Chapter 3
Aku yang sempat kaget mendengarnya langsung berlari ke kamar. Dirsy, ya . hanya diry tempat curahan hatiku saat ini. Perlahan aku mulai menuliskan semua isi hatiku pada dirsy
25 April 2009
Dear Dirshy
Sungguh hari ini awalnya sangat menyenangkan bagiku. Karena aku lulus dengan nilai terbaik. Tetapi kenapa semuanya justru berbalik?? Aku akan dijodohkan dengan orang yang aku sendiri tak pernah melihatnya. Bagaimana ini,, aku tak ingin membantah ibu. Dilain pihak, aku juga tak bisa mencintai orang lain selain nazwa.
Begitulah curahan hatiku pada dirshy,, tanpa terasa bulir air mata menetes dari pelupuk mataku. bagaimana tidak, semua ini terasa berat untukku. Aku tak tau apa yang harus ku lakukan. Setelah puas menuangkan semua isi hatiku,, aku pun terlelap dalam tidur. Tanpa disadari, ibu melihatku dengan tatapan sedih. Aku tau ia pun tak tega melihatku seperti ini, dan ia juga tau aku hanya mencintai nazwa.
Malam harinya di meja makan,seperti biasa, hanya aku , ayah dan ibu. Begitulah setiap harinya karena aku anak tunggal di keluarga ini.
“riko, bagaimana keputusanmu dengan yang tadi ??”Tanya ibu dengan nada lembut
Diam dan sunyi. Itulah yang tergambar jelas saat ini,, setelah ibu melontarkan pertanyaan itu. Aku bingung, tak tau apa yang harus aku jawab. Aku terletak pada dua pilihan : mengikuti perintah ibu dan dijodohkan dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali atau memenangkan hati nazwa tetapi membantah ibu, oh god bagaimana ini. Apa yang harus ku lakukan??
“kau tak perlu menjawab sekarang sayang, ibu mengerti apa yang kau rasakan “ kata ibu memecahkan keheningan antara kami.
“makasih bu” hanya itulah kata yang sanggup ku lontarkan.
“hmm,, aku kekamar dulu ya. Aku sangat mengantuk “ kataku yang dijawab anggukan oleh ayah dan ibu.
Ayah yang tidak mengerti apa masalah kami hanya diam dan bingung.
“ada apa dengan , riko? Nampaknya ia agak aneh hari ini. Bukankah tadi siang dengan semangat ia memberitahuku tentang hasil UN nya yang sangat baik?” Tanya ayah pada ibu
“mungkin aku yang bersalah, tak seharusnya aku memaksakan kehendakku padanya. Tapi mau bagaimana lagi mengingat semua ini adalah perjanjian yang ku buat dengan sahabat baikku Rana” sahut ibu sambil membereskan makan malam kami
“memaksakan bagaimana maksudmu? Aku semakin tidak mengerti dengan hal ini?” ayah melanjutkan perbincangan dengan serius
Ibu pun menceritakan semua yang terjadi , tentang perjanjian ia dan temannya sampai perjodohan yang sama sekali tak terlintas dalam benakku .
Dikamar aku masih termenung dengan masalah yang kualami hari ini. Memang perjodohan itu masih lama, mengingat aku pun juga akan ke amerika untuk tes di universitas hardvard. Tapi mengapa semua itu masih mengganggu pikiranku? Entahlah, yang jelas aku harus focus pada tes yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi.
##
Akhirnya ,, besok aku harus terbang ke amerika untuk melanjutkan sekolahku. Dan akupun telah memutuskan untuk memberitahu tentang perasaanku pada Nazwa. Dengan mantap aku pun bersiap untuk pergi kerumahnya tanpa memberitahu , karena niatku ingin member kejutan untuknya
“Riko, mau kemana pagi pagi sudah sangat rapi.? Tanya ibu sambil membaca majalah di ruang keluarga.
‘’ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan sebelum kepergianku.” Sahutku pada ibu
“yasudah, jangan pulan terlalu larut. Ingat kau akan berangkatu lusa. Hati hati di jalan” ibu memperingatiku
“baik bu, aku pergi dulu” jawabku sambil mencium tangan ibu dan berlalu dari pintu rumah
Di perjalanan entah kenapa perasaanku sungguh tak karuan. Gugup, ya, mungkin inilah kurasakan sekarang. Di jalan aku melihat toko bunga, aku pun membeli bunga lili putih,. Karena bunga lili putih adalah bunga kesukaan nazwa. Putih lambing kesucian, itulah alasannya menyukai bunga lili putih.
“nazwa pasti sangat suka jika ku beri bunga ini” gumamku riang sambil melanjutkan perjalanan.
Tanpa terasa, sekarang aku sudah berada tepat di depan rumah nazwa, perasaanku bertambah gugup. Dengan terlebih dahulu mengucapkan salam, aku pun memencet bel rumahnya. Sekali, dua kali, sampai ke tiga kali, tak ada jawaban dari dalam rumah. Samapai salah seorang tetangganya menghampiriku
“apa adik temannya nazwa?” tannya nya ramah padaku
“iya bu, . oh iya, nazwa kemana ya . dari tadi aku memencet bel tapi tak ada jawaban dari dalam rumah” tanyaku padanya
“memangnya adik tidak tau, nazwa baru saja diantar keluarganya ke bandara. Ia akan melanjutkan kuliahnya di amerika. Oh iya, saya permisi dulu“ kata seorang tadi sambil meninggalkanku sendirian
Dreeppp.. seketika itu juga darahku terasa terhenti mengalir. Bunga yang ku bawa untuknya terlepas dari genggamanku. Tubuhku lemas seketika, air mata mulai membanjiri pipiku. Dan saat itu juga aku menelepon nomornya. Tapi tidak aktif.
“apa mungkin takdir tidak menginginkan kita bersama,?” gumamku terisak
:TBC: