacaran beneran sama Bom sunbae? OH—tidakkkkkk!!!!!


***********  



Perlahan-lahan pensil di tanganku bergulir ke atas meja. Sepasang mataku terpicing sebentar kemudian terkatup kembali secara perlahan-lahan. Sungguh tak bisa diajak konsentrasi lagi. Kemana perginya dirimu? Mengapa jam segini belum kembali juga? Huhh, katanya sore ini kau akan mengajariku beberapa rumus matematika yang baru diajarkan pak Bi kemarin, tapi kenyataannya?

Drekk, samar-samar telingaku menangkap bunyi halus dari pintu depan. Pencuri? aku mengangkat alis sedikit dan mendengarkan. Namun sesaat kemudian, masa bodoh—ah …, aku mengeleng pelan sambil merebahkan kepala di atas meja.

Suara halus dan samar tadi tak terdengar lagi. Entah karna suara itu benar-benar sudah hilang atau aku yang sudah tertidur pulas di atas meja belajar. Sampai sesuatu yang lembut dan sedikit tajam terasa mengais-ngais kakiku yang bersendal rumah ‘kepala Winnie the Pooh besar’—tokoh kartun Disney kesayanganku.

Guk .. gukkk … gukkk …

Suara apa itu? Kepalaku agak bergeser dari posisi semula, tapi mataku masih tetap terpejam rapat.

“Hey—bangun anak malas!”

Suaramu? Aku tersenyum perlahan. Namun tetap dengan mata terpejam. Kau datang dalam mimpiku hanya dengan suara? Sungguh ajaib!

“Little Coward!!”

Kurasakan sebuah tangan mencubit pipiku.

“Bangun!! Kau bisa sakit tidur tanpa selimut begitu!”

Otot pipi kiriku bergerak ke atas. Apa benar ini mimpi? Aku mengelus pipiku. Tapi mengapa terasa sakit? Dan panggilan Little Coward ini—begitu .. begitu nyata …

Aku membuka mata perlahan.

“Sonsaengnim .. ,” aku tersenyum, lalu menutup mata kembali.

“Yaa—dasar pemalas!”

Tokk!!

“Auwww!!!”

Aku tersentak bangun.

“SONSAENGNIMM!!!” Mataku terbelalak lebar. “Be .. benar .. sonsaengnim?”

Kau mendengus. “Memangnya siapa kalau bukan sonsaengnim? Hantu?”

Aku mengeleng lambat-lambat sambil memajukan bibir bawah. Sedangkan tanganku mengelus-ngelus kepalaku yang terasa berdenyut-denyut akibat jitakanmu tadi. “Anhi … “

“Lalu apa?” Matamu melebar. “Bermimpi lagi?”

Yah, apa yang mesti kujawab? Aku menunduk dalam-dalam.

Gukk .. gukk .. gukk …

Hey—suara dalam mimpi tadi terdengar lagi! Dari .. Aku segera berpaling ke belakang begitu merasakan sesuatu yang lembut dan tajam kembali mengaruk-garuk pangkal kakiku. Dan … mataku langsung terbelalak lebar.

“Ke .. kenapa … bisa … ada di sini?”

Gukk .. gukk … gukk …

Seekor anak anjing yang sangat mungil, berwarna coklat muda dengan lingkaran putih di antara hidung beserta kaki, memandangiku dengan sepasang mata bundarnya yang besar dan jernih. Sebelah kakinya bergerak dan menimpa kakiku. Dari ekspresinya, tampak dia minta digendong olehku.

“Anak .. anjing?”

Plok, plok, plok …

“Peanut, here!!” Serumu keras sambil berjongkok di depan anjing kecil itu.

Peanut melirikmu sekilas, kemudian berbalik padaku. Matanya berkejap sekali, lalu, sambil melengang kecil dia menghampirimu.

“Good boy!” Kau tertawa dan mengelus kepalanya.

