Author Topic: The Little Coward --clueeeee!!! next banner and song ^^  (Read 48226 times)

Offline Lindra

  • Newbie
  • *
  • Posts: 4
    • View Profile
Re: The Little Coward --HIATUS!!
« Reply #780 on: February 10, 2011, 09:59:13 am »
kak lovelyn update dong kak  [huglove]  [hmff]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Little Coward --HIATUS!!
« Reply #781 on: February 16, 2011, 07:01:13 am »
Mami mami mami mami mami mami mami mami mami mami mami mami little coward ama sonsaengnim diupdate duonk. Kangen mam ama sonsaengnim min ho and little cowardnya*toel toel mami*


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
Re: The Little Coward --HIATUS!!
« Reply #782 on: February 17, 2011, 09:22:54 am »
rath-daze dah d update...songsaengnim-his little coward,kapan???

update,dong...please  [AddEmoticons04261]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Little Coward --HIATUS!!
« Reply #783 on: February 19, 2011, 01:04:00 am »



Kalian pasti tidak percaya apa yang telah kulakukan selama tiga hari terakhir. Tindakan ku makin menggila saja. Bagaimana, dan apa saja itu? … Well—Aku bersembunyi di balik pilar atau tiang—apa dan di mana saja yang kutemukan, maupun pagar pembatas taman sekolah yang tidak begitu tinggi. Terkadang—bahkan ngumpet di antara tanaman rambat yang banyak tumbuh di belakang sekolah, menyembunyikan diri di bawah bangku, atau geloyor masuk ke dalam toilet cewek (untung masih bisa membedakannya dari toilet cowok =.="), ataupun .. terburu-buru keluar dari gedung sekolah, dan lain-lain .. dan lain-lain ... Pokoknya—tidak ada lagi hal-hal tak masuk akal yang terlewatkan olehku dalam tiga hari ini. Sampai-sampai … teriakan-teriakan dan teguran-teguran, atau protes-protes dari orang-orang di sekitar tak kuperdulikan lagi ... termasuk si centil Soeun (emang enak dicuekin hehe ).

Tapi, .. untuk apa? Untuk apa kulakukan tindakan-tindakan konyol ini? Hmm--sebenarnya cuma satu jawaban, dan hanya satu tujuanku, .. yaitu ... menghindari bentrokan atau pertemuan dengan Dongsae—KEJAM.

Aku jadi berpikir .. apakah ini bagian dari keputusan yang kuambil? Menerima Dongsae sebagai kekasihku? ... Sepertinya salah! ... Keputusan ini merupakan kesalahan besar! Aku tidak bahagia. Aku malah ketakutan setengah mati padanya. Aku selalu berusaha menghindarinya. Jangan sampai deh aku bertemu dengannya. Jika tidak, .. entah apa yang akan kulakukan! Mungkin .. aku akan terlihat kayak orang gila saking takut dan gugupnya ><.

Seperti saat ini—sudah berulangkali aku mencium tiang saking seringnya aku menoleh ke belakang. Juga .. sudah berkali-kali aku hampir terjerembab karena tidak memperhatikan tonjolan-tonjolan di jalan. Bahkan, dinding ruang kelas sudah kutabrak hampir empat kali hiksss ....

Aku sampai di pintu gerbang. Sambil celingukan kesana kemari, aku menjulurkan leher ke depan. Aman! Tidak terlihat keberadaan Dongsae! Tidak juga orang-orang yang berkaitan dengannya. Baik itu Bum, maupun si reseh Soeun. Aku cengingiran sendiri. Baru saja bermaksud melangkahkan kaki keluar area sekolah, mendadak ...

"Goo Hye Sun!!"

Deg! Mataku terbelalak lebar. Suara ini sangat kukenal. Siapa lagi kalau bukan …. Dengan gugup aku berpaling ke belakang.

"Cho Dongsae?" Benar. Dia adalah Dongsae. Cowok bebal yang kutakuti akhir-akhir ini.

"Kau menghindariku?" Dongsae menghampiri ku dengan agak dongkol. "Apa yang terjadi pada mu?"

"A .. ani .. yo .. ," jawabku gugup. "Me .. memangnya .. ada apa?"

"Kenapa kau selalu menghilang begitu jam istirahat berbunyi? Begitu juga jam pelajaran berakhir?" serang Dongsae gencar.

"Saya? ... ti .. tidak ... ," Aku berusaha keras membantah. Sumpah ... Aku tidak sanggup bertatap muka dengannya. Selain perasaan bersalah, aku juga takut .. takut .. Entahlah, ... aku tidak tahu. Mungkin ... mungkin karena aku tidak mencintainya ....  NOOOOOO!! Ini bukan kemungkinan, tapi KENYATAAN!!!

"Apa kita pacaran?"

Nah loh--Pertanyaan apa ini? Bukankah dia yang ngajak pacaran duluan?

"Dhe?" Mataku membulat, kemudian berkejap-kejap. Aku merasa sudah kayak Peanut, anak anjing kesayangan ku =.=.

"Aku bertanya padamu--apa kita pacaran? Kenapa tidak mirip sepasang kekasih?"

Kenapa kau tanyakan? Emang aku pikirin?!! Aku ingin berteriak, namun tak sanggup mengutarakannya. Pandangan Dongsae terlalu menusuk untuk kutantang. Anak ini kenapa sih? Salah minum obat ya? Biasanya dia kelihatan bodoh, tapi kenapa sekarang sangar banget?

Aku tak sanggup menjawabnya. Segera saja aku berpaling kearah lain. GUGUP--Itu yang kurasakan sekarang. Tanpa sadar aku mendorongnya ke belakang. Beginilah reaksiku jika sudah terdesak.

"A .. aku tidak tahu! .. Jangan memaksa ku!!"

Dongsae tidak sempat mencegahku. Reaksiku terlalu cepat untuk tertangkap olehnya. Aku sudah seperti maling yang ketangkap basah. Secepat kilat aku berlari dari situ, menuju halte bis yang berada beberapa meter di sudut sebelah kanan. Aku segera meloncat naik ke sebuah bis yang menghampiri terminal, tanpa memperhatikan dulu pintunya yang belum dibuka. Alhasil, kepalaku terbentur lagi. Saat ini lebih memalukan karena berpuluh-puluh pasang mata langsung berpaling kearahku. Ini bisa dimaklumi karena suara benturan tadi sangat keras. Kepalaku langsung berdenyut-denyut .. mau pingsan rasanya.

Sekuat tenaga aku berpengangan pada tiang bis begitu pintu sialan ini terbuka. Setelah penglihatanku agak lumayan, aku melangkah ke dalam bis yang sudah terisi penuh dengan agak sempoyongan.

Lalu .. bagaimana dengan Dongsae? Aku berpaling ke belakang. Dia sudah berdiri di depan pintu masuk. Tapi syukur, beberapa siswa yang berebutan naik bis menghalangi jalannya. ^^V Saat ini--dengan kepala berdenyut-denyut dan pandangan berkunang-kunang, aku masih sempat bersyukur pada Tuhan .. haleluyah ...


*********



Aku tiba di rumah sekitar pukul 4 sore. Segera saja ku buka pintu dengan kunci yang kuambil dari tas dan beranjak masuk ke dalam. Hal pertama yang kulakukan adalah mencarimu. Aku melempar tas ku begitu saja ke sofa, kemudian berlari ke kamarmu. Ku buka pintu kamar ini.

“Sonsaengnimmm!!!”

Brakkk!!!

Tidak didapati keberadaanmu. Kamarmu kosong melompong. Maksudku—selain peralatan-peralatan yang menghiasi setiap sudut ruangan, tidak ada seorangpun di sini. Aku berjalan lebar ke lemari dan membukanya sampai terpentang lebar-lebar.

Pabo!! Apa yang kulakukan? Aku segera mengetok kepala sendiri. Apakah aku berharapkan akan mendapatkanmu nongkrong di dalam lemari ini? Dengan tubuh sejangkung itu? Dasar!! pabo!!! Aku menghempaskan pintu ini keras-keras sehingga menimbulkan suara berisik yang sangat menganggu. Masih dengan kedongkolan terhadap kebodohan sendiri, aku berlari keluar kamar.

Yang kutuju kali ini adalah dapur. Sampai di depan pintu, kekecewaan kembali menghinggapiku. Bahkan seekor nyamuk-pun tidak terlihat dalam ruangan ini, apalagi orang segede kamu. Aku menghembuskan nafas keras-keras. Kenapa akhir-akhir ini sulit sekali menangkap keberadaan mu? Kamu seperti tenggelam dalam perut bumi. Ketika aku bangun, kau sudah keluar. Tapi ketika aku sudah capek menunggu—sampai ketiduran pun, kau baru kembali ke rumah. Lalu .. kira-kira bagaimana aku mengetahui situasi ini ya, sementara aku sudah ketiduran? Ya, tentu diberitahu seseorang dong. Siapa dia? Siapa lagi kalau bukan Eunhye onnie sumber berita utama ku.

Aku terpaku. Samar-samar terdengar suara dari belakang. Sekujur tubuhku menegang sekarang. Suara apa itu? Jelas-jelas aku tak melihat seorangpun tadi ..

Gukk .. gukk .. gukkk … , terdengar nyalak halus dekat kaki ku. Aku tersentak dan segera menunduk.

“Oh—“ Aku bernafas lega. Ternyata yang menimbulkan suara itu si Peanut. Anjing kecil kesayangan ku ini sedang mengais-gais kaki ku. Kuku-kuku tajamnya mengenai punggung kaki ku, sedikit geli dan tidak terasa sakit.

Aku tersenyum. Perlahan aku menunduk dan mengelus pelan kepalanya. Peanut menyalak lagi, kali ini lebih keras dari tadi. Kemudian aku meraih tubuh mungilnya ke dalam pelukan ku.

“Miane, sayang .. omma melupakan mu …. ,” kataku pelan dan sedikit mendesah. “Terlalu banyak masalah … ,” lanjutku sedih. “Appa sepertinya menghindari ku … “

Peanut mendongak dan memandangiku. Seperti memahami apa yang kukatakan, dia mengangkat sepasang kaki depannya ke pundak ku kemudian menyalak pendek.

Gukk …

Aku tertawa. Walaupun suara ku terdengar sumbang, paling tidak perasaan ku agak enakan sekarang. Aku berdiri dari lantai dan membawa Peanut ke sofa. Kusandarkan tubuhku di sana.

“Kau tahu, Peanut?”

Si Chihuhua kecil mendongak padaku. Aku menepuk kepalanya, lalu berhembus halus.

“Mungkin … mungkin kau akan punya appa baru .. “

Sepasang mata Peanut berkedip. Dia sedang menyimak setiap inci perkataan ku. Kalau dalam keadaan biasa, aku akan merasa reaksinya sangat lucu dan mengemaskan … namun sekarang, … entah mengapa aku merasakan kesedihan ..

“Omma melakukan kesalahan …. ,” ujar ku perih. “Kesalahan konyol .. yang mungkin .. tidak bisa dimaafkan … “ Kemudian aku menunduk. “Mungkin … mungkin oleh appa mu sekali-pun ….. Orang sesabar dia juga menyerah, .. bagaimana …. “

Aku mengangkat kepala dan menghembuskan uap-uap tipis ke udara. “.. bagaimana nasib omma, sayang? …. Apa yang harus omma lakukan?”

Aku menunduk kembali. Berharap mendapat reaksi lain dari Peanut. Tapi … busyet dah!!! Ternyata anjing kecil ini sudah mengorok dalam pangkuan ku =.=

“Yaish—kau—“ Aku mengacak kepalanya yang berbulu halus. Mata Peanut memicing sebelah. Tapi itu hanya sebentar. Sambil menguap malas, anak anjing ini mendengkur lagi.

Huhh—nggak appa, nggak anak—eh, anak anjing maksudku—sama saja!!


********



Satu jam berlalu sudah …… dan, bell yang ditekan membangunkanku dari tidur. Aku tersentak dan mengejap-ngejapkan sepasang mata kebingungan. Begitu juga Peanut. Aku menunduk dan mendapatkan dia sedang menengadah dan menatapku dengan sepasang mata bolanya. Sama bingungnya denganku.

“Dhuga?” tanyaku, ditujukan pada Peanut.

Anjing itu menegakan badannya dan meloncat ke lantai. Sesaat kemudian dia sudah berlari ke pintu depan.

“Yaa—“ Teriak ku sambil segera menyusulnya. Sampai di depan pintu, langkah kami terhenti. Kami saling berpandangan kembali.

“Menurutmu, .. apa itu appa?” tanyaku pada Peanut, berharap.

Anjing itu menyalak, gukkk …

“Menurutmu juga begitu?” Mataku terangkat sebelah, sementara senyuman terkembang di bibir ku.

Gukkk .... Peanut menyahut kembali.

Dengan semangat aku membuka pintu tanpa mengintip terlebih dahulu siapa yang berada di baliknya. Pintu terpentang lebar dan ... wajahku berubah kuyu. Bukan orang yang kuharapkan.

Namun pria paruh baya di hadapanku tersenyum hangat, kemudian membungkukan badannya.

"Anyongheseyo, agashi .... "

"Ajushi .. Kenapa kemari?"

Dia adalah orang kepercayaan omma dan appa--Jung Park In ajushi. Bisa dikatakan, orangtua kedua bagi ku. Beliau bekerja pada appa sejak aku masih kecil sekali. Dan beliau juga berperan dalam membesarkanku. Aku sangat hormat dan segan padanya. Terus terang, kalau dalam keadaan biasa, mungkin aku sudah bersorak-sorak kegirangan memeluknya. Tapi tidak kali ini. Aku sedang dipusingkan dengan masalah Dongsae dan juga kejarangan pertemuan kita.

Ajushi menghampiri ku. "Agashi harap mempersiapkan diri. Kita akan berangkat ke Jeju satu setengah jam lagi .. "

Aku terperanjat kaget. Mataku terbelalak lebar tertuju pada ajushi. Aku akan percaya kalau ini hanya mimpi, bahwa ajushi hanya mampir sebentar dalam tidur ku, kalau saja Peanut tidak menyalak keras.

Guk .. gukk .. gukkk ...

"Hushh--jangan ribut!!" Aku membentak Peanut. Masalah-masalah yang berdatangan membuat kepalaku makin berdenyut-denyut .. Ya, mungkin ini juga salah satu akibat dari benturan keras dengan pintu bis di depan gerbang sekolah beberapa waktu lalu ><

"Tuan dan nyonya memerintahkan ku untuk menjemput agashi pulang ke rumah... " ajushi melanjutkan perkataannya yang tertunda sambil melirik sekilas si Peanut. “Sekarang juga!”

"Mwo? Sekarang juga?!!"

"Ne .. " ajushi mengangguk.

"Tapi .. mengapa?" tanya ku bingung bercampur gelisah. Pulang sekarang? Berarti .. harus berpisah dari mu? lebih lama lagi? ANTWEEE!!!

"Apa agashi lupa hari minggu nanti?" ajushi balik bertanya.

"Mwo?" Aku makin dibuat kebingungan. Mengapa ajushi jadi berbelit-belit begini? "Emangnya hari apa itu?"

"Agashi benar-benar lupa?" ajushi mengerutkan alisnya. "Padahal .. itu ulang tahun agashi ... "

ULANG TAHUN??!! Ne!!! Mengapa aku sampai lupa? Ulang tahun ku yang ke tujuhbelas!!! Setahun yang lalu ... waktu ulang tahun ku yang ke enambelas, omma dan appa menjanjikan sebuah kejutan besar buatku di hari ulang tahun yang ke tujuhbelas. Bagaimana mungkin aku lupa?!! Huhh--dasar pikun!!! Getok-getok kepala sendiri!!!

"Ulang tahun?!!!" Aku berseru. "Benar!! Ulang tahun!!" Aku segera meraih pundak ajushi dan menguncangnya. "Omma dan appa menyuruh ajushi menjemputku kembali ke Jeju?!"

"Ne .. ," sahut ajushi sambil meringis kecil.

"Buat .. merayakan ulang tahun ku??!!" seru ku--hampir berupa jeritan. “Besar-besaran?!!”

"Ne!!" sahut ajushi sekali lagi. Sekarang bibirnya sudah bergetar. Maklum saja, tanpa sadar .. tanganku mencengkram lengannya dengan sangat keras. Ujung-ujung kuku ku yang cukup panjang hampir tertanam dalam kulitnya.

"BENAR??!!!" Aku bersorak-sorak kegirangan. Lebih tepatnya disebut BERJOGET-JOGET TAK KARUAN >< Payah deh, ... aku melupakanmu begitu saja begitu mengingat hadiah kejutan yang dijanjikan omma dan appa -.-

"Iya. Karena itu, agashi--persiapkan segala sesuatunya .. Apa yang perlu agashi bawa—jangan sampai ketinggalan .. "

"NE!!!" teriak ku bersemangat.

Aku berbalik dengan satu loncatan. Tapi .. tunggu dulu!! Sepertinya ada yang kelupaan sama aku .. Apa ya?

"Ne, agashi? Apa ada masalah lain?"

Pertanyaan ajushi menghancurkan lamunan ku. Aku berpaling padanya dengan linglung.

"Sepertinya ada yang kelupaan, ajushi ... ," ujar ku lemah.

"Apa?"

Aku mengeleng perlahan. Apa ya? Lalu .. tiba-tiba bayanganmu muncul dalam benak ku.

"Kamu??!!!"

"MWO?!!" seru ajushi kaget. Rupanya, sewaktu tenggelam dalam lamunan tadi, telunjuk ku terarah ke cuping hidung ajushi.

"Hahhh---?!!" Aku tidak kalah kagetnya. Segera saja kutarik kembali jemari ini. "So .. soengheyo, ajushi .. "

"Wegude, agashi?" tanya ajushi kebingungan.

"A ... aniyo ..." Aku mengeleng keras-keras. "A .. aku akan membereskan barang-barang sekarang .. " Aku berbalik dengan lemas. Masalahku denganmu--sepertinya harus ditunda dulu huhu! Tak mungkin aku menyuruh ajushi membelikan tiket pesawat buat mu ke Jeju ><

Baru tiga langkah, aku berhenti. Aku menoleh dengan posisi membelakangi ajushhi. "Ajushi .. ," panggil ku halus.

"Ne?"

"Apa ... aku boleh membawa serta si Peanut?"

"Peanut?" Ajushi menyipitkan matanya.

"Itu ... " Aku menunjuk Peanut yang sudah mendengkur di pojok dekat pintu.

"Dia--anak anjing itu?" tanya ajushi tak percaya--lebih tepatnya heran. Mungkin dia berpikir aku sudah gila!

Aku mengangguk pendek. Berharap diijinkan ajushi. Namun, tentu saja ini harapan kosong. Seperti perkiraanku semula--ajushi langsung mengeleng dan menyahut tegas. "Tidak bisa!!"

"Tapi ... "

Aku bermaksud bersuara tapi ajushi segera berujar lagi. "Binatang tidak diijinkan masuk bandara--Kecuali anjing-anjing pelacak, ... jadi--agashi, hentikan pikiran ngawur itu!!!"

Ini teguran paling keras yang pernah kuterima dari ajushi. Selama ini, beliau begitu sabar menghadapiku. Walaupun kadang-kadang kelakuan-kelakuan ku sudah di luar batas, tapi beliau tidak pernah marah .. apalagi 'Murka'.

"Jangan berpikiran tidak-tidak, agashi!"

"Ne .. " Aku menunduk perlahan.

"Dan ingat--jangan sekali-kali memasukan anak anjing itu ke dalam koper! Atau ke mana saja ... Saya tidak ingin kepulangan kita terhambat gara-gara pemeriksaan pihak imigrasi ... "

Seperti bisa membaca pikiran ku, ajushi mengutarakan semua maksud terpendam yang memang sempat terlintas dalam pikiran ku.

"Ne .. " Aku melangkah dengan lemas.

"Saya serius, agashi!!!" Ajushi memperingatkan sekali lagi dengan menekan setiap huruf dan kata yang terlontar dari mulutnya.

"Ne, ne .. arasoyo ... "

Aku berlari ke dalam kamar--meninggalkan ajushi di luar, bersama ... Peanut. Memang kusengaja biar dia tahu dan melihat sendiri bahwa aku tidak memasukan Peanut ke dalam koper ataupun tas yang kubawa---


********



Aku mengamati makanan-makanan yang terhidang di atas meja dengan mata berbinar. Tidak kuperdulikan pandangan kerinduan dari appa di seberang, ataupun pandangan menyelidik dan mengawasi dari omma di sebelahnya. Aku lagi mengingat-ingat ... kira-kira sudah berapa lama tidak mencicipi hidangan selezat ini? Mungkin sudah beberapa bulan. Tapi .. mengapa aku merasa sudah bertahun-tahun lamanya?

Perlahan aku menelan ludah .. dan dengan semangat tinggi kuarahkan sumpit di tanganku ke salah satu piring yang terletak di depan omma.

"Eitss!!!"

Mataku terbelalak lebar. Sumpit omma telah menjepit erat sumpit ku.

"Ommaaa!!!" protes ku dengan bibir dipanjangkan. "Weeyo?!!"

"Tunggu sebentar!!" celetuk omma. "Ada yang ingin omma dan appa bicarakan .. "

"Omma ... " Aku melirik tangan appa yang mendarat di punggung tangan omma. Appa menyentuhnya dengan halus--seperti berusaha menghalanginya mengutarakan maksudnya. "Setelah makan saja ya? Jangan membuat selera makannya Hyesun hilang ... ," ujar appa pelan.
Namun omma segera mendelik kearahnya. "Biarkan saya yang mengurus ini! Appa diamlah!!"

Nah--kalau sudah begini, appa pasti membungkam. Ekspresi tak setuju, tapi tidak berani ditunjukan. Memang sudah dari dulu appa berada di bawah kendali omma.

Alis ku berkerut ketika berpaling kembali pada omma. "Ada yang serius? Saya lapar nih, omma!!" Aku bermaksud melanjutkan keinginanku menyumpit makanan, tapi sekali lagi mendapat perlawanan sengit dari omma. Sumpitnya sekarang bergerak ke atas--menjepit pergelangan tangan ku.

"Akhhh---sakit!!! Ommaaa!!! Apho-yo!!!" Aku menjerit-jerit minta ampun.

"Bisa letakan sumpit mu dulu??!" tanya omma dengan gaya penguasanya.

Aku cemberut. Tidak rela, aku melepaskan sumpit di tangan ku ke atas meja. Tampang ku sangat memelas.

"Sekarang dengarkan omma!!"

"Ne .. ," desisku sambil mengelus-ngelus pergelangan tangan kanan ku yang memerah akibat 'penganiayaan' omma tadi.

"Besok kamu ikut omma ke motel!"

"Dheee?!!" seru ku. Yang tak kusangka--appa juga menyuarakan pertanyaan yang sama.

Aku segera berpaling pada appa. "Kenapa appa ikut-ikutan teriak? Appa juga kaget?" tanyaku terheran-heran. Dari pembicaraan mereka tadi, bukankah appa seharusnya tahu apa yang direncanakan omma?

"Oh--aniyo .. ha .. ha .. " Appa tertawa-tawa kikuk. Selalu begitu!! Sekali omma mengambil peranan dalam sebuah pembicaraan--terutama diskusi keluarga--appa selalu berlagak masa bodoh dan berubah pasif =.=

Kadang-kadang aku merasa heran,--kenapa appa bisa bertahan dengan sifat berkuasa omma? Ditambah--keingin-tahuannya yang besar, suka bergosip kesana kemari, ataupun membicarakan sesuatu yang tidak penting. Juga kegalakan dan kemustahilannya ... Mengapa? Mengapa? ... Aku sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini ...

Namun, .. kalau dipikir lebih lanjut--mungkin inilah namanya Saling melengkapi. Kekurangan yang satu diisi dan dilengkapi oleh yang lain. Seperti aku yang tolol dan bodoh ini. Kau juga sangat sabar menghadapinya. Bukankah teori ini juga sama? Ehemm--well, mungkin aku sudah melenceng terlalu jauh. Ini tidak ada hubungannya sama sekali. Aku dan kau ... hanya roommate biasa =.=

“Jadi?” Aku bertanya dengan kelopak mata menurun. Sudah capek rasanya membantah omma ataupun bersabar terhadap sikap appa.

“Besok kau ikut saja.” Kata omma. “Omma ingin mempertemukanmu dengan sahabat-sahabat omma. Sudah lama kan kalian tidak bertemu? Para tante sudah merindukanmu. Mereka sering menanyakanmu … Setelah itu, kita makan di luar. Lusa nanti, perayaan ulang tahunmu akan dilaksanakan .. “ Setelah berkata begitu, omma mulai mengambil makanan di atas meja. “Sekarang makanlah … “

Aku mengerak-gerakan bibir berulangkali. “Apa tidak boleh mencari teman-teman ku?” tanyaku takut-takut.

“ANTWEE!” sahut omma tegas. Pandangannya seakan ingin menelanku hidup-hidup. “Teman-teman mu akan hadir dalam pesta lusa nanti, jadi tidak perlu kau cari mereka .. Araso??!!”

Aku menghela nafas. “Ne .. “

Nah benar kan perkataanku barusan?—Omma dengan sikap Sok Penguasanya—huhuhu   


********



Minho menghentikan langkahnya di ambang pintu depan. Tangannya masih menempel di daun pintu dan alisnya berkerut ketika mendapati dua sahabatnya sedang sahut-menyahut dengan ribut. Tangan mereka saling mendorong dan ekspresinya kebingungan seperti tidak tahu harus berbuat apa.

“Weeyo?” tanya Minho.

Eunhye dan Hoon berpaling bersamaan. Minho dapat melihat jelas sekarang. Sepucuk surat tergenggam di tangan Eunhye. Ternyata letak permasalahan mereka ada pada surat itu.

“Wegude?”

“Minho-a—“

Eunhye berlari mendekati Minho kemudian menyodorkan surat di tangannya.

“Mwo?!” Minho menerima surat tersebut dengan alis berkerut.

“Dari Hyesun .. ,” sahut Eunhye dengan nafas agak tersengal. Sedangkan Hoon sudah berada di sebelahnya sekarang.

“Hyesun?” Alis Minho berkerut semakin dalam. “Ada apa dengannya?” Sedikit kekhawatiran terselip dalam suaranya.

“Dia … dia pamit dalam suratnya … “

“Pamit?” Kali ini mata Minho melebar. Segera saja ditelusurinya kata demi kata dalam kertas surat yang sudah kusut dan berpola kekanak-kanakan dalam tangannya. Ada beberapa gambar anak anjing dengan berbagai pose tercetak dalam kertas surat berwarna pink itu.

Miane onnie jika saya pergi tanpa pamitan dulu … Omma dan appa mengutus Jung ajushi untuk menjemputku kembali ke Jeju. Kami berangkat sore ini. Saya melupakan ulang tahun ku yang jatuh tempo minggu nanti he he .. Saya akan kembali hari minggu malam, jadi jangan mengkhawatirkan ku. Salam buat .. semuanya. Anyongheseyo ….

Tambahan : o ya, lupa—tolong jagain Peanut buatku,, see you ….

Tertanda,
Goo Hye Sun


”Bagaimana?” tanya Eunhye khawatir.

“Bagaimana apanya?” Minho melipat surat di tangannya kemudian memasukannya ke dalam kantung celana.

“Apanya?!” Eunhye terbelalak lebar. “Tentu saja kepergian Hyesun!! Tidak biasanya dia pergi hanya meninggalkan secarik kertas kayak gitu!! Apa tidak mungkin dia .. dia … “ Dia bergidik begitu membayangkan kemungkinan terburuk yang bakal terjadi.

“Maksudmu diculik?” ujar Minho enteng. Terlihat enteng, tapi sebenarnya jauh di lubuk hatinya, sangat cemas.

“Ada kemungkinan itu kan?” Hoon yang sedari tadi membisu mengeluarkan suaranya.

“Maybe .. “ Minho menghembuskan nafasnya, kemudian dia berpaling pada Eunhye. “Mengapa kau tidak menelepon bibimu, dan tanyakan padanya apa dia memang memerintahkan seseorang menjemput Hyesun ke Jeju?”

“Ne! Ne!!” Eunhye menepuk kepalanya berkali-kali. “Kenapa hal ini tidak kepikiran oleh ku?” Dia tersenyum pada Minho dan menepuk pundaknya. “Memang kau yang paling bisa diandalkan! .. Aku akan menelepon dulu, kalian tunggulah di sini!”

Kedua cowok itu mengangguk. Eunhye menghilang ke ruang tengah. Tujuh menit kemudian dia kembali lagi. Nafasnya agak tersengal ketika menghampiri mereka.

“Be .. benar .. ,” lapor Eunhye dengan nafas memburu. “Hyesun … su … sudah berada di Jeju … “

“Oh—“ Kedua cowok yang sedari tadi menahan nafasnya, menghembuskannya keras-keras.

“Syukurlah kalau begitu .. ,” ujar Hoon.

Minho mengangguk sambil memejamkan matanya.

“Ulang tahun Hyesun .. “ Eunhye bergumam pelan. “Benar, minggu ini … ,” tambahnya dengan raut menyesal. “Kenapa aku sampai melupakannya?” Kemudian dia menatap Minho. “Apa kau ingat?”

Minho mengeleng. Suaranya terdengar berat ketika diucapkan. “Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Appa memintaku segera membereskan segala sesuatunya dan kembali ke New York …. “

“O—begitu .. “ Eunhye mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku mengira telah terjadi sesuatu di antara kalian .. “

Minho tertawa sumbang. “Memangnya apa yang mungkin terjadi di antara kami?” Dia berhenti sebentar, kemudian mengeleng pelan. “Tidak ada .. “

“Benar! Memangnya apa yang mungkin terjadi pada Minho dan Hyesun?” celetuk Hoon tiba-tiba. Dia yang tidak tahu apa-apa, dan tidak menangkap ke arah mana pembicaraan kedua sahabatnya ini terbengong-bengong.

Eunhye menarik tangan Hoon dan mengajaknya balik ke kamar. “Kita bicara di dalam yuk!” Lalu dia berpaling pada Minho. “Anyong, Minho .. Jangan dipikirin .. Hyesun baik-baik saja kok di Jeju. Tadi bibi bilang, dia sudah tertidur nyenyak di ranjangnya .. “

Minho memperlihatkan senyumnya. “Gumawo .. Saya tidak apa-apa .. “

Eunhye mengangguk—menatap Minho dengan pandangan menghibur, .. yang justru membuat Hoon terheran-heran. Tapi Eunhye tidak memberi kesempatan pada kekasihnya untuk bertanya lebih lanjut. Dengan agak menyeret, dia memberi isyarat supaya Hoon ikut dengannya.

Minho menunduk secara perlahan … Lalu .. dia tersenyum. Kepalanya digeleng-gelengkan …
“Dalam keadaan begini masih bisa tidur nyenyak … Dasar, si Little Coward .. “


*******



Omma sungguh-sungguh melakukan rencananya. Emang sejak kapan omma nggak serius ama perkataan-perkataannya?--Huh!! Beliau—ommaku tersayang—bahkan berani melakukan hal-hal yang melampaui batas dan akal sehat =.=. ... Contohnya? Mengobrak-abrik kamarmu hanya untuk mendapatkan bukti bahwa onnie menyembunyikan seorang cowok di apartemennya beberapa waktu lalu … Capek deh..

Aku dipertemukan omma pada teman-temannya yang sudah kukenal. Bayangkan!! Sudah kukenal!! HUH— Apa beliau menganggapku keluar dari Jeju sudah berabad-abad yang lalu? Padahal kan baru beberapa bulan =.= Para tante itu cengingiran .. mencolek-colek daguku, mencubit-cubit pipiku .. bahkan ada beberapa yang menarik-narik—well, .. bukan menarik sih .. hanya mengelus namun bagiku sama saja! Aku paling benci disentuh atau dielus kepalanya, kecuali oleh kamu …. Mereka bilang aku sangat lucu .. lebih cantik dari dulu .. kalau punya anak cowok, pingin dijodohkan ama aku (hey, come on!!—jangan bermimpi tante-tante!! Sekalipun kalian punya anak cowok, setampan apapun, .. aku tidak akan tertarik padanya. Hatiku sudah tertancap pada sonsaengnimku tersayang ... Mengingatmu=>Benar kan sonsaengnim? Well, kau tak di sini. Ya udah, lupakan saja lol )

Mereka—para tante itu—juga mulai bergosip tentang skandal-skandal di antara teman-teman mereka ataupun orang-orang terkenal yang tidak mereka kenal .. Aku heran, mengapa mereka se-ingintahu itu? Yang lebih parah, omma masuk dalam kelompok mereka. Para ahjuma itu saling bergosip ria sementara aku dibiarkan memojok di lobi motel. Pandanganku meredup—Dasar ibu-ibu!!!

Perembukan mereka baru berakhir setelah jam makan siang tiba. Aku langsung meloncat turun dari sofa yang sudah menempel erat di bokong ku dan bersorak keras. Para ahjuma langsung berpaling padaku. Aku menutup mulut dengan tangan dan meleletkan lidah, Upssss ...

Sehabis makan siang, mereka berbincang-bincang lagi .. melupakanku yang meringkuk sendirian di sofa. Aku menguap malas, dan perlahan-lahan menutup mata ... meredup .. meredup .. sampai akhirnya terpejam sama sekali. Aku tertidur kebosanan gara-gara tingkah laku para ahjuma ini.


********



Rencana makan malam di luar dipindahkan ke dalam rumah akibat cuaca yang tidak mendukung. Suasana sudah remang-remang pada sore harinya. Badai yang diramalkan akan melanda Korea--terutama pulau Jeju--esok hari, datang lebih cepat. Angin bertiup sangat kencang--mengulung segala sesuatu yang dapat diterbangkan olehnya. Pucuk-pucuk pohon meliyuk-liyuk keras dan air hujan pun mulai ditumpahkan ke bumi .. menghantam dinding-dinding rumah dan apa saja yang menghalangi keganasannya.

Appa berdiri di depan jendela ruang makan .. mengamati keadaan di luar. Dua orang pelayan yang sudah cukup lama bekerja pada kami, tampak sibuk mengunci pintu dan jendela. Juga menempelkan plester-plester besar pada jendela-jendela dari kaca agar kaca-kaca tersebut tidak pecah karena badai .. atau, kalaupun pecah--tidak sampai berkeping-keping dan mencelakakan orang.

Aku menghela nafas dan menjatuhkan perhatian ke atas meja makan. Hidangan-hidangan yang sangat sederhana--berbeda dari hari sebelumnya. Para pembantu terlalu disibukan oleh kegiatan-kegiatan melindungi diri dari badai sehingga tidak sempat memasak makanan-makanan yang pantas untuk dimakan. Paling tidak, .. untuk ku.

Aku mengangkat kepala dan berbenturan dengan pandangan omma.

"Hyesun-a .. "

"Ne?"

"Dengar baik-baik ada yang ingin omma katakan!" ujar omma tiba-tiba.

"Omma ... " Appa kembali menepuk tangannya seperti kemarin--membuatku semakin penasaran. "Bicaranya setelah pesta aja ya? ... Biarkan Hyesun menikmati ulang tahunnya yang ke 17 dulu ... ," lanjut appa pelan. "Perasaannya pasti terganggu setelah mendengar kabar itu .. "

"Dhe?" Aku menegakan badan sambil menatap mereka. "Ada apa sebenarnya?" tanyaku sambil mengenyitkan alis. "Ada yang appa dan omma sembunyikan?"

"Aniyo!!" sahut appa, tapi .. segera diserbu omma ...

"Iya!! ... Bukan menyembunyikan, tapi ini kenyataan yang semula ..  omma dan appa rasa belum saatnya dibicarakan padamu .. "

"Omma .. ," desah appa.

"Dhe?" Aku melebarkan mata .. makin penasaran. "Apa itu?"

"Omma .. " Appa mengeleng, tapi tidak digubris omma.

"Lambat laun Hyesun akan mengetahuinya jua. Jadi .. tidak ada salahnya kita memberitahunya sekarang .. "

"Tapi omma .. " Appa masih berusaha melarang, tapi pendiriannya tidak setegar omma. Melihat pandangan mendelik itu, beliau akhirnya memilih bungkam.

"Dhe?" Aku kembali mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi kulontarkan, yang belum dijawab oleh omma dan appa.

Omma beralih padaku. "Begini Hyesun-a ... ," ujarnya tenang .. membuatku makin tegang.  Aku segera menegakan badan dan menatap omma lekat-lekat. "Kami punya rencana sejak .. lama sekali ... Mungkin waktu kau masih berusia 10 tahun .. ," sambung omma sambil membalas pandanganku. "Appa punya seorang sahabat dekat sejak kecil. Mereka teman sepermainan ... "

"Iya?"

"Dan sahabatnya itu punya seorang putra ... "

"Dhe?!" Aku makin bingung. Apa hubungannya sahabat appa dan putranya dengan ku?

"Appa dan sahabatnya itu sudah buat sebuah perjanjian ketika putranya lahir ... bahwa ... jika yang lahir dalam keluarga kita adalah cewek maka ..  akan dijodohkan dengannya ... "

"MWO??!!!" Sumpah mati! Pemberitaan omma serasa petir menyambar di siang bolong, tepat di atas kepala ku!! Aku sangat terkejut. Lebih tepatnya ... kaget--kaget setengah mati. Mataku terbelalak dan parasku berubah pucat pasi. "A .. apa maksudnya ini? Lelucon apa ini?" tanya ku dengan bibir gemetar.

"Ini bukan lelucon!!" Omma berdiri dari kursinya .. disambut dengan ... mata terpejam dari appa. "Perjodohan ini sudah disepakati ketika kau berusia sepuluh tahun .. ," lanjut omma tajam.

"Ta ... tapi aku tidak pernah tahu .. ," tukas ku diiringi isakan halus yang mulai terdengar. Aku tak kuasa menahannya lagi. Berita ini terlalu mengejutkan. Aku tidak terima!! Pokoknya tidak terima!!

"Tentu saja kau tidak tahu!" ujar omma. "Itu karena omma dan appa tidak ingin menganggu konsentrasi belajarmu apabila mengetahuinya. Tapi sekarang ..  tidak bisa ditunda lagi. Putra sahabat appamu akan pindah dan tinggal di Macau buat mengurus perusahaan barunya yang didirikan di sana, mungkin dalam jangka waktu yang lama ... Kami--omma dan appamu, begitu juga pamanmu, tidak ingin hubungan ini berubah jika suatu saat dia tertarik pada wanita lain ..  Maka itu perjodohan kalian harus diresmikan segera ... "

"ANTWEE!!!"

Sungguh!! Aku tidak pernah berteriak .. dan membantah sekeras ini terhadap omma. Biasanya, aku selalu menunduk ... walaupun pingin membantah, akhirnya tetap mengatakan 'iya, iya' .... Tapi sekarang berbeda ... Jika mengingat--bakal berpisah darimu, ... ditunangkan dan dinikahkan secara paksa dengan pria yang tak kukenal ... seluruh tenagaku terhimpun jadi satu dan diledakan saat itu juga.

"Mwo?" Omma membelalakan matanya, menatapku lekat. "Wee--antwee?"

"POKOKNYA ANTWEE!!!!!!!" Aku menjerit sekeras-kerasnya. Dan tanpa memberi kesempatan pada omma buat menyadari apa yang akan kulakukan, aku menyambar tas selempangku dari sofa dan menghambur keluar ruang makan.

"GOO HYE SUN!!!!

Aku berlari .. dan berlari ... tak kuperdulikan lagi teriakan-teriakan omma di belakang ...

"Hyesun-a ... "

Samar-samar, seruan-seruan appa juga memasuki pendengaranku. Tapi .. aku tak ingin mengubrisnya. Saat ini yang kuinginkan hanya .. kembali ke sisi mu ... Aku ingin kembali .. segera ...

Hujan deras menerpa wajahku, menguyur tubuhku begitu pintu depan kubuka ... angin puyuh bertiup, berusaha menghempasku ke belakang begitu langkah ini kupaksakan ... Begitu juga--kilat dan guntur saling menyambar dan menyahut, memekakan telingaku ... Alam seakan menunjukan kuasanya, membelenggu aku yang kecil dan tak berarti ini ... Namun, semua tidak kupikirkan ... Yang ada dalam otak-ku hanya ... Pergi dari tempat laknat ini. Hindari orang-orang dan kenyataan terkutuk di belakang ... Lebih tepatnya--Bangun dari mimpi berkepanjangan ini! SEKARANG JUGA!! Aku percaya--Ini pasti hanya mimpi. Mimpi buruk yang jika .. kubuka sepasang mataku ... akan segera terbukti bahwa aku tidak pernah dijodohkan sama siapapun. TIDAK PERNAH

Aku melihat sebuah taxi melintas di depan dengan posisi agak goyah. Aku menyeka air yang membasahi wajah dan menghalagi pandanganku kemudian segera berlari kearah taxi tersebut sambil melambai-lambaikan tangan buat menghentikannya.


*******



Mr dan Mrs. Goo gelabakan di tempatnya. Mereka tidak tahu harus berbuat apa terhadap masalah yang terjadi barusan. Mrs. Goo menghempaskan tubuhnya ke kursi, sementara Mr. Goo berlari kearah pintu.

"Aku akan mengejar anak itu kembali!!" seru Mr. Goo, yang samar-samar tertangkap oleh Mrs. Goo. "Omma tunggu di sini!"

Mrs. Goo mengangguk linglung. Dia masih berada dalam posisi semula sampai tersadar dan segera menyusul ke ruang depan.

Duapuluh menit berlalu, dan Mr. Goo kembali dengan tubuh basah kuyup. Dia sendirian. Tidak seorangpun bersamanya. Angin menderu-deru dan air hujan dihempaskan ke dalam rumah begitu pintu dibuka. Mr. Goo masuk ke dalam dan segera menutup pintu. Mrs. Goo yang sedari tadi meremas-remas tangan, menyambutnya dengan raut gelisah.

"Bagaimana?"

Mr. Goo mengeleng perlahan. "Tidak kudapatkan keberadaannya ...."

"Oh--" Mrs. Goo langsung memeluk suaminya. "Bagaimana ini, appa? ... Ottoke--? Di luar sedang badai, ... bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Hyesun?"

Mr. Goo tidak mampu menjawab. Ketenangan yang berusaha dihimpunnya hilang seketika. Benar. Mungkin saja terjadi sesuatu pada Hyesun. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

"Telepon .. ," tiba-tiba Mrs. Goo mengangkat kepala dari pundak suaminya. "Benar! Telepon Hyesun!"  Seperti mendapat tenaga baru, dia berlari ke telepon rumah yang terletak di sudut dekat tangga. Dengan tangan gemetar diraihnya telepon seluler itu dan mulai menekan tombol-tombolnya. Satu menit kemudian ...

SUN, ANGKAT TELEPON!!!  SUN, ANGKAT TELEPON!!!

"Oh--" Mrs. Goo lemas seketika. Ponsel Hyesun yang sedang dihubunginya, berteriak-teriak dari atas meja. Rupanya Hyesun lupa membawa ponselnya. "Ponselnya ketinggalan. Bagaimana ini, appa?"

Mr. Goo terperanjat. Untuk sesaat, kedua manusia paruh baya itu tidak tahu harus berbuat apa ... sampai .. Mr. Goo mengambil keputusan yang mampu dipikirkannya saat itu.

"Kita hubungi Park In .. dan minta bantuannya buat mencari Hyesun .. Mudah-mudahan saja tidak terjadi sesuatu yang buruk .. "

"Iya, iya .. ," ujar istrinya. "Cepat hubungi dia!!"


*********



Jung Park In menghentikan mobilnya di depan Bandara Internasional Jeju. Setelah berkeliling pulau Jeju tanpa hasil, akhirnya dia memutuskan mencari majikan muda yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri di bandara.

"Mudah-mudahan anak itu nekat ke sini .. ," gumamnya tak jelas.

Pria berpostur kurus itu segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam bandara. Pengumuman dari pengeras suara langsung menyambut kedatangannya ...

Ladies and Gentlemen, .. Kami mohon maaf sebesar-besarnya buat penundaan penerbangan dari Jeju ke Seoul. Untuk penerbangan terakhir, telah di-cancel. Jadi buat para penumpang yang sudah membeli karcis untuk penerbangan sebelumnya, dipersilahkan masuk ke dalam pesawat sekarang juga karena pesawat kita akan berangkat sepuluh menit lagi ..

Jung Park In berdecak. Pandangannya dilebarkan berkeliling .... mencari-cari .. dan akhirnya dia menemukan sosok yang sangat dikenalnya sedang berada di area check-in. Dia berteriak dan melambaikan tangannya.

"Agashi!!!"

Gadis itu menoleh. Ketakutan tersirat di wajahnya yang putih dan mulus begitu melihat kemunculan Jung Park In di situ. Segera saja gadis itu berbalik begitu menyelesaikan segala urusan administrasi. Yang dituju adalah gate masuk. Dia memperlihatkan tiket pesawat dan kartu identitasnya pada petugas. Dalam sekejap tubuhnya menghilang dari hadapan Jung Park In.

"Agashi!!"

Seorang petugas menghentikan langkah Jung Park In di depan gate masuk.

"Maaf ajushi .. Anda tidak diperbolehkan masuk tanpa tiket pesawat dan kartu identitas ... ," ujar si petugas.

"Huh--" Jung Park In menghembuskan nafasnya. Dia kembali ke area penjualan tiket. Tapi percuma saja. Semua tiket sudah terjual. Dan penerbangan terakhir sudah dibatalkan karena badai. Paling cepat, baru besok siang ada pesawat yang kembali ke Seoul.


*********



"MWO?!!!" Mr. Goo terlonjak dari sofa. "Maksudmu ... , anak itu sungguh-sungguh nekat kembali ke Seoul? Dalam cuaca begini?"

"MWOO?!!" Mrs. Goo ikut-ikutan terlonjak dari posisinya. "Hyesun ... dia ... "

"Ne, araso Park In-ssi ... Ghamsamida .. " Mr. Goo memutuskan hubungan dengan Jung Park In kemudian meletakan telepon di tangannya ke atas meja.

"Appa, .. Hyesun kembali ke Seoul sendirian?" Mrs. Goo mencengkram lengan Mr. Goo dan menatapnya tak percaya.

Tapi Mr. Goo mengangguk ... menyakinkannya. "Ne .. "

"Sendirian?" Mrs. Goo kembali menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Sejak kapan dia seberani itu ... "

"Sudah kubilang belum saatnya memberitahu dia .. ," sesal appa. "Begini deh akibatnya .. "

"Appa menyalahkanku?!" Mrs. Goo mengangkat wajah ... tampangnya terlihat dingin dibalik kekhawatiran yang sekarang sedang melanda hatinya.

"Tidak! Tidak!!" Mr. Goo mengeleng berulangkali. "Tidak ada gunanya kita saling menyalahkan. Sebaiknya omma menghubungi Eunhye buat menjemputnya di bandara ... Cuaca benar-benar buruk sekali .. " Sehabis berkata begitu, pria paruh baya itu melemparkan pandangan keluar jendela .. sementara istrinya membisu sesaat .. barulah mengambil telepon buat menghubungi orang yang dimaksud.


********



"Yeboseyo .. o--bibi?!"

Eunhye mendengarkan sesaat, lalu .. , wajahnya berubah pucat.

"Araso .. "

Terburu-buru dia berdiri dari ranjang dan beranjak ke pintu. Ponselnya yang tadi dihubungi Mrs. Goo diletakan begitu saja di atas ranjang.

"Wegude, Hye-a?!!" seru Jihoon dari posisinya di atas ranjang.

Eunhye tidak menjawab. Pintu kamar sudah dipentangkan lebar-lebar dan dia segera berlari keluar. Jihoon mengerutkan alisnya. Rasa penasaran membuatnya bangun dari ranjang dan menyusul Eunhye.


*******



"MINHO-A!!!"

Minho yang sedang duduk di depan TV sambil memain-mainkan remote control di tangannya berpaling.

"Gawattt!!" ujar Eunhye dengan nafas tersengal-sengal. Dia sampai di depan Minho, ... menatapnya ... , sedangkan wajahnya pucat pasi.

"Wegude?" tanya Minho. Posisi duduknya ditegakan sekarang. Reaksi tak peduli yang diperlihatkannya tadi samar-samar menghilang.

"Hyesun ... Hyesun .. " Eunhye mengatur nafas dengan susah payah. "Dia ... dia kembali ke Seoul malam .. malam ini ... "

"Mwo?!" seru Minho. "Malam ini? Bukankah semua penerbangan sudah dibatalkan?"

Eunhye mengeleng. "Tidak. Masih ada ... satu penerbangan lagi ... Penerbangan terakhir dari Jeju .. "

"Dan Hyesun pulang dengan penerbangan itu?" Selidik Minho. Sikap tenangnya sudah hilang sama sekali.

"Ne .. ," sahut Eunhye.

Minho berdiri dari sofa. Matanya melebar tertuju pada Eunhye. "Mengapa bisa begitu?"

"Ada sesuatu kayaknya ... Entahlah .. Bibi tidak menceritakannya. Dia cuma bilang, Hyesun nekat pulang ke Seoul malam ini dan meminta saya menjemputnya .. "

"Kalau begitu, tunggu apa lagi?!" seloroh Jihoon dari belakang.

Minho mengangguk. "Kita harus ke bandara sekarang." Kemudian dia menoleh pada Jihoon. "Hoon, apa kau bawa mobil?"

"Kami bisa meminjamnya pada tuan San!" Eunhye yang menyahut.

Sekali lagi Minho mengangguk. "Kalian berdua satu mobil saja. Saya takut mobilku tidak muat .. "

Eunhye dan Jihoon menyetujui. Minho lalu mengangkat tangannya dan memberi isyarat pada mereka buat berangkat.


********



Aku keluar dari bandara, dan hujan deras langsung menyambutku .... menyiramkan air seperti ditumpahkan ketubuhku. Sekujur tubuhku basah kuyup. Terasa sangat dingin sampai menusuk tulang. Aku mengigil. Dengan tangan gemetar aku mengeledah tas selempangku. Tapi, tidak kutemukan apa yang kucari. Setelah usaha yang kesekiankalinya, aku sadar, .. ponselku tertinggal di Jeju.

Aku menghembuskan nafas. Kuperhatikan sekeliling. Tidak seorangpun yang kukenal. Tentu saja =.= Pupus deh harapanku buat pinjam telepon. Aku seorang pengecut, .. buat mengutarakan maksud pada orang tak dikenal? Sama sulitnya dengan merubah arah terbit matahari. Nah--kedengaran sangat mustahil kan? ><

Apa yang kulakukan kemudian sangat tidak masuk akal ... seperti juga ketika kuputuskan kembali ke Seoul ini ... Aku--nekat menerjang hujan dan badai, menuju ke jalan raya di depan buat mendapatkan tumpangan ke apartemen.

Namun, lagi-lagi sebuah kesalahan ... Tidak ada--bahkan seekor lalatpun, yang berkeliaran dalam cuaca begini. Bis-bis tampaknya sudah diberhentikan dari tugasnya menerima penumpnag. Begitu juga para supir taxi yang lebih memilih menghangatkan diri di rumah ataupun di cafe-cafe sekitar. Hanya terlihat beberapa mobil pribadi yang melintas di situ. Itupun terburu-buru dan tidak mungkin berhenti buat menolong gadis kecil yang perlu dikasihani ini.

Aku melangkah perlahan ... semakin jauh .. dan jauh meninggalkan jalan raya. Tanpa sadar, aku kembali ke bandara. Bukan masuk ke dalamnya .. hanya menyusuri sudut-sudutnya yang berliku-liku dan tinggi menjulang. Angin bertiup semakin kencang .. tubuhku serasa terangkat naik. Aku bertahan .. sangat capek rasanya. Perlahan tapi pasti, air bening mengalir dari mataku .. menuruni pipi dan tidak tampak lagi karena bercampur dengan air hujan. Langkahku terasa semakin berat. Aku berhenti .. mengangkat kepala dengan pandangan kabur. Terlalu banyak air yang masuk ke dalam mataku.

Kemudian aku menunduk kembali. Menjatuhkan diri perlahan-lahan sampai ke posisi meringkuk .. memeluk erat sepasang kaki ... menyembunyikan wajah di sela-sela lutut. Hujan lebat menampar-nampar bagian punggung dan tenguk-ku. Sakit dan nyeri yang kurasakan melebihi kata-kata. Pilar besar tempatku berteduh tidak cukup kuat menahan serangan ini. Petir saling sambar-menyambar, bermain-main di atas kepalaku ... sedangkan guntur, sudah sepenuhnya menguasai pendengaranku. Aku menutup telinga dengan sepasang tangan. Untuk pertama kalinya aku merasakan ketakutan dan kengerian yang luar biasa seumur hidupku ....


**********


Mobil yang dikemudikan Minho beserta mobil yang membawa Jihoon dan Eunhye tiba agak terlambat di bandara. Perjalanan dari rumah yang biasanya memakan waktu tidak kurang dari duapuluh lima menit, kali ini membutuhkan waktu hampir satu setengah jam.

Minho, Eunhye dan Jihoon keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Mereka segera berlari ke dalam bandara. Keadaan di dalam sangat sepi. Hanya segelintir orang yang terlihat berjalan dari arah berlawanan. Mereka melangkah lebar-lebar sambil menyeret koper-koper dan bawaan-bawaan dalam genggaman, seakan berburu dengan waktu.

Minho, Eunhye dan Jihoon sampai di gate keluar. Dan mereka mulai berdiri di situ ... menunggu ...


********



Limabelas menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda orang keluar dari gate di depan mereka. Eunhye jadi gelisah. Jihoon menoleh kesana kemari sedangkan Minho sudah kehilangan kesabarannya. Dia menghampiri seorang petugas keamanan yang kebetulan beranjak dari tempat tugasnya. Minho menanyakan beberapa pertanyaan ...  tampangnya jadi berubah. Beberapa menit kemudian, dia kembali ke tempat Eunhye dan Jihoon.

"Para penumpang dari penerbangan terakhir Jeju sudah keluar setengah jam yang lalu .. ," katanya pada Eunhye dan Jihoon.

"MWO?!" sahut mereka bersamaan.

"Bagaimana ini?" tanya Eunhye cemas. "Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? ... Apa yang harus kukatakan pada bibi? ... Otoke?"

"Kita memisahkan diri buat mencarinya .. ," akhirnya Minho mengambil keputusan. "Eunhye--kau ikut dengan Hoon! Kalian mencarinya di luar .. Aku akan berkeliling di sekitar bandara ini .. Jika tidak dapat, kita saling menghubungi lagi .. "

Keputusan diambil. Minho, Jihoon dan Eunhye kembali ke mobil masing-masing. Beberapa saat kemudian, mereka memisahkan diri. Jihoon melajukan mobilnya ke jalan raya dan mencari-cari di antara pusat kota Seoul yang mulai renggang, sedangkan Minho berputar-putar di sekitar bandara dengan mobilnya.


********



Hampir duapuluh menit lamanya Minho mengarahkan mobilnya mengelilingi bandara Incheon. Setiap sudut dan liku-liku bandara ditelusurinya dengan teliti, tapi sayang .. sosok yang dicarinya belum jua didapat.

Sampai .... Sesuatu yang berwarna merah muda--agak memojok di sebuah pilar besar penyangga gedung bandara, menarik perhatiannya. Minho menghentikan laju mobilnya perlahan. Dia membanting stir dan mengarahkan mobilnya ke pilar itu. Semakin dekat ... dan ....

Dia mendesah .... Akhirnya ditemukan juga ...

Sosok itu meringkuk dengan posisi tertunduk. Sekujur tubuhnya basah kuyup dan mengigil .... Terlihat jelas sepasang tangan yang sedang menutupi telinga itu bergetar hebat ... Kulit yang biasanya putih mulus dan kemerah-merahan itu, agak membiru dan ... pucat ..

Tanpa sadar, pandangan Minho meredup. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam dadanya sekarang begitu melihat pemandangan di depan .. Yang jelas, .... bukan bahagia .. bukan juga senang .. tapi, ... sesuatu yang menyayat ....


*********



"Kenapa berada di sini?"

Suara itu sangat kukenal. Perlahan, kuangkat kepala ini. "Sonsaengnim ... ," desahku lemah.

Kau berdiri .. tepat di hadapanku, dengan payung tergenggam di tangan.

"Pabo--ya!!" bentakmu tiba-tiba. "Keluyuran dalam badai? Apa kau tahu itu sangat berbahaya? Dikemanakan otakmu?"

"Sonsaengnim ... ," suaraku makin lemah. Pandanganku meredup. Melihatmu marah, entah mengapa ... hatiku terasa tentram. Aku bahkan ingin tertawa. Mungkin karena ... aku mendapatkan kembali pegangan kuat yang sempat hilang beberapa jam yang lalu ...

Aku melihat pandanganmu perlahan-lahan berubah teduh. Kau menghampiriku ... membuka mantel yang kau kenakan kemudian menyampirkannya ke pundak ku. Tidak hanya itu .. kau agak membungkuk dan meraih lenganku. "Bisa berdiri?" tanyamu lembut. "Ayo kubantu!"

Kau menuntunku berdiri. Tapi belum sampai ke posisi sempurna, aku sudah ambruk di dadamu. Antara sadar dan tidak, aku memelukmu erat-erat. Tanganku melingkar di tubuhmu, dan isak tangis tidak mampu kutahan lagi ... meledak saat itu juga. Tubuhku terguncang-guncang keras. "Sonsaengnim .. hu .. hu .."

"Yaa!!" Kau tersentak kaget. "Hyesun-a, .. gwencana?!!" Berulangkali kau menepuk pipiku. Aku bisa merasakan kehangatan tanganmu di wajahku. Begitu juga degup jantungmu di telingaku. "Gwencana?"

Aku mengangguk, sambil tersenguk-senguk. "Ne .. Miane, sonsaengnim ... "

Kau menghela nafas. "Apa yang terjadi?"

Tapi aku tidak ingin menjawab. Karenanya aku memilih diam. Perjodohan sepihak yang diambil omma dan appa, aku tidak ingin membahasnya lagi!

"Sonsaengnim .. marah .. padaku?" tanyaku lemah dan tidak jelas. Isak halus masih mengiringi setiap kata yang keluar dari bibirku.

"Marah?" Kau melirik ku. "Mengapa harus marah?"

"Dongsae .... " Aku tak mampu melanjutkan perkataan ini.

"O--" Kau mengarahkan perhatian ke depan. "Tidak. Sudah kubilang semua keputusan berada di tanganmu .. Kau sudah dewasa .. "

"Ta .. tapi .. sonsaengnim ... menghindariku ... beberapa .. hari ini .. "

"Oh--itu . .," sekali lagi kau mendesah. Mengapa? Aku juga tidak tahu. "Aku ada keperluan selama beberapa hari terakhir ... Keperluan mendesak ... Jadi tidak ada hubungannya denganmu ... jangan dipikirkan ... "

Aku tidak tahu, apakah jawaban itu bagus atau tidak. Tidak marah padaku, .. kedengarannya bagus, tapi begitu mengingat ... Kau tidak memperlihatkan perasaan apa-apa terhadap keputusanku, .. hatiku terasa sakit.

"Gumawo ... ," ujarku kemudian lirih.

Kau menunduk .. menatapku. "Untuk apa?"

"Karena ... sonsaengnim berada di sini, ... gumawo ... " Entah kekuatan apa yang mendukung kelakuanku selanjutnya. Aku memelukmu semakin erat .. dan menyandarkan kepalaku di dadamu.

Kau terdiam selama beberapa detik. Sesaat .. aku mendengar bisikan halus di sela-sela telingaku. "Aku akan menemukanmu ... di manapun kau berada ... " Lalu, .. sesuatu yang lembut dan hangat mendarat di puncak jidatku. Aku memejamkan mata perlahan ... menyesap semua ini. Walaupun udara terasa dingin, .. air hujan begitu menusuk tubuh, dan .. angin laksana menerbangkan jiwa dari ragaku .... Aku tetap merasa aman ... karena ... terlindungi olehmu ..

Kau kemudian memapahku ke mobil yang terparkir di pinggir jalan--perlahan-lahan. Angin kencang dan hujan lebat masih terus menguyur kota Seoul waktu itu. Selama perjalanan yang pendek ini, kita tak bersuara. Kau merangkulku sangat erat di antara lengan-lengan kokohmu, .. sementara kepalaku, kusandarkan di pundakmu.

Bayangan ini begitu akrab ... Lalu, aku teringat kembali pada kejadian beberapa waktu lalu .. saat kencan bohongan pertama kita .. Aku saking bodohnya, menyandar dalam bayanganmu. Berharap dengan mengelus dan menyentuh setiap inci lekuk tubuhmu yang terpantul dari cahaya remang-remang lampu jalanan itu akan mendapat sedikit kehangatan di sana ... Anehnya, aku sudah merasa puas ... Kepalsuan yang ternyata mendatangkan sedikit kebahagiaan bagiku .. si pengecut kecil ..

Tapi ternyata ... masa depan memang tidak bisa diramalkan. Siapa pernah menyangka kalau sekarang--saat ini jua, aku berada dalam rangkulanmu .. mengecap segala kehangatan yang rupanya melebihi kehangatan dari sebuah bayangan .. dan juga mendengarkan degup jantung yang begitu hidup ... Bukan hanya impian yang selama ini selalu mengisi hari-hariku ... Gumawo, sonsaengnim..


*********

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Little Coward --HIATUS!!
« Reply #784 on: February 19, 2011, 01:05:42 am »
mian buat chp yg sgt terlambat [hmpfh] [hmpfh] moment minsunnya sangat sedikit,, tp ga sedikit moment hyesun and dongsae, jadi  .. semoga dinikmati [laughing] [laughing]

gw tunggu komentar2nya [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
huhuhu, itu omma pemaksaan banget.... baru tujuh belas tahun udah dijodohin... bagus deh lo hye sun minggat


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Chainezz_Vian

  • Guest
gumawo mii uda di update..  [flowers]
ooohhh... ini yg wktu itu mami kasih tau kan...  [chin] 
yg hye sun kabur gara-gara di jodoh in 

ckck... omma hye sun c gak nurut ama appa. jd gini kn akibat nya..  hammer2
hua  [cry]  bener-bener kasian ama hye sun  [cry] [cry]

tapii gak mungkin kn cuma gara-gara hal ini perjodohan hye sun di batal in... ya kn mii..?  [chin]
tar omma hye sun dateng ke seoul dooong,...? ketemu mino dooong...?
wahhh... bakal rame nie...

ditunggu mii next chap nya.
jangan lama-lama ya.
hwaiting!!!  [smiley-gen013]  [smiley-gen013]  [smiley-gen013]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
huhuhu, itu omma pemaksaan banget.... baru tujuh belas tahun udah dijodohin... bagus deh lo hye sun minggat
sebnrnya perjodohan itu sudah ada sejak kelahiran hyesun (karena dia cewek. klu cowok sih otomatis batal [biggrin] ). baru bener2 dirembukin wkt dia berusia 10 thn (tp ini belum resmi) .. menurut rencana perjodohan tersebut akan diresmikan setelah hyesun tamat sekolah/mulai kuliah. namun skerg dipercepat gara2 hal2 yg udah dijabarkan omma. [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
gumawo mii uda di update..  [flowers]
ooohhh... ini yg wktu itu mami kasih tau kan...  [chin] 
yg hye sun kabur gara-gara di jodoh in 

ckck... omma hye sun c gak nurut ama appa. jd gini kn akibat nya..  hammer2
hua  [cry]  bener-bener kasian ama hye sun  [cry] [cry]

tapii gak mungkin kn cuma gara-gara hal ini perjodohan hye sun di batal in... ya kn mii..?  [chin]
tar omma hye sun dateng ke seoul dooong,...? ketemu mino dooong...?
wahhh... bakal rame nie...

ditunggu mii next chap nya.
jangan lama-lama ya.
hwaiting!!!  [smiley-gen013]  [smiley-gen013]  [smiley-gen013]
perjodohan ini ga batal begitu saja [sweat] [sweat] itu tdk mungkin  mengingat perjodohan mereka sudah direncanakan lama sekali (sebelum kelahiran hyesun [biggrin] ) .. nyusl atau tidak omma ke seoul, gw jg belum tahu. semoga dia ga ketemu minho deh, tar malah lebih berabe lagi [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
gumawo mii uda di update..  [flowers]
ooohhh... ini yg wktu itu mami kasih tau kan...  [chin] 
yg hye sun kabur gara-gara di jodoh in 

ckck... omma hye sun c gak nurut ama appa. jd gini kn akibat nya..  hammer2
hua  [cry]  bener-bener kasian ama hye sun  [cry] [cry]

tapii gak mungkin kn cuma gara-gara hal ini perjodohan hye sun di batal in... ya kn mii..?  [chin]
tar omma hye sun dateng ke seoul dooong,...? ketemu mino dooong...?
wahhh... bakal rame nie...

ditunggu mii next chap nya.
jangan lama-lama ya.
hwaiting!!!  [smiley-gen013]  [smiley-gen013]  [smiley-gen013]
perjodohan ini ga batal begitu saja [sweat] [sweat] itu tdk mungkin  mengingat perjodohan mereka sudah direncanakan lama sekali (sebelum kelahiran hyesun [biggrin] ) .. nyusl atau tidak omma ke seoul, gw jg belum tahu. semoga dia ga ketemu minho deh, tar malah lebih berabe lagi [sweat]

gpp mii...
ketemuin aja, omma nya hye sun ama mino.
 supaya omma tau bahwa mino th lebih segalanya dr pd ank tmn'a appa  [lovestruck]  [lovestruck]
siapa tau kn mii...?  [hug]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
vian, kita lihat gimananya aje deh [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
vian, kita lihat gimananya aje deh [hmpfh] [hmpfh]

siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip
sip dech miii  [hmff] [hmff]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Mami hug hug kiss kiss. Komawo tengkyu mam da diupdate. Mamiii, hye sun br mau sweet seventeen ya, duh eomma hye sun timmingnya kgk pas ngmngnya,gimana hye sun kgk shock. Tp disini gw da liat ada sedikit perubhan dlm diri hye sun. Akhrnya hye sun bs blg TIDAK u/ sesuatu yg tdk di setujuinya. B'rarti cowo yg mau dijodohn ama hye sun bkn mino ye mam. " aku pasti akan menemukanmu" oh my sonsaengnim sweet bgt si, jd makin cinta gw pdmu. Mami TDC ayo update,hehehe.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
kasian si hye sun [cry] [cry]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
kasian si hye sun [cry] [cry]

awalnya kasihan, akhirnya keenakan [hmpfh] [laughing] [laughing]

shanty, iya hyesun udah bs tidak [lovestruck] [lovestruck] cowok yg dijodohkan ama hyesun tuh kira2 sapa ya [chin] [chin] dari dulu our sonsaengnim emang sweet kok,, suerrr gw jg suka banget ama kata2nya yg itu [hmpfh] duh duh sonsaengnim, elu membuat kita mabuk kepayang [laughing] [lovestruck]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun