SPIDERWEB
Cast :
Lee Min Ho as Han Jae Ha (23 tahun)
Actor pendatang baru yang sukses menggondol popularitas berkat drama Personal Taste. Jae Ha seorang pewaris mahkota juga putra sulung keluarga Han. Ketampanan yang diatas rata-rata membuatnya menjadi actor paling dimintai diseluruh Asia, terutama kaum wanita. Beberapa kali digosipkan jalan dengan lawan mainnya, Sohn Ye Jin, dan ia tidak pernah berusaha menampiknya. Sebab baginya, gosip adalah barang murahan. Lagipula ia hanya menganggap wanita berumur itu adalah kakak perempuannya.
Goo Hye Sun as Han Jae Kyung (18 tahun)
Putri bungsu keluarga Han. Ia berpisah dari keluarga kandungnya dan tinggal di Amerika atas permintaan sang uncle yang belum dikaruniai anak. Di Amerika ia biasa disapa GeeGee, dan sapaan itu tetap berlaku sesampainya ia di Korea yang sayangnya ditolak mentah-mentah oleh ayahnya. Harta yang melimpah, kasih sayang yang diberikan nonstop oleh uncle dan auntnya (ia memanggil mereka dengan sebutan dad and mom) membuatnya tumbuh menjadi gadis Amerika yang manja, keras kepala dan arogan. Gucci, Choos, Archive For adalah napasnya. Majalah OK!, People, US Weekly adalah pegangan hidupnya. Terpisah selama lebih dari 12 tahun dari keluarga kandung membuat Jae Kyung tidak gampang akrab dan beradaptasi dilingkungan barunya.
Kim Hyung Joong as Kim Hyung Joong (24 tahun)
Actor sekaligus penyanyi sukses yang telah hidup didalam entertaiment lebih lama daripada Jae Ha. Ia sahabat akrab Jae Ha. Pendiam tapi bisa menjadi sangat cerewet jika ada yang berani menyentuh anjing ras cihuahuanya, Bleki. Kejadian yang tidak disengaja membuatnya harus bersabar jika berhadapan Jae Kyung. Sangat suka main piano.
Sohn Ye Jin as Sohn Ye Jin (29 tahun)
Lawan main Jae Ha di drama Personal Taste. Ia punya crush terhadap Jae Ha, dan ia berpikir Jae Ha juga punya perasaan yang sama terhadapnya karena selama ini gosip tentang mereka berdua tidak pernah ditampik oleh Jae Ha. Ia sudah cukup dekat dengan keluarga Han, tapi semuanya kacau berkat Jae Kyung yang kembali ke Korea.
CHAPTER 1
Suara pengeras di Bandara Incheon, Korea, kembali memasuki gendang pendengaran Jae Kyung. Dengan kesal ia kembali melirik jam tangan Gucci yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. 2 jam 45 menit sudah ia menunggu sendirian, menanti jemputan yang KATANYA akan menjemputnya tepat pukul 10 waktu Korea. Yang nyatanya sampai nenek-nenek yang selama sejam terakhir mondar-mandir dihadapannya sudah berhenti kecapaian tidak ada satu orangpun yang KATANYA akan menghampirinya, seorang pemuda yang KATANYA berumur 23 tahun yang KATANYA akan menjemputnya dan membawanya ke Mansion Han, KATANYAAA. Kembali ia melirik jam tangannya. Jika lima menit dari sekarang tidak ada yang menjemputnya, Jae Kyung sudah memantapkan niatnya untuk segera keluar dari bandara yang semakin lama semakin ramai.
“Penerbangan dengan nomor pesawat......”
“Arrggg!! Enough!” dengan kesal Jae Kyung menarik koper putihnya dan melangkah keluar bandara. Hanya secarik kertas yang menjadi panduannya sekarang ini. Lebih baik daripada menunggu sampai jamuran didalam bandara.
“Taxi.” Jae Kyung melambaikan tangannya ke arah taxi kosong beberapa radius meter dari tempatnya berdiri. Yakin taksi itu tidak ada penumpangnya, Jae Kyung menyeret kopernya dengan susah payah. Dan dengan satu hentakan terakhir Jae Kyung berhasil memasukkan kopernya ke bagasi taksi. Matanya melirik tidak suka ke arah supir taksi yang adem ayem melihatnya mengangkat koper seberat gajah itu. Memangnya supir taksi Korea tidak diajari untuk membawakan barang-barang penumpang? Keluh Jae Kyung dalam hati. Dengan menghentak-hentakkan kakinya ke aspal jalanan, Jae Kyung memasuki taksi.
BLAM. Suara pintu yang dibanting Jae Kyung.
BLAM. Suara pintu yang ditutup supir taksi.
BLAM. Suara pintu yang di...
Wait!!
Dengan gerakan slow motion Jae Kyung berbalik menghadap kesampingnya. Seorang pemuda tampan dengan dandanan bagai detektif balas memandangnya. Adegan pandang-pandangan terjadi di dalam taksi itu, sedangkan sang supir tetap adem ayem karena mendapatkan dua penumpang dalam satu waktu.
“Who are you?” Jae Kyung menatap dengan sinis pemuda di sampingnya.
Sesaat dibagian belakang mereka berdua terdengar suara petir menggelegar dan kilat yang saling menyambar-nyambar. Jae Kyung melepas kacamata hitamnya dan menatap dengan sadis pemuda disampingnya. Pemuda tadi juga balas melepas kacamata hitamnya dan dengan cepat membuka pintu disamping Jae Kyung. “Keluar. Ini mobilku, nona.” dengan bahasa Korea pemuda tadi menyuruh Jae Kyung keluar. Kontan Jae Kyung hanya bisa melongo mendengarnya. Ia tidak bisa bahasa Korea. Satu-satunya bahasa Korea yang diketahuinya adalah SARANGHAE, itupun hanya ketahuinya lewat majalah milik Poppy, salah satu sahabat karibnya. Yah, bagaimanapun juga Jae Kyung tinggal di Amerika selama lebih dari 12 tahun, bahasa Amerika adalah bahasa sehari-harinya.
“Excusme. This is my taxi. And FYI, i can’t speak Korea.”
Pemuda itu dengan tidak sabar keluar dari taksi. Merasa ia sudah menang, dengan angkuhnya Jae Kyung menyuruh supir taksi melaju. Baru saja ia merasakan kemenangan tiba-tiba seseorang menarik paksa Jae Kyung kelaur dari dalam taksi. “That’s my taxi, girl.”
Mulut Jae Kyung terbuka lebar ketika mendapati ia sudah berada di luar taksi. Mulutnya semakin terbuka lebar ketika pemuda yang menyeretnya keluar dari taksi tadi bersiap masuk kedalam taksi yang lebih dulu didapatinya. “Wo..wo... I said.” Jae Kyung menarik kasar lengan pemuda tadi sehingga sekarang mereka berhadap-hadapan, dan dengan suara lantang Jae Kyung melanjutkan, “THAT’S MY TAXI, BIATCHES.”
Pemuda itu tidak menghiraukan makian Jae Kyung, dan dengan wajah mengejek pemuda itu masuk dan membanting pintu taksi tepat didepan Jae Kyung.
Jae Kyung melongo.
****************************
Rumah mewah dengan pagar tinggi itu sekarang menjadi pemandangan Jae Kyung. Sekali lagi ia mengecek alamat yang tertera di kertas kecil yang sudah kucel karena sering diremas saking kesalnya. Setelah meyakinkan diri bahwa tidak mungkin ia salah alamat, Jae Kyung memencet bel yang ada di dinding pagar sebelah kanan.
TING TONG
Tidak ada yang menjawab
TING TONG
Tetap tidak ada yang menjawab
TING TONG
Sabar Jae Kyung. Ini semua hanyalah cobaan.
TING TONG
............
TING TONG
..............
TINGTONGTINGTONGTINGTONGTINGTONGTINGTONGTINGTONGTINGTONGTINGTONGTINGTONG
Dengan wajah semerah tomat Jae Kyung memencet bel bak orang kesetanan. Hari ini divonisnya sebagai hari tersial. Bagaimana tidak? Pertama, 2 jam lebih ia menunggu seseorang yang tidak pasti untuk menjemputnya di bandara. Kedua, bertemu pemuda sayko yang mengusirnya dari taksi yang lebih dulu didapatnya. Dan sekarang, tidak ada seorang pun dari rumah –err... ralat, kerajaan Han yan menjawab panggilannya. Bloddy hell. Ada yang lebih dari ini? Jae Kyung membutuhkan ahli terapinya sekarang juga.
TIIT TIIIIT
Suara klakson mobil terdengar dari arah belakang Jae Kyung. Jae Kyung tetap berdiri ditempatnya sambil memencet bel. Lagi dan lagi.
“Nona.” Sapaan dari arah belakangnya membuat Jae Kyung menoleh. Seorang pria tampan dengan pakaian kemeja putih berdiri tepat dihadapannya. Jae Kyung membuka kacamata hitamnya dan bersiap mendamprat siapapun pemuda yang ada dihadapannya ini. Yah, siapapun orang ini dia pasti salah satu penghuni rumah besar ini. Tapi belum sempat Jae Kyung mengeluarkan sumpah serapahnya, pemuda tadi dengan tiba-tiba menangkupkan kedua tangannya di pipi Jae Kyung. “Dolly? Kau Dolly? Tapi appa bilang kau baru akan datang besok.”
Dengan jijik Jae Kyung menjauhkan dirinya dari sentuhan pemuda tadi dan dengan cepat mengambil pencuci tangannya, menuang banyak-banyak ketangannya dan menepuk-nepuk pipinya seperti membersihkan kotoran. Pemuda itu mengernyit heran. “Ada apa?”
Jae Kyung menghela napasnya. Bahasa Korea. Lagi. “I can’t speak Korea, handsome.” ujar Jae Kyung centil setelah menyadari bahwa pemuda dihadapannya sekarang adalah pemuda paling tampan yang pernah dilihatnya. Sejak ia datang ke Korea.
Dan detik berikutnya Jae Kyung baru sadar ia sudah berada didalam rumah mewah itu. Pemuda tadi meninggalkannya seorang diri di ruangan ini. Tidak lebih mewah daripada hadiah villa dad di Malibu, ujar Jae Kyung dalam hati. Dad dan Mom itu adalah sapaan Jae Kyung terhadap uncle dan auntnya. Jae Kyung baru akan duduk di salah satu sofa putih diruangan besar itu ketika seorang wanita setengah baya menghampirinya dan langsung memeluknya dengan erat. “Oh.. Jae Kyung, putri omma yang paling cantik. Omma minta maaf.” Ia melepakan pelukannya dan menangkupkan kedua tangannya dipipi Jae Kyung (Demi Tuhan, kenapa orang Korea suka sekali menyentuh pipiku!). “Salah satu pegawai omma melakukan kesalahan sehingga omma tidak tahu bahwa kau sampai hari ini. Miane, Jae Kyung.” lanjut Mrs. Lee dengan suara lirih.
“Jae Kyung.” Suara berat terdengar dari samping kanan mereka. Seorang pria separuh baya berjalan bersama pemuda tadi.
“Mm..” gumam Jae Kyung pelan. Ia kenal siapa pria setengah baya ini. Appanya. Pria itu sering menemuinya di Amerika, mengajaknya jalan-jalan, nonton bersama, dan masih banyak lagi yang mereka lakukan bersama-sama. Tapi tidak dengan dua orang lainnya yang berada diruangan itu.
