Author Topic: The Little Coward --clueeeee!!! next banner and song ^^  (Read 47349 times)

Offline goo meei

  • Full
  • ***
  • Posts: 404
  • i love MINSUN
  • Location: denpasar
    • View Profile
WAAAHHH...mami kasi spoiler [clap]
peanut apaan mi??
anjing ya??? [heh]
yeee apa ga baca chp2 sebelumnya hammer2 hammer2 peanut kan hadiah minho buat hyesun [dry] [goodgrief]
[heh] [heh] mian mi chapter 17 aku blm baca [hmpfh] aku langsung lompat ke chapter 18 [hmpfh] [hmpfh]
chp 17 [what] chp 18 [what] ff ini baru nyampai chp 12 kok [sweat] elu salah alamat ya hammer2 hammer2
[heh] [heh] [sweat] AMPUN  mi maafkan aku lagi..aku salah lihat.
yang aku lihat ternyata tanggal update'annya [biggrin] [sweat] [heh]

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
yeah si mommy kasih spoiler doang..makin ileran aja reader di sini..peanut selalu setia nememin majikannya
mommy are u feel blue christmas today...kyknya gak semangat banget
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile
jyahhh keputus ...gpp d, senin khan Lophh update-nyaaaa  [huglove]
diajarin maen pianoooooo ama seonsengnim  [flowers]

sist meiiii, slaaa kavling [hmpfh]
lil cow nya trakhir chap 12..next chap 13 sist [hug]


---- edit
sala liyat tanggal-nyaa yaa''  [laughing]

‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
nah kalo yg in sbg hadiah tahun bru buad qt para fakir minsun d updte yah mam. . . wkwkwk . . #ditrath rath mw hadiah natal dsni hadiah thn bru. . cemerlang otak gw. # wkwkwk . . LOL
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Aku punya anjing kecil
ku beri nm peanut..
Appanya bernm mino
mamanya bernm hye sun...
Reff:
Update...guk...guk...
Yang ini...guk...guk..
Update fanfic ini
(kembali ke reff)
*nyayikan dgn nada HELI ANJING KECIL

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
kelinci kreatif sist...
pertanyaannya mommy tergugah gak ya..*lirik2mommy*
mommy lg males update smua ffnya, jd kt menunggu aja.
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
spoiler y kok geje mi he9  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

wah masak mami lagi kena virus malas update [what] [what] [what]
yahhh janganlah mi...ntr lagi kan taon baru (apa hub y  [hmff] [hmff] [hmff])


sist kelinci "i like it" [on] [on] [on] [on] [on]

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Spoiler



Aku duduk di sofa yang menghadap piano, kemudian menjatuhkan Peanut secara perlahan-lahan dan hati-hati bersebelahan denganku. Lalu aku mulai menekan satu, dua tutsnya. Nada-nada sumbang langsung terdengar. Aku segera menarik kembali tanganku, kebingungan. Peanut menegakan kepalanya, memandangiku dengan raut memprotes.

"Omo--kok nggak enak didengar?"

Guk!!

Aku terperanjat. Segera ku berpaling kearah Peanut. "Oh--omma mengusik ketenangan tidurmu?" bibirku terbuka lebar. "Miane sayang ... " Aku menyentuh kepalanya sampai matanya terpejam dengan gaya malas.

Peanut mengeram pendek kemudian merebahkan kepalanya di pahaku. Setelah bengong sesaat, aku kembali menjatuhkan jari-jemariku  ke tuts-tuts di piano dan menekannya. Irama sumbang kembali terdengar. Kali ini lebih parah, suaranya sangat cempreng seperti dentingan-dentingan  nyaring dari lonceng gereja. Peanut mengangkat kepalanya lagi. Dia memandangiku. Pandangannya seakan menunjukan 'aku sudah putus asa, omma!' Aku memanjangkan bibir ke depan. Ayolah sayang. Omma juga tak ingin seperti ini ... Balasku dengan pandangan memelas.

"Kau apakan piano kesayanganku?"
 [hmpfh] [hmpfh] [hmff] [laughing]
tega nian dirimu mam.....cuma ngasih sepoi sepoi

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Aku berdiri ragu-ragu di depan kamarmu. Beberapa kali tangan tanganku terangkat tapi segera diturunkan lagi karna tak berani mengetuknya. Sedangkan tangan kiriku mengendong Peanut yang sedang melingkar malas-malasan dalam dekapanku. sebelah matanya terbuka sesekali, mengintip-ngintip pingin tahu dari balik kelopak matanya. Mungkin penasaran dengan apa yang akan dilakukan majikannya yang satu ini. Sesaat kemudian, anjing kecil ini mendengus halus lalu memejamkan matanya lagi. Cuek atau mungkin juga sudah capek terhadap kelakuan-kelakuanku yang tak masuk akal.

Aku mengaruk-garuk kepala, tak tahu harus berbuat apa. Setelah pulang dari pesta ulang tahun Bom sunbae dua hari yang lalu, aku selalu menghindarimu. Ajakan dansa bersama itu, tubuh yang menempel ketat dan tangan panjang yang melingkar di pinggangku masih terasa hangat di pelupuk mataku. Wajahku langsung memerah begitu mengingatnya. Jantungku berdegup kencang, dan untuk kesekian kalinya aku bertanya dalam hati mengapa selalu perasaan seperti ini yang kurasakan jika membayangkanmu, ataupun ketika berdekatan denganmu?

Aku menghembuskan nafas perlahan. Apakah harus kuketuk pintu ini? Tapi apa yang harus kukatakan setelah berhadapan denganmu? Merindukanmu karna sudah dua hari tak bertutur sapa? Atau minta maaf karna telah melanggar janji membuatkan secangkir kopi panas untukmu setiap hari? Aku mendesah. Sekali lagi aku tak tahu.

Perlahan aku mundur selangkah. Lupakan saja!! Ya!! Lupakan saja!! Biar semua berjalan apa adanya! Kalau memang kebetulan bertemu denganmu ya disapa aja, kalau tidak .... --hmm--semoga kemungkinan ini tak terjadi ... Aku berdoa dalam hati. Kepalaku menunduk ketika memutar tubuh membelakangi kamarmu.

Tapi baru dua langkah, aku berhenti. Setelah berpikir selama lima menit, aku memutar tubuh kembali kearah kamarmu. Aku mengambil tekad bulat. Dengan langkah lebar aku mendekati kamarmu dan mengetuk pintunya dengan agak keras.

Tok!! Tok!! Tok!!

"Son .. saengnim!!!" panggilku dengan nada yang tak bisa dikatakan tenang. Berlainan dengan perbuatan nekadku tadi.

Peanut terlihat agak kaget. Matanya berkejap terbuka. Diperhatikannya aku dengan pandangan bertanya. Namun tak kuperdulikan karna aku tak melihatnya. Sekali lagi aku mengetuk pintu dengan sedikit menghentaknya.

Tokk!! Tokkk!!! Tokkk!!!!

Tak terdengar jawaban dari dalam kamar.

"Sonsaengnim!!" Aku memanggil kemudian mengetok kembali ..tok .. tok .. tok ..

Namun tetap tak terdengar reaksi dari kamar itu. Penasaran aku menarik gerendel pintu. Ternyata tak dikunci. Alisku berkerut. Apakah kau sudah keluar? Sepagi ini? Ke mana? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuatku semakin pusing. Aku menarik pintu hingga terbuka kemudian melangkah masuk.

Ruang kamarmu sangat sunyi namun tertata dengan rapi. Kedisiplinanmu sering membuatku terkagum-kagum. Seperti saat ini, aku berdecak-decak berulangkali sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Ranjangmu yang terbalut seprai kotak-kotak abu-abu tersapu rata seperti tak pernah terjamah tubuh manusia. Meja belajar yang menempel di dinding terlap mengkilat dengan buku-buku yang tertumpuk rapi di sudut sebelah kanan. Laptop beserta laci-laci kecil di bawah meja itu tertutup dengan sempurna, sedangkan alat-alat menulis dan melukis, beserta dua buah seruling terletak di tempat seharusnya. Ada juga sebuah gitar yang tersampir di dinding dekat meja belajar tersebut.

Aku berpaling ke sebelah kiri, ke lemari hias yang terbuat dari kaca. Semua panjangan terletak pada tempatnya. Begitu juga biola yang terbungkus kantung kulit warna hitam. Kemudian pandanganku terhenti pada piano besar yang bersebelahan dengan meja hias tadi. Tiba-tiba sebuah dorongan membuatku mendekati piano tersebut. Sebuah hasrat--ya, hasrat tersembunyi selama ini--membuatku  memberanikan diri menyentuh penutup tutsnya yang terbuat dari kayu harum mahal warna merah tua. Aku menyelusuri penutup berkilat tersebut dengan jemariku, dari ujung sebelah kanan sampai ke kiri, kemudian berhenti di tengah-tengah. Aku tersenyum.

Perlahan kubuka penutup piano tersebut. Tuts-tuts putih yang diselingi tuts-tuts hitam membuatku semakin bergairah. Aku duduk di sofa yang menghadap piano, kemudian menjatuhkan Peanut secara perlahan-lahan dan hati-hati bersebelahan denganku. Lalu aku mulai menekan satu, dua tutsnya. Nada-nada sumbang langsung terdengar. Aku segera menarik kembali tanganku, kebingungan. Peanut menegakan kepalanya, memandangiku dengan raut memprotes.

"Omo--kok nggak enak didengar?"

Guk!!

Aku terperanjat. Segera ku berpaling kearah Peanut. "Oh--omma mengusik ketenangan tidurmu?" bibirku terbuka lebar. "Miane sayang ... " Aku menyentuh kepalanya sampai matanya terpejam dengan gaya malas.

Peanut mengeram pendek kemudian merebahkan kepalanya di pahaku. Setelah bengong sesaat, aku kembali menjatuhkan jari-jemariku  ke tuts-tuts piano dan menekannya. Irama sumbang kembali terdengar. Kali ini lebih parah, suaranya sangat cempreng seperti dentingan-dentingan  nyaring dari lonceng gereja. Peanut mengangkat kepalanya lagi. Dia memandangiku. Pandangannya seakan menunjukan 'aku sudah putus asa, omma!' Aku memanjangkan bibir ke depan. Ayolah sayang. Omma juga tak ingin seperti ini ... Balasku dengan pandangan memelas.

"Kau apakan piano kesayanganku?"

Deg!!

Tinggggg!! Jemariku yang masih menempel di tuts-tuts piano langsung menghunjam keras tuts-tuts malang tersebut. Peanut langsung mengonggong keras.

Aku segera berpaling.Tanpa kusadari, ternyata kau sudah berdiri di belakangku. "Menjadikannya sasaran kekesalanmu?"

Aku memutar tubuh dengan gugup. Mulutku melongo seperti orang bego. "Son .. saengnim ... "

"Tak ada kerjaan lain?" kau bertanya lagi.

Aku mengeleng cepat. "Aniyo!!"

"Karna itu menyiksa pianoku?"

"Mwo?"

"Bukannya begitu?" Bibirmu tertarik ke atas, membentuk senyum mengejek. "Kau masih marah buat kejadian dua hari yang lalu?"

"Aniyo .. ," jawabku memelas. Come on sonsaengnim, jangan mengungkit kejadian itu lagi ..

"Jadi?" Kau sampai di dekatku, kemudian menyandarkan bagian belakang pinggangmu di pinggiran piano. "Kenapa tiba-tiba kau mengusik pianoku?"

Segera aku melompat bangun dari sofa, berbarengan dengan Peanut yang meloncat ke lantai dan menghambur kearahmu. Anjing kecil itu mengendus-ngendus dan menguguk berulangkali minta digendong olehmu. Kau tertawa kecil kemudian membungkuk dan meraih tubuh mungilnya ke dalam pelukanmu. Aku manyun. Kenapa aku dimarahi dan disindir sedangkan Peanut dipeluk olehmu?

Aku memutar tubuh perlahan-lahan. Dengan lemas aku berjalan kearah pintu.

"Mau kemana?"

Langkahku terhenti. Aku berkejap. Apa telah salah dengar? Alisku berkenyit dan kepalaku miring ke samping. Perlahan kugerakan kembali kakiku ke depan.

"Hey--mau kemana?"

Pertanyaan tersebut terdengar lagi. Kali ini lebih keras dan membuatku tersentak. Ternyata aku tak salah dengar. Kau memanggilku tadi.

Aku menoleh. "Dhe?"

"Mau kemana?" tanyamu agak sebal karna harus mengulangi pertanyaan yang sudah kau utarakan sebanyak dua kali. "Bukannya kau tertarik main piano?"

"Dhe?" Mataku melebar bulat-bulat. Selain karna terkejut, juga tak begitu mengerti dengan pertanyaanmu.

Kau meletakan Peanut ke atas sofa kemudian menjatuhkan diri di sebelahnya. Kau menoleh dengan posisi membelakangiku.

"Jika ingin belajar, duduklah di sini!" Kau menepuk tempat yang masih tersisa di sebelah kananmu.

"Mwo?"

"Kemarilah!" perintahmu kembali dengan nada dibuat lebih halus.

"Tapi .... " Aku bergerak ragu-ragu.

"Kemarilah .. ," kau tersenyum dengan raut melembut.

Guk, guk, guk, ... mendadak Peanut ikut mengeluarkan suaranya. Anjing kecil itu memandangiku dengan sepasang mata beningnya, seakan memintaku duduk di sebelahmu.

Kau tertawa oleh ulah Peanut. "Lihatlah, si nakal ini juga memintamu duduk di sebelahku. Makanya kemarilah .. "

"Ne .. " Dengan kepala menunduk aku mendekatimu, dan kemudian menjatuhkan diri di posisi yang kau tunjuk.

"Bagaimana?" kau memandangiku.

"Dhe?" tanyaku tak mengerti.

"Siap?" kau tersenyum sambil mengacak poniku.

"Yaa--sonsaengnim ... ," protesku dengan bibir manyun. Kenapa kau suka banget mengacak-ngacak poniku? Bibirku maju semakin ke depan. Tanganku segera bergerak mengatur kembali poniku yang tak beraturan. Poni menyebalkan ini selalu membuatku kesal saking susah diaturnya!!

Kau tersenyum semakin lebar, terlihat puas telah berhasil mempermainkanku.

"Siap sekarang?"

"Ne .. ," dengusku.

Mati ya mati deh, ... persetan!! Mau sumbang, cempreng, atau ditertawakan olehmu, aku sudah tak perduli lagi!!

"Ok, letakan jemarimu di sini. No, jangan ditekan dulu! Ya, begitu ..."

Kau meletakan tanganmu di atas punggung tanganku, kemudian ... ya--tuhan, kau meremas tanganku. Menekan setiap jemariku di antara deretan tuts, mengikuti irama-irama musik yang sedang kita mainkan. Lalu alunanlembut dan syahdu mulai mengalir pelan dan membuatku terpesona. Jujur, aku tak bisa konsentrasi dalam permainan ini. Hatiku berdegup kencang setiap kali jemarimu menyentuh dan menekan punggung jemariku. Perasaan itu sangat luar biasa, seperti jarum suntik yang ditancapkan langsung ke kulitku. Jantung berdegup kencang tak beraturan.

Tinggg!!! Dentingan nyaring terdengar ketika jariku meleset hingga mengenai dan menekan keras tuts nada tertinggi. Aku terperanjat dan menarik tangan kembali. Wajahku pucat pasi. Bahkan si Peanut langsung protes dengan memiringkan kepalanya yang berbulu ikal.

"Mi .. miane ... ," ucapku gugup. Mataku terpejam dan aku mengigit bibir keras-keras. Aku menunggu. Beberapa detik, .. dan semenit, atau mungkin dua menit sudah berlalu, tapi tak terdengar suaramu.

Aku membuka mata perlahan-lahan. Pada saat ini kau sedang menatapku. Tak terlihat marah atau kesal--aneh kan?

"A .. aku tahu .. aku bego terhadap musik ... Se .. sebaiknya aku mengundurkan diri sekarang ... "

Aku berniat bangkit dari kursi, namun segera ditekan olehmu.

"Tak apa. Kita lanjut lagi ... "

Kau menghadap ke piano kembali. Sebentar saja irama lembut tadi tersambung lagi. Kali ini kau memainkannya sendiri. Jemarimu menari-nari lincah di atas bilah tuts piano. Tanpa sadar kepalaku bergerak ke kiri dan kanan mengikuti alunan lembut lewat permainan tanganmu. Mataku terpejam, dan menghayati setiap nada dan irama yang mengalir tenang bagai air sungai. Tak kusadari musik yang kau mainkan sudah mencapai titik akhir.

"Sekarang giliranmu ... "

Aku membuka mata. "Dhe?"

Kau tersenyum. "Giliranmu .. "

"Ta .. tapi .. ," aku mengaruk kepala dengan gugup. ".. a ... aku tak bisa .. "

"Tenang, seperti tadi--aku akan membantu dan mengajarimu .. "

Kau meraih tanganku kemudian membawanya ke barisan tuts. Aku terperangah, untuk kesekian kalinya hari ini, kau menyentuh tanganku! Bahkan jarak kita sangat dekat dan pundak kita saling menempel. Apa kau dengar oh dunia, sonsaengnim menyentuhku???!! Mungkin bagimu ini masalah kecil, tapi bagiku--si pengecut kecil yang tak berarti apa-apa ini--sangat, sangat dan sungguh-sungguh besar!!


******



Aku menghempaskan tas selempangku ke sofa malam itu. Begitu juga tubuhku. Dua hari berlalu sudah setelah les piano gratis darimu. Aku berniat membuka sepatu ketika kusadari betapa heningnya ruang tengah ini. Kuhentikan niat semula dan celingukan kesana kemari mencari bayanganmu. Tak kutemukan.

Aku berdiri kemudian keluar dari ruangan itu. Kutelusuri lorong depan sambil mendengarkan dengan seksama suara sehalus apapun. Aku sampai di depan kamarmu. Kutempelkan telinga di daun pintu kemudian mendengarkan sebentar. Semenit kemudian kubuka pintu itu.Tak ada siapa-siapa di dalam. Aku mundur lalu menutup pintu itu kembali. Langkah ku teruskan ke belakang rumah. Pintu keluarnya kubuka dan aku melangkah ke taman kecil di sana.

Sebilas cahaya samar-samar menarik perhatianku. Sinar yang berkelap-kelip beberapa kali--berwarna perak berkilat. Itu bukan cahaya lampu atau pemantulan sinar rembulan. Aku makin mendekati sinar tersebut. Ternyata cahaya yang berkilat-kilat itu berasal dari lingkaran sebuah teropong besar yang terpasang di penyangga berkaki tiga.

Langkahku terhenti. Kau tampak sedang mengatur sesuatu di lensa teropong kemudian mengecek hasilnya. Lalu kau menengadah ke langit. Beberapa saat kemudian kau mengutak-atik lensa itu lagi, menunduk dan memusatkan perhatian dengan seksama. Sedangkan seekor anjing kecil ikut menengadah di dekat kakimu. Dia--Peanut, mengerak-gerakan ekornya kesana kemari, kelihatan sangat tertarik dengan semua kegiatanmu. Sesekali dia berputar-putar di tempat dan menyalak nyaring, berusaha menarik perhatianmu.

"Sonsaengnim ... , apa yang kau lakukan di situ?"

Kau menoleh dari teropong yang sedari tadi ditekuni. "O--," hanya itu yang keluar dari mulutmu. Kemudian kau berbalik kembali ke kesibukanmu semula.

"A .. apa itu?"

Aku mendekatimu. Peanut yang melihat kehadiranku langsung berlari-lari kecil mendatangiku. Aku menunduk dan meraih tubuh mungilnya. Sesaat aku mengigil. Udara malam di taman luar ini serasa mengigit tulang. Aku langsung merapatkan tubuh Peanut ke tubuhku.

"Seperti yang kau lihat--teropong .. ," jawabmu tanpa berpaling padaku.

Aku juga tahu! Aku meniup pipi sampai mengembung. Maksud pertanyaan tadi kan bukan begitu. Emang sih penggunaan bahasaku agak salah, tapi aku kira kau mengerti =.=" ...

"Hmm--emangnya sonsaengnim menyukai sesuatu yang berbau perbintangan?" Aku menjatuhkan diri di kursi taman dekat situ, beberapa jengkal dari teropong dan dirimu berada, sambil mengamati kegiatanmu. "Waktu melihat bintang di pinggir sungai Han, sonsaengnim sudah menunjukan hobi itu .. ," lanjutku ragu-ragu.

Kau tak segera menjawab. Setelah memperhatikan keadaan langit dan letak teropong untuk terakhir kali, barulah kau beralih padaku.  Perlahan kau menjatuhkan diri di sebelahku dengan kepala yang masih menengadah ke langit kelam.

"Aku menyukai astronomi sejak kecil. Aku selalu penasaran tentang benda-benda angkasa, dan sering kali bertanya pada appa mengapa benda di atas sana berkerlap-kerlip? Mengapa  bisa memancarkan cahaya? Apakah sebenarnya benda-benda itu?" Kau berpaling padaku. "Appa menjawab, itu bintang Minho-a, .. kau akan mengetahuinya setelah kau mempelajarinya dengan seksama ... ," perlahan kau beralih kembali ke langit. "Aku berusaha mendalami ilmu yang menurutku sangat menarik itu, bahkan pernah berpikir menjadi seorang ahli astronomi, ... sampai, ku tersadar akan duniaku sendiri. Semua tak mungkin ... ," kau berhenti dan tersenyum hambar.

"Ke .. kenapa tak mungkin?" tanyaku tersendat-sendat. Aku takut pertanyaan tersebut mengoyak masa lalu yang ingin kau lupakan.

Kau berpaling padaku. Kembali senyuman tersunging di bibirmu. Kali ini tak hambar, bahkan terlihat sangat tulus. "Aku masih bergelut dengan dunia perbintangan dan benda-benda angkasa sampai memasuki bangku kuliah. Perlahan-lahan kulepas hobi itu. Bukan karna aku sudah tak suka atau bosan, tapi terlebih aku tak punya cukup waktu. Mata-mata kuliah dan dunia musik sudah menyita semua waktuku ... "

"Lalu .. kenapa?" tanyaku dengan nada menerawang.

"Malam ini aku melakukannya lagi?" kau menyambung pertanyaanku sambil tersenyum.

Aku mengangguk pelan. "Ne .. "

"Karna aku tak sengaja mendengar laporan cuaca hari ini .. "

"Dhe?"

Kau mengulurkan tangan menyentuh kepala Peanut yang menyandar di perutku. "Katanya malam ini bakal ada hujan meteor .. "

"Hu .. hujan meteor?" Mataku melebar sampai membentuk lingkaran besar.

"Ne!" kau tertawa kemudian mengalihkan tangan ke daguku, menyentil lembut. "Pernah melihat hujan meteor?"

Aku mengeleng perlahan-lahan.

"Sangat indah, kau tahu?"

Aku mengeleng lagi. "A .. aku hanya ... pernah menyaksikannya di .. tv, .. drama Taiwan 'Meteor Garden' kesukaanku ... "

"O--itu hanya tipuan, little coward .. " Jemarimu kembali menyentil daguku, kemudian kau melirik ke atas langit. "Hujan meteor yang sesungguhnya jauh lebih indah .. "

"Jeongmal?" tanyaku tak percaya.

"Ne, .. kau akan percaya setelah menyaksikannya sendiri ... "

Aku menunjuk teropong di depan dengan gerakan lambat. "A .. apa mesti pakai benda itu?"

Kau tersenyum, lalu mengeleng pendek. "Tidak. Kita bisa melihatnya dengan mata telanjang. Tapi, tentu saja akan lebih indah dan jelas jika memakai teropong .. "

"O--" Aku manggut-manggut sambil membuka mulut lebar-lebar tanda mengerti.

"Setengah jam lagi kita dapat melihatnya .. "

Kau kembali menengadah ke langit. Aku mengikuti gerakanmu. Selama beberapa menit ke depan kita tak mengeluarkan suara. Sampai pada menit ke lima belas kau mencondongkan badan ke depan dan menguntit lewat lensa di teropong.

"Malam ini cukup cerah ... Mudah-mudahan tak ada gerimis atau hujan yang menganggu fenomena alam ini ... "

Kemudian keadaan sunyi lagi. Berulangkali aku menyapu kepala Peanut guna mengusir hawa dingin yang semakin menusuk. Anjing kecil dalam pangkuanku sudah tertidur lelap. Aku memperhatikannya sambil mengigil perlahan. Tiba-tiba aku merasa sesuatu disampirkan di pundak ku. Aku segera berpaling padamu. Ternyata mantel panjang yang kau kenakan, sekarang sudah berpindah ke tubuhku.

"Son .. saengnim ... "

"Pakailah--jangan sampai sakit!" katamu dengan nada rendah yang teramat lembut.

"Genthe ... " Aku bermaksud melepas mantel ini tapi segera dihentikan olehmu.

"Jangan membantah lagi! Aku tak mau disuruh Eunhye menjagamu gara-gara jatuh sakit ... "

Ok, apa yang harus kukatakan jika kau membawa-bawa nama onnie >.<

Aku mengangguk pasrah setelah kau mengeluarkan jawaban itu. Berpuluh-puluh menit berlalu sampai beberapa berkas memanjang terlihat membelah di angkasa.

"Saatnya!!" kau berseru.

Langsung saja kau menunduk ke teropong di depan. Kau memperhatikan selama beberapa detik kemudian menarik diri dan berpaling kearahku.

"Benar. Itu hujan meteor .. Kau lihatlah sendiri .. "

Aku bergerak dengan ragu-ragu. Perlahan kutempelkan mataku di teropong. Dan ... ya--tuhan, ini pertama kalinya seumur hidupku menyaksikan begitu banyak bintang-bintang berekor saling berkejaran di angkasa, laksana hujan deras yang ditumpahkan ke bumi, namun bintang-bintang yang mampu memantulkan sinar dan bukan hujan yang sesungguhnya.

"Yeppoyo ... ," tanpa sadar pujian tersebut terlontar dari mulutku.

"Benar kan? Aku tak bohong?"

Aku mengangguk sambil terus memandang ke benda-benda ajaib tersebut. Tanpa sadar aku tersenyum lebar seiring keterpanaanku yang teramat sangat.

"Apa kau suka?"

"Ne!!" aku mengangguk pasti. "Gumawo sonsaengnim ... "

"Hujan meteor kali ini hanya terjadi sekitar satu jam, jadi hayatilah dengan sungguh-sungguh ... "

"NE!!"

Dengan semangat mengebu-gebu aku mengamati setiap  meteor yang dijatuhkan dari langit. Beribu-ribu sinar yang terang memanjang tersebut membelah angkasa pekat kemudian perlahan menghilang di bagian lain dunia ini. Begitu seterusnya.

Satu hal yang tak kusadari. Kau mengamati setiap gerak-gerik ku dari posisimu sambil tersenyum lebar.


******

p.s. : mian kalau mengecewakan and membosankan. ataupun chpnya yang terlalu pendek. maklum bikinnya terburu-buru. Selamat natal buat semuanya!!!
« Last Edit: December 26, 2010, 01:32:09 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile

ga ngebosenin koqq  [nono], sooooo sweeeettttt!! [lovestruck]
Quote
Aku membuka mata perlahan-lahan.
Pada saat ini kau sedang menatapku. Tak terlihat marah atau kesal--aneh kan?
hye sun koq ga nyadar-nyadar siyyy  [heh]
Minooo di sini bener2 cool dan perfect  [lovestruck]

Lophhhe gomawo sist dagh di updateee [hug]

‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
wah, mulai ada peanut di sini, jadi ingat jundi liat bintang pake teropong.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Haura anastasya

  • Newbie
  • *
  • Posts: 18
    • View Profile
Gumawo mi dah update...
stu kata SWEET BGT ngbayangin
minsun main piano breng,liat bintang breng
mino kn dah ska ya mi ma hyesun cma blm scra lngsung z!
gak ngebayangin klo mino nyatain prasaan ny scra langsung jgn2 hyesun bs colaps lg sking kget ny..he..he

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
gumawo mamii,meskipun pendek tak apalah yang penting di update lol

aduh mi,dikit2 lok songsaenim berbuat baik pasti karena eunhye,padahal itu cuma akal-akalanya kan mi? biar si little coward gak ke ge-eran punk punk punk punk

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
gumawo mamii,meskipun pendek tak apalah yang penting di update lol

aduh mi,dikit2 lok songsaenim berbuat baik pasti karena eunhye,padahal itu cuma akal-akalanya kan mi? biar si little coward gak ke ge-eran punk punk punk punk
bukan takut hyesun kegeeran, say. minho sgt memahami hyesun hingga dia tahu hyesun bakal menolak terus klu ga pakai senjata 'eunhye' dlm memaksanya pakai mantelnya [hmpfh] [hmpfh]

anastasya, so pasti hyesun lgs pingsan klu minho mengungkapkan perasaannya secara lgs [laughing] [laughing]

sisicia, chp2 lalu udah ada peanut kok [biggrin]

freesia, ga ngebosanin ya [what] syukur deh [biggrin] gimana nyadarnya si hyesun klu pacaran aja lum pernah,, dia cuma ngerasa klu perhatian minho tuh wajar, maklum lah si minho emang selalu baik ama siapapun jua [heh] [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
 [ohmy] jadi si hyesun lum nyadar ya mi perhatian minho ke dia itu  adalah rasa suka dan sayang??
wajar si usia 16th lum bsa mengartikan sikap seseorang..masih polos hmph...
Ehm kira2 kapan mi hyesun sadar akan hal itu [chin]