“Milik sonsaengnim?” tanyaku masih dalam kondisi setengah sadar.

“Aniyo!” Kau meraih Peanut kemudian berdiri dari lantai. “Dia milikmu!” Tiba-tiba kau menyorongkan tubuh mungil tersebut padaku.

Untuk kesekian-kalinya mataku terbelalak lebar. “Aku?!!” Telunjukku menunjuk diri sendiri—tak percaya.

“Ne!” Kau mengangguk. “Ayo diambil sebelum jatuh … “

Dengan gugup aku menerima Peanut. Memandanginya dengan kebingungan.

“Genthe, … kenapa bisa jadi milik-ku?”

Kau berjalan mendekatiku kemudian menyentuh kepala Peanut.

“Tadi aku keluar buat menjemputnya. Usianya baru beberapa hari. Pemberian seorang teman. Karna dia tinggal agak jauh di luar kota maka aku pulang sedikit terlambat, mianeyo … “

“Sedikit terlambat?” Aku memanjangkan bibir ke depan—manyun. Enak aja! Bicaramu nggak tedeng-aling. Terlambat satu jam kau bilang terlambat sedikit!!

“Oh--,” kau tertawa. “Mungkin sangat terlambat .. he .. he .. mianeyo … “

Bibirku memanjang semakin ke depan. Masih bisa tertawa?

“O ya—bagaimana belajarnya? Sudah sampai di mana?”

Kau menjatuhkan diri di kursi seraya mengamati buku-buku pelajaran yang berserakan di atas meja. Kekesalanku kau cuekan begitu saja. Dan seperti biasa—aku ikut menjatuhkan diri di depanmu dan melupakan segalanya. Sikapku terhadapmu memang seperti angin—kalau datang dan pergi tanpa diundang saja! Aku menurunkan Peanut ke lantai dan menghadapimu.

“Rumus baru?”

Aku mengangguk.

“Mengerti cara pemecahannya?”

Aku mengeleng dengan raut memelas.

Kau mengambil sebuah buku dan mencoretkan beberapa rumus di sana. “Begini, … jika X dan Y ditambahkan maka ….. “ bla .. bla .. bla … , Kau mulai melontarkan seabrek rumus yang membuat kepalaku puyeng—pusing tujuh keliling. Berpuluh-puluh bintang berputaran di atas kepalaku. Mataku mengabur dan perhatianku hanya mampu ditujukan ke bibirmu. Bibir kenyal yang mampu membuatku berkonsentrasi terus-menerus—bukan pada rumus-rumus itu sendiri tapi pada rasa bibirmu. Hmm—yummy …

Tokkk!!

“Akhh!!!” Aku terperanjat sampai berdiri tegak.

“Sadar??!!”

Aku mengangguk pelan. “Ne … “

“Sekarang kerjakan soal-soal berikut ini! Aku akan memeriksanya nanti … “

Kau berdiri dari kursi dan berjongkok di depan Peanut. Kau mengetuk lantai berulangkali.

“Sini sayang! ikut appa cari makanan di dapur … “

“Appaaaaa??!!!” Aku terlonjak kaget. Buku dan pen di tanganku terjatuh ke lantai.

“Ne. Memangnya kenapa?” Kau berpaling padaku.

Aku mengigit bibir sambil mengeleng pelan. “Aniyo … “ Aku membungkuk kemudian memungut pen dan buku dari lantai. “Kalau sonsaengnim appanya, lalu siapa ommanya?” lanjutku pelan—sangat pelan hingga hampir tak terdengar. Bahkan olehku sendiri.

Tapi ternyata kau mendengarnya.

“Aku yang membawanya kemari, jadi sudah seharusnya dia menganggapku sebagai appanya. Nah karna kau pemiliknya, maka kau yang menjadi ommanya … “

Brakk, buku tadi kembali terhempas ke lantai.

“A .. aku?”