“Kau sudah bertemu dengan omma dan oppamu rupanya. Baguslah.” Mr. Lee tersenyum hangat pada Jae Kyung.
Jae Kyung mendengus. Omma? Oppa? Selama 12 tahun ia merasa tidak pernah menyebut kata-kata itu. “Why didn’t anyone pick me up earlier? Did you know that I’ve been waiting more than 2 hours?”
Mr. Lee duduk di sofa tunggal yang kemudian diikuti anggota keluarga Han lainnya. Jae Kyung berniat menjauh dari ‘ommanya’ tapi ditahan oleh beliau. Ia terus menggenggam tangan Jae Kyung. “Miane, Jae Kyung. Kami benar-benar melakukan kesalahan waktu itu. Tapi untungnya kau bisa sampai di sini dengan selamat.” Kata Mrs. Han.
“I can’t speak Korea, appa. How many times I must say about it?” Jae Kyung memutar bola matanya.
“Get used, dear.”
“Ugh!!”
“Your brother will help you to learn the Korean Language. Right, Jae Ha?”
Jae Ha menatap dalam-dalam Jae Kyung yang duduk tepat dihapannya. “Ne, appa.”
“Good. To this day, I let you use English, but starting tomorrow, you must use the Korean language. Understand?”
Dan sedetik kemudian Jae Kyung menutup kedua matanya dengan pasrah.
******************************
Jae Kyung merebahkan dirinya di ranjang king size di kamar barunya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Baru beberapa jam ia meninggalkan Amerika, ia sudah merasakan kerinduan akan kamarnya di Malibu. Ia bangkit dan melepas sepatu Chaos-nya. Setelah melempar sembarangan sepatu itu ia mengambil tas tangannya dan mulai merogoh-rogoh mencari sesuatu
Iphone.
No signal
“What?” maki Jae Kyung. “How can... aaarrrgghhhhh!!!” dengan kesal Jae Kyung membanting Iphonenya ke kasur dan segera berlari keluar kamar.
“Appaaaa....” teriak Jae Kyung langsung dari lantai dua. Ia memandang ketiga anggota keluarga barunya yang sedang mengobrol dibawah. “Is there a hotspot?”
Mr. Lee memandang anaknya dengan kening berkerut. “For what, dear?”
“Bloody hell.” kata Jae Kyung. “Should I explain what the function of a hotspot?”
“We have 2 hotspot, Jae Kyung.” kata Mrs. Lee menyela.
“So, why...?”
“It’s broken.” kata Jae Ha.
“Broken? Bloody hell!” maki Jae Kyung. Ia kemudian berbalik menuju kamarnya.
OoO
Jae Kyung tengah mengoleskan krim wajah berwarna hijau ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dengan malas ia berjalan ke arah pintu dan membukanya, bersiap mendamprat siapa saja yang berani mengganggu semedinya.
Jae Ha.
Sekali lagi Jae Kyung mendapati dirinya tidak bisa bersuara ketika berhadapan dengan kakaknya ini. “Ada telepon dari temanmu.” Kata Jae Ha. Ia menyerahkan telepon wireless pada Jan Di. “Jangan tidur terlalu malam. Mimpi indah.” Jae Ha tersenyum hangat sebelum kembali turun ke bawah.
Sekali hentakan Jae Kyung membanting pintu kamarnya.
“Hai girls.” Kata Jae Kyung.
“GeeGee. How do you do?”
“Oh my god, honey. Everything is gonna peeve without you.”
“GeeGee, oh good. I need your help.”
Jae Kyung, atau GeeGee, di Amerika ia biasa disapa seperti itu. Bukan berarti ia tidak menyukai nama aslinya, tapi di Amerika? Kau bisa memikirkannya sendiri.
“baru beberapa jam yang lalu aku meninggalkan Amerika kalian sudah merindukanku? Oh... i miss you so, guys.”
The Glambition. Jae Kyung membentuk kelompok itu ketika ia masih kelas 7. Waktu itu mereka mendapatkan tugas untuk mengunjungi Museum Seni Modern New York City dalam rangka karyawisata. Mereka berempat, Jae Kyung, Poppy, Kate, dan Drippy duduk bersebelah-sebelahan didalam bus. Dan ternyata mereka juga mempunyai hobi yang sama. Fashion. Jadilah The Glambition.
“So, apa yang terjadi selama aku tidak ada?” kata Jae Kyung.
“Shelby Rexler mengadakan pesta akhir musim semi malam ini. Dan hanya kita dari angkatan 8 yang di undang. Oh, my.” Kata Poppy.
“Yeah, dan tentu saja para jagoan dari Epcot Boarding School. Kyaa..... I can’t wait!” kata Kate.
“Wait. Party? Shelby Rexler? Epcot Boarding School?” tanya Jae Kyung. “Oh, my. If I can, I wanna run away from this place and go back to America right now.”
“calm down, baby.” Kata Poppy. “We will share the stories with you. Oh, I must get ready now. Love you, GeeGee.”
“Me too.” Kate.
“Me... wait!” sela Drippy. “I need your help, GeeGee.”
“What?”
“Apa yang harus aku pakai malam ini? Aku benar-benar stuck.”
GeeGee memutar otaknya. Dan satu kata langsung menucul dibenaknya. “Ralph Lauren keluaran lama.”
“Owh...GeeGee, thank you thank you thank you thank you. Bye, honey. Love you.”
Dan sambungan terakhir terputus. Jae Kyung menghela napasnya. Teman-temannya akan berpesta bersama para pria dari Epcot BS, sedangkan ia harus terkurung di negara antah berantah. “If I must to missis, everyone has to missis.” Kata Jae Kyung. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi The Glambition.
“Hai, GeeGee. What’s up?” Poppy.
“Hai. I will contact Kate.”
DRRTTT
“Hai, GeeGee. Kau tidak puas mengobrol dengan kami?” Kate.
“Hai, Kate.” Poppy.
“Hai, Poppy.” Kate.
“I will calling Drippy.”
“Dia belanja keperluan sekolah. Dia menelponku tiga kali tadi menanyakan apa kita perlu kompas atau tidak.” Kate.
“What’s you telling?” Poppy.
“Carilah kesibukan.”
DRRRTTT
“Hai, GeeGee. What’s up?”
“Hai Drippy.” Kate, Poppy.
“Hai, Kate, Poppy.”
“Ok. So, yang akan kuceritakan ini akan memberiku nilai gosip yang tinggi.” Kata Jae Kyung. “Shelby Rexler tidak memotong rambutnya agar mirip Keira Knightley. Kepalanya berkutu.”
“Iuuuuh...”
“Menjijikkan.”
“Egh....”
“I know. Kalian masih tetap ingin datang ke pestanya?” tanya Jae Kyung. “Kalau aku jadi kalian, aku tidak mau menukar Frederic Fekkai-ku dengan Nix.”
“Tapi, para pria dari dari Ebcot BS juga diundang, dan hanya kita dari angkatan 8 yang diundang.” Poppy.
“Scure them, Poppy.” Kata Jae Kyung. “Atau kau ingin rambutmu terinfeksi...aku bahkan tak ingin menyebutnya. Ini bahkan lebih buruk dari memakai sepatu Crocs.”
“Wait. Berkutu dan sepatu Crocs?” Kate.
“Tidak seorang pun yang memakai sepatu Crocs, Kate.” Poppy.
“Actually, Shelby mempunyai sepasang.” Kata Jae Kyung. “And orange.”
Sekali lagi, ketiga temannya serentak meneriakkan, “Iuuuhh....”
“Forget it. I’m out.” Poppy.
“Me too.” Kate.
“Me three.” Drippy.
Dan sambungan kembali terputus. Jae Kyung menatap ponselnya dengan pandangan puas. “Sudah kuduga.”