Author Topic: The Little Coward --clueeeee!!! next banner and song ^^  (Read 49631 times)

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Little Coward --S.O.P I.L.E.R.
« Reply #1350 on: July 21, 2011, 03:32:59 am »
SONSAENGNIMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM

COWARDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDD

mami up date dunks mam, mami mami mami mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii



    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Little Coward --S.O.P I.L.E.R.
« Reply #1351 on: July 21, 2011, 03:50:24 am »
mami mami mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, gw boleh usul ga mam,hehehehe

kalo mami berkenan gw mo kasih masukan buat backsong little coward chapter 22 , lagu dari Jung young Hwa ( C.N.BLUE) Because I Miss You

http://www.youtube.com/watch?v=BMir4LoXAFQ


gw suka ni lagu gara2 ada minship yg buat MV fanmade , jadinya langsung nancep di hati



    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline mbah dukun

  • Junior
  • **
  • Posts: 142
  • My Name Is JangKelin
    • View Profile
Re: The Little Coward --S.O.P I.L.E.R.
« Reply #1352 on: July 21, 2011, 04:51:55 am »
kapan update mom?

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Little Coward --S.O.P I.L.E.R.
« Reply #1353 on: July 21, 2011, 06:01:13 am »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline mbah dukun

  • Junior
  • **
  • Posts: 142
  • My Name Is JangKelin
    • View Profile
Re: The Little Coward --S.O.P I.L.E.R.
« Reply #1354 on: July 22, 2011, 05:59:56 am »
belum ya mom???udah ngantuk nih krn sharian jampi2 minsun...sapa yg suruh lu nunggu?kata mami.

Offline Namutz

  • Junior
  • **
  • Posts: 197
  • nona goo is inspiring women
    • View Profile
Re: The Little Coward --S.O.P I.L.E.R.
« Reply #1355 on: July 22, 2011, 10:37:09 am »
updeteeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee momy kyuuuuuu sayanggggg kekekeekkee Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] updeteeeeeeeeeeee yaaaaaaaaaaaa ditunggu mommmmmm  [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04283] [AddEmoticons04283] [AddEmoticons04283] [AddEmoticons04283] [AddEmoticons04283] [AddEmoticons04283] [AddEmoticons04283] [AddEmoticons04283] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Little Coward --S.O.P I.L.E.R.
« Reply #1356 on: July 22, 2011, 11:51:50 am »




"No Ordinary Love"
http://www.youtube.com/watch?v=4XurGBwQjBg&feature=player_embedded

This could have been just another day
But instead we're standing here
No need for words, it's all been said
in the way you hold me near
I was alone on this journey
You came along to comfort me
Everything I want in life is right here

[Chorus:]

cause
This is not your ordinary
no ordinary love
I was not prepared enough
to fall so deep in love
This is not your ordinary
no ordinary love
You were the first to touch my heart
Made everything right again
with your extraordinary love

[Chorus]

I get so weak
when you look at me
I get lost inside your eyes
sometimes the magic is hard to believe
but you're here before my weary eyes
you brought joy to my world
set me so free
I want you to understand
you are every breath that I breathe

[Chorus]

From the very first time that we kissed
I knew that I just couldn't let you go at all
From this day on, remember this:
That you're the only one that I adore
Can't we make this last forever
This can't be a dream
cause it feels so good to me

[Chorus x2]





Kau mengemudikan mobil dalam diam. Sedangkan aku--melemparkan pandangan ke luar jendela, tanpa mau berpaling atau melirik sedikitpun kearahmu. Kubiarkan iris mataku menyapu pemandangan-pemandangan yang saling berkejaran seakan berlomba untuk menjadi yang paling depan di luar sana, .. padahal akhirnya, perlahan tapi pasti—segala sesuatu tersebut akan mundur dan menjauh dari pandangan. Aku menyandarkan kepala ke kaca jendela, .. menempelkan dengan lengket sampai uap dari hidung dan mulutku menyatu dengan kaca tebal yang sedikit gelap tersebut.

“Kau—masih marah padaku?”

“Eh?!!” Pertanyaan yang sangat pendek dan tenang mampu membuatku berpaling cepat. Mataku berkejap-kejap—tidak begitu menangkap arti pertanyaanmu.

“Kau masih marah padaku untuk ketidaksempatan menghubungimu selama dua minggu terakhir ini?” Kau memperjelas pertanyaan tadi.

Kutatap kau dengan sorot mata ngeri--horor. Sebegitu hebatnya kah kau sampai mampu menebak jalan pikiranku? Setepat ini?? Tidak kusangka—kau memahami maksud kebisuanku semenjak ikut denganmu beberapa menit yang lalu oww—o.O

“Miane .. ,” lanjutmu sambil melirik sedikit lewat ekor mata. “Aku tidak bermaksud tidak mengindahkanmu—hanya saja, .. pekerjaanku yang baru dimulai di sana—membutuhkan waktu yang lebih banyak dari yang dikira .. “

“Untuk .. menelepon sebentar saja .., apa .. itu juga menghabiskan waktu mu .. ?” Aku mencoba memprotes lewat sanggahan yang teramat lemah dan terdengar tidak bertenaga itu. Kepalaku tertunduk—menyapu converse putih yang kupakai. Jari-jari kakiku bergerak-gerak gelisah dalam balutan sepatu tersebut.

“Jadi benar kau marah padaku?” tanyamu kembali dengan nada sedikit mengoda.

Aku mengangkat kepala perlahan. Kulihat kau sedang menatapku saat ini—Hanya sepersekian detik pandanganmu berpindah kembali ke jalan. “Miane." ujarmu halus. "Kau mau memaafkanku, kan?”

Aku tidak mampu menjawab. Apalah yang bisa kukatakan kalau kau sudah melontarkan pertanyaan yang dimaksudkan seakan memohon padaku ini?

“Aku tahu kau—“ lanjutmu dengan perhatian yang masih terpusat ke depan. “Kalaupun aku menghubungimu—kau malah akan semakin tidak konsen .. “

“Eh?!” Aku yakin wajahku sudah semburat merah saking jengahnya. Sekali lagi kau berhasil menebak pikiranku o.O

"Tapi kau juga tidak lebih baik dariku--" Nada menuduh tiba-tiba terlontar dari bibirmu.

Aku menoleh, .. membelalakan mata tidak mengerti.

"Kau juga belum menjelaskan hubungan kita pada Dongsae--" lanjutmu sambil menatapku lekat, .. seakan menegur ketidakberdayaanku yang satu ini. "Jadi, kita seri--"

Detik berikut berlalu dalam diam. Aku menundukan kepala kembali. Mengigit bibir bawahku buat meredam rasa bersalah. Aku tidak menyadari kalau saat ini kau sedang mengulum senyum. Tangan yang memegang kemudi bergerak-gerak seirama alunan musik lembut yang terputar dari CD player kecil pada dashboard mobil.

“Kau belum makan kan?”

Pertanyaan itu membuatku mengangkat wajah dan berpaling lambat-lambat. Aku mengeleng perlahan.

“Kita high tea di café kecil dekat pantai—“ lanjutmu, mengambil keputusan sepihak, .. hingga mau tidak mau, aku hanya bisa mengangguk menyetujui.


________oOo__________



“Nih—“

Kau menyodorkan segelas coklat panas dalam gelas kertas ukuran small padaku. Aku melirik gelas tersebut sebentar--sebelum menerima dan menyeruputnya dengan nikmat. Mataku terpejam. Menarik nafas, dan menghirup dalam-dalam aroma coklat kental bercampur aroma laut yang terhembus dari uap-uap yang mengepul ke udara.

“Enak?”

Aku membuka mata dan berpaling padamu. Senyum lebar tersungging di bibirku. Aku mengangguk dengan semangat mengebu-gebu. “Ne. Sangat enak!!”

Kau tertawa. Tiba-tiba saja sebuah colekan mendarat di daguku. “Dasar—Little Coward!”

Panggilan yang begitu kurindukan. Sungguh—aku rela dipanggil Little Coward olehmu seumur hidup.

Kau meletakan gelas berisi cappuccino di tangan ke balkon pendek pemisah café di atas pantai dengan jurang terjal yang menjorok ke laut. Gulungan ombak membuncah menampar karang yang berduri tajam di bawah sana. Semburan-semburannya yang tinggi—membawa bulir-bulir air laksana embun dingin menyentuh sampai ke kulit.

Aku mengamatimu. Mata yang berkenyit itu tertuju ke depan, .. seakan mencoba mengapai sisi laut yang tak terjangkau oleh mata. Aku kemudian memindahkan pandangan ke depan. Saat itu—senja mulai menurun sampai ke batas laut. Kekelaman sayup-sayup menyelimuti jagat raya—bagai tabir yang ditambahkan selapis demi selapis ke muka bumi. Lembayung sore yang teramat tipis pun mulai berderak menjauh—pergi digantikan peraduan sang dewi malam.

Kau menghela nafas perlahan. Cappucino yang sudah dingin kau angkat dari balkon dan hirup sampai habis. Gelas yang sudah kosong kemudian kau jatuhkan ke dalam tong sampah yang tersedia dekat situ. Aku memajukan bibir ke depan—melirikmu ragu-ragu tanpa berani berucap apa-apa. Kau terlihat sedang disibukan dengan pikiran yang cukup ruwet, dan aku tidak berani menganggumu.

Dengan sangat pelan kau bergeser mendekatiku. Sepasang lengan kekar dan panjang tersebut tiba-tiba terjulur dan menekan kedua sisi pundak ku—menurun dengan gerak yang sangat lambat sampai menumpu di pinggir balkon. Aku terjepit ke balkon—di antara tubuh raksasamu yang mengukungku dari belakang dan pagar balkon yang berpilar jarang-jarang.

“Eh—a .. pa .. “ Pertanyaanku tercekat di tenggorokan.

Seperti tidak terjadi apa-apa, ... tubuh jangkungmu condong ke depan hingga dagu lancipmu mendarat dan menyandar di pundak ku—kau lalu mengangkat telunjuk ke atas. “Lihat—bintang—“

Aku mendongak dengan gugup. Desah nafasmu terasa begitu dekat di tenguk ku—menerpa-nerpa halus membuatku geli. Hingga aku melirik takut-takut.

“Ingat bintang itu?”

“Eh??!!” Aku beralih ke depan dan menatap linglung. Maklum saja—saat ini pikiranku sedang melayang. Mengambang-ngambang menembus awan--mengkhayalkan yang tidak-tidak.

Aku mendongak dan mengikuti arah telunjukmu. “Apa itu?” Aku balas bertanya.

“The Little Coward .. “

“Dhe?!” Aku mengalihkan perhatian dengan cepat padamu.

Kau menunduk dan menatapku, hingga pandangan kita bertemu dalam jarak yang sangat dekat. “Itu bintang yang sama .. ,” jawabmu pelan dan lirih. Sekali lagi desah nafas itu menerpa kulitku—kali ini di bagian muka, bukan lagi di tenguk seperti tadi. Tanpa sadar aku memejamkan mata dan menghirup aroma mint teramat kental yang terhembus dari hidung dan bibirmu—terutama dari kulit coklat bersih yang memberi kesan maskulin namun alami itu. “Bintang yang sama seperti yang kita lihat di pinggiran Han River .. “

“Jeong .. mal .. ?” Mataku tertuju pada bibirmu. Entah mengapa desah nafas yang memabukan tersebut membuat tatapanku terpaku pada titik itu. Ingin sekali aku menyentuh dan merasakan bibir lembab yang saat ini bergerak-gerak halus itu.

“Ne .. “ Tiba-tiba saja kau menarik diri hingga terlepas dari tubuhku, .. yang terus terang saja membuatku sedikit kecewa. Aku sudah membayangkan—bahwa bibir itu akan menyentuhku, mencium dan melumat bibirku dengan lembut.

Kau menarik tanganku secara tiba-tiba. “Kacha!”

“Eh—mau ke mana?” tanyaku yang tentu saja langsung berubah gugup.

“Apa kau tidak lihat  di atas sana--" Kau menunjuk seraya menengadah ke atas.

"Mw .. wo .. ?" tanyaku gugup.

"Hujan!!"

“Dheee??!!” Belum selesai perkataanku, rintik-rintik air sebesar biji beras sudah dijatuhkan ke bumi. Membasahi tubuhku yang hanya terbalut seragam tipis. "Woahh!!!!" Aku menjerit sambil mengangkat tangan, berusaha melindungi diri dari terpaan hujan deras yang datangnya sangat mendadak itu.

"Kacha!!"

Tarikan darimu semakin kencang, hingga mau tak mau kakiku kugerakan jua.

"Kita harus cari tempat berteduh!" Kau masih menatap langit yang semakin kelam. "Ke mobil saja dulu--palli!!"

Kita jadi berlari-larian kecil di bawah guyuran hujan. Kau mengenggam erat tanganku--menapak dengan langkah cukup lebar, sekitar dua langkah di depan, .. sementara aku berlari dengan langkah panjang-panjang--berusaha mengimbangi langkahmu yang tidak bisa dibilang lamban. Hujan yang semakin deras menderu-deru--menerpa tubuh kita hingga basah seluruhnya. Agak menampar dan menimbulkan sedikit nyeri di kulitku.

Aku melirikmu lewat kelopak mata yang kubuka dengan agak susah payah. Pandanganku sudah sangat kabur. Siraman hujan mengenai iris mataku hingga terasa perih.

Dalam terpaan hujan yang sesungguhnya tidak bisa dikatakan romantis tersebut, .. aku tersenyum. Genggaman tanganmu kupererat. Entah kenapa, .. di udara yang seharusnya mengigit tulang ini, aku merasakan hawa lain mengalir ke tubuhku. Hawa hangat yang tak terkira. Perhatian darimu juga sempat membuatku terpana. Aku berlari mengikuti langkahmu yang semakin cepat, menuju mobil yang terparkir di halaman depan cafe.

Kau membuka pintu dengan agak tergesa-gesa dan sedikit 'mendorong' membantuku masuk ke dalam mobil.

"Palli!" katamu dengan nafas agak tersengal.

Aku mengikuti tanpa protes. Mataku masih saja tertuju padamu ketika menjatuhkan diri di bangku depan, .. seakan kau merupakan satu-satunya manusia di dunia yang tak mampu membuatku berpaling. Kau kemudian menutup pintu di sisiku. Memutari mobil menuju pintu sebelahnya. Kemudian kau membuka pintu tersebut, masuk ke dalam. Kau mengibaskan air dari rambut dan setelan jas yang basah, menyalakan mesin mobil dengan anak kunci yang kau keluarkan terburu-buru dari saku celana.

Mesin menderu halus, .. kau melepaskan pegangan dari kemudi, menyamping sedikit buat memakaikan sabuk pengaman pada tubuhku. Tak ada suara yang terucap seiring kegiatan tersebut. Begitu juga, begitu menyilangkan sabuk pengaman satunya ke tubuhmu sendiri.  

Lalu kau memutar tubuh menghadap ke jok belakang. Meraih sehelai handuk kering warna putih yang tidak begitu besar, kemudian menjatuhkannya di kepalaku.

"Keringkan badanmu. Kita akan mencari tempat berteduh yang labih baik dari mobil ini .. "

Aku mengangga dengan sepasang mata tak mampu dikedipkan. Tanganku bergerak lambat-lambat--mengosok-gosokan handuk tersebut di rambutku. Kau mengalihkan pandangan ke depan, menaruh tangan di gagang kemudi, .. kemudian menginjak pedal dan melajukan mobil tersebut .. lambat-lambat meninggalkan halaman depan cafe.


_________oOo___________




"Lihat--di sana ada gubuk kecil!" Kau menunjuk dengan telunjuk kanan ke depan. "Kelihatannya, .. gubuk tua dan tak berpenghuni .. " Suaramu terdengar agak riang dan lega, .. berlainan denganku yang masih mendekam dalam kegelisahan.

Ini bisa dimaklumi, karna semenjak keluar dari areal cafe pinggir pantai tadi, kita hanya berputar-putar saja di kawasan perhutanan kecil yang cukup lebat. Dan semua dilakukan hanya guna untuk mendapatkan tempat berteduh yang cukup layak, yang ternyata tidak mudah ditemukan. Waktu hampir menunjukan pukul 7 malam kala itu. Dan perutku mulai keroncongan.

Dengan lambat-lambat aku mengalihkan pandangan ke depan. Keadaan di sekitar memang sudah membuatku agak merinding sejak tadi, hingga enggan bergerak. Dan sekarang, mataku dibuat terbelalak lebar. Gubuk yang kau maksud terlihat angker. Tetumbuhan menjalar membalut gubuk tersebut dengan tak beraturan dan lebat, menutupinya hingga hampir tidak tampak dari luar. Semak-semak berduri dan lumut-lumut pekat memenuhi serambi depan. Sementara kegelapan dan kesunyian menyelimuti keadaan di sekelilingnya, .. memperdengarkan detak-detik hujan yang belum jua mau berhenti. Bahkan semakin lebat. Suara-suara binatang malam juga serasa mengerikan. Sesekali, terdengar kukukan burung hantu yang mendirikan bulu roma. Aku mengelus-ngelus lenganku berkali-kali sambil menyusut perlahan, .. sampai memojok di sudut bangku.

Kau melambatkan laju mobil dan menghentikannya agak jauh di depan gubuk yang dimaksud. Tanaman-tanaman rambat yang teramat lebat memang menghalagi jalan masuk ke gubuk. Setelah itu kau mematikan mesin, menarik kunci dari lubangnya kemudian memasukan ke dalam saku. Kau melepaskan sabuk pengaman dan berpaling padaku.

"Ayo turun!" Kau meraih tanganku.

"Hah?!!" Aku terbelalak ngeri. Pergelangan tangan yang kau genggam segera kutarik kembali. Aku menyusut semakin dalam di bangku ku. "Antwee!!"

Alismu berkenyit. "Weeyo?"

"Di .. di sini saja ya .. ?" ujarku dengan nada lirih dan memelas. "Sa .. saya tidak mau .. ke .. dalam .. sana .. " Aku menunjuk gubuk di depan dengan tangan gemetar.

"Wee?" Kau mengulangi pertanyaan tadi.

Aku mengeleng keras-keras. "Sa .. saya tidak mau .. Pokoknya antwee!!"

"Yaa--Goo Hye Sun!" Kau menjadi tidak sabar. "Turun sekarang juga! Kita memerlukan udara segar sedangkan Ventilasi di sini tidak cukup. Sirkulasi udaranya tidak baik .. Aku tahu kau takut gelap, tapi ... " Tampangmu berubah lebih lembut. " .. jangan protes lagi. Ayo keluar--"

Kau membuka pintu dengan agak keras. Hujan yang masih turun dengan deras langsung menerpa tubuhmu. Pakaian yang semula sudah mulai kering menjadi basah kembali. Namun kau tidak memperdulikannya. Kau melangkah keluar dan memutari mobil ke pintu di sampingku. Kau buka pintu tersebut sambil membilas wajah yang dipenuhi air.

"Ayo keluar!" Kau menarik tanganku.

Aku berusaha menghindar dengan menarik diri ke belakang. "Ti .. tidak! Sa .. saya mohon, Minho-a ... "

Kau membuka sabuk pengaman yang masih melingkar di tubuhku dengan sedikit paksa, kemudian kembali meraih dan menarik tanganku. "Tidak ada yang perlu ditakutkan. Saya akan berada di sini--selalu. Menemanimu .. "

Aku tertegun. Perkataanmu yang menenangkan dan terdengar halus tersebut membuatku terbujur kaku. Tidak sadar ketika kau menarik ku keluar dari mobil. Aku menyandar di pintu yang sudah kau tutup. Menanti kau selesai membuka jas yang kemudian kau angkat guna melindungi tubuh kita dari guyuran hujan. Ya, walau itu--kurasa tidak begitu perlu lagi mengingat tubuh kita sudah basah semua.

"Kacha!"

Kau menyentuh pundak ku dengan lengan atasmu--sebagai tanda bagiku agar mulai bergerak ke depan. Aku melangkah, lalu kita mulai berlari-lari kecil kearah pondok yang terlihat kelam di luar sana.

Kita berhenti tepat di depan pintu gubuk. Kau mengibaskan jas yang sudah basah kemudian mengantungkannya di salah satu ranting tanaman rambat yang banyak menempel di dinding gubuk.

Kau mengulurkan tangan, menyentuh lalu menekan gerendel yang sudah diselimuti karat yang cukup tebal. "Tidak dikunci .. "

Drekk ... Pintu terbuka perlahan-lahan. Berderak-derak malas dan terhempas dengan cukup keras pada engselnya yang sudah berkarat. Aku segera mencengkram lenganmu.

"Min .. Min .. ho-a .. "

Wajahku sudah pucat ketika kau menyentuh punggung tanganku.

"Gwencanayo," katamu seraya merangkul pundak ku. "Kita ke dalam .. ," ajakmu pelan.

Aku terbelalak. Dengan gerakan yang sangat lambat, aku mengalihkan pandangan ke dalam gubuk. Sangat gelap. Samar-samar, terdengar suara jangkrik-jangkrik malam mengerik dan desis-desis halus yang ... entah apa itu. Aku menyusut semakin rapat kearahmu.

"Min ... Minho-a .. A .. apa itu .. ?" tanyaku lirih dan bergetar. Aku makin ketakutan. Cengkraman di lenganmu semakin erat. Aku bahkan membenamkan kuku-kuku tanganku ke kulit lenganmu.

"Ssstt--" Kau menempelkan jari di bibir--tersenyum mencoba menenangkanku. Berulangkali kau menepuk-nepuk punggung tanganku yang masih betah tertelungkup mencengkram lenganmu. "Itu hanya suara angin meniupkan daun-daun kering .. "

"Jin .. jinja?" tanyaku gagap.

Kau memperdalam senyum mu, dan mengangguk. "Ne .. " Lalu kau meraih tanganku--untuk kesekian-kalinya hari ini--"Ayo masuk ke dalam .. "

Aku melangkah takut-takut--dengan tangan yang bergayut ketat di lenganmu. Sesekali tubuhku mengejang. Suara desisan halus tersebut terdengar lagi. Aku memejamkan mata rapat-rapat, dan tanpa ragu-ragu membenamkan kepalaku dalam-dalam di dadamu.

Aroma mint yang sangat kental dan menenangkan langsung menerpa hidungku. Aku menghirupnya dalam-dalam. Tiba-tiba saja kaki ku terantuk sesuatu, .. keseimbanganku hilang, dan aku hampir ambruk ke lantai.

"AKHHH!!" Kurasakan sepasang tangan yang sangat kekar menarik ku berdiri.

"Gwencana?" Kau bertanya dalam kegelapan.

Aku mengangguk. Sekujur tubuhku bergetar hebat. "N ...e ... "

Lalu kurasakan tanganmu menekan kedua pundak ku. "Duduklah di sini. Ingat--Jangan bergerak, dan jangan kemana-mana. Aku akan mencari dahan-dahan kering yang bisa dipakai untuk membuat api unggun .. "

Aku mengangguk kembali--sangat pelan dan tidak menimbulkan suara.

"Kau mendengarku, Hyesun-a?"

"N .. e .. ," aku mendesah lirih.

"Bagus .. " Tertangkap samar oleh pandanganku--lewat cahaya buram bintang-bintang yang jatuh dari pintu yang dibiarkan terbuka, bayang-bayang tubuhmu berdiri dari posisi bungkuk.

Aku segera menarik lenganmu. "Ti .. tidak! Jangan tinggalkan aku .. sendirian .. "

Kau menepuk punggung tanganku kembali--dan menatapku lekat. Seakan menyakinkan dan menyalurkan kekuatan yang sangat kuperlukan saat ini, .. yang tadi--sempat hilang entah kemana.

"Jangan khawatir, .. dan jangan takut. Aku akan segera kembali .. "

Aku melihat tanganmu merogoh ke balik kemeja yang basah, .. terlihat sedang melepaskan sesuatu. Setelah itu kau genggam erat. Kau meraih tanganku, dan meletakan benda tersebut ke telapak tanganku.

"Ini akan menjagamu ... ," katamu pelan, sambil mengatupkan jemari-jemari tanganku. Kurasakan sesuatu yang keras agak menusuk dalam genggamanku. Yang saat ini, malah terasa hangat. Mungkin sisa-sisa aura yang terpendar dari tubuhmu sudah tertanam dalam benda ini. Aku membuka tangan dan menatapnya nanar.

"Apa .. ini .. ?"

Benda tersebut, .. sebuah liontin berwujud hewan aneh berkepala dan bersayap elang tapi bertubuh singa?

Aku menengadah, "A .. apa ini .. ?"

Kau menjatuhkan diri, .. berjongkok hingga sejajar denganku. Irismu jatuh, menatapku lekat-lekat. "Ini liontin peninggalan halmonie." katamu pelan. "Hn--dia sudah mendatangkan banyak berkah padaku. Dia, .. seolah--senantiasa melindungiku dari mara-bahaya. Sekarang, kuserahkan padamu. Dia akan menjagamu sampai aku kembali .. Tidak lama kok--" Kau kembali menepuk tanganku, lalu beranjak bangun dari posisi berjongkok di lantai. "Jangan kemana-mana, .. araso? Jika takut, genggamlah dia yang erat. Pejamkan mata dan tutup telingamu .. "

Kau mundur perlahan. Memutar tubuh kearah pintu, dan mulai berjalan sambil meraba-raba. Aku menghela nafas tertahan, menundukan kepala dan meremas liontin pemberianmu erat-erat, .. Kuangkat wajah sambil menelan membasahi tenggorokan yang terasa kering. Bayanganmu perlahan-lahan menghilang--tertelan dewi malam yang semakin larut.

Nyanyian jangkrik-jangkrik dan binatang-binatang malam makin menguasai sekeliling gubuk tempatku berteduh. Aku mengigil, .. menyusut lambat-lambat dengan sepasang kaki ku, sampai punggungku mengenai dinding tua yang terasa dingin dan beku.

"Hikss .. " Tanpa terasa, .. bulir-bulir airmata menitik turun, jatuh mengenai rok seragamku yang basah.


___________oOo___________



 
Entah sudah berapa lama aku meringkuk di pojok gubuk yang ditimbuni dedaunan kering dan sampah-sampah mengunung sisa-sisa kebiadaban manusia-manusia tak bertanggungjawab tersebut. Lima menit? Sepuluh menit? Atau .. bahkan lebih? Aku sudah tidak memikirkannya lagi. Bahkan teriakan-teriakan binatang malam juga sudah tak kuperdulikan. Wajahku terbenam seutuhnya di antara dua kaki yang kudekap erat-erat.

Bunyi samar-samar, yang terasa asing dengan suara-suara barusan, menarik perhatianku. Perlahan-lahan, aku mengangkat wajah dan mengarahkannya ke depan. Dari celah pintu yang terkuak lebar, dengan diterangi sinar bintang yang sangat terbatas, .. sesosok tubuh yang bayangannya memanjang memasuki gubuk. Di tangannya, tergenggam sesuatu. Panjang-panjang dan runcing, terlihat seperti cakar-cakar yang menyeramkan. Aku beringsut ngeri. Namun tidak ada tempat bagiku untuk melarikan diri. Aku terjepit di antara bayangan itu--yang semakin mendekat dan mengancam, dengan tembok gubuk yang teramat dingin.

“AKHHH!!” Aku memejamkan mata dan memekik nyaring.

Sesuatu yang terasa dingin menyentuh dan menarik tanganku. “Weeyo??”

“Tidak!! Jangan menyentuhku!!” Aku menepis tangan itu. Memukul dan mencakar membabi-buta. “Pergi--!!”

“AKHH!!”

Ringisan tertahan dari orang yang kesakitan terdengar. Aku termangu. Menghentikan kehisterisanku seketika. Suara itu tidak asing .. begitu kukenal. Aku membuka mata lambat-lambat, .. dan dengan masih diselimuti ketakutan yang mencekik leher, aku memberanikan diri menajamkan penglihatan ke depan.

“Gwencana?” Kau sudah berada begitu dekat denganku. Pandangan sejajar terarah ke mataku. Kau terlihat agak khawatir. “Gwencana, Hyesun-a?” Kau mengulangi pertanyaan tadi. Tanganmu terangkat menyentuh wajahku, agak menekan sedikit.

“Min .. Minho-a … “

Aku tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menghambur ke pelukanmu. Aku menangis tersedu-sedu dalam rangkulan sepasang tanganmu yang kekar dan berotot. Ketakutan yang tadi hampir membuatku mati berdiri, terlampiaskan sudah. Aku mencengkram kemejamu yang terasa makin basah oleh air hujan yang kini menitik-nitik ke lantai. Membenamkan wajahku di dadamu sampai bisa kudengar degup jantung halus yang bermain-main di sana.

“Gwencanayo .. “ Suaramu mendayu.

Aku memejamkan mata, .. merasakan jemari-jemari panjangmu mengelus-ngelus rambutku.

“Tidak ada yang perlu ditakutkan, .. paboya. Aku kan hanya pergi sebentar, tidak sampai lima menit … “ Suaramu kembali menyapu pendengaranku.

Aku membuka mata, lalu menengadah hingga iris kita saling bertemu.

“Lima menit?” tanyaku linglung. “Benarkah .. secepat itu?”

Kau tersenyum. “Ne .. Memangnya kau kira berapa lama aku pergi?”

“Eh—“ Aku jadi kebingungan sendiri.

Kau menepuk pundak ku dan memberi isyarat agar menyingkir sedikit dari tubuh mu.

“Duduk agak ke samping sedikit. Aku akan mulai membuat api unggun .. Pakaian kita harus dikeringkan kalau tidak—bisa-bisa jatuh sakit ..“

Aku mengangguk. Setelah melepaskan diri dari rangkulanmu, aku menyingkir ke pojok sebelah kanan ruangan. Dan mulai mengamati kesibukanmu yang baru dimulai.

Kau meraih kembali benda panjang-panjang bak cakar-cakar tajam, yang ternyata ranting-ranting kering yang kau bawa dari luar dan yang tadi sempat kau hempaskan begitu saja ketika diserang olehku, dari lantai. Mengumpulkannya, dan menjadikannya satu di sebuah sudut dan mulai mencoba menyalakan api dari geretan gas yang keluarkan dari balik saku kemeja. Berkali-kali kau memantik geretan tersebut—namun tidak mau menyala. Kau melakukannya terus,hampir lima menit mencobanya—tapi tidak juga berhasil. Kau mengamati pemantik api di tanganmu.

“Hmm—bercampur dengan air .. ,” gumam mu tak jelas. “Pantas saja .. “

Sambil menarik nafas panjang-panjang, kau melempar geretan tersebut ke lantai. Lalu memutar tubuh—merubah posisi jongkok mu, .. mulai meraba-raba dan menekan-nekan lantai, seakan mencari-cari sesuatu. Sangat samar aku melihatmu tersenyum.

“Dapat!! Ternyata di sini memang ada batu!”

Mataku melebar. Sama sekali tidak menangkap arti perkataanmu. Kau bergerak pelan, mungkin takut terantuk sesuatu dalam kegelapan yang agak membutakan tersebut, .. kearah tumpukan dahan dan ranting kering di tengah ruangan. Setelah itu kau mengesek-gesek dan membentur-benturkan dua batu besar di tanganmu. Sesaat tidak terjadi reaksi apa-apa dari kedua batu tersebut. Namun, beberapa lama kemudian, terlihatlah percikan-percikan api berpendar dari pergesekan tersebut.

“Wahhh—“ Mulutku mengangga dengan tidak elitnya, .. dagu juga hampir membentur lantai (becanda ding haha). Begitu juga sepasang bola mataku, .. seolah akan terpental dari rongganya. “Luar biasa!!”

Kau melirik ku sekilas. Senyum tipis tersungging di bibirmu. Kemudian kau mengumpulkan setumpuk daun kering dan mendekatkannya ke sepasang batu yang menghasilkan percikan-percikan api tersebut ke dekatnya. Sebentar saja api kecil tersulut. Kau menambahkan dahan-dahan dan ranting-ranting kering. Api semakin lama semakin besar, sampai akhirnya terbentuk api unggun yang diinginkan.

“Kemarilah!” Kau melambaikan tangan padaku. “Keringkan badanmu di sini.”

Seolah terhipnotis, aku bergeser menghampirimu. Sedikit nyeri dan berdenyut-denyut kurasakan di pangkal kakiku. Aku meringgis kecil sambil mengigit bibir.

“Weeyo?” Kau melirik ku.

Aku mengeleng sambil mencoba menyunggingkan senyum. “Aniyo .. “

“O—“ Kau mengangguk, … begitu memastikan aku tidak apa-apa, dengan gerak lambat kau bangkit dari lantai.

“Mau kemana?” tanyaku segera, begitu melihatmu sudah mengerakan kaki.

Kau menoleh padaku. “Keluar sebentar. Ambil jas yang kutinggalkan di luar untuk dikeringkan. Lumayan dijadikan penghangat .. “

“O—“ Aku mengiyakan dengan enggan. Jujur saja, walau keadaan di sekitar sini sudah terang-benderang oleh cahaya api unggun, tetap saja aku merasa takut dengan tempat asing ini. Apalagi, beberapa binatang merambat terlihat berlarian kesana kemari dengan leluasa. Aku menatap mereka ngeri. “Jangan .. lama-lama .. “

“Iya .. “

Kau berjalan keluar. Tanpa sadar, .. aku meremas liontin pemberianmu erat-erat dan memejamkan mata. Tidak sampai semenit, kau kembali lagi.

“Lebih mendekatlah ke api .. “ Terdengar suaramu yang berat dan dalam. “ .. biar pakaianmu cepat kering .. “

Aku membuka mata perlahan. Pandanganmu menurun ke tanganku.

“Liontin itu membantu?”

Aku membuka tanganku dan tersenyum lega. “Ne .. “

Kau ikut tersenyum. “Bagus kalau begitu .. “ Lalu kau membentangkan jas yang basah di tanganmu, mendekatkannya ke api.


___________oOo___________



“Hujan sudah berhenti!!”

Aku berteriak dari balik jendela yang kisi-kisinya sudah patah di beberapa bagian. Aku melongok keluar, dengan tangan bertumpu pada kerangka jendela besi yang sudah sangat berkarat. Di luar, .. angin berhembus semilir. Menyisakan tetes-tetes air yang menitik pelan dari pucuk-pucuk daun dan pepohonan. Hujan sudah benar-benar berhenti.

Aku menoleh padamu yang sedang berjongkok mengorek api unggun dengan sebatang kayu. Kobaran api yang semula menyala terang, perlahan-lahan mulai meredup dan meniupkan serpihan-serpihan bara panas warna oranye ke udara dengan disertai asap dan debu tipis. Kau mengangkat wajah, dan tersenyum padaku.

"Kita bisa pergi dari sini. Segera--" Aku berseru girang.

Kaki ku bergerak selangkah. Aku meringgis. Tiba-tiba saja, rasa nyeri di pangkal kaki ku menyerang kembali. Aku goyah. Tubuh ku limbung dan hampir tersungkur ke lantai. Beruntung kau melihatnya, hingga segera meraih tubuhku. Aku tidak jadi jatuh. Malah mendarat di dadamu.

"Gwencana?" Kau bertanya dengan mata terbelalak.

"Eh, .. gwen .. gwencanayo .. ," jawabku gagap, dan tersengal-sengal. Jemariku meremas erat kemejamu--masih sangat terguncang dengan kejadian tadi.

"Jinja??" Kau menatapku lekat-lekat, dengan pandangan tak berkedip. Terlihat benar kalau kau sangat terkejut dan khawatir.

"N .. ne .. " Aku menjawab gugup tanpa berani membalas tatapanmu.

Kau menghembuskan nafas. Kurasakan genggamanmu di lenganku. "Kalau begitu, duduk dulu .. "

Aku mengangguk. Kau menuntunku dengan lembut, kemudian mendudukan ku di sudut bawah jendela. Aku menjatuhkan diri dengan tertatih-tatih.

"Sakit?" Kau menatapku.

Aku mengigit bibir dan menunduk perlahan. Tidak menjawab.

"Sakit?" Kau mengulangi pertanyaan tadi.

Aku mengangkat wajah. Membalas tatapanmu untuk beberapa lama lalu, .. mengeleng pelan. Tentu saja bohong karna pangkal kakiku sungguh berdenyut-denyut nyeri. Sakitnya tidak terkira.

"Ckkk--" Kau berdecak. Agak paksa, .. karna aku menyusut takut-takut, .. kau menarik kaki kananku yang tadi bergerak tertatih-tatih. Kau menekan kaos kaki ku ke bawah, dan ... terlihatlah sekarang--pangkal kakiku yang membengkak seperti gajah. Juga lingkaran yang membiru kehitam-hitaman.

"Minho-a ... " Aku menolak ketika kau menyentuh pangkal kakiku.

"Bengkak begini kau bilang tidak apa-apa?" tegurmu keras.

"Hn--" Aku bergerak gelisah di posisiku. Apalagi ketika kau mulai melepaskan sepatu yang membalut kakiku. "Ti .. tidak usah ... "

"Kalau dibiarkan terus, kakimu akan semakin parah, tahu??!!" Kau menatapku tajam-tajam.

Aku membungkam. Tidak berkata apa-apa lagi ketika kau mulai mengurut kakiku. Aku mengigit bibir ketika tekananmu mengenai bagian yang paling nyeri.

"Di sini?" Kau mengangkat wajah dan menatapku.

Aku mengangguk. "N ..e .. "

Kau menghela nafas dan mengembalikan perhatian pada kakiku. Kau mengurut kembali. Kali ini lebih halus dan penuh perhatian. Aku mengamati kesibukanmu dalam diam. Perlahan, .. kumiringkan kepala ke samping. Rambutmu yang sudah hampir kering tergerai menutupi jidat dan sebagian wajah. Beberapa helainya jatuh bergerak-gerak halus tertiup seiring desah nafasmu.

Aku berkejap. Betah di posisiku. Menatap pemandangan menarik yang tersaji gratis di depan mataku. Tanpa sadar, .. kepalaku menunduk semakin rendah. Hingga mataku menatap jelas irismu yang gelap tidak berkejap menekuni kegiatan mu mengobati cedera di pangkal kakiku. Semuanya terasa begitu ajaib. Hingga aku tidak sadar ketika kau merobek lengan kemejamu dan membalutkannya di kakiku.

“Selesai .. “ Kau menepuk lembut kakiku.

“Eh?!!” Aku tersentak--kaget. Segera menarik diri ke belakang, dan membuang muka, seakan tidak terjadi apa-apa.

“Apa lebih baik?” Kau menatapku.

“Hn—“ Aku menunduk, menatap kakiku. Dan baru kusadari kini, kaki ku sudah terbalut apik oleh robekan kain yang terlihat tidak asing. Aku berbalik padamu. Dan terlihat sekarang, kemeja bagian lenganmu, di sebelah kanan, telah lenyap. Kutatap balutan di kakiku kembali. Ternyata sobekan tersebut telah digunakan untuk membalut kakiku.

“Bagaimana?”

Aku mengangkat kepala, .. lalu mengangguk pelan. “Ne. Sudah lebih baik .. “

Kau tersenyum. “Bagus.” Lalu kau menuntun—membantuku untuk berdiri. “Sekarang, apa kau bisa berjalan sendiri?”

Aku ragu-ragu sejenak. Sambil memantapkan hati, kucoba untuk mengerakan kaki ini. Dan ..

“Akh!” Aku menjerit tertahan. Rasa nyeri di kakiku mengigit sampai ke tulang.

Kudengar kau menghela nafas. Hanya sepersekian detik aku berbalik, kau sudah menjatuhkan diri—berjongkok di hadapanku.

“Eh??!!” Aku terbelalak lebar. “A … apa yang kau .. lakukan, Minho-a .. ?” tanyaku gugup.

“Naik ke punggungku .. “ Kau berkata sambil menoleh dengan posisi memunggungiku. “Biar kugendong kau!”

“Mwo?!!” Aku semakin dibuat terkejut oleh ulahmu.

“Naiklah!” Kau mengulangi perkataan tadi.

“Ta .. tapi .. “ Aku berusaha menolak. Pipiku mulai memanas. Dan tanpa perlu menebak juga, aku tahu pipiku sudah bersemu merah. “ .. a .. aku .. “

“Cepatlah naik!” Kau mengulangi kembali. Terlihat kesabaranmu sedang diuji. “Kakiku kelu kalau jongkok terlalu lama!”

“Ah—tidak perlu!” Aku kemudian menampik dengan gusar.

“Jika kau tidak mau, aku akan keluar sendiri. Dengan begitu, kau akan sendirian dalam gelap. Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi padamu nanti .. “

Aku bergidik ngeri. Kata ‘Gelap’ darimu memiliki pengaruh ajaib. Tidak tahu sejak kapan, aku sudah bertengger di punggungmu. Melingkar dengan sangat erat di leher dan pinggangmu.

“Per .. pergi .. “

Aku tidak melihat bagaimana kau menyengir tipis. Kau berjalan kearah api unggun, mematikan sisa-sisa bara dengan pasir dan tanah yang dikorek dengan kakimu. Setelah memastikan timbunan tersebut sudah benar-benar padam, kau bergerak dalam gelap—dengan aku yang bergayut erat di punggungmu. Menuju ke pintu keluar dengan hanya berpatokan pada sinar buram bintang-bintang.

“Min .. Minho-a .. “ Aku mendesis ngeri. Kegelapan ini sungguh menakutkan bagiku. Apalagi ditambah nyanyian binatang malam yang makin kentara dan menyeramkan. Kupeluk kau semakin erat. Wajahku menempel ketat di sela-sela tenguk dan wajahmu.

“Mau dengar dongeng?” Pertanyaanmu memecah kesunyian malam.

“Dhe?” Aku membuka mata yang tadi terpejam rapat. “Dongeng?”

“Ne .. “

Aku berpikir sejenak. Untuk sementara, ketakutan-ketakutan tadi sirna begitu saja. Lenyap bagaikan asap. Namun itu tidak lama, .. karna sebentar saja keadaan mencekam dalam kegelapan hutan ini menyadarkanku akan ketakutan itu kembali. Aku menekan tanganku erat-erat di lehermu. Mengeleng kuat-kuat.

“Pada jaman dahulu kala .. “ Kau mulai bercerita.

Aku kembali membuka mata perlahan-lahan. Mengarahkannya pada mu.

“ .. ada seorang gadis cilik yang tinggal bersama halmonienya dalam sebuah gubuk reyot dalam hutan .. ,” Kau melanjutkan cerita tersebut. “ .. Gadis cilik itu .. sangat takut pada kegelapan. Oleh sebab itu, .. setiap malam tiba, halmonie akan menyalakan sebatang korek api yang merupakan bagian dari dagangan mereka untuk dijadikan teman sebagai penerang buat menemani si gadis cilik waktu tidur. Walau mereka sangat miskin, dan korek api merupakan satu-satunya nafkah hidup mereka, halmonie rela menyulutnya hanya buat cucu satu-satunya ini. Semua dilakukan karna, si halmonie tahu kelemahan si gadis kecil. Dia tidak akan dapat tidur dalam kegelapan. Karna dia takut gelap. Dan beruntung, .. si gadis kecil tidak pernah rewel. Dia akan tertidur lelap sebelum batang korek api tersulut habis. Hingga halmonie tidak perlu membakar batang korek api kedua. Dengan begitu, pengeluaran mereka tidak bertambah .. “

Sampai kau menyelesaikan dongeng pendek tersebut, aku tidak mengeluarkan suara. Berdiam diri menyusutkan kepala di sela-sela tengukmu. Menaruh dagu di atas pundakmu yang lebar dan bergerak-gerak halus sambil memandang nanar ke depan, .. berupaya menembus kegelapan yang mencekam. Mataku mulai terasa panas. Lapisan embun membalut selaput luar hingga agak-agak memerah. Aku mengigit bibir—menahan agar airmata ini tidak sampai tumpah. Sementara kau terus melangkah lambat-lambat, menuju ke mobil yang terparkir beberapa meter dari gubuk tempat kita berteduh.

“Bagaimana?” lanjutmu kemudian. “Apa kau suka cerita ini?”

Aku memanyunkan bibir beberapa senti. “Kau membuatku teringat pada dongeng ‘Gadis Penjual Korek Api’ … Menyedihkan .. “

Tiba-tiba, dalam kegelapan yang hanya ditemani sinar bintang-bintang kecil tersebut, .. suara tawa mu pecah. Renyah dan terasa enak di telinga, .. memecah kesunyian yang diisi nyanyian-nyanyian binatang malam di malam itu. “Berbeda .. “

“Mwo?” Mataku melebar, tidak mengerti.

“Berbeda kataku." sahutmu kembali. "Gadis penjual korek api yang kau katakan tadi, sendirian di dunia ini. Kehidupannya sangat tragis. Tidak ada yang menemaninya, .. hingga akhir hayatnya, dia harus mati kedinginan dalam balutan badai salju. Sedangkan gadis cilik dalam dongengku, dia tidak sendirian. Ada halmonie yang senantiasa menemani hidupnya, bahkan sampai dia tumbuh dewasa, dan berkeluarga .. Si gadis kecil akan bahagia selamanya .. "

"Eh--" Aku terperangah. Benar! Aku disadarkan kini. Dalam dongengmu, masih ada halmonie yang akan menemani si gadis cilik dalam menjalani hidupnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam kehidupan gadis cilik tersebut. Tidak seperti 'Gadis Penjual Korek Api' yang berakhir tragis. "Ne!" seruku keras dan bertenaga. Sambil menempelkan wajahku rapat-rapat di sekitar leher dan wajahmu. Rambutmu yang sudah mulai kering terasa mengelitik kulit wajahku, .. namun aku tidak perduli karna saat ini aku sangat bahagia.

Kau ikut tertawa. Saking gelinya, kepalamu sedikit menunduk, menyapu jalanan kecil berkerikil yang terlihat kelam dan suram. Semak-semak lebat mengapit di kedua sisi jalan hingga menimbulkan kesan angker. Jalanan yang sedang kita telusuri, .. yang benar--sedang kau telusuri, karna aku hanya berpangku tangan--bergayut aman di punggungmu, .. perlahan agak menurun. Agak mengherankan mengingat sewaktu kita datang tadi jalan ini masih rata. Beberapa kubangan air tercipta dari tanah yang terkikis hujan. Kau menghindari kubangan-kubangan tersebut dengan hati-hati.

"Ne .. ?" Kau menoleh lewat pundak yang sudah terpenuhi oleh kepalaku. Aku terbelalak. Kepala kita hampir berbenturan karena reaksi mendadak darimu itu. Alismu terangkat, .. hingga samar-samar, senyum halus kembali tersungging di bibir tipismu. "Paboya. Kau kira aku akan menyuguhkan dongeng sad-ending untukmu?"

"Dhe?" Mataku melebar bulat-bulat.

Tawamu kembali membahana di udara lembab nan dingin malam itu. Satu ketokan lembut mendarat di jidatku. "Pabo .. "

Mataku berkejap. Untuk sejenak mencoba merumuskan arti dari perkataanmu. Hanya dalam hitungan detik, .. aku tersenyum perlahan-lahan. Rangkulan di pundak dan lehermu makin kupererat. Kepalaku kubenamkan dalam-dalam di tengukmu. Samar tapi pasti, aroma mint yang terembus dari kulit tubuhmu memasuki penciumanku. Kegelapan di sekitar sini sudah tak kuperdulikan lagi, selama ada kau di sisiku.

Benar katamu. Kau tidak akan menyuguhkan dongeng ataupun cerita yang berakhir kesedihan padaku. Yang kau janjikan semua, indah adanya. Selama ada kau, segalanya akan berjalan baik. Dan aku percaya itu. Tidak ada yang perlu kutakutkan.


_________oOo_____________




Kau menurunkanku dengan pelan-pelan dan sangat hati-hati di samping mobil pintu depan yang bersisian dengan bangku kemudi, .. seolah aku ini benda pecah belah yang gampang retak, ataupun barang berharga yang tidak boleh tergores sedikitpun. Aku mendarat di tanah dengan sedikit oleng. Kau segera menyambar pinggangku, dan membantuku berdiri tegak. Aku meloncat-loncat kecil dengan bertumpu pada lengan kekarmu dan juga pintu di sebelah yang sudah terpentang lebar. Nyeri di pangkal kakiku menyerang kembali, .. terasa berdenyut-denyut menyengat sampai ke kalbu.

"Gwencana?" tanyamu sambil menatapku.

"N .. e ... " Aku menjawab gugup.

Kau melirik pangkal kakiku yang terbalut robekan kemejamu.

"Aku baik-baik saja .. ," lanjutku menyakinkan. Dengan nafas yang agak tersengal, aku melanjutkan. "Jeongmalyo .. "

Kau menghela nafas. Pelan-pelan perhatianmu beralih kembali padaku. Dengan sebelah tangan memegang gagang pintu, dan tangan satunya menyangga tubuhku, kau berkata .. "Besok pagi-pagi sekali aku akan kembali ke Macau. Ada janji makan siang dengan CEO Macau Search yang telah dibuat Asisten Park untuk ku sejak minggu lalu .. jadi mau tidak mau, aku harus kembali .. "

"Mwo?" Aku tidak percaya. Secepat ini kau akan pergi meninggalkanku? Setelah kebersamaan yang sangat pendek ini? "Ta .. tapi .. " Aku bergerak gelisah sambil menjatuhkan pandangan ke tanah lembab habis terguyur hujan. " ... besok .. seharusnya kan .. kau .. masih libur .. "

"Memang .. " Kau mengambil nafas, dan kemudian menghembuskannya dengan agak ditahan. "Tapi, .. seperti yang kukatakan tadi, .. Aku tidak punya pilihan lain .. Appointment kali ini sangat penting, dan tidak boleh kulewatkan .. "

Pandanganku makin meredup. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

"Sekarang masuklah .. " Sentuhanmu terasa di kulit lenganku. Kau memberi isyarat padaku untuk masuk ke dalam mobil. "Kita makan malam dulu, setelah itu--aku akan mengantarmu pulang. Besok pagi aku baru akan menghubungi Eunhye agar mengantarmu ke rumah sakit. Buat memeriksakan kakimu--"

"Gentwe--"

Kau segera mengangkat tangan. Melarangku untuk membantah lebih lanjut. "Tidak ada tapi-tapian! Kau harus mendengarku kali ini! Kakimu harus dirawat dengan baik, araso?!!"

Kau menatapku lekat-lekat, .. membuatku tidak mampu berucap apa-apa. Kita saling menatap. Tenggelam dan hanyut dalam diam setelah tidak seorangpun yang mengeluarkan suara. Aku menyusut perlahan-lahan. Ekspresi diam yang menyengat tajam darimu membuat hatiku berdesir keras. Entah itu rasa takut atau gelisah, yang pasti aku makin menyusut sampai menempel ketat di badan mobil. Pandanganmu kemudian meredup perlahan.

"Masuklah .. "

"Hn--" Aku mendesah lirih.

"Kau mendengarku?" Suaramu terdengar kembali. "Masuklah!"

Aku mengangkat wajah yang tadi tertunduk, memandangmu. Pandangan kita bertemu dalam jarak yang sangat dekat.

"Ke .. kenapa semua .. terasa begitu singkat .. ?" Aku mendesah lirih dan terbatah-batah. " .. pertemuan ini .. kebersamaan ini .. "

Iris gelapmu mencengkram erat bola mataku yang mulai berkaca-kaca, .. hingga aku tidak mampu berpaling.

"Hm--" Kau menatapku semakin dalam. "Weekend depan aku ada luang, .. kalau kau mau--boleh mengunjungiku di Macau, dan tinggal dua hari di sana .. "

"Dhe?!!" Mataku berkejap--kaget. Seolah telah salah tangkap akan sesuatu yang sangat ingin kudengar.

"Itu yang kukatakan--" katamu sambil menatapku lekat-lekat.

"Aku boleh mengunjungimu di Macau?!!" seruku tak percaya.

Kau tersenyum tipis. "Seperti yang kukatakan--" kau mengulangi perkataan tadi.

"Jinja?!!" teriak ku.

"Ne .. "

"Yuhuyy!!" Aku meraih tanganmu dan meloncat-loncat kegirangan. "Aku boleh ke Macau!! Boleh ke Macau!!"

"Ha .. ha .. " Melihat kekanak-kanakanku, kau tertawa lebar.

Kau menyentuh bagian belakang kepalaku, dan tiba-tiba saja ... kau menarik tubuhku sampai merapat ke tubuhmu. Tanpa kuketahui apa yang terjadi, .. sesuatu yang lembut dan lengket menempel dan melumat bibirku. Aku terbelalak seketika. Apa ini??!!

Ciumanmu terasa hangat dan .. ahli?? Kau memagut bibirku sampai sepenuhnya tenggelam dalam bibirmu. Lidahmu terasa .. memelintir lidahku. Mataku terbelalak semakin lebar. Aku melihat sepasang matamu terpejam, .. seolah menikmati ciuman bergelora kita.

Aku mendesah. Lututku terasa lemah dan tak bertenaga. Jika saja aku tidak berpegangan erat pada lenganmu, ataupun mencengkram kerah kemejamu sebagai tumpuan bagi ragaku yang lemah, .. mungkin tubuh ku sudah ambruk ke tanah.

Perlahan-lahan kau melepaskan rangkulan pada tubuhku, .. melepaskan bibirku dari pagutan mautmu. Kau menatapku dalam-dalam. Tanganmu terangkat dan mengelus lembut pipiku. Sedangkan aku, ... hanya bisa terpaku kaku. Tak kusangka, ciuman pertamaku direnggut begitu saja olehmu di tengah hutan yang kelam dan dingin ini,, oh my god!!

"Kuantar kau pulang ... "

Perkataanmu tersangkap samar-samar oleh pendengaranku. Aku kemudian mengangguk lambat-lambat. Sudah hampir masuk ke dalam mobil ketika sesuatu teringat olehku.

"Chakaman!"

Aku meremas sesuatu dalam tanganku, lalu menyodorkannya padamu.

"Liontin .. mu ... "

Kau menatap liontin dalam tanganku sesaat, .. seperti mempertimbangkan sesuatu. Setelah menghela nafas, kau menerimanya dan mengalungkannya kembali di lehermu.

"Kacha--" Kau menarik tanganku, tapi sebentar kemudian kau beralih kembali padaku. “Satu hal lagi. Selesaikan segera masalahmu dengan Dongsae—“

“Dhe?!!” Aku terbelalak kaget. Tidak menyangka dalam keadaaan begini, kau masih sempat menyinggung nama Dongsae.

“Aku juga seorang pria. Jika kau ingin tahu apa aku cemburu melihat kalian—Akan kukatakan, .. bahwa aku perduli, Goo Hye Sun-ssi!!!”

“HAH?!!!” Mulutku mengangga ‘lebar’. Jika saja ada lalat lewat, pasti sudah nyasar ke dalam mulutku. Tampangku nggak banget.

“Araso?!” tegurmu buat menyakinkan.

“N … e … “ Janji yang tentu saja ku utarakan tanpa dipikir dulu. Aku baru menyesalinya ketika kau sudah mendudukanku di dalam mobil. Kau sendiri mengambil tempat di sebelahku. Setelah menghidupkan mesin, kau membawa mobil ini perlahan-lahan keluar dari kawasan hutan yang gelap dan semakin mencekam.


_________oOo__________
« Last Edit: July 22, 2011, 12:09:00 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ps : well, adegan2 sweet yg kepikiran ama gw cuma ini doang [sweat] so, miane jika mengecewakan [heh] [heh] diharapkan komennya [smiley-gen013] [smiley-gen013]

shanty, miane ga bisa pakai lagu masukan dari elu. soalnya lagu yg atu ini (yg jadi backsong cerita ini) lbh mengena di hati ane [hmff] [hmff] kapan2 aje ye. but thanks buat masukannya [biggrin] [lovestruck]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

iiuuu

  • Guest
ane senyum2 sndri, dtgah mlm...
tuh liontin emang bwa berkah ama coward n minho pan mam?
hore! first kiss jga deh buat coward..hmpf, tuh minho uda jelas ahli.. diakan ahli sgala hal,.. uda ada sertifikat perfect dr mami pan mam?? hmpf
cie..cie, yg mau nengokn abang minho ke macau.. lol, minho saem uda blg kalo aq peduli ttg mslh hyesun ama dongsae ye mam? berati scra gak lgsg dia blg cembokur dong? cie lagi... lol
gomawo uda update mam.. finally keren booo' lol

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Aku kira bakal ada adegan aneh2 digubuk.
Biasanya kan begitu hahahaha
Co cweet mam first kissnya walau keburu2 sih si soesongnim.

Gomawo mami dah update ^^
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
thank you mami updatanya  [lovestruck]
woh..updatan kali ini benar" menyenangkan soalnya full momen's MINSUN  [hug] apa lagi  perhatian" Minho ke Hyesun   [cheekkiss] tambah meleleh hati Hyesun  [hmff] kaki Hyesun kenapa mam  [what] keseleo ya  [hmpfh] hyesun dapat kejutan  [kiss] yang di harapkannya selama ini dari Minho  [hmff] akhirnya Minho mengakui juga kalau dia cemburu   [hmff]

Offline yumi_chan

  • Newbie
  • *
  • Posts: 36
  • upcoming baby minsun ^^ uri pposong~a
  • Location: semarang
    • View Profile
mami makasih banget ya udah di update..... [2vil3jc] [2vil3jc] mian mi semalem ngantuk banget jadi baru komen sekarang hehe [AddEmoticons04257]

mi paling demen dah ma ni chapter songsaengnim sweeeeeeeet banget sih.sini gw cium #nah lho
yaelah songsaengnim udah tau si coward penakut tetep ye di ajak di gelap2 an apa jangan2 songsaengnim mau ambil kesempatan biar bisa peluk2 si coward hmmmmm.
yeyeye udin first kiss...muah2 ni buat mami.gw kirain first kiss nya coward songsaengnim bakaln pelan2 trus lembuuuut banget eh taunya songsaengnim main serobot aja ga tau apa tu si coward udah meleleh kayak es cream kepanasan udah jago lagi kissu nya..hayooo belajar dari siapa ni songsangnim jangan2 dari gw # [huglove] [huglove]
yahhh kok besok udah musti balik sih songsaengnim pan ane masih kangen   [cry] [cry] eh maksug ane coward masih kangen  [heh] [heh] tapi ga pa2 deh kan ntar weekend mau nyusul ke macau...horeeeee  [clap] [clap] ditunggu ya mi perjalanan coward di macau  [lovestruck] [lovestruck]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
thank u mom dh update...SUITTT  SUITTT,yg lg first kiss..songsaenim dh ahli??pst diajarin rath nih..hujan mmg membw berkah buat minsun dsni mereka jdiankn pas hjan.griffinx kok g dks ke hyesun aj sih malah diambil balik.yeay akhrx minho cemburu jg walau dsampaikan dgn shalus mungkin jd sangsi coward ngerti kl tnanganx lg cemburu?.Dongsae pacarmu ditium tuh,udh ptusin sono
[/size][/color][/b]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ane senyum2 sndri, dtgah mlm...
tuh liontin emang bwa berkah ama coward n minho pan mam?
hore! first kiss jga deh buat coward..hmpf, tuh minho uda jelas ahli.. diakan ahli sgala hal,.. uda ada sertifikat perfect dr mami pan mam?? hmpf
cie..cie, yg mau nengokn abang minho ke macau.. lol, minho saem uda blg kalo aq peduli ttg mslh hyesun ama dongsae ye mam? berati scra gak lgsg dia blg cembokur dong? cie lagi... lol
gomawo uda update mam.. finally keren booo' lol
senyam senyum sendiri tar dikira org gila loh [hmpfh]
pengaruh griffin terhadap minsun di sini akan diceritakan di chp2 berikitnya. apakah benda keramat itu akan memebawa berkah ataukah berdampak positif,,
iya akhirnya pasangan ini ciuman jg,, rsncana semula sih belum tp krn dimita yg sedikt geregetan maka gw putuskan mjnculin jg adegan ini hehe yup minho sonsaengnim dah dpt sertifikat the perfect guy dr gw jd jgn heran dia ahli segala2nya (bkn api unggun de batu aja, dia ahli wkkk #jd teringat ama manusia purbalol) apalgklu cuma ciuman. wlu ini ciuman pertamanya, dia udah menyiapkan diri sejak dulu kala buat memuaskan pasangannya,, so pasti sonsaengnim udah byk beljar dr buku (pa dr blue film jg ya? wkk image sempurna sonsaengnim lgs lenyap klu ketahuan kegemarannya yg atu ini [laughing]
yg mau nyusul tunangan ke macau tuh udah bahagia bgt, emang minho cembokor ama dongsae kok,, cuma itu-ga kelihatan aja [hmpfh]
keren ya [what] pdhl gw ngerasa afak2 gaje [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Aku kira bakal ada adegan aneh2 digubuk.
Biasanya kan begitu hahahaha
Co cweet mam first kissnya walau keburu2 sih si soesongnim.

Gomawo mami dah update ^^
emangnya elu kira sonsaengnim apaan hingga terjd sesuatu di gubuk hammer2 durjana pemetik bunga? [head break] rasain [hmpfh]
sonsaengnim ngerasa itu saat yg tpt buat first kiss mrk, maka .. terjd deh [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun