Seperti permintaan VOLDI (my beloved wife) fict ini aku post disini. Maaf jika tidak berkenanan dan bagus.________________________________________
Klik.
4.
LS-chanel.
Entertiment Zone.
"Pemirsa, siapa yang tidak kenal Mozzart Effect? Tentu hampir tidak ada. Ya, Mozzart Effect adalah boy band yang tengah naik daun saat ini. Dengan suara merdu milik Min Ho, permainan bass yang unik dari Geun Seuk, komposisi musik drum yang dimainkan Jeremy, Ki Seoub di gitar klasik, dan Kim Joon memainkan bass sekaligus keyboard, Mozzart Effect kini tidak hanya eksis di Jepang saja. Namun juga di mancanegara. Meski baru sepuluh bulan muncul di kancah musik Jepang, band ini telah meluncurkan dua album dan satu mini album. Nah, Pemirsa, tim Entertiment Zone sempat mewawancarai personil Mozzart Effect disela-sela kesibukan konser mereka. Kita simak yang berikut ini."
Goo Hye Sun duduk manis di sofa yang terletak di depan televisi. Baju yang ia kenakan masih sama dengan yang tadi ia pakai saat menggantikan Iruka untuk mengajar di Universitas Shinwha–kaus lengan pendek putih polos rangkap jaket berbahan jeans berwarna biru muda dengan celana panjang yang berbahan sama dengan jaketnya. Tas selempangnya yang berwarna putih-hitam masih bergantung di bahu kanannya meski kini ia sudah menghempaskan tubuhnya ke sofa yang nyaman itu. Sepatunya pun belum di lepas. Hanya bando hitam dengan corak abstrak berwarna biru muda saja yang baru ia lepaskan dari kepalanya.
Hye Sun merubah posisinya yang sedari tadi duduk tegap menjadi agak membungkuk. Wajahnya agak letih, mungkin karna merasa kelelahan setelah empat jam mengajar menggantikan dosennya–Park Min. Terlebih lagi, kini dia disuguhi dengan acara infotaiment yang lagi-lagi membahas soal Mozzart Effect–boy band tengah naik daun. Hye Sun bukannya tidak menyukai band tersebut. Bohong jika dia berkata 'tidak suka', karna di kamarnya terdapat beberapa poster dan foto-foto sang vokalis beserta personil lainnya. Bukan hanya itu, Hye Sun juga mengoleksi CD dan kaset band itu.
Lalu apa yang membuat Hye Sun merasa seperti itu?
"Tidak, Eun Hye tidak benar. Min Ho tidak mungkin 'bermain' di belakangku. Iya 'kan, Min Ho?" gumam Hye Sun sambil menatap Min Ho di layar kaca dengan tatapan kosong dan menerawang.
Flashback
Universitas Shinwha adalah universitas negri biasa yang terletak di sebelah timur Seoul City. Dibandingkan dengan Universitas Seoul, universitas ini bukanlah apa-apa. Kebanyakan mahasiswanya adalah mahasiswa yang tidak diterima di Universitas Seoul. Namun, meski tidak terlalu bergengsi dan banyak peminat, Universitas Shinwha telah berkali-kali menuai kesuksesan melalui mahasiswa dan mahasiswinya yang siap berkompetisi.
Goo Hye Sun adalah salah satu dari mahasiswi di universitas ini. Ia rela berpisah dari sahabat-sahabatnya semasa SMA demi menjalani kegiatan kuliah di Universitas Shinwha.
Hari ini, sebelum Hye Sun bersiap untuk mengikuti kelas Park Min-ssi, Hye Sun bertemu dengan sahabatnya sedari SMA. Yoon Eun Hye–nama sahabatnya–, mengunjunginya di kampus saat jam makan siangnya. Mereka berjalan beriringan menuju cafetaria kemudian memesan dua gelas minuman dan mengobrol di bawah pohon mapel yang berdiri kokoh di taman.
"Kau salah, Eun Hye. Min Ho tidak mungkin seperti itu." Kata Hye Sun pada salah satu sahabat baiknya sedari SMA itu. "Yeah, terserah deh. Tapi coba saja kau tanya Ye Jin, So Eun, dan Hye Kyo. Mereka pasti juga akan mengatakan hal yang sama." Jawab Eun Hye. Hye Sun mengerutkan sebelah alisnya,
"masa' hanya karna Min Ho tidak pernah menghubungiku itu artinya dia berselingkuh? Tidak mungkin Eun Hye! Kau tahu sendiri 'kan, sifatnya seperti apa?"
"Hye Sun sayang, dengar. Sesibuk apapun Jeremy dan Geun Seuk bahkan semalas-malasnya Ki Seob, mereka tetap menghubungiku, Ye Jin dan So Eun. Tapi Min Ho? Aku masih tidak percaya inboxmu bersih dari nama Min Ho! Dan bahkan publikpun belum tahu kalau Min Ho sudah memiliki kekasih,"
"Eun Hye, bisakah kau pelankan suaramu?" tanya Hye Sun setengah berbisik sambil melambai-lambaikan tangan kanannya di depan wajah Eun Hye. Sesekali Hye Sun melirik ke beberapa wanita yang kini tengah melihat mereka berdua dengan tatapan penasaran. "Ups, sorry." Jawab Eun Hye seraya terkekeh pelan. Hye Sun melirik ke arah mahasiswi-mahasiswi tadi yang melirik mereka berdua.
Hye Sun menghela napas, "harusnya kita tidak membicarakannya di sini," katanya. "Di sini banyak fans-nya."
"Tapi Hye Sun, ini hal penting! Bagaimana jika Min Ho–"
"Stop! Aku tidak mau membicarakannya."
"Hye Sun!"
"Eun Hye, kau pikir aku tidak sakit hati karna dia bersikap seolah mengabaikanku begitu saja dan mementingkan pekerjaannya? Kau pikir aku tidak resah kalau dia tidak menghubungiku?" mendengar ucapan Hye Sun, seketika Eun Hye mengunci mulutnya.
Eun Hye mengerti sekarang, semua wanita sama. Sama-sama merasa sakit hati jika diabaikan kekasihnya, sama-sama resah jika tidak diberi kabar oleh kekasihnya, sama-sama selalu ingin berada di sisi kekasihnya, kapanpun dan dimanapun. Dan kini Eun Hye mengerti bahwa Hye Sun juga sama dengannya. Bedanya, Hye Sun hampir tidak pernah dihubungi oleh Min Ho–kekasihnya. Hal ini membuat hati Eun Hye merasa miris dan berusaha untuk menyadarkannya sahabatnya itu. Namun, siapa sangka?
Ternyata selama ini Hye Sun pura-pura tersenyum dan mengerti tentang pekerjaan Min Ho sebagai vokalis band yang kini tengah naik daun, tapi jauh di dalam hatinya, Hye Sun menjerit dan menangis sekuat tenaga.
"Aku juga marah jika melihat dia syuting video klip bersama wanita lain, aku juga kesal saat dia bungkam dan tidak mau menegaskan bahwa ia memiliki hubungan khusus jika ditanya oleh wartawan, aku juga kecewa jika dia tidak menghubungiku. Aku merasakan hal yang sama sepertimu! Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku tidak mau menjadi egois dan memintanya untuk selalu memperhatikanku, Eun Hye. Aku… aku tidak mau menjadi penghalang baginya," lanjut Hye Sun. Eun Hye masih diam.
"Jadi tolong jangan bicarakan kemungkinan-kemungkinan yang negatif di depanku. Itu hanya membuatku semakin sakit."
Eun Hye memandang Hye Sun lekat-lekat, "ma-maafkan aku, aku hanya… khawatir. Aku rasa aku harus meminta bantuan Geun Seuk dalam menangani hal ini,"
"Jangan! Sudah kubilang 'kan, kalau aku tidak mau menjadi penghalang baginya? Min Ho sedang di puncak karirnya dan inilah yang diimpi-impikannya sedari kecil. Aku tidak mau dia menjadi repot dan pekerjaannya terganggu!"
"Tapi Hye Sun, kau…. Yakin?" Hye Sun mengaguk mantap. "Urusi saja Geun Seuk-mu, siapa tahu dia yang selingkuh dengan–, siapa namanya?"
"Siapa?" tanya Eun Hye.
"Itu lho, wanita yang menjadi model video klip di lagu mereka yang terbaru. Uuuhh, siapa namanya? Kiran? Karan? Oh! Koran!"
"Konan! Koran dari mana? Kau ini ada-ada saja," Hye Sun hanya terkikik pelan. "Eh, tapi jangan-jangan apa yang kau katakan tadi benar? Ahh! Aku hubungi Geun Seuk dulu!" ucap Eun Hye seraya berlari meninggalkan Hye Sun sendirian di bawah pohon mapel. Tak lama berselang, beberapa wanita yang kenal dengan Hye Sun menghampirinya.
"Hye Sun! Wanita yang tadi itu temanmu?" tanya seorang wanita berambut cokelat. Hye Sun hanya mengaguk pelan sebagai jawaban. "Aaahhh, aku tidak menyangka anak pendiam sepertimu diam-diam berteman dengan pacar Geun Seuk! Hei, ngomong-ngomong, maukah kau mengenalkanku padanya?"
"Iya, Hye Sun! Kau mau, 'kan? Ayolah, kami itu 'kan penggemar berat Mozzart Effect! Barangkali kali bisa lebih dekat dengan personilnya kalau berteman dengan gadis tadi," timpal seorang gadis berambut hitam keunguan. Hye Sun hanya diam lalu menundukkan wajahnya dan memasang ekspresi tidak suka.
"Iya, kau benar! Uuuuhhh, aku mau lebih dekat dengan Min Ho!" sahut gadis lain yang postur tubuhnya lebih tinggi daripada teman-temannya yang lain.
Wanita tadi yang berambut cokelat, kini berpaling dari teman-temannya dan mencoba menatap wajah Hye Sun yang sedari tadi bersembunyi di balik rambut merah mudanya–karna dia sedang menunduk. "Hei, Hye Sun! Kenapa diam saja?" katanya. Hye Sun mendongak kemudian menatap gadis itu dengan tatapan yang super lugu, "ah, tidak apa-apa. Maaf, permisi, aku harus masuk kelas berikutnya." Ucap
Hye Sun seraya berdiri dan meninggalkan ketiga gadis yang tadi mengerubunginya di bawah pohon mapel.
'Haaahhh, apa jadinya nanti jika mereka tahu kalau aku memiliki hubungan dengan Min Ho? Bisa-bisa aku di asingkan ke Segitiga Bermuda.' Batin Hye Sun.
End of flashback
"Bagaimana dengan Min Ho? Apa kau memiliki kekasih seperti Geun Seuk, Ki Seob, dan Jeremy ?"
"…."
"Hahaha, Min Ho tidak akan menjawabnya segigih apapun kau bertanya padanya, Tuan Wartawan. Hahahaha,"
"Bagitukah, Geun Seuk? Wah, sepertinya vokalis kalian tertutup sekali, ya?"
"Hei, hei! Entah kenapa topik pembicaraan ini membuatku merasa tidak enak, hm."
"Hahahahaha! Sabar Seob-a! Sabarrrr!"
Hye Sun tersenyum melihat tingkah teman-temannya di televisi.
'Hmm, ternyata mereka semua belum berubah.' Katanya dalam hati.
Hye Sun memandangi satu per satu teman sebayanya itu. Dimulai dari Geun Seuk yang paling heboh saat diwawancarai, Seoub yang hanya tersenyum, Kim Joon yang sedikit-sedikit sewot saat mendengar cemoohan Geun Seuk, Jeremy yang hanya duduk sambil menyilangkan tangannya, dan yang terakhir Min Ho–kekasihnya.
'Tampan,' pikirnya. Hye Sun tersenyum simpul melihat Min Ho di layar kaca.
Tiba-tiba telepon genggam Hye Sun berbunyi dan mendendangkan suara instrumen piano klasik. Hye Sun terlonjak kaget dan segera merogoh-rogoh tas tangannya untuk mengambil handphone flip kesayangannya itu. 'Dari Min Ho-kah?', tanya-nya dalam hati. 'Ah tidak mungkin Min Ho mengirimiku pesan kalau tidak ada hal yang begitu penting.'
Seketika Hye Sun merasa senang sekali. Hatinya berharap bahwa yang mengiriminya pesan itu adalah Min Ho. Segera ia buka handphone-nya dan membaca contact name yang tertera di layar dengan cermat. Namun sepertinya kali ini dia harus kembali menelan rasa kecewa.
1 message received from Omma
"Haah, Omma rupanya," desahnya. Ditekannya tombol 'open'.
Omma
Hye Sun, omma dan appa sedang pergi ke acara reuni di rumah bibi masaki. Mungkin kami akan pulang malam karna sepulang dari rumah bibi omma akan menemani appa ke bengkel. Hati-hati di rumah, kalau lapar hangatkan kari sisa makan siang saja ya. Tidak apa-apa di rumah sendirian kan, dear?
Sender:
omma
Received:
18:08:41
18-08-2010
Hye Sun segera mengetik pesan balasan dengan cepat.
To:
omma
Text:
Ya, tidak apa. omma dan appa bersenang-senanglah ;)
Setelah menekan tombol 'send', Hye Sun membanting handphone-nya ke meja dan ditatapnya layar kaca. Kini berita di acara Entertiment Zone sudah berganti, yang tadinya memberitakan seputar boy band Mozzart Effect, kini memberitakan perihal film terbaru seorang aktor terkenal. Hye Sun mendengus kesal.
"Ah, sudahlah," katanya. "Min Ho tidak mungkin menghubungiku. Hah, dasar pemimpi!" Kemudian Hye Sun beranjak dan mematikan televisi. Diraihnya tas tangan kesayangannya itu dan telepon genggamnya. Perlahan kedua kaki jenjangnya membawanya pergi naik ke lantai dua rumahnya. Hye Sun membuka pintu kamarnya perlahan, kemudian diputuskannya untuk mandi terlebih dahulu.
Setelah dua puluh menit berlalu, Hye Sun keluar dari kamar mandi dengan baju favoritnya. Kaus putih berlengan pendek bergambar tokoh animasi dan celana tiga per empat berwarna merah. Hye Sun merasa lelah sekali. Ternyata menjadi asisten dosen bukanlah hal yang mudah. Terlebih dosen yang ia maksud adalah Iruka–dosen super sibuk yang selalu mengerjakan segala hal dengan sempurna. Hye Sun tak punya pilihan lain saat Iruka menawarinya menjadi asistennya. Semenjak dia memutuskan untuk berubah menjadi anak yang pendiam, Hye Sun memang menjadi agak kuper dan jarang keluar rumah. Dan hal ini membuatnya sering bermuram durja sendirian karna tidak ada kegiatan lain. Ayahnya pun sempat khawatir melihat perubahan putri kesayangannya itu.
Memang, Hye Sun memutuskan untuk 'menyendiri' ketika lulus SMA. Selain karna statusnya yang berpacaran dengan vokalis band paling dingin di seluruh dunia, Hye Sun juga ingin mencari suasana baru. Lagi pula sepertinya Min Ho tidak akan suka jika dia terlalu 'aktif' dan enerjik seperti dulu. Ya, Min Ho memang ingin Hye Sun menjadi lebih kalem dan biasa saja.
Dan hebatnya, Hye Sun penuhi keinginan itu.
Hye Sun merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur. Tak lama setelah ia memejamkan matanya, telepon genggamnya kembali berbunyi menandakan ada satu pesan yang masuk.
1 message received from Eun Hye-chan
Hye Sun mengernyitkan sebelah alisnya–merasa asing dengan contact name itu. "Sejak kapan aku menambahkan embel-embel –chan di contact name-nya?" tukasnya heran. Segera ia baca pesan singkat dari Eun Hye.
Eun Hye-chan
The Mozzart Effect special performance at Kohoha channel NOW! Ah, what a handsome guy :*
maksudku Geun Seuk, okey? ;DD
Sender:
Eun Hye-chan
Received:
18:30:31
18-06-2010
"Huh, dasar," desah Hye Sun. Sekelebat rasa kecewa kembali mengusiknya. Kali ini pun, Eun Hye-lah yang memberitahunya perihal acara yang dihadiri oleh Mozzafect*, bukan Min Ho seperti yang ia harapkan. 'Geun Seuki saja mau memberitahu Eun Hye. Min Ho? Huh…' Hye Sun membatin.
Segera ia meraih remote televisi yang terletak di atas meja belajarnya. Dinyalakannya televisi itu dan ditontonnya performance Mozzafect. Sambil memeluk guling kesayangannya, Hye Sun tak kunjung mengalihkan pendangannya dari Min Ho. Ia perhatikan Min Ho dari atas hingga ke bawah. Rambutnya, wajahnya, bajunya, kaki hingga sepatu. Ia tajamkan pendengarannya untuk mendengar lebih jelas suara merdu Min Ho yang jarang ia dengar secara langsung. Ia pandang lekat-lekat kedua bola mata Min Ho yang seolah tak pernah peduli akan hal apapun.
Hye Sun berandai-andai, kapan ia bisa menonton konser Min Ho secara langsung?
Seumur hidupnya Hye Sun belum pernah sekalipun menonton konser Min Ho secara langsung. Mendampinginya di sebuah acara atau pun kencan belum pernah ia lakukan semenjak Min Ho terkenal. Alasannya apa lagi kalau bukan Min Ho yang tidak kunjung mengaku kalau ia memiliki kekasih? Hye Sun juga tidak menuntut untuk diperkenalkan ke publik. Dapat dikatakan kalau mereka adalah pasangan yang aneh–tapi inilah mereka.
Setiap pasangan memiliki cara untuk menikmati waktu-waktu berharga mereka sendiri, bukan? Lalu bagaimana dengan Hye Sun dan Min Ho?
Hye Sun memang tidak pernah menemani Min Ho kemana pun ia pergi karna ia tidak ingin merepotkan Min Ho yang akan dikejar-kejar wartawan kalau ia terlihat bepergian bersama seorang gadis, Min Ho juga tidak pernah mengajak Hye Sun menonton konsernya secara langsung karna ia tidak mau harta satu-satunya itu kerepotan karna di kejar-kejar wartawan. Mereka jarang terlihat berdua. Tapi bagaimana jika tiba-tiba Min Ho ingin bertemu Hye Sun secara langsung tanpa diketahui seorang pun?
________________________________________
Pukul satu dini hari, Min Ho memacu mobilnya menyusuri jalanan yang kini telah sepi. Perlahan ia parkir mobilnya di depan sebuah rumah mungil bertingkat dua dengan halaman yang luas. Setelah memastikan mobilnya sudah terkunci, Min Ho segera beranjak dan dengan perlahan ia buka pagar kecil yang tersembunyi di balik pohon-pohon cemara yang tumbuh mengelilingi halaman depan rumah itu. Setelah menutup pagar kecil itu, Min Ho melangkah dengan santai mendekati rumah yang berdiri di tengah-tengah halaman. Dengan hati-hati, ia mengintip ke dalam lewat jendela besar yang membatasi dirinya dengan ruang keluarga.
'Ayah Hye Sun belum tidur, ya?' katanya dalam hati. Kemudian ia panjat sebuah tangga yang melekat di dinding sebelah jendela rumah keluarga Goo itu. Setelah itu, Min Ho melompat melewati pagar pembatas di beranda kamar dan mengintip ke dalam lewat pintu kaca. Tampak lampu meja yang bertengger di atas meja belajar milik Goo Hye Sun masih menyala. Min Ho menaikkan sebelah alisnya. Setahunya, Hye Sun selalu tidur dengan lampu yang dimatikan. Apa mungkin Hye Sun belum tidur? Pikirnya.
Dibukanya pintu kaca yang berbingkai kayu itu dengan hati-hati. Pintunya pun belum di kunci. 'Untung aku yang masuk.' Min Ho membatin. 'Bagaimana jika maling? Dasar gadis ceroboh.'
Min Ho melangkah pelan mendekati sesosok gadis berambut merah muda yang sedang berbaring di atas ranjangnya yang nyaman. Ia tertidur sambil menggenggam remote televisi miliknya. Tak jauh dari sosoknya, tergeletak sebuah handphone yang sedang dalam keadaan gawat–satu gerakan kecil yang diciptakan oleh gadis itu akan membuat benda itu jatuh berbentur dengan lantai keramik di kamarnya.
Min Ho segera mengamankan benda itu dan menaruhnya di meja terdekat. Diambilnya remote televisi dari genggaman gadis cantik itu. Min Ho hendak mematikan televisi namun suatu hal membuatnya tertegun–channel itu.
Seoul channel adalah stasiun yang menayangkan program yang baru saja ia hadiri tadi. Itu berarti Hye Sun menonton penampilannya barusan, kan?
Min Ho tersenyum tipis sambil memandang gadis itu–Hye Sun yang sedang tertidur pulas. Meskipun dirinya tidak pernah menegaskan di depan publik bahwa ia memiliki hubungan dengan Hye Sun, namun gadis itu tidak pernah protes. Meskipun ia amat jarang menghubungi Hye Sun, namun gadis itu tidak pernah mengeluh padanya. Dan meskipun ia tidak pernah menawarkan–mengizinkan, tepatnya–Hye Sun untuk menonton konsernya, Hye Sun tidak pernah memaksa untuk ikut dan menontonnya secara langsung. Hye Sun benar-benar mengerti keadaan Min Ho dan tidak pernah mengeluh di depan matanya. Jujur, itu membuatnya sedikit terharu.
Setelah Min Ho mematikan televisi, Min Ho menghampiri Hye Sun. Perlahan dilepasnya jaket yang sedari tadi merangkap kaus hitamnya, kemudian direbahkan tubuhnya di samping Hye Sun. Ia lingkarkan kedua tangannya di pinggang Hye Sun dan ia biarkan kepalanya menyentuh rambut gadis itu. Ia hirup aroma yang menguar dari rambur merah muda Hye Sun.
Merasa ada hawa dingin yang menyentuh kepalanya, Hye Sun terbangun dan membuka matanya perlahan. Ditangkapnya siluet seorang pria yang sedang memeluknya.
"Min Ho?" katanya dengan suara yang lirih. "Hn?" jawab pemuda di sampingnya itu.
Hye Sun tersenyum kemudian menggeliat dalam pelukan kekasihnya itu. Hye Sun membetulkan posisinya dan mencoba untuk menghadap ke arah Min Ho. Ia sandarkan kepalanya di atas dada bidang milik Min Ho dan ia sembunyikan wajahnya di leher pemuda itu.
"Kau sudah lama tidak datang kemari," desah Hye Sun pelan.
"Hn, sibuk." Jawab Min Ho. "Lagipula aku tidak bisa setiap hari kemari, kan? Tumben kau manja."
"Manja sedikit boleh, kan? Aku lelah setelah berakting menjadi anak pendiam seharian."
"Jadi kau melampiaskannya padaku?" Min Ho memundurkan kepalanya sedikit agar bisa melihat wajah Hye Sun.
"Hmm, mungkin." Kata Hye Sun lagi. "Ngomong-ngomong, aku rindu padamu."
"Hn."
"Hanya 'Hn'?"
"Lalu apa?" Min Ho mengernyitkan alisnya heran. Hye Sun menggeleng pelan kemudian menyembunyikan wajahnya lagi di leher Min Ho.
Yeah, walaupun mereka jarang bertemu dan jarang menghubungi, namun mereka tetaplah pasangan kekasih seutuhnya, bukan? Di depan orang-orang mereka mungkin terkesan 'aneh' dan tidak mesra, tapi sepertinya pada malam hari mereka memiliki acaranya sendiri.
Tamat?? Hahaha… bisa dibunuh voldi saya. TBC aja dah…