“Tentu saja.” Alismu berkerut. “Tidak suka?”

“Anhi!!” Aku mengeleng cepat. “Aku suka. Peanut, ayo ke pelukan omma .. “ Aku langsung mengembangkan tangan lebar-lebar.

“Selesaikan dulu pekerjaanmu sebelum menyentuhnya!”

Gubrakk, … hikss, segitu aja nggak boleh … dasar sonsaengnim pelit!

“Kau boleh menyentuh dan bermain bersamanya setelah selesai belajar nanti .. ,” lanjutmu sambil tersenyum lembut. “Untuk sementara biar aku yang menjaganya. Dia belum makan sejak tadi jadi aku harus memberinya makan sekarang. Ayo dimulai belajarnya … “

“Ne .. “

Aku memandangimu sampai menghilang di balik pintu dapur. Kemudian aku kembali ke soal-soal memusingkan yang tercetak dalam buku tebal ini. Bolehkah kubuang ke tong sampah? Jidatku berkerut sangat dalam, seiring usahaku menyelesaikan rumus-rumus pemecahannya. Bagaimana penjelasan-penjelasanmu tadi? X ditambah Y berarti …. No, salah. Yang benar adalah ….

Satu jam kemudian …

“Bagaimana?”

Mendadak kau sudah berdiri di hadapanku.

“Sudah selesai?”

Aku menyodorkan buku di tanganku dengan agak-agak ngeri. Bagaimana hasilnya ya? Kau menerima buku tersebut dan menyimaknya. Perlahan kau menjatuhkan diri kembali di kursi.

Beberapa menit berlalu, kau menutup buku itu. “Tak seburuk perkiraanku. Hanya beberapa yang salah … “

“Jeongmal?” mataku terbuka lebar-lebar. “Sonsaengnim .. tak .. tak mempermainkanku, kan?”

“Berikan alasannya mengapa aku harus mempermainkanmu?” kau balas bertanya.

Aku menunduk perlahan. “Tak ada … “

“Kau ini benar-benar deh-- … “ Kau manarik pipiku gemas. Mataku segera berkejap-kejap. Tarikan halus barusan tak membuatku sakit malahan terasa hangat he .. he …

“Yang ini kita selesaikan nanti saja. Kau boleh bermain sebentar dengan Peanut … “

“Jeongmal?” tanyaku tak percaya.

Kau tertawa. “Ne. Kau harus bergaul lebih banyak dengannya. Jangan sampai dia takut padamu. Tapi sepertinya tidak, .. tadi kulihat, dia cukup menyukaimu .. “

“Yeahh!!”

Aku menghambur kearah Peanut. Kupunggut dia dari lantai dan mencium kepalanya. Bulu-bulunya terasa lembut dan mengelitik hidungku.

“Ha .. ha .. ha .. “

Aku tertawa ketika lidahnya menyapu wajahku. Tanpa kusadari kau mengamatiku dari posisi dekat meja. Kau menghela nafas sambil berkata pelan, “Mianeyo …. “

Aku bermain-main dengan Peanut selama sepuluh menit lamanya. Dia sangat lucu ketika berputar-putar mengikuti bola karet yang kulempar tinggi-tinggi ke udara. Dia melompat dan mengigit bola karet tersebut dengan giginya kemudian membawanya padaku. Aku melemparnya lagi, lagi dan lagi. Dia mengulangi tindakan tersebut berulangkali. Kadang-kadang dia terpeleset dan mencium lantai. Aku tertawa terbahak-bahak. Keempat kakinya terpentang lebar-lebar layaknya anjing mainan. Dan dia tak segera bangkit setelah itu. Dia akan memperlihatkan raut memelas dengan menjulurkan lidahnya panjang-panjang.

Peanut memiliki berbagai ekspresi yang mampu mengocok-ngocok perutku. Terkadang dia menjilat hidungnya sendiri, atau berputar-putar berusaha meraih ekornya yang pendek—tapi tentu saja tak berhasil. Atau mendengus-dengus lantai—memperdengarkan desah nafasnya yang berat. Dia juga akan meloncat kearahku secara tiba-tiba bila aku lengah, kemudian menjilatiku habis-habisan. Aku jadi berpikir, mungkin di kehidupan lalu, Peanut merupakan actor dari ras anjing.

“Tunggu omma di sini, sayang .. ,” aku menepuk kepala Peanut. “.. dan sstt—jangan ribut. Omma harus .. ,” aku melirikmu. “.. menyiapkan kopi buat .. appa .. ,” sampai di sini aku tersenyum malu-malu. Memanggilmu dengan sebutan appa, sedangkan aku sendiri omma, membuat wajahku langsung memerah.

“Guk .. guk .. “ Peanut menyahut pelan.

Sekali lagi aku menyentuh kepalanya. “Good boy .. “

Aku bergegas ke dapur. Tiga menit kemudian aku keluar dengan secangkir kopi di tangan. Aku berjalan kearahmu, sementara Peanut mengekoriku dengan setia.    

“Kopi yang sangat terlambat. Mianeyo .. “

Aku menyodorkan cangkir di tanganku kepadamu. Kau yang sedang mengetuk-ngetukan pensil ke meja, menengadah.

“Oh—gumawoyo .. “

Kau tersenyum dan segera menyambut cangkir dari tanganku. Kau menyeruputnya beberapa kali kemudian menaruhnya di atas meja.

“Sudah selesai mainnya?”

Aku mengangguk. “Ne .. “

“Kalau begitu duduklah kembali. Kita perbaiki jawaban-jawaban yang salah tadi .. “

“Ne .. “

Aku menjatuhkan diri di atas kursi. Kau menjulurkan sebuah buku padaku.

“Sebenarnya penyelesaian buat soal-soal tadi ada di sini semuanya. Aku menemukannya setelah mengubek-ubek tumpukan buku-buku ini .. “ Tanganmu menepuk tumpukan buku di atas meja.

“O .. ,” mulutku terbuka lebar.

“O?” Kau mendelik. “Pasti belum membukanya, kan?” dengusmu kesal.

Aku mengeleng sambil memajukan bibir bawah. “Mianeyo …


“Sampai kapan kau akan begini? Bersantai terus?”

Aku mengeleng kembali.

“Apa jadinya masa depanmu? Siapa yang mampu merubahmu?”

“Kan ada sonsaengnim .. ,” sahutku tanpa mampu dicegah.

“Mwo?!!”

Aku menutup mata rapat-rapat. Ya, sudah terlambat.

“Kan ada sonsaengnim yang setia mengajariku .. ,” lanjutku pelan-pelan.

“Kau … ha .. ha .. “ Tiba-tiba kau tertawa terbahak-bahak.

Kupicingkan mata lebar-lebar. “Weeyo? Ada yang lucu?” tanyaku kebingungan sendiri.

Kau tak menjawab, malah menjitak kepalaku.

“Aku tak bisa selamanya di sisimu. Kau harus belajar menjaga diri .. “

“Nggak mau!!” Aku mengeleng keras-keras. “Sonsaengnim nggak boleh pergi ..”

Bukannya menyahutku, kau malah mengetuk-ngetuk soal-soal di dalam buku.

“Konsentrasi ke sini … “

Yee—nggak berperasaan! Bibirku manyun beberapa senti—kalau diukur dengan pengaris sih nggak sepanjang itu lol  

  
*************



Tok .. tok .. tok …

Eunhye memutar gerendel pintu kamar Minho kemudian, drek .. pintu tersebut dibuka olehnya secara halus.

“Boleh masuk?” tanya Eunhye sambil menjulurkan kepala ke dalam kamar. “Ada yang ingin kubicarakan .. “

Minho berpaling dari kesibukannya. Dia tersenyum sambil mengangguk pendek. “Masuklah .. “

Eunhye menarik diri sampai berdiri tegak kemudian masuk ke dalam kamar itu. “Apa yang kau lakukan?”

Minho meliriknya. “Hanya merapikan foto-foto hasi jepretanku beberapa waktu lalu. Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini sehingga tak punya waktu mengurusnya. Memangnya ada apa?”

“Masalah kecil .. ,” kata Eunhye sambil menyandar di dinding dekat meja Minho. “Hoon meneleponku tadi. Dia akan pulang dua minggu mendatang .. “

“Jeongmal?”

Eunhye mengangguk.

“Great .. ,” Minho tersenyum.

Eunhye menanggapi dengan anggukan kepala lagi. Sekilas pandangannya menyapu foto-foto yang berserakan di atas meja. “Sejak kapan kau tertarik pada manusia sebagai objek jepretanmu? Dan juga … “ Pertanyaannya terhenti begitu pandangannya menangkap sosok yang sangat dikenalnya menjadi objek utama dari semua foto tersebut. Eunhye menyambar setumpuk foto dan mempelototinya.

“Goo Hye Sun??!!!”

Lembaran-lembaran foto disibakannya satu persatu—secara kilat.

“Omo—Ini kan waktu kedatanganmu pertamakalinya beberapa bulan yang lalu? Tangan Hyesun terbalut perban akibat teriris pisau dapur dan kau yang mengobatinya. Aku masih mengingat dengan jelas kaos yang dikenakannya saat itu. Kenapa sampai ada fotonya?”

Minho tak menjawab. Eunhye beralih kembali ke foto di tangannya. Matanya melebar ketika mengenali moment dalam foto berikutnya.

“Mengigit jari akibat menjatuhkan vas bunga pemberian Hoon? Kapan kau ambil foto ini?” Alisnya berkerut.

Minho masih tak menjawab. Dia tersenyum simpul sambil menyelipkan sepasang tangan di depan dada.

Eunhye kemudian berpindah ke foto-foto lainnya. “Cemberut? Tersenyum? .. Menangis karna jempol kaki membengkak terjepit pintu? Kalau tak salah, pintu kamarmu ya? .. Yang ini, omo—terpeleset kulit pisang? Memar di kepala akibat terbentur pintu? Tampang memelas sewaktu memecahkan cangkir kopimu? .. Makan kue sampai berlepotan cream—saat ulang tahunku, kan?”

Minho mengangguk. “Ne .. “

“Hampir membakar dapur dan menjadikan kita bebek panggang karna ceroboh menumpahkan minyak ke kompor yang sedang menyala … ,” Eunhye mengelengkan kepalanya. “Kalau yang ini kenapa?” tiba-tiba dia menyodorkan selembar foto pada Minho. “Tampangnya kok begitu?”

Minho memajukan tubuh ke depan. “Penyakit maagnya kumat .. ,” jawabnya tenang.

“Mwo? Yang begitu juga kau foto?”seru Eunhye.

Minho mengangkat bahu sambil terkekeh pelan.

“Nah, kalau yang ini aku tahu .. “ Eunhye menarik selembar foto dari kumpulan foto di tangannya. “Sedih waktu kau mengabari kepulanganmu  selama dua minggu ke New York. Aku ingat betul bagaimana anak itu tak bisa tidur nyenyak selama kepergianmu. Kalau yang ini, .. senyuman pertama kali buat panggilan kecil darimu—little coward … ,” Eunhye tertawa. “Lalu bagaimana dengan ini?” dia menyorongkan selembar foto pada Minho. “Dia terlihat bahagia .. “

“Puas setelah mendapat nilai bagus … “

“Kau yang mengajarinya, kan? Aku melihatnya beberapa hari terakhir ini .. “

Minho mengangguk.

“Tapi, hey--!!” seru Eunhye tiba-tiba. “Kapan kau ambil foto ini? Sepedaan di pinggir Han river?”

“Dua hari yang lalu .. ,” jawab Minho. “Kau tak pulang karna salah seorang temanmu berulang-tahun, kau ingat?”

Eunhye mengangguk pendek.

“Aku mengajak Hyesun keluar malam itu. Makan malam bersama sekalian bersepeda santai .. “

“Ok, sekarang Lee Min Ho .. “ Bukk, Eunhye menghempaskan foto-foto di tangannya ke atas meja. “Terus terang padaku, .. apa maksud semua ini?”

“Mwo?”

“Jangan bilang padaku, kau menjadikan Hyesun sebagai objek penelitianmu! Ya, walaupun sifatnya memang rada unik dan sangat menarik buat bahan observasi namun kuperingatkan kau—Minho-ssi, jangan sekali-kali melakukannya! Bagaimanapun dia saudara sepupuku!”

Minho merentangkan tangannya dan beralih ke depan. “Aku tak berkata begitu ..”

“Jadi .. ?”

“Skripsiku sudah selesai dan tinggal diwisuda beberapa minggu mendatang. Aku sudah tak memerlukan bahan-bahan buat observasi sekarang .. “

“Kalau begitu, apa .. kau … ,” sepasang mata Eunhye terbelalak perlahan. “Kau .. menyukai Hyesun?”

Minho segera berpaling padanya.

“Tak mungkin!!” Eunhye mengeleng keras-keras. “Tak boleh Minho-a!! Hyesun baru berumur 16 tahun. Dan juga, bibi sudah mewanti-wantinya supaya tak pacaran. Lagipula … ,” perkataan Eunhye terputus. Ditatapnya Minho lekat-lekat.

“Lagipula?” Minho membalas tatapan Eunhye ingin tahu. “Lagipula apa?”

“Nasib Hyesun akan sepertimu kelak. Jadi, tak mungkin!”

Minho segera menahan nafasnya. “Sepertiku? Persis sepertiku?”

Eunhye mengangguk dengan ekspresi menyesal.

Beberapa saat keheningan menyelimuti kamar itu. Minho bergerak pelan—mengumpulkan foto-foto yang berserakan di atas meja, kemudian membuka salah satu album yang menumpuk di sisi lain meja itu.

“Araso Eunhye-a …. Gumawo … “

Eunhye menyentuh pundak Minho.

“Apa rencanamu setelah ini?”

“Hmm--,” Minho mengeser album foto di tangannya. “Mungkin seperti permintaan appa—bergabung dengan Lee’s Capital dan mulai belajar di sana .. “

“Kau tak berniat balik lagi ke Seoul?”

Minho tersenyum. “Lee’s Capital punya rencana membuka cabangnya di sini. Mungkin satu dua tahun mendatang. Selama kuliah di Seoul University, aku sudah mempelajari segala sesuatunya secara seksama. Market Korea cukup bagus dan menjamin. Perkembangan negara ini termasuk pesat di antara negara-negara Asia lainnya—selain Cina dan Jepang. Kami yakin Lee’s Phone mampu mengalahkan persaingan dengan Apple Inc yang sangat digemari setahun terakhir. Terutama di Korea ini! Selain harganya lebih terjangkau, kualitas produk kami juga tak kalah dari Apple .. “

“Sudah menyelidikinya secara seksama? Ternyata tak percuma kedatanganmu ke sini ya?” Kata Eunhye. “Padahal semula aku sudah khawatir dengan kuliahmu yang hampir terbengkalai akibat perpindahan di penghujung semester akhir ini. Syukurlah semua berjalan lancar. Aku benar-benar salut padamu .. “

“Salut apanya?” Minho tertawa. “Jangan lupa Eunhye-ssi, aku sudah diasah sejak kecil.”

“Ne, benar. Kau terbiasa mandiri sejak kecil.” Eunhye mengangguk. “Karna itu kau sangat aneh, Minho-a .. “

“Aneh bagaimana?” tanya Minho tak mengerti.

“Sulit ditebak.” Sahut Eunhye. “Untuk apa kau mengambil jurusan psikologi kalau akhirnya harus mengambil-alih Lee’s? Kau benar-benar aneh. Mungkin ada beberapa sisi dari dirimu yang kupahami, tapi secara keseluruhan—aku benar-benar angkat tangan .. “

Eunhye mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah. Minho mengelengkan kepala kemudian mengulum senyum.

“Seperti saat ini, itu—arti senyumanmu?” Eunhye menghela nafasnya. “Aku tak tahu … “


***************



”SUDAH SIAP BELUM??!!!”

Kau berteriak dari ruang depan.

“NE!!!”

Bergegas-gegas aku keluar dari kamar dan menghambur kearahmu. Sepasang tanganku sibuk mengangkat dan menarik gaun panjang yang kukenakan—berulangkali. Gaun dari sutra ini membuatku kesal—terlalu licin sehingga selalu meluncur ke bawah. Aku hampir saja tersuruk akibat tak sengaja menginjak ujungnya.

Sungguh memalukan! Maksud hati ingin berdandan yang sempurna di hadapanmu, supaya terlihat lebih dewasa dan feminim tapi malang—gaun panjang ini tak bisa diajak kompromi. Kalau tahu begini kejadiannya, lebih baik kupakai gaun putih selutut pemberian omma sebulan yang lalu.

“Su .. sudah .. siap … ,” sahutku tersengal-sengal.

Aku sampai di hadapanmu dengan wajah sedikit pucat. Gelagapan kuatur pernafasanku yang memburu. Kau terlihat bergerak sedikit dari posisimu. Sepasang matamu melebar secara perlahan-lahan begitu melihat kearahku. Apa karna penampilanku? tanyaku dalam hati. Apa masih perlu ditanyakan? sahut suara lain. Aku tersentak—mulutku mengangga lebar.

“Ohh--!!” Aku langsung membekap bibir dengan tangan kiri.

“Mwo?!” Kau berseru. Tampangmu berkerut seiring tindakanku yang mendadak.

“A .. anhi … ,” jawabku cepat. Bibirku manyun seraya menoleh kearah lain. Walaupun begitu, aku tetap mencuri pandang tanpa sepengetahuanmu. Apa benar kau tak tahu? Aku tak begitu yakin sih .. [/b]

Kau mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki—selayaknya aku ini benda langka yang baru pertama kali kau temui di dunia ini. Emang sih penampilanku terlihat lain, tapi awas, kau tak boleh menyalahkanku karna kau yang memintanya. Buat acara yang tak kuketahui sama sekali?

“A .. ada yang aneh … ?” tanyaku terbatah-batah.


“Hmm—sedikit .. ,” katamu sambil mengelus-ngelus dagu. “… gimana ya? Aku tak tahu bagaimana mengatakannya. Ada yang tak beres .. tapi di mana letak kesalahannya, sulit dikatakan .. “

Yeee—nih sonsaengnim, sama aja boong!! Padahal sudah siap berbalik ke kamar buat berganti gaun ini dengan gaun pendek seperti rencana semula …

“Ah sudahlah! Masalah penampilanmu tak penting. Acara tersebut segera dimulai jadi kita harus bergegas. Cepatlah, kita sudah tak punya waktu lagi!!”

Kau memutar badan dan berjalan cepat ke pintu utama.

“Memangnya .. kita mau ke mana, sonsaengnim—Akhh!!” Pertanyaanku berakhir teriakan. Gaun sialan ini, hampir terinjak olehku lagi.

“Gwencana?” Kau berpaling padaku.

“Ne .. ne … ,” jawabku gugup.

Baik-baik saja? Tentu saja tidak! Apa pertanyaan itu perlu ditanyakan, sonsaengnim?

“Mau .. mau ke mana?” tanyaku terengah-engah.

Kau sudah berjalan kembali, sedangkan aku mengekormu seperti lari marathon dari belakang. Sepasang kaki panjangmu membuatku gemas. Kenapa waktu melangkah lebar amat?

“Aku tak punya waktu menjelaskannya padamu. Setelah sampai nanti, kau akan tahu sendiri. Sekarang ikut saja. Jangan cerewet lagi!!”

Yaaaaaa, cerewet? ] >.< …

Aku mengangguk perlahan. “Ne …. “


*********
« Last Edit: December 03, 2010, 10:36:56 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile


hore mami dah update...gumawo mam [clap]
baca dulu ya mam...ntr baru comment
liko...kena di kick balik ama mami ya...ayo liko update ffmu..[hmpfh]


[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Chainezz_Vian

  • Guest
Gumawo mii uda d update [flowers]     
       
yehh [clap] [clap]   akir.a ada jg org yg tau klo mino suka ama hye sun [clap]           

mii, mino ksh anjing k hye sun th krna dy mau prgi dr apart eun hye ya? Jd byar hye sun gk k sepian gitu [what]   Uda mau ngelanjutin lee's phone ya? [chin]   KoQ pke bilang 'mianeyo' c? Bikin suasana yg seneng jd sedih dech [cry] [cry]       
    mii, yg kt eun hye, mino ama hye sun th pnya nasip yg sama persis th. Yg sama apa ya? [what]  mang hye sun penerus prusahaan jg ya? [chin]       
       
d chap nie, bikin aQ bnyk pertanya,an nie. . . Juga bikin pnasaran. . .
Next chap jgn lama" ya mii [hmff]     
semangat!! [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Gumawo mii uda d update [flowers]    
        
yehh [clap] [clap]   akir.a ada jg org yg tau klo mino suka ama hye sun [clap]          

mii, mino ksh anjing k hye sun th krna dy mau prgi dr apart eun hye ya? Jd byar hye sun gk k sepian gitu [what]   Uda mau ngelanjutin lee's phone ya? [chin]   KoQ pke bilang 'mianeyo' c? Bikin suasana yg seneng jd sedih dech [cry] [cry]      
    mii, yg kt eun hye, mino ama hye sun th pnya nasip yg sama persis th. Yg sama apa ya? [what]  mang hye sun penerus prusahaan jg ya? [chin]      
      
d chap nie, bikin aQ bnyk pertanya,an nie. . . Juga bikin pnasaran. . .
Next chap jgn lama" ya mii [hmff]    
semangat!! [smiley-gen013] [smiley-gen013]
menjawab pertanyaan2mu [hmpfh] [hmpfh]

Quote
yehh [clap] [clap]   akir.a ada jg org yg tau klo mino suka ama hye sun [clap]
eunhye cuma nebak doang kok [hmff] yg dia tahu tuh hyesun suka minho tp apa minho suka hyesun dia ga tahu. selama ini minho selalu baik ama siapa aja sih [heh]

Quote
mii, mino ksh anjing k hye sun th krna dy mau prgi dr apart eun hye ya? Jd byar hye sun gk k sepian gitu [what]   Uda mau ngelanjutin lee's phone ya? [chin]   KoQ pke bilang 'mianeyo' c? Bikin suasana yg seneng jd sedih dech [cry] [cry]
minho kasih hadiah peanut n blg miane karna dia tahu hyesun sedang sedih buat masalahnya dgn Bom saat itu [biggrin]

Quote
mii, yg kt eun hye, mino ama hye sun th pnya nasip yg sama persis th. Yg sama apa ya? [what]  mang hye sun penerus prusahaan jg ya? [chin]
bagian ini masih rahasia. masih puanjanggggggggggggggggggggggg banget baru sampai ke par itu jd sabar menunggu ya [